3.1. Alur Proses Kerja pada PT.ISB
PT.ISB melaksanakan aktivitas kerja berdasarkan urutan dan interaksi proses seperti ditunjukkan pada alur proses kerja berikut:
Alur Proses Dokumentasi
Dokumen Kontrak / Service Order Dokumen CTR (Cost Time Resource)
Organization Chart (Project)
Engineering Execution Plan Project Schedule
Master Deliverable Register Supply Data dari Client Vendor Document
Engineering Execution Plan Project Schedule
Master Deliverable Register
Master Deliverable Register Internal Discipline Check
Reports
Completion Certificate Final Documentation/Close Out Menerima Kontrak/SO Pembentukan organisasi proyek Penyusunan rencana proyek Pemantauan dan pemeriksaan OK ? Perbaikan Pelaporan kemajuan proyek Pelaksanaan Proyek selesai ? Serah terima proyek tidak tidak
Gambar 3.1 Alur Proses Kerja pada PT.ISB
Berikut dijelaskan lebih lanjut deskripsi proses berdasarkan urutan kegiatan yang ada di PT.ISB :
a. Tanggung Jawab dan wewenang
Direktur menetapkan Project Manager beserta tugas, tanggung jawab dan wewenangnya
Project Planner menyusun perencanaan proyek dan di rekam dalam dokumen Cost Time & Resources (CTR).
Selama pelaksanaan Proyek, Project Manager dengan di bantu Project Planner memantau kemajuan proyek dan hasil-hasilnya, serta menyelesaikan permasalahan yang timbul.
b. Organisasi Proyek
Project Manager menetapkan tugas, tanggung jawab dan wewenang dalam organisasi proyek dan menyampaikannya kepada manajemen. Komunikasi dalam organisasi proyek dilakukan melalui rapat, inter
discipline check dll.
c. Perencanaan Proyek
Project Manager di bantu oleh tim proyek menyiapkan perencanaan proyek dan direkam dalam Dokumen Engineering Execution Plan,Cost
Time & Resources (CTR), Proyek Schedule dan dan Dokumen Master
Deliverable Register. d. Pemantauan Proyek
Project Manager memantau kegiatan di proyek sehari-hari mengacu kepada Dokumen Engineering Execution Plan,Cost Time & Resources
(CTR), Proyek Schedule dan dan Dokumen Master Deliverable
Register.
Project Manager memantau kemajuan proyek dan hasil-hasilnya, serta menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan mengkoordinasikan penanganan masalah yang timbul di lapangan, termasuk melakukan komunikasi dengan Client.
Project Manager melaporkan kemajuan proyek dan hasil-hasilnya kepada klien.
Project Manager & Engineer melaukan kegiatan pemeriksaan hasil pekerjaan engineering yang belum sesuai persyaratan client. Kegiatan pemeriksaan dan perbaikan direkam dalam dokumen Inter Discipline
Check.
f. Umpan Balik Klien
Pada setiap proyek, di laksanakan Coordination Meeting bersama klien dengan tujuan untuk mengetahui umpan balik dari klien mengenai kemajuan proyek dan hasil-hasilnya. Project Manager berkewajiban untuk menerima dan melakukan koordinasi dengan tim proyek untuk menanggapi umpan balik klien seperti keluhan, permintaan pekerjaan tambahan (addendum/Change order) dan lain sebagainya.
3.2. Analisa Perencanaan Kapasitas Jaringan pada PT.ISB
Dalam melaksanakan Perencanaan Kapasitas Jaringan, PT.ISB menggunakan Metode Pendekatan SBSA (Step By Step Approach). Metode SBSA (Step by Step Approach) adalah metode yang digunakan dalam seminar Sharing Vision ITB (Institut Teknologi Bandung) untuk membuat Capacity planning. Capacity planning dengan Metode SBSA dapat digunakan untuk merencanakan kapasitas Network, Server, Database/Storage serta Data Center. Penulis menitikberatkan pada Capacity Planning Bandwidth sebagai bagian dari Network Capacity Planning.
Network Capacity Planning dengan Metode SBSA mengelompokkan operasi-operasi yang terjadi menjadi operasi-operasi biasa dan operasi-operasi kompleks dimana operasi-operasi biasa adalah operasi yang memakai bandwidth<250 Kbps sedangkan operasi kompleks menggunakan bandwith > 250 Kbps. Masing-masing jenis operasi mempunyai satu macam beban operasi, jumlah, jam aktif serta jumlah pengguna operasi. Berikut adalah alur Proses Capacity Planning dengan Metode SBSA :
Gambar 3.2 Proses Capacity Planning dengan Metode SBSA
Berdasarkan business process yang terjadi pada PT.ISB, terdapat dua jenis operasi, yaitu :
a. Operasi Biasa
Operasi Biasa adalah operasi yang memakai bandwidth kurang dari 250 Kbps. Pada PT.ISB, aktifitas pekerjaan keseharian yang dapat dikategorikan sebagai jenis operasi biasa adalah sebagai berikut :
o Aktifitas Proposal CTR (Cost Time Resource)
Cost Time Resource (CTR) diajukan kepada client sebelum
Contract Award. Beban operasi dihitung dengan melihat besar
beban data CTR kosong, dimana dari hasil pengumpulan data ukuran file CTR adalah 200 Kilobytes atau 204.800 bytes
o Aktifitas Pelaporan Proyek
Laporan harian internal pada tim proyek PT.ISB dilakukan untuk keperluan updating progress proyek secara internal maupun eksternal (kepada client). Beban operasi aktifitas Pelaporan Proyek dihitung dengan melihat besar ukuran data laporan & data-data pendukungnya. Dari hasil pengumpulan data, beban rata-rata untuk aktifitas Pelaporan Proyek adalah sebesar 157.286 bytes/hari
b. Operasi Kompleks
Operasi kompleks adalah operasi yang memakai bandwidth lebih besar dari 250 Kbps. Pada PT.ISB, aktifitas pekerjaan keseharian yang dapat dikategorikan sebagai jenis operasi kompleks adalah sebagai berikut :
• Aktifitas Mengunduh Data Pendukung Proyek
Setelah PT.ISB memperoleh Kontrak proyek, Client akan mengirimkan Data-data untuk acuan pelaksanaan proyek seperti Vendor Document, Dokumen Feasibility Study, Dokumen Front End Engineering Design dan dokumen pendukung lainnya. Dari hasil pengumpulan data, Beban aktifitas pengunduhan Data Pendukung Proyek rata-rata adalah 4 Megabytes/hari atau 4.194.304 bytes/hari • Aktifitas Konsolidasi Pelaksanaan Proyek
Dalam Pelaksanaan Proyek, PT.ISB melakukan Konsolidasi Internal
Discipline Check, Perekaman data-data proyek ke dalam Master Deliverable Register serta Pendistribusian Dokumen Proyek baik
internal maupun eksternal (kepada client dan third party). Dari hasil pengumpulan data, Beban rata-rata pada aktifitas Konsolidasi Pelaksanaan Proyek PT.ISB adalah sebesar 10 Megabytes/hari atau 10.485.760 bytes/hari
Dari hasil pengumpulan data, Penulis dapat membuat risalah dalam bentuk Tabel Operasi untuk aktifitas-aktifitas yang ada di PT.ISB dengan merujuk pada kaidah Metode SBSA. Berikut merupakan Tabel Operasi PT.ISB :
Tabel 3.1 Tabel Operasi PT. ISB
Berikut adalah ilustrasi rata-rata pemakaian traffic per jam pada PT.ISB :
Gambar 3.3 Pemakaian Traffic per jam pada PT.ISB Tipe Operasi Nama Aktifitas Jumlah perangkat Pengguna Jumlah rata-rata operasi per hari Beban operasi rata-rata Jumlah jam aktif per hari tiap Operasi Biasa Aktifitas Proposal CTR (Cost Time Resource) 3 5 204.800 7 Operasi Biasa Aktifitas Pelaporan 16 15 157.286 7 Operasi Kompleks Aktifitas Mengunduh Data Pendukung 16 4 4.194.304 7 Operasi Kompleks Aktifitas Pelaksanaan Proyek 16 16 10.485.760 7
Menghitung kebutuhan bandwidth merupakan hal yang penting dalam membangun perencanaan kapasitas jaringan. Bandwidth adalah suatu ukuran dari banyaknya informasi yang dapat mengalir dari suatu tempat ke tempat lain dalam suatu waktu tertentu
(www.http://arieffirmanto.blog.upi.edu/2009/10/07/bandwidth-dan-throughput/). Menurut Network Capacity Planning dengan Metode SBSA, untuk dapat mengetahui jumlah kebutuhan bandwidth maka dibutuhkan 3 (tiga) data sebagai berikut :
• Data Profil
• Jumlah operasi tiap pengguna per hari • Jumlah Operasi per detik
Penulis mengumpulkan data-data awal mengenai Kapasitas Jaringan yang ada pada PT.ISB dengan cara Mengumpulkan Data Profil terlebih dahulu kemudian menghitung jumlah operasi pengguna/hari dan jumlah operasi per detik. Data profil adalah data perusahaan yang hendak dibuat capacity planning-nya. Berikut adalah hasil pengumpulan data yang dapat dipergunakan sebagai input untuk Network Capacity Planning dalam lingkup penghitungan kebutuhan bandwidth di PT.ISB :
a. Data Profil
Dari hasil penelitian Penulis pada PT.ISB, diperoleh data-data sebagai berikut: • Jumlah pengguna jaringan keseluruhan = 20 user
• Persentase pengguna aktif = 80% (dari total 20 user, pengguna yang aktif melakukan aktifitas-aktifitas transaksi data adalah 16 user)
• Beban operasi kompleks >= 250 kb • Beban operasi biasa <= 125 kb
• Jumlah operasi kompleks (operasi dimana jumlah data yang ditransfer lebih dari 250 Kb) = 20 operasi per hari
• Jumlah operasi biasa (operasi biasa adalah operasi dimana jumlah data yang ditransfer berkisar antara 125Kb-250 Kb) = 20 operasi per hari • Jumlah jam efektif tiap hari = 7 jam kerja mulai jam 08.00 s/d 17.00
b. Jumlah operasi tiap pengguna per hari
Jumlah operasi tiap pengguna per hari adalah banyaknya operasi yang dilakukan satu pengguna setiap hari.
Pada metode SBSA, Jumlah operasi tiap pengguna per hari dirumuskan sebagai berikut :
(
Rasio Beban ops kompleks dan ops biasa) (
x Jml ops kompleks)
biasa ops
xbeban_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
1 +
Sehingga, dalam penerapan untuk Network Capacity Planning pada PT.ISB, dapat di hitung sebagai berikut :
hari pengguna operasi x Kb Kb x / / . 60 20 125 250 20 1 = ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ + =
Rasio beban operasi kompleks dan operasi biasa digunakan untuk mengetahui satu operasi kompleks dapat dianggap setara dengan berapa kali operasi biasa.
Dalam hal ini, karena beban operasi kompleks adalah 250 Kb dan operasi biasa adalah 125 Kb, maka beban operasi kompleks adalah dua kali lipat beban operasi biasa.
Dengan demikian, satu operasi kompleks disetarakan dengan dua operasi biasa.
Setelah disetarakan, baru jumlah operasi kompleks dan jumlah operasi biasa ditambahkan untuk mendapatkan total jumlah operasi tiap pengguna per hari.
c. Jumlah operasi per detik
Jumlah operasi per detik adalah banyaknya operasi biasa yang terjadi selama 1 detik. Setelah diketahui jumlah operasi yang dilakukan tiap pengguna dalam
satu hari, menurut metode SBSA, Jumlah operasi per detik di hitung dengan formula :
Jumlah operasi/pengguna/hari x Jumlah Pengguna x Persentase Pengguna Aktif Jumlah Jam Aktif per Hari x 3600
Catatan : Angka 3600 adalah jumlah detik dalam 1 jam
Sehingga, dalam penerapannya untuk Network Capacity Planning pada PT.ISB, dapat di hitung jumlah operasi/detik sebagai berikut :
60 operasi /pengguna/hari x 20 user x 80% 7 x 3600
= 0,038 operasi/detik
d. Total penggunaan bandwidth per detik
Total penggunaan bandwidth per detik didapat dengan mengalikan jumlah operasi per detik dan besarnya beban satu operasi biasa. Pada metode SBSA, Jumlah penggunaan bandwidth per detik dirumuskan sebagai berikut :
Total penggunaan bandwidth per detik = jumlah operasi per detik x beban operasi biasa
Sehingga, dalam penerapannya untuk Network Capacity Planning pada PT.ISB, dapat di hitung total penggunaan bandwidth per detik sebagai berikut :
0,038 x 125 Kbps = 4,76 Kbps
Setelah mendapatkan total penggunaan bandwidth per detik (dalam Kbps), alternatif teknologinya bisa ditentukan dengan menggunakan tabel berikut ini:
Dari hasil perhitungan dengan metode SBSA diatas, dapat diketahui bahwa total penggunaan bandwidth per detik pada PT.ISB adalah sebesar 4,16 Kilobytes per second untuk tiap user.
Maka, menurut perhitungan Perencanaan Kapasitas Jaringan dengan metode SBSA, teknologi yang harus digunakan oleh PT.ISB adalah Koneksi dengan kecepatan dedicated minmum 4,76 Kbps x 20 user = 95,23 Kbps.
3.3. Analisis Kebutuhan Sistem
Pada saat ini, belum ada aplikasi khusus sebagai alat bantu perhitungan
Network Capacity Planning pada PT.ISB. Penulis merancang sebuah aplikasi
sederhana yang efektif untuk membantu Network Capacity Planning pada PT.ISB. Aplikasi Network Capacity Planner sebagai alat bantu perencanaan kapasitas memiliki fungsi untuk :
• Memudahkan bagi Perusahaan untuk melakukan Simulasi Perencanaan Kebutuhan Bandwidth dengan setting jumlah user dan tingkat beban disesuaikan dengan skala kebutuhan operasional project.
• Menampilkan data monitoring sumber daya Prosesor, Memory serta Harddisk dalam bentuk chart line.
• Laporan Perencanaan Kapasitas Jaringan dapat dibuat secara cepat dan tepat.
Sebelum merancang aplikasi Network Capacity Planning untuk PT.ISB, Penulis melakukan analisis kebutuhan sistem meliputi perencanaan fungsi-fungsi serta desain antar muka yang user friendly atau ramah pengguna. Analisis ini diperlukan sebagai dasar bagi tahapan perancangan sistem dan untuk mengamati bagaimana sistem akan berjalan sesuai dengan persyaratan sistem yang mengikuti konsep dasar dari kebutuhan informasi di dalamnya. Analisis system, dalam hal ini Network Capacity Planning akan membahas mengenai tahapan perangkat lunak dengan menentukan spesifikasi sistem atau System Requirement Specification (SRS) dan mengidentifikasi kelas-kelas serta hubungannya satu terhadap yang lain.
3.4. Deskripsi Sistem
Kegiatan perilaku sistem pada fase analisis dapat dideskripsikan sebagai kegiatan sistem dalam mengambil keputusan tentang proses yang diinginkan.
Aplikasi Network Capacity Planning yang akan dibangun terdiri dari 2 (dua) proses yaitu :
• Modul Planner, yaitu sistem penghitung kebutuhan bandwidth untuk suatu project. Jumlah user dan beban jaringan yang ada dapat disimulasikan secara bervariasi.
• Modul Monitoring, berfungsi sebagai alat pemantau kapasitas komputer aik server maupun client. Modul ini memiliki kemampuan untuk memantau kinerja dan kapasitas prosesor, memory serta hardddisk.
3.5. Perancangan Sistem
Tujuan utama dari perancangan sistem adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai sistem yang akan dibangun.Aplikasi Network Capacity
Planning untuk dapat melakukan fungsinya harus melalui beberapa proses input
terlebih dahulu. Input dapat disesuaikan dengan kondisi kebutuhan project di PT.ISB. Input untuk modul planner, yang memiliki fungsi sebagai Penghitung Kebutuhan Bandwidth/detik pada PT.ISB, berisikan pendefinisian parameter – parameter informasi jaringan yaitu jumlah user dan jumlah beban operasi. Adapun Modul Monitoring yang memiliki fungsi sebagai alat pemantau kapasitas komputer server maupun client, berisikan data monitoring kapasitas prosesor, kapasitas memory dan kapasitas hardddisk.
3.6. Model Rekayasa Perangkat Lunak
Pada pengembangan sistem ini, model pendekatan perancangan perangkat lunak yang digunakan adalah model sequential linier atau sering disebut juga dengan “siklus kehidupan klasik” atau “Waterfall/model air terjun”.
Sequential linier mengusulkan sebuah pendekatan kepada perkembangan
perangkat lunak yang sistematik dan sekuensial, yang mulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan. Model sequential linier melingkupi aktifitas-aktifitas sebagai berikut :
• Rekayasa dan pemodelan sistem. • Analisis kebutuhan perangkat lunak. • Desain perangkat lunak.
• Generalisasi kode.
• Pengujian perangkat lunak. • Pemeliharaan perangkat Lunak.
Adapun untuk membangun perangkat lunak Network Capacity Planner, metode perancangan perangkat yang penulis pergunakan adalah sebagai berikut :
1. Tahap analisis kebutuhan perangkat lunak, seperti analisis kebutuhan data, analisis kebutuhan pengguna perangkat lunak, analisis kebutuhan pembangun perangkat lunak.
2. Tahap perancangan, mencakup perancangan antar muka, struktur menu. 3. Tahap pengkodean.
4. Tahap pengetesan.
Berikut adalah diagram alir tahapan desain perangkat lunak :
Sedangkan tahap-tahap yang ada dalam perancangan sistem aplikasi Network
Capacity Planning adalah sebagai berikut:
3.7. Perancangan Aplikasi Network Capacity Planning
Perancangan struktur aplikasi Network Capacity Planning mendayagunakan komponen-komponen pemodelan sistem pada metode
Unified Modeling Language, yang memiliki beberapa tahapan seperti :
• Use Case Diagram • Diagram Kelas • Diagram Aktivitas • Diagram Sekuensial • Deployment Diagram
3.7.1. Use Case Diagram
Use Case Diagram mendeskripsikan interaksi tipikal antara para
pengguna sistem dengan sistem itu sendiri, dengan memberi sebuah narasi tentang bagaimana sistem tersebut digunakan. Pada gambar 3.2 diperlihatkan Use Case Diagram untuk Aplikasi Network Capacity
Planning.
Gambar 3.5 Use Case Diagram Network Capacity Planner
Pada use case diagram diatas, sistem terdiri dari dua aktor yang terlibat yaitu
beban operasi, input ip server atau client. Dan system yang melakukan proses kalkulasi bandwidth dan resource monitoring.
Gambar 3.6 Use Case Diagram Proses Pengecekan Network Capacity Planner
Pada use case diagram diatas ditunjukkan bahwa system melakukan kalkulasi bandwidth dan resource monitoring, dan hasil perhitungan dikirimkan kepada seorang administrator dalam bentuk laporan risalah.
3.7.2. Diagram Kelas
Diagram kelas yang akan diimplementasikan di dalam aplikasi
Network Capacity Planner ini diharapkan dapat menggambarkan
penetapan kelas dan objek dalam tubuh sistem yang akan digunakan, yang akan memuat deskripsi operasi sistem dan event dari kelas dan objek yang dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna dalam pengoperasian aplikasi sistem.
Gambar 3.7 Diagram Kelas Network Capacity Planner
3.7.3. Skema analisis sistem
Berikut ini gambaran secara singkat skenario dari perancangan Use
case Network Capacity Planner di atas:
Use Case : Modul Planner Aktor : Administrator & System
Prekondisi :
1. Team project telah ditentukan
Alur Kegiatan :
1. Input Informasi Project 2. Input Team Member 3. Input Beban Operasi
5. Hitung Jumlah Operasi keseluruhan per detik 6. Hitung Total penggunaan bandwidth per detik
Pasca kondisi:
1. Tampilkan laporan
Tabel 3.2 Deskripsi Proses Modul Planner
Pada tabel 2 di perlihatkan deskripsi dari proses modul planner yang akan di lakukan sistem.
Use Case : Modul Monitoring Actors : Administrator & System Prekondisi :
1. Server menyala dan beroperasi
Alur Kegiatan :
1. Baca file konfigurasi untuk memulai pengecekan server yang akan di monitor.
2. update status file konfigurasi
3. buat file log dan update log dari setiap event. 4. kirim log dari setiap event.
Pasca kondisi: 1. log di tutup
Tabel 3 3 Deskripsi Proses Modul Monitoring
Pada tabel 3.1 di perlihatkan deskripsi dari proses pengecekan yang akan di lakukan sistem.
3.7.4. Diagram Aktifitas
Diagram aktifitas dirancang untuk dapat menggambarkan bagaimana alur kerja dari keseluruhan proses sistem yang ada dalam Network
Capacity Planner ini. Diagram aktifitas ini sangat menolong untuk
keterangan dari setiap objek yang merepresentasikan proses yang dilakukan bersama.
Diagram aktifitas memungkinkan siapapun yang melakukan proses untuk memilih urutan dalam melakukannya. Dengan kata lain, diagram hanya menyebutkan aturan-aturan rangkaian dasar yang harus di ikuti.
a. Diagram Aktifitas Modul Planner
Gambar 3.8 Diagram Aktifitas Aplikasi Network Capacity Planner (Modul Planner)
Diagram aktifitas di atas menunjukkan aktifitas keseluruhan pada Modul Planner dari aplikasi Network Capacity Planner. Aktor, dalam hal ini administrator, dapat melakukan simulasi konfigurasi disesuaikan dengan skala project, jumlah user serta beban operasi. Administrator juga dapat menyimpan konfigurasi ke dalam file csv, yang apabila diperlukan dapat dipanggil ulang.
b. Diagram Aktifitas Modul Monitoring
Selain diagram aktifitas untuk Modul Planner, terdapat juga diagram aktifitas untuk Modul Monitoring. Modul Monitoring ini menampilkan capture data kinerja prosesor, memory dan harddisk secara
real time. Hasil monitoring ini dapat dimanfaatkan sebagai penunjang pengambilan keputusan pada Departemen Purchasing & IT Operation, berkaitan dengan penentuan sumber daya mana yang sudah layak untuk di tingkatkan guna menunjang operasional perusahaan.
Gambar 3.9 Diagram aktifitas pengecekan resource cpu dan memori server Lingkup kerja Modul Monitoring pada aplikasi Network Capacity Planner ini melakukan monitoring kinerja resource atau sumber daya pada computer
server/client, diantaranya :
• Memonitor kinerja processor • Memonitor kinerja memory
• Memonitor kinerja harddisk dan kapasitasnya
PT.ISB memiliki kebijakan Service Level Requirement untuk monitoring kapasitas resource sebagai berikut :
Service Level Requirement
Device Threshold
Processor Utilization
Processor Time Jika Prosesor Time dibawah 31%, berarti prosesor tidak bisa menangani load dengan efektif
Processor Utilization
Processor Queue Length
Jumlah antrean thread&waiting time di CPU. Hasil counter dibagi jumlah
CPU dalam server/host. Jika hasilnya dibawah 10, sistem berjalan dgn baik.
Memory Utilization
Available Bytes Minimal tersedia 100 Megabytes Jika RAM tinggal sisa 10% saja atau 100 Megabytes, berarti Memory sudah LOW
Harddisk Utilization
Disk Transfers/sec Jika Disc Transfer diatas 25 per second, berarti respon time HD rendah/poor
Harddisk Utilization
Disk Idle Time Jika counter menunjukkan dibawah 20%, berarti RPM HDnya kurang kuat utk menjalankan proses yang ada Harddisk
Utilization
Disk Space Free space harddisk minimal adalah 20%
Tabel 3.4 Service Level Requirement PT.ISB
3.7.5. Diagram Sekuensial
Diagram sekuensial merupakan bentuk diagram interaksi yang paling umum digunakan. Sebuah diagram sekuensial menunjukkan sejumlah objek contoh dan pesan-pesan yang melewati objek-objek ini di dalam use
case.
Diagram sekuensial biasa digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respons dari sebuah
event untuk menghasilkan output tertentu. Diawali dari apa yang men-trigger aktivitas tersebut, proses dan perubahan apa saja yang terjadi
secara internal dan output apa yang dihasilkan.
Masing-masing objek, termasuk aktor, memiliki lifeline vertikal. Message digambarkan sebagai garis berpanah dari satu objek ke objek lainnya. Pada fase desain berikutnya, message akan dipetakan menjadi operasi/metoda dari class.
Gambar 3.10 Diagram Sekuensial Aplikasi update konfigurasi
Gambar 3.11 Diagram Sekuensial Aplikasi Modul monitoring server
3.7.6. Deployment Diagram
Deployment diagram yang digunakan dalam perancangan Network
Capacity Planner ini menggambarkan secara detail tentang bagaimana komponen di-deploy dalam infrastruktur sistem, di mana komponen akan terletak, dan hal-hal lain yang bersifat fisik.
Karena aplikasi Network Capacity Planner ini masih bersifat lokal, maka
deployment diagram yang dibuat hanya terdiri dari satu buah processor
dan beberapa host tergantung dari berapa jumlah host yang akan di monitor nantinya. Pada gambar 3.18 diperlihatkan deployment diagram dari Network Capacity Planner.
Gambar 3.12 Deployment Diagram Network Capacity Planner
3.8. Gambaran Perangkat Lunak
Dalam merencanakan kapasitas jaringan akan sangat membantu jika terdapat suatu aplikasi terstruktur, dalam hal ini aplikasi yang dirancang adalah aplikasi berbasis dekstop. Tujuan dari dirancangnya aplikasi berbasis desktop yaitu untuk mempermudah perencanaan kapasitas sumber daya jaringan pada perusahaan. Pada aplikasi Network Capacity Planner terdapat 2 form yaitu form modul planner dan form modul monitor. Form Planner berisi kode program untuk penghitungan bandwidth, Form Planner juga menampilkan hasil akhir berupa laporan dan rekomendasi bandwidth minimum yang diperlukan dengan jumlah user dan beban operasi yang sudah didefinisikan sebelumnya. Sedangkan Form
Monitor berisi program monitoring resource server. Form Monitor menampilkan
hasil akhir berupa data csv yang berisi data monitoring resource.
Aplikasi Network Capacity Planner yang dibuat menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic yang dapat dijalankan pada sebuah Personal Computer secara portabel, Fungsi utama aplikasi ini adalah sebagai alat bantu untuk mempermudah perencanaan kapasitas sumber daya jaringan pada PT.ISB.
3.9. Spesifikasi Aplikasi
Sebelum aplikasi ini dibuat, terlebih dahulu ditentukan spesifikasinya. Spesifikasi ini menentukan kapabilitas apa saja yang akan ditampilkan oleh aplikasi . Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut :
• Aplikasi Network Capacity Planner ini dibuat dalam bahasa pemrograman
Visual Basic versi 6.0
• Aplikasi Network Capacity Planner menggunakan graphical user
interface dan berjalan pada sistem operasi Windows XP.
• Aplikasi ini memuat 2 form konfigurasi utama yakni Form Modul Planner dan Modul Monitor.
3.10. Perancangan Mockup antarmuka aplikasi
Mockup perancangan antarmuka dibuat berdasarkan skematik aplikasi. Dengan mengacu pada parameter – parameter yang akan diisikan pada konfigurasi
Network Capacity Planner, perancangan antarmuka ini ditujukan untuk
mempermudah pengguna dalam memakai aplikasi ini nantinya.
Gambar 3.13 Skematik perancangan antarmuka aplikasi yang akan di bangun.
Berikut adalah tampilan – tampilan dari rancangan antarmuka aplikasi
Network Capacity Planner, berdasarkan urutan dari skematik perancangan
antarmuka aplikasi untuk pemakai :
3.10.1. Tampilan untuk Modul Planner
Gambar 3.14 Tampilan utama dari aplikasi untuk konfigurasi Network Capacity Planner (Modul Planner)
3.10.2. Tampilan untuk Modul Monitoring