2.1 Kesegaran Jasmani 2.1.1 Definisi
Kesegaran jasmani adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau
pekerjaan sehari-hari dan adaptasi terhadap pembebanan fisik tanpa menimbulkan
kelelahan berlebih dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati
waktu senggang maupun pekerjaan yang mendadak serta bebas dari penyakit.6 Menurut Parmo (2014), kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk
menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan ringan dan mudah, tanpa merasakan
kelelahan yang berarti dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk melakukan
kegiatan yang lain.5
2.1.2 Komponen Kesegaran Jasmani
Menurut Sumintarsi, komponen-komponen kesegaran jasmani terbagi
dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan.
a) Daya tahan kardiovaskuler
Komponen ini menggambarkan kemampuan dan kesanggupan
melakukan kerja dalam keadaan aerobik, artinya kemampuan dan
kesanggupan sistem peredaran darah pernapasan, mengambil dan
mengadakan penyediaan oksigen yang dibutuhkan.
b) Kekuatan otot
Kekuatan otot banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
terutama untuk tungkai yang harus menahan berat badan.
c) Daya tahan otot
Daya tahan otot adalah kemampuan dan kesanggupan otot untuk kerja
berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan.
d) Fleksibilitas
e) Komposisi tubuh
Komposisi tubuh berhubungan dengan pendistribusian otot dan lemak
di seluruh tubuh dan pengukuran komposisi tubuh ini memegang
peranan penting, baik untuk kesehatan tubuh maupun untuk
berolahraga. Kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan kegemukan
atau obesitas dan meningkatkan resiko untuk menderita berbagai
macam penyakit.
2. Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan.
a) Keseimbangan
Keseimbangan berhubungan dengan sikap mempertahankan keadaan
keseimbangan ketika sedang diam atau sedang bergerak.
b) Daya ledak
Daya ledak berhubungan dengan laju ketika seseorang melakukan
kegiatan atau daya ledak merupakan hasil dari daya X kecepatan.
c) Kecepatan
Kecepatan berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan gerakan
dalam waktu yang singkat.
d) Kelincahan
Kelincahan yang berhubungan dengan kemampuan dengan cara
merubah arah posisi tubuh dengan kecepatan dan ketepatan tinggi.
e) Koordinasi
Koordinasi yang berhubungan dengan kemampuan untuk
menggunakan panca indra seperti penglihatan dan pendengaran,
bersama-sama dengan tubuh tertentu di dalam melakukan kegiatan
motorik dengan harmonis dan ketepatan tinggi.
3. Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan Wellness
Wellness diartikan sebagai suatu tingkat dinamis dan terintegrasi dari fungsi-fungsi organ tubuh yang berorientasi terhadap upaya
memaksimalkan potensi yang memiliki ketergantungan pada tanggung
2.1.3 Ketahanan Otot
Ketahanan otot adalah kemampuan otot untuk berkontraksi berulang-ulang
sampai waktu tertentu dan menunjukkan seberapa lama seseorang dapat
mempertahankan penggunaan ototnya. Salah satu cara profesional untuk
mengukur ketahanan otot adalah dengan menentukan berat maksimal yang
mampu diangkat seseorang selama 20 kali secara terus menerus.7
Daya tahan otot mencerminkan kemampuan dalam hal bertahan
melaksanakan suatu aktivitas. Seseorang telah memiliki tenaga untuk melakukan
aktivitas yang berulang-ulang, peningkatan performa akan bergantung pada daya
tahan otot.9
Cara yang efektif untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot
dilakukan dengan cara menggunakan beban, karena dengan latihan beban dapat
menambah massa otot sehingga dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot.
Meningkatnya kekuatan otot dapat mempengaruhi dan meningkatkan beberapa
komponen biomotor yang lain seperti: meningkatnya daya tahan otot yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, agar dapat mengatasi kelelahan
selama aktifitas berlangsung.10
2.1.4 Pengukuran Ketahanan Otot
Tes Ketahanan otot menilai kemampuan otot untuk berkontraksi selama
periode waktu tertentu. Beberapa tes ini harus dilakukan di ruangan dengan alat
berat, sedangkan yang lain hanya membutuhkan berat badan untuk ketahanan dan
dapat dilakukan dimana saja. Tes ketahanan otot secara umum terbagi menjadi 2
yaitu: tes 20 RM (repetition maximum) dan tes gerak badan (calisthemic test).7 Tes 20 RM dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa latihan
angkat beban. Tes ini menentukan jumlah beban maksimal yang dapat diangkat
secara tepat sebanyak 20 kali berturut-turut sebelum otot menjadi lelah untuk
mengangkat lagi. Tes ini juga terutama bermanfaat untuk mencapai ketahanan otot
yang diinginkan dan mengikuti perkembangannya.7
support atau hang exercises untuk meningkatkan ketahanan otot. Masing-masing prosedur untuk latihan di atas berbeda-beda.7
Pengukuran dilakukan dengan menghitung jumlah push-up dan curl-up
yang dapat dilakukan dengan cara yang benar.
a. Push-up
Tubuh ditopang dengan posisi push-up dari kedua telapak tangan dan ujung jari kaki. Kedua tangan berada disamping bahu, punggung dan kaki dalam
posisi lurus. Mulai dari posisi bawah dengan siku 90 derajat, dada diatas lantai
dan dagu hampir menyentuh lantai. Angkat badan sampai lengan lurus dan
turunkan tubuh sampai ke posisi awal (dihitung 1 kali). Selesaikan push-up
perlahan dan jaga tetap dalam posisi yang benar. Kemudian hitung jumlah
push-up yang dilakukan dengan benar semaksimal mungkin tanpa berhenti.7
Hasil pengukuran interpretasi untuk laki-laki kelompok umur 20-29 tahun
sebagai berikut:7
1. Luar biasa bila dapat melakukan >36 kali
2. Sangat baik bila dapat melakukan antara 31-36 kali
3. Baik bila dapat melakukan antara 24-30 kali
4. Cukup bila dapat melakukan antara 21-23 kali
5. Kurang bila dapat melakukan 16-20 kali
6. Sangat Kurang bila dapat melakukan <16 kali
b. Curl-up
Dua buah strip tape ditempatkan sejajar antara satu sama lain dengan jarak 10 cm. Tubuh peserta berbaring di atas dengan lengan di samping badan, telapak
tangan menghadap lantai, siku lurus, dan jari-jari tangan diluruskan, dan
tidak dihitung jika tidak menyentuh strip tape yang kedua. Peserta sebaiknya menyelesaikan curl-up sebanyak mungkin tanpa berhenti, dengan maksimum 25. Hitung dan catat jumlah curl-up yang dilakukan peserta.7
Kemudian hasil pengukuran diinterpretasikan untuk laki-laki kelompok
umur 20-29 tahun sebagai berikut:7
1. Luar biasa bila dapat melakukan >25 kali
2. Sangat baik bila dapat melakukan antara 22-25 kali
3. Baik bila dapat melakukan antara 16-21 kali
4. Cukup bila dapat melakukan antara 13-15 kali
5. Kurang bila dapat melakukan antara 10-12 kali
6. Sangat kurang bila dapat melakukan <10 kali
2.2 Fisiologi Otot
Otot membentuk kelompok jaringan terbesar di tubuh, menghasilkan
sekitar separuh dari berat tubuh. Otot rangka saja membentuk 40% berat tubuh
dari pria dan 32% pada wanita, dengan otot polos dan otot jantung membentuk 10%
lainnya dari berat total. Meskipun ketiga jenis otot secara struktural dan
fungsional berbeda, namun mereka dapat diklasifikasikan dalam dua cara
berlainan berdasarkan karakteristik umumnya. Pertama, otot dikategorisasikan
sebagai lurik atau seran-lintang (otot rangka dan otot jantung) atau polos (otot polos), bergantung pada ada tidaknya pita terang gelap bergantian, atau garis-garis,
jika otot dilihat di bawah mikroskop cahaya. Kedua otot dapat dikelompokkan
sebagai volunter (otot rangka) atau involunter (otot jantung dan otot polos), masing-masing bergantung pada apakah otot tersebut disarafi oleh sistem saraf
somatik dan berada di bawah kontrol kesadaran, atau disarafi oleh sistem saraf
otonom dan tidak berada di bawah kontrol kesadaran.11
2.2.1 Struktur Otot Rangka
Satu sel otot rangka, yang dikenal sebagai serat otot, adalah relatif besar,
memanjang, dan berbentuk silindris, dengan ukuran garis tengah berkisar dari 100
(75cm), (1 µm = sepersejuta meter). Otot rangka terdiri dari sejumlah serat otot
yang terletak sejajar satu sama lain dan disatukan oleh jaringan ikat. Serat-serat
biasanya terbentang di keseluruhan panjang otot. Salah satu gambaran mencolok
adalah adanya banyak nukleus di sebuah sel otot. Fitur lain adalah banyaknya
mitokondria, organel penghasil energi, seperti diharapkan pada jaringan seaktif
otot rangka dengan kebutuhan energi yang tinggi.11
Struktur kontraktil didalam serabut otot rangka adalah miofibril terdiri dari
dua filamen yaitu filamen tipis dan filamen tebal. Pada gambaran mikroskopis
terlihat garis-garis gelap dan terang yaitu pita I, pita A, zona H, dan garis Z.
Antara dua garis Z disebut Sarcomere. Pada dasarnya garis gelap akibat adanya filamen tebal dan tipis, gambaran terang oleh karena hanya ada filamen tipis.
Filamen tipis tersusun oleh kumpulan molekul actin yang membentuk pilinan
ganda, kumpulan molekul tropomyosin juga membentuk pilinan ganda dan
troponin molekul.12
2.2.1.1 Pita A dan I
Dilihat dengan mikroskop elektron, sebuah miofibril memperlihatkan pita
gelap (pita A) dan pita terang (pita I) bergantian. Pita pada semua miofibril
tersusun sejajar satu sama lain yang secara kolektif menghasilkan gambaran
seran-lintang atau lurik serat otot rangka seperti terlihat di bawah mikroskop
cahaya. Tumpukan filamen tebal dan tipis bergantian yang sedikit tumpang tindih
satu sama lain berperan menghasilkan gambaran pita A dan I.11
Pita A dibentuk oleh tumpukan filamen tebal bersama dengan sebagian
filamen tipis yang tumpang tindih di kedua ujung filamen tebal. Filamen tebal
hanya terletak di dalam pita A dan terbentang di seluruh lebarnya, yaitu kedua
ujung filamen tebal di dalam suatu tumpukan mendefinisikan batas luar suatu pita
A. Daerah yang lebih terang di tengah pita A, tempat yang tidak dicapai oleh
filamen tipis, adalah zona H. Hanya bagian tengah filamen tebal yang ditemukan
di bagian ini. Suatu sistem protein penunjang menahan filamen-filamen tebal
M, yang berjalan vertikal di bagian tengah pita A di dalam bagian tengah zona
H.11
Pita I terdiri dari bagian filamen tipis sisanya yang tidak menjulur ke
dalam pita A. Di bagian tengah setiap pita I terlihat suatu garis vertikal pada garis
Z. Daerah antara dua garis Z disebut sarkomer, yaitu unit fungsional otot rangka.
Unit fungsional setiap organ adalah komponen terkecil yang dapat melakukan
semua fungsi organ tersebut. Karena itu, sarkomer adalah komponen terkecil serat
otot yang dapat berkontraksi. Garis Z adalah lempeng sitoskeleton gepeng yang
menghubungkan filamen tipis dua sarkomer yang berdekatan. Setiap sarkomer
dalam keadaan lemas memiliki lebar sekitar 2,5 µm dan terdiri dari satu pita A
utuh dan separuh dari masing-masing dua pita I yang terletak di kedua sisi. Pita
MI mengandung hanya filamen tipis dari dua sarkomer yang berdekatan tetapi
bukan panjang keseluruhan filamen-filamen ini.11
2.2.1.2 Filamen Tebal dan Filamen Tipis
Setiap filamen tebal memiliki ratusan molekul miosin yang dikemas dalam
susunan spesifik. Molekul miosin adalah suatu protein yang terdiri dari dua
subunit identik, masing-masing berbentuk seperti stik golf. Bagian ekor protein
saling menjalin seperti batang-batang stik golf yang dipilin satu sama lain, dengan
dua bagian globural menonjol di satu ujung. Kedua paruh masing-masing filamen
tebal adalah bayangan cermin yang dibentuk oleh molekul-molekul miosin yang
terletak memanjang dalam susunan bertumpuk teratur dengan ekor mengarah ke
bagian tengah filamen dan kepala globular menonjol keluar pada interval teratur.
Kepala-kepala ini membentuk jembatan silang antara filamen tebal dan tipis.
Setiap jembatan silang memiliki dua tempat penting yang krusial bagi proses
kontraksi: (1) suatu tempat untuk mengikat aktin dan (2) suatu tempat miosin
ATPase (pengurai ATP).11
Aktin adalah komponen struktural utama filamen tipis yang berbentuk
bulat. Filamen tipis terdiri dari tiga protein: aktin, tropomiosin, dan troponin. Tulang pungung filamen tipis dibentuk oleh molekul-molekul aktin yang
disatukan menjadi dua untai dan saling berpuntir, seperti dua untai kalung mutiara
yang dipilin satu sama lain. Setiap molekul aktin memiliki suatu tempat
pengikatan khusus untuk melekatnya jembatan silang miosin. Pengikatan molekul
miosin dan aktin di jembatan silang menyebabkan kontraksi serat otot yang
memerlukan energi. Karena itu, miosin dan aktin sering disebut protein kontraktil,
meskipun, baik miosin maupun aktin, sebenarnya tidak berkontraksi (memendek).
Miosin dan aktin tidak khas untuk sel otot tetapi kedua protein ini lebih banyak
dan lebih teratur di sel otot.11
2.2.1.3 Jembatan Silang
Dengan sebuah mikroskop elektron, dapat dilihat adanya jembatan silang
halus yang terbentang dari masing-masing filamen tebal menuju filamen tipis
sekitar di tempat di mana filamen tebal dan tipis bertumpang tindih. Secara tiga
filamen tipis di sekitarnya. Setiap filamen tipis, sebaliknya, dikelilingi oleh tiga
filamen tebal.11
2.2.2 Kontraksi Otot Rangka
Proses kontraksi dimulai di NMJ (neuromuscular junction). Asetilkolin dilepas oleh ujung sinaps yang berikatan dengan reseptor di sarcolema. Perubahan pada potensial antar membran serat otot menghasilkan potensial aksi yang
menyebar melewati permukaan serat otot dan sampai ke tubulus T. Retikulum
sarkoplasma mengeluarkan ion kalsium yang meningkatkan konsentrasi kalsium
sarkoplasma baik di dalam maupun sekitar sarkomer. Ion kalsium berikatan
dengan troponin menyebabkan perubahan orientasi dari kompleks
troponin-tropomiosin yang membuka tempat aktif aktin. Jembatan silang terjadi saat kepala
miosin berikatan dengan tempat aktif pada aktin. Kontraksi dimulai sebagai
perulangan siklus dari ikatan, putaran, maupun terjadi perlekatan jembatan silang
yang dibantu oleh hidrolisis dari ATP. Proses ini mengakibatkan filamen tertarik
dan serat otot memendek.13
2.2.3 Jenis Kontraksi Otot Rangka
Dua jenis utama kontraksi yang bergantung pada apakah panjang otot
berubah selama berkontraksi adalah isotonik dan isometrik. Pada kontraksi
isotonik, tegangan otot tidak berubah sementara panjang otot berubah. Pada
kontraksi isometrik, otot tidak dapat memendek sehingga terbentuk tegangan
dengan panjang otot tetap. Proses-proses internal yang sama terjadi baik pada
kontraksi isotonik maupun isometrik: eksitasi otot mengaktifkan proses kontraktil
pembentuk tegangan, jembatan silang mulai bersiklus, dan pergeseran filamen
memperpendek sarkomer, yang meregangkan komponen seri elastik untuk
menghasilkan gaya di tulang tempat insersi otot.11
Terdapat dua jenis kontraksi isotonik yaitu konsentrik dan eksentrik. Pada
keduanya, panjang otot berubah pada tegangan konstan, namun pada kontraksi
konsentrik, otot memendek sementara pada kontraksi eksentrik otot memanjang,
eksentrik, aktifitas kontraktil menahan peregangan. Salah satu contohnya adalah
menurunkan suatu beban ke lantai. Selama tindakan ini, serat-serat otot biseps
memanjang tetapi tetap berkontraksi untuk melawan peregangan. Tegangan ini
menopang berat badan.11
2.2.4 Sumber Energi Dan Metabolisme
Kontraksi otot membutuhkan energi dan otot disebut sebagai mesin yang
engubah energi kimia menjadi kerja mekanik. Sumber energi yang cepat berasal
dari ATP dan dibentuk dari metabolisme karbohidrat dan lemak. ATP dibentuk
kembali dari ADP dengan menambahkan gugus fosfat. Sebagian energi untuk
reaksi endoterm ini berasal dari pemecahan dari glukosa menjadi CO2 dan H2O,
tetapi ada juga dalam otot lain senyawa fosfat berenergi tinggi memberi energi
untuk waktu yang singkat. Senyawa ini adalah phosphorylcreatine, yang dihidrolisis menjadi kreatinin dan gugus fosfat yang menghasilkan banyak energi.
Saat istirahat, sebagian ATP di mitokondria mengubah fosfat menjadi kreatin
sehingga cadangan phosphorycreatine meningkat. Selama aktivitas,
phosphorycreatine dihidrolisis antara penghubung kepala miosin dan aktin, yang membentuk ATP dari ADH dan akhirnya kontraksi dapat berlanjut.14
2.2.5 Jenis Serat Otot Rangka
Otot skeletal terbagi menjadi 3 jenis yaitu oksidatif lambat, serat
glikolitik-oksidatif cepat dan serat glikolitik cepat. Serat oksidatif lambat
memiliki banyak mitokondria sehingga umumnya menggunakan respirasi selular
aerobik. Serat oksidatif lambat disesuaikan untuk kegiatan mempertahankan
postur tubuh, olahraga aerobik. Serat glikolitik cepat menghasilkan kontraksi yang
paling kuat sehingga serat ini digunakan untuk pergerakan anaerobik seperti
angkat beban. Serat glikolitik-oksidatif cepat menghasilkan ATP dengan respirasi
selular aerobik dan glikolisis anaerobik. Serat ini disesuaikan untuk kegiatan
berjalan dan lari estafet.15
Olahraga yang berbeda dapat mengubah karakteristik serat otot. Olahraga
cepat. Perubahan serat terlihat dari diameter, jumlah mitokondria, suplai darah
dan kekuatan. Sebaliknya, pada olahraga yang membutuhkan kekuatan yang besar
dalam waktu singkat akan meningkatkan ukuran dan kekuatan serat glikolitik
cepat.15
Tabel 2.1 Karakteristik Serat Otot Rangka
KARATERISTIK
2.2.5.1 Faktor Genetik Pada Tipe Serat Otot
Pada manusia, sebagian besar otot mengandung campuran dari ketiga jenis
serat; persentase masing-masing tipe terutama ditentukan oleh jenis aktivitas yang
khusus dilakukan oleh otot yang bersangkutan. Karena itu, di otot-otot yang
khusus untuk melakukan kontraksi intensitas rendah jangka panjang tanpa
mengalami kelelahan, misalnya otot di punggung dan tungkai yang menopang
glikolitik cepat banyak ditemukan di otot lengan, yang beradaptasi untuk
melakukan gerak cepat kuat misalnya mengangkat benda berat.11
Persentase berbagai tipe serat ini tidak saja berbeda di antara otot-otot
pada satu orang tetapi juga sangat bervariasi di antara individu. Atlet yang secara
genetis dianugerahi lebih banyak serat otot glikolitik cepat adalah kandidat yang
baik untuk jenis olahraga yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan, sementara
yang memiliki proporsi serat oksidatif lambat lebih banyak lebih besar
kemungkinannya berhasil dalam aktivitas yang memerlukan daya tahan misalnya
lari maraton.11
2.2.6 Adaptasi Serat Otot
Serat otot banyak beradaptasi sebagai respon terhadap kebutuhan yang
dibebankan kepadanya. Berbagai jenis olahraga menimbulkan pola lepas muatan
neuron yang berbeda ke otot yang bersangkutan. Di serat otot terjadi perubahan
adaptif jangka panjang, bergantung pada pola aktivitas neuron, yang
memungkinkan serat berespon lebih efisien terhadap kebutuhan yang dibebankan
kepadanya. Karena itu, otot rangka memiliki derajat plastisitas yang tinggi. Dua jenis perubahan yang dapat ditimbulkan pada serat otot: perubahan dalam
kemampuan menghasilkan ATP dan perubahan garis tengah.11
2.2.6.1 Perbaikan Kapasitas Oksidatif
Latihan daya tahan aerobik yang teratur, misalnya jogging jarak jauh atau berenang, memicu perubahan-perubahan metabolik di dalam serat oksidatif, yaitu
serat yang terutama direkrut selama olahraga aerobik. Sebagai contoh, jumlah
mitokondria dan jumlah kapiler yang menyalurkan darah ke serat-serat tersebut
meningkat. Otot-otot yang telah beradaptasi dapat menggunakan O2 secara lebih
efisien dan karenanya lebih tahan melakukan aktivitas berkepanjangan tanpa
2.2.6.2 Hipertrofi Otot
Ukuran sebenarnya otot dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan
resistensi anaerob berintensitas tinggi dan berdurasi singkat, misalnya angkat
beban. Pembesaran otot yang terjadi terutama disebabkan oleh meningkatnya
garis tengah (hipertrofi) serat-serat glikolitik cepat yang diaktifkan selama
kontraksi-kontraksi kuat tersebut. Sebagian besar penebalan serat disebabkan oleh
meningkatnya sintesis filamen aktin dan miosin, yang memungkinkan
peningkatan kesempatan interaksi jembatan silang dan selanjutnya terjadi
peningkatan kekuatan kontraktil otot. Stres mekanis yang ditimbulkan latihan
resistensi pada serat-serat otot memicu protein-protein penyalur sinyal, yang
mengaktifkan gen-gen yang mengarahkan sintesis lebih kontraktil ini banyak
protein. Latihan beban yang intensif dapat meningkatkan ukuran otot dua atau tiga
kali lipat. Otot-otot yang menonjol beradaptasi baik untuk aktivitas yang
memerlukan kekuatan intens untuk waktu singkat, tetapi daya tahan tidak
berubah.11
2.2.6.3 Pengaruh Testosteron
Serat otot pria lebih tebal, dan karenanya, otot-otot mereka lebih besar dan
kuat dari otot wanita, bahkan tanpa latihan beban, karena efek testosteron, suatu
hormon steroid yang terutama dikeluarkan oleh pria. Testosteron mendorong
sintesis dan penyusunan miosin dan aktin. Kenyataan ini mendorong sebagian
atlet, baik pria maupun wanita, menggunakan secara berbahaya bahan ini atau
steroid terkait untuk meningkatkan prrestasi atletik mereka.11
2.3 Indeks Massa Tubuh
2.3.1 Definisi Indeks Massa Tubuh
Indeks massa tubuh merupakan indikator yang paling sering digunakan
dan praktis untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obese pada orang dewasa. Untuk penelitian epidemiologi digunakan IMT, yaitu berat badan
menimbang di bawah air (r2 = 79%) dengan kemudian melakukan koreksi terhadap umur dan jenis kelamin.16
2.3.2 Cara Mengukur Indeks Massa Tubuh
Berdasarkan metode pengukuran IMT menurut WHO, untuk menentukan
indeks massa tubuh subjek/sampel maka dilakukan dengan cara: sampel/subjek
diukur terlebih dahulu berat badannya dengan timbangan yang telah distandarisasi,
kemudian diukur tinggi badannya dengan alat yang juga telah distandarisasi dan
dimasukkan ke dalam rumus di bawah ini:
Berat Badan (kg) IMT=
Tinggi Badan (m2)
Kemudian interpretasi hasil IMT yang didapat ke dalam tabel klasifikasi
IMT menurut Asia Pasifik di atas.
Berat badan diukur dengan alat timbangan yang telah distandarisasi .
Penimbangan dilakukan dengan melepas sepatu namun masih menggunakan baju
olahraga. Pembacaan berat badan dalam kilogram dengan kepekaan 0,1 kg.
Tinggi badan diukur dengan microtoise yang sudah distandarisasi. Pengukuran dilakukan dengan posisi tegak, muka menghadap lurus kedepan tanpa
memakai alas kaki. Pembacaan tinggi badan dalam meter dengan kepekaan 0,1
cm.17
2.3.3 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh
Indeks massa tubuh adalah indeks yang mudah digunakan antara berat
badan dan tinggi badan yang sering dipakai untuk mengelompokkan underweight, overweight dan obese pada dewasa. Indeks massa tubuh didefinisikan sebagai hasil dari berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam
IMT = 70 kg / (1,75 m)2 = 70 / 3,06 = 22,9
Nilai IMT tidak bergantung pada umur dan juga jenis kelamin. Akan tetapi,
IMT mungkin tidak cocok untuk tingkat kegemukan yang sama pada populasi
yang berbeda dan sebagian lagi pada perbedaan proporsi tubuh. Risiko kesehatan
behubungan dengan peningkatan IMT masih berlanjut dan interpretasi dari kelas
IMT berisiko berbeda untuk populasi yang berbeda.18
Meta-analisis beberapa kelompok etnik yang berbeda, dengan konsentrasi
lemak tubuh, usia, dan gender yang sama, menunjukkan etnik Amerika kulit hitam
memiliki nilai IMT lebih tinggi dari etnik Polinesia dan etnik Polinesia memiliki
nilai IMT lebih tinggi daripada etnik Kaukasia, sedangkan untuk Indonesia
memiliki nilai IMT berbeda 3,2 kg/m2 dibandingkan etnik Kaukasia.16
Tabel 2.2 Klasifikasi IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi IMT
Berat badan kurang
Kisaran normal
Berat badan lebih
Berisiko
Obesitas I
Obesitas II
<18.5 18.5-22,9
>23
23-24.9
25-29.9
>30
Sumber: Ilmu Penyakit Dalam Ed. V Jilid III.
2.3.4 Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Ketahanan Otot Beberapa penelitian tentang kesegaran jasmani berkaitan dengan
komposisi tubuh telah dilakukan. Penelitian pada laki-laki dewasa di Jepang
menunjukkan bahwa kesegaran jasmani laki-laki obesitas lebih rendah
yakni didapatkan bahwa makin tinggi persen lemak tubuh makin rendah tingkat
kesegaran jasmaninya.6
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Penggalin & Huriyati (2007),
memperlihatkan hasil uji regresi linier dari beberapa variabel terhadap stamina
atlet yaitu variabel umur, IMT, dan massa lemak tubuh secara independen tidak
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap stamina atlet (P>0,05). Namun
demikian, status gizi yang mencakup indikator IMT dan massa lemak tubuh
secara bersama-sama memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
stamina atlet (P<0,05). Asupan kalori harian, sebelumnya dan sesudah bertanding
memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap stamina atlet (P<0,05).
Demikian halnya kebiasaan hidup dan aktifitas fisik memberikan pengaruh yang
positif dan signifikan terhadap stamina atlet (P<0,05).19
Didapatkan hubungan negatif antara IMT dengan daya tahan otot perut
yang dinilai dengan tes baring duduk 30 detik. Hal ini berarti semakin tinggi IMT
semakin rendah daya tahan otot perutnya. Pada anak laki-laki didapatkan nilai
korelasi sedang (r = -0,751 ; p = 0,000), tetapi pada anak perempuan korelasinya
lemah (r = -0,469 ; p = 0,005). Penimbunan lemak di daerah perut memungkinkan
subjek yang lebih tinggi lemak tubuhnya memiliki daya tahan otot-otot perut yang
rendah.6
Penelitian yang dilakukan oleh Pralhadrao et al (2013). terhadap 180 subjek yang terdiri dari 90 laki-laki dan 90 perempuan yang berusia 18-21 tahun
menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara IMT, persentase lemak tubuh