SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh
Gregoria Rosarheina Kusuma
NIM : 049114008
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran konsep diri dari anak laki-laki pertama suku Jawa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode wawancara etnografi. Lima belas orang subyek didapatkan dari pemilihan menggunakan snowball sampling, dengan karakteristik yaitu anak laki-laki yang lahir pertama dalam sebuah keluarga Jawa, berada pada usia 19-25 tahun, berdomisili di D.I. Yogyakarta, diasuh oleh dua orang tua suku Jawa asli, dan memiliki lingkungan tempat tinggal yang terdiri sebagian besar orang-orang Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki pertama Jawa memiliki konsep diri yang positif dalam dimensi internal dan eksternalnya. Respon positif dimensi internal, terdapat pada respon seluruh subyek dalam subdimensi diri identitas, serta sebagian besar pada subdimensi diri penilaian dan diri pelaku. Di sisi lain, dimensi eksternal menunjukkan respon positif seluruhnya pada subdimensi diri fisik, dan diri etik moral, serta pada sebagian besar subdimensi diri personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri akademi / kerja. Konsep pengasuhan Jawa yang menanamkan rasa wedi, isin dan sungkan memberikan pengaruh pada konsep diri, sehingga subyek berperilaku sesuai sosok ideal pemimpin Jawa. Selain itu, subyek menjadi tidak bersedia menganggap diri lebih rendah daripada orang lain (andhap asor) ketika hasil kerjanya mendapat pengakuan. Hal ini bertentangan dengan konsep pribadi Jawa yangandhap asor, sehingga tampak terjadi kerancuan kepribadian.
Kata kunci:konsep diri, anak laki-laki pertama Jawa
ABSTRACT
The purpose of this research is to do the description about the Javanese eldest son’s self concept. It is a qualitative descriptive research. The method applied in this qualitative description research is ethnographical interview method. Fifteen subjects were selected using snowball sampling method. The selection was refered to subject’s characters criteria. The criteria are as follows: they are the eldest son of Javanese families, 19-25 years of age, staying in Yogyakarta, grown by pure Javanese parents, and their life circumstances are dominated by Javanese tradition. The result of this research shows that the subjects have positive self concept, both in internal and external dimension. In internal dimension, all positive responses identified in identity-self subdimension, and also in most part of self-judgement and acting subdimensions. In the other hands, external dimension shows all positive responses in phisically-self and ethic morally-self subdimensions. It also appeared in most part of personal-self, family-self, social-self, and academy / working-self subdimensions. Javanese parenting concepts “wedi (afraid), “isin (shame), and “sungkan (not easy manner) contribute influence to the self concept, that brings the impact on subjects to act as a Javanese ideal leader. On the other hand, the subjects do not want to be humble (andhap asor) when their job accomplished with high appreciation. Hence dual personality appears.
Key word:self concept, Javanese eldest son
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Nama : Gregoria Rosarheina Kusuma
Nomor Mahasiswa : 049114008
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
Konsep Diri Anak Laki-laki Pertama Jawa
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan
Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,
mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk
kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan
royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal: 30 September 2010
Yang menyatakan,
(Gregoria Rosarheina Kusuma)
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... iv
ABSTRAK... v
ABSTRACT... vi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA... vii
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GRAFIK... ... xi
BAB I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. LANDASAN TEORI... 7
A. Konsep Diri ... 7
1. Pengertian Konsep Diri ... 7
2. Dimensi dan Subdimensi Konsep Diri. ... 9
3. Jenis-jenis Konsep Diri... 12
B. Keluarga Jawa ... 14
C. Konsep Diri Anak Laki-laki Pertama Jawa ... 20
B. Subyek... 28
C. Alat Pengumpul Data... ... 29
1. Variabel Penelitian... 29
2. Definisi Operasional ... 29
3. Alat Pengumpul Data... 39
4. Keabsahan Data Penelitian. ... 44
5. Analisis Data... 45
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 47
A. Proses Penelitian ... 47
B. Pelaksanaan Penelitian... 48
C. Hasil Penelitian ... 51
1. Orientasi Kancah. ... 51
2. Hasil Penelitian Tiap Subyek ... 55
D. Analisis Hasil Respon ... 154
E. Analisis Antar Subyek... ... 175
BAB V. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN... 188
A. Kesimpulan ... 188
B. Keterbatasan Penelitian... 190
C. Saran ... 190
DAFTAR PUSTAKA... 192
Tabel 3.1 Indikasi Jenis Konsep Diri ... 33
Tabel 3.2 Panduan Wawancara Konsep Diri. ... 41
Tabel 4.1 Data Demografi Subyek Penelitian... 53
Tabel 4.2 Data Kedudukan Subyek dalam Keluarga. ... 54
Grafik 5.1 Data Hasil Respon Positif Dimensi Internal Subyek……… 189
Grafik 5.2 Data Hasil Respon Positif Dimensi Eksternal Subyek………. 189
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perilaku anak laki-laki pertama sering menjadi fenomena yang
menarik dalam sebuah keluarga Jawa. Suatu hal yang tampak menonjol dari
sikap seorang anak laki-laki pertama Jawa ialah ia bertindak seperti “putera
mahkota”. Sebagai anak laki-laki pertama, ia merasa lebih berkuasa
daripada saudara-saudaranya yang lain. Hal ini misalnya tampak dari
perilaku yang berusaha menyingkirkan saudara-saudaranya dengan
memberi cap buruk, yaitu sebagai orang-orang yang lebih rendah dari
dirinya. Anak laki-laki pertama Jawa memandang bahwa dirinya adalah
anak yang utama dan terbaik, sehingga berhak mengatur segalanya karena
berpatokan pada paham bahwa tindakannya adalah tindakan yang lebih
benar daripada tindakan saudara yang lain. Begitu juga dalam lingkungan
masyarakat, anak laki-laki pertama Jawa sering bertindak sesuai dengan
kehendaknya sendiri, dan juga menganggap dirinya sebagai seorang
pemimpin yang hebat. John Kinch (dalam Tarakanita, 2001) berpendapat
bahwa interaksi individu dengan lingkungan sosialnya sangat tergantung
dan dipengaruhi konsep diri.
Konsep diri menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2001) ialah bagaimana
diri diamati, dipersepsi, dan dialami oleh individu tersebut. Selain itu,
makna konsep diri mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi
perilaku seseorang dalam interaksi dengan orang lain. Konsep diri ini terdiri
dari dimensi internal dan dimensi eksternal. Yang dimaksud dengan konsep
diri internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi sebagai kesatuan yang
unik. Penilaian diri berdasarkan dimensi internal meliputi penilaian
seseorang terhadap diri identitas, diri penilaian, dan perilakunya. Konsep
diri eksternal adalah persepsi diri yang timbul dalam interaksi individu
dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan interpersonal. Dimensi
eksternal ini terdiri dari enam bagian yang berhubungan dengan diri, yaitu
diri fisik, diri etik-moral, diri personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri
akademi atau kerja. Dari uraian tersebut, maka diduga perilaku dari anak
laki-laki pertama Jawa disebabkan oleh nilai konsep dirinya yang terlalu
positif.
Harre (dalam Tarakanita, 2001) berpendapat bahwa konsep diri
remaja akan mengalami peningkatan sesuai dengan siklus kehidupan
individu. Hal ini berkaitan erat dengan faktor-faktor intrapsikis, kognitif,
dan kultur (budaya) yang meliputi dunia internal dan eksternal individu.
Ketiga hal ini akan bergabung menjadi satu dan membentuk konsep diri
individu.
Budaya Jawa yang bersistem patrilineal menuntut keutamaan dari
seorang pria. Hal ini tentunya juga berlaku dalam hal keturunan. Dalam
budaya Jawa, anak laki-laki dianggap sebagai penerus keluarga, ia
diharapkan dapat menyerupai figur ayah yaitu sebagai seorang pemimpin.
anak perempuan, dimana anak laki-laki cenderung mendapat perhatian yang
lebih dari orang tua daripada pada anak perempuan.
Pada anak laki-laki, orang tua Jawa cenderung membedakan mereka
sesuai urutan kelahiran. Hal ini berkaitan dengan pandangan manusia Jawa
mengenai usia (Taruna, 1987) yaitu usia adalah tolok ukur dan panutan
moralitas. Anak laki-laki yang tertua diharapkan akan mampu menjadi
contoh bagi saudaranya, laki-laki yang lebih muda dan
saudara-saudaranya yang perempuan. Anak laki-laki tertua akan menjadi titik-kuat
moralitas keluarga, maka orang tua Jawa akan cenderung lebih
mengutamakan anak laki-laki tertua daripada anak laki-lakinya yang lain.
Tentunya kondisi budaya yang seperti ini akan mempengaruhi
pembentukan konsep diri anak. Anak laki-laki tertua yang amat dihargai
mungkin menjadi pribadi dengan konsep diri yang tinggi, sedangkan
anak-anak perempuan merasa kurang berharga dalam keluarga sehingga mereka
memiliki konsep diri yang rendah.
Selain hal yang berkaitan dengan budaya, penelitian mengenai
konsep diri sejauh ini kebanyakan dilakukan pada bidang psikologi
pendidikan, perkembangan, atau industri-organisasi. Misalnya, dalam
bidang psikologi perkembangan terdapat penelitian mengenai pengaruh
konsep diri terhadap kompetensi interpersonal pada remaja putra dan putri.
Penelitian ini dilakukan di SMUN 3 Salatiga oleh Hilda Anastasia (2004).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah konsep diri mempengaruhi
kompetensi interpersonal. Penelitian lain dalam bidang yang sama adalah
organisasi berjudul Kesesuaian antara Konsep Diri Nyata dan Ideal dengan
Kemampuan Manajemen Diri pada Mahasiswa Pelaku Organisasi,
menunjukkan bahwa ada hubungan antara kesesuaian konsep diri nyata dan
ideal dengan kemampuan manajemen diri pada mahasiswa pelaku
organisasi.
Selama ini tampaknya belum begitu banyak penelitian mengenai
konsep diri dengan latar belakang budaya, terlebih lagi budaya Jawa.
Penelitian konsep diri dengan latar belakang budaya Indonesia cukup
banyak diteliti, tetapi bukan berlatar belakang budaya Jawa melainkan
budaya suku lain seperti Dayak, Batak, Cina atau Bali. Misalnya, penelitian
konsep diri dengan latar belakang budaya Cina dan Sunda dengan judul
Hubungan Status Identitas Etnik dengan Konsep Diri Mahasiswa (Studi
pada Kelompok Remaja Akhir Etnik Sunda dan Etnik Cina di Universitas
Kristen Maranatha Bandung). Penulis penelitian ini adalah Irene Tarakanita
(2001). Kesimpulan yang dapat diambil yaitu tidak ditemukan hubungan
antara status identitas etnik dengan konsep diri pada kelompok mahasiswa
etnik Sunda, sedangkan pada mahasiswa etnik Cina ditemukan adanya
hubungan antara identitas etnik dengan konsep diri.
Berdasarkan fenomena budaya dan penelitian konsep diri dengan
latar belakang budaya Jawa yang masih jarang, maka menarik bagi peneliti
untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui lebih jauh mengenai
B. Rumusan Masalah
Permasalahan pokok pada penelitian ini adalah peneliti ingin
mengetahui seperti apakah konsep diri pada anak laki-laki pertama dari
suku Jawa
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk
memperoleh gambaran mengenai konsep diri pada anak laki-laki pertama
dari suku Jawa.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat bagi :
- Subyek penelitian; akan mampu menyadari seperti apa konsep dirinya,
sehingga subyek penelitian dapat mengembangkan diri dengan tepat.
- Orang tua subyek; akan memperoleh gambaran yang jelas mengenai
konsep diri pada anak laki-laki pertamanya, sehingga diharapkan orang
tua mampu menerapkan pola asuh yang sesuai.
- Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan pada
umumnya, menambah kepustakaan dalam bidang psikologi pada
diri. Selain itu penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi
peneliti selanjutnya.
- Bagi penulis, penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah
pengetahuan dan pengalaman serta dapat menerapkan pengetahuan yang
diperoleh selama kuliah dan dapat membantu kita memahami konsep
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Diri
1. Pengertian Konsep Diri
Menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2001) konsep diri adalah suatu
konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti manusia. Konsep diri
bersifat fenomenologis, yaitu terdapat prinsip dasar bahwa manusia
bereaksi terhadap dunia fenomenalnya sesuai dengan persepsinya tentang
dunia itu. Dalam dunia fenomenal seseorang, aspek yang memegang
peranan penting adalah diri sendiri, yaitu bagaimana diri
diamati, dipersepsi, dan dialami oleh individu.
Ketika seseorang mengamati tentang dirinya, maka dalam hal ini
terdapat unsur penilaian (Derlega dan Janda dalam Tarakanita, 2001) Selain
unsur penilaian, konsep diri juga mempunyai unsur yang mempengaruhi
tingkah laku orang tersebut.
Menurut Rakhmat (1996), konsep diri yaitu pandangan dan perasaan
tentang diri kita sendiri. Persepsi bersifat psikologis, sosial, dan fisik.
Konsep diri bukan sekedar gambaran deskripsi saja, tapi juga merupakan
penilaian seseorang tentang dirinya. Jadi, konsep diri meliputi apa yang
dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang diri individu itu sendiri. Dengan
demikian ada 2 komponen konsep diri, yaitu kognitif dan afektif.
Hurlock (1989) mengungkapkan bahwa konsep diri meliputi dua
hal, yaitu konsep diri sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep diri
sebenarnya adalah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Dirinya
sebagai bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh perasaan dan
hubungan dengan orang lain, serta reaksi orang lain terhadapnya.
Sedangkan konsep diri ideal adalah gambaran seseorang mengenai
penampilan dan kepribadian yang didambakannya. Setiap macam konsep
diri ini memiliki aspek fisik dan psikologis. Aspek fisik terdiri dari konsep
yang dimiliki individu tentang penampilannya, kesesuaian dengan seksnya,
arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi
yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Aspek psikologis yaitu konsep
individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya, dan
hubungan dengan orang lain.
Seperti yang diungkapkan Hurlock, Rogers (dalam Hall dan Lindzey,
1993), juga mengemukakan pengertian konsep diri sebagai gestalt
konseptual yang terorganisir dan konsisten yang terdiri dari
persepsi-persepsi tentang sifat dari “diri subyek” dan persepsi-persepsi-persepsi-persepsi tentang
hubungan antara diri subyek dengan orang lain dan dengan berbagai aspek
kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat. Di samping “diri” juga terdapat
suatu diri ideal, yaitu apa yang diinginkan orang tentang dirinya. Apabila
perbedaan antara diri dan diri ideal besar, maka orang akan merasa cemas,
tidak puas, bertingkah laku defensif, dan tidak dapat menyesuaikan diri.
Elkins (dalam Tarakanita, 2001) mengungkapkan bahwa konsep diri
pada dirinya sendiri. Konsep diri tersebut merupakan organisasi dari
persepsi mengenai dirinya sendiri sehingga individu akan terlihat siapakah
dirinya itu. Konsep diri ini tersusun dari ribuan persepsi yang berisi
bermacam-macam keterangan, kebenaran, dan kepentingan seseorang.
Persepsi-persepsi tersebut dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan
interpretasi dari lingkungan, terutama dipengaruhi
oleh penguatan- penguatan, penilaian orang lain, dan atribut
seseorang bagi tingkah lakunya
(Shavelson dan Roger, dalam Suharmeni, 1988).
Dari uraian di atas maka pengertian konsep diri adalah pandangan dan
perasaan seseorang tentang dirinya. Konsep diri memberikan gambaran
penampilan dan kepribadian yang didambakan orang tersebut, memiliki
komponen kognitif dan afektif, serta memiliki aspek fisik dan psikologis.
2. Dimensi dan Subdimensi Konsep Diri
Konsep diri terdiri dari dua dimensi (Fitts dalam Tarakanita, 2001) yaitu
dimensi internal dan dimensi eksternal.
a. Dimensi Internal
Dimensi internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi sebagai
kesatuan yang unik. Dimensi ini berfokus pada diri sendiri, dimana
pribadi seseorang digambarkan seperti apa dirinya itu melalui
pengamatan, lalu hasil pengamatan tersebut dinilai dimana
standar-standar mengenai dirinya tampak dan dibandingkan. Dari situ seseorang
bertindak. Dimensi ini mencakup tiga subdimensi, yaitu subdimensi diri
identitas, diri penilaian, dan diri pelaku.
