UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN ISI KANDUNGAN AL-QUR'AN DAN HADITS DENGAN STRATEGI
PEER LESSON PADA SISWA KELAS XI IPS 1 MAN 1 KOTA BOGOR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan baik tujuan kelembagaan maupun tujuan pembelajaran. Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku dari individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. "Perubahan yang berarti bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap".[1] Dengan demikian proses pembelajaran akan berdampak langsung terhadap keberhasilan pembelajaran.
Kita semua berkeinginan bahwa tujuan yang akan kita capai mendapat hasil yang sangat memuaskan, oleh karena itu proses pembelajaran harus optimal sehingga keberhasilan guru mengajar dan siswa belajar serta kemampuan siswa menguasai materi pelajaran mendapat nilai dengan indikator yang sangat memuaskan.
Teks Al-Qur’an dan Hadits dalam menyampaikan pokok-pokok isinya memiliki cara dan strategi tersendiri sehingga mampu diterima oleh semua kalangan dengan berbagai tingkat daya nalar pembacanya. Tetapi, menurut pengamatan peneliti banyak siswa yang kurang mampu dalam memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits tersebut sehingga bisa menyebabkan kesalahan persepsi tentang maksud isi kandungan yang sebenarnya dan pada akhirnya akan salah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
▸ Baca selengkapnya: contoh ptk dalam ppg
(2)Dari masalah tersebut di atas perlu suatu strategi/model pembelajaran agar siswa mendapatkan kemudahan dalam memahami materi isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits, sebab pemahaman siswa terhadap materi pelajaran merupakan kunci sukses dalam menguasai pelajaran secara utuh dan baik.
Strategi Peer Lessons (belajar dari teman) merupakan salah satu strategi yang dapat menjawab permasalahan tersebut di atas karena strategi Peer Lessons merupakan sebuah strategi alternatif dalam pembelajaran yang aktif, efektif dan menarik yang mencakup prestasi akademik, peningkatan kepercayaan diri dan motivasi belajar serta interaksi antar siswa.
B. Rumusan Masalah dan Rencana Pemecahan Masalah 1. Rumusan Masalah
Problem yang dihadapi peneliti saat ini adalah kurangnya tingkat pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits di kelas XI IPS 2 MAN 1 Kota Bogor, maka untuk mengatasi masalah tersebut peneliti menggunakan strategi pembelajaran Peer Lessons.
Sesuai dengan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : Apakah strategi Peer Lessons dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits di kelas XI IPS 1 MAN 1 Kota Bogor?
2. Rencana Pemecahan Masalah
Untuk dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka tindakan kelas dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Kegiatan Awal
1. Mengawali pembelajaran, mengucapkan salam dan berdoa. 2. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa.
3. Melakukan tes penjajakan (pre-test).
4. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkannya pada pelajaran yang baru.
5. Menjelaskan dengan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa.
1. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok sesuai dengan segmen materi yang akan disampaikan dalam pembelajaran.
2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari satu topik materi. Kemudian mengajarkannya kepada kelompok lain.
3. Guru meminta setiap kelompok untuk menyiapkan metode untuk menyampaikan materi kepada teman-teman sekelas.
4. Guru memberi waktu yang cukup untuk persiapan.
5. Setiap kelompok menyampaikan materi sesuai tugas yang telah diberikan.
6. Setelah semua kelompok melaksanakan tugas, guru memberikan klarifikasi materi yang perlu.
7. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menyimpulkan materi yang dipelajari c. Kegiatan Akhir
1. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi pelajaran. 2. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran. 3. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar. 4. Menanamkan nilai-nilai dan pesan-pesan positif bagi siswa. 5. Melakukan relaksasi bersama untuk menjernihkan daya pikir. 6. Mengakhiri pelajaran dengan mengucap salam dan hamdalah.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan penggunaan strategi Peer Lessons dalam pembelajaran isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits guna meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Kota Bogor .
