PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG

25 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 21 TAHUN 2012

TENTANG

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN

KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARIMUN,

Menimbang : a. bahwa Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merupakan kegiatan yang efektif dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan;

b. bahwa untuk kelancaran administrasi dan operasional pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak layak Huni (RTLH) perlu dibuat suatu pedoman sebagai petunjuk teknis pelaksanaannya;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu ditetapkan Peraturan Bupati tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun Tahun 2012;

Mengingat : 1. Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 3469); 2. Undang - Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan

Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3902), yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4880);

3. Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4237);

(2)

2

4. Undang - Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan

Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1981 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3260);

6. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan;

7. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan kedua Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial Yang bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 450);

11. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 84/HUK/1997 tentang Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial bagi Keluarga Fakir Miskin; 12. Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 19/HUK/1998

tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin yang Diselenggarakan oleh Masyarakat;

13. Peraturan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Nomor 1 Tahun 2012 tentang Program Pengentasan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau (Berita Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2012 Nomor 93); 14. Peraturan Bupati Karimun Nomor 8 Tahun 2012 tentang Petunjuk

Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun Tahun 2012 (Berita Daerah Kabupaten Karimun Tahun 2012 Nomor 11);

15. Keputusan Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Program Pengentasan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau;

(3)

3

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Karimun;

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Karimun; 3. Bupati adalah Kepala Daerah Kabupaten Karimun;

4. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian rumah yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan;

5. Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencarian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan, atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetap tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan; 6. Penduduk Miskin adalah penduduk yang sebagaimana ditetapkan

oleh BPS berdasarkan 14 kriteria kemiskinan (kemiskinan mikro) dan atau penduduk yang pengeluaran konsumsinya berada dibawah garis kemiskinan (kemiskinan mikro) dan atau yang ditetapkan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun dan sudah berdomisili di daerah tersebut minimal 5 (lima) tahun;

7. Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) adalah bantuan yang diberikan kepada penduduk miskin yang rumahnya tidak memenuhi standar kelayakan untuk dihuni, dengan maksud agar mereka dapat meningkatkan kehidupan secara wajar.

BAB II

TUJUAN DAN LOKASI Pasal 2

(1) Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin melalui pemberian kesempatan kepada yang bersangkutan untuk melaksanakan rehabilitasi terhadap rumah mereka baik secara perorangan maupun kelompok (gotong royong). Ini sesuai dengan prinsip pemberdayaan masyarakat.

(4)

4

(2) Lokasi pelaksanaan bantuan Rehabilitasi RTLH Kabupaten Karimun adalah rumah penduduk miskin yang berada dalam wilayah Kabupaten Karimun.

(3) Objek dan lokasi kegiatan Rehabilitasi RTLH akan ditetapkan dengan Keputusan Bupati Karimun setelah diverifikasi oleh Tim Survey dan Monitoring yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Bupati.

BAB III PENGANGGARAN

Pasal 3

Anggaran pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun berupa Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) berada di Pos Belanja Hibah pada Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun, sedangkan dana operasional dan Pembinaan Administrasi Program (PAP) berada pada anggaran Dinas Sosial Kabupaten Karimun.

BAB IV

KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 4

(1) Pelaksanaan Rehabilitasi RTLH Kabupaten Karimun mengacu pada Lampiran Peraturan ini yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

(2) Segala biaya yang ditimbulkan sebagai akibat dikeluarkannya Peraturan Bupati ini dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Karimun.

BAB V PENUTUP

Pasal 5

Dengan berlakunya Peraturan Bupati ini maka Peraturan Bupati Nomor 8 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun Tahun Anggaran 2012 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(5)

5 Pasal 6

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Karimun.

Ditetapkan di Tanjung Balai Karimun pada tanggal 15 Juni 2012

BUPATI KARIMUN, ttd.

H. NURDIN BASIRUN

Diundangkan di Tanjung Balai Karimun pada tanggal 15 Juni 2012

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KARIMUN ttd.

H. ANWAR HASYIM

BERITA DAERAH KABUPATEN KARIMUN 2012 NOMOR 28

(6)

6

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala penyusunan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dapat diselesaikan sesuai rencana.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan ini penting sebagai acuan bagi pihak-pihak yang terkait dalam melaksanakan kegiatan yang didanai oleh APBD sebagai bantuan hibah. Sebagai program bantuan yang bersifat hibah diharapkan dapat dipergunakan secara maksimal oleh masyarakat sehingga mampu menjadi lokomotif penggerak program pemberdayaan sosial dalam pengentasan kemiskinan.

Petunjuk teknis ini secara garis besar memuat latar belakang pelaksanaan kegiatan, kriteria sasaran, prinsip pelaksanaan, kelembagaan pengelola, pendanaan, tahapan pelaksanaan dan pelaporan.

Melalui petunjuk teknis ini diharapkan setiap pihak dapat mengetahui serta memahami posisi, tugas dan fungsinya dengan baik, sehingga tujuan dari kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni dapat tercapai.

Kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga tersusunnya petunjuk teknis pelaksanaan ini diucapkan terima kasih.

Tanjung Balai Karimun, 15 Juni 2012 BUPATI KARIMUN

ttd.

(7)

7

LAMPIRAN I :

PERATURAN BUPATI KARIMUN

NOMOR 21 TAHUN 2012

TENTANG PETUNJUK TEKNIS

PELAKSANAAN KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012

I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Kabupaten Karimun merupakan sebuah kabupaten kepulauan yang terdiri dari pulau besar dan kecil dengan jumlah 249 buah pulau. Luas wilayah Kabupaten Karimun secara keseluruhan kurang lebih seluas 7.984 km2. Jarak dari Kabupaten Karimun ke Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau 63 mil.

Wilayah Kabupaten Karimun berbatasan :

1. Utara : Semenanjung Malaysia dan Singapura 2. Selatan : Kabupaten Bintan dan Indragiri Hilir 3. Barat : Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan 4. Timur : Kota Batam dan Kabupaten Bintan

Wilayah Kabupaten Karimun berada diantara Kota Batam, Singapura, Malaysia, Kabupaten Bintan dan Riau, sehingga sangat strategis terutama untuk berbagai kegiatan perekonomian.

Kabupaten Karimun terdiri dari 9 Kecamatan yaitu : Kecamatan Moro, Kecamatan Durai, Kecamatan Kundur, Kecamatan Karimun, Kecamatan Kundur Utara, Kecamatan Kundur Barat, Kecamatan Buru, Kecamatan Meral, dan Kecamatan Tebing. Dan Jumlah Desa dan Kelurahan secara keseluruhan berjumlah 54 buah. Lokasi desa-desa yang berada di sebagian besar menyebar di pulau-pulau juga menjadi suatu hambatan dalam percepatan pembangunan, karena sarana dan prasarana penunjang perekonomian masyarakat masih kurang memadai. Kondisi tersebut mengakibatkan perekonomian masyarakat kurang maju serta hubungan antar kelurahan/desa dan kecamatan kurang lancar. Kemiskinan menyebabkan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar bagi diri dan keluarganya yang mencakup kebutuhan fisik, mental, dan sosial. Dengan tidak terpenuhi kebutuhan dasar manusia akan berimplikasi pada keterlantaran anggota keluarga dan ketunaan sosial. Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap orang.

Rumah memiliki fungsi yang sangat besar bagi individu dan keluarga tidak saja mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan sosial. Untuk menunjang fungsi rumah sebagai tempat tinggal yang baik maka harus dipenuhi syarat fisik yaitu aman sebagai tempat berlindung, secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga, menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta pendidikan keluarga. Dengan terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni, diharapkan tercapai ketahanan keluarga.

Pada kenyataannya, untuk mewujudkan rumah yang memenuhi persyaratan tersebut bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian besar masyarakat yang tergolong keluarga fakir miskin, rumah hanyalah sebagai stasiun atau tempat singgah keluarga tanpa memperhitungkan kelayakannya dilihat dari sisi fisik,

(8)

8

mental dan sosial. Ketidakberdayaan masyarakat memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni berbanding lurus dengan pendapatan dan pengetahuan tentang fungsi rumah itu sendiri.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Karimun melaksanakan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak huni.

