1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Alasan Pemilihan Judul
Ancaman kekerasan dan peperangan selalu muncul dalam politik global. Keamanan nasional maupun internasional menjadi terancam seiring dengan meningkatnya jumlah konflik dan korban yang diakibatkannya, terutama pada abad ke-dua puluh satu ini. Konflik yang sering muncul dan menimbulkan kerugian dalam jumlah besar adalah perang sipil dan serangan terorisme. Konflik mendapatkan perhatian khusus dalam politik global karena membahayakan keamanan kemanusiaan dalam hakikatnya untuk mendapatkan kedamaian.
Konflik selalu terjadi dalam hubungan internasional karena adanya interaksi dari aktor-aktor yang memiliki perselisihan kepentingan. Pada dasarnya, konflik normal terjadi dan pihak yang berkonflik cenderung berusaha mencari penyelesaian untuk perbedaan yang ada, seperti agama, ideologi, etnis, politik, dan ekonomi. Meski begitu, dampak dari konflik cenderung destruktif. Hal tersebut dapat dilihat dari penyelesaian konflik dengan senjata sehingga mengubah konflik menjadi peperangan.
Dalam studi hubungan internasional, pembahasan konflik yang sering dikaji lebih lanjut adalah transformasi konflik ke dalam bentuk lain, terutama ke dalam bentuk konflik bersenjata.1 Transformasi konflik menjadi konflik bersenjata adalah fenomena yang paling sering terjadi, terutama di kawasan selatan. Kawasan selatan memiliki jumlah negara yang banyak dengan jumlah populasi yang besar dengan rasio perbedaan ras, agama, dan ideologi yang besar pula. Selain faktor tersebut, sebagain besar negara-negara di kawasan selatan memiliki pemerintahan yang belum stabil dan kuat. Banyaknya isu kritis ditambah kemampuan pemerintah yang rendah
1 C. W. Kegley, World Politics: Trend and Transformation, 11th edn, Thompson Wadsworth, Boston,
2
dalam mengelola konflik menyebabkan kawasan selatan menjadi kawasan studi konflik bersenjata yang menarik.
Salah satu kawasan di selatan yang menarik untuk dikaji adalah kawasan Amerika Latin. Kawasan Amerika Latin merupakan kawasan yang memiliki budaya kekerasan yang sangat tinggi, ditunjukkan dengan banyaknya konflik terbuka di banyak negara. Ribuan warga menjadi korban akibat konflik setiap tahunnya. Konflik di Amerika Latin terjadi disebabkan adanya hukum dan aparat yang kurang tegas, kesenjangan ekonomi sosial, perbedaan ideologi, dan perang pemberantasan narkotika.2 Salah satu negara di kawasan ini yang paling berkonflik dan telah menimbulkan banyak kerugian, baik material maupun moral adalah Kolombia.
Kolombia mengalami konflik bersenjata selama hampir setengah abad dan mengalami peningkatan kekerasan HAM secara tajam pada dua puluh tahun terakhir. Konflik bersenjata di Kolombia terjadi karena adanya organisasi-organisasi gerilya yang melakukan penculikan, pembunuhan, penjarahan, dan penjualan narkotika secara ilegal. Organisasi gerilya terbesar di Kolombia adalah Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (Revolutionary Armed Forces of Colombia atau FARC) yang berdiri pada tahun 1964.3 Tujuan awal dari FARC adalah menggulingkan pemerintah dan mengganti sistem ekonomi politik menjadi beraliran sosialis, tapi sejak tahun 90-an orientasi organisasi ini telah berganti pada bisnis narkotika.
Beberapa pemerintahan sebelumnya telah melakukan beberapa cara untuk mengatasi konflik dengan FARC. Namun, masing-masing jalan yang telah ditempuh belum menunjukkan hasil yang signifikan, terutama pada tahun 1990-an saat FARC
2 G. Lopez, „The Colombian Civil War: Potential for Justice in a Culture of Violence‟, Policy Briefing,
vol. 2 no. 1, 2011, hlm. 3.
3 M. Peceny dan M. Duman, „The FARC‟s Best Friend: U.S. Antidrug Policies and the Deepening of
3
menempati puncak kejayaan.4 Terdapat pendekatan baru dalam mengatasi konflik di Kolombia sejak pertengahan tahun 2000, yakni dengan memenuhi hak korban dan menegakkan keadilan selama konflik terjadi. Pendekatan baru tersebut terbentuk dalam Transitional Justice (TJ). TJ mulai dilakukan di Kolombia pada pemerintahan Presiden Alvaro Uribe pada tahun 2005 dengan dibentuknya undang-undang yang mengatur hak korban dan pemenuhannya. TJ dijalankan lagi oleh pemerintahan Presiden Santos sejak tahun 2010. TJ dipercaya dapat membentuk perdamaian dengan mengutamakan pemenuhan hak korban.
Seiring dengan pelaksanaan TJ di Kolombia, Presiden Santos memutuskan untuk melakukan negosiasi dengan FARC. Negosiasi pemerintah dengan FARC yang terakhir, berakhir pada tahun 2002 dengan membawa kerugian pada pemerintah berupa daerah kekuasaan FARC yang lebih luas. Negosiasi kali ini pemerintah berjanji akan belajar dari kesalahan masa lalu dan tidak akan mengulanginya. Pemerintah juga lebih percaya diri pada negosiasi kali ini karena adanya dukungan program-program TJ.
Beberapa hal tersebut menjadi alasan penulis memilih judul skripsi “Pengaruh Transitional Justice pada Keputusan Bernegosiasi Pemerintah Kolombia dengan Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC)”.
1.2. Latar Belakang Masalah
Organisasi gerilya dan organisasi sipil yang bersifat militer adalah pemicu utama konflik bersenjata di Kolombia. Baik sayap kiri, maupun sayap kanan, organisasi tersebut cenderung melakukan tindakan kriminal kepada masyarakat sipil dan elite politik. Organisasi gerilya terbesar di Kolombia adalah FARC yang berdiri pada tahun 1964. Program pemberantasan kartel-kartel narkotika membuat FARC
4
4
menguat karena hilangnya lawan bersaing dan bertambahnya pemasukan dari bisnis narkotika yang semakin meluas.5
Sejak tahun 1978, pemerintah berusaha menangani konflik baik dengan jalan represif maupun cara diplomasi dengan mengajak FARC untuk berunding.6 Inisiasi negosiasi dari pemerintah yang terakhir adalah tahun 1998-2002. Dalam usaha negosiasi tersebut, pemerintah tidak berhasil mencapai kesepakatan perdamaian dengan FARC. Presiden terpilih 2002-2010, Alvaro Uribe lebih fokus pada menangani organisasi sipil bersifat militer daripada organisasi gerilya. TJ pada masa Uribe hanya mengatur negosiasi dan penyelesaian konflik dengan organisasi sipl bersifat militer. Sedangkan untuk menangani FARC, mantan presiden Uribe menolak cara negosiasi dan memilih menggunakan cara represif meskipun menuai banyak kecaman dari lembaga kemanusiaan. Jalan ini telah berhasil membuat FARC melemah, dari 16.000 pasukan pada tahun 2002, pada tahun 2010 hanya tersisa separuhnya saja.7
Presiden terpilih tahun 2010, Juan Manuel Santos, memiliki strategi yang berbeda dibanding pendahulunya. Presiden Santos masih menggunakan cara represif dengan mengerahkan angkatan bersenjata untuk menyerang FARC. Namun, tidak hanya fokus pada penyelesaian konflik dengan organisasi gerilya, Presiden Santos berusaha menciptakan perdamaian dan mempertahankannya dengan memperhatikan hak asasi manusia dari korban-korban konflik. Untuk melindungi hak-hak korban, pemerintah di bawah Presiden Santos mengubah haluan TJ.8 Tujuan utama dari program ini adalah melindungi hak-hak korban dan masyarakat sipil umumnya selama konflik terjadi. Demi mendukung program tersebut, Presiden Santos
5
M. Peceny dan M. Duman, hlm. 1.
6 J. G. Tokatlian, „The Search for a Peace Diplomacy’, International Journal of Politics, Culture, and
Society, vol. 14 no. 2, 2000, hlm. 336.
