BAB 2
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian
2.1.1 Kampus Anggrek
Universitas Bina Nusantara adalah sebuah universitas swasta yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. Universitas Bina Nusantara memiliki 3 (tiga) buah kampus yang digunakan untuk kegiatan kuliah Strata 1 dan saling berhubungan. Ketiga kampus tersebut adalah Kampus Anggrek, Kampus Syahdan, dan Kampus Kijang. Masing- masing dari ketiga kampus tersebut memiliki lahan parkir untuk melayani civitas akademika Universitas Bina Nusantara. Universitas Bina Nusantara bekerja sama dengan Secure Parking dalam mengelola lahan parkir yang ada.
Pada penelitian ini, lokasi penelitian yang dipilih sebagai daerah studi adalah Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara yang berlokasi di Jl. Kebon Jeruk Raya No. 27, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Kampus Anggrek merupakan kampus yang memiliki lahan parkir terbesar dari ketiga kampus yang ada dengan jumlah petak parkir sebanyak 713 lot.
Gambar 2.1 Denah Lokasi Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara
2.1.2 Kebijakan Parkir Mobil Kampus Anggrek
Berdasarkan Peraturan Tata Tertib Kehidupan Kampus Universitas Bina Nusantara yang dikeluarkan pada 14 Desember 2002, kebijakan parkir yang berlaku saat ini adalah sebagai berikut:
1. Identitas Parkir:
Kelompok Jenis Kendaraan Identitas
Mahasiswa Motor (Kampus Anggrek) BINUSIAN Card (+STNK)
Mobil BINUSIAN Card Mahasiswa
Dosen Motor BINUSIAN Card (+STNK)
Mobil BINUSIAN Card Dosen
Karyawan Motor BINUSIAN Card (+STNK)
Mobil BINUSIAN Card Karyawan
Umum Motor Kartu Umum
Mobil Kartu Umum
2. Jam Operasional:
Senin – Jumat : 06.30 – 21.00 WIB Sabtu : 06.30 – 19.00 WIB
Apabila melebihi jam operasional parkir di atas maka akan dikenakan beban menginap.
3. Kartu Hilang:
• Untuk kelompok mahasiswa, Dosen dan Karyawan, segera menghubungi BINUSIAN Card untuk diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
• Untuk kelompok umum dikenakan denda Rp. 20.000,- per kartu.
4. Pemeriksaan STNK:
Petugas parkir berhak memeriksa STNK asli. Apabila tidak ada, maka kendaraan tersebut tidak dapat di keluarkan dari areal parkir.
5. Perangkapan Status:
Untuk kelompok Mahasiswa/Dosen yang merangkap menjadi Karyawan, diberlakukan berbagai kelompok karyawan.
6. Lain-lain:
• Tidak diperkenankan untuk meninggalkan barang-barang berharga atau identitas untuk tanda parkir pada kendaraan anda (tidak disediakan penitipan helm, jaket dan lainnya).
• Segala kerusakan/kehilangan terhadap kendaraan/barang-barang di dalamnya adalah resiko sendiri, pihak BINUS UNIVERSITY tidak akan mengganti dalam bentuk apapun.
• Setiap pihak wajib mematuhi ketentuan di atas, dan bila di langgar maka petugas berhak untuk menolak dan tetap menjalankan sesuai dengan prosedur.
• Khusus untuk hari Minggu, area parkir di Kampus Anggrek tidak dioperasionalisasikan dan tiap kegiatan disentralisasikan di Kampus Syahdan.
• Setiap pengguna kendaraan, agar memarkir kendaraannya dengan rapi dan tidak mengganggu pengguna lainnya (bila paralel jangan di ”hand rem”).
• BINUSIAN kuliah tahun pertama tidak diijinkan membawa dan memarkir mobil di kampus. Termasuk pelanggaran juga bila masuk dengan BINUSIAN Card orang lain.
• Pelanggaran menggunakan BINUSIAN Card orang lain untuk kepentingan parkir akan dikenakan sanksi skorsing termasuk mahasiswa yang meminjamkan BINUSIAN Card.
• Selalu mengunci mobil/motor saat meninggalkannya (lebih baik bila terdapat kunci tambahan).
• Parkir motor harus di tempat yang disediakan dan khusus di Kampus Syahdan hanya untuk yang berstiker (karyawan, dosen dan pengurus UKM/HMJ).
• Petugas parkir akan memberikan surat peringatan pelanggaran parkir bila terdapat pelanggaran di atas (parkir paralel di hand rem, tidak dikunci, kunci ketinggalan, dll).
• Ketentuan di atas juga berlaku untuk di Kampus Kijang.
2.2 Analisis Parkir
Parkir merupakan salah satu unsur sarana yang tidak dapat dipisahkan dari sistem transportasi jalan raya secara keseluruhan. Dengan meningkatnya jumlah penduduk suatu kota akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan melakukan berbagai macam kegiatan. Kebanyakan penduduk di kota-kota besar melakukan kegiatan atau bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi sehingga secara tidak langsung diperlukan jumlah lahan parkir yang memadai (Tamin, 2005).
Perparkiran merupakan masalah yang sering dijumpai dalam sistem transportasi perkotaan, baik dikota-kota besar maupun kota yang sedang berkembang. Masalah perparkiran tersebut akhir-akhir ini terasa sangat mempengaruhi pergerakan kendaraan, di mana kendaraan yang melewati tempat-tempat yang mempunyai aktivitas tinggi, laju pergerakannya akan terhambat oleh kendaraan yang parkir di pinggir jalan berada sekitar tempat atau pusat kegiatan seperti : perkantoran, sekolah, pusat kegiatan ekonomi (pasar swalayan, bioskop, rumah makan), dan lain-lain. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan, pengadaan lahan parkir yang cukup. Kebutuhan lahan parkir
(demand) dan prasarana yang akan dibutuhkan (supply) harus seimbang dan disesuaikan dengan karakteristik perparkiran. Secara umum parkir dapat dibagi atas 2 (dua) jenis, yaitu:
a. Parkir di badan jalan (on-street parking) b. Parkir di luar badan jalan (off-street parking)
2.2.1 Kebutuhan Parkir
Metode yang sering digunakan untuk menentukan kebutuhan lahan parkir, yaitu (Tamin, 2005):
a. Metode Berdasarkan Pada Kepemilikan Kendaraan
Metode ini mengasumsikan adanya hubungan antara luas lahan parkir dengan jumlah kendaraan yang tercatat di pusat kota. Semakin meningkat jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan parkir akan semakin meningkat karena kepemilikan kendaraan meningkat.
b. Metode Berdasarkan Luas Lantai Bangunan
Metode ini mengasumsikan bahwa kebutuhan lahan parkir sangat terkait dengan jumlah kegiatan yang dinyatakan dalam besaran luas lantai bangunan di mana kegiatan tersebut dilakukan, misalnya: perbelanjaan, perkantoran, dan lain- lain.
c. Metode Berdasarkan Selisih Terbesar Antara Kedatangan Dan Keberangkatan Kendaraan
Kebutuhan lahan parkir didapatkan dengan menghitung akumulasi terbesar pada suatu selang waktu pengamatan. Akumulasi parkir adalah jumlah kendaraan parkir pada suatu tempat pada selang waktu tertentu, di mana jumlah kendaraan parkir tidak akan pernah sama pada suatu tempat dengan tempat lainnya dari waktu ke waktu.
2.2.2 Karakteristik Parkir
Informasi mengenai karakteristik parkir sangatlah diperlukan pada saat kita merencanakan suatu lahan parkir. Beberapa parameter karakteristik parkir yang harus diketahui adalah (Tamin, 2005) :
a. Durasi Parkir
Salah satu faktor yang mempengaruhi kapasitas penggunaan ruang parkir, selain luas ruang parkir adalah lamanya kendaraan parkir (durasi parkir). Tujuan dilakukannya analisis terhadap durasi parkir adalah untuk mengetahui rerata lamanya kendaraan parkir pada lahan parkir tersebut. Informasi ini sangat dibutuhkan untuk mengetahui lama suatu kendaraan parkir. Informasi ini diperoleh dengan cara mengamati waktu kendaraan masuk dan waktu kendaraan tersebut keluar, selisih dari waktu tersebut adalah durasi parkir. Durasi parkir dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
Durasi Parkir = Tout – Tin
Tin = waktu saat kendaraan masuk lokasi parkir Tout = waktu saat kendaraan keluar lokasi parkir
Rerata durasi parkir dapat dicari dengan perhitungan sebagai berikut :
parkir durasi interval median
kendaraan volume
X_ ∑fx +
=
di mana:
f x fx= ×
parkir durasi rerata X=
x = median
f = jumlah kendaraan
b. Akumulasi Parkir
Informasi ini sangat dibutuhkan untuk mengetahui jumlah kendaraan yang sedang berada pada suatu lahan parkir pada selang waktu tertentu.
Informasi ini dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan kendaraan yang telah menggunakan lahan parkir ditambah dengan kendaraan yang masuk serta dikurangi dengan kendaraan yang keluar. Akumulasi parkir dapat dirumuskan sebagai berikut :
Akumulasi = Qin – Qout + Qs
dimana :
Qin = ∑ kendaraan yang masuk lokasi parkir Qout = ∑ kendaraan yang keluar lokasi parkir
Qs = ∑ kendaraan yang telah berada di lokasi parkir sebelum pengamatan dilakukan
c. Tingkat Pergantian (Parking Turn-over) dan Tingkat Penggunaan (Occupancy rate)
Tingkat pergantian diperoleh dari jumlah kendaraan yang telah memanfaatkan lahan parkir pada selang waktu tertentu dibagi dengan ruang parkir yang tersedia. Semakin tinggi tingkat pergantian, maka akan semakin menguntungkan apabila di lihat dari sisi pendapatan parkir. Nilai tingkat pergantian juga sangat tergantung dari durasi kendaraan parkir. Semakin kecil rerata durasi parkir kendaraan yang parkir di ruang parkir tersebut, maka akan semakin tinggi nilai tingkat pergantian.
sedia parkir ter petak
over Q - Turn
Parking = p
dimana :
Qp = ∑ kendaraan yang parkir per periode waktu tertentu, semisal dari jam 06:00 s/d 23:00
Sedangkan, tingkat penggunaan diperoleh dari akumulasi kendaraan pada selang waktu tertentu dibagi dengan ruang parkir yang tersedia dikalikan dengan 100%.
sedia 100%
parkir ter petak
parkir akumulasi Rate
Occupancy = ×
d. Volume Parkir
Jumlah kendaraan yang telah menggunakan ruang parkir pada suatu lahan parkir tertentu dalam satu satuan waktu tertentu (biasanya per hari). Volume parkir pada suatu selang waktu tertentu didapat dengan menjumlahkan jumlah kendaraan pada selang waktu sebelumnya ditambah dengan jumlah kendaraan masuk pada selang waktu tersebut.
e. Kapasitas Parkir
Banyaknya kendaraan yang dapat dilayani oleh suatu lahan parkir selama waktu pelayanan. Kapasitas parkir secara umum dapat didefinisikan sebagai jumlah maksimum kendaraan yang dapat diparkir pada suatu lahan parkir dalam suatu selang waktu tertentu. Besar kecilnya kapasitas suatu lahan parkir akan sangat menentukan besarnya volume kendaraan yang dapat ditampung. Hal ini berarti tingkat kapasitas sangat mempengaruhi dimensi lahan parkir tersebut.
Untuk itu kapasitas parkir ini harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak hanya didasarkan pada volume maksimum pada kondisi jam sibuk, namun juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan keseluruhan perilaku kendaraan baik durasi waktu maupun akumulasi parkir selama masa waktu tertentu.
Hal ini sangat penting, karena penentuan kapasitas yang tidak optimal pada akhirnya akan mengakibatkan perencanaan daerah parkir yang tidak optimal pula. Kondisi ini akan mewujudkan kemungkinan suatu lahan parkir dapat menampung kendaraan pada kondisi jam sibuk, namun pada waktu lainnya
akan banyak ruang kosong. Atau, dapat pula terjadi sebaliknya dimana pada jam normal sekalipun, banyak kendaraan yang tidak tertampung. Hal ini tentu saja sangat tidak efektif dan efisien bila dilihat dari sudut investasi.
