• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS (Science, Environment, Technology, and Society) TERHADAP PRESTASI BELAJAR

DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 2 SUKOHARJO

PADA MATERI MINYAK BUMI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Oleh :

DIAN NUGRAHENI K3308016

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA September 2012 commit to user

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Dian Nugraheni

NIM : K3308016

Jurusan/Program Studi : P.MIPA/Pendidikan Kimia

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “PENGARUH PEMBELAJARAN

BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS (Science, Environment, Technology, and Society) TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 2 SUKOHARJO PADA MATERI MINYAK BUMI TAHUN PELAJARAN 2011/2012 ” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu,

sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, September 2012 Yang membuat pernyataan,

Dian Nugraheni

(3)

iii

PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS (Science, Environment, Technology, and Society) TERHADAP PRESTASI BELAJAR

DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 2 SUKOHARJO

PADA MATERI MINYAK BUMI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh :

DIAN NUGRAHENI K3308016

Skripsi

diajukan sebagai salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Kimia, Jurusan Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA September 2012 commit to user

(4)

iv

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, September 2012

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. rer. nat Sri Mulyani, M.Si. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si.

NIP. 19650916 199103 2 009 NIP. 19711216 199802 2 004

(5)

v

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari :

Tanggal :

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Dra. Bakti Mulyani, M.Si. ________________

Sekretaris : Elfi Susanti V.H., S.Si., M.Si. ________________

Anggota I : Dr. rer. nat Sri Mulyani, M.Si. ________________

Anggota II : Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si. ________________

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta a.n. Dekan,

Pembantu Dekan I,

Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si

(6)

vi

ABSTRAK

Dian Nugraheni. PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN

BERPENDEKATAN SETS (Science, Environment, Technology, and Society) TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 2 SUKOHARJO PADA MATERI MINYAK BUMI TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Skripsi,

Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta. September 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Mengetahui pengaruh pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012 2) Mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012 3) Mengetahui interaksi antara pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dengan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.

Penelitian ini termasuk Quasi Experiment dengan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian adalah Factorial Design 2x2. Pada kelas eksperimen diterapkan pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dan kontrol dengan pembelajaran ceramah dan diskusi kelompok. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMAN 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel dengan cluster

random sampling, sehingga didapatkan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen dan

X-5 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan angket. Teknik analisis data menggunakan uji statistik anava 2 jalan.

Hasil penelitian disimpulkan bahwa : 1) Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa kelas X SMAN 2 Sukoharjo pada materi minyak bumi. Pada aspek kognitif (p 0,03 < 0,05) dan prestasi afektif (p 0,018 < 0,05); 2) Tidak terdapat pengaruh signifikan kemampuan berpikir kritis baik terhadap prestasi kognitif maupun prestasi afektif siswa kelas X SMAN 2 Sukoharjo pada materi

minyak bumi. Pada prestasi kognitif (p 0,515 > 0,05) dan prestasi afektif (p 0,401> 0,05); 3) Tidak ada interaksi antara pembelajaran bervisi dan

berpendekatan SETS dengan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi kognitif maupun prestasi afektif siswa kelas X SMAN 2 Sukoharjo pada materi minyak

bumi Pada prestasi kognitif (p 0,489 > 0,05) dan prestasi afektif sebesar (p 0,890 > 0,05).

Kata Kunci : SETS, Kemampuan Berpikir Kritis, Materi Minyak Bumi

(7)

vii

ABSTRACT

Dian Nugraheni. THE EFFECT OF SETS (SCIENCE, ENVIRONMENT

TECHNOLOGY, AND SOCIETY) AS LEARNING APPROACH AND LEARNING VISION TOWARDS LEARNING ACHIEVEMENT VIEWED FROM CRITICAL THINKING SKILLS OF CLASS X SMAN 2

SUKOHARJO STUDENTS ON THE SUBJECT MATTER OF

PETROLEUM IN THE ACADEMIC YEAR 2011/2012 Thesis, Teacher

Training and Education Faculty Sebelas Maret University of Surakarta. September 2012.

This research’s aims are to know : 1) determine the effect of SETS as learning approach and learning vision towards learning achievement of class X SMAN 2 Sukoharjo students about petroleum in the academic year 2011/2012 2) determine the effect of critical thinking skills to the learning achievement of class X SMAN 2 Sukoharjo students about petroleum in the academic year 2011/2012, 3) know the interaction between SETS as learning approach and learning vision with student’s critical thinking skills towards learning achievement of class X SMAN 2 Sukoharjo students about petroleum in the academic year 2011/2012.

This was Quasi Experiment study with quantitative approach. The study design was a 2x2 factorial design. SETS as learning approach and learning vision applied to the experimental class while lectures and group discussions applied to the control class. The study population was a class X student of SMAN 2 Sukoharjo school year 2011/2012. The sampling technique was cluster random sampling technique, so get class of X-6 as the experimental class and class of X-5 as the control class. Data collection techniques used were tests and questionnaires. While the data analysis techniques used are statistical tests 2 ways ANAVA.

The study concluded that: 1) There was a significant effect of SETS as learning approach and learning vision towards cognitive and affective learning achievement of class X SMAN 2 Sukoharjo students about petroleum. On cognitif achievement (p 0,03 < 0,05) and affective achievement (p 0,018 < 0,05); 2) There was no significant influence of critical thinking skills both on the cognitive and affective performance of a class X SMAN 2 Sukoharjo student achievement about petroleum. On cognitif achievement (p 0,515 > 0,05) and affective achievement (p 0,401> 0,05); 3) There was no interaction between SETS as learning approach and learning vision with student’s critical thinking skills towards learning achievement of class X SMAN 2 Sukoharjo students about petroleum. On cognitif achievement (p 0,489 > 0,05) and affective achievement (p 0,890> 0,05).

Keywords: SETS, Critical Thinking Skills, Petroleum

(8)

viii

MOTTO

“Tengoklah sejarah, tidak Pernah ada kisah si pemalas menjadi orang sukses” -Penulis-

“Kasih sayang Allah pasti datangnya, meski terasa nun jauh disana, ia akan tiba laksana kerdipan mata bila sudah saatnya.”

-Dr. ‘Aidh Al-Qarni-

(9)

ix

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan Skripsi ini untuk :

Kebahagian terbesarku : Bapak Wur, Ibu

Tunik, dan Mbak Mita

Sahabat-sahabat tersayang : Fadil, Chotim,

Tata dan Leni

Elok dan keluarga kecilku di kos pantisari

Almamater.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul ” PENGARUH PEMBELAJARAN BERVISI DAN BERPENDEKATAN SETS (Science, Environment, Technology, and Society) TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 2 SUKOHARJO PADA MATERI MINYAK BUMI TAHUN PELAJARAN 2011/2012” dapat diselesaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penulis menyadari bahwa terwujudnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak, untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Sukarmin, M.Si., Ph.D., selaku Ketua Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Dra. Bakti Mulyani, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta atas ijin penyusunan skripsi.

4. Dr. rer. nat Sri Mulyani, M.Si., selaku Pembimbing I dan Pembimbing Akademik yang telah memberikan perhatian, bimbingan dan pengarahan. 5. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si., selaku Pembimbing II yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan.

6. Prof. Dr. Ashadi selaku panelis instrumen kognitif dan afektif.

7. Drs. Bambang Suryono, Dipl. Ed., selaku kepala SMAN 2 Sukoharjo yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

8. Sri Martini, S.Pd., selaku guru mata pelajaran Kimia yang senantiasa membimbing dan membantu kelancaran penelitian. commit to user

(11)

xi

9. Adek-adekku X-5 dan X-6 SMAN 2 Sukoharjo atas kerjasama dan kesempatan mengenal kalian.

10. Keluarga atas cinta kasih dan doanya. 11. Hesti atas pembuatan cover handoutnya.

12. Kawanku Amalia dan Lucky atas perhatian dan supportnya.

13. Sahabat seperjuangan Chem Edu 08 kelas A atas kebersamaan yang tak ternilai.

14. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Surakarta, September 2012

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGAJUAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN ABSTRAK ... v

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... . 1

B. Rumusan Masalah ... . 3

C. Tujuan Penelitian ... . 4

D. Manfaat Penelitian ... . 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 7

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan ... 7

1. Pembelajaran Kimia ... 7

2. SETS ... 8

3. Kemampuan Berpikir Kritis ... 15

4. Prestasi Belajar ... 20

5. Materi Minyak Bumi ... 23

B. Kerangka Berpikir ... 31

C. Hipotesis ... 32

(13)

xiii

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 33

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

1. Tempat Penelitian ... 33

2. Waktu Penelitian ... 33

B. Desain Penelitian ... 33

C. Populasi dan Sampel ... 34

D. Teknik Pengambilan Sampel ... 35

E. Pengumpulan Data ... 35

1. Metode Tes ... 35

2. Metode Angket ... 35

F. Validasi Instrumen Penelitian ... 36

1. Instrumen Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis ... 36

a. Uji Validitas ... 36

b. Uji Reliabilitas ... 37

2. Instrumen Penilaian Kognitif ... 38

a. Uji Validitas ... 38

b. Uji Reliabilitas ... 40

c. Uji Tingkat Kesukaran Soal ... 41

d. Uji Daya Pembeda ... 42

3. Instrumen Penilaian Afektif ... 43

a. Uji Validitas ... 43

b. Uji Reliabilitas ... 45

G. Analisis Data ... 46

1. Uji Keseimbangan ... 46

2. Uji Prasyarat Analisis ... 47

a. Uji Normalitas ... 48

b. Uji Homogenitas ... 48

3. Uji Hipotesis ... 48

BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 49 A. Deskripsi Data ... commit to user 49

(14)

xiv

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 53

C. Pengujian Hipotesis ... 56

D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 59

BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 66

A. Simpulan ... 66 B. Implikasi ... 66 C. Saran ... 67 DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN ... 72 commit to user

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Proses Penyulingan Minyak Mentah menjadi Fraksi-fraksi

Minyak Bumi...………... 25

2.2 Tabel Jenis Bensin yang Diproduksi Pertamina Beserta Bilangan Oktannya ...………... 27

3.1 Desain Penelitian Factorial Design 2x2………... 34

3.2 Skor Penilaian Afektif………... 36

3.3 Hasil Uji Validitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis……... 37

3.4 Hasil Uji Reliabilitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis……... 38

3.5 Hasil Uji Validitas Formula Gregory Tes Kognitif………... 39

3.6 Hasil Uji Validitas Formula Point Biserial Tes Kognitif... 40

3.7 Hasil Uji Reliabilitas Tes Kognitif... 41

3.8 Hasil Uji Tingkat Kesukaran Tes Kognitif.……... 42

3.9 Hasil Uji Daya Pembeda Tes Kognitif……... 43

3.10 Hasil Uji Validitas Formula Gregory Angket Afektif…... 44

3.11 Hasil Uji Validitas Formula Korelasi Product Moment Angket Afektif...……. 45

3.12 Hasil Uji Reliabilitas Angket Afektif.………... 46

3.13 3.14 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal... Hasil Uji Keseimbangan Kemampuan Awal ... 47 47 4.1 Jumlah Siswa yang Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Tinggi dan Kemampuan Berpikir Kritis Rendah... 49

4.2 Distribusi Frekuensi Skor Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.………... 50

4.3 Distribusi Frekuensi Nilai Kognitif Siswa...………... 51

4.4 Distribusi Nilai Afektif Siswa...……… 52

4.5 Hasil Uji Normalitas Prestasi Belajar Kognitif...….. 53

(16)

xvi

4.6 Hasil Uji Normalitas Prestasi Belajar Afektif...………. 54

4.7 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Belajar Kognitif...………... 55

4.8 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Belajar Afektif... 56

4.9 Hasil Uji Pengaruh Pembelajaran Kimia Bervisi dan

Berpendekatan SETS terhadap Prestasi Belajar Kognitif... 56

4.10 Hasil Uji Pengaruh Pembelajaran Kimia Bervisi dan

Berpendekatan SETS terhadap Prestasi Belajar Afektif... 57

4.11 Hasil Uji Pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis terhadap

Prestasi Belajar Kognitif...…….. 57

4.12 Hasil Uji Pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis terhadap

Prestasi Belajar Afektif...………… 58

4.13 Hasil Uji Interaksi antara Pembelajaran Kimia Bervisi dan

Berpendekatan SETS dengan Kemampuan Berpikir Kritis

terhadap Prestasi Belajar Kognitif.………. 59

4.14 Hasil Uji Interaksi antara Pembelajaran Kimia Bervisi dan

Berpendekatan SETS dengan Kemampuan Berpikir Kritis

terhadap Prestasi Belajar Afektif ………... 59

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Keterkaitan antar Unsur SETS... 11 2.2 Level Berpikir Kritis... 17 2.3

2.4

2.5

Daur Belajar dari Pengalaman yang Distrukturkan... Minyak bumi, Gas Alam, dan Batu Bara dalam Minyak Bumi... Kerangka Berpikir...

19 23 32 3.1 Tahap Pelaksanaan Penelitian... 33

4.1 Histogram Perbandingan Skor Kemampuan Berpikir Kritis

Siswa... 50

4.2 Histogram Distribusi Frekuensi Nilai Kognitif Siswa... 51

4.3 Histogram Distribusi Frekuensi Nilai Afektif Siswa... 52

(18)

xviii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Instrumen Penelitian a. Silabus... b. RPP Kelas Kontrol... c. RPP Kelas Eksperimen... d. Handout Kelas Kontrol... e. Handout Kelas Eksperimen... f. Soal Tryout Tes Kemampuan Berpikir Kritis... g. Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis... h. Kunci Tes Kemampuan Berpikir Kritis... i. Kisi-kisi Soal Tes Kognitif... j. Soal Tryout Tes Kognitif... k. Soal Kognitif... l. Kisi-Kisi Angket Afektif... m. Soal Tryout Angket Afektif... n. Soal Afektif... 2. Analisis Instrumen

a. Panelis Soal Kognitif... b. Perhitungan Validitas Kognitif dengan Formula Gregory.. c. Panelis Soal Afektif... d. Perhitungan Validitas Afektif dengan Formula Gregory.... e. Hasil Tryout Kemampuan Berpikir Kritis... f. Hasil Tryout Tes Kognitif...

g. Hasil Tryout Angket Afektif...

3. Data Penelitian

a. Data Kemampuan Awal Siswa………... b. Data Induk Penelitian... c. Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks SETS...

