• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

KETENTUAN DAN MEKANISME

KETENTUAN DAN MEKANISME 

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI

Disampaikan dalam Workshop tentang

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

(Corporate Social Responsibility/CSR) 

Diselenggarakan oleh PUSHAM‐UII Yogyakarta 

b k j

d

N

i

C

t

f

H

Ri ht

bekerjasama dengan Norwegian Centre for Human Rights, 

University of Oslo, Norway. 

Tempat Hotel Jogjakarta Plaza, Yogyakarta, 6‐8 Mei 2008. 

Oleh :

p

gj

,

gy

,

Oleh :

M. ARIEF AMRULLAH

Guru Besar Hukum Pidana Guru Besar Hukum Pidana

(2)

ILUSTRASI GAMBAR

Lawyer Jakarta Lawyer Jakarta

(3)

Lawyer Jakarta Lawyer Jakarta

(4)

Lawyer Jakarta Lawyer Jakarta

(5)
(6)

Lawyer Jakarta Lawyer Jakarta

(7)
(8)
(9)

PENDAHULUAN

Menelusuri perkembangan korporasi mulai dari abad 

pertengahan hingga abad ini, cukup memberikan 

informasi untuk mencari hubungan antara 

pertumbuhan korporasi yang pesat dengan timbulnya 

kejahatan korporasi

Pada waktu itu, peranan korporasi lebih ditekankan 

pada kerjasama (asosiasi) daripada tujuan 

pemanpaatan penyediaan modal seperti korporasi 

pada umumnya. 

(10)

PENDAHULUAN (lanjutan)

(

j

)

Dewasa ini, Korporasi multinasional telah

menunjukkan akumulasi kekayaan besar‐besaran, 

bahkan menurut Barnet dan Muller, aset fisik yang 

dimiliki oleh korporasi global pada tahun 1974 telah

mencapai lebih dari $200 miliar

Pada tahun 1990 jumlah korporasi tersebut mencaai

37.000

(11)

PENDAHULUAN (lanjutan)

(

j

)

Implikasi dari bisnis dunia yang didominasi oleh korporasi

besar tersebut telah memasuki semua aspek kehidupan

besar tersebut, telah memasuki semua aspek kehidupan

manusia. Karena, dapat menentukan pekerjaan bagi

banyak orang, makanan, minuman dan pakaian, dan

b

i

sebagainya

Di samping itu, suatu korporasi dapat pula mengancam

pemerintahan suatu negara di mana korporasi itu

pemerintahan suatu negara di mana korporasi itu

beroperasi. Hal itu dilakukan, apabila kebijakan yang 

dibuat oleh pemerintah tidak menguntungkan baginya, 

yaitu

dengan cara memindahkan usahanya ke negara lain

yaitu: 

dengan cara memindahkan usahanya ke negara lain 

yang mempunyai ketentuan hukum yang lemah dalam

pengaturan masalah pencemaran lingkungan hidup atau

standar keamanan kerja yang lemah, atau upah buruh

yang murah. Tindakan eksodus seperti itu biasanya lalu

ditakuti

(12)

PENDAHULUAN (lanjutan)

(

j

)

Dalam mengahadapi korporasi yang demikian itu, 

i

h

l

i k

li

d l

pemerintah mengalami kesulitan dalam mengaturnya

atau mengontrolnya. karena pada umumnya korporasi

mempunyai penasihat hukum yang mumpuni

mempunyai penasihat hukum yang mumpuni, 

sehingga mampu untuk menentukan apa yang harus

dilakukan untuk menghindari kebijakan yang tengah

dilakukan untuk menghindari kebijakan yang tengah

dijalankan yang nantinya diperkirakan akan

merugikannya. 

g

y

Di samping itu, korporasi juga dapat atau mampu

memainkan hukum suatu negara dengan tujuan, 

g

g

j

,

untuk mengurangi control yang dilakukan oleh negara.