Luas suatu lahan parkir tidak hanya ditentukan oleh besaran kapasitas dari lahan parkir yang besarnya dimanifestasikan dalam bentuk banyaknya petak parkir yang dibutuhkan, namun juga akan sangat dipengaruhi oleh tipe dari petak parkir tersebut serta jenis dan ukuran dari kendaraan yang akan di parkir. Bentuk dan tipe petak parkir pada dasarnya dibuat sedemikian rupa yang berusaha untuk memanfaatkan lahan yang ada semaksimum mungkin, serta dapat mengantisipasi kebutuhan akan manuver dan sudut putar kendaraan.
2.3 Teknik Sampling
2.3.1 Tahap Sebelum Mengumpulkan Data (Pra-survei)
Berdasarkan Nazir (2005) ada 11 (sebelas) langkah yang perlu dilakukan sebelum mengumpulkan data (survei), yaitu:
(1) Tentukan tujuan survei
Tujuan survey harus dijelaskan seterang-terangnya sehingga kita tidak akan lari dari sasaran atau tidak bias nantinya, jika kita kerja yang lebih mendetail akan kita kerjakan.
(2) Tetapkan populasi yang akan di survei
Berilah definisi sejelas-jelasnya mengenai populasi yang akan disurvei. Jika populasi adalah besar usaha tani, maka jelaskan apa yang dimaksud dengan
usaha tani dan apa yang dimaksud dengan besar usaha tani. Jika populasi adalah berat kerbau, maka beri definisi yang sejelas-jelasnya mengenai itu.
(3) Pilihlah data yang relevan
Data yang akan dikumpulkan haruslah yang relevan dengan tujuan penelitian.
Jauhi pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak memakan waktu. Tidak perlu data yang banyak sekali, padahal nantinya data tersebut tidak dianalisis.
(4) Tentukan derajat ketepatan
Bagaimana presisi yang kita inginkan dari hasil survei nantinya. Apakah diperlukan survei yang mendetail atau tidak. Harus ditentukan berapa besarnya sampel dan teknik mana yang dipilih dalam menarik sampel tersebut. Apakah desain sederhana ataukah yang agak sedikit ruwet?
(5) Tentukan teknik mengumpulkan keterangan
Teknik mengumpulkan data harus sesuai dengan biaya serta waktu yang tersedia, sesuai dengan tenaga serta dengan presisi yang diinginkan. Ada beberapa teknik mengumpulkan data. Pertama dengan teknik interview, dengan menggunakan interview guide. Interview ini bisa dengan interview telepon atau interview tatap
muka. Kedua dengan menggunakan schedule atau questionnaire. Jika kita mengirimkan daftar pertanyaan dan kita suruh responden mengisi jawaban, maka daftar pertanyaan disebut questionnaire. Questionnaire ini biasanya dikirim dengan pos. Satu macam lagi, adalah daftar pertanyaan tersebut diisi oleh enumerator di depan responden (tatap muka). Daftar pertanyaan tersebut dinamakan schedule.
(6) Carilah frame untuk menetapkan sampel
Untuk mengambil sampel terhadap populasi maka harus ada list, peta atau bahan lain yang dapat digunakan sebagai frame.
(7) Tentukan unit sampling
Pembagian populasi atas unit sampling harus tegas. Tipe elemen populasi harus ada dalam unit sampling.
(8) Buat interview guide, questionnaire atau schedule
Sesuai dengan teknik pengumpulan data. Pertanyaan harus jelas dan tidak berarti dua (ambigu/membingungkan).
(9) Adakan training
Suksesnya survei bergantung dari cara enumerator atau interview dan supervisor melakukan tugas dilapangan. Dari situ enumerator, interviewer harus dipilih mereka-mereka yang mempunyai cukup kualifikasi terhadap kerja tersebut.
Latihan serta bimbingan terhadap enumerator dan supervisor harus diberikan lebih dahulu sebelum mereka turun ke lapangan.
(10) Adakan pretest
Quistionaire atau schedule harus dicoba lebih dahulu di lapangan dengan scope yang kecil. Dari hasil pretest akan dapat diperbaiki pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kenyataaan lapangan.
(11) Tetapkan waktu penelitian
Waktu survei harus ditegaskan. Waktu harus ditetapkan sesuai dengan jadwal penelitian yang telah ditentukan sewaktu membuat outline dari penelitian (project proposal).
2.3.2 Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Jika sebuah sampel yang besarnya r ditarik dari sebuah populasi finite yang besarnya n sedemikian rupa, sehingga tiap unit dalam sampel mempunyai peluang yang sama untuk dipilih, maka prosedur sampling dinamakan sampel acak sederhana (simple random sample). Jumlah sampel yang besarnya r yang ditarik dari sebuh populasi yang besarnya N adalah
r)!
- (n r!
nCr = n!
Misalnya sebuah populasi mempunyai lima anggota, yaitu Abidin (A), Hong (H), Risyad (R), Syamsuddin (S), dan Ibrahim (I). Kita ingin menarik sampel yang besarnya dua orang untuk dikirim ke luar negeri. Kemungkinan sampel yang bisa ditarik dari populasi yang besarnya lima tersebut adalah
nCr Di mana:
n = 5 r = 2
Jumlah sampel adalah
0 1 1 2 3 1 2
1 2 3 4 5 2!3!
5!
2)!
- (5 2!
5! =
×
×
×
×
×
×
×
= ×
=
Jadi, terdapat kemungkinan sepuluh buah sampel untuk ditarik dari populasi di atas, yaitu Abidin Hong (AH), Abidin Risyad (AR), Abidin Syamsuddin (AS), Abidin Ibrahim (AI), Hong Risyad (HR), Hong Syamsuddin (HS), Risyad Syamsuddin (RS) Risyad Ibrahim (RI), Syamsuddin Ibrahim (SI). Tiap sampel mempunyai peluang (probability) yang sama untuk dipilih. Besarnya probability ini adalah 1/10 (Nazir, 2005).
2.3.3 Bilakah Simple Random Sampling Digunakan
Simple random sampling hanya dapat digunakan jika (Nazir, 2005):
1) Teknik sampling lain yang lebih efisien tidak ada atau tidak memungkinkan untuk dilakukan;
2) Keterangan-keterangan atau nama-nama dari semua unit elementer telah diketahui lebih dahulu. Walaupun demikian, keterangan tentang homogenitas unit elementer, pembagian dalam kelompok, tidak perlu diketahui lebih dahulu.
2.3.4 Sifat Populasi Yang Ingin Dicari
Sampling dilakukan untuk mengadakan estimasi terhadap parameter populasi.
Misalnya, populasi adalah luas sawah di Aceh. Maka kita menarik sampel dan mengambil statistiik dari sampel untuk mengadakan estimasi terhadap parameter dari populasi. Parameter yang penting adalah (Nazir, 2005):
• mean (rata-rata luas sawah di Aceh);
• rasio antara dua total atau dua mean;
• proporsi, yaitu bagian dari unit yang termasuk dalam suatu kelas tertentu (misalnya bagian dari populasi yang tidak beririgasi);
• variance
2.3.5 Besar Sampel
Besarnya sampel untuk mengadakan estimasi terhadap populasi harus diperhatikan dalam kita melaksanakan survei sampel. Terlalu besar sampel berarti pemborosan tenaga dan uang, dan terlalu kecil sampel dapat menjurus kepada besarnya error. Marilah kita lihat contoh di bawah ini. Misalnya, kita ingin mengetahui rata-rata
luas sawah yang dipunyai petani pada satu kampung. Berapa besar sampel yang akan kita tarik? Apakah cukup 100, 250, ataukah cukup dengan hanya 70 saja?
Sebelum kita dapat menentukan besarnya sampel ini, maka ada dua hal perlu kita jawab lebih dahulu.
• Berapa derajatkah ketepatan yang diinginkan?
Misalnya, dalam survei sawah di atas, kita ingin memperoleh derajat ketepatan 0,5 ha. Ini artinya, jika misalnya rata-rata luas sawah petani adalah 4,0 ha, maka kita dapat menerima hasil survei dalam suatu range: 3,5 ha ataupun 4,5 ha per petani.
• Berapa persen benar baru kita dapat menerima derajat ketepatan di atas? Apakah 100% benar, atau 95% benar, ataukah kita bisa menerima ketepatan di atas dengan hanya 10 persen error saja (90 persen benar)?
Jika kedua pertanyaan di atas telah terjawab, maka baru kita dapat mencari besarnya sampel. Jika derajat ketepatan adalah B, jaminan memperoleh ketepatan dapat
kita lihat pada tabel t. Misalnya, jika kita menginginkan 95 persen jaminan ketepatan, maka dalam hal ini, t=1,96 dan untuk seterusnya kita bulatkan menjadi 2.
Besarnya sampel yaitu n dapat kita hitung dengan memecahkan persamaan berikut.
1 B N
n .N n 2 σ V(X)
2 2 =
−
= −
Pemecahannya adalah:
2 2
1)D - (N n N
σ σ
= +
Di mana:
4 D B
= 2
Parahnya, variance populasi σ2 tidak kita ketahui. Tetapi biasanya kita mengetahui variance sampel dari penelitian sebelumnya dan s2 dapat digunakan untuk maksud di atas (Nazir, 2005).
Kita juga dapat menentukan berapa besarnya sampel yang diperlukan untuk mengadakan estimasi terhadap total populasi dengan bound of error B. Besarnya sampel adalah (Nazir, 2005)
2 2
σ 1)D - (N n Nσ
= + di mana : 2
2
4N D= B
2.3.6 Mengadakan Estimasi Terhadap Proporsi
Ada kalanya survei dilakukan untuk melihat proporsi dari populasi yang mempunyai sifat tertentu. Misalnya, ingin diketahui berapa bagian dari petani yang melakukan pemupukan terhadap tanamannya. Untuk tiap observasi, X1, observasi yang
mempunyai sifat yang diingini diberi nilai 1 dan yang tidak mempunyai sifat tersebut diberi nilai 0.
Jika kita tarik sebuah sampel yang besarnya n, maka proporsi sampel p adalah rasio dari unsur dalam sampel yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan. Dengan perkataan lain, …. adalah rata-rata dari harga 0 dan 1 dari nilai observasi sampel.
Estimator dari proporsi populasi p (Nazir, 2005):
n p=
∑
XiEstimate dari variance:
⎟⎠
⎜ ⎞
⎝
= ⎛ −
N n N 1 - n
) p - (1 ) p p
V(
Bound of error estimasi:
⎟⎠
⎜ ⎞
⎝
⎛ −
−
= −
= N
1 N 1 n
p) 2 p(1
) p V(
2
B
2.3.7 Besar Sampel Untuk Mengestimasi Proporsi
Besarnya sampel dapat dicari dengan cara yang sama seperti besarnya sampel untuk mengestimasikan mean populasi. Untuk mengadakan estimasi terhadap proporsi maka besar sampel, adalah
) p - (1 p 1)D - (N
) p - (1 p n N.
= +
di mana:
4 D B
= 2
Dalam survei kita tidak mengetahui p . Biasanya p ini dapat diketahui dari hasil survei sebelumnya. Jika ini juga tidak ada, maka p dianggap 0,5 saja (Nazir, 2005).
2.4 Kuesioner
2.4.1 Pengertian Dan Jenis-jenis Kuesioner
Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh periset untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan.
a. Kuesioner Terstruktur yang Terbuka
Tingkat struktur dalam kuesioner adalah tingkat standarisasi yang diterapkan pada suatu kuesioner. Pada kuesioner terstruktur yang terbuka dimana pertanyaan-pertanyaan diajukan dengan susunan kata-kata dan urutan yang sama kepada semua responden ketika kita mengumpulkan data. Contoh:
Apakah anda merasa bahwa Negara kita membutuhkan lebih banyak atau lebih sedikit peraturan perundang-undangan mengenai antipolusi?
o Membutuhkan lebih banyak o Membutuhkan lebih sedikit o Tidak lebih maupun kurang o Tidak memberikan pendapat
Pertanyaan di atas merupakan contoh yang baik tentang pertanyaan terstruktur yang terbuka, karena: pertama, tujuannya jelas, pertanyaan di atas berusaha untuk menentukan sikap subjek terhadap peraturan perundang-
undangan antipolusi dengan cara yang langsung. Kedua, pertanyaan di atas menggunakan format yang sangat terstruktur, para responden dibatasi untuk memilih salah satu diantara 4 (empat) jawaban.
b. Kuesioner Tak Terstruktur yang Terbuka
Kuesioner tak terstruktur yang terbuka dimana tujuan studi adalah jelas tetapi respon atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan bersifat tebuka.
Perhatikan pertanyaan berikut:
“Bagaimana pendapat anda mengenai polusi dan perlunya lebih banyak lagi peraturan perundang-undangan antipolusi?”
Pertanyaan di atas mempunyai tujuan yang jelas. Selanjutnya pewawancara mencoba untuk membuat subjek berbicara bebas mengenai sikapnya terhadap polusi. Hal ini merupakan pertanyaan dengan tujuan terbuka, dan seringkali berakhir dengan wawancara yang sangat tidak terstruktur.
c. Kuesioner Tidak Terstruktur yang Tersamar
Kuesioner tidak terstruktur yang tersamar berlandaskan pada riset motivasi. Para periset telah mencoba untuk mengatasi keengganan responden untuk membahas perasaan mereka dengan cara mengembangkan teknik-teknik yang terlepas dari masalah kepedulian dan keinginan untuk membuka diri.
Teknik tersebut dikenal dengan metode proyektif. Kekuatan utama dari metode proyektif adalah untuk menutupi tujuan utama riset dengan menggunakan stimulus yang disamarkan.
Metode proyektif merupakan cara yang digunakan untuk menggambarkan kuesioner yang mengandung stimulus yang memaksa para subjek untuk menggunakan emosi, kebutuhan, motivasi, sikap, dan nilai-nilai yang dimilikinya sendiri dalam memberikan suatu jawaban atau respon.
Stimulus yang paling sering digunakan adalah asosiasi kata, kelengkapan kalimat, dan bercerita atau penuturan cerita.
d. Kuesioner Terstruktur yang Tersamar
Kuesioner terstruktur yang tersamar merupakan teknik yang paling jarang digunakan dalam riset pemasaran. Kuesioner ini dikembangkan sebagai cara untuk menggabungkan keunggulan dari penyamaran dalam mengungkapkan motif dan sikap di bawah sadar dengan keunggulan struktur pengkodean serta tabulasi jawaban.
Sebagai contoh, salah satu teori menyatakan bahwa pengetahuan, persepsi, dan ingatan individu akan suatu subjek disesuaikan oleh sikapnya terhadap subjek tersebut. Jadi untuk mendapatkan informasi mengenai sikap seseorang apabila pertanyaan langsung akan menghasilkan jawaban yang bias, teori ini menyarankan agar kita hanya menanyakan hal-hal yang mereka ketahui, bukan apa pendapat mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang lebih banyak mungkin mencerminkan kekuatan dan arah dari suatu sikap.
Misalnya, para pendukung Partai Demokrat mungkin mengetahui lebih banyak tentang calon-calon dari partai demokrat dan platform partai itu daripada mereka yang akan memilih Partai Golkar
2.4.2 Merancang Kuesioner
Berdasarkan Churchill, Gilbert A (2005) ada 9 (sembilan) langkah dalam merancang kuesioner, yaitu:
a. Langkah 1: Tetapkan Informasi yang Ingin Diketahui
1. Pastikan bahwa anda mempunyai pemahaman yang baik tentang suatu isu dan apa yang ingin anda ketahui (kecuali untuk belajar). Susunlah pertanyaan riset anda sedemikian rupa, tetapi jangan mengulang pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada dalam kuesioner pada waktu ini.
2. Buatlah daftar pertanyaan riset anda. Review pertanyaan itu secara periodik ketika anda sedang menyusun kuesioner.
3. Gunakan tabel contoh atau dummy ketika melakukan analisis data guna menentukan pertanyaan yang akan dicantumkan dalam kuesioner.
4. Lakukan pencarian atas pertanyaan mengenai isu-isu yang ada.
5. Revisilah pertanyaan tentang isu-isu yang ada, dan susunlah pertanyaan baru mengenai isu yang akan anda bahas dalam riset.
b. Langkah 2: Tentukan Jenis Kuesioner dan Metode Administrasinya
1. Gunakan jenis data yang dikumpulkan sebagai dasar untuk memutuskan jenis kuesioner.
2. Gunakan tingkat struktur dan samaran serta faktor biaya untuk menentukan metode administrasinya.
3. Bandingkan kemampuan dan keterbatasan utama dari setiap metode administrasi, serta nilailah data yang dikumpulkan oleh masing-masing metode untuk keperluan survei.
c. Langkah 3: Tentukan Isi dari Masing-masing Pertanyaan
1. Untuk setiap pertanyaan riset yang diajukan kepada anda sendiri. “Mengapa saya ingin mengetahui hal ini?”. Jawabannya harus dapat membantu riset anda. “Hal itu penting untuk diketahui” adalah bukan suatu jawaban yang dapat diterima.
2. Pastikan bahwa setiap pertanyaan adalah penting dan hanya berkaitan dengan isu-isu yang penting.
3. Tanyakan pada diri anda sendiri apakah pertanyaannya berlaku untuk semua responden atau suatu ketentuan harus dibuat untuk mengabaikannya.
4. Pecahlah satu pertanyaan yang dapat dijawab dari kerangka referensi yang berbeda menjadi pertanyaan-pertanyaan terpisah, yang mencerminkan kerangka acuan atau referensi yang mungkin digunakan.
5. Tanyakan pada diri anda sendiri apakah responden mempunyai informasi tentang, dan dapat mengingat, isu-isu yang disampaikan dalam pertanyaan.
