• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DIRI ANAK LAKI-LAKI PERTAMA JAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KONSEP DIRI ANAK LAKI-LAKI PERTAMA JAWA"

Copied!
205
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh

Gregoria Rosarheina Kusuma

NIM : 049114008

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran konsep diri dari anak laki-laki pertama suku Jawa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode wawancara etnografi. Lima belas orang subyek didapatkan dari pemilihan menggunakan snowball sampling, dengan karakteristik yaitu anak laki-laki yang lahir pertama dalam sebuah keluarga Jawa, berada pada usia 19-25 tahun, berdomisili di D.I. Yogyakarta, diasuh oleh dua orang tua suku Jawa asli, dan memiliki lingkungan tempat tinggal yang terdiri sebagian besar orang-orang Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki pertama Jawa memiliki konsep diri yang positif dalam dimensi internal dan eksternalnya. Respon positif dimensi internal, terdapat pada respon seluruh subyek dalam subdimensi diri identitas, serta sebagian besar pada subdimensi diri penilaian dan diri pelaku. Di sisi lain, dimensi eksternal menunjukkan respon positif seluruhnya pada subdimensi diri fisik, dan diri etik moral, serta pada sebagian besar subdimensi diri personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri akademi / kerja. Konsep pengasuhan Jawa yang menanamkan rasa wedi, isin dan sungkan memberikan pengaruh pada konsep diri, sehingga subyek berperilaku sesuai sosok ideal pemimpin Jawa. Selain itu, subyek menjadi tidak bersedia menganggap diri lebih rendah daripada orang lain (andhap asor) ketika hasil kerjanya mendapat pengakuan. Hal ini bertentangan dengan konsep pribadi Jawa yangandhap asor, sehingga tampak terjadi kerancuan kepribadian.

Kata kunci:konsep diri, anak laki-laki pertama Jawa

(6)

ABSTRACT

The purpose of this research is to do the description about the Javanese eldest son’s self concept. It is a qualitative descriptive research. The method applied in this qualitative description research is ethnographical interview method. Fifteen subjects were selected using snowball sampling method. The selection was refered to subject’s characters criteria. The criteria are as follows: they are the eldest son of Javanese families, 19-25 years of age, staying in Yogyakarta, grown by pure Javanese parents, and their life circumstances are dominated by Javanese tradition. The result of this research shows that the subjects have positive self concept, both in internal and external dimension. In internal dimension, all positive responses identified in identity-self subdimension, and also in most part of self-judgement and acting subdimensions. In the other hands, external dimension shows all positive responses in phisically-self and ethic morally-self subdimensions. It also appeared in most part of personal-self, family-self, social-self, and academy / working-self subdimensions. Javanese parenting concepts “wedi (afraid), “isin (shame), and “sungkan (not easy manner) contribute influence to the self concept, that brings the impact on subjects to act as a Javanese ideal leader. On the other hand, the subjects do not want to be humble (andhap asor) when their job accomplished with high appreciation. Hence dual personality appears.

Key word:self concept, Javanese eldest son

(7)

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Gregoria Rosarheina Kusuma

Nomor Mahasiswa : 049114008

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

Konsep Diri Anak Laki-laki Pertama Jawa

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk

kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan

royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 30 September 2010

Yang menyatakan,

(Gregoria Rosarheina Kusuma)

(8)

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... iv

ABSTRAK... v

ABSTRACT... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA... vii

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GRAFIK... ... xi

BAB I. PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. LANDASAN TEORI... 7

A. Konsep Diri ... 7

1. Pengertian Konsep Diri ... 7

2. Dimensi dan Subdimensi Konsep Diri. ... 9

3. Jenis-jenis Konsep Diri... 12

B. Keluarga Jawa ... 14

C. Konsep Diri Anak Laki-laki Pertama Jawa ... 20

(9)

B. Subyek... 28

C. Alat Pengumpul Data... ... 29

1. Variabel Penelitian... 29

2. Definisi Operasional ... 29

3. Alat Pengumpul Data... 39

4. Keabsahan Data Penelitian. ... 44

5. Analisis Data... 45

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 47

A. Proses Penelitian ... 47

B. Pelaksanaan Penelitian... 48

C. Hasil Penelitian ... 51

1. Orientasi Kancah. ... 51

2. Hasil Penelitian Tiap Subyek ... 55

D. Analisis Hasil Respon ... 154

E. Analisis Antar Subyek... ... 175

BAB V. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN... 188

A. Kesimpulan ... 188

B. Keterbatasan Penelitian... 190

C. Saran ... 190

DAFTAR PUSTAKA... 192

(10)

Tabel 3.1 Indikasi Jenis Konsep Diri ... 33

Tabel 3.2 Panduan Wawancara Konsep Diri. ... 41

Tabel 4.1 Data Demografi Subyek Penelitian... 53

Tabel 4.2 Data Kedudukan Subyek dalam Keluarga. ... 54

(11)

Grafik 5.1 Data Hasil Respon Positif Dimensi Internal Subyek……… 189

Grafik 5.2 Data Hasil Respon Positif Dimensi Eksternal Subyek………. 189

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perilaku anak laki-laki pertama sering menjadi fenomena yang

menarik dalam sebuah keluarga Jawa. Suatu hal yang tampak menonjol dari

sikap seorang anak laki-laki pertama Jawa ialah ia bertindak seperti “putera

mahkota”. Sebagai anak laki-laki pertama, ia merasa lebih berkuasa

daripada saudara-saudaranya yang lain. Hal ini misalnya tampak dari

perilaku yang berusaha menyingkirkan saudara-saudaranya dengan

memberi cap buruk, yaitu sebagai orang-orang yang lebih rendah dari

dirinya. Anak laki-laki pertama Jawa memandang bahwa dirinya adalah

anak yang utama dan terbaik, sehingga berhak mengatur segalanya karena

berpatokan pada paham bahwa tindakannya adalah tindakan yang lebih

benar daripada tindakan saudara yang lain. Begitu juga dalam lingkungan

masyarakat, anak laki-laki pertama Jawa sering bertindak sesuai dengan

kehendaknya sendiri, dan juga menganggap dirinya sebagai seorang

pemimpin yang hebat. John Kinch (dalam Tarakanita, 2001) berpendapat

bahwa interaksi individu dengan lingkungan sosialnya sangat tergantung

dan dipengaruhi konsep diri.

Konsep diri menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2001) ialah bagaimana

diri diamati, dipersepsi, dan dialami oleh individu tersebut. Selain itu,

makna konsep diri mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi

(13)

perilaku seseorang dalam interaksi dengan orang lain. Konsep diri ini terdiri

dari dimensi internal dan dimensi eksternal. Yang dimaksud dengan konsep

diri internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi sebagai kesatuan yang

unik. Penilaian diri berdasarkan dimensi internal meliputi penilaian

seseorang terhadap diri identitas, diri penilaian, dan perilakunya. Konsep

diri eksternal adalah persepsi diri yang timbul dalam interaksi individu

dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan interpersonal. Dimensi

eksternal ini terdiri dari enam bagian yang berhubungan dengan diri, yaitu

diri fisik, diri etik-moral, diri personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri

akademi atau kerja. Dari uraian tersebut, maka diduga perilaku dari anak

laki-laki pertama Jawa disebabkan oleh nilai konsep dirinya yang terlalu

positif.

Harre (dalam Tarakanita, 2001) berpendapat bahwa konsep diri

remaja akan mengalami peningkatan sesuai dengan siklus kehidupan

individu. Hal ini berkaitan erat dengan faktor-faktor intrapsikis, kognitif,

dan kultur (budaya) yang meliputi dunia internal dan eksternal individu.

Ketiga hal ini akan bergabung menjadi satu dan membentuk konsep diri

individu.

Budaya Jawa yang bersistem patrilineal menuntut keutamaan dari

seorang pria. Hal ini tentunya juga berlaku dalam hal keturunan. Dalam

budaya Jawa, anak laki-laki dianggap sebagai penerus keluarga, ia

diharapkan dapat menyerupai figur ayah yaitu sebagai seorang pemimpin.

(14)

anak perempuan, dimana anak laki-laki cenderung mendapat perhatian yang

lebih dari orang tua daripada pada anak perempuan.

Pada anak laki-laki, orang tua Jawa cenderung membedakan mereka

sesuai urutan kelahiran. Hal ini berkaitan dengan pandangan manusia Jawa

mengenai usia (Taruna, 1987) yaitu usia adalah tolok ukur dan panutan

moralitas. Anak laki-laki yang tertua diharapkan akan mampu menjadi

contoh bagi saudaranya, laki-laki yang lebih muda dan

saudara-saudaranya yang perempuan. Anak laki-laki tertua akan menjadi titik-kuat

moralitas keluarga, maka orang tua Jawa akan cenderung lebih

mengutamakan anak laki-laki tertua daripada anak laki-lakinya yang lain.

