• Tidak ada hasil yang ditemukan

24 uu 37 2004 pailit kebangkruatan ind

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "24 uu 37 2004 pailit kebangkruatan ind"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PAILIT

(KEBANGKRUTAN INDONESIA)

(2)

Dasar Hukum

UU 37 TAHUN 2004

tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang

PP 10 tahun 2005

tentang Penghitungan Jumlah Hak suara Kreditor

(3)

Definisi

Kata

 

pailit

 

berasal dari Italia:

 

banca rotta

berarti "bangku rusak",

mungkin berasal dari kebiasaan melanggar bangku

pedagang valuta asing atau counter untuk

(4)

Kepailitan

 

: status hukum dari orang atau organisasi

yang tidak dapat melunasi utang kepada

 

kreditur .

   

kebangkrutan dikenakan oleh perintah pengadilan,

sering dimulai oleh debitur.

Inggris , kebangkrutan terbatas pada individu, dan  

bentuk-bentuk lain dari proses kepailitan

(misalnya likuidasi dan   administrasi ) yang diterapkan  

pada perusahaan. 

Amerika Serikat, kebangkrutan diterapkan lebih luas

(5)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 3: Putusan Pailit

(1) Putusan atas permohonan pernyataan pailit oleh Pengadilan • yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum

Debitor.

(2) Dalam hat Debitor telah meninggalkan wilayah Negara Republik Indonesia,

Pengadilan adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi

tempat kedudukan hukum terakhir Debitor.

(3) Dalam hal Debitor adalah pesero suatu firma,

Pengadilan tempat kedudukan hukum firma tersebut juga berwenang

(6)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 3: Putusan Pailit

(4) Debitur tidak di wilayah negara RI &

menjalankan profesi atau usahanya di wilayah

RI,

Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi

tempat kedudukan atau kantor pusat

Debitor menjalankan profesi atau usahanya.

(5) Debitor merupakan badan hukum, tempat

(7)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 4 & 5: debitor menikah, firma

Ps 4-

debitor menikah

(1) permohonan pailit diajukan oleh Debitor menikah sah,

permohonan hanya dapat diajukan atas persetujuan

suami atau istrinya.

(2) Ketentuan ayat (1) tidak berlaku

apabila tidak ada persatuan harta.

Ps 5- Firma

Pailit terhadap suatu firma

(8)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 6

Prosedur Kepailitan:

(1) Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan. (2) Panitera mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal

permohonan yang bersangkutan diajukan, dan

pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat

yang berwenang

dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.

(3) Panitera wajib menolak pendaftaran permohonan pernyataan pailit bagi institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5)

jika dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut.

(4)Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua Pengadilan

(9)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 6

(5) paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan,

Pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari sidang.

(6) Sidang pemeriksaan diselenggarakan dalam jangka waktu

paling lambat 20 (duapuluh) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.

(7) Atas permohonan Debitor dan berdasarkan alasan yang

(10)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 7

(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 43, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 68, Pasal 161, Pasal 171, Pasal 207, dan Pasal 212 harus

diajukan oleh seorang advokat.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal permohonan diajukan oleh

1. Kejaksaan,

2. Bank Indonesia,

(11)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 8

(1) Pengadilan:

a. wajib memanggil Debitor dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh

1) Kreditor, 2) Kejaksaan,

3) Bank Indonesia,

4) Badan Pengawas Pasar Modal, atau 5) Menteri Keuangan;

b. dapat memanggil Kreditor, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh

1) Debitor dan

(12)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 8

(2) Pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh juru sita

dengan surat kilat tercatat

paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum sidang pemeriksaan pertama

diselenggarakan.

(3) Pemanggilan adalah sah dan dianggap telah diterima oleh Debitor,

jika dilakukan oleh juru sita sesuai dengan ketentuan sebagaimana

dimaksud pada ayat (2).

(4) Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan • apabila terdapat fakta atau keadaan

yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk

(13)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 8

(5) Putusan Pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan • paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan

pernyataan pailit didaftarkan.

(6) Putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib memuat pula:

a. pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dan/atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili; dan

b. pertimbangan hukum dan pendapat yang berbeda dari hakim anggota atau ketua majelis.

(7) Putusan yang dimaksud pada ayat (6) yang memuat secara lengkap

(14)

UU 37 TAHUN 2004

Ps 9

Salinan putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 8 ayat (6) wajib disampaikan oleh juru sita

dengan surat kilat tercatat kepada

Debitor,

pihak yang mengajukan permohonan pernyataan pailit,Kurator, dan Hakim Pengawas

paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas

(15)

Hak Suara Kreditor

PP 10/2005, ps 3:

Kreditor dg jumlah piutang s/d Rp

10.000.000,00 berhak atas 1 (satu) suara.

Kreditor dg jumlah piutang lebih dari Rp

10.000.000,00, maka untuk setiap kelipatan Rp

10.000.000,00 berhak atas 1 (satu) suara

(16)

Hak Suara Kreditor

PP 10/2005

Sisa piutang tidak mencapai kelipatan Rp

10.000.000,00 penghitungan suara tambahan

ditentukan sebagai berikut :

a. kurang dari Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)

Kreditor tidak berhak atas suara tambahan;

b. Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) atau lebih

(17)

Referensi

1. UU 37 TAHUN 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

2. PP 10 tahun 2005 tentang Penghitungan

Jumlah Hak suara Kreditor

Psl 87 (3) UU 37

Tahun 2004

Referensi

Dokumen terkait

Pengangkatan Pengurus dalam putusan PKPU diatur dalam Pasal 225 ayat 2 UU Kepailitan dan PKPU yang berbunyi ; “Dalam hal permohonan diajukan oleh debitur, Pengadilan dalam

Dalam kasus tersebut maka PT BANK DANAMON INDONESIA Tbk mengajukan permohonan pailit kepada Pengadilan Negri Jakarta Pusat, tetapi permohonan pailit tersebut ditolak, dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dalam praktik adanya ketentuan penangguhan eksekusi dalam hal debitor dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan telah mengakibatkan bank

pengadilan dinyatakan pailit maka harta kekayaan dikuasai oleh balai harta peninggalan selaku cirtirice (pengampu) dalam usaha kepailitan

Pengecualian tersebut dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 55 ayat (1) Undang-undang Kepailitan yang menyebutkan bahwa setiap kreditur Pemegang Gadai, Jaminan Fidusia,

Permohonan PKPU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 222 harus diajukan kepada pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dengan ditandatangani oleh pemohon dan oleh