2. Untuk mengetahui sejauh mana sikap siswa terhadap penggunaan strategi Peer Lessons dalam mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
D. Manfaat Penelitian
Pembelajaran Al-Qur'an Hadits dengan materi pokok memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits melalui strategi Peer Lessons ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Guru
b. Mendapatkan umpat balik tentang strategi Peer Lessons; c. Meningkatkan kecakapan akademik;
d. Meningkatkan cara belajar siswa aktif;
e. Meningkatkan hubungan (interaksi) dengan siswa;
f. Sebagai indikasi untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar; g. Sebagai bahan penelitian bagi peneliti selanjutnya.
2. Siswa
a. Meningkatkan prestasi belajar, seperti pemahaman, penguasaan, mutu proses dan transfer belajar dari kelompok ke individu;
b. Meningkatkan sikap positif siswa terhadap sikap dan pengembangan motivasi belajar; c. Pembelajaran melalui strategi Peer Lessons membangkitkan motivasi belajar
keterampilan berkomunikasi;
d. Efektif mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran; e. Menumbuhkan minat kepercayaan diri siswa, dan wawasan lebih luas;
f. Meningkatkan partisipasi siswa dalam KBM;
g. Tepat dalam memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits. 3. Sekolah
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan pembelajaran dan mutu sekolah.
BAB II KAJIAN TEORI
1. Pengertian Strategi Peer Lessons
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan dan belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri, penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang optimal, karenanya diperlukan suatu strategi yang dapat mendukung atau meningkatkan keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Menurut Wina Sanjaya, dalam konteks pembelajaran strategi dapat dikatakan sebagai pola umum yang berisi tentang rentetan kegiatan yang dapat dijadikan pedoman (petunjuk umum) agar kompetensi sebagai tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.[2]
Dalam memilih suatu strategi, hendaknya dapat mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima pelajaran dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan pelajaran yang telah diberikan.[3] Salah satu bentuk pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menggunakan strategi Peer Lessons. Pembelajaran aktif (active learning) sendiri menurut Hisyam Zaini merupakan suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[4]
Sedangkan Peer Lessons adalah suatu strategi pembelajaran yang merupakan bagian dari active learning (pembelajaran aktif). Secara singkat menurut Melvin L. Silberman strategi Peer Lessons merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di dalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggung jawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas.[5]
melakukan presentasi siswa diberi waktu yang cukup baik di dalam maupun di luar kelas. Guru dapat memberi beberapa saran kepada siswanya seperti menggunakan alat bantu visual, menyiapkan media pengajaran yang diperlukan atau menggunakan contoh-contoh yang relevan. Setelah semua kelompok melaksanakan tugasnya, guru memberikan kesimpulan dan klarifikasi sekiranya ada yang perlu diluruskan dari pemahaman siswa.
Dengan strategi Peer Lessons setiap siswa diajak untuk turut aktif dalam proses pembelajaran tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Dengan demikian mereka dapat belajar dengan lebih menyenangkan sehingga keberhasilan pembelajaran yang diharapkan bisa lebih optimal.
2. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Peer Lessons
Strategi Peer Lessons ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri dan menuntut saling ketergantungan yang positif terhadap teman sekelompoknya karena setiap kelompok bertanggung jawab untuk menguasai materi pelajaran yang telah ditentukan dan mengajarkan atau menyampaikan materi tersebut kepada kelompok lain.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan strategi Peer Lessons adalah sebagai berikut : a. Bagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil sebanyak segmen materi yang
akan disampaikan.
b. Masing-masing kelompok kecil diberi tugas untuk mempelajari satu topik materi, kemudian mengajarkannya kepada kelompok lain.
c. Minta setiap kelompok menyiapkan strategi untuk menyampaikan materi kepada teman-teman sekelas. Sarankan kepada mereka untuk tidak menggunakan metode ceramah atau seperti membaca laporan.
d. Buat beberapa saran seperti :
1. Menggunakan alat bantu visual.
2. Menyiapkan media pengajaran yang diperlukan. 3. Menggunakan contoh-contoh yang relevan.
4. Melibatkan teman dalam proses pembelajaran, misalnya melalui diskusi, permainan, kuis, studi kasus, dan lain-lain.
5. Memberi kesempatan kepada yang lain untuk bertanya.
e. Beri siswa waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam maupun di luar kelas.
f. Setiap kelompok menyampaikan materi sesuai tugas yang telah diberikan.
g. Setelah semua kelompok melaksanakan tugas, beri kesimpulan dan klarifikasi sekiranya ada yang perlu diluruskan dari pemahaman siswa.[6]
Dengan demikian peserta didik akan merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga termotivasi untuk belajar dan hasil belajar dapat dimaksimalkan.
