KIMIA ORGANIK 2
SENYAWA POLISIKLIS
tim dosen
Komponen utama dalam pewangi ini adalah naftalena, suatu
senyawa polisiklis aromatis
Materi :
• Struktur
• Klasifikasi
• Sifat kimia dan fisika
• Reaksi
• Manfaat
SENYAWA POLISIKLIS
Senyawa polisiklis adalah senyawa yang tersusun dari dua atau lebih sistem cincin.
jenis senyawa polisiklis: alami, sintetik, aromatis, nonaromatis, homosiklis, heterosiklis, cincin terpadu, atau cincin terpisah
Merupakan senyawa kimia yang mengandung karbon dan hidrogen — yang terdiri dari banyak cincin aromatik. Kelompok ini adalah bagian utama dari hidrokarbon aromatik. Yang paling
sederhana adalah naftalena, memiliki dua cincin aromatik, dan senyawa tiga cincin antrasen dan fenantrena
Contohnya : Naftalena (kapur barus atau kamper) merupakan senyawa polisiklis yang tersusun
dari dua cincin.
BEBERAPA SENYAWA POLISIKLIS
O
estron HO
O
O
CH2-CH=C
CH3
CH2-C15H31 CH3
vitamin K1 O
O
OH
lawsona
[7]sirkulena
OH OH
HO OH CH3
CH3
CH3 H3C
KLASIFIKASI SENYAWA POLISIKLIS
SENYAWA POLISIKLIS
KEAROMATISAN
AROMATIS
NON AROMATIS
JENIS ATOM PENYUSUN
HOMOSIKLIS
HETEROSIKLIS
CARA PENGGABUNGAN CINCIN
TERPADU
ORTHO
BERJEMBATAN
SPIRO
TERPISAH
JEMBATAN TANPA ANGGOTA
bisiklo[4.4.0]dekana atau dekalin naftalena
Contoh senyawa polisiklis aromatis dan nonaromatis
N
S
CH3CH3 O COOH
PhCH2CONH
O O
OH OH OH
CH3 OH N(CH3)2
OH
CONH2
sistem cincin homosiklis sistem cincin heterosiklis
penisilin G tetrasiklin
Contoh senyawa polisiklis homosiklis dan heterosiklis
Contoh sistem cincin terpadu dan terpisah
aromatis Non aromatis
Sifat kimia
Memiliki rantai tertutup (siklik).
Memiliki ikatan rangkap terkonjugasi atau berselang-seling dengan ikatan tunggal.
Berbau harum Sifat fisika :
Senyawa ini berbentuk cair tidak berwarna, beracun, dan mudah menguap.
termasuk senyawa yang mudah terbakar karena punya kandungan karbon yang sangat tinggi.
Titik didih di rentang 80℃ sampai 250℃. (titik didih dan titik leleh senyawa ini
dipengaruhi oleh sifat kepolaran gugus senyawanya sendiri.)
Senyawa polisiklis alisiklis yang berupa cincin homosiklis, mempunyai dua atau lebih atom karbon yang dimiliki oleh dua cincin atau lebih.
Nama senyawa tersebut merujuk pada nama senyawa berantai terbuka yang mempunyai jumlah karbon sama, ditambah suatu awalan yang menunjukkan jumlah cincin yang ada, seperti bisiklo, dan trisiklo.
Titik pertemuan cincin-cincin disebut kepala jembatan. Jumlah atom-atom di antara titik pertemuan pada setiap jembatan ditunjukkan dalam tanda kurung. Jumlah anggota jembatan terbanyak dituliskan paling awal, diikuti yang lebih kecil. Penulisan di antara angka anggota jembatan menggunakan titik.
TATANAMA SENYAWA POLISIKLIS ALISIKLIS
kepala jembatan
jembatan 3 anggota jembatan
2 anggota
jembatan 1 anggota
bisiklo[3.2.1]oktana
Sistem penomoran dimulai dari kepala jembatan, dan bergerak sepanjang jembatan-jembatan.
Jembatan terpanjang diberi nomor-nomor awal, diikuti yang kedua, dan seterusnya.
Bila terdapat pilihan karena panjang jembatan sama, maka penomoran diatur sedemikian rupa sehingga gugus fungsi atau substituen mempunyai nomor-nomor sekecil mungkin.
Keberadaan substituen ditunjukkan posisinya dengan angka, dan disisipkan pada nama utama sesuai aturan pada sistem tatanama senyawa organik
.CH
CH 2 CH
H2C
bisiklo[1.1.0]butana bisiklo[2.2.2]oktana bisiklo[2.1.1]heksana bisiklo[3.2.2]nonana
1 2
3
4
5 6 7
bisiklo[2.2.1]hept-2-ena
OH
H3C 1
2
3 4
5 6
7
8
5-metilbisiklo[2.2.2]oktan-2-ol
Sistem trisiklis, atau tetrasiklis dinamakan dengan terlebih dahulu menetapkan sistem bisiklis utama, yaitu sistem dengan tiga jembatan terpanjang. Lokasi jembatan
tambahan ditunjukkan dengan angka superskrip pada angka yang menyatakan jembatan tambahan.
1
2 3 4
5
6
7
trisiklo[2.2.1.0
2.6]heptana
1
2
3 4 5 6
7
8
9
10
trisiklo[4.2.2.1
11
undekana
2.8
]
Sistem cincin senyawa polisiklis aromatis mempunyai nama khusus yang bersifat individual.
penomoran ditetapkan berdasarkan perjanjian, dan tidak berubah dengan adanya substituen.
TATANAMA SENYAWA POLISIKLIS
1 2
3 5 4
6 7
8 1
2 3 4 5
6 7
8 9
10
1 2
3
4
5 6
7 8
9 10
naf talena antrasena
f enantrena pirena
1 2
3 4
5 6 7 9 8
10
Pada naftalena monosubstitusi, posisi substituen dapat juga dinyatakan oleh huruf
Yunani. Posisi yang berdekatan dengan karbon-karbon pertemuan cincin disebut posisi
, sedangkan pada posisi berikutnya adalah posisi .
CH 3
CH 2CH(CH 3)2
CH 3
CH 3
CH 3 CH=CH 2
3-isobutil-1-metilnaf talena 9,10-dimetilantrasena 2-metil-9-vinilf enantrena
NO 2
nitro naf talena
Cl SO3H
asam m-kloronaf talensulf onat
(m = meta)
10 atom C menggunakan orbital hibrida sp 2 .
Orbital sp 2 membentuk struktur segitiga datar dengan besar sudut sama, yaitu 120 o , jadi stuktur naftalena berupa cincin datar.
jumlah elektron pada naftalena adalah 10. Hal tersebut memenuhi aturan Huckel untuk n = 2
STRUKTUR NAFTALENA
H
H
H H
H H
H
H
120o
120
120o o
Dalam benzena, semua panjang ikatan C-C sama, akibat proses delokalisasi atau resonansi ikatan
yang sempurna.
Dalam senyawa polisiklis aromatis, panjang ikatan karbon-karbon tidak semuanya sama.
ikatan karbon-karbon pada naftalena yang lebih mempunyai karakter ikatan rangkap adalah ikatan antara karbon 1 dan karbon 2. Hal ini merupakan penjelasan dari fakta percobaan yang menunjukkan bahwa reaksi-reaksi yang khas untuk ikatan rangkap terjadi pada posisi karbon 1- karbon 2.
1,36 Ao
1,40 Ao 1,42 Ao
1,39 Ao
Panjang ikatan C-C dalam alkana = 1,54 Ǻ Panjang ikatan C=C dalam alkana = 1,34 Ǻ Panjang ikatan C-C dalam benzena = 1,40 Ǻ
dari tiga struktur resonansi naf talena, dua diantaranya menunjukkan ikatan rangkap pada karbon 1- karbon 2
Dari lima struktur resonansi fenantrena, terdapat empat di antaranya yang mempunyai ikatan rangkap pada posisi ikatan karbon 9 dan karbon 10. Dengan demikian, posisi ikatan karbon 9 dan karbon 10 mempunyai karakter ikatan rangkap lebih besar. Hal ini sejalan dengan fakta percobaan yang
menunjukkan reaksi-reaksi khas ikatan rangkap pada fenantrena selalu terjadi pada posisi karbon 9- karbon 10. Misalnya, reaksi adisi ikatan rangkap yang khas pada alkena terjadi pada fenantrena di posisi 9-10
FENANTRENA
Pada naftalena, substitusi
elektrofilik dapat berlangsung pada posisi (1) atau (2), walaupun demikian, sebagian besar reaksi berlangsung pada posisi
REAKSI-REAKSI SENYAWA POLISIKLIS AROMATIS
1-bromonaf talena
Br
1-nitronaf talena
asam 1-naf talenasulf onat
1-asetilnaf talena
NO2
SO3H
CCH3 O
Br2, FeBr3
HNO 3, H2SO4
H2SO4 berasap 80oC
CH3CCl, AlCl3 O
SUBSTITUSI ELEKTROFILIK
MEKANISME SUBSTITUSI ELEKTROFILIK
+ E
H E
+
E
+ H+
lambat cepat
zat antara
+
elektrof il
H E
E+ +
memerlukan 36 kkal untuk merusak kearomatisan benzena+ H E
E+
memerlukan 25 kkal untuk merusak sebagiankearomatisan naf talena
Bila dibandingkan dengan benzena, maka zat antara pada substitusi elektrofilik naftalena lebih disukai atau berenergi lebih rendah,
karena masih mempunyai struktur cincin benzena yang utuh, jadi substitusi elektrofilik pada naftalena lebih mudah dari benzena .
SUBSTITUSI α ATAU β ?
H E
+
+ H E
+ H E
+
H E H E
+
keduany a masih mempertahankan struktur benzena, sehingga merupakan peny umbang utama kestabilan zat antara
H E +
+
E
H H
E +
H + E
H E +
hany a terdapat satu y ang
mempertahankan struktur benzena
Struktur-struktur resonansi zat antara untuk substitusi :
Struktur-struktur resonansi zat antara untuk substitusi :
Jumlah struktur resonansi zat antara substitusi dan
sama.
Struktur resonansi zat antara yang menghasilkan substitusi pada posisi mempunyai dua struktur benzenoid , dan jika substitusi berlangsung pada posisi , hanya terdapat satu struktur resonansi benzenoid.
Struktur zat antara
substitusi lebih stabil dari substitusi .
substitusi naftalena pada
posisi lebih disukai dari
substitusi pada posisi .
Pada temperatur tinggi (160 o C), naftalena dapat disulfonasi pada posisi , sedangkan pada temperatur rendah, naftalena tersulfonasi pada posisi .
Asam 1-naftalenasulfonat merupakan produk kendali kinetika. asam 2- naftalensulfonat merupakan produk kendali termodinamika.
SULFONASI NAFTALENA
SO3H
SO3H
91 % 9 %
15 % 85 %
SO3H SO3H
80oC
160oC
asam 1-naf talenasulf onat asam 2-naf talenasulf onat
asam 1-naf talenasulf onat asam 2-naf talenasulf onat
+ SO3
SULFONASI NAFTALENA
SO3H
SO3H
G±
G
G ±
G pada 160oC reaksi lebih banyak yang mengikuti jalur ini
pada 80oC reaksi lebih banyak yang mengikuti jalur ini
asam 1-naftalensulfonat lebih stabil
dari asam 2-naftalensulfonat., karena
pada asam 1-naftalensulfonat gugus
sulfonat yang berukuran besar berada
pada posisi lebih sesak.
asilasi Friedel Crafts berlangsung lebih mudah pada naftalena dibandingkan dengan pada benzena.
Bila reaksi asilasi dilakukan dalam karbon disulfida (CS
2), substitusi berlangsung pada posisi , akan tetapi bila nitrobenzena yang digunakan sebagai pelarut, substitusi berlangsung pada posisi . Hal tersebut disebabkan nitrobenzena (PhNO
2)
membentuk kompleks dengan alumunium triklorida (AlCl
3) dan asilklorida (RCOCl) sehingga menjadi gugus yang ruah.
Keruahan gugus tersebut menyulitkannya untuk masuk pada posisi , sehingga substitusi lebih banyak berlangsung pada posisi
.
ASILASI FRIEDEL CRAFT
+ RCCl O
C
C
O R
O
R
AlCl 3 CS 2
AlCl 3 PhNO 2
Faktor yang dipertimbangkan :
sifat substituen yang telah terdapat pada naftalena, substituen yang merupakan gugus pengaktivasi cincin akan mengaktifkan cincin terutama pada cincin tempat terdapatnya gugus pengaktivasi tersebut.
Dengan demikian posisi substitusi kedua akan berlangsung pada cincin yang mengikat substituen
pertama. Sebaliknya, substituen yang bersifat mendeaktivasi cincin akan mendeaktivasi cincin terutama pada cincin tempat terikatnya substituen tersebut. Oleh karena itu, serangan elektrofilik akan lebih
memilih pada cincin yang tidak terdapat substituen.
posisi substituen pada naftalena. Bila naftalena telah mengikat suatu gugus pengaktivasi pada posisi 1, maka sebagian besar substitusi berlangsung pada posisi 4, tetapi bila gugus pengaktivasi tersebut berada pada posisi 2, maka sebagian besar substitusi berlangsung pada posisi 1. Pada kondisi naftalena telah mengikat suatu gugus pendeaktivasi pada posisi 1, maka substitusi berlangsung pada posisi 8, sedangkan bila gugus pendeaktivasi tersebut terikat pada posisi 2, maka substitusi sebagian besar berlangsung pada posisi 5.
SUBSTITUSI ELEKTROFILIK KEDUA
Jenis gugus O- NH2, NHR, NR2, OH, OR
NHCOR, OCOR,
Ph, R F, Cl, Br, I
CO2R, CO2H, CHO, COR,
CN
NO2, SO3H,
NH3, NR3+
Jenis pengarah substitusi
o, p o , p o , p o , p o , p m m m
Gugus pendeaktivasi Gugus pengaktivasi
GUGUS PENGAKTIVASI PENDEAKTIVASI CINCIN
Substituen pertama : gugus pengaktivasi
OH OH
NO2
OH + NO2
HNO 3, H2SO4
banyak sedikit
posisi para, tidak sesak
posisi ortho, lebih sesak
Br2, FeBr3 + +
OH OH
Br
OH
Br
OH
Br
OH
H NO2 +
OH
H NO2 +
OH
H NO2 +
+ H NO2
OH
OH
H NO2 +
+
NO2 H
OH
+
NO2 H
OH OH
NO2 H
+ +
H OHNO2
OHNO2
H + H +
OHNO2
Struktur-stuktur resonansi zat antara substitusi para Struktur-stuktur resonansi zat antara substitusi ortho
Posisi 1
Posisi 2
Br2, FeBr3
SO3H SO3H
Br
SO3H Br
+
asam 2-naf talesulf onat
asam 5-bromonaf talensulf onat asam 8-bromonaf talensulf onat +
NO2 H NO2 NO2 H NO2
+
+ NO2 H NO2
+ NO2 H NO2
NO2 H NO2
+ +
NO2 H NO2 NO2 H NO2
+
Substituen pertama : gugus pendeaktivasi
Posisi 1
Posisi 2
NO2
NO2 H
+
+
H NO2
NO2 NO2
NO2 H
+
NO2
NO2 H
+
+
H NO2
NO2
NO2 H
+
+
H NO2 NO2 tolak menolak
muatan positif N
O O
+ -
Struktur-struktur resonansi zat antara substitusi 8:
Struktur-struktur resonansi zat antara substitusi 5:
Antrasena lebih reaktif terhadap substitusi elektrofilik daripada benzena dan substitusi berlangsung paling banyak pada posisi 9. Alasan substitusi lebih banyak berlangsung pada posisi 9 adalah karena elektron- elektron pada struktur zat antaranya lebih terdelokalisasi daripada yang berlangsung pada posisi lainnya,
Substitusi elektrofilik pada fenantrena juga paling banyak berlangsung pada posisi 9.
SUBSTITUSI ELEKTROFILIK ANTRASENA DAN FENANTRENA
+ E+
E
1
2
3 5 4
6 7
8 9
10
+ E+
1
E
2 3
4
5
6
7 8 9 10
Reaksi adisi pada senyawa polisiklis aromatis berlangsung jauh lebih mudah daripada reaksi adisi pada benzena,
senyawa aromatik polisiklik dapat dihidrogenasi parsial tanpa kalor dan tekanan atau dengan natrium dan etanol
REAKSI REDUKSI
Na, etanol tak ada reaksi
Na, etanol
Na, etanol
Pt
225oC, 35 atm
reaksi adisi pada antrasena dan fenantrena seringkali ditemukan berlangsung pada posisi 9 dan 10.
Br2
Br
Br
O O
O
O O
O +
maleat anhidrida
Reaksi brominasi fenantrena
Reaksi Diels Alder antrasena
Reaksi oksidasi pada senyawa aromatis polisiklis lebih mudah berlangsung daripada benzena. Reaktivitas yang lebih besar tersebut disebabkan oleh senyawa polisiklis aromatis dapat bereaksi hanya pada salah satu cincin, sehingga
masih mempunyai setidaknya satu cincin benzena yang masih utuh, baik dalam struktur zat antara maupun produknya.
Kation benzilik, anion benzilik, dan radikal bebas benzilik semuanya terstabilkan secara resonansi dengan cincin benzena. Akibatnya posisi benzilik merupakan letak kereaktivan dalam berbagai reaksi, termasuk oksidasi. Semua
senyawa polisiklik aromatis, apapun jenis alkilnya, dapat dioksidasi pada posisi benzilik menghasilkan gugus karboksil.
REAKSI OKSIDASI
COH
COH O
O
O O
O
V2O5 udara
kalor
-H2O
asam o-f talat anhidrida asam f talat
Naftalena tersubstitusi dapat dioksidasi pada bagian cincin yang lebih aktif.
OKSIDASI NAFTALENA TERSUBSTITUSI
NO2 NO2
HOC
HOC O
O
CrO 3 CH 3CH 2OH
NH2
COH COH O
O
CrO 3 CH 3CH 2OH
CH 3CH 2OH CrO 3
O O
COH OH COH
1-nitronaf talena
asam 3-nitro-1,2-f talat
1-naf tilamina
asam o-f talat
naf tol
asam o-f talat
Walaupun oksidasi pada umumnya berlangsung hingga tingkat oksidasi tertingginya (menjadi gugus –COOH), tetapi bila kondisi reaksi dikendalikan (suhu dan tekanan diperendah), maka oksidasi dapat berlangsung hingga pembentukan gugus karbonil (C=O). Misalnya, naftalena dapat diubah menjadi 1,4-naftokuinon. Perhatikan bahwa posisi aktif reaksi tetap pada posisi karbon benzilik.
Pengendalian kondisi reaksi hingga tercapai kondisi yang lunak, juga dapat mengoksidasi gugus hidroksi yang terikat pada senyawa polisiklis aromatis menjadi gugus karbonil, sehingga dihasilkan suatu kuinon
O
O
O
O
O O CrO 3
H2SO4
CrO 3 H2SO4
CrO 3 H2SO4
1,4-naf takuinon
9,10-antrakuinon
9,10-f enantrakuinon
O
O
O
O
O
O OH
OH
OH
OH
OH
HO
[O]
[O]
[O]
kondisi lunak
kondisi lunak
kondisi lunak