• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 55 Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

P U T U S A N

Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan memutus perkara Perdata Khusus Sengketa Konsumen pada tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara:

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk. Kantor UMK Cabang Perdagangan (“Bank BTPN”), beralamat di Jl. S.M.Raja No.513 Perdagangan I, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, yang dalam hal ini diwakili oleh 1. Sentot Ahmadi, SH, 2. F.A Himawan Hari, SH, 3. Budi Nuryadi, SH, 4. Agus Poniman, SH, 5. Dedy Setyawan, SH, 6. M Guntur Paksi B, SH, 7. Meiza Fazar A, SH, 8. M Fachmi H, SH, 9. Dadang Budi P, SH, 10. Jontara S, SH, 11.

Tommy Chandar K, SH, 12. . Indra Marsen S, 13. Irwan Marasi Sitio, 14. Zulkarnain Lubis, dan 15. Bambang Sugiri, berdasarkan Surat Kuasa Nomor: SKU.

155/DIR/LTG/V/2017 tertanggal 15 Mei 2017 yang telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Simalungun tanggal 23 Mei 2017 No.83/SK/2017/PN SIM, selanjutnya disebut sebagai...PEMOHON KEBERATAN/PELAKU USAHA;

MELAWAN

HASEA SITINJAK, Laki-laki, Wiraswasta, Bertempat Tinggal di Huta II Desa Bandar Manis, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara, selanjutnya disebut sebagai...TERMOHON KEBERATAN/KONSUMEN;

Pengadilan Negeri tersebut;

− Telah membaca berkas perkara;

− Telah mendengar pihak-pihak yang berperkara;

− Telah mempelajari surat-surat bukti yang diajukan di persidangan;

TENTANG DUDUK PERKARANYA

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim Menimbang, bahwa Pemohon Keberatan dengan surat Permohonan Keberatannya tertanggal 23 Mei 2017 yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Simalungun pada tanggal 24 Mei 2017dalam Register Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN.Sim, telah mengajukan Permohonan Keberatannya sebagai berikut:

• Bahwa, PEMOHON KEBERATAN menolak dan keberatan atas Putusan Arbitrase sebagaimana yang tertuang dalam amar Putusan BPSK Batubara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017, yang amar Putusannya berbunyi sebagai berikut :

MENGADILI

1. Mengabulkan gugatan Konsumen untuk seluruhnya . 2. Menyatakan ada kerugian dipihak konsumen.

3. Menyatakan bahwa konsumen telah beriktikat bait dengan membayar angsuran sebanyak 20 bulan untuk selanjutnya konsumen membayar seluruh hutang Pokok KONSUMEN kepada PELAKU USAHA.

4. Menyatakan, bahwa lelang yang telah dilakukan atau yang akan dilakukankan atau hal hal lain yang timbul sebagai akibat dari tindakan tersebut seperti pembalikan nama atas nama orang lain Batal Demi Hukum.

5. Menghukum Pelaku usaha untuk melakukan Re-strukturisasi Rp.

1.000.000,- ( Satu Juta Rupiah) terhadap Perjanjian kredit atas nama Konsumen dan menyesuaikan pembayarannya sesuai dengan kesanggupan KONSUMEN ybitu membayar sisa hutang pokok tanpa dibebankan biaya bunga, denda dan penalty maupun biaya biaya lain yang bertentangan peraturan yaitu dengan memberikan penyicilan sisa hutang sebesar Rp. 1.000.000,- ( Satu Juta Rupiah ) setiap bulannya hingga hutang konsumen dinyatakan Lunas.

6. Menghukum Pelaku Usaha untuk memberikan data sisa Hutang Pokok konsumen dengan nilai tetap ( Fixed).

7. Menghukum pelaku Usaha untuk mematuhi keputusan pada butir (6),(7),(dan (8) sejak keputusan ini berkekuatan hukum tetap ( in kraht);

8. Menghukum PELAKU USAHA untuk membayar denda sebesar Rp.5.000.000, ( Lima Juta Rupiah) Setiap Harinya setiap harinya, apabila lalai atau tidak mematuhi keputusan pada poin seluruhnya diatas terhitung sejak keputusan ini berkekuatan hukum tetap ( In Kracht).

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim Adapun Permohonan Keberatan ini, PEMOHON KEBERATAN ajukan berdasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

I. DASAR HUKUM DAN TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN KEBERATAN ATAS PUTUSAN ARBITRASE BPSK KABUPATEN BATU BARA

• Bahwa, Pasal 56 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 41 ayat (3) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No.:

350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Werwenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen mengatur bahwa Konsumen dan Pelaku Usaha yang menolak putusan BPSK, dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak menerima pemberitahuan putusan BPSK tersebut;

• Bahwa, menurut Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia (PERMA) Nomor 01 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumenmenetapkan;

Pasal 3 ayat (1):

“Keberatan terhadap Putusan BPSK dapat diajukan baik oleh Pelaku Usaha dan/atau Konsumen kepada Pengadilan Negeri di tempat kedudukan hukum konsumen tersebut“.

Pasal 5 ayat (1):

“Keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak Pelaku Usaha atau Konsumen menerima pemberitahuan putusan BPSK”.

Pasal 1 ayat (1):

“Yang dimaksud dengan Hari adalah Hari Kerja”;

• Bahwa pemberitahuan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 tersebut, telah PEMOHON KEBERATAN terima tanggal 5 Mei 2017sehingga Pengajuan Permohon Keberatan atas putusan BPSK tersebut masih dalam tenggang waktu yang di perbolehkan dan ditentukan undang-undang, karenanya mohon Permohonan Keberatan atas Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara ini

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim dapat diterima;

II. KOMPETENSI PENGADILAN NEGERI

1. Bahwa, Pasal 3 ayat (1) PERMA No.1 Tahun 2006 menetapkan bahwa keberatan atas Putusan BPSK dapat diajukan Pelaku Usaha dan/atau Konsumen pada Pengadilan Negeri di tempat kedudukan hukum konsumen.

2. Bahwa, TERMOHON KEBERATAN dalam perkara a quo bertempat tinggal di Huta II, Desa Bandar Manis, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara, yang masuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Simalungun. Oleh karena itu, Pengadilan Negeri Simalungn secara relatif maupun absolut berwenang untuk memeriksa dan mengadili keberatan terhadap Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 tersebut;

III. ALASAN-ALASAN DAN DASAR HUKUM PERMOHONAN KEBERATAN DARI PEMOHON KEBERATAN ATAS PUTUSAN ARBITRASE BPSK KABUPATEN BATU BARA NOMOR 28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017

• BPSK KABUPATEN BATU BARA TIDAK BERWENANG SECARA MUTLAK / ABSOLUTE UNTUK MEMERIKSA DAN MEMUTUS PERKARA AQUO

• Penyelesaian Secara Arbitrase Antara Debitur/Konsumen/Nasabah Bank Dengan Kreditur/Bank/Lembaga Keuangan Merupakan Kewenangan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan

• Bahwa Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, menyatakan: "Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.”

• Adapun Penjelasannya sebagai berikut:

“Di dalam kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim suatu produk lainnya. Pengertian konsumendalam undang-undang ini adalah konsumen akhir.”

• Sedangkan menurut Pasal 1 angka 15 Undang-Undang No 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, pengertian

“Konsumen adalah pihak-pihak yang menempatkan dananya dan/atau memanfaatkan pelayanan yang tersedia di Lembaga Jasa Keuangan antara lain nasabah pada Perbankan, pemodal di Pasar Modal, pemegang polis pada Perasuransian, dan peserta pada Dana Pensiun, berdasarkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.”

• Berdasarkan uraian tersebut diatas, Konsumen yang dimaksud dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen TIDAK SAMA dengan Konsumen yang dimaksud dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

• Bahwa, dengan beralihnya fungsi, tugas dan wewenang pengawasan perbankan dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”), berdasarkan UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, maka fungsi mediasi perbankan oleh Bank Indonesia dialihkan ke Otoritas Jasa Keuangan. Berkaitan dengan hal tersebut, OJK mengeluarkan Peraturan namun tidak terbatas pada Peraturan Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Keuangan.

• POJK Nomor 1/POJK.07/2014 mengatur mekanisme penyelesaian sengketa antara lembaga jasa keuangan, termasuk perbankan dengan konsumen, baik oleh internal lembaga jasa keuangan (internal dispute resolution), maupun lembaga alternatif penyelesaian sengketa di luar lembaga jasa keuangan (external dispute resolution). Sehingga terciptanya lembaga jasa keuangan yang tumbuh secara mantap dan berkesinambungan, serta tercapainya perlindungan konsumen;

• Pasal 5 UU No.21 Tahun 2011, menyebutkan: “OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatandi dalam sektor jasa keuangan”.

• Pasal 9 Point ( c ) UU No.21 Tahun 2011 tentang OJK menyebutkan bahwa untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;

• Pasal 29 Point ( c ) UU No.21 Tahun 2011 tentang OJK menyebutkan bahwa OJK melakukan pelayanan pengaduan Konsumen yang meliputi: (a.) menyiapkan perangkat yang memadai untuk pelayanan pengaduan Konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan;(b.) membuat mekanisme pengaduan Konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan; dan (c.) memfasilitasi penyelesaian pengaduan Konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

• Pasal 1 poin 13 POJK No. 1/POJK.07/2014 menetapkan: “Sengketa adalah perselisihan antara Konsumen dengan Lembaga Jasa Keuangan dalam kegiatan penempatan dana oleh Konsumen pada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pemanfaatan pelayanan dan/atau produk Lembaga Jasa Keuangan setelah melalui proses penyelesaian Pengaduan pada Lembaga Jasa Keuangan.”

• Bahwa, pengertian Konsumen dalam POJK Nomor 1/POJK.07/2013 Jo No 1/POJK.07/ 2014 adalah konsumen pada sektor jasa keuangan, sehingga lebih spesifik dan memang sudah seharusnya peraturan yang lebih spesifik (lex spesialis) yang diatur dalam POJK No.1/POJK.07/2013 Jo. No.1/POJK.07/2014 inilah yang seharusnya digunakan untuk penyelesaian sengketa antara Nasabah dengan Bank. Bukan menggunakan dasar Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dengan demikian, seharusnya TERMOHON KEBERATAN selaku Debitur/Konsumen mengajukan pengaduan kepada PEMOHON KEBERATAN terlebih dahulu. Apabila tidak selesai dan hendak dilanjutkan melalui proses diluar Pengadilan maka diselesaikan melalui proses Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan sesuai peraturan OJK tersebut diatas, atau melalui Pengadilan Negeri sesuai kesepakatan dalam Perjanjian Kredit dan SKUPK, bukan kepada BPSK;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

• Bahwa, oleh karena itu Ketua dan MajelisBPSK Kabupaten Batu Bara seharusnya menolak dan tidak memeriksa Pengaduan dari Debitur/Konsumen/Nasabah Bank (TERMOHON KEBERATAN) dan mengarahkan TERMOHON KEBERATAN mengadukan permasalahannya ke Otoritas Jasa Keuangansesuai ketentuan No.1/POJK.07/2013 Jo. No.1/POJK.07/2014karena perkara a quo nyata- nyata adalah hubungan konsumen dengan Lembaga Jasa Keuangan dibawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ataupun ke Pengadilan Negeri;

• Bahwa, berdasarkan hal tersebut diatas maka, pemeriksaan Arbitrase oleh Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara adalah CACAT HUKUM dikarenakan penyelesaian secara Arbitrase antara TERMOHON KEBERATAN dengan PEMOHON KEBERATAN merupakan kewenangan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan.

• Dengan demikian, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk mengenyampingkan pertimbangan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dan selanjutnya menyatakan membatalkan Putusan BPSK No. 28/Pts- Arb/BPSK-BB/V/2017 Tanggal 2 Mei 2017;

• BPSK TIDAK MEMPUNYAI KEWENANGAN MEMERIKSA DAN MENGADILI PERKARA PERDATA YANG BERSUMBER DARI PERSELISIHAN PERJANJIAN KREDIT;

• Bahwa, antara PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN yang telah disetujui dan diketahui oleh Isterinya yang bernama Ravlesia Sihotang telah saling mengikatkan diri dalam Perjanjian Kredit Nomor: 0002094-SPK-7259-1013 tertanggal 17 oktober 2013 Jo. Perjanjian Perubahan terhadap Perjanjian kredit Nomor : 7002492-ADDPK-7259-1114(“Perjanjian Kredit”) beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (“SKUPK”).

• Bahwa, dalam Perjanjian Kredit, TERMOHON KEBERATAN telah setuju dan sepakat untuk memberikan Jaminan atas fasilitas kredit yang telah diterima oleh PEMOHON KEBERATAN, berupa :

• Sebidang tanah dan Bangunan, seluas 198 M2/ / 86M2 , berikut segala yang ada diatasnya, terletak di Huta II Desa/Kelurahan Bandar Manis, Kecamatan Pematang bandar Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara, sesuai Surat Keterangan Tanah (SKT) Nomor :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim 86/SKT/X/2013, atas nama Hasea Sitinjak. (selanjutnya disebut sebagai “Jaminan”);

• Bahwa, Perjanjian Kredit tersebut merupakan kesepakatan dan perjanjian yang sah serta mempunyai kekuatan hukum mengikat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPerdata”) sebagai berikut:;

"Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat :

• sepakat mereka yang mengikat dirinya;

• kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

• suatu hal tertentu; dan

• suatu sebab yang halal.

Bahwa, dengan sahnya Perjanjian Kredit tersebut, maka segala isi yang disepakati dalam Perjanjian Kredit tersebut mengikat sebagai undang- undang bagi PEMOHON KEBERATAN dan TERMOHON KEBERATAN sebagai pihak-pihak yang membuatnya, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1338 KUHPerdata sebagai berikut:

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya.Suatu Perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan- alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.”

Dengan demikian, segala perjanjian yang disepakati oleh PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN berlaku sebagai undang- undang yang harus ditaati (Pacta Sunt Servanda).

• Bahwa, sebagaimana yang telah diakui sendiri oleh TERMOHON KEBERATAN dalam Putusan BPSK No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017, pada halaman 1 Tentang Duduk Perkara butir 1, yang menyatakan “Bahwa Konsumen (Termohon Keberatan) ada melakukan penandatanganan Perjanjian Kredit dengan Pelaku Usaha yaitu untuk pememinjaman dengan fasilitas kredit sejumlah Rp.120.000.000,- (Seratus Dua Puluh juta rupiah)dengan system/jenis fasilitas pinjaman kredit adalah Kredit Pinjaman Bunga + Pokok/Flat"

• Bahwa, senyatanya TERMOHON KEBERATAN telah menerima jumlah/nilai nominal fasilitas kredit dari PEMOHON KEBERATAN, telah digunakan/dinikmati, telah setuju dan mengerti tentang keberadaan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim runtutan Perjanjian Kredit beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit, maka Perjanjian Kredit antara PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN sudah merupakan perjanjian riil. Sehingga antaraPEMOHON KEBERATAN dan TERMOHON KEBERATAN telah memenuhi Pasal 1233 KUHPer dan masing-masing mempunyai kewajiban untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu sebagaimana diatur dalam Pasal 1234 KUHPer. Selengkapnya uraian Pasal 1233 KUHPer dan Pasal 1234 KUHPer menyatakan sebagai berikut :

• Pasal 1233 KUHPer

”Perikatan, lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang.”

• Pasal 1234 KUHPer

“Perikatan ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.”

• Bahwa, seiring berjalannya waktu, TERMOHON KEBERATAN telah Wanprestasi memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran angsuran, sehingga TERMOHON KEBERATAN telah tidak menjalankan Pasal 1234 KUHPer tersebut yang menyebabkan PEMOHON KEBERATAN harus memperingatkan TERMOHON KEBERATAN untuk segera memenuhi kewajibannya dengan jangka waktu tertentu;

• Bahwa, terhadap janji-janji dalam Perjanjian Kredit yang tidak ditepati oleh TERMOHON KEBERATAN tersebut, maka PEMOHON KEBERATAN telah melakukan pendekatan kekeluargaan kepada TERMOHON KEBERATAN dan meyampaikan alternarif solusi agar TERMOHON KEBERATAN segera melunasi tunggakan hutangnya namun tidak diindahkan TERMOHON KEBERATAN sehingga ditindaklanjuti dengan pemberian Surat Peringatan (“SP”) I, II dan III oleh PEMOHON KEBERATAN kepada TERMOHON KEBERATAN namun TERMOHON KEBERATAN tetap tidak mengindahkan dan malahan terkesan menyepelekan dengan mengatakan kepada PEMOHON KEBERATAN bahwa penyelesaian hutangnya sudah ditangani BPSK Batubara, seakan-akan BPSK Batubara yang menjamin pelunasan hutang TERMOHON KEBERATAN;

• Bahwa berdasarkan hal tersebut diatas TERMOHON KEBERATAN terbukti telah lalai sampai dengan lewatnya waktu yang ditentukan dalam Perjanjian Kredit. Oleh karena itu, unsur-unsur dalam Pasal 1238 KUHPer

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim telah terpenuhiyang menyatakan sebagai berikut :

“Debitur dinyatakan Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

• Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia No.2123K/Pdt/1996, memberikan kaidah hukum yang berbunyi sebagai berikut :

“Agar dapat menilai ada atau tidaknya wanprestasi haruslah dilihat apakah ada perjanjian yang dibuat dan salah satu pihak tidak melaksanakan ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian”.

• Prof. R. Subekti, S.H., dalam bukunya “Hukum Perjanjian“, PT Intermasa, Jakarta, 2008, cetakan ke 22, halaman 45, menyatakan bahwa yang dimaksud wanprestasi adalah :

“Apabila si berutang (debitur) tidak melakukan apa yang diperjanjikannya, maka dikatakan ia melakukan wanprestasi, yang dapat berupa empat macam :

• Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

• Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;

• Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;

• Melakukan sesuai yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.”

Pendapat dari Prof. R. Subekti tersebut sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 494 K / Pdt / 1995, yang dengan tegas menyatakan:

"Dengan tidak dilunasinya sisa hutang oleh debitur, maka debitur telah wanprestasi".

• Bahwa, atas dasar fakta fakta tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa materi yang disengketakan antara PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN adalah benar-benar didasarkan pada adanya hubungan hukum keperdataan yaitu adanya peristiwa Ingkar janji (Wanprestasi) pembayaran hutang oleh TERMOHON KEBERATAN kepada PEMOHON KEBERATAN;

• Bahwa, berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI :

• No. 94K/Pdt.Sus/2012 tanggal 2 Mei 2012;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

• No. 42K/Pdt.Sus/2013 tanggal 17 April 2013;

• No. 651 K/Pdt.Sus-BPSK/2013 tanggal 5 Maret 2014;

• No. 572 K/Pdt.Sus-BPSK/2014 tanggal 18 November 2014;

• No.472 K/Pdt.Sus-BPSK/2014 tanggal 17 Februari 2015.

Menetapkan: “BPSK tidak mempunyai kewenangan memeriksa dan mengadili perkara hutang piutang yang bila terjadi wanprestasi menjadi kewenangan pengadilan umum.”

• Bahwa, berdasarkan uraian peristiwa hukum, hubungan hukum, kepentingan hukum dan dasar hukum sebagaimana tersebut di atas, TERMOHON KEBERATAN secara nyata berdasarkan hukum telah terbukti melakukan ingkar janji (wanprestasi). Oleh karena itu, TERMOHON KEBERATAN wajib untuk mengganti biaya, rugi, dan bunga sebagaimana diatur dalam Pasal 1243 KUHPer dan PEMOHON KEBERATAN berhak mengakhiri Perjanjian Kredit dan TERMOHON KEBERATAN harus melakukan pembayaran dengan seketika dan sekaligus lunas seluruh kewajibannya, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 8 SKUPK.

• Pasal 1243 KUHPerdata :

“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.”

• Pasal 8 SKUPK :

“Bank berhak secara seketika tanpa somasi lagi mengakhiri Perjanjian Kredit dan menuntut pembayaran dengan seketika dan sekaligus lunas dari jumlah-jumlah yang terhutang oleh Debitur berdasarkan Perjanjian Kredit baik karena hutang pokok, bunga, provisi, dan karenanya pemberitahuan dengan surat juru sita atau surat-surat lain yang berkekuatan serupa itu tidak diperlukan lagi, bilamana Debitur dan/atauPenjamin: i) oleh Pengadilan Negeri dinyatakan pailit; ii) meminta penundaan pembayaran hutang-hutangnya (surseance van betaling); iii) meninggal dunia; iv) tidakmembayar bunga pada waktu yang telah ditentukan atau lalai/tidak memenuhi kewajibanya menurut

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim Perjanjian Kredit atau Perjanjian lainnya dengan Bank; v) dinyatakan lalai/wanprestasi atau tidak memenuhi kewajibannya menurut perjanjian lainnya dengan kreditur/pihak ketiga lainnya;

vi) terlibat dalam suatu perkara pengadilan.

• Bahwa, dikarenakan TERMOHON KEBERATAN tetap tidak peduli dan tetap tidak melaksanakan kewajibannya untuk menunaikan prestasinya (lalai) dalam hal membayar sisa kewajiban kredit yang harus dilunasi, maka PEMOHON KEBERATAN mempunyai hak untuk menjual obyek hak tanggungan atas kekuasaannya melalui pelelangan umum, sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996, yang menyatakan sebagai berikut:

“Apabila debitor cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.”

Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017.

• PADA SAAT PENGIKATAN KREDIT ANTARA PEMOHON KEBERATAN DENGAN TERMOHON KEBERATAN SELAKU DEBITUR SUDAH SEPAKAT MENGENAI PEMILIHAN DOMISILI HUKUM DI PENGADILAN NEGERI BUKAN BPSK

• Bahwa, hubungan hukum antara PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN diawali dari Perjanjian Kredit Nomor:

0002094-SPK-7259-1013 tertanggal 17 Oktober 2013 jo. 7002492- ADDPK-7259-1114 Tertanggal 11 Nopember 2014 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (“SKUPK”) yang juga ditandatangani oleh TERMOHON KEBERATAN beserta dengan Isteri TERMOHON KEBERATAN;

• Pasal 5 Perjanjian Kredit Nomor :0002094-SPK-7259-1013 tertanggal 17 Oktober 2013 jo. 7002492-ADDPK-7259-1114 Tertanggal 11 Nopember 2014 yang ditandatangani serta disepakati

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim oleh dan antara TERMOHON KEBERATAN dengan PEMOHON KEBERATAN menyatakan sebagai berikut:

• “... Perjanjian ini tunduk pada dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit ....(selanjutnya berikut segala perubahan–perubahannya dan penambahan–penambahannya disebut “SKUPK”);

• Pasal 11 ayat 16 (Ketentuan Penutup) SKUPKmenyatakan:

• “Kecuali ditetapkan lain dalam Perjanjian Kredit, maka kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum yang tetap dan seumumnya di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ...”

• Bahwa merujuk Pasal 1338 Kitab Undang–Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) yang menyatakan:

• “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu Perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.

Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.”

• Dengan demikian, segala perjanjian yang disepakati antara TERMOHON KEBERATAN dengan PEMOHON KEBERATAN berlaku sebagai Undang-Undang yang tidak dapat ditarik kembali serta harus dilaksanakan dengan itikad baik;

• Bahwa,sesuai dengan Pasal 118 ayat (4) HIR Jo. Pasal 142 ayat (4)RBg., bahwa apabila sudah diperjanjikan dalam suatu akta tentang domisili hukum, maka gugatan diajukan pada pengadilan Negeri yang ditunjuk dalam perjanjian tersebut, ketentuan tersebut juga telah diatur dalamBuku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Dalam Empat Lingkungan Peradilan, Edisi 2007 terbitan Mahkamah Agung RI 2009, halaman 50 – 51 tentang wewenang relatif, yang menyatakan sebagai berikut

g. Jika ada pilihan domisili yang tertulis dalam akta, maka gugatan diajukan di tempat domisili yang dipilih itu

• Bahwa, pada faktanya PEMOHON KEBERATAN tidak pernah setuju/sepakat dan juga tidak pernah ada dalam perjanjian yang dibuat secara tertulis oleh PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN mengenai penyelesaian perkara dilakukan dengan cara arbitrase di BPSK baik sebelum terjadi sengketa ataupun setelah terjadi sengketa;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

• Bahwa, berdasarkan fakta–fakta hukum, ketentuan-ketentuan hukum dan perundang-undangan tersebut diatas, memberikan kaidah hukum bahwa demi hukum, TERMOHON KEBERATAN telah salah dalam mengajukan Gugatan/Permohonan Sengketa Konsumen melalui BPSK Kabupaten Batu Bara dikarenakan tidak memiliki kewenangan mengadili dan majelis Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara hanya berwenang memeriksa dan memutus sengketa, apabila Para Pihak secara sukarela memilih BPSK sebagai forum penyelesaian sengketa, sehingga pemeriksaan Arbitrase oleh Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara adalah CACAT HUKUM dan HARUS DIBATALKAN;

Dengan demikian, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk mengenyampingkan pertimbangan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dan selanjutnya menyatakan membatalkan Putusan BPSK No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017.

• PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN OLEH BPSK MELALUI CARA KONSILIASI ATAU MEDIASI ATAU ARBITRASE HANYA DAPAT DILAKUKAN ATAS DASAR PILIHAN SUKARELA DAN PERSETUJUAN PARA PIHAK YANG BERSANGKUTAN

1. Bahwa, Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara telah membuat kesalahan dalam memeriksa dan mengadili perkara No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2016, tanggal 02 Mei 2017 karena yang dimaksud dengan arbitrase berdasarkan:

• Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa:

• “Arbitrase adalah cara Penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang didasarkan padaperjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa”

• Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa:

• “Perjanjian Arbitrase adalah suatu kesepakatan klausula arbitrase yang tercantum dalam perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum terjadi sengketa atau perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah terjadi sengketa.”

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim 1. Selanjutnya, jika para pihak hendak memilih penyelesaian dengan cara Arbitrase maka menurut Pasal 9 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, adalah sebagai berikut:

“Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak.

(3) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memuat :

masalah yang dipersengketakan;

a. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;

b. nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau majelis arbitrase;

c. tempat arbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan;

d. nama lengkap sekretaris;

e. jangka waktu penyelesaian sengketa;

f. pernyataan kesediaan dari arbiter; dan

g. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung segalabiaya yang diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui arbitrase.

(4) Perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) batal demi hukum.”

1. Dengan demikian, maka pemilihan penyelesaian permasalahan/perselisihan secara Arbitrase harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak, namun jika tidak disepakati oleh para pihak maka penyelesaian secara arbitrase tersebut adalah BATAL DEMI HUKUM;

1. Bahwa, dalam perkara a quo, Arbitrase yang dimaksud dalam Undang- Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia (“Kepmenperindag”) No.350/MPP/KEP/12/2001 adalah sama dengan Arbitrase dalam Undang-Undang No.30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa;

1. Bahwa, menurut Pasal 48Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, telah menetapkan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

• “Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 45”

• sedangkan pada menurut Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, telah menetapkan sebagai berikut:

• “Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.”

1. Bahwa, menurut Pasal 52 huruf a Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, telah menetapkan sebagai berikut:

Tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen meliputi:

a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara Konsiliasi, Mediasi atau Arbitrase”

1. Bahwa, menurut Pasal 53 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, telah menetapkan sebagai berikut:

“Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen Daerah Tingkat II diatur dalam surat keputusan menteri.”

1. Bahwa, menurut Pasal 3 huruf a Kepmenperindag No.

350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, telah menetapkan sebagai berikut:

“melaksanakan penanganan dan Penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara Konsiliasi, Mediasi atau Arbitrase.”

1. Bahwa, menurut Pasal 4 ayat (1) Kepmenperindag No.

350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, telah menetapkan sebagai berikut:

“Penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK melalui cara Konsiliasi atau Mediasi atau Arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan.”

1. Bahwa, dikarenakan dalam Putusan BPSK Batubara No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 tidak didasarkan adanya persetujuan para pihak yang bersengketa dalam hal mana PEMOHON KEBERATAN tidak pernah memberikan persetujuan baik secara lisan maupun tertulis kepada BPSK Kabupaten Batu Bara untuk menyelesaikan permasalahan/ perselisihan dengan TERMOHON

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim KEBERATAN secara Arbitrase, maka PUTUSAN ARBITRASE TERSEBUT TIDAK SAH/CACAT HUKUM/BATAL DEMI HUKUM.

• Dengan demikian, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk mengenyampingkan pertimbangan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dan selanjutnya menyatakan membatalkan Putusan BPSK Batubara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017.

• PEMOHON KEBERATAN TIDAK PERNAH MENERIMA COPY PERMOHONAN PENYELESAIAN SENGKETA TERMOHON KEBERATAN SEBAGAI LAMPIRAN DALAM SURAT PANGGILANNYA

1. Bahwa, Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 lahir/terbit dari proses yang tidak benar dan tidak berdasarkan hukum, karena pada faktanya PEMOHON KEBERATAN tidak pernah sama sekali menerima copy permohonan penyelesaian sengketa konsumen sebagai lampiran dalam semua Surat Panggilannya, sehingga proses pemeriksaan perkara yang dilakukan oleh BPSK Kabupaten Batu Bara telah melanggar ketentuan Pasal 26 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yaitu:

“Ketua BPSK memanggil pelaku usaha secara tertulis disertai dengan copy permohonan penyelesaian sengketa konsumen, selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan penyelesaian sengketa diterima secara benar dan lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.”

1. Hal ini sangat jelas menunjukkan dan memperlihatkan bahwa, Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tidak serius dalam menangani perkara sengketa dan patut diduga seakan-akan terdapat suatu konspirasi yang menghendaki untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 .

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim

• TENTANG DUDUK PERKARA DALAM PUTUSAN BPSK KABUPATEN BATU BARA NOMOR 28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 TIDAK BENAR DAN TIDAK BERDASARKAN HUKUM

1. Bahwa, Tentang Duduk Perkara dalam Putusan BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 , PEMOHON KEBERATAN menolak dengan tegas seluruh dalil-dalil yang disampaikan dalam Gugatan TERMOHON KEBERATAN tertanggal 25 Januari 2017, terkecuali yang secara tegas dan nyata telah diakui dan dibahas kebenarannya oleh PEMOHON KEBERATAN;

2. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali Tentang Duduk Perkara Dalam Putusan BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 pada butir ke 2, poin (b) Hal 3, yang menyatakan “Konsumen beritikad baik membayar angsuran perbulannya” karena pada faktanya TERMOHON KEBERATAN tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana telah diperjanjikan dalam Perjanjian Kredit, sehingga tidak termasuk dalam konsumen yang beritikad baik, oleh karena itu sangat naif dan mengada-ada serta tidak berdasarkan hukum apabila Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat TERMOHON KEBERATAN (Konsumen) tersebut Konsumen yang beritikad baik.

3. Bahwa, didalam No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017, Tentang Duduk Perkara pada butir ke 2, halaman 3, yang menyatakan

“Bahwa dengan macet/tertundanya pembayaran angsuran setiap per- bulannya oleh Konsumen ...”adalah secara nyata dan jelas telah membuktikan bahwa TERMOHON KEBERATAN telah melakukan Perbuatan Ingkar Janji (“Wanprestasi”) yaitu tidak membayar angsuran kepada PEMOHON KEBERATAN sesuai kesepakatan yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kredit dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit;

4. Bahwa, untuk dalil-dalil yang lainnya Tentang Duduk Perkara dalam Putusan BPSK No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 , adalah tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali dan akan dibahas dalam bagian Pertimbangan Hukum. Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Smalungun yang memeriksa dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017;

• SAKSI-SAKSI YANG DIAJUKAN OLEH TERMOHON KEBERATAN TIDAK MEMPUNYAI NILAI KEKUATAN PEMBUKTIAN DALAM PERKARA A QUO DANBUKTI-BUKTI TERTULIS YANG DIAJUKAN JUSTRU MEMBUKTIKAN BAHWA TERMOHON KEBERATAN TELAH MELAKUKAN PERBUATAN INGKAR JANJI (WANPRESTASI)

1. Bahwa, berdasarkan keterangan Para Saksi yang dihadirkan dari Pihak TERMOHO KEBERATAN yaitu Sdr Fitriana Nababan dan Maryam tidak mempunyai ka tas sebagai saksi karena PEMOHON KEBERATAN tidak mengetahui hubungan dari Saksi-saksi dengan TERMOHON KEBERATAN apakah memiliki hubungan keluarga apa tidak, namun disisi lain semakin menguatkan dalil PEMOHON KEBERATAN dimana TERMOHON KEBERATAN sudah tidak dapat melaksanakan kewajibannya kepada PEMOHON KEBERATAN untuk membayar angsuran sesuai kesepakatannya yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kredit dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit. Hal ini membuktikan secara nyata dan jelas TERMOHON KEBERATAN telah melakukan Perbuatan Ingkar Janji (“Wanprestasi”). Disisi lain keterangan Saksi-saksi tersebut juga tidak didukung dengan bukti-bukti tertulis, sehingga berdasarkan uraian-uraian tersebut,maka saksi yang diajukan oleh TERMOHON KEBERATAN tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian dalam perkara a quo;

1. Bahwa, bukti-bukti yang diajukan oleh TERMOHON KEBERATAN ke Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara, tidak ada satupun bukti yang menguatkan dalil-dalil TERMOHON KEBERATAN mengenai PEMOHON KEBERATAN tidak memberikan penjelasan tentang isi Perjanjian Kredit dan tidak menyerahkan dokumen-dokumen yang terkait dengan Perjanjian Kredit kepada TERMOHON KEBERATAN, terdapatnya Klausula Baku dalam Perjanjian Kredit yang sangat bertentangan dengan Pasal 18 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan proses lelang yang diminta oleh PEMOHON KEBERATAN melalui KPKNL Pematang Siantar adalah perbuatan melawan hukum. Justru bukti-bukti yang diajukan oleh TERMOHON KEBERATAN membuktikan bahwa TERMOHON KEBERATAN telah melakukan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim perbuatan ingkar janji (Wanprestasi) karena tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang telah dijanjikan dan dituangkan dalam Perjanjian Kredit dan SKUPK antara TERMOHON KEBERATAN dengan PEMOHON KEBERATAN.

• Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Simalungun yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara No.28/Pts- Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 ;

• PERTIMBANGAN HUKUM MAJELIS BPSK KABUPATEN BATU BARA DALAM PERKARA AQUO TIDAK CERMAT, KELIRU, BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP KEADILAN, KEPATUTAN, KEMANFAATAN DAN ATAU KEPASTIAN HUKUM

• Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam Putusan Arbitrase BPSK No.28/Pts-Arb/BPSK/BB/V/2017, tanggal 02 Mei 2017 , mengenai:

• Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat bahwa PENGADU/TERMOHON KEBERATAN dan TERADU/PEMOHON KEBERATAN telah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai Konsumen dan Pelaku Usaha sebagaimana dimaksud dalam Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

Karena Konsumendan Pelaku Usaha yang dimaksud dalam Undang-Undang No. 8 No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan KonsumenSANGATJELAS BERBEDA dengan Konsumen dan Pelaku Usaha yang dimaksud dalam UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;

Bahwa, pengertian Konsumen dalam UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan adalah konsumen pada sektor jasa keuangan maka fungsi mediasi perbankan oleh Bank Indonesia dialihkan ke Otoritas Jasa Keuangan. Berkaitan dengan hal tersebut, OJK mengeluarkan Peraturan namun tidak terbatas pada Peraturan Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Keuangan, sehingga lebih spesifik dan memang sudah seharusnya peraturan yang lebih spesifik (lex spesialis) yang diatur dalam POJK No.1/POJK.07/2014 inilah yang seharusnya digunakan untuk

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 55Perkara Perdata Nomor 41/Pdt.G-Sus/2017/PN Sim penyelesaian sengketa antara Nasabah dengan Bank.Bukan menggunakan dasar Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Dengan demikian, seharusnya Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara seharusnya menolak dan tidak memeriksa Pengaduan dari Pengadu/Debitur/Konsumen/Nasabah Bank dan mengarahkan Pengadu mengadukan permasalahannya ke Otoritas Jasa Keuangan sesuai ketentuan No.1/POJK.07/2013 Jo.

No.1/POJK.07/2014 karena perkara a quo nyata-nyata adalah hubungan konsumen dengan Lembaga Jasa Keuangan dibawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ataupun ke PENGADILAN NEGERI sesuai kesepakatan antara PEMOHON KEBERATAN dengan TERMOHON KEBERATAN dalam Pasal 11 ayat (165) Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (“SKUPK”);

Sedangkan BPSK lebih tepat untuk sengketa konsumen dalam ruang lingkup perindustrian dan perdagangan dimana ketentuan teknis sengketa konsumen di BPSK diatur oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan (Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No. 350/MPP/Kep/12/2001).

• Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat bahwa Konsumen adalah pihak yang berkepentingan dan berhak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen secara patut.

Karena pada kenyataannya konsumen yang berhak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya Penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut adalah konsumen yang mempunyai itikad baik.Dimana konsumen tersebut telah melaksanakan seluruh kewajibannya, tetapi hak-haknya tidak diberikan oleh Pelaku Usaha.

Namun, dalam perkara ini, pada faktanya TERMOHON KEBERATAN (Konsumen) tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana telah diperjanjikan dalam Perjanjian Kredit, sehingga tidak termasuk dalam konsumen yang beritikad baik. Dengan demikian, sangat naif dan mengada-ada serta tidak berdasarkan hukum sama sekali apabila Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat TERMOHON KEBERATAN (Konsumen) tersebut perlu mendapatkan advokasi dan perlindungan, padahal Pasal 6 huruf b Undang-undang No. 8 Tahun

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa, didalam diktum Putusannya Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 pada point 3 halaman 6, yang menyatakan “Bahwa, Konsumen telah memilih

"Penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan" juncto Pasal 45 ayat (2) Undang Undang Nomor 8

Bahwa berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan (yang dicantumkan BPSK dalam Putusan

Apabila pertimbangan Majelis Hakim dalam perkara tersebut di atas diterapkan pada perkara a quo, maka jelas bahwa merek Cooler Master Pemohon Kasasi berbeda

Menimbang, bahwa Majelis Hakim tingkat banding setelah membaca dan menelaah dengan seksama proses pemeriksaan dan pertimbangan hukum putusan perkara ini di tingkat

Bahwa Pemohon Kasasi keberatan atas pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dengan pertimbangan halaman 20-21, dimana putusan Judex Facti/Pengadilan

Dengan demikian dalil Termohon dalam permohonan sengketa konsumen pada BPSK Kabupaten Batubara yang dikabulkan oleh Majelis Arbitrase sebagaimana dalam Keputusan

 Bahwa terhadap pertimbangan tersebut Majelis sependapat sepanjang mengenai pertimbangan bahwa Putusan Arbitrase yang bertentangan dengan Putusan Pengadilan yang telah