1.1. Pengertian
Pusat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat berarti pokok pangkal atau yang menjadi pumpunan (tempat berhimpun) berbagai-bagai urusan, hal, dan sebagainya.
Kerajinan
Menurut kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2014), Kerajinan (Kriya) merupakan bagian dari seni rupa terapan yang merupakan titik temu antara seni dan desain yang bersumber dari warisan tradisi atau ide kontemporer yang hasilnya dapat berupa karya seni, produk fungsional, benda hias dan dekoratif, serta dapat dikelompokkan berdasarkan material dan eksplorasi alat teknik yang digunakan, dan juga dari tematik produknya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kerajinan merupakan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (seperti tikar, anyaman, dan sebagainya Jawa Barat, Merupakan salah satu provinsi di pulau jawa
Dengan pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa, Pusat Kerajinan Jawa Barat, adalah sebuah tempat berhimpun berbagai kegiatan yang berhubungan dengan produk karya tangan yang merupakan warisan dari tradisi maupun ide kontemporer dari masyarakat Jawa Barat.
1.2. Latar Belakang
Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki banyak potensi, bukan hanya potensi dari sumber daya alam-nya namun juga karena kekayaan budaya-nya, menghasilkan beraneka ragam kerajinan tangan yang dihasilkan, sayangnya kekayaan tersebut semakin berkurang dikarenakan kurangnya motivasi dari generasi muda untuk melanjutkan tradisi, hal tersebut merupakan dampak dari sulitnya pengerajin untuk menjual karyanya pada masyarakat.
Kerajinan tangan merupakan salah satu produk budaya yang dapat mengenalkan dan mempromosikan identitas suatu daerah, dengan dikenalnya produk otentik suatu daerah, akan mendonkrak nilai parwisata daerah tersebut, yang tentunya akan berpengaruh positif pada nilai ekonomi.
Melihat permasalahan di atas penulis menyimpulkan bahwa perlu adanya distribusi produk kerajinan rakyat Jawa Barat kepada khalayak luas, selain sebagai sumber penghasilan tambahan bagi para pengrajin, namun juga sebagai sarana mempromosikan kebudayaan daerah.
1.3. Maksud Dan Tujuan
1.3.1. Maksud:
• Menjadi pusat kegiatan peningktan dan pengembangan kerajinan daerah
• Menjadi pusat kegiatan informasi antar produsen dan konsumen
• Menjadi pusat jaringan produsen kerajinan tradisional jawa barat
• Pelayanan dan peningkatan aktivitas pariwisata daerah, utamanya wisata kerajinan daerah jawa barat 1.3.2. Tujuan:
• Membuat suatu wadah bangunan yang memfasilitasi kegiatan peningkatan dan pengembangan beserta sarana informasi.
Membangun sebuah fasilitas yang menyediakan kegiatan jaringan antar produsen serta mewujudkan fungsi sarana pusat kegiatan pariwisata melalui kerajinan tradisional jawa barat.
1.4. Kajian Pustaka
1.4.1. Kerajinan
Kerajinan (Kriya) merupakan bagian dari seni rupa terapan yang merupakan titik temu antara seni dan desain yang bersumber dari warisan tradisi atau ide kontemporer yang hasilnya dapat berupa karya seni, produk fungsional, benda hias dan dekoratif, serta dapat dikelompokkan berdasarkan material dan eksplorasi alat teknik yang digunakan, dan juga dari tematik produknya.
Kata kunci dari definisi tersebut adalah:
Seni rupa terapan adalah berupa bentuk gabungan dari berbagai aspek yang melingkupi seni, desain, dan kerajinan (kriya).
Warisan tradisi adalah sesuatu yang yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan.
Kontemporer adalah memiliki nilai kekinian dan adanya pengaruh modernisasi.
Fungsional adalah memiliki fungsi khusus dan memberikan solusi atas kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
Dekoratif adalah memiliki efek dekorasi.
