• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II

LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka

1. Diare pada Anak a. Definisi Diare

Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children's Fund (UNICEF), sebanyak 1,9 juta anak dibawah 5 tahun menderita diare setiap tahunnya terutama di negara sedang berkembang. Dan merupakan salah satu penyebab kematian bayi dan balita terbesar di dunia. Diare adalah perubahan kebiasaan buang air besar, ditunjukkan dengan peningkatan frekuensi (buang air besar lebih dari 3 kali 1 hari) ditandai perubahan tinja dari padat menjadi cair. Selain itu, penyakit ini juga menguras cairan dan elektrolit dalam tubuh melalui tinja yang cair tersebut. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti, maka penderita diare akan mengalami dehidrasi. Dehidrasi berat dapat menyebabkan kematian.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 2 tahun dan perbaikan kebersihan lingkungan bisa mengurangi kejadian diare pada anak. Diare juga berpengaruh terhadap pertumbuhan anak, baik fisik maupun kognitif. Diare dapat menyebabkan penurunan penyerapan zat gizi, oleh karena itu jika diare terjadi secara berulang kali dapat menyebabkan penurunan berat badan. Lebih lanjut diare dapat menyebabkan gangguan gizi pada anak. Pemberian nutrisi yang cukup saat anak diare maupun saat anak sehat sangat penting untuk mencegah terjadinya gangguan gizi pada anak (Prihaningtyas, 2014).

b. Klasifikasi Diare

Menurut Prihaningtyas Tahun 2014 diare dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Diare akut: diare yang terjadi kurang dari 14 hari (biasanya berlangsung 3-7 hari).

2. Diare persisten: diare yang terjadi lebih dari 14 hari, diagnosa awal sebagai diare akut.

3. Diare kronis: diare yang terjadi 2 minggu atau sampai 4 minggu yang disebabkan oleh infeksi atau gangguan pada sistem pencernaan.

(2)

c. Penyebab Diare

Penyebab diare adalah virus (rota virus); bakteri, diantaranya Shigella, Salmonella, Esheresia choli, Vibrio; dan parasite perut (cacing). Penyakit diare menular melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri. Masa tunasnya sangat akut dan pendek, dari beberapa jam hingga beberapa hari (antara 8 jam sampai 5 hari), tergantung penyebab sakitnya.

Perilaku yang tidak baik juga dapat menjadi sarana penularan diare.

Misalnya kebiasaan membuang air besar ditempat terbuka yang berakibat mencemari air, mencemari tanah, dan menjadi tempat hinggap lalat. Tidak mencuci tangan atau mencuci tangan tetapi tidak memakai sabun. Tidak memanfaatkan sarana air bersih.

Pada anak-anak, diare biasanya dikarenakan oleh adanya parasit, infeksi bakteri maupun virus, antibiotik, atau makanan (Pudiastuti, 2011).

1. Infeksi bakteri

Bakteri penyebab diare antara lain shigella, vibrio cholera, salmonella (non typoid), campylobacter jejuni, Escherichia. Diare akibat infeksi bakteri biasanya diikuti dengan kejang, terdapat darah tinja, dan demam.

2. Infeksi virus

Virus yang menimbulkan diare adalah rotavirus.

3. Antibiotik

Selama pemakaian antibiotik untuk pengobatan penyakit tertentu, antibiotik tersebut mungkin saja membunuh bakteri yang baik didalam usus sehingga menimbulkan diare.

4. Parasit

Parasit juga dapat menyebabkan diare. Misalnya penyakit giardiasis disebabkan oleh parasit mikroskopik yang hidup didalam usus. Gejala giardiasis adalah perut kembung, banyak gas, diare, serta tinja sangat banyak dan berbau busuk.

5. Makanan dan minuman

Terlalu banyak minuman manis dapat membuat perut bayi tidak menerima dan menyebabkan diare. Terlalu banyak jus (terutama jus buah yang mengandung sorbitol dan fruktosa yang tinggi), juga dapat menyebabkan diare.

(3)

6. Alergi makanan

Protein susu merupakan allergen (penyebab alergi) yang paling umum dijumpai pada bayi. Alergi makanan merupakan reaksi sistem imun tubuh terhadap makanan yang masuk. Alergi makanan pada bayi biasa terjadi pada bayi yang mulai mengenal makanan pendamping ASI. Selain protein susu, allergen yang umum dijumpai adalah telur, kedelai, gandum, kacang, ikan, dan kerang- kerangan.

7. Intoleransi makanan

Intoleransi makanan tidak dipengaruhi oleh system imun. Contoh intoleransi makanan adalah intoleransi laktosa (gula dalam susu sapi dan produk susu lainnya), yang sangat jarang ditemukan pada bayi. Jika bayi mengalami intoleransi laktosa, artinya bayi tersebut tidak cukup memproduksi lactase, yaitu enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa. Gejala seperti diare, perut kembung, dan banyak gas bisa terjadi bila laktosa tidak terurai. Gejala tersebut biasanya muncul sekitar satu atau dua jam setelah mengkonsumsi produk susu.

8. Kondisi ekonomi 9. Usia

10. Penggunaan obat antidiare

11. Tidak mendapatkan ASI Eksklusif 12. Kekurangan vitamin A

13. Sistem kekebalan tubuh yang lemah 14. Campak

d. Faktor Risiko Terjadi Diare

Penularan diare biasanya dari makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, kontak dengan makanan atau minuman yang tercemar oleh lalat yang sudah kontak dengan tinja penderita, pemakaian sabun batang bersama yang sudah terkontaminasi dengan tinja penderita, dan kontak dengan tinja penderita yang tidak mencuci tangan dengan bersih. Diare biasanya terjadi pada:

1. Daerah yang padat penduduknya dan kurang menjaga kebersihan lingkungan 2. Anak tidak mendapatkan ASI Eksklusif

3. Menyimpan dan memberikan makanan pada anak dengan cara yang kurang higienis

(4)

4. Kurangnya sarana kebersihan, seperti toilet (Prihaningtyas, 2014).

e. Penanganan Diare

Ada 5 pilar yang penting dalam penanganan diare, yaitu:

1. Rehidrasi: memberikan cairan yang cukup untuk mencegah atau menangani dehidrasi (Prihaningtyas, 2014). Bayi dan balita yang mengalami diare membutuhkan lebih banyak cairan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui tinja dan muntah. Pemberian cairan yang tepat dengan jumlah memadai dapat mencegah dehidrasi. Cairan harus diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi sesering mungkin secara teratur (Pudiastuti, 2011).