7Profiles: Colombia's armed groups, BBC (online), 8 Februari 2013
<http://www.bbc.co.uk/news/world-latin-america-11400950>, diakses 21 Februari 2013.
8 F. G. Isa, „Justice, Truth, and Reparation in the Colombian Peace Process‟, Norwegian Peacebuilding
5
melakukan beberapa reformasi undang-undang, yakni Victim’s Law, Legal Framework for Peace, dan perluasan peradilan bagi pelaku tindak kriminal dari kalangan militer. Setelah melakukan reformasi undang-undang, tahun 2010 Presiden Santos mengumumkan akan melakukan negosiasi dengan FARC dan memasukkannya dalam bingkai TJ.
Keputusan Presiden Santos untuk melakukan negosiasi kembali mendapatkan dukungan dan kritik. Pihak oposisi menilai negosiasi tidak akan berhasil menghentikan konflik dan akan berakhir seperti negosiasi tahun 2002 karena ada kemungkinan FARC memanfaatkan negosiasi ini untuk mengelabui pemerintah kembali. TJ memang membawa pengaruh yang baik pada peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, tapi muncul keraguan bahwa negosiasi untuk kesesuaian program tersebut akan berhasil, mengingat pengalaman pemerintah yang selalu gagal dalam bernegosiasi dengan FARC.
Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi dan menganalisis variabel-variabel yang berkaitan dengan TJ dan negosiasi Pemerintah Kolombia dengan FARC sebagai salah satu kasus kontemporer dalam isu negosiasi dan konflik dalam studi ilmu hubungan internasional yang diangkat dalam skripsi ini.
1.3. Rumusan Masalah
Pemerintah Kolombia telah memiliki sejarah yang buruk tentang negosiasi untuk mengatasi konflik dengan FARC. Namun, menurut Presiden Santos negosiasi perlu dilakukan kembali dalam bingkai TJ. Untuk itu, rumusan masalah yang penulis ajukan adalah “Bagaimana Transitional Justice Memengaruhi Pemerintah Kolombia untuk Bernegosiasi dengan FARC?”
6
1.4. Landasan Konseptual
Transitional Justice dan Negosiasi
Konsep TJ awalnya dimaksudkan untuk proses peradilan bagi pelaku kekerasan pada kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim yang diktator dalam upaya transisi ke rezim yang lebih demokratis. Konsep TJ kini dimaksudkan proses peradilan untuk pelaku kejahatan perang dan kemanusiaan dalam konflik bersenjata. Konsep TJ menjadi pembahasan penting bagi praktisi peacebuilding untuk konflik bersenjata di Kolombia yang terjadi dalam 20 tahun terakhir. TJ lebih sering dikaitkan dengan proses rekonsiliasi konflik daripada proses negosiasi. Meskipun begitu, menurut M. P. Saffon dan R. Uprimny, TJ memiliki kaitan dengan proses negosiasi.9
Saffon dan Uprimny menjelaskan bahwa terdapat dua hal yang membuat TJ memengaruhi proses negosiasi. Hal yang pertama, TJ sebagai wacana bergantung pada kepentingan pemimpin dalam memanfaatkan mekanismenya. TJ hanya berisi konsep umum mengenai peradilan bagi kriminal dan keadilan bagi korban konflik. Dalam prakteknya, pelaksanaan TJ fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan kepentingan dan prioritas pemimpin. Kepentingan dan prioritas pemimpin yang disesuaikan dalam TJ terlindungi hukum dan menjadi lebih mudah dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain, TJ memudahkan pemimpin membuat dan menerapkan suatu program yang sejalan dengan tujuan sehingga memicu pemerintah untuk menjalankan program yang sebelumnya sulit untuk dilakukan.