Material dan eksplorasi alat teknik adalah bahan baku yang digunakan serta teknik produksi dari bahan baku yang digunakan tersebut, misalnya: ukiran kayu; pahat logam, anyaman bambu, eceng gondok, atau tenun.
Tematik produk adalah jenis produk yang dihasilkan, misalnya: perhiasan, furniture, tekstil, produk dekorasi interior, table ware, dan sebagainya.
1.4.2. Jenis Kerajinan
A. Berdasarkan Jenis Produknya
Berdasarkan jenis produknya, maka kerajinan (kriya) dapat dibedakan menjadi art-craft dan craft-design.
I. Art-craft (kerajinan (kriya)-seni)
merupakan bentuk kerajinan yang banyak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip seni. Tujuan penciptaannya salah satunya adalah sebagai wujud ekspresi pribadi.
II. Craft-design (kerajinan (kriya)-desain),
Merupakan bentuk kerajinan (kriya) yang mengaplikasikan prinsip-prinsip desain dan fungsi dalam proses perancangan dan produksinya, dengan tujuan utamanya adalah pencapaian nilai komersial atau nilai ekonominya.
B. Berdasarkan bentuknya
dapat dibedakan menjadi bentuk dua dan tiga dimensi. Bentuk dua (2) dimensi, misalnya: karya ukir, relief, lukisan; sedangkan bentuk tiga (3) dimensi, misalnya: karya patung dan benda-benda fungsional (seperti keris, mebel, busana adat, perhiasan, mainan, kitchenware, glassware, tableware).
C. Berdasarkan pelaku dan skala produksinya, dapat dibedakan menjadi mass craft, limited edition craft dan individual craft.
I. Handycraft/mass craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara massal. Pelaku dalam kategori ini misalnya perajin (kriyawan) di industri kecil dan menengah (IKM) atau sentra kerajinan;
II. Limited Edition Craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara terbatas. Pelaku dalam kategori ini misalnya perajin (kriyawan) yang bekerja di studio/bengkel kerajinan (kriya). Dan yang terakhir;
III. Individual Craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara satuan (one of a kind). Pelaku dalam kategori ini misalnya: seniman perajin (artist craftman) di studio
D. Berdasarkan bahan yang digunakan,
meliputi: keramik, kertas, gelas, logam, serat, tekstil kayu dan sebagainya.
E. Berdasarkan teknik yang digunakan
meliputi: teknik pahat (ukir), rakit, cetak, pilin, slabing (keramik), tenun, batik (tekstil).
1.4.3. Kerajinan Batik Tulis
batik tulis adalah batik yang dihasilkan dengan proses pembuatannya murni dengan menggunakan tangan yg menggambar diatas kain dasaran secara utuh.
Alat dan bahan pembuatan batik tulis 1. Canting
2. Pensil pola
3. Kain mori putih atau kain sutera dan kain katun 4. Lilin malam (wax)
5. Kompor atau alat pemanas lilin malam (wax) 6. Bahan pewarna kain
1. Proses pembuatan batik tulis adalah dengan menggambar pola yang diinginkan dengan menggunakan pensil pola. Masing-masing wilayah sentra pembuatan batik tulis di Indonesia memiliki karakter pola yang berbeda di dalam pembuatan batik tulis. Untuk daerah pesisir utara biasanya menyukai pola bergambar binatang atau tumbuhan dan memiliki ciri khas warna-warna yang berani. Contohnya batik tulis Pekalongan dan batik tulis Madura. Sedangkan wilayah tengah hingga ke selatan biasanya menyukai pola batik dengan gambar abstrak statis. Artinya pola berulang di keseluruhan kain. Contohnya batik tulis Yogyakarta.
2. Tehnik selanjutnya adalah proses menutupi pola gambar dengan lilin malam (wax). Tujuan proses pelapisan lilin pada pola ini adalah agar bagian pola yang terkena lilin malam akan tetap berwarna putih. Caranya:
lilin malam (wax) diproses dengan dipanaskan (direbus) di atas kompor. Tehnik ini perlu hati-hati dan menggunakan api ukuran kecil karena lilin malam mudah terbakar jika bersentuhan dengan api. Setelah lilin mencair maka ditaruh ke dalam canting. Ditiup agar tidak terlalu panas yang dapat merusak kain. Lalu ditorehkan ke kain bagian pola yang akan dibiarkan tetap putih. Saat melapisi kain baik ini, tiup perlahan-lahan bagian yang dilapisi lilin malam agar mongering. Setelah proses pelapisan pola kain dengan lilin malam (wax) selesai, biarkan lilin mongering sempurna.
3. Setelah proses pelapisan lilin malam selesai, siapkan bahan pewarna muda yang ingin dipoleskan kepada kain. Tehnis pemilihan warna muda ini dilakukan agar jika terjadi kesalahan pewarnaan, maka lebih mudah dihilangkan warnanya dengan warna yang lebih tua. Pewarnaan ini bisa dilakukan dengan mencelupkan kain mori ke dalam cairan pewarna atau mengkuaskan warna pada kain mori. Tehnik pencelupan banyak dipakai karena praktis dan cenderung proses pewarnaan merata ke seluruh kain. Lalu dijemur hingga kering.
4. Setelah kering, lakukan proses pelapisan lilin malam (wax) seperti pada point kedua. Kegunaan pelapisan lilin yang kedua ini untuk menutupi bagian yang berwarna muda untuk tetap dibiarkan warnanya.
Proses kedua hingga proses keempat ini lakukan berulang-ulang untuk setiap warna yang dikehendaki. Dan yang perlu diperhatikan adalah warna paling tua (gelap) dilakukan terakhir. Tehnik dan proses ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh warna yang diharapkan telah terpenuhi.
5. Setelah selesai tehnis pewarnaan pada kain dalam pembuatan batik tulis ini, maka bagian terakhir dengan melakukan tehnis “Pelorodan”, yaitu tehnik pelepasan lapisan lilin malam (wax) dari kain mori.
1.4.4. Galeri
A. Pengertian
Ada beberapa pengertian tentang galeri, menurut arti bahasa maupun menurut para ahli, berikut pengertian galeri:
Menurut Kamus Inggris - Indonesia, An English-Indonesian Dictionary, (1990): “Galeri: Serambi, balkon, balai atau gedung kesenian”.
Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (2003): Galeri adalah selasar atau tempat; dapat pula diartikan sebagai tempat yang memamerkan karya seni tiga dimensional karya seorang atau sekelompok seniman atau bisa juga didefinisikan sebagai ruangan atau gedung tempat untuk memamerkan benda atau karya seni.
Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary, A.S Hornby, edisi kelima, Great Britain: Oxford University Press, (1995): “Gallery: A room or building for showing works of art (ruang yang dibangun untuk menunjukan hasil karya seni)”.
Menurut Djulianto Susilo seorang arkeolog, Galeri berbeda dengan museum. Galeri adalah tempat untuk menjual benda / karya seni, sedangkan Museum tidak boleh melakukan transaksi karena museum hanya merupakan tempat atau wadah untuk memamerkan koleksi benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan langka (Koran Tempo, 2013).
Sedangkan menurut Encyclopedia of American Architecture (1975), Galeri diterjemahkan sebagai suatu wadah untuk menggelar karya seni rupa. Galeri juga dapat diartikan sebagai tempat menampung kegiatan komunikasi visual di dalam suatu ruangan antara kolektor atau seniman dengan masyarakat luas melalui kegiatan pameran. Sebuah ruang yang digunakan untuk menyajikan hasil karya seni, sebuah area memajang aktifitas publik, area publik yang kadangkala digunakan untuk keperluan khusus (Dictionary of Architecture and Construction, 2005).
Dari beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa galeri adalah sebuah wadah atau tempat untuk umum ataupun kalangan tertentu yang digunakan untuk menampung kegiatan komunikasi visual hasil karya seni.
B. Jenis Galeri Berikut jenis galeri:
Galeri di dalam museum yaitu galeri khusus untuk memamerkan benda-benda yang dianggap memiliki nilai sejarah ataupun kelangkaan.
Galeri kontemporer yaitu galeri yang memiliki fungsi komersial dan dimiliki oleh perorangan.
Vanity Gallery yaitu galeri seni artistik yang dapat diubah menjadi suatu kegiatan didalamnya, seperti pendidikan dan pekerjaan.
Galeri arsitektur yaitu galeri untuk memamerkan hasil karya-karya di bidang arsitektur yang memiliki perbedaan antara 4 jenis galeri menurut karakter masing-masing.
Galeri komersil adalah galeri untuk mencari keuntungan, bisnis secara pribadi untuk menjual hasil karya. Tidak berorientasi mencari keuntungan kolektif dari pemerintah nasi onal atau lokal.
C. 1.3.3. Tinjauan Fungsi Galeri
Fungsi awal galeri seni rupa adalah memamerkan hasil-hasil karya seni rupa agar dikenal oleh masyarakat (sebelum itu koleksi-koleksi tersebut hanya sebagai dekorasi saja). Dengan demikian terlihat adanya:
Mengumpulkan hasil-hasil karya seni (koleksi).
Memamerkan hasil-hasil karya seni agar dikenal masyarakat.
Memelihara hasil-hasil karya seni agr tidak rusak (bersifat memelihara/konservasi).
Galeri seni rupa sebagai wadah menampung kegiatan seni rupa dan perkembangannya dewasa ini memiliki fungsi baru. Fungsi baru yang menjadi tujuan galeri seni dicoba untuk diungkapkan sebagai servis baru
untuk publik di bidang seni rupa. Terjemahan fungsi baru yang terjadi adalah sebagai berikut:
Sebagai tempat mengumpulkan hasil karya seni.
Sebagai tempat memamerkan hasil karya seni agar dikenal masyarakat.
Sebagai memelihara hasil karya seni agar tidak rusak.
Sebagai tempat mengajak / mendorong / meningkatkan apresiasi masyarakat.
Sebagai tempat transaksi jual beli untuk merangsang kelangsungan seni. Dari perkembangan galeri seni rupa tampak jelas bahwa fungsi galeri seni rupa menuju penyesuaian antara kebutuhan seni dan tuntutan masyarakat, yang makin lama aktifitas-aktifitas yang timbul didalamnya makin didominasi oleh kegiatan servis. Dengan demikian fungsi galeri dijaman modern ini, agar senantiasa dapat memenuhi perkembangan kebutuhan seni dan tuntutan masyarakat, direncanakan dengan fungsi (dalam arti luas) memberikan servis bagi publik dibidang seni rupa.
1.3.4. Bentuk Kegiatan
Galeri Seni Rupa ini menurut bentuk kegiatan terbagi menjadi tiga, yaitu:
Pameran Karya Seni Rupa Kegiatan yang dilaksanakan berhubungan dengan kegiatan pameran, informasi, promosi dan transaksi jual-beli karya seni.
Pengelolaan Kegiatan yang dilakukan untuk mengatur seluruh fungsi-fungsi kegiatan yang diwadahi Galeri Seni Rupa dapat berjalan sesuai dengan perencanaan dan perancangan proyek.
Penunjang / Service Kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan pendukung untuk memberikan pelayanan bagi publik, dalam hal in i ditujukan untuk seluruh pengguna bangunan galeri seni rupa yaitu pengunjung, pengelola, seniman, dan masyarakat sekitar.
1.4.5. Pengertian Ritel
Menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Bob Sabran mendefinisikan perdagangan eceran atau retail adalah: retailing includes al l the activities involved in selling goods or services directly to final consumers for personal, nonbusinessuse. A retailer or retail store is any business enterprise whoe sales volume comes primarily from reailing.
Sedangkan menurut Buchari Alma perdagangan eceran adalah: suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Ini merupakan mata rantai terakhir dalam penyaluran barang dan jasa. Penghasilan utama dari retailer ini adalah menjual secara eceran ke konsumen akhir.
Berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa perdagangan eceran adalah suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Perdagangan eceran ini sangat penting artinya bagi pr odusen, karena melalui pengecer produsen dapat memperoleh informasi berharga tentang produknya. Produsen dapat memperoleh data dari pengecer, bagaimana pandangan konsumen mengenai bentuk, rasa, daya tahan, harga dan segala sesuatu mengenai produknya. Juga dapat diketahui mengenai kekuatan pesaing.
Menurut Christina Widya Utami kata ritel berasal dari bahasa Perancis, ritellier, yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Terkait dengan aktivitas yang dijalankan, maka ritel menunjukan upaya untuk memecah barang atau produk yang dihasilkan dan didistribusikan oleh manufaktur atau perusahaan dalam jumlah besar dan massal untuk dapat dikonsumsi oleh konsumen akhir dalam jumlah kecil sesuai dengan kebutuhannya.
Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk dan jasa, atau keduanya, kepada para konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi, tetapi bukan untuk keperluan bisnis dengan mem- berikan upaya terhadap penambahan nilai trehadap barang dan jasa tersebut.
Para peritel terus mencoba untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan konsumen dengan mencoba memenuhi kesesuaian barang-barang yang dimilikinya, pada harga, tempat, dan waktu seperti yang diinginkan pelanggan
1.5. Interaksi
Menurut Gillin and Gillin 1954 (dalam Elly M. Setiadi dkk, 2007:91) menyatakan bahwa interaksi Sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antar kelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.
Menurut Bimo Walgito, interaksi Sosial merupakan suatu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya dimana individu yang satu dapat mempengaruhi individu yang lainnya sehingga terdapat hubungan yang saling timbal balik.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Interaksi adalah hubungan antar orang secara individual maupun kelompok yang mempengaruhi manusia lain sehingga tercipta timbal balik antar individu.
1.6. Interaksi social
Ineraksi social terbagi menjadi 3, yaitu:
Kerjasama, adalah intereaksi yang dilakukann antara individu atau kelompok demi satu tujuan yan sama,
Proses usaha individu atau klompok beradaptasi dengan individu atau kelompok lain untuk meredakan pertentangan demi mencapai keberhasilan.
Yaitu usaha yang dilakukan untuk mengurangi perbedaan antara individu ataupun kelompok, atau dengan kata lain proses peleburan norma
1.7. Interaksi Dalam kaidah arsitektur
Dwi Suci (2016) Interaksi Arsitektur adalah, bangunan yang memiliki bangunan lain di lingkunganya yang dimungkinkan saling pengaruh mempengaruhi di antara keduanya, sehingga menghasilkan bentuk interaksi.
Proses perkembangan arsitektur antar bangunan dengan penghargaan pada bangunan lain dalam tata letak dan penampilan untuk mencapai tujuan bersama.
1.8. Elaborasi Tema
Tema interaksi mengandung arti saling mempengaruhi satu sama lain, interaksi yang dimaksud merupakan interaksi asosiatif, dimana pengaruh yang ada memunculkan rasa persatuan diantara pengguna bangunan, secara arsitektur interaksi dimunculkan dengan adanya komunikasi antar ruang dari sisi penampilan dan tata ruang.
MASYARA- KAT KOMUNITAS
KONSUMEN
PRODUSEN
PEMERINTAH
Terjadi interaksi asosiatif an- tar pengguna
INTERAKSI
MANUSIA RUANG
Terjadi interaksi antar ruang yang berasosiasi untuk satu tujuan
Menuru Kamus Besar Bahasa In- donesia, Interaksi berarti hal saling melakukan aksi, berhub- ungan, mem-pengaruhi;
antarhubungan.
Hubungan antar penguna yang mempengaruhi satu sama lain
TATA RUANG
INTERAKSI
PENAMPILANVISUAL LUASAN
BUKAAN SIRKULASI
Ruang yang saling mempengaruhi
satu sama lain.
PENAMPILAN
VISUAL
BUKAAN
TATA RUANG
SIRKULASI
LUASAN
Karakter visual pada ruang akan berdampak pada kesatuanya dengan ruang lain.
Penempatan bukaan memberikan kemudahan pada pengguna untuk berinteraksi dengan ling- kungan sekitar
Sirkulasi menjadi penghubung antar ruang juga se- bagai wadah terjadinya interaksi pada ruang.
Luasan dapat menunjukan jumlah interaksi pada ruang
1.1.1. Interaksi Ruang
1.9. Studi Banding
Pusat Kerajinan Kendedes Pusat Kesenian Jakarta ( Taman Ismail Marzuki) Kesimpulan
Lokasi
Entrance
Entrance menggunakan gerbang yang menunjukan nilai kebudayaan, dengan banyaknya ukiran zaman majapahit.
Entrance menggunkan gebang yang megah, namun tidak memiliki pembatas, pejalan kaki dapat dengan mudah melewati gerbang tersebut, sedangkan akses untuk kendaraan melewati sisi erbang.
Fasilitas Parkir
Café
Planeteraium
Galeri
Gedung Arsip
Wisma Seniman
Gedung pertunjukan
Sanggar
Bioskop
Teater Terbuka
Perpustakaan
Kantor Dekranasda
Kantor Disparbud
Stand Kerajinan
Taman
Sanggar
Kantin
Badan Lingkungan Hijau
Keduanya memiliki fasilitas publik yang menyediakan ruang untuk berinteraksi, seperti sanggar.
Kegiatan Keduanya memiliki kesamaan dari
komunitas yang beratifitas di dalam kawasan, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang paling banyak menghidupi kawasan adalah komunitas yang menarik masyarakat sekitarnya untuk beraktifitas di dalam kawasan.
Kegiatan yang sering terjadi disini umumnya berupa kegiatan komunitas, baik komunitas pkk, maupun komunitas muda mudi yang sering
berkumpul di pendopo.
Kegiatan yang muncul taman ismail marzuki umumnya datang dari pegiat seni, baik dari IKJ sendiri, maupun dari komunitas dan institusi lain, selain itu taman Ismail Marzuki sering digunakan sebagai tempat berwisata oleh masyarakat lokal maupun luar daerah.
Parkir Untuk mempertahankan peruntukan fungsi ruang, maka penanda ruang sangat diperlukan.
Posisi area parkir diapit oleh kantor, selain minim akan penanda area parkir, sehingga seringkali lahan parkir digunakan oleh masyarakat se- bagai lahan beraktifitas non parkir.
Pada taman ismail marzuki, parkir dibuat lebih tertata, dengan adanya penanda pada wilayah parkir, hal tersebut juga memberikan keuntungan di- mana pada lahan yang dalam, untuk mengakses fasilitas yang diinginkan dapat menggunakan kendaraan prbadi.