3. Manfaat Strategi Peer Lessons
Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng, dan tidak akan memberikan hasil yang maksimal kepada siswa, karena pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mengajak siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran yaitu dengan mendengarkan, melihat, mengajukan pertanyaan dan membahasnya dengan orang lain. Bukan hanya itu, siswa perlu menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Peer Lessons adalah salah satu bentuk pembelajaran aktif (active learning). Dengan strategi Peer Lessons siswa diajak untuk turut aktif dalam proses pembelajaran. Adapun manfaat dari strategi Peer Lessons adalah :
a. Otak bekerja secara aktif
Dengan strategi Peer Lessons siswa diajak belajar secara aktif baik di dalam maupun di luar kelas, mereka diberi kesempatan untuk memilih strategi apa yang mereka inginkan dan mereka juga mempunyai tanggung jawab menguasai pelajaran untuk dipresentasikan atau diajarkan kepada temannya.
Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.[7]
b. Hasil belajar yang maksimal
Dengan strategi Peer Lessons peserta didik dapat belajar secara aktif, di dalam dan di luar kelas dan mereka mempunyai tanggung jawab untuk mendiskusikan dan mengajarkan materi pelajaran kepada teman yang lain, sehingga mendorong mereka untuk lebih giat belajar baik secara mandiri maupun kelompok. Dengan demikian hasil belajar akan lebih maksimal. Penelitian menunjukkan bahwa memberi pertanyaan kepada peserta didik atau menyuruh mereka untuk mendiskusikan materi yang baru saja diberikan mampu meningkatkan nilai evaluasi dengan kenaikan yang signifikan.[8]
Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan.[9] Dan dalam strategi Peer Lessons ini siswa diajak serta untuk aktif dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan demikian akan membuahkan hasil belajar yang langgeng.
d. Proses pembelajaran yang menyenangkan
Strategi Peer Lessons merupakan strategi pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Dengan belajar aktif ini peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana menyenangkan.[10]
e. Otak dapat memproses informasi dengan baik
Otak tidak akan dapat memproses informasi yang masuk kalau otak itu tidak dalam kondisi on, maka otak memerlukan sesuatu yang dapat dipakai untuk menghubungkan antara informasi yang baru diajarkan dengan informasi yang telah dimiliki. Jika belajar itu pasif, otak tidak akan dapat menghubungkan antara informasi yang baru dengan informasi yang lama. Selanjutnya otak perlu beberapa langkah untuk dapat menyimpan informasi. Langkah-langkah itu bisa berupa pengulangan informasi, mempertanyakan informasi atau mengajarkannya kepada orang.[11] Adapun langkah-langkah tersebut terdapat dalam strategi Peer Lessons.
B. Tinjauan tentang Keberhasilan Pembelajaran Al-Qur'an Hadits 1. Pengertian Keberhasilan Pembelajaran Al-Qur'an Hadits
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa keberhasilan berasal dari kata hasil yang mempunyai makna mendapat hasil atau berhasil.[12]
Sedangkan pembelajaran berasal dari kata belajar. Secara etimologi belajar memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami dan mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.[13]
Menurut Nana Sudjana belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan lain-lain aspek yang ada pada diri individu. [14]
pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.[15]
Belajar menurut Muhibbin Syah adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[16]
Selanjutnya belajar menurut pendapat Wasty Sumanto adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.[17]
Sedangkan Al-Qur'an Hadits adalah mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik untuk mengenal, menghayati dan memahami Al-Qur'an dan Hadits dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits tersebut.
Dari beberapa pengertian di atas keberhasilan pembelajaran Al-Qur'an Hadits dalam PTK ini adalah hasil yang dicapai atau di dapat dari kegiatan atau aktivitas belajar siswa berupa pengetahuan (ilmu), pemahaman, penghayatan terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits dan berusaha untuk merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits tersebut.