Hal yang kedua, produk yang dihasilkan dari TJ adalah hukum. Hukum memengaruhi dinamika politik dengan nilai normatif yang diterapkan. Sesuai dengan fungsinya, hukum menjadi perlindungan legal yang menegaskan otoritas pemerintah. Proses pembuatan hukum dalam TJ menunjukkan kondisi pemerintah yang stabil,
9
M. P. Saffon dan R. Uprimny, „Uses and Abuses of Transitional Justice in Colombia‟, dalam Human Rights Yearbook, Chile University, 2008, hlm. 13.
7
terbukti dapat menjalankan salah satu tugasnya dengan baik. Untuk memulai proses negosiasi, diperlukan kondisi politik yang stabil dengan dukungan hukum yang jelas agar negosiasi tidak berakhir tanpa hasil. Kekuatan pemerintah dalam bentuk hukum membantu pemerintah dalam melakukan negosiasi sehingga meyakinkan pemerintah untuk melakukannya.10
Teori Saffon dan Uprimny sangat sesuai untuk menganalisis fenomena TJ dan pengaruhnya pada keputusan pemerintah Kolombia untuk bernegosiasi dengan FARC. Dalam konteks Kolombia, penulis percaya bahwa TJ juga memiliki pengaruh pada negosiasi yang dilakukan pemerintah Kolombia dengan FARC setelah satu decade terhenti. Kedua pengaruh TJ pada negosiasi menurut Saffon dan Uprimny dapat digunakan untuk melihat alasan pemerintah Kolombia dalam melakukan negosiasi lagi dengan FARC.
Resolusi Konflik untuk Perang Saudara
Peter Wallensteen (2008) menjelaskan tujuh mekanisme resolusi konflik dalam bukunya Understanding Conflict Resolution. Mekanisme ini ditujukan untuk negara yang demokratis. 11 Ketujuh mekanisme resolusi konflik tersebut adalah:
1. changes of priorities, perubahan pemimpin dapat membawa perubahan pada tujuan dan tuntutan dalam konflik sehingga pilihan dalam mengatasi konflik lebih beragam,
2. dividing the values in conflict, memecah permasalahan yang menyebabkan konflik,
3. horse-trading, menyelesaikan penyebab konflik satu per satu,
4. ruling together, koalisi dalam pemerintahan antara dua pihak berkonflik, 5. leaving control to a minority or third force, menggunakan kalangan minoritas
dalam kalangan pemerintahan untuk menggerakkan mayoritas,
10
M. P. Saffon dan R. Uprimny, hlm. 14.
11
8
6. bringing issues to a conflict resolution mechanism, menyelesaikan konflik dalam berbagai bentuk resolusi konflik, baik dengan cara tercepat dan mudah, maupun dengan cara yang lama dan rumit,
7. postponing issues, mengajukan konflik pada pihak yang lebih tinggi untuk diselesaikan.
Terdapat mekanisme resolusi konflik di atas yang diterapkan dalam konflik bersenjata di Kolombia. Mekanisme yang diterapkan adalah changes of priorities. Changes of priorities terjadi di Kolombia karena terjadi pergantian pemimpin pada tahun 2010. Pergantian pemimpin ini membawa perubahan kepentingan dan prioritas dari pemimpin pengganti. Opsi dalam mengatasi konflik juga menjadi lebih beragam dari sebelumnya.
Mekanisme tersebut dapat dijalankan seiring dan sejalan dengan pelaksanaan TJ. Sesuai dengan teori Saffon dan Uprimny, muatan isi TJ fleksibel dan dapat dapat disesuaikan dengan kepentingan dan prioritas pemimpin. Dengan kemudahan ini, Presiden Kolombia dapat memasukkan mekanisme resolusi konflik yang sebelumnya sulit untuk dilakukan karena tidak didukung standar hukum, ke dalam rangkaian program TJ.