- Diri Identitas
Merupakan kumpulan label dan simbol yang dipergunakan
seseorang untuk menggambarkan dirinya, dan dapat mempengaruhi
cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan dan dengan diri
sendiri.
Misalnya seseorang menggambarkan diri sebagai orang yang tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan apapun, maka ia merasa
dirinya tidak berguna dan malu jika harus berinteraksi dengan
lingkungan.
- Diri Penilaian
Mempunyai fungsi mengamati dan menilai, memberikan standar,
serta memberikan perbandingan terhadap dirinya.
Misal, orang yang merasa diri tidak mampu melakukan apapun
tersebut kemudian mengamati dirinya. Di sini ia mengamati apa saja
kemampuan yang ada pada dirinya, dan ia membandingkan
kemampuan-kemampuannya itu, dan menilai bahwa ia memiliki
satu kemampuannya cukup berharga.
- Diri Pelaku
Merupakan persepsi seseorang terhadap tingkahlakunya atau
caranya bertindak.
Misal, dari contoh yang sama, karena orang tersebut menilai bahwa
mempersepsikan bahwa tingkah lakunya yang dulu adalah kurang
benar. Seharusnya ia tidak perlu merasa dirinya tidak berguna dan
tidak takut jika harus berinteraksi dengan lingkungan.
b. Dimensi Eksternal
Dimensi eksternal adalah persepsi diri yang timbul dalam interaksi
individu dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan
interpersonal. Dimensi eksternal ini berbeda dengan dimensi internal
yang benar-benar fokus dan berdasar pada diri sendiri, dimana dunia
luar hanya dilihat sebagai hal yang dikenai dampak, bukan sebagai hal
yang turut andil membentuk konsep diri internal tersebut. Sedangkan
dalam dimensi eksternal, interaksi individu dengan dunia luarnya
memiliki peranan dan memberikan pengaruh bagi individu tersebut
dalam mempersepsi dirinya.
Dimensi ini meliputi subdimensi diri fisik, diri etik-moral, diri
personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri akademi atau kerja.
- Diri Fisik
Persepsi seseorang terhadap keadaan fisik. yaitu kesehatan,
penampilan diri, dan gerakan motoriknya.
- Diri Etik-Moral
Persepsi individu tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan
- Diri Personal
Perasaan individu terhadap nilai-nilai perbedaan, terlepas dari
keadaan fisik dan hubungannya dengan orang lain dan sejauhmana
individu merasa adekuat sebagai pribadi.
- Diri Keluarga
Perasaan dan harga diri individu sebagai anggota keluarga dan
teman-teman dekatnya.
- Diri Sosial
Penilaian individu terhadap dirinya dalam interaksi dengan orang
lain dalam lingkungan yang lebih luas.
- Diri Akademi/Kerja
Penilaian yang berkaitan dengan penilaian ketrampilan dan prestasi
akademik.
3. Jenis-Jenis Konsep Diri
Menurut Calhoun and Acocella (dalam Rakhmat, 1996), terdapat dua
macam konsep diri, yaitu konsep diri positif dan negatif.
a. Konsep diri positif
Seseorang yang memiliki konsep diri yang positif mampu untuk
menerima diri apa adanya dan ia akan terus berusaha memperbaiki diri.
Ia mampu menampung seluruh pengalaman mental, melakukan evaluasi
diri apa adanya, mampu mengenali diri secara jelas dan menyeluruh,
serta ia mampu menerima seluruh pengalaman dalam hidupnya
pengalaman negatif, misalnya ejekan, atau kegagalan. Hal-hal seperti ini
dipandang sebagai sumber informasi baru dari luar sehingga tidak akan
menimbulkan kecemasan, memiliki perasaan lebih optimis, percaya diri,
dan bersikap positif.
William (dalam Rakhmat, 1996) mengungkapkan bahwa seseorang
yang memiliki konsep diri positif memiliki keyakinan akan kemampuan
mengatasi masalah, berusaha menghadapi sesuatu dengan maksimal,
merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu,
mampu memperbaiki diri karena ia sanggup mengungkapkan
aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha merubahnya.
Halmacheck (dalam Rakhmat, 1996) mengungkapkan bahwa
seseorang yang memiliki konsep diri positif akan meyakini betul
nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu, bersedia mempertahankannya walau
menghadapi tantangan, berani mengubah prinsip apabila pengalaman
dan bukti salah. Ia bertindak berdasar penilaian yang baik, yakin pada
kemampuan mengatasi persoalan, dan dapat menerima diri seperti apa
adanya. Selain itu ia juga mampu menikmati hidup secara utuh dalam
berbagai kegiatan, misalnya pekerjaan, permainan, atau persahabatan.
b. Konsep diri negatif
Konsep diri ini bertolak belakang dengan konsep diri yang positif.
Konsep diri negatif dibedakan menjadi dua, yaitu pandangan diri
seseorang yang benar-benar tidak teratur dan pandangan diri yang
Pandangan tentang diri benar-benar tidak teratur, di mana seseorang
tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Ia tidak tahu siapa
dirinya, tidak tahu kekuatan dan kelemahan atau apa yang berharga
dalam hidupnya. Konsep diri negatif yang terlalu stabil dan terlalu
teratur (kaku) dapat terlihat dari individu yang menciptakan batasan
diri, yaitu ia tidak menyimpang dari seperangkat aturan ketat dalam
pikirannya. Hal ini yang dianggap cara hidup yang tepat. Seseorang
yang memiliki konsep diri ini dapat mengalami kecemasan dan depresi
karena tidak dapat menerima informasi negatif tentang dirinya.
B. Keluarga Jawa
Suku bangsa Jawa secara antropologi budaya adalah orang–orang
yang secara turun-temurun menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai
ragam dialeknya dalam kehidupan sehari-hari. Suku bangsa ini berasal dan
bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Herusatoto
dalam Harmini, 2004). Menurut Marbangun Hardjowirogo (dalam Harmini,
2004), semua orang Jawa berbudaya satu. Mereka berpikir dan berperasaan
seperti nenek moyang mereka di Jawa dengan daerah Solo dan Yogyakarta
sebagai pusat kebudayaan. Masyarakat Jawa memiliki penghayatan hidup
budaya yang nilai-nilainya berorientasi ke arah daerah Solo dan
Yogyakarta.
Orang Jawa membedakan golongan sosial menjadi tiga
terdiri dari sebagian massa petani di desa dan mereka yang berpendapatan
rendah di kota. Golongan kedua yaitu kaum Priyayi dimana termasuk kaum
pegawai dan orang-orang intelektual. Golongan ketiga yaitu kaum Ningrat
(ndara), kelompok ini jumlahnya kecil tetapi mempunyai posisi derajat
khusus yang cukup tinggi karena adanya faktor keturunan raja atau keluarga
raja.
Dalam suatu masyarakat Jawa (Harmini, 2004), membentuk
keluarga atau somah diawali dengan suatu perkawinan sah menurut agama
yang dianutnya, dan berlandaskan rasa cinta kasih (tresna). Membentuk
keluarga ini bertujuan untuk mendapatkan keluarga yang bahagia, tentram,
dan sejahtera. Walaupun ada juga suatu perkawinan yang dijodohkan oleh
orangtua (ayah-ibu yang mengasuh) tetapi rasa cinta kasih tersebut lambat
laun akan tumbuh dengan sendirinya(tresna jalaran saka kulina).
Keluarga merupakan satuan moral dan basis dari identitas sosial dari
semua orang (Handayani & Novianto, 2004). Moral adalah formasi
tersendiri dari kognisi yang membentuk pengertian mengenai benar dan
salah (Kohlberg, dalam Zimbardo, 2003). Kohlberg (dalam Zimbardo,
2003) juga mengungkapkan bahwa moral memiliki arti penting dalam
kehidupan dimana hal ini memiliki hubungan erat dengan kemampuan
individu untuk mampu hidup bersama dengan orang lain. Dalam kosmologi
Jawa, keluarga melebihi dunia moral yang diberi ciri saling memiliki
kewajiban. Kewajiban tersebut adalah tidak sama antar individu. Kewajiban
ini berupa landasan moral tentang kenyataan adanya hirarki dan kewajiban
tua, guru, dan khususnya ayah-ibu adalah pribadi yang sangat dihormati,
menjadi pepundhen, dimana hal ini merupakan suatu kedudukan yang layak
bagi mereka karena perhatian, perlindungan, dan ajarannya sebagai
pengatur dan wakil kehidupan. Orangtua (ayah-ibu) memegang kedudukan
setengah religius yang dihiasi oleh ide bahwa menentang mereka
merupakan dosa (duraka, juga memberontak), dan akan dihukum oleh
sanksi gaib yang tidak terelakkan (kuwalat).
Bagi setiap orang Jawa, keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak-anak,
merupakan orang-orang yang paling penting. Dalam keluarga, ayah
berperan sebagai kepala keluarga yang bijaksana dan merupakan pelindung
yang kokoh bagi isteri dan anak-anaknya. Ayah bertugas bertanggung
jawab untuk mencukupi penghidupan keluarga, baik secara moril maupun
materiil. Sedangkan ibu pada umumnya memegang keuangan (ekonomi)
rumah tangga, yaitu ia bertanggung jawab mengelola dan mengusahakan
uang tersebut supaya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta ia
yang bertanggungjawab mengasuh anak-anak. Pembagian peran dalam
rumah tangga tidak mewajibkan seorang suami membantu tugas-tugas isteri
di rumah, sedangkan seorang isteri wajib menjadi ibu rumah tangga, tetapi
tidak wajib bekerja atau berkarier. Jadi, citra ideal suami adalah sebagai
kepala keluarga yang bertanggungjawab dan seorang isteri adalah pemeran
ganda (Uyun, 2002). Pola-pola kerjasama antara suami-isteri dalam rumah
tangga dapat dibedakan sebagai berikut (Harmini, 2004) :
1. Suami bekerja dan isteri di rumah, mendidik anak dan mengerjakan
2. Suami dan isteri bekerja bersama-sama dan bantu-membantu, yang
lazim dilakukan kaum tani.
3. Suami bekerja dan isteri usaha kecil-kecilan di rumah.
4. Suami dan isteri bekerja dan pendapatannya dijadikan satu.
5. Suami dan isteri sama-sama bekerja, biasanya di kalangan pedagang.
Ayah dan ibu bagi anak berperan memberikan kesejahteraan
jasmani dan rohani. Mereka memberikan bimbingan moral, membantu
mengenal segala macam kebaikan, juga untuk memperoleh kedudukan
dalam masyarakat. Ayah-ibu memberikan cinta kasih yang tulus kepada
anak-anaknya dan memberikan segala apa yang dibutuhkannya tanpa
menghitung dan tanpa prasyarat apapun. Orangtua (ayah-ibu) dalam konsep
Jawa memberikan perasaan aman dan terlindungi, juga selalu membuka
pintu maaf bagi kenakalan anak-anaknya. Peran ibu selalu berusaha untuk
melidungi anak dari rasa frustasi, dimana dalam keluarga orang tidak perlu
merasa malu (isin) mengungkapkan masalah yang dihadapinya, berterus
terang tanpa menyembunyikan perasaan gembira atau sedih, agar mendapat
dukungan dari keluarga.
Hubungan antar anggota keluarga dituntut berdasarkan perasaan
cinta, sehingga suasana keakraban dalam keluarga benar-benar tampak
(Harmini, 2004). Sikap-sikap moral dasar masyarakat Jawa terutama sikap
hormat, berkembang dimulai dari lingkungan keluarga ini. Sikap hormat ini
dikembangkan oleh orang Jawa melalui pendidikan dalam keluarga.
Misalnya ayah-ibu selalu menasehati anak-anaknya supaya saling
Menurut Hildred Geertz (dalam Harmini, 2004), anak dalam
keluarga Jawa dididik melalui tiga perasaan yang dipelajari dalam situasi
yang menuntut sikap hormat yaitu wedi, isin dan sungkan. Wedi berarti
takut, takut baik terhadap ancaman fisik maupun akibat tindakan yang
kurang wajar. Mula-mula anak belajar untuk merasa wedipada orang-orang
yang dihormati, selanjutnya dididikisin. Isinberarti malu, merasa bersalah.
Isin dan sikap hormat merupakan suatu kesatuan, karena orang akan merasa
malu bila tidak dapat menunjukkan sikap hormat yang tepat pada orang
yang patut dihormati. Selanjutnya adalah sungkan, sungkan adalah malu
dalam arti yang positif, yaitu rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau
sesama yang belum dikenal.
Sesuai dengan konsep Jawa, Greetz (dalam Harmini, 2004), juga
mengungkapkan bahwa anak diajari untuk bersedia menganggap dirinya
lebih rendah daripada orang lain (andhapasor) dan hendaknya selalu sadar
akan batas-batasnya dan akan situasi keseluruhan di dalam seseorang
bergerak (tepa selira). Anak nantinya diharapkan untuk dapatmikul dhuwur
mendhem jero terhadap kedua orangtuanya (Mulder, 1996). Mikul dhuwur
yaitu “memikul tinggi-tinggi” nama baik dan moral yang tak tercela dari
ayah-ibu mereka, dengan memuji kebaikan orangtua (ayah-ibu) dan
keserasian dalam kehidupan keluarga. Mendhem jero yaitu “menanam
dalam-dalam” segala sesuatu yang bisa menimbulkan ketidakselarasan,
perasaan agresif, atau apa saja yang dirasakan sebagai kekurangan
mengenai kehidupan keluarga, terutama dalam hubungan antara orang tua
dipertunjukkan kepada umum. Di pihak yang positif, anggota keluarga
harus bersikap rukun, yaitu menumbuhkan hubungan yang serasi dan
melaksanakan seni minta dan memberi, kompromi, sedangkan ia secara
spontan juga mengorbankan dorongan-dorongan pribadinya (pamrih) untuk
dapat menikmati kesejahteraan (slamet) yang timbul dari
hubungan-hubungan yang serasi.
Anak-anak dalam keluarga Jawa memiliki arti yang berbeda
menurut jenis kelaminnya (Uyun, 2002). Anak lelaki cenderung memiliki
arti yang berhubungan dengan martabat, perlindungan, dan tumpuan
harapan keluarga di masa depan, sehingga anak laki-laki memiliki
tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan. Anak
perempuan mempunyai arti yang berhubungan dengan kepraktisan, dalam
arti kehadirannya bermanfaat untuk memperlancar kegiatan beres-beres
urusan rumah tangga, sedangkan anak laki-laki dianggap tabu melakukan
tugas-tugas rumah tangga.
Orangtua (ayah-ibu) keluarga Jawa mengenalkan norma peran
gender pada anak-anaknya dimulai dari pemberian nama pada anaknya
(Uyun, 2002). Nama-nama feminin diperuntukkan bagi anak perempuan
dan nama-nama maskulin untuk anak laki-laki. Pada perkembangan
selanjutnya, pengenalan ini bertambah seiring dengan pertambahan umur
anak. Misalnya anak perempuan diberitahu agar tidak suka ngeyel
(melakukan sesuatu hal tidak sesuai dengan perintah), dan anak laki-laki
tidak boleh cengeng (mudah menangis). Saat anak mulai suka bermain
sedangkan anak laki-laki sering dilarang bermain boneka karena ayah-ibu
anak laki-laki khawatir anaknya akan menjadi seperti perempuan.
Ketika anak beranjak dewasa, orangtua Jawa biasanya memberikan
larangan yang lebih banyak bagi remaja perempuan (Uyun, 2002). Misalnya
mereka selalu diingatkan untuk menjaga kehormatan, atau tidak boleh
keluar rumah sendirian pada malam hari. Sedangkan larangan untuk anak
laki-laki tidak seketat larangan untuk anak perempuan. Anak laki-laki lebih
bebas bergaul, atau mereka boleh keluar sendirian pada malam hari.
Anak-anak hidup bersama dengan keluarga dan ayah-ibu
bertanggung jawab akan biaya kebutuhan-kebutuhan hidupnya sampai anak
mendapat pekerjaan atau sampai anak perempuan menikah, karena anak
perempuan yang telah menikah akan keluar dari rumah mengikuti suami
dan hidupnya menjadi tanggung jawab suami.
C. Konsep Diri Anak Laki-Laki Pertama Jawa
Sesuai dengan pendapat Harre (dalam Tarakanita, 2001) bahwa
peningkatan konsep diri remaja sesuai dengan siklus kehidupan individu,
dimana budaya memiliki kaitan yang erat dengan hal tersebut, maka
seorang anak yang hidup dalam keluarga berbudaya Jawa, secara otomatis
akan mendapat pengaruh budaya Jawa dalam pembentukan konsep dirinya.
Budaya Jawa seperti juga budaya berbagai suku di Indonesia,
menganut sistem patriarkhis (Darwin dan Tukiran, dalam Uyun, 2002).
dibandingkan dengan kedudukan perempuan. Sistem patriarkhis masyarakat
Jawa pada abad 18, telah melahirkan ungkapan-ungkapan (yang seringkali
masih terdengar hingga sekarang) yang menyiratkan inferioritas wanita
Jawa (Fananie dalam Uyun, 2002). Ungkapan-ungkapan seperti kanca
wingking, swarga nunut neraka katut, wanita hanya mengurus dapur,
wanita hanya bergantung pada suami, menegaskan bahwa wanita Jawa
tampak menduduki struktur bawah.
Sistem patriarkhis yang menganggap laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan ini menempatkan hanya laki-lakilah yang pantas sebagai
pemimpin. Hal ini tidak terkecuali dalam keluarga dimana ayah yang
menjadi kepala keluarga. Fungsi ayah dalam keluarga adalah sebagai kepala
keluarga yang bijaksana, mampu mencukupi, dan melindung anggota
keluarga yang lain. Melihat dari gambaran peran ayah yang demikian, maka
seorang anak laki-laki Jawa yang dikemudian hari juga akan menjadi kepala
keluarga diharapkan mampu menjadi seorang figur yang mampu memimpin
seperti ayahnya.
Figur pemimpin Jawa seperti yang diungkapkan oleh Keeler (dalam
Handayani & Novianto, 2004) harus memenuhi citra ideal sebagai sosok
teladan, yaitu pemimpin yang berjiwa kuat, memikat, bertanggung jawab,
dan penuh sifat baik. Kekuasaan pemimpin di Jawa tergantung bukan hanya
pada kekuasaan yang dipaksakan dan birokratis, melainkan yang penting
justru pada bagaimana pemimpin memenuhi citra idealnya tersebut.
Seorang anak laki-laki kelak menjadi seorang pemimpin, maka ia
Tukiran, dalam Uyun, 2002) yaitu sebagai lelananging jagad yang sakti,
tampan, dan banyak isteri, seperti Arjuna tokoh Pandawa dalam
pewayangan yang selalu menang di setiap medan perang, dan selalu
memenangkan hati setiap dewi. Di sisi lain, anak perempuan harus dapat
nrimo, pasrah, halus, sabar, setia, dan berbakti, karena posisi perempuan
adalah milik laki-laki, sejajar denganbondo(harta),griyo(istana),turonggo
(kendaraan), kukilo (burung atau binatang piaraan), dan pusoko (senjata,
kesaktian). Penguasaan terhadap perempuan (wanito) merupakan simbol
kejantanan bagi seorang laki-laki. Sebaliknya, ketundukan, ketergantungan
dan kepasrahan perempuan kepada laki-laki adalah gambaran kemuliaan
hati seorang perempuan Jawa.
Taruna (1987) mengungkapkan pandangan manusia Jawa mengenai
usia, bahwa usia adalah tolok ukur dan panutan moralitas. Seorang Jawa
akan berpedoman bahwa orang yang berusia lebih tua memiliki moral lebih
unggul daripada orang yang lebih muda. Hal ini dimunculkan oleh
kemampuan mereka untuk mempertimbangkan benar dan salah yang jauh
lebih matang daripada kemampuan orang-orang yang lebih muda. Sesuai
dengan pandangan Jawa, sudah seharusnya seorang berusia lebih muda
menaruh hormat kepada orang-orang yang memiliki usia lebih tua.
Ayah-ibu sebagai wakil kehidupan dan tatanannya berhak atas kehormatan
tertinggi dan anak-anak harus ngabekti (berbakti), yaitu suatu bentuk
penghormatan dan kebaktian pada orangtua sebagai suatu cara setengah
Lebih jauh Mulder (1996) mengungkapkan bahwa menghormati
keunggulan moral mereka berarti menghormati hidup, yang sering kali
diuraikan dalam gagasan bahwa menghormati saudara kandung yang lebih
tua, ayah-ibu, guru, dan raja adalah sama seperti menghormati “Tuhan”.
Toer (2003) dalam bukunya menggambarkan tentang penghormatan
terhadap keunggulan moral ini dengan mengutip puisi tradisional yang
berbunyi demikian :
Metrum Sinom :
Wedi asih ing wong tuwa Satria tuhu ing Sang Aji Ratu ingkah angreh praja Nuhormi sakersa neki Smujud lahir lan batin Iku sajatining elmu Dedasaring kasatrian
Artinya :
Takut sayang terhadap orangtua Setia tulus kepada Sri Baginda Raja yang memerintah negeri Laksanakan segala kehendaknya Bersujud lahir dan batin
Itulah ilmu yang sejati Dasar dari kesatriaan
Penggambaran ini juga digambarkan dengan baik oleh R.A. Kartini
melalui surat yang ia tulis pada 18 Agustus 1899, kepada Estelle
Mengejutkan adat kami orang Jawa.
Seorang adikku, lelaki maupun wanita, tak boleh jalan melewati aku, atau kalau toh harus melewati aku, dia mesti merangkak di atas tanah. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak nampak lagi olehnya. Terhadap aku, adik-adikku tidak boleh ber-aku-ber-kau; dan pada setiap akhir kalimat yang keluar dari mulutnya harus mereka tutup dengan sembah.
Kalau adik-adikku, tak peduli lelaki atau wanita, bicara dengan orang-orang lain tentang diriku, mereka harus pergunakan bahasa tinggi segala apa yang berhubungan dengan diriku, misalnya pakaian, tempat duduk, tangan, kaki, mata, pendeknya apa saja milikku.
Kepalaku yang terhormat ini tiada boleh mereka menyentuhnya tanpa izin istimewa dari aku dan itu pun sesudah diupacarai dengan beberapa kali sembah.
Kalau ada penganan di meja, bocah-bocah kecil itu tak boleh menghampir, sebelum aku berkenan mengambil barang sedikit.
Duh, Stella, kau harus lihat, bagaimana di kabupaten-kabupaten lain saudari dan saudara itu bergaul! Mereka itu saudara, hanya karena mereka anak dari orangtua yang sama; tak ada ikatan lain yang menghubungkan mereka terkecuali darah. Saudara-saudara itu hidup berdampingan seperti orang-orang asing satu terhadap yang lain, cuma persamaan raut muka, yang kadang-kadang pun tak nampak, yang jadi tanda kesaudaraan mereka.
Hal ini menunjukkan konsep hirarki dari tatanan Jawa, bahwa yang
lebih bawah harus menghormati semua yang lebih dekat kepada sumber
kehidupan, kebijaksanaan moral dan kekuasaan. Menurut falsafah Jawa,
seseorang yang hidup serasi dengan hal yang lebih besar dari dirinya
Sistem patriarkhis yang menganggap laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan menempatkan hanya laki-lakilah yang pantas sebagai
pemimpin, sehingga tak mengherankan apabila dalam sebuah keluarga Jawa
anak laki-laki lebih mendapat perhatian dan prioritas yang lebih daripada
anak perempuan. Terlebih lagi anak laki-laki yang tertua, ia cenderung
mendapatkan perlakuan yang “istimewa” dibandingkan dengan saudaranya
yang lain dikarenakan pandangan Jawa mengenai usia sebagai tolok ukur
dan panutan moralitas menempatkan anak laki-laki tertua ini pada
kedudukan moral yang lebih tinggi (lebih unggul) daripada orang yang
lebih muda, sehingga sudah seharusnya adik-adiknya sebagai orang yang
berusia lebih muda menaruh hormat kepadanya. Hal ini sesuai dengan
konsep hirarki dari tatanan Jawa, bahwa yang lebih bawah (orang yang
lebih muda) harus menghormati semua yang lebih dekat kepada sumber
kehidupan, kebijaksanaan moral dan kekuasaan (orang yang lebih tua).
Dengan menghormati saudara yang lebih tua, maka seorang anak dapat
dikatakan hidup serasi dengan hal yang lebih besar dari dirinya, sebagai
cerminan dari tingkah laku moral orang Jawa yang sangat terpuji.
Perlakuan yang didapatkan anak laki-laki tertua ini berpeluang
menjadikannya terbuai, sehingga ia mungkin dapat tumbuh menjadi pribadi
yang berbeda dari saudara-saudaranya. Jika mula-mula anak lain belajar
untuk merasa wedi, isin, dan sungkan pada orang-orang yang dihormati,
maka anak laki-laki pertama kurang dapat mempelajari hal itu karena ia
adalah pribadi istimewa dalam keluarga, dimana ia mendapat kedudukan
Disebabkan oleh posisinya yang istimewa, maka ia akan sulit untuk
bersedia menganggap dirinya lebih rendah daripada orang lain
(andhapasor). Keadaan ini juga berdampak pada kurangnya kesadaran akan
batas-batas, sehingga ia berbuat sekehendak hatinya sendiri. Situasi “tidak
ikut merasakan” yang tidak terbiasa terasah sejak kecil, tidak
mendukungnya untuk menjadi orang yangtepa selira.
Sebagai seorang laki-laki dengan kedudukan istimewa dalam
keluarga, ia dituntut untuk menjadi sesosok anak utama yang harus seperti
Arjuna. Di antara saudara-saudaranya, ia memacu diri dengan sangat keras
untuk dapat memberikan gambaran sebagai anak yang paling “sakti” karena
pusoko (senjata, kesaktian) miliknyalah yang paling ampuh, ia adalah anak
paling “tampan” sehingga paling disukai wanita, memiliki bondo (harta)
yang paling banyak, memiliki griyo (istana) yang paling mewah, memiliki
turonggo (kendaraan), dan kukilo (burung atau binatang piaraan) yang
paling banyak dan mahal.
Dari uraian tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa anak laki-laki
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode
wawancara etnografi. Penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan atau
memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau
populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat suatu
kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 1999). Dalam wawancara
etnografi, pewawancara mengontrol pembicaraan dengan cara mengarahkan
pembicaraan itu ke arah jalur-jalur yang mengarah pada penemuan
pengetahuan budaya informan (Spradley, 2006). Hal ini dilakukan agar
tujuan tercapai yaitu mendapat gambaran menyeluruh mengenai subyek
studi dengan penekanan pada penggambaran dari pengalaman individual
sehari-hari (Fraenkel & Wallen, dalam Creswell, 2003). Hasil akhir yang
didapatkan adalah suatu deskripsi verbal mengenai situasi budaya yang
dipelajari (Spradley, 2006).
Dari uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh gambaran mengenai konsep diri dari anak laki-laki pertama
keluarga Jawa.
B. Subyek
Pemilihan subyek dalam penelitian ini menggunakan snowball
sampling, yaitu setelah orang pertama digunakan sebagai subyek, ia
menjadi sumber informasi tentang orang lain yang sesuai untuk dijadikan
subyek. Orang-orang yang ditunjuk ini selanjutnya diminta menunjuk orang
lain yang juga memenuhi kriteria yang sama. Hal serupa dilakukan sampai
data exhausted dimana tidak ditemukan lagi variasi jawaban dari subyek.
Karakteristik subyek adalah laki-laki yang lahir pertama dalam sebuah
keluarga Jawa dan berdomisili di D.I. Yogyakarta. Karakteristik subyek
adalah individu yang diasuh oleh dua orang tua suku Jawa asli, dengan
lingkungan tempat tinggal sekitar terdiri sebagian besar orang-orang Jawa.
Peneliti menggunakan 15 orang subyek yang seluruhnya berada
pada usia 19-25 tahun dimana mereka tergolong dalam kelompok usia
dewasa dini. Alasan pengambilan subyek dari kelompok usia ini adalah
pada usia ini individu mempunyai rangkaian pengertian tentang diri dan
rangkaian pandangan lain, yaitu kemungkinan menjadi apa di masa
mendatang (Hurlock, 1990). Selain itu, pada usia ini subyek juga menerima
tanggungjawab dan berperan sesuai dengan peran seks yang diharapkan.
Subyek diasuh oleh dua orang tua yang berasal dari suku Jawa asli dan
tinggal di lingkungan sekitar yang terdiri dari sebagian besar orang-orang
Jawa dengan pertimbangan bahwa subyek mendapat pengasuhan,
pendidikan, dan subyek setiap hari dapat melakukan interaksi dengan orang
konsep diri subyek sebagai seorang Jawa lebih kuat terbentuk. Hal ini
sejalan dengan pendapat Harre (dalam Tarakanita, 2001) bahwa konsep diri
remaja akan mengalami peningkatan sesuai dengan siklus kehidupan
individu. Hal ini berkaitan erat dengan faktor-faktor intrapsikis, kognitif,
dan kultur (budaya) yang meliputi dunia internal dan eksternal individu.
Ketiga hal ini akan bergabung menjadi satu dan membentuk konsep diri
individu. Subyek juga diambil dari sampel populasi di wilayah D. I.
Yogyakarta, dengan alasan bahwa wilayah D. I. Yogyakarta lebih dekat dan
terjangkau oleh peneliti, sehingga proses penelitian dapat benar-benar
terkontrol.
C. Alat Pengumpul Data
1. Variabel Penelitian
Hal yang menjadi objek dari penelitian ini adalah konsep diri anak
laki-laki pertama. Objek dalam penelitian ini khususnya mengenai
konsep diri anak laki-laki pertama suku Jawa.
2. Definisi Operasional
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan seseorang tentang
dirinya. Di samping itu konsep diri juga memberikan gambaran
penampilan dan kepribadian yang didambakan orang tersebut. Konsep
diri ini memiliki komponen kognitif dan afektif, serta memiliki aspek
Konsep diri ini memiliki dimensi-dimensi yaitu :
a. Dimensi Internal
Dimensi internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi
sebagai kesatuan yang unik. Dimensi ini akan diungkap melalui 3
subdimensi, yaitu:
- Diri Identitas, yaitu label dan simbol seperti apa yang
dipergunakan individu untuk menggambarkan dirinya, dimana
label dan simbol tersebut dapat mempengaruhi cara seseorang
berinteraksi dengan lingkungan dan dengan diri sendiri.
- Diri Penilaian, dimana individu mengamati dan menilai,
memberikan standar, serta memberikan perbandingan terhadap
dirinya.
- Diri Pelaku, yaitu persepsi seseorang terhadap tingkahlakunya
atau caranya bertindak.
b. Dimensi Eksternal
Dimensi ini mencakup persepsi diri yang tercipta dari interaksi
individu dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan
interpersonal. Dimensi ini akan diungkap melalui
subdimensi-subdimensi :
- Diri Fisik, yaitu persepsi seseorang terhadap keadaan fisik. yaitu
kesehatan, penampilan diri, dan gerakan motoriknya.
- Diri Etik-Moral, individu mempersepsi dirinya ditinjau dari
- Diri Personal, berupa perasaan individu terhadap nilai-nilai
perbedaan, terlepas dari keadaan fisik dan hubungannya dengan
orang lain dan sejauhmana individu merasa adekuat sebagai
pribadi.
- Diri Keluarga, perasaan dan harga diri individu sebagai anggota
keluarga dan teman-teman dekatnya.
- Diri Sosial, berupa penilaian individu terhadap dirinya dalam
interaksi dengan orang lain dalam lingkungan yang lebih luas.
- Diri Akademi/Kerja, penilaian diri yang berkaitan dengan
penilaian ketrampilan dan prestasi akademik.
Konsep diri memiliki 2 jenis yaitu :
a. Konsep diri positif
Individu dengan konsep diri positif memiliki ciri-ciri
- Mampu menerima diri apa adanya dan terus berusaha
memperbaiki diri
- Menampung seluruh pengalaman mental
- Mengevaluasi diri apa adanya
- Mengenali diri secara jelas dan menyeluruh
- Mampu menerima seluruh pengalaman hidup
- Memiliki perasaan lebih optimis
- Percaya diri
- Bersikap positif
- Yakin mampu mengatasi masalah
- Merasa setara dengan orang lain
- Menerima pujian tanpa rasa malu
- Meyakini dan mempertahankan nilai-nilai serta prinsip-prinsip
tertentu
- Berani mengubah prinsip apabila pengalaman dan bukti salah
- Bertindak berdasar penilaian yang baik
- Mampu menikmati hidup secara utuh dalam berbagai kegiatan.
b. Konsep diri negatif
Konsep diri negatif terdiri dari :
- Pandangan diri benar-benar tidak teratur
Individu tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan
diri. Ia tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu kekuatan dan
kelemahan atau apa yang berharga dalam hidupnya.
- Pandangan diri terlalu stabil dan teratur (kaku)
Individu menciptakan batasan diri, dimana ia tidak
menyimpang dari seperangkat aturan ketat dalam pikirannya
karena dianggap sebagai cara hidup yang tepat. Ia dapat
mengalami kecemasan dan depresi karena tidak dapat menerima
informasi negatif tentang dirinya.
Untuk indikasi yang menunjukkan seorang individu dikatakan
memiliki jenis konsep diri positif atau negatif akan dijelaskan melalui
Tabel 3.1
Indikasi Jenis Konsep Diri
Dimensi Subdimensi
Indikator
Positif Negatif
Diri Identitas - Merasa memiliki
potensi dalam diri yang
Diri Penilaian - Bangga menjadi
Diri Pelaku - Berperilaku dan
memiliki cara
bertindak yang sesuai
dengan kepribadiannya
- Menilai baik terhadap
perilaku atau caranya
bertindak
- Merasa orang-orang
lain menyukai
perilakunya
- Menganggap
perilaku atau
caranya bertindak
tidak sesuai dengan
dirinya
- Merasa perilaku atau
cara bertindaknya
tidak baik
- Mengetahui bahwa
orang lain tidak suka
Diri Sosial - Beranggapan bahwa
- Memiliki citra baik di
masyarakat
- Ketrampilan - Merasa memiliki
- Prestasi
Alat yang digunakan sebagai alat pokok pengumpul data yaitu
wawancara. Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang,
melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang
lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasar tujuan
tertentu (Mulyana, 2004).
Wawancara yang digunakan bersifat tidak terstruktur dengan
menggunakan panduan umum sebagai pedoman wawancara. Mulyana
(2004) juga mengungkapkan bahwa wawancara tidak terstruktur
memiliki tujuan memperoleh bentuk-bentuk tertentu mengenai
disesuaikan dengan ciri-ciri sikap responden. Wawancara ini bersifat
luwes, susunan pertanyaan dan susunan kata-kata dalam setiap
pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan dengan
kebutuhan dan kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik
sosial-budaya (agama, suku, gender, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan
sebagainya).
Mengacu pada hal-hal tersebut maka wawancara tidak terstruktur
digunakan dalam penelitian ini, dimana akan mampu memberi
kemungkinan bagi subyek yang diwawancarai untuk mendefinisikan
dirinya sendiri dan lingkungannya dengan menggunakan istilah-istilah
mereka sendiri mengenai fenomena yang diteliti, tidak sekadar
menjawab pertanyaan yang diajukan. Selain itu wawancara etnografi ini
juga penting untuk memperoleh informasi di bawah permukaan dan
menemukan apa yang orang pikirkan dan rasakan mengenai peristiwa
tertentu (Mulyana, 2004).
Panduan dalam wawancara ini berupa item-item yang disusun oleh
peneliti berdasar pada dimensi-dimensi konsep diri, yaitu dimensi
internal dan eksternal. Dari dua dimensi konsep diri tersebut, peneliti
membuat pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mendeskripsikan
Tabel 3.2
Panduan Wawancara Konsep Diri
Dimensi Subdimensi Hal yang diungkap
Diri Identitas Label / simbol yang digunakan subyek untuk
menggambarkan dirinya
Diri Penilaian - Kebanggaan terhadap diri
- Standar yang diberikan pada diri
Internal - Kemampuan membandingkan potensi dalam diri
Diri Pelaku - Kesesuaian antara perilaku dan cara bertindak
dengan kepribadian subyek
- Penilaian pribadi subyek terhadap perilaku atau
caranya bertindak
Eksternal
Diri Fisik
- Kesehatan Keadaan kesehatan bagian-bagian / organ-organ
- Penampilan
Diri
- Gerakan
Motorik
- Anggapan penampilan subyek di depan umum
- Kesesuaian penampilan dengan kepribadiannya
Kelancaran dan hal yang menghambat gerakan
motorik subyek
Diri
Etik-Moral
- Kesesuaian perilaku dengan norma masyarakat
- Penghayatan nilai-nilai etika dan moral dalam
diri subyek
Diri Personal - Perasaan subyek terhadap adanya perbadaan
dirinya dengan orang lain
- Kesesuaian antara kepribadian yang dimiliki
dengan yang dicita-citakan
Diri Keluarga - Persepsi subyek mengenai keluarganya
- Perasaan subyek menjadi bagian dari anggota
keluarga dan teman-temannya
- Perasaan subyek ketika ia hadir di tengah-tengah
Diri Sosial - Perasaan subyek menjadi bagian dari masyarakat
- Kemampuan subyek dalam menyesuaikan diri
dengan keadaan lingkungan
- Citra subyek di masyarakat
Diri Akademi /
Kerja
- Ketrampilan
- Prestasi
Akademik
- Perasaan subyek mengenai ketrampilan yang
dimilikinya
- Hasil / manfaat yang diperoleh subyek dari
ketrampilan-ketrampilannya
- Penilaian subyek mengenai prestasi akademiknya
- Kemampuan subyek dalam bidang akademik
Hasil wawancara yang telah didapat diubah ke dalam bentuk
transkrip. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan cara menganalisis
isi (konten diskusi) dengan tujuan mencari
kecenderungan-kecenderungan dan pola-pola yang sering muncul. Analisis isi ini
dilakukan dengan cara membandingkan kata-kata, mempertimbangkan
penekanan, atau intensitas subyek, dan memperhatikan konsistensi
tanggapan-tanggapanserta kekhususan jawaban subyek dalam
menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan menggali (Moleong, 2007).
Setelah dilakukan interpretasi dari konsep-konsep yang muncul,
4. Keabsahan Data Penelitian
a. Kredibilitas
Kredibilitas dimaksudkan untuk merangkum bahasan mengenai
kualitas penelitian. Konsep kredibilitas dalam penelitian kualitatif
ini memiliki pengertian setara dengan konsep validitas dalam
penelitian kuantitatif. Menurut Poerwandari (2005) sebuah
penelitian memiliki kredibilitas yang baik jika mampu atau berhasil
mencapai maksud dari eksplorasi masalah atau deskripsi setting,
proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.
Kredibilitas penelitian ini dilakukan dengan (Poerwandari,
2005):
- Mengkonfirmasikan data dan analisisnya dengan subyek
penelitian (validitas komunikatif)
- Melakukan penelitian pada kondisi yang alamiah atau “apa
adanya” dari subyek penelitian (validitas ekologis)
- Melakukan cross checkdata dengan sumber lain yang memiliki
hubungan dengan subyek (validitas argumentatif)
b. Konfirmabilitas
Konfirmabilitas adalah konsep objektivitas dalam penelitian
kualitatif. Konsep ini terpenuhi dengan dua cara, yaitu hasil
penelitian dapat dikonfirmasikan dan peneliti harus bersedia untuk
mengungkapkan secara terbuka proses penelitiannya, sehingga
5. Analisis Data
Analisis data untuk penelitian kualitatif adalah dengan analisis isi
atau content analysis, yaitu dengan membuat deskripsi yang jelas dari
kasus-kasus tersebut beserta situasi yang mengelilinginya (Creswell,
1997). Metode ini bukan bertujuan untuk menguji suatu hipotesis, akan
tetapi memberikan gambaran tentang variabel penelitian dari subyek
secara deskriptif.
Penelitian ini menggunakan empat langkah analisis data, yaitu :
1. Organisasi data
Langkah pertama ini disebut dengan transkrip verbatim yang
dimulai dengan memindahkan hasil wawancara dari alat perekam ke
sebuah buku kosong. Data yang dipindahkan adalah semua kata-kata
ataupun kalimat yang terucap oleh responden penelitian.
2. Pengkodean (Coding)
Koding dilakukan dengan membuat kolom pada transkrip
verbatim dan memberikan kode tertentu, yaitu kode sesuai dengan
aspek yang ingin dilihat. Koding diletakkan di belakang pertanyaan
dan jawaban yang diungkapkan responden. Koding harus
benar-benar memberikan makna yang dalam untuk permasalahan yang
dicari.
3. Interpretasi
Interpretasi dilakukan dengan melakukan analisis tematik untuk
mencari pola dari data yang ada. Hal ini merupakan proses
daftar tema, model tema, atau indikator yang kompleks. Tema-tema
yang muncul diharapkan akan dapat mendeskripsikan fenomena dari
hasil penelitian ini serta berguna dalam menginterpretasi hasil data.
4. Menarik kesimpulan akhir
Hasil interpretasi tersebut menunjukkan kesimpulan jawaban
dari wawancara. Pada langkah terakhir, seluruh interpretasi akan
dikumpulkan, kemudian disusun suatu gambaran mengenai konsep
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Penelitian
Sebelum melakukan proses penelitian, peneliti melakukan beberapa
persiapan terlebih dahulu. Langkah pertama dalam persiapan ini adalah
peneliti membuat panduan wawancara sesuai dengan dimensi-dimensi
konsep diri yang ingin diungkap, selanjutnya peneliti mencari satu orang
subyek yang memenuhi kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan dan
membuat janji untuk melakukan wawancara.
Setelah persiapan tersebut selesai, kemudian peneliti melakukan
wawancara pada subyek pertama berdasar pada panduan yang telah dibuat
dan sesuai waktu yang telah disepakati. Langkah berikutnya yaitu peneliti
memindah hasil rekaman wawancara ke dalam bentuk tertulis, melakukan
pengkodingan, lalu menganalisis tema-tema yang muncul dari wawancara.
Berdasar tema-tema yang ditemukan, peneliti menganalisis dan membuat
suatu kesimpulan berdasar analisis tersebut. Langkah terakhir adalah
peneliti melakukan konfirmasi pada subyek yang bersangkutan untuk
klarifikasi. Proses wawancara dilakukan sampai data yang diperoleh
exhausteddimana tidak ditemukan lagi variasi jawaban dari subyek.
B. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode wawancara pada subyek yang
sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Peneliti melakukan
wawancara pada anak laki-laki suku Jawa yang lahir pertama, berusia
antara 19-23 tahun dan berdomisili di D. I. Yogyakarta. Subyek diasuh oleh
dua orangtua suku Jawa asli, dengan lingkungan tempat tinggal sekitarnya
terdiri sebagian besar orang-orang Jawa.
Pelaksanaan pengambilan data dilaksanakan pada :
a. Subyek 1
Tanggal Wawancara : 1 Maret 2009
Waktu : 11.00-13.00 WIB
b. Subyek 2
Tanggal Wawancara : 11 Maret 2009
Waktu : 15.00-17.30 WIB
c. Subyek 3
Tanggal Wawancara : 18 Maret 2009
Waktu : 15.00-17.00 WIB
d. Subyek 4
Tanggal Wawancara : 9 April 2009
Waktu : 11.00-13.30 WIB
e. Subyek 5
Tanggal Wawancara : 14 April 2009
f. Subyek 6
Tanggal Wawancara : 26 April 2009
Waktu : 09.00-11.30 WIB
g. Subyek 7
Tanggal Wawancara : 3 Juni 2009
Waktu : 10.00-12.30 WIB
h. Subyek 8
Tanggal Wawancara : 7 Juni 2009
Waktu : 10.00-12.15 WIB
i. Subyek 9
Tanggal Wawancara : 11 Juni 2009
Waktu : 16.30-18.15 WIB
j. Subyek 10
Tanggal Wawancara : 15 Juni 2009
Waktu : 09.30-11.30 WIB
k. Subyek 11
Tanggal Wawancara : 19 Juni 2009
Waktu : 17.30-20.00 WIB
l. Subyek 12
Tanggal Wawancara : 21 Juni 2009
Waktu : 09.00-11.15 WIB
m. Subyek 13
Tanggal Wawancara : 25 Juni 2009
n. Subyek 14
Tanggal Wawancara : 28 Juni 2009
Waktu : 10.00-12.30 WIB
o. Subyek 15
Tanggal Wawancara : 30 Juni 2009
Waktu : 16.00-18.30 WIB
Proses wawancara pada subyek 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,
dan 15 dilakukan di rumah subyek, sedangkan pada subyek 1 dan 6
wawancara dilakukan di tempat kos subyek. Keseluruhan proses wawancara
yaitu dengan bertatap muka langsung dan untuk proses perekaman selama
wawancara peneliti menggunakanrecorder.
Setelah proses wawancara, peneliti melakukan proses pemeriksaan
kredibilitas dengan melakukan konfirmasi kepada subyek penelitian
(validitas komunikatif). Pada proses ini, peneliti menunjukkan hasil
verbatim pada subyek dan bersama-sama dengan subyek mendengarkan
kembali hasil rekaman. Setelah validitas komunikatif terpenuhi, peneliti
melakukan cross check dengan adik pertama subyek untuk memenuhi
validitas argumentatif. Cross check ini dilakukan dengan cara menanyai
adik subyek mengenai sejauhmana kesesuaian jawaban subyek dalam
wawancara dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Pada subyek 6, 7, dan
8 cross check dilakukan melalui percakapan telepon dikarenakan adik
subyek tidak berada di kota yang sama dengan peneliti, sedangkan untuk
langsung. Validitas ekologis dipenuhi dengan cara peneliti melakukan
penelitian pada kondisi alami subyek dengan kata lain kondisi subyek saat
penelitian dilakukan adalah tidak dibuat-buat.
C. Hasil Penelitian
1. Orientasi Kancah
Peneliti melakukan wawancara pada subyek 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10,
11, 12, 13, 14, dan 15 di ruang tamu rumah keluarga subyek. Dari
keadaan tempat tinggal subyek, tampak bahwa subyek berasal dari
keluarga dengan kelas ekonomi menengah dan menengah bawah.
Tempat tinggal subyek tidak ada yang tampak mewah, tetapi semua
layak huni dan bangunannya permanen. Ketika proses wawancara
berlangsung, adik-adik subyek sedang berada di sekolah, sedangkan
orangtua subyek sedang berada di tempat kerja atau sedang melakukan
aktivitas di ruangan lain, sehingga tidak ada orang lain yang berada
dalam satu ruangan. Kondisi ini menjadikan subyek nyaman sehingga
merasa bebas untuk bercerita. Ruang tamu yang digunakan selama
proses wawancara cukup bersih dengan meja-kursi yang ditata rapih.
Situasi sekitar tidak berisik, tenang, sehingga suara subyek terdengar
jelas dan situasi ini sangat membantu proses perekaman. Wawancara
pada subyek 1 dan 6 berlangsung di ruang tamu tempat kos subyek.
Ruang tamu yang tersedia cukup luas dan tersedia tempat duduk serta
sehingga ketika proses wawancara berlangsung ada beberapa teman satu
kos subyek yang berjalan keluar-masuk melewati ruang tamu tempat
wawancara.
Dilihat dari identitas subyek sesuai dengan kriteria subyek
penelitian yang telah ditentukan sebelumnya dan setelah dilakukan
koding pada hasil wawancara hingga jawaban subyek yang diperoleh
exhausted, maka diperoleh 15 orang subyek dengan kondisi demografi
Tabel 4.1
Data Demografi Subyek Penelitian
Keterangan
Subyek
Inisial Usia Asal
Pendidikan
Terakhir
Pekerjaan
1 De 23 tahun Jawa Tengah SMU Mahasiswa
2 Si 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa
3 An 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa
4 Yo 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa
5 Co 20 tahun Yogyakarta SMU
Mahasiswa /
Model
6 Ag 23 tahun Jawa Timur SMU Mahasiswa
7 Ga 22 tahun Yogyakarta SMU Atlet
8 Di 22 tahun Jawa Tengah SMU
Mahasiswa /
Programmer
9 Ad 19 tahun Yogyakarta SMK
-10 En 23 tahun Yogyakarta SMU Sales
11 Vi 20 tahun Yogyakarta SMK Pelatih Tari
12 Ca 19 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa
13 Yo 20 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa
14 An 22 tahun Jawa Timur Akademi Tour Guide
Tabel 4.2
Data Kedudukan Subyek dalam Keluarga
Subyek
Jumlah Saudara
Laki-laki Perempuan
Status Keturunan Status Pernikahan
1 1 orang 2 orang Anak Kandung Belum menikah
2 3 orang - Anak Kandung Belum menikah
3 2 orang - Anak Kandung Belum menikah
4 2 orang - Anak Kandung Belum menikah
5 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah
6 1 orang - Anak Kandung Belum menikah
7 - 2 orang Anak Kandung Belum menikah
8 1 orang - Anak Kandung Belum menikah
9 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah
10 1 orang - Anak Kandung Belum menikah
11 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah
12 2 orang 1 orang Anak Kandung Belum menikah
13 - 2 orang Anak Kandung Belum menikah
14 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah