BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian Tugas Akhir ini berada di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Letak astronomis Kabupaten Pringsewu terletak antara 104045'25" sampai
dengan 10508'42" Bujur Timur dan 508'10" sampai dengan 5034'27" Lintang Selatan dengan luas wilayah dimiliki sekitar 614.47 km² atau 61.447 Ha atau hanya setara dengan 2% luas wilayah Provinsi Lampung. Kabupaten Pringsewu dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Pringsewu di Propinsi Lampung sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Tanggamus. Pada awal pembentukannya, wilayah administrasi Kabupaten Pringsewu memiliki 8 kecamatan, 96 pekon dan 5 kelurahan. Sampai dengan tahun 2013 telah dilakukan beberapa kali pemekaran, baik pemekaran kecamatan maupun pekon, sehingga secara keseluruhan pada saat ini wilayah administrasi Kabupaten Pringsewu mencakup 9 kecamatan, 126 pekon dan 5 kelurahan [31]. Adapun pembagian wilayah administrasi Kabupaten Pringsewu disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3. 1 Wilayah Administrasi Kabupaten Pringsewu
No Kecamatan Luas (km²) Presentase (%)
1. Pardasuka 85.95 13.98% 2. Ambarawa 33.52 5.45% 3. Pagelaran 49.08 7.98% 4. Pringsewu 44.08 7.17% 5. Gadingrejo 68.83 11.20% 6. Sukoharjo 65.52 10.66% 7. Banyumas 43.68 7.10% 36
8. Adiluwih 65.02 10.58%
9. Pagelaran Utara 158.75 25.83%
Jumlah 614.47 100.00%
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa luas kecamatan terbesar di Kabupaten Pringsewu adalah Kecamatan Pagelaran Utara yang memiliki luas 158.75 km2 atau
sebesar 25.83% dari luas Kabupaten Pringsewu. Hal ini dikarenakan pada wilayah Kecamatan Pagelaran Utara terdapat kawasan hutan dan lahan perkebunan rakyat atau lahan kering yang relatif luas. Kondisi yang sama juga terdapat di Kecamatan Pardasuka dengan luas wilayah 85.95 km2 (13.98 %), dimana luas lahan terbesar dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat. Sedangkan luas kecamatan terkecil yaitu Kecamatan Ambarawa seluas 33.52 km2 (5.45%), sebagai pemekaran dari Kecamatan
Pringsewu. Dari Sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu, perkembangan wilayah perkotaan yang saat ini menunjukkan tingkat perkembangan pemukiman menonjol berada di lima kecamatan yaitu Kecamatan Pringsewu, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Pagelaran dan Kecamatan Gadingrejo.
Adapun batas administrasi Kabupaten Pringsewu adalah :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sendang Agung dan Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah.
2. Sebelah Timur berbatasan Kecamatan Negeri Katon, Kecamatan Gedongtataan, Kecamatan Waylima dan Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran.
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bulok dan Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pugung dan Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus.
Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Pringsewu
3.2. Data dan Alat Penelitian
Data yang digunakan pada penelitian Tugas Akhir ini terbagi menjadi dua jenis yaitu, data spasial dan data non-spasial. Pada penelitian ini menggunakan software atau aplikasi yang digunakan sebagai alat yang dapat membantu proses pengolahan data, adapun data dan alat yang digunakan dalam penelitian Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut.
3.2.1. Data
Data-data yang akan digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 2 Data Penelitian
Data Kebutuhan Jenis Data Sumber Data Tahun
Batas Administrasi Peta Batas Administrasi Vektor Badan Informasi Geospasial 2018
Curah Hujan Peta curah
hujan Atribut Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Stasiun Klimatologi Masgar Lampung 2019
Jenis Tanah Peta jenis tanah Vektor
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) Kabupaten Pringsewu
2016
DEMNAS Peta kelerengan Raster Badan Informasi
Geospasial
2020
DEMNAS Peta ketinggian Raster Badan Informasi
Geospasial 2020 Tutupan Lahan Peta tutupan lahan Vektor Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan
2019
3.2.2. Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan data penelitian Tugas Akhir ini, yaitu :
1. 1 unit komputer.
2. Microsoft Word 2013 digunakan sebagai software yang membantu pembuatan laporan penelitian.
3. Microsoft Excel 2013 digunakan untuk membuat tabel dan melakukan perhitungan. 4. Software ArcGis 10.3 untuk pengolahan data dan layout peta.
3.2.3. Diagram Alir Penelitian
Berikut adalah diagram alir penelitian yang dilakukan dalam penelitian.
Gambar 3. 2 Diagram Alir Penelitian
40 Studi Literatur Pengumpulan Data Data Curah Hujan DEMNAS Data Jenis Tanah Data Tutupan Lahan Interpolasi IDW Slope Klasifikasi Curah Hujan Klasifikasi Ketinggian Klasifikasi Kelerengan Klasifikasi Jenis Tanah Klasifikasi Tutupan Lahan Peta Curah Hujan Skala 1:50.000 dan 1:100.000 Peta Ketinggian Skala 1:50.000 dan 1:100.000 Peta Kelerengan Skala 1:50.000 dan 1:100.000 Peta Jenis Tanah Skala 1:50.000 dan 1:100.000 Peta Tutupan Lahan Skala 1:50.000 dan 1:100.000
Skoring dan Pembobotan
Overlay
Klasifikasi Daerah Rawan Banjir
Validasi Peta Daerah
1. Studi Literatur
Pada tahap ini dilakukan untuk mempelajari bahan atau data yang akan digunakan dalam penelitian ini, juga untuk mendalami cara pembuatan dan pengolahan data dari awal sampai mencapai hasil akhir. Literatur yang nantinya didapatkan akan menjadi referensi pada saat menentukan rumusan masalah.
2. Pengumpulan Data
Dalam tahap ini dilakukan pencarian data yang digunakan untuk bahan dasar pembuatan peta kerawanan banjir, diantaranya: peta rupa bumi Indonesia yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial, data curah hujan yang diperoleh dari stasiun Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Masgar Lampung, data jenis tanah yang diperoleh dari BAPPEDA Kabupaten Pringsewu, data tutupan lahan yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan data DEMNAS yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial. 3. Pengolahan Data Curah Hujan
Data curah hujan yang berupa nilai intensitas curah hujan bulanan pada tahun 2019 serta lokasi stasiun hujan di Kabupaten Pringsewu. Data yang telah didapat dilakukan interpolasi IDW dan diklasifikasikan sesuai dengan kelas curah hujannya dan didapat hasil peta curah hujan.
4. Pengolahan Data DEMNAS
Data DEMNAS didapatkan dari situs DEMNAS Badan Informasi Geospasial, yaitu http://tides.big. go.id/DEMNAS/. Pengunduhan harus memiliki akun yang terdaftar, jika belum memiliki akun maka dapat klik menu Register dan ikuti petunjuk di dalamnya sampai mendapatkan konfirmasi untuk aktivasi akun pada email. Apabila sudah selesai, maka dapat login dengan memasukan email dan
password. Selanjutnya yaitu memilih lokasi yang akan di unduh dan klik Download pada wilayah yang diinginkan. Format file yang diunduh adalah
GeoTIFF (TIF), dan dilanjutkan dengan mengunduh grid-grid yang diperlukan. Data DEMNAS digunakan untuk pengolahan peta ketinggian, dan kemiringan lereng.
a. Pengolahan Data Ketinggian
Pada ketinggian data yang digunakan adalah DEMNAS dan diklasifikasikan berdasarkan 5 kelas ketinggian lahan, yaitu <5, 5-10, 10-25, 25-50, dan >50 mdpl.
b. Pengolahan Data Kemiringan Lereng
Pada kemiringan lereng digunakan data DEMNAS yang selanjutnya diproses menggunakan tools Slope yang kemudian diubah menjadi bentuk polygon dan diklasifikasikan menjadi 5 kelas kemiringan lereng, yaitu datar, landai, agak curam, curam, dan sangat curam yang selanjutnya menghasilkan peta kemiringan lereng.
5. Pengolahan Data Jenis Tanah
Data jenis tanah yang telah didapat selanjutnya dilakukan tahap pengklasifikasian berdasarkan tingkat infiltrasi dan hasil akhir yang diperoleh yaitu berupa peta jenis tanah.
6. Pengolahan Data Tutupan Lahan
Data tutupan lahan diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2019, selanjutnya data tersebut diklasifikasikan menjadi 5 kelas tutupan lahan.
7. Skoring dan Pembobotan
Pada tahap ini pembobotan dan skoring dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari parameter satu dengan yang lainnya. Pemberian bobot dan skoring sesuai dengan besarnya pengaruh parameter yang ada terhadap kajian penelitian. 8. Overlay
Parameter-parameter yang telah diolah, selanjutnya dilakukan proses overlay yaitu menggabungkan keseluruhan parameter yang dibutuhkan. Proses ini akan menghasilkan output berupa gabungan dari parameter.
9. Klasifikasi Daerah Rawan Banjir
Proses klasifikasi ini dilakukan dengan berdasarkan hasil dari bobot tiap parameter yang telah dilakukan guna menentukan tingkatan rawan banjir. Pengklasifikasian dikategorikan menjadi 5 kelas, yaitu tidak rawan, agak rawan,
kerawanan sedang, kerawanan tinggi, dan kerawanan sangat tinggi. 10. Validasi Lapangan
Dalam tahap ini dilakukan validasi lapangan yang menggunakan metode simple
random sampling. Dalam tahap ini dilakukan pengambilan titik sampel secara
acak pada setiap kecamatan yang ada, tujuan dari proses ini dilakukan yaitu untuk memastikan kondisi di lapangan apakah sesuai dengan hasil yang diperoleh atau tidak.
11. Hasil
Setelah dilakukan tahap validasi di lapangan dan hasil yang didapat sesuai, maka akan diketahui secara valid wilayah mana saja yang tidak rawan, agak rawan, rawan, dan sangat rawan mengalami bencana banjir.
3.3. Pengolahan Data
3.3.1. Pengolahan Data Curah Hujan
Dalam pengolahan peta curah hujan data yang digunakan yaitu data curah hujan yang diperoleh dari stasiun Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Masgar Lampung. Data yang diperoleh yaitu data curah hujan bulanan tahun 2019 di Kabupaten Pringsewu dari 3 stasiun hujan BMKG Kabupaten Pringsewu yang tersebar. Metode yang digunakan dalam pengolahan peta curah hujan yaitu metode interpolasi IDW (Inverse Distance Weighted). IDW menggunakan nilai yang terukur pada titik- tiik di sekitar lokasi tersebut, untuk memperkirakan nilai variabel pada lokasi yang dimaksud. Data curah hujan yang terkumpul berupa data curah hujan bulanan pada tahun 2019 yang meliputi lokasi stasiun hujan dan nilai intensitas hujan perbulan.
Klasifikasi curah hujan dilakukan berdasarkkan literatur yang dipakai. Maka, akan didapatkan hasil klasifikasi curah hujan. Skoring untuk curah hujan disajikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 3. 3 Klasifikasi Curah Hujan
Curah Hujan Tahunan (mm/tahun) Skor
<1500 1 1500 – 2000 2 2000 – 2500 3 2500 – 3000 4 >3000 5 Sumber: Puslittanak (2004)
Berikut adalah skor klasifikasi curah hujan di Kabupaten Pringsewu.
Tabel 3. 4 Skor Klasifikasi Curah Hujan Rata-rata Curah Hujan
(mm/tahun) Deskripsi Bobot Nilai
Skor Hujan
1500 – 2000 Ringan 0.25 2 0.50
<1500 Sangat Ringan 0.25 1 0.25
Sumber: Puslittanak (2004)
3.3.2. Pengolahan Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS)
Data Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) dapat diunduh melalui website BIG yang sebelumnya harus memiliki akun yang telah teregristrasi. Format file yang diunduh berupa GeoTIFF (TIF). Data DEMNAS diperlukan untuk untuk pengolahan peta ketinggian, kemiringan lereng, dan kerapatan sungai.
3.3.2.1. Pengolahan Data Ketinggian Lahan
Pada pengolahan peta ketinggian lahan data yang digunakan adalah Digital
Elevation Model Nasional (DEMNAS) yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial
dalam bentuk format raster. Pada pengolahan peta ketinggian dilakukan pemotongan raster sesuai dengan batas administrasi Kabupaten Pringsewu dengan memanfaatkan
tool Extract By Mask. Setelah raster telah terpotong, tahap yang dilakukan yaitu
pengklasifikasian berdasarkan kelas. Berikut tabel kelas ketinggian yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. 5 Klasifikasi Ketinggian Lahan Ketinggian (m) Skor <5 5 5 – 10 4 10 – 25 3 25 – 50 2 >50 1 Sumber: Theml, S. (2008)
Di bawah merupakan skor klasifikasi ketinggian lahan Kabupaten Pringsewu.
Tabel 3. 6 Skor Klasifikasi Ketinggian Lahan
Elevasi (m) Bobot Nilai Skor Elevasi
<5 0.15 5 0.50
5 – 10 0.15 4 0.40
10 – 25 0.15 3 0.30
25 – 50 0.15 2 0.20
>50 0.15 1 0.10
Sumber: Theml, S. (2008), dengan modifikasi
3.3.2.2. Pengolahan Data Kemiringan Lereng
Sama halnya dengan ketinggian, kelerengan menggunakan data Digital Elevation
Model Nasional (DEMNAS). Setelah raster telah terpotong, langkah selanjutnya yaitu
melakukan analisis kemiringan dengan menggunakan tool Slope guna mendapatkan nilai kemiringan. Langkah selanjutnya dilakukan klasifikasi kemiringan lereng. Semakin landai kemiringan lerengnya maka semakin berpotensi terjadi banjir, begitu pula sebaliknya. Semakin curam kemiringannya, maka semakin aman akan bencana banjir. Klasifikasi kelerengan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. 7 Klasifikasi Kemiringan Lereng
Kelerengan (%) Deskripsi Skor
0 – 8 Datar 5 8 – 15 Landai 4 15 – 25 Agak Curam 3 25 – 45 Curam 2 >45 Sangat Curam 1 Sumber: Puslittanak (2004)
Berikut adalah tabel skor klasifikasi kemiringan lereng Kabupaten Pringsewu.
Tabel 3. 8 Skor Klasifikasi Kemiringan Lereng
Kemiringan
(%) Deskripsi Bobot Nilai
Skor Kemiringan Lereng 0 – 8 Datar 0.25 5 1.25 8 – 15 Landai 0.25 4 1.00 15 – 25 Agak Curam 0.25 3 0.75 25 – 45 Curam 0.25 2 0.50 >45 Sangat Curam 0.25 1 0.25 Sumber: Puslittanak (2004)
3.3.3. Pengolahan Data Jenis Tanah
Data jenis tanah yang didapatkan dipeorlah dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pringsewu. Selanjutnya data jenis tanah yang didapatkan dikelaskan berdasarkan tingkat infiltrasinya, semakin besar daya serap atau infiltrasinya terhadap air maka tingkat kerawanan banjirnya akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Klasifikasi jenis tanah mengacu pada penelitian Asdak (1995) dengan dimodifikasi. Berikut tabel klasifikasi jenis tanah :
Tabel 3. 9 Klasifikasi Jenis Tanah
Jenis Tanah Tingkat Infiltrasi Skor
Kuarsit Tidak Peka 4
Granit Agak Peka 3
Andosol Peka 2
Aluvial Sangat Peka 1
Sumber : Asdak (1995) dengan modifikasi
Berikut merupakan tabel skor klasifikasi jenis tanah yang berada di Kabupaten Pringsewu.
Tabel 3. 10 Skor Klasifikasi Jenis Tanah
Jenis Tanah Bobot Nilai Skor Jenis Tanah
Kuarsit 0.10 4 0.40
Granit 0.10 3 0.30
Andosol 0.10 2 0.20
Aluvial 0.10 1 0.10
Sumber : Asdak (1995) dengan modifikasi
3.3.4. Pengolahan Data Tutupan Lahan
Data tutupan lahan diperoleh dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berupa polygon. Data tutupan lahan yang terdapat di Kabupaten Pringsewu yaitu pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campur, pemukiman, sawah, belukar, perkebunan, tanah terbuka, tubuh air, dan hutan lahan kering sekunder. Data tutupan lahan kemudian di kelaskan berdasarkan literatur yang di pakai menjadi 5 kelas tutupan lahan. Klasifikasi tutupan lahan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3. 11 Klasifikasi Tutupan Lahan
Penggunaan Lahan Skor
Tanah kosong, tambak ikan, waduk, rawa 5
Pemukiman, pemakaman umum, sawah 4
Ladang 3
Perkebunan dan belukar 2
Hutan bakau, hutan campur 1
Sumber: Kusumo dan Nursari (2016)
Pada tabel 3.12 akan menampilkan skor klasifikasi penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Pringsewu.
Tabel 3. 12 Skor Klasifikasi Penggunaan Lahan
Jenis Penggunaan Lahan Bobot Nilai Skor Penggunaan Lahan
Tanah terbuka, badan air 0.25 5 1.25
Pemukiman, sawah 0.25 4 1.00
Pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campur
0.25 3 0.75
Belukar, perkebunan 0.25 2 0.50
Hutan lahan kering sekunder 0.25 1 0.25
Sumber: Kusumo dan Nursari (2016) dengan modifikasi
3.3.5. Overlay Parameter Daerah Rawan Banjir
Parameter yang telah dilakukan pengolahan selanjutnya dilakukan proses overlay dengan menggunakan tool Union. Union merupakan proses menggabungkan semua parameter yang telah didapat untuk mendapatkan peta rawan banjir. Setiap parameter akan diberikan bobot dan skor sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap banjir. Untuk mendapatkan skor total per parameter, perlu adanya pemberian bobot dan skor.
Skor total didapatkan dari perkalian anatara bobot dan skor dari setiap parameter. Perhitungan skor total dapat dilihat pada rumus berikut [32]:
Skor Total = 0.25FCH+0.25FKL+0.25FTL+0.10FJT+0.15FKT Keterangan:
FCH : Faktor Curah Hujan
FKL : Faktor Kemiringan Lereng FPL : Faktor Tutupan Lahan FJT : Faktor Jenis Tanah
FKT : Faktor Ketinggian Tempat 0.25;0.10;0.15 : Bobot Nilai
Setelah pemberian semua skor total, langkah selanjutnya adalah meng-overlay semua parameter. Berikut tabel pembobotan setiap parameter.
Tabel 3. 13 Bobot Parameter Penyebab Banjir
Parameter Bobot Curah Hujan 0.25 Kelas Ketinggian 0.10 Jenis Tanah 0.10 Penggunaan Lahan 0.25 Kemiringan Lereng 0.25
Sumber: Nurjanah (2005) dengan modifikasi
Hasil overlay diklasifikasikan menjadi 5 kelas yaitu tidak rawan, cukup rawan, rawan, kerawanan tinggi, dan kerawanan sangat tinggi. Penentuan tingkat kerawanan dilakukan dengan membagi sama banyak nilai-nilai kerawanan dengan jumlah interval kelas, yang ditentukan dengan persamaan sebagi berikut [33].
Keterangan: i : Lebar Interval
R : Selisih skor maksimum dan skor minimum n : Jumlah kelas kerawanan banjir
Daerah yang sangat rawan terhadap banjir akan mempunyai total skor yang tinggi, dan sebaliknya daerah yang tidak rawan terhadap banjir akan mempunyai total skor yang rendah. Tabel 3.14 menunjukkan tingkat kerawanan banjir berdasarkan nilai kerawanan penjumlahan skor masing-masing parameter banjir.
Tabel 3. 14 Nilai Tingkat Kerawanan Banjir
Tingkat Kerawanan Banjir Total Nilai
Kerawanan Sangat Tinggi 3.45 – 3.9
Kerawanan Tinggi 3 – 3.45
Rawan 2.55 – 3
Cukup Rawan 2.10 – 2.55
Tidak Rawan 0 – 2.10
Sumber: Sugiyono (2014) dengan dimodisikasi
3.4. Validasi Lapangan
Tahap validasi dilakukan untuk mengetahui seberapa akuratnya hasil penelitian dengan kondisi yang ada di lapangan atau tidak. Validasi lapangan dibutuhkan untuk melihat kondisi hasil penelitian langsung yang ada di lapangan. Proses validasi
50
𝑖 =
𝑅
𝑛
=
3.90 − 1.65
dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesesuaian dari hasil pemodelan ancaman banjir dengan kejadian nyata dilapangan. Proses validasi ini dilakukan dengan membandingkan hasil pengolahan peta rawan banjir dengan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan. Titik-titik validasi merupakan titik-titik koordinat (lokasi) terjadinya banjir yang dihasilkan melalui survey langsung dilapangan. Lokasi titik sampel yang diambil secara acak mencakup daerah tidak rawan, cukup rawan, kerawanan sedang, kerawanan tinggi, kerawanan sangat tinggi
Metode yang digunakan dalam validasi di lapangan adalah simple random
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang dilakukan
secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Jumlah sampel yang harus diambil proporsional terhadap luasan batas administasi Kabupaten Pringsewu. Dalam penentuan jumlah sampel minimal dalam luas total Kabupaten Pringsewu berdasarkan acuan Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2014 berdasarkan skala pemetaan yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. 15 Jumlah Titik Sampel Berdasarkan Skala Peta
Skala Kelas Kerapatan (Kr) Min. Plot Total Sampel Minimal
(TSM)
1:25,000 5 30 50
1:50,000 3 20 30
1:250,000 2 10 20
Sumber : Badan Informasi Geospasial (2014)
Rumus yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel minimal dalam total luas Kabupaten Pringsewu adalah sebagai berikut.
Keterangan :
A : Jumlah Sampel Minimal TSM : Total Sampel Minimal
51
𝐴 = 𝑇𝑆𝑀 + (
𝐿𝑢𝑎𝑠 ℎ𝑎
Sehingga jumlah sampel minimal yang harus di validasi adalah
= 20 + 40.964
= 60.964 ≈ 61 titik validasi
Dalam analisis validasi dilakukan dengan cara menghitung skor validitas dari hasil validasi menggunakan rumus : [34]
Validitas (v) =
Hasil validitas yang telah diketahui persentasenya dapat dicocokkan dengan kriteria validitas seperti yang disajikan pada tabel di bawah ini. [34]
Tabel 3. 16 Kriteria Validitas
Skor (%) Kriteria Validitas
85.01 – 100 Sangat Valid 70.01 – 85.00 Cukup Valid 50.01 – 70.00 Kurang Valid 1.00 – 50.00 Tidak Valid Sumber: Akbar (2013) 52 𝐴 = 20 + 61.447 1500