BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. karena di dalam urin atau air seni yang dalam keadaan normal tidak ada atau

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus

2.1.1 Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes melitus (DM) atau kencing manis, yang sering kali juga disapa dengan “Penyakit Gula” merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang ada di dunia. Dikatakan “Penyakit Gula” karena memang jumlah atau konsentrasi glukosa atau gula di dalam darah melebihi keadaan normal. Dikatakan kencing manis karena di dalam urin atau air seni yang dalam keadaan normal tidak ada atau negative, maka pada penyakit ini akan mengandung glukosa atau gula pada urin tersebut. Agar tidak terjadi kesimpang siuran perlu diketahui bahwa glukosa atau gula yang dimaksud tidak sama dengan gula yang kita gunakan sehari-hari. Konsentrasi glukosa normal bila pada keadaan puasa pagi hari tidak melebihi 100 mg/dL. Dan seorang dikatakan mengidap diabetes mellitus, bila dalam pemeriksaan laboratorium kimia darah, konsentrasi glukosa darah dalam keadaan puasa pagi hari lebih atau sama dengan 126 mg/dL atau 2 jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dL. Daibetes merupakan suatu penyakit atau kelainan yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energi (Soegondo, 2008).

Pada penderita DM, urine atau air seninya terasa manis, karena mengandung gula (glukosa). Menurut Margatan (1995) faktor keturunan memegang peranan untuk timbulnya DM, yang berarti anggota keluarga dari penderita DM lebih besar

(2)

kemungkinannya untuk memperoleh penyakit ini. Mathur (1996) menyatakan bahwa diabetes mellitus adalah kelompok penyakit metabolik yang mempunyai karakteristik kenaikan kadar gula (glukosa) darah yang terjadi akibat kelainan produksi dan kerja (action) insulin, atau ke dua-duanya. Menurut Subekti yang dikutip oleh Soewondo penyakit DM atau kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif.

Hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pancreas berfungsi membantu tubuh mendapatkan energy dari makanan. Sebagian makanan yang dimakan akan diubah menjadi glukosa. Glukosa beredar keseluruh tubuh melalui peredaran darah. Tubuh menyimpan glukosa didalam sel-sel (sel otot, jantung, lemak, hati dll) untuk kemudian digunakan sebagai sumber energi.

Penyakit diabetes dapat dengan mudah diketahui dengan cara memeriksa kadar gula darah, namun pada tahap permulaan perjalanan penyakit, gejala yang dirasakan bukanlah hal yang mengganggu ppasien, bahkan kadangkala menunjukan gejala yang tidak khas sehingga penyakit ini sering kali diketahui secara kebetulan ketika berobat ke dokter untuk suatu penyakit lain (soegondo, 2008).

2.1.2 Jenis-jenis Diabetes Melitus

Menurut Soegondo (2008) diabetes dibagi menjadi 4 yaitu : 1. Diabetes Mellitus Tipe I

Kebanyakan diabetes tipe I adalah anak-anak dan remaja yang pada umumnya tidak gemuk. Setelah penyakit diketahui mereka harus langsung menggunakan

(3)

insulin. Pankreas sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin. Bila insulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes mellitus tergantung insulin.

2. Diabetes Melitus Tipe II

Diabetes ini sering terjadi pada orang dewasa atau berusia lanjut, walaupun akhir-akhir ini sudah mulai banyak ditemukan pada anak dan remaja. Seorang baru saja terkena diabetes tipe II masih dapat diatasi dengan makan teratur karena pada tahap awal insulin yang dihasilkan masih cukup banyak untuk mencukupi kebutuhan. Pada diabetes tipe II dengan berat badan lebih atau obesitas penurunan berat badan masih dapat mengendalikan diabetes tanpa harus menggunakan obat atau insulin.

Pada penderita diabetes yang tidak gemuk peningkatan konsentrasi glukosa darah disebabkan oleh produksi insulin yang relative terlalu sedikit untuk dapat mempertahankan konsentrasi glukosa dalam darahdalam batas-batas normal., sehingga kadar glukosa darah akan meningkat.

Dalam perjalanan penyakit diabetes tipe II tubuh pada mulanya tidak dapat menggunakan insulin secara efektif dan kemudian terjadi gangguanj kemampuan sel ”beta” pancreas untuk menghasilkan hormone insulin atau terdapat gangguan terhadap kedua-duanya. Ketika insulin tidak cukup atau tidak dapat berfungsi dengan bebar, glukosa akan menetap dalam darah. Setelah cukup lama, glukosa akan bertambah banyak di dalam darah dan bila konsentrasi glukosa darah naik melebihi

(4)

160-180 mg/dL maka sebagian glukosa dikeluarkan melalui air seni (urin) dan terjadilah peningkatan glukosa didalamnya.

3. Diabetes Gestasional (kehamilan)

Diabetes ini hanya terjadi pada saat kehamilan dan menjadi normal kembali setelah persalinan.

4. Diabetes Mellitus Tipe lain

Kelainan pada diabetes tipe lain adalah akibat kerusakan atau kelainan fungsi kelenjar pancreas yang dapat disebabkan oleh bahan kimia, obat-obatan atau penyakit pada kelenjar tersebut.

Perbedaan DM tipe I dengan DM tipe II menurut Soegondo (2008) adalah sebagai berikut:

1. DM tipe I

a. Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin.

b. Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja.

c. Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (berupa infeksi virus atau faktor gizi pada asa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pancreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik.

d. 90 % sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanent. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur.

(5)

2. D M tipe II

a. Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif.

b. Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun.

c. Faktor resiko untuk diabetes tipe II adalah obesitas, dimana sekitar 80-90 % penderita mengalami obesitas.

d. Diabetes mellitus tipe II juga cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga. 2.1.3 Penyebab Diabetes Melitus

Margatan (1995) menyatakan bahwa penderita DM biasanya dikarenakan kelenjar pankreas atau kelenjar ludah perut tidak mampu atau tidak cukup memprodusir hormon insulin yang dibutuhkan tubuh, sehingga pembakaran karbohidrat sebagai bahan bakar tubuh kurang sempurna. Beberapa faktor yang sering menyuburkan dan bisa menjadi pencetus adalah (1) Kurang gerak, (2) Makan secara berlebihan, (3) Kehamilan, (4) Kekurangan hormone insulin, dan (5) Hormon insulin yang terpacu berlebihan.

Adapun penyebab DM ada 3 macam, yaitu: (1) Gaya hidup, (2) Kondisi kesehatan, dan (3) Gen atau keturunan, sedangkan pendapat lain yang dikemukakan oleh Soegondo (2008) penyebab diabetes lainnya adalah: (1) Kadar kortikosteroid yang tinggi, (2) Kehamilan diabetes gestasional, akan hilang setelah melahirkan, (3)

(6)

Obat-obatan yang dapat merusak pankreas, dan (4) Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

2.1.4 Faktor Risiko terjadinya Diabetes Melitus

Banyak orang mempunyai gaya hidup seperti jarang melakukan aktifitas fisik atau latihan jasmani, makan terlalu banyak makanan yang mengandung lemak dan gula, serta terlalu sedikit makanan yang mengandung serat dan tepung-tepungan. Gaya hidup seperti tadi dapat menjadi penyebab utama tercetusnya diabetes (soegondo, 2008).

Resiko yang lebih besar mendapatkan diabetes adalah apabila :

− Faktor keturunan jika mempunyai saudara, orangtua atau kakek dan nenek dengan diabetes

− Berumur 45 tahun atau lebih − Berat badan lebih atau obesitas

− Glukosa darah puasa atau sesudah makan melebihi batas-batas normal (prediabetes atau toleransi glukosa terganggu)

− Tekanan darah tinggi yaitu lebih besar dari 130/85

− Kolestrol tinggi jika LDL kolestrol >130 mg/dL atau kolestrol total > 200 mg/dL

− Pernah mengalami diabetes gestasional

(7)

2.1.5 Patofisiologis

Pada penderita diabetes terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin dan gangguan skeresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolism glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes disertai dengan penurunan reaksi intrasel. Resistensi insulin pada diabetes disertai dengan penurunan reaksi intrasel. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glikosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus didapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal/sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes mellitus. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes mellitus, namun msih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi keton yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis diabetik jarang terjadi pada diabetes tipe II soewondo ().

2.1.6 Gejala dan Tanda-tanda Penyakit Diabetes Melitus

Beberapa gejala dan tanda-tanda awal yang perlu mendapat perhatian Menurut Imam Subekti yang dikutip oleh Soewondo () adalah sebagai berikut:

(8)

a. Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah. Penurunan BB yang berlangsung dalam waktu relative singkat harus menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah hebat yang menyebabkan penurunan prestasi di sekolah dan olahraga juga mencolok. Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Rasa lelah yang terjadi karena katabolisme protein di otot dan ketidakmampuan sebagian besar sel yang menggunakan glukosa sebagai energi.

b. Poliuria (peningkatan pengeluaran urin) Karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing.

c. Polidipsi (peningkatan rasa haus), rasa haus amat sering dialami oleh penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing. Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita minum banyak, besarnya urin yang keluar menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradient konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi merangsang pengeluaran ADH (antidiuretik hormone) dan menimbulkan rasa haus.

d. Polifagia (peningkatan rasa lapar) terjadi akibat kalori dari makanan yang dimakan, setelah dimetabolisasikan menjadi glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, penderita selalu merasa lapar.

e. Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan pembentuk antibody. Peningkatan konsentrasi glukosa disertai mukus, gangguan fungsi imun dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.

(9)

2. Keluhan lain

a. Gangguan saraf tepi/kesemutan. Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki diwaktu malam, sehingga mengganggu tidur.

b. Gangguan penglihatan. Pada fase awal penyakit diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali, agar ia tetap dapat melihat dengan baik.

c. Gatal/bisul. Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit, seperti ketiak dan di bawah payudara. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya.

d. Keputihan. Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan yang sering dirasakan.

e. Pada lelaki terkadang mengeluh impotensi hgal itu dikarenakan diabetes mellitus mengalami penurunan produksi hormone seksual akibat kerusakan testosteron dan system yang berperan.

2.1.7 Komplikasi

Menurut soegondo (2008) daibetes mellitus dapat mengalami komplikasi seperti berikut :

a. Komplikasi Akut

1. Keoasidosis diabetik adalah keadaan yang disebabkan karena tidak adanya insulin atau ketidakcukupan jumlah insulin, yang menyebabkan kekacauan metabolism karbohidrat, protein, lemak. Ada tiga gambaran klinis ketoasidosis diabetik yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis.

(10)

2. Hipoglikemi adalah penurunan kadar glukosa darah kurang dari 60 mg/dL. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, asupan karbohidrat kurang atau aktivitas fisik yang berlebihan. 3. Hiperglikemia/ hyperosmolar non ketotik adalah suatu dekompensasi

metabolic pada pasien diabetes tanpa disertai adanya ketosis. Gejalanya pada dehidrasi berat, tanpa hiperglikemia berat dan gangguan neurologis.

b. Komplikasi Kronis 1. Mikroangiopati

Retinopati diabetikum disebabkan karena kerusakan pembuluh darah retina. Faktor terjadinya retinopati diabetikum adalah lamanya menderita diabetes, umur penderita, control gula darah, faktor sistematik (hipertensi, kehamilan) − Nefropati diabetikum yang ditandai dengan ditemukannya kadar protein yang

tinggi dalam urin yang disebabkan adanya kerusakan pada glomerulus, nefropati diabetikum merupakan faktor resiko dari gagal ginjal kronik.

Neuropati diabetikum biasanya ditandai dengan hilangnya reflex. Selain ini juga bisa terjadi poliradikulopati diabetikum yang merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan gangguan pada suatu atau lebih akar syaraf dan dapat disertai dengan kelemahan motoric, biasanya dalam waktu 6-12 bulan.

2. Makroangiopati

− Penyakit jantung koroner ditandai dengan diawali dari berbagai bentuk dyslipidemia, hipertrigliseridemia dan penurunan kadar HDL. Pada DM

(11)

sendiri tidak meningkatan kadar LDL, namun sedikit kadar LDL pada DM sangat bersifat atherogemi karena mudah mengalami glikolisasi dan oksidasi. − Penyakit Serebro vaskuler, pembuluh aterosklerotik dalam pembuluh darah

serebral atau pembentuk emboli ditempat lain dalam system pembuluh darah yang kemudian terbawa aliran darah sehingga terjepit dalam pembuluh darah serebral yang mengakibatkan serangan iskemik dan stroke.

− Penyakit vaskuler perifer perubah aterosklerotik dalam pembuluh darah besar pada ekstremis bawah menyebabkan okulasi arteri ekstremitas bawah. Tanda dan gejalanya meliputi penurunan denyut nadi perifer dan klaudikatio intermiten (nyeri pada betis pada saat berjalan).

2.1.8 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Menurut Santoso (2008) penatalaksanaan diabetes mellitus merupakan usaha untuk menurunkan gula darah pada penderita diabetes mellitus, adapun cara dilakukan secara terafi farmakologis atau menggunakan obat-obatan dan terapi non farmakologis atau tanpa obat-obatan. Adapun di jelaskan sebagai berikut :

1. Edukasi adalah pengelolahan mandiri diabetes secara optimal membutuhkan partisipasi aktif penderita dalam merubah prilaku yang tidak sehat. Tim kesehatan harus mendampingi penderita dalam perubahan prilaku tersebut, dan berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam pencapaian perubahan prilaku membutuhkan edukasi, pengembangan keterampilan (skill), dan upaya peningkatan motivasi.

(12)

2. Pengobatan dengan insulin

Jika anda seorang dengan DM tipe I, maka insulinlah penyelamat anda. Jika anda penderita DM tipe II maka tahap akhir anda akan membutuhkannya. Insulin merupakan obat yang baik namun saat ini penggunaannya masih menggunakan suntikan.

Beberapa tahun lalu insulin di ekstrak dari pancreas sapi, babi, salmon dan binatang lain. Pada tahun 1978, para peneliti menemukan cara memaksa bakteri E.coli untuk membuat insulin manusia. Kini hampir semua insulin telah murni seperti insulin manusia (Soegondo, 2008).

Pada tubuh manusia insulin secara merespons secara konstan merespon naik-turunnya glukosa darah. Saat ini belum ada alat sederhana yang dapat mengukur kadar glukosa darah dan memberi insulin sebagaimana dilakukan pancreas. Berbagai bentuk insulin telah ditemukan dan bekerja pada waktu yang berbeda yaitu :

a. Insulin kerja cepat merupakan sedian terbaru dan paling cepat waktu kerjanya. Insulin mulai menurunkan gula darah dalam waktu 5 menit setelah diberikan, waktu puncak sekitar 1 jam. Insulin kerja-cepat merupakan kemajuan yang mutakhir karena membebaskan orang dengan diabetes untuk menyuntikan insuli sesaat sebelum makan.

b. Insulin regular kerja pendek merupakan insulin regular yang membutuhkan 30 menit untuk mulai menurunkan glukosa darah, puncaknya 3 jam dan hilang efeknya setelah 6-8 jam.

(13)

c. Insulin kerja menengah merupakan insulin yang menurunkan gula darah setelah waktu 2 jam setelah pemberian dan melanjutkan kerjanya selama 10-12 jam. Insulin ini aktif seampai 24 jam.

d. Insulin kerja panjang merupakan insulin yang mulai bekerja 6 jam dan mulai menyediakan insulin intensitas ringan selama 24 jam.

e. Insulin premix merupakan insulin yang mengandung NPH insulin 70% dan regular 30%, insulin ini membantu sangat membantu bagi orang yang memiliki kesulitan mencampur insulin dan mempunyai penglihatan yang buruk.

Pada usia anak-anak dan remaja sebaiknya segera memulai menyunyikan insulin untuk menghindari komplikasi kronis walaupun belum terjadi gejala-gejala yang disebabkan oleh konsentrasi glukosa darah yang tinggi.

3. Pengobatan dengan obat oral

Pada kenyataan tidak semua orang menyukai suntikan. Tetapi sebenarnya suatu saat penderita diabetes membutuhkannya. Sampai saat ini masih ada obat berbentuk tablet yang digunakan. Macam-macam obat diabetes yang dilakukan dengan oral.

a. Obat insulin sekretagok b. Obat insulin biguanid c. Obat golongan glitazone

d. Obat golongan alpha glukosidae e. Obat golongan inkretin

(14)

Pada beberapa penelitian, penderita diabetes mendapat 4-5 obat termasuk obat diabetes sering kali berintraksi dan dapat menimbulkan keracunan obat. Kadangk ala dokter memahami tidak memahami adanya intraksi obat tersebut. 4. Diet Diabetes

Bagi penderita diabetes diet diabetes merupakan perencanaan makan sesuai gizi masing-masing orang. Pada penderita diabetes sangat perlu ditekankan keteraturan makan dalam hal ini jadwal makan, jenis dan jumlah makanan.Sebenarnya bagi penderita diabetes tidak cocok disebut diet diabetes melainkan meal planning (soegondo, 2008). Perencanaan makan menggambarkan apa yang dimakan, berapa banyak, dan kapan makan. Dietesan atau orang yang ahli dibidangnya dapat membantu perencanaan makan yang cocok. Perencanaan yang baik dibuat berdasarkan makanan dan minuman apa yang anda sukai, kapan anda ingin makan dan minum, berapa kebutuhan kalori, apa aktivitas yang anda lakukan, apa latihan jasmani yang dilakukan, kondisi kesehatan, obat apa yang diminum dan kebiasaan keluarga. Anjuran makan hendaknya sejauh mungkin mengikuti kebiasaan makan masing-msing penderita diabetes dalam arti kebiasaan yang baik di teruskan dan yang kurang baik atau tidak seimbang perlu diseimbangkan.

Makanan sehari-hari hendaknya cukup karbohidrat, serat, protein, rendah lemak jenuh, kolestrol, sedangkan natrium dan gula secukupnya.

(15)

5. Kegiatan fisik dan Olah raga

Kegiatan fisik dan olah raga teratur sangatlah penting selain untuk menghindari kegemukan, juga untuk mencegah dan mengobati diabetes. Olah raga dapat membantu penurunan berat badan, karena dengan berolag raga penggunaan tenaga (energy/kalori) bertambah. Pada waktu bergerak otot-otot memakai lebih banyak glukosa (gula) daripada pada waktu tidak bergerak, dengan demikian konsentrasi glukosa darah akan turun. Mulai olah raga atau aktivitas fisik insulin akan bekerja lebih baik, sehingga glukosa dapat masuk ke dalam otot untuk dibakar (Soegondo, 2008).

Hal yang penting dalam olah raga adalah mencari jenis olah raga yang disenangi. Sebab hanya dengan demikian penderita diabetes akan bertahan melakukan aktivitas tersebut. Pilih olah raga yang mudah memasukannya ke dalam jadwal rutin sehari-hari dan sedikit persiapannya, pilih olah raga yang tidak mahal biaya dalam hal peralatannya, baju dan biaya.

Mulailah berolahraga sesudah lama tidak aktif dengan memulai secara bertahap. Melakukan sesuatu terlalu banyak dibandingkan kemampuan dapat menyebabkan cedera sehingga tidak dapat berolah raga lagi. Biasakan berolah raga selama 30-60 menit. Jika tidak melakukan olah raga paling sedikit usahakan lebih aktif. Usahakan selalu bergerak. Apabila bergerak akan digunakan 2 sampai 3 kali lebih banyak energy daripada bila duduk dan tidur (Soegondo, 2008).

(16)

2.2. Kadar Gula Darah

Kadar gula darah adalah jumlah atau konsentrasi glukosa dalam darah. Kadar gula darah pada orang normal berlangsung konstan, karena pengaturan karbohidrat yang baik.

Untuk memperhatikann kadar gula darah dalam batas normal dapat dilakukan oleh tubuh dengan mempertahankan homestatis dalam tubuh melalui 2 cara yaitu, bila glukosa darah terlalu rendah maka glukosa akan disuplai dari hati dengan jalan memecah glikogen hati, sebaliknya jika glukosa terlalu tinggi maka glukosa akan dibawa hati dan dirubah menjadi glikogen atau masuk ke otot dan dirubah menjadi glikogen otot (Mira, 2003).

Pasien diabetes mellitus harus berusaha menjaga kadar gula darah dalam tubuhnya dalam batas normal. Dan untuk itu perlu menjaga keseimbangan diantara jumlah glukosa yang masuk dan yang hilang.

Diabetes Melitus yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang timbul tersebut perlu pengendalian kadar gula darah yang baik. Kadar gula darah ter kendali tercantum pada tabel berikut :

Tabel. 2.1. Kriteria Pemantauan Pengendalian Diabetes Melitus

Kriteria Baik Sedang Buruk

Glukosa darah puasa 80-109 110-125 >126

Glukosa darah 2 jam puasa 80-144 145-179 >180

HbA1c <6,5 6,5-8 >8

(Yulizar Darwis, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Untuk Penyakit DM, 2005)

(17)

2.2. Faktor yang Berhubungan dengan Terkendalinya Kadar Gula Darah 1. Umur

Menurut Depkes (2007) umur adalah masa hidup seseorang dalam tahu pembulatan kebawah pada waktu ulang tahun terakhir. Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologis yang secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes mellitus tipe II sering muncul setelah seorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun pada mereka yang berat badannya lebih. Sehingga tubuhnya tidak peka lagi terhadap insulin. Pada usia lanjut peningkatan produksi insulin glukosa dari hati meningkat, cendrung mengalami resisten insulin dan gangguan sekresi insulin akibat penuaan dan apoptisis sel beta pancreas.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lely dan Indrawaty dalam media litbag kesehatan (2004) menyebutkan bahwa penderita diabetes tertinggi pada usia 61-65 tahun yaitu sebesar 32,5% dan terendah usia < 40 tahun sebesar 4%.

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin dalah perbedanan seks yang didapat sejak lahir yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki rIsiko yang besar untuk mengidap diabetes sampai usia dewasa awal. Setelah usia 30 tahun keatas perempuan lebih berisiko tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

Menurut Damayanti wanita lebih berisiko mengidap diabetes mellitus karena secara fisik wanita lebih memiliki indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan (premenstrual) dan pasca menapouse yang membuat distribusi lemak

(18)

tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses hormonal sehingga wanita berisiko dibanding dengan laki-laki.

3. Pendidikan

Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara atau mengatasi masalah-masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan. Pendidikan memiliki hubungan dengan perilaku pasien dalam menjaga kesehatannya dan pengendalian kadar glukosa dalam darah agar tetap stabil. Hasil atau perubahan prilaku dengan cara ini membutuhkan waktu yang lama namun hasil yang dicapai bersifat tahan lama karena disadari oleh kesadaran sendiri (Notoatmodjo, 2003).

4. Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan yang di cakup dalam ranah pengetahuan mempunyai enam tingkatan, yaitu:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang

(19)

telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisa (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

(20)

e. Sintesis (Synthetis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2007).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur. Pengetahuan dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan jenis kuesioner yang bersifat self administered questioner yaitu jawaban diisi sendiri oleh responden. Dan bentuk pertanyaannya berupa pilihan berganda, dimana hanya ada satu jawaban yang benar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penilaian yang bersifat subyektif.

Pengetahuan merupakan tingkat terendah dalam domain kognitif. Pengetahuan merupakan hasil dari tingkah laku seseorang setelah melakukan pengindraan pada suatu objek tertentu. Pasien diabetes mellitus akan mampu

(21)

melakukan pengendalian kadar gula darah dengan baik jika didasari dengan pengetahuan mengenai penyakit diabetes mellitus, baik tanda gejala dan cara penanganannya.

5. Riwayat Keluarga

Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena kelainan gen mengakibatkan tubuhnya tidak dapat menghasilkan insulin dengan baik (Sustrani, 2007). Tetapi resiko terkena diabetes juga dipengaruhi stress dan berat badan. Riwayat keluarga memiliki hubungan yang signifikan tentang kejadian diabetes mellitus.

6. Stress

Seorang yang menderita sakit merangsang memproduksi horman tertentu yang secara tidak langsung berpengaruh pada kadar gula darah (Leslie, 1991). Adapun menurut Iswano (2004) kadar gula darah dipengaruhi oleh stress.

Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan individu untuk berespon atau melakukan tindakan. Stress muncul ketika ada ketidakcocokan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuan yang dimiliki.

Stress dapat memicu terjadinya reaksi biokimia dalam tubuh yaitu reaksi neural dan neuroendokrin. Reaksi pertama dari stress adalah sekresi system saraf simpatis yang menyebabkan ujung saraf mengeluarkan norepinefrin untuk meningkatkan frekuensi jantung. Menyebabhkan glukosa darah meningkat guna sumber energy untuk perfusi.

(22)

7. Obesitas

Obesitas artinya berat badan yang berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan idaman. Individu dengan diabetes mellitus tipe II diketahui sebanyak 80% diantaranya adalah obesitas. Obesitas menyebabkan reseptor insulin pada target sel di seluruh tubuh kurang sensitive dan jumlahnya berkurang sehingga insulin dalam darah tidak dapat dimanfaatkan (Soegondo, 2008).

8. Asupan Makanan

Makanan diperlukan sebagai bahan bakar dalam pembentukan ATP. Selama pencernaan banyak zat gizi yang diabsorpsi untuk memenuhi kebutuhan energy tubuh sampai makan berikutnya. Di dalam makanan yang dikonsumsi terkandung karbohidrat, lemak, protein(Tandra, 2008). Kadar gula darah sebagai tercantum pada apa yang dimakan dan oleh karenanya sewaktu makan diperlukan adanya keseimbangan diet mempertahankan kadar gula darah agar mendekati nilai normal dapat dilakukan dengan asupan makanan seimbang sesuai kebutuhan (sukardji, 2002).

Makanan yang berbeda dapat memberikan pengaruh pada kadar gula darah. Pasien diabetes mellitus memiliki kemampuan tubuh yang terbatas mengatur metabolisme hidrat arang dan jika toleransi hidrat arang dilampaui, pasien akan mengalami glikosuria dan ketomuria yang pada akhirnya dapat menjadi ketoasidosis, maka perlu dilakukan diet pada penderita diabetes mellitus tipe II (PERKENI, 1998). 9. Aktifitas Fisik

Manfaat aktifitas fisik atau olah raga sebagai terapi diabetes mellitus sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu upaya penanggulangan penyakit DM

(23)

disamping obat dan diet (Darmono, 2002). Latihan fisik dapat meningkatkan sensitifitas jaringan insulin yang berguna dalam regulasi kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II (Ilyas, 2007).

10.Kepatuhan Minum Obat

Mengkonsumsi obat merupakan salah satu cara penanggulangan diabetes mellitus yang dikenal sejak lama. Konsumsi obat dapat merangsang sel beta pancreas untuk mengeluarkan insulin atau mengurangi absorpsi glukosa dalam usus, sehingga dapat menurunkan kadar gula dalam darah.

Keteraturan dalam minum obat pada penderita diabetes mellitus tipe II yang dilakukan bersamaan dengan diet dan aktifitas fisik dapat mengkontrol Dakar gula darah dalam tubuh dengan baik. (Soegondo, 2008).

11.Konsumsi Alkohol

Konsumsi alcohol mengandung banyak karbohidrat dan kalori. Pengaturan glukosa menjadi lebih sulit apabila mengkonsumsi alcohol. Pecandu alkohol bisa mengalami hipoglikemia (Tandra, 2004).

Menurut Suyanto alcohol dapat menghambat proses oksidasi lemak dalam tubuh yang menyebabkan proses pembakaran lemak dan gula terhambat dan akhirnya berat badan akan meningkat . Alkohol juga dapat meningkatkan kelenjar endokrin dengan melepas epinefrin yang mengarah kepada hiperglikemia sehingga konsumsi alcohol mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian DM Tipe II dan merupakan faktor resiko terjadinya diabetes mellitus (Irawan, 2010).

(24)

2.4 Landasan Teori

Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun secara tidak langsung. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.

Beberapa faktor yang merupakan penyebab perilaku menurut teori Green (1991), dibedakan dalam tiga jenis, yaitu :

a. Faktor Pendorong (Predisposing Factors)

Faktor pendorong adalah merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku. Faktor pendorong yang mencakup pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai, dan persepsi berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Dalam arti umum, kita dapat mengatakan faktor pendorong sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Preferensi ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat, dan dalam setiap kasus faktor ini mempunyai pengaruh. b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

Faktor pemungkin adalah faktor enteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu atau motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk didalamnya keterampilan dan sumber daya pribadi disamping sumber daya masyarakat.

Faktor pemungkin mencakup berbagai ketrampilan dan sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. Sumber daya itu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, personalia, sekolah, klinik, atau sumber daya yang serupa itu.

(25)

Faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan sumber daya, biaya, jarak, ketersedian transportasi, jam buka atau jam pelayanan, dan sebagainya, termasuk pula didalamnya petugas kesehatan seperti perawat, dokter, dan pendidikan kesehatan sekolah.

c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)

Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberi ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap dan melenyapnya perilaku itu. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan, memperoleh dukungan atau tidak.

Berdasarkan landasan teoritis diatas menunjukan bahwa dengan merubah prilaku menjadi lebih kearah untuk lebih sehat dapat meningkatkan derajat kesehatan dan tidak terlepas dalam hal menurunkan kadar gula darah pada penderita DM tipe II sehingga dapat dibuat kerangka konsep sebagai berikut.

(26)

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan beberapa kajian teori dan tujuan penelitian, maka kerangka konsep penelitian yang disusun adalah sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Konsep utama penelitian adalah untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II.

- Umur - Jenis Kelamin - Pendidikan - Pengetahuan - Riwayat Keluarga - IMT - Aktifitas Fisik - Diet - Kepatuhan Minum Obat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :