• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKRETARIAT JENDERAL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKRETARIAT JENDERAL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SEKRETARIAT JENDERAL

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

JL. JENDERAL GATOT SUBROTO KODE POS 10270

TELP. (021) 5715349 FAX. (021) 5715423 / 5715295 WEBSITE : www.dpr.go.id

Optimalisasi Kesetaraan Gender di Bidang Ekonomi

Penulis:

Martha Carolina, SE.,Ak., M. Ak.

Orlando Raka Bestianta, S.E.

Arjun Rizky Mahendra, S.E.

Kesetaraan gender ditempatkan sebagai aspek yang sangat penting dalam tujuan ke 5 pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) tahun 2015- 2030 yaitu “Mencapai Kesetaraan Gender dalam Memberdayakan Kaum Perempuan”.

Komitmen Pemerintah terhadap kesetaraan gender juga tersebar dalam berbagai dokumen pembangunan, diantaranya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) 2005-2025 dan RPJMN 2020-2024. Peningkatan kualitas SDM merupakan prioritas dalam RPJMN 2020-2024. Peningkatan kualitas anak dan perempuan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas SDM. Kesetaraan gender, pemberdayaan, dan perlindungan perempuan menjadi faktor penting untuk memastikan keterlibatan perempuan secara bermakna di dalam pembangunan.

Capaian utama pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan ditandai dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Berdasarkan data BPS IPG yang mengukur dimensi angka harapan hidup pada saat lahir, harapan lama sekolah, dan rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan dari 91,06 di tahun 2020 menjadi 91,27 di tahun 2021. Hal ini berarti kesenjangan pembangunan antara perempuan dan laki-laki semakin mengecil di beberapa bidang pembangunan. Meskipun IPG meningkat namun ada beberapa daerah yang IPG nya masih rendah yaitu Papua, Maluku Utara, dan Papua Barat. Sementara itu, IDG merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan gender dibidang ekonomi, partisipasi politik, dan pengambilan keputusan. IDG di tahun 2020 sebesar 75,57 menjadi 76,26 di tahun 2021. Meskipun IDG meningkat ada beberapa provinsi yang IDG nya masih rendah seperti Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Di sisi lain capaian tersebut, World Economic Forum (WEF) dalam laporan The Global Gender Gap Report tahun 2022 indeks ketimpangan gender Indonesia dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya hanya berada di peringkat keenam dengan indeks sebesar 0,697. Sementara di dunia, peringkat kesetaraan gender Indonesia berada di urutan 92 dari 146 negara. WEF menggunakan dimensi yang lebih luas untuk mengukur kesetaraan gender berdasarkan empat komponen utama yaitu bidang ekonomi, pemberdayaan politik, pendidikan, dan kesehatan. Berdasarkan WEF tahun

(2)

2022 indeks ketimpangan gender Indonesia menurut elemen pembentuknya indeks pemberdayaan perempuan di bidang politik masih sangat rendah yaitu 0,169 dibawah rata-rata global, indeks partisipasi dan kesempatan ekonomi berada di 0,674 berada di kisaran rata-rata global, indeks bidang pendidikan berada di 0,972 dan indeks kesehatan berada di 0,97 berada di kisaran rata-rata global.

Ketimpangan Gender di Bidang Ekonomi

Kesetaraan gender di bidang ekonomi bertujuan agar perempuan dan laki-laki memperoleh hak, akses, manfaat, dan partisipasi yang sama dalam proses pembangunan. Kesetaraan gender dalam ekonomi dapat mendukung pembangunan ekonomi yang maksimal. Analisis Bank Dunia tahun 2000 melalui publikasinya Engendering Development menyebutkan bahwa kenaikan rata-rata pendidikan perempuan satu tahun, akan setara dengan kenaikan Produk Domestik Bruto per kapita sebesar US$ 700. Mc Kinsey & Company memproyeksikan Indonesia dapat meningkatkan PDB senilai US$135 miliar pada 2025, jika dapat mendorong kesetaraan perempuan dalam kontribusi ekonomi.

Ketimpangan gender di bidang ekonomi dapat dilihat dari pengeluaran perkapita perempuan terhadap laki-laki yang tidak setara. Pengeluaran perkapita tahun 2021 laki-laki sebesar Rp15.770.000 per tahun sementara perempuan baru mencapai Rp9.050.000 per tahun (BPS, 2021). Rendahnya tingkat pengeluaran perempuan menjadi indikasi rendahnya kesejahteraan perempuan. Ketimpangan gender dalam ekonomi lainnya adalah upah yang diterima pekerja perempuan dan laki-laki. Rata-rata upah pekerja perempuan selama 5 tahun terakhir masih berada dibawah upah laki-laki.

Rata-rata upah laki-laki tahun 2022 sebesar Rp3,14 juta dan rata-rata upah buruh perempuan sebesar Rp2,43 juta (BPS, 2022), selisih sebesar Rp710.000 lebih rendah dibandingkan selisih upah laki-laki, selisih nilai ini telah meningkat hampir Rp332.000 (selisih upah pada tahun 2014 adalah sebesar Rp378.000). Rendahnya upah yang diperoleh ini disebabkan kesenjangan yang tinggi pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Data Sakernas Agustus 2021 menunjukkan bahwa TPAK Perempuan sebesar 53,34 persen atau masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan TPAK laki-laki mencapai 82,27 persen. Pekerjaan yang digeluti perempuan sebagian besar cenderung pada bidang pertanian, perikanan, kehutanan (26,62%); perdagangan besar, industri, eceran, reparasi; reparasi perawatan mobil dan sepeda motor (23,71%) serta 16.45%

industri pengolahan. Perempuan bekerja terkonsentrasi di sektor informal sebesar 63,80% dan hanya 36,20% di sektor formal. Terlebih lagi mayoritas perempuan usia 15 tahun ke atas yang bekerja maksimal hanya lulusan SD dan ke bawah (42,01%) (BPS, 2021). Ketimpangan gender dalam bidang ekonomi juga disebabkan disparitas pembangunan yang terjadi di Indonesia antara pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), dimana wilayah barat lebih maju dibandingkan Indonesia Timur. Ketimpangan KTI dan KBI disebabkan akses pembangunan wilayah timur yang relatif lebih sulit untuk dijangkau.

(3)

Tantangan Perspektif Gender di Bidang Ekonomi

Tantangan kesetaraan gender dalam ekonomi adalah akses permodalan.

Berdasarkan data BPS tahun 2021 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 64,5% UMKM dikelola oleh perempuan. Namun, penelitian International Finance Corporation World Bank Group (2016) memaparkan bahwa 80 persen UMKM yang dimiliki perempuan menghadapi tantangan berupa tidak atau kurang terlayani perbankan karena prosedur yang dianggap memberatkan. Program pembiayaan pemerintah untuk mendorong kesetaraan gender saat ini masih sangat sedikit yaitu program PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar dan program pembiayaan ultra mikro (UMI) namun program-program ini masih bersifat “cost deferral” (menunda biaya) dan hanya bisa dinikmati oleh UMKM yang sudah punya pinjaman perbankan serta memiliki NPWP, sehingga berbagai program tersebut masih hanya dinikmati oleh UMKM yang sudah berstatus formal. Padahal mayoritas UMKM didominasi oleh usaha mikro yang hampir seluruhnya berstatus informal (tidak berbadan hukum).

Untuk menghadapi tantangan kesetaraan gender dalam ekonomi guna meningkatkan pembangunan pemerintah harus fokus untuk memperluas kesempatan kerja, mendorong fleksibilitas pasar tenaga kerja, menyesuaikan gaji dengan mekanisme pasar, memperbaiki peraturan dan implementasi kebijakan tenaga kerja yang mengakomodasi kesetaraan gender, perlunya fasilitasi dan pengawasan dalam proses proses perencanaan dan penganggaran responsif gender (PPRG) dan budget tagging ARG, bagi yang belum mendapatkan akses permodalan perlu dikaji dan dirancang suatu program bantuan produktif bagi usaha mikro dengan terlebih dahulu melakukan pemetaan yang disesuaikan dengan usaha perempuan.

Perspektif gender dalam proses pembangunan khususnya ekonomi, telah diakomodasi pemerintah melalui berbagai pendekatan. Pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarustamaan Gender (PUG) Dalam Pembangunan Nasional. Namun, pada tahun 2020 pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang merupakan resiko kemunduran perlindungan substantif perempuan bekerja. Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (2020) dalam UU Cipta Kerja tidak menemukan terobosan aspek perlindungan bagi hak perempuan dalam bekerja diantaranya a) tidak ada pengaturan terkait pekerja informal dan UMKM, b) aspek kesehatan reproduksi tetap hanya seputar cuti haid, hamil dan melahirkan tanpa dukungan sosial lebih lanjut pada peran perempuan sebagai orang tua dan anggota keluarga, c) tidak teridentifikasi penguatan implementasi kewajiban, termasuk sanksi atas pelanggaran perusahaan, pada pemenuhan hak pekerja, d) langkah afirmasi dalam pembinaan karir, dan e) tidak menyentuh upaya pencegahan dan penanganan kekerasan, termasuk kekerasan seksual, yang dikeluhkan oleh perempuan pekerja.

