Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi Vol. 2, No. 1 (JP2V) E-ISSN : P-ISSN :

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Copyright © Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi (JP2V)

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE JIGSAW SISWA KELAS VII-5 MTsN 5 PIDIE Idafitri1

Diterima : 20 Januari 2021 Disetujui : 04 Februari 2021

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bilangan bulat. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-5 MTsN 5 Pidie berjumlah 36 siswa, yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2018/2019 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan September 2018 sampai dengan November 2018 pada semester ganjil. Metodologi penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan nilai tes yang dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan instrument soal (tes tertulis). Data observasi dilakukan dengan melihat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Data dianalisis dengan cara statistik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa pada kedua siklus tersebut, dari kategori cukup menjadi baik dan kategori baik meningkat menjadi sangat baik. Ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 36.11 % pada pra siklus meningkat menjadi 61.11 % pada siklus I dan meningkat menjadi 88.89 % pada siklus II. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bilangan bulat siswa kelas VII-5 MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2018/2019.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, Matematika, Bilangan Bulat.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu pelajaran yang penting terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mata pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada peserta didik sejak tingkat dasar sampai ke jenjang yang lebih tinggi, namun demikian kegunaan Matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan kuantitatif, tetapi juga dalam penataan cara berfikir, terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Manusia sering memanfaatkan nilai praktis dari matematika dalam kehidupan sehari-hari dan untuk memecahkan masalah. Akan tetapi, dalam praktek pembelajarannya, matematika dianggap sebagai sesuatu yang abstrak, menakutkan dan tidaklah menarik di mata peserta didik . Pada akhirnya anggapan tersebut berpengaruh pada minat peserta didik dalam belajar matematika yang akibatnya prestasi belajar menjadi menurun. Dalam kompleksitas permasalahan pembelajaran matematika ini, tampaknya peran guru sebagai penyampai pengetahuan dapat menjadi kunci utama sebagai problem solver dengan kemampuan dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran matematika di sekolah. Pembelajaran efektif merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan (Mutadi, 2007). Keefektifan pembelajaran merupakan hal yang sangat diharapkan dapat dicapai. Sebab kurang atau tidak sempurnanya kegiatan proses belajar mengajar mengakibatkan tidak optimalnya hasil yang dicapai.

Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara peserta didik dan guru dalam rangka mencapai tujuannya (Abin Syamsuddin Makmun, 2002). Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus

(2)

pada kegiatan aktif peserta didik dalam membangun makna atau pemahaman. KBM perlu mendorong peserta didik untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada peserta didik lain, guru, atau pihak-pihak lain. Dengan demikian, KBM memungkinkan peserta didik bersosialisasi dengan menghargai pendapat, perbedaan sikap, perbedaan kemampuan, perbedaan prestasi dan berlatih untuk bekerja sama (Masnur Muslich, 2007).

Seringnya rasa takut peserta didik yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga kembali pada rendahnya prestasi belajar peserta didik. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengandalkan komunikasi yaitu antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik. Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang ada pada individu (Nana Sudjana, 2008).

Proses pembelajaran dapat berlangsung jika terjadi interaksi antara guru dan peserta didik. Mengajar bukanlah semata persoalan menceritakan, belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari penuangan informasi dalam benak peserta didik. Dalam interaksi tersebut diperlukan adanya variasi model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dapat berjalan secara optimal.

Trianto (2010) menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

MTsN 5 Pidie merupakan satu diantara sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh yang menghadapi permasalahan terkait dengan pembelajaran matematika di sekolah, khususnya pada materi Bilangan Bulat. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana peserta didik hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi peserta didik untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga peserta didik menjadi pasif. Hal ini pula yang menyebabkan mereka bosan mengikuti proses pembelajaran yang diterapkan. Apalagi berdasarkan survei, banyak sekali peserta didik yang menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling sulit diantara mata pelajaran yang lain. Dampaknya hasil belajar peserta didik kurang memuaskan yang ditandai masih banyak peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Kelulusan Minimum) yang ditentukan oleh pihak sekolah yaitu 70.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam upaya peningkatan keefektifan pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Pembelajaran kooperatif dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong-royong. Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik diberi kesempatan bekerja sama dengan kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan atau memecahkan permasalahan secara bersama-sama. Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu peserta didik dalam belajar matematika. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah tipe jigsaw.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan pembelajaran yang membentuk kelompok kecil agar tercapainya tujuan pembelajaran, baik mandiri dan berkelompok. Jigsaw terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli. Penjelasan dari kelompok asal adalah seorang yang mempresentasikan hasil diskusi kelompok kepada perwakilan kelompok ahli. Sedangkan kelompok ahli adalah anggota dari kelompok asal. Setiap kelompok jigsaw terdiri 4-6 peserta didik, setiap kelompok memiliki tugas 1 kelompok asal dan sisanya adalah kelompok ahli. Setiap anggota kelompok jigsaw wajib bekerjasama agar tercapainya tujuan pembelajaran. Dan kesuksesan kelompok adalah penentu kesuksesan pembelajaran (Wina Sanjaya, 2012). Jigsaw meminta peserta didik untuk aktif mengeluarkan pendapat, wawasan, dan pengalaman.

(3)

Pembelajaran jigsaw dibuat untuk meningkatkan pemahaman dan keaktifan peserta didik terhadap materi kelompok sendiri dan materi kelompok lain. Selain pemahaman yang didapat, peserta didik juga harus terampil dalam berbicara untuk menjelaskan materi dari kelompok lain (Faad Maonde, 2015). Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mempunyai kelebihan yang bermanfaat dan praktis. Sebab jigsaw mengandung nilai akademik kognitif peserta didik lebih baik, kompak, rukun, dan interaksi sosial baik antar teman atau guru. Tran & Lewis menyimpulkan jigsaw menghasilkan hasil yang positif peserta didik dalam belajar. Peserta didik lebih percaya diri juga lebih mandiri. Dan strategi jigsaw adalah pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan tujuan dari permasalahan. Dan juga sudah dibuktikan oleh beberapa peneliti menggunakan jigsaw dapat mencapai kesuksesan pembelajaran (Yunita Ismiarti, 2010). Dengan model ini diharapkan peserta didik menjadi aktif serta dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terutama pada materi bilangan bulat.

1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas sebagai berikut: Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII-5 MTsN 5 Pidie dalam mata pelajaran matematika khususnya pada materi pokok bilangan bulat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Belajar

Proses belajar yang telah berlangsung akan diketahui ketercapaian tujuan pembelajaran melalui hasil belajar yang diperoleh setiap siswa. Menurut Susanto (2013), hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek konigtif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar tersebut dipertegaskan lagi oleh Nawawi dalam Susanto (2013) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Tes yang dimaksudkan merupakan salah satu bentuk evaluasi untuk mengetahui ketercapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran yang diberikan.

Sudjana (2010) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Menurut Bloom dalam (Sudjana, 2010) hasil belajar terbagi menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Mengingat (Remember) Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan. Mengingat meliputi mengenali (recognition) dan memanggil kembali (recalling).

Memahami atau mengerti (Understand) Memahami atau mengerti berkaitan dengan membangun sebuah pengertian dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan dan komunikasi. Memahami atau mengerti berkaitan dengan aktivitas mengklasifikasikan (classification) dan membandingkan (comparing). Mengklasifikasikan akan muncul ketika siswa berusaha mengenali pengetahuan yang merupakan anggota dari kategori pengetahuan tertentu. Sedangkan membandingkan berkaitan dengan proses kognitif menemukan satu per satu ciri-ciri dari objek yang diperbandingkan.

Menerapkan (Apply) Menerapkan merujuk pada proses kognitif memanfaatkan atau mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau menyelesaikan permasalahan. Menerapkan meliputi kegiatan menjalankan prosedur (executing) dan mengimplementasikan (implementing). Menjalankan prosedur merupakan proses kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah dan melaksanakan percobaan dimana siswa sudah mengetahui informasi tersebut dan menetapkan prosedur apa saja yang harus dilakukan. Sedangkan mengimplementasikan muncul apabila siswa memilih dan menggunakan prosedur untuk hal-hal yang belum diketahui atau masih asing.

Menganalisis (Analyze) Menganalisis merupakan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan

(4)

mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan permasalahan. Menganalisis berkaitan dengan proses kognitif memberi atribut (attributing) dan mengorganisakan (organizing). Memberi atribut akan muncul apabila siswa menemukan permasalahan dan kemudian memerlukan kegiatan membangun ulang hal yang menjadi permasalahan. Mengorganisasikan memungkinkan siswa membangun hubungan yang sistematis dan koheren dari potongan-potongan informasi yang diberikan.

Mengevaluasi (Evaluate) Evaluasi berkaitan dengan proses kognitif memberikan penilaian berdasarkan kriteria dan standar yang sudah ada. Evaluasi meliputi mengecek (checking) dan mengkritisi (critiquing). Mengecek mengarah pada penetapan sejauh mana suatu rencana berjalan dengan baik. Mengkritisi berkaitan erat dengan berpikir kritis.

Menciptakan (Create) Menciptakan mengarah pada proses kognitif meletakkan unsurunsur secara bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang koheren dan mengarahkan siswa untuk menghasilkan suatu produk baru dengan mengorganisasikan beberapa unsur menjadi bentuk atau pola yang berbeda dengan yang sebelumnya.

2.2. Hakikat Pembelajaran Matematika

Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri (Suherman, 2003).

Abdurahman mengemukakan bahwa matematika adalah suatu ara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang betuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan (Abdurrahman, 2003)

Matematika dikenal sebagai ilmu dedukatif, karena setiap metode yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode deduktif, sedang dalam ilmu alam menggunakan metode induktif atau eksprimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara deduktif, tapi seterusnya yang benar untuk semua keadaan hars bisa dibuktikan secara deduktif, karena dalam matematika sifat, teori/dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif (Depdiknas, 2004).

2.3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Jigsaw dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin (2008) dan teman-teman di Universitas John Hopkins.

Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman peserta didik dan membantu peserta didik mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, peserta didik bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam suasana gotong-royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Anita Lie, 2004).

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, peserta didik saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian peserta didik-peserta didik itu kembali pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

(5)

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk peserta didik yang beranggotakan peserta didik dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok peserta didik yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Pada proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat dijelaskan dengan gambar berikut: Kelompok asal

Kelompok Ahli

Gambar 1. Ilustrasi Kelompok Jigsaw Keterangan pada gambar di atas:

Kelompok asal : Kelompok yang dibentuk oleh guru berdasarkan karakteristik peserta didik yang heterogen. Setiap anggota dalam kelompok mendapat soal yang berbeda.

: Perpindahan kelompok, dari kelompok asal ke kelompok ahli

Kelompok ahli : Kelompok yang terbentuk dari kelompok asal yang mendapatkan materi atau soal yang sama.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilaksanakan dalam proses belalar mengajar, oleh sebab itu metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), dengan rancangan model siklus yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 5 Pidie pada tahun pelajaran 2018/2019 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan September s.d November 2018 pada semester ganjil. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VII MTsN 5 Pidie. Dengan jumlah 36 siswa yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan.

4. HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Kondisi Awal

Selama ini penerapan metode secara konvensional hanya sedikit membantu pemahaman siswa pada materi bilangan bulat. Hal ini membuat siswa menjadi tidak begitu aktif dalam pembelajaran dan cenderung bersifat pasif. Selama ini penulis melihat kendala yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran yaitu banyak siswa yang masih kurang memiliki pemahaman terhadap materi bilangan bulat. Sebagian dari siswa merasa bahwa materi ini sangatlah sulit dan sebagian lagi ada yang merasa tidak tertarik. Hal inilah yang membuat siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran dan mereka juga memperoleh hasil belajar yang rendah. Sebelum melakukan penelitian, guru memberikan pretes kepada siswa. Pretes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran. Hasil pretes siswa sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pretes siswa sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam

pembelajaran.

No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan

1 Ahmad Mahardika G. L 70 50 Belum Tuntas

(6)

3 Dara Syifa P 70 70 Tuntas 4 Dilla Ulfiza P 70 60 Belum Tuntas 5 Dzikra Saputri P 70 40 Belum Tuntas 6 Farhan Akbar L 70 30 Belum Tuntas

7 Fatihah Adriva P 70 80 Tuntas

8 Fazia Zahara P 70 50 Belum Tuntas

9 Ferda Faradia P 70 70 Tuntas

10 Intan Nurdaiyana P 70 60 Belum Tuntas

11 Kayla Najwa P 70 70 Tuntas

12 M. Olgi Seto W. L 70 40 Belum Tuntas 13 M. Syahsyah Azum G. L 70 50 Belum Tuntas

14 Maulana Rizky L 70 70 Tuntas

15 M. Al-Zarkasyi L 70 60 Belum Tuntas

16 M. Rendy L 70 30 Belum Tuntas

17 M. Reza Fahlevi L 70 60 Belum Tuntas 18 Nabil Munadhil L 70 40 Belum Tuntas

19 Najwa Nazila P 70 70 Tuntas

20 Nasyifa Humaira P 70 80 Tuntas 21 Nayla Asyifa P 70 60 Belum Tuntas

22 Nazira P 70 60 Belum Tuntas

23 Nazirah Fonna P 70 30 Belum Tuntas

24 Nova Maqfirah P 70 80 Tuntas

25 Nurul Aliya P 70 70 Tuntas

26 Putri Andini P 70 50 Belum Tuntas 27 Raju Maulana L 70 60 Belum Tuntas

28 Rayfasya L 70 70 Tuntas

29 Rizki Maulana L 70 40 Belum Tuntas 30 Ryan Ardiansyah L 70 30 Belum Tuntas

31 Sarah Nazila P 70 80 Tuntas

32 Siti Azzura P 70 40 Belum Tuntas

33 Tia Nuralia P 70 50 Belum Tuntas

34 Tiara Anggraini P 70 70 Tuntas

35 Ulfa Mailani P 70 50 Belum Tuntas 36 Yanna Adhika Fauzan L 70 60 Belum Tuntas

Jumlah Nilai 2050

Jumlah Siswa 36

Jumlah Rata-rata 56.94

Jumlah siswa yang tuntas 13

Persentase (%) yang tuntas 36.11%

Jumlah siswa yang Belum tuntas 23

Persentase (%) yang belum tuntas 63.89%

Berdasarkan Tabel 1, hasil pretes siswa yang dilakukan pada saat pra penelitian memperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 36.11 %. Nilai terendah pada pre tes adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 80. Nilai rata-rata pada pre tes adalah 56.94. Setelah melakukan pre tes, maka peneliti akan melanjutkan penelitian pada siklus I.

4.2. Hasil Penelitian Siklus I

Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi bilangan bulat, hal ini terlihat dari hasil tes belajar yang diperoleh oleh siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 2.

(7)

Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan

1 Ahmad Mahardika G. L 70 70 Tuntas

2 Aidil Akbar L 70 80 Tuntas

3 Dara Syifa P 70 90 Tuntas

4 Dilla Ulfiza P 70 80 Tuntas

5 Dzikra Saputri P 70 50 Belum Tuntas 6 Farhan Akbar L 70 40 Belum Tuntas

7 Fatihah Adriva P 70 100 Tuntas

8 Fazia Zahara P 70 60 Belum Tuntas

9 Ferda Faradia P 70 80 Tuntas

10 Intan Nurdaiyana P 70 70 Tuntas

11 Kayla Najwa P 70 90 Tuntas

12 M. Olgi Seto W. L 70 50 Belum Tuntas 13 M. Syahsyah Azum G. L 70 60 Belum Tuntas

14 Maulana Rizky L 70 80 Tuntas

15 M. Al-Zarkasyi L 70 80 Tuntas

16 M. Rendy L 70 40 Belum Tuntas

17 M. Reza Fahlevi L 70 70 Tuntas

18 Nabil Munadhil L 70 50 Belum Tuntas

19 Najwa Nazila P 70 90 Tuntas

20 Nasyifa Humaira P 70 100 Tuntas

21 Nayla Asyifa P 70 70 Tuntas

22 Nazira P 70 70 Tuntas

23 Nazirah Fonna P 70 40 Belum Tuntas

24 Nova Maqfirah P 70 100 Tuntas

25 Nurul Aliya P 70 80 Tuntas

26 Putri Andini P 70 60 Belum Tuntas

27 Raju Maulana L 70 70 Tuntas

28 Rayfasya L 70 90 Tuntas

29 Rizki Maulana L 70 50 Belum Tuntas 30 Ryan Ardiansyah L 70 40 Belum Tuntas

31 Sarah Nazila P 70 100 Tuntas

32 Siti Azzura P 70 50 Belum Tuntas

33 Tia Nuralia P 70 60 Belum Tuntas

34 Tiara Anggraini P 70 80 Tuntas

35 Ulfa Mailani P 70 60 Belum Tuntas 36 Yanna Adhika Fauzan L 70 70 Tuntas

Jumlah Nilai 2520

Jumlah Siswa 36

Rata-rata 70.00

Jumlah Siswa yan tuntas 22

Persentase peningkatan hasil belajar 61.11%

Jumlah siswa yang Belum tuntas 14

Persentase (%) yang belum tuntas 38.89%

Berdasarkan Tabel 2 pada siklus I, hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pretes sebelum diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Berdasarkan Tabel 2, dari 36 siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 22 siswa yang sudah mencapai ketuntasan nilai KKM (kriteria ketuntasan minimum) dan 14 siswa lagi belum mencapai ketuntasan nilai KKM. Nilai tertinggi siswa yang diperoleh pada siklus I yaitu 90 dan nilai terendah adalah 40. Persentase ketuntasan siswa hasil belajar siswa pada siklus I adalah sebesar 61.11 % dengan nilai rata-rata 70.00. Berdasarkan hasil

(8)

belajar yang diperoleh pada siklus I, maka peneliti ingin melanjutkan penelitian pada siklus II dengan menggunakan model yang sama yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pada siklus II, peneliti mengharapkan adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa, sehingga persentase ketuntasan siswa juga mengalami peningkatan sesuai dengan indikator siklus II yang telah ditetapkan oleh peneliti.

4.3. Hasil Penelitian Siklus II

Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus II, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi bilangan bulat, hal ini terlihat dari hasil tes belajar yang diperoleh oleh siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan

1 Ahmad Mahardika G. L 70 80 Tuntas

2 Aidil Akbar L 70 90 Tuntas

3 Dara Syifa P 70 100 Tuntas

4 Dilla Ulfiza P 70 100 Tuntas

5 Dzikra Saputri P 70 70 Tuntas

6 Farhan Akbar L 70 60 Belum Tuntas

7 Fatihah Adriva P 70 100 Tuntas

8 Fazia Zahara P 70 80 Tuntas

9 Ferda Faradia P 70 90 Tuntas

10 Intan Nurdaiyana P 70 80 Tuntas

11 Kayla Najwa P 70 100 Tuntas

12 M. Olgi Seto W. L 70 70 Tuntas

13 M. Syahsyah Azum G. L 70 80 Tuntas

14 Maulana Rizky L 70 90 Tuntas

15 M. Al-Zarkasyi L 70 90 Tuntas

16 M. Rendy L 70 50 Belum Tuntas

17 M. Reza Fahlevi L 70 80 Tuntas

18 Nabil Munadhil L 70 70 Tuntas

19 Najwa Nazila P 70 100 Tuntas

20 Nasyifa Humaira P 70 100 Tuntas

21 Nayla Asyifa P 70 80 Tuntas

22 Nazira P 70 90 Tuntas

23 Nazirah Fonna P 70 60 Belum Tuntas

24 Nova Maqfirah P 70 100 Tuntas

25 Nurul Aliya P 70 90 Tuntas

26 Putri Andini P 70 80 Tuntas

27 Raju Maulana L 70 80 Tuntas

28 Rayfasya L 70 100 Tuntas

29 Rizki Maulana L 70 70 Tuntas

30 Ryan Ardiansyah L 70 60 Belum Tuntas

31 Sarah Nazila P 70 100 Tuntas

32 Siti Azzura P 70 70 Tuntas

33 Tia Nuralia P 70 80 Tuntas

34 Tiara Anggraini P 70 90 Tuntas

35 Ulfa Mailani P 70 70 Tuntas

36 Yanna Adhika Fauzan L 70 80 Tuntas

Jumlah Nilai 2980

Jumlah Siswa 36

Rata-rata 82.78

(9)

Persentase peningkatan hasil belajar 88.89%

Jumlah siswa yang Belum tuntas 4

Persentase (%) yang belum tuntas 11.11%

Berdasarkan Tabel 3 pada siklus II, hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Berdasarkan Tabel 3, dari 36 siswa terdapat 32 siswa yang sudah mencapai ketuntasan nilai klasikal dan 4 siswa lagi belum mencapai ketuntasan klasikal. Nilai tertinggi siswa yang diperoleh pada siklus II yaitu 100 dan nilai terendah adalah 50. Persentase ketuntasan siswa hasil belajar siswa pada siklus II adalah sebesar 88.89 % dengan nilai rata-rata 82.78. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada siklus II, maka peneliti mencukupkan penelitian sampai pada siklus II, hal ini dilakukan karena siswa telah mencapai indikator ketuntasan yang harapkan oleh guru.

4.4. Pembahasan Perbandingan Antar Siklus

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I telah memperlihatkan adanya peningkatan hasil belajar siswa menjadi lebih baik jika dibandingkan hasil pretes siswa pada saat pra penelitian. Pada siklus I, siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran adalah siswa yang terlihat belum begitu aktif dalam melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini bisa saja disebabkan oleh perlunya adaptasi dengan penerapan model yang masih baru mereka rasakan. Persentase ketuntasan yang didapatkan pada siklus I, telah mencapai indikator siklus I yang ingin dicapai oleh peneliti.

Berdasarkan hasil tes, hasil dari observasi serta refleksi yang telah dilakukan pada siklus I, maka perbaikan yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II, telah memberikan hasil yang sesuai dengan harapan penulis. Pada siklus II, terlihat adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa menjadi lebih baik. Pada siklus II, persentase ketuntasan siswa telah mengalami peningkatan dan telah mencapai indikator siklus II yang ditetapkan oleh peneliti.

Pada siklus II tidak semua siswa mencapai ketuntasan belajar yang sesuai dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum), akan tetapi terlihat adanya peningkatan nilai pada setiap siswa walaupun ada beberapa siswa yang hanya memiliki peningkatan hasil belajar yang sedikit. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I dan II, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw telah memberikan nilai yang positif terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa terutama pada materi bilangan bulat. Perbandingan persentase hasil belajar siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Perbandingan persentase hasil belajar siswa pada Pra Siklus Siklus I dan Siklus II

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

100.00%

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

36.11%

61.11%

88.89%

PERBANDINGAN PERSENTASE HASIL BELAJAR

SISWA

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

(10)

Berdasarkan gambar 2, terlihat bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa dari Pra siklus ke Siklus I dan siklus I ke siklus II. Pada pra siklus sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw hanya mampu memberikan persentase 36.11 %. Sedangkan pada siklus I setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw telah mampu memberikan persentase hasil belajar siswa yaitu sebesar 61.11 % dan telah mengalami peningkatan menjadi 88.89 % pada siklus II.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1) Ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 36.11 % pada pra penelitian meningkat menjadi 61.11 % pada Siklus I dan meningkat menjadi 88.89 % pada Siklus II.

2) Secara keseluruhan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw telah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi bilangan bulat siswa kelas VII-5 MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2018/2019.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan saran yang ingin disampaikan adalah:

1)

Diharapkan guru dapat memilih model yang sesuai dengan materi yang diajarkan agar dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik kepada siswa.

2)

Diharapkan guru dapat memilih model yang sesuai dengan materi yang diajarkan agar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

3)

Perlu adanya pengarahan dari kepala sekolah kepada guru-guru bidang studi yang lain, untuk menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1] Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar.Jakarta: Rineka Cipta. [2] Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah

Menengah Atas dan MA. Jakarta: Depdiknas.

[3] Ismiarti, Yunita. 2010. Skripsi Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Bangun Ruang dalam Pembelajaran Matematika Kelas V SDN 02 Karangsari Jatiyoso Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

[4] Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Gramedia

[5] Makmun, Abin Syamsuddin. 2002 Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya [6] Maonde, Faad dkk. 2015. The Discrepancy of Student’s Mathematic Achievement Through

Cooperative Learning Model, and The Ability In Mastering Languages and Science. International Journal of Education and Research. Vol. 3, No. 1.

[7] Muslich, Masnur. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara

[8] Mutadi. 2007. Pendekatan Efektif Dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta: PUSDIKLAT Tenaga Teknis Keagamaan-DEPAG

[9] Sanjaya, Wina. 2012. Strategi Pembelaaran Berorientasi Standar Proses Pembelajaran. Jakarta: Kencana

[10]Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. terj. Nurulita Yusron. Bandung: Nusa Media

[11]Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.

[12]Sudjana, Nana. 2008. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo [13]Suherman, Eman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas

Pendidikan Indonesia

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :