PENDAHULUAN A. Latar Belakang

24 

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Desa sebagai pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat menjadi fokus utama dalam pembangunan pemerintah, hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah Indonesia ada di perdesaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa menyatakan penatausahaan keuangan pemerintah desa terpisah dari keuangan pemerintah kabupaten. Pemisahan dalam penatausahaan keuangan desa tersebut bukan hanya pada keinginan untuk melimpahkan kewenangan dan pembiayaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, tetapi yang lebih penting adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya keuangan dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Sehubungan dengan telah dilimpahkannya pengelolaan keuangan desa secara mandiri oleh desa yang selanjutnya disebut dengan Alokasi Dana Desa (ADD). Dalam pasal 1 angka 11 peraturan pemerintah nomor 72 tahun 2005 tentang desa disebutkan bahwa Alokasi dana desa adalah dana yang di alokasikan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk desa yang bersumber dari bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota.

Alokasi dana desa sebagian besar digunakan untuk pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah desa. dalam perkembangannya, kini desa telah berkembang menjadi berbagai bentuk pemberdayaan sehingga menjadi desa yang mandiri, maju, dan kuat untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Desa memiliki wewenang untuk mengatur sendiri kawasanya sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakatnya agar tercapai kesejahteraan dan pemerataan kemampuan ekonomi. Kemajuan pembangunan juga tidak kalah pentingnya, pembangunan ini juga memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung jawaban. Pembangunan desa harus mencerminkan sikap gotong-royong dan kebersamaan sebagai wujud pengamalan sila-sila dalam pancasila demi mewujudkan masyarakat desa yang adil dan

(2)

sejahtera. Pelaksanaan pembangunan desa harus sesuai dengan apa yang telah direncanakan dalam proses perencanaan dan masyarakat berhak untuk mengetahui dan melakukan pengawasan terhadap kegiatan pembangunan desa. Pengelolaan ADD harus dilaksanakan secara terbuka melalui musyawarah desa dan hasilnya dituangkan dalam Peraturan Desa (Perdes). Ketentuan tersebut menunjukkan komitmen dari pengambil keputusan bahwa pengelolaan ADD harus mematuhi kaidah good governance yang harus dilaksanakan oleh para pelaku dan masyarakat desa. Pengelolaan alokasi dana desa yang telah diberikan oleh pemerintah agar sesuai dengan tujuannya seyogyanya perlu adanya penerapan fungsi – fungsi manajemen pada setiap proses pengelolaan. Alokasi dana desa merupakam hubungan penyaluran keuangan tingkat pemerintah yaitu hubungan pemerintahan terhadap pemerintahan desa. Untuk dapat merumuskan keuangan yang tepat perlua adanya pemahaman yang dimiliki oleh pemerintah desa. Dimana nantinya anggaran yang diperoleh dapat digunakan sesuai dengan perencaan yang dibuat oleh pemerintah desa yaitu berupa pembagungan serta pemberdayaan desa. Dana tersebut digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan udangan-undang dan ketentuan yang berlaku yang sudah ditetapkan sesuai dengan pemerintahan indonesia.

Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa pada pasal 1 dijelaskan pengertian Desa yakni Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa memiliki peran penting dalam mengatur serta mengurus seluruh warganya hal ini berlaku pada segala aspek dimana hal tersebut termasuk pada pelayanan, pengaturan serta oemeberdayaan masyarakat. Peranan pemerintah desa sangat dibutuhkan bagi masyarakat desa baik

(3)

pada sarana dan prasarana demi terwujudnya pembangunan yang seutuhnya. Pengembangan dan pengetahuan penyelenggara pemerintah desa merupakan prioritas utama. Sehingga pengembangan wawasan,

pengetahuan, sikap dan keterampilan para penyelenggarraan

pemerintahan senantiasa teraktualisasi seiring dengan bergulirnya perubahan yang senantiasa terjadi.

Dengan adanya pandemi pemerintah desa memili tugas dalam merubah anggaran desa dari yang sebelumnya. Dimana dalam hal tersebut pemerintah desa lenih memfokuskan terhadap permasalahan yang ada. Sepertihalnya dalam membuat anggaran untuk melengkapi APD yang dibutuhkan desa setempat serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, hal ini tentunya tidak lepas dari pengawasan pemerintah desa terhadap masyarakat-masyarakat yang tentunya layak dalam mendapatkan bantuan tersebut.

Adapun beberapa aturan dalam perubahan anggaran dana desa pada saat masa Covid-19 sepertihalnya kesehatan dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dimana pemerintah desa harus mengutamakan kepentingan masyarakat terutama dalam hal menstabilkan sarana dan prasarana kesehatan. Dalam pematuhan protokol kesehatan yang berlaku pada masa pandemi pemerintah desa setidaknya menyediakan kebutuhan desa berupa masker, handsanitizer serta peralatan lainnya yang mampu mendukung keadaan aktivitas dari adanya pandemi ini.

Namun dengan adanya hal ini pemerintah desa kesulitan dalam merealisasikan kepentingan tersebut, dimana dengan adanya desakan kebutuhan masyarakat desa yang harus di utamakan serta dana yang masih kurang dalam melaksanakan atas kebutuhan yang harus dipenuhi dalam waktu dekat dengan tujuan utama untuk memutus penyebaran Covid-19. Untuk mendanai setiap kegiatan pembangunan desa, diperlukan biaya yang tidak sedikit. Di setiap desa diberikan Alokasi Dana Desa (ADD) setiap tahun dengan jumlah tertentu dengan tujuan untuk pembangunan desa tersebut. Berdasarkan dari data APBDes. Dalam beberapa situasi penggunaan Alokasi dana Desa ini rawan terhadap penyelewengan dana

(4)

oleh pihak yang seharusnya dipercaya oleh masyarakat dalam membangun desa menjadi lebih maju dan berkembang. Di sinilah pentingnya peran masyarakat sebagai pengawas langsung dan tidak lepas dari peran pemerintah kabupaten selaku pemberi dana untuk selalu memonitor jalanya pembangunan di desa. Karena sebagian besar Alokasi Dana Desa diperuntukan bagi pembangunan desa maka mulai darai proses perencanaan ADD, pengelolaan ADD, hingga pelaporannya haruslah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Sehingga nantinya diharapkan dengan dana ADD ini dapat menciptakan pembangunan yang merata dan bermanfaat bagi masyarakat desa.

Bertitik tolak dari uraian diatas maka merupakan hal yang menarik untuk diangkat menjadi suatu bahan penelitian dengan judul “Refocusing

Anggaran Dana Desa di Masa Pandemi Covid-19”. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang akan diteliti dan di bahas dalam penelitian ini dapat penyusun rumuskan sebagai berikut:

1. Apa fungsi dana desa yang akan dialokasikan di masa pandemi covid-19 ?

2. Bagaimana tahapan perubahan anggaran yang dikelola oleh desa? 3. Bagaiamna proses refocusing Dana Desa di masa Covid-19 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui fungsi dana desa yang dialokasikan di masa pandemi covid-19

2. Mengetahui dan memberikan gambaran proses-proses tahapan perubahan anggaran yang terjadi akibat adanya covid-19

3. Mengetahui proses penyaluaran anggaran yang ditetapkan oleh pemeritah desa terhadap masyarakat desa.

(5)

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan fokus permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui dan memberikan gambaran proses-proses tahapan perubahan anggaran yang terjadi akibat adanya covid-19

2. Mengetahui proses penyaluaran anggaran yang ditetapkan oleh pemeritah desa terhadap masyarakat desa.

(6)

TINJAUAN TEORITIS A. Landasan Teori.

Konsep Desa

Secara etimologi kata Desa berasal dari bahasa Sansekerta, desa yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Dari perspektif geografis, Desa atau village diartikan sebagai “a groups of hauses or shops in a country area, smaller than a town”. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten.

Desa dalam pengertian umum adalah sebagai suatu gejala yang bersifat universal, terdapat dimana pun di dunia ini, sebagai suatu komunitas kecil, yang terikat pada lokalitas tertentu baik sebagai tempat tinggal (secara menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya, dan yang terutama yang tergantung pada sektor pertanian.

Desa menurut Undang-Undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa mengartikan bahwa Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa dibentuk berdasarkan prakarsa masyarakat dimana hal ini tentunya dengan memperhatikan asal usul desa serta kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Pembentukan desa berupa gabungan dari beberapa desa yang memiliki tempat bersandingan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Pembentukan desa tidak semata-mata sesuai dengan keinginan dari perangkat desa yang memiliki kewenangan dalam mengatur serta keseluruhan kegiatan di desa. Dalam pembentukan desa tentunya perangkat desa menyesuaikan dengan peraturan undang-undang yang berlaku di negara Indonesia.

(7)

Pemerintah Desa

Pengertian pemerintah adalah cara perbuatan memerintah yang berdasarkan demokrasi gubernur memegang tampuk didaerah tingkat I, segala urusan yang dilakukan oleh Negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan Negara.

Pemerintah Desa merupakan bagian dari pemerintah nasional yang penyelenggaraanya ditujukan kepada Desa. Pemerintahan Desa merupakan proses dimana kegiatan usaha masyarakat desa yang bersangkutan dipadukan dengan usaha pemerintah hal ini tidak lain bertujuan agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa pemerintah desa adalah kepala desa yang dibantu oleh perangkat desa lainnya dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam menjalankan tugasnya. Pada pasal 26 ayat (2) menyatakan, bahwa dalam melaksanakan tugas Kepala Desa memiliki wewenang sebagai berikut :

a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa. b. Mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa.

c. Memegang kekuasaan pengelolaan Keuangan dan Aset Desa. d. Menetapkan Peraturan Desa.

e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. f. Membina kehidupan masyarakat Desa.

g. Membina ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa.