2. Teori-teori Belajar
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa itu sendiri. Berdasarkan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran dapat lebih meningkatkan perolehan siswa sebagai hasil belajar. Berikut ini peneliti paparkan beberapa teori belajar yang dapat digunakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam pembelajaran.
a. Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal- hal yang sedang dipelajari.[18]
dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.[19]
b. Teori Perkembangan Kognitif Peaget
Menurut Peaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf dengan makin bertambahnya umur seseorang maka makin komplekslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Peaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.[20]
Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan. Peaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.[21]
c. Teori Pembelajaran Sosial Vygotsky
Vygotsky berpendapat bahwa siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa. Teori Vygotsky ini, lebih menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran. Menurut Vigostsky bahwa proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka. Vigostsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi. Pada umumnya muncul dalam percakapan dan kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. [22]
d. Teori Penemuan Joreme Bruner
Dengan teorinya yang disebut free discovery learning, Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.[24]
Bruner menyarankan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.[25]
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1) Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini ialah panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya seperti mengalami cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.[26]
2) Faktor Psikologis
Beberapa faktor psikologis yang utama yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.[27]
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Menurut M. Dalyono faktor eksternal tersebut adalah :
1) Keluarga; 2) Sekolah; 3) Masyarakat;
4. Indikator-indikator Keberhasilan Pembelajaran
Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal berikut :
a. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.
b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.[29]
C. Efektivitas Strategi Peer Lessons dalam Meningkatkan Keberhasilan Pembelajaran Al-Qur'an Hadits
Belajar bukan hanya sebuah proses penuangan informasi dari guru ke dalam benak siswa seperti menuang air ke dalam gelas kosong sehingga siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Akan tetapi belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sehingga siswa dapat belajar secara aktif. Karena ketika siswa belajar secara pasif ada kecenderungan untuk cepat melupakan informasi atau materi yang telah mereka dapatkan. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai kelemahan, sebagaimana ungkapan seorang filosuf kenamaan dari China, Konfusius : "Yang saya dengar, saya lupa yang saya lihat, saya ingat yang saya kerjakan, saya pahami".[30]
Melvin L. Silberman memodifikasi dan memperluas kata-kata bijak Konfusius tersebut menjadi : "Yang saya dengar, saya lupa yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat yang saya dengar, lihat dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami. Dari yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan, saya dapat pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai".[31]
Peer Lessons adalah strategi pembelajaran yang mengajar siswa untuk belajar secara aktif. Peer Lessons merupakan bagian dari active learning. Dalam Peer Lessons siswa diberi kesempatan untuk memilih strategi pembelajaran yang akan mereka gunakan dalam proses pembelajaran dan mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan materi kepada temannya. Sehingga mereka diajak untuk aktif baik di dalam maupun di luar kelas, untuk mempersiapkan strategi dan materi yang akan mereka ajarkan.
Pendidikan mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan dalam Pendidikan Agama Islam khususnya Al-Qur'an Hadits ranah afektif dan psikomotorik lebih ditekankan, hal ini disebabkan pendidikan agama Islam dipelajari bukan hanya dijadikan sebagai pengetahuan saja namun harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir sebagaimana yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :
1. Melalui strategi Peer Lessons dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits di kelas XI IPS 1 MAN 1 Martapura.
2. Sikap siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Martapura setuju dengan strategi Peer Lessons pada materi pemahaman isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits
E. Ringkasan Materi
Ringkasan materi yang akan dijadikan bahan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut :
Berkompetisi dalam Kebaikan
Materi pokok QS. An-Nahl : 97; QS. Al-Baqarah : 148; QS. Al-Faathir : 32 dan HR. Ibnu Majah dengan kandungan sebagai berikut :
a. Setiap perbuatan baik oleh seseorang harus dilandasi iman di dalam dirinya. Imanlah yang menentukan balasan yang akan Allah berikan.
b. Tanda dan ukuran yang menunjukkan benarnya iman seseorang adalah kemampuannya untuk menginfakkan sesuatu yang dicintainya demi kepentingan agama dan masyarakat secara luas.
c. Allah berjanji untuk memberikan balasan yang terbaik di akhirat atas amal shaleh yang telah dilakukan seorang mukmin.
d. Kebaikan adalah segala hal yang menentramka jira dan menenangkan hati pelakunya. Sedangkan dosa atau kejahatan yaitu segala hal yang membuat hati pelakunya gelisah dan peraannya menjadi gundah.
e. Allah telah menentukan Ka'bah kepada umat muslim sebagai arah kiblat untuk beribadah.
f. Yang penting bagi umat Islam adalah berusaha untuk menjadi umat yang terdepan dalam segala urusan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat.
g. Allah mengklasifikasi manusia dalam melaksanakan ajaran agama Islam ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok yang dzalim atau kelompok yang lebih banyak amal buruknya daripada amal shalehnya, kelompok yang banyak perhtungan dalam beramal atau kelompok yang imbang antara amal baik dan amal buruknya, dan kelompok yang selalu di depan dalam berbuat kebaikan.
Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar
a. Allah menganjurkan kepada orang Islam, agar di antara mereka ada orang-orang yang aktif berdakwah di jalan Allah.
b. Kelebihan umat Islam dari yang lain adalah karena mereka menjaga prinsip amar ma'ruf nahi munkar.
c. Dalam menangani kemunkaran bisa ditempuh melalui tiga cara; yaitu dengan kekuasaan atau tindakan tegas, dakwah bil lisan (ajakan), dan melalui pengingkaran hati. Ketiga-tiganya dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi. d. Bila seorang mukmin membiarkan kemunkaran merajalela di sekelilingnya, maka azab Allah akan tururn menimpa seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan, baik yang berbuat kemunkaran maupun yang tidak.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Martapura pada semester II (dua) Tahun Pelajaran 2009-2010 dengan jumlah siswa 32 orang yang terdiri dari 7 orang laki-laki dan 25 orang perempuan
C. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Kota Bogor dengan jumlah siswa 32 orang yang terdiri dari 7 orang siswa laki-laki dan 25 orang siswa perempuan. 32 orang siswa tersebut dibagi menjadi 4 kelompok belajar yang anggotanya heterogen kemampuannya (tinggi, sedang, dan rendah) dan jenis kelamin.
Penelitian ini dilaksanakan pada mata pelajaran Al-Qur'an Hadits dengan kompetensi dasar Menceritakan perilaku orang yang mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an dan Hadis tentang berkompetisi dalam kebaikan dan menjelaskan isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits tentang Amar Ma'ruf Nahi Munkar, dengan materi pokok Q.S An-Nahl: 97; QS. Al-Baqarah : 148 ; QS. Al-Faathir : 32 dan HR. Ibnu Majah, dan QS. Ali Iman 104 ;110, HR. Muslim dan HR. Abu Daud.
Keadaan ini diakibatkan oleh kurangnya minat dan pemahaman siswa terhadap materi tersebut sehingga menyebabkan rendahnya nilai Al-Qur'an Hadits siswa pada materi pokok tersebut. Untuk itu akan diterapkan strategi Peer Lessons sebagai upaya meningkatkan pemahaman siswa. Dengan strategi tersebut nantinya dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran Al-Qur'an Hadits sehingga dapat meningkatkan prestasi pelajar siswa dan prestasi sekolah.
Untuk memecahkan masalah tersebut di atas, ada beberapa aspek yang perlu diteliti, yaitu :
Aspek guru, yaitu kegiatan guru dalam pembelajaran, bagaimana guru melaksanakan strategi Peer Lessons sehingga siswa aktif dan bergairah dalam mengikuti pembelajaran.
Aspek siswa, yaitu berupa tingkat pemahaman siswa, apakah siswa cukup aktif dan bergairah dalam mengikuti strategi Peer Lessons sehingga meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits.
Aspek hasil belajar, yaitu berupa hasil belajar siswa, apakah hasil belajar siswa meningkat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur'an Hadits khususnya pada materi pemahaman isi kandungan Al-Al-Qur'an dan Hadits.
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini nantinya akan dilaksanakan dengan cara mengikuti skenario tindakan yang tentunya akan diperbaiki dalam perjalanan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur dalam penelitian tindakan kelas ini dibagi dalam dua siklus, tiap siklus terdiri dari satu kali tatap muka (pertemuan).
