Vol. 13 No. 2: 160-167
Oktober 2020 Peer-Reviewed
URL: https:https://ejournal.stipwunaraha.ac.id/index.php/AGRIKAN/ DOI: 10.29239/j.agrikan.13.2.160-167
Peranan Hormon Inferent Terhadap Indeks Kematangan Gonad Dan
Pertumbuhan Ikan Betok Ambon (Chrysiptera cyanea)
(The Role of Inferent Hormones on Gonad Maturity Index and Growth of
Ambon Betok Fish (Chrysiptera cyanea))
Melani Andi1, Muhammad Irfan1 dan Juharni1
1Program Studi Budidaya Perairan, FPIK. Universitas Khairun, Ternate, Indonesia, Email: [email protected], [email protected], [email protected] Info Artikel: Diterima: 13 Agust. 2020 Disetujui: 04 Okt. 2020 Dipublikasi: 05 Okt. 2020
Review Articles Keyword:Inferent hormones, gonad maturity index, growth, ambon fish. Korespondensi: Muhammad Irfan Universitas Khairuna Ternate, Indonesia Email: [email protected] Copyright© Oktober 2020 AGRIKAN
Abstrak. Salah satu jenis ikan hias laut yang dapat dikembangkan melalui usaha budidaya adalah ikan betok ambon. Budidaya ikan ini cukup menguntungkan, dan mudah dalam pemeliharaannya.Untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan usaha budidaya ikan betok ambon, maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memahami dan mengetahui aspek pertumbuhan dan reproduksi dari jenis ikan ini melalui pemberian hormon inferent secara tepat.Review artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan hormon inferent terhadap aspek reproduksi dan pertumbuhan ikan betok ambon.Reproduksi merupakan proses perkembangbiakan pada makhluk hidup termasuk ikan betok ambon. Jumlah telur yang dihasilkan ikan betok ambon bervariasi antara 900-3.500 butir Hormon inferent merupakan salah satu jenis hormon reproduksi yang berfungsi untuk dapat memacu dan mempercepat tingkat kematangan gonad pada hewan termasuk ikan.Penentuan dosis hormon inferent didasarkan pada penentuan dosis inferent pada ikan umumnya sekitar 10 mg – 80 mg atau sekitar 0,1 ml – 0,8 ml. Umumnya ikan yang diberi hormon inferent dengan dosis 40-60 mg/l dapat meningkatkan indeks kematangan gonad sampai sebesar 25%, pada ikan betok ambon sebesar 30%. Dosis hormon inferent sekitar 20-40 mg dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan betok ambon.
Abstract. One type of marine ornamental fish that can be developed through cultivation is betok Ambon fish. Cultivation of this fish is quite profitable, and easy to maintain. To maintain the sustainability and sustainability of Betok Ambon fish farming, one way to take is to understand and know the growth and reproduction aspects of this type of fish through the provision of inferent hormones appropriately. Review article This aims to reveal the role of the inferent hormone on the aspects of reproduction and growth of Betok Ambon fish. Reproduction is the reproduction process in living things including Betok Ambon fish. The number of eggs produced by Betok Ambon fish varies between 900 and 3,500. Inferent hormone is one type of reproductive hormone that functions to spur and accelerate the level of gonad maturity in animals including fish. The determination of the inferent hormone dosage is based on the determination of the inferent dose in fish, generally around 10 mg - 80 mg or about 0.1 ml - 0.8 ml. Generally, fish that are given inferent hormone at a dose of 40-60 mg / l can increase the gonad maturity index by 25%, in betok Ambon fish by 30%. Inferent hormone doses around 20-40 mg can increase the growth and survival of ambon betok fish.
I. PENDAHULUAN
Pengelolaan sumberdaya perairan Indonesia yang menyangkut penyediaan bahan pangan dalam bidang perikanan merupakan faktor penting dalam menunjang pembangunan bangsa dan negara.Keperluan akan sumberdaya tersebut dirasakan semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya pertambahan penduduk.
Perkembangan penduduk yang pesat
mengakibatkan semakin meningkatnya
kebutuhan protein terutama protein hewani yang berasal dari laut. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan memanfatkan protein hewani dari laut melalui usaha budidaya berbagai
jenis ikan budidaya yang bernilai ekonomis penting seperti ikan air laut dan ikan hias laut (Lingga dan Susanto, 1993).
Perkembangan bisnis produk perikanan non-konsumsi termasuk komoditas ikan hias di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dan memiliki prospek yang menjanjikan secara ekonomi. Sejak tahun 2011 nilai perdagangan ikan non-konsumsi melebihi target yang telah ditetapkan yaitu mencapai Rp 565 miliar dari target sebesar Rp 350 miliar (Suharno dan Gani, 2013).
Ikan hias merupakan salah satu komoditas perikanan yang menjadi komoditas perdagangan
161
yang potensial di dalam maupun di luar negeri. Ikan hias dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan devisa bagi negara. Kelebihan dari usaha ikan hias adalah dapat diusahakan dalam skala besar maupun kecil ataupun skala rumah tangga, selain itu perputaran modal pada usaha ini relatif cepat (Sihombing, 2013).
Ikan hias laut mempunyai nilai jual yang tinggi di pasaran nasional dan internasional seperti clown fish, cardinal banggai, dan lain-lain (Kusrini, 2012). Oleh karena itu, pengembangan ikan hias laut melalui usaha budidaya sangat
mutlak diperlukan untuk tetap menjaga
kelestariannya. Salah satu jenis ikan hias laut yang dapat dikembangkan melalui usaha budidaya adalah ikan betok ambon. Hal ini disebabkan karena jenis ikan ini memiliki nilai jual di pasaran, dengan harga sekitar Rp. 5000 per ekor. Selain itu juga, budidaya ikan ini cukup
menguntungkan, dan mudah dalam
pemeliharaannya. Untuk berkembang secara baik, maka perlu penyesuaian kondisi lingkungan hidup seperti suhu, tekanan aerasi pada media serta penggunaan pakan yang berkualitas (Gani, 2013).
Salah satu Upaya untuk meningkatkan produksi ikan betok ambon adalah ketersediaan induk matang gonad. Ketersediaan induk matang gonad dapat meningkatkan ketersediaan benih secara berkelanjutan. Salah satu cara yang diperlukan adalah ketersediaan teknologi yang
mampu mempercepat pertumbuhan dan
kematangan gonad. Menurut Tang dan Affandi (2004) strategi kematangan gonad dapat dilakukan dengan memanipulasi hormonal.
Pertumbuhan dan pematangan gonad
memainkan peranan penting dalam budidaya ikan. Untuk memperoleh benih yang berkualitas, induk harus benar-benar matang gonad dan memiliki ukuran tubuh yang sesuai (Tomasoa dkk; 2018). Untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan budidaya ikan betok ambon, maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan
memahami aspek pertumbuhan dan reproduksi dari jenis ikan ini dengan menggunakan hormon inferent (Puspitarini dan Andriyono, 2015). Review artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan
peranan hormon inferent terhadap aspek
reproduksi dan pertumbuhan ikan betok ambon. II.PEMBAHASAN
2.1. Biologi Ikan Betok Ambon
2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi
Ikan betok ambon termasuk dalam kelas Actinopterygii, family Fomacentridae, genus Chrysiptera, dan spesies Chrysiptera cyanea (Gani, 2013). Ikan betok ambon memiliki tubuh langsing. Seluruh tubuh ikan ini berwarna dominan biru cerah, terkadang di sertai titik- titik putih. Pada ujung sirip punggung biasanya terdapat titik berwarna hitam letaknya dipangkal siripnya. Perbedaan jantan dan betina dapat dilihat dari poster tubuh, warna dan ukuran. Jantan kelihatan memanjang, bagian sirip ekor dan dada berwarna orange dan ukurannya lebih besar sedangkan betina kelihatan pendek dan agak bulat, bagian sirip ekor dan dada teransparan (Puspitarini dan Andriyono, 2015).
Ciri-ciri induk ikan betok ambon jantan yaitu ukuran tubuh yang lebih besar dari induk betina yaitu berukuran 7-8 cm dan dibagian ekor terdapat warna kuning yang menyebabkan ikan ini menjadi indah. Induk betina berukuran lebih kecil dari pada induk jantan yaitu berkisar 6-7 cm dan terdapat bercak putih pada sirip. Ikan betina memiliki noda atau bintik hitam yang terdapat pada sirip punggung, sedangkan yang jantan tidak memliki bintik hitam melainkan warna orange pada siripnya (Gani, 2013). Pada ikan betok ambon, induk jantan lebih besar. Selanjutnya dikatakan bahwa induk betina yang akan memijah mempunyai ciri-ciri perut buncit dan genital papilanya menonjol, sedangkan induk jantan agresif bergerak mengejar induk betina (Suharno
dkk; 2013).
162
2.1.2. Habitat
Ikan betok ambon merupakan ikan yang habitat hidupnya di sekitar terumbu karang atau perairan dangkal yang tidak jauh dari bibir pantai. Bentuk tubuhnya agak pipih dan memanjang dengan kepala yang berukuran cukup besar. Ukuran tubuhnya tergolong pendek dengan panjang hanya mencapai sekitar 7 cm (Dwi Saputra, 2016).
Ikan betok ambon ditemukan diantara puing-puing dan karang laguna yang terlindung dan karang didaerah subtidal. Ikan betok ambon dapat ditemukan pada kedalaman 0 sampai 10 m, namun biasanya ditemukan dalam air dengan kedalaman 0 sampai 6.737 m (0 sampai 22.103 kaki) pada perairan laut (Zipcodezoo, 2014). Menurut Lachlan et al; (2018), ikan betok ambon bisa ditemukan pada kedalaman 30-50 m.
Ikan betok ambon hidup pada perairan laut berkarang yang memiliki salinitas 8,1–8,4 dan suhu berkisar antara 25-28°C. Termasuk jenis ikan hias laut yang berasal dari Indo-Pasifik dan Australia (FishLore, 2013). Ikan betok ambon merupakan ikan perenang aktif yang sering terlihat keluar masuk karang dan kadang-kadang berlarian ditempat terbuka secara bergerombol (Susanto, 2006).
2.1.3. Kebiasaan Makan
Ikan betok ambon termasuk jenis ikan diurnal atau ikan yang aktif mencari makan pada siang hari, saat intensitas cahaya lebih tinggi, dan aktivitas makan akan berkurang dimalam hari, sejalan dengan berkurangnya intensitas cahaya matahari (Mustafa dkk, 2017). Pemberian pakan ikan betok ambon disesuaikan dengan bukaan mulutnya. Pada saat larva berumur 3 hari, dberi pakan alami berupa Clorella sp, dan rotifera. Setelah larva berumur 20 hari, dapat diberikan pakan artemia sampai umur 30 hari. Saat berumur lebih dari 30 hari dapat diberi pakan pellet (Bapary, 2011). Secara umum, jenis pakan yang dapat diberikan pada jenis ikan ini adalah pakan buatan, pakan hidup seperti artemia, udang renik, jentik nyamuk, yang sesuai dengan bukaan mulutnya (Gani, 2013).
2.1.4. Tingkah Laku
Ikan betok ambon mempunyai sifat
mendiami habitat dan sebaran tempat hidup yang menetap dan berusaha mempertahankan habitat dimana ikan tersebut berada. Tingkah laku yang unik dari ikan ini adalah merubah warnanya dalam seketika, hal ini terjadi apabila ikan ini
terancam, seringkali terlihat berenang dengan cepat mengejar makanan atau hanya bermain-main dan memiliki gerakan yang sangat gesit. Ikan betok ambon betina mempunyai ekor berwarna putih, sedangkan yang jantan berwarna merah. Tubuhnya langsing dengan warna bagian dalam biru tua atau biru gelap. Tetapi, dalam kondisi aman, kadang tampak warna biru kehijauan (Suharno dan Gani, 2013). Keagresifan ikan betok ambon ditujukan bukan untuk memangsa atau mengganggu ikan jenis lain yang ada di terumbu karang, tapi dimaksudkan agar ikan jenis lain tidak berani memangsa atau mengusik sarangnya. Selain itu, ikan betok ambon merupakan perenang handal yang mampu bergerak cepat dan gesit untuk menangkap makanannya (Dwi Saputra, 2016).
