• Tidak ada hasil yang ditemukan

Osteoporosis Pada Wanita Pasca Menopause (Studi Pustaka).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Osteoporosis Pada Wanita Pasca Menopause (Studi Pustaka)."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Sampai saat ini osteoporosis masih merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat, terutama pada wanita yang mempunyai resiko tinggi terkena osteoporosis. Osteoporosis pada wanita pasca menopause disebabkan karena penurunan drastis produksi hormon estrogen sehingga massa tulang berkurang dan tulang menjadi rapuh yang menyebabkan terjadinya osteoporosis. Selain karena kekurangan hormon estrogen, perubahan pola hidup, riwayat osteoporosis dalam keluarga, defisiensi kalsium, aktivitas fisik serta penyakit yang berhubungan dengan terjadinya osteoporosis, juga merupakan resiko yang mendorong terj adiny a osteoporosis.

Densitometri tulang dengan alat DEXA merupakan pemeriksaan yang sangat baik digunakan untuk mendeteksi adanya osteoporosis secara dini, memprediksikan kemungkinan terjadinya fraktur, serta menentukan penurunan densitas massa tulang. Kelompok resiko tinggi osteoporosis sebaiknya dideteksi secara dini sehingga terjadinya keropos tulang dapat dicegah.

Upaya pengobatan terhadap osteoporosis sudah banyak dilakukan antara lain melalui penggunaan obat-obatan atau terapi hormon seperti estrogen serta pemberian kalsium dan vitamin D. Akan tetapi pencegahan sedini mungkin akan

lebih baik daripada pengobatan. Secara sederhana pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghindari penyebab timbulnya osteoporosis, sehingga resiko terjadinya osteoporosis terutama pada wanita pasca menopause yang mempunyai resiko tinggi dapat diperkecil.

(2)

A BSTRA CT

Osteoporosis is still a problem in public health, especially for high risk women. Osteoporosis occur mainly on post-menopausal women because of drastic declining of estrogen which subsequently cause decrease of bone mass. Apart from estrogen deficiency, other risks for osteoporosis are change of life style/habit, family history of osteoporosis, calcium deficiency, lack of physical activity and other diseases.

For early detection, the best examination is DEXA to measure bone densitometry. It can predict fracture and lost of bone mass. For high risk group, it is better to have early detection to prevent osteoporosis.

(3)

DAFTAR ISI

1.2. Identifikasi Masalah ... BAB

II

Tinjauan Pustaka 2.1. Definisi ... ... ..4

2.2. Epidemiologi 4 2.3. Patogenesis ... ... 5

2.5. Pendekatan Diagnosa ... ... ... ... ... 2.4. Manifestasi Klinis 8 ... 1 1 2.5.1. Anamnesis ... 1 1 2.5.2. Pemeriksaan Fislk ... 1 2 2.6. Pemeriksaan Penunjang ... 2.6.1. Pemeriksaan Laboratorium ... 13

2.6.2. Pemeriksaan Radiologik ... 15

2.6.3. Pemeriksaan Densitas Massa Tulang ... 16

(4)

2.6.4. Biopsi Tulang dan Histomorfometri . .. . . , . . . 17 17 2.7. Pengobatan ...

2.8. Pencegahan ... 23

Ringkasan ... . ... 27

BAB III Kesimpulan dan Saran

(5)

DAFTAR GAMBAR

Halaman ... 6

... 9 Gambar 2.1. Fraktur tulang ...

Gambar 2.2. Kompresi fraktur pada vertebra.. ...

Gambar 2.3. Kifosis dorsal (“dowager ‘s hump”) pada penderita osteoporosis .... 1 0 Gambar 2.4. Bagian tubuh yang sering fraktur terutama di pergelangan tangan,

pinggul dan tulang punggung ... Gambar 2.5. Penurunan tinggi badan pada penderita osteo Gambar 2.6. Penipisan massa pada korteks dan daerah trabekula

Gambar 2.7. Tulang normal, tampak jaringan tulang yang tebal dan padat ... 17 Gambar 2.8. Tulang osteoporosis, tulang menjadi tipis dan keropos ... 17

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tulang merupakan organ yang dinamis, yang selalu berubah dan

mengalami

pembaharuan. Pertumbuhan

tulang

terutama terjadi secara cepat

di

usia 9-20

tahun. Konsumsi kalsium yang cukup selama masa pertumbuhan

akan

menjamin

simpanan kalsium yang tinggi di dalam

tulang

sehingga membuat

tulang

menjadi

lebih padat. Pada usia 20 akhir atau awal 30-an tulang mencapai massa

puncaknya. Massa tulang puncak adalah keadaan dimana tercapainya kepadatan

tulang secara maksimal di akhir kematangan tulang. Namun di usia 45 tahun

ke

atas, secara alami dengan bertambahnya usia massa tulang secara perlahan akan

menurun terutama pada wanita yang telah menopause. Ketika densitas menurun,

di dalam tulang berlangsung perubahan struktur penyangganya. Sementara itu,

di

bagian luar tidak memperlihatkan adanya masalah kecuali peningkatan kerentanan

terhadap benturan dan patah tulang. Pada pasien, gejala ini merupakan tanda awal

bahwa mereka menderita osteoporosis (Heaney et al, 1979).

Populasi osteoporosis yang rentan terhadap fraktur adalah usia lanjut terutama

wanita, walaupun demikian proses terjadinya osteoporosis sudah dimulai sejak

umur 40 tahun dan pada wanita proses ini akan semakin cepat pada masa post

menopause (Lindsay, 1990). Osteoporosis pada wanita lebih disebabkan oleh

turunnya kadar hormon estrogen dalam tubuh, dimana estrogen

dalam

tubuh

memegang peranan penting pada proses remodelling tulang karena dapat

menghambat kerja osteoklas yang berlebih. Selama wanita masih haid teratur.

kedua atau salah satu indung telumya masih cukup memproduksi hormon

estrogen, dan hormon estrogen inilah yang menjaga agar tulang tidak sempat

(7)

keropos tulang sangat mudah terjadi.

Akan

terjadi hilangnya massa tulang tulang

menjadi rapuh,

dan

akhirnya patah. Wanita dapat kehilangan 2 sampai 5% dari

densitas tulangnya setiap tahun

dalam

kurun waktu 5 sampai 10 tahun pertama

setelah menopause. Hal

inilah

yang menyebabkan wanita yang telah menopause

atau wanita diatas 50

tahun

dipertimbangkan mempunyai resiko tinggi terjadinya

osteoporosis (Setyohadi, 1999).

Namun

disamping itu selain estrogen, masih banyak faktor-faktor lain yang

menjadi resiko timbulnya osteoporosis antara lain riwayat osteoporosis

dalam

keluarga, difisiensi kalsium dan vitamin D, perubahan pola hidup modern, seperti

kurangnya olahraga/aktivitas, merokok, alkohol, banyak mengkonsumsi

kopi/kafein, obat-obatan (seperti kortikosteroid), serta penyakit-penyakit kronik

tertentu, misalnya penyakit hati, girijal, saluran cerna (Pramudiyo, 1996). Di

negara-negara maju, biaya yang dikeluarkan untuk osteoporosis sangat tinggi

mencapai milyar dolar per tahun. Oleh sebab itu sangatlah penting

untuk

mengetahui lebih mendalam tentang osteoporosis terutama pada wanita p a c a

menopause, sehingga pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin

1.2. Identifikasi Masalah

1. Mengapa tulang bisa mengalami penurunan massa dan keropos?

2. Apakah penyebab terjadinya osteoporosis?

3. Mengapa wanita yang mempunyai faktor resiko

tinggi

terhadap

osteoporosis?

4. Bagaimanakah diagnosa, pengobatan dan pencegahan dari

(8)

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan karya tulis ilmiah

ini

adalah agar dapat mengenal

dan

mengetahui lebih lanjut tentang osteoporosis terutama pada wanita pasca

menopause.

Sedangkan tujuan dari penulisan karya

tulis

ilmiah ini adalah agar masyarakat

luas dapat lebih memahami tentang hal ihwal osteoporosis sehingga penyakit ini

dapat dicegah terutama pada kaum wanita yang telah menopause yang

mempunyai resiko lebih

tinggi.

1.4. Metodologi

Studi pustaka.

1.5. Lokasi dan Waktu

Penulisan di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Waktu penulisan

(9)

BABIII

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya kelainan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang. Faktor resiko terjadinya osteoporosis antara lain adalah umur, ras, jenis kelamin, defisiensi kalsium, penggunaan obat-obatan jangka lama (kortikosteroid), faktor pola hidup (rokok, kopi, dan alkohol), defisiensi hormon seks terutama pada wanita adalah estrogen, imobilisasi lama, penyakit kronik tertentu (penyakit hati, ginjal, saluran cerna) dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Dengan kemajuan teknologi osteoporosis dapat di diagnosa lebih dini sebelum tejadinya fraktur tulang yaitu dengan densitometri untuk menilai densitas massa tulang. Melihat sejumlah penyebab itu, gaya hidup dan kualitas hidup yang baik merupakan kunci

untuk

menghindari osteoporosis, terutama pada yang beresiko tinggi terkena osteoporosis.

3.2. Saran

Untuk mencegah terjadinya osteoporosis diperlukan sosialisasi terhadap masyarakat luas tentang osteoporosis, bahwa diperlukan tindakan pencegahan sedini mungkin, yaitu sejak masa pertumbuhan/dewasa muda. Bagi orang-orang yang beresiko tinggi terkena osteoporosis terutama wanita pasca menopause harus dilakukan screening test

untuk

memeriksa kepadatan massa tulang dengan

DEXA.

(10)
(11)

DAFTAR PUSTAKA

Blaeker, C.M., Kleerekoper, M. 1998. Prevention and treatment of

osteoporosis. In J.J. Sciarra: Gynecology and Obstetrics, volume 1.

Philadelphia. J.B. Lippincott company.

Cust, M.P., Gangar, K.F., Hillard, T.C.,

and

Whitehead, M.I. 1991. Oestrogen

therapy in postmenopausal woman. J Medical Progress, page 53-59.

Deftos, L.J., and Glowacki, J. 1984. Mechanisms of bone disease. In Frohlich,

ED. ; Pathophysiology-Altered regulatory mechanisms in disease, third edition. Philadelphia. J.B. Lippincott company.

Harita,

M.

2001. Kedelai lindungi tulang setelah menopause.

http://www. satumed.com/index. html/anekamedika/0,3987,0/

,

hal 1.

Heaney, R.P., Recker, R.R., and Saville, P.D. 1979. Menopausal changes in bone

remodelling. J. Lab. Clin. Med., 92 : 964-970.

Lindsay, R. 1990. Osteoporosis

in

postmenopausal women. J Medicine

International, page 305 1-3055.

NOF. 2001. Osteoporosis. http://www.nof.org,

Nuhonni, S.A., Setyohadi,

B.,

dan Tobing, S.D.A. 2001. Mengenal osteoporosis

dan cat-a pencegahannya. Jakarta: Aventis dan Perosi.

Pramudiyo, R. 1996. Osteoporosis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi

III.

Jakarta : Balai Penerbit FK-UI.

Rahayu, R.R. 1999. Faktor-faktor resiko terjadinya osteoporosis pada wanita

pasca menopause. http://www.interna.fk.ui.ac.id/referensi/ abstrak/

012AB.htm,

hall.

Rosen, H.N., and Rosenblatt, M. 2000. Overview of the management of

osteoporosis. http://www.medscape.com, page 1

-

14.

(12)

Rtr/ac. 2001. Manfaat kedelai setelah masa menopause. http://www.kompas.com/health/news/0101/04/688.htm, hal 1.

Selamihardja,

N.,

dkk.

1999. Terapi osteoporosis. http://www.keluama. org, hal 1-

5.

Setyohadi, B. 1999. Pendekatan klinis osteporosis. Temu ilmiah rheumatologi, hal

67-76.

Surono, A. 1997. Tulang keropos bisa dihambat. http://www.indomedia. com/intisari/1 997/maret/tulang .htm, hal 1-4.

Yatim, F. 2000. Osteoporosis pada manula. Jakarta: Pustaka populer obor.

Referensi

Dokumen terkait

resiko penelitian ini yang berjudul Kadar -Cross-Link Telopeptide Pada Wanita Postmenopause dengan Osteoporosis atau Osteopeni. , dan memahami bahwa subyek dalam penelitian

menggunakati radiografi panoramik, menggunakan metoda multiline skala operator dengan menghitung pixel pada line strenght dapat digunakan untuk mendeteksi osteoporosis dan

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Wamenkes RI) di Hari Osteoporosis Sedunia tahun 2012 mengatakan bahwa upaya pencegahan osteoporosis terutama dengan gaya

 Pemeriksaan kadar Deoxypyridinoline urin pada wanita pasca injeksi GnRH agonis semoga dapat digunakan untuk menilai secara objektif resiko. osteoporosis

Untuk mengetahui korelasi kadar serum estradiol dengan nilai Resiko Osteoporosis berdasarkan OSTA ( Osteoporosis Self. Assessment Tools for

Penyebab-penyebab tersebut adalah untuk menghindari terjadinya krisis, mengelola kondisi pasca terjadinya krisis, dan munculnya ancaman atau peluang; mengurangi resiko

Persepsi keseriusan yang dirasakan terhadap Osteoporosis Persepsi ancaman penyakit Osteoporosis Persepsi manfaat pencegahan Osteoporosis yang dirasakan Perilaku

HASIL DAN PEMBAHASAN Materi penyuluhan yang disampaikan pada kegiatan ini meliputi pengertian, waktu mulai timbulnya gejala, faktor resiko, gejala yang dirasakan, dampak osteoporosis