Ini menunjukkan, bahwa betapa besarnya kekuatan

j

,

p

y

(13)

PENDAHULUAN (lanjutan)

Bagaimana dengan Indonesia?

khi khi i i b k j j l h ki i k • Akhir‐akhir ini, bukan saja jumlahnya yang semakin meningkat 

melainkan munculnya korporasi‐korporasi raksasa, karena 

disertai dengan meningkatnya diversifikasi di bidang usaha oleh disertai dengan meningkatnya diversifikasi di bidang usaha oleh  perusahaan‐perusahaan raksasa tersebut, melalui usaha 

bersama di antara perusahaan‐perusahaan domestik maupun p p p perusahaan‐perusahaan luar negeri, telah mendorong 

(14)

PENDAHULUAN (lanjutan)

• Dampak dari pertumbuhan tersebut, adalah munculnya b b b k k h d l k k l h k

berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan oleh korporasi.  Sebagai contoh, antara lain: pencemaran lingkungan di

Sidoardjo oleh PT. Lapindo Brantas mulai tanggal 29 Mei 2006 Sidoardjo oleh PT. Lapindo Brantas mulai tanggal 29 Mei 2006  sampai sekarang, yang menjadi korban tidak hanya penduduk sekitar, tetapi juga mereka yang akan bepergian dan harus lewat lokasi semburan akan menjadi was was

lewat lokasi semburan, akan menjadi was‐was. 

• Namun demikian, keberpihakan pemerintah bukannya kepada masyarakat yang menjadi korban, akan tetapi justru kepada PT. masyarakat yang menjadi korban, akan tetapi justru kepada PT.  Lapindo Brantas, yaitu sehubungan dengan terbitnya Peratran Presiden No. 14 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoardjo Hal itu merupakan upaya terjadinya

Lumpur Sidoardjo. Hal itu merupakan upaya terjadinya

Politisasi Hukum Pidana. Mengapa demikian, jawabnya karena ada yang terlibat, kemudian hendak bersembunyi di balik

(15)

PENDAHULUAN (lanjutan)

• Perilaku seperti itu, oleh Edward Alsworth Ross, disebutnya p , , y dengan istilah criminaloid, artinya: pelaku yang menikmati  kekebalan atas dosa‐dosa, lebih suka mengorbankan  kepentingan umum, dan apabila didakwa atau dituduh  melakukan kejahatan, seolah‐olah tidak bersalah. Bilamana  perlu tidak segan‐segan mengeluarkan dana besar untuk perlu tidak segan‐segan mengeluarkan dana besar untuk  menjaga reputasinya.

(16)

PENDAHULUAN (lanjutan)

• Kemudian, bagaimana dengan adanya ketentuan dalam Pasal , g g y 74 Undang‐undang No. 40 Tahun 2007 Undang‐undang No. 40  Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara  ) Tahun 2007 Nomor 106, tanggal 16 Agstus 2007) yang  mengatur mengenai Corporate Social Responsibility (CSR),  D t t t l h i b lk d d li • Dan, ternyata telah menimbulkan dua pandangan yang saling  berlawanan antara yang memujikan dan yang berkeberatan

(17)

JEDA

JEDA

(18)

PERKEMBANGAN SUBJEK HUKUM DALAM HUKUM PIDANA • Dalam Kitab Undang‐undang Hukum Pidana (KUHP) hanya  mengenal orang‐perseorangan sebagai subjek hukum pidana, g g p g g j p sedangkan korporasi belum dipandang sebagai subjek hukum  pidana. • Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, baik dalam  hukum pidana khusus, seperti antara lain Undang‐undang No.  7 Drt Tahun 1955 maupun dalam perundangan administrasi 7 Drt. Tahun 1955 maupun dalam perundangan administrasi  yang bersanksi pidana (seperti antara lain Undang‐undang No.  23 Tahun 1997 korporasi sudah dianggap sebagai subjek hukum 23 Tahun 1997 korporasi sudah dianggap sebagai subjek hukum  pidana. 

(19)

PERKEMBANGAN SUBJEK HUKUM DALAM HUKUM PIDANA PERKEMBANGAN SUBJEK HUKUM DALAM HUKUM PIDANA (lanjutan)

• Bahkan dalam RUU KUHP 2007 ataupun dalam RUU KUHP  sebelumnya korporasi telah diterima sebagai subjek hukum sebelumnya, korporasi telah diterima sebagai subjek hukum  pidana.

(20)

JEDA

JEDA

(21)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN 

KETENTUAN PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

Bertolak dari tiga pilar dalam hukum pidana  • perbuatan pidana; 

• pertanggungjawaban pidana dan • pertanggungjawaban pidana; dan  • pidana dan pemidanaan.

(22)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN  KETENTUAN PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan) ( j )

Perb atan pidana

Perbuatan pidana

• Berdasarkan ketentuan Pasal 74 tersebut, yang menjadi  pertanyaan: apakah perseroan yang tidak melaksankan  kewajiban berupa tanggung jawab sosial dan lingkungan  merupakan suatu perbuatan pidana? 

(23)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Untuk mejawab pertanyaan itu perlu memperhatikan kriteria sebagai Untuk mejawab pertanyaan itu, perlu memperhatikan kriteria sebagai berikut :

• Pembangunan hukum pidana harus memperhatikan tujuanPembangunan hukum pidana harus memperhatikan tujuan

pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, sehubungan dengan itu

b h k id b j k l i

pembangunan hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat.

• Perbuatan yang hendak dicegah atau ditangulangi dengan hukumPerbuatan yang hendak dicegah atau ditangulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki, yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian atas warga masyarakat. • Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip

biaya dan hasil.

P h k id h l h tik k

• Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kemampuan daya kerja aparat penegak hukum.

(24)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

• Apabila memperhatikan criteria tersebut, di samping juga

mempertimbangkan adanya kerugian atau korban baik aktual maupun mempertimbangkan adanya kerugian atau korban, baik aktual maupun potensial yang signifikan dari perbuatan tersebut

• Demikian juga pertimbangan yang perlu diambil :

i k k i k

a. tingkat kerugian masyarakat;

b. tingkat keterlibatan yang dilakukan oleh para manajer korporasi; c. lamanya pelanggaran;y p gg ;

d. frekuensi pelanggaran yang dilakukan oleh korporasi; e. bukti adanya maksud melakukan kejahatan;

f b kti ti d l k k

f. bukti pemerasan, seperti dalam kasus‐kasus penyuapan;

g. banyaknya kasus‐kasus pelanggaran yang dilakukan oleh korporasi yang  telah diungkap oleh media;

h. sejarah pelanggaran serius yang dilakukan oleh korporasi; i. potensi pencegahan atau penangkalan;

j adanya bukti yang menunjukkan pelanggaran yang dilakukan oleh j. adanya bukti yang menunjukkan pelanggaran yang dilakukan oleh

(25)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

• Dengan alasan itu perusahaan yang tidak melaksankanDengan alasan itu, perusahaan yang tidak melaksankan 

kewajibannya berupa tanggung jawab sosial dan lingkungan  seharusnya merupakan suatu perbuatan yang dapat dipidana. 

(26)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 (lanjutan) Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban Pidana  • Bertanggung jawab atas sesuatu perbuatan pidana berarti yang gg g j p p y g bersangkutan secara syah dapat dikenai pidana karena perbuatan  itu • Namun demikia, dalam pengertian perbuatan pidana tidak  termasuk pertanggungan jawab pidana. Karena perbuatan  id h j k k d dil d di pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya  perbuatan dengan suatu pidana. Mengenai kemudian apakah  orang yang melakukan perbuatan itu dijatuhi pidana

orang yang melakukan perbuatan itu dijatuhi pidana 

sebagaimana yang diatur (diancamkan) dalam undang‐undang  (pidana) sangat tergantung pada apakah dalam melakukan 

(27)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 (lanjutan) Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban Pidana  • Kendati, asas kesalahan merupakan asas fundamental dalam  hukum pidana, namun dalam hal‐hal tertentu dapat dikecualikan  untuk meniadakan asas kesalahan tersebut, yaitu apa yang 

(28)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban Pidana 

• Kaitannya dengan pertanggungjawaban pidana terhadap pelakuKaitannya dengan pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku  yang mengabaikan tanggungn jawab sosial dan lingkungan  sebagaimana tercantum dalam Pasal 74 Undang‐undang No. 40  Tahun 2007, maka yang menjadi pertanyaan: apakah korporasi  dapat dipertangungjawabkan secara pidana?  • Masalahnya, Pasal 74 tersebut tidak secara tegas menyatakan  bahwa korporasi merupakan subjek hukum pidana yang dapat  dipertanggungjawabkan secara pidana Pasal itu hanya menunjuk dipertanggungjawabkan secara pidana. Pasal itu hanya menunjuk  kepada ketentuan peraturan perundang‐undangan yang dekat.

(29)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban Pidana 

• Undang‐undang yang dekat adalah Undang‐undang No. 23 TahunUndang undang yang dekat adalah Undang undang No. 23 Tahun 1997.

• Pertanyaan: apakah Undang‐undang No. 23 Tahun 1997 telah

dengan tegas mengatur korporasi sebagai subjek hukum pidana?  • Apabila memperhatikan ketentuan Pasal 46 Undang‐undang No. 

23 Tahun 1997 maka korporasi dapat dipertanggungjawakan 23 Tahun 1997, maka korporasi dapat dipertanggungjawakan secara pidana. Ini berarti, perusahaan yang mengabaikan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana diatur dalam Pasal 74 Undang‐undang No. 40 Tahun 2007 dapat

dipertanggungjawabkan berdasarkan Undang‐undang No. 23  Tahun 1997.

Tahun 1997. •

(30)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pidana dan Pemidanaan Pidana dan Pemidanaan

• Pasal 45 Undang‐undang No 23 Tahun 1997: “Jika tindak pidanaPasal 45 Undang undang No. 23 Tahun 1997:  Jika tindak pidana  sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas  nama suatu badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau  organisasi lain, ancaman pidana denda diperberat dengan 

sepertiga”.

• Pertanyaannya: apakah ancaman pidana denda yang diperberat  itu akan dapat dirasakan sebagai sanksi atau hukuman bagi suatu  korporasi? Sanksi yang berupa pidana denda tidak akan pernah

korporasi? Sanksi yang berupa pidana denda tidak akan pernah  dirasakan sebagai hukuman. Anggapan bahwa denda sebagai  hukuman hanyalah di atas kertasy .

(31)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pidana dan Pemidanaan Pidana dan Pemidanaan

• Sanksi yang diatur dalam Undang‐undang No 25 Tahun 2007Sanksi  yang diatur dalam  Undang undang No 25 Tahun 2007  sama dengan ketentuan dalam Undang‐undang No. 23 Tahun  1997,  masih diarahkan kepada pelaku.  • Bahkan, dengan adanya sanksi berupa pencabutan kegiatan  usaha dan/atau fasilitas penanaman modal akan berisiko besar  jika dilakukan tidak secara hati‐hati, karena akan berakibat pada  masalah PHK karyawan/karyawati. I j kk b h d k d d di • Itu menunjukkan, bahwa produk perundang‐undangan di  Indonesia secara kuantitas oke, tetapi secara kualitas masih  memprihatinkan memprihatinkan.

(32)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pidana dan Pemidanaan Pidana dan Pemidanaan

• Memang dalam Pasal 47 Undang‐undang No. 23 Tahun 1997 telah diatur bahwa: Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud diatur, bahwa: Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud

dalam Kitab Undang‐undang Hukum Pidana dan Undang‐undang ini,  terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula 

dikenakan tindakan tata tertib berupa: dikenakan tindakan tata tertib berupa:

• perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;  dan/atau

t l h t b i h d / t • penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan; dan/atau • perbaikan akibat tindak pidana; dan/atau

• mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; j g j p y g p dan/atau

• meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau

• menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lamamenempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama  tiga tahun.

(33)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI KAITANNYA DENGAN KETENTUAN  PASAL 74 UNDANG‐UNDANG NO 40 TAHUN 2007

PASAL 74 UNDANG UNDANG NO. 40 TAHUN 2007

(lanjutan)

Pidana dan Pemidanaan Pidana dan Pemidanaan

• Akan tetapi, misalnya sanksi yang menempatkan

perusahaan di bawah pengampuan paling lama tiga tahun. 

N b i k tid k d k t t

Namun, bagaimana peaksanaannya, tidak ada ketentuan lebih lanjut.

(34)
(35)

TANGGUNG JAWAB KORPORASI TERHADAP KORBAN

Wujud dari tanggung jawab tersebut, adalah berupa 

pemberian ganti kerugian (restitusi) dari pelaku 

k

k b

(36)

TANGGUNG JAWAB KORPORASI TERHADAP KORBAN

(lanjutan)

Produk perundang‐undangan di Indonesia, 

i

i

ih d

i

k

d

li d

orientasinya masih dominan kepada perlindungan 

calon korban (potential victims) ketimbang actual 

i i

(k b

)

h

d

victims (korban nyata), seharusnya ada 

keseimbangan dalam perlindungan tersebut

Ke depan, konsep Daad‐dader‐Strafrecht seharusnya 

ditambahkan dengan aspek korban (slachtoffer), 

sehingga rumusannya menjadi: Daad‐dader‐

slachtoffer‐Strafrecht. 

(37)

PENUTUP

• Mempertanggungawabkan secara pidana bagi korporasi yang  melakukan pengabaian atas kewajiban terhadap tanggung

melakukan pengabaian atas kewajiban terhadap tanggung  jawab sosial dan lingkungan sebagaimana diatur dalam Pasal  74 Undang‐undang No. 40 Tahun 2007, seharusnya tidak 

74 Undang undang No. 40 Tahun 007, seharusnya tidak

semata‐mata ditujukan atas perbuatan yang dilakukan, tetapi  juga akibat dari perbuatan tersebut, yaitu timbulnya korban. • Kelemahan formulasi hukum pidana saat ini, lebih  berorientasi kepada perlindungan masyarakat (korban  l) i b id i i S poensal), yaitu berupa acaman pidana yang tinggi. Sementara  itu, tanggung jawab korporasi terhadap korban nyata sebagai  akibat dari perbuatan korporasi masih belum memadai

akibat dari perbuatan korporasi masih belum memadai.

• Meskipun beberapa Undang‐undang telah mengatur adanya  restitusi, tetapi tidak tustas, sehingga hak untuk

restitusi, tetapi tidak tustas, sehingga hak untuk  medapatkannya hanya sebatas angan‐angan

(38)

PENUTUP (lanjutan)

PENUTUP (lanjutan)

• Untuk Indonesia, dalam membangun hukum pidana yang  berorientasi pada perlindungan korban akibat dari kejahatan  korporasi. Terlebih dalam abad ini dan yang akan datang,  pertumbuhan korporasi sudah dapat diperkirakan akan 

semakin meningkat maka sudah seharusnya hukum pidana semakin meningkat, maka sudah seharusnya hukum pidana  mengatur perlindungan terhadap korban kejahatan korporasi  dengan mewajibkan korporasi memberikan ganti kerugian g j p g g (restitusi) kepada korban. Dan, konsep daad‐dader‐ slachtoffer‐Strafrecht  sudah seharusnya terimplementasi  dalam perundang‐undangan pidana. 

(39)

KITA TENTUNYA TIDAK 

INGIN MEMBIARKAN 

TETANGGA KITA YANG

TETANGGA KITA YANG 

SATU MELIMPAH RUAH, 

TETAPI TETANGGA 

SEBELAH KONDISINYA

SEBELAH KONDISINYA 

SEPERTI INI 

(40)

DEMIKIAN YANG DAPAT SAYA 

SAMPAIKAN, SEMOGA BERMANFAAT 

Gambar

ILUSTRASI GAMBAR

Referensi

Dokumen terkait

(sambil menunjuk lubang hidungnya) Jawaban Syifa “ warna apa?” setelah mendengar pertanyaan “ Syifa suka warna apa?” melanggar maksim relevansi, karena jawaban tidak

3. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk menyatakan kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidaknya satu peristiwa di masa yang

Untuk menunjang proses monitoring, pengendalian dan evaluasi yang cepat, tepat dan efisien dalam penanganan bencana dan keadaan darurat, maka diperlukan suatu

Ruang lingkup pengembangan meliputi fasilitas ( airside) bandar udara yaitu landas pacu ( runway) , landas penghubung ( taxiway dan exit taxiway) dan juga landas parkir

Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu dan pihak yang bertanggung jawab dalam mengaudit laporan

Dengan demikian Peluang dan ancaman sukuk di Indonesia perlu untuk dikaji lebih dalam guna memaksimalkan peran sistem keuangan syariah yang ditawarkan oleh ekonomi Islam

Selain variabel kualitas kehidupan kerja, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel persepsi peluang kerja juga memiliki peran terhadap intensi pindah kerja pada

Agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustasi. Sebagai contoh ada seseorang yang sangat kehausan dan kehabisan koin untuk membeli minuman dari mesin minuman yang ada