• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul

Pariwisata adalah sektor yang membutuhkan berbagai sektor lain sebagai pendukung. Sektor pendukung tersebut dapat berasal dari tingkat atas dan berskala besar, misalnya kebijakan pemerintah, investasi dari jaringan bisnis internasional, dll. Dan dapat berasal dari tingkat bawah, yaitu melalui unit usaha skala kecil menengah seperti usaha kuliner, usaha kerajinan tangan, usaha penginapan, atau usaha transportasi tradisional. Small Medium Sized Enterprises dapat di definisikan sebagai usaha atau bisnis dengan skala mikro yakni dengan jumlah tenaga kerja yang tidak besar. Dalam pengertian masyarakat Indonesia, SMEs ini dapat di samakan dengan pengertian UKM.

Untuk membatasi UKM yang akan di teliti, penelitian ini akan berfokus pada usaha berbentuk homestay. Ada beberapa alasan yang membuat homestay sangat penting untuk di teliti. Pertama, adalah karena usaha ini dapat di kembangkan oleh keluarga atau komunitas lokal, tidak membutuhkan modal besar, tidak membutuhkan skill manajemen yang rumit, serta dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan dari level menengah hingga ke bawah. Oleh karena itu, usaha ini sangat cocok di kembangkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan juga Thailand, dimana umumnya aktor-aktor pariwisata belum memiliki skill yang tinggi serta berasal dari kelompok masyarakat menengah ke bawah. Kedua, bentuk usaha ini cukup di gemari oleh aktor-aktor pariwisata contohnya di Indonesia. Terbukti dengan tumbuhnya usaha homestay di daerah-daerah wisata seperti Dieng, Bali, Yogyakarta, dll. Ketiga, tempat penginapan merupakan salah satu kunci utama dalam mata rantai pariwisata. Kebutuhan tempat penginapan mutlak di butuhkan oleh wisatawan, sehingga homestay sebagai salah satu jenis tempat penginapan merupakan salah satu faktor kunci dalam pengembangan pariwisata, termasuk di Bali (Indonesia) dan juga Phuket (Thailand).

Terdapat beberapa alasan yang kemudian kawasan Bali dan Phuket dapat di bandingkan. Pertama, kedua kawasan ini mengandalkan wisata pantai, di ikuti wisata alam dan budaya, sebagai penarik minat calon wisatawan. Kedua, secara geografis kedua kawasan ini tidak berbeda jauh yaitu sama-sama berada di wilayah Asia Tenggara yang memiliki iklim tropis. Ketiga, kedua negara di kenal memiliki keberagaman budaya dan memiliki kebudayaan asli yang

(2)

2 unik. Hal ini menjadi pendukung utama untuk menarik wisatawan datang di kedua kawasan wisata tersebut. Keempat, kedua negara sama-sama merupakan negara berkembang yang mengandalkan UKM, belum memiliki teknologi maju, serta memiliki aktor-aktor pariwisata yang secara umum belum memiliki skill tinggi dan spesifik. Dari beberapa alasan di atas, dapat di simpulkan bahwa tipe pelaku pariwisata dan wisatawan di kedua kawasan wisata tersebut memiliki banyak kesamaan. Selain itu potensi pariwisata kedua kawasan tersebut juga hampir sama, sehingga dapat di bandingkan antara satu dengan yang lainnya.

B. Latar Belakang

Pengembangan kepariwisataan di Bali telah mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini dapat di lihat dari semakin berkembang dan bertambahnya sarana dan prasarana pariwisata seperti akomodasi, transportasi, fasilitas rekreasi dan hiburan, komunikasi, dan atraksi wisata. Selain itu, Bali sebagai daerah tujuan wisata memiliki keanekaragaman budaya serta keindahan alam yang dapat di jadikan modal dasar untuk mengembangkan kepariwisataan serta dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk datang dan memperpanjang lama tinggalnya. Kemajuan yang terjadi dalam sektor pariwisata ini juga di rasakan oleh Phuket yang dahulu menjadi tempat penambangan timah terbesar yang kemudian beralih menjadi sektor industri pariwisata yang berkembang sangat pesat.

Di dalam sektor pariwisata, akomodasi dapat di katakan menjadi salah satu faktor penting dari kesuksesan pariwisata suatu negara. Beberapa jenis akomodasi yang tergolong ke dalam SMEs juga semakin banyak berkembang dan bermunculan. Hal ini di karenakan potensi SMEs untuk meraih keuntungan sejalan dengan bidang pariwisata yang di nilai semakin potensial. Salah satu SMEs yang mengalami perkembangan adalah usaha homestay. Homestay adalah tempat penginapan atau peristirahatan sementara yang akan di gunakan bagi para wisatawan yang berlibur ke suatu kawasan wisata. Homestay juga merupakan salah satu akomodasi yang saat ini semakin menarik wisatawan asing maupun domestik. Tempat penginapan sejenis homestay ini banyak di minati karena selain menyajikan keunikan dari budaya negara tersebut, juga memiliki harga sewa yang jauh lebih terjangkau di bandingkan dengan hotel-hotel mewah.

Dalam pengembangannya usaha homestay ini tidak hanya di jalankan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar daerah wisata. Tidak dapat di pungkiri bahwa usaha homestay turut menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar

(3)

3 daerah wisata. Hal ini yang di rasakan oleh masyarakat Bali dan juga Phuket. Meskipun hanya berskala kecil dan menengah, usaha homestay tersebut mampu menjadi salah satu faktor pendukung utama performa pariwisata yang ada di kawasan tersebut. Hal ini di sebabkan oleh sifatnya yang langsung menjangkau aktor-aktor pariwisata seperti wisatawan, pekerja-pekerja pariwisata dan komunitas lokal. Namun sayangnya usaha ini seringkali masih di kesampingkan oleh para pembuat kebijakan, misalnya dengan tidak adanya kebijakan yang memadai untuk mendukung perkembangan usaha homestay.

Homestay ini dapat di golongkan ke dalam kategori SMEs atau UKM karena jika di lihat dari karakteristiknya, para pengusaha homestay tidak membutuhkan modal yang besar dan juga pegawai atau staff yang banyak untuk membantu menjalankan bisnis ini. Dalam sebuah pemberitaan surat kabar Kompas, bentuk dukungan pemerintah Indonesia terhadap UKM dalam pengembangan homestay di Bali, dapat di lihat dari salah satu program PNPM Mandiri. Untuk pengembangan desa wisata, Kemenbudpar menggulirkan PNPM Mandiri Desa Wisata. Satu desa mendapat anggaran untuk dua tahun, di mana tahun pertama mendapat sekitar Rp 100 juta dan tahun kedua Rp 150 juta1. Selain itu melalui program usaha ekonomi produktif (UEP), Bali menyerap dana sebesar Rp56,71 miliar. Dana tersebut di berikan selama kurun waktu tujuh tahun terakhir periode 2003-2010. Menurut Kepala Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng, dana tersebut di salurkan kepada 127.985 orang yang terhimpun dalam 16.286 kelompok usaha ekonomi2.

Berbeda halnya dengan Phuket, secara khusus dalam mengembangkan usaha homestay-nya. Pemerintah Thailand telah memiliki badan yang membantu dalam memajukan industri pariwisatanya yakni TAT. Dengan adanya TAT ini secara tidak langsung sangat membantu pengembangan homestay secara lebih terfokus. TAT bahkan telah menerapkan standarisasi usaha homestay agar segala aktivitas perencanaan usaha tersebut dapat terkordinasi dengan baik.

1 Kompas. 2011. Keunikan Desa Wisata Disukai Wisatawan.

<http://lipsus.kompas.com/jalanjalan/read/2011/04/15/10063641/Keunikan.Desa.Wisata.Disukai.Wisatawan> diakses pada 18 februari 2013, jam 10.30 WIB

2 PNPM Mandiri. 2011. PNPM Mandiri UEP di Bali.

<http://www.pnpm- mandiri.org/index.php?option=com_content&view=article&id=187%3Apnpm-mandiri-uep-di-bali-serap-rp5671-miliar&catid=41%3Aberita-daerah&Itemid=66&lang=in> diakses pada 18 Februari 2013, jam 10.20 WIB

(4)

4

C. Rumusan Masalah

Dari abstraksi di atas maka rumusan masalah yang di ajukan adalah Apa peranan pemerintah terhadap industri pariwisata di Bali (Indonesia) dan di Phuket (Thailand) ? serta apa dukungan pemerintah terhadap usaha homestay di Bali (Indonesia) dan juga Phuket (Thailand) ? Untuk menjawab rumusan masalah tersebut penelitian pada skripsi ini akan menjelaskan bagaimana peranan pemerintah setempat dalam mengembangkan pariwisata melalui sektor akomodasi yakni homestay serta bagaimana kondisi dari usaha homestay yang ada di masing-masing destinasi wisata tersebut.

D. Landasan Konseptual

Riset ini memiliki beberapa landasan konseptual yang akan berfungsi sebagai kerangka analisis dalam membatasi fokus masalah. Landasan konseptual yang di gunakan adalah sebagai berikut :

1. Entities in Destination Competitiveness

Daya saing destinasi wisata adalah kemampuan dari aktor-aktor yang ada untuk memaksimalkan seluruh potensi wisata yang ada. Pemanfaatan potensi wisata tersebut juga harus memerhatikan pembangunan turisme jangka panjang, serta beberapa hal lainnya. Ritchie dan Crouch (2003) memberikan penjelasan penting mengenai hal-hal yang harus di perhatikan suatu destinasi wisata dalam membangun daya saing, yakni: „has a tourism vision, shares this vision among stakeholders, understands its strengths as well as its weaknesses, develops an appropriate marketing strategy and implements it successfully‟. Eleri Jones dan Claire Haven-Tang (2005) memberikan gambaran mengenai konsep daya saing destinasi wisata sebagai berikut:

(5)

5 sumber : Jones, Eleri dan Claire Haven-Tang. 2005. Tourism SMEs, Service Quality, and

Destination Competitiveness. Oxfordshire: CABI Publishing. p. 3.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat di katakan bahwa daya saing destinasi wisata membutuhkan sinergi antara seluru stakeholder pariwisata yang ada dalam destinasi tersebut. Baik di level pemerintah maupun di level swasta, bahkan hingga ke unit usaha kecil-menengah sekalipun. Sinergi ini juga tidak hanya terjadi di level implementasi, namun juga menyangkut aspek-aspek strategi pengembangan dan perencanaan. Konsep ini akan di gunakan sebagai bahan analisis dalam menilai pengelolaan homestay sebagai bagian dari pembangunan daya saing destinasi wisata di Phuket dan Bali. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana strategi pemerintah setempat dalam mengembangkan usaha homestay, bagaimana kondisi dari usaha homestay yang ada di masing-masing destinasi wisata, dan bagaimana hubungan dari seluruh sinergi dalam pengelolaan homestay mempengaruhi tingkat daya saing dari destinasi wisata di Phuket dan Bali.

2. Strategi Kebijakan Publik

Menurut James Elliot di butuhkan 3 strategi agar dapat mengelola sektor pariwisata dalam suatu negara, yakni :

a. Fondasi hukum yang komprehensif

Merupakan salah satu bentuk strategi kebijakan publik yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah dan dapat menjadi sarana akomodatif untuk dapat merangkul kinerja berkesinambungan antara pihak swasta dan pemerintah. Kebijakan publik ini bisa terdiri dari aturan mengenai peningkatan industri pariwisata, peningkatan pelayanan publik, aturan-aturan terkait kerjasama dengan pihak swasta dan investor, dan aturan-aturan tentang pelayanan publik. Di Indonesia terdapat peraturan yang menjelaskan tentang adanya pelayanan publik yakni di dalam UU Nomor 25 tahun 2009.3 Dalam UU tersebut setiap Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif harus menyusun standar pelayanan publik dengan memperhatikan kemampuan penyelenggara, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan dalam melayani pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait bidang dan keilmuan pariwisata. Penyusunan Standar Pelayanan Publik ini wajib mengikutsertakan masyarakat dan pihak terkait.

3

Undang-undang Republik Indonesia no.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

<http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/regulasi/uu/UU_No_25_th_2009.pdf> diakses pada 30 Mei 2013, jam 11.33 WIB

(6)

6 Di Thailand, pemerintah membentuk Minister of Tourism and Sports (MOTS). Di dalam MOTS terdapat dinas pengembangan pariwisata yang memiliki tugas dan tanggung jawab pada pengembangan standar pelayanan di bidang pariwisata yang menjadi landasan dasar dalam sektor pariwisata termasuk di dalamnya dukungan terhadap para pelaku bisnis tour dan pemandu wisata, dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial dan budaya dan pariwisata yang berkelanjutan.4 Peranan dari dinas ini untuk menetapan rencana pengembangan jasa pariwisata termasuk mempromosikan dan mendukung pelaksanaan rencana, untuk memantau dan menidak lanjuti kinerja pengembangan, dan untuk mempelajari, menganalisis, meneliti dan mengkompilasi data statistik tentang pedoman pengembangan pariwisata sesuai dengan kebijakan pariwisata nasional yang terencana.

b. Strategi Desentralisasi

Artinya bahwa industri pariwisata suatu negara tidak tersentralisir kepengurusannya oleh pemerintah pusat saja namun pemerintah daerah, begitu pula dengan stakeholder, dan organisasi pariwisata juga di libatkan aktif dalam industri pariwisata.

Desentralisasi merupakan era baru dalam pembangunan Indonesia. Sistem ini memberikan otoritas kepada pemerintah daerah untuk dapat mengembangakan sektor pariwisatanya di daerah masing-masing. Adanya otonomi daerah secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi industri pariwisata untuk dapat di kelola oleh daerah masing-masing berdasarkan etimasi dan kalkulasi kapabilitas, potensi dan kompetensi daerah yang lebih tepat sasaran. Hal ini sesuai dengan ketetapan peraturan pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antar pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota.5 Secara struktural, di Indonesia pemerintah memiliki Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparekraf) yang memegang peranan penting dalam sektor pariwisata. Di bawah Kemenparekraf terdapat dinas-dinas pariwisata di tiap daerah di Indonesia yang bertanggung jawab kepada kemenparekraf dalam hal pemantauan perkembanagan wisata di daerah terkait, dengan alur pelaporan ke pemerintah daerah dan selanjutnya di arahkan ke pemerintah pusat. Dinas pariwisata di tiap daerah ini berfungsi sebagai

4 Task of the office of tourism development

<http://www.mots.go.th/ewt_news.php?nid=729&filename=index___EN> diakses pada 26 mei 2013, jam 11.37 WIB

5 PP_NO_38_2007 <http://kppo.bappenas.go.id/legislation/pp-no38-tahun-2007> diakses pada 20 Juni 2013, jam

(7)

7 master plan pemerintah pusat dan berkewajiban mengelola sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan publik secara efektif, transparan dan berkesinambungan serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan publik budaya dan pariwisata.6 Selain itu badan pariwisata di tiap daerah juga memberikan prosedur yang memudahkan pihak swasta untuk dapat mengembangkan industri pariwisata di setiap daerah.

Di dalam sektor industri pariwisata, pemerintah Thailand telah melakukan studi perencanaan terhadap sektor pariwisatanya dengan di dasarkan pada sistem ekonomi campuran yang di anut oleh negaranya. Sistem ekonomi campuran sendiri dapat di jelaskan sebagai sistem yang menunjukkan sebuah hubungan kesinambungan antara peran pemerintah dengan peran pihak swasta. Sehingga, terdapat pembagian tugas dalam studi perencanaan sektor pariwisata di Thailand, dimana pemerintah lebih berperan dalam penyediaan infrastruktur dan berbagai wewenang untuk membuat regulasi, bersama dengan badan-badan pariwisata lainya seperti Tourism Authority of Thailand (TAT), sedangkan masalah-masalah lainnya di serahkan sepenuhnya kepada pihak swasta.

c. Strategi Pengembangan

Strategi pengembangan mencakup pembenahan dan peningkatan sarana dan prasana obyek wisata, pembenahan sektor publik, peningkatan kerjasama dengan investor dan sektor swasta dengan tetap melihat pada aturan-aturan yang telah di buat, peningkatan acara-acara beragendakan promosi wisata yang bisa mencakup dan menggabungkan industri pariwisata baik dalam kepengurusan pihak privat maupun pemerintah, kampanye masyarakat yang sadar pariwisata dan peningkatan SDM kepariwisataan, serta promosi dan pemasaran pariwisata melalui pengembangan jaringan.

Indonesia sebagai negara yang demokratis membuka selebar-lebarnya kesempatan pariwisata bagi turis domestik maupun internasional untuk datang ke tempat-tempat wisata yang ada. Untuk meningkatkan sektor pariwisata pemerintah melakukan berbagai usaha, tidak hanya sekedar memperbaiki infrastruktur yang ada tetapi juga melakukan promosi yang intensif. Promosi pariwisata di lakukan dengan berbagai cara yakni dengan pemasangan iklan dan juga Meeting-Incentive-Conference-Exhibition (MICE). MICE merupakan konferensi internasional yang telah banyak di adakan oleh pemerintah Indonesia. MICE tentunya di dukung oleh ideologi

6 Satriya Nugraha, SP, Pelayanan Publik Pariwsiata dan Ekonomi Kreatif

<http://birokrasi.kompasiana.com/2012/03/24/pelayanan-publik-pariwisata-dan-ekonomi-kreatif-berkelas-dunia-444555.html> diakses pada 2 Juni 2013, jam 10.37 WIB

(8)

8 bangsa yaitu Ideologi Pancasila. Ideologi yang di anut oleh Indonesia merupakan bentuk ideologi terbuka yang senantiasa mampu berinteraksi secara dinamis. Nilai-nilai Pancasila tidak berubah, namun pelaksanaannya tetap di sesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang selalu akan di hadapi dalam setiap kurun waktu. Kini keadaan global menuntut untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara lain, sehingga Indonesia dapat fleksibel dan mengikuti perkembangan keadaan global ini. MICE merupakan perwujudan dari adanya hal ini, disamping itu pada akhirnya MICE juga dapat menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Indonesia khususnya dalam sektor pariwisata.

Pemerintah Thailand melalui badan TAT meluncurkan program/semboyan “Amazing Thailand” yang menyertakan peran dari komunitas kecil yang memiliki potensi wisata besar, terutama Phuket. Strategi perkembangan yang di jalankan Thailand juga terlihat dari misi TAT yakni bekerja untuk menjual atau mempromosikan pariwisata Thailand secara terprogram dan terencana melalui promosi dan membangun kerjasama yang saling menguntungkan dengan kalangan industri pariwisata di negara-negara yang memiliki kantor perwakilan TAT. Dalam melakukan promosinya TAT melakukan kampanye iklan yang komprehensif melalui media cetak, siaran-siaran TV serta melaui media internet.

E. Argumentasi Utama

Peranan pemerintah bagi sektor pariwisata sangat penting guna mendukung perkembangan dan keberlangsungan pariwisata. Di Indonesia dan Thailand pemerintah sama-sama memiliki otoritas dalam membuat peraturan maupun mengeluarkan kebijakan yang terkait dalam bidang pariwisata. Dukungan yang di berikan pemerintah juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan sebuah destinasi wisata. Pemerintah Indonesia sudah merasa mendukung perkembangan homestay di Bali namun di dalam implementasinya masih kurang tepat sasaran karena masih terdapat beberapa peraturan yang belum secara jelas mendukung usaha homestay. Di Thailand pemerintah berusaha selalu mendukung perkembangan homestay dengan cara membuat standarisasi terkait homestay sehingga perkembang homestay di Phuket jauh lebih baik.

(9)

9

F. Jangkauan Penelitian

Penulisan skripsi ini akan mencakup mengenai peranan pemerintah Indonesia dan Thailand terhadap sektor pariwisata yang mempengaruhi tingkat dukungan pemerintah terhadap SMEs khususnya bagi usaha homestay yang ada di Bali dan Phuket. Dan juga akan menjelaskan sejarah dan kondisi umum pariwisata yang ada di Bali (Indonesia) dan juga Phuket (Thailand).

G. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian mengenai dukungan pemerintah terhadap usaha homestay yang berada di Bali dan Phuket, peneliti akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam menggunakan metode kualitatif, peneliti akan melakukan penelitian dalam tiga tahapan utama, yaitu: (1) Pengumpulan Data (Data Collecting); (2) Pengolahan Data (Data Analysis); dan (3) Laporan Penulisan (Report Writing).

Pertama, pada tahap awal pengumpulan data yang harus dilakukan adalah menetapkan batasan parameter data yang dikoleksi. Ide dari penulisan kualitatif adalah dengan sengaja menyeleksi informasi yang diperoleh dari data sekunder. Pengumpulan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini akan memanfaatkan berbagai buku, jurnal, serta artikel-artikel baik yang berasal dari media massa baik cetak maupun internet mengenai homestay yang berada di Phuket maupun Bali.

Selanjutnya adalah tahap pengolahan data (analisa). Pada tahap ini, informasi di kelompokkan menjadi kategori dan di format menjadi sebuah deskripsi, kemudian di terjemahkan ke dalam bentuk tulisan ilmiah atau laporan penulisan.

H. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari lima bab, berikut ini adalah isi dari masing- masing bab tersebut:

Bab I: Pendahuluan

Pada Bab ini akan menguraikan alasan pemilihan judul, latar belakang, rumusan masalah, landasan konseptual, argumentasi utama, jangkauan penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan.

(10)

10 BAB II: Sejarah dan kondisi umum pariwisata serta perkembangan usaha homestay di Bali (Indonesia) dan Phuket (Thailand)

Pada bab kedua ini akan menjelaskan tentang sejarah dan kondisi umum pariwisata yang ada di Bali dan Phuket serta perkembangan dan pengelolaan usaha homestay yang menjadi faktor pendukung utama performa pariwisatanya.

Bab III: Peranan pemerintah Bali (Indonesia) dan Phuket (Thailand) dalam usaha pengembangan industri pariwisata.

Pada bab ketiga akan di jelaskan tentang peranan dari pemerintah Indonesia dan Thailand serta lembaga-lembaga yang terkait dalam sektor pariwisata dalam membantu usaha pengembangan industry pariwisata yang ada di Bali dan Phuket.

Bab IV: Dukungan Pemerintah Bali (Indonesia) dan Pemerintah Phuket (Thailand) dalam usaha pengembangan homestay.

Bab keempat ini akan menjelaskan bentuk dukungan dari pemerintah Indonesia dan juga Thailand terkait industri pariwisatanya yang mencangkup strategi-strategi dalam mengembangkan usaha homestay di Bali dan Phuket. Serta akan di jelaskan dalam sebuah tabel terkait perbandingan usaha homestay yang ada di Bali dan Phuket.

Bab V: Kesimpulan

Bab ini akan mengakhiri susunan skripsi ini, dengan di uraikannya kesimpulan. Selain itu juga akan memberikan rekomendasi atau saran sebagai masukan.

Referensi

Dokumen terkait

Pajak penghasilan terkait pos-pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi 0. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang

Pewarnaan untuk opening dibuat dengan kesan cinematic agar lebih masuk ke dalam suasana Film Dokumenter Sampah Visual, dan untuk pewarnaan isi Film Dokumenter Sampah

Di saat monarki-monarki lain tidak mengacuhkan perkembangan paham demokrasi dari kaum republikan dan gerakan-gerakan revolusi, dinasti Windsor di Inggris mampu membaca

Ini bisa berupa peristiwa yang terjadi akibat aksi perorangan, seperti yang ditunjukkan pada vaksinasi atau keikutsertaan (partisipasi politik) dalam pemilihan

interval titik dan ef sama dengan batas bawah interval tersebut (yang sama dengan batas atas untuk interval titik), jumlah kelas instance tersebut (ef) pada interval i ditambah

Panti ehabilitasi, walaupun 8ic sudah bosan itu harus dilakukan, kalau Panti ehabilitasi, walaupun 8ic sudah bosan itu harus dilakukan, kalau memang ia mau menghentikan

 Statif : terbuat dari besi atau baja yang berfungsi untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan peralatan gelas lainnya pada saat digunakan...  Klem bosshead : terbuat

Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta