8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Reviu Penelitian Terdahulu
Pitaloka dan Merkusiawati, (2019) melakukan penelitian tentang pengaruh profitabilitas, leverage, komite audit, dan karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa profitabilitas, leverage, dan karakter eksekutif berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Sedangkan komite audit berpengaruh negatif terhadap tax avoidance.
Sari & Somoprawiro (2020) melakukan penelitian tentang pengaruh corporate governance, koneksi politik, dan profitabilitas terhadap tax avoidance pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2018. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa koneksi politik, profitabilitas, dan corporate governance yang diproksikan dengan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
Sedangkan corporate governance yang diproksikan oleh komite audit dan dewan komisaris Independen berpengaruh positif terhadap tax avoidance.
Puspita & Febrianti (2017) melakukan penelitian tentang faktor- faktor yang mempengaruhi penghindaran pajak pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2012-2014. Hasil analisis membuktikan bahwa ukuran perusahaan, return on asset, dan sales growth
9
berpengaruh pada penghindaran pajak perusahaan. Sedangkan leverage, intensitas modal, dan komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak.
Ferdiawan & Firmansyah, (2017) melakukan penelitian tentang pengaruh political connection, foreign activity, dan real earnings management terhadap tax avoidance pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010-2015. Hasil analisis menunjukkan bahwa manajemen laba riil tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak. Sedangkan koneksi politik berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak.
B. Tinjauan Pustaka 1. Teori Agency
Teori Agensi merupakan teori tentang hubungan kerja antara pemilik perusahaan dan manajer. Pemilik perusahan memperkerjakan manajer dalam pelaksanaan tugas dan kepentingan pemilik perusahaan, juga dalam pemberian wewenang pada manajer untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu memenuhi target keuntungan yang telah ditetapkan. Manajer mempunyai kewajiban sebagai pemberi informasi yang telah diperolehnya kepada pemilik perusahaan dikarenakan manajer merupakan pihak yang lebih dekat dan memahami kondisi dari perusahaan. Manajer tidak harus selalu melaporkan semua kondisi dari perusahaan, kekurangan yang terjadi di perusahaan harus ditutupi agar citra manajer tetap terlihat baik di mata pemilik perusahaan. Manajer
10
harus bertanggung jawab dalam memaksimalkan keuntungan yang diperoleh perusahaan, keuntungan yang diperoleh akan berdampak terhadap kompensasi yang didapatkan. Hal tersebut berdasarkan kesepakatan antara manajer dengan pemilik perusahaan (Amelia, 2016).
Proses yang dikerjakan manajer ini dipengaruhi oleh perbedaan kebutuhan dan kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan.
Perbedaan kebutuhan dan kepentingan juga dapat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, perbedaan informasi yang diperoleh, juga pada penggunaan anggaran perusahaan.
Teori Agensi sangat cocok dengan penelitian ini dikarenakan perusahaan yang menjadi objek penelitian juga menggunakan hubungan keagenan antara pemilik perusahaan dan manajer. Karakteristik hubungan keagenan terbagi menjadi 3, yaitu pertama terdapat wewenangan yang diberikan dari satu pihak ke pihak lain untuk mengorganisir hal yang berkaitan hukum disebut principal. Kedua, terdapat pihak yang mengemban wewenang dalam melakukan tindakan hukum untuk pihak lain disebut agent. Ketiga, hubungan hukum keduanya menjadikan adanya hak dan kewajiban antar kedua pihak disebut doktrin fiduciary duties (Santoso et al., 2017). Ketiga hubungan yang terjadi antara principal dengan agent dalam sebuah perusahaan disebut sebagai agency relationship, hubungan didapat ketika principal memberikan upah kepada agent untuk melakukan kepentingan principal (Santoso et al., 2017). Kepentingan yang berbeda antara
11
principal dengan agent membuat sebuah perusahaan kadang berjalan buruk. Permasalahan yang terjadi itu disebut agency problem, yaitu konflik yang mungkin dapat terjadinya karena kepentingan berbeda yang berbeda antara principal dengan agent di sebuah perusahaan (Santoso et al., 2017).
Agency theory memiliki hubungan dalam penghindaran pajak, hal tersebut dapat terlihat dalam keputusan yang diambil untuk dapat menghindari pembayaran pajak hal ini pula yang dapat memunculkan principal agent problem. Permasalahan muncul saat seorang manajer menggunakan posisi yang diberikan pemilik perusahaan untuk menghindari pajak agar memperoleh keuntungan pribadi (Armstrong &
Kepler, 2018).
Profitabilitas dalam sebuah perusahaan, kemampuan perusahaan dapat diukur melalui hasil keuntungan yang diperoleh pada aset tertentu.
Teori agensi dapat menjadi acuan manajer dalam proses peningkatan untung perusahaan. Agent khususnya dalam teori agensi bekerja sebaik mungkin mengurus masalah pajak perusahaan untuk tidak mengurangi upah kerja yang telah dilakukan agar tidak masuk dalam pembayaran pajak. Handalnya sebuah perusahaan dalam mengurus aset yang dimiliki maka keuntungan yang diperoleh dari memanfaatkan kelemahan peraturan pembayaran pajak akan besar pula. Hal tersebut lah yang menjadikan banyak perusahaan cenderung akan melakukan penghindaran pajak.
12
Leverage adalah jumlah hutang untuk menjalankan atau membiayai aktivitas operasional perusahaan. Pihak agen mempunyai keinginan untuk dapat meningkatkan laba, dengan cara memanfaatkan beban bunga dan beban depresiasi dari penggunaan utang perusahaan.
Sehingga beban pajak yang dibayarkan berkurang,
Koneksi politik merupakan suatu hubungan yang dimiliki oleh perusahaan melalui sebuah cara untuk dapat terikat baik secara secara politik atau mendekatkan diri pada politisi atau pemerintah agar terjalin kedekatan (Wati, 2017). Melalui hubungan istimewa yang dimiliki, pihak agent menjadikan hubungan tersebut sebagai cara agar dapat terhindar dari pemeriksaan pajak.
2. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan gambaran capability perusahaan bagaimana menggunakan aset yang dimiliki agar mendapatkan keuntungan atau laba yang maksimal (Arianandini dan Ramantha, 2018). Return On Assets (ROA) adalah salah satu rasio dari profitabilitas, bertujuan dalam pengukuran efektif atau tidaknya perusahaan dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Penggunaan ROA dinilai mampu menjadi pengukur atas seluruh kinerja yang ada pada perusahaan. Dalam persentase menunjukkan bahwa tingginya nilai ROA maka kinerja perusahaan akan menjadi baik.
Tingginya nilai ROA menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan juga semakin tinggi. Semakin besar laba yang dihasilkan,
13
pajak yang harus dibayar juga semakin tinggi hal ini lah yang menjadikan banyak perusahaan berusaha memanfaatkan celah dalam peraturan pemerintah agar dapat mengurangi beban pajak yang dibayarkan.
3. Leverage
Leverage adalah jumlah hutang untuk menjalankan atau membiayai kegiatan operasional perusahaan (Praditasari dan Setiawan, 2017). Debt to Total Asset Ratio (DAR) adalah salah satu rasio dari leverage. DAR berguna dalam pengukuran besar aset yang dimiliki perusahaan dari utang untuk menjalankannya proses operasional.
Utang sebagai modal usaha sebuah perusahaan akan menjadi beban tetap (fixed rate return) disebut juga bunga. Bunga juga dapat mengurangi beban pajak perusahaan. Hutang yang digunakan sebagai dana utama menjalankan perusahaan akan berpengaruh pada laba, juga berpengaruh memperkecil pajak yang dibayar. Besar utang sebagai modal utama perusahaan menjadikan keuntungan terkena pajak lebih kecil karena terkendala bunga utang (Anouar dan Houria, 2017).
4. Koneksi Politik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) koneksi merupakan hubungan yang bisa mempermudah semua urusan yang berkaitan dengan politik. Sedangkan politik merupakan sistem pemerintahan atau dasar pemerintahan.
14
Koneksi politik merupakan hubungan yang diperoleh perusahaan melalui cara memiliki keterikatan dalam politik atau berusaha menjalin hubungan dekat dengan orang terkemuka di pemerintahan (Wati, 2017). Hubungan spesial yang lebih berguna apabila pemilik perusahaan merupakan orang terkemuka, apalagi jika pemilik perusahaan merupakan anggota dewan baik itu daerah maupun pusat atau bisa juga sebagai anggota partai politik (Wicaksono, 2017).
Kepemilikan saham pemerintah juga dapat berpengaruh terhadap koneksi politik. Hubungan istimewa inilah yang dapat berguna untuk melawan proses atau aktivitas pajak.
Variabel diukur menggunakan dummy hal ini pernah dilakukan oleh Wati, (2017), angka 1 sebagai indikasi bahwa perusahaan memiliki koneksi politik, dan angka 0 berinnidkasi bahwa perusahaan tidak memiliki koneksi politik. Acuan penentuan kriteria ada tidaknya koneksi politik yang dimiliki perusahaan ini didasari Wati, (2017), yaitu:
a. Pemilik perusahaan merupakan orang penting, bisa jadi anggota DPR, pejabat politik seperti militer, anggota kabinet, atau bisa juga seorang komisaris tinggi.
b. Hal ini juga berlaku jika pemilik perusahaan mantan anggota DPR, mantan pejabat politik seperti militer, mantan anggota kabinet, atau bisa juga seorang mantan komisaris tinggi.
15 5. Penghindaran Pajak
Penghindaran pajak (tax avoidance) merupakan tindakan untuk mengurangi biaya pembayaran pajak oleh sebuah perusahaan atau perorangan dengan mencari celah yang terdapat pada peraturan pemerintah (Puspita dan Febrianti, 2017). Penghindaran pajak memang dilakukan dengan sengaja, banyak pula perusahaan yang memanfaatkan upaya penghindaran pajak. Penghindaran pajak merupakan sebuah persoalan rumit namun unik, satu sisi memperbolehkan, namun sisi lain tidak menginginkan penghindaran pajak.
Dalam penelitian ini penghindaran pajak diukur dengan cara Cash Effective Tax Rate (CETR). CETR adalah biaya pajak dibagi dengan laba sebelum pajak. Pengukuran CETR baik dilakukan untuk dapat mengetahui gambaran aktivitas penghindaran pajak, hal ini juga tidak mempengaruhi adanya perubahan perlindungan pajak. Tingginya tingkat persentase hasil pengukuran CETR, dalam kurun tarif pajak penghasilan yaitu sebesar 25%. membuktikan bahwa rendahnya tingkat penghindaran pajak.
C. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh Profitabilitas pada Penghindaran Pajak
Profitabilitas merupakan gambaran capability perusahaan bagaimana menggunakan aset yang dimiliki agar mendapatkan keuntungan atau laba yang maksimal (Arianandini dan Ramantha, 2018). Return On Assets (ROA) adalah salah satu rasio dari
16
profitabilitas, bertujuan dalam pengukuran efektif atau tidaknya perusahaan dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Penggunaan ROA dinilai mampu menjadi pengukur atas seluruh kinerja yang ada pada perusahaan. Dalam persentase menunjukkan bahwa tingginya nilai ROA maka kinerja perusahaan akan menjadi baik.
Tingginya nilai ROA menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan juga semakin tinggi. Semakin besar laba yang dihasilkan, pajak yang harus dibayar juga semakin tinggi hal ini lah yang menjadikan banyak perusahaan berusaha memanfaatkan celah dalam peraturan pemerintah agar dapat mengurangi beban pajak yang dibayarkan Berdasarkan hal tersebut hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1: Profitabilitas berpengaruh pada penghindaran pajak 2. Pengaruh Leverage pada Penghindaran Pajak
Leverage merupakan jumlah utang yang digunakan dalam menjalankan atau membiayai aktivitas operasinya (Praditasari dan Setiawan, 2017). Pembiayaan yang dilakukan lewat utang terutama jangka panjang dapat menambah bunga sehingga jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan juga berkurang (Ngadiman dan Puspitasari, 2017). Tinggi rasio leverage perusahaan maka akan menjadi tinggi pula jumlah utang sehingga beban bunga yang muncul dari utang juga semakin tinggi. Bunga dari peminjaman utang adalah
17
penggunaan deductible expense oleh perusahaan hal ini terdapat pada Pasal 6 Undang-Undang No. 36 Tahun 2008.
Tinggi beban bunga dapat mengurangi jumlah pembayaran pajak. Tindakan ini akan membuat perusahaan membayar pajak dengan jumlah kecil. Kesimpulannya bahwa dengan tingginya nilai leverage, kemungkinan perusahaan dalam melakukan penghindaran pajak juga menjadi besar. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
H2: Leverage berpengaruh pada penghindaran pajak.
3. Pengaruh Koneksi Politik pada Penghindaran Pajak
Koneksi politik terkadang dimiliki oleh sebuah perusahaan, untuk dapat mengetahuinya maka digunakan asumsi ada tidaknya pejabat negara yang menduduki struktural di perusahaan. Koneksi politik sering dimanfaatkan sebagai ajang mendapatkan perlakuan spesial dari pemerintah. Koneksi politik yang terjadi baik digunakan oleh perusahaan BUMN ataupun BUMS bertujuan untuk agar lebih dekat dengan pemerintah. Hal ini bertujuan agar memperoleh cara untuk terhindar dari pemeriksaan pajak, termasuk juga untuk memperoleh tindakan tax evasion atau tax aggressiveness seperti pengajuan pengurangan denda pajak (Wicaksono, 2017). Perusahaan juga bisa memanfaatkan hubungan pemilik dan pemegang saham sebagai tindakan penghindaran pajak. Koneksi yang dimiliki dengan anggota pemerintah menjadi tolak ukur untuk memperoleh perlakuan
18
istimewa sehingga tidak adanya transparansi perusahaan terhadap laporan keuangan (Windaswari dan Merkusiwati, 2018). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini memiliki hipotesis sebagai berikut:
H3: Koneksi politik berpengaruh pada penghindaran pajak.
D. Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen, yaitu profitabilitas, leverage, dan koneksi politik sedangkan variabel dependennya penghindaran pajak, yang mempunyai tujuan untuk mencari seberapa besar pengaruh penghindaran pajak terhadap variabel independen. Hubungan variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini tergambar dalam kerangka pemikiran sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Profitabilitas
( H1)
Leverage ( H2)
Koneksi Politik ( H3)
Penghindaran Pajak (Y)