Oralit dapat mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit berfungsi menggantikan cairan tubuh yang hilang. Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama cairan.

Berikan cairan oralit dengan sendok, sesendok setiap 1-2 menit. Selanjutnya, cairan diberikan perlahan-lahan, misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit (Pudiastuti, 2011). Jika tidak tersedia cairan rehidrasi oral kemasan maka orangtua dapat membuat cairan rehidrasi serupa dirumah. Cairan rehidrasi oral dapat dibuat dengan menambahkan 8 sendok teh gula, ditambah 1 sendok teh garam, kemudian dilarutkan dalam 1 liter air matang. Pemberian ASI tetap diberikan pada bayi atau anak yang masih menyusu meskipun dalam tahap dehidrasi (Prihaningtyas, 2014).

Anak yang lebih besar dapat diberikan minum langsung dari gelas/cangkir dengan tegukan yang sering. Minum oralit satu gelas sekaligus dapat memicu muntah dan buang besar. Anak harus minum segelas oralit sedikit demi sedikit, 2- 3 teguk, kemudian berhenti selama 3 menit. Hal ini harus diulang terus menerus sampai satu gelas oralit habis. Jika terjadi muntah, ibu dapat menghentikan pemberian cairan selama kurang lebih 10 menit (Pudiastuti, 2011). Untuk mencegah dehidrasi, disarankan memberikan air minum tambahan sebanyak 50- 100 ml setiap kali Buang Air Besar (BAB) cair untuk anak dibawah umur 2 tahun dan 100-200 ml setiap kali BAB cair untuk anak umur diatas 2 tahun (Prihaningtyas, 2014).

Tanda dehidrasi ringan/sedang yaitu terdapat minimal 2 dari gejala berikut yaitu mata cekung, kehausan (anak tampak haus), gelisah/rewel, dan cubitan kulit kembali lambat (kulitnya tidak seelastis biasanya). Tanda dehidrasi berat yaitu

(5)

terdapat minimal 2 dari gejala berikut ini yaitu malas minum/tidak mau minum, tidak sadar, mata cekung, cubitan kulit kembali ≥2 detik (sangat lambat). Jika anak mengalami dehidrasi berat, maka pemberian oralit tidak lagi dianjurkan, melainkan anak harus diberi cairan lewat infus. Namun, jika anak menderita dehidrasi ringan/sedang maka pemberian oralit harus memenuhi jumlah yang dibutuhkan anak (sesuai berat badan), sebaiknya diberikan pada 3 jam pertama dalam pengawasan dokter dan dicek kembali untuk memastikan bahwa anak tidak mengalami dehidrasi berat (Prihaningtyas, 2014).

2. Nutrisi: pemberian makanan selama diare mencegah penurunan berat badan dan memberikan nutrisi anak untuk tetap kuat dan memiliki pertumbuhan yang baik. Bayi dan balita yang masih diberi ASI, teruskan minum ASI. Anak yang sudah tidak minum ASI, makan dan minum dilakukan seperti biasa untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Selain pemberian cairan, pemberian ASI maupun makanan pendamping ASI harus tetap dilanjutkan agar anak tidak jatuh kedalam keadaan kurang gizi dan pertumbuhannya terganggu. Sebaliknya, larutan-larutan yang hiperesmoler karena kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan. Contohnya yaitu teh yang sangat manis, soft drink, dan minuman buah komersial yang manis (Pudiastuti, 2011).

Pemberian ASI pada balita yang terkena diare sangat penting karena bayi yang memperoleh ASI secara terus menerus selama dua tahun sangat kecil kemungkinannya terserang diare. Manfaat ASI untuk mencegah diare belum banyak diketahui ibu-ibu yang menyusui. Justru kadang-kadang bila bayinya diare, pemberian ASI dihentikan. Ini adalah cara yang salah. ASI harus tetap diberikan walaupun anaknya terkena diare. Bila ibu menyusui bayinya dan hanya memberikan ASI maka ia akan mendapatkan 98% perlindungan dari sejak kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Berikan ASI saja (ASI Eksklusif) pada bayi sampai umur 6 bulan. Pemberian obat antidiare pada anak dapat berisiko menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya. Risiko tersebut dapat berupa mual, muntah, bahkan yang cukup berat timbulnya ileus paralitik (gangguan pada usus) yang dapat berakibat fatal bahkan tidak jarang membutuhkan pembedahan (Pudiastuti, 2011).

(6)

3. Tablet zinc: zat gizi mikro yang berfungsi dalam pertumbuhan sel, sebagai antioksidan, membentuk kekebalan tubuh, dan menjalankan fungsi usus (Prihaningtyas, 2014).

4. Edukasi: memberikan pemahaman pada orang tua kapan harus ke dokter (Prihaningtyas, 2014).

5. Antibiotik (jika perlu): hanya untuk tipe diare tertentu, misalnya untuk diare berdarah. Antibiotik tidak rutin diberikan, hanya pada kasus-kasus tertentu saja dokter akan meresepkan antibiotik. Saat ini lebih sering diberikan sejenis probiotik yang dicampurkan kedalam cairan atau makanan anak. Pemberian probiotik ini bertujuan untuk memperbanyak kuman baik sehingga dapat mempersingkat episode diare (Pudiastuti, 2011).

6. Antidiare: pemberian obat antidiare tidak direkomendasikan, terutama pada diare akut dan diare berdarah. Obat anti diare dikelompokkan menjadi obat yang bekerja sebagai agen antimotilitas, antisekresi, dan adsorben. Obat antimotulitas seperti loperamid bekerja dengan cara menghambat gerakan usus. Loperamid dapat mengurangi rasa nyeri perut atau kram perut akibat gerakan usus yang meningkat, namun menunda pengeluaran organisme penyebab diare sehingga sebenarnya membuat waktu sakit lebih panjang. Oleh karena itu, menurut World Health Organization (WHO), penggunaan loperamid hanya akan meningkatkan keparahan diare dan komplikasinya. Hal ini terutama terjadi pada diare berdarah.

Efek samping yang pernah dilaporkan anatara lain ileus (sumbatan usus), penurunan kesadaran, hingga kematian. Sedangkan, obat antisekresi dan absorben (kaolin-pectin, attapulgite, atau activated charcoal) tidak memiliki manfaat pada anak yang diare. Adsorben hanya memperbaiki konsistensi tinja saja, namun tidak mampu mengurangi kehilangan garam dan cairan pada anak diare (Prihaningtyas, 2014).

f. Pencegahan Diare

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencegah diare yaitu: (Pudiastuti, 2011) 1. Memberikan ASI Eksklusif pada anak selama 6 bulan dan meneruskannya hingga 2 tahun.

2. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, misalnya cuci tangan sebelum menyusui bayi, anak diajarkan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan

(7)

sesudah makan, mencuci tangan dengan sabun setelah bermain diluar rumah, tidak Buang Air Besar (BAB)/Buang Air Kecil (BAK) di sembarang tempat, tutup makanan dengan benar agar tidak dihinggapi lalat, buang sampah pada tempatnya.

3. Pada saat anak sudah mendapatkan Makanan Pendamping (MP) ASI, maka kebersihan makanan dan alat makanan harus benar-benar dijaga dan selalu mencuci tangan setiap kali menyiapkan makanan.

4. Minum air yang sudah direbus.

5. Pemberian imunisasi rotavirus.

2. Zinc

a. Pengertian Zinc

Zinc merupakan zat gizi mikro yang berfungsi dalam pertumbuhan sel, sebagai antioksidan, membentuk kekebalan tubuh, dan menjalankan fungsi usus (Prihaningtyas, 2014). Pada tahun 1869, Raulin menunjukkan bahwa zinc diperlukan untuk pertumbuhan Aspergillus niger (Prasad, 2008). Pada tahun 1934, Todd melaporkan bahwa zinc sangat penting untuk pertumbuhan tikus (Todd, 1934). Meskipun zinc penting untuk hewan, kekurangan zinc pada manusia dapat menyebabkan masalah klinis yang signifikan. Selama 40 tahun terakhir, bagaimanapun jelas bahwa kekurangan zinc pada manusia cukup lazim dan dapat mempengaruhi dua milyar manusia di negara berkembang (Prasad, 2008). Zinc adalah zat gizi mikro, dikenal sejak tahun 1961 menjadi penting untuk manusia (Livingstone, 2015).

b. Fisiologi Zinc dalam Tubuh

Zinc merupakan elemen kedua yang paling banyak dalam tubuh dan intraseluler. Zinc ada di semua jaringan dan cairan tubuh tetapi sebagian besar terletak di otot rangka dan tulang. Meskipun zinc melimpah dalam tubuh, namun tidak ada penyedia khusus untuk zinc. Sehingga simpanan dalam jaringan digunakan untuk seluruh tubuh tetapi ini prosesnya lambat. Dalam plasma, zinc terikat dengan albumin dan 2 macroglobulin. Konsentrasi plasma dikelola oleh darah dalam redistribusi (mengalirnya darah keseluruh tubuh). Peran fisiologis zinc dapat dibagi menjadi katalik, struktural dan pengaturan. Ada sekitar 300 zinc metalloenzymes, termasuk karbonat anhydrase, alkaline phosphatase, alcohol dehirogenase, DNA polymerase, rantai protein, dan tembaga. Zinc superoksida

(8)

dismutase, zinc merupakan komponen turunan dari enzim ini. Secara kolektif, enzim ini diperlukan untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Zinc memiliki peran positif untuk transportasi vitamin A sebagai komponen dari Retinol Binding Protein (RBP) dan dalam sintesis rhodopsin. Peran struktural dalam protein, membran sel, sinyal sel, pelepasan hormone, dan apoptosis (Livingstone, 2015).

c. Manfaat Zinc

Zinc memiliki banyak manfaat yaitu untuk proses anabolik seperti pertumbuhan, pemeliharaan jaringan, dan penyembuhan luka. Untuk pertumbuhan harus memiliki makronutien yang cukup. Kandungan gizi ini terkait dengan pertumbuhan hormon peptida Insulin-Like Growth Factor I (IGF-I). IGF-I menstimulasi proliferasi seluler dan penyerapan asam amino dan glukosa, yang dibutuhkan oleh sel-sel berkembang biak. Status zinc yang memadai diperlukan untuk pemeliharaan plasma konsentrasi IGF-I bahkan ketika asupan energi cukup (Livingstone, 2015). Zinc sangat penting untuk perkembangan normal dan fungsi sel mediasi imunitas bawaan, neutrophil, dan sel NK. Makrofag juga dipengaruhi oleh zinc. Fagositosis, pembunuh intraseluler, dan produksi sitokin semua dipengaruhi oleh zinc (Prasad, 2008) .

d. Proses Penyerapan, Ekskresi dan Homeostatis Zinc

Zinc diserap di duodenum dan jejunum proksimal, diangkut dalam enterosit oleh transporter tertentu dinyatakan dalam membrane apical. Penyerapan ditingkatkan dengan asam sitrat dan dihambat oleh zat besi, serat, dan fitat, yang merupakan kelator zinc. Vegetarian mungkin membutuhkan 50% lebih zinc dalam diet mereka. Zinc diserap lalu diangkut ke hati melalui sistem portal atau terikat untuk Metallothionein (MT) intraseluler dalam eriterosit dan MT kembali ke usus.

Zinc secara efisien diekskresikan ke dalam empedu pada konsentrasi sekitar 4 mg/mL. Beberapa zinc diserap kembali, melakukan sirkulasi enterohepatik, gastrointestinal (GI) hilang 2-4 mg/d. Ekskresi fisiologis lainnya terjadi pada kulit dan rambut. Mempertahankan konsentrasi zinc intraseluler konstan dan konsentrasi plasma. Pengaturan pertahanan zinc terjadi ditingkat penyerapan usus, ekskresi GI, ekskresi urin, dan retensi seluler (Livingstone, 2015).

(9)

e. Defisiensi Zinc

Penyebab defisiensi zinc yaitu asupan yang tidak memadai, penyerapan berkurang, peningkatan kebutuhan yang disebabkan oleh penyakit radang usus, diare, steatorrhea, enterostomi, fistula, kebocoran chyle dan peningkatan kebutuhan oleh penyakit sistemik yang mengakibatkan stress oksidatif meningkat (Livingstone, 2015). Kekurangan zinc di negara-negara berkembang disebabkan oleh konsumsi asupan sereal tinggi protein, kaya fitat (senyawa fosfat organik), yang membuat zinc tidak tersedia untuk penyerapan. Penyebab lain defisiensi zinc termasuk sindrom malabsorpsi, hyperzincuria seperti yang terlihat pada sirosis hati dan penyakit sel sabit, kehilangan darah akibat infeksi cacing tambang, dan keringat berlebihan diiklim tropis yang panas. Kekurangan zinc mempengaruhi pertumbuhan dan fungsi sel T dan B. Kemampuan zinc sebagai antioksidan dan menstabilkan membrane menunjukkan bahwa ia memiliki peran dalam pencegahan cedera radikal selama proses inflamasi (Prasad, 2008).

f. Akibat Kekurangan Zinc

Kekurangan zinc dapat menyebabkan ruam kulit, penurunan vitamin A, diare, rabun, system kekebalan tubuh menurun, infeksi berulang, hipofungsi gonad, penurunan konsentrasi testosteron plasma dan kesuburan, karena zinc diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan, defisiensi juga dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, alopecia, dan penurunan kerja otot.

Kekurangan zinc selama kehamilan memiliki efek beragam pada janin seperti prematur, berat badan lahir rendah, gangguan perkembangan kognitif dan kelainan bawaan. Total kebutuhan zinc sekitar 2 g, 95% di intraseluler (Livingstone, 2015).

g. Sumber Zinc

Kekurangan zat besi, zinc, yodium dan vitamin A tersebar luas di Negara berkembang. Ketersediaan hayati yang buruk dari zat gizi mikro dari makanan nabati menjadi alasan. Sumber zinc dapat didapatkan dari rempah-rempah allium, bawang putih, sayuran kaya b-karoten seperti wortel dan bayam, rempah-rempah pedas seperti jahe, buah-buahan seperti mangga dan papaya, susu, makanan dari olahan susu, dan Air Susu Ibu (ASI) untuk balita (Platel, 2015).

(10)

h. Zinc dalam Penatalaksanaan Diare

Zinc merupakan zat gizi mikro yang berfungsi dalam pertumbuhan sel, sebagai antioksidan, membentuk kekebalan tubuh, dan menjalankan fungsi usus.

Zinc juga meningkatkan regenerasi sel epitel usus, membantu dalam penyerapan air dan elektrolit, serta meningkatkan kekebalan tubuh. Zinc pada bayi kurang dari 2 bulan diberikan dengan dosis 10 mg/hari selama 10 hari. Pada anak, zinc diberikan dengan dosis 20 mg/hari selama 10 hari. Pemberian zinc sesuai dosis dapat menurunkan intensitas diare selanjutnya. WHO menganjurkan zinc pada diare untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah terjadinya komplikasi seperti diare kronis dan gizi buruk. Manfaat zinc tidak hanya diperoleh saat anak mengalami diare akut. Zinc yang diberikan pada diare persisten juga memiliki efek yang sama.

Empat penelitian yang dilakukan di Peru, Pakistan, dan Bangladesh yang dalam The American Journal of Clinical Nutrition (2000), memberikan hasil bahwa suplementasi zinc memperpendek durasi terjadinya diare persisten hingga 24%. Dari beberapa penelitian dalam Cochrane Review (2008) dan Indian Journal of Pharmacology (2011) didapatkan bahwa hampir tidak ada efek samping penggunaan zinc, kecuali muntah. Konsumsi zinc hingga 40 mg masih aman untuk tubuh. Pada anak yang mengalami diare, diberikan tablet zinc dengan dosis:

a) Kurang dari 6 bulan: 10 mg per hari (1/2 tablet) selama 10-14 hari b) Lebih dari 6 bulan: 20 mg per hari (1 tablet) selama 10-14 hari

Zinc memiliki banyak jenis, tablet dan sirup. Pemberian tablet zinc pada anak dapat dilakukan dengan cara melarutkannya dengan 5 ml (satu sendok teh) ASI perah, oralit, atau air matang. Jangan lupa bahwa zinc diberikan hingga 10 hari meskipun anak sudah berhenti diare. Pemberian zinc hingga 10 hari dapat memperbaiki kesehatan, pertumbuhan, dan nafsu makan anak. Zinc yang digunakan dalam pengelolaan diare harus larut dalam air. Jenis zinc berikut yang digunakan sulfat, asetat dan glukonat (WHO, 2006). Zinc menghambat sekresi klorida yang diinduksi cAMP dengan secara spesifik menghambat saluran kalium (K) basolateral tanpa efek penyumbatan pada saluran K yang dimediasi kalsium (Ca) (Prihaningtyas, 2014).

(11)

Pemeliharaan tekanan osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan tubuh manusia adalah fungsi utama empat elektrolit mayor yaitu natrium, kalium, klorida dan bikarbonat. Kalium kation terbanyak dalam cairan intrasel dan klorida merupakan anion terbanyak dalam cairan ekstrasel. Jumlah natrium, kalium dan klorida dalam tubuh merupakan cermin keseimbangan antara yang masuk terutama dari saluran cerna. Diare, tumor kolon (adenoma vilosa) dan pemakaian pencahar menyebabkan kalium keluar bersama bikarbonat pada saluran cerna bagian bawah (asidosis metabolik) dan dapat menyebabkan hipokalemia (Yaswir, 2012).

Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada kasus akibat rotavirus.

Pemberian antibiotik pada kasus infeksi rotavirus hanya akan meningkatkan risiko terjadinya kebal antibiotik. Pemberian obat antidiare juga tidak direkomendasikan pada anak, terutama pada diare akut dan persiten. Pengobatan suportif seperti asupan cairan yang cukup dan zinc merupakan perawatan diare yang direkomendasikan. Antibiotik baru diberikan saat terjadi infeksi diare yang bercampur dengan darah (Prihaningtyas, 2014).

Pemberian oralit osmolaritas rendah dan pemberian zinc adalah baik bagi pasien diare. Pemberian Cairan Rumah Tangga (CRT) untuk mencegah dehidrasi tetap dianjurkan. Komposisi cairan tersebut adalah air, natrium (garam), dan glukosa (gula) dengan osmolaritas tidak lebih dari 289 osmol setara dengan cairan normal (fisiologis). Anak yang diare dan diobati dirumah harus diberikan obat zinc selama 10 hari. Berikut ini adalah manfaat dari pemberian zinc:

a) Mengurangi angka kejadian diare dalam kurun waktu 2-3 bulan kedepan.

b) Mempunyai efek pada fungsi kekebalan saluran cerna, yang mempengaruhi struktur saluran cerna.

c) Mempercepat terjadinya proses penyembuhan epitel selama diare.

d) Sangat berperan dalam metallo-enymes dengan meningkatkan fungsi dan memacu pertumbuhan sel dalam system kekebalan.

e) Mengurangi jumlah tinja sampai 18-59%.

f) Tidak adanya efek samping.

g) Biayanya murah.

h) Bisa menekan penggunaan antibiotik.

(12)

3. Probiotik a. Pengertian

Probiotik adalah kuman yang berasal dari usus manusia yang diisolasi dari tinja manusia sehat. Probiotik diyakini dapat mencegah diare dengan cara merangsang respons system kekebalan tubuh, memproduksi bahan antimikroba terhadap kuman tertentu, dan berfungsi mencegah pertumbuhan kuman. Sejauh ini konsumsi probiotik tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya. Probiotik dapat diberikan pada anak yang menderita diare akut dan diare persisten dengan dosis yang dianjurkan. Probiotik (secara harfiah berarti "seumur hidup") adalah mikroorganisme yang konon memiliki manfaat kesehatan bagi organisme inang.

Mendefinisikan probiotik adalah tantangan karena keterbatasan dalam pemahaman kita tentang mekanisme aksi melalui mana organisme dapat menguntungkan tuan rumah manusia (Hempel, 2014).

b. Karakteristik Probiotik

Jenis bakteri dan jamur yang telah digunakan dalam studi penelitian untuk sifat probiotik mereka adalah spesies Lactobacillus, Lactococcus dan Bifidobacterium yang paling umum; genus bakteri lain, seperti Streptococcus, Enterococcus, dan Bacillus, dan spesies dari genus ragi Saccharomyces juga telah dipelajari. Seperti saat ini berdiri, istilah "regenerasi" lebih baik dipahami sebagai merujuk pada niat, daripada efek, dari persiapan mengingat bahwa membangun sifat menguntungkan dari intervensi sering kali menjadi tujuan dari studi penelitian (Hempel, 2014).

Selain probiotik, kita juga mengenal prebiotik. Prebiotik ialah bahan yang komposisi umumnya karbohidrat yang jika dikonsumsi dapat merangsang pertumbuhan kuman probiotik. Prebiotik yang banyak digunakan yaitu inulin dan fruktooligosakarida (FOS). Sementara itu, sinbiotik adalah gabungan antara probiotik dan prebiotik berupa oligosakarida (makanan prebiotik). Pemberian prebiotik dan sinbiotik tidak terlalu dibutuhkan untuk penyakit ini, karena didalam usus sudah tersedia bahan makanan probiotik. Untuk organisme yang dianggap sebagai probiotik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu harus diisolasi dari spesies yang sama yang dimasukkan pada host, harus telah dibuktikan bahwa menguntungkan untuk host, tidak patogen, mampu bertahan transit melalui

(13)

saluran pencernaan, dalam penyimpanan mampu bertahan hidup dalam waktu yang lama (Sarao, 2017).

c. Kelangsungan Hidup Probiotik

Mikroorganisme dikenal dapat bertahan dilambung dan usus kecil, tetapi banyak bakteri yoghurt yang memproduksi L. delbrueckil, subsp. Bulgaricus dan S. thermophiles sering tidak bertahan untuk mencapai usus kecil. Ini terjadi karena pH rendah dalam perut. Pada individu puasa, pH lambung adalah antara 1.0-2.0, dan kebanyakan mikroorganisme termasuk lactobacilli dapat bertahan mulai 30 detik hingga beberapa menit dibawah kondisi ini. Oleh karena itu, untuk menjaga efektivitas probiotik, pemilihan strain yang dapat bertahan dalam asam pada pH 3.0 seperti susu, yoghurt atau makanan lainnya.

Menentukan probiotik yang mampu bertahan dalam lingkungan asam diperut salah satu kriteria penting, dimana pH bisa mencapai serendah 1.5.

Organisme harus mampu bertahan dalam konsentrasi empedu yang dihadapi dalam usus. Diantara beberapa strain Lactobacillus dan Bifidobacterium hanya beberapa strain yang bertahan dalam kondisi asam dan konsentrasi empedu biasanya ditemui dalam produk fermentasi dan dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu tidak dapat digeneralisasikan bahwa semua probiotik adalah asam dam toleran empedu. Bifidobacterium bertahan lebih baik dalam kondisi asam dan mampu mentolerir konsentrasi empedu setinggi 4% (Sarao, 2017).

d. Peningkatan Imunologi (Kekebalan Tubuh)

Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada laporan yang menunjukkan bahwa lactobacillus digunakan dalam produk susu yang dapat meningkatkan respon kekebalan tubuh dari host. Organisme yang telah diidentifikasi sebagai kekebalan ini adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium. Calon probiotik, dalam pengaturan yang sesuai (resisten infeksi) harus diuji untuk peningkatan respon imunologi. Pengukuran yang harus dipertimbangkan adalah proliferasi limfosit interleukin 1,2 dan 6, faktor tumor nekrosis, produksi prostaglandin E, dan serum protein total, albumin, globulin, dan interferon gamma (Sarao, 2017).

e. Sifat Antimikroba Probiotik dalam Penanganan Diare

Mikroflora dalam usus kecil adalah ekosistem yang kompleks.

Memperkenalkan oranisme baru kedalam lingkungan yang sangat kompetitif ini

(14)

sulit. Dengan demikian, organisme yang dapat menghasilkan produk yang akan menghambat pertumbuhan atau membunuh organisme yang ada dilingkungan usus memiliki keuntungan yang berbeda. Kegiatan bakterisida dan bakteriostatik dari media pertumbuhan filter dan sonic dari sel-sel bakteri dari calon probiotik harus diuji diplat yang baik terhadap berbagai patogen. Kemampuan probiotik untuk memproduksi di saluran pencernaan akan di tingkatkan dengan kemampuan mereka untuk menghilangkan kompetitornya (Sarao, 2017). Probiotik mampu untuk rekolonisasi mukosa, mengembalikan keseimbangan mikrobiota usus, dan meningkatkan mukasa serta kekebalan sistemik. Dengan demikian, probiotik telah diusulkan sebagai pencegahan dan pengobatan yang baik untuk diare (Guarino, 2015).

f. Probiotik dalam Penatalaksanaan Diare

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang memberi manfaat kesehatan kepada inangnya bila diberikan dalam jumlah yang memadai. Bifidobacterium dan strain bakteri asam laktat adalah bakteri yang paling banyak digunakan dan terkandung dalam suplemen makanan (Plaza-diaz, 2019). Penggunaan probiotik dalam pencegahan dan pengendalian penyakit gastrointestinal khususnya diare akibat penggunaan antibiotik berkepanjangan telah dipertimbangkan selama dua dekade terakhir. Probiotik adalah mikroorganisme vital yang mendukung flora usus dan mengurangi invasi bakteri pada dinding usus. Probiotik mencegah pertumbuhan patogen, meningkatkan produksi zat antimikroba dan perubahan keasaman lingkungan usus, sehingga meminimalisir kemungkinan infeksi dengan memproduksi asam lemak. Probiotik seperti Lactobacillus acidophilus dan Enterococcus faeciumSF68, digunakan untuk mencegah atau mengobati diare.

Probiotik juga telah dievaluasi untuk pengendalian diare rotaviral pada anak-anak dan diare pada traveler (Ahmadipour, 2019).

Probiotik efektif untuk pengobatan dan pencegahan diare. Probiotik efektif untuk pengobatan diare pada traveler dan penyakit dengan asal infeksi, seperti rotavirus pada anak-anak. Probiotik termasuk jenis Lactobacillus tertentu mengurangi risiko diare pada anak-anak. Peradangan pada selaput lendir usus atau gastroenteritis adalah salah satu penyebab utama diare akut, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari. Virus, bakteri, dan parasit memicu

(15)

gastroenteritis. Pada anak-anak rotavirus adalah penyebab utama gastroenteritis.

Pemberian air dan elektrolit oral adalah pengobatan yang paling umum, tetapi itu tidak mengurangi durasi penyakit. Bukti menunjukkan bahwa asupan probiotik mengurangi durasi diare terutama ketika dimulai segera pada tanda-tanda awal timbulnya gejala. Pengobatan probiotik mungkin tidak efektif dalam kasus-kasus lanjut yang memerlukan intervensi intravena (Ahmadipour, 2019).

B. Penelitian Relevan

1. Lukacik et al. (2008) dengan judul “A meta-analysis of the effects of oral zinc in the treatment of acute and persistent diarrhea”. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi dan keamanan terapi zinc oral tambahan selama pemulihan dari diare akut atau persisten. Metode dalam penelitian ini yaitu meta analisis dari uji coba terkontrol secara acak. Penelitian ini menggunakan risiko relatif yang dikumpulkan atau perbedaan rata-rata. Total studi diidentifikasi sebanyak 22 studi, 16 (n = 15.231) diare akut dan 6 (n = 2.968) diare persisten. Hasil penelitian ini yaitu durasi rata-rata diare akut dan diare persisten secara signifikan lebih rendah untuk zinc dibandingkan dengan plasebo. Anak-anak yang menerima zinc melaporkan penurunan 18,8% dan 12,5% pada frekuensi tinja rata-rata, 15,0% dan 15,5% pemendekan durasi diare , dan 17,9% dan 18,0% mengurangi diare lebih dari plasebo pada uji coba akut dan persisten. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik.

2. Wanke et al. (2014) dengan judul “Probiotics for preventing healthcare- associated diarrhea in children: A meta-analysis of randomized controlled trials”.

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperbaharui bukti tentang kemajuan penggunaan probiotik untuk pencegahan diare pada anak-anak. Metode pada penelitian ini yaitu Randomized Controlled Trial (RCT) yang dilakukan pada anak-anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun dan membandingkan efek dari pemberian probiotik dengan plasebo atau tanpa intervensi. Enam RCT yang melibatkan 1.343 anak memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian ini adalah pemberian Lactobacillus rhamnosus GG (LGG) dibandingkan dengan plasebo mengurangi risiko diare, mengurangi risiko gastroenteritis rotavirus, tetapi tidak mengurangi risiko infeksi rotavirus asimptomatik. Pemberian Bifidobacterium

(16)

bifidum & Streptococcus thermophilus dibandingkan dengan plasebo mengurangi risiko diare terkait perawatan kesehatan, gastroenteritis rotavirus, dan infeksi asimptomatik rotavirus. Pemberian dua probiotik lain (Lactobacillus reuteri DSM 17938 dan Lactobacillus delbrueckii H2B20) tidak efektif. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan melakukan pada anak-anak usia 0-5 tahun dan peneliti juga mengidentifikasi efektivitas penggunaan zinc.

3. Lazzerini et al. (2016) dengan judul “Oral zinc for treating diarrhea in children”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi suplemen zinc dalam pengobatan anak-anak dengn diare akut atau persisten. Metode dalam penelitian ini meta analisis dengan RCT yang membandingkan suplemen zinc dengan placebo pada anak usia satu bulan hingga lima tahun dengan diare akut atau persisten, termasuk disentri. Hasil dari penelitian ini yaitu pada anak-anak yang lebih tua dari enam bulan, suplementasi zinc dapat mempersingkat durasi diare rata-rata sekitar setengah hari. Sebaliknya pada anak-anak di bawah enam bulan, bukti yang tersedia menunjukkan suplementasi zinc mungkin tidak berpengaruh pada durasi rata-rata diare, atau jumlah anak yang masih mengalami diare pada hari ke tujuh. Pada anak-anak dengan diare persisten, suplementasi zinc mungkin mempersingkat durasi rata-rata diare sekitar 16 jam. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti akan mengidentifikasi efektivitas penggunaan zinc dan probiotik. Data dipilih dengan menggunakan kriteria PICO (population, intervention, comparison and outcomes).

4. Yazar et al. (2016) dengan judul “Effects of zinc or synbiotic on the duration of diarrhea in children with acute infectious diarrhea”. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek dari sinbiotik dibandingkan dengan zinc dengan melihat durasi diare pada anak. Metode pada penelitian ini dengan cara uji klinis tunggal, acak dan terkontrol pada anak dengan diare akut. Kelompok pertama menerima sinbiotik, kelompok kedua menerima zinc dan kelompok ketiga menerima oralit.

Hasil dari peneltian ini adalah durasi diare berkurang secara signifikan pada kelompok sinbiotik dan zinc dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam durasi diare antara kelompok sinbiotik dan zinc.

Pada jam ke-72 dan ke-96, persentase anak-anak dengan diare lebih rendah pada kelompok zinc dibandingkan pada kelompok sinbiotik. Perbedaan dengan

(17)

penelitian ini adalah peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Analisis statistik yang digunakan yaitu meta analisis. Peneliti tidak melakukan penelitian secara langsung, peneliti menggunakan data sekunder dari studi relevan sebelumnya.

5. Galvao et al. (2013) dengan judul “Zinc supplementation for treating diarrhea in children: a systematic review and meta-analysis”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperbarui bukti yang tersedia tentang penggunaan zinc untuk pengobatan diare pada anak-anak. Metode pada penelian ini dengan uji klinis acak yang menilai anak-anak hingga 5 tahun dengan diare akut yang menerima suplemen zinc. Hasil dari penelitian ini yaitu delapan belas dari 1.041 studi yang diambil dimasukkan dalam penelitian (n=7314 anak-anak). Zinc bermanfaat untuk mengurangi durasi diare dalam jam. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Data dari studi relevan sebelumnya dikumpulkan berdasarkan kriteria PICO.

6. Urbańska et al. (2016) dengan judul ”Systematic review with meta-analysis:

Lactobacillus reuteri DSM 17938 for diarrhoeal diseases in children”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemanjuran lactobacillus reuteri DSM 17938 (L.reuteri) dalam menangani penyakit diare. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu RCT. Hasil dari penelitian ini yaitu delapan RCT (n=1229) memenuhi kriteria inklusi. Dalam uji coba pengobatan, pemberian L.reuteri mengurangi durasi diare dan meningkatkan tingkat penyembuhan pada hari 1 dan hari 2. Dalam pengaturan pencegahan, L.reuteri memiliki potensi untuk mengurangi risiko diare pada anak-anak yang sehat. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak.

7. Sharif et al. (2016) dengan judul “The effect of a yeast probiotic on acute diarrhea in children”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh S. boulardii terhadap diare pada anak-anak. Metode pada penelitian ini menggunakan kasus kontrol pada 100 pasien diobati dengan S. boulardii sebagai tambahan oralit dan 100 pasien diberi plasebo. Hasil penelitian menunjukkan

(18)

bahwa frekuensi buang air besar setelah hari kedua pengobatan pada kelompok kasus secara signifikan lebih rendah daripada kelompok kontrol (P=0,001) dan jumlah rata-rata hari diare.secara signifikan lebih rendah pada kelompok kasus (P=0,001). Hasil penelitian ini menegaskan bahwa S. boulardii mengurangi frekuensi buang air besar dan lama sakit pada anak-anak. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Peneliti menggunakan meta analisis untuk analisis statistik. Peneliti tidak melakukan penelitian secara langsung karena menggunakan data sekunder.

8. Grenov et al., (2017) dengan judul “Effect of probiotics on diarrhea in children with severe acute malnutrition: a randomized controlled study in Uganda”. Penelitian ini dilakukan untuk menilai efek dari probiotik pada diare selama pengobatan dan rawat jalan anak-anak dengan gizi buruk. Metode pada penelitian ini menggunakan RCT dengan melibatkan 400 anak yang dirawat dengan gizi buruk. Pasien menerima 1 dosis harian campuran Bifidobacterium animalis subsp lactis dan Lactobacillus rhamnosus (10 miliar unit pembentuk koloni, 50:50) atau plasebo selama rawat inap diikuti dengan periode perawatan rawat jalan 8 hingga 12 minggu, tergantung pada pemulihan pasien menilai.

Semua hasil dilaporkan untuk perawatan rawat inap dan rawat jalan secara terpisah. Hasil utama adalah jumlah hari dengan diare selama rawat inap. Hasil sekunder termasuk hasil diare lainnya , pneumonia, pertambahan berat badan, dan pemulihan. Hasil dari penelitian ini yaitu tidak ada perbedaan dalam jumlah hari dengan diare antara kelompok probiotik (n=200) dan plasebo (n=200) selama rawat inap. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Analisis statistik yang digunakan peneliti adalah meta analisis.

9. Liu et al. (2017) dengan judul “Probiotic for prevention of radiation induced diarrhea: a meta analysis of randomized controlled trials”. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemanjuran suplementasi probiotik untuk pencegahan diare yang disebabkan radiasi. Metode pada penelitian ini yaitu RCT yang relevan dengan studi yang menilai efek dari suplementasi probiotik pada hasil klinis yang dibandingkan dengan plasebo. Enam percobaan total 917 peserta

(19)

(490 anak menerima probiotik profilaksis dan 427 anak menerima plasebo), dimasukkan dalam meta analisis. Hasil dari penelitian ini yaitu probiotik dikaitkan dengan insiden lebih rendah dari diare yang disebabkan radiasi. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam penggunaan obat anti-diare atau skala bristol pada bentuk tinja. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Analisis statistik yang digunakan peneliti adalah meta analisis.

10. Johnston et al. (2011) dengan judul “Probiotics for the prevention of pediatric Antibiotic-Associated Diarrhea (AAD)”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menilai kemanjuran dan keamanan probiotik yang digunakan untuk pencegahan AAD. Metode pada penelitian ini yaitu RCT pada anak-anak (0-18 tahun) yang menerima antibiotik dan membandingkan dengan probiotik. Hasil pada penelitian ini yaitu dari 23 percobaan (3938 anak) melaporkan kejadian diare menunjukkan manfaat yang tepat dari probiotik dibandingkan dengan antibiotik, plasebo atau tidak ada kontrol pengobatan. Insiden AAD dalam probiotik kelompok adalah 8% (163/1992) dibandingkan dengan 19% (364/1906) pada kelompok control. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu peneliti akan mengidentifikasi perbedaan efektivitas penggunaan zinc dan probiotik dalam penatalaksanaan diare pada anak. Analisis statistik yang digunakan peneliti adalah meta analisis.

(20)

C. Kerangka Berpikir

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

D. Hipotesis

1. Pemberian terapi zinc lebih efektif dibandingkan dengan plasebo dalam penatalaksanaan diare pada anak.

2. Pemberian terapi probiotik lebih efektif dibandingkan dengan plasebo dalam penatalaksanaan diare pada anak.

Zinc

(Glukonat, Sulfat dan Asetat)

Probiotik

(Lactobacillus, Bifidobacterium, Streptococcus, Enterococcus, Bacillus, dan Saccharomyces)

Menghambat sekresi klorida

Meningkatkan kekebalan tubuh

Menghambat pertumbuhan organisme penyebab diare

dalam usus Menghambat saluran kalium

Penyembuhan diare

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan pasien yang seragam adalah pelayanan yang diberikan Pelayanan pasien yang seragam adalah pelayanan yang diberikan kepada populasi pasien yang sama pada

argumen utama untuk kurs aluta yang fleksibel adalah bah#a kurs tersebut lebih realistis dibandingkan kurs tetap. Kurs fleksibel juga dapat membantu untuk men%egah defi%it

Apabila dua buah induktor / kumparan / koil (N1 dan N2) yang berdekatan satu sama lainnya, dan bilamana salah satu kumparan dialiri oleh arus (misalnya N1) tersebut akan timbul

Agrowisata dapat dijadikan sebagai salah satu wisata desa untuk memperkenalkan potensi sumber daya alam yang terdapat di Taman Nasional Way Kambas.. Kata kunci: Agrowisata,

Mulai dari informasi Komponen dan Fungsi Sistem Ballast di Ruang Mesin atau Perhitungan Pompa, Perhitungan Head Pompa, perhitungan diameter  pipa Ballast cabang dan utama,

Sehingga diharapkan siswa dapat menemukan minat dan juga termotifasi dalam pembelajaran menulis poster, sehingga dalam pelaksanaanya yaitu dengan menggunakan media

Ketika silinder selular tetap berada di nefron untuk beberapa waktu sebelum mereka dikeluarkan ke kandung kemih, sel-sel dapat berubah menjadi silinder granular kasar, kemudian

ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Prof.Dr.H.M.Najib Dahlan Lubis, Sp.PA (K), selaku Guru Besar Departemen Patologi Anatomi Fakultas