Alokasi Dana Desa

Alokasi Dana Desa adalah anggaran keuangan yang diberikan pemerintah kepada desa, yang mana sumbernya berasal dari Bagi Hasil Pajak Daerah serta dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat Dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37 tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa di dalam Pasal 18 menyatakan bahwa, “Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten / Kota yang bersumber dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh

(8)

Pemerintah Kabupaten / Kota untuk desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen).

Pengelolaan Alokasi Dana Desa harus memenuhi beberapa prinsip pengelolaan seperti berikut:

1. Setiap kegiatan yang pendanaannya diambil dari Alokasi Dana Desa harus melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi secara terbuka dengan prinsip: dari, oleh dan untuk masyarakat.

2. Seluruh kegiatan dan penggunaan Alokasi Dana Desa harus dapat dipertanggung jawabkan secara administrasi, teknis dan hukum. 3. Alokasi Dana Desa harus digunakan dengan prinsip hemat, terarah

dan terkendali. Jenis kegiatan yang akan didanai melalui Alokasi Dana Desa diharapkan mampu untuk meningkatkan sarana pelayanan masyarakat, berupa pemenuhan kebutuhan dasar, penguataan kelembagaan desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat desa dengan pengambilan keputusan melalui jalan musyawarah.

4. Alokasi Dana Desa harus dicatat di dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa melalui proses penganggaraan yang sesuai dengan mekanisme yang berlaku

Keuangan Desa

Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.

Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan desa.Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya disebut RKPDesa, adalah penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APBDesa, adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.

(9)

Anggaran Keuangan Desa

Proses perencanaan dan penganggaran keuangan Desa tak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya merupakan sebuah rangkaian proses yang terintegrasi sehingga output dari perencanaan keuangan adalah penganggaran. Ini merupakan bagian penting dari perencanaan arah dan kebijakan pembangunan desa tahunan dan rencana anggaran tahunan (APBDes). Pada hakikatnya hal ini merupakan perencanaan instrumen kebijakan publik sebagai upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Karena itulah perencanaan anggaran/penyusunan anggaran menjadi hal yang mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.

APBDesa adalah sebuah dokumen resmi yang merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah Desa dengan Badan Permusyawaratan Desa. Dokumen ini, pada dasarnya mengatur tentang belanja yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pendapatan yang diharapkan untuk menutup keperluan belanja tersebut. Termasuk di dalamnya pengaturan pembiayaan yang diperlukan apabila diperkirakan akan terjadi defisit atau surplus.

Secara umum, proses perencanaan anggaran APBDesa juga harus mengikuti siklus anggaran yang meliputi tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap persiapan anggaran dimana dilakukan taksiran atau perkiraan pengeluaran atas dasar taksiran pendapatan yang tersedia. Dalam tahap ini, hal penting yang perlu diperhatikan adalah akurasi perkiraan. Artinya, sebelum taksiran pengeluaran disetujui, terlebih dulu harus dilakukan penaksiran pendapatan dengan akurat.

B. Kerangka Pikir Penelitian

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa merupakan sebuah produk era reformasi yang menjadi bentuk awal kemandirian Desa dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun dalam pengelolaan keuangan Desa.

Pelaksanaan ADD pada masa pandemi seperti sekarang ini dengan menyesuaikan terhadap realita yang terjadi. Dimana hal tersebut tentunya

(10)

lebih menfokuskan terhadap anggaran kesehatan khususnya bagi masyrakat desa. Sedangkan untuk engelolaan Keuangan Desa sendiri merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi Perencanaan, Pelaksanaan Penatausahaan, Pelaporan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Desa, dimana Perencanaan adalah pemerintah Desa menyusun perencanaan pembangunan sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan Kabupaten atau Kota, kemudian yang di maksud dengan Pelaksanaan yaitu pelaksanaan anggaran Desa yang sudah di tetapkan sebelumnya timbul transaksi penerimaan dan pengeluaran Desa.

Dalam merealisasikan anggaran desa setiap desa diwajibkan dalam membuat laporan penggunaan Anggaran Dana Desa (ADD). Dalam setiap tahunnya setiap desa harus mempertanggung jawabkan atas dana yang diperoleh dari pemerintah untuk dapat direalisasikan sesuai dengan angagran yang sudah ada. Sehingga dengan hal ini pemerintah dapat memastikan terhadap anggaran yang digunakan.

C. Penelitian Terdahulu

Penelitian Oleh IK. Winaya, IPD. Dharmanu Yudarta (201) Dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Perencanaan Dan Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa (Apbdes) Tahun 2017 ( Studi Kasus di desa kategori tertinggal pada Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli). Tujuannya untuk untuk mengetahui proses perencanaan dan penyusunan APBD di beberapa desa yang tertinggal di kecamatan Kintamani tepatnya pada desa Binyan, Mengani, Ulian, Langgahan, dan Abuan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu Terdapat beberapa desa yang mengalamu defisit, dimana pada data yang diperoleh terdapat peningkatan belanja daerah dibandingan dengan dana pendapatan yang diperoleh daerah. Hal ini terjadi akibat kurangnya perencaan Anggaran Dana Desa yang kurang memperhatikan faktor lingkungan serta kurangnya partisipasi masyarakat dalan penyusunannya. Sehingga dengan hal tersebut dalam penggunaan dana desa disini tidak memiliki acuan untuk digunakan sebagai tolak ukur terhadap tujua sebuah desa.

