• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTI TB Paru (Keseluruhan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KTI TB Paru (Keseluruhan)"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1.

1.1. Latar BelakangLatar Belakang

Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan masalah kesehatan Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Pada tahun 1992

masyarakat yang penting di dunia. Pada tahun 1992 World Health OrganizationWorld Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai

(WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global EmergencyGlobal Emergency. Laporan. Laporan terbaru WHO 2008, yang menggambarkan situasi

terbaru WHO 2008, yang menggambarkan situasi dunia tahun 2006, menunjukkandunia tahun 2006, menunjukkan  bahwa

 bahwa setiap setiap tahun tahun diperkirakan diperkirakan ada ada 9,2 9,2 juta juta kasus kasus TB TB baru baru (139/100.000(139/100.000  penduduk),

 penduduk), 4,1 4,1 juta juta diantaranya diantaranya (44%) (44%) adalah adalah pasien pasien dengan dengan basil basil tahan tahan asamasam (BTA) positif dan 0,7 juta pasien TB yang juga terinfeksi virus HIV (Human (BTA) positif dan 0,7 juta pasien TB yang juga terinfeksi virus HIV (Human Immunodefficiency Virus) (8%).

Immunodefficiency Virus) (8%).1, 21, 2

Indonesia masih menempati urutan ketiga di dunia untuk jumlah kasus TB Indonesia masih menempati urutan ketiga di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan Cina. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar setelah India dan Cina. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.

usia.11

Penderita penyakit tuberkulosis di Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 Penderita penyakit tuberkulosis di Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 tercatat sebanyak 15.614 orang. Dari jumlah tersebut terdapat kasus tuberkulosis tercatat sebanyak 15.614 orang. Dari jumlah tersebut terdapat kasus tuberkulosis  paru

 paru sebanyak sebanyak 12.145 12.145 orang orang dengan dengan angka angka kesembuhan kesembuhan 67,07% 67,07% (8.145 (8.145 orang).orang). Kabupaten/kota dengan penderita penyakit tuberkulosis paru terbanyak berada di Kabupaten/kota dengan penderita penyakit tuberkulosis paru terbanyak berada di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan jumlah kasus sebanyak 5.303 orang.

Kabupaten Tapanuli Selatan dengan jumlah kasus sebanyak 5.303 orang. KasusKasus tuberkulosis paru di Kota Medan tahun 2010 tercatat sebanyak 918 orang dengan tuberkulosis paru di Kota Medan tahun 2010 tercatat sebanyak 918 orang dengan  prevalensi

 prevalensi 45,9 45,9 % % per per 100.000 100.000 penduduk. penduduk. Dibandingkan Dibandingkan seluruh seluruh kabupaten/kotakabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, jumlah penderita tuberkulosis paru di Kota Medan di Provinsi Sumatera Utara, jumlah penderita tuberkulosis paru di Kota Medan cukup tinggi, hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti perilaku cukup tinggi, hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti perilaku masyarakat, keluarga, penderita, lingkungan dan kondisi rum

masyarakat, keluarga, penderita, lingkungan dan kondisi rum ah.ah.33

Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban TB global ini antara lain Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban TB global ini antara lain disebabkan: 1. Adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan Asia, 2. Kemiskinan disebabkan: 1. Adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan Asia, 2. Kemiskinan

(2)
(3)

 pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara

 pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara yang sedang berkembang tetapiyang sedang berkembang tetapi  juga

 juga pada pada penduduk penduduk perkotaan perkotaan tertentu tertentu dinegara dinegara maju, maju, 3. 3. Adanya Adanya perubahanperubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan dari struktur demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan dari struktur usia manusia yang hidup, 4. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada usia manusia yang hidup, 4. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada  penduduk

 penduduk di di kelompok kelompok yang yang rentan rentan terutama terutama di di negara-negara negara-negara miskin, miskin, dan dan 5.5. Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik dan pengawasan Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik dan pengawasan kasus TB dimana terjadi deteksi dan tatalaksana k

kasus TB dimana terjadi deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak adekuat.asus yang tidak adekuat.4, 54, 5 Robert Koch, dokter yang menemukan

Robert Koch, dokter yang menemukan  Mycobacterium  Mycobacterium tuberculosistuberculosis  sebagai  sebagai  penyebab

 penyebab tuberkulosis tuberkulosis paru paru pada pada tahun tahun 1882.1882.  Mycobacterium  Mycobacterium tuberculosistuberculosis  ini  ini merupakan bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar 0,4 x 3 µm, tidak berspora, merupakan bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar 0,4 x 3 µm, tidak berspora,  bersifat

 bersifat aerob aerob dan dan memiliki memiliki selubung selubung berlilin. berlilin. Sebagian Sebagian besar besar dinding dinding bakteribakteri terdiri atas asam lemak (lipid), protein dan polisakarida. Lipid inilah yang terdiri atas asam lemak (lipid), protein dan polisakarida. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut membuat bakteri lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut  bakteri

 bakteri tahan tahan asam asam (BTA) (BTA) dan dan juga juga lebih lebih tahan tahan terhadap terhadap gangguan gangguan kimia kimia dandan fisis.