Tentunya kondisi budaya yang seperti ini akan mempengaruhi

pembentukan konsep diri anak. Anak laki-laki tertua yang amat dihargai

mungkin menjadi pribadi dengan konsep diri yang tinggi, sedangkan

anak-anak perempuan merasa kurang berharga dalam keluarga sehingga mereka

memiliki konsep diri yang rendah.

Selain hal yang berkaitan dengan budaya, penelitian mengenai

konsep diri sejauh ini kebanyakan dilakukan pada bidang psikologi

pendidikan, perkembangan, atau industri-organisasi. Misalnya, dalam

bidang psikologi perkembangan terdapat penelitian mengenai pengaruh

konsep diri terhadap kompetensi interpersonal pada remaja putra dan putri.

Penelitian ini dilakukan di SMUN 3 Salatiga oleh Hilda Anastasia (2004).

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah konsep diri mempengaruhi

kompetensi interpersonal. Penelitian lain dalam bidang yang sama adalah

(15)

organisasi berjudul Kesesuaian antara Konsep Diri Nyata dan Ideal dengan

Kemampuan Manajemen Diri pada Mahasiswa Pelaku Organisasi,

menunjukkan bahwa ada hubungan antara kesesuaian konsep diri nyata dan

ideal dengan kemampuan manajemen diri pada mahasiswa pelaku

organisasi.

Selama ini tampaknya belum begitu banyak penelitian mengenai

konsep diri dengan latar belakang budaya, terlebih lagi budaya Jawa.

Penelitian konsep diri dengan latar belakang budaya Indonesia cukup

banyak diteliti, tetapi bukan berlatar belakang budaya Jawa melainkan

budaya suku lain seperti Dayak, Batak, Cina atau Bali. Misalnya, penelitian

konsep diri dengan latar belakang budaya Cina dan Sunda dengan judul

Hubungan Status Identitas Etnik dengan Konsep Diri Mahasiswa (Studi

pada Kelompok Remaja Akhir Etnik Sunda dan Etnik Cina di Universitas

Kristen Maranatha Bandung). Penulis penelitian ini adalah Irene Tarakanita

(2001). Kesimpulan yang dapat diambil yaitu tidak ditemukan hubungan

antara status identitas etnik dengan konsep diri pada kelompok mahasiswa

etnik Sunda, sedangkan pada mahasiswa etnik Cina ditemukan adanya

hubungan antara identitas etnik dengan konsep diri.

Berdasarkan fenomena budaya dan penelitian konsep diri dengan

latar belakang budaya Jawa yang masih jarang, maka menarik bagi peneliti

untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui lebih jauh mengenai

(16)

B. Rumusan Masalah

Permasalahan pokok pada penelitian ini adalah peneliti ingin

mengetahui seperti apakah konsep diri pada anak laki-laki pertama dari

suku Jawa

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk

memperoleh gambaran mengenai konsep diri pada anak laki-laki pertama

dari suku Jawa.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat bagi :

- Subyek penelitian; akan mampu menyadari seperti apa konsep dirinya,

sehingga subyek penelitian dapat mengembangkan diri dengan tepat.

- Orang tua subyek; akan memperoleh gambaran yang jelas mengenai

konsep diri pada anak laki-laki pertamanya, sehingga diharapkan orang

tua mampu menerapkan pola asuh yang sesuai.

- Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan pada

umumnya, menambah kepustakaan dalam bidang psikologi pada

(17)

diri. Selain itu penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi

peneliti selanjutnya.

- Bagi penulis, penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah

pengetahuan dan pengalaman serta dapat menerapkan pengetahuan yang

diperoleh selama kuliah dan dapat membantu kita memahami konsep

(18)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2001) konsep diri adalah suatu

konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti manusia. Konsep diri

bersifat fenomenologis, yaitu terdapat prinsip dasar bahwa manusia

bereaksi terhadap dunia fenomenalnya sesuai dengan persepsinya tentang

dunia itu. Dalam dunia fenomenal seseorang, aspek yang memegang

peranan penting adalah diri sendiri, yaitu bagaimana diri

diamati, dipersepsi, dan dialami oleh individu.

Ketika seseorang mengamati tentang dirinya, maka dalam hal ini

terdapat unsur penilaian (Derlega dan Janda dalam Tarakanita, 2001) Selain

unsur penilaian, konsep diri juga mempunyai unsur yang mempengaruhi

tingkah laku orang tersebut.

Menurut Rakhmat (1996), konsep diri yaitu pandangan dan perasaan

tentang diri kita sendiri. Persepsi bersifat psikologis, sosial, dan fisik.

Konsep diri bukan sekedar gambaran deskripsi saja, tapi juga merupakan

penilaian seseorang tentang dirinya. Jadi, konsep diri meliputi apa yang

dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang diri individu itu sendiri. Dengan

demikian ada 2 komponen konsep diri, yaitu kognitif dan afektif.

(19)

Hurlock (1989) mengungkapkan bahwa konsep diri meliputi dua

hal, yaitu konsep diri sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep diri

sebenarnya adalah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Dirinya

sebagai bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh perasaan dan

hubungan dengan orang lain, serta reaksi orang lain terhadapnya.

Sedangkan konsep diri ideal adalah gambaran seseorang mengenai

penampilan dan kepribadian yang didambakannya. Setiap macam konsep

diri ini memiliki aspek fisik dan psikologis. Aspek fisik terdiri dari konsep

yang dimiliki individu tentang penampilannya, kesesuaian dengan seksnya,

arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi

yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Aspek psikologis yaitu konsep

individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya, dan

hubungan dengan orang lain.

Seperti yang diungkapkan Hurlock, Rogers (dalam Hall dan Lindzey,

1993), juga mengemukakan pengertian konsep diri sebagai gestalt

konseptual yang terorganisir dan konsisten yang terdiri dari

persepsi-persepsi tentang sifat dari “diri subyek” dan persepsi-persepsi-persepsi-persepsi tentang

hubungan antara diri subyek dengan orang lain dan dengan berbagai aspek

kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat. Di samping “diri” juga terdapat

suatu diri ideal, yaitu apa yang diinginkan orang tentang dirinya. Apabila

perbedaan antara diri dan diri ideal besar, maka orang akan merasa cemas,

tidak puas, bertingkah laku defensif, dan tidak dapat menyesuaikan diri.

Elkins (dalam Tarakanita, 2001) mengungkapkan bahwa konsep diri

(20)

pada dirinya sendiri. Konsep diri tersebut merupakan organisasi dari

persepsi mengenai dirinya sendiri sehingga individu akan terlihat siapakah

dirinya itu. Konsep diri ini tersusun dari ribuan persepsi yang berisi

bermacam-macam keterangan, kebenaran, dan kepentingan seseorang.

Persepsi-persepsi tersebut dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan

interpretasi dari lingkungan, terutama dipengaruhi

oleh penguatan- penguatan, penilaian orang lain, dan atribut

seseorang bagi tingkah lakunya

(Shavelson dan Roger, dalam Suharmeni, 1988).

Dari uraian di atas maka pengertian konsep diri adalah pandangan dan

perasaan seseorang tentang dirinya. Konsep diri memberikan gambaran

penampilan dan kepribadian yang didambakan orang tersebut, memiliki

komponen kognitif dan afektif, serta memiliki aspek fisik dan psikologis.

2. Dimensi dan Subdimensi Konsep Diri

Konsep diri terdiri dari dua dimensi (Fitts dalam Tarakanita, 2001) yaitu

dimensi internal dan dimensi eksternal.

a. Dimensi Internal

Dimensi internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi sebagai

kesatuan yang unik. Dimensi ini berfokus pada diri sendiri, dimana

pribadi seseorang digambarkan seperti apa dirinya itu melalui

pengamatan, lalu hasil pengamatan tersebut dinilai dimana

standar-standar mengenai dirinya tampak dan dibandingkan. Dari situ seseorang

(21)

bertindak. Dimensi ini mencakup tiga subdimensi, yaitu subdimensi diri

identitas, diri penilaian, dan diri pelaku.

- Diri Identitas

Merupakan kumpulan label dan simbol yang dipergunakan

seseorang untuk menggambarkan dirinya, dan dapat mempengaruhi

cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan dan dengan diri

sendiri.

Misalnya seseorang menggambarkan diri sebagai orang yang tidak

memiliki kemampuan untuk melakukan apapun, maka ia merasa

dirinya tidak berguna dan malu jika harus berinteraksi dengan

lingkungan.

- Diri Penilaian

Mempunyai fungsi mengamati dan menilai, memberikan standar,

serta memberikan perbandingan terhadap dirinya.

Misal, orang yang merasa diri tidak mampu melakukan apapun

tersebut kemudian mengamati dirinya. Di sini ia mengamati apa saja

kemampuan yang ada pada dirinya, dan ia membandingkan

kemampuan-kemampuannya itu, dan menilai bahwa ia memiliki

satu kemampuannya cukup berharga.

- Diri Pelaku

Merupakan persepsi seseorang terhadap tingkahlakunya atau

caranya bertindak.

Misal, dari contoh yang sama, karena orang tersebut menilai bahwa

(22)

mempersepsikan bahwa tingkah lakunya yang dulu adalah kurang

benar. Seharusnya ia tidak perlu merasa dirinya tidak berguna dan

tidak takut jika harus berinteraksi dengan lingkungan.

b. Dimensi Eksternal

Dimensi eksternal adalah persepsi diri yang timbul dalam interaksi

individu dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan

interpersonal. Dimensi eksternal ini berbeda dengan dimensi internal

yang benar-benar fokus dan berdasar pada diri sendiri, dimana dunia

luar hanya dilihat sebagai hal yang dikenai dampak, bukan sebagai hal

yang turut andil membentuk konsep diri internal tersebut. Sedangkan

dalam dimensi eksternal, interaksi individu dengan dunia luarnya

memiliki peranan dan memberikan pengaruh bagi individu tersebut

dalam mempersepsi dirinya.

Dimensi ini meliputi subdimensi diri fisik, diri etik-moral, diri

personal, diri keluarga, diri sosial, dan diri akademi atau kerja.

- Diri Fisik

Persepsi seseorang terhadap keadaan fisik. yaitu kesehatan,

penampilan diri, dan gerakan motoriknya.

- Diri Etik-Moral

Persepsi individu tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan

(23)

- Diri Personal

Perasaan individu terhadap nilai-nilai perbedaan, terlepas dari

keadaan fisik dan hubungannya dengan orang lain dan sejauhmana

individu merasa adekuat sebagai pribadi.

- Diri Keluarga

Perasaan dan harga diri individu sebagai anggota keluarga dan

teman-teman dekatnya.

- Diri Sosial

Penilaian individu terhadap dirinya dalam interaksi dengan orang

lain dalam lingkungan yang lebih luas.

- Diri Akademi/Kerja

Penilaian yang berkaitan dengan penilaian ketrampilan dan prestasi

akademik.

3. Jenis-Jenis Konsep Diri

Menurut Calhoun and Acocella (dalam Rakhmat, 1996), terdapat dua

macam konsep diri, yaitu konsep diri positif dan negatif.

a. Konsep diri positif

Seseorang yang memiliki konsep diri yang positif mampu untuk

menerima diri apa adanya dan ia akan terus berusaha memperbaiki diri.

Ia mampu menampung seluruh pengalaman mental, melakukan evaluasi

diri apa adanya, mampu mengenali diri secara jelas dan menyeluruh,

serta ia mampu menerima seluruh pengalaman dalam hidupnya

(24)

pengalaman negatif, misalnya ejekan, atau kegagalan. Hal-hal seperti ini

dipandang sebagai sumber informasi baru dari luar sehingga tidak akan

menimbulkan kecemasan, memiliki perasaan lebih optimis, percaya diri,

dan bersikap positif.

William (dalam Rakhmat, 1996) mengungkapkan bahwa seseorang

yang memiliki konsep diri positif memiliki keyakinan akan kemampuan

mengatasi masalah, berusaha menghadapi sesuatu dengan maksimal,

merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu,

mampu memperbaiki diri karena ia sanggup mengungkapkan

aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha merubahnya.

Halmacheck (dalam Rakhmat, 1996) mengungkapkan bahwa

seseorang yang memiliki konsep diri positif akan meyakini betul

nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu, bersedia mempertahankannya walau

menghadapi tantangan, berani mengubah prinsip apabila pengalaman

dan bukti salah. Ia bertindak berdasar penilaian yang baik, yakin pada

kemampuan mengatasi persoalan, dan dapat menerima diri seperti apa

adanya. Selain itu ia juga mampu menikmati hidup secara utuh dalam

berbagai kegiatan, misalnya pekerjaan, permainan, atau persahabatan.

b. Konsep diri negatif

Konsep diri ini bertolak belakang dengan konsep diri yang positif.

Konsep diri negatif dibedakan menjadi dua, yaitu pandangan diri

seseorang yang benar-benar tidak teratur dan pandangan diri yang

(25)

Pandangan tentang diri benar-benar tidak teratur, di mana seseorang

tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Ia tidak tahu siapa

dirinya, tidak tahu kekuatan dan kelemahan atau apa yang berharga

dalam hidupnya. Konsep diri negatif yang terlalu stabil dan terlalu

teratur (kaku) dapat terlihat dari individu yang menciptakan batasan

diri, yaitu ia tidak menyimpang dari seperangkat aturan ketat dalam

pikirannya. Hal ini yang dianggap cara hidup yang tepat. Seseorang

yang memiliki konsep diri ini dapat mengalami kecemasan dan depresi

karena tidak dapat menerima informasi negatif tentang dirinya.

B. Keluarga Jawa

Suku bangsa Jawa secara antropologi budaya adalah orang–orang

yang secara turun-temurun menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai

ragam dialeknya dalam kehidupan sehari-hari. Suku bangsa ini berasal dan

bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Herusatoto

dalam Harmini, 2004). Menurut Marbangun Hardjowirogo (dalam Harmini,

2004), semua orang Jawa berbudaya satu. Mereka berpikir dan berperasaan

seperti nenek moyang mereka di Jawa dengan daerah Solo dan Yogyakarta

sebagai pusat kebudayaan. Masyarakat Jawa memiliki penghayatan hidup

budaya yang nilai-nilainya berorientasi ke arah daerah Solo dan

Yogyakarta.

Orang Jawa membedakan golongan sosial menjadi tiga

(26)

terdiri dari sebagian massa petani di desa dan mereka yang berpendapatan

rendah di kota. Golongan kedua yaitu kaum Priyayi dimana termasuk kaum

pegawai dan orang-orang intelektual. Golongan ketiga yaitu kaum Ningrat

(ndara), kelompok ini jumlahnya kecil tetapi mempunyai posisi derajat

khusus yang cukup tinggi karena adanya faktor keturunan raja atau keluarga

raja.

Dalam suatu masyarakat Jawa (Harmini, 2004), membentuk

keluarga atau somah diawali dengan suatu perkawinan sah menurut agama

yang dianutnya, dan berlandaskan rasa cinta kasih (tresna). Membentuk

keluarga ini bertujuan untuk mendapatkan keluarga yang bahagia, tentram,

dan sejahtera. Walaupun ada juga suatu perkawinan yang dijodohkan oleh

orangtua (ayah-ibu yang mengasuh) tetapi rasa cinta kasih tersebut lambat

laun akan tumbuh dengan sendirinya(tresna jalaran saka kulina).

Keluarga merupakan satuan moral dan basis dari identitas sosial dari

semua orang (Handayani & Novianto, 2004). Moral adalah formasi

tersendiri dari kognisi yang membentuk pengertian mengenai benar dan

salah (Kohlberg, dalam Zimbardo, 2003). Kohlberg (dalam Zimbardo,

2003) juga mengungkapkan bahwa moral memiliki arti penting dalam

kehidupan dimana hal ini memiliki hubungan erat dengan kemampuan

individu untuk mampu hidup bersama dengan orang lain. Dalam kosmologi

Jawa, keluarga melebihi dunia moral yang diberi ciri saling memiliki

kewajiban. Kewajiban tersebut adalah tidak sama antar individu. Kewajiban

ini berupa landasan moral tentang kenyataan adanya hirarki dan kewajiban

(27)

tua, guru, dan khususnya ayah-ibu adalah pribadi yang sangat dihormati,

menjadi pepundhen, dimana hal ini merupakan suatu kedudukan yang layak

bagi mereka karena perhatian, perlindungan, dan ajarannya sebagai

pengatur dan wakil kehidupan. Orangtua (ayah-ibu) memegang kedudukan

setengah religius yang dihiasi oleh ide bahwa menentang mereka

merupakan dosa (duraka, juga memberontak), dan akan dihukum oleh

sanksi gaib yang tidak terelakkan (kuwalat).