2.2. Reproduksi
Reproduksi merupakan proses
perkembangbiakan pada makhluk hidup termasuk ikan betok ambon. Adjie dan Fatah (2015) menyatakan bahwa reproduksi merupakan hal yang sangat penting dari suatu siklus hidup organisme, dengan mengetahui biologi reproduksi ikan dapat memberikan keterangan yang berarti mengenai tingkat kematangan gonad, fekunditas, frekuensi dan musim pemijahan, dan ukuran ikan pertama kali matang gonad dan memijah.
Kinerja reproduksi merupakan suatu proses yang berkelanjutan pada ikan akibat adanya rangsangan dari luar ataupun dari dalam tubuh ikan itu sendiri. Rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan hormonal ataupun rangsangan lingkungan. Rangsangan hormonal yang terjadi pada induk ikan betina berbeda dengan induk jantan. Pada induk betina, rangsangan hormonal ditujukan untuk pembentukan telur dan pematangannya, sedangkan pada ikan jantan
rangsangan tersebut untuk pembentukan
sperma.Perkembangan gonad pada ikan
membutuhkan hormon gonadotropin yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari yang kemudian
terbawa aliran darah masuk ke gonad.
Gonadotropin kemudian masuk ke sel teka, menstimulir terbentuknya hormon yang kemudian akan masuk ke sel granulosa kemudian masuk ke dalam hati melalui aliran darah dan merangsang hati untuk mensintesis vitelogenin yang akan dialirkan lewat darah menuju gonad untuk diserap oleh oosit sehingga penyerapan vitelogenin ini disertai dengan perkembangan diameter telur (Sumantri 2006).
163
Reproduksi pada ikan betina melibatkan dua proses utama, yaitu (1) perbesaran ovari secara bertahap dengan pembentukan kuning telur melalui proses yang disebut vitelogenesis; dan (2) maturasi, ovulasi, dan pemijahan. Kedua proses ini diatur oleh hormon gonadotropin; FSH (Follicle Stimulating Hormon) terlibat dalam vitelogenesis, sementara LH (Luteinizing Hormone) memacu maturasi dan ovulasi (Sun dan Pankhurst, 2004). Reproduksi ikan berada di bawah kontrol poros hipotalamus-pituitarigonad dan melibatkan tiga faktor yang meliputi sinyal lingkungan, sistem hormon, serta organ reproduksi. Pada banyak
kasus, sinyal lingkungan untuk proses
pematangan gonad serta ovulasi dan pemijahan tidak diketahui. Hal ini terutama menjadi masalah bagi spesies yang tidak memijah secara spontan di dalam wadah budidaya (Zairin, 2003). Seperti halnya ikan betok ambon, merupakan jenis ikan yang sulit memijah, oleh karena itu untuk
mempercepat proses pemijahannya dapat
digunakan hormone reproduksi inferent yang memiliki fungsi seperti hormone reproduksi lainnya (Wayne, 2016).
Dalam proses perkawinan ikan betok ambon, induk ikan jantan sangat protektif dalam menjaga telur yang telah dibuahi kurang lebih 4 hari masa inkubasi sampai telur menetas (Suharno dkk, 2013). Proses pembuahan pada ikan ini terjadi diluar tubuh, dimana induk betina melepaskan telur dan diiukuti pelepasan spermatozoa oleh induk jantan. Sperma dikeluarkan dalam jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan telur yang akan di buahi. Walaupun demikian, spermatozoa memiliki kesempatan yang sama untuk dapat membuahi sel telur (Sutisna dan Ratna, 1995). Sepasang induk ikan betok ambon dapat memijah secara terus menerus dengan selang waktu 4-5 hari sekali. Induk ikan ini memelihara telurnya selama 4 hari dan akan menetas pada hari ke 4. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi antara 900-3.500 butir (Yulianti, 2013). Menurut Suharno (2013) telur ikan betok ambon dapat melakukan pemijahan dengan nilai Fecundity Rate (FR) dan Hatching rate (HR) mencapai diatas 99%.
2.3. Hormon
Hormon adalah zat organik yang diproduksi oleh sel-sel khusus dalam badan, dirembeskan ke dalam peredaran darah yang walaupun dengan jumlah yang sangat kecil dapat merangsang sel-sel tertentu untuk berfungsi (Partodihardjo, 1980).
Dalam pengertian yang lain, hormon adalah substansi kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu yang berfungsi mengatur dan mengkatalisa proses metabolisme kimia di dalam target organ atau jaringan (Kusmiati, 1988).
Umumnya hormon digunakan untuk
mengontrol pertumbuhan, reproduksi,
metabolisme, tingkah laku manusia dan vertebrata lainnya (Matty, 1985). Semua hormon bersifat khas dan selektif dalam pengaruhnya terhadap organ sasaran yang ditentukan secara genetik.Organ sasaran segera bereaksi terhadap salah satu hormon untuk menghasilkan zat atau perubahan-perubahan sebagaimana telah diprogramkan secara genetik (Kusmiati, 1988). Hormon memiliki fungsi untuk memberikan sinyal ke sel target selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau aktivitas tertentu. Pada prinsipnya pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipothalamus (bagian dari otak). Hipothalamus mengontrol sekresi banyaknya kelenjar lain, terutama kelenjar pituitary, yang juga mengontrol kelenjar-kelenjar lain.Hipothalamus akan memerintahkan kelenjar pituitary untuk mensekresikan hormon dengan mengirim faktor regulasi ke lobus anterior dan mengirim impuls saraf ke posteriornya (Basuki, 2007).
Hormon inferent merupakan salah satu jenis hormon reproduksi yang berfungsi untuk memacu dan mempercepat tingkat kematangan gonad pada hewan termasuk ikan. Hormon ini dapat pula mengaktifkan gonad ikan yang telah steril menjadi gonad aktif (Matty, 1985). Hormon inferent memiliki fungsi kerja yang sama seperti
hormon-hormon reproduksi lainnya, seperti
Oodev, FSH-RH, dan LH-RH. Mekanisme kerja hormon inferent jika disuntikkan pada ikan akan menyebabkan perilisan gonadotropin endogen (Gth) dari hypothalamus seperti FSH-RH dan LH-RH serta terjaga konsentrasi FSH dan LH analog yang terdapat pada tubuh (Jalabert, 2005).
Pertumbuhan sel interestial ovarium dan
pemasakan folikel akan mengalami pertambahan diameter dan kematangan telur hingga tahap siap untuk diovulasikan atau ikan siap dipijahkan (Cholifah, 2016). Basuki (2007) menyatakan bahwa Gonadotropic Hormone (GTH) terbagi dua yakni Follicle stimulating hormone (FSH) yang berperan dalam perkembangan oosit dan Luteinizing Hormone (LH) yang berperan dalam pemicu kematangan oosit.
164
Penentuan dosis hormon inferent
didasarkan pada penentuan dosis inferent pada
ikan umumnya sekitar 10 mg – 80 mg atau sekitar
0,1 ml – 0,8 ml. Pada dosis sekitar 40 mg dapat
menigkatkan kematangan gonad ikan betok ambon (Wayne, 2016). Hasil penelitian Tomasoa dkk (2018) mendapatkan hormon reproduksi oodev dengan dosis 1 mL/kg dapat meningkatkan pertumbuhan panjang tubuh pada jantan (0,9 cm) maupun betina (0,7 cm) ikan giru.
2.4. Indeks Kematangan Gonad
Indeks kematangan gonad (IKG) merupakan tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan ikan memijah (Effendie, 1997). Indeks gonad merupakan suatu indeks kuantitatif yang menunjukkan suatu kondisi kematangan seksual ikan sehingga pada umumnya semakin panjang tubuh ikan maka semakin besar pula nilai
indeks gonad yang diperoleh.Hal ini
menunjukkan bahwa ovarium yang lebih matang memiliki bobot dan ukuran lebih besar, termasuk penambahan dari ukuran telur (Adjie dan Fatah, 2015).
Pengukuran indeks kematangan gonad dapat dilakukan dengan cara membandingkan berat gonad terhadap berat tubuh ikan (Effendie, 1997). Indeks kematangan gonad diukur dari perbandingan bobot tubuh dengan berat gonad ikan jantan dan betina menggunakan timbangan yang mempunyai ketelitian 0,01 gram. Berat gonad ikan diukur dengan cara membedah ikan contoh yang telah diawetkan, gonadnya diambil untuk kemudian ditimbang dengan timbangan eletronik dengan ketelitian 0,0001 mg. Berat gonad contoh diambil dengan cara memotong sebagian gonad pada bagian anterior, tengah dan posterior gonad untuk kemudian ditimbang. Jumlah telur pada gonad contoh dihitung di bawah mikroskop yang dilengkapi micrometer dengan pembesaran 10 x 4 kali (Prianto dkk; 2014).
Selama proses reproduksi sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Menurut Effendi (1997), pertumbuhan bobot gonad ikan betina pada stadium matang gonad dapat mencapai 10-25% dari bobot tubuh. Indeks kematangan gonad pada ikan betina lebih besar dari ikan jantan. Ikan dengan indeks kematangan gonad 19% dapat mengeluarkan telur (Permana, 2009). Umumnya Ikan yang diberi
hormon inferent dengan dosis 40-60 mg/l dapat meningkatkan indeks kematangan gonad sampai sebesar 25%, pada ikan betok ambon sebesar 30% (Wayne, 2016).
Indek kematangan gonad ikan betok jantan pada TKG IV berkisar 1,3-15,0% dan ikan betina berkisar antara1,2-17,1%. Tingkat kematangan gonad (TKG) IV ditandai dengan adanya volume ovari mencapai lebih dari 70%. rongga perut, berwarna kuning, butir telur mudah dipisahkan, bila perut ditekan telur mudah keluar, dan siap memijah (Adjie dan Fatah, 2015)..
Ukuran pertama kali matang gonad ikan betina adalah pada panjang total 160 mm dan ikan jantan pada panjang total 177 mm (Prianto dkk; 2014). Pada ikan kepe-kepe atau butterflyfish dengan bobot 10-25 gram, dapat meningkatkan kematangan gonad hingga mencapai TKG III (Fountier, 2016). Tingkat kematangan Gonad (TKG) III ditandai dengan: ovari kelihatan membesar mencapai 60% rongga perut, berwarna kuning, butir telur mulai kelihatan oleh mata (Adjie dan Fatah, 2015). Selanjutnya hasil penelitian Adjie dan Fatah (2015) mengungkapkan bahwa pada ikan red devil (A. labiatus) pertama kali matang gonad pada ukuran panjang total antara 9,66-11,47 cm, sedangkan pada A.citrinellus terjadi pada kisaran panjang total 7,9-11,95 cm. Pada ikan giru, dosis hormon oodev 1 ml/kg dapat meningkatkan nilai indeks kematangan gonad jantan dan betina yaitu 0,47% dan 0,58% (Tomasoa dkk; 2018).
2.5. Pertumbuhan
Pertumbuhan ikan adalah perubahan
ukuran dapat berupa panjang atau berat dalam waktu tertentu. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan diantaranya jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, kualitas air, umur dan ukuran ikan, serta keturunan (Effendie, 1997).
Induk ikan betok ambon jantan memiliki ukuran tubuh 7-8 cm dan betina 5-6 cm. Penggunaan hormon inferent pada berbagai dosis untuk memacu tingkat kematangan gonad dan pertumbuhan pada ikan betok ambon belum banyak dilakukan. Dari berbagai studi pustaka diperoleh bahwa beberapa penelitian yang terkait dengan hal ini antara lain yang dilakukan oleh Sutiana dkk (2017) menggunakan dosis hormon tiroksin 15, 20, dan 25/kg pakan pada ikan koi
tidak mempengaruhi pertumbuhan panjang
165
kongo hormon 17 alfa metiltestosteron dengan dosis 1,2, dan 4 mg/l, dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan tetra kongo (Arfah dkk, 2002). Dosis hormon inferent
sekitar 20-40 mg dapat meningkatkan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan betok
ambon (Wayne, 2016). Pada ikan family
Cyprinidae dosis hormon inferent sekitar 60-70 mg/l dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup (Fragille, 2015). Dosis hormon
1-10 ml/kg pakan dapat meningkatkan
pertumbuhan berat ikan red devil, sebesar 5-20 gram. Arfah dkk (2002) mendapatkan berat benih ikan tetra kongo sebesar 1,65 gram dengan menggunakan hormon 17α-metil testosteron dosis 4 mg/l. Selanjutnya dikatakan bahwa hormon 17α-metil testosteron dapat memacu pertumbuhan melalui tiga cara yaitu merangsang nafsu makan,
merangsang sintesa protein dan menekan
perkembangan gonad. Sedangkan Wayne (2016) menyatakan bahwa hormon inferent dengan dosis tepat dapat mengaktifkan dan mempercepat perkembangan gonad sehingga ikan betok ambon
dapat memijah lebih cepat. Peningkatan
perkembangan gonad ikan betok ambon yang disuntik hormon inferent terjadi karena adanya peran gonadotropin eksogen yang mempengaruhi aktivitas gonad. HCG merupakan chorionik gonadotropin yang mempunyai sifat aktivitas
biologis ganda, yaitu berefek FSH (folikel
stimulating hormone) dan LH (luitenizing
hormone). FSH bertanggung jawab terhadap perkembangan oosit (vitelogenesis) dan LH pemicu kematangan oosit (Tahapari dan Sinarni Dewi, 2013).
III. PENUTUP
Hormon inferent memiliki peranan yang sangat besar dalam meningkatkan pertumbuhan dan memacu tingkat reproduksi ikan betok ambon. Peranan tersebut antara lain dapat mempercepat kematangan gonad, mengaktifkan
gonad yang steril, meningkatkan indeks
kematangan gonad, serta menambah pertambahan bobot dan panjang tubuh ikan. Hormon inferent dengan dosis 40-60 mg/l dapat meningkatkan indeks kematangan gonad ikan betok ambon sebesar 30%. Dosis hormon inferent sekitar 20-40 mg dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan betok ambon.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, atas segala arahan dan masukan yang diberikan dalam penulisan artikel review ini, dan juga kepada teman-teman seangkatan yang banyak membantu.
REFERENSI
Adjie, S, dan Fatah, K. 2015. Biologi Reproduksi Ikan Red Devil (Amphilopus labiatus) dan (Amphilopus citrinellus) Di Waduk Kedungombo, Jawa Tengah. Jurnal Widya Riset Perikanan Tangkap, 7 (1): 17-24.
Arfah, H, Alimuddin,K, Sumantadinata, dan J. Ekasari, 2002. Seks Reversal Pada Ikan Tetra Kongo Stadia Larva. Jurnal Akuakultur Indonesia, 1 (2): 69-74.
Bapary,M.A.J., Amin, M. N., Taekuchi, Y., Takemura, A. 2011. The stimulatory effects of long wavelengths of light on the ovarian development in the tropical damselfish, Chrysiptera cyanea. Aquaculture, 314:188-192.
Basuki, F. 2007. Optimalisasi Pematangan Oosit dan Ovulasi Pada Ikan Mas Koki Melalui Penggunaan Inhibitor Aromatase. Disertasi. Sekoloah Pasca Sarjana. IPB. Bogor. 90 hal.
Cholifah, D.E, 2016. Pengaruh Induksi Hormon Oocyte Developer (Oodev) Terhadap Kematangan Gonad Calon Induk Ikan Nilem (Osteochilus hasselti). Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Air Langga. Surabaya. Skripsi. 44 hal.
166
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan.Pustaka Nusa Tama. Bogor. 122 hal. FishLore. 2013. Saltwater Aquarium & Reef Tank Book. FishLore.com.
Fragille, 2015. Kebutuhan Hormon Inferent. www.net.com.
Fountier, A.2016. Index Maturity of Butterfly Fish. Report Research. 35 p. Gani, 2013. Profil Komoditas Blue Devil (Betok Ambon).
Jalabert, B. 2005. Particularities of Reproduction and Oogenesis in Teleost Fish Compared to Mammals. Reproduction Natural Development, 45:261-279.
Kusmiati,T.1988.Aplikasi Isotop pada Penetapan Hormon. Departemen Perindustrian Pusbinlat Industri. SMAK. Bogor. 76 Hal.
Kusrini, 2012. Teknologi Produksi Benih Ikan Hias Laut Untuk Melestarikan Sumberdaya Genetiknya. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok. Hal 65-70.
Lachlan, C.F, Tumbul, J.W, Knot, A.N, Natsha A. Hardi. 2018. The Devil In the Deep: Expanding the Known Habitat of the Rare and Protechted Fish. European Journal of Ecology, 4 (1):22-29.
Lingga, P dan Susanto, H. 1991. Ikan Hias Air Tawar. Seri Perikanan. Penebar Swadaya, Jakarta. 235 pp. Matty,A.J. 1985. Fish Endocrinology. Croom Helm. London. 265 p.
Mustafa, Y, La Anadi, dan Arami, H, 2017. Respon Ikan Betok (Chrysiptera sp.) Terhadap Pemberian Beberapa Jenis Umpan Dalam Wadah Percobaan.Jurnal MSP,2 (3): 207-214.FPIK. Universitas Haluuleo. Kendari.
Partodihardjo, 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta. 560 hal.
Prianto, E, Kamal, M.M, Muchsin, I, Kartamihardja, S.E, 2014. Biologi Reproduksi Ikan Betok Di Paparan Banjiran Lubuk Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Bawal, 6 (3): 137-146.
Puspitarini, A.D, Andriyono, S. 2015. Teknik Pembenihan Ikan Hias Blue Devils (Chrysiptera cyanea). Di BAlai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Researchgate, Januari, 2015.
Sihombing, F., N. W. Artini dan R. K. Dewi. 2013. Kontribusi Pendapatan Nelayan Ikan Hias Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga di Desa Serangan. E Jurnal Agribisnis dan Agrowisata. Universitas Udayana. 2(4).13 hal.
Suharno, A. dan Gani, A.S.2013. Efektivitas Pemijahan Ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) dengan
jumlah pasangan jantan betina yang berbeda. Balai Besar Laut Ambon.
http://abganfish.blogspot.com. 20/2/2015.
Sumantri D. 2006. Efektifitas Ovaprim dan Aromatase Inhibitor dalam Mempercepat Pemijahan pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Sun B and Pankhurst NW. 2004. Patterns of Oocyte Growth, Vitellogenin and Gonadal Steroid Concentrations in Greenback Flounder. Journal of Fish Biology, 64:1399-1412.
167
Susanto, H. 2006. Ikan Hias Air Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sutisna dan F.Ratna. 1995. Aktivitas Reproduksi Ikan Betok Ambon. www.net.com.
Tang, U.M, dan Affandi, R, 2004. Biologi Reproduksi Ikan. Universitas Riau Press. Pekanbaru. Riau.
Tahapari, E, dan Sinarni Dewi, 2013. Peningkatan Performa Reproduksi Ikan Patin Siam Pada Musim Kemarau Melalui Induksi Hormonal. Berita Biologi, 12 (2): 203-209.
Tomasoa, M.A, Azhari, D, Balansa, W. 2018. Pertumbuhan dan Pematangan Gonad Ikan Giru Amphiprion clarkia Yang Diberi Pakan Mengandung Hormon Oodev. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, 9 (2): 163-168.
Wayne, H, 2016. Implementation, Inferent Hormone to Fish. Report of Research. www.research gate. 10 p. Yulianti, Y. 2013. Teknik Budidaya Blue Devil (Chrysiptera cyanea). Balai Besar Pengembangan Budidaya
Laut Lampung, Lampung, 5-7 hal.
Zairin Jr M. 2003. Endokrinologi dan Perannya Bagi Masa Depan Perikanan Indonesia. Orasi ilmiah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. 40 hal.
Zipcodezoo. 2014. Chrysiptera cyanea. United Satets America. Error Hyperlink reference not valid.. (15 Desember 2014).