Getting to the Table
Fenomena penggunaan kembali negosiasi oleh pemerintah Kolombia dengan FARC secara lebih khusus dapat dijelaskan dengan menggunakan teori dari Janice G. Stein (1989) dalam jurnal hasil penelitiannya Getting to the table: The Triggers, Stages, Functions, and Consequences of Prenegotiation:
“The beginning of a process of prenegotiation is generally marked by turning point in the relationship between parties, an event or change in conditions that triggers a
9
reassessment of alternatives and adds negotiation to the strategies of conflict management that is seriously considered.”12
Pemicu utama pihak berkonflik mempertimbangkan penggunaan negosiasi adalah adanya titik balik dalam hubungan mereka. Kondisi titik balik adalah kondisi membaik atau memburuknya suatu pihak yang disertai persepsi adanya peluang ataupun ancaman yang akan muncul akibat konflik yang sedang dihadapi. Kondisi titik balik pihak berkonflik memiliki peranan penting dalam keputusan untuk melakukan negosiasi karena hal ini akan menentukan titik terendah dalam bernegosiasi dan jangkauan penawaran kepada lawan.
Terjadi titik balik dalam hubungan Pemerintah Kolombia dan FARC setelah pemerintah menerapkan program-program TJ. Kondisi pemerintah membaik dengan adanya hukum yang lebih tegas sehingga muncul persepsi adanya peluang mengakhiri konflik jika negosiasi dilakukan. Dalam negosiasi sebelum-sebelumnya, FARC masih memiliki anggota yang banyak dan pendapatan yang tinggi sedangkan pemerintah lemah baik dari sisi militer maupun hukum. Dalam kondisi seperti itu, reservation point pemerintah rendah karena tidak memiliki ancaman untuk FARC. Kini setelah pemerintah didukung militer dan hukum yang kuat, reservation point pemerintah meningkat dalam melakukan negosiasi. Sebaliknya, FARC kini tidak sekuat pada tahun 1990-an sehingga menurunkan reservation point-nya. Perubahan reservation point kedua pihak menyebabkan perubahan bargaining range yang cenderung menyebabkan pemerintah merasa negosiasi kali ini memiliki peluang mencapai kesepakatan.
Keputusan untuk melakukan negosiasi juga disertai oleh beberapa kebutuhan yang mendorong dilakukannya negosiasi. Menurut Stein:
12 J.G. Stein, „Getting to the Table: The Triggers, Stages, Functions, and Consequences of
10
“..leaders have decided to consider negotiation when they see the need for a strategy of crisis avoidance or post-crisis management or when they see a conjunction of threat and opportunity, when prenegotiation promises to reduce some of the risks associated with negotiation, and when they are anticipate benefits from the process which are largely independent of whether or not it culminates in agreement.”13
Terdapat beberapa penyebab yang mendorong pemimpin memilih untuk melakukan negosiasi. Penyebab-penyebab tersebut adalah untuk menghindari terjadinya krisis, mengelola kondisi pasca terjadinya krisis, dan munculnya ancaman atau peluang; mengurangi resiko dari konflik sehingga diharapkan kedua pihak dapat memperoleh keuntungan yang lebih dengan melakukan negosiasi; dan mengharapkan adanya keuntungan dalam proses negosiasi, baik negosiasi berakhir pada kesepakatan maupun sebaliknya.
1.5. Argumentasi Utama
TJ memiliki pengaruh pada keputusan pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan FARC. Proses pengaruhnya terjadi saat TJ dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kepentingan tertentu dan TJ membawa titik balik dalam hubungan pemerintah dengan FARC. TJ dapat dimanfaatkan dengan dua cara, yakni cara manipulatif dan cara demokratis. Cara manipulatif, pemerintah memanfaatkan TJ untuk melakukan amnesti guna menarik FARC dalam negosiasi agar lebih kooperatif. Cara demokratis, pemerintah Kolombia menerapkan mekanisme resolusi konflik untuk konflik di negara demokratis. Keputusan pemerintah Kolombia juga dipengaruhi oleh adanya titik balik dalam hubungan pemerintah dengan FARC. Titik balik hubungan pemerintah-FARC dipengaruhi TJ karena TJ membuat pemerintah membuat undang-undang yang melindungi korban konflik, menghukum kriminal dan untuk mengakomodasi rencana negosiasi, TJ juga menghasilkan hukum yang mengatur jalannya negosiasi dengan kelompok gerilya. Adanya hukum yang mengatur dengan jelas meningkatkan kekuatan pemerintah. Meningkatnya kekuatan
13
11
pemerintah membuat pemerintah lebih percaya diri untuk melakukan negosiasi dengan FARC karena meningkatnya titik terendah dalam bernegosiasi dan jangkauan penawaran dalam negosiasi kali ini.
1.6. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian mengenai TJ dan kaitannya dengan negosiasi kembali pemerintah Kolombia-FARC, peneliti akan menggunakan metode kualitatif berupa studi literatur. Dalam studi literature ini, peneliti akan melakukan penelitian dalam tiga tahapan utama, yaitu: (1) Pengumpulan Data; (2) Pengolahan Data; dan (3) Laporan Penulisan.
Yang dilakukan pada tahap pengumpulan data adalah menetapkan batasan parameter data yang akan dikumpulkan dengan menyeleksi informasi yang diperoleh dari data sekunder. Pengumpulan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini akan menggunakan sumber-sumber referensi tertulis dalam bentuk cetak seperti buku, jurnal, surat kabar, majalah, dan diktat kuliah. Selain itu, juga dilengkapi dengan data tertulis dalam bentuk elektronik seperti e-book dan website tentang konflik dan dampaknya di Kolombia, peran FARC dalam konflik di Kolombia, TJ dan pelaksanaannya, penanganan konflik secara umum dan khusus (FARC), dan konsep-konsep yang terkait dengan fenomena konflik di Kolombia.
Selanjutnya adalah tahap pengolahan data. Pada tahap ini, informasi dikelompokkan dalam kategori dan dibuat menjadi sebuah deskripsi. Setelah itu, dijabarkan ke dalam bentuk tulisan ilmiah atau laporan penulisan. Tahap terakhir adalah dengan membuat kesimpulan dari data yang telah dianalisis yang kemudian ditambahkan dalam laporan penulisan.
1.7. Sistematika Penulisan
Penulis mengambil rentang waktu 2010 hingga sekarang karena kurun waktu tersebut adalah masa pemerintahan Juan Manuel Santos. TJ terlaksana dengan baik pada masa Juan Manuel Santos. Selain itu, pemerintah di bawah Juan Manuel Santos
12
memulai negosiasi kembali dengan FARC. Skripsi ini terbagi ke dalam empat bab, berikut adalah isi dari keempat bab tersebut.
Bab I: Pendahuluan
Pada bab ini akan diuraikan tentang Alasan Pemilihan Judul, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Kerangka Teori, Argumentasi Utama, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II: Kronologi dan Dampak Konflik dengan FARC
Pada bab ini akan dijelaskan uraian mengenai kronologi terjadinya konflik antara pemerintah Kolombia dengan FARC dan dampak dari konflik tersebut.
Bab III: TJ dan Pengaruhnya pada Keputusan Pemerintah untuk Bernegosiasi dengan FARC
Pada bab ini, akan dijelaskan bagaimana TJ dibentuk dan dijalankan sebagai reaksi atas dampak konflik. Setelah itu, akan dijabarkan dampak TJ pada keputusan pemerintah dalam menangani konflik dengan FARC. Pada bab ini akan dianalisis bagaimana TJ dapat memberi dampak pada keputusan pemerintah Kolombia untuk melakukan negosiasi.
Bab IV: Penutup
Bab ini berisi kesimpulan, yakni jawaban atas rumusan masalah yang diajukan. Selain kesimpulan, akan ditambahkan pelajaran yang dapat dipetik dari studi kasus ini.