1.2. TUJUAN

1. Arah Tujuan Penyusunan Petunjuk Teknis.

a. Tersedianya acuan operasional pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

b. Tercapainya kesamaan pemahaman dan arah dalam pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

2. Tujuan khusus kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni meliputi:

a. Tersedianya pelayanan perumahan yang layak huni bagi penduduk miskin. b. Adanya kenyamanan bertempat tinggal.

c. Meningkatkan harkat dan martabat penduduk miskin.

d. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam melaksanakan peran dan fungsi keluarga untuk memberikan perlindungan, bimbingan dan pendidikan. e. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan permukiman penduduk

miskin.

f. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 1.3. SASARAN

Kegiatan Rehabilitasi RTLH Kabupaten Karimun diarahkan kepada penduduk miskin yang memiliki rumah tidak layak huni dan bertempat tinggal di Kabupaten Karimun minimal sudah 5 (lima) tahun.

1.4. LANDASAN HUKUM

1. Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 3469);

2. Undang – Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3902), yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang -Undang nomor 34 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang -Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4880);

3. Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4237);

4. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) Sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

(9)

9

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884);

6. Undang - Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7. Undang - Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1981 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3260); 9. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi

Penanggulangan Kemiskinan;

10. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan;

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan kedua Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial Yang bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 450);

14. Keputusan Menteri Sosial Nomor 84/HUK/1997 tentang Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial bagi Keluarga Fakir Miskin;

15. Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Program Pengentasan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau (Berita Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2012 Nomor 93);

16. Peraturan Bupati Karimun Nomor 8 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kabupaten Karimun Tahun 2012 (Berita Daerah Kabupaten Karimun Tahun 2012 Nomor 11);

17. Keputusan Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Program Pengentasan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau.

1.5. PENGERTIAN

a. Miskin adalah orang, keluarga atau kelompok masyarakat yang tidak mempunyai dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusian.

b. Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan.

c. Penduduk Miskin adalah penduduk yang sebagaimana ditetapkan oleh BPS berdasarkan 14 kriteria kemiskinan (kemiskinan mikro) dan atau penduduk yang pengeluaran konsumsinya berada dibawah garis kemiskinan (kemiskinan makro) dan atau ditetapkan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun dan sudah berdomisili di daerah tersebut minimal 5 (lima) tahun.

(10)

10

d. Rumah Tidak Layak Huni adalah tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan, keamanan dan sosial.

e. Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni adalah upaya memperbaiki kondisi rumah sebahagian (pemugaran/renovasi) maupun secara menyeluruh (peremajaan/bangun baru) pada lokasi yang sama atau lokasi lain berdekatan dengan ketentuan diharuskan membongkar bangunan lama, sehingga tercipta kondisi rumah yang layak sebagai tempat tinggal.

f. Kelompok Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rehabilitasi RTLH) adalah Kelompok KK penerima bantuan Rehabilitasi RTLH yang terdiri kepala keluarga miskin yang berdekatan tempat tinggal dengan jumlah anggota antara 5 (lima) sampai dengan 10 (sepuluh) Kepala Keluarga (KK), merupakan salah satu pendekatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni agar masing-masing anggota dapat saling membantu, berbagi sumber daya sehingga tujuan program pemberdayaan fakir miskin dapat tercapai.

g. Pendamping adalah seseorang yang diberi tugas untuk melaksanakan pendampingan/membantu kelompok penerima bantuan dalam menyelesaikan kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni.

(11)

11 II. KRITERIA SASARAN

2.1. KRITERIA KEPALA KELUARGA PENERIMA BANTUAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH)

a. Memiliki KTP/identitas diri yang berlaku.

b. Kepala Keluarga/anggota Keluarga tidak mempunyai sumber mata pencaharian atau mempunyai pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (memperoleh upah dibawah UMR).

c. Kehidupan sehari-hari masih memerlukan bantuan pangan untuk penduduk miskin seperti zakat dan raskin.

d. Tidak memiliki asset lain apabila dijual tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup anggota keluarga selama 3 (tiga) bulan kecuali tanah dan rumah yang ditempati.

e. Memiliki rumah milik pribadi diatas tanah milik sendiri yang dibuktikan dengan sertifikat atau Sporadik atau surat keterangan kepemilikan atas status tanah dari kelurahan/desa diketahui oleh Camat atau Surat Pernyataan yang bersangkutan diketahui RT, RW dan Lurah/Kepala Desa, bahwa tanah dan rumah yang ditempati tidak dalam sengketa/bermasalah dan apabila terjadi masalah yang berakibat hukum akan bertanggungjawab dengan tidak melibatkan pihak lain.

f. Bagi masyarakat miskin yang tanahnya sewa/menumpang dari orang lain/Badan Usaha, boleh diberikan bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni dengan persyaratan sebagai berikut:

1. Pemilik lahan tidak keberatan rumah tersebut diperbaik.

2. Pemilik lahan tidak boleh menaikkan harga sewa minimal 5 (lima) tahun ke depan.

3. Pemilik lahan tidak boleh menjual atau memindahkan hak atas tanah/lahan kepada pihak lain sebelum batas waktu yang telah ditentukan di atas.

4. Persyaratan tersebut harus dituangkan di dalam Surat Pernyataan yang diketahui Kepala Desa/Lurah dan Camat.

g. Khusus rumah penduduk miskin yang berada di pesisir pantai/tepi laut diwajibkan yang bersangkutan membuat Surat Pernyataan diatas materai secukupnya yang diketahui oleh RT, RW dan Lurah/Kepala Desa yang menyatakan bahwa lahan/lokasi yang ditempati tersebut adalah milik negara, tidak sedang dalam sengketa/bermasalah dan jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kepentingan umum atau lainnya maka yang bersangkutan bersedia melepaskan atau mengembalikan kepada negara.

h. Rumah yang dimiliki dan ditempati adalah rumah tidak layak huni yang tidak memenuhi syarat kesehatan, keamanan dan sosial, dengan kondisi antara lain: 1. Tidak permanen dan atau rusak.

2. Dinding dan atap sudah rusak sehingga membahayakan dan mengganggu keselamatan penghuninya.

3. Lantai tanah/semen/papan/bambu/nibung dalam kondisi rusak.

4. Diutamakan rumah yang tidak memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). 5. Bukan rumah sewa

(12)

12

III. KELEMBAGAAN PENGELOLA REHABILITASI RTLH

Kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni melibatkan berbagai pihak pemerintah dan masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama yang didasarkan pada fungsi dan tugas pokok masing-masing. Oleh karena itu masing-masing pihak/lembaga harus bertanggungjawab terhadap kelancaran tugas dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pihak yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH perlu melakukan koordinasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

3.1. SIFAT PENGORGANISASIAN

a. Pemberdayaan Fakir miskin melalui bantuan Rehabilitasi RTLH merupakan kerjasama yang didasarkan pada fungsi dan tugas pokok masing-masing, oleh karena itu masing-masing lembaga dan masyarakat harus bertanggung jawab terhadap kelancaran tugas dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Kerjasama ini dimaksud untuk mempercepat proses penyaluran bantuan Rehabilitasi RTLH kepada masyarakat dengan tepat sasaran dan tepat waktu. c. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka masing-masing pihak atau

lembaga harus saling berkoordinasi. 3.2. BIDANG TUGAS

a. Tim Survey dan Monitoring Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Tim Survey dan Monitoring Kegiatan Rehabiliitasi RTLH adalah suatu tim yang telah ditunjuk dan ditetapkan oleh Bupati Karimun dengan tugas sebagai berikut:

1. Memverifikasi administrasi usulan calon penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

2. Melakukan pendataan, penjajakan, pemetaan serta survey penduduk/masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni di Kabupaten Karimun.

3. Mengambil foto/gambar rumah calon sasaran kegiatan Rehabilitasi RTLH. 4. Menyusun hasil survey dengan lengkap dan benar disertai foto rumah tidak

layak huni calon sasaran kegiatan Rehabilitasi RTLH.

5. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

6. Melaporkan hasil kerja Tim Survey dan Monitoring Kegiatan Rehabilitasi RTLH kepada Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karimun.

7. Kepala Dinas Sosial melaporkan hasil verifikasi administrasi dan lapangan kepada Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun untuk kemudian ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Karimun.

8. Kepala Dinas Sosial mengajukan permintaan pencairan dana bantuan Rehablitasi RTLH ke Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun berdasarkan Surat Keputusan Bupati Karimun tentang penetapan penerima bantuan Rehabilitasi RTLH beserta lampirannya (proposal/usulan bantuan rehabilitasi RTLH dan nomor rekening kelompok).

9. Kepala Dinas Sosial menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun secara berkala dan/atau sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

10. Melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kepulauan Riau dan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun.

(13)

13 b. Kecamatan.

1. Menyampaikan kepada lurah/kepala desa di wilayah masing-masing tentang kegiatan Rehabilitasi RTLH.

2. Melakukan pendataan/menyiapkan dan mengusulkan data lokasi dan data by name by addess (BNBA) calon Kepala Keluarga penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

3. Menyiapkan calon pendamping kecamatan yang membidangi pemberdayaan atau kesejahteraan sosial masyarakat atau yang memahami kegiatan Rehabilitasi RTLH atau dapat berasal dari TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan).

4. Memfasilitasi kelancaran pelaksanaan verifikasi oleh Tim Survey dan Monitoring kegiatan Rehabilitasi RTLH di daerahnya.

5. Memfasilitasi pembentukan kelompok penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni dengan anggota berjumlah 5 (lima) sampai dengan 10 (sepuluh) Kepala Keluarga serta memfasilitasi pembentukan pengurus kelompok yang terdiri dari ketua, bendahara dan sekretaris dari masing-masing kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

6. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH di wilayahnya.

7. Menyampaikan laporan perkembangan dan laporan akhir pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH kepada Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun melalui Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karimun.

c. Kelurahan / Desa.

1. Menyampaikan usulan nama calon penerima bantuan Rehabilitasi RTLH kepada Camat dengan nama dan alamat lengkap (by name by address) dengan mengacu pada kriteria yang telah ditentukan.

2. Memfasilitasi kelancaran pelaksanaan verifikasi oleh Tim Survey dan Monitoring kegiatan Rehabilitasi RTLH di daerahnya.

3. Menyiapkan calon pendamping kelurahan/desa yang membidangi pemberdayaan atau kesejahteraan sosial masyarakat atau yang memahami kegiatan Rehabilitasi RTLH atau dapat berasal dari unsur Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan / Pekerja Sosial Masyarakat / Karang Taruna / Organisasi Sosial / Tokoh Agama / Tokoh Masyarakat / Tokoh Adat.

4. Mengkoordinir pembentukan kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH dengan anggota berjumlah 5 (lima) sampai dengan 10 (sepuluh) Kepala Keluarga.

5. Mengkoordinir masing-masing kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH untuk membentuk pengurus kelompok yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

6. Memfasilitasi pembukaan rekening kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

7. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH di wilayahnya.

d. Pendamping.

Pendamping Kelompok Penerima Bantuan Rehabilitasi RTLH berasal dari Tenaga Kerja Sosial Kecamatan / Pekerja Sosial Masyarakat / Karang Taruna / Organisasi Sosial / Tokoh Agama / Tokoh Masyarakat / Tokoh Adat atau berasal dari fasilitator PNPM, dengan kriteria sebagai berikut:

a. Pendidikan minimal SLTA atau sederajat.

b. Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang pemberdayaan masyarakat dan / atau memahami kegiatan rehabilitasi RTLH.

(14)

14

c. Berdomisili pada kecamatan / kelurahan / desa yang bersangkutan. d. Bukan Pegawai Negeri Sipil (Non PNS).

Pendamping Kecamatan, Kelurahan/Desa dan Pendamping Kelompok memiliki tugas sebagai berikut:

1. Membantu membuat rencana usulan kebutuhan Rehabilitasi RTLH. 2. Membantu monitoring pelaksanaan kegiatan.

3. Membantu pembuatan laporan.

4. Memberikan motivasi kepada masyarakat penerima bantuan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi RTLH.

e. Kelompok Penerima Bantuan Rehabilitasi RTLH.

Kepala Keluarga penerima bantuan membentuk kelompok dengan anggota berjumlah 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) KK.

Tugas Kelompok adalah:

1. Membentuk pengurus kelompok yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

2. Membuka rekening di Bank Pemerintah atau Kantor Pos atas nama kelompok dengan spesimen ditandatangani ketua dan bendahara.

3. Bekerjasama dengan toko bangunan/penyedia barang yang bersedia dan mampu menjamin penyediaan bahan bangunan selama pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH.

4. Mengusulkan pelaksana yang ahli dalam bidang bangunan (tukang).

5. Dengan bantuan pendamping, mengajukan proposal / usulan kebutuhan Rehabilitasi RTLH sebesar Rp. 20.000.000,- setiap unit rumah kepada Bupati melalui Dinas Sosial Kabupaten Karimun dengan diketahui oleh Camat dan Lurah / Kepala Desa (contoh format lampiran II).

6. Membantu tukang yang ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan Rehabilitasi RTLH terhadap rumah yang mereka tempati dengan cara gotong royong antara satu dengan yang lain dalam satu kelompok.

7. Dengan bantuan pendamping, menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan kegiatan Rehabilitasi RTLH kepada Bupati Melalui Dinas Sosial Kabupaten Karimun, dengan melampirkan bukti-bukti kwitansi pengeluaran dan surat pernyataan telah selesainya pekerjaan yang diketahui kepala desa / lurah dan Camat (contoh format lampiran III atau lampiran IV).

(15)

15

IV. PROSEDUR PENGUSULAN DAN PELAKSANAAN 4.1. PROSEDUR PENGUSULAN

Prosedur pengusulan penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni adalah sebagai berikut:

1. Kecamatan bersama kelurahan/desa melakukan pendataan Kepala Keluarga calon penerima bantuan Rehabilitasi RTLH (By Name By Address).

2. Kecamatan dan atau kelurahan/desa mengusulkan calon penerima bantuan Rehabilitasi RTLH sesuai dengan kriteria yang ditentukan ke Dinas Sosial Kabupaten Karimun.

3. Tim Survey dan Monitoring melakukan verifikasi administrasi dan verifikasi lapangan.

4. Hasil verifikasi administrasi dan lapangan yang telah dilakukan, disampaikan kepada Tim Koordinator Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Karimun melalui Dinas Sosial Kabupaten Karimun untuk kemudian ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Karimun.

4.2. PELAKSANAAN KEGIATAN 1. Prinsip Pelaksanaan

Prinsip Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi RTLH adalah: a. Kesetiakawanan

Dilandasi oleh kepedulian sosial untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan empati dan kasih sayang.

b. Keadilan

Menekankan pada aspek pemerataan, tidak diskriminatif dan seimbang antara hak dan kewajiban.

c. Kemanfaatan

Dilaksanakan dengan memperhatikan kegunaan atau fungsi dari barang/ruang/kondisi yang diperbaiki atau diganti.

d. Keterpaduan

Mengintegrasikan berbagai komponen terkait sehingga dapat berjalan secara terkoordinir dan sinergi.

e. Kemitraan

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan fakir miskin dan masyarakat pada umumnya dibutuhkan kemitraan dengan berbagai pihak.

f. Keterbukaan

Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini berhak mendapatkan informasi yang benar dan bersedia menerima masukan bagi keberhasilan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH.

g. Akuntabilitas

Berbagai sumber daya digunakan dengan penuh tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun administratif.

2. Tahapan Pelaksanaan Bantuan

a. Penjajakan calon dan lokasi penerima bantuan.

Penjajakan calon dan lokasi penerima bantuan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kelayakan calon penerima bantuan dan faktor lainnya yang akan mendukung keberhasilan kegiatan.

b. Verifikasi Usulan Calon Penerima Bantuan.

Verifikasi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang calon penerima bantuan sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

(16)

16 c. Seleksi Ulang.

Dilakukan untuk menentukan kelayakan penerima bantuan Rehabilitasi RTLH dan selanjutnya diusulkan ke Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) untuk ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Karimun.

d. Sosialisasi.

Sosialisasi dilaksanakan dalam rangka memperoleh kesamaan pemahaman dan gerak langkah setiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH.

e. Pelaksanaan Rehabilitasi RTLH.

1. Melaksanakan pembelian bahan bangunan. 2. Melaksanakan kegiatan Rehabilitasi Rumah.

3. Pelaksanaan pembangunan Rehabilitasi RTLH telah selesai selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari setelah dana dicairkan dari rekening oleh kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

3. Monitoring dan Evaluasi a. Monitoring

Merupakan proses pengamatan secara terus menerus untuk memantau pelaksanaan kegiatan, hambatan yang dihadapi serta dukungan yang diperoleh. Tujuannya adalah mengikuti perkembangan setiap tahapan kegiatan Rehabilitasi RTLH agar secara langsung dan sedini mungkin dilakukan penyempurnaan terhadap kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan perencanaan semula.

b. Evaluasi

Merupakan proses mengukur dan menilai hasil pelaksanaan program. Evaluasi ini dapat diperoleh berbagai data dan informasi tentang hasil/kemajuan pada setiap tahapan kegiatan Rehabilitasi RTLH. Tujuannya untuk mengetahui hasil/kemajuan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi RTLH.

4. Pelaporan

Pelaporan hasil pelaksanaan kegiatan mencakup:

a. Laporan pertanggungjawaban keuangan bantuan Rehabilitasi RTLH masing-masing kelompok setelah selesai pelaksanaan pekerjaan.

b. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan dengan melampirkan foto rumah dalam kondisi sebelum, proses dan hasil akhir kegiatan dengan disertakan surat pernyataan penyelesaian pekerjaan untuk kelompok selambat-lambatnya 1 (satu) bulan selesainya pekerjaan.

(17)

17

V. PENDANAAN, PENYALURAN, PENCAIRAN DAN PENGGUNAAN DANA 5.1. PENDANAAN

a. Sumber dana

Dalam melaksanakan kegiatan Rehabilitasi RTLH ini dibiayai melalui dana APBD Provinsi Kepulauan Riau dan APBD Kabupaten Karimun. Penyaluran dana Kegiatan Rehabilitasi RTLH ini melalui bantuan hibah dengan sistem Bantuan Langsung Masyarakat (BLM).

b. Besarnya Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM)

Dana Bantuan Langsung Masyarakat dialokasikan sebesar Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) per unit rumah penerima bantuan Rehabilitasi RTLH termasuk fasilitas sanitasi keluarga yaitu jamban keluarga bagi penerima bantuan tersebut yang belum memiliki jamban keluarga. Adapun rincian peruntukannya dari BLM tersebut yaitu 87,5% dialokasikan untuk pembelian bahan bangunan dan 12,5% dialokasikan untuk biaya pelaksana yang ahli dalam bidang bangunan (tukang).

c. Mekanisme pencairan dana

1. Penyaluran dana dimengerti sebagai proses penyaluran dana BLM dari pos belanja hibah pada Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun ke rekening kelompok penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). 2. Setiap kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH membuka rekening

di Bank Pemerintah atau Kantor Pos atas nama kelompok penerima bantuan dengan spesimen tanda tangan ketua dan bendahara.

5.2. PENYALURAN DANA

a. Kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH mengajukan nomor rekening kelompok beserta proposal / usulan kebutuhan Rehabilitasi RTLH kepada Bupati melalui Dinas Sosial Kabupaten Karimun.

b. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karimun mengajukan permintaan pencairan dana bantuan Rehabilitasi RTLH ke Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun dengan melampirkan SK Bupati Karimun tentang Penetapan Penerima Bantuan Rehabilitasi RTLH dan proposal/usulan Rehabilitasi RTLH serta rekening kelompok penerima bantuan Rehabilitasi RTLH.

c. Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun akan mentransfer dana bantuan Rehabilitasi RTLH sesuai dengan nomor rekening kelompok penerima bantuan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Karimun.

5.3. PROSES PENCAIRAN DANA REHABILITASI RTLH

a. Dana Rehabilitasi RTLH yang sudah masuk dalam rekening kelompok penerima bantuan dapat dicairkan dengan menyampaikan proposal/usulan kebutuhan Rehabilitasi RTLH kepada Bank Pemerintah atau Kantor Pos.

b. Proposal/usulan tersebut menjadi dasar pencairan di Bank Pemerintah/ Kantor Pos tempat rekening kelompok penerima bantuan.

c. Dana bantuan yang telah dicairkan dibelanjakan sesuai dengan proposal/usulan dan peruntukannya.

d. Bukti pembelian/pembelanjaan menjadi bahan dalam penyusunan laporan kegiatan kelompok.

(18)

18 5.4. PENGGUNAAN DANA

Jumlah dana bantuan hibah untuk setiap unit rumah sebesar Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dengan proporsi penggunaan sebagai berikut:

NO. URAIAN BOBOT JUMLAH (Rp)

1. Pembelian bahan bangunan 87,5 % 17.500.000,-

2. Biaya tukang 12,5 % 2.500.000,-

JUMLAH 100 % 20.000.000,-

5.5. SANKSI

Sanksi hukum akan diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila penerima bantuan hibah Rehabilitasi RTLH tidak sepenuhnya dipergunakan sesuai dengan peruntukannya.

(19)

19 VI. PENUTUP

Kegiatan Pelaksanaan Rehabilitasi RTLH ini dibuat untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

BUPATI KARIMUN, ttd.

(20)

20

LAMPIRAN II :

PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 21 TAHUN 2012

TENTANG PETUNJUK TEKNIS

PELAKSANAAN KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012

USULAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI

Nama Penerima Bantuan : ... Alamat : ... Nama Kelompok : ... Bagian rumah yang akan diperbaiki : ... ... ... Nama toko bangunan yang diusulkan : ... Alamat : ... Nomor Telepon : ... Pengadaan Barang Rp. ...

NO. NAMA BARANG JUMLAH SATUAN (Rp) HARGA HARGA (Rp) JUMLAH

TOTAL

Biaya Ongkos Tukang Rp. ... Jumlah Tukang : ... orang

Biaya perorangan : Rp. ...

Total Dana seluruhnya Rp. ...

Terbilang : ... ...,...2012 Yang Mengusulkan Ketua Kelompok... (... ..) Pemilik Rumah/ Penerima Bantuan (...) Pendamping Kelompok ... (...) Pendamping Kel/Desa... (...) Pendamping Kec... (...)

(21)

21 Mengetahui, BUPATI KARIMUN, ttd. H. NURDIN BASIRUN Camat ... (...) Lurah/Kepala Desa ... (...)

(22)

22

LAMPIRAN III :

PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 21 TAHUN 2012

TENTANG PETUNJUK TEKNIS

PELAKSANAAN KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012

SURAT PERNYATAAN PENYELESAIAN PEKERJAAN

KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI TAHUN 2012 Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : ... Umur : ... Alamat : ...

Mewakili kelompok penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni Kabupaten Karimun Tahun 2012, menyatakan bahwa pekerjaan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni bagi ... orang anggota kelompok yang beralamat di Kelurahan / Desa ... Kecamatan ... Kabupaten Karimun telah selesai 100 %.

Pernyataan ini kami buat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani tanpa tekanan dari pihak manapun dan kami bertanggung jawab baik secara pribadi maupun kelompok dihadapan hukum bila dikemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar.

...,...2012 Yang Menyatakan Ketua Kelompok……… (...) Materai Rp. 6.000 Pendamping Kel./Desa………….. (...) Pendamping Kecamatan ... (...) Pendamping Kelompok………… (...)

(23)

23 Mengetahui, BUPATI KARIMUN ttd. H. NURDIN BASIRUN Kelurahan/Desa…. (...) Camat……….. (...)

(24)

24

LAMPIRAN IV :

PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 21 TAHUN 2012

TENTANG PETUNJUK TEKNIS

PELAKSANAAN KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2012

SURAT PERNYATAAN PENYELESAIAN PEKERJAAN

KEGIATAN REHABILITASI RUMAH TIDAK LAYAK HUNI TAHUN 2012 Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : ... Umur : ... Alamat : ...

Mewakili kelompok penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni Kabupaten Karimun Tahun 2012, menyatakan bahwa pekerjaan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni bagi ... orang anggota kelompok yang beralamat di Kelurahan / Desa ... Kecamatan ... Kabupaten Karimun telah selesai 100 %.

Pernyataan ini kami buat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani tanpa tekanan dari pihak manapun dan kami bertanggung jawab baik secara pribadi maupun kelompok dihadapan hukum bila dikemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar. ...,...2012 Yang Menyatakan Ketua Kelompok……… (...) Materai Rp. 6.000 Pendamping Kel./Desa…….. (...) Pendamping Kecamatan ... (...) Pendamping Kelompok………… (...) Pendamping Kel./Desa…….. (...)

(25)

25 Mengetahui, BUPATI KARIMUN ttd. H. NURDIN BASIRUN Kelurahan/Desa…. (...) Camat……….. (...) Kelurahan/Desa…. (...)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :