• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PENUTUP. Beberapa kesimpulan yang penulis dapatkan dari penelitian ini menjadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 5 PENUTUP. Beberapa kesimpulan yang penulis dapatkan dari penelitian ini menjadi"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

161 BAB 5 PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang penulis dapatkan dari penelitian ini menjadi temuan penting sebagai berikut :

5.1.1. Pendekatan Pastoral Ke-Indonesiaan Sebagai Alat Mewujudkan Kemandirian Gereja

Dalam mewujudkan kemandiriannya, peran tim pastoral GKMI Salatiga sebagai bagian dari gereja induk bertindak melakukan upaya pendampingan jemaat GKMI di Salatiga Timur. Bentuk yang digunakan sebagai alat pendampingan adalah pastoral ke-Indonesiaan dan diimplementasikan ke dalam berbagai strategi arah dan tujuan yang berpijak pada corak budaya dan kejemaatan. Dengan demikian, peran pendampingan pastoral ke-Indonesiaan dituntut untuk lebih kreatif, inovatif, dan konstruktif dalam mengatur strategi dan model yang relevan bagi arah kemandirian sebuah gereja, didalamnya komunitas jemaat.

Dalam mewujudkan kemandiriannya, gereja pusat telah menempatkan tenaga pastoral secara penuh waktu untuk mendampingi komunitas jemaat. Dari aspek pendampingan spiritualitas bila dikaitkan dengan konsep pendampingan ke- Indonesiaan , diperoleh pemahaman bahwa strategi pendampingan yang dipraktikkan di komunitas jemaat Salatiga Timur adalah relevan. Dikatakan relevan karena pada

(2)

162

aras warga jemaat, mereka merasa “ketunggon” atau ditemani dalam menuju kemandirian.

Namun demikian strategi di atas belum diimbangi dengan kepemimpinan komunitas gereja cabang yang visioner. Hal ini disebabkan karena visi dan misi gereja cabang masih tergantung dengan gereja pusat yang tentu saja tidak relevan bagi jemaat cabang. Selain itu belum ada upaya pendampingan untuk membuat grand desain visi dan misi yang digali bersama oleh dan untuk jemaat lokal. Maka tidak

berlebihan jika penulis melihat bahwa pelaksanaan pendampingan pastoral ke- Indonesiaan untuk jemaat GKMI di Salatiga Timur belum sepenuhnya menjadi alat yang efektif dalam memberdayakan dan menghidupkan potensi warga jemaat.

5.1.2. Pola Ekonomi Terhadap Kemandirian Gereja

Dari hasil penelitian ini, pola ekonomi jemaat memiliki dampak terhadap arah kemandirian gereja. Dalam konteks jemaat GKMI Salatiga Timur (GKMI Brangkongan, GKMI Salatiga Cabang Sumberejo, Jangglengan dan Cukilan) terdapat pemahaman mendasar bahwa kemandirian ekonomi merupakan tolok ukur terhadap kemandirian gereja. Jika ekonomi merupakan infrastruktur penting terhadap perubahan, hal ini menunjukkan bahwa operasionalisasi kemandirian gereja dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi.

Strategi untuk kemandirian khususnya bidang dana yang dipraktikkan oleh gereja pusat lebih menitik beratkan pada tataran kewajiban administratif organisatoris. Dalam hal ini aspek yang lebih krusial belum tersentuh sampai ke akar

(3)

163

persoalan, yakni pergumulan sosial warga jemaat yang bergulat dengan persoalan ekonomi atau kemiskinan.

5.1.3. Peran Partisipasi Jemaat Dalam Mewujudkan Kemandirian Gereja

Terbentuknya kemandirian sebuah gereja baik secara organik (komunitas jemaat) maupun anorganik (institusional) tidak muncul begitu saja. Melainkan terjadi melalui proses yang dinamis dan berkelanjutan (sustainable). Peran berbagai elemen menjadi subjek terjadinya sebuah kemandirian, seperti peran strategis jemaat yang berdaya dan dipengaruhi melalui upaya pendampingan yang bersifat kontekstual dan holistik.

Kesadaran dan partisipasi warga jemaat GKMI di Salatiga Timur dalam membangun komunitas menuju kemandirian terindikasi baik. Terbukti dalam praktik pelayanan di peribadahan, kesaksian dan pelayanan diakonia sinergi antara warga jemaat dan para pelayan berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan ikilm positif terjadi dalam kehidupan komunitas warga jemaat. Iklim positip menjadi salah satu modal potensi menuju kemandirian. Solidaritas yang terbangun menjadi modal sosial yang bernilai dalam mendorong kemandirian. Adapun kesadaran warga melalui tingkat partisipasi yang tinggi di tengah masyarakat adalah menjadi potensi tersendiri dalam pembentukan konsep identitas. Dampaknya adalah keberadaan komunitas jemaat tersebut dapat diterima baik oleh masyarakat dan menjadi faktor pembentuk eksisitensi mereka dalam konteks pembangunan manusia Indonesia.

(4)

164

Dari temuan dan gagasan di atas, penulis melihat bahwa konsep pendampingan pastoral ke-Indonesiaan untuk kemandirian jemaat tidak hanya berbicara dalam ranah institusi gereja saja. Pendampingan untuk kemandirian konteks jemaat Indonesia terkonstruksi lewat perjumpaan gereja dengan realitas sosial masyarakat. Dengan kata lain, gereja yang mandiri semestinya bukan dominasi milik dari warga jemaat lokal saja akan tetapi gereja tersebut menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari masyarakat, menjadi milik masyarakat setempat. Kehadiran gereja yang beriklim positip dan konstruktif akan menjadikan masyarakat merasa memiliki, dan turut menjaganya. Bertolak dari hal ini, penulis menyadari bahwa penelitian ini baru sebatas pada lingkup komunitas jemaat. Oleh karena itu masih terbuka wacana untuk dikembangkan apabila model pendampingan ke-Indonesiaan dipakai sebagai pendekatan untuk komunitas non kejemaatan.

5.2. Kontribusi

Berdasarkan temuan tersebut di atas, memunculkan beberapa rekomendasi : Pertama, bagi jemaat di GKMI Salatiga Timur. Pendampingan pastoral ke-

Indonesiaan di jemaat GKMI Salatiga Timur dengan menempatkan tenaga pastoral penuh waktu menjadi pendekatan yang relevan dan strategis untuk pendampingan kemandirian. Akan tetapi tenaga pastoral tersebut perlu diberi ruang yang cukup untuk menggumuli visi dan misi gereja cabang bersama dengan jemaat lokal. Dengan demikian akan ditemukan solusi yang kontekstual dalam menghadapi tantangan kemandirian. Langkah pemberdayaan dalam mewujudkan kemandirian jemaat oleh

(5)

165

gereja pusat dan cabang dapat melalui pendekatan Appreciative Inquiry (AI).

Pendekatan AI dipilih karena mengutamakan dorongan dari warga jemaat cabang dengan melihat berbagai kelebihan yang dapat dijadikan sebagai sumber pemberdayaan.

Kedua, bagi GKMI Salatiga. Bahwa model pemberdayaan melalui kemitraan

lintas jemaat yang telah terbangun diantara gereja pusat (kota) dan gereja cabang (desa) dapat lebih dikembangkan. Model ini merupakan kemitraan yang saling membangun dan bersifat simbiosis mutualisme. Jemaat di desa tidak merasa sebagai komunitas yang membebani jemaat kota, sebaliknya jemaat di kota tidak merasa sebagai “sapi perahan”. Program pengembangan ekonomi gereja semestinya mendapatkan penguatan sebagai salah satu jalan keluar dari lingkaran ketidakberdayaan ekonomi jemaat. Demikian pula relasi kemitraan antara jemaat desa dan kota akan memberikan iklim positip yang saling menghidupkan, memberdayakan dan saling menopang dalam panggilan bersama menghadirkan misi Allah di bumi.

Ketiga, bagi Sinode GKMI. Di masa sekarang anggota sinode ini tersebar di

berbagai wilayah Indonesia. GKMI telah hadir di 19 propinsi, sehingga menjadikan ruang keragaman etnik dan sosio budaya jemaatnya semakin luas. Mengacu pada realitas tersebut dan bertolak dari hasil penelitian yang menegaskan soal pendampingan ke-Indonesiaan yang dapat menjadi alat kemandirian gereja, maka pendekatan yang kontekstual sebaiknya menjadi pertimbangan tersendiri bagi Sinode GKMI dalam mendewasakan gereja. Konkretnya keragaman nilai-nilai budaya lokal yang dimiliki GGKMI dapat dioptimalkan dalam rangka mewujudkan kemandirian

(6)

166

dan pendewasaan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian bidang dana menjadi kendala utama yang dihadapi oleh gereja cabang, maka perlu menjadi perhatian untuk diupayakan solusi yang relevan dalam skop sinodal. Dalam konteks ini akan lebih baik jika pengembangan ekonomi warga dan gereja dapat dirancang oleh sinode bersama PGMW (Persekutuan Gereja Muria Wilayah) dan melibatkan warga jemaat lokal..

Keempat, bagi Fakultas Teologi UKSW. Sebagai sebuah lembaga pendidikan

yang konsisten melakukan penelitian, kajian dan publikasi secara sistematis, terstruktur dan terintegratif, maka temuan penelitian terkait pendampingan ke- Indonesiaan yang ditujukan bagi kemandirian gereja ini dapat menjadi salah satu referensi dan rujukan untuk pengembangan kajian-kajian teologi dan sosial. Secara khusus hal ini terkait erat dengan program Studi Sosiologi Agama yang menyelenggarakan lima konsentrasi kajian, di mana salah satunya adalah Pastoral Konseling Masyarakat. Merujuk hasil temuan penelitian pada bagian pentingnya kemandirian ekonomi, maka tidak ada salahnya jika pada mata kuliah pilihan di program MSA, aspek ekonomi untuk pengembangan masyarakat atau komunitas jemaat mendapatkan perhatian dan porsi yang lebih signifikan.

Kelima, untuk penulis sendiri sebagai peneliti. Penulis menyadari adanya

celah lain yang dapat diteliti dan dikaji sehubungan dengan pendampingan pastoral ke-Indonesiaan. Penelitian tersebut berkaitan dengan pendampingan untuk komunitas non agama dengan pendampingan di aspek agama sipil dan budaya. Kedua aspek ini belum terakomodasi dalam penelitian ini. Oleh karena itu dalam penelitian

(7)

167

selanjutnya aspek-aspek tersebut dapat diteliti, baik oleh peneliti lain maupun sebagai perhatian dari penulis untuk dapat melakukan penelitian lanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

Simposium lahan gambut internasional ini dimaksudkan untuk memperkuat momentum dan menjadikannya menjadi aksi untuk mentransformasi restorasi lahan gambut dari fase

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa yang memiliki

Kedalaman, kecepatan aliran dan ketinggian sedimen pada sungai model Shazy Shabayek sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya kecepatan aliran lateral yang masuk ke

Perairan Muara Badak memiliki 24 jenis plankton, dari hasil analisis indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menunjukkan bahwa perairan ini

kekurangannya.pendapatan dari sumber-sumber lain yang berkaitan dengan proyek atau pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini peningkatan tarif atau juga

Pada hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada perlakuan ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 8,87% masih menghasilkan pertambahan

Kuliah Teknik Pengolahan Citra Digital membahas dan mempelajari dasar-dasar teknik dalam pengolahan citra digital yang menjadi dasar bagi engineer untuk

Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa rasio Modal Kerja dibandingkan dengan Total Akiva bahwa rata-rata perusahaan yang diteliti mempunyai rasio yang rendah