• Tidak ada hasil yang ditemukan

J. Sains & Teknologi, Desember 2012, Vol.12 No.3 : ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "J. Sains & Teknologi, Desember 2012, Vol.12 No.3 : ISSN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ADOPSI PETANI PADI SAWAH TERHADAP SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 2:1 DI KECAMATAN POLONGBANGKENG UTARA, KABUPATEN TAKALAR The Adoption of Rice-Field Farmers on Jajarlegowo 2:1 Plant System Atpolongbangkeng

Utara Sub-District,Takalar Regency Hajrah Lalla, M. Saleh S. Ali, Saadah

Program Studi Sistem-Sistem Pertanian,Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2:1 pada petani padi sawah, (2) Hubungan faktor internal dan eksternal petani terhadap tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2:1 pada petani padi, dan (3) Hubungan tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2:1 terhadap peningkatan produktivitas usaha tani. Penelitian ini berlangsung sejak bulan Januari hingga Februari 2012 di Kelurahan Panrannuangku, Desa Timbuseng dan Desa Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan mewawancarai 51 orang petani sebagai responden. Data disajikan dalam bentuk tabulasi, tingkat adopsi petani dianalisis dengan statistik deskriptif, sedangkan hubungan faktor internal dan eksternal petani terhadap tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 dan hubungan tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 terhadap peningkatan produktivitas usaha tani digunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar (60,78 %) petani memiliki tingkat adopsi tehadap sistem tanam jajar legowo 2:1 yang rendah. Faktor internal petani menunjukkan hubungan yang nyata terhadap tingkat adopsi teknologi sistem jajar legowo 2:1 meliputi motivasi mengikuti teknologi jajar legowo 2:1, tingkat keuntungan relatif, tingkat kerumitan dan tingkat kemudahan untuk dicoba, sedangkan umur, lama pendidikan, pengalaman berusaha tani, luas lahan, frekuensi mengunjungi informasi, dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi yang meliputi tingkat kesesuaian dan kemudahan untuk melihat hasilnya tidak menunjukkan hubungan yang nyata. Faktor eksternal petani, yakni tingkat ketersediaan sumber informasi dan intensitas penyuluhan tidak memiliki hubungan yang nyata dengan tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1. Tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 menunjukkan hubungan yang nyata terhadap peningkatan produktivitas usaha tani.

Kata Kunci : Petani Padi Sawah, Jajar Legowo

ABSTRACT

The research were know about (1) level of jajarlegowo 2:1 plant system technology adoption at rice-field farmers; (2) correlation both internal and external farmers factors toward of Jajarlegowo 2:1 plant system technology adoption level at rice-field farmers; (3) correlation of jajarlegowo 2:1 plant system technology adoption level toward increasing farming productivity.The research porformed in 2012 January until February, at PanrannuangkuVillage, Timbuseng Village and Ko’maraVillage, Polombangkeng Utara Sub-District, Takalar Regency, This method used survey with interviews from 51 farmers is responden. The data presented by tabulation form, adoption level of rice-filed farmers analyzed with descriptive statistics; correlation both internal and external farmers factors toward of Jajarlegowo 2:1 plant system technology adoption level at rice-field farmers; (3) correlation of jajarlegowo 2:1 plant system technology adoption level toward increasing farming productivity were analyzed by Chi- Squere.The results presented that the adoption level of farmer in jajarlegowo 2:1 plant system was low (60,78%). Internal factors warethe motivation follow the jajarlegowo 2:1 plant system technology, the level of relative advantage, complexity and triability showed significant corelation, but age, length of education, farming experience, wide-scale of area, frequency of visit information, reflextionof farmers on the properties of innovations that include the

(2)

compatibility and observability the results showed no significant corelation. External factors of farmers ware the availability of information sources and the illumination intensity had no sigificantcorelation to the adoption level of jajarlegowo 2:1 system technology. Correlation ofjajarlegowo 2:1 plant system technology adoption level toward increasing farming productivity showed significant correlation.

Keywords : rice-field farmers, jajarlegowo

PENDAHULUAN

Teknologi budidaya padi sawah yang digunakan petani selama ini masih relatif sederhana, masih banyak menggunakan varietas lokal dan varietas unggul tidak berlabel. Cara tanam tidak beraturan, baik dengan caplak satu arah atau caplak dua arah, sehingga populasi rendah. Penggunaan pupuk sangat tergantung dengan dana yang ada (Miswarti, et. al. 2004).

Inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi padi terus dilakukan untuk mendapatkan paket teknologi spesifik diantaranya dengan sistem tanam jajar legowo 2:1. Paket teknologi yang sudah dihasilkan tidak sepenuhnya diterapkan oleh petani, seperti pemupukan berimbang, karena sangat tergantung kepada kemampuan ekonomi, tetapi kalau komponen teknologi tersebut tidak memerlukan tambahan dana serta memberikan nilai tambah, cepat diadopsi dan berkembang. Salah satu komponen teknologi yang diperkenalkan di Kabupaten Takalar saat ini adalah sistem tanam jajar legowo. Sistem tanam ini diperkenalkan sejak tahun 2008 melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dilaksanakan di delapan kecamatan dari sembilan kecamatan yang ada, dan 54 desa/kelurahan meliputi 200 kelompok tani dengan luas areal 5000 ha.

Sistem jajar legowo merupakan rekayasa teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas usaha tani padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari teknologi jarak tanam tegel menjadi tanam jajar legowo. Di antara kelompok barisan tanaman padi terdapat lorong yang luas dan memanjang

sepanjang barisan. Jarak antar kelompok barisan (lorong) bisa mencapai 50 cm, 60 cm atau 70 cm bergantung pada kesuburan tanah (Suriapermana, et. al., 1990). Hasil penelitian di Sukamandi (Subang, Jawa Barat) selama dua musim menunjukkan cara tanam jajar legowo 2:1 meningkatkan hasil padi sawah 1,9 – 29 % pada Musim kemarau 2007 dan 2,4 – 11,3 % pada musim Kemarau 2008. Kenaikan hasil tersebut disebabkan populasi tanaman pada jajar legowo lebih banyak dibandingkan cara tanam tegel.

Upaya untuk meningkatkan hasil panen padi per satuan luas, juga harus diiringi dengan keberlanjutan teknologi yang dikenalkan serta bergantung terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi petani. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui tingkat adopsi teknologi petani dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat adopsi petani dalam menerapkan teknologi budidaya padi sistem tanam jajar legowo agar dapat meningkatkan pendapatan dan tingkat efisiensi ekonomis petani.

Berdasarkan data dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) tingkat kecamatan di Kabupaten Takalar pada tahun 2011, baru 394,82 ha (2,36 %) lahan yang ditanami dengan sistem tanam jajar legowo dari 16.721,10 ha lahan sawah di Kabupaten Takalar. Melihat kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem tanam jajar legowo masih rendah. Untuk itu penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 pada tanaman padi sawah serta faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi petani terhadap sistem tanam jajar legowo 2:1.

(3)

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2 :1 pada petani padi sawah, (2) Hubungan faktor internal dan eksternal petani terhadap tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2 :1 pada petani padi sawah, dan (3) Hubungan tingkat adopsi teknologi sistem tanam jajar legowo 2 :1 terhadap tingkat produktivitas usaha tani. METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei yang bersifat deskriptif – korelasional.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Panrannuangku, Desa Timbuseng dan Desa Ko’mara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan, mulai bulan Januari sampai Februari 2012. Populasi dan Sampel Penelitian

Dari tiga desa/kelurahan yang dipilih, dipilih lagi secara acak dua kelompok setiap desa yakni satu kelompok lahan sawah beririgasi dan satu kelompok lahan sawah tadah hujan sehingga ada enam kelompok tani terpilih, dari total populasi sebanyak 146 orang petani padi sawah yang telah menerapkan teknologi jajar legowo 2:1 sejak tahun 2008.

Selanjutnya jumlah sampel ditentukan secara proporsional dari seluruh populasi kelompok terpilih pada tiga desa tersebut. Dengan penentuan secara proporsional diperoleh sampel untuk Kelurahan Panrannuangku sebanyak 16 orang, Desa Timbuseng 14 orang dan Desa Ko’mara sebanyak 18 orang petani. Sehingga total sampel dalam penelitian ini adalah 51 orang petani.

Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer yang diperoleh secara langsung dari pengamatan lapangan, wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Data sekunder yang diperoleh melalui telaah kepustakaan, laporan dan dokumen yang relevan dengan tujuan penelitian.

Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dan dianalisis dalam bentuk tabel frekuensi/tabulasi dan disajikan dalam bentuk deskriptif. Untuk memudahkan pengolahan data, maka digunakan bantuan program SPSS 17.0.

Hipotesis (1) : Tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 pada petani padi sawah masih rendah.

Total skor penerapan teknologi jajar legowo yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif, untuk menentukan rata-rata perolehan skor. Selanjutnya data dibagi dalam dua kategori yaitu kategori rendah dan kategori tinggi. Kategori rendah bila total skor yang diperoleh responden lebih kecil atau sama dengan rata-rata skor, dan kategori tinggi bila total skor responden berada di atas nilai rata-rata skor. Pengambilan kesimpulan didasarkan pada nilai skor rata-rata, dengan kategori sebagai berikut

a. Jika dominan total skor responden ≤ rata skor, maka disimpulkan bahwa tingkat adopsi petani tergolong rendah,

b. Jika dominan total skor responden > rata skor, tinggi maka disimpulkan tingkat adopsi petani tergolong tinggi.

Hipotesis (2) : Terdapat hubungan antara variabel faktor internal (umur, pendidikan, pengalaman berusaha tani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan garapan, motivasi petani, frekuensi mengunjungi sumber informasi, dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi) dengan tingkat adopsi teknologi

(4)

jajar legowo 2:1 serta terdapat hubungan antara variabel faktor eksternal (tingkat ketersediaan informasi dan intesitas penyuluhan) dengan tingkat adospi teknologi jajar legowo 2:1.

Hipotesis (3) Terdapat hubungan antara tingkat penerapan teknologi jajar legowo 2:1 dengan tingkat produktivitas usaha tani.

Untuk menguji hipotesis (2) dan hipotesis (3), maka digunakan Uji Chi Kuadrat (Chi-square) dengan rumus sebagai berikut :

dimana : χ2 = Chi Square

Oij = Frekuensi yang diobservasi Eij = Frekuensi yang diharapkan Pengambilan kesimpulan analisis output dari SPSS didasarkan perbandingan nilai Chi Square (X2 hitung) dengan nilai X2 pada tabel, yaitu dengan kategori sebagai berikut :

a. Apabila χ2 hitung lebih besar daripada χ2 tabel, maka terdapat hubungan antara kedua variabel. b. Apabila χ2 hitung lebih kecil

daripada χ2 tabel, maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel.

HASIL

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Polongbangkeng Utara merupakan salah satu dari sembilan kecamatan di Kabupaten Takalar, terletak ± 4 km di sebelah utara kota Kabupaten Takalar. Luas wilayah kecamatan 212,25 km2 yang terdiri atas atas enam kelurahan dan sembilan desa. Keadaan topografi Kecamatan Polongbangkeng Utara bervariasi dari datar, bergelombang, dan bergunung. Dari segi geografis, Kecamatan polongbangkeng Utara merupakan daerah yang cukup startegis untuk pengembangan pertanian. Pada umumnya persawahan terletak pada lahan

datar sampai bergelombang dan termasuk wilayah irigasi Je’neberang, Pammukkullu dan Bissua.

Potensi lahan di Kecamatan Polongbangkeng Utara terdiri atas lahan sawah, ladang, padang rumput, pekarangan, hutan, dan perkebunan. Luas lahan sawah di lokasi penelitian masing-masing Kelurahan Panrannuangku seluas 456, 39 ha, Desa Timbuseng 340,00 ha, Desa Ko’mara 772,88 ha. Potensi lahan sawah tersebut terdiri atas sawah irgasi dan sawah tadah hujan, sehingga pola tanam yang diterapkan petani di lahan sawah irigasi yaitu : padi-padi-palawija dan padi-palawija-palawija untuk sawah tadah hujan.

Jumlah Penduduk pada lokasi penelitian yaitu : Kelurahan Panrannuangku 3.790 jiwa, Desa Timbuseng 2.701 jiwa dan Desa Ko’mara 3.802 jiwa. Penduduk tersebut umumnya bermatapencaharian sebagai petani (77,57- 87,38 %). Kelompok tani di Kecamatan Polongbangkeng Utara berjumlah 218 kelompok yang terdiri dari beberapa kelas kelompok, yaitu : kelompok pemula 114 kelompok, kelompok lanjut 80 kelompok, kelompok madya 22 kelompok, dan kelompok utama dua kelompok serta terdapat 15 gabungan kelompok tani (Gapoktan). Faktor Internal Petani

Umur petani responden kisaran antara 30 – 72 tahun, 60,78 % petani responden tergolong dalam usia produktif (31 – 50 tahun). Lama pendidikan petani responden dapat dibedakan atas lama pendidikan 0 – 6 tahun (50,98 %) dan lama pendidikan 9 – 12 tahun ( 49,02 %). Pengalaman berusaha tani responden terdistribusi yang terendah delapan tahun dan yang tertinggi (terlama) 52 tahun. Jumlah tanggungan keluarga petani responden berkisar antara 1 – 6 orang. Luas lahan usaha tani petani responden bervariasi dari 0,2 – 2,5 ha, sebagian besar petani responden yakni 64,71% memiliki luas lahan usaha tani antara 0,50 – 1,00 ha.

χ2 = ( − )

2

= =

(5)

Petani responden memiliki motivasi tinggi dalam penerapan teknologi Jajar Legowo 2:1. Meskipun frekuensi kujungan ke sumber informasi tergolong rendah yaitu lima kali per musim tanam sebanyak 68,63%. Secara keseluruhan minat petani terhadap teknologi jajar legowo dilihat dari sifat-sifat inovasi terdistribusi pada kategori sedang sebanyak 90,20 % dan hanya 9,80 % berada dalam kategori tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan keuntungan relatif terdistribusi pada katergori rendah (31,38%), sedang (29,42%) dan tinggi (39,22%). Selain itu, pada Tingkat Kesesuaian suatu Inovasi terdistribusi dari kategori tidak sesuai (9,81%), sesuai (52,95%) dan sangat sesuai (37,26%). Selanjutnya, tingkat kerumitan suatu Inovasi menujukkan Sebanyak 12 orang petani (23,52%) menyatakan tidak rumit, 22 orang petani (43,14%) menyatakan teknologi jajar legowo rumit, dan 17 orang petani (33,33%) menyatakan sangat rumit. Pada tingkat kemudahan suatu inovasi untuk dicoba menunjukkan 39,22% petani responden menyatakan jajar legowo tidak mudah, sementara 49,02% menyatakan mudah dan hanya 11,77% petani responden yang menyatakan sangat mudah. Namun pada tingkat Kemudahan suatu inovasi untuk dilihat hasilnya, sebanyak 43,14% petani responden menyatakan teknologi jajar legowo mudah untuk dilihat hasilnya dan 39,22% menyatakan sangat mudah sementara 17,65% menyatakan tidak mudah untuk dilihat hasilnya.

Faktor Eksternal

Hasil penelitian menunjukkan 60,78 % petani responden menilai bahwa informasi tentang jajar legowo cukup tersedia, sedangkan 35,30% menilai sangat tersedia dan hanya 3,92% menilainya tidak tersedia. Dari 51 petani responden diketahui bahwa intensitas penyuluhan tentang jajar legowo tergolong dalam kategori sedang yakni sebanyak 49,02%. Sementara 31,37%

masuk kategori rendah dan 19,61% tergolong kategori tinggi.

Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo Tingkat adopsi petani pada teknologi jajar legowo digolongkan dalam kategori rendah (≤ 32) mencapai 60,78% dan tinggi (39,22%), hal ini terlihat pada komponen benih komponen benih termasuk dalam kategori sedang (15,69%) sampai tinggi (84,31%) yang diikuti dengan komponen pengolahan tanah terdistribusi pada kategori rendah (3,92%), sedang (90,02%) dan tinggi (5,88%), komponen penanaman terdistribusi dari kategori rendah (31,37%), sedang (49,02%) sampai tinggi (19,61%). Aspek pemeliharaan yang dilakukan petani masih terdistribusi pada kategori rendah (62,75%) sampai sedang (37,25%).produktivitas petani responden termasuk kategori rendah (23,53%), sedang (50,98%) sampai tinggi (25,49%). Peningkatan Produktivitas Usaha tani

Peningkatan produktivitas usaha tani dapat dijadikan sebagai indikator tingkat penerapan suatu teknologi pada usahataninya. peningkatan produktivitas petani responden termasuk kategori rendah (68,62%), sedang (15,69%) dan tinggi (15,69%). Kenaikan produktivitas terkecil 0,52 ku/ha dan yang tertinggi 14,76 ku/ha.

Hubungan Faktor Internal Petani dengan Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2 :1

Hasil penelitian menujukkan bahwa hubungan faktor internal petani hanya sebagaian yang berpengaruh nyata (Tabel 1). Faktor yang memiliki hubungan nyata yaitu motivasi petani mengikuti jajar legowo 2:1, dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi (tingkat keuntungan, tingkat kerumitan, dan tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya). Sedangkan faktor umur, lama pendidikan, pengalaman berusaha tani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan usaha tani, frekuensi mengunjungi

(6)

sumber informasi dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi (tingkat

kesesuian dan tingkat kemudahan) tidak memberikan hubungan yang nyata.

Tabel 1. Hubungan Faktor Internal Petani dengan Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2:1

No Faktor Internal Kategori

Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2:1 X 2 hit X 2 tabel ≤ 32 > 32 1 Umur < 31 tahun 31 – 50 tahun > 50 0 18 13 1 13 6 2,111 3,841

2 Lama Pendidikan 0 – 6 tahun

7 – 12 tahun > 12 tahun 18 13 0 8 12 0 1,587 3,841 3 Pengalaman Berusaha tani < 11 tahun 11 – 20 tahun > 20 tahun 4 9 18 3 10 7 2,793 5,991 4 Jumlah Tanggungan Keluarga < 3 orang 3 – 5 orang > 5 orang 10 18 3 4 15 1 1,543 5,991

5 Luas Lahan Usaha tani < 0,5 ha

0,5 – 1,0 ha > 1,0 ha 5 21 5 2 12 6 1,530 5,991 6 Motivasi Mengikuti Jajar Legowo 2:1 Rendah Sedang Tinggi 0 16 15 0 3 17 6,972**) 6,635 7 Frekuensi Mengunjungi Sumber Informasi < 5 kali 5 – 10 kali > 10 kali 6 3 0 29 11 2 0,572 5,991 8 Pandangan Petani Terhadap Sifat-Sifat Inovasi Rendah Sedang Tinggi 0 29 2 0 17 3 1,005 3,841

a. Tingkat Keuntungan Rendah

Sedang Tinggi 13 11 7 3 4 13 9,381**) 6,635

b. Tingkat Kesesuaian Kurang Sesuai

Sesuai Sangat Sesuai 2 14 15 3 13 4 4,439 5,991

c. Tingkat Kerumitan Tidak Rumit

Rumit Sangat Rumit 4 13 14 8 9 3 7,138*) 5,991

d. Tingkat Kemudahan Tidak Mudah

Mudah Sangat Mudah 16 14 1 4 11 5 8,237*) 5,991 e. Tingkat Kemudahan untuk Dilihat Hasilnya Tidak Mudah Mudah Sangat Mudah 5 15 11 4 7 9 0,889 5,991

Keterangan : * ) : Nyata pada α 0,05 **) : Nyata pada α 0,01

(7)

Tabel 2. Hubungan Faktor Eksternal Petani dengan Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2:1 No. Faktor Eksternal Kategori Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2:1 X 2 hit X2tabel ≤ 32 > 32 1 Tingkat Ketersediaan Informasi Tidak tersedia Cukup tersedia Sangat tersedia 2 17 12 0 14 6 2,011 5,991 2 Intensitas Penyuluhan < 4 kali 4 – 8 kali > 8 kali 11 15 5 5 10 5 0,920 5,991

Hubungan Faktor Eksternal Petani dengan Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2 :1

Hasil penelitian menujukkan bahwa hubungan faktor eksternal petani (tingkat ketersediaan informasi dan intensitas penyuluhan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2 :1 (Tabel 2). Hubungan Peningkatan Produktivitas Usaha tani Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo 2 :1

Tingkat adopsi teknologi jajar legowo berhubungan nyata dengan tingkat produktivitas usaha tani dimana X2hit

=8,794 < nilai X2tabel= 5,991, sehingga

hipotesis dapat diterima. PEMBAHASAN

Analisis Deskriftif

Tingkat penerapan teknologi jajar legowo 2:1 pada petani padi sawah sebagian besar masih tergolong rendah, hal ini karena tidak semua komponen penerapan teknologi jajar legowo 2:1 dilakukan sesuai dengan anjuran seperti cara tanam, pemupukan. Juga kesadaran petani untuk menerapkan teknologi ini masih kurang disebabkan kurangnya permodalan dan keterbatasan tenaga kerja tanam yang terampil.

Pada dasarnya petani masih berada pada tahap berminat dan mencoba, belum mengadopsinya, karena belum semua lahan yang dimiliki petani

ditanami dengan sistem tanam jajar legowo 2:1. Petani responden umumnya telah berkeinginan mengadopsi teknologi jajar legowo 2:1, tapi belum dalam waktu dekat. Petani masih butuh waktu untuk mengadopsi teknologi jajar legowo.

Berdasarkan ciri yang dimiliki petani responden, umumnya petani masuk dalam kategori mayoritas awal. Hal ini sesuai pendapat Soekartawi (2005), yang mengelompokkan karakteristik pengadopsi awal penuh pertimbangan, cenderung meniru pihak lain, status sosial rata-rata, usaha taninya rata-rata, serta lebih banyak berhubungan dengan agen perubahan dan pengadopsi awal. Mereka akan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurung waktu yang lama.

Hubungan antara faktor internal petani dengan tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 menujukkan hubungan yang tidak nyata pada beberapa variabel. Hal ini dikarenakan kegiatan usaha tani dilakukan secara turun temurun sehingga petani cenderung untuk melakukan kegiatannya berdasarkan pengalamannya sehingga sulit untuk mengadopsi teknologi baru. Demikan halnya dengan lama pendidikan, Soekartawi (2005) menyatakan bahwa pendidikan merupakan sarana belajar, dimana diperkirakan akan menanamkan pengertian sikap yang menguntungkan menuju penggunaan teknologi pertanian yang baru. Selanjutnya dikatakan bahwa

(8)

terdapat kemungkinan adanya hubungan antar tingkat pendidikan dengan tingkat adopsi teknologi pertanian berjalan secara tidak langsung, kecuali bagi mereka yang belajar secara spesifik tentang inovasi tersebut di sekolah. Dengan demikian tingkat pendidikan mungkin hanya menciptakan suatu dorongan agar mental untuk menerima inovasi yang menguntungkan dapat diciptakan.

Variabel jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 karena sumber tenaga kerja yang digunakan petani pada kegiatan budidaya berasal dari tenaga kerja luar keluarga. Pada petani dengan lahan luas tidak menujukkan hubungan yang nyata karena petani cenderung menerapkan teknologi jajar legowo 2:1 hanya pada sebagian kecil lahan saja, meskipun dilakukan beberapa kalipada lahan yang sama untuk mengetahui tingkat perkembanganya. Menurut Soekartawi (2005), banyak teknologi maju baru yang memerlukan skala operasi yang besar dan sumberdaya ekonomi tinggi untuk keperluan adopsi inovasi tersebut. Penggunaan teknologi pertanian yang lebih baik akan menghasilkan manfaat ekonomi yang memungkinkan perluasan usaha tani selanjutnya.

Variabel motivasi mengikuti jajar legowo 2:1 mempunyai hubungan nyata terhadap tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1, disebabkan setelah petani mengetahui keunggulan dari teknologi jajar legowo mereka sadar akan keuntungan teknologi jajar legowo 2:1 tersebut, sehingga mereka ingin menerapkan teknologi tersebut di lahannya namun terkendala oleh beberapa masalah antara lain keterbatasan tenaga kerja dan anggapan bahwa teknologi jajar legowo tergolong rumit. Hal ini sejalan dengan pendapat Kartono dan Kartini (1982), motivasi adalah sebab, alasan dasar, gambaran dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang berpengaruh besar

sekali terhadap segenap tingkah laku manusia. Kaitannya dengan adopsi teknologi sejauh mana dorongan atau ransangan bagi petani untuk mengadopsi suatu inovasi.

Frekuensi petani mengunjungi sumber informasi tergolong rendah hal ini menyebabkan tingkat adopsi teknologi baru juga rendah. Kehadiran penyuluh dengan SL-PTT yang memberikan contoh bagi petani belum mampu membuat petani mengadopsi teknologi jajar legowo 2:1 dengan lebih baik. Petani responden umumnya hanya menunggu informasi yang dibawa oleh penyuluh atau petugas lainnya, belum ada motivasi petani untuk secara aktif mencari atau mengunjungi sumber informasi yang berhubungan dengan jajar legowo 2:1.

Variabel pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi dengan tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 menujukkan beberapa sifat memberikan pengaruh nyata yaitu tingkat keuntungan, tingkat kerumitan, dan tingkat kemudahan. Sayogyo (1985), mengemukakan bahwa suatu inovasi akan dapat diterima oleh petani apabila secara teknis dapat dilaksanakan, ekonomis menguntungkan dan secara sosiologis dapat dipertanggungjawabkan. Ditambahkan oleh Soekartawi (2005), bahwa bila memang benar teknologi baru akan memberikan keuntungan yang relatif besar dari teknologi lama, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan lebih cepat.

Hubungan nyata pada tingkat kerumitan dikarenakan petani dalam pengolalaan lahannya menggunakan tenaga kerja sewaan yang menganggap belum terbiasa dengan teknologi jajar legowo 2:1 sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam kegiatan pertanaman. Hanafi (1987) mengemukakan bahwa kerumitan suatu inovasi berhubungan negatif dengan kecepatan adopsi yang berarti semakin rumit suatu inovasi bagi seseorang, maka akan semakin lambat pengadopsiannya.

(9)

Selanjutnya Soekartawi (2005) bahwa makin mudah teknologi baru tersebut dipraktekkan, maka makin cepat pula proses adopsi yang dilakukan petani. Oleh karena itu, agar proses adopsi inovasi dapat berjalan cepat, maka penyajian inovasi baru tersebut harus lebih sederhana.

Tingkat kemudahan untuk dicoba tergolong mudah dikalangan petani sehingga memberikan pengaruh yang nyata. Kondisi ini karena sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan mudah diuji cobakan pada laboratorium lapangan untuk kegiatan SL-PTT. Suatu inovasi yang dapat dicoba biasanya akan diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tak dapat dicoba.

Tingkat kesesuaian dan tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya tidak menujukkan hubungan yang nyata dikarenakan perbedaan penerapan teknologi jajar legowo 2:1 hanya berbeda pada cara penanaman sedangkan pada komponen teknologi lainnya sama dengan teknik tanam biasa. Pada tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya, petani dengan mudah dapat melihat contoh dan dapat melihat langsung hasilnya melalui kegiatan SL-PTT.

Faktor eksternal yang diamati pada penelitian ini meliputi tingkat ketersediaan informasi dan intensitas penyuluhan menujukkan hubungan tidak nyata. Kondisi tersebut dikarenakan pada faktor ketersediaan informasi tentang jajar legowo 2:1, informasi yang tersedia hanya terbatas pada cara penanaman, sedangkan untuk penyiangan, pemupukan dan pemberantasan hama penyakit kurang tersedia, padahal informasi tersebut dibutuhkan. Informasi dari penyuluh atau petugas teknis lainnya mereka peroleh bila ada kunjungan atau kegiatan di kelompok tani mereka baik berupa pertemuan kelompok atau penyuluhan.

Selanjutnya dalam hal tingkat intesitas penyuluhan, penyuluhan intensif dilaksnakan pada kegiatan SL-PTT sekitar 8-10 kali petemuan permusim,

namun petani pada umunya tidak rutin mengikuti kegiatan penyuluhan dan tekadang diwakili/digantikan oleh anak atau istrinya. Selain itu, penyuluhan dalam bentuk pertemuan kelompok, ada juga secara individu tapi terbatas jangkauannya karena keterbatasan waktu yang dimiliki.

Hubungan yang nyata antara tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 terhadap peningkatan produktivitas usaha tani karena dengan sistem tanam ini tanaman padi mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan sinar matahari, karena semua tanaman berada dipinggir. Hama tanaman, utamanya tikus berkurang karena kondisi lahan yang relatif terbuka. Pemupukan lebih efeisien karena hanya dilakukan antara baris tanaman, pertumbuhan gulma yang berada pada lorong yang kosong pertumbuhannya terhambat jika dibandingkan pertumbuhan padi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Diraatmaja (2002), yang mengatakan bahwa dengan prinsip dasar menjadikan semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir dan diantara kelompok barisan tanaman padi terdapat lorong yang luas dan memanjang sepanjang barisan menyebabkan sinar matahari lebih banyak masuk ke petakan sawah dan membuka peluang terjadinya pengaruh samping (border effect) yang sama besar untuk setiap tanaman, sehingga tanaman tumbuh lebih baik, bulir yang dihasilkan lebih berisi (bernas) yang pada akhirnya hasilnyapun lebih tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disimpulkan bahwa tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 masuk dalam kategori rendah, yakni sebanyak 60,78 % petani responden.F aktor internal petani yang berhubungan nyata dengan tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 yaitu motivasi mengikuti teknologi jajar legowo 2:1, tingkat keuntungan relatif, tingkat kerumitan dan tingkat kemudahan

(10)

untuk dicoba. Faktor eksternal petani semuanya berhubungan tidak nyata dengan adopsi teknologi jajar legowo 2:1. Tingkat adopsi teknologi jajar legowo 2:1 menunjukkan hubungan yang nyata terhadap peningkatan produktivitas usaha tani.

Teknologi jajar legowo 2:1 merupakan teknologi yang berada pada tahap awal adopsi di tingkat petani sehingga dalam memperkenalkan suatu teknologi baru maka disarankan untuk memperhatikan faktor internal dan eksternal petani, demikian juga inovasi yang disodorkan ke petani jangan dipusatkan hanya pada aspek tunggal (produksi/target) tanpa memperhatikan faktor petani sebagai pelaku usaha tani.

Dalam upaya penerapan teknologi secara optimal penyuluh pertanian harus mampu membimbing petani dalam penerapan teknologi jajar legowo 2:1 yang tepat, utamanya dalam hal jarak tanam dan aplikasi pemupukan. Untuk itu perlunya lembaga penyedia informasi mendukung dengan penyediaan informasi paket jajar legowo secara lengkap, mulai dari persiapan tanam sampai panen agar petani memperoleh informasi yang jelas sehingga mudah diaplikasikan. Aparat pertanian : Dinas Pertanian, BPP serta yang lainnya diharapkan dalam menerapkan suatu teknologi baru perlu melakukan identifikasi kebutuhan petani, agar teknologi itu benar-benar

diadopsi/diterapkan oleh

petani.Kementerian Pertanian sebagai pencipta teknologi ini perlu melakukan penyempurnaan teknologi jajar legowo agar lebih mendekati kearah kebutuhan dan pemecahan masalah petani di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik,(2011). Kecamatan Polongbangkeng Utara dalam Angka. Badan Pusat Statistik Takalar.

Balai Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan (BPPK) Kecamatan Polongbangkeng Utara, (2010). Profil BPPK Kecamatan Polongbangkeng Utara.

Diraatmaja, IGPA,(2002). Keragaan Teknologi Cara Tanam Padi Sistem Legowo dalam Mendukung Sistem Usaha tani Terpadu di Kabupaten Sukabumi. Prosiding Lokakarya Pengembangan Usaha taniTerpadu Berwawasan

Agribisnis Menunjang

Pemanfaatan Sumberdaya Pertanian Jawa Barat. April 2002. Hanafi, Abdillah,(1987).

Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Penerbit Usaha Nasional, Surabaya.

Kartono dan Kartini,(1982). Pemimpin dan Kepemimpinan. Rajawali Pers, Jakarta.

Misrawati, Ishak Manti, Artuti, dan Hidayatullah,(2004). Peningkatan Produksi Padi Sawah melalui Teknologi Sistem Tanam Legowo. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, Bengkulu.

Sayogyo, P., (1985). Sosiologi Pembangunan. Fakultas Pascasarjana IKIP, Jakarta.

Soekartawi,(2005). Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Universitas Indonesia, Jakarta.

Suriapermana, S., I. Syamsul, dan

A.M.Fagi,(1990). Laporan

Pertama Penelitian Kerjasama

Mina Padi, antara Balittan

Sukamandi-IDRC Canada.

Balai Penelitian Tanaman

Gambar

Tabel 1. Hubungan Faktor Internal Petani dengan Tingkat Adopsi Teknologi Jajar Legowo  2:1
Tabel  2.  Hubungan  Faktor  Eksternal  Petani  dengan  Tingkat  Adopsi    Teknologi  Jajar  Legowo 2:1  No

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat adopsi petani padi sawah terhadap teknologi sistem tanam jajar legowo di nagari Padukuan kecamatan Koto Salak kabupaten Dharmasraya masih dalam tahapan

Setelah dilakukan evaluasi Rasio Manfaat – Biaya yaitu dengan cara membandingkan skor manfaat menyeluruh terhadap skor biaya menyeluruh jika dilaksanakan pekerjaan

Sehubungan dengan jumlah tenaga Marine Inspector yang hanya 12 orang, berarti hanya terdiri dari 4 tim saja, sedangkan kunjungan kapal di pelabuhan Sukarno Hatta

Untuk mewujudkan tingkat adopsi inovasi teknologi sistem tanam jajar legowo oleh petani anggota Kelompok Tani Sedyo Mukti di Desa Pendowoharjo perlu ditingkatkan dalam hal

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat adopsi teknologi petani dalam penerapan sistem tanam jajaran legowo 2:1 dan untuk menganalisisfaktor-faktor

Bobot Umbi – Percobaan Pertama Analisis ragam pada memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap bobot umbi tanaman

Oleh karena itu penulis dalam penelitian ini membahas mengenai metode Pembelajaran di bidang Jaringan Syaraf Tiruan yaitu pada model Jaringan Syaraf Fungsi Basis

Meskipun dengan tingkat pendidikan formal yang rendah dan dominan berumur tua (Tabel 2), petani responden termotivasi untuk mencoba menerapkan teknologi jajar legowo..