6. Tentukan periode waktu pertanyaan berkaitan dengan signifikasi topik.
Gunakan teknik-teknik aided-recall seperti buku harian atau catatan tertulis.
7. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan upaya ekstra, yang mempunyai jawaban yang sulit untuk diutarakan dengan baik, dan yang berhubungan dengan isu-isu yang mengancam atau memalukan.
8. Jika pertanyaan-pertanyaan yang mengancam memang diperlukan,
• Sembunyikan pertanyaan itu dalam kelompok pertanyaan lain yang lebih aman.
• Gunakan pernyataan yang menetralisir.
• Susunlah pertanyaan itu dengan mencontohkan orang lain dan bagaimana mereka mungkin merasa atau bertindak.
• Tanyakan para responden apakan mereka pernah ditugaskan dalam aktivitas yang tidak menyenangkan, dan kemudian bertanya apakah mereka saat ini sedang melakukan aktivitas semacam itu.
• Gunakan sejumlah kategori atau rentang selain nomor khusus.
• Gunakan model respons acak.
d. Langkah 4: Tentukan Bentuk Respons atas Setiap Pertanyaan
1. Tentukan mana jenis pertanyaan open-ended, dichotomous, atau pilihan ganda yang menyediakan data yang sesuai dengan informasi yang diperlukan proyek.
2. Gunakan pertanyaan terstruktur bila memungkinkan.
3. Gunakan pertanyaan terbuka atau open-ended yang hanya memerlukan jawaban singkat untuk mengawali suatu kuesioner.
4. Cobalah untuk mengubah pertanyaan open-ended atau tebuka menjadi pertanyaan dengan respons tetap guna mengurangi beban kerja responden dan upaya pengkodean pada studi deskriptif serta kausal.
5. Jika pertanyaan open-ended dinilai penting, maka buatlah pertanyaan- pertanyaan langsung secukupnya untuk memberikan para responden kerangka acuan atau referensi ketika menjawab.
6. Apabila menggunakan pertanyaan dichotomous, nyatakan sisi negative atau alternatif secara rinci.
7. Menyediakan jawaban “tidak tahu”, “tiada pendapat”, dan “keduanya”.
8. Menyadari bahwa mungkin ada responden yang bersikap netral.
9. Sensitif terhadap “kehalusan” dan “kekerasan” alternatif.
10. Apabila menggunakan pertanyaan pilihan berganda, pastikan pilihannya lengkap serta bersifat mutually exclusive, dan jika kombinasi keduanya memungkinkan, maka masukkan.
11. Pastikan kisaran alternatifnya jelas dan semua jawaban alternatif yang masuk akal telah dimasukkan.
12. Jika respon yang mungkin sangat banyak, maka pertimbangkan dengan menggunakan lebih dari satu pertanyaan untuk mengurangi informasi yang belebihan.
13. Apabila menggunakan pertanyaan dichotomous atau pilihan berganda, maka gunakan prosedur split-ballot untuk mengurangi bias urutan.
14. Tunjukkan apakah item-item telah diberi peringkat atau hanya satu item yang ada pada daftar yang akan dipilih.
e. Langkah 5: Kata-kata yang Digunakan untuk Setiap Pertanyaan
1. Gunakan kata-kata sederhana.
2. Hindari kata-kata dan pertanyaan yang bermakna ganda.
3. Hindari pertanyaan yang mengandung jawabannya atau menuntun.
4. Hindari alternatif implisit.
5. Hindari asumsi-asumsi implisit.
6. Hindari generalisasi dan estimasi.
7. Gunakan kalimat-kalimat yang sederhana dan hindari kalimat-kalimat yang sama.
8. Ubahlah kalimat dengan kata-kata yang panjang dan tanggung atau frasa- frasa yang pendek.
9. Hindari pertanyaan double-barreled.
10. Buatlah setiap pertanyaan sespesifik mungkin.
f. Langkah 6: Tentukan Urutan Pertanyaan
1. Gunakan pertanyaan yang sederhana dan menarik sebagai pembuka.
2. Gunakan pendekatan corong, dengan pertama kali mengajukan pertanyaan yang bersifat umum, baru kemudian yang bersifat khusus.
3. Ajukan pertanyaan yang sulit atau sensitive pada bagian akhir kuesioner, ketika hubungan yang baik telah terjalin.
4. Ikuti urutan kronologis ketika mengumpulkan informasi historis.
5. Jawablah pertanyaan mengenai suatu topic sebelum melangkah ke pertanyaan selanjutnya.
6. Susunlah suatu bagan arus apabila pertanyaan bercabang digunakan.
7. Ajukan pertanyaan saringan sebelum mengajukan pertanyaan yang terinci.
8. Ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang demografi terakhir sehingga jika responden menolak menjawabnya, data yang lain masih dapat digunakan.
g. Langkah 7: Tentukan Karakteristik Fisik Kuesioner
1. Buatlah kuesioner dengan professional dan secara relative mudah dijawab.
2. Gunakan kertas dan cetakan yang berkualitas, jangan menggunakan kuesioner yang difotocopy.
3. Upayakan untuk membuat kuesioner sesingkat mungkin dan hindari kuesioner yang terlalu padat.
4. Gunakan format buku kecil atau booklet untuk memudahkan analisis dan mencegah halaman-halaman yang hilang.
5. Cantumkan nama organisasi yang melakukan survei pada halaman pertama.
6. Berilah nomor pertanyaan untuk memudahkan permrosesan data.
7. Jika responden harus melewati lebih dari satu pertanyaan, gunakan “go to”.
8. Jika responden harus melewati seluruh bagian, maka gunakan kode warna pada bagian-bagian tertentu.
9. Nyatakan bagaimana respons akan dilaporkan, seperti memberi tanda check mark, nomor, lingkaran, dan lain sebagainya.
h. Langkah 8: Uji Kembali Langkah 1 sampai 7 dan Lakukan Perubahan Jika Perlu
1. Periksa beberapa kata dari setiap pertanyaan untuk memastikan bahwa pertanyaan itu tidak membingungkan, bermakna ganda, bersifat menyerang, atau mengandung jawabannya (menuntun).
2. Mintalah evaluasi dari teman sebaya anda mengenai draft kuesioner.
i. Langkah 9: Lakukan Uji Awal atas Kuesioner dan Lakukan Perubahan Jika Perlu
1. Lakukan uji awal atas kuesioner pertama melalui wawancara pribadi di antara para responden seperti yang digunakan dalam studi aktual.
2. Mintalah komentar dari para pewawancara dan responden untuk menemukan setiap masalah dalam kuesioner, dan revisi kuesioner tersebut jika perlu.
Apabila revisinya adalah substansial, ulangi langkah 1 dan 2 dari 9 langkah.
3. Lakukan uji awal atas kuesioner melalui pos atau telepon untuk mengungkapkan masalah-masalah unik pada mode administrasinya.
4. Berilah kode dan buatlah tabulasi atas respons uji awal dalam tabel contoh atau dummy untuk menentukan apakah pertanyaan-pertanyaan menyediakan informasi yang memadai.
5. Eliminasi pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyediakan informasi yang memadai, dan revisilah pertanyaan yang menimbulkan masalah.
2.5 Studi Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara
Sebelumnya pada semester genap 2000/2001 pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pelayanan parkir di Universitas Bina Nusantara oleh Bernardous Nasution dengan judul “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara”. Data pelat nomor kendaraan yang digunakan pada penelitian tersebut adalah data pada Hari Selasa tanggal 10 April 2001. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian di lakukan pada semester genap 2000/2001. Dengan mengacu pada penelitian tersebut maka dapat diketahui beberapa karakteristik parkir Kampus Anggrek pada tanggal 10 April 2001 sebagai berikut :
2.5.1 Jumlah Lot Parkir
Adapun jumlah lot parkir Kampus Anggrek pada Tahun 2001 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Jumlah Lot Parkir Mobil Kampus Anggrek Tahun 2001 Lokasi Parkir Jumlah Lot Parkir
Basement Kampus Anggrek 242 Pekarangan Kampus Anggrek 109
Total 351
2.5.2 Durasi Parkir
Dengan mengacu pada penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” maka dapat diketahui jumlah kendaraan berdasarkan durasi parkir pada Hari Selasa tanggal 10 April 2001 seperti pada Tabel 2.2 di bawah ini.
Tabel 2.2 Jumlah Kendaraan Berdasarkan Durasi Parkir Waktu (menit) Jumlah Kendaraan Persentase (%)
0-15 183 12,4321
15-30 130 8,8315 30-45 65 4,4158 45-60 63 4,2799 60-75 46 3,1250 75-90 42 2,8533 90-105 44 2,9891 105-120 39 2,6495 120-135 35 2,3777 135-150 48 3,2609 150-165 30 2,0380 165-180 33 2,2418 180-195 41 2,7853 195-210 44 2,9891 210-225 46 3,1250 225-240 59 4,0082 240-255 54 3,6685 255-270 64 4,3478 270-285 42 2,8533 285-300 40 2,7174
>300 324 22,0109 Total 1472 100
Gambar 2.2 Jumlah Kendaraan Berdasarkan Durasi Parkir pada Tanggal 10 April 2001
Berdasarkan Tabel 2.2 dan Gambar 2.2 dapat dilihat bahwa persentase durasi parkir 0-15 menit sangatlah tinggi sebesar 12,4321%. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan banyak kendaraan yang masuk area tempat parkir hanya untuk menurunkan penumpang atau tidak mendapat tempat parkir, sehingga keluar tanpa parkir.
2.5.3 Akumulasi Parkir
Dengan mengacu pada penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” maka dapat diketahui jumlah kendaraan masuk, kendaraan keluar, dan akumulasi parkir pada Hari Selasa tanggal 10 April 2001 seperti pada Tabel 2.3 di bawah ini.
Tabel 2.3 Data Jumlah Kendaraan Masuk, Kendaraan Keluar, Akumulasi Parkir Per 15 Menitan pada Tanggal 10 April 2001
No Waktu Masuk Keluar Akumulasi Parkir
1 10
2 06.30-06.45 8 0 18 3 06.45-07.00 20 1 37 4 07.00-07.15 53 1 89 5 07.15-07.30 71 4 156 6 07.30-07.45 60 10 206 7 07.45-08.00 36 4 238 8 08.00-08.15 21 2 257 9 08.15-08.30 18 6 269 10 08.30-08.45 14 3 280 11 08.45-09.00 32 5 307 12 09.00-09.15 34 14 327 13 09.15-09.30 40 12 355 14 09.30-09.45 28 8 375 15 09.45-10.00 18 8 385 16 10.00-10.15 20 8 397 17 10.15-10.30 14 11 400 18 10.30-10.45 15 13 402
No Waktu Masuk Keluar Akumulasi Parkir 19 10.45-11.00 23 13 412 20 11.00-11.15 41 36 417 21 11.15-11.30 39 49 407 22 11.30-11.45 27 35 399 23 11.45-12.00 15 25 389 24 12.00-12.15 17 25 381 25 12.15-12.30 31 19 393 26 12.30-12.45 38 10 421 27 12.45-13.00 31 13 439 28 13.00-13.15 38 46 431 29 13.15-13.30 26 59 498 30 13.30-13.45 24 43 379 31 13.45-14.00 16 37 358 32 14.00-14.15 28 19 367 33 14.15-14.30 25 20 372 34 14.30-14.45 25 27 370 35 14..45-15.00 15 31 354 36 15.00-15.15 21 54 321 37 15.15-15.30 19 23 317 38 15.30-15.45 21 23 315 39 15.45-16.00 10 23 302 40 16.00-16.15 18 20 300 41 16.15-16.30 19 24 295 42 16.30-16.45 25 25 295 43 16.45-17.00 14 41 268 44 17.00-17.15 18 58 228 45 17.15-17.30 23 38 213 46 17.30-17.45 8 25 196 47 17.45-18.00 12 15 193 48 18.00-18.15 30 18 205 49 18.15-18.30 24 14 215 50 18.30-18.45 15 12 218 51 18.45-19.00 20 28 210 52 19.00-19.15 10 45 175 53 19.15-19.30 14 25 164 54 19.30-19.45 11 10 165 55 19.45-20.00 2 7 160 56 20.00-20.15 7 10 157 57 20.15-20.30 2 13 146 58 20.30-20.45 12 39 119 59 20.45-21.00 6 41 84 60 21.00-21.15 8 24 60 61 21.15-21.30 9 32 28
Total 1339 1304
Jumlah kendaraan masuk, kendaraan keluar, dan akumulasi parkir pada Tabel 2.3 di atas dihitung dengan selang waktu 15 menitan. Untuk memudahkan perbandingan karakteristik parkir pada Semester Genap 2000/2001 dengan Semester Genap 2009/2010 maka dibuatlah perhitungan dengan selang waktu 30 menitan seperti pada Tabel 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.4 Data Jumlah Kendaraan Masuk, Kendaraan Keluar, Akumulasi Parkir dan Volume Parkir Per 30 Menitan pada Tanggal 10 April 2001
No Waktu Masuk Keluar Akumulasi Parkir Volume Parkir
1 06.00-06.30 10
2 06.30-07.00 28 1 37 28
3 07.00-07.30 124 5 156 152
4 07.30-08.00 96 14 238 248
5 08.00-08.30 39 8 269 287
6 08.30-09.00 46 8 307 333
7 09.00-09.30 74 26 355 407
8 09.30-10.00 46 16 385 453
9 10.00-10.30 34 19 400 487
10 10.30-11.00 38 26 412 525
11 11.00-11.30 80 85 407 605
12 11.30-12.00 42 60 389 647
13 12.00-12.30 48 44 393 695
14 12.30-13.00 69 23 439 764
15 13.00-13.30 64 105 398 828
16 13.30-14.00 40 80 358 868
17 14.00-14.30 53 39 372 921
18 14.30-15.00 40 58 354 961
19 15.00-15.30 40 77 317 1001
20 15.30-16.00 31 46 302 1032
21 16.00-16.30 37 44 295 1069
22 16.30-17.00 39 66 268 1108
23 17.00-17.30 41 96 213 1149
24 17.30-18.00 20 40 193 1169
25 18.00-18.30 54 32 215 1223
26 18.30-19.00 35 40 210 1258
27 19.00-19.30 24 70 164 1282
28 19.30-20.00 13 17 160 1295
29 20.00-20.30 9 23 146 1304
30 20.30-21.00 18 80 84 1322
No Waktu Masuk Keluar Akumulasi Parkir Volume Parkir
31 21.00-21.30 17 56 45 1339
Total 1339 1304
Tabel 2.4 di atas dapat di plot dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 2.3 di bawah ini.
Gambar 2.3 Jumlah Kendaraan Masuk, Kendaraan Keluar, Volume Parkir, dan Akumulasi Parkir Per 30 menit pada Tanggal 10 April 2010
Berdasarkan Tabel 2.4 dan Gambar 2.3 di atas dapat dilihat bahwa akumulasi tertinggi terjadi pada pukul 12.30-13.00 sebesar 439 kendaraan. Volume parkir mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 21.30 adalah sebanyak 1339 kendaraan.
2.5.4 Tingkat Penggunaan (Occupancy Rate)
Jumlah Lot Parkir Kampus Anggrek = 351
Akumulasi kendaraan tertinggi : 439 (12.45-13.00)
% 125
% 351 100
439
% kapasitas 100
akumulasi penggunaan
Tingkat
=
×
=
×
=
Berdasarkan perhitungan tingkat penggunaan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah kendaraan yang parkir telah melebihi kapasitas sebesar 25% dari kapasitas yang tersedia.
Akibatnya banyak tempat yang bukan tempat parkir digunakan untuk tempat parkir.
Selain itu, berdasarkan penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” kita juga dapat mengetahui service time, arrival rate, dan antrian pada parkir mobil Kampus Anggrek di Semester Genap 2000/2001, dimana pada penelitian “Kajian Pola Penggunaan Kendaraan Bermotor Roda Empat Civitas Akademika Universitas Bina Nusantara (Studi Kasus: Kampus Anggrek)” hal tersebut tidak di kaji.
2.5.5 Service Time
Berdasarkan hasil perhitungan service time pada penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” maka dapat diketahui bahwa rata-rata service time di loket layanan pintu masuk parkir Kampus Anggrek pada Semester Genap
200/2001 adalah 5,3830 detik. Dapat disimpulkan bahwa service time pada saat itu dirasa sudah cukup memadai. Hal tersebut menunjukkan bahwa antrian pada pintu masuk mestinya tidak terjadi.
2.5.6 Arrival Rate
Dengan mengacu pada penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” maka dapat diketahui hasil perhitungan arrival rate dimana jumlah kedatangan kendaraan setiap jamnya adalah seperti pada Tabel 2.5 di bawah ini.
Tabel 2.5 Jumlah Kedatangan Kendaraan Per-jam
Waktu Periode Puncak Jumlah Kedatangan (Kendaraan / Jam)
Pagi 07.15-07.30 284
Siang 12.30-12.45 152
Sore 16.30-16.45 100
Malam 18.00-18.15 120
2.5.7 Panjang Antrian
Dengan mengacu pada penelitian “Evaluasi Tingkat Pelayanan Parkir Di Universitas Bina Nusantara” maka dapat diketahui panjang antrian kendaraan pada Semester Genap 2000/2001 seperti pada Tabel 2.6 di bawah ini.
Tabel 2.6 Panjang Antrian Kendaraan
Pagi Siang Sore Malam
07.15-07.30 12.30-12.45 16.30-16.45 18.00-18.15 d 9,3506 detik 6,9632 detik 6,3268 detik 6,5573 detik w 3,6149 detik 1,6149 detik 0,6149 detik 1,6149 detik q 0 kendaraan 0 kendaraan 0 kendaraan 0 kendaraan
Berdasarkan Tabel 2.6 di atas dapat dilihat bahwa panjang antrian adalah 0 (nol) kendaraan. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak perlu penambahan loket layanan.