LAPORAN KEUANGAN
PER 31 DESEMBER 2014
PEMERINTAH KOTA MADIUN 1
N
WALIKOTA MADIUN
WALIKOTA MADIUN
PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
Laporan Keuangan Daerah (LKD) auditted yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2014 sebagaimana terlampir merupakan tanggungjawab kami.
Laporan keuangan tersebut telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Semua informasi dalam laporan keuangan ini telah dimuat secara lengkap dan benar . Laporan keuangan ini tidak mengandung informasi atau fakta material yang tidak benar, dan tidak menghilangkan informasi dan fakta material berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai.
Madiun, Maret 2010 WALIKOTA MADIUN
KATA PENGANTAR
Penerapan otonomi daerah membawa konsekuensi logis berupa pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan yang baik berdasarkan manajemen keuangan yang transparan dan akuntabel. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 38, Pemerintah Daerah berkewajiban menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berupa laporan keuangan yang terdiri dari:
1. Neraca
2. Laporan Realisasi APBD 3. Laporan Arus Kas
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Penyusunan Laporan Keuangan Daerah (LKD) audited Tahun 2014 berpedoman kepada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.
LKD auditted Pemerintah Kota Madiun Tahun 2014 menyajikan informasi kepada para pengguna (stakeholder) mengenai aset, kewajiban, kekayaan bersih, realisasi pendapatan, belanja, pembiayaan, serta posisi kas daerah Pemerintah Kota Madiun selama tahun anggaran 2014.
Pemerintah Kota Madiun menyadari bahwa LKD auditted Tahun 2014 ini masih belum sempurna, oleh karena itu mengharapkan tanggapan, saran maupun kritik membangun sehingga dapat menyusun laporan keuangan tepat waktu, dan akurat sehingga terwujud tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
WALIKOTA MADIUN
PEMERINTAH KOTA MADIUN 3
DAFTAR ISI
RINGKASAN 1
1. NERACA 1
2. LAPORAN REALISASI ANGGARAN 2
3. LAPORAN ARUS KAS 4
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 4
BAB I PENDAHULUAN I - 1
1.1 Maksud & Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan I - 1
1.2 Dasar Penyusunan I - 2
1.3 Sistematika Penulisan I - 3
BABII EKONOMIMAKRO,KEBIJAKANKEUANGAN
DANTARGETKINERJAAPBD II-1
2.1 Ekonomi Makro II - 1
2.1.1 Rencana Target Ekonomi Makro 2014 II - 2
2.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah II - 3
2.1.3 Prospek Perekonomian Daerah II - 4
2.1.4 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah II - 4
2.2 Kebijakan Keuangan II - 5
2.2.1 Kebijakan Pendapatan Daerah II - 5
2.2.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah II - 5
2.2.1.2 Target Pendapatan Daerah II - 6
2.2.1.3 Upaya Pencapaian Target Pendapatan Daerah II - 7
2.2.2 Kebijakan Belanja Daerah II - 7
2.2.2.1 Kebijakan Perencanaan Belanja Daerah II - 7
2.2.2.2 Kebijakan Belanja Tidak Langsung II - 9
2.2.2.3 Kebijakan Belanja Langsung II - 11
2.2.2.4 Kebijakan Pembangunan Daerah II - 11
2.2.3 Kebijakan Pembiayaan Daerah II - 13 2.2.3.1 Kebijakan Penerimaan Dan Pengeluaran Pembiayaan
Daerah II - 13
2.3 Target Kinerja APBD II - 14
2.3.1 Urusan Wajib II - 15
2.3.2 Urusan Pilihan II - 15
2.3.3 Target Kinerja Keuangan SKPD II - 16
BAB III IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN III - 1
3.1 Urusan Wajib III - 1
3.2 Urusan Pilihan III - 2
3.3 Pencapaian Kinerja Keuangan SKPD III - 2
BAB IV KEBIJAKAN AKUNTANSI IV - 1
4.1 Entitas Laporan Keuangan Daerah IV - 1
4.2 Basis Akuntansi IV - 1
4.3 Basis Pengukuran IV - 2
4.4 Penetapan Kebijakan Akuntansi IV - 2
BAB V PENJELASAN POS-POS NERACA V - 1
5.1. Aset V - 1
5.1.1 Aset Lancar V - 1
5.1.1.1 Kas dan Bank V - 1
5.1.1.1.1 Kas di Kas Daerah V - 2
5.1.1.1.2 Kas di Bendahara Pengeluaran V - 3
5.1.1.1.3 Kas di Bendahara Penerimaan V - 5
5.1.1.1.4 Kas di BLUD V- 6
5.1.1.1.5 Kas Dana kapitasi JKN Puskesmas V- 6
PEMERINTAH KOTA MADIUN 5
5.1.1.3 Piutang Retribusi V - 10
5.1.1.4 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran V- 11
5.1.1.5 Piutang Lain - Lain V -13
5.1.1.5.1 Bagian Lancar Investasi Dana Bergulir V -14
5.1.1.5.2 Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi V - 16
5.1.1.5.3 Piutang Bagi Hasil Laba Usaha BUMD V - 16
5.1.1.5.4 Piutang Klaim BLUD V - 17
5.1.1.5.5 Piutang Lainnya – Piutang DBH Pajak dan SP III Dari Propinsi V - 19
5.1.1.6 Persediaan V - 19
5.1.1.7 Belanja Dibayar Dimuka V - 22
5.1.2 Investasi V - 23
5.1.2.1 Investasi Non Permanen V - 23
5.1.2.1.1 Investasi Dana Bergulir V - 23
5.1.2.1.2 Penyisihan Dana Bergulir V - 29
5.1.2.2 Investasi Permanen V - 29
5.1.2.2.1 Penyertaan Modal Pemda V - 29
5.1.3 Aset Tetap V - 37
5.1.3.1 Tanah V - 38
5.1.3.2 Peralatan dan Mesin V - 46
5.1.3.3 Gedung dan Bangunan V - 54
5.1.3.4 Jalan, Irigasi dan Jaringan V - 60
5.1.3.5 Aset Tetap Lainnya V - 67
5.1.3.6 Konstruksi Dalam Pengerjaan V - 73
5.1.4 Aset Lainnya V - 87
5.1.4.3 Kemitraan dengan Pihak Ketiga V - 88
5.1.4.3.1 Bangun Guna Serah (BOT) V – 88
5.1.4.4 Aset Tidak Berwujud V - 89
5.2. Kewajiban V - 93
5.2.1 Kewajiban Lancar V - 93
5.2.1.1 Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) V - 93
5.2.1.2 Utang Jangka Pendek Lainnya V - 94
5.3. Ekuitas Dana V - 97
5.3.1 Ekuitas Dana Lancar V - 97
5.3.2 Ekuitas Dana Diinvestasikan V - 98
BAB VI PENJELASAN POS-POS REALISASI ANGGARAN VI - 1
6.1. Pendapatan VI - 1
6.1.1 Pendapatan Asli Daerah VI - 1
6.1.1.1 Pajak Daerah VI - 2
6.1.1.2 Retribusi Daerah VI - 5
6.1.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg Dipisahkan VI-15 6.1.1.4 Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah VI -18
6.1.2 Pendapatan Transfer VI -22
6.1.2.1 Transfer Pemerintah Pusat – Dana Perimbangan VI -22
6.1.2.1.1 Dana Bagi Hasil Pajak VI -22
6.1.2.1.2 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya AlamVI - 23
6.1.2.1.3 Dana Alokasi Umum (DAU) VI - 26
6.1.2.1.4 Dana Alokasi Khusus (DAK) VI - 27
6.1.2.1.5 Dana Bagi Hasil Cukai VI - 29
6.2.2.2 Transfer Pemerintah Pusat Lainnya VI - 30
6.2.2.2.1 Dana Otonomi Khusus VI - 30
6.2.2.2.2 Dana Penyesuaian VI - 30
6.2.2.3 Transfer Pemerintah Propinsi VI - 31
6.2.2.3.1 Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi VI - 31
PEMERINTAH KOTA MADIUN 7 6.1.3.2 Bantuan Keuangan dari Prop/ Pemerintah lainnya VI - 33
6. 2 Belanja VI - 36
6.2.1 Belanja Operasi VI -36
6.2.1.1 Belanja Pegawai VI - 36
6.2.1.1.1 Belanja Tidak Langsung – Belanja Pegawai VI - 37
