BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Skripsi ini akan membahas mengenai kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam mengelola industri baja akibat dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Dimana perang dagang merupakan sebuah strategi suatu negara dalam membatasi impor dan memperluas ekspor. Tentunya hal ini akan membuat negara-negara berkembang khususnya Indonesia akan dibanjiri produk-produk dari China maupun Amerika Serikat. (Rasyidah, 2019).
Sejak Maret 2018, Amerika Serikat dan China memulai sengketa dagangnya hingga menjadi topik perbincangan hampir di seluruh negara bagian. Amerika Serikat telah membuat kebijakan proteksi dengan menaikkan tarif impor kepada China sebanyak 25 persen untuk industri baja China. Impor baja yang berasal dari China dianggap telah merugikan produsen dalam negeri dan juga mempengaruhi defisit perdagangan Amerika Serikat. Selain itu, Amerika Serikat juga memberlakukan hambatan non tarif berupa standarisasi produk, kebersihan produk, dan anti dumping.
Untuk membalas tekanan tarif dari Amerika Serikat, China membalas dengan pemberian tarif impor sebesar 15-25 persen kepada 128 produk Amerika Serikat. (Cahyani, 2019; Ulfah, 2019; Sebayang, 2018).
Indonesia merupakan salah satu negara yang melakukan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat dan China, kesepakatan kerjasama perdagangan antara kedua negara ini direalisasikan melalui kegiatan ekspor dan impor.
Ada banyak potensi Indonesia yang dapat di ekspor kepada
Amerika Serikat dan China seperti komoditas kelapa sawit, besi, baja, alumunium, dan masih banyak lagi. (Putri &
Suhandak, 2019).
Industri baja merupakan salah satu prioritas Indonesia yang sedang dikembangkan sejak tahun 2017. Sektor ini dianggap sebagai mother of industry karena produk baja merupakan bahan baku utama dalam kegiatan sektor industri lainnya. Pertumbuhan ekonomi nasional merupakan pertanda baik bagi perkembangan baja Indonesia. Sejalan dengan peningkatan konsumsi domestik, pertumbuhan ekonomi negara dapat tetap terjaga apabila dijalankan dengan tata niaga ekspor-impor yang baik. (RI K. , 2017).
Sejak ditetapkannya tarif impor baja kepada China, produksi baja China menjadi tertimbun dan tentunya menghambat laju perdagangan China. Sehingga China mengambil alternatif baru dengan mengimpor produksi bajanya kepada negara lain dengan harga yang lebih murah dari harga pasar pada umumnya. Salah satu tujuan impor China adalah Indonesia, karena Indonesia sedang membangun berbagai infrastruktur di dalam negerinya sehingga membutuhkan konsumsi baja yang cukup banyak. (Thomas, 2019).
Ketua The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim telah mengingatkan pemerintah bahwa industri besi dan baja nasional tengah menderita akibat derasnya barang impor yang masuk ke Indonesia. Selain itu, membesarnya jumlah impor diikuti dengan permainan curang importir (China). Tingginya volume impor baja menjadi penyebab defisit neraca perdagangan bagi Indonesia. Di tahun 2018 defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai 8,57 miliar dollar AS, artinya sekitar 6,54 % dari seluruh kelompok nonmigas berasal dari impor baja. (Hidayat, 2018; Thomas, 2019).
Dalam hal ini, pemerintah Indonesia akan meneliti dan mengantisipasi dampak perang dagang antara Amerika
Serikat dan China. Evaluasi dilakukan enam bulan pertama sejak pasca dimulainya perang dagang oleh Amerika Serikat tepatnya pada Maret 2018. Pemerintah akan berusaha untuk membuat, memperbaiki, dan memperketat beberapa kebijakan baru demi melindungi baja nasional agar mampu bersaing dengan negara-negara lainnya. (Sutrisno & dkk, 2018).
Berdasarkan pembahasan di atas, peneliti akan membahas mengenai bagaimana kebijakan Indonesia dalam mengelola industri baja akibat perang dagang Amerika Serikat-China.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kebijakan Indonesia dalam mengelola industri baja akibat perang dagang Amerika Serikat-China?”
C. Kerangka Teori
Penelitian ini akan menggunakan teori Dumping dan teori Diplomasi Ekonomi untuk memudahkan dalam menjawab rumusan masalah di atas.
1. Teori Dumping
Untuk mempermudah penulis dalam menemukan jawaban penelitian, maka diperlukan suatu landasan konseptual untuk memperkuat sebuah analisa. Istilah dumping dalam perdagangan internasional terdapat pada aturan yang ditetapkan oleh The General Agrrement on Tarrif and Trade (GATT), GATT mengartikan bahwa dumping merupakan keadaan suatu produk yang dimasukkan ke dalam pasar negara lain dengan harga lebih rendah dari harga semestinya.
Praktek dumping ini dianggap sebagai praktek perdagangan yang menggunakan kecurangan di dalamnya karena telah
mengakibatkan kerugian terhadap produsen produk lainnya serta mengacaukan sistem pasar internasional. (Anggraeni, 2015).
Menurut H. Jackson, tidak semua dumping menyebabkan kerugian negara pengimpor dan menguntungkan negara, ada juga dumping yang dapat merugikan produsen serta menguntungkan konsumen karena dapat membeli barang yang lebih murah harganya. Dalam pasal VI ayat 1 GATT 1947 memberikan kriteria bahwa dumping yang dapat menimbulkan kerugian materil, baik terhadap industri yang sudah berdiri maupun menimbulkan hambatan pada pendirian industri domestik harus diselidiki dan dibuktikan secara objektif. (Budi, 2012).
Para ahli ekonomi telah mengklasifikasikan dumping menjadi tiga kategori, antara lain;
1. Dumping yang bersifat Sporadis (Sporadic) Dumping sporadis adalah kegiatan menjual barang ke luar negeri dengan waktu yang pendek. Tujuan dumping sporadic adalah untuk mencegah menumpuknya barang di pasar domestik sehingga menjual produknya ke negara lain dengan harga yang lebih murah.
2. Dumping yang bersifat Menetap (Presistent) Dumping yang dilakukan secara terus-menerus dan sifatnya menetap. Dumping menetap melakukan penjualan produk di pasar luar negeri dengan harga dibawah harga domestik.
3. Dumping yang bersifat Merusak (Predatory) Dumping predatory akan terjadi ketika suatu perusahaan membuat sebuah diskriminasi dengan harga tertentu sehubungan dengan adanya para pembeli dari pihak asing. Diskriminasi harga dilakukan agar dapat menyingkirkan para pesaingnya dan jika pesaingnya sudah
tidak ada maka harga akan kembali normal bahkan dapat dinaikan. (Anggraeni, 2015).
Untuk membantu menjawab dalam menganalisa kebijakan dumping China, penulis akan menggunakan Dumping Sporadic. Semenjak Amerika Serikat mengeluarkan tarif impor terhadap baja China sebesar 25 persen, produksi baja China menjadi tertimbun dan menyebabkan pengalihan impor baja terhadap negara-negara lainnya. Salah satu tujuan pengalihan impor China adalah Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang sedang giat-giatnya membangun infrastruktur negara sehingga memerlukan banyak konsumsi baja.
Seperti makna dari dumping sporadic, penurunan harga yang dilakukan China ini hanya berlangsung secara singkat karena untuk menutup kerugian akibat dampak dari tarif yang diberikan Amerika Serikat. Melonjaknya impor baja membuat Indonesia mengalami kerugian dalam negaranya.
Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi praktik dumping China adalah dengan melakukan penyelidikan bersama lembaga Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk memperoleh bukti apakah barang impor telah terindikasi melakukan dumping sehingga merugikan industri domestik atau tidak. Jika terbukti melakukan dumping maka pemerintah melalui KADI dapat memberikan bea masuk anti dumping kepada pengimpor.
(Sood, 2011).
Jadi, untuk melindungi produk dalam negeri agar tidak diserbu impor dari negara lain, Pemerintah harus terus menegakan hukumnya baik secara preventif seperti sosialisasi peraturan dan pengkajian ulang izin impor, maupun secara represif melalui penerapan saksi berupa pembebanan bea masuk anti dumping terhadap para pengimpor yang telah melakukan kecurangan. (Sood, 2011).
2. Diplomasi Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan dalam pembangunan perekonomian, setiap negara harus bekerjasama dengan negara lain untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Seandainya dengan melakukan kegiatan impor suatu negara lebih diuntungkan daripada memproduksi sendiri, maka terjadilah hubungan perdagangan Internasional yang berproses berdasarkan konsep comparative advantage dan competitive advantage. Atas dasar inilah kaum liberal mempromosikan perdagangan bebas (free trade) dengan mengurangi atau bahkan meniadakan tarrif and non-tarrief barriers antar negara.
Untuk melengkapi analisa dalam menjawab rumusan masalah diatas, penulis akan menghubungkannya dengan teori diplomasi ekonomi. Diplomasi ekonomi adalah suatu bentuk diplomasi yang menggunakan instrumen ekonomi dalam mencapai tujuan dan kepentingan negara. Diplomasi ekonomi berkaitan dengan pengelolaan hubungan luar negeri dalam bidang ekonomi yang mencakup, namun tidak terbatas pada kegiatan ekspor dan impor, pinjaman bantuan luar negeri, perdagangan Internasional, dan investasi.
Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan diplomasi ekonominya melalui perdagangan Internasional dalam kegiatan ekspor yang diharapkan mampu melampaui negara-negara ASEAN lainnya dengan menggunakan economic size yang lebih kecil. Namun kenyataannya Indonesia masih jauh tertinggal dalam volume perdagangan Internasional dan pertumbuhan ekonominya. Terlebih dengan adanya rencana China yang akan menargetkan Indonesia menjadi tujuan impor bajanya, maka secara tidak langsung produksi baja Indonesia akan terhambat dan malah terbanjiri oleh produk-produk baja China. (Jemadu & dkk, 2015).
Ada beberapa faktor penting dalam meningkatkan kinerja diplomasi ekonomi baik melalui perdagangan maupun
investasi. Faktor yang pertama adalah relative economic power. World Trade Organization (WTO) merupakan satu- satunya organisasi Internasional yang mengatur tentang perdagangan Internasional, besaran kekuatan ekonomi negara-negara anggota pastinya berbeda mulai dari negara industri maju, industri berkembang, dan lain-lain. Faktor ini yang akan menentukan bargaining power pada masing- masing anggota dengan kepentingan yang berbeda-beda, sehingga untuk memenangkan suatu perundingan diperlukan pembentukan kelompok berdasarkan persamaan kepentingan.
Negara harus benar-benar memahami kepentingan nasionalnya yang dijadikan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menghadapi negosiasi dalam forum multilateral. Dalam kasus ini, jika pengalihan ekspor China terjadi maka laju perdagangan menjadi tidak adil. Untuk mengatasinya diperlukan penegakkan aturan peningkatan penggunaan produksi (P3P) dalam negeri dan prasyarat tingkat komponen dalam negeri. Sekretaris Jendral Kementrian Perindustrian juga akan membentuk aturan baru mengenai tindakan pengamanan yang sesuai pada acuan World Trade Organization (WTO). (Jemadu & dkk, 2015;
Cicilia, 2018).
Faktor yang kedua adalah kondisi pasar atau markets.
Gejolak pasar uang global sangat memengaruhi kebijaksanaan fiskal dan moneter suatu negara. Bagaimana suatu negara mengurangi dampak negatif dari gejolak yang ada di pasar uang sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi negara serta kredibilitasnya di mata negara-negara donor dan investor asing. Dalam menanggapi rencana licik China, Kemenko Perekonomian Airlangga Hartarto akan menyusun program kebijakan jangka menengah untuk mendorong kegiatan ekspor Indonesia, seperti; penguatan struktur industri berorientasi ekspor, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang ekspor, pemberian fasilitas pembiayaan ekspor, dan dalam diversifikasi pasar non-tradisional pemerintah akan berupaya melakukan penetrasi pasar ke
kawasan Asia Tengah, Asia Selatan, dan Amerika Serikat.
(Jemadu & dkk, 2015; Fau, 2018).
Faktor ketiga yang memengaruhi diplomasi ekonomi terkait perdagangan adalah persaingan kepentingan dalam negeri. Dalam kondisi ini pemerintah harus mengakomodasi semua kepentingan kelembagaan dari birokrasi pemerintahan serta mensinergikan kepentingan negara dan swasta. Sehingga pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan luar negeri yang bertujuan untuk meningkatkan diplomasi ekonomi Indonesia demi kepentingan Nasional dengan cara mewajibkan seluruh jajaran misi diplomatik Indonesia di luar negeri untuk mengimplementasikan prioritas kebijakannya demi menunjang pencapaian kepentingan nasional dalam bidang ekonomi. Dengan begitu, investasi di negara kita akan semakin meningkat dan di saat yang sama pasar ekspor produk-produk Indonesia dapat bertambah luas serta transaksi perdagangan Indonesia dapat meningkat secara signifikan.
(Jemadu & dkk, 2015; Rieuwpassa, 2017).
D. Hipotesa
Sesuai dengan latar belakang masalah, rumusan masalah, serta kerangka teori dapat diambil sebuah hipotesa, sebagai berikut;
“Kebijakan Indonesia dalam mengelola industri bajanya akibat impor baja China yang masuk secara berlebihan. Dalam hal ini pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan strategi dengan menggunakan trade remedies dan juga melakukan pengetatan saat impor baja masuk ke wilayah Bea Cukai Indonesia.”
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti, yaitu:
1. Mengetahui dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China, dimana China harus menimbun produksi bajanya akibat tarif impor dari Amerika Serikat.
2. Mengidentifikasi dampak yang terjadi ketika Indonesia mulai dibanjiri oleh derasnya impor baja yang berasal dari China.
3. Menganalisa strategi dan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam mengembalikan kejayaan industri baja nasional.
F. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan penelitian kualitatif, dimana data diperoleh dengan cara mengumpulkan informasi data sedetail mungkin melalui berbagai sumber yang terpercaya, dan memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. (Sugianto, 2020).
2. Sumber Penelitian
Sumber penelitian berasal dari data yang diperoleh melalui berbagai sumber tertulis, antara lain:
❖ Jurnal, Skripsi, dan Artikel Ilmiah
❖ Media Internet 3. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisa induktif atau dengan menggunakan analisis data kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dikelola, dipilih, dan kemudian di analisa untuk menentukan hasil akhirnya. Bersifat deskriptif karena penelitian ini akan menjelaskan mengenai penyebab, upaya, serta dampak terjadinya suatu peristiwa.
G. Jangkauan Penelitian
Penulisan penelitian ini diambil sejak dimulainya penerapan tarif dagang yang di keluarkan oleh Amerika Serikat kepada China di tahun 2018. Munculnya kebijakan baru Amerika Serikat menyebabkan China kehilangan pasar rivalnya. Agar produksi baja China tidak menimbun, akhirnya China menjual produksi bajanya ke negara-negara lain termasuk Indonesia dengan harga yang lebih murah. Hal ini yang menyebabkan industri baja Indonesia sulit untuk bersaing, dan untuk menanggulangi masalah tersebut pemerintah Indonesia telah mengambil langkah dengan membuat beberapa strategi dan juga kebijakan baru.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi disusun berdasarkan Bab I sampai dengan Bab IV, dengan rincinan sebagai berikut:
a. BAB I atau Bab Pendahuluan akan menyajikan;
latar belakang, rumusan masalah, kerangka teori, hipotesa, tujuan penelitian, metode penilitian, jangkauan penelitian, dan sistematika penulisan.
b. BAB II akan memaparkan kebijakan dagang Amerika Serikat dalam menekan industri baja China dengan mengeluarkan hambatan tarif dan non tarif. Sehingga, produksi baja China menjadi tertimbun dan dialihkan ke negara lain dengan harga yang lebih murah, Indonesia menjadi salah satu tujuan impor China.
c. BAB III membahas tentang dampak melimpahnya impor baja China terhadap industri baja Indonesia, dimana ekspor Indonesia menjadi terhambat karena ditimbun oleh derasnya impor China.
d. BAB IV akan menganalisa mengenai kebijakan Indonesia dalam mengelola industri baja nasional.
e. BAB V yang merupakan kesimpulan.