• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOSIO ANTROPOLOGI PENDIDIKAN BUDAYA BELA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SOSIO ANTROPOLOGI PENDIDIKAN BUDAYA BELA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIO-ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

BUDAYA BELAJAR MERUPAKAN FAKTOR PENENTU BELAJAR

Dosen Pengampu: Agus Sudarsono, M.Pd

Winda Estri Dwi Jayanti

(14416241012)

PENDIDIKAN IPS

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran di sekolah akan berhasil dengan baik dan mendorong peningkatan

mutu pendidikan jika ditunjang oleh budaya belajar yang diterapkan oleh para siswa dengan

meningkatkan minat belajar (Tabrani, 1:2007). Tentunya dewasa ini dapat dilihat banyaknya

permasalahan yang berkaitan dengan rendahnya prestasi belajar siswa dikarenakan tidak adanya

minat belajar dalam budaya belajar siswa.

Terdapat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pelajar, baik narkotika, sex

bebas dan penyimpangan yang lainnya karena beberapa faktor, salah satunya tidak ada motivasi

belajar dikalangan pelajar yang menyebabkan tidak adanya budaya belajar yang ada. Dengan

situasi demikian, tentunya sangat memprihatinkan dan perlu perhatian beberapa pihak.

Belajar yang efektif dan efisien akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang tangguh,

yaitu lulusan yang berdayaguna dan berhasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tujuan yang

ditetapkan baik oleh sekolah, maupun masyarakat itu sendiri. Namun permasalahannya yaitu

ketika belajar dirasakan oleh siswa dan bukan merupakan suatu kebutuhan akan sangat

menimbulkan rendahnya budaya belajar. Berbagai problematika yang mendorong rendahnya

dorongan untuk belajar harus dihilangkan untuk menciptakan iklim belajar yang baik dan budaya

belajar di kalangan siswa.

Lingkungan juga faktor penting dalam pembentukan budaya belajar. Lingkungan yang

(3)

semangat dan motivasi belajar. Lingkungan yang sangat rendah dalam budaya belajar, maka

seseorang akan malas juga akan belajar. Berbeda dengan seseorang yang berada dalam

lingkungan yang budaya belajar tinggi akan menimbulkan semangat belajar yang besar pula

karena belajar pada lingkungan tersebut merupakan suatu kebutuhan yang mendasar. Opleh

karena itu, perlu diciptakannya budaya belajar yang baik dengan menciptakan lingkungan belajar

yang mendukung pula.

Selain itu, yang berpengaruh terhadap terciptanya budaya belajar yang baik adalah tugas

dan tanggung jawab yang ada. Adanya tugas dan tanggung jawab akan menimbulkan adanya

kewajiban untuk belajar dan kebutuhan untuk belajar. Bukan hanya itu, pentingnya tugas dan

tanggung jawab akan melatih seseorang untuk menjalankan tugasnya melaksanakannya dengan

penuh rasa tanggung jawab karena kebutuhan. Hal tersebut dapat menciptakan adanya budaya

belajar.

B. Rumusan Masalah

1. Apa hakikat dari budaya belajar?

2. Bagaimana syarat belajar yang baik?

3. Bagaimana kondisi yang mendukung terciptanya budaya belajar?

4. Sejauh mana budaya belajar tercipta dewasa ini?

5. Apa saja permasalahan yang dihadapi dalam budaya belajar?

6. Apa saja solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan budaya belajar?

7. Bagaimana contoh terciptanya budaya belajar?

8. Apa peran pemerintah untuk mendukung terciptanya budaya belajar?

(4)

1. Memahami hakikat dari budaya belajar.

2. Mengetahui syarat belajar yang baik.

3. Mengetahui kondisi yang mendukung terciptanya budaya belajar.

4. Mengetahui sejauh mana budaya belajar tercipta dewasa ini.

5. Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam budaya belajar.

6. Mengetahui solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan budaya belajar.

7. Mengetahui contoh terciptanya budaya belajar.

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. HAKIKAT BUDAYA BELAJAR

Budaya belajar merupakan serangkaian kegiatan dalam melaksanakan tugas belajar

sebagai kebiasaan, dimana jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan, berarti melanggar suatu nilai

atau patokan yang ada, dan menjadikan belajar sebagai kegemaran dan kesenangan, sehingga

motivasi belajar muncul dari dalam diri kita itu sendiri yang akhirnya produktifitas belajar

meningkat. Dengan demikian budaya belajar harus dilaksanakan dalam rangka meningkatkan

kehidupan belajar dan produktifitas belajar (Tabrani Rusyan, 2007:12).

Budaya belajar mengandung arti adanya perubahan kebiasaan belajar. Perubahan ini

mencakup perubahan sikap, nilai dan perilaku tertentu serta struktur organisasi belajar sesuai

dengan tuntutan budaya belajar sehingga dengan adanya perubahan ini akan memberikan

dampak terhadap kita, baik itu yang berdampak positif maupun yang berdampak negatif, sebab

kita akan mempelajari aturan aturan yang sesuai dengan budaya belajar untuk tujuan. Tanggung

jawab utama terhadap pelajaran pola perilaku yang dilakukan untuk pelaksanaan belajar yang

efektif dan norma-norma serta nilai yang berlaku.

Dengan adanya budaya belajar bagi kita pendidikan mengakibatkan melaksanakan tugas,

dan kegemaran melaksanakan tugas mengakibatkan keberhasilan menjalankan tugas selanjutnya.

Untuk mendapatkan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan persyaratan tugas maka

(6)

Budaya belajar dalam kegiatannya mampu melaksanakan tugas dan belajar, sehingga kita

dalam bertindak dalam berpikir aktif dan kreatif. Sebab aktifitas dan kreatifitas yang tinggi dapat

berjalan dengan baik jika ditopang dengan budaya belajar yang baik. Karena pelaksanaan proses

pembelajaran yang ditunjang dengan budaya belajar akan memberikan arah kepada kita untuk

bersikap kreatif, dinamis, dan inovatif. Sikap-sikap itu antara lain terbuka dan peka terhadap

rangsangan dari luar, interest, bervarias, bersikap mandiri, memilki rasa ingin tahu, berani

menjelajahi dan meneliti serta berani mengutarakan dan mengaktualisasikan gagasan (Tabrani

Rusyan, 2011:11).

Budaya belajar memberikan sumbangan yang sangat besar dalam menyongsong

eramillenium baru sebab, kemampuan yang dikembangkan melalui budaya belajar kita adalah

kemampuan jasmaniah dan rohaniah. Adapun kemampuan jasmani dan rohani tersebut

pengembangannya meliputi: segi pengetahuan, keterampilan, kecakapan, nilai-nilai

perikehidupan, sikap, dedikasi, dan disiplin. Oleh karena itu maka budaya belajar kita merupakan

suatu upaya untuk menjawab tantangan terhadap masalah-masalah yang timbul dalam

millennium baru. Untuk mewujudkan hal itu, maka diperlukan konformitas dan partisipasi yang

penuh rasa tanggung jawab.

Budaya belajar kita merupakan suatu pola sikap dan pola perilaku serta perbuatan yang

sesuai dengan tata aturan atau norma yang telah digariskan. Menetapkan budaya belajar bagi kita

dalam proses pembelajaran diharapkan perilaku kita dalam melaksankan tugas dan menaati

norma-norma serta peraturan yang berlaku, sehingga tujuan dan kebijakan pemerintah dalam

bidang pendidikan dapat dicapai dengan baik.

(7)

1. Hakikat Budaya Belajar yang Baik

Budaya belajar merupakan salah satu upaya perbuatan meningkatkan kualitas

belajar, karena dengan budaya belajar segala kegiatan pelajaran dan tugas akan teratur dan

terarah, sehingga tujuan belajar yang diharapkan dapat dicapai dengan baik. Maka dengan

demikian budaya belajar sebagai salah satu meningkatkan kualitas belajar. Budaya belajar

yang baik membawa dampak positif terhadap pelaksanaan tugas pelajaran kita melalui

proses pembelajaran baik di sekolah maupun luar sekolah, akan berhasil dengan baik jika

ditunjang oleh budaya belajar siswa yang baik. Budaya belajar kita adalah melaksanakan

proses pendidikan dari guru, penerima bimbingan serta mengerjakan evaluasi supaya

terlaksana dengan baik (Tabrani Rusyan, 2011: 34).

Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat enam pendekatan yang digunakan:

Pertama, pendekatan rasional. Yaitu suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang lebih

menekankan kepada aspek penalaran. Pendekatan ini dapat berbentuk proses berpikir

induktif yang dimulai dengan memperkenalkan fakta-fakta, konsep, informasi, atau

contoh-contoh dan kemudian ditarik kesimpulan.

Kedua, pendekatan emosional. Yaitu upaya menggugah perasaan siswa dalam menghayati

perilaku yang sesuai dengan ajaran dan budaya.

Ketiga, pendekatan pengalaman. Yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mempraktikan dan merasakan haisl pengalaman dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Keempat, pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk

(8)

Kelima, pendekatan fungsional. Yaitu menyajikan materi-materi pokok dari segi manfaatnya

bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

Keenam, pendekatan keteladanan. Yaitu, menjadikan figure guru, petugas sekolah, orang

tua,anggota masyarakat sebagai cermin dari siswa

Prinsip motivasi belajar:

1. Berpusat pada siswa

2. Belajar dengan melakukan

3. Mengembangkan kemampuan sosial

4. Mengembangkan keingintahuan

5. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah]

6. Mengembangkan kreativitas siswa

7. Mengembangkan kemampuan dengan menggunakan ilmupengetahuan dan teknologi

(Sutrisno, 2005: 97)

2. Penerapan Budaya Belajar

Dikutip dari buku “Budaya Belajar yang Baik” karangan Tabrani Rusyan, penerapan budaya belajar sebagai berikut:

a. Budaya Kepatuhan

Belajar berhubungan erat dengan aspek kemanusiaan, yaitu berhubungan dengan

berbagai potensi yang dimiliki siswa, seperti kemampuan, bakat, minat, sikap dam

sebagainya. Oleh karena itu diperlukan komitmen yang baik dalam melaksanakan budaya

(9)

dalam pelajaran. Membudayakan komitmen membutuhkan contoh-contoh perbuatan baik

sehari-hari berlangsung secara alami. Apabila siswa dan guru memiliki budaya komitmen

yang tinggi maka pembudayaan akan berlangsung secara cepat dan efisien. Adapun

budaya komitmen tersebut sebagai berikut:

1) Tepat waktu dalam belajar

2) Disiplin dalam belajar

3) Setia dan Loyal dalam belajar

4) Bertekad meningkatkan mutu belajar

5) Rasa tuntas dalam belajar

b. Budaya Inovatif

Inovatif adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda darihal yang ada

sebelumnya serta sengaja diusahakan meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan

tertentu. Demikianpun kita yang inovatif akan memiliki gagasan, ide, dan perilaku yang

mendukung terhadap perubahan tersebut. Inovasi adalah suatu pembaharuan yang

mengandung makna sebagai berikut:

“Baru” yang dapat diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima, atau dilaksanakan

oleh si penerima pembaharuan, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain, akan tetapi

yang lebih penting dari sifatnya yang baru ialah kualitatif berbeda dari sebelumnya.

“Kualitatif” berarti bahwa pembaharuan itu memungkinkan adanya reorganisasi atau

(10)

“Hal” yang dimaksud adalah meliputi semua komponen dan aspek dalam subsistem

belajar yang diperbaharui pada hakikatnya adalah ide atau rangkaian ide.

“Kesengajaan” merupakan unsur perkembangan baru dalam pemikiran kita dewasa ini.

“Meningkatkan kemampuan” mengandung arti bahwa tujuan utama pembaharuan ialah

kemampuan Sumber Daya Manusia.

“Tujuan” yang direncanakan harus rinci dengan jelas tentang sasaran danhasil hasil yang

ingin dicapai, yang sedapat mungkin sebelum pembaharuan dilaksanakan.

“Hal yang sebelumnya” luas sekali, mulai dari ide, tujuan organisasi dan lain-lain.

c. Budaya Profesional

Profesionalisme pada hakikatnya akan melakukan pelayanan ataupun pengabdian

yang dilandasi dengan kemampuan profesionalitas serta falsafah yang mantap yang harus

dimiliki seorang pelajar professional tersebut. Pernyataan professional mengandung

makna yang bersungguh sungguh keluar dari lubuk hatinya yang mengandung norma

atau nilai nilai yang etis.

Suatu pernyataan atau janji itu bukan hanyakeluar dari mulut melainkan seluruh

kepribadiannya dan tingkah laku sehari-hari. Janji yang bersifat etis demikian mau tak

mau mengandung atau setidak tidaknya berhadapan dengan sanksi sanksi tertentu. Bila

dia melanggar janji, maka dia akan berhadapan dengan sanksi tersebut. Kemantapan

integritas pribadi harus dimiliki kita demi tercapainya tujuan dan mutu pendidikan.

(11)

Budaya berprestasi yaitu memilki pola piker yang mantap, kemampuan, pola

sikap, dan keterampilan dalam berbagai hal, sehingga siswa tersebut dalam melaksanakan

proses belajar benar benar menguasai berbagai ilmu pengetahuan, pengalaman, dan

teknik belajar untuk mencapai yang lebih baik.

Dalam lingkungan budaya yang memberi kesempatan luas bagi siswa untuk

berprestasi dan mencapai tujuan yang diinginkan, dapat dipahami jika siswa menghadapi

tekanan untuk memperoleh tersebut, sebeb prestasi dianggap mampu mendorong

memanfaatkan kesempatan untuk maju dan menyesuaikan diri kelak di kehidupan

masyarakat.

e. Budaya Memuaskan

Kita yang baik akan memiliki budaya memuaskan dalam proses belajar kepada

berbagai pihak baik pemerintah, para guru, meupun orang tua dan masyarakat, sebab

kitatumbuh dan berkembang karena dukungan dari berbagai pihak. Sudah sepatutnya kita

diajarkan komitmen untuk terus belajar dalam upaya menjamin hari masa depan siswa.

f. Budaya Integritas

Budaya berintegritas yang dilaksanakan kita merupakan pengalaman yang

didapatkan dari proses belajar mengajar dan interaksi dengan masyarakat sekolah,

sehingga mampu memberikan motivasi yang tinggi terhadap para siswa dalam mengikuti

proses pembelajaran. “Menghargai” merupakan bentuk pemberian untuk suatu hasil yang

baik. Penghargaan yang diperoleh para siswa tidak perlu berbentukmateri, tetapi dapat

(12)

Kejujuran merupakan sifat utama dan kunci dalam pembelajaran, karena dengan

kejujuran semua orang akan percaya baik atasan, bawahan maupun teman sejawat.

Semua orang menuntut adanya sifat ini pada siswa, walaupun pada saat itu kejujuran

sudah merupakan barang langka dalam kehidupan sehari-hari. Budaya rajin dan jujur

dalam belajar merupakan pola perilaku terpuji yang dimiliki kita,o oleh karena itu siswa

yang melaksanakan budaya berintegrasi akan melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya secara rajin dan jujur.

C. KONDISI KENYATAAN YANG SEHARUSNYA

Kondisi yang terjadi dewasa ini menunjukan berbagai persoalan dan

permasalahan baik dalam belajar maupun dalam pendidikan. Kondisi yang diharapkan

yakni terciptanya budaya belajar yang baik dikalangan siswa. Bukan hanya itu,

pentingnya budaya belajar diharuskan supaya bangsa Indonesia dapat meningkatkan

pengetahuan dan teknologi suapya tidak tertinggal dengan bangsa lain salah satu cara

yaitu dengan menciptakan budaya belajar siswa. Siswa diajak untuk memecahkan

berbagai persolan yang ada sekitarnya supaya lebih peka dan lebih memahami kondisi

yang ada. Terciptanya budaya belajar menjadikan belajar menjadi suatu kebutuhan dan

kegiatan yang menyenangkan bagi siswa.

Pendidikan dalam hal ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berpikir

secara mandiri dan kritis (independent critical thinking), karena merupakan modal dasar bagi

pembangunan manusia yang memiliki kualitas prima. Keterlibatan siswa tidak sebatas

sebagai pendengar, pancatat dan penampung ide-ide guru namun lebih dari itu ia terlibataktif

(13)

Pendidikan lebih berfungsi untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan peserta didik,

sehingga potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dapat berkembang dengan baik. Oleh

karena itu,bsalah satu ukuran penting untuk menilai keberhasilan pendidikan adalah

sejauhmana proses pendidikan itu mampu mengeksplorasi kecerdasan, minat dan bakat

peserta didik serta mengembangkannya secara baik dan maksimal.

Untuk lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam proses pendidikkan maka ada

empat asumsi dasar yaitu:

Pertama, konsep diri. Asumsinya adalah bahwa kesungguhan dan kematangan diri

seseorang bergerak dari ketergantungan total menuju arah pengembangan diri sehingga

mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri.

Kedua, peranan pengalaman. Asumsinya adalah dengan perjalanan waktu seseorang

individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan.

Ketiga, kesiapan belajar. Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang,

maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh paksaan akademik dan biologisnya, tetapi lebih

banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peran sosialnya.

Keempat, orientasi belajar. Asumsinya adalah bahwa pada anak orientasi belajarnya

sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi

pembelajaran. Sedang orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar

yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi. Hal ini karena pada dasarnya

belajar merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam

kehidupan keseharian, terutama kaitannnya dengan fungsi dan peran sosial ( Muis Iman,

(14)

D. KONDISI PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DAN SOLUSI

Kondisi permasalahan yang dihadapi saat ini banyak terjadi. Mulai dari permasalahan

yang dihadapi oleh siswa maupun permasalahan yang dihadapi pihak sekolah, guru, dan

pemerintah. Diperlukan solusi yang konkrit untuk menyelesaikan permasalahan yang

dihadapi supaya tercipa budaya belajar yang baik.

Contoh permasalahan dalam budaya belajar:

1. Permasalahan:

Siswa tidak masuk kelas dan tidak mau belajar (Tabrani Rusyan, 2011:1)

Solusi:

Hendaknya dilakukan pengamatan terhadap siswa yang malas tersebut mengenai penyebab

malas belajarnya. Hal itu bisa terjadi karena ada gangguan dikeluarganya, karena sedang

sakit atau sedang malas belajar. Solusi lain agar siswa tidak malas adalah dengan

menumbuhkan minat belajar siswa. Dewasa ini, minat belajar siswa dirasa sangat kurang

dikarenakan berbagai faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal pengaruh

lingkungannya. Menumbuhkan minat belajar siswa bisa dengan menciptakan suasana belajar

yang nyaman bagi siswa sehingga belajar menjadi suatu kesenangan dan kebutuhan bagi

siswa.

2. Permasalahan:

Motivasi belajar yang turun dalam proses pembelajaran, dikarenakan proses pembelajaran

yang lebih tampak sebagai alih informasi dari guru kepadaa siswa; proses pembelajaran yang

hanya berpaku pada buku teks tanpa ada solusi pemecahan permasalahan dari siswa; proses

(15)

kurang menyentuh permasalahan kemampuan berpikir tingkat tinggi; metode dan teknik

pengajaran yang belum banyak digunakan (Tabrani Rusyan, 2011:4)

Solusi:

Pada hakikatnya menurunnya motivasi siswa bisa karena faktor guru tersebut, rendahnya

minat belajar siswa sangat dirasakan karena guru monotint dalam menjelaskan kepada siswa.

Solusinya yakni guru melibatkan aktif siswa dalam pembelajaran, siswa berperan aktif dalam

pemecahan masalah-masalah sosial maupun pemecahan permasalahan dalam materi yang

diajarkan, metode mengajar yang dilakukan oleh guru juga harus menggunakan metode yang

aktif dan inovatif untuk meningkatkan minat belajar siswa sehingga siswa merasa senang dan

nyaman dalam belajar.

3. Permasalahan:

Pelanggaran dan penyimpangan disekolah yang sekarang banyak terjadi, baik dilakukan

kepala sekolah, guru, siswa dan instansi terkait. Sehingga menimbulkan besar berbagai

pihak. Contohnya: terjadinya kebocoran soal (Tabrani Rusyan, 2011:7)

Solusi:

Pemerintah tentunya memilki aturan yang jelas mengenai tindak kejahatan yang berkaitan

dengan pendidikan. Untuk mencegah adanya tindakan tersebut tentunya perlu melakukan

tindakan pencegahan atau preventif yakni dengan memberi dorongan kepada sekolah sekolah

untuk lebih percaya diri dalam menghadapi ujian. Memberi semangat kepada siswa supaya

lebih percaya diri terhadap apa yang akan dikerjakannya, menjelaskan bahawa kegiatan

mencontek dari soal yang bocor merupakan kegiatan yang melanggar. Jika hal itu telah

terjadi dapat dilakukan penanganan dengan memberi sanksi kepada pihak yang melakukan

(16)

4. Permasalahan:

Sering terjadinya perkelahian antar pelajar (Tabrani Rusyan, 2011:7).

Solusi:

Perkelahian antar pelajar merupakan penyimpangan yang paling sering dilakukan oleh

pelajar saat ini. Motif dari pelaku perkelahian sangat beragam, mulai dari masalah dendam,

masalah saling ejek, dan lain-lain. Yang sering dilakukan tentunya dengan memanggil pelajar

yang melakukan perkelahian, dipanggil orang tuanya dan diberi pengarahan bahwa tindakan

yang dilakukannya tidak baik.

5. Permasalahan:

Banyak siswa yang nongkrong dijalan, di terminal, di tempat hiburan dan tempat keramaian

saat pelajaran di sekolah sedang berlangsung (Tabrani Rusyan, 2011:7).

Solusi:

Solusi pemecahan masalah tersebut yang sering dilakukan adalah dengan melakukan

tindakan razia para pelajar yang nongkrong ditempat tempat tersebut. Siswa yang melakukan

bolos tentunya siswa yang motivasi belajarnya sangat kurang, mereka meninggalkan sekolah

hanya untuk nongkrong di tempat-tempat keramaian atau tempat hiburan. Dengan demikian

perlunya pihak sekolah juga untuk memompa motivasi siswa untuk belajar di sekolah.

Masyarakat pun perlu menegur pelajar yang bolos tersebut untuk kembali ke sekolahan,

aturan aturan yang jelas di tempat hiburan seperti warnet maupun warung kopi untuk tidak

menerima pelajar yang sedang bolos sekolah. Hal ini tentunya membutuhkan kerjasama

berbagai pihak bukan hanya dari pihak sekolah saja, masyarakat dan pemerintahpun perlu

berkerjasama.

(17)

Kelompok belajar siswa yang telah terbentuk sejak lama sebagai upaya meningkatkan

kualifikasi siswa dalam menerima pelajaran sampai saat ini kelompok tersebut belum

berfungsi secara optimal (Tabrani Rusyan, 2011:51)

Solusi:

Kelompok Belajar Siwa (KBS) sangat perlu untuk menunjang budaya belajar siswa.

Permasalahan yang dihadapihendaknya dianalisis penyebabnya, missal kurang efektifnya

dalam media pembelajaran maka dapat diperbaiki media pembelajaran yang ada. Misal

berkaitan dengan materi pelajaran maka diperlukan kesiapan belajar kelompok belajar siswa

tersebut. Mendorong motivasi siswa juga sangat perlu karena akan mendorong siswa untuk

belajar dan rangsangan menjadi anggota KBS.

7. Permasalahan:

Budaya tepat wakau dalam belajar yang sangat kurang. Misalnya saja kesadaran siswa dalam

menjalankan tugas, mengerjakan pekerjaan rumah yang ditunda bakhan sampai tidak

mengerjakan hal ini menandakan bahwa siswa masih merasa bahwa belajar bukan suatu

kebutuhan malahan menjadi beban dan oleh karenannya siswa tidak tepat waktu (Tabrani

Rusyan, 2011:36)

Solusi:

Dengan memberikan dorongan bagi siswa untuk terus melaksanakan pekerjaannya tepat

waktu. Mendisiplinkan siswa dengan aturan yang tegas. Misalnya siswa yang terlambat

mengumpulkan tugas nilainya tentu berbeda dengan yang mengerjakan tugas, atau hukuman

dengan demikian mereka akan menyadari bahwa perbuatan yang merekalakukan salah dan

harus diperbaiki.

(18)

Di dalam proses pendidikan kita masih terdapat penyimpangan penyimpangan yang baik

dalam kurikulum, bimbingan, administrasi sekolah dan adminstasi kelas serta sistem

penilaian, yang mengkatibatkan ketidakseimbangan antara kualitas sehingga mutu lulusan

jauh dari apa yang diharapkan (Tabrani Rusyan, 2011: 43)

Solusi:

Solusinya yaitu dengan memilki komitmen dan kesetiaan yang tinggi, dengan demikian

apabila akan melakukan penyimpanga maka timbulkah kesadaran bahwa hal yang dilakukan

salah. Kejujuran juga penting untuk menumbuhkan rasa saling percaya.

9. Permasalahan:

Siswa mudah mengalami kejenuhan belajar. Banyak faktor yang membuat siswa mengalami

kejenuhan belajar, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal (Mubair Agustin,

2011:11).

Solusi:

Siswa dapat menjaga tubuhnya agar tetap stamina dan siap dalam belajar. Guru dapat

membuat variasi dalam mendidik misalnya dengan berbagai metode pengajaran yang

menyenangkan. Pihak sekolah juga dapat menunjang fasilitas yang dibutuhkan.

10.Permasalahan:

Perilaku menyontek di kalangan siswa berstatus remaja. Ada siswa yang berusaha mengikuti

bimbingan belajar, selain belajar dengan rajin di sekolah dan di rumah ada juga dengan cara

instan dengan mencontek (Mubair Agustin dalam Sujana&Wulan, 2011:3).

Solusi:

Dapat dilakukan hubungan saling menghargai antara guru-siswa; mengembangkan kebiasaan

(19)

cara belajar siswa; tidak membiarkan siswa mencontek jika hal tersebut terjadi maka

dilakukan dengan teguran atau cara lain yang pantas dengan perbuatannya; menekankan

belajar bukan hanya sekedar mendapat nilai; bertanggung jawab mereflesikan kejujuran dan

kebenaran (Mubair Agustin, 2011: 8)

Contoh permasalahan lain yang dialami sendiri oleh penulis:

11.Permaslahan:

Kurangnya penghargaan sekolah, guru, atau pemerintah terhadap siswa yang berprestasi.

Prestasi yang didapat oleh siswa merupakan suatu keberhasilan juga baik pada pihak sekolah

maupun pihak siswa itu sendiri.

Solusi:

Penghargaan prestasi siswa dirasa perlu, baik dengan pujian atau imbalan. Namun sebagian

siswa yang mendapat prestasi akan senang jika prestasinya dihargai oleh pihak sekolah

misalnya dengan pemberian pujian meskipun tak mengharapkan imbalan apabila prestasi

yang didapat dihargai tentu akan merasa senang. Tidak adanya rasa dihargai akan membuat

siswa menurun dalam prestasi, merasa malas dan akan merasa dirinya tidak berguna.

Tentunya hal ini tidak boleh terjadi.

PERAN PEMERINTAH DAN LEMBAGA

1. Membangun Pendidikan Karakter Bangsa

Sampai saat ini pelaksanaan pembangunan nasional lebih berorientasi terhadap tujuan

yang lebih pragmatis, yaitu memuaskan kebutuhan material yang berjangka pendek.

Pendidikan yang bermutu menawarkan progam danstrategi yang memiliki dampak jangka

(20)

menawarkan upaya preventif untuk mencegah degradasi moral dan karakter seseorang atau

masyarakat secara berkelanjutan. Memang diakui bahwa dampak pendidikan tidak akan

segera dapat dirasakan, tetapi jika berhasil akan memiliki daya tahan yang cukup kuat dan

berdampak jangka panjang. Terbentuknya budaya dan karakter bangsa hanya dapat terwujud

jika progam dan proses pendidikan tidak lepas dari faktor lingkungan yang sarat dengan

nilai-nilai sosial, budaya, dan kemanusiaan (Ace Suryadi, 2014: 36).

Menciptakan budaya belajar yang baik menjadi salah satu karakter bangsa dirasa sangat

perlu. Hal ini dapat menjadi inovasi dalam pembangunan Nasional. Terlebih lagi untuk

menghadapi tantangan dan tuntutan global dirasa perlu menciptakan budaya belajar di

pendidikan kita. Dengan itu bangsa Indonesia dapat tetap mengembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi karena memilki semangat belajar yang tinggi. Budaya belajar menjadi karakter

bangsa supaya tidak tertinggal dengan bangsa lain dan dapat menciptakan kemajuan bangsa

dengan belajar.

2. Masyarakat Ilmu Pengetahuan

Masyarakat dewasa ini sedang memasuki masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge

society), dimana sumber-sumber dasar ekonomi bukan lagi capital, sumber-sumber daya

alam, atau pekerjaan, melainkan ilmu pengetahuan. Masyarakat masa depanadalah

masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan. Artinya, apabila kekuatan ilmu pengetahuan

(ratio) tidak digunakan dengan semestinya makasuatu komunitas akan terjepit diantara

kekuatan-kekuatan yang ada sehingga mengakibatkan kehancuran komunikasi tersebut. Itu

sebabnya mengapa pendidikan modal utama di dalam setiap masyarakat dalam menghadapi

(21)

Pentingnya belajar dalam organisasi. Agar supaya organisasi terus-menerus berubah,

maka organiasi harus berhadapan dengan hal-halyang baru. Suatu masyarakat terus belajar

menghadapi perubahan-perubahan dan berarti pula menghadapi learning organization. Di era

pengetahuan yang di dorong semangat individu semakin meningkat. Disinilah peranan yang

besar dari budaya suatu bangsa yang merupakan suatu capital budaya dari bangsa itu untuk

memasuki masa depan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan (Tilaar, 2004: 86).

Masyarakat Ilmu Pengetahuan tentunya ada kaitannya dengan masyarakat kita yang akan

dibangun dengan budaya belajar. Budaya belajar yang menjadi kebutuhan akan menciptakan

masyarakat yang berpengetahuan. Pendidikan bangsa akan terangkat, tentunya untuk

menciptakan masyarakat yang berpengetahuan sangat diperlukan dukungan dan peran dari

berbagai pihak. Pemerintah dalam hal ini dapat mengajak masyarakat untuk belajar, misalnya

dengan progam belajar dasar dan penghargaan bagi yang berprestasi.

3. Lembaga Pendidikan sebagai Pusat Budaya Belajar

Lembaga pendidikan baik formal maupun informal tentunya dapat mendorong siswa

supaya lebih menyadarkan pentingnya belajar. Lembaga formal yang dibawah naungan

pemerintah dengan menetapkan kebijakan pentingnya belajar melalui desentralisasi di setiap

sekolah-sekolah. Sekolah sekarang ini juga dapat menetapkan aturan dan kebijakan supaya

lebih mendukung terciptanya budaya belajar yang baik. Bukan hanya itu, sekolah yang

mengetahui sendiri keadaan yang sedang dihadapi maka dapat menetapkan kebijakan yang

sesuai.

Budaya membaca, menulis, dan berbicara tentunya dimulai dari lembaga pendidikan.

(22)

dorongan dan motivasi serta menghargai siswa yang berprestasi untuk terus meningkatkan

(23)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Budaya belajar mengandung arti adanya perubahan kebiasaan belajar. Perubahan ini

mencakup perubahan sikap, nilai dan perilaku tertentu serta struktur organisasi belajar

sesuai dengan tuntutan budaya belajar sehingga dengan adanya perubahan ini akan

memberikan dampak terhadap kita, baik itu yang berdampak positif maupun yang

berdampak negatif, sebab kita akan mempelajari aturan aturan yang sesuai dengan

budaya belajar untuk tujuan. Tanggung jawab utama terhadap pelajaran pola perilaku

yang dilakukan untuk pelaksanaan belajar yang efektif dan norma-norma serta nilai yang

berlaku.

Budaya belajar yang baik membawa dampak positif terhadap pelaksanaan tugas

pelajaran kita melalui proses pembelajaran baik di sekolah maupun luar sekolah, akan

berhasil dengan baik jika ditunjang oleh budaya belajar siswa yang baik. Budaya belajar

kita adalah melaksanakan proses pendidikan dari guru, penerima bimbingan serta

mengerjakan evaluasi supaya terlaksana dengan baik.

B. Saran

Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung terciptanya budaya

belajar yang baik. Diperlukan juga peranan semua pihak agar bersinergis dalam

(24)

keluarga, pemerintah, dan lembaga. Mengubah paradigm bahwa belajar bukan sebagai

beban namun sebagi kebutuhan dan kegiatan yang menyenangkan.

Perlunya dorongan, motivasi dan sikap saling menghargai akan menciptakan

sikap budaya belajar diantara siswa. Siswa akan merasa senang dengan belajar. Belajar

juga sangat penting untuk eksistensi suatu bangsa agar bisa maju dan tak tertinggal

dengan bangsa lain.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

SOAL

1. Apakah hakikat dari budaya belajar?

2. Sejauhmana budaya belajar sudah terlaksana?

3. Mengapa budaya belajar perlu dilakukan?

4. Bagaimana penerapan budaya belajar yang baik?

5. Bagaimana solusi menyelesaikan permasalahan belajar?

6. Kapan siswa dirasa perlu melaksanakan budaya belajar?

7. Bagaimana peran guru untuk menunjang budaya belajar yang baik?

8. Bagaimana peran pihak sekolah untuk menunjang budaya belajar yang baik?

9. Bagaimana peran pemerintah untuk menciptakan budaya belajar yang baik?

10.Apa saja inovasi belajar yang dapat menunjang budaya belajar yang baik?

(25)

1. Budaya belajar merupakan serangkaian kegiatan dalam melaksanakan tugas belajar sebagai

kebiasaan, dimana jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan, berarti melanggar suatu nilai atau

patokan yang ada, dan menjadikan belajar sebagai kegemaran dan kesenangan, sehingga

motivasi belajar muncul dari dalam diri kita itu sendiri yang akhirnya produktifitas belajar

meningkat. Dengan demikian budaya belajar harus dilaksanakan dalam rangka meningkatkan

kehidupan belajar dan produktifitas belajar.

2. Budaya belajar yang ada saat ini dirasa belum terlaksana secara optimal. Melihat berbagai

penyimpangan yang masih terjadi, dan berbagai permasalahan yang ada tentunya sangat

mencerminkan budaya belajar masih perlu ditingkatkan. Bukan hanya itu, siswa perlu

ditumbuhkan dorongan dan motivasi supaya melihat belajar bukan sebagai beban dan

diarahkan supaya belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan dan suatu kebutuhan.

3. Karena untuk menciptakan suatu kegiatan belajar yang menjadi suatu kebutuhan. Dewasa ini,

supaya bangsa Indonesia tidak tertinggal dengan bangsa lain maka perlu untuk menciptakan

budaya belajar. Dengan budaya belajar maka belajar menjadi kebutuhan semua orang dapat

menciptakan sesuatu yang inovatif dan kreatif. Dengan terus belajar pula bangsa ini akan

tidak tertinggal dengan bangsa lain terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Budaya Kepatuhan : Belajar berhubungan erat dengan aspek kemanusiaan, yaitu

berhubungan dengan berbagai potensi yang dimiliki siswa, seperti kemampuan, bakat, minat,

sikap dam sebagainya. Oleh karena itu diperlukan komitmen yang baik dalam melaksanakan

budaya belajar. Tanpa memiliki komitmen yang tinggi, maka sulit untuk bisa efektif dan

sukses dalam pelajaran.

Budaya Inovatif: Inovatif adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda darihal

(26)

tujuan tertentu. Demikianpun kita yang inovatif akan memiliki gagasan, ide, dan perilaku

yang mendukung terhadap perubahan tersebut. Inovasi adalah suatu pembaharuan yang

mengandung makna sebagai berikut:

Budaya Profesional: Profesionalisme pada hakikatnya akan melakukan pelayanan ataupun

pengabdian yang dilandasi dengan kemampuan profesionalitas serta falsafah yang mantap

yang harus dimiliki seorang pelajar professional tersebut. Pernyataan professional

mengandung makna yang bersungguh sungguh keluar dari lubuk hatinya yang mengandung

norma atau nilai nilai yang etis.

Budaya Berprestasi: Budaya berprestasi yaitu memilki pola piker yang mantap, kemampuan,

pola sikap, dan keterampilan dalam berbagai hal, sehingga siswa tersebut dalam

melaksanakan proses belajar benar benar menguasai berbagai ilmu pengetahuan,

pengalaman, dan teknik belajar untuk mencapai yang lebih baik.

Budaya Memuaskan: Kita yang baik akan memiliki budaya memuaskan dalam proses belajar

kepada berbagai pihak baik pemerintah, para guru, meupun orang tua dan masyarakat, sebab

kitatumbuh dan berkembang karena dukungan dari berbagai pihak. Sudah sepatutnya kita

diajarkan komitmen untuk terus belajar dalam upaya menjamin hari masa depan siswa.

Budaya Integritas: Budaya berintegritas yang dilaksanakan kita merupakan pengalaman yang

didapatkan dari proses belajar mengajar dan interaksi dengan masyarakat sekolah, sehingga

mampu memberikan motivasi yang tinggi terhadap para siswa dalam mengikuti proses

pembelajaran.

5. Solusi menyelesaikan permasalahan belajar yakni dengan tindakan prefentif dan represif.

(27)

penyimpangan. Jika penyimpangan sudah terjadi maka dapat diberikan sanksi terhadap

penyimpangan yang dilakukannya supaya tidak melakukan penyimpangan lagi.

6. Siswa dirasa perlu melakukan budaya belajar sejak ia duduk di sekolah dasar. Budaya belajar

dijadikan kebiasaan oleh siswa dan kebutuhan dasar bagi siswa. Bukan hanya untuk siswa

yang sedang rendah motivasi belajarnya, namun siswa sejak sekolah dasar dirasa perlu

menciptakan suasana budaya belajar yang baik. Budaya belajar yang baik bagi siswa

didukung dengan menciptakan lingkungan budaya belajar, menumbuhkan semangat belajar

dari dalam diri siswa. Karena belajar merupakan suatu kebutuhan yang menyenangkan bukan

sebagai beban siswa.

7. Peran guru untuk menunjang budaya belajar yang baik dirasa sangat perlu, sekarang ini guru

dapat menciptakan metode pengajaran yang menyenangkan bagi siswa. Bukan hanya itu,

metode yang ditetapkan juga dapat mengembangkan pola pikir siswa, tidak hanya sekedar

memindahkan informasi dari guru kepada siswa namun siswa juga diajak memecahkan

berbagai permasalahan yang ada di lingkungannya supaya lebih peka. Guru juga memotivasi

siswa dan memberi dorongan untuk terus belajar, menghargai usaha belajar yang dilakukan

oleh siswa.

8. Peran yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah dengan menyediakan berbagai fasilitas

penunjang terciptanya budaya belajar yang baik. Misalnya dengan menambah buku di

perpustakaan, memperbaiki ruang kelas yang tak layak, dll. Usaha usaha yang dilakukan

sekolah tentunya harus menunjang terciptanya budaya belajar yang baik.

9. Peran pemerintah sangat perlu, yang mana pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu

melihat berbagai kondisi sekolah yang tentunya berbeda antara satu wilayah dengan yang

(28)

belajar rendah biasanya di pedalaman. Minat siswa tentunya berbeda antara satu sekolah

dengan yang lain. Pemerintah dapat memeberikan dorongan kepada dinas pendidikan untuk

memotivasi tiap sekolah menciptakan budaya belajar yang baik di sekolah-sekolahnya.

Pemerintah juga dapat menyediakan dana yang dibutuhkan oleh sekolah yang perlu misalnya

perbaikan sarana dan fasilitas terkait dengan menunjang budaya belajar siswa.

10.Inovasi yang dilakukan yaitu dengan merubah suatu paradigm belajar bukan sebagai beban

namun belajar sebagai suatu kebutuhan yang mana bila dikerjakan akan merasa senang.

Siswa dapat diajak memecahkan permasalahan yang ada disekitarnya, guru sebagai

penunjang, siswa yang aktif dalam pembelajaran. Menumbuhkan sikap kesadaran pentingnya

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Abbatt. 1998. Pengajaran yang Efektif. Jakarta: Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan

(KDT).

Agustin, Mubiar. 2011. Pemasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran. Bandung: Refika

Aditama.

Buchori, Mochtar. 1994. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: Tiara

Wacana Yogya.

Freire, Pulo. 2000. Pendidikan Sebagai Proses. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iman, Muis Sad. 2004. Pendidikan Partisipatif. Yogyakarta: Safiria Insana.

Rusyan, Tabrani. 2007. Budaya Belajar yang Baik. Jakarta: Panca Anugerah Sakti.

Suryadi, Ace. 2014. Pendidikan Indonesia Menuju 2025. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sutrisno. 2005. Revolusi Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Tilaar. 2004. Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam

Referensi

Dokumen terkait

Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari bagaimana manusia belajar guna mencapai tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan standar

Akan tetapi, jika cara-cara menumbuhkan budaya literasi membaca yang hanya untuk menaikkan peringkat, sesungguhnya kita sedang mendorong belajar bukan untuk mencapai

Upaya untuk menumbuhkembangkan kehidupan sosial budaya yang yang sehat sesuai dengan jati diri dan nilai-nilai budaya bangsa, ditengah masyarakat yang berhadapan

Bangsa ini kaya akan budaya penuh dengan symphoni yang indah mengapa tidak kita lestarikan. mengapa tidak

4 Saya merasa sesuai dengan budaya perusahaan ini. 5 Terdapat aturan yang jelas

Akan tetapi didalam pelaksanaannya telah berakulturasi dengan budaya Melayu Perlis sebagai akibat dari migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Jawa kewilayah Desa

SIMPULAN Mempelajari ilmu mengenai pendidikan karakter dan budaya itu sangat penting karena dapat membuat kita lebih mengerti mengenai apa itu arti karakter yang sebenar nya atau bisa

Coercion suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan Hubungan sosial Hubungan antar-manusia dalam masyarakat Indeks simple rates angka laju