(11)

METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut haris didefinisikan dalam bentuk operasionalnya (Juliana,2017).

Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian korelasional dikarenakan tipe karakteristik penelitian ini masalahnya berupa hubungan korelasional antara dua variabel aau lebih. Tujuannya adalah untuk melihat apakah ada perencaan yang dilakukan oleh pemerintah desa dalam hal anggaran dana desa di masa pandemi.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Tempat penelitian ini dilakukan di Balai Desa Pangarangan Kabupaten Sumenep yang terletak di Jalan KH. Agus Salim, Pangarangan, Kode Pos 69417 Pulau Madura Provinsi Jawa Timur. Dalam penelitian yang digunakan kami untuk mendapatkan data, informasi, keterangan dan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan peneliti yaitu dilakukan sekitar kurang lebih selama 2 bulan yaitu dari bulan Mei sampai bulan Juni

C. POPULASI DAN SAMPEL

Menurut Sugiyono (2018: 119), populasi adalah keseluruhan elemen yang akan dijadikan wilayah generalisasi. Elemen populasi adalah keseluruhan subyek yang akan diukur, yang merupakan unit yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai di Pemerintah Kabupaten Sumenep. Dalam penelitian kuantitatif, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2018: 120).

D. JENIS DAN SUMBER DATA

Jenis data yang digunakan adalah jenis data kualitatif yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka. Dalam hal ini data kuantitatif yang diperlukan adalah: Jumlah dosen, mahasiswa dan karyawan, jumlah sarana dan prasarana, dan hasil angket.

(12)

Sedangkan sumber data dalam penelitian ini, saya menggunakan dua sumber data yaitu :

a. Sumber data primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti

(atau petugasnya) dari sumber pertamanya. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah Pegawai Instansi Pemerintah Daerah.

E. Informan Penelitian

Pada penelitian ini Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling ini adalah teknik mengambil informan atau narasumber dengan tujuan tertentu sesuai dengan tema penelitian karena orang tersebut dianggap memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitian. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang dianggap mengetahui permasalahan yang akan dikaji serta mampu memberikan informasi yang dapat dikembangkan untuk memperoleh data

F. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Dari hasil penelitian proposal diatas saya menggunakan beberapa teknik yaitu diantaranya :

1. Wawancara

Wawancara (interview) adalah komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden. Wawancara dapat berupa wawancara personal, wawancara intersep, dan wawancara telepon.

2. Survei

Metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Survei dapat dikelompokkan ke dalam mail survey, compuer-delivered survey dan intercept studies.

3. Dokumentasi

Dokumentasi, dari menurut asal katanya dokumen, memiliki pengertian barang-barang tertulis. Pengumpulan data menggunakan dokumentasi dapat berupa penyelidikan teradap benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. Berdasarkan jenis-jenis metode pengumpulan di atas, metode

(13)

pengumpulan data yang digunakan dalam ini adalah kuisioner, dan dokumentasi.

G. TEKNIK ANALISIS DATA

a. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data yang masih kasar yang diperoleh di lapangan. Reduksi data dilakukan selama penelitian berlangsung, selama penelitian di lapangan, sampai laporan tersusun. Reduksi data merupakan bagian dari analisis data dengan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasi data sehingga kesimpulan final dapat diambil dan diverifikasi.

b. Penyajian Data

Data dan informasi yang didapat di lapangan dimasukan ke dalam suatu matriks, data disajikan sesuai data yang diperoleh dalam penelitian di lapangan sehingga peneliti akan dapat menguasi data dan tidak salah dalam menganalisis data serta menarik kesimpulan. Penyajian data bertujuan untuk menyederhanakan informasi yang kompleks menjadi data yang sederhana sehingga lebih mudah untuk dipahami.

c. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari hasil wawancara, survey dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek yakni deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi merupakan data alami yang berisi apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dan dialami sendiri oleh peneliti tentang fenomena yang dijumpai, sedangkan catatan refleksi adalah catatan yang memuat kesan, komentar, tafsiran peneliti tentang temuan yang dijumpai dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya. Guna mendapatkan catatan ini maka kami melakukan survey dan wawancara terhadap beberapa informan.

(14)

PEMBAHASAN A. Dana Desa

Desa merupakan entitas pemerintahan terendah dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hal ini dapat dilihat dalam Pasal 18B ayat 2 Undang-undang Dasar 1945 bahwa Negara mengakui kekhususan kesatuankesatuan masyarakat hukum adat yang tidak bertentangan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain Negara mengakui eksistensi Desa sebagai bagian dari bentuk hirarki pemerintahan

Kemendes PDTT telah melakukan perubahan Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Peraturan ini diubah menjadi Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020 dan Perubahan Keduanya yaitu Permendes PDTT Nomor 7 Tahun 2020. Perubahan tersebut mengatur penggunaan Dana Desa untuk mendukung pencegahan dan penanganan pandemi corona Covid19. Dana desa sendiri dapat digunakan untuk pelaksanaan Desa Tanggap Covid-19 dan pelaksanaan PKTD. Dasar ketentuan itu adalah Surat Edaran (SE) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 dan Penegasan PKTD yang dikeluarkan Menteri Desa. Dimasa pandemi ini pemerintah memperioritaskan penglokasian dana desa untuk dua hal yaitu Prioritas pertama adalah pembangunan infrastruktur secara swakelola dengan sistem Padat Karya Tunai Desa (PKTD) untuk memperkuat daya tahan 85 Ibid Universitas Sumatera Utara 60 ekonomi desa dan pendapatan masyarakat. Prioritas kedua adalah penguatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan dan penanganan Covid-19.

Terbitnya Perppu No. 1/2020 memberikan instrumen baru untuk meminimalkan dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian desa. Pada Pasal 2 ayat (1) huruf (i) peraturan tersebut disebutkan bahwa perlu dilakukan pengutamaan penggunaan alokasi anggaran untuk kegiatan tertentu (refocusing), penyesuaian alokasi, dan/atau pemotongan/ penundaan penyaluran anggaran transfer ke daerah dan dana desa, dengan kriteria tertentu. Selanjutnya dalam penjelasan Perppu tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ―pengutamaan penggunaan dana desa‖ yaitu dana

(15)

desa dapat digunakan antara lain untuk bantuan langsung tunai bagi penduduk miskin di desa dan kegiatan penanganan pandemi Covid-19. Dengan adanya pasal berikut penjelasannya tersebut, perlu dilakukan kajian bagaimana kebijakan tersebut dapat diterapkan dengan cepat dan menekan ―jebakan moral‖. Anggaran dana desa pada 2020 ditetapkan sebesar Rp 72 triliun. Untuk kebutuhan BLT-D, kami dialokasikan 20- 30 persen dari total dana desa. Pelaksanaan BLT-D setidaknya dapat diterapkan selama enam bulan dengan target penerima manfaat adalah rumah tangga. Target tersebut relevan ditetapkan mengingat sebagian besar program nasional yang terkait dengan bantuan sosial merujuk pada penerima manfaat di tingkat rumah tangga, seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan NonTunai, dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat/ Bantuan Langsung Tunai.

Dana Desa adalah dana APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui RKUN ke RKD dan tercatatkan di RKUD dan diprioritaskan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, dengan tujuan untuk: Meningkatkan pelayanan publik di desa, Mengentaskan kemiskinan, Memajukan perekonomian desa, Mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa. Pemerintah Mengupayakan tindakan untuk membantu perekonomian masyarakat yang terdampak pandemi corona covid-19. Salah satunya dengan menganti mekanisme pengalokasian dana desa dimasa pendemi. Dana Desa merupakan dana yang dialokasikan dalam APBN yang diperuntukkan bagi desa melalui APBDes.

Dana desa yang ditransfer dari pemerintah pusat ke setiap desa di Indonesia bisa dimanfaatkan untuk mencegah dan menanganai penyebaran

virus corona atau Covid-19. Sumber pendanaan lainnya untuk

penanggulangan Covid-19 adalah dana desa yang berasal dari Pemerintah pusat (APBN). Dana desa merupakan alokasi anggaran on budget yang dapat digunakan secara langsung untuk mendukung upaya mengurangi dampak Covid-19 di tingkat rumah tangga dan desa. Beberapa keunggulan dana desa diantaranya alokasi anggaran tersedia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; dapat dibuat menjadi program aksi cepat yang dapat segera dimulai; dapat melengkapi program lain untuk meminimalkan dampak sosial

(16)

dan ekonomi; tidak memerlukan sistem baru sehingga aparat desa bisa langsung bergerak karena sudah memahami sistem yang ada; dapat diarahkan untuk membangun legitimasi dan kredibilitas Pemerintah desa melalui penyelesaian masalah secara lokal; serta sudah tersedianya sistem pemantauan, evaluasi, dan pertanggungjawaban yang dapat dioptimalkan untuk menjamin akuntabilitas dana desa.

Pemberian Dana Desa kepada desa juga diiringi dengan kewajiban untuk melaksanakannya secara akuntabel dalam rangka mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah yang sejalan dengan upaya menciptakan good governance hingga tingkat desa. Akuntabilitas bukan hanya menyangkut masalah keuangan yang terdapat dalam APBDesa dengan Dana Desa sebagai salah satu komponen didalamnya, tetapi juga seluruh rangkaian kebijakan dan kegiatan dalam pengelolaan Dana Desa mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban.

Akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan organisasi, termasuk penjelasan tentang kegagalan maupun keberhasilan pelaksanaannya kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban, baik lembaga vertikal terkait dan masyarakat. Akuntabilitas pengelolaan Dana Desa di Desa Pangarangan adalah kewajiban pemerintah Desa Pangarangan untuk memberikan pertanggungjawaban untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakannya dalam pengelolaan dan penggunaan Dana Desa, beserta dengan penjelasan tentang kegagalan maupun keberhasilan pelaksanaannya kepada pemerintah Kabupaten Rembang, masyarakat dan stakeholders terkait.

B. Tahapan Perubahan Anggaran.

Dengan adanya pandemi yang menyebabkan beberapa permasalahan baru di lingkungan msyarakat, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan yang harus di perhatikan secara utama. Hal ini mengharuskan pemerintah melakukan refocusing anggaran dengan mengutamakan keselamatan masyarakat. Dimana dengan betul-betul memperhatikan penyebaran rantai virus serta dengan memperhatikan kebutuhan pokok masyarakat yang wajib

(17)

dipenuhi. Dengan adanya kebijakan baru pemerintah pusat memberikan kewajiban untuk melakukan refocusing anggaran bagi pemerintah daerah hususnya pada pemerintah desa.

Untuk mempercrpat terrealisasinya anggaran yang sudah ditetapkan pemerintah desa melakukan tindakan dengan memberikan yang terbaik terhadap masyarakatnya. Dimana dengan mengutamakan keselamatan masyarakat serta memperhatikan kepentingan pokok masyarakat. Mengatur anggaran sesuai dengan apa yang diharapkan, serta berfokus kepada pemutusan tali rantai covid-19.

Dengan adanya berbagai kebijakan untuk menghindari kerumunan yang menyebabkan melemahnya faktor perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup pemerintah juga ikut andil dalam memperhatikan masalah perekonomian masyarakat. Hal ini tidak lain agar tidak terjadi penyebaran virus Covid-19 dengan adanya kerumunan. Dengan adanya peraturan yang memberikan perintah untuk memperhatikan betul-betul kesehatan masyarakat dimana besaran anggaran yang sebelumnya lebih banyak untuk pembangunan, dan untuk perubahan anggaran sebagain besar pemerintah desa memfokuskan anggarannya pada penjagaan kekuatan kesehatan msyarakat desa dengan menganggarkan sebagian anggarannya untuk memberikan pelayanan kesehatan serta melengkapi peralatan pelayanan masyarakat sepertihalnya dengan memberikan masker, adanya pemeriksaan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan serta pemerintah daerah juga harus memperhatikan kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi sehingga terdapas sebagian anggaran desa digunakan sebagai dana bantuan sosial bagi masyarakat yang dirumahkan.

Semakin tingginya jumlah korban pandemi Covid 19 berdampak serius terhadap hilangnya pekerjaan dari kalangan atas hingga kalangan bawah, karena banyak tempat kerja menutup usahanya dan mem-phk pegawai demi mengikuti protokol kesehatan keamanan dari pemerintah, sehingga keadaan ekonomi tidak stabil, membuat masyarakat kalang kabut untuk mencukupi kebutuhan sehariharinya. Beruntung bagi masyarakat yang berada

(18)

di desa, karena dana desa sudah dibagi berdasarkan skalanya untuk penanganan krisis bencana alam dan bencana non alam.

Akan tetapi tidak semua daerah memakai kucuran dana untuk penanggulangan bencana sebab di daerah tertinggal masih banyak

kekurangan yang belum terselesaikan seperti pembangunan dan

pengembangan sumber daya.97 Pasal 8A ayat 2 dan 3 Permendes Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No 6 Tahun 2020 menyebutkan bahwa bahwa penanganan dampak pandemi covid 19 sebagaimana ayat 1 dapat berupa Bantuan langsung tunai dana desa kepada keluarga miskin di desa sesuai ketentuan peraturan perundang undangan dan yang menerima Bantuan Langsung Tunai dana desa merupakan keluarga yang kehilangan mata pencaharian atau pekerjaan, belum pernah terdata menerima Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan Non Tunai, dan kartu pra kerja, srta yang mempunyai anggota keluarga rentan sakit menahun atau kronis.

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa) adalah bantuan uang kepada keluarga miskin di desa yang bersumber dari Dana Desa untuk mengurangi dampak pandemi COVID-19. Adapun nilai BLTDana Desa adalah Rp600.000 setiap bulan untuk setiap keluarga miskin yang memenuhi kriteria dan diberikan selama 3 (tiga) bulan dan Rp300.000 setiap bulan untuk tiga bulan berikutnya. BLT-Dana Desa ini bebas pajak. Jika kebutuhan desa melebihi ketentuan maksimal yang dapat dialokasikan oleh desa, maka Kepala Desa dapat mengajukan usulan penambahan alokasi Dana Desa untuk Bantuan Langsung Tunai kepada Bupati/ Wali Kota. Usulan tersebut harus disertai alasan penambahan alokasi sesuai keputusan Musyawarah Desa Khusus (Musdesus)88 Calon penerima BLT-Dana Desa adalah keluarga miskin baik yang terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) maupun yang tidak terdata (exclusion error) yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Tidak mendapat bantuan PKH/BPNT/ pemilik Kartu Prakerja;

2.Mengalami kehilangan mata pencaharian (tidak memiliki cadangan ekonomi yang cukup untuk bertahan hidup selama tiga bulan ke depan); 3. Mempunyai anggota keluarga yang rentan sakit menahun/kronis.

(19)

Desa dapat menentukan sendiri siapa calon penerima BLT-Dana Desa selama mengikuti kriteria yang ditetapkan, melaksanakan pendataan secara transparan dan adil serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Desa dapat menggunakan data desa sebagai acuan, serta menggunakan DTKS sebagai Kabupaten Minahasa Selatan, diakses melalui TNP2K | Welcome, tanggal 21 Desember 2020, Pukul hlm 2 88 Rudy S. Prawiradinata, Op.Cit, hlm 6 89 Ibid, hlm 7 Universitas Sumatera Utara 62 referensi penerima PKH, BPNT, serta data Dinas Ketenagakerjaan untuk identifikasi penerima bantuan Kartu Prakerja. Jika data penerima JPS tersebut tidak tersedia, maka desa bisa menggunakan data rekapitulasi penerima bantuan dari pendamping program jaring pengaman sosial. Berikut adalah mekanisme pendataan keluarga miskin dan rentan calon penerima BLT-Dana Desa serta

C. Proses Refocusing Anggaran Dana Desa.

Dengan adanya wabah Covid-19 yang menyebabkan penghentian segala kegiatan yang bersifat kerumunan dan berdampak pula kepada kegiatan pekerjaan di luar rumah, seperti halnya pedagang, petani dan yang lainnya. Hal ini menyebabkan adanya keterpurukan perekonomian. Banyak msyarakat mengeluh dengan penghasilan yang diperoleh baik dari segi penghasilan hingga kehilangan pekerjaan. Bahkan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat desa merasa kesulitan di masa sekarang. Tidak hanya penurunan penghasilan bahkan beberapa pedagang yang banyak mengalami kerugian akibat adanya larangan untuk melakukan penjualan dengan dibataskannya waktu serta banyaknya panggan untuk mengunjungi tempat wisata yang sebagian besar digunakan untuk lahan mencari uang.

Dengan adanya kebijakan pemerintah yang memerintahkan para masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, serta menutut spot-spot wisata yang memberikan penghasilan kepada para pedagang dengan hal ini pemerintah melalui pemerintahan desa memberikan bantuan kepada msyarakat yang membutuhkannya. Berbagai bantuan yang disalurkan terhadap masyarakat yang membutuhkan mulai dari Bantuan Langsung Tunai yang diberikan kepada msyarakat desa terdampak Covid-19 yang di

(20)

anggarkan sebesar Rp.300.000 di cairkan setiap bulan serta bantuan Program Keluarga Harapan yang diperoleh oleh masyarakat yang membutuhkannya.

Untuk memberikan keamanan kepada masyarakat desa pemerintah juga melengkapi alat kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada para masyarakat yang membutuhkan bantuan saat mengalami gejala-gejala yang di takutkan. Tidak hanya memberikan pelayanan pemerintah desa juga memberikan masker secara grtis kepada msyarakat agar tidak kesulitan dalam mematuhi protokol kesehatan.

Penanganan pandemi covid-19 melalui Perppu Nomor 1 Tahun 2020 sangat diperlukan karena pandemi covid-19 telah membawa implikasi berdampak bagi kesehatan, perekonomian, sosial, dan lain-lain yang pada akhirnya menggerus kesejahteraan rakyat. Dalam Penjelasan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 secara singkat antara lain dapat dirumuskan antara lain:

1. Pandemi covid-19 secara nyata telah mengganggu aktivitas ekonomi dan membawa dampak bagi perekonomian sebagian besar negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

2. Terganggunya aktivitas ekonomi akan berimplikasi pada perubahan dalam postur anggaran (APBN) tahun 2020, baik dari sisi pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan

3. Respon kebijakan keuangan negara dan fiskal dibutuhkan untuk menghadapi risiko pandemi covid-19, antara lain berupa peningkatan belanja untuk mitigasi risiko kesehatan, melindungi masyarakat, dan menjaga aktivitas usaha.

Tekanan sektor keuangan berpengaruh pada APBN, terutama sisi pembiayaan.99 Kebijakan pemerintah dalam Penanganan Pandemi Covid-19, antara lain :

2. Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran, Serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pada tanggal 20 Maret 2020.