1.10. Program Ruang
Nama Ruang Kapasitas Luasan Sumber Jumlah Unit
Ritel Busana Tradisional
Cashier 1 6,6 m2 Perhitungan 1 orang = 0,8m2
Meja Cashier = 2,4 m2 Sirkulasi = 100%
1
Display Area 12 display 73 m2 Perhitungan 12 display (0,4 x 8) = 38,4 m2
Sirkulasi = 100%
1
Gudang 8 m2 Asumsi 1
R. Ganti 3 m2 Asumsi 2
Ritel Dekorasi, Kesenian, dan Souvenir
Cashier 1 6,6 m2 Perhitungan 1 orang = 0,8m2
Meja Cashier = 2,4 m2 Sirkulasi = 100%
1
Display Area 12 display 73 m2 Perhitungan 12 display (0,4 x 8) = 38,4 m2
Sirkulasi = 100%
1
Toilet 1 3 m2 Asumsi 1
Galeri
R. Kurator 3 orang 14 m2 Perhitungan
1 meja kerja = 2m2
1 set meja + kursi diskusi = 6,8 m2
1 set lemari =1,2 m2 Sirkulasi = 40%
1
Gudang 10 m2 Asumsi 1
R. Manager 3 Orang 14 m2 Perhitungan
1 meja kerja = 2m2
1 set meja + kursi diskusi = 6,8 m2
1
1 set lemari =1,2 m2 Sirkulasi = 40%
Toilet Pria 13 m2 3 Toilet = 3x 1,5 x 1,9 = 8,55
2 Urinal = 2 x 0,5 0,4 = 0,2 Sirkulasi = 40%
1
Toilet Wanita 13 m2 3 Toilet = 3x 1,5 x 1,9 = 8,55 Sirkulasi = 50%
1
Lift 10 (Kone Eco- Space Machin- eroomless)
5,4 m2 (www.kone.us/new-build- ings/elevators/ecospace/)
1
Exhibition 1327 m2 2 x luas Galeri Cipta 2 Taman
Ismail Marzuki 640 m2 yang hanya sanggup menampung 36 display
1
Lounge 315 m2 Asumsi
Workshop Batik Tulis
R. Workshop 25 Orang 39 m2 Gawangan 0,3 x 0,8 = 0,24 Manusia = 0,8 m2
=1,04 x 25 = 26 m2 Sirkulasi = 50%
1
R. Cuci 6 m2 Asumsi 1
Gudang 5,4 m2 Asumsi 1
Workshop Angklung
R. Workshop 25 orang 56 m2 Meja Kerja = 0,96 m2 Kursi = 0,48m2
= 1,46 x 25 Sirkulasi = 50%
1
Gudang Ba- han
5,4 m2 Asumsi 1
Gudang Alat 5,1 m2 Asumsi 1
Toilet Pria 13 m2 3 Toilet = 3x 1,5 x 1,9 = 8,55
2 Urinal = 2 x 0,5 0,4 = 0,2 Sirkulasi = 40%
1
Toilet Wanita 13 m2 3 Toilet = 3x 1,5 x 1,9 = 8,55 Sirkulasi = 50%
Kantor Dekranasda
R. Rapat 25 orang 54 m2 Studi Banding Pusat Ke- rajinan Kendedes R. Kepala
Dekranasda
1 23 m2 Studi Banding Pusat Ke-
rajinan Kendedes
R. Staff 2 14 m2 Studi Banding Pusat Ke-
rajinan Kendedes
R. Arsip 14 m2 Studi Banding Pusat Ke-
rajinan Kendedes
Toilet 11 m2 2 Toilet = 2x 1,5 x 1,9 = 5,7
Sirkulasi = 50%
Gedung Serbaguna
R. Utama 250 orang 306m2 Manusia 0,8 m2 + kursi 0,2 m2 x 250 = 250 m2
Sirkulasi 20%
= 300 m2
Lobby 23 m2 Asumsi 1
Stage 20 m2 Asumsi 1
Gudang 24 m2 Asumsi 1
Toilet 44 m2 8 Toilet = 8x 1,5 x 1,9 = 5,7
Sirkulasi = 50%
Culinary Station
R. Makan 100 orang 240 m2 Kursi 0,4 * 0,4 = 0,16 Meja 1,2 x 1,2 = 1,44
=1,6 x 100 = 160 Sirkulasi 50%
= 240 m2
1
Dapur 16 m2 Meja Saji = 3,6 m2
Kitchen Set = 3,6 m2 Sirkulasi 100%
4
Toilet 5,7 m2 1,5 x 1,9 2
Sanggar Angklung
Lobby 50 m2 asumsi
R. Latihan 25 70m2 2 Rak = 1,2 x 2 = 2,4 m2
Manusia = 1 x 25 = 25 m2 Sirkulasi 150%
Toilet 5,7 m2 1,5 x 1,9 2
Gudang 3,5 m2 Asumsi 1
Locker 4,4 m2 Asumsi
Bursa Kerajinan
Lobby 35 m2 asumsi
R. Pengelola 12 m2 asumsi
R. Arsip 9,1 m2 asumsi
R. Utama 12 Stand 228 m2 1 stand (3x3) =9 m2 Sirkulasi = 100%
Toilet 5,7 m2 1,5 x 1,9 2
A. Deskripsi Proyek
Lokasi : Jl. Ir. H. Djuanda Luas lahan : 22.341 m2 Peruntukan : Jasa KDB : 30%
KLB : 0,5 Batas lahan:
Utara : PMI
Timur : Lahan Kosong
Barat : Jl. Ir. H. Djuanda
Selatan : Rumah Warga
1.11. Analisa Site
1.11.1. Topografi
Potensi: Lahan kontur merupakan lahan yang menarik dari sisi visual, karena dapat dijadikan sebagai objek rekreasi untuk masyarakat
Permasalahan: Kondisi Topografi lahan merupakan lahan yang lereng karena memiliki elevasi puncak 845mdpl dan elevasi dasar 800mdpl, sehingga memiliki kemiringan lahan lebih dari 45 derajat.
1.12. Cahaya matahari
Dengan lahan pada sisi timur yang berada di elevasi terendah, lahan pada sisi timur pada sore hari akan lebih sedikit terkena cahaya matahari, dan pada pagi hari akan mendapatkan cahaya secara maksimal.
Permasalahan: pada sore hari akan kekurangan cahaya matahari, sehingga lahan pada sisi timur akan lebih gelap.
Potensi: cahaya pagi yang merupkan cahaya yang baik untuk kesehatan akan dapat diterima dengan baik.
1.13. Angin
Permasalahan:
sisi timur site yang merupakan sisi terendah site menyebabkan anin yang berhembus dari sisi timur cukup kencang.
Potensi:
• angin dapat dimanfaatkan sebagai media energy alternative penunjang kawasan.
• Angin yang masuk tidak berasal dari jalan kendaraan, sehingga kondisi angina cukup sehat.
1.14. View
Permasalahan:
View ke dalam site tidak dapat dilihat secara langsung bila dilihat dari arah jalan, atau sisi barat, karena topografi pada daerah barat lebih tinggi daripada timur.
Potensi:
View ke luar site merupakan view yang potensial untuk dijadikan daerah wisata, terutama pada waktu malam hari, karena dapat melihat kota bandung dari titik atas.
1.15. Konsep Perancangan
1.15.1. Zoning
PARKIR
RITEL
KANTOR
GSG
SANGGAR
CULINARY STATION
AMPHITEATER
BURSA
GALLERY
1.15.2. Sirkulasi
Sirkulasi dibuat linier, tujuan dari pola sirkuasi ini adalah mengikuti kontur yang ada, sehingga tidak terjadi banyak cut and fill pada lahan, pola sirkulasi ini juga memudahkan pengguna untuk mengakses, karena jalur tidak terlalu terjal.
1.15.3. Gubahan masa
Sebagai perwujudan interaksi dengan alam, bentuk banunan menyesuaikan dengan kontur pada lahan, hal tersebut dapat memberikan keuntungan pada sedikitnya lahan yang terkena cut and fill, sehingga kondisi alam tidak terusak dengan adanya bangunan.
1.15.4. Fasad
Penerapan Prinsip pilotis pada bangunan, dalam arsitektur, pilotis merupakan konsep dimana kolom bangunan berada di atas tanah, penerapan konsep ini merupakan upaya untuk tidak merusak lingkungan, dengan elevasi lantai dasar yang tidak menyentuh tanah, menyebabkan aliran air dapat mengaliri tanpa tertahan bangunan.
Jalusi, angina sejuk yang berhembus dari sisi timur dapat digunakan sebagai penhawaan alamai pada bangunan dengan penerapan jalusi pada bukaan.
1.15.5. Struktur
System struktur yang digunakan adalah system struktur portal, dengan material kolom baja komposit beton, dan balok baja wf, penggunaan baja diutamakan karena baja dinilai lebih kuat digunakan untuk bentang lebar.