fisis.2, 4, 62, 4, 6

Diagnosis TB ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan Diagnosis TB ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan  pemeriksaan

 pemeriksaan penunjang, penunjang, yaitu yaitu pemeriksaan pemeriksaan bakteriologis bakteriologis dan dan pemeriksaanpemeriksaan radiologis. Untuk menemukan TB pada pemeriksaan bakteriologis adalah dengan radiologis. Untuk menemukan TB pada pemeriksaan bakteriologis adalah dengan cara pemeriksaan dahak pada sediaan langsung. Pemeriksaan dilakukan dengan cara pemeriksaan dahak pada sediaan langsung. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pengecatan

metode pengecatan Ziehl Neelsen Ziehl Neelsen. Pengecatan ini disebut. Pengecatan ini disebut pengecatan tahan asam pengecatan tahan asam,, karena sekali dapat tercat tidak mudah untuk dilunturkan meskipun dengan karena sekali dapat tercat tidak mudah untuk dilunturkan meskipun dengan menggunakan zat peluntur (decolorizing agent) asam. Untuk dapat melakukan menggunakan zat peluntur (decolorizing agent) asam. Untuk dapat melakukan  pemeriksaan

 pemeriksaan sputum sputum BTA BTA dibawah dibawah mikroskop, mikroskop, dibutuhkan dibutuhkan kuman kuman baru baru yangyang  jumlahnya paling sedikit 5000 k

 jumlahnya paling sedikit 5000 kuman dalam satu mililiter dahak.uman dalam satu mililiter dahak.7, 87, 8

Sebuah penelitian di San Fransisco menyatakan bahwa 17 % penderita TB Sebuah penelitian di San Fransisco menyatakan bahwa 17 % penderita TB  paru

 paru memiliki memiliki hasil hasil sputum sputum BTA (BTA (-). -). Oleh Oleh karena karena itu, itu, apabila apabila diagnosis diagnosis TB paTB paruru ditegakkan h

ditegakkan hanya semata-mata berdasarkan anya semata-mata berdasarkan pemeriksaan sputum pemeriksaan sputum BTA BTA (+), (+), akanakan  banyak penderita TB paru yang tidak terdiagnosis dan

 banyak penderita TB paru yang tidak terdiagnosis dan menambah jumlah TB parumenambah jumlah TB paru yang menular, karena TB paru dengan sputum BTA yang negatif bisa juga yang menular, karena TB paru dengan sputum BTA yang negatif bisa juga menjadi sumber penularan, apalagi jika disertai gejala klinis batuk dan kavitas menjadi sumber penularan, apalagi jika disertai gejala klinis batuk dan kavitas  pada foto toraks.

(4)

Pada pemeriksaan radiologis yang paling sering digunakan dalam membantu Pada pemeriksaan radiologis yang paling sering digunakan dalam membantu mendiagnosis TB adalah foto toraks. Kelainan foto toraks biasanya baru terlihat mendiagnosis TB adalah foto toraks. Kelainan foto toraks biasanya baru terlihat setelah 10 minggu terinfeksi oleh kuman TB. Bila secara klinis ada gejala TB setelah 10 minggu terinfeksi oleh kuman TB. Bila secara klinis ada gejala TB  paru, hampir

 paru, hampir pasti pasti ada kelainan ada kelainan pada foto pada foto toraks. Bila toraks. Bila secara secara klinis ada klinis ada gejala gejala TBTB  paru,

 paru, tetapi tetapi foto foto toraks toraks tidak tidak memperlihatkan memperlihatkan kelainan, kelainan, hal hal ini ini merupakan merupakan tandatanda kuat bukan TB. Lesi-lesi berukuran 2 mm sudah dapat dilihat dengan foto toraks kuat bukan TB. Lesi-lesi berukuran 2 mm sudah dapat dilihat dengan foto toraks walaupun secara klinis belum ada gejala. Disamping membantu menegakkan walaupun secara klinis belum ada gejala. Disamping membantu menegakkan diagnosis, foto toraks berperan penting untuk menilai tindakan yang dilakukan diagnosis, foto toraks berperan penting untuk menilai tindakan yang dilakukan serta mengontrol keberhasilan terapi.

serta mengontrol keberhasilan terapi.99

Pemeriksaan radiologis dapat memprediksi penderita TB paru dikarenakan Pemeriksaan radiologis dapat memprediksi penderita TB paru dikarenakan  pemeriksaan

 pemeriksaan ini ini memiliki memiliki sensitivitas sensitivitas yang yang tinggi. tinggi. Walaupun Walaupun demikian demikian sebagaisebagai konfirmasinya harus dilakukan pemeriksaan sediaan langsung bakteri tahan asam konfirmasinya harus dilakukan pemeriksaan sediaan langsung bakteri tahan asam dikarenakan pemeriksaan ini memiliki spesifitas yang tinggi. Hasil positif dari dikarenakan pemeriksaan ini memiliki spesifitas yang tinggi. Hasil positif dari  pemeriksaan

 pemeriksaan ini ini juga juga bermakna bermakna penderita penderita tersebut tersebut berada berada dalam dalam virulensi virulensi yangyang tinggi sehingga dapat menularkan penyakit. Faktor pra analitik dan jumlah kuman tinggi sehingga dapat menularkan penyakit. Faktor pra analitik dan jumlah kuman  juga

 juga mempengaruhi mempengaruhi hasil hasil pemeriksaan pemeriksaan terutama terutama pewarnaan pewarnaan BTA.BTA. GomesGomes daridari  penelitian terhadap 153 penderita TB pa

 penelitian terhadap 153 penderita TB paru dengan BTA (-) mendapati lesi ru dengan BTA (-) mendapati lesi infiltratinfiltrat lebih banyak dijumpai daripada lesi kavitas. Sedangkan BTA (+) lebih banyak lebih banyak dijumpai daripada lesi kavitas. Sedangkan BTA (+) lebih banyak dijumpai penderita dengan kavitas daripada dengan lesi infiltrat.

dijumpai penderita dengan kavitas daripada dengan lesi infiltrat.1010

1.2.

1.2. Rumusan MasalahRumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan masalah sebagaidirumuskan masalah sebagai  berikut:

 berikut: bagaimana bagaimana gambaran gambaran pemeriksaan pemeriksaan basil basil tahan tahan asam asam (BTA) (BTA) dan dan fotofoto roentgen pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Pirngadi Medan.

roentgen pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Pirngadi Medan.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1.

1.3.1. Tujuan UmumTujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan foto roentgen pada penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) di RSUD Pirngadi foto roentgen pada penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) di RSUD Pirngadi Medan.

(5)

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui seberapa besar peranan pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dalam menegakkan diagnosa Tuberkulosis Paru (TB Par u).

2. Untuk mengetahui seberapa besar peranan pemeriksaan foto thoraks dalam menegakkan diagnosa Tuberkulosis Paru (TB Paru).

1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Klinisi

Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi klinisi terhadap informasi mengenai sejauh mana pemeriksaan BTA dan pemeriksaan radiologis dapat menunjang diagnosis tuberkulosis paru (TB paru).

2. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dan RSUD Dr. Pirngadi Medan

Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan penyusunan perencanaan  promosi kesehatan, evaluasi program, dan upaya peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru).

3. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan masyarakat tentang tuberkulosis paru dan bagaimana cara pengobatannya.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat dalam memperluas wawasan peneliti tentang  penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru).

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberkulosis Paru 2.1.1. Pengertian

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular granulomatosa kronik yang telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu dan paling sering disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, 85 % dari seluruh kasus TB adalah TB paru, sisanya (15 %) menyerang organ tubuh lain mulai dari kulit, tulang, organ-organ dalam seperti ginjal, usus, otak dan lainnya.9

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh  basil TB (mycobacterium tuberculosis). Tuberkulosis paru merupakan salah satu  penyakit saluran pernapasan bagian bawah dan sebagian besar basil TB ini

menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh yang lainnya.11

2.1.2. Etiologi

Penyebab tuberkulosis paru adalah mycobacterium tuberculosis. Dimana dalam jaringan, basil tuberkel adalah bakteri batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4  –   3 µm. Ciri-ciri bakteri ini adalah tidak bergerak, tidak berspora, dan tidak  bersimpai. Bakteri merupakan bakteri Gram-positif yang bersifat tahan asam karena memiliki asam mikolat. Pertumbuhan bakteri ini berlangsung cukup lambat dengan waktu generasi 12-18 jam. Permukaan sel mycobacterium tuberculosis  bersifat hidrofobik dan dinding sel mempunyai kandungan lemak yang tinggi.6, 12

 Mycobacterium tuberculosis tipe humanus adalah mikobakterium yang  paling banyak menimbulkan penyakit tuberkulosis pada manusia. Basil tersebut

(7)

mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80oC dan mudah mati apabila terkena sinar ultraviolet (sinar matahari). Identifikasi basil dapat dilakukan dengan cara hapusan langsung dan bahan untuk identifikasi dapat diambil dari dahak secara langsung, kerokan laring dengan bantuan alat bronkoskopi dan dari cairan  pleura. Kemudian bahan hapusan tersebut di cat dengan cara Ziehl Neelsen.11

2.1.3. Cara Penularan Melalui udara (inhalasi):

1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.

2. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam  bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan

sekitar 3000 percikan dahak.

3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.

4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil  pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.

5. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.5

2.1.4. Patogenesis Tuberkulosis Primer

Penularan TB paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei  dalam udara sekitar. Partikel infektif ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, bergantung pada keberadaan sinar UV, ventilasi yang baik, dan kelembapan. Apabila terhirup oleh seseorang, partikel infektif ini akan menempel pada saluran napas atau paru-paru.

Apabila menetap pada jaringan paru, bakteri akan tumbuh dan berkembang  biak dalam sitoplasma makrofag, yang kemudian akan terbawa masuk ke

(8)

organ-organ tubuh lain. Bakteri yang bersarang di jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil, yang disebut sarang primer atau sarang Ghon. Peradangan saluran getah bening akan timbul dari sarang primer menuju hilus (limfangitis lokal) dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis lokal dan limfadenitis regional dapat membentuk komplek primer. Proses ini dapat berlangsung sekitar 3-8 minggu. Dan selanjutnya dapat berkembang menjadi:

 Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat

 Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik,

kalsifikasi di hilus, dan menyebabkan lesi pneumonia yang luasnya lebih dari 5 mm. Sebanyak 10 % diantaranya dapat mengalami reaktivasi.1, 4, 12

Tuberkulosis Post Primer (TB Sekunder)

TB post primer dimulai dari sarang dini yang berlokasi di segmen apikal lobus superior maupun inferior dan berinvasi ke daerah parenkim paru. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumonia kecil. Sarang pneumonia ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut:

1. Direabsorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.

2. Sarang mula-mula meluas, tetapi segera membaik dengan meninggalkan  jaringan fibrosis. Ada juga yang membungkus diri menjadi keras dan menimbulkan pengapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma  berkembang menghancurkan jaringan ikat disekitarnya. Bagian tengahnya mengalami nekrosis menjadi lembek membentuk jaringan keju. Kavitas akan terbentuk apabila jaringan keju dibatukkan keluar. Kavitas ini kemudian dapat mengalami:

 Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. TB milier akan

terjadi apabila isi kavitas tersebut masuk ke dalam peredaran darah arteri.

 Memadat dan membungkus diri sehingga terbentuk tuberkuloma yang dapat

mengapur dan menyembuh atau aktif kembali menjadi cair dan menjadi kavitas kembali.

(9)

 Bersih dan menyembuh, yang disebut juga open healed cavity. Kavitas

kadang kala berakhir sebagai kavitas yang terbungkus, menciut, dan  berbentuk seperti bintang (stellate shaped).1, 4, 12

2.1.5. Klasifikasi Tuberkulosis A. Tuberkulosis Paru

1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis (BTA) a. Tuberkulosis paru BTA (+):

 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu, Pagi,

Sewaktu) menunjukkan hasil BTA positif.

 Hasil pemeriksaan 1 spesimen dahak SPS menunjukkan BTA positif

dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

 Hasil pemeriksaan 1 spesimen dahak SPS menunjukkan BTA positif

dan biakan positif.

 b. Tuberkulosis paru BTA (-):

 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,

gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif.

 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan

 biakan mycobacterium tuberculosis positif. 2. Berdasarkan tipe pasien

Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada  beberapa tipe pasien, yaitu:

a. Kasus baru

Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.

 b. Kasus kambuh (relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat  pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.

(10)

Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi aktif atau perburukan dan gejala klinis, maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan:

 Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan,

dll).

 TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang

 berkompeten menangani kasus tuberkulosis. c. Kasus defaulted  atau drop out 

Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan ≥ 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan beturut-turut atau lebih sebelum masa  pengobatannya selesai.1, 5, 13

B. Tuberkulosis Ekstra Paru

Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal maupun saluran kencing.1

2.1.6. Gejala Klinis

Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: 1. Gejala respiratori:  Batuk ≥ 2 minggu  Batuk darah  Sesak napas   Nyeri dada 2. Gejala sistemik:  Demam

 Gejala sistemik lain adalah malaise, keringat malam, anoreksia dan

 berat badan menurun.1, 13 2.1.7. Diagnosis

2.1.7.1. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik pasien TB sering tidak menunjukkan suatu kelainan apapun terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara

(11)

asimtomatik. Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks (puncak) paru. Beberapa kelainan yang didapat pada pemeriksaan fisik: 1. Bila dicurigai adanya infitrat yang agak luas, maka didapatkan:

 Palpasi: fremitus akan teraba mengeras.  Perkusi: redup.

 Auskultasi: suara napas bronkial dan didapatkan juga suara napas tambahan

 berupa ronkhi basah, kasar dan nyaring.

2. Bila dicurigai adanya infiltrat yang diliputi oleh penebalan pleura:

 Palpasi: fremitus akan teraba mengeras.  Perkusi: redup.

 Auskultasi: suara napasnya menjadi vesikuler melemah.

3. Bila terdapat kavitas yang cukup besar:

 Perkusi: memberikan suara hipersonor atau timpani.  Auskultasi: memberikan suara amforik.4

2.1.7.2. Pemeriksaan Laboratorium

 Darah

Pemeriksaan darah tidak spesifik sebagai pegangan untuk menyokong diagnosa TB paru. Ketika tuberkulosis baru mulai aktif, jumlah leukosit dan monosit akan ditemukan sedikit meninggi. Jumlah limfosit masih dibawah normal dan laju endap darah mulai meningkat. Namun, ketika penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal.1

 Sputum

Pemeriksaan sputum merupakan cara yang paling penting karena diagnosis tuberkulosis sudah dapat ditegakkan jika ditemukan bakteri BTA. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 5000 kuman dalam 1 mililiter sputum.

(12)

Untuk pewarnaan sediaan yang dianjurkan menggunakan cara  Ziehl Neelsen dengan hasil bakteri tahan asam (BTA) memberi gambaran berwarna merah dan bakteri tidak tahan asam berwarna biru.14, 15

 Uji tuberkulin

Uji tuberkulin merupakan pemeriksaan guna menunjukkan reaksi imunitas seluler yang timbul setelah 4-6 minggu penderita mengalami infeksi pertama dengan basil tuberkulosis. Uji ini dilakukan dengan menggunakan uji Mantoux, yaitu dengan menyuntikkan 1 ml tuberkulin PPD (Purified Protein Derivative) secara intrakutan dan mengamati reaksi yang terjadi setelah 48-72 jam.11, 12

2.1.8. Pengobatan

Tabel 2.1. Berikut jenis-jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang digunakan di Indonesia:

Jenis OAT Sifat

Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)

Harian Lanjutan (3x seminggu) Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (8-12) Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12) Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40) Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18)

Ethambutol (E) Bakteriostatik 30 (20-35)

30 (20-35)

(13)

Tahap awal (intensif)

Pada tahap ini, pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan diberikan secara tepat,  biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

Sebagian besar pasien TB BTA (+) menjadi BTA (-) dalam 2 bulan.

Tahap lanjutan

Pada tahap ini, pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam  jangka waktu yang lebih lama. Dan pada tahap ini juga penting untuk membunuh

kuman persister , sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.5, 13

2.1.9. Pencegahan

Pemberian vaksin BCG ( Bacille Calmette Guerin) segera setelah bayi lahir (0-1 bulan) dapat memberikan kekebalan aktif terhadap tuberkulosis. Tingkat efektivitas vaksin BCG berkisar 70-80%. Oleh karena itu, harus tetap waspada terhadap serangan bakteri penyebab tuberkulosis.12

2.2. Pemeriksaan Bakteriologik (pengecatan BTA metode Zi ehl Neel sen )

Bakteri merupakan organisme yang sangat kecil (berukuran mikroskopis). Bakteri rata-rata berukuran lebar 0,5-1 mikron dan panjang hingga 10 mikron (1 mikron = 10-3  mm). Akibatnya pada mikroskop tidak tampak jelas dan sukar untuk melihat bagian-bagiannya. Untuk melihat bakteri dengan jelas, tubuhnya  perlu diisi dengan zat warna, pewarnaan ini disebut pengecatan bakteri.7

Pengecatan bakteri sudah dilakukan sejak permulaan berkembangnya mikrobiologi di pertengahan abad ke-19 oleh  Loius Pasteur dan  Robert Koch. Pada umumnya, ada 2 macam zat warna (bahan cat) yang sering dipakai, yaitu: 1.  Zat warna yang bersifat asam, dengan komponen warna anion, biasanya dalam  bentuk garam natrium. 2.  Zat warna yang bersifat alkalis, dengan komponen warna kation, biasanya dalam bentuk klorida. Setelah dilakukan pengecatan,

(14)

dalam tubuh bakteri akan terjadi proses pertukaran ion zat warna dengan ion-ion protoplasma (misalnya asam nukleat) bakteri.7

Walaupun urin dari kateter, cairan otak dan isi lambung dapat diperiksa secara mikroskopis, tetapi pemeriksaan bakteriologik yang paling penting untuk diagnosis TB paru adalah pemeriksaan sputum dengan metode pengecatan  Ziehl  Neelsen. Sputum terbaik untuk diperiksa adalah sputum pagi hari, karena paling  banyak mengandung mikobakteria dibandingkan dengan sputum pada saat-saat

lain.14, 16

Pengecatan metode  Ziehl Neelsen  ini disebut  pengecatan tahan asam, karena dapat tercat tidak mudah untuk dilunturkan meskipun dengan menggunakan zat peluntur (decolorizing agent) asam. 7

Keuntungan dari pengecatan tahan asam ini adalah basil tahan asam (BTA) dapat segera ditemukan bila memang ada didalam bahan hapusan. Tetapi cara ini kurang peka sebab untuk mendapatkan hasil positif paling sedikit didalam 1 cc dahak harus mengandung 10.000 sampai 100.000 basil.11

Berbagai teori telah dikemukakan untuk menerangkan sifat tahan asam ini, antara lain dinyatakan bahwa sifat tahan asam ini ditentukan oleh adanya sifat  permeabilitas yang selektif dari membran sitoplasma. Menonjolnya warna merah disebabkan oleh penyerapan warna karbolfuksin yang larut dalam sel. Bila sel ini rusak, maka sifat tahan asam itu pun akan hilang. Bakteri tahan asam sangat  banyak mengandung lipida, asam lemak , dan kandungan inilah yang

mencerminkan sifat tahan asam pada golongan bakteri tersebut.7

2.3. Gambaran Radiologis TB Paru

Pemeriksaan roentgen adalah sangat penting untuk diagnosis TB paru:

1. Bila klinis ada gejala-gejala TB paru, hampir selalu ditemukan kelainan pada foto roentgen.

2. Bila klinis ada persangkaan terhadap penyakit TB paru, tetapi pada foto roentgen tidak terlihat kelainan, maka ini merupakan tanda yang kuat bahwa  penyakit yang diderita bukannlah tuberkulosis.1

(15)

Klasifikasi TB paru berdasarkan gambaran radiologis:9 1. TB primer

Lokasi kelainan biasanya terdapat pada satu lobus dan paru kanan lebih sering terkena, terutama di daerah lobus bawah, lobus tengah dan lingula serta segmen anterior lobus atas. Kelainan foto toraks yang dominan adalah berupa limfadenopati hilus dan mediastinum.

Gambaran abnormal pada foto toraks dapat disembuhkan dengan terapi adekuat, tetapi dapat pula meninggalkan gambaran fibrosis, kalsifikasi serta nodul residual, serta penebalan pleura.

2. TB paru post primer (Sinonim TB reaktif atau TB sekunder)

Biasanya terjadi akibat dari infeksi laten sebelumnya. Selama infeksi primer kuman terbawa aliran darah ke daerah apeks dan segmen posterior lobus atas dan ke segmen superior lobus bawah, untuk selanjutnya terjadi reaktivasi infeksi didaerah ini karena tekanan oksigen di lobus atas tinggi. Infeksi ini dapat menimbulkan suatu gejala TB bila daya tahan tubuh host menurun. Mikroorganisme yang laten dapat berubah menjadi aktif dan menimbulkan nekrosis.

Gambaran foto toraks yang dicurigai lesi aktif:

1. Bayangan berawan atau nodular di segmen apikoposterior atas dan superior lobus bawah.

2. Kavitas terutama lebih dari satu dan dikelilingi konsolidasi atau nodul. 3. Bercak milier.

4. Efusi pleura bilateral.

Gambaran radiologis yang dicurigai lesi tidak aktif: 1. Fibrosis.

2. Kalsifikasi.

(16)

Klasifikasi TB post primer (TB sekunder): 1. Lesi minimal

Luas lesi yang terlihat tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks dan iga 2 depan, lesi soliter dapat berada dimana saja, tidak ditemukan adanya kavitas.

2. Lesi lanjut sedang

Luas sarang-sarang yang berupa bercak tidak melebihi luas satu paru,  bila ada kavitas ukurannya tidak lebih 4 cm, bila ada konsolidasi tidak

lebih dari satu lobus. 3. Lesi sangat lanjut

Luas lesi melebihi lesi minimal dan lesi lanjut sedang, tetapi bila ada kavitas ukuran lebih dari 4 cm.

(17)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan  pendekatan cross sectional . Artinya, pengamatan atau pengukuran dilakukan

secara bersamaan, yaitu pengukuran dilakukan dengan 1 kali pengamatan.18

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada tersangka penderita TB paru yang berobat di RSUD Dr. Pirngadi Medan selama kurun waktu pada bulan September 2012 sampai Desember 2012.

3.3. Populasi dan Besar Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian

Pasien yang datang ke RSUD Dr. Pirngadi Medan yang mempunyai sarana  pemeriksaan BTA dan pemeriksaan roentgen.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari penderita TB paru yang datang ke RSUD Dr. Pirngadi Medan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4. Jumlah Sampel

Jumlah sampel dihitung berdasarkan rumus:18, 19

n = Keterangan: n = Besar sampel Zα2 = Batas kepercayaan (10 % = 1,64) Zα  . P (1-P) d2

(18)

P = Proporsi penderita TB paru 45,9 % d = Ketepatan penelitian (20 % = 0,20) sehingga:

n = =

= 33, 39  digenapkan menjadi 33 sampel. 3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.1. Kriteria Inklusi:

a) Penderita TB paru kasus baru dengan pemeriksaan BTA dan  pemeriksaan roentgen.

 b) Penderita TB paru kasus baru yang berusia > 14 tahun. c) Bersedia mengikuti penelitian.

3.5.2. Kriteria Eksklusi:

a) TB paru ekstra pulmonal.

 b) Tidak bersedia mengikuti penelitian.

3.6. Kerangka Konsep

Variabel terikat Variabel bebas

 Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA):  Sputum  Pewarnaan Ziehl Neelsen Penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) 1,64 . 0,459 (1 –  0,459) 0,22 2,6896 . 0,459 (0,541) 0,02  Pemeriksaan Radiologis Analisa

(19)

3.7. Definisi Operasional

1. Penderita TB paru adalah pasien yang menderita TB paru yang didapat di RSUD Dr. Pirngadi Medan.

2. Pemeriksaan basil tahan asam (BTA) adalah pemeriksaan mikroskopis untuk menemukan basil atau kuman pada penderita TB paru dengan menggunakan metode Ziehl Neelsen.

3. Sputum adalah dahak yang diambil pada penderita TB paru, dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen sputum atau dahak yang dikumpulkan dalam 2 hari kunjungan yang berurutan, berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

 S (Sewaktu): dahak sewaktu saat kujungan.  P (Pagi): keesokan harinya.

 S (Sewaktu): pada saat mengantarkan dahak pagi.

- 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif  BTA positif.

- 1 kali positif, 2 kali negatif  ulang BTA 3 kali, kemudian apabila tetap 1 kali positif, 2 kali negatif  BTA positif.

- Bila 3 kali negatif  BTA negatif.1

4. Pewarnaan Ziehl Neelsen adalah metode pewarnaan yang dipakai pada  pemeriksaan bakteriologik dalam menemukan basil tahan asam pada penderita TB paru. Prinsipnya adalah kuman micobacterium tuberculosis tahan terhadap  pelunturan atau alkohol.

Bahan reagensia yang dipergunakan pada pengecatan Ziehl Neelsen:

 Fuksin karbol: zat warna ini dilarutkan dengan 5% fenol sehingga mudah larut dalam bahan yang mengandung lipoid seperti dinding sel bakteri mycobacterium.

 Asam alkohol (HCL 3% + alkohol 95%) yang berfungsi sebagai dekolorisasi.

 Methylene blue merupakan zat warna terakhir yang dipergunakan dalam  pengecatan Ziehl Neelsen.

(20)

Cara kerja pengecatan Ziehl Neelsen:

a. Sediakan sputum yang telah difiksasi, dituangkan larutan fuchsin karbol selama 5 menit sambil dipanasi dengan api kecil sampai keluar uap (tidak  boleh mendidih).

 b. Cuci dengan air.

c. Tuangi larutan Asam Alkohol (HCL 3% + alkohol 95%) sampai tidak ada lagi warna merah yang mengalir dari sediaan.

d. Cuci dengan air, kemudian tuangi larutan Methylene Blue selama 2 menit. e. Cuci dengan air.

f. Keringkan dengan kertas saring, lihat sediaan yang telah diwarnai dibawah mikroskop dengan minyak emersi dan pembesaran lensa objektif 100 kali dalam 100 lapangan pandang.

Interpretasi hasil melalui pewarnaan bakteri tahan asam (BTA) menurut skala  International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases (IUATLD):

 Bila tidak ditemukan BTA dalam 100 LP  negatif .

 Bila ditemukan 1-9 BTA dalam 100 LP   ditulis jumlah BTA yang ditemukan.

 Bila ditemukan 10-99 BTA dalam 100 LP  1 + atau +.

 Bila ditemukan 1-10 BTA dalam 1 LP  2 + atau ++.

 Bila ditemukan lebih dari 10 BTA dalam 1 LP  3 + atau +++.15

5. Pemeriksaan radiologis adalah pemeriksaan dengan foto toraks yang dibuat  pada penderita TB paru dengan posisi PA.

Hasil foto toraks dapat dijumpai:9

 Infiltrat  Kavitas

(21)

3.8. Cara Kerja

1. Sebelum penelitian dimulai, diminta persetujuan dan kesediaan penderita untuk mengikuti penelitian.

2. Penderita yang memenuhi kriteria inklusi, dilakukan anamnesis, bila terdapat gejala klinis seperti gejala respiratori dan gejala sistemik. Maka dilakukan  pemeriksaan fisik oleh dokter dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan sputum BTA dan bila hasil pemeriksaan menunjukkan positif TB paru dicatat nama, umur, alamat, lama keluhan, dan riwayat pengobatan.

3. Dilakukan pemeriksaan radiologis foto dada.

4. Hasil pemeriksaan foto dada dinilai, bila terdapat lesi atau kelainan, maka  pasien termasuk kriteria penderita TB paru.

3.9. Pengolahan dan Analisis Data 3.9.1. Pengolahan Data

Pengolahan data hasil penelitian ini diformulasikan dengan menggunakan langkah-langkah berikut:

1. Penyuntingan Data (editing): untuk mengevaluasi kelengkapan, konsistensi dan kesesuaian antara kriteria data yang diperlukan untuk menjawab tujuan  penelitian.

2. Pengkodean (coding): untuk mengkuantifikasi data kualitatif atau membedakan aneka karakter. Pemberian kode ini sangat diperlukan terutama dalam rangka  pengolahan data, baik secara manual maupun dengan menggunakan komputer. 3. Memasukkan Data (entry): data yang telah terkumpul dan tersusun secara tepat

sesuai variabel penelitian kemudian dimasukkan dalam program komputer untuk diolah.

4. Pembersihan Data (cleaning): pemeriksaan data yang telah dimasukkan ke dalam program komputer guna untuk menghindari terjadinya kesalahan pada  pemasukan data.18, 19

(22)

3.9.2. Analisis Data

Data yang berhasil dikumpulkan, diolah dan dianalisis dengan menggunakan  program komputer menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service

(23)

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan  Penatalaksaan di Indonesia. Jakarta: Indah Offset Citra Grafika, 2006; 1-40. 2. Aditama TY. Tuberkulosis, Masalah dan Perkembangannya. Dalam: Putra

AD, Multazam E, et al eds. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical  Digest . Jakarta: Etika Media Utama, 2008; 61-72.

3. Masdalena.  Pengaruh Faktor Higiene dan Sanitasi Lingkungan Terhadap  Kejadian Penyakit Tuberkulosis Paru Pada Warga Binaan Pemasyarakatan di  Blok D Rumah Tahanan Negara Klas I Medan, Skripsi Fakultas Kesehatan  Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan. 2012.

Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31317.pdf ,  diakses pada tanggal 29 Juni 2012.

4. Amin Zulkifli, Bahar A. Tuberkulosis Paru. Dalam: Sudoyo Aru W, Setiyohadi B, et al eds.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing, 2009; 2230-2239.

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.  Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta. 2011.

Available from:

http://www.tbindonesia.or.id, diakses pada tanggal 17 Mei 2012.

6. Brooks GF, Butel JS, Morse SA.  Mikobakteria. Dalam: Mudihardi E, Kuntaman, Wasito EB, et al eds. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: . Salemba Medika, 2005; 453-469.

7. Irianto K.  Pengecatan Bakteri. Dalam: Nurhayati N, eds.  Mikrobiologi  Menguak Dunia Mikroorganisme. 1th ed. Bandung: Yrama Widya, 2006;

59-72.

8. Crofton J, Horne N, Miller F. Tuberkulosis Klinis. 2nd  ed. Jakarta: Widya Medika, 2002; 1-120.

(24)

9. Icksan A, Luhur R.  Radiologi Toraks Tuberkulosis Paru. Jakarta: Sagung Seto, 2008; 1-35.

10. Gomes M.  Pulmonary Tuberculosis: Relationship Between Sputum  Bacilloscopy and Radiological Lesions. Rev. inst. Med. Trop. Sao Paulo:

2003, 45 (5); 275-281.

11. Alsagaff H, Mukty A.  Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. 7th  ed. Surabaya: Airlangga University Press, 2010; 73-109.

12. Radji M.  Mycobacterium Tuberculosis. Dalam: Manurung J.  Buku Ajar  Mikrobiologi: Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran. Jakarta: EGC,

2010; 165-173.

13. Algoritma. Tuberkulosis Pada Dewasa. Dalam: Putra AD, Multazam E, et al eds. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest . Jakarta: Etika Media Utama, 2011; 72-76.

14. Misnadiarly.  Pemeriksaan Laboratorium Tuberkulosis dan Mikobakterium  Atipik . Jakarta: Dian Rakyat, 2006; 52-57.

15. Kumala W.  Diagnosis Laboratorium Mikrobiologi Klinik .. Jakarta: Universitas Trisakti, 2006; 15-18.

16. Price SA, Standridge MP. Tuberkulosis Paru. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 6th  ed. Jakarta: EGC, 2005, vol. 2; 852-864.

17. Rasad S. Tuberkulosis Paru. Dalam: Ekayuda I, eds.  Radiologi Diagnostik . Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005; 131-144.

18. Notoatmodjo Soekidjo.  Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2010; 24-187.

19. Sopiyudin MD.  Besar Sampel Dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: PT. ARKANS, 2006.

(25)

Lampiran 1

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth. Calon Responden

Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tanda tangan dibawah ini:  Nama : Muchrizal

 Nim : 091001187

Pendidikan : Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU

Akan mengadakan penelitian dengan judul “ Gambaran Pemeriksaan Basil

Tahan Asam (BTA) dan Foto Roentgen Pada Penderita Tuberkulosis Paru di RSUD Pirngadi Medan”.  Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang

merugikan bagi saudara sebagai responden, kerahasian informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk penelitian.

Apabila saudara menyetujui menjadi responden dan menjawab pertanyaan dan pernyataan yang peneliti ajukan saya ucapkan terima kasih.

Medan, 06 Agustus 2012 Peneliti,

(26)

Lampiran 2

FORMAT PERSETUJUAN (Informed Consent)

Setelah membaca penjelasan yang dijelaskan oleh peneliti, saya bersedia ikut  berpatisipasi sebagai responden penelitian yang berjudul “Gambaran Pemeriksaan

Basil Tahan Asam (BTA) dan Foto Roentgen Pada Penderita Tuberkulosis Paru di RSUD Pirngadi Medan”

Yang dilakukan oleh:

 Nama : Muchrizal

 Nim : 091001187

Pendidikan : Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU

Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berakibat negatif terhadap saya dan keluarga. Saya dengan sukarela menyetujui untuk diikutsertakan dalam  penelitian ini. Bila sewaktu-waktu saya sebagai pihak yang diteliti (responden) merasa dirugikan oleh pihak peneliti, maka berhak membatalkan persetujuan ini tanpa menuntut kerugian.

Medan, 06 Agustus 2012 Responden,

(...) Peneliti,

(27)

Lampiran 3

Formulir Isian / Data Penelitian (Subyek)

1.  Nama :

2. Alamat :

3. Jenis Kelamin : a. Laki-laki  b. Perempuan 4. Umur : a. 15 –  25 tahun  b. 26 –  35 tahun c. 36 –  45 tahun d. 46 –  55 tahun e. > 55 tahun

5. Apa keluhan / gejala yang pertama sekali pada penyakit anda? a. Batuk-batuk  b. Sesak napas c. Batuk berdahak d. Batuk darah e. Nyeri dada f. Lain-lain, sebutkan...

(28)

6. Disamping keluhan atau gejal diatas, keluhan atau gejala apalagi yang anda rasakan?

a. Penurunan berat badan  b. Keringat malam c. Demam 7. Pemeriksaan BTA : I. II. III.

(29)

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM (BTA) DAN FOTO ROENTGEN PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU

DI RSUD Dr. PIRNGADI MEDAN

Oleh : MUCHRIZAL

09.1001.187

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA MEDAN

(30)

LEMBAR PENGESAHAN

GAMBARAN PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM (BTA) DAN FOTO ROENTGEN PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU

DI RSUD Dr. PIRNGADI MEDAN

Nama : MUCHRIZAL

NIM : 091001187

Pembimbing Penguji

( dr. Budi Dermawan, Sp. PK ) ( dr. Bilkes Harris, Sp. KK )

Medan, 06 Agustus 2012 Dekan

Fakultas Kedokteran

Universitas Islam Sumatera Utara

(31)

HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal Penelitian dengan Judul :

GAMBARAN PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM (BTA) DAN FOTO ROENTGEN PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU

DI RSUD Dr. PIRNGADI MEDAN

Yang dipersiapkan oleh : MUCHRIZAL

09.1001.187

Proposal Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk dilanjutkan ke Lahan Penelitian

Medan, 06 Agustus 2012

Disetujui,

Dosen Pembimbing

(32)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia- Nya Proposal Karya Tulis Ilmiah ( KTI ) yang berjudul “Gambaran Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dan Foto Roentgen Pada Penderita Tuberkulosis Paru di RSUD Dr. Pirngadi Medan”.

Walaupun banyak kesulitan Penulis harus hadapi ketika penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, akhirnya Proposal ini dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak dr. Rahmat Nasution, DTM & K, MSc, Sp. (Park), selaku Dekan FK-UISU.

2. Bapak Prof. dr. Gusbakti, Msc, PKK, AIFM, selaku Pembantu Dekan I (PD I) Tim Penyusun Karya Tulis Ilmiah FK –  UISU.

3. Bapak dr. Jensen Lautan, M.Kes, selaku ketua Karya Tulis Ilmiah FK-UISU.

4. Bapak dr. Budi Dermawan, Sp. PK, selaku Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah.

5. Ibu dr. Bilkes Harris, Sp. KK, selaku Dosen Penguji Karya Tulis Ilmiah. 6. Terima kasih penulis persembahkan kepada kedua Orang Tua Tercinta,

H. Muchtar Hasan dan Hj. Sri Mulyati dan keluarga yang tiada bosan- bosannya mendo’akan serta memberikan semangat kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu Penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

Medan, 06 Agustus 2012

(33)

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... iv Daftar Tabel ... vi BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 3 1.3. Tujuan Penelitian ... 3 1.4. ManfaatPenelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Tuberkulosis Paru ... 5 2.1.1. Pengertian ... 5 2.1.2. Etiologi ... 5 2.1.3. Cara Penularan ... 6 2.1.4. Patogenesis ... 6 2.1.5. Klasifikasi Tuberkulosis ... 8 2.1.6. Gejala Klinis ... 9 2.1.7. Diagnosis ... 10 2.1.7.1. Pemeriksaan Fisik ... 10 2.1.7.2. Pemeriksaan Laboratorium ... 10 2.1.8. Pengobatan. ... 11 2.1.9. Pencegahan. ... 12

2.2. Pemeriksaan Bakteriologik (Pengecatan BTA) ... 12

2.3. Gambaran Radiologis TB Paru ... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... 16

(34)

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian... 16

3.3. Populasi dan Besar Sampel Penelitian ... 16

3.3.1. Populasi Penelitian ... 16

3.3.2. Sampel Penelitian ... 16

3.4. Jumlah Sampel ... 16

3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 17

3.5.1. Kriteria Inklusi ... 17

3.5.2. Kriteria Eksklusi ... 17

3.6. Kerangka Konsep ... 17

3.7. Definisi Operasional ... 18

3.8. Cara Kerja ... 20

3.9. Pengolahan dan Analisis Data ... 20

3.9.1. Pengolahan Data ... 20

3.9.2. Analisis Data ... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 22 LAMPIRAN

Gambar

Tabel 2.1. Berikut jenis-jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang digunakan di Indonesia:

Referensi

Dokumen terkait

“Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan,

Baling-baling pada turbin angin yang memiliki pitch control dapat diatur menjauhi atau mendekati arah datangnya angin saat daya keluaran sangat tinggi. ataupun sangat

[r]

Kebiasaan masyarakat Desa Rumbio dalam penangkapan burung kuaran turun temurun menciptakan salah satu bentuk kearifan lokal yaitu: adanya rentang waktu penangkapan,

Tapi biasanya pegawai yang sudah berkeluarga sih yang suka meminta gaji lebih katanya kebutuhannya naik, ada keluarga yang harus dibiayai, biaya hidup makin mahal paahal ya

The students consult the dictionary when they have to choose a word among synonymous words to be used in a certain context.

Peran bidan dalam penurunan angka kematian dan kesakitan pada ibu dan bayi adalah dengan memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif mencakup kegiatan

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penilaian hasil belajar oleh pendidik dan satuan pendidikan pada