• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

Alasan Pemilihan Judul A.

Konflik antara Amerika Serikat dan Taliban telah berlangsung bertahun-tahun dan mengalami berbagai upaya penyelesaian. Peristiwa serangan pada 11 September 2001 pada gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington, DC menjadi pencetus konflik keduanya.

Konflik bermula dengan dugaan terlibatnya Taliban dalam perlindungan kepada tertuduh dalang serangan, Osama bin Laden.

Kemungkinan damai antara Amerika Serikat dan Taliban sempat tertutup setelah perundingan yang menuju perjanjian damai dihentikan di tahun 2019. Trump mengatakan perundingan keduanya telah mati karena terjadinya penyerangan pada tentara Amerika Serikat setelah perundingan tersebut. Namun diawal tahun 2020 kedua belah pihak sepakat menandatangani perjanjian damai.

Hal tersebut menarik bagi Penulis untuk meneliti apa kepentingan Amerika Serikat sehingga melunak dan mau menandatangani perjanjian damai dengan Taliban. Judul yang penulis pilih adalah „FAKTOR-FAKTOR PENDORONG AMERIKA SERIKAT MENANDATANGANI PERJANJIAN DAMAI DENGAN TALIBAN TAHUN 2020‟. Pemilihan judul ini dikarenakan ketertarikan Penulis mengenai kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Pengambilan keputusan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Taliban menarik untuk diteliti melihat sejarah panjang konflik antar keduanya.

Ketersediaan data terkait penelitian menjadi salah satu alasan Penulis mengambil topik bahasan ini. Selain itu topik yang

(2)

2

Penulis teliti merupakan topik yang up to date sehingga sangat menarik untuk diteliti

Latar Belakang Masalah B.

Amerika Serikat menjadi negara berkekuatan besar atau biasa disebut sebagai Negara Adidaya di dunia setelah runtuhnya Uni Soviet. Kekuatan tersebut didukung ekspansi ekonomi yang baik paska Perang Dunia II. Perekonomian Amerika Serikat mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dengan rendahnya nilai inflasi dan juga cepatnya perkembangan teknologi (Pierce, 2009). Amerika Serikat juga terlibat dalam berbagai permasalahan dunia dan disebut sebagai polisi dunia. Hal tersebut berdasar pada keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Haiti, Kosovo, Somalia, dan Taliban. (Timur, 2013)

Keterlibatan Amerika Serikat dalam berbagai peristiwa Internasional membuat Amerika mengambil peranan penting di dalam dinamika Internasional. Salah satunya kebijakan War on Terrorism yang dikeluarkan Amerika Serikat dengan mengangkat kepentingan keamanan dunia. Di balik kebijakan ini terdapat sebuah peristiwa yang mampu menggetarkan Amerika Serikat, negara yang memiliki pengaruh besar dalam tatanan dunia. Peristiwa tersebut adalah serangan terrorisme pada gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington, DC. (Payani, 2016)

Pada tanggal 11 September 2001 gedung kembar World Trade Center di New York dihantam oleh pesawat komersil Amerika Serikat, American Airlines. Serangan juga terjadi pada gedung Pentagon di Washington DC. Kedua tempat ini bukan gedung biasa, WTC merupakan lambang kekuatan ekonomi Amerika Serikat dan Pentagon adalah supremasi pertahanan dan keamanan Amerika Serikat. (Suwardi, 2002) Selain serangan pada gedung-gedung tersebut terdapat beberapa pesawat lain yang jatuh di dekat bandara Somerset

(3)

3

County dan Shanksville, Pennsylvania. (Milia, 2015) Paska serangan tersebut Presiden Amerika George W. Bush menyatakan perang terhadap kelompok teroris Al-Qaeda yang dianggap bertanggung jawab atas serangan yang terjadi. Pada September 2001, Bush mengeluarkan kalimat peringatan kepada dunia internasional, ―Either you with us or you are with the terrorist‖. Bush juga mengatakan, ―If you are not with us, you are against us”. (Milia, 2015)

Afghanistan menjadi incaran Amerika Serikat dalam upayanya memberantas terorisme. Hal tersebut dikarenakan Osama Bin Laden pimpinan jaringan dari Al-Qaeda diperkirakan bermukin di Afghanistan dan disembunyikan oleh Taliban. (Clayton, 2018) Afghanistan sendiri merupakan negara yang didirikan oleh Ahmad Shah Durrani dengan menyatukan suku-suku Pashtun pada tahun 1747. Negara berada di Asia Selatan dan berbatasan dengan Pakistan di sisi utara dan barat serta Iran di sisi timur. Setelah mengalami perang saudara Kabul, Ibukota Afghanistan jatuh ke tangan Taliban di tahun 1996. Taliban merupakan sebuah gerakan yang disponsori oleh Pakistan dan berdiri pada awal 1990-an di Pakistan Utara. Gerakan ini mendominasi orang-orang Pashtun di Afghanistan dengan janji menegakkan dan memulihkan perdamaian serta keamanan berdasarkan syariah Islam. (BBC.com, 2009) Latar belakang gerakan yang membentuk Taliban adalah sebuah Gerakan Islam yang muncul sebagai respon pemberontakan terhadap penjajahan Komunis dan Demokratis. Gerakan Islam ini berkembang pesat di Timur Tengah, terutama di Afghanistan yang saat itu dikuasai oleh Uni Soviet. Uni Soviet berhasil diusir oleh para Mujahidin yang lahir dari Gerakan Islam tersebut. Gerakan Islam ini kemudian berlanjut sebagai gerakan pemberontakan yang dikenal dengan nama Taliban. (Milia, 2015)

Kemudian di tahun 2001 dengan bantuan PBB melalui Konferensi Bonn Afghanistan melakukan rekonstruksi politik

(4)

4

dengan menetapkan konstitusi baru dan pemilihan presiden di tahun 2004. Afghanistan menggunakan sistem pemerintahan dengan percampuran dari hukum sipil, adat, dan Islam (syariah). (CIA.gov, 2020)

Serangan awal yang dilakukan Amerika Serikat merupakan serangan udara yang dilakukan pada tanggal 7 Oktober 2001 melibatkan Inggris, Pasukan khusus Amerika, dan juga pasukan anti-Taliban. Dua belas hari kemudian tiba pasukan darat yang kemudian berperang melawan Taliban.

Pasukan tentara Amerika Serikat terus dikirim ke Afganistan hingga di tahun 2003 mencapai 10.000 tentara. (Wijaya, 2020) Pada bulan Juli tahun 2006 pertempuran meletus dengan jumlah serangan meningkat dari 27 kasus ditahun 2005 menjadi 139 kasus di tahun 2006. Setahun berikutnya Pemimpin Taliban Mullah Dadullah tewas terbunuh oleh pasukan Afghanistan, Amerika Serikat, dan Nato saat operasi gabungan di selatan Afghanistan. (cfr.org) Presiden Amerika selanjutnya yaitu Barack Obama tetap melanjutkan kebijakan Bush dengan menambah pasukan sejumlah 30.000 di akhir tahun 2009. (Wijaya, 2020) Presiden Obama juga mengumumkan strategi baru untuk upaya melawan teroris dan diuraikan dalam buku putih antar lembaga dengan kalimat ―to disrupt, dismantle, and defeat al Qaeda and its safe havens in Pakistan, and to prevent their return to Pakistan or Afghanistan‖. Hingga pada 1 Mei 2011 Pemimpin Al-Qaeda Osama Bin Laden tewas oleh pasukan Amerika Serikat di Pakistan. Pada bulan Januari tahun 2012 Taliban melakukan kesepakatan untuk membuka kantor di Qatar dan dipandang Amerika Serikat sebagai jalan untuk pembicaraan damai.

Namun di bulan Maret, Taliban menolak terjadinya pembicaraan dilakukan dan menuduh Amerika Serikat akan mengingkari janji pertukaran tahanan. (cfr.org)

Pada tahun 2017 situasi semakin memanas dan Taliban berhasil memperluas kekuasaannya di berbagai wilayah.

(5)

5

Presiden Amerika Serikat terpilih selanjutnya, Donald Trump lalu menambah 30.000 pasukan ke Afganistan dan melancarkan serangan udara. (Wijaya, 2020) Serangan tersebut ditargetkan pada gua di provinsi Nangarhar timur tempat para militant berada. Taliban kemudian melakukan serangan kembali di tahun 2018 di Kabul dan menewaskan lebih dari 115 orang. Presiden Trump langsung mengerahkan pasukan keseluruh wilayah Afghanistan dan menargetkan serangan udara ke pusat keuangan Taliban yaitu laboratorium opium. Amerika Serikat pada tahun 2019 bernegosiasi dengan Taliban dan membicarakan kesepakatan penarikan pasukan dari Afghanistan dengan imbalan Tailiban memblokir kelompok teroris yang ada di Afghanistan. Di tahun yang sama Presiden Trump juga memutuskan pembicaraan damai setelah seoarang tentara Amerika Serikat tewas akibat serangan Taliban. Namun pada awal tahun 2020 tepatnya pada tanggal 29 Februari Amerika Serikat dan Taliban resmi menandatangani perjanjian damai. (cfr.org) Penandatangan perjanjian tersebut terjadi di Doha dan dihadiri sekretaris negara Amerika Serikat Mike Pompeo dan wakil pemimpin Taliban Mullah Baradar. Terdapat empat bagian dalam perjanjian tersebut. Pertama memastikan dan menjamin wilayah Afghanistan tidak dipakai untuk menyerang Amerika ataupun sekutu Amerika. Kedua penarikan pasukan AS dari Afganistan beserta mekanisme penarikannya. Ketiga keikutsertan Taliban dalam perundingan intra-Afghanistan dan yang keempat membicarakan genjatan senjata dan negosiasi dengan intra-Afghanistan. (Iswara, 2020)

Rumusan Masalah C.

Berdasarkan Latar Belakang diatas Penulis menarik rumusan masalah : Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Amerika Serikat menandatangani perjanjian damai dengan Taliban di tahun 2020 setelah terlibat perang selama 19 tahun?

(6)

6 Kerangka Teori

D.

Dalam penelitian ini Penulis menggunakan model Pembuatan Keputusan Kebijakan Luar Negeri dan Konsep Opini Publik sebagai pedoman menganalisa alasan Amerika dalam penandatanganan perjanjian damai dengan Taliban.

1. Model Pembuatan Keputusan Kebijakan Luar Negeri

Kebijakan Luar negeri merupakan suatu tindakan yang dilakukan negara sebagai bentuk respon atas kejadian atau interaksi dengan lingkungan internasional guna mencapai kepentingan nasionalnya.

Max dan Weber menjelaskan kebijakan luar negeri adalah keputusan dan tindakan negara yang di dalamnya terdiri dari tujuan dan nilai yang di ambil atas nama negara tersebut dalam konteks hubungan dengan masyarakat internasional.

Kebijakan ini merupakan cara sebuah negara merancang, mengatur, dan mengontrol hubungan dengan masyarakat internasional. (Mark Weber, 2002)

Menurut William D. Coplin dalam bukunya tindakan yang diambil dalam kebijakan luar negeri merupakan pengaruh dari tiga faktor. Faktor pertama adalah kondisi politik dalam negeri; kedua, kemampuan ekonomi dan militer;

dan yang ketiga konteks internasional. Berikut merupakan ilustrasi bagaimana faktor-faktor saling mempengaruhi yang kemudian menghasilkan kebijakan luar negeri (Coplin, 2003).

(7)

7 Gambar 1.1

Model Proses Pengambilan Kebijakan Luar Negeri Menurut William D. Coplin

B

Berdasarkan ilustrasi diatas pengambilan kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh konteks internasional serta situasi politik domestik dan kapabilitas ekonomi serta militer.

A. Situasi Politik Domestik

Keadaan politik domestik dapat berpengaruh dengan kebijakan luar negeri yang diambil sebagai bentuk tanggapan situasi tertentu. Pengaruh tersebut berasal dari aktor-aktor politik dalam negeri yang disebut sebagai “policy influencers‖(yang mempengaruhi kebijakan). Para aktor politik domestik dan pembuat kebijakan politik luar negeri akan saling berhubungan yang kemudian disebut sebagai

―policy influence system” (sistem pengaruh kebijakan).

Sistem pengaruh kebijakan ini dianggap sebagai hubungan timbal balik dimana pembuat kebijakan membutuhkan policy influencer sebagai sumber pendukung dan pelaksana kebijakan. Sementara policy influencer membutuhkan pengambil keputusan untuk memperlancar kepentingan mereka dalam hal politik, terutama politik luar negeri. Dalam

(8)

8

bukunya Willian D. Coplin membagi 4 jenis policy influencer yang mempengaruhi keputusan negara, yaitu :

1. Bureucratic Influencer (Birokrat yang Mempengaruhi) Birokrat yang mempengaruhi merupakan seorang individu serta organisasi dalam lembaga pemerintah yang membantu pengambil keputusan dalam menyusun serta menjalankan kebijakan (Coplin, 2003). Dalam sistem politik Amerika Serikat terdapat beberapa pihak yang memegang otoritas pengambilan keputusan dalam kebijakan luar negeri yakni Presiden, Kongres, dan lembaga pemerintah lainnya. Presiden menjadi aktor dominan dalam penentuan dalam dan luar negeri Amerika Serikat (Oldemeinen, 2012). Namun keputusan Presiden tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kapabilitas ekonomi dan militer, situasi politik dalam negeri, serta konteks internasional.

Kongres dalam pemerintahan Amerika Serikat juga memiliki pengaruh dalam proses pembuatan kebiajakn luar negeri. Pandangan dari Kongres mempengaruhi tindakan yang nantinya akan diambil dimana semua proses dan aktivitas akn berlangsung seperti struktur yang telah dibentuk kongres.

Seperti contohnya dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat tentang hak asasi manusia. Kongres akan membuatkan kantor hak asasi manusia dalam Departemen Luar Negeri, kemudian mengangkat biro, dan menetapkan perannya dalam setiap proses pengambilan keputusan serta mewajibkan dibuatnya laporan tahunan. Panggung yang diciptakan oleh Kongres ini adalah bentuk upaya pengandalian pembuat kebijakan dalam perumusan maupun pengambilan keputusan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

(Morton H. Halperin, 2007)

(9)

9

2. Partisan Influencer (Partai yang Mempengaruhi) Kelompok ini terdiri dari partai-partai politik yang menjadi penerjemah tuntutan-tuntutan masyarakat menjadi sebuah tuntutan politis yang kemudian disampaikan kepada pembuat kebijakan. Mereka biasanya memfokuskan perhatian kepada kebijakan dalam negeri namun juga mengambil perhatian pada kebijakan luar negeri, terutama bila kebijakan tersebut merupakan perluasan dari kebijakan dalam negeri.

(Coplin, 2003)

Amerika Serikat yang memiliki dua partai besar yaitu partai Demokrat dan Republik tentunya memiliki pandangan masing-masing dalam kasus perang di Afghanistan yang melibatkan perlawanan terhadap Taliban. Pada bulan januari 2020 diadakan survey dengan sample berasal dari kedua partai tersebut menunjukan mayoritas mendukung pemindahan pasukan dari Afghanistan dengan presentasi 52,63% untuk demokrat dan 58,62% untuk Republik. Dari survey tersebut membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat dari kalangan republikan mendukung pemindahan pasukan di afghanistan.

(Timothy S. Rich, 2020)

3. Interest Influencer (Kepentingan yang Mempengaruhi) Kepentingan yang mempengaruhi berasal dari gabungan kelompok individu yang memiliki kepentingan yang sama namun belum seluas kelompok partai. Mereka biasanya memainkan peran dengan kampanye yang ditujukan pada pembuat kebijakan atau pihak yang memiliki pengaruh lebih besar seperti Bureucratic Influencer dan Partisan Influencer.

Sebaliknya mereka juga dapat menekan atau memberikan dukungan finansial pada para pembuat kebijakan dan Partisan Influence. Meskipun tidak berpengaruh secara langsung pada kebijakan luar negeri, tetapi kelompok ini memiliki peran mengawal dan mengkritisi kebijakan. (Coplin, 2003)

(10)

10

Pada Amerika Serikat pengaruh Interest Influencer dapat dilihat dari pendapat keluarga militer yang mendukung penarikan pasukan dari Afghanistan. Dan Caldwell, direktur eksekutif di Concerned Veterans for America mengatakan akan ada pendekatan baru dalam kebijakan luar negeri Amerika setelah melihat kelompok veteran dan keluarga militer yang menanggung beban perang tak berujung selama hampir dua dekade. Kelompok ini juga mengatakan akan mendukung Presiden Trump jika Presiden menepati janjinya memindahkan pasukan dari Afghanistan. Selama beberapa bulan terakhir kelompok advokasi sayap kiri yang berhubungan dekat dengan partai Demokrat juga terus mendorong anggota parlemen menghentikan operasi militer dengan alasan biaya perang. (Shane, 2019)

4. Mass Influencer (Massa yang Mempengaruhi)

Massa yang mempengaruhi mengacu opini yang dibentuk pada media massa yang dapat menjadi pertimbangan pemutusan kebijakan luar negeri. Para pembuat keputusan akan mempertimbangkan kebijakan yang diambil pada opini publik atau bahkan pada pemilihan umum berikutnya. (Coplin, 2003)

Dalam keputusan Amerika melakukan perjajian damai dengan Taliban terdapat komitmen penarikan pasukan yang dapat menjadi penggiring opini publik terutama bagi para keluarga militer. Pada sebuah acara di balai kota pada bulan September lalu yang disiarkan oleh ABC News Trump menyatakan akan membawa pasukan kembali dari Afghanistan dan berjanji menjauhkan Amerika dari perang asing yang tidak ada habisnya. Tema tersebut kemudian berulang dalam tweetnya sesaat dari kunjungannya di Walter Reed National Military Medical Center yang tertulis ―PEACE

(11)

11

TROUGH STRENGHT (BRING OUR SOLDIERS HOME).

VOTE!. (Crowley, 2020)

B. Kapabilitas Militer dan Ekonomi

Kapabilitas militer dan ekonomi menjadi hal utama yang harus dimiliki sebuah negara. Terlebih lagi dalam menjalankan pemerintahan, melindungi dan mensejahterakan rakyat, serta bergaul dalam lingkungan internasional kemampuan negara sangat dibutuhkan. Efektivitas militer menjadi komponen utama dalam kekuatan militer. Efektivitas ini didapatkan dari kemampuan ekonomi negara. Negara dengan ekonomi baik akan memiliki infrastruktur, teknologi, dan kapasitas produksi yang akan meghasilkan keuntungan militer (Beckley, 2019). Amerika Serikat memiliki sebagai negara keunggulan ekonomi dan mengasilkan militer yang kuat.

Kapasitas militer dalam buku William D. Coplin memiliki beberapa kriteria untuk memudahkan penilaian secara umum. Kriteria tersebut terdiri dari jumlah pasukan, tingkat pelatihan, dan sifat perlengkapan militernya (Coplin, 2003). Pada kriteria tingkat pelatihan yang mengasilkan personil terlatih tidak perlu dipertanyakan pada Amerika Serikat. Terlatih berarti diperlengkapi dengan baik. Amerika Serikat mampu menyediakan perlengkapan militer yang canggih dan tentu akan menghasilkan personil yang terlatih dan ahli. Dengan begitu kriteria perlengkapan militer Amerika Serikat juga sudah memadai. Jumlah pasukan menjadi kriteria terpenting karena tanpa adanya sumber daya manusia kriteria selanjutnya tidak dapat tercapai dan berjalan dengan baik.

Amerika mengirimkan 1.000 tentara ke Afghanistan setelah peristiwa 11 September dan berkembang mencapai 10.000 tentara di tahun 2003. Dari tahun ke tahun jumlah tentara di Afghanistan terus bertambah (Alia Chughtai, 2020).

(12)

12

Lebih dari 2.400 tentara Amerika Serikat tewas sejak tahun 2001 dalam perang di Afghanistan (Gerberg, 2019).

Kehilangan tentara dengan jumlah yang tidak sedikit tentu mempengaruhi kapabilitas militer Amerika Serikat.

Dalam konflik antara Amerika Serika dan Taliban tentu berpengaruh pada ekonomi Amerika Serikat. Menurut perhitungan situs The Balance konflik ini menelan biaya

$ 975 miliar di tahun 2019 (McCarthy, 2019). Dari 60% biaya tersebut dialokasikan pada pelatihan, fasilitas, bahan bakar, dan kendaraan lapis baja. Lalu sekitar 8% biaya untuk transportasi udara dan laut. Biaya perang di Afghanistan juga dialokasikan bagi para veteran perang. Perawatan medis dan cacat jika digabungkan antara Irak dan Afghanistan mencapai lebih dari $ 350 miliar (Almukhtar, 2019). Namun pengeluaran militer AS turun sekitar 90% dari jumlah saat puncak perang terjadi. Hal ini menimbulkan keraguan kapabilitas ekonomi Amerika Serikat. Rangkuman data pengeluaran militer untuk Departement of Defense dan Overseas Contigency Operations juga berkurang dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2018 anggaran DoD dan OCO sebesar $88.1 dan pada tahun 2019 hanya $68.8 (Kimberly Amadeo, 2020). Pengurangan dana program DoD digunakan untuk mendanai pembangunan tembok batas meksiko.

Sebagian besar yang dialihkan berasal dari dana untuk Afghanistan sejumlah $604 (Jones, 2019). Kolonel David Butler, juru bicara militer Amerika Serikat mengatakan pengalihan dana merupakan efisensi anggaran pada rencana pengurangan pasukan di Afghanistan (VOA, 2019).

C. Konteks Internasional

Dalam buku Willian D. Coplin terdapat tiga elemen yang mempengaruhi konteks internasional terhadap politik luar negeri sebuah negara. Elemen tersebut adalah geografis, ekonomi, dan politis. Kebijakan luar negeri antar negara dapat

(13)

13

saling berpengaruh dengan memasukan tiga elemen tersebut (Coplin, 2003).

Pada laporan yang dirilis Human Right Watch (organisasi hak asasi manusia internasional ) mengatakan Pasukan Afghanistan yang didukung Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) telah melakukan pelanggaran serius.

Paticia Gossman, direktur asosiasi Asia dan penulis laporan tersebut menuliskan pasukan Afghanistan yang didukung CIA dalam operasi melawan Taliban melakukan eksekusi di luar hukum dan penghilangan. Pemerintah Amerika Serikat dituntut untuk melakukan penyelidikan keterlibatan pasukan Amerika dan membubarkan pasukan pendukung kegiatan melanggar tersebut. (Watch, Afghanistan: CIA-Backed Forces Commit Atrocities, 2019)

Konflik antara Amerika Serikat dan Afghanistan yang berlangsung 19 tahun telah menimbulkan banyak korban jiwa.

Hal ini tentu bersangkutan dengan penegakan hak asasi manusia yang terabaikan. Anak dan perempuan mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat internasional. Seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi yang menjadi salah satu co-fasilitator perundingan menyampaikan bahwa pemberdayaan perempuan Afghanistan menjadi fokus penting dalam pembicaraan. Pemastian hak- hak perempuan menjadi isu yang penting diangkat. (Putri, 2020)

Selain itu dukungan perlindungan hak asasi manusia juga disampaikan oleh Mr. Yamamoto yang menegaskan komitmen PBB mendukung pembicaraan intra-Afghanistan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. (Farzad, 2019)

Dari uraian diatas Amerika Serikat memutuskan melakukan perjanjian damai dengan Taliban dipengaruhi beberapa faktor. Faktor pertama adalah dorongan situasi

(14)

14

politik domestik dengan pertimbangan korban militer dan kepastian janji penarikan pasukan. Selanjutkan faktor kapabilitas militer dan ekonomi. Faktor tersebut berasal dari besarnya jumlah korban dan kerugian akibat perang. Terakhir adalah pengaruh isu hak asasi manusia. Perang yang telah lama berlangsung dan memakan banyak korban tentu mendapatkan perhatian dari dunia Internasional. Desakan dan kecaman atas pelanggaran ham mendorong Amerika Serikat membuat keputusan perjanjian damai. Keputusan Amerika Serikat dapat dinilai mematahkan anggapan pelanggaran ham dengan beralih pada perundingan sebagai jalan penyelesaian konflik. Penelitian ini akan berfokus pada faktor situasi politik dalam negeri dan konteks internasional yang berpengaruh pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Melalui model pembuatan kebijakan luar negeri menurut William D.Coplin keputusan penandatangan perjanjian damai Amerika Serikat dan Taliban dapat digambarkan dengan ilustrasi sebagai berikut :

Gambar 1.2

Pengaplikasian Model Pembuatan Kebijakan Luar Negeri

(15)

15 2. Konsep Opini Publik

Opini publik merupakan sebuah proses yang terjadi secara terus menerus sebagai upaya pembentukan presepsi yang memiliki arti. Opini publik terbentuk didasari oleh keadaan dan situasi politik yang sedang terjadi. Opini publik juga digunakan sebagai bentuk komunikasi politik sebagai cara memenangkan hati, pikiran, dan sikap masyarakat sebagai publik politik (Dr.Umaimah Wahid, 2016).

Menurut Bernard Hennessy (1990) dalam bukunya yang berjudul Pendapat Umum, menyatakan terdapat lima faktor pembentuk opini public, yaitu :

1. Terdapat Isu (presence of an issue). Terdapat kesepakan sesungguhnya dimana opini berkumpul disekitar isu. Isu tersebut didalamnya terdapat kontroversi atau konflik.

2. Terdapat kelompok kepentingan atau kelompok yang dikenal terhadap isu yang muncul (nature of public) 3. Terdapatnya pilihan yang sulit bagi para anggota

masyarakat tentang isu (complex of preference) 4. Terdapatnya sebuah pernyataan atau opini (expression

of opinion). Banyak terdapat pertanyaan seputar isu dan biasanya berupa pernyataan tertulis atau diucapkan. Bernard Hennessy berpendapat opini publik mengarah pada ketidaksukaan publik pada isu tertentu.

5. Terdapatnya beberapa orang yang terlibat (number of persons involved). Perhatian besar yang diberikan pada isu oleh sejumlah besar masyarakat atau publik.

Menurut Dan Nimmo opini publik merupakan kumpulan dari pikiran, perasaan, dan usul yang dinyatakan oleh

(16)

16

masyarakat sebagai respon kebijakan pemerintah yang di dalamnya terdapat konflik ataupun perselisihan (Dr.Umaimah Wahid, 2016).

Opini publik adalah pendapat yang disampaikan masyarakat sebagai bentuk respon pada isu yang terjadi ataupun kebijakan yang diambil pemerintah. Biasanya opini hadir karena adanya konflik atau kontroversi yang tidak sesuai dengan hati dan pikiran masyarakat.

Penandatangan yang dilakukan Amerika Serikat pada perjanjian damai dengan Taliban tentunya juga merupakan kebijakan produk respon dari masyarakat sebelum kemudian ditentukan oleh pembuat kebijakan. Sebuah publikasi menyatakan peran global Amerika Serikat rentan pada efek bias keinginan sosial atau opini publik. Dalam publikasi yang berjudul Worlds Apart: U.S. Foreign Policy and American Public Opinion juga menyebutkan para pembuat kebijakan juga berusaha memperjuangkan pemerintahan yang responsif dan representatif sesuai dengan kepentingan pemilih. Perang yang terjadi bertahun-tahun membuat publik lelah dan dapat dilihat dengan survei masyarakat yang memperlihatkan penurunan dukungan pada perang. Pada sebuah survei tahun 2019 ditemukan 59 persen masyarakat Amerika Serikat menilai perang di Afghanistan perang yang tidak layak. Selain itu 54,94 persen masyarakat juga mendukung pemindahan pasukan dari Afghanistan (Timothy S. Rich, 2020). Hasil survei tersebut nantinya dapat dijadikan analisa dalam menentukan keputusan kebijakan luar negeri, karena opini publik menjadi salah satu sumber utama analisis kebijakan luar negeri

Hipotesa E.

Berdasarkan kerangka pemikiran yang Penulis gunakan dalam menjawab rumusan masalah, maka jawaban sementara atau hipotesa faktor-faktor yang mendorong Amerika Serikat

(17)

17

menandatangani perjanjian damai dengan Taliban di tahun 2020 setelah terlibat konflik selama 19 tahun adalah pengaruh dari beberapa faktor, yaitu :

1. Tekanan situasi politik dalam negeri, baik masyarakat Amerika Serikat maupun sebagian besar Partai Politik menentang berlanjutnya konflik di Afghanistan.

2. Kecaman dari lingkungan internasional mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam konflik di Afghanistan yang melibatkan Amerika Serikat.

Tujuan Penelitian F.

Tujuan Penulis melakukan penelitian ini adalah menganalisa faktor-faktor Amerika menandatangani perjanjian damai dengan Taliban dan mencocokan kesesuaian fakta-fakta dengan hipotesa serta teori yang Penulis gunakan

Metode Penelitian G.

1. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan data yang digunaakan merupakan data sekunder dengan teknik pengumpulan data studi kepustakaan.

Data tersebut berasal dari buku, jurnal, artikel, berita, dan website serta media elektronik lainnya. Data tersebut akan dikumpulkan dan dikelola untuk mendukung analisis penelitian ini.

2. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang akan dijelaskan dengan metode eksplanasi. Data dan fakta akan dianalisa dengan cara eksplanasi yang berisikan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa untuk menjawab rumusan masalah ada.

(18)

18 Jangkauan Penelitian H.

Penulis membatasi penelitian mengenai ―FAKTOR-

FAKTOR PENDORONG AMERIKA SERIKAT

MENANDATANGANI PERJANJIAN DAMAI DENGAN TALIBAN TAHUN 2020‖ dengan hanya mengamati dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Taliban sejak terjadinya peristiwa 11 September 2001 sampai ditandatanganinya perjanjian damai pada 29 Februari 2020

Sistematika Penelitian I.

Dalam penulisan penelitian yang berjudul ―FAKTOR-

FAKTOR PENDORONG AMERIKA SERIKAT

MENANDATANGANI PERJANJIAN DAMAI DENGAN TALIBAN TAHUN 2020‖ membagi penulisan ke dalam beberapa bab untuk memudahkan pembahasan.

Bab I, Dalam bab ini memuat pendahuluan penelitian yang berisikan alasan pemilihan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, dan kerangka konseptual yang digunakan sebagai kerangka menjawab rumusalan masalah yang diajukan serta hipotesa mengenai jawaban dari rumusan masalah yang ada. Selain itu, bab ini juga memuat tujuan penilitan, metode penelitan, jangkauan penelitian, dan sistematika penulisan dalam penelitian.

Bab II, Dalam bab ini memuat latar belakang terjadinya konflik serta dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Taliban sampai terjadinya perjanjian damai. Latar belakang yang akan dijelaskan merupakan kronologi peristiwa serangan 9 September 2001 pada gedung World Trade Center dan Pentagon. Setelah itu akan dijelaskan keterkaitan Taliban dengan peristiwa tersebut serta bagaimana konflik berlangsung. Kemudian menjelaskan proses perjanjian damai yang terjadi antara Amerika Serikat dan Taliban.

(19)

19

Bab III, Dalam bab ini akan memuat pembuktian hipotesa.

Penulis akan menjelaskan faktor-faktor pendorong Amerika Serikat menandatangani perjanjian damai dengan Taliban dengan menggunakan model pengambilan kebijakan luar negeri.

Bab IV, Dalam bab ini memuat penutup dari penulisan penelitian yang berisikan kesimpulan dari hasil penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

kedisiplinan shalat berjamaah peserta didik di Madrasah Aliyah Al Ahrom Karangsari..

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa maksud dari skripsi yang berjudul “Upaya Guru PAI Da lam Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Dalam

Skripsi ini akan membahas mengenai kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam mengelola industri baja akibat dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China.. Dimana

Penyebab-penyebab tersebut adalah untuk menghindari terjadinya krisis, mengelola kondisi pasca terjadinya krisis, dan munculnya ancaman atau peluang; mengurangi resiko

Alasan dari Amerika Serikat mencopot status Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju pada tahun 2020 adalah karena secara rasional kebijakan tersebut akan

Penulis menggunakan kedua konsep di atas dengan menggunakan analisis faktor internal dan eksternal yang berpengaruh, serta karakteristik kebijakan luar negeri Amerika

Pendekatan Yuridis sosiologis bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat mengenai hubungan hukum yang ada dalam perjanjian yang dibuat antara pihak

1. Model pluralis dalam analisis kebijakan publik digunakan untuk menjelaskan bahwa kebijakan publik yang dihasilkan di Amerika Serikat merupakan produk dari berlangsungnya