74 76 82 100 109 144 147 150 151 162 167 171 173 175 177 192 194 200 202 204 210 214 215 217 commit to user

(19)

xix 4. Uji Prasyarat

a. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal... b. Uji Normalitas ……...………... c. Uji Homogenitas ……..………... 5. Uji Hipotesis

a. Uji Hipotesis Kognitif...

b. Uji Hipotesis Afektif ... . 6. Dokumentasi ………...

a. Pembelajaran Kelas Kontrol... b. Pembelajaran Kelas Eksperimen... 7. Perijinan ... 8. Jurnal... 225 226 232 233 234 235 237 239 244 commit to user

(20)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada “mempelajari cara belajar” (learning how to learn) dan bukan semata mempelajari substansi mata pelajaran. Siswa sebagai stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar menyelesaikan masalah (Ismail, 2010). Masalah lingkungan dan masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat

dengan perkembangan sains dan teknologi. Sehingga dimungkinkan

menggunakan keterkaitan tersebut sebagai cara pandang atau visi kita dalam melihat sesuatu. Dalam hal ini meniadakan keterkaitan unsur sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat menjadi tidak relevan dalam konteks pendidikan masa sekarang (Pusat Kurikulum Depdiknas, 2007). Untuk itu perlu diterapkan pilihan pembelajaran yang tepat misalnya Pendidikan bervisi dan berpendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society).

Pada hakekatnya, visi SETS berarti cara pandang ke depan untuk membawa ke arah pemahaman bahwa segala sesuatu yang kita hadapi dalam kehidupan ini mengandung aspek sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat sebagai satu kesatuan serta saling mempengaruhi secara timbal balik. (Binadja, 2005). Sedangkan sebagai pendekatan, SETS berarti merupakan cara pembelajaran bersifat terpadu yang melibatkan keempat unsur Science,

Environment, Technology, Society.

Sejalan dengan pendidikan bervisi dan berpendekatan SETS, Depdiknas (2003) mengungkapkan tujuan pembelajaran kimia salah satunya yaitu memahami

konsep-konsep kimia, saling keterkaitannya dan penerapannya untuk

menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi. Menurut Ultay dan Calık (2007) di berbagai negara, pembelajaran kimia masih belum

(21)

masyarakat dan pembelajaran dengan menghafal fakta, teori dan aturan. Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia dimana pembelajaran kimia SMA cenderung lebih menekankan pengetahuan sains murni, akibatnya siswa kurang memiliki kemampuan memandang sains sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat (Binadja, Wardani, & Nugroho, 2008). Sehingga visi dan pendekatan SETS cocok diterapkan dalam pembelajaran kimia agar siswa melek sains, teknologi dan lingkungan (Sciencetific and

Technology and Environment Literacy). Melek sains, teknologi dan lingkungan

merupakan salah satu syarat seseorang dapat hidup dan bekerja, serta mampu membuat keputusan yang tepat dan dapat melakukan tindakan pribadi dan sosial yang bertanggung jawab (Hidayat dalam Galib, 2009).

Karakteristik materi Minyak Bumi dimungkinkan diterapkan pendekatan kontekstual yang bisa ditempuh melalui pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS. Melalui wawancara dengan guru kimia SMA Negeri 2 Sukoharjo, diketahui nilai rata-rata ulangan harian siswa pada materi minyak bumi adalah 70,5. Sedangkan presentase siswa yang dapat mencapai batas tuntas (75) pada ulangan harian minyak bumi 74,7 % (rekap nilai tahun pelajaran 2010/2011). Pembelajaran materi minyak bumi diajarkan dengan metode ceramah, tanya jawab dan terkadang dengan diskusi. Pembelajarannya hanya dilakukan sekilas, karena menurut guru yang mengampu, materi minyak bumi bersifat hafalan dan dapat dipelajari siswa dengan membaca sendiri. Padahal, materi minyak bumi erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini minyak bumi menjadi prioritas utama sebagai sumber energi global untuk hampir semua aspek kehidupan. Dan tentunya dalam pengolahan dan penggunaan minyak bumi banyak melibatkan teknologi dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan masyarakat. Akan lebih bermanfaat jika model pembelajaran minyak bumi diperbaiki menjadi sesuatu pembelajaran bermakna. Pembelajaran bermakna yang dimaksud adalah siswa memahami hubungan minyak bumi dalam keseharian dan lingkungan serta mengonstruksi sendiri pengetahuan sainsnya untuk memecahkan masalah akibat penggunaan minyak bumi melalui teknologi yang telah dipelajari.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(22)

Dalam pembelajaran konvensional, siswa belum sepenuhnya dapat mengekspresikan pertanyaan-pertanyaan kritis (critical questions). Kemampuan bertanya dan mengemukakan pendapat kurang diberi tempat sehingga menjadi tidak terlatih. Banyak siswa mempunyai tingkat hapalan yang baik, namun kurang memahami dan memaknai apa yang telah dipelajarinya. Guru masih mengabaikan apa yang disebut kemampuan berpikir kritis. Padahal kemampuan ini mempunyai andil yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Menurut Jelita (2010) hasil pembelajaran sangat bergantung kepada pendekatan yang digunakan, apakah pendekatan tersebut membutuhkan kemampuan yang reproduktif ataukah yang analitik. Pendekatan pembelajaran yang reproduktif akan menghasilkan siswa yang mampu menyimpan, mengingat, dan meniru. Sehingga tidak cocok untuk siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kritis. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang mengedepankan kemampuan analisis akan cocok pada pemikir kritis. Dalam pembelajaran SETS, untuk mengaitkan antar elemen SETS, diperlukan pemikiran yang mendalam berupa identifikasi dan analisis tentang apa dan bagaimana konsep yang sedang dipelajari. Oleh karena itu diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam prosesnya. Berdasarkan keterkaitan kemampuan berpikir kritis dengan SETS, diduga siswa dengan kemampuan berpikir kritis tinggi dalam pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dapat mempunyai prestasi yang tinggi pula. Sedangkan siswa yang kemampuan berpikir kritisnya rendah mempunyai prestasi yang lebih rendah. Karena begitu pentingnya dalam pembelajaran, guru perlu memperhatikan kemampuan berpikir kritis siswa sehingga terakomodasi dengan baik guna meningkatkan prestasi belajar.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang pengaruh pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS terhadap prestasi belajar ditinjau dari kemampuan berpikir kritis siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(23)

1. Adakah pengaruh pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?

2. Adakah pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?

3. Adakah interaksi antara pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dengan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui pengaruh pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.

2. Mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.

3. Mengetahui interaksi antara pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dengan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar pada materi Minyak Bumi siswa kelas X SMA Negeri 2 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

a. Memberi informasi tentang pendekatan pembelajaran yang bersifat konstekstual serta terintegrasi dengan lingkungan, teknologi dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(24)

masyarakat yaitu SETS untuk menghilangkan pandangan sains hanya berupa kumpulan teori.

b. Memberikan sumbangan pemikiran mengenai pentingnya memperhatikan kemampuan berpikir kritis siswa di dalam pembelajaran.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Sekolah : Memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam rangka perbaikan dan peningkatan proses belajar mengajar.

b. Bagi Guru : Memberikan masukan tentang pendekatan pembelajaran

kimia yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta memberi masukan agar memperhatikan kemampuan berpikir kritis siswa di dalam kelas.

c. Bagi Siswa : Meningkatkan minat dan prestasi belajar kimia pada

materi minyak bumi

(25)

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

1. Pembelajaran Kimia

Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar. Menurut Slameto, “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” ( 2003: 2).

Belajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Karena pembelajaran yang dimaksud merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya. Mulyasa (2009) mengungkapkan pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Di dalam pembelajaran kimia bukan hanya terfokus pada penanaman pengetahuan kimia, sebagaimana masih banyak dipahami oleh banyak praktisi pendidikan saat ini, melainkan jauh lebih luas dari itu. Pendidikan kimia bertujuan pula mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dengan metode ilmiah, menumbuhkan sikap ilmiah, membentuk sikap positif terhadap kimia, serta memahami dampak lingkungan dan sosial dari aplikasi kimia. Keseluruhan tujuan pendidikan kimia perlu menjadi arah implementasi pendidikan kimia di sekolah.

Menurut Firman H. (2007) ada lima prasyarat yang harus dipenuhi oleh suatu pembelajaran kimia agar menarik, mudah dicerna, serta bermanfaat bagi siswa, yaitu harus mampu:

a. Mengembangkan pemahaman peserta didik yang kuat terhadap pengetahuan dasar kimia.

b. Mengembangkan kemampuan peserta didik melakukan penyelidikan dan memecahkan masalah.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(26)

c. Memperluas wawasan peserta didik mengenai dampak sosial dan lingkungan yang terkait pada penerapan atau penggunaan proses dan produk kimia di masyarakat.

d. Memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis peserta didik.

e. Mencerahkan peserta didik tentang karir masa depan yang terkait kimia. Untuk menciptakan pembelajaran kimia yang efektif sesuai poin e, perlu upaya perubahan pola pembelajaran kimia di kelas. Sedikit demi sedikit diharapkan terjadi pergeseran (shifting) dari paradigma pembelajaran lama ke paradigma pembelajaran baru sebagaimana berikut:

a. Dari mengingat ke arah berpikir/bernalar.

b. Dari menyampaikan secara verbal seluruh materi pelajaran ke arah yang lebih menekankan materi kunci (sentral).

c. Dari pembelajaran berbasis konten ke arah keseimbangan antara konten dan proses.

d. Dari teoritik ke arah aplikasi.

e. Dari teacher centered ke arah learner centered.

f. Dari penyajian secara steril ke arah keterkaitan pada isu sosial dan lingkungan.

(Firman dalam Firman, H., 2007)

2. Science, Environment, Technology, Society (SETS) a. Konsep Pembelajaran SETS

SETS merupakan singkatan Science, Environment, Technology,

Society atau dalam bahasa indonesia adalah Sains, Lingkungan, Teknologi

dan Masyarakat biasa disebut Saling Temas. “SETS diturunkan dengan landasan filosofis yang mencerminkan kesatuan unsur SETS dengan mengingat urutan unsur-unsur SETS dalam susunan akronim tersebut” (Pusat Kurikulum Depdiknas, 2007: 7). Urutan singkatan SETS memberi gambaran bahwa untuk mengaplikasikan sains ke dalam bentuk teknologi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, harus dipikirkan berbagai implikasi pada lingkungan secara fisik maupun mental. Pembelajaran commit to user

(27)

berpendekatan SETS ditujukan untuk membantu siswa memahami sains dan perkembangannya serta pengaruh perkembangan sains terhadap lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.

Pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS ini dapat dipandang sebagai turunan dari konsep pembelajaran STS (Science,

Technology, Society) yang berarti Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)

dan EE (Environmental Education) yang diterjemahkan menjadi pendidikan berwawasan lingkungan. (Binadja, 1999b)

b. Hakekat SETS dalam Pembelajaran

Hakekat SETS dalam pembelajaran merefleksikan bagaimana harus melakukan dan apa saja yang bisa dijangkau oleh pembelajaran

SETS. Pembelajaran SETS harus mampu membuat peserta didik yang

mempelajarinya baik siswa maupun warga masyarakat benar-benar mengerti hubungan tiap-tiap elemen dalam SETS. Hubungan yang tidak terpisahkan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat merupakan hubungan timbal balik dua arah yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun kerugian-kerugian yang dihasilkan. Pada akhirnya peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap problem yang berkaitan dengan kekayaan bumi maupun isu-isu sosial serta isu-isu global, hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.

Keberhasilan Pembelajaran SETS dengan kedalaman yang memadai sangat relevan untuk memecahkan problem yang melanda kehidupan sehari-hari. Misalnya masalah pencemaran, bencana alam, kesehatan masyarakat dan lain-lainnya. Isu-isu tersebut dapat dibawa ke dalam kelas dan dikaji melalui pembelajaran SETS untuk dicarikan pemecahannya, paling tidak pencegahannya (Utomo, 2011).

Pembelajaran SETS pada hakekatnya akan membimbing peserta didik untuk berpikir global dan bertindak lokal maupun global dalam memecahkan masalah-masalah lingkungan dan menanggulangi isu-isu sosial (Binadja, 1999a). Peserta didik dilatih agar mampu berpikir dengan kadar kemampuan berpikir dan bernalarnya. Peserta didik juga dibimbing

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(28)

untuk memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah di masyarakat dan berperan aktif untuk turut mencari pemecahannya. (Mahanani, 2011)

c. Pembelajaran Bervisi dan Berpendekatan SETS

Perkembangan sains dan teknologi serta dampaknya pada lingkungan dan masyarakat, menjadi semakin tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Mengingat keterkaitan yang sangat erat antara lingkungan, teknologi, dan masyarakat dengan sains, maka sangat dimungkinkan untuk menggunakan keterkaitan tersebut sebagai cara pandang atau visi kita dalam melihat sesuatu. Oleh karena itu meniadakan keterkaitan keempat unsur tersebut menjadi tidak relevan dalam konteks pendidikan masa kini. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang mengembangkan konsep sains, dengan memperhatikan penggunaanya pada teknologi, dan dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat, maka dikembangkanlah pendekatan Science, Environment, Technology, and

Society (SETS) sebagai pilihan dalam proses pembelajaran yang ada.

Sebagai visi, SETS merupakan cara pandang yang

memungkinkan kita dapat melihat bahwa di dalam sesuatu yang kita kenal, terdapat kesaling-terkaitan antara konsep sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat sebagai satu kesatuan terintegratif (Binadja, 2006).

Dalam pembelajaran, secara sengaja kita membawa pemikiran para peserta didik tentang keberadaan keempat unsur SETS serta berbagai implikasi yang terkandung atau tercakup di dalamnya ketika mereka ”melihat” sesuatu. Dari sana diharapkan peserta didik dapat menghasilkan pemikiran atau gagasan-gagasan baru (inovatif) yang dapat dihasilkan dari hasil ”penglihatan” itu sesuai dengan kemampuan mereka di jenjang usia atau jenjang pendidikan yang mereka lewati dengan memadukan berbagai macam pengalaman hidup mereka (Pusat Kurikulum Depdiknas, 2007: 2).

Sehingga dalam pendidikan SETS, peserta didik benar-benar

learning to know–learning to do–learning to be–learning to live together

dan learning how to care the environment (Binadja, 2006).

(29)

Sebagai pendekatan, SETS merupakan bentuk kegiatan pembelajaran yang didalamnya unsur-unsur sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat dikaitkan secara timbal balik dalam konteks konsep yang dibelajarkan, terlepas bidang kajian yang diperkenalkan kepada peserta didik (Binadja, 2005). Dengan pendekatan ini, peserta didik dikondisikan agar mau dan mampu mengetahui, memahami prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi disertai dengan pemikiran untuk mengurangi atau mencegah kemungkinan dampak negatif yang timbul dari munculnya suatu produk teknologi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pembelajaran yang menggunakan visi dan pendekatan SETS memandang kurikulum dalam konteks interdisiplin dengan perspektif personal dan sosial. Selain itu, pembelajaran dengan visi dan pendekatan ini berupaya membangun pengetahuan, keterampilan, dan kualitas yang efektif supaya dapat bertindak secara bertanggung jawab dalam mengambil keputusan atas isu-isu sains dan teknologi terkait masalah sosial (Pusat Kurikulum Depdiknas, 2007).

Dalam pendidikan SETS, pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan SETS itu sendiri. Sejumlah ciri atau karakteristik dari pendekatan SETS (Binadja, 2005) adalah:

1) Tetap memberi pengajaran sains.

2) Murid dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.

3) Murid diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains ke bentuk teknologi. 4) Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains

yang diperbincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi keterkaitan antara unsur tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi berkenaan.

5) Dalam konteks konstruktivisme murid dapat diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa bersangkutan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(30)

Pembelajaran berpendekatan SETS harus mampu membuat siswa yang mempelajarinya mengerti hubungan tiap-tiap elemen dalam SETS.

Gambar 2.1 Keterkaitan antar Unsur SETS (Binadja, 1999a: 4)

Unsur-unsur SETS tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Di dalam bidang pendidikan sains, yang khususnya menjadi fokus adalah sains. Dengan sains sebagai fokus perhatian, guru dan siswa yang menghadapi pelajaran sains dapat melihat bentuk keterkaitan dari ilmu yang dipelajarinya (sains) dengan unsur lain dalam SETS. Keterkaitan antara unsur SETS dengan sains sebagai fokus perhatian digambarkan dalam Gambar 2.1

Hubungan yang tidak terpisahkan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat merupakan hubungan timbal balik yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun kerugian-kerugian yang ditimbulkan. Apabila siswa selalu dibiasakan memikirkan keterkaitan positif dan negatif antara elemen-elemen SETS, maka siswa akan selalu berusaha menganalisis kondisi dan mensintesis sesuatu yang baru.

Berdasarkan pemikiran Pendidikan SETS kita dapat membangun generasi muda yang melihat ke depan (futuristik) ke arah peningkatan kualitas hidup setiap anggota masyarakat.

Yang perlu diperhatikan dalam membelajarkan SETS untuk major sains di Sekolah Menengah adalah sebagai berikut.

1) Topik yang dipilih hendaknya memunculkan sains yang telah dikenal dalam kurikulum, dan dititikberatkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun masyarakat. commit to user

(31)

2) Hendaknya diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa

kepedulian tentang keberadaan sains, teknologi, lingkungan,

masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah.

3) Pemilihan materi pengajaran hendaklah yang dapat membawa peserta didik ke arah ‘melek’ sains dan teknologi beserta penerapannya dan berbagai dampaknya positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, serta pada teknologi itu sendiri sehingga dapat lebih menumbuhkan kepedulian peserta didik dan tanggung jawab mereka pada pemecahan masalah lingkungan dan masyarakat.

4) Pembuatan bahan evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, lingkungan yang relevan.

(Utomo, 2010)

Di dalam kegiatan pembelajaran bervisi sekaligus berpendekatan SETS, bahan-bahan yang diperlukan untuk kegiatan belajar mengajar dapat diambil dari berbagai sumber atau dikembangkan sendiri sesuai dengan selera gaya penyajian oleh guru sebagai fasilitator pembelajaran (Binadja, 2006).

Karena SETS belum mempunyai sintaks pembelajaran, peneliti menggunakan sintaks dari STS yaitu Science, Technology, and Society yang merupakan asal-usul dari SETS itu sendiri. Adapun sintaks STS adalah sebagai berikut:

1) Pendahuluan : Inisiasi/ Invitasi/ Apersepsi terhadap siswa

Tahapan ini dimulai dengan mengemukakan isu yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini bisa digali dari siswa sendiri atau jika sulit dilaksanakan, dapat dikemukakan oleh guru langsung. tahapan ini disebut inisiasi yang berarti memulai dan dapat disebut juga invitasi yang dimaksudkan berfungsi sebagai undangan agar siswa memusatkan perhatian pada pembelajaran. Disamping itu dapat pula dilakukan apersepsi, yang paling khas dari STS sendiri adalah apersepsi/ mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa sehari-hari dengan materi yang akan disampaikan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(32)

2) Pembentukan Konsep

Proses ini dapat ditempuh dengan memberi siswa stimulan berupa gambar atau fenomena mengenai masalah yang dikemukakan sebelumnya. Pada akhirnya diharapkan siswa dapat mengkonstruksi konsep bahkan mengembangkan konsep yang nantinya digunakan untuk menyelesaikan masalah.

3) Aplikasi Konsep

Konsep hasil tahap pengembangan konsep sebelumnya dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau isu lingkungan yang terjadi.

4) Pemantapan Konsep

Tahapan ini perlu dilaksanakan guru agar tidak terjadi miskonsepi pada siswa.

5) Penilaian

Penilaian dilaksanakan untuk melihat keberhasilan pembelajaran. Penilaian atau evaluasi ini dapat berupa tes lisan maupun tertulis.

Dalam beberapa penelitian, SETS terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Yörük, Morgil dan Seçken (2010) dalam jurnal The Effects of Science,

Technology, Society, Environment (STSE) Interactions on Teaching Chemistry menyimpulkan bahwa pendekatan STSE dapat diidentifikasi

sebagai metodologi mengajar produktif untuk siswa dengan meningkatnya tingkat prestasi kelompok eksperimen menjadi lebih tinggi.

2) Di dalam laporan penelitian yang disusun oleh Yamtinah, Saputro, Masykuri (2008) diungkapkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis SETS mampu meningkatkan hasil belajar kimia pada siswa dengan tingkat ketuntasan belajar rata-rata mencapai 77,7%

3) Pada Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia II, makalah Khoiriyah, Saputro, Masykuri, & Yamtinah (2010) yang berjudul “Aplikasi PBI berbasis SETS pada Materi Zat Aditif dalam Bahan

(33)

berbasis SETS dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada zat aditif dalam bahan makanan. Ketuntasan belajar klasikal meningkat dari pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Sebanyak 93,75% siswa menyatakan tanggapannya terhadap pembelajaran tersebut adalah menarik, mudah dipahami, merupakan pembelajaran, aktif, menyenangkan dan inovatif. 4) Riandari, Masykuri, Saputro, & Yamtinah (2010) dalam penelitiannya

yang diungkapkan pada Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia II dengan judul “ Upaya Peningkatan Pemahaman Siswa pada Materi Pembelajaran Klasifikasi Bahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari di SMP Negeri 26 Surakarta Melalui Pendekatan SETS Tahun Pelajaran 2009/2010 menyatakan bahwa pendekatan SETS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan, kerjasama kelompok yang semakin baik dengan pemecahan masalah secara “Win-win solution” sedangkan prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dilihat dari tingkat pemahaman siswa dari 21 % menjadi 81,6 %.

5) Menurut Binadja, Wardani, & Nugroho (2008) dalam jurnalnya “ Keberkesanan Pembelajaran Kimia Materi Ikatan Kimia Bervisi SETS pada Hasil Belajar Siswa” menyatakan bahwa pembelajaran bervisi SETS membentuk kesan positif dalam diri siswa kelas X SMA Negeri 1 Pati dan kesan positif yang timbul akibat pembelajaran bervisi SETS berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Pati.

6) Di dalam jurnal Nuryanto dan Binadja (2010) yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan Saling Temas Ditinjau dari Minat dan Hasil Belajar” diungkapkan bahwa (1) nilai rata-rata minat belajar siswa pada pembelajaran Ikatan Kimia dengan pendekatan SALINGTEMAS sebesar 88 untuk kelas eksperimen dan 73 untuk kelas kontrol, (2) hasil belajar Ikatan Kimia adalah 86 untuk kelas eksperimen dan 68 untuk kelas kontrol.

7) Pujio (2011) dalam tesisnya “Studi Komparasi Kesadaran Lingkungan Hidup Melalui Pembelajaran Konsep Lingkungan Hidup Dengan Model

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(34)

PBI dan SETS pada Siswa Kelas X SMK 1 Kedungwuni Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2010/ 2011”. Tingkat kesadaran lingkungan hidup melalui pembelajaran konsep Lingkungan Hidup dengan menggunakan model SETS lebih baik (tinggi) dari model PBI pada siswa kelas X SMK 1 Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Hasil rata-rata posttest dengan pendekatan SETS sebesar 80,125 sedangkan dengan pendekatan PBI diperoleh hasil post test rata-rata sebesar 75.