Pemerintah dan DPR perlu memperbaiki materi muatan undang-undang terkait perlindungan perempuan bekerja karena berdasarkan putusan Nomor 91/PUU- XVIII/2020 Dalam Amar Putusan Mahkamah Konsitusi (MK) dinyatakan UU Cipta kerja cacat secara formil dan inkonstitusional bersyarat artinya pembentukan UU Cipta kerja

(4)

bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuataan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai atau tidak dilakukan perbaikan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak putusan diucapkan.

Tantangan Anggaran Responsif Gender

Pemerintah dalam rangka mendorong PUG telah mengimplementasikan Anggaran Responsif Gender (ARG) dengan dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 109/2009 dengan tujuh kementerian negara/lembaga sebagai pilot dalam melaksanakan ARG di tahun 2010. PMK 109/2009 diperbarui dengan keluarnya PMK No.104/PMK 02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelahaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga untuk pelaksanaan anggaran di tahun 2011 dengan fokus pelaksanaan ARG di sektor-sektor ekonomi, politik dan sosial. ARG adalah anggaran yang mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, manfaat, berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam menikmati hasil pembangunan. Dalam penerapannya, ARG dibagi menjadi dalam 3 kategori, yaitu: 1) anggaran khusus target gender (atau anggaran untuk pemenuhan kebutuhan spesifik menurut jenis kelamin), 2) anggaran pelembagaan kesetaraan gender (atau anggaran untuk affirmative action/tindakan afirmasi) dan 3) anggaran kesetaraan gender (atau pengeluaran secara umum). Meskipun terdapat regulasi untuk mendorong penerapan ARG, budget tagging/penandaan anggaran untuk ARG sendiri belum dilakukan secara maksimal oleh seluruh K/L, bahkan terdapat penurunan nilai ARG dari tahun 2019-2021. Konsistensi dalam melakukan budget tagging ARG juga mengalami penurunan di tahun 2021. Tercatat hanya 17 K/L yang konsisten melakukan tagging tersebut dari tahun 2018 hingga 2021 (Bappenas, 2021). Dengan demikian, perlu ditingkatkan lagi kesadaran dan kepatuhan K/L dalam melakukan penandaan anggaran.

Demi menjalankan PUG sesuai dengan kebijakan yang tercantum dalam RPJMN 2020-2024, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) ditugaskan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di

(5)

bidang pemberdayaan perempuan dengan menyelenggarakan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang kesetaraan gender. Namun sayangnya, dalam hal budget tagging ARG, lembaga ini pun menurunkan ARG-nya. Pada tahun 2018, Kementerian PPPA menganggarkan Rp248,1 miliar dalam ARG; di tahun 2019, Rp102,4 miliar; di tahun 2020, turun tajam menjadi Rp29,7 miliar; dan di tahun 2021 hanya Rp17,8 miliar (Kemenkeu, 2021). Penurunan ARG di kementerian teknis pengusung kesetaraan gender menunjukkan tingkat keseriusan pemerintah dalam mendukung PUG.

Meskipun IPG dan IDG menunjukkan capaian kinerja yang membaik, namun berbagai tantangan kesetaraan gender, khususnya di bidang ekonomi membutuhkan perhatian khusus dalam perumusan kebijakan dan anggaran.

Referensi

Dokumen terkait

Panitia Seleksi Pengadaan CPNS di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI memberitahukan Perubahan jadwal dalam Pengumuman Nomor: 05/PANSEL PENGADAAN CPNS/08/2021

Hamba yang „syaththar“ dipilih Tuhan sebagai hamba dan kekasihNya karena mereka telah dimampukan Tuhan me- nafi-kan (memandang tidak ada, karena memang sebenarnya

JABATAN YANG DILAMAR AHLI PERTAM AANALIS SUMBER DAYA MANUSIA APARATUR PENATA SIARAN AHLI PERTAM APENGELOLA PENGADAAN BARANG/JASA PENYUSUN BAHAN ANGGOTA DEWAN VERIFIKATOR

Profesional diartikan bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Profesionalitas mencerminkan kompetensi dan keahlian. Indikator positif

memungkinkan, maka sistem parkir direncanakan tetap menggunakan sistem off street satu lapis sejajar jalur pejalan kaki dan juga ditambahkan adanya peraturan yang mengharuskan

Menindaklanjuti UU Nomor 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD terkait dengan Pengelolaan Anggaran dan dalam rangka mewujudkan pengelolaan keuangan negara

Menimbang, bahwa terhadap alat bukti berupa dua orang saksi yang diajukan Penggugat di persidangan, Majelis Hakim berpendapat bahwa kedua orang saksi tersebut

Selain menggunakan pemain – pemain baru yang paling menarik perhatian adalah adanya salah satu pemain wanita dalam sinetron Anak Jalanan yang merupakan pembalap