6.2.1.1.2 Belanja Langsung – Belanja Pegawai VI - 39
6.2.1.2 Belanja Barang Jasa VI - 41
6.2.1.2.1 Belanja Langsung VI - 41
6.2.1.3 Belanja Hibah VI - 45
6.2.1.3.1 Belanja Tidak Langsung VI - 45
6.2.1.4 Belanja Bantuan Sosial VI - 47
6.2.1.4.1 Belanja Tidak Langsung VI - 47
6.2.2 Belanja Modal VI - 50
6.2.2.1 Belanja Langsung VI - 50
6.2.2.1.1 Belanja Modal Tanah VI - 51
6.2.2.1.2 Belanja Modal Peralatan dan Mesin VI - 52
6.2.2.1.3 Belanja Modal Gedung dan Bangunan VI - 54
6.2.2.1.4 Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan VI - 56
6.2.2.1.5 Belanja Modal Aset Tetap Lainnya VI - 57
6.2.2.1.6 Belanja Modal Aset Lainnya VI - 59
6.2.3 Belanja Tidak Terduga VI - 57
6.2.3.1 Belanja Tidak Terduga VI - 60
6.3. Pembiayaan Daerah VI - 60
6.3.1 Penerimaan Pembiayaan VI - 61
6.3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu VI - 61
6.3.1.2 Penerimaan Pinjaman Daerah VI – 61
6.3.1.3 Penerimaan Kembali Pinjaman Daerah VI – 62
6.3.2 Pengeluaran Pembiayaan VI - 62
6.3.2.2 Pembayaran Pokok Utang VI - 62
BAB VII PENJELASAN POS-POS ARUS KAS VII - 1
7.1. Arus Kas dari Aktivitas Operasi VII - 1
7.1.1 Arus Kas Masuk dari Aktivitas Operasi VII - 1
7.1.1.1 Pajak Daerah VII - 1
7.1.1.2 Retribusi Daerah VII - 2
7.1.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg Dipisahkan VII -3
7.1.1.4 Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah VII – 3
7.1.1.5 Dana Bagi Hasil Pajak VII - 5
7.1.1.6 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak VII - 5
7.1.1.7 Dana Alokasi Umum (DAU) VII - 5
7.1.1.8 Dana Alokasi Khusus (DAK) VII - 6
7.1.1.9 Dana Bagi Hasil Cukai VII - 6
7.1.1.10 Dana Penyesuaian VII - 6
7.1.1.11 Dana Bagi Hasil Pajak Propinsi VII - 7
7.1.1.12 Bantuan Keuangan Propinsi VII - 7
7.1.2 Arus Kas Keluar dari Aktivitas Operasi VII - 8
7.1.2.1 Belanja Pegawai VII - 8
7.1.2.2 Belanja Barang Jasa VII - 10
7.1.2.3 Belanja Hibah VII -15
7.1.2.4 Belanja Bantuan Sosial VII -17
7.1.2.5 Belanja Tidak Terduga VII -17
7.1.3 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi VII- 18
7.2. Arus Kas dari Aktivitas Investasi VII - 18
7.2.1 Arus Kas Masuk dari Aktivitas Investasi VII - 18
7.2.1 .1 Penjualan Aktiva Tetap VII - 18
PEMERINTAH KOTA MADIUN 9
7.2.2.2 Belanja Modal Peralatan dan Mesin VII - 19
7.2.2.3 Belanja Modal Gedung dan Bangunan VII - 20
7.2.2.4 Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan VII - 22
7.2.2.5 Belanja Modal Aset Tetap Lainnya VII - 23
7.2.3 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi VII - 24
7.3. Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan VII - 25
7.3.1 Arus Kas Masuk dari Aktivitas Pembiayaan VII - 25
7.3.1.1 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman VII - 25
7.3.2 Arus Kas Keluar dari Aktivitas Pembiayaan VII - 25
7.3.2.1 Penyertaan Modal Pemda VII - 25
7.3.2.2 Pembayaran Pokok Utang VII - 26
7.3.3 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan VII - 26
7.4. Arus Kas dari Aktivitas Non Anggaran VII - 26
7.4.1 Arus Kas Masuk dari Aktivitas Non Anggaran VII -26
7.4.2 Arus Kas Keluar dari Aktivitas Non Anggaran VII - 27
7.4.3 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non Anggaran VII - 27
7.5 Kenaikan (Penurunan) Kas VII - 28
7.6 Saldo Akhir Kas VII - 28
BAB VIII INFORMASI NON KEUANGAN VIII - 1
8.1. Gambaran Umum Pemerintah Kota Madiun VIII - 1
8.1.1 Keadaan Geografis VIII - 1
8.1.2 Kondisi Demografis VIII - 2
8.1.3 Potensi Unggulan Daerah VIII - 2
DAFTAR TABEL
DAFTAR TABEL NERACA
Tabel 5.1 Kas dan Bank V - 1
Tabel 5.2 Kas di Kas Daerah V - 2
Tabel 5.3 Saldo Dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) V – 3
Tabel 5.4 Saldo Dana Tambahan Penghasilan Guru (TPG) V - 3
Tabel 5.5 Kas di Bendahara Pengeluaran V – 3
Tabel 5.6 Kas di Bendahara Penerimaan V – 5
Tabel 5.7 Kas di BLUD V – 6
Tabel 5.8 Kas Dana Kapitasi JKN V – 7
Tabel 5.9 Kas Tunai Dana Kapitasi JKN V – 7
Tabel 5.10 Kas Bank Dana Kapitasi JKN V – 7
Tabel 5.11 Deposito di Bank Jatim V – 8
Tabel 5.12 Piutang Pajak Daerah V - 8
Tabel 5.13 Perincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur V - 9
Tabel 5.14 Piutang Retribusi Daerah V - 10
Tabel 5.15 Perincian Piutang Retribusi Berdasarkan Umur V - 11
Tabel 5.16 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran V - 12
Tabel 5.17 Perincian Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Berdasarkan Umur V - 12
Tabel 5.18 Piutang Lain - lain V - 13
Tabel 5.19 Piutang lain-lain berdasarkan umur V - 14
Tabel 5.20 Bagian Lancar Investasi Dana Bergulir V - 15
Tabel 5.21 Bagian Lancar Investasi Dana Bergulir Berdasarkan
Umur V - 15
PEMERINTAH KOTA MADIUN 11
Tabel 5.24 Perincian Piutang Bagi Hasil Laba Usaha Perusahaan Daerah
Berdasarkan Umur V – 17
Tabel 5.25 Piutang Klaim BLUD V - 18
Tabel 5.26 Piutang Klaim BLUD berdasarkan Umur V – 18
Tabel 5.27 Piutang Dana Bagi Hasil Pajak dan SP III dari
Propinsi V - 19
Tabel 5.28 Rekapitulasi Penyisihan piutang V - 19
Tabel 5.29 Persediaan V - 20
Tabel 5.30 Persediaan Obat V - 20
Tabel 5.31 Persediaan Barang Habis Pakai V - 21
Tabel 5.32 Penyajian Investasi Non Permanen V - 23
Tabel 5.33 Nilai Investasi Non Permanen-Dana Bergulir V - 23
Tabel 5.34 Piutang yang belum dapat ditentukan statusnya V - 25
Tabel 5.35 Piutang dan Penyisihan Piutang LKK V - 27
Tabel 5.36 Piutang Bersumber dari Dana Lainnya V - 27
Tabel 5.37 Penyisihan Investasi Dana Bergulir LKK V - 29
Tabel 5.38 Penyertaan Modal Pemda V - 30
Tabel 5.39 Penyertaan Modal pada PDAM V - 30
Tabel 5.40 Penyertaan Modal pada PD BPR Bank Pasar V - 35
Tabel 5.41 Penyertaan Modal pada PD.Aneka Usaha V - 35
Tabel 5.42 Penyertaan Modal pada Bank Jatim V - 36
Tabel 5.43 Aset Tetap V - 37
Tabel 5.44 Aset Tetap Tanah V – 39
Tabel 5.45 Aset Tetap Tanah Pengembalain Harga Perolehan V – 40
Tabel 5.46 Koreksi Penyajian Aset Tetap Tanah Berdasarkan Harga
Perolehan sebelum dan sesudah Sensus V – 42
Tabel 5.47 Perincian selisih Saldo Aset Tetap Tanah Berdasarkan penyebab
Tabel 5.48 Mutasi Aset Tetap Tanah V - 44
Tabel 5.49 Aset Tetap Peralatan dan Mesin V – 46
Tabel 5.50 Aset Tetap Peralatan dan Mesin Pengembalian ke Harga
Perolehan V – 47
Tabel 5.51 Koreksi Penyajian Aset Tetap Peralatan dan Mesin Berdasarkan
Harga Perolehan sebelum dan sesudah Sensus V – 49
Tabel 5.52 Perincian selisih Saldo Aset Tetap Peralatan dan Mesin
Berdasarkan penyebab terjadinya selisih kurang dan selisih lebih V – 50
Tabel 5.53 MutasiAset Tetap Peralatan dan Mesin V - 52
Tabel 5.54 Aset Tetap Gedung dan Bangunan V – 54
Tabel 5.55 Aset Tetap Gedung dan Bangunan Pengembalian ke Harga
Perolehan V – 55
Tabel 5.56 Koreksi Penyajian Aset Tetap Gedung dan Bangunan
Berdasarkan Harga Perolehan sebelum dan sesudah Sensus V – 56
Tabel 5.57 Perincian selisih Saldo Aset Tetap Gedung dan Bangunan
Berdasarkan penyebab terjadinya selisih kurang dan selisih lebih V – 57
Tabel 5.58 Mutasi Aset Gedung dan Bangunan V - 59
Tabel 5.59 Aset Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan V – 60
Tabel 5.60 Aset Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan Pengembalian ke Harga
Perolehan V – 62
Tabel 5.61 Koreksi Penyajian Aset Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan
Berdasarkan Harga Perolehan sebelum dan sesudah Sensus V – 63
Tabel 5.62 Perincian selisih Saldo Aset Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan
Berdasarkan penyebab terjadinya selisih kurang dan selisih lebih V – 64
PEMERINTAH KOTA MADIUN 13
Tabel 5.63 Mutasi Aset Jalan, Irigasi dan Jaringan V - 65
Tabel 5.64 Aset Tetap Lainnya V – 67
Tabel 5.65 Aset Tetap Lainnya Pengembalian ke Harga Perolehan V – 69
Tabel 5.66 Koreksi Penyajian Aset Tetap Lainnya Berdasarkan Harga
Perolehan sebelum dan sesudah Sensus V – 70
Tabel 5.67 Perincian selisih Saldo Aset Tetap Lainnya Berdasarkan
penyebab terjadinya selisih kurang dan selisih lebih V – 71
Tabel 5.68 Mutasi Aset Tetap Lainnya V - 72
Tabel 5.69 Konstruksi Dalam Pengerjaan V - 73
Tabel 5.70 Mutasi Konstruksi Dalam Pengerjaan V - 74
Tabel 5.71 Aset Lainnya V - 87
Tabel 5.72 Bangun Guna Serah (BOT) V - 88
Tabel 5.73 Aset Tidak Berwujud V - 89
Tabel 5.74 Aset Lain-Lain V - 91
Tabel 5.75 Reklas Piutang Lain-Lain V - 91
Tabel 5.76 Aset Tetap Rusak Berat V - 92
Tabel 5.77 Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) V - 93
Tabel 5.78 Utang Jangka Pendek Lainnya V - 94
Tabel 5.79 Ekuitas Dana Lancar V - 98
Tabel 5.80 Ekuitas Dana Diinvestasikan V - 98
DAFTAR TABEL LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Tabel 6.1. Realisasi Pajak Daerah VI -3
Tabel 6.2. Realisasi Retribusi Daerah VI - 6
Tabel 6.3. Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan VI- 16
Tabel 6.4. Realisasi Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang sah VI - 19
Tabel 6.5. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak VI - 22
Tabel 6.7. Realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) VI - 26
Tabel 6.8. Realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) VI - 28
Tabel 6.9. Realisasi Dana Bagi Hasil Cukai VI– 29
Tabel 6.10. Realisasi Dana Penyesuaian VI – 30
Tabel 6.11. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi VI -32
Tabel 6.12. Bantuan Keuangan dari Propinsi VI – 33
Tabel 6.13. Realisasi Belanja Tidak Langsung – Jenis Belanja PegawaiVI - 38
Tabel 6.14. Realisasi Belanja Langsung Jenis Belanja Pegawai VI – 40
Tabel 6.15. Realisasi Belanja Barang Jasa setelah di Reklas VI - 41
Tabel 6.16. Realisasi Belanja Barang Jasa VI - 42
Tabel 6.17. Reklas Anggaran dan RealisasiBelanja Barang Jasa ke Belanja
Bantuan Sosial VI -43
Tabel 6.18. Realisasi Belanja Hibah setelah di Reklas VI - 45
Tabel 6.19. Realisasi Belanja Hibah VI - 46
Tabel 6.20. Realisasi Belanja Bantuan Sosial setelah di Reklas VI- 48
Tabel 6.21. Realisasi Belanja Bantuan Sosial VI – 49
Tabel 6.22. Realisasi Belanja Modal Tanah VI – 51
Tabel 6.23. Realisasi Belanja Modal Peralatan dan Mesin VI – 53
Tabel 6.24. Realisasi Belanja Modal Gedung dan Bangunan setelah
direklas VI – 54
Tabel 6.25. Realisasi Belanja Modal Gedung Bangunan VI – 55
Tabel 6.26. Realisasi Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan setelah
reklas VI – 56
Tabel 6.27. Realisasi Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan VI – 56
Tabel 6.28. Realisasi Belanja Modal Aset Tetap Lainnya VI – 58
Tabel 6.29. Realisasi Belanja Modal Aset Lainnya VI – 59
Tabel 6.30. Realisasi Belanja Langsung Jenis Belanja Tidak TerdugaVI – 60 Tabel 6.31. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Yang Lalu
PEMERINTAH KOTA MADIUN 15
DAFTAR TABEL LAPORAN ARUS KAS
Tabel 7.1. Penerimaan Pajak Daerah VII - 1
Tabel 7.2. Penerimaan Retribusi Daerah VII - 2
Tabel 7.3. Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan VII - 3
Tabel 7.4. Penerimaan Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yg sah VII - 4
Tabel 7.5. Penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak VII - 5
Tabel 7.6. Penerimaan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak VII -5
Tabel 7.7. Penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) VII - 5
Tabel 7.8. Penerimaan Dana Alokasi Khusus (DAK) VII – 6
Tabel 7.9. Penerimaan Dana Bagi Hasil Cukai VII -7
Tabel 7.10. Penerimaan Dana Penyesuaian VII - 7
Tabel 7.11. Penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi VII - 8
Tabel 7.12. Penerimaan Bantuan Keuangan dari Propinsi VII - 9
Tabel 7.13. Realisasi Belanja Pegawai VII – 10
Tabel 7.14. Pengeluaran Belanja Pegawai VII -10
Tabel 7.15. Realisasi Barang dan Jasa VII - 12
Tabel 7.16. Pengeluaran Belanja Barang dan Jasa VI - 12
Tabel 7.17. Reklas ke Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah VII-14
Tabel 7.18. Pengeluaran Belanja Hibah dan Bantuan Sosial VII - 15
Tabel 7.19. Pengeluaran Belanja Bantuan Sosial VII- 16
Tabel 7.20 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi VII - 17
Tabel 7.21. Arus Kas Masuk dari Aktivitas Investasi VII - 17
Tabel 7.22. Pengeluaran Belanja Langsung Jenis Belanja Modal Peralatan dan
Mesin VII - 18
Tabel 7.23. Pengeluaran Belanja Langsung Jenis Belanja Modal Gedung dan
PEMERINTAH KOTA MADIUN 17
Tabel 7.24. Pengeluaran Belanja Langsung Jenis Belanja Modal Jalan, Irigasi Dan
Jaringan VII - 21
Tabel 7.25. Pengeluaran Belanja Langsung Jenis Belanja Modal Aset Tetap
Lainnya VII - 22
Tabel 7.26. Pengeluaran Belanja Langsung Jenis Belanja Modal Aset Lainnya VII - 23
Tabel 7.27. Arus Kas Bersih Dari Aktivitas Investasi VII - 24
Tabel 7.28. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman VII - 25
Tabel 7.29. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Pembiayaan VII - 26
Tabel 7.30. Penerimaan Perhitungan Pihak Ketiga VII - 27
Tabel 7.31. Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga VII – 27
Tabel 7.32. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Non Anggaran VII – 28
Tabel 7.33. Kenaikan (Penurunan) Kas VII – 28
PEMERINTAH KOTA MADIUN 19
DAFTAR GRAFIK
DAFTAR GRAFIK LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Grafik 6.1. Realisasi Pendapatan Asli Daerah VI - 2
Grafik 6.2. Realisasi Pajak Daerah VI - 5
Grafik 6.3. Realisasi Retribusi Daerah VI -15
Grafik 6.4. Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
dipisahkan VI - 18
Grafik 6.5. Realisasi Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang sah VI - 21
Grafik 6.6. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak VI - 23
Grafik 6.7. Realisasi Dana Bagi Hasil Bukan Pajak/SDA VI - 25
Grafik 6.8. Realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) VI - 27
Grafik 6.9. Realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) VI -28
Grafik 6.10. Realisasi Bagi Hasil Cukai VI - 29 Grafik 6.11. Realisasi Dana Penyesuaian VI - 31
Grafik 6.12. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi VI - 32
Grafik 6.13. Realisasi Bantuan Keuangan dari Propinsi VI - 35
Grafik 6.14. Realisasi Belanja Pegawai VI - 36
Grafik 6.15. Realisasi Belanja Barang Jasa VI –44
Grafik 6.16. Realisasi Belanja Hibah VI - 47
Grafik 6.17. Realisasi Belanja Bantuan Sosial VI – 49
Grafik 6.18. Realisasi Belanja Modal VI – 50
RINGKASAN
Setelah tahun anggaran berakhir, Pemerintah Daerah menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berupa LKPD Tahun 2014 yang terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Penyusunan dan penyajian LKPD Tahun 2014 merupakan perwujudan pertanggungjawaban konstitusional Pemerintah Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku wakil rakyat atas pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2014. LKPD Tahun 2014 disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.
LKPD ini disusun berdasarkan laporan keuangan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Madiun, informasi keuangan yang berada dalam pengelolaan Bendahara Umum Daerah (BUD), laporan keuangan BUMD dan pihak-pihak terkait lain yang mengelola dan atau menguasai aset pemerintah daerah.
N E R A C A
Aset
Kewajiban
PEMERINTAH KOTA MADIUN 21
1. NERACA
Neraca adalah laporan yang menggambarkan posisi keuangan pemerintah daerah yang meliputi aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal 31 Desember 2014
Jumlah aset per 31 Desember 2014 sebesar Rp2.245.986.602.424,20 yang terdiri dari aset lancar sebesar Rp272.502.606.830,81 investasi non permanen sebesar Rp14.716.027.484,41 investasi permanen sebesar Rp90.233.489.632,98 , aset tetap sebesar Rp1.806.912.047.733,00 dan aset lainnya sebesar Rp61.622.430.743,00. Jumlah Kewajiban dan Ekuitas Dana sebesar Rp2.245.986.602.424,20 yang terdiri dari Kewajiban Jangka Pendek sebesar Rp6.116.104.569,00. Kewajiban Jangka Panjang Rp0,00 dan Ekuitas Dana Lancar sebesar Rp266.386.502.261,81 dan ekuitas dana diinvestasikan sebesar Rp1.973.483.995.593,39
Perbandingan Neraca Per 31 Desember 2014 dan Per 31 Desember 2013 dapat disajikan sebagai berikut: 31 Desember 2014 31 Desember2013
Aset 2.245.986.602.424,20 3.091.907.760.094,83 Aset lancar 272.502.606.830,81 193.114.506.939,23 Investasi Non Permanen 14.716.027.484,41 10.103.682.777,66 Investasi Permanen 90.233.489.632,98 88.922.779.997,83 Aset Tetap 1.806.912.047.733,00 2.747.692.952.380,11 Aset Lainnya 61.622.430.743,00 52.073.838.000,00 Kewajiban 6.116.104.569,00 416.525.252,00 Kewajiban Jangka Pendek 6.116.104.569,00 416.525.252,00
Kewajiban Jangka Panjang -
Ekuitas Dana 2.239.870.497.855,20 3.091.907.760.094,83 Ekuitas Dana Lancar 266.386.502.261,81 192.697.981.687,23 Ekuitas Dana Investasi 1.973.483.995.593,39 2.898.793.253.155,60
Ekuitas Dana Cadangan
L R A
Pendapatan
Belanja
2. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Laporan Realisasi APBD menggambarkan perbandingan antara Anggaran pada APBD Perubahan Tahun Anggaran 2014 dengan realisasinya meliputi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, pembiayaan dan sisa lebih/kurang perhitungan anggaran.
Realisasi pendapatan tahun anggaran 2014 sebesar Rp938.517.341.039,39 atau mencapai 109,46% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp857.410.749.000,00. Realisasi belanja tahun anggaran 2014 sebesar Rp853.473.318.173,68 atau mencapai 83,11% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp1.026.890.016.000,00. Jumlah realisasi belanja tersebut terdiri dari realisasi belanja Operasi sebesar Rp651.939.376.424,68 atau 83,71% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp779.820.857.000,00 dan realisasi belanja modal sebesar Rp201.533.941.749,00 atau 85,63% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp234.474.805.000,00 serta realisasi Belanja Tidak Terduga sebesar Rp0,00 atau tidak ada realisasi dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp12.594.354.000,00.
Pada tahun anggaran 2014 direncanakan terjadi defisit sebesar Rp169.479.267.000.00 namun realisasinya pada tahun anggaran tahun 2014 terjadi surplus sebesar Rp85.044.022.865,71.
Pada tahun anggaran 2014, penerimaan pembiayaan berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA) tahun 2013 sebesar Rp169.479.267.427,26 dan penerimaan kembali pemberian pinjaman sebesar Rp6.184.000,00. Tahun Anggaran 2014 tidak ada alokasi anggaran untuk pengeluaran pembiayaan dan Pembayaran Utang Pokok. Realisasi pembiayaan neto tahun anggaran 2014 adalah selisih antara penerimaan dengan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp169.485.451.427,26.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun anggaran 2014 sebesar Rp254.529.474.293,03 terdiri dari surplus anggaran sebesar Rp85.044.022.865,71 dan pembiayaan neto sebesar Rp169.485.451.427,26. Perbandingan Laporan Realisasi Anggaran APBD Tahun Anggaran 2014 dan Tahun Anggaran 2013 dapat disajikan sebagai berikut :
Tahun 2014 Tahun 2013 Prosentase Pendapatan 938.517.341.039,39 809.078.381.917,59 118,62% Pendapatan Asli Daerah 134.584.344.293,39 96.011.481.199,59 128,02% Pendapatan Transfer 779.727.369.746,00 711.043.455.718,00 117,11% Lain-lain Pendapatan yang Sah 24.205.627.000,00 2.023.445.000,00 69,68%
PEMERINTAH KOTA MADIUN 23
Belanja Modal 201.533.941.749,00 180.111.320.995,47 131,12%
Belanja Tidak Terduga 0,00 0,00 0 %
Surplus (Defisit) Anggaran 85.044.022.865,71 33.991.180.103,12 27,54% Pembiayaan Neto 169.485.451.427,26 135.488.087.324,14 47,50% SiLPA 254.529.474.293,97 169.479.267.427,26 125,09% A R U S K A S Aktivitas Operasi Aktivitas Investasi Aktivitas Pembiayaan Aktivitas Non Anggaran
3. LAPORAN ARUS KAS
Laporan Arus Kas adalah laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama tahun anggaran 2014, serta saldo kas dan setara kas pada tanggal 31 Desember 2014.
Saldo akhir kas Per 31 Desember 2014 sebesar Rp240.461.719.327,90 yang berarti terdapat kenaikan sebesar Rp73.000.000.000,00 dari saldo Per 31 Desember 2013 Rp167.600.724.714,64.
Perbandingan Laporan Arus Kas untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2014 dan 31 Desember 2013 dapat disajikan sebagai berikut:
Tahun 2014 Tahun 2013
Aliran kas bersih dari aktivitas operasi 274.128.212.967,45 208.983.529.280,07 Aliran kas bersih dari aktivitas investasi (201.077.141.749,00) (176.867.152.495,47) Aliran kas bersih dari aktivitas pembiayaan 6.184.000,00 9.693.801,00 Arus kas dari aktivitas non anggaran (196.260.606,00) (3.005.154,10) Kenaikan /Penurunan) Kas 72.860.994.612,45 32.123.065.431,50 Saldo Awal Kas di Kas Daerah 167.600.724.714,64 135.477.659.283,14 Saldo Akhir Kas di Kas Daerah 240.461.719.327,09 167.600.724.714,64
C A L K Kebijakan Ekonomi Makro Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan Kebijakan Akuntansi Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan Informasi Non Keuangan
PEMERINTAH KOTA MADIUN 25
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menguraikan kebijakan makro, kebijakan fiskal, metodologi penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang diterapkan. Selain itu, CaLK juga menyajikan penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai.
Dalam Laporan Realisasi APBD penyajian realiasasi pendapatan, belanja dan pembiayaan diakui berdasarkan basis kas yaitu pengakuan transaksi yang dicatat pada saat kas diterima atau dikeluarkan oleh dan dari kas daerah. Sedangkan dalam Neraca penyajian aset, kewajiban dan ekuitas dana diakui berdasarkan basis akrual yaitu pengakuan transaksi yang dicatat pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan kapan kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan dari kas daerah.
Dalam CaLK juga diungkapkan pula kejadian-kejadian penting setelah tanggal pelaporan keuangan serta informasi tambahan yang dikeluarkan.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 27
PENDAHULUAN
Era otonomi daerah sekarang ini, Pemerintah Daerah dihadapkan pada suatu keadaan dimana pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan harus didasarkan pada manajemen keuangan yang sehat. Setelah tahun anggaran 2014 berakhir, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Pemerintah Daerah harus menyusun laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2014 yang terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
1.1 MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN
LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disusun dan disediakan sebagai sarana informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah selama satu periode pelaporan.
Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan, realisasi belanja, realisasi pembiayaan, posisi aset, posisi kewajiban, posisi ekuitas dana dan arus kas suatu entitas pelaporan. Selain itu, setiap entitas pelaporan keuangan daerah mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan.
1
P E N D A H U L U A N Maksud dan Tujuan Dasar Penyusunan
Metode Penyusunan
T U J U A N
Penerimaan Pengeluaran Sumber daya ekonomi
Hutang Kekayaan bersih Posisi Kas Daerah
Pelaporan keuangan pemerintah daeah menyajikan informasi yang bermanfaat bagai para pengguna (stakeholders) dalam menilai akuntabilitas dan transparansi pemerintahan daerah. Maksud dan tujuan dari penyusunan LKPD antara lain:
1. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaaan daerah periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran daerah.
2. Memberikan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dalam APBD.
3. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah tercapai.
4. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya.
5. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
6. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan.
DASAR PENYUSUNAN UU 32 Th 2004 UU 34 Th 2004 PP 24 Th 2005 PP 58 Th 2005 Permendagri13 Th2006
PEMERINTAH KOTA MADIUN 29
1.2 DASAR PENYUSUNAN
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 dan diubah terakhir kalinya dengan Undang-Uandang Nomor 23 tahun 2014;
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Lampiran II tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.
6. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah; 7. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Barang milik Daerah;
8. Peraturan Walikota Nomor 23 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Sistem dan Prosedur Penerimaan Daerah;
9. Peraturan Walikota Nomor 24 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Sistem dan Prosedur Pengeluaran Daerah;
10. Peraturan Walikota Nomor 25 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Sistem dan Prosedur Akuntansi Keuangan Daerah;
11. Peraturan Walikota Nomor 27 Tahun 2008 tentang Kebijakan Akuntansi Keuangan Daerah sebagaimana diubah terakhir dengan Nomor 44 Tahun 2013;
1.3 SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Madiun Tahun 2014 adalah sebagai berikut:
Ringkasan
Memberikan informasi mengenai LKPD Tahun 2014 yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan Bab I Pendahuluan
Memberikan informasi mengenai maksud dan tujuan serta landasan hukum penyusunan LKPD Tahun 2014
Bab II Ekonomi Makro dan Kebijakan Keuangan APBD 2014
Memberikan informasi mengenai ekonomi makro dan kebijakan keuangan APBD Tahun Anggaran 2014.
Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan
Memberikan informasi mengenai pencapaian kinerja keuangan masing-masing SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Madiun selama tahun anggaran 2014.
Bab IV Kebijakan Akuntansi
Memberikan informasi mengenai kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh Pemerintah Kota dalam menyusun LKPD Tahun 2014.
Bab V Penjelasan Pos-Pos Neraca
Memberikan informasi mengenai penjelasan masing-masing pos pada Neraca. Bab VI Penjelasan Pos-Pos Laporan Realisasi Anggaran
Memberikan informasi mengenai penjelasan masing-masing pos pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA). Bab VII Penjelasan Pos-Pos Laporan Arus Kas
Memberikan informasi mengenai penjelasan masing-masing pos pada Laporan Arus Kas.
SISTEMATIKA
Ringkasan
Pendahuluan
Ekonomi Makro
Ihktisar kinerja keu
Kebijakan akuntansi
Pos-Pos LKPEMERINTAH KOTA MADIUN 31
Bab VIII Informasi Non Keuangan
Memberikan informasi non keuangan Pemerintah Kota Madiun yang terjadi selama tahun anggaran 2014 dan kejadian-kejadian lain setelah tanggal neraca.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 33
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN
KEUANGAN DAN TARGET KINERJA APBD
2.1. PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO
Perkembangan kondisi daerah khususnya kondisi perekonomian akan mengindikasikan sejauh mana kesejehateraan masyarakat daerah tersebut telah terwujud. Beberapa variabel ekonomi makro terpenting yang menjadi indikator pencapaian pembangunan perekonomian daerah adalah pertumbuhan ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), laju inflasi, pengangguran, dan kemiskinan.
2
P E R K E M B A N G A N E K O N O M I M A K R O Rencana target ekonomi makro Tantangan dan prospek perekonomian daerah Prospek perekonomian daerah Arah kebijakan perekonomian daerah
Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari tingkat inflasi, tingkat tenaga kerja dan tingkat pengangguran terbuka sebagaimana telah diprediksikan dalam Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun Anggaran 2014. Pertumbuhan ekonomi di Kota Madiun pada tahun 2009 sebesar 6,06%, pada tahun 2010 sebesar 6,93%, pada tahun 2011 sebesar 7,18% pada tahun 2012 sebesar 7,79% dan pada tahu 2013 sebesar 8,07%. Pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Kota Madiun berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diproyeksikan tumbuh sekitar 8,15 %.