Pada evaluasi dan observasi awal dilakukan refleksi untuk merencanakan strategi Peer Lessons, sehingga dapat diketahui penekanan mana yang perlu diperhatikan dalam strategi Peer Lessons, sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits.
Prosedur pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini diatur dalam skenario dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Membuat skenario pembelajaran dengan strategi Peer Lessons.
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam strategi Peer Lessons dengan materi pemahaman isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits tentang Berkompetisi dalam Kebaikan dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Membagi siswa menjadi 4 kelompok belajar, masing-masing 8 orang. Guru memberikan pengarahan pada siswa tentang tata kerja kelompok. Mendesain instrumen/alat evaluasi berupa format observasi untuk mengukur :
a. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran. b. Aktivitas siswa dalam belajar kelompok.
c. Mengetahui perkembangan keterampilan proses siswa dalam pembelajaran. Membuat lembar kuisioner untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan strategi Peer Lessons.
Membuat soal tes tertulis untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
E. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya 1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah laporan observer dan siswa Kelas XI IPS 1 MAN 1 Kota Bogor
2. Jenis Data
a. Format-format observasi digunakan dalam proses belajar mengajar untuk memperoleh data kualitatif tentang :
1) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 2) Aktivitas siswa dalam belajar kelompok.
3) Perkembangan keterampilan proses dalam pembelajaran.
b. Kuisioner digunakan untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan strategi Peer Lessons.
c. Soal tertulis digunakan untuk memperoleh data kuantitatif tentang pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
F. Analisis Data
1. Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung rata-rata nilai siswa setelah mengikuti tes hasil belajar. Rata-rata nilai dihitung dengan menggunakan rumus :
Rata-rata = ∑ X n
Keterangan : X = Nilai yang diperoleh siswa n = Jumlah siswa
2. Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kualitatif yakni :
a) Data tentang kinerja guru dan siswa yang meliputi aktivitas siswa dalam belajar kelompok, keterampilan proses dalam pembelajaran dikumpulkan melalui observasi kemudian secara deskriftif hasilnya dipersentasikan sebagai berikut :
Jumlah per kategori yang dilakukan siswa yang hadir x 100% Jumlah siswa yang hadir. b) Data tentang sikap siswa terhadap pembelajaran dengan strategi Peer Lessons
dikumpulkan melalui kuisioner siswa kemudian secara deskriftif dipersentasikan sebagai berikut :
Jumlah jawaban siswa :
Presentase = X 100% Jumlah siswa seluruhnya
G. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan sebagai berikut :
1. Siklus pertama dilaksanakan pada minggu ke-2 bulan Maret 2010 dengan satu kali pertemuan, yaitu pada hari Kamis, 9 Maret 2010. Kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membangkitkan minat dan melatih aktivitas kerja sama siswa dalam kelompok, terutama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran secara bersama terhadap materi memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits tentang berkompetisi dalam kebaikan dengan menggunakan strategi Peer Lessons.
2. Siklus kedua dilaksanakan pada minggu ke-2 bulan April 2010 dengan satu kali pertemuan, yaitu pada hari Kamis, 15 April 2010. Tindakan kelas dengan menerapkan strategi Peer Lessons terhadap materi memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits tentang Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar.
H. Cara Pengamatan (Monitoring)
Melakukan observasi atau pengamatan langsung di kelas terhadap aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok untuk memperoleh data sebagai gambaran mengenai kemampuan siswa dalam memahami isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits. Selama proses kegiatan belajar mengajar, kegiatan siswa dan keaktifannya dicatat dan diamati dengan cara sebagai berikut :
1. Pengamatan langsung dari peneliti terhadap aktivitas siswa
2. Pengamatan partisipasi dari teman sejawat dengan mengisi format observasi. I. Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam observasi dan hasil tes belajar berdasarkan siklus tatap muka, selanjutnya dianalisis dan digunakan sebagai refleksi dan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran. Refleksi juga dilakukan untuk setiap kegiatan agar dapat diketahui lebih dini kekurangan dan kelemahannya sehingga dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan tindakan kelas berikutnya.
J. Indikator Keberhasilan Penelitian
Penelitian ini dikatakan berhasil optimal dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Meningkatnya pemahaman siswa terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan Hadits.