3. Kemampuan Berpikir Kritis a. Makna Berpikir Kritis

“Salah satu keahlian yang berhubungan dengan pemecahan masalah adalah kemampuan berpikir kritis” (King, 2008: 333). Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya.

Definisi mengenai berpikir kritis telah banyak ditawarkan. Menurut King (2008: 333) ”Critical thinking as thinking reflectively and

productively and evaluating the evidence”. Sedangkan menurut Johnson

(2009), berpikir kritis merupakan sebuah proses terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah.

Proses menggunakan kemampuan berpikir kritis dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu digambarkan pada Gambar 2.2 :

(35)

Gambar 2.2 Level Berpikir Kritis (Boss, 2010 )

1) Experience

Experience/ pengalaman adalah pondasi berpikir kritis dan

berargumentasi. Pengalaman menyediakan bahan untuk interpretasi dan analisis.

2) Interpretation

Interpretation/ interpretasi meliputi mencoba membuat masuk akal

pengalaman kita. Beberapa interpretasi kita mungkin diinformasikan dengan baik, beberapa lagi berdasarkan opini atau perasaan seseorang dan prasangka.

3) Analysis

Analysis/ analisis diperlukan ketika kita meningkatkan level berpikir

dan menguji secara kritis interpretasi kita dari pengalaman, sebaik lainnya, menolak salah satu interpretasi terbatas dari pengalaman atau interpretasi yang terlalu luas. Analisis akan sangat produktif ketika sudah dikumpulkan karena setiap orang membawa pengalaman dan interpretasi yang berbeda (Boss, 2010).

b. Indikator Berpikir Kritis

Ennis dalam Achmad (2007, 2) mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut: analysis interpretation experience perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

(36)

1) Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.

2) Membangun kemampuan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.

3) Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau

mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi atau

mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan.

4) Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi.

5) Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Indikator-indikator tersebut dalam prakteknya dapat bersatu padu membentuk sebuah kegiatan atau terpisah-pisah hanya beberapa indikator saja.

Sedangkan menurut Langrehr (2006), karakteristik pemikir kritis bisa dilihat dari sikapnya yang dapat :

1) Membedakan fakta, bukan fakta, dan opini

2) Membedakan kesimpulan yang tidak pasti dari pengamatan langsung 3) Menguji keandalan dari suatu pernyataan

4) Membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan 5) Berpikir kritis terhadap apa yang dibaca

6) Membuat keputusan 7) Mengenali sebab akibat

8) Mempertimbangkan sudut pandang lain 9) Mengajukan pernyataan

(37)

c. Manfaat Berpikir Kritis

Menurut Hashemi, Naderi, Shariatmadari, Naraghi & Mehrabi (2010, 3) manfaat berpikir kritis diungkapkan sebagai berikut:

Critical thinking helps us not to admit any speech blindly and without reason, and place a question sign opposite of colourful models that are inspired smartly. Critical thinking helps us to be reasonable and civilized citizens; other usage that this thinking has in society, is establishing a critical morale in people.

Kurang lebih diartikan sebagai berikut : berpikir kritis membantu kita tidak menerima begitu saja tanpa alasan dan menempatkan tanda tanya melawan model yang penuh warna yang terinspirasi secara cerdas. Berpikir kritis membantu kita menjadi warga negara yang masuk akal dan beradab, manfaat lain pemikiran kritis dalam masyarakat adalah menetapkan semangat kritis pada orang-orang.

d. Pembelajaran Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan untuk SMA yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006. Dalam pendidikan kita masih banyak pembelajaran yang belum membangun kesadaran kritis siswa.

Menurut Murwani (2006), Kita lebih banyak menjejalkan pengetahuan ke dalam otak siswa tanpa mau tahu apakah pengetahuan yang kita berikan diserap dengan baik atau tidak karena kita hanya menuntut mereka untuk menghafalkan apa yang kita berikan. Tidak heran kalau siswa sering kali menjawab “tidak tahu” jika guru bertanya sesuatu yang baru saja diajarkan (hlm. 60)

Berpikir kritis merupakan salah satu ciri manusia yang cerdas. Akan tetapi berpikir kritis akan terjadi apabila didahului dengan kesadaran kritis yang diharapkan dapat ditumbuhkembangkan melalui pendidikan. Pembelajaran yang membangun kesadaran berpikir kritis tidak dapat dilakukan dengan metode ceramah yang selama ini masih diterapkan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(38)

Ciri-ciri pokok dari pembelajaran yang membangun kesadaran kritis (Murwani, 2006), yaitu :

1) Pengalaman : yang diajarkan bukan teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, dsb tetapi realitas nyata.

2) Tidak menggurui : guru dan murid sama- sama belajar.

3) Dialogis : prosesnya bukan bersifat satu arah tetapi lebih pada diskusi kelompok, bermain peran dsb dan menggunakan media (peraga, grafik, audio visual, dsb)

Panduan proses belajar harus disusun dan dilaksanakan dalam suatu proses yang dikenal sebagai structural experiences learning cycle (Gambar 2.3)

Gambar 2.3 Daur Belajar dari Pengalaman yang Distrukturkan (Murwani, 2006: 65)

Proses ini memungkinkan setiap orang untuk mencapai pemahaman dan kesadaran kritis dengan cara terlibat didalamnya secara langsung ataupun tidak. Proses yang melibatkan setiap orang yang belajar itu adalah :

1) Rekonstruksi: menguraikan kembali rincian (fakta, unsur-unsur, urutan kejadian, dll). Ini tahap proses mengalami, menggali pengalaman dengan cara melakukan kegiatan.

2) Ungkapan: menyatakan kembali apa yang sudah dialami, bagaimana tanggapan, kesan atas pengalaman tersebut. commit to user

(39)

3) Analisis: mengkaji sebab dan kaitanpermasalahan yang ada dalam realitas tersebut yaitu tatanan, aturan-aturan, sistem dari pokok pembahasan.

4) Kesimpulan: merumuskan hakekat dari apa yang dipelajari, sehingga terjadi pemahaman baru yang lebih utuh, berupa prinsip-prinsip, kesimpulan umum dari kajian atas pengalaman.

5) Tindakan: memutuskan dan melaksanakan tindakan-tindakan baru yang lebih baik berdasarkan pemahaman atau pengertian atas realitas tersebut, sehingga ada kemungkinan menciptakan realitas baru yang lebih baik.

Proses pendidikan kritis untuk menumbuhkan kesadaran kritis, akan tercapai jika guru menempatkan diri sebagai fasilitator yang siap untuk melayani siswa dalam belajar, bukan untuk menggurui dan berlaku sebagai satu-satunya sumber ilmu dan kebenaran (Murwani, 2006).

4. Prestasi Belajar

Untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan mengajar guru dan belajar peserta didik secara tepat (valid) dan dapat dipercaya (reliabel), diperlukan informasi yang didukung oleh data yang objektif dan memadai tentang indikator-indikator perubahan perilaku dan pribadi peserta didik yang disebut sebagai prestasi belajar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007: 895), “ Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dsb)”.

Bahri (1994) memberikan batasan bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.

Prestasi belajar yang dicapai masing-masing individu tidak sama. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, baik dalam maupun dari luar individu. Faktor dari dalam individu atau sering disebut faktor internal antara lain: motivasi, kreativitas, kematangan fisik maupun mental dan sebagainya,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(40)

sedangkan faktor dari luar atau faktor eksternal contohnya : faktor lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, budaya dan sebagainya.

Arifin (2009) menyebutkan pentingnya prestasi belajar karena mempunyai fungsi utama antara lain: (1) Sebagai indikator kuantitas dan kualitas pengetahuan yang telah dikuasai siswa; (2) sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu; (3) sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan; (4) sebagai indikator intern dan ekstern dari institusi pendidikan, dan (5) dijadikan indikator daya serap (kecerdasan).

Pada Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia (Depdiknas, 2003) dijelaskan bahwa untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah memiliki kompetensi dasar perlu dikembangkan suatu sistem penilaian.

Sistem penilaian yang dilakukan harus mencakup seluruh kompetensi dasar dengan menggunakan indikator yang dikembangkan oleh guru. Sistem penilaian berbasis kompetensi yang direncanakan adalah sistem penilaian berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasil dianalis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.

Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar penentuan tingkat keberhasilan peserta didik dalam penguasaan kompetensi dasar yang diajarkan diperlukan adanya berbagai jenis tagihan. Jenis tagihan yang dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi meliputi : 1) kuis; 2) pertanyaan lisan di kelas; 3) ulangan harian; 4) tugas individu; 5) tugas kelompok; 6) ulangan blok; 7) laporan praktikum pengamatan dan sebagainya yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran. Adapun bentuk soal atau instrumen tes yang dipakai dalam sistem penilaian kurikulum 2004 SMA adalah sebagai berikut : 1) pilihan ganda; 2) uraian obyektif; 3) uraian non objektif; 4) jawaban singkat; 5) menjodohkan; 6) performansi; dan 7) portofolio.

Hal ini selaras dengan ayat 4 pasal 3 Keputusan Mendiknas Nomor

(41)

kelas dan ujian meliputi aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik”. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif, dan tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor.

a. Ranah Kognitif

Ranah kognitif yaitu kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip-prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan pengembangan keterampilan intelektual (knowledge) dalam berbagai tingkatan, yaitu: (a)

Recall of data (Hapalan/C1); (b) Comprehension (Pemahaman/C2); (c) Application (Penerapan/C3); (d) Analysis (Analisis/C4); (e) Synthesis

(Sintesis/C5); dan (f) Evaluation (Evaluasi/C6)

b. Ranah Afektif

Ranah afektif berkaitan dengan perkembangan emosional individu siswa seperti sikap (attitude), apresiasi (appreciation), minat, perhatian, penghargaan, proses internalisasi dan pembentukan karakter diri. Hasil belajar pada ranah afektif dapat ditunjukan dengan adanya perubahan positif pada tingkah laku siswa, seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasan belajar dan hubungan sosial yang baik.

Bloom membagi ranah afektif dalam lima kategori, yaitu: (a)

Receiving (Penerimaan); (b) Responding (Pemberian respon); (c) Valueing (Penilaian); (d) Organization (Pengorganisasian); dan (e) Characterization (Karakterisasi)

c. Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor berhubungan dengan kemampuan gerak siswa atau manipulasi yang bukan disebabkan oleh kematangan biologis. Kemampuan gerak atau manipulasi tersebut akan terkendali oleh kematangan psikologis siswa itu sendiri. (Sudjana, 2006).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(42)

5. Materi Minyak Bumi

a. Pembentukan Minyak Bumi

Keberadaan minyak bumi di alam merupakan hasil pelapukan fosil-fosil tumbuhan dan hewan pada zaman purba jutaan tahun silam.

Organisme-organisme tersebut kemudian dibusukkan oleh

mikroorganisme dan kemudian terkubur dan terpendam dalam lapisan kulit bumi. Dengan tekanan dan suhu yang tinggi, maka setelah jutaan tahun lamanya, material tersebut berubah menjadi minyak yang terkumpul dalam pori batu kapur atau batu pasir. Oleh karena pori-pori batu kapur bersifat kapiler, maka dengan prinsip kapilaritas, minyak bumi yang terbentuk tersebut perlahan-lahan bergerak ke atas. Ketika gerakan tersebut terhalang oleh batuan yang tidak berpori, maka terjadilah penumpukan minyak dalam batuan tersebut (Utami, Saputro, Mahardiani, Yamtinah & Mulyani, 2009: 206).

Proses pengeboran minyak bumi dan gas alam tersebut digambarkan pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Minyak Bumi dan Gas Alam dalam Kulit Bumi (Utami, dkk., 2009: 207)

Untuk mengeluarkan minyak bumi, terlebih dahulu harus mengetahui sumber minyak bumi. Ini merupakan tugas dari para insinyur

(43)

Hal pertama yang dilakukan adalah mencari petunjuk di permukaan bumi seperti adanya lipatan batuan. Selanjutnya area tersebut diselidiki menggunakan pancaran gelombang seismik. Pancaran gelombang seismik digunakan untuk menentukan struktur batuan pada lapisan kulit bumi. Gelombang seismik diciptakan menggunakan ledakan kecil. Ledakan ini akan menghasilkan gelombang dan mengirimkannya

sampai kedalaman tertentu. Jika ada struktur batuan yang

menggelembung (anti cline), gelombang akan dipantulkan kembali. Pantulan ini dapat dideteksi oleh sensor sehingga dapat diketahui secara akurat posisi minyak bumi.

Di Indonesia banyak sekali sumber minyak bumi. Berikut ini merupakan daerah pengeboran minyak bumi di Indonesia....

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(44)

Foto pengeboran minyak Exxon di Bojonegoro

Disamping manfaat yang didapat dari pengeboran minyak bumi, ternyata juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Coba perhatikan gambar-gambar diatas ini!

b. Komponen-komponen Minyak Bumi

Komponen-komponen minyak bumi sebagai berikut:

1) Golongan Alkana

Golongan alkana yang tidak bercabang terbanyak adalah n–oktana, sedang alkana bercabang terbanyak adalah isooktana (2,2,4– trimetilpentana).

2) Golongan Sikloalkana

Golongan sikloalkana yang terdapat pada minyak bumi adalah siklopentana dan sikloheksana.

(45)

3) Golongan Hidrokarbon Aromatik

Golongan hidrokarbon aromatik yang terdapat dalam minyak bumi adalah benzena.

4) Senyawa-senyawa Lain

Senyawa-senyawa mikro yang lain, seperti senyawa belerang berkisar 0,01– 7%, senyawa nitrogen berkisar 0,01 – 0,9%, senyawa oksigen berkisar 0,06– 0,4%, dan mengandung sedikit senyawa organologam yang mengandung logam vanadium dan nikel.

c. Pengolahan Minyak Bumi

Minyak mentah atau disebut dengan crude oil ini berbentuk cairan kental hitam dan berbau kurang sedap, yang selain mengandung kotoran, juga mengandung mineral-mineral yang larut dalam air. Minyak ini belum dapat digunakan untuk bahan bakar atau berbagai keperluan lainnya, tetapi harus melalui pengolahan terlebih dahulu. Pada prinsipnya pengolahan minyak bumi dilakukan dengan dua langkah, yaitu desalting dan distilasi.

1) Desalting

Proses desalting merupakan proses penghilangan garam yang dilakukan dengan cara mencampurkan minyak mentah dengan air, tujuannya adalah untuk melarutkan zat-zat mineral yang larut dalam air.

Pada proses ini juga ditambahkan asam dan basa dengan tujuan untuk menghilangkan senyawa-senyawa selain hidrokarbon.

2) Distilasi

Minyak mentah yang telah melalui proses desalting kemudian diolah lebih lanjut dengan proses distilasi bertingkat, yaitu cara pemisahan campuran berdasar perbedaan titik didih. Proses distilasi bertingkat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(46)

dan fraksi yang dihasilkan dari distilasi bertingkat tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.5. Proses Penyulingan Minyak Mentah menjadi Fraksi-Fraksi Minyak Bumi (Agustian, 2010).

Fraksi-faksi yang didapatkan setelah proses distilasi selanjutnya diolah lebih lanjut dengan proses reforming, polimerisasi, treating, dan blending.

a) Reforming : suatu cara pengubahan bentuk, yaitu dari rantai lurus menjadi bercabang. Proses ini digunakan untuk meningkatkan mutu bensin.

(47)

b) Polimerisasi : suatu cara penggabungan monomer (molekul-molekul sederhana) menjadi (molekul-molekul-(molekul-molekul yang lebih kompleks.

c) Treating : proses penghilangan kotoran pada minyak bumi. d) Blending : proses penambahan zat aditif.

(Utami dkk, 2009).

d. Bensin

Fraksi minyak bumi yang paling banyak digunakan ialah bensin. Komponen utama bensin yaitu n-heptana dan isooktana

Kualitas bensin dinyatakan dengan bilangan oktan, yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah isooktana dalam bensin. Bilangan oktan ini menyatakan kemampuan bahan bakar dalam mengatasi ketukan (knocking) saat terbakar dalam mesin. Semakin besar bilangan oktan, semakin tinggi kualitas bensin.

n-heptana diberi nilai oktan = 0, karena zat ini menimbulkan knocking

yang sangat hebat.

 isooktana diberi nilai oktan = 100, karena menimbulkan sedikit

knocking (tidak menimbulkan knocking).

Sampai saat ini terdapat tiga jenis bensin yang beredar dipasaran dan mempunyai bilangan oktan yang berbeda. Dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tabel Jenis Bensin yang Diproduksi Pertamina Beserta Bilangan Oktannya

Jenis Bensin Bilangan Oktan

Premium 88

Pertamax 92

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(48)

Pertamax Plus 95

Bensin yang dihasilkan dari proses distilasi biasanya masih mempunyai bilangan oktan yang rendah. Untuk meningkatkan bilangan oktan, perlu ditambahkan zat aditif (zat anti knocking), seperti:

1) Tetra Ethyl Lead (TEL); mempunyai rumus molekul Pb(C2H5)4. TEL

biasanya digunakan dalam bentuk campurannya yang disebut Ethyl

Fluid, yaitu terdiri atas: 65% TEL, 25% dibromoetana, 10%

1,2-dikloroetana. Adanya unsur Br dan Cl sangat penting untuk mencegah oksida timbal menempel pada mesin, yaitu dengan membentuk timbal bromida PbBr2 yang mudah menguap. Dengan demikian, semua timbal akan keluar bersama asap kendaraan bermotor lewat knalpot.

2) Benzena; mempunyai rumus molekul C6H6.

3) Etanol; mempunyai rumus molekul CH3-CH2-OH. Campuran bensin dengan etanol (9:1) lazim disebut gasohol.

4) Tersier-butil alkohol; mempunyai rumus molekul C4H9OH.

5) Tersier-butil metil eter (MTBE = Metil Tersier Butil Eter); mempunyai rumus molekul C5OH12. Zat aditif ini biasanya digunakan sebagai pengganti TEL, yaitu untuk menghindari adanya timbal yang dapat mencemari udara. (Permana, 2009)

e. Dampak Pembakaran Bahan Bakar terhadap Lingkungan 1) Karbon Monoksida (CO)

Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak merangsang. Hal ini menyebabkan keberadaannya sulit dideteksi. Gas CO ini berbahaya karena dapat membentuk senyawa dengan hemoglobin membentuk HbCO.

Keberadaan HbCO ini disebabkan karena persenyawaan HbCO memang lebih kuat ikatannya dibandingkan dengan HbO. Akibatnya Hb sulit melepas CO, sehingga tubuh bahkan otak akan mengalami kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dalam darah inilah yang

(49)

akan menyebabkan terjadinya sesak napas, pingsan, atau bahkan kematian.

Sumber keberadaan gas CO ini adalah pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar minyak bumi dengan reaksi sebagai berikut.

2) Karbon Dioksida (CO2)

Gas CO2 merupakan hasil pembakaran sempurna bahan bakar

minyak bumi maupun batu bara. Berlebihnya kandungan CO2 menyebabkan sinar inframerah dari matahari diserap oleh bumi dan benda-benda di sekitarnya. Kelebihan sinar inframerah ini tidak

dapat kembali ke atmosfer karena terhalang oleh lapisan CO2 yang

ada di atmosfer. Akibatnya suhu di bumi menjadi semakin panas.

Akibat yang ditimbulkan oleh berlebihnya kadar CO2 di udara ini

dikenal sebagai efek rumah kaca atau green house effect.

Untuk mengurangi jumlah CO2 di udara maka perlu dilakukan

upaya-upaya, yaitu dengan penghijauan, menanam pohon,

memperbanyak taman kota, serta pengelolaan hutan dengan baik.

3) Oksida Belerang (SO2 dan SO)

Gas SO2 mempunyai sifat tidak berwarna, tetapi berbau sangat menyengat dan dapat menyesakkan napas meskipun dalam kadar rendah. Gas ini dihasilkan dari oksidasi atau pembakaran belerang yang terlarut dalam bahan bakar minyak bumi serta dari pembakaran belerang yang terkandung dalam bijih logam yang diproses pada industri pertambangan. Penyebab terbesar berlebihnya kadar oksida belerang di udara adalah pada pembakaran batu bara.

Akibat yang ditimbulkan oleh berlebihnya oksida belerang memang tidak secara langsung dirasakan oleh manusia, akan tetapi menyebabkan terjadinya hujan asam. Proses terjadinya hujan asam dapat dijelaskan dengan reaksi berikut.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Gambar

Gambar  Halaman
Gambar 2.1 Keterkaitan antar Unsur SETS (Binadja, 1999a: 4)
Gambar 2.2 Level Berpikir Kritis (Boss, 2010 )  1)  Experience
Gambar 2.3  Daur  Belajar  dari  Pengalaman  yang  Distrukturkan  (Murwani, 2006: 65)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat pengelolaan faktor resiko dan berorientasi pada lokasi, bangunan, kualifikasi, adaptasi, tinggal atau

Penentuan alternatif prioritas tingkat kepentingan dari strategi untuk formulasi prioritas strategi mitigasi risiko rantai pasok bawang merah di Kota Batu, Jawa Timur

[r]

Mekanisme upaya keberatan terhadap putusan Badan Penyesaian Sengketa Konsumen di Pengadilan Negeri Makassar dapat dilakukan apabila terdapat salah satu pihak yang

Pemenang wajib melunasi seluruh harga lelang dalam jangka waktu 2 (Dua) hari setelah lelang dilaksanakan Pada Hari Rabu dan Kamis 26 dan 27 Oktober 2016, apabila dalam jangka

1) Jumlah skor rata-rata aktivitas siswa sebesar 81 dengan kategori sangat aktif. 2) Jumlah skor rata-rata aktivitas guru sebesar 78 dengan kategori sangat baik. 3) Ketuntasan

Adapun dalam praktikum terdapat berbagai faktor kesalahan seperti larutan telah dingin sehingga tannin kembali berikatan dengan kafein sehingga kafein yang diperoleh tidak

Hasil yang diperoleh berdasarkan indikator motivasi: (1) hasrat dan keinginan berhasil sebesar 93,33%, (2) dorongan dan kebutuhan siswa untuk melakukan kegiatan