Bagi setiap orang Jawa, keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak-anak,

merupakan orang-orang yang paling penting. Dalam keluarga, ayah

berperan sebagai kepala keluarga yang bijaksana dan merupakan pelindung

yang kokoh bagi isteri dan anak-anaknya. Ayah bertugas bertanggung

jawab untuk mencukupi penghidupan keluarga, baik secara moril maupun

materiil. Sedangkan ibu pada umumnya memegang keuangan (ekonomi)

rumah tangga, yaitu ia bertanggung jawab mengelola dan mengusahakan

uang tersebut supaya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta ia

yang bertanggungjawab mengasuh anak-anak. Pembagian peran dalam

rumah tangga tidak mewajibkan seorang suami membantu tugas-tugas isteri

di rumah, sedangkan seorang isteri wajib menjadi ibu rumah tangga, tetapi

tidak wajib bekerja atau berkarier. Jadi, citra ideal suami adalah sebagai

kepala keluarga yang bertanggungjawab dan seorang isteri adalah pemeran

ganda (Uyun, 2002). Pola-pola kerjasama antara suami-isteri dalam rumah

tangga dapat dibedakan sebagai berikut (Harmini, 2004) :

1. Suami bekerja dan isteri di rumah, mendidik anak dan mengerjakan

(28)

2. Suami dan isteri bekerja bersama-sama dan bantu-membantu, yang

lazim dilakukan kaum tani.

3. Suami bekerja dan isteri usaha kecil-kecilan di rumah.

4. Suami dan isteri bekerja dan pendapatannya dijadikan satu.

5. Suami dan isteri sama-sama bekerja, biasanya di kalangan pedagang.

Ayah dan ibu bagi anak berperan memberikan kesejahteraan

jasmani dan rohani. Mereka memberikan bimbingan moral, membantu

mengenal segala macam kebaikan, juga untuk memperoleh kedudukan

dalam masyarakat. Ayah-ibu memberikan cinta kasih yang tulus kepada

anak-anaknya dan memberikan segala apa yang dibutuhkannya tanpa

menghitung dan tanpa prasyarat apapun. Orangtua (ayah-ibu) dalam konsep

Jawa memberikan perasaan aman dan terlindungi, juga selalu membuka

pintu maaf bagi kenakalan anak-anaknya. Peran ibu selalu berusaha untuk

melidungi anak dari rasa frustasi, dimana dalam keluarga orang tidak perlu

merasa malu (isin) mengungkapkan masalah yang dihadapinya, berterus

terang tanpa menyembunyikan perasaan gembira atau sedih, agar mendapat

dukungan dari keluarga.

Hubungan antar anggota keluarga dituntut berdasarkan perasaan

cinta, sehingga suasana keakraban dalam keluarga benar-benar tampak

(Harmini, 2004). Sikap-sikap moral dasar masyarakat Jawa terutama sikap

hormat, berkembang dimulai dari lingkungan keluarga ini. Sikap hormat ini

dikembangkan oleh orang Jawa melalui pendidikan dalam keluarga.

Misalnya ayah-ibu selalu menasehati anak-anaknya supaya saling

(29)

Menurut Hildred Geertz (dalam Harmini, 2004), anak dalam

keluarga Jawa dididik melalui tiga perasaan yang dipelajari dalam situasi

yang menuntut sikap hormat yaitu wedi, isin dan sungkan. Wedi berarti

takut, takut baik terhadap ancaman fisik maupun akibat tindakan yang

kurang wajar. Mula-mula anak belajar untuk merasa wedipada orang-orang

yang dihormati, selanjutnya dididikisin. Isinberarti malu, merasa bersalah.

Isin dan sikap hormat merupakan suatu kesatuan, karena orang akan merasa

malu bila tidak dapat menunjukkan sikap hormat yang tepat pada orang

yang patut dihormati. Selanjutnya adalah sungkan, sungkan adalah malu

dalam arti yang positif, yaitu rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau

sesama yang belum dikenal.

Sesuai dengan konsep Jawa, Greetz (dalam Harmini, 2004), juga

mengungkapkan bahwa anak diajari untuk bersedia menganggap dirinya

lebih rendah daripada orang lain (andhapasor) dan hendaknya selalu sadar

akan batas-batasnya dan akan situasi keseluruhan di dalam seseorang

bergerak (tepa selira). Anak nantinya diharapkan untuk dapatmikul dhuwur

mendhem jero terhadap kedua orangtuanya (Mulder, 1996). Mikul dhuwur

yaitu “memikul tinggi-tinggi” nama baik dan moral yang tak tercela dari

ayah-ibu mereka, dengan memuji kebaikan orangtua (ayah-ibu) dan

keserasian dalam kehidupan keluarga. Mendhem jero yaitu “menanam

dalam-dalam” segala sesuatu yang bisa menimbulkan ketidakselarasan,

perasaan agresif, atau apa saja yang dirasakan sebagai kekurangan

mengenai kehidupan keluarga, terutama dalam hubungan antara orang tua

(30)

dipertunjukkan kepada umum. Di pihak yang positif, anggota keluarga

harus bersikap rukun, yaitu menumbuhkan hubungan yang serasi dan

melaksanakan seni minta dan memberi, kompromi, sedangkan ia secara

spontan juga mengorbankan dorongan-dorongan pribadinya (pamrih) untuk

dapat menikmati kesejahteraan (slamet) yang timbul dari

hubungan-hubungan yang serasi.

Anak-anak dalam keluarga Jawa memiliki arti yang berbeda

menurut jenis kelaminnya (Uyun, 2002). Anak lelaki cenderung memiliki

arti yang berhubungan dengan martabat, perlindungan, dan tumpuan

harapan keluarga di masa depan, sehingga anak laki-laki memiliki

tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan. Anak

perempuan mempunyai arti yang berhubungan dengan kepraktisan, dalam

arti kehadirannya bermanfaat untuk memperlancar kegiatan beres-beres

urusan rumah tangga, sedangkan anak laki-laki dianggap tabu melakukan

tugas-tugas rumah tangga.

Orangtua (ayah-ibu) keluarga Jawa mengenalkan norma peran

gender pada anak-anaknya dimulai dari pemberian nama pada anaknya

(Uyun, 2002). Nama-nama feminin diperuntukkan bagi anak perempuan

dan nama-nama maskulin untuk anak laki-laki. Pada perkembangan

selanjutnya, pengenalan ini bertambah seiring dengan pertambahan umur

anak. Misalnya anak perempuan diberitahu agar tidak suka ngeyel

(melakukan sesuatu hal tidak sesuai dengan perintah), dan anak laki-laki

tidak boleh cengeng (mudah menangis). Saat anak mulai suka bermain

(31)

sedangkan anak laki-laki sering dilarang bermain boneka karena ayah-ibu

anak laki-laki khawatir anaknya akan menjadi seperti perempuan.

Ketika anak beranjak dewasa, orangtua Jawa biasanya memberikan

larangan yang lebih banyak bagi remaja perempuan (Uyun, 2002). Misalnya

mereka selalu diingatkan untuk menjaga kehormatan, atau tidak boleh

keluar rumah sendirian pada malam hari. Sedangkan larangan untuk anak

laki-laki tidak seketat larangan untuk anak perempuan. Anak laki-laki lebih

bebas bergaul, atau mereka boleh keluar sendirian pada malam hari.

Anak-anak hidup bersama dengan keluarga dan ayah-ibu

bertanggung jawab akan biaya kebutuhan-kebutuhan hidupnya sampai anak

mendapat pekerjaan atau sampai anak perempuan menikah, karena anak

perempuan yang telah menikah akan keluar dari rumah mengikuti suami

dan hidupnya menjadi tanggung jawab suami.

C. Konsep Diri Anak Laki-Laki Pertama Jawa

Sesuai dengan pendapat Harre (dalam Tarakanita, 2001) bahwa

peningkatan konsep diri remaja sesuai dengan siklus kehidupan individu,

dimana budaya memiliki kaitan yang erat dengan hal tersebut, maka

seorang anak yang hidup dalam keluarga berbudaya Jawa, secara otomatis

akan mendapat pengaruh budaya Jawa dalam pembentukan konsep dirinya.

Budaya Jawa seperti juga budaya berbagai suku di Indonesia,

menganut sistem patriarkhis (Darwin dan Tukiran, dalam Uyun, 2002).

(32)

dibandingkan dengan kedudukan perempuan. Sistem patriarkhis masyarakat

Jawa pada abad 18, telah melahirkan ungkapan-ungkapan (yang seringkali

masih terdengar hingga sekarang) yang menyiratkan inferioritas wanita

Jawa (Fananie dalam Uyun, 2002). Ungkapan-ungkapan seperti kanca

wingking, swarga nunut neraka katut, wanita hanya mengurus dapur,

wanita hanya bergantung pada suami, menegaskan bahwa wanita Jawa

tampak menduduki struktur bawah.

Sistem patriarkhis yang menganggap laki-laki lebih tinggi daripada

perempuan ini menempatkan hanya laki-lakilah yang pantas sebagai

pemimpin. Hal ini tidak terkecuali dalam keluarga dimana ayah yang

menjadi kepala keluarga. Fungsi ayah dalam keluarga adalah sebagai kepala

keluarga yang bijaksana, mampu mencukupi, dan melindung anggota

keluarga yang lain. Melihat dari gambaran peran ayah yang demikian, maka

seorang anak laki-laki Jawa yang dikemudian hari juga akan menjadi kepala

keluarga diharapkan mampu menjadi seorang figur yang mampu memimpin

seperti ayahnya.

Figur pemimpin Jawa seperti yang diungkapkan oleh Keeler (dalam

Handayani & Novianto, 2004) harus memenuhi citra ideal sebagai sosok

teladan, yaitu pemimpin yang berjiwa kuat, memikat, bertanggung jawab,

dan penuh sifat baik. Kekuasaan pemimpin di Jawa tergantung bukan hanya

pada kekuasaan yang dipaksakan dan birokratis, melainkan yang penting

justru pada bagaimana pemimpin memenuhi citra idealnya tersebut.

Seorang anak laki-laki kelak menjadi seorang pemimpin, maka ia

(33)

Tukiran, dalam Uyun, 2002) yaitu sebagai lelananging jagad yang sakti,

tampan, dan banyak isteri, seperti Arjuna tokoh Pandawa dalam

pewayangan yang selalu menang di setiap medan perang, dan selalu

memenangkan hati setiap dewi. Di sisi lain, anak perempuan harus dapat

nrimo, pasrah, halus, sabar, setia, dan berbakti, karena posisi perempuan

adalah milik laki-laki, sejajar denganbondo(harta),griyo(istana),turonggo

(kendaraan), kukilo (burung atau binatang piaraan), dan pusoko (senjata,

kesaktian). Penguasaan terhadap perempuan (wanito) merupakan simbol

kejantanan bagi seorang laki-laki. Sebaliknya, ketundukan, ketergantungan

dan kepasrahan perempuan kepada laki-laki adalah gambaran kemuliaan

hati seorang perempuan Jawa.

Taruna (1987) mengungkapkan pandangan manusia Jawa mengenai

usia, bahwa usia adalah tolok ukur dan panutan moralitas. Seorang Jawa

akan berpedoman bahwa orang yang berusia lebih tua memiliki moral lebih

unggul daripada orang yang lebih muda. Hal ini dimunculkan oleh

kemampuan mereka untuk mempertimbangkan benar dan salah yang jauh

lebih matang daripada kemampuan orang-orang yang lebih muda. Sesuai

dengan pandangan Jawa, sudah seharusnya seorang berusia lebih muda

menaruh hormat kepada orang-orang yang memiliki usia lebih tua.

Ayah-ibu sebagai wakil kehidupan dan tatanannya berhak atas kehormatan

tertinggi dan anak-anak harus ngabekti (berbakti), yaitu suatu bentuk

penghormatan dan kebaktian pada orangtua sebagai suatu cara setengah

(34)

Lebih jauh Mulder (1996) mengungkapkan bahwa menghormati

keunggulan moral mereka berarti menghormati hidup, yang sering kali

diuraikan dalam gagasan bahwa menghormati saudara kandung yang lebih

tua, ayah-ibu, guru, dan raja adalah sama seperti menghormati “Tuhan”.

Toer (2003) dalam bukunya menggambarkan tentang penghormatan

terhadap keunggulan moral ini dengan mengutip puisi tradisional yang

berbunyi demikian :

Metrum Sinom :

Wedi asih ing wong tuwa Satria tuhu ing Sang Aji Ratu ingkah angreh praja Nuhormi sakersa neki Smujud lahir lan batin Iku sajatining elmu Dedasaring kasatrian

Artinya :

Takut sayang terhadap orangtua Setia tulus kepada Sri Baginda Raja yang memerintah negeri Laksanakan segala kehendaknya Bersujud lahir dan batin

Itulah ilmu yang sejati Dasar dari kesatriaan

Penggambaran ini juga digambarkan dengan baik oleh R.A. Kartini

melalui surat yang ia tulis pada 18 Agustus 1899, kepada Estelle

(35)

Mengejutkan adat kami orang Jawa.

Seorang adikku, lelaki maupun wanita, tak boleh jalan melewati aku, atau kalau toh harus melewati aku, dia mesti merangkak di atas tanah. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak nampak lagi olehnya. Terhadap aku, adik-adikku tidak boleh ber-aku-ber-kau; dan pada setiap akhir kalimat yang keluar dari mulutnya harus mereka tutup dengan sembah.

Kalau adik-adikku, tak peduli lelaki atau wanita, bicara dengan orang-orang lain tentang diriku, mereka harus pergunakan bahasa tinggi segala apa yang berhubungan dengan diriku, misalnya pakaian, tempat duduk, tangan, kaki, mata, pendeknya apa saja milikku.

Kepalaku yang terhormat ini tiada boleh mereka menyentuhnya tanpa izin istimewa dari aku dan itu pun sesudah diupacarai dengan beberapa kali sembah.

Kalau ada penganan di meja, bocah-bocah kecil itu tak boleh menghampir, sebelum aku berkenan mengambil barang sedikit.

Duh, Stella, kau harus lihat, bagaimana di kabupaten-kabupaten lain saudari dan saudara itu bergaul! Mereka itu saudara, hanya karena mereka anak dari orangtua yang sama; tak ada ikatan lain yang menghubungkan mereka terkecuali darah. Saudara-saudara itu hidup berdampingan seperti orang-orang asing satu terhadap yang lain, cuma persamaan raut muka, yang kadang-kadang pun tak nampak, yang jadi tanda kesaudaraan mereka.

Hal ini menunjukkan konsep hirarki dari tatanan Jawa, bahwa yang

lebih bawah harus menghormati semua yang lebih dekat kepada sumber

kehidupan, kebijaksanaan moral dan kekuasaan. Menurut falsafah Jawa,

seseorang yang hidup serasi dengan hal yang lebih besar dari dirinya

(36)

Sistem patriarkhis yang menganggap laki-laki lebih tinggi daripada

perempuan menempatkan hanya laki-lakilah yang pantas sebagai

pemimpin, sehingga tak mengherankan apabila dalam sebuah keluarga Jawa

anak laki-laki lebih mendapat perhatian dan prioritas yang lebih daripada

anak perempuan. Terlebih lagi anak laki-laki yang tertua, ia cenderung

mendapatkan perlakuan yang “istimewa” dibandingkan dengan saudaranya

yang lain dikarenakan pandangan Jawa mengenai usia sebagai tolok ukur

dan panutan moralitas menempatkan anak laki-laki tertua ini pada

kedudukan moral yang lebih tinggi (lebih unggul) daripada orang yang

lebih muda, sehingga sudah seharusnya adik-adiknya sebagai orang yang

berusia lebih muda menaruh hormat kepadanya. Hal ini sesuai dengan

konsep hirarki dari tatanan Jawa, bahwa yang lebih bawah (orang yang

lebih muda) harus menghormati semua yang lebih dekat kepada sumber

kehidupan, kebijaksanaan moral dan kekuasaan (orang yang lebih tua).

Dengan menghormati saudara yang lebih tua, maka seorang anak dapat

dikatakan hidup serasi dengan hal yang lebih besar dari dirinya, sebagai

cerminan dari tingkah laku moral orang Jawa yang sangat terpuji.

Perlakuan yang didapatkan anak laki-laki tertua ini berpeluang

menjadikannya terbuai, sehingga ia mungkin dapat tumbuh menjadi pribadi

yang berbeda dari saudara-saudaranya. Jika mula-mula anak lain belajar

untuk merasa wedi, isin, dan sungkan pada orang-orang yang dihormati,

maka anak laki-laki pertama kurang dapat mempelajari hal itu karena ia

adalah pribadi istimewa dalam keluarga, dimana ia mendapat kedudukan

(37)

Disebabkan oleh posisinya yang istimewa, maka ia akan sulit untuk

bersedia menganggap dirinya lebih rendah daripada orang lain

(andhapasor). Keadaan ini juga berdampak pada kurangnya kesadaran akan

batas-batas, sehingga ia berbuat sekehendak hatinya sendiri. Situasi “tidak

ikut merasakan” yang tidak terbiasa terasah sejak kecil, tidak

mendukungnya untuk menjadi orang yangtepa selira.

Sebagai seorang laki-laki dengan kedudukan istimewa dalam

keluarga, ia dituntut untuk menjadi sesosok anak utama yang harus seperti

Arjuna. Di antara saudara-saudaranya, ia memacu diri dengan sangat keras

untuk dapat memberikan gambaran sebagai anak yang paling “sakti” karena

pusoko (senjata, kesaktian) miliknyalah yang paling ampuh, ia adalah anak

paling “tampan” sehingga paling disukai wanita, memiliki bondo (harta)

yang paling banyak, memiliki griyo (istana) yang paling mewah, memiliki

turonggo (kendaraan), dan kukilo (burung atau binatang piaraan) yang

paling banyak dan mahal.

Dari uraian tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa anak laki-laki

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode

wawancara etnografi. Penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan atau

memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau

populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat suatu

kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 1999). Dalam wawancara

etnografi, pewawancara mengontrol pembicaraan dengan cara mengarahkan

pembicaraan itu ke arah jalur-jalur yang mengarah pada penemuan

pengetahuan budaya informan (Spradley, 2006). Hal ini dilakukan agar

tujuan tercapai yaitu mendapat gambaran menyeluruh mengenai subyek

studi dengan penekanan pada penggambaran dari pengalaman individual

sehari-hari (Fraenkel & Wallen, dalam Creswell, 2003). Hasil akhir yang

didapatkan adalah suatu deskripsi verbal mengenai situasi budaya yang

dipelajari (Spradley, 2006).

Dari uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk

memperoleh gambaran mengenai konsep diri dari anak laki-laki pertama

keluarga Jawa.

(39)

B. Subyek

Pemilihan subyek dalam penelitian ini menggunakan snowball

sampling, yaitu setelah orang pertama digunakan sebagai subyek, ia

menjadi sumber informasi tentang orang lain yang sesuai untuk dijadikan

subyek. Orang-orang yang ditunjuk ini selanjutnya diminta menunjuk orang

lain yang juga memenuhi kriteria yang sama. Hal serupa dilakukan sampai

data exhausted dimana tidak ditemukan lagi variasi jawaban dari subyek.

Karakteristik subyek adalah laki-laki yang lahir pertama dalam sebuah

keluarga Jawa dan berdomisili di D.I. Yogyakarta. Karakteristik subyek

adalah individu yang diasuh oleh dua orang tua suku Jawa asli, dengan

lingkungan tempat tinggal sekitar terdiri sebagian besar orang-orang Jawa.

Peneliti menggunakan 15 orang subyek yang seluruhnya berada

pada usia 19-25 tahun dimana mereka tergolong dalam kelompok usia

dewasa dini. Alasan pengambilan subyek dari kelompok usia ini adalah

pada usia ini individu mempunyai rangkaian pengertian tentang diri dan

rangkaian pandangan lain, yaitu kemungkinan menjadi apa di masa

mendatang (Hurlock, 1990). Selain itu, pada usia ini subyek juga menerima

tanggungjawab dan berperan sesuai dengan peran seks yang diharapkan.

Subyek diasuh oleh dua orang tua yang berasal dari suku Jawa asli dan

tinggal di lingkungan sekitar yang terdiri dari sebagian besar orang-orang

Jawa dengan pertimbangan bahwa subyek mendapat pengasuhan,

pendidikan, dan subyek setiap hari dapat melakukan interaksi dengan orang

(40)

konsep diri subyek sebagai seorang Jawa lebih kuat terbentuk. Hal ini

sejalan dengan pendapat Harre (dalam Tarakanita, 2001) bahwa konsep diri

remaja akan mengalami peningkatan sesuai dengan siklus kehidupan

individu. Hal ini berkaitan erat dengan faktor-faktor intrapsikis, kognitif,

dan kultur (budaya) yang meliputi dunia internal dan eksternal individu.

Ketiga hal ini akan bergabung menjadi satu dan membentuk konsep diri

individu. Subyek juga diambil dari sampel populasi di wilayah D. I.

Yogyakarta, dengan alasan bahwa wilayah D. I. Yogyakarta lebih dekat dan

terjangkau oleh peneliti, sehingga proses penelitian dapat benar-benar

terkontrol.

C. Alat Pengumpul Data

1. Variabel Penelitian

Hal yang menjadi objek dari penelitian ini adalah konsep diri anak

laki-laki pertama. Objek dalam penelitian ini khususnya mengenai

konsep diri anak laki-laki pertama suku Jawa.

2. Definisi Operasional

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan seseorang tentang

dirinya. Di samping itu konsep diri juga memberikan gambaran

penampilan dan kepribadian yang didambakan orang tersebut. Konsep

diri ini memiliki komponen kognitif dan afektif, serta memiliki aspek

(41)

Konsep diri ini memiliki dimensi-dimensi yaitu :

a. Dimensi Internal

Dimensi internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi

sebagai kesatuan yang unik. Dimensi ini akan diungkap melalui 3

subdimensi, yaitu:

- Diri Identitas, yaitu label dan simbol seperti apa yang

dipergunakan individu untuk menggambarkan dirinya, dimana

label dan simbol tersebut dapat mempengaruhi cara seseorang

berinteraksi dengan lingkungan dan dengan diri sendiri.

- Diri Penilaian, dimana individu mengamati dan menilai,

memberikan standar, serta memberikan perbandingan terhadap

dirinya.

- Diri Pelaku, yaitu persepsi seseorang terhadap tingkahlakunya

atau caranya bertindak.

b. Dimensi Eksternal

Dimensi ini mencakup persepsi diri yang tercipta dari interaksi

individu dengan dunia luarnya, khususnya dalam hubungan

interpersonal. Dimensi ini akan diungkap melalui

subdimensi-subdimensi :

- Diri Fisik, yaitu persepsi seseorang terhadap keadaan fisik. yaitu

kesehatan, penampilan diri, dan gerakan motoriknya.

- Diri Etik-Moral, individu mempersepsi dirinya ditinjau dari

(42)

- Diri Personal, berupa perasaan individu terhadap nilai-nilai

perbedaan, terlepas dari keadaan fisik dan hubungannya dengan

orang lain dan sejauhmana individu merasa adekuat sebagai

pribadi.

- Diri Keluarga, perasaan dan harga diri individu sebagai anggota

keluarga dan teman-teman dekatnya.

- Diri Sosial, berupa penilaian individu terhadap dirinya dalam

interaksi dengan orang lain dalam lingkungan yang lebih luas.

- Diri Akademi/Kerja, penilaian diri yang berkaitan dengan

penilaian ketrampilan dan prestasi akademik.

Konsep diri memiliki 2 jenis yaitu :

a. Konsep diri positif

Individu dengan konsep diri positif memiliki ciri-ciri

- Mampu menerima diri apa adanya dan terus berusaha

memperbaiki diri

- Menampung seluruh pengalaman mental

- Mengevaluasi diri apa adanya

- Mengenali diri secara jelas dan menyeluruh

- Mampu menerima seluruh pengalaman hidup

- Memiliki perasaan lebih optimis

- Percaya diri

- Bersikap positif

- Yakin mampu mengatasi masalah

(43)

- Merasa setara dengan orang lain

- Menerima pujian tanpa rasa malu

- Meyakini dan mempertahankan nilai-nilai serta prinsip-prinsip

tertentu

- Berani mengubah prinsip apabila pengalaman dan bukti salah

- Bertindak berdasar penilaian yang baik

- Mampu menikmati hidup secara utuh dalam berbagai kegiatan.

b. Konsep diri negatif

Konsep diri negatif terdiri dari :

- Pandangan diri benar-benar tidak teratur

Individu tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan

diri. Ia tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu kekuatan dan

kelemahan atau apa yang berharga dalam hidupnya.

- Pandangan diri terlalu stabil dan teratur (kaku)

Individu menciptakan batasan diri, dimana ia tidak

menyimpang dari seperangkat aturan ketat dalam pikirannya

karena dianggap sebagai cara hidup yang tepat. Ia dapat

mengalami kecemasan dan depresi karena tidak dapat menerima

informasi negatif tentang dirinya.

Untuk indikasi yang menunjukkan seorang individu dikatakan

memiliki jenis konsep diri positif atau negatif akan dijelaskan melalui

(44)

Tabel 3.1

Indikasi Jenis Konsep Diri

Dimensi Subdimensi

Indikator

Positif Negatif

Diri Identitas - Merasa memiliki

potensi dalam diri yang

Diri Penilaian - Bangga menjadi

(45)

Diri Pelaku - Berperilaku dan

memiliki cara

bertindak yang sesuai

dengan kepribadiannya

- Menilai baik terhadap

perilaku atau caranya

bertindak

- Merasa orang-orang

lain menyukai

perilakunya

- Menganggap

perilaku atau

caranya bertindak

tidak sesuai dengan

dirinya

- Merasa perilaku atau

cara bertindaknya

tidak baik

- Mengetahui bahwa

orang lain tidak suka

(46)
(47)
(48)
(49)

Diri Sosial - Beranggapan bahwa

- Memiliki citra baik di

masyarakat

- Ketrampilan - Merasa memiliki

(50)

- Prestasi

Alat yang digunakan sebagai alat pokok pengumpul data yaitu

wawancara. Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang,

melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang

lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasar tujuan

tertentu (Mulyana, 2004).

Wawancara yang digunakan bersifat tidak terstruktur dengan

menggunakan panduan umum sebagai pedoman wawancara. Mulyana

(2004) juga mengungkapkan bahwa wawancara tidak terstruktur

memiliki tujuan memperoleh bentuk-bentuk tertentu mengenai

(51)

disesuaikan dengan ciri-ciri sikap responden. Wawancara ini bersifat

luwes, susunan pertanyaan dan susunan kata-kata dalam setiap

pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan dengan

kebutuhan dan kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik

sosial-budaya (agama, suku, gender, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan

sebagainya).

Mengacu pada hal-hal tersebut maka wawancara tidak terstruktur

digunakan dalam penelitian ini, dimana akan mampu memberi

kemungkinan bagi subyek yang diwawancarai untuk mendefinisikan

dirinya sendiri dan lingkungannya dengan menggunakan istilah-istilah

mereka sendiri mengenai fenomena yang diteliti, tidak sekadar

menjawab pertanyaan yang diajukan. Selain itu wawancara etnografi ini

juga penting untuk memperoleh informasi di bawah permukaan dan

menemukan apa yang orang pikirkan dan rasakan mengenai peristiwa

tertentu (Mulyana, 2004).

Panduan dalam wawancara ini berupa item-item yang disusun oleh

peneliti berdasar pada dimensi-dimensi konsep diri, yaitu dimensi

internal dan eksternal. Dari dua dimensi konsep diri tersebut, peneliti

membuat pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mendeskripsikan

(52)

Tabel 3.2

Panduan Wawancara Konsep Diri

Dimensi Subdimensi Hal yang diungkap

Diri Identitas Label / simbol yang digunakan subyek untuk

menggambarkan dirinya

Diri Penilaian - Kebanggaan terhadap diri

- Standar yang diberikan pada diri

Internal - Kemampuan membandingkan potensi dalam diri

Diri Pelaku - Kesesuaian antara perilaku dan cara bertindak

dengan kepribadian subyek

- Penilaian pribadi subyek terhadap perilaku atau

caranya bertindak

Eksternal

Diri Fisik

- Kesehatan Keadaan kesehatan bagian-bagian / organ-organ

(53)

- Penampilan

Diri

- Gerakan

Motorik

- Anggapan penampilan subyek di depan umum

- Kesesuaian penampilan dengan kepribadiannya

Kelancaran dan hal yang menghambat gerakan

motorik subyek

Diri

Etik-Moral

- Kesesuaian perilaku dengan norma masyarakat

- Penghayatan nilai-nilai etika dan moral dalam

diri subyek

Diri Personal - Perasaan subyek terhadap adanya perbadaan

dirinya dengan orang lain

- Kesesuaian antara kepribadian yang dimiliki

dengan yang dicita-citakan

Diri Keluarga - Persepsi subyek mengenai keluarganya

- Perasaan subyek menjadi bagian dari anggota

keluarga dan teman-temannya

- Perasaan subyek ketika ia hadir di tengah-tengah

(54)

Diri Sosial - Perasaan subyek menjadi bagian dari masyarakat

- Kemampuan subyek dalam menyesuaikan diri

dengan keadaan lingkungan

- Citra subyek di masyarakat

Diri Akademi /

Kerja

- Ketrampilan

- Prestasi

Akademik

- Perasaan subyek mengenai ketrampilan yang

dimilikinya

- Hasil / manfaat yang diperoleh subyek dari

ketrampilan-ketrampilannya

- Penilaian subyek mengenai prestasi akademiknya

- Kemampuan subyek dalam bidang akademik

Hasil wawancara yang telah didapat diubah ke dalam bentuk

transkrip. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan cara menganalisis

isi (konten diskusi) dengan tujuan mencari

kecenderungan-kecenderungan dan pola-pola yang sering muncul. Analisis isi ini

dilakukan dengan cara membandingkan kata-kata, mempertimbangkan

penekanan, atau intensitas subyek, dan memperhatikan konsistensi

tanggapan-tanggapanserta kekhususan jawaban subyek dalam

menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan menggali (Moleong, 2007).

Setelah dilakukan interpretasi dari konsep-konsep yang muncul,

(55)

4. Keabsahan Data Penelitian

a. Kredibilitas

Kredibilitas dimaksudkan untuk merangkum bahasan mengenai

kualitas penelitian. Konsep kredibilitas dalam penelitian kualitatif

ini memiliki pengertian setara dengan konsep validitas dalam

penelitian kuantitatif. Menurut Poerwandari (2005) sebuah

penelitian memiliki kredibilitas yang baik jika mampu atau berhasil

mencapai maksud dari eksplorasi masalah atau deskripsi setting,

proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.

Kredibilitas penelitian ini dilakukan dengan (Poerwandari,

2005):

- Mengkonfirmasikan data dan analisisnya dengan subyek

penelitian (validitas komunikatif)

- Melakukan penelitian pada kondisi yang alamiah atau “apa

adanya” dari subyek penelitian (validitas ekologis)

- Melakukan cross checkdata dengan sumber lain yang memiliki

hubungan dengan subyek (validitas argumentatif)

b. Konfirmabilitas

Konfirmabilitas adalah konsep objektivitas dalam penelitian

kualitatif. Konsep ini terpenuhi dengan dua cara, yaitu hasil

penelitian dapat dikonfirmasikan dan peneliti harus bersedia untuk

mengungkapkan secara terbuka proses penelitiannya, sehingga

(56)

5. Analisis Data

Analisis data untuk penelitian kualitatif adalah dengan analisis isi

atau content analysis, yaitu dengan membuat deskripsi yang jelas dari

kasus-kasus tersebut beserta situasi yang mengelilinginya (Creswell,

1997). Metode ini bukan bertujuan untuk menguji suatu hipotesis, akan

tetapi memberikan gambaran tentang variabel penelitian dari subyek

secara deskriptif.

Penelitian ini menggunakan empat langkah analisis data, yaitu :

1. Organisasi data

Langkah pertama ini disebut dengan transkrip verbatim yang

dimulai dengan memindahkan hasil wawancara dari alat perekam ke

sebuah buku kosong. Data yang dipindahkan adalah semua kata-kata

ataupun kalimat yang terucap oleh responden penelitian.

2. Pengkodean (Coding)

Koding dilakukan dengan membuat kolom pada transkrip

verbatim dan memberikan kode tertentu, yaitu kode sesuai dengan

aspek yang ingin dilihat. Koding diletakkan di belakang pertanyaan

dan jawaban yang diungkapkan responden. Koding harus

benar-benar memberikan makna yang dalam untuk permasalahan yang

dicari.

3. Interpretasi

Interpretasi dilakukan dengan melakukan analisis tematik untuk

mencari pola dari data yang ada. Hal ini merupakan proses

(57)

daftar tema, model tema, atau indikator yang kompleks. Tema-tema

yang muncul diharapkan akan dapat mendeskripsikan fenomena dari

hasil penelitian ini serta berguna dalam menginterpretasi hasil data.

4. Menarik kesimpulan akhir

Hasil interpretasi tersebut menunjukkan kesimpulan jawaban

dari wawancara. Pada langkah terakhir, seluruh interpretasi akan

dikumpulkan, kemudian disusun suatu gambaran mengenai konsep

(58)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Penelitian

Sebelum melakukan proses penelitian, peneliti melakukan beberapa

persiapan terlebih dahulu. Langkah pertama dalam persiapan ini adalah

peneliti membuat panduan wawancara sesuai dengan dimensi-dimensi

konsep diri yang ingin diungkap, selanjutnya peneliti mencari satu orang

subyek yang memenuhi kriteria subyek penelitian yang dibutuhkan dan

membuat janji untuk melakukan wawancara.

Setelah persiapan tersebut selesai, kemudian peneliti melakukan

wawancara pada subyek pertama berdasar pada panduan yang telah dibuat

dan sesuai waktu yang telah disepakati. Langkah berikutnya yaitu peneliti

memindah hasil rekaman wawancara ke dalam bentuk tertulis, melakukan

pengkodingan, lalu menganalisis tema-tema yang muncul dari wawancara.

Berdasar tema-tema yang ditemukan, peneliti menganalisis dan membuat

suatu kesimpulan berdasar analisis tersebut. Langkah terakhir adalah

peneliti melakukan konfirmasi pada subyek yang bersangkutan untuk

klarifikasi. Proses wawancara dilakukan sampai data yang diperoleh

exhausteddimana tidak ditemukan lagi variasi jawaban dari subyek.

(59)

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode wawancara pada subyek yang

sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Peneliti melakukan

wawancara pada anak laki-laki suku Jawa yang lahir pertama, berusia

antara 19-23 tahun dan berdomisili di D. I. Yogyakarta. Subyek diasuh oleh

dua orangtua suku Jawa asli, dengan lingkungan tempat tinggal sekitarnya

terdiri sebagian besar orang-orang Jawa.

Pelaksanaan pengambilan data dilaksanakan pada :

a. Subyek 1

Tanggal Wawancara : 1 Maret 2009

Waktu : 11.00-13.00 WIB

b. Subyek 2

Tanggal Wawancara : 11 Maret 2009

Waktu : 15.00-17.30 WIB

c. Subyek 3

Tanggal Wawancara : 18 Maret 2009

Waktu : 15.00-17.00 WIB

d. Subyek 4

Tanggal Wawancara : 9 April 2009

Waktu : 11.00-13.30 WIB

e. Subyek 5

Tanggal Wawancara : 14 April 2009

(60)

f. Subyek 6

Tanggal Wawancara : 26 April 2009

Waktu : 09.00-11.30 WIB

g. Subyek 7

Tanggal Wawancara : 3 Juni 2009

Waktu : 10.00-12.30 WIB

h. Subyek 8

Tanggal Wawancara : 7 Juni 2009

Waktu : 10.00-12.15 WIB

i. Subyek 9

Tanggal Wawancara : 11 Juni 2009

Waktu : 16.30-18.15 WIB

j. Subyek 10

Tanggal Wawancara : 15 Juni 2009

Waktu : 09.30-11.30 WIB

k. Subyek 11

Tanggal Wawancara : 19 Juni 2009

Waktu : 17.30-20.00 WIB

l. Subyek 12

Tanggal Wawancara : 21 Juni 2009

Waktu : 09.00-11.15 WIB

m. Subyek 13

Tanggal Wawancara : 25 Juni 2009

(61)

n. Subyek 14

Tanggal Wawancara : 28 Juni 2009

Waktu : 10.00-12.30 WIB

o. Subyek 15

Tanggal Wawancara : 30 Juni 2009

Waktu : 16.00-18.30 WIB

Proses wawancara pada subyek 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,

dan 15 dilakukan di rumah subyek, sedangkan pada subyek 1 dan 6

wawancara dilakukan di tempat kos subyek. Keseluruhan proses wawancara

yaitu dengan bertatap muka langsung dan untuk proses perekaman selama

wawancara peneliti menggunakanrecorder.

Setelah proses wawancara, peneliti melakukan proses pemeriksaan

kredibilitas dengan melakukan konfirmasi kepada subyek penelitian

(validitas komunikatif). Pada proses ini, peneliti menunjukkan hasil

verbatim pada subyek dan bersama-sama dengan subyek mendengarkan

kembali hasil rekaman. Setelah validitas komunikatif terpenuhi, peneliti

melakukan cross check dengan adik pertama subyek untuk memenuhi

validitas argumentatif. Cross check ini dilakukan dengan cara menanyai

adik subyek mengenai sejauhmana kesesuaian jawaban subyek dalam

wawancara dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Pada subyek 6, 7, dan

8 cross check dilakukan melalui percakapan telepon dikarenakan adik

subyek tidak berada di kota yang sama dengan peneliti, sedangkan untuk

(62)

langsung. Validitas ekologis dipenuhi dengan cara peneliti melakukan

penelitian pada kondisi alami subyek dengan kata lain kondisi subyek saat

penelitian dilakukan adalah tidak dibuat-buat.

C. Hasil Penelitian

1. Orientasi Kancah

Peneliti melakukan wawancara pada subyek 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10,

11, 12, 13, 14, dan 15 di ruang tamu rumah keluarga subyek. Dari

keadaan tempat tinggal subyek, tampak bahwa subyek berasal dari

keluarga dengan kelas ekonomi menengah dan menengah bawah.

Tempat tinggal subyek tidak ada yang tampak mewah, tetapi semua

layak huni dan bangunannya permanen. Ketika proses wawancara

berlangsung, adik-adik subyek sedang berada di sekolah, sedangkan

orangtua subyek sedang berada di tempat kerja atau sedang melakukan

aktivitas di ruangan lain, sehingga tidak ada orang lain yang berada

dalam satu ruangan. Kondisi ini menjadikan subyek nyaman sehingga

merasa bebas untuk bercerita. Ruang tamu yang digunakan selama

proses wawancara cukup bersih dengan meja-kursi yang ditata rapih.

Situasi sekitar tidak berisik, tenang, sehingga suara subyek terdengar

jelas dan situasi ini sangat membantu proses perekaman. Wawancara

pada subyek 1 dan 6 berlangsung di ruang tamu tempat kos subyek.

Ruang tamu yang tersedia cukup luas dan tersedia tempat duduk serta

(63)

sehingga ketika proses wawancara berlangsung ada beberapa teman satu

kos subyek yang berjalan keluar-masuk melewati ruang tamu tempat

wawancara.

Dilihat dari identitas subyek sesuai dengan kriteria subyek

penelitian yang telah ditentukan sebelumnya dan setelah dilakukan

koding pada hasil wawancara hingga jawaban subyek yang diperoleh

exhausted, maka diperoleh 15 orang subyek dengan kondisi demografi

(64)

Tabel 4.1

Data Demografi Subyek Penelitian

Keterangan

Subyek

Inisial Usia Asal

Pendidikan

Terakhir

Pekerjaan

1 De 23 tahun Jawa Tengah SMU Mahasiswa

2 Si 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa

3 An 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa

4 Yo 23 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa

5 Co 20 tahun Yogyakarta SMU

Mahasiswa /

Model

6 Ag 23 tahun Jawa Timur SMU Mahasiswa

7 Ga 22 tahun Yogyakarta SMU Atlet

8 Di 22 tahun Jawa Tengah SMU

Mahasiswa /

Programmer

9 Ad 19 tahun Yogyakarta SMK

-10 En 23 tahun Yogyakarta SMU Sales

11 Vi 20 tahun Yogyakarta SMK Pelatih Tari

12 Ca 19 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa

13 Yo 20 tahun Yogyakarta SMU Mahasiswa

14 An 22 tahun Jawa Timur Akademi Tour Guide

(65)

Tabel 4.2

Data Kedudukan Subyek dalam Keluarga

Subyek

Jumlah Saudara

Laki-laki Perempuan

Status Keturunan Status Pernikahan

1 1 orang 2 orang Anak Kandung Belum menikah

2 3 orang - Anak Kandung Belum menikah

3 2 orang - Anak Kandung Belum menikah

4 2 orang - Anak Kandung Belum menikah

5 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah

6 1 orang - Anak Kandung Belum menikah

7 - 2 orang Anak Kandung Belum menikah

8 1 orang - Anak Kandung Belum menikah

9 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah

10 1 orang - Anak Kandung Belum menikah

11 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah

12 2 orang 1 orang Anak Kandung Belum menikah

13 - 2 orang Anak Kandung Belum menikah

14 - 1 orang Anak Kandung Belum menikah

Gambar

gambaran yang baik
Tabel 3.2
Tabel 4.1
Tabel 4.2
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah (1) meng- analisis faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi penerapan SRI oleh petani padi di Kabupaten Solok Selatan, (2) menganalisis

Jika ditemukan, selanjutnya adalah proses penetasan telur yaitu dengan cara kertas saring yang berisi telur, dipindahkan ke nampan plastik yang berukuran 20 x 30 cm atau 30 x

Hasil analisa persebaran daerah operasi penangkapan rajungan ( swimming crab ) dengan menggunakan bubu oleh nelayan Desa Betahwalang di perairan Betahwalang Demak, tersebar

Dalam perjanjian perkawinan agar dapat mengikat bagi pihak ketiga maka perjanjian perkawinan tersebut harus disahkan oleh pegawai pencatatan perkawinan, hal ini sesuai

Faktor yang paling dominan mempengaruhi kepuasan nasabah kredit sektor peternakan pada PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk Cabang Malang adalah variabel reliability dengan

Penelitian ini dilakukan dengan menguji perkembangan kuat tekan beton high volome fly ash pada umur 14 hari, 28 hari dan 56 hari dan sebagai pembanding yaitu kuat tekan

Pedoman Standardisasi Nasional Nomor 309 Tahun 2011 tentang Panduan Keberterimaan Regulasi Teknis, Standar dan Prosedur Penilaian Kesesuaian untuk Produk Peralatan Kelistrikan

Komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sesuai dengan alinea IV Pembukaan Undang- Undang