(21)

Hal-hal yang diatur dalam Inpres Nomor 4 Tahun 2020, antara lain: a. Mengutamakan penggunaan alokasi anggaran yang telah ada untuk

kegiatan-kegiatan yang mempercepat penanganan covid-19 (refocusing kegiatan dan realokasi anggaran) dengan mengacu kepada protokol penanganan covid-19 di Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dan rencana operasional percepatan penanganan covid-19 yang ditetapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

b. Mempercepat refocusing kegiatan dan realokasi anggaran melalui mekanisme revisi anggaran dan segera mengajukan usulan revisi anggaran kepada Menteri Keuangan sesuai kewenangannya.

c. Mempercepat pengadaan barang dan jasa untuk mendukung percepatan penanganan covid-19 dengan mempermudah dan memperluas akses sesuai dengan undang-undang Inpres Nomor 4 Tahun 2020 merupakan peraturan kebijakan yang dikeluarkan Presiden dalam penyelenggaraan kewenangan di ranah teknis operasional guna penanganan pandemi covid-19 berkaitan dengan anggaran yang tersedia dalam APBN tahun 2020. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan APD, rumah sakit darurat, obat-obatan, biaya-biaya pendukung medis, dan lainlain

(22)

PENUTUP A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas kami menyimpulkan bahwa Alokasi dana desa merupakam hubungan penyaluran keuangan tingkat pemerintah yaitu hubungan pemerintahan terhadap pemerintahan desa. Untuk dapat merumuskan keuangan yang tepat perlua adanya pemahaman yang dimiliki oleh pemerintah desa. Dimana nantinya anggaran yang diperoleh dapat digunakan sesuai dengan perencaan yang dibuat oleh pemerintah desa yaitu berupa pembagungan serta pemberdayaan desa. Dana tersebut digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan udangan-undang dan ketentuan yang berlaku yang sudah ditetapkan sesuai dengan pemerintahan indonesia.

Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa pada pasal 1 dijelaskan pengertian Desa yakni Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan Desa memiliki peran penting dalam mengatur serta mengurus seluruh warganya hal ini berlaku pada segala aspek dimana hal tersebut termasuk pada pelayanan, pengaturan serta oemeberdayaan masyarakat. Peranan pemerintah desa sangat dibutuhkan bagi masyarakat desa baik pada sarana dan prasarana demi terwujudnya pembangunan yang seutuhnya. Pengembangan dan pengetahuan penyelenggara pemerintah desa merupakan prioritas utama. Sehingga pengembangan wawasan, pengetahuan, sikap dan keterampilan para penyelenggarraan pemerintahan senantiasa teraktualisasi seiring dengan bergulirnya perubahan yang senantiasa terjadi.

(23)

B. Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis terhadap keberadaan dana desa adalah sebagai berikut :

1. Pengaturan tentang penggunaan dana desa pada masa Covid 19 diatur secara jelas oleh peraturan perundang-undangan supaya pemerintah desa seharusnya lebih cermat dan teliti lagi dalam mengelola penggunaan dana desa. Hal ini penting sekali dilakukan, karena untuk menghindari tumpang tindih alokasi anggaran. Pengawasan yang kurang jelas pengaturannya, dapat menimbulkan penyelewengan dana desa.

2. Pengawasan dalam penggunaan Alokasi Dana Desa oleh Pemerintah Kabupaten pada masa Covid 19, sebaiknya pengawasan dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat. Pengawasan yang kurang jelas pengaturannya, dapat menimbulkan penyelewengan dana desa. Pengawas alokasi dana desa seharusnya diseleksi secara ketat oleh Kementerian Desa.

3. Pemerintah sebaiknya mengambil langkah-langkah yang kondusif, konstruktif penanganan pandemi Covid-19 jangan difokuskan di desa dengan penguatan Physical Distancing kemudian ketahanan imunitas dan New Normal maka diyakini bakal berdampak signifikan terhadap penyelesaian Covid-19 di tingkat nasional.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Sutaryo, dkk, Praktis Penyakit Virus Corona 19 (COVID-19),Cetakan 1 Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,2020.

Suyatno, Menyoal Kesiapan Pemerintahan Desa. Jakarta: Media Indonesia, 2015. Wahyu, Ramdani. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setya, 2007.

Universitas Sumatera Utara 81 Widjaja, A.W. Penyelenggaraan Otonomi Di Indonesia Dalam Rangka Sosialisasi UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008.

Carly Erfly Fernando Maun, Efektivitas Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Bagi Masyarakat Miskin Terkena Dampak Covid-19 Di Desa Talaitad Kecamatan Suluun Tareran Kabupaten Minahasa Selatan, diakses melalui TNP2K | Welcome, tanggal 21 Desember 2020, Pukul 21.00 Wib

Endri Kurniawati, https://nasional.tempo.co/read/1322294/ dana-desa-bisadipakai-untuk-penanganan-wabah-virus-corona/full&view=ok/diakses tanggal 21 Desember 2020, Pukul 10.26 Wib

https://jabar.bpk.go.id/penyaluran-dana-desa-untuk-bantuan-langsung-tunaidalam-penanganan-pandemi-corona-virus-disease-19-covid-19/diakses tanggal 21 Desember 2020, Pukul 21.09 Wib

https://www.kemendesa.go.id/berita/view/detil/3233/cair-april-rp-224-triliundana-desa-digunakan-untuk-blt/diakses tanggal 15 November 2020, Pukul 15. 16 Wib

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :