• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan M (32)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan M (32)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Periode 2015-2016 .

Aslamiyah, Soebatul

Universitas Trilogi

1. Latar belakang masalah

Perbankan adalah lembaga yang memiliki peran intermediasi atau sebagai peratara antara pihak yang kelebihan dana (surplus spending unit) dengan pihak yang kekurangan dana (defisist spending unit) yang secara tidak langsung membantu perputaran uang dalam masyarakat.Bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsinya dengan baik, dengan kata lain bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan

moneter.Menurut Bank Of Settlement, bank dapat dikatakan sehat apabila bank tersebut dapat melaksakan kontrol terhadap aspek modal, aktiva,rentabilitas, manajemen dan aspek likuiditasnya.

Mulai dari Januari 2012 seluruh bank umum di Indonesia harus menggunakan pedoman penilaian tingkat kesehatan bank yang terbaru berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Pedoman tata cara terbaru tersebut dikenal dengan Metode RGEC, yaitu singkatan dari Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, dan Capital. Peraturan ini sekaligus menggantikan peraturan Bank Indonesia sebelumnya yaitu PBI No.6/10/PBI/2004. Dari penjabaran tersebut penulis pun tertarik untuk menganalisi kesehatan Bank BRI dengan alasan BRI merupakan bank yang peduli dengan pengembangan UMKM terwujud dengan adanya program teras pandai. Melihat perannya yang begitu besar diharapkan bank BRI mampu meningkatkan atau mempertahankan kinerjanya secara maksimal sehingga akan berpengaruh positif terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan penulis tertarik untuk melakukan penellitian dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Risk Profile, Good

(2)

2. Tujuan penulisan

Penelitian ini bertujuan untuk meanalisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) pada PT Bank BRI (Persero) Tbk 3. Literature

Kesehatan Bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.Manajemen bank perlu memperhatikan prinsip-prinsip umum berikut ini sebagai landasan dalam menilai Tingkat Kesehatan Bank (Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, bank wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank berdasarkan risiko dengan metode RGEC dengan pedoman selengkapnya mengacu pada Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 yaitu:

1. Penilaian Risk Profile (Profil Risiko)

2015 2016 Keterangan

NPL 2.02% 3.03% Baik

LDR 86.88% 87.77% Cukup baik

Sumber: Laporan keuangan 2015-2016

Penilaian faktor Profil Risiko merupakan penilaian terhadap Risiko Inheren dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko dalam aktivitas operasional bank. Dilihat dari laporan tersebut Bank BRI dalam posisi yang baik di karenakan pertahnnya mengalami peningkatan

2. Penilaian Good Corporate Governance (GCG)

2015 2016 Keterangan

CGC 1 1 Sangat baik

Sumber: Laporan keuangan 2015-2016

Dari tabel komposit diatas dapat dilihat bahwa selama periode 2015-2016 PT Bank BRI Tbk telah menjalankan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dengan baik. Karena mendapatkan

(3)

3. Penilaian Earnings (Rentabilitas)

Pada tahun 2016, Bank mencatat rasio Return on Assets (ROA) sebesar 3,84%, turun 35 bps

dibandingkan 4,19% di tahun 2015. Penurunan ini karena revaluasi aset sebesar Rp14,32 triliun pada

2016 yang menambah total aset sementara laba bersih tumbuh hanya di 2,18%. Demikian pula Return

on Equity (ROE) di tahun 2016 ini 23,08%, turun dari 29,89% di tahun 2015. BRI masih bisa

menghasilkan pendapatan seperti yang disarankan di 14 kenaikan Bps di NIM dari 2015 menjadi

8,27% di tahun 2016. Kenaikan ini terjadi karena mengelola kenaikan biaya bunga (0,21%) terhadap

kenaikan simpanan (12,78%), sehingga terjadi kenaikan suku bunga pendapatan sebesar 12,61%

pada tahun 2016. BRI juga berhasil mempertahankan kinerjanya dengan Rasio Efisiensi Operasional

(BOPO) sebesar 68,93%,. Setelah menganalisis semua rasio di atas, jelas dari pada BRI yang

memiliki kemampuan untuk menghasilkan keuntungan yang meningkat setiap tahun dan juga

menjaga efisiensi operasi Bank sebagaimana ditunjukkan oleh BOPO-nya yang lebih rendah dari

rata-rata industri.

4. Penilaian Capital (Permodalan)

2015 2016 Keterangan

CAR 20.59% 22.91% Sangat memadai

Sumber: Laporan keuangan 2015-2016

Bank harus memastikan kecukupan modal untuk memenuhi risiko kredit, risiko pasar dan risiko

operasional, ditunjukkan dalam Capital Adequacy Ratio. Itu CAR didefinisikan sebagai rasio modal

terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko. Itu CAR untuk tahun 2016 dihitung sebesar 22,91%,

meningkat dari 20,59% di tahun 2007 2015. Kenaikan ini didorong oleh revaluasi aset di tahun 2016

di tahun 2007 sebesar Rp14,32 triliun dengan surplus bersih aset tetap revaluasi senilai Rp13,82

triliun. Rasio kecukupan modal minimum yang ditetapkan BI adalah 9% Rasio kecukupan modal

BRI di tahun 2016 jauh di atas diperlukan satu. Hal ini menunjukkan bahwa Bank telah mencukupi

(4)

4. Rekomendasi

Dilihat dari semua analisis kesehatan pada Bank BRI hal yang bisa direkomendasikan adalah Bank BRI harus tetap memperhatikan segala aspek RGEC yang ada supaya tidak mengalami penurunan. Di tambah lagi dalam hal pemberian kredit terhadap masyarakat, dikarenakan bank BRI adalah bank yang peduli akan kemajuan UMKM. Dalam hal tersebut maka harus di perhatikan juga masalah system kredit nya, supaya tidak mengalami hal macet kredit. Yang nanti nya akan berdampat terhadap profit yang akan di terima oleh Bank BRI.

5. Kesimpulan

Secara keseluruhan pada periode 2015-2016 Tingkat Kesehatan PT Bank BRI (persero) Tbk dapat dikategorikan sangat sehat yang dapat dilihat dari beberapa tabel yang telah tersaji diatas. penilaian tingkat kesehatan bank dengan pengukuran rasio keuangan yang digunakan. Hal ini mengindikasikan bahwa kemapuan bank dalam mengelola asset, struktur organisasi, menangani risiko kredit sudah cukup baik sehingga PT Bank Mandiri (persero) Tbk bisa masuk ke dalam

peringkat 1 atau kategori sangat sehat. 6. Reference

Kisman, Z., & Shintabelle Restiyanita, M. The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing Theory (APT) in Predicting the Return of Stocks in Indonesia Stock Exchange.American Journal of Economics, Finance and Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp 184-189

Bank Indonesia, Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 oktober 2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.(online) Tersedia: http://www.bi.go.id [10 Desember 2017]

Jayanti Mandasari,2015 Analisis Kinerja Keuangan Dengan Pendekatan Metode RGEC pada

Bank BUMN Periode 2012-2013.Samarinda.ejournal ilmu administrasi bisnis.vol 3 nomor 2

PT Bank Mandiri (persero) Tbk, Laporan Tahunan (online) Tersedia: http://www.ir-bri.com/ar.html [10 Desember 2017]

Referensi

Dokumen terkait

Pedoman perhitungan selengkapnya diatur dalam Surat Edaran (SE) Bank Indonesia No.13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum

terkait Sistem Pelaporan Internal Bank mampu menyediakan data dan informasi dengan sangat tepat waktu, akurat, lengkap dan sangat handal serta efektif untuk

Hasil penelitian predikat tingkat kesehatan bank ditinjau dari analisis CAMEL pada Bank Perkreditan Rakyat di Kecamatan Buleleng periode 2010-2012 sejalan dengan

perusahaan mungkin mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Penelitian ini menunjukkan bahwa sejak periode krisis moneter, perbankan Indonesia, baik bank

Kesehatan keuangan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal seperti kemampuan menghimpun dana dari

Bank Islam atau biasa disebut dengan bank tanpa bunga ini, bisa dikatakan sebagai lembaga keuangan atau perbankan yang operasional dan produknya

BNI Syariah denga menggunakan metode ( Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) RGEC ini menunjukan predikat kesehatan Bank sesuai dengan standar yang telah

Jumlah bank umum di Indonesia tahun 1998-2019 Sumber : OJK 2019 Kesehatan bank harus mempunyai kontrol oleh karena itu BI mengeluarkan peraturan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank umum