Tingkat inflasi Kota Madiun mengalami fluktuasi mulai tahun 2009 sebesar 5,26%, pada tahun 2010 sebesar 6,67%, pada tahun 2011 sebesar 6,24%, pada tahun 2012 sebesar 4,59%, pada tahun 2013 sebesar 5,62%. Pada tahun 2014 angka proyeksi tingkat inflasi sebesar 5,5%.
Tingkat pengangguran terbuka di Kota Madiun pada tahun 2009 sebesar 11,27%, pada tahun 2010 sebesar 9,52%, pada tahun 2011 sebesar 5,15% pada tahun 2012 sebesar 6,71% dan pada tahun 2013 sebesar 6,66% . Pada tahun 2014 angka proyeksi tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,33%.
2.1.1. RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO 2014
Pembangunan ekonomi Kota Madiun terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya total PDRB setiap tahunnya baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.
Potensi ekonomi Kota Madiun pada tahun 2009 sampai tahun 2013 mayoritas ditopang oleh tiga sektor utama yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor jasa-jasa yang secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 74,81%. Atas dasar harga konstan kontribusi sektor yang paling dominan memberikan kontribusi terhadap PDRB Kota Madiun pada tahun 2013 yaitu dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor jasa-jasa. Ketiga sektor tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 76,20%. Laju pertumbuhan ekonomi dengan potensi sektor ekonomi yang ada sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor :
Pengaruh faktor eksternal adalah kebijakan pemerintah pusat dalam bidang ekonomi, kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Timur serta perkembangan perekonomian daerah sekitar.
Pengaruh faktor internal yaitu kebijakan fiskal/APBD dalam bidang perekonomian melalui pembinaan UMKM dan Koperasi serta pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM, perbaikan dan pemeliharaan pasar-pasar, penyediaan infrastruktur ekonomi dan lain-lain.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 35
2.1.2. TANTANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Kondisi Internal
Kekuatan :
a. Sarana dan prasarana transportasi yang memadai; b. Sarana dan prasarana telekomunikasi yang baik; c. Sarana dan prasarana pendidikan yang baik;
d. Tersedia lembaga keuangan yang baik bank dan non bank; e. Adanya fasilitas perdagangan dan jasa skala regional; f. Kondisi dan situasi sosial politik yang relatif kondusif;
g. Letak geografis Kota Madiun yang strategis sebagai kota transit; h. Terdapat industri skala nasional dan internasional;
i. Berkembangnya peran swasta di segala bidang; j. Adanya lembaga perijinan terpadu.
Kelemahan :
a. Terbatasnya sumber daya alam; b. Rendahnya daya saing pencari kerja;
c. Belum optimalnya pengelolaan UMKM serta Koperasi yang ada;
d. Masih rendahnya kemitraan produksi dan pemesaran antar pelaku usaha.
Kondisi Eksternal
Peluang :
a. Terdapat BUMN dan perusahaan yang memiliki potensi untuk mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR);
b. Adanya potensi permintaan barang dan jasa dari daerah sekitar;
c. Berkembangnya regulasi regional dibidang perekonomian yang mendorong petumbuhan investasi di daerah;
d. Adanya regulasi mengembangkan kerja sama dalam pembangunan antar pemerintah daerah maupun dengan swasta;
e. Adanya regulasi yang memposisikan Kota Madiun sebagai Pusat SWP Madiun dan sekitarnya; f. Meningkatnya daya beli masyarakat daerah hinterland.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 37
c. Adanya rencana operasional jalan Kertosono-Solo;
d. Meningkatnya fasilitas perdagangan, jasa dan pariwisata wilayah sekitar.
2.1.3. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Dengan kondisi internal dan eksternal yang dimiliki Kota Madiun, prospek perekonomian daerah perkembangannya diarahkan pada sektor industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa.
Secara riil prospek perekonomian Kota Madiun pada tahun 2014 adalah : Berkembangnya kapasitas UMKM dan koperasi
Meningkatnya kualitas pelayanan publik
Berkembangnya pola kemitraan dalam pembangunan Berkembangnya fasilitas perdagangan skala regional
Terkendalinya masalah sosial, keamanan, ketertiban dan politik
2.1.4. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH
Dalam rangka mewujudkan target ekonomi makro dan prospek ekonomi tahun 2014 maka kebijakan bidang ekonomi tahun 2014 diarahkan untuk meningkatkan perekonomian dengan memberdayakan ekonomi masyarakat yaitu melalui :
1. Pemberdayaan UMKM dan Koperasi
Pemberdayaan Koperasi dan UMKM dilakukan melalui revitalisasi Koperasi dan perkuatan UMKM yaitu dengan memperbaiki akses kredit UMKM terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pasar serta memperbaiki iklim usaha.
2. Pengembangan Kemitraan
BUMN dan perusahaan yang melaksankan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu kebijakan dari manajemen perusahaan merupakan peluang bagi UMKM untuk lebih berkembang yaitu melalui pendampingan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.
3. Pengembangan Industri kreatif
Industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi serta memberikan dampak sosial yang positif perlu dikembangkan melalui pengembangan unit pelayanan klinik bisnis dan pengembangan jaringan infrastruktur kredit UMKM diantaranya dengan arahan edukatif dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.
4. Pemanfaatan potensi seni budaya sebagai sarana pariwisata
Adanya pengembangan seni budaya diharapkan dapat dikembangkan sebagai pendukung sektor pariwisata Usaha mewujudkan kenisitraan antara pemerintah dengan swasta isata yang umumnya
hanya mengandalkan potensi sumber daya alam, sedangkan Kota Madiun tidak memiliki potensi alam yang menonjol sebagai obyek pariwisata.serta fasilitasi pengusaha besar dengan UMKM.
2.2. KEBIJAKAN KEUANGAN
2.2.1. KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH
2.2.1.1. KEBIJAKAN PERENCANAAN PENDAPATAN DAERAH
Tujuan penyelenggaraan otonomi daerah adalah memberdayakan daerah sesuai dengan potensi dan kemampuan daerah, selain itu otonomi daerah juga sebagai motivasi kuat bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyikapi berbagai persoalan pemerintah dan pembangunan yang dihadapi, utamanya berkaitan dengan pembiayaan pembangunan daerah.
Perencanaan anggaran pendapatan daerah Kota Madiun dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ini meliputi berbagai kebijakan sebagai berikut:
1. Pendapatan asli daerah dihitung dengan memperhatikan perkembangan pendapatan selama dua tahun tahun terakhir, serta prakiraan masing-masing potensi jenis pendapatan asli daerah. Selain itu, adanya kebijakan dari pemerintah pusat untuk mengalihkan pajak pusat kedaerah akan menambah pendapatan asli daerah.
2. Dana Perimbangan yaitu DAU, DBH dan DAK sementara mempertimbangkan angka Tahun 2013.
3. Lain-lain pendapatan yang sah sementara diperhitungkan pada sumber-sumber pendapatan yang dapat dipastikan.
2.2.1.2. TARGET PENDAPATAN DAERAH
Pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah), Dana Perimbangan (dana bagi hasil, DAU, DAK), dan Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Komponen PAD Kota Madiun memilki tren kenaikan yang fluktuatif. Pada tahun 2011 Komponen PAD diproyeksikan mengalami kenaikan dan pada tahun 2012 sampai 2013 dan mengalami kenaikan kembali pada tahun 2014. Pendapatan Asli Daerah Kota Madiun diproyeksikan mencapai 26,53%
K E B I J A K A N K E U A N G A N Kebijakan Pendapatan Kebijakan Belanja Kebijakan Pembiayaan
PEMERINTAH KOTA MADIUN 39
Dana Perimbangan
Dana perimbangan masih merupakan sumber penerimaan yang dominan dalam pendapatan daerah di Kota Madiun. Hal ini dibuktikan dengan persentase jumlah komponen Dana Perimbangan yang lebih banyak dari pada Pendapatan Daerah yang lain. Dari tahun 2012 sampai 2013 dana Perimbangan Kota Madiun mengalami kenaikan sebesar 15,78%. Namun, Target/asumsi penerimaan dana perimbangan pada tahun 2014 mengalami kenaikan yaitu sebesar Rp729.517.008.000,00 atau menurun sebesar 20,54% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana perimbangan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah di Kota Madiun tahun 2014 yang mencapai 85,08%.
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Pendapatan lain-lain yang sah pada tahun 2014 ditargetkan sebesar Rp39.423.135.000,00 atau memilki persentase sebesar 38,025%. Prediksi tersebut berdasarkan tren angka lain-lain pendapatan daerah yang sah yang fluktuatif namun cenderung meningkat diiringi dengan peningkatan jumlah PAD. Hal ini mengindikasikan adanya kemandirian fiskal di Kota Madiun yang ditunjang oleh kemampuan untuk mengelola berbagai sektor ekonomi yang ada di daerahnya.
2.2.1.3. UPAYA PENCAPAIAN TARGET PENDAPATAN DAERAH
Arah kebijakan pendapatan daerah Kota Madiun dalam upaya mecapai target pendapatan di atas adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan pendapatan dari organisasi penghasil;
b. intensifikasi sumber-sumber Diversifikasi sumber pendapatan daerah;
c. meningkatkan kemampuan dan optimalisasi organisasi di bidang pendapatan daerah;
d. perbaikan sistem layanan dan perlindungan terhadap masyarakat dalam rangka peningkatan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban dalam pembayaran pajak daerah maupun retribusi;
e. memantapkan Kelembagaan dan Sistem Operasional Pemungutan Pendapatan Daerah; f. meningkatkan sistem pengelolaan aset dan keuangan daerah;
g. meningkatkan komunikasi dan koordinasi yang intensif dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi dalam upaya pemenuhan kebutuhan fiskal daerah;
h. mendorong penegakan hukum terhadap wajib pajak dan wajib retribusi yang melakukan pelanggaran Peraturan Daerah.
2.2.2. KEBIJAKAN BELANJA DAERAH
2.2.2.1. KEBIJAKAN PERENCANAAN BELANJA DAERAH
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah disebutkan bahwa belanja daerah terdiri dari jenis belanja yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten kota dan pemerintah desa, serta belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa.
Belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten kota dan pemerintah desa, serta belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa.
Sedangkan belanja langsung tediri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal. Kebijakan untuk Tahun 2013 belanja langsung digunakan untuk belanja yang terkait langsung dengan program dan kegiatan. Kebijakan pembangunan daerah untuk Tahun 2013 berpedoman pada RPJMD 2009-2014 dengan tetap melaksanakan program kegiatan sesuai dengan skala prioritas daerah. Pencapaian hasil-hasil pembangunan dalam tahun anggaran sebelumnya akan terus ditingkatkan sesuai kemampuan keuangan daerah.
Arah kebijakan belanja daerah Kota Madiun tahun 2014 adalah sebagai berikut
1. Menitikberatkan pada pelaksanaan urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Madiun sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Madiun Nomor 02 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Kota Madiun;
2. Menitikberatkan pada prioritas pembangunan Kota Madiun tahun 2014 yaitu:
a. Optimalisasi pelayanan kesehatan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, sarana dan prasarana;
b. Peningkatan kualitas pendidikan melalui pemenuhan dan penguatan Standar Pelayanan Minimal;
c. Peningkatan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap PMKS;
PEMERINTAH KOTA MADIUN 41
UMKM dan koperasi, seni budaya dan pariwisata;
e. Pengembangan sistem pelayanan publik melalui peningkatan kinerja aparatur dan kerjasama pembangunan daerah;
f. Peningkatan infrastruktur dan pengelolaan kualitas lingkungan hidup;
3. Diarahkan pada upaya pencapaian sasaran/target kinerja masing-masing SKPD yang tertuang dalam Renstra dan Renja SKPD;
4. Meningkatkan kualitas anggaran belanja daerah melalui pola penganggaran yang berbasis kinerja dengan pendekatan tematik pembangunan yang disertai sistem pelaporan yang semakin akuntabel;
5. Peningkatan efektifitas penggunaan alokasi belanja daerah sesuai dengan TUPOKSI dan kewenangan masing-masing SKPD;
6. Mendayagunakan penggunaan belanja daerah untuk menstimulasi tumbuh kembangnya partisipasi sektor swasta dan swadaya masyarakat dalam pembangunan daerah.
2.2.2.2. KEBIJAKAN BELANJA TIDAK LANGSUNG
Kebijakan belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga. Komposisi belanja tidak langsung Kota Madiun didominasi oleh belanja pegawai, dengan kata lain alokasi terbesar masih digunakan untuk gaji pegawai. Hal ini terlihat juga dalam Arah kebijakan belanja tidak langsung daerah Kota Madiun tahun 2014 sebagai berikut.
1. pemenuhan kebutuhan pada belanja gaji pegawai beserta tunjangan dan penerimaan lainnya; 2. peningkatan alokasi belanja yang mengarah pada program yang berorientasi pada kesejahteraan
masyarakat, terutama pada kepentingan publik;
3. meningkatkan kualitas anggaran belanja daerah melalui pola penganggaran yang berbasis kinerja dengan pendekatan tematik pembangunan yang disertai sistem pelaporan yang semakin akuntabel;
4. belanja tidak terduga yang merupakan upaya untuk mengatasi kejadian luar biasa yang bersifat force mayor.
Lebih dari 94% alokasi belanja tidak langsung digunakan untuk belanja pegawai. Sedangkan alokasi yang persentasenya rendah adalah belanja tidak terduga. Hal ini sangat wajar karena komponen ini
dipergunakan untuk pengeluaran yang tidak dapat diprediksi, sehingga besarannya pun akan menyesuaikan. Beberapa alokasi belanja tidak langsung seperti belanja bunga dan belanja subsidi tidak mempunyai alokasi sejak tahun 2009 dan 2010.
Dari alokasi dan tren belanja Kota Madiun, penyusunan target belanja tidak langsung tahun 2014 adalah 52,41% untuk belanja pegawai; 1,74% untuk belanja hibah; 1,61% untuk belanja bantuan sosial dan 0,14% unutk belanja tidak terduga. Sedangkan untuk alokasi belanja bunga dan subsidi nilainya nol. Hal ini didasari perhitungan sesuai dengan kebutuhan belanja daerah pada tahun-tahun sebelumnya.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 43
2.2.2.3. KEBIJAKAN BELANJA LANGSUNG
Strategi kebijakan perencanaan penggunaan belanja langsung tahun anggaran 2014 adalah sebagai berikut :
1. Belanja langsung program kegiatan pada setiap SKPD. Belanja ini diprioritaskan untuk menunjang efektifitas pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan daerah yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Belanja langsung urusan wajib dan pilihan. Untuk tahun 2013 belanja ini digunakan untuk : Mendanai program dan kegiatan dalam rangka melindungi dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat melalui peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan umum serta mengembangkan sistem jaminan sosial dan penanggulangan kemiskinan
Mendanai program dan kegiatan yang menjadi prioritas pada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Mendanai kebutuhan fisik, sarana dan prasarana dasar yang menjadi urusan daerah antara lain program dan kegiatan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, lingkungan hidup, kependudukan, kelautan dan perikanan sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Mendanai program dan kegiatan yang berkaitan dengan cukai dan tembakau.
2.2.2.4. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH
2.2.2.4.1. ISU DAN PERMASALAHAN PEMBANGUNAN
Sesuai dengan RPJMD RPJMD Kota Madiun tahun 2009-2014, arah kebijakan ekonomi adalah seperti tertuang dalam ringkasan misi yaitu “Mewujudkan Pembangunan Berbasis Pada Partisipasi Masyarakat dengan Orientasi Pembangunan untuk Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Daerah Melalui Optimalisasi Potensi Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat.” Sedangkan prioritas pembangunan Pemerintah Kota Madiun dalam RPJMD tahun 2009-2014 yaitu: 1. pengembangan ekonomi melalui penguatan lembaga ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan
penanggulangan kemiskinan;
3. peningkatan derajat kesehatan melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan; 4. peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan Sekolah Standart Nasional (SSN);
5. peningkatan kinerja aparatur dan kerjasama pembangunan daerah dalam rangka pengembangan Standar Pelayanan Publik (SPP);
6. peningkatan infrastruktur dan pengelolaan kualitas Lingkungan Hidup.
Sesuai dengan arah kebijakan nasional, regional, dan mengacu pada RPJMD Kota Madiun tahun 2009 – 2014, maka perlu merumuskan arah kebijakan ekonomi Kota Madiun. Arah kebijakan ekonomi daerah ditujukan untuk mengimplementasikan program dan mewujudkan visi dan misi kepala daerah, serta isu strategis daerah, sebagai payung untuk perumusan prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan pada tahun rencana. Arah kebijakan pembangunan ekonomi daerah Kota Madiun dirumuskan sebagai berikut:
a. meningkatkan dukungan yang kuat terhadap perkembangan UKM (usaha kecil menengah) dan koperasi dalam rangka meningkatkan kapasitasnya dengan mensinergikan antara program Pusat dan daerah, serta yang diinisiasi oleh dunia usaha melalui CSR;
b. mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah melalui optimalisasi kegiatan sektor perdagangan;
c. meningkatkan penyerapan tenaga kerja/pemberdayaan masyarakat dengan berbagai program pemerintah dan swasta untuk mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan dengan menitikberatkan pada perluasan tenaga kerja dan perlindungan tenaga kerja;
d. meningkatkan kualitas pelayanan publik di berbagai sektor, terutama untuk sektor pendidikan, kesehatan;
PEMERINTAH KOTA MADIUN 45
2.2.3. KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH
Pembiayaan Daerah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 adalah semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Kebijakan pembiayaan diarahkan pada pembiayaan daerah yang mengacu pada akurasi, efisiensi dan profitabilitas dengan strategi sebagai berikut :
1. Apabila APBD surplus maka perlu dilakukan transfer ke persediaan kas dalam bentuk penyertaan modal maupun sisa lebih perhitungan anggaran tahun berjalan.
2. Apabila APBD defisit maka perlu memanfaatkan anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu dan melakukan rasionalisasi belanja
3. Apabila Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tidak mencukupi untuk menutup defisit APBD maka ditutup dengan dana pinjaman.
2.2.3.1. KEBIJAKAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH
Pembiayaan daerah merupakan selisih dari penerimaan daerah dengan pengeluaran daerah. Ketika pendapatan lebih besar dari pengeluaran, maka pembiayaan daerah mengalami surplus. Sebaliknya, ketika pendapatan lebih kecil daripada pengeluaran, maka suatu daerah dikatakan mengalami deficit. Pembiayaan daerah disediakan untuk menganggarkan setiap penerimaan yangperlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya.
Penerimaan terbesar Kota Madiun berasal dari SILPA (Sisa Lebih Anggaran Tahun Sebelumnya), baik dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Hal ini menyebabkan pada tahun 2014 target penerimaan pembiayaan daerah 100% berasal dari SILPA. Artinya, bahwa tingkat ketergantungan Kota Madiun terhadap daerah lain ataupun lembaga keuangan tergolong rendah.
Kebijakan penerimaan pembiayaan daerah yang akan dilakukan pada tahun 2013 diutamakan untuk tidak sampai melakukan pinjaman daerah baik kepada pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank maupun lembaga keuangan bukan bank penerimaan pembiayaan daerah lebih diarahkan untuk mengoptimalkan dan mendayagunakan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
Anggaran sebelumnya (SiLPA), khususnya dari pos pelampauan penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana perimbangan, pelampauan penerimaan Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Perubahan APBD tahun anggaran 2014 penerimaan pembiayaan tahun anggaran 2014 diperoleh dari SiLPA tahun anggaran 2013 sebesar Rp169.485.451.427,30 berdasarkan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun anggaran 2014 diperoleh SiLPA sebesar Rp254.529.474.293,03 dan didayagunakan untuk menutup defisit.
T A R G E T
K I N E R J A A P B D
Urusan Wajib
PEMERINTAH KOTA MADIUN 47
2.3. TARGET KINERJA APBD
Sebagai bentuk dari anggaran berbasis kinerja maka setiap pengeluaran belanja daerah harus memiliki kejelasan hasil dengan ditetapkannya target-target capaian pada setiap program dan kegiatan dari urusan pemerintah. Secara ringkas target pencapaian kinerja Tahun 2014 pada setiap urusan pemerintahan adalah sebagai berikut :
2.3.1. URUSAN WAJIB
Urusan wajib di Pemerintah Kota Madiun terdiri dari 16 bidang kewenangan sebagaimana dijelaskan dibawah ini.
1. Bidang Pendidikan 2. Bidang Kesehatan 3. Bidang Pekerjaan Umum
4. Bidang Perencanaan Pembangunan 5. Bidang Perhubungan
6. Bidang Lingkungan Hidup
7. Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil 8. Bidang Pemberdayaan Perempuan
9. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 10. Bidang Sosial
11. Bidang Tenaga Kerja
12. Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 13. Bidang Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri 14. Bidang Pemerintahan Umum
15. Bidang Pemberdayaan Masyarakat 16. Bidang Komunikasi dan Informatika
2.3.2. URUSAN PILIHAN
Urusan pilihan di Pemerintah Kota Madiun terdiri dari 4 bidang kewenangan sebagaimana dijelaskan dibawah ini.
1. Bidang Pertanian 2. Bidang Perdagangan 3. Bidang Perindustrian
4. Bidang Pariwisata
2.3.3. TARGET KINERJA KEUANGAN SKPD
Target kinerja keuangan untuk urusan wajib dan urusan pilihan pada masing-masing SKPD disajikan dalam lampiran laporan keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan Daerah Kota Madiun.
PEMERINTAH KOTA MADIUN 49
IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA
KEUANGAN
3
P E N C A P A I A N K I N E R J A K E U A N G A N Urusan Wajib Urusan PilihanPencapaian kinerja keuangan Tahun anggaran 2014 dapat tercermin melalui pelaksanaan program dan kegiatan menurut urusan pemerintahan daerah pada masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah.
3.1. URUSAN WAJIB
Urusan wajib di Pemerintah Kota Madiun terdiri dari 16 bidang kewenangan sebagaimana dijelaskan dibawah ini.
1. Bidang Pendidikan 2. Bidang Kesehatan 4. Bidang Pekerjaan Umum
5. Bidang Perencanaan Pembangunan 6. Bidang Perhubungan
7. Bidang Lingkungan Hidup
8. Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil 9. Bidang Pemberdayaan Perempuan
10. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 11. Bidang Sosial
14. Bidang Tenaga Kerja
15. Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 16. Bidang Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri 15. Bidang Pemerintahan Umum
16. Bidang Pemberdayaan Masyarakat 17. Bidang Komunikasi dan Informatika
PEMERINTAH KOTA MADIUN 51
3.2. URUSAN PILIHAN
Urusan pilihan di Pemerintah Kota Madiun terdiri dari 4 bidang kewenangan sebagaimana dijelaskan dibawah ini.
2. Bidang Pertanian 2. Bidang Perdagangan 3. Bidang Perindustrian 4. Bidang Pariwisata
3.3. PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN SKPD
Pencapaian kinerja keuangan untuk urusan wajib dan urusan pilihan pada masing-masing SKPD disajikan dalam lampiran laporan keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan Daerah Kota Madiun.