• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Peter 2C. 1 Petrus 2:18-3:7. P.O. Box San Antonio, Texas, Verse By Verse Ministry International. All rights reserved

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 Peter 2C. 1 Petrus 2:18-3:7. P.O. Box San Antonio, Texas, Verse By Verse Ministry International. All rights reserved"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 Peter 2C

1 Petrus 2:18 - 3:7

P.O. Box 702107 San Antonio, Texas, 78270

210.319.5055

©2008. Verse By Verse Ministry International.

All rights reserved

versebyverseministry.org/lessons/1peter_lesson_2c

(2)

1 Petrus - Pelajaran 2C 1 Petrus 2:18 - 3:7

Bapa Surgawi, terima kasih Engkau telah mengumpulkan kami untuk pelajaran ini. Terima kasih untuk kehadiran dan doa dari semua yang mendukung persekutuan ini, karena ini adalah karyaMu melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam setiap orang percaya. Terima kasih Bapa, atas hak istimewa untuk menjadi bagian dari pekerjaanMu.

Bapa, kami membuka Firman-Mu sekarang, mengingat semua yang telah Engkau kerjakan sepanjang masa, melalui kehidupan dari banyak generasi, dimana semua hikmat Tuhan telah dipersiapkan bagi kami, sehingga kami dapat belajar dan mendapat manfaat darinya. Namun bukan dengan pengetahuan kami, tetapi dengan kuasa Roh Kudus, yang menyingkapkan kebutuhan kami akan Kristus, dan juga Kuasa Roh Kudus yang menarik kami kepada-Mu. Itulah yang kami harapkan dari FirmanMu saat ini, Bapa. Kami datang ingin menjadi lebih serupa dengan Kristus. Bapa, lakukanlah melalui Roh-Mu saat ini. Beri kami telinga untuk mendengarkan Engkau. Di dalam nama Yesus. Amin.

Petrus melanjutkan temanya tentang hidup di dunia sebagai pendatang atau orang asing.

Silahkan buka 1 Petrus pasal 2. Kita akan menyelesaikan pasal 2 dalam pelajaran ini dan sedikit masuk ke pasal 3. Mari saya rangkum apa yang telah kita dipelajari sejauh ini. Jika kita ingat di pelajaran yang lalu, kita melihat bagaimana, sebagai orang asing di dunia ini, kita harus hidup dengan menghormati otoritas yang ditetapkan di atas kita. Dengan menghormati otoritas, kita menyampaikan kesaksian akan kuasa Tuhan di dunia ini.

Pertama, bahwa menurut Alkitab, Tuhan sendiri yang menetapkan orang-orang yang memimpin di dalam pemerintahan. Jadi, pada saat kita tunduk kepada otoritas pemerintah, kita tunduk kepada Tuhan sendiri.

Kedua, kita belajar sebagaimana Petrus mengajarkan bahwa ketaatan kepada otoritas akan membuat kita lebih mungkin menjalani kehidupan yang damai dan tenang. Semakin kamu patuh, semakin sedikit kesulitan yang kamu hadapi.

Ketiga, bahwa ketika kita mematuhi otoritas, kita mempunyai kesempatan untuk bersaksi demi Kristus dengan lebih baik. Kesaksian kita akan jauh lebih efektif jika kita hidup tunduk kepada otoritas di atas kita. Sebaliknya kesaksian kita tidak efektif bila kita hidup sebagai pemberontak, atau penentang otoritas.

Tema ini akan berlanjut di dalam pelajaran saat ini. Namun dalam pelajaran ini, kita akan melihat bahwa Petrus membuat aplikasi yang sama sekali berbeda dari apa yang telah ia sampaikan sejauh ini. Saat ini, Petrus akan mulai mengajarkan tentang tiga peran

kehidupan yang mudah kita mengerti. Apakah engkau adalah seorang anak, atau seorang dewasa, apakah engkau sudah menikah, atau masih lajang, engkau akan menemukan aplikasi dalam tiga contoh berikut ini.

Yang pertama, sebagai hamba, berhubungan dengan ketaatan kita kepada otoritas, sebagai hamba Kristus yang taat. Kita akan melihat peran kita di dalam masyarakat, sebagai karyawan atau sebagai hamba, secara harafiah.

Kedua, sebagai istri, dan kemudian ketiga, sebagai suami.

Kita adalah orang asing, dan seperti yang sudah diajarkan Petrus, kita harus hidup menjadi teladan sebagai wakil dari negara asal kita, yaitu Kerajaan Surga. Sebagai duta Kristus di bumi sekarang, sementara kita menunggu kesempatan untuk pulang, kita harus

(3)

hidup dengan keyakinan yang mencerminkan tempat kita berasal. Prinsip-prinsip yang kita pelajari dalam pelajaran yang lalu tidak berubah. Prinsip-prinsip yang sama akan diterapkan kepada ketiga peran kehidupan, dengan beberapa contoh tambahan. Mari kita baca 1 Petrus 2:18-20.

Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.

Ayat 19. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.

Ayat 20. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

Ketika Petrus mengatakan “hamba”, ia menggunakan kata yang sangat menarik dalam bahasa Yunani. Ia menggunakan kata oiketes , yang artinya “pembantu di rumah”. Mari kita dapatkan pemahaman yang lebih baik tentang arti dari pembantu di rumah pada zamannya. Di beberapa terjemahan digunakan kata 'hamba'. Ini adalah orang yang melayani di dalam rumah tangga seorang majikan. Orang ini mempunyai sangat sedikit hak, dan sangat sedikit otoritas. Bahkan mereka tidak memiliki perlindungan dari majikan yang mungkin menyalahgunakan mereka. Sang majikan mempunyai otoritas yang hampir tak terbatas di dalam budaya masa itu. Para hamba juga tidak mempunyai kebebasan pribadi.

Banyak dari hamba-hamba ini yang memberikan diri mereka untuk posisi ini pada awalnya, karena hutang dan sebagainya, tetapi setelah itu, mereka mempunyai sedikit kesempatan untuk bisa bebas kembali. Pada dasarnya, menjadi hamba adalah komitmen seumur hidup. Ada beberapa pengecualian, jika mereka dapat membayar hutang, sebagai peluang untuk bebas meninggalkan rumah majikan, namun ini tidak banyak terjadi.

Kebanyakan akan akan menjalani hidup sebagai hamba seumur hidup, begitu mereka masuk ke dalamnya.

Dalam budaya Yunani pada masa Petrus menulis surat ini, hamba mirip dengan pekerja kontrak. Ini bukan jenis perbudakan yang kita mengerti, di mana seseorang dipaksa untuk bekerja bertentangan dengan kehendak mereka, dan mereka diperlakukan dengan sangat, sangat buruk. Bahkan mereka bisa dibunuh oleh majikannya.

Untuk situasi kita hari ini, situasi paralel yang terdekat adalah sebagai karyawan

perusahaan. Atau anggota militer, seseorang yang berada di bawah wewenang seorang perwira. Di sini, seseorang memilih masuk ke dalam peran tersebut secara sukarela.

Sekarang, setelah mengerti situasinya, kita lihat apa yang Petrus katakan tentang hamba.

Dia mengatakan perilaku yang tepat untuk seorang hamba Kristen adalah tunduk dan patuh. Kita ingat surat Paulus kepada Onesimus. Onesimus adalah seorang budak. Ia lari dari majikannya, dan ia melanggar hukum. Ia sampai di Roma, dan ketika ia berada di Roma, ia bertemu dengan Paulus. Dan ketika ia bertemu dengan Paulus, ia menjadi seorang Kristen. Dan sekarang setelah ia menjadi orang Kristen, apa yang Paulus ajarkan untuk dia lakukan?

Kembalilah kepada majikanmu! Ini merupakan hal yang sangat menantang, yang benar- benar mencerminkan pesan yang dituliskan Petrus di surat ini. Bahwa sebagai seorang

(4)

Kristen, bahkan sebagai seorang budak atau hamba, kita harus taat kepada otoritas.

Bagaimanapun kita menentang perbudakan, dan kita yakin Paulus juga tidak mendukung perbudakan, Paulus mengetahui bahwa kesaksian Onesimus akan lebih baik bila ia taat kepada majikannya.

Dan di sini Paulus memberikan arahan khusus kepada para hamba. Dia berkata, kamu harus hidup baik, setia dan taat, bukan hanya untuk majikan yang baik dan lembut, tetapi juga untuk majikan yang tidak masuk akal. Kata 'tidak masuk akal' dalam bahasa Yunani adalah “skolios”. Pernah dengar kata ini?

Secara harfiah, "skolios" berarti bengkok, sesat atau kejam. Itulah situasi yang digambarkan di sini. Paulus katakan, bahkan jika majikanmu kejam, tetaplah tunduk kepada otoritas mereka.

Jika kamu hanya taat di dalam keadaan yang menyenangkan, apakah itu taat dalam arti sebenarnya? Jika majikan saya membiarkan saya melakukan semua yang saya inginkan, maka tidak perlu ketaatan. Jadi menurut definisi, ketaatan artinya saya tetap melakukan hal-hal yang diminta, walaupun itu tidak sesuai dengan keinginan saya. Itulah ujian ketaatan. Itulah ujian apakah kamu bersedia taat atau tidak. Jadi, kata Paulus, taat tidak hanya kepada mereka yang masuk akal, tetapi juga kepada mereka yang tidak masuk akal.

Kita perhatikan bahwa prinsip alkitabiah berlawanan 180 derajat dengan perspektif dunia. Prinsip dunia adalah, “Berbaik hatilah kepada orang yang baik kepada kita”, dan

"Lawanlah orang-orang yang menentang kamu". Sangat, sangat mudah untuk marah dan melawan seseorang yang sudah melepaskan pukulan pertama. Jika mereka melepaskan pukulan pertama, kita merasa berhak untuk merespons. Itulah prinsip dunia.

Namun, adakah prinsip alkitabiah tentang hal ini?

Di Matius 5:43-48, Yesus mengatakan demikian.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Ayat 45. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat

demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Ayat 48. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

Apakah definisi sempurna dalam hal ini? Tidak cukup hanya mengasihi temanmu. Engkau juga harus mengasihi musuhmu.

Kita baca komentar Petrus di 1 Petrus 2:20. Petrus mengulangi pelajaran yang sama kan?

Ia katakan, jika kamu hanya tunduk kepada atasan atau majikanmu, hanya ketika mereka

(5)

melakukan apa yang engkau inginkan, hanya ketika mereka memperlakukan kamu dengan baik, maka apa bedanya dengan yang dunia lakukan? Ini adalah prinsip yang sama dengan yang baru saja Yesus berikan di Matius 5.

Petrus katakan, tunduklah kepada mereka bahkan ketika mereka memperlakukan kita dengan keras. Sekarang saya ingin klarifikasi. Kita tidak berbicara tentang melakukan perintah mereka sampai kepada titik dosa. Misalnya, jika bos saudara memerintahkan untuk merampok seseorang, atau membunuh seseorang, sebagai contoh ekstrem. Itu bukan perintah yang bisa kita patuhi, karena itu akan membuat kita melanggar hukum Tuhan. Jadi kita mengerti ada batasan untuk perilaku kita berdasarkan Firman Tuhan.

Kita tidak berusaha mengubahnya. Dan Petrus juga tidak mengubahnya.

Tetapi ketika kita disuruh bekerja dengan jam kerja yang panjang dan sulit, jika kita disuruh bekerja di bawah kondisi yang sulit atau dengan gaji yang tidak memadai, atau jika kita disuruh bekerja di bawah tekanan yang keras, kita diminta tidak menentang otoritas tersebut karena ini adalah pekerjaan yang sudah kita setujui.

Saya tahu saya setuju untuk melakukan pekerjaan ini, tetapi karena saya tidak

diperlakukan dengan baik, maka saya keluar dari sini. Saya sudah tidak tahan dengan pekerjaan ini. Kita diminta untuk mempertimbangkan sikap demikian.

Paulus mengatakannya seperti ini, di dalam suratnya kepada jemaat Kolose pasal 3 ayat 22 dan 23. Paulus berkata.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Sekarang ini adalah prinsip yang sangat menantang, karena engkau mungkin berkata

“oke, saya dengar yang kamu katakan. Saya dipuji untuk masuk kerja, dan saya harus bekerja dengan baik, dan apapun yang terjadi, saya akan jalani dengan menutup mulut.

Saya akan tunduk kepada bos, karena dia tidak tahu apa yang saya pikirkan."

Nah, bukan itu yang diminta Paulus dalam surat Kolose yang baru kita baca. Dan tentu saja ini bukan yang diminta Petrus.

Yah, yang mereka minta adalah bahwa kamu menemukan cara di dalam hatimu untuk tunduk kepada sang majikan, seakan-akan kamu tunduk kepada Tuhan sendiri, yaitu melakukan semuanya seperti untuk Tuhan, di dalam sikap hatimu.

Kita melayani Tuhan di dalam sukacita karena kesempatan untuk melayani Tuhan adalah hak istimewa. Namun, dapatkah kita melayani majikan yang memperlakukan kita dengan buruk? Sampai kita bisa melakukannya, kita tidak mendapat pujian dari Tuhan.

Perhatikan ayat-ayat yang sudah kita baca, Petrus berbicara tentang pujian. Dia berbicara tentang upah yang abadi. Dia berbicara tentang apa yang dipuji Tuhan sebagai

penghargaan kepada kita atas pelayanan kita yang baik di dalam iman. Jadi, jika kita melakukannya karena terpaksa, dengan menggerutu di hati, maka kita tidak mendapat upah dalam hal ini. Kita harus mempunyai hati yang tulus dengan motif yang benar, yaitu melakukannya untuk Tuhan.

Jadi jika kita berharap Tuhan memberi kita pujian surgawi, kita harus siap menderita di dalam situasi yang tidak adil. Ketika kita menderita karena dosa kita sendiri, kata Petrus,

(6)

kita tidak mendapat pujian. Melayani dengan hati yang penuh kebencian adalah dosa.

Dengan demikian, tidak ada manfaatnya buat kita. Mari kita renungkan sejenak posisi kita sebagai duta besar atau sebagai orang asing. Ketika kita bekerja di bawah kondisi yang keras dan tetap melakukannya sebagai hamba yang taat, coba pikirkan tentang

bagaimana kesaksian yang dinyatakan.

Jika engkau bekerja di dalam tim, dan tim ini mempunyai bos yang buruk. Jika saya adalah satu-satunya anggota tim yang tetap tunduk dengan sukacita dan tulus, dengan hati yang jujur, tanpa niat jahat, kesaksian seperti apa yang saya nyatakan, dibandingkan dengan orang-orang di sekitar saya? Bukankah kesaksian saya akan begitu kuat? Orang akan bertanya: Kamu siapa dan dari mana asalmu? Kenapa kau bersikap baik kepada si bos jelek? Nah, kita akan mempunyai kesempatan untuk menyampaikan Injil dengan jelas.

Itulah maksud Petrus. Engkau ingin menjadi duta besar? Engkau ingin menonjol di dunia ini? Menjadi orang asing? Maka jangan lakukan apa yang dunia lakukan. Sebagai gantinya lakukan apa yang Tuhan inginkan, karena engkau adalah duta besar-Nya. Dan kemudian perhatikan efeknya terhadap orang-orang di sekitar kamu.

Mari kita teruskan ke topik berikutnya. Kemungkinan sebagian dari kita di sini sudah tidak sabar menunggu dua topik berikutnya. Bila ada orang-orang yang belum menikah di sini, ada harapan bahwa suatu hari nanti engkau akan menikah. Engkau mungkin

membayangkan tentang bagaimana kehidupan pernikahan, dan tentang bagaimana seorang suami dan seorang istri melakukan perannya. Pengertian engkau mungkin

didasarkan kepada apa yang engkau lihat di sekelilingmu. Ya, keluarga saya tidak berbeda dengan keluarga banyak orang. Apa yang kita lihat mungkin rusak di berbagai titik di sepanjang jalan. Sebaliknya, Alkitab memberi kita pandangan yang tepat. Jadi mari kita masuk kepada apa yang Alkitab katakan.

Sebagai urutan pembahasan kita akan dua peran tersebut, Petrus memulai dengan istri.

Mari kita baca.

1 Petrus 3:1-2, Petrus berkata,

Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan

dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

Saya suka cara Petrus memulai. 'Demikian juga', kata dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti 'dengan cara yang sama'. Jadi, bahkan sebelum kita melihat secara spesifik

tentang pesannya kepada istri, mari kita pahami bahwa, prinsipnya adalah sama. Prinsip yang sama bagi hamba, diterapkan di sini untuk istri. Mari kita baca ayat 7. Perhatikan bagaimana ayat 7 dimulai.

Ayat 7 dimulai dengan kata ʻhomoiosisʼ, yang merupakan kata Yunani yang berarti 'dengan cara yang sama', kata yang persis sama lagi. Jadi, untuk hamba, istri, dan suami, prinsip yang sama berlaku. Jadi, tidak ada aturan yang berbeda untuk peran yang

berbeda. Prinsipnya sama untuk semua.

Yang akan dilakukan Petrus, di dalam pesannya, adalah menerapkan prinsip yang sama untuk setiap peran yang unik tersebut. Kemudian di dalam konteks peran yang unik ini,

(7)

kita akan melihat beberapa instruksi yang berbeda. Bukan karena prinsipnya berbeda, hanya karena perannya yang berbeda.

Saya tidak ingin ada yang menyimpulkan, entah bagaimana, bahwa Tuhan telah menetapkan instruksi yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Bagi istri,

instruksinya adalah tunduk pada suamimu. Istilah 'tunduk' di sini dalam bahasa Yunani adalah istilah militer, 'hupatasso'. Ini artinya seperti dalam pengertian militer, seseorang yang, dengan hormat, berada di bawah wewenang orang lain, demi menciptakan tim yang kohesif.

Di militer, keefektifan suatu unit, sepenuhnya bergantung kepada seberapa baik keseluruhan kelompok itu patuh dan melaksanakan perintah dari otoritas. Jika ada gangguan di dalam otoritas, jika ada rasa tidak hormat, jika ada pembangkangan, maka kemampuan unit itu untuk melakukan sesuatu yang bernilai akan hilang sama sekali. Unit itu akan menjadi berantakan, menjadi faksi-faksi yang bertikai satu sama lain. Bila unit ini masuk ke dalam pertempuran, unit ini tidak efektif sama sekali.

Itulah arti “tunduk” yang sedang kita bicarakan di sini. Saya pikir, sebelum kita melangkah lebih jauh untuk meninjau dasar alkitabiah dari perintah ini. Di dunia kita sekarang ini, konsep penundukan diri, khususnya di dalam konteks pernikahan, mungkin menimbulkan penolakan di dalam budaya modern kita. Jadi, sebelum kita masuk ke dalam definisi yang disampaikan Petrus, mari kita mengambil waktu untuk mempelajari beberapa ayat di Alkitab yang akan membantu kita memahami konsep dasar ini.

Dasar untuk kepemimpinan pria di dalam keluarga, adalah proses persatuan dalam pernikahan di Taman Eden. Dalam Kejadian pasal 3, ketika Tuhan mengucapkan kutukan terhadap bumi dan Iblis, Tuhan juga mengumumkan perubahan dalam hubungan antara pria dan wanita, yaitu perubahan dari situasi sebelum pria dan wanita jatuh dalam dosa.

Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, Tuhan memberi Adam tanggung jawab untuk kepemimpinan rohani dalam keluarga. Ketika Tuhan berbicara dengan wanita itu secara khusus, Tuhan memberi wanita itu lebih dulu, keinginan akan suaminya. Tuhan

memperkuat ikatan pernikahan dengan memberikan kepada wanita keinginan naluri yang kuat untuk menikah dengan suaminya, dan untuk menjadi pasangan yang kuat dan setia kepada suaminya.

Pernah saya dengar, ayat ini diputar dengan cara yang aneh, dimana diartikan bahwa wanita itu entah bagaimana memiliki keinginan untuk menguasai suaminya. Ini tidak ada di dalam ayat itu. Tidak ada kata menguasai di dalam ayat itu, dan konteks-nya juga tidak menyiratkan arti tersebut.

Tuhan mengetahui bahwa keluarga dari persatuan pria dan wanita akan diserang oleh iblis setelah mereka diusir dari Taman Eden. Maka, untuk membuat keluarga tersebut kuat untuk menghadapi serangan iblis, Tuhan berkata kepada Hawa, bahwa ia akan menginginkan suaminya, dengan demikian ia akan setia dan berkomitmen kepada pernikahan.

Di dalam hubungan pernikahan, lebih sering kita mendengar wanita lebih berpegang teguh kepada hubungan walaupun sang pria sudah lama menyerah.

Keyakinan pribadi saya adalah Tuhan menetapkan wanita sebagai kunci untuk hubungan yang kuat antara pria dan wanita. Kenyataannya Adam sendiri absen pada saat iblis

(8)

melakukan serangan terhadap keluarga. Maka Tuhan sekarang berkata kepada pria,

"Kamu yang harus memimpin di keluargamu."

Apa yang Tuhan lakukan adalah Tuhan berkata, “Aku akan menempatkanmu di garis depan pertempuran dengan musuh. Engkau harus berdiri di depan untuk melindungi keluargamu. Aku akan menempatkan istrimu, wanita yang kuberikan padamu, yang kamu tinggalkan pada saat kamu dibutuhkan, dan Aku menempatkannya di barisan belakang untuk kamu lindungi.”

Aku akan memberinya keinginan kuat untuk mendukung dan bersamamu, menjadi penolong seperti yang Aku rancangkan, untuk mencintaimu melalui segala sesuatu, karena penting sekali bagi unit keluarga ini menjadi sangat kohesif.

Jika kamu masuk ke dalam pertempuran, sebagai satu kesatuan, menghadapi musuh, apakah kamu lebih suka berada di garis depan, atau di belakang?

Kebanyakan dari kita lebih suka berada di garis belakang.

Namun, Tuhan katakan kepada pria, kamu harus berada di garis depan sekarang. Ini sekarang menjadi beban dan tanggung jawab pria, di dalam konteks keluarga, di dalam konteks rumah tangganya.

Dan sebaliknya, wanita akan berada di barisan belakang, tidak dipanggil untuk membela keluarganya di baris depan, tetapi untuk mendukung keluarga dari barisan belakang.

Sekarang, apakah kita mengatakan bahwa wanita ada dalam posisi yang lebih rendah?

Apakah ini menyiratkan bahwa wanita memiliki posisi inferior di hadapan Kristus? Tidak!

Paulus menjelaskannya dengan sangat hati-hati dalam salah satu suratnya. Di Galatia 3:28, ia katakan, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan; karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus."

Dia katakan, secara spiritual, Tuhan tidak melihat gender. Ketika Tuhan melihat ciptaan- Nya, engkau dan saya, Tuhan tidak memandang tubuh Kristus dengan perbedaan di dalam pandanganNya. Kita semua sama di hadapan Kristus. Kita semua memiliki akses yang sama ke takhta Tuhan. Kita semua memiliki akses yang sama kepada Kristus sebagai pendoa syafaat kita. Tidak ada yang kekurangan sesuatu. Tidak seorang pun harus melalui orang lain untuk mendapatkan Kristus. Seorang wanita bisa mengenal Kristus tanpa melalui suaminya. Secara spiritual, kita semua memiliki akses yang sama. Kita semua adalah satu di dalam tubuh Kristus. Namun secara fisik, untuk sementara, kita harus ada dalam bentuk fisik tertentu, dengan peran yang spesifik terkait dengan bentuk yang spesifik. Setiap kita memiliki kewajiban tertentu yang ditetapkan di dalam Alkitab.

Seorang istri diharapkan untuk tunduk kepada otoritas suaminya. Saya ingin kita melihat Kristus sebagai contoh di sini.

Di dalam Yohanes 10:30 dikatakan, "Aku dan Bapa adalah satu." Kita tahu bahwa Kristus adalah satu dengan Bapa, Ia ada di kekekalan bersama Bapa. Ia tidak diciptakan oleh Bapa. Ia sudah ada pada mulanya bersama Bapa. Mereka adalah satu Tuhan, namun ada dalam tiga peran, yang merupakan misteri Trinitas. Kita juga tahu Yesus berkata, “Aku datang untuk melakukan kehendak Bapa. Aku hanya bisa melakukan apa yang Bapa minta untuk saya lakukan.”

Ada hubungan yang jelas di dalam fungsi mereka yang menempatkan sang Bapa dalam

(9)

posisi menentukan apa yang akan dilakukan sang Anak, dan sang Anak dalam posisi tunduk pada otoritas Bapa. Jadi di sini kita memiliki dalam Tritunggal itu sendiri sebuah contoh tentang bagaimana Allah dapat menjadi sejajar, namun, untuk tujuan dari suatu misi, mengambil peran, mengambil posisi yang menempatkan satu untuk tunduk kepada yang lain. Di dalam penundukan tersebut, Kristus tidak kurang dari Bapa. Ia tidak turun dari tahta, dan semua yang Ia lakukan adalah menjalankan peranNya sesuai dengan tujuan yang Bapa maksudkan.

Keluarga juga tidak berbeda. Wanita dan pria, istri dan suami, kita sejajar di hadapan Tuhan di dalam iman, di dalam Kristus. Namun, Tuhan datang kepada kita, di dalam bentuk perintah. Tuhan berkata, pria dan wanita memiliki peran dan fungsi yang berbeda untuk keluarga di dunia ini. Agar fungsi tersebut dilaksanakan dengan benar, di dalam menghadapi serangan musuh, maka Tuhan telah menetapkan peran dan tanggung jawab yang khusus untuk menciptakan unit keluarga yang efektif. Unit yang efektif itu

menempatkan pria di barisan depan, wanita di posisi belakang, relatif terlindung dari musuh, dan kerjasama mereka akan memiliki efek yang Tuhan inginkan. Pedoman untuk kedua peran tersebut di dalam keluarga adalah Kristus.

Paulus mengatakan demikian dalam 1 Korintus 11:3. Ia berkata, Aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari

perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Dia berbicara dalam konteks pernikahan di sini.

Pernyataan yang aneh jika kita tidak memahami prinsip tersebut. Allah adalah kepala Kristus? Bukankah mereka adalah Tuhan yang sama?

Mereka ada di dalam fungsi dan peran yang berbeda. Sekarang, mari kita melihat manfaat yang Petrus katakan, yang diperoleh dari kepatuhan istri, di 1 Petrus 3:1. Ia katakan, "jika ada di antara para suami yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya." Perhatikan "dimenangkan bukan oleh kata-kata tetapi oleh kelakuan atau perbuatan". Di dalam konteks pernikahan, di mana suami melakukan hal yang salah, tidak taat kepada Firman. Di sini berlaku dua situasi.

Di satu sisi, ini bisa berarti suami tidak mengenal Tuhan. Ia tidak taat kepada Firman, dalam arti bahwa dia tidak percaya kepada Injil Kristus. Kedua, bisa juga dalam konteks seorang pria Kristen yang tidak taat kepada Firman Tuhan di dalam kehidupan sehari- harinya.

Istri-istri yang mendengarkan pelajaran ini, jika suami kamu adalah seorang yang belum percaya, atau kamu khawatir tentang hal-hal, tindakan dan keputusan yang ia buat dalam hidupnya, dan kamu ingin solusi, maka kamu baru saja mendapatkan solusi. Tapi itu bukan solusi yang ditawarkan dunia. Yang Firman Tuhan perintahkan di sini adalah bahwa wanita harus tunduk kepada otoritas suaminya bahkan ketika suaminya belum hidup benar.

Ingat situasi hamba dan majikan? Hamba juga harus tunduk pada majikannya, bukan karena majikannya melakukan hal yang benar atau salah. Apakah hasilnya? Jika kita menderita karena perlakuan yang tidak adil, kita kembali ke Firman Tuhan ini.

Sekarang, mengapa istri harus tunduk kepada suaminya? Apakah hanya ketika suaminya melakukan hal yang benar? Tidak! Alasannya adalah karena pria itu adalah suaminya.

(10)

Bahkan ketika suaminya melakukan hal yang salah, adalah sangat penting bagi seorang istri untuk tunduk. Sang istri dapat menyatakan posisinya. Sang istri tidak harus diam. Istri adalah mitra yang setara dalam keputusan itu, tetapi jika ada konflik, dan keputusan itu tidak dapat diselesaikan secara damai, maka Firman Tuhan memperbolehkan istri untuk menyatakan, "Saya rasa kamu melakukan sesuatu yang salah. Walaupun keputusan kamu tidak seperti yang saya pikirkan, saya tetap tunduk. Lakukan apa yang terbaik menurut kamu, dan saya tetap mendukungmu."

Nah, apakah engkau diam-diam mengatakan di dalam hatimu, "Saya berharap kamu gagal, karena saya ingin membuktikan bahwa saya tahu lebih banyak dari kamu."

Jika itu ada di hatimu, maka kamu harus kembali kepada pelajaran kita tentang hamba dan majikan. Prinsip yang sama berlaku di sini! Di dalam kasus suami dan istri, hanya konteks-nya yang berbeda. Prinsipnya adalah melayani Tuhan. Prinsipnya adalah, kamu tidak harus percaya kepada suami, namun kamu harus percaya kepada Tuhan. Hanya di dalam Tuhan, kamu akan menemukan berkat di dalam ketaatan dalam peran yang telah Tuhan berikan kepadamu.

Kita baca yang Petrus katakan di 1 Petrus 3:3-4, katanya, Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia

batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Terkadang ayat tersebut disalahgunakan. Beberapa orang mengubah ayat ini menjadi aturan legalistik yang tidak memperbolehkan wanita untuk berhias sama sekali. Petrus menyampaikan analogi. Ia tidak mengajarkan prinsip tentang bagaimana wanita berpakaian, menghiasi rambut mereka atau hal-hal semacam itu. Ia tidak mengatakan wanita tidak boleh dihiasi secara eksternal. Ia hanya mengatakan, jika hanya itu yang kamu lakukan, maka kamu ada masalah. Perhiasan lahiriah hanya untuk kelihatan baik di luar, tidak bertahan lama. Yang Petrus katakan adalah, sama seperti kamu ingin kelihatan baik di luar, kamu juga harus baik di dalam. Petrus katakan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Sekarang bagaimana engkau menjadi lembut dan pendiam di hadapan suami yang melakukan sesuatu yang salah, dan tidak mendengarkan nasihat kamu? Setiap suami, setiap pria, cepat atau lambat, akan menghadapi hari yang buruk, situasi yang buruk, dan mungkin pernikahan yang buruk.

Bagaimana kamu menghadapinya sebagai seorang istri? Bagaimana kamu menjalani situasi semacam itu?

Petrus memberi contoh seorang istri yang berhadapan dengan suami yang melakukan hal yang salah, namun tetap tunduk.

1 Petrus 3:5, Petrus berkata, “Sebab demikianlah caranya perempuan- perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.”

(11)

Kita ingat kisah Abraham dan Sarah di Kejadian pasal 12. Abram melarikan diri dari Mesir dengan Sarai karena kelaparan. Karena kelaparan yang melanda tanah Kanaan, Abraham merasa tidak mampu untuk bertahan di negeri yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Jadi dia mengambil keputusannya sendiri, bukan atas perintah Tuhan, untuk meninggalkan tanah Kanaan, dan melakukan perjalanan ke selatan, ke Mesir. Mesir selalu menjadi tempat yang aman selama masa kelaparan karena ada Sungai Nil, yang selalu memiliki air.

Saya bacakan Kejadian 12:10-12.

Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu. Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya.

Ayat 12. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.

Kita coba mengerti apa yang Abraham lakukan di sini. Ia adalah bapa orang beriman. Oke, ini adalah pria yang dihormati oleh semua orang Israel karena imannya dan untuk alasan yang baik. Tetapi mari kita melihat betapa tidak sempurnanya dia.

Di banyak budaya Timur, dan Mesir adalah contohnya. Firaun, atau raja, memiliki banyak selir, dan dia bebas untuk menambahkan selir kapan pun dia mau. Tetapi sebagian besar budaya Timur pada saat itu membenci perzinahan. Mereka sangat, sangat bersikeras untuk tidak melakukan perzinahan. Jadi, jika dia menemukan bahwa Sarai itu cantik, dan dia menginginkannya menjadi istrinya, maka dia akan menyuruh salah satu bawahannya untuk mendatangi mereka. Bila mereka menyadari bahwa dia sudah menikah, maka mereka tidak akan dapat membawanya pergi. Jadi, mereka akan membunuh Abram.

Ironis kan? Mereka membenci perzinahan, tapi mereka menyetujui pembunuhan. Inilah fakta pada masa itu.

Jadi, inilah yang dilakukan oleh Abram. Dia bilang ke istrinya, “Ini adalah rencana kita, sayang. Kamu harus mengaku sebagai adik saya.” Nah, ini setengah benar karena Sarai adalah saudara tirinya. Tapi ini masih bohong karena mengabaikan fakta bahwa Sarai adalah juga istrinya.

Apa yang dilakukannya adalah menghindarkan dirinya dari kemungkinan dibunuh, dan membuat lebih mudah bagi orang Mesir untuk mengambil Sarai sebagai istri Firaun. Jadi, apakah Sarai bodoh? Saya kira tidak.

Saya kira Sarai mungkin mempunyai pikiran seperti ini. “Oke, saya melihat bagaimana ini membantu suami saya, tetapi apa untungnya bagi saya? Bagaimana hasil akhirnya?”

Abram berkata di ayat 13, “Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”

Banyak 'aku' dan 'aku' di dalam ini, kan?

Bayangkan seorang istri yang hidup dengan seorang suami yang menggunakan banyak

"aku" dan "aku" di dalam pikiran dan tindakannya.

Abram adalah seorang pria yang akan kita pandang di dalam Alkitab sebagai simbol iman, sebagai seorang pria yang kita semua teladani, namun lihatlah apa yang dia lakukan di

(12)

sini. Lihat apa yang dia lakukan di sini!

Gunakan situasi Sarai sebagai contoh. Apa yang dapat Sarai lakukan? Kita mungkin berasumsi bahwa ia akan memprotes, walaupun Alkitab tidak menuliskannya. Tidak ada indikasi bahwa Sarai pernah memprotes, tapi mungkin dia melakukannya. Tetapi jika engkau ada di dalam posisi yang sama, saya yakin engkau akan melakukan lebih dari protes.

Engkau akan tidak peduli. Engkau akan protes. Suami macam apa ini? Kamu tidak memperlakukanku seperti seorang istri. Kamu gila. Mengapa kita tidak kembali saja ke tempat kita semula? Kita dapat membayangkan pertengkaran yang berlangsung.

Kejadian 12:14-16. Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.

Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.

Jadi, Abram dibayar untuk itu, cukup baik. Abram dapat menikmati semua kekayaannya, sementara Sarai sekarang berada di rumah selir Firaun Mesir. Kemudian di ayat 19, Firaun akhirnya mengetahui entah bagaimana, bahwa Sarai sebenarnya bukan hanya saudara perempuan Abram, melainkan juga adalah istri Abram. Maka Firaun berkata kepada Abram di ayat 19, “Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!”

Firaun memerintahkan orang-orangnya untuk mengantar mereka pergi, dengan semua miliknya. Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lot-pun bersama-sama dengan dia.

Kejadian 13:2. Sekarang, Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

Saya membaca ayat terakhir ini karena satu alasan kecil. Abraham melakukan hal yang salah. Abram, namanya pada saat itu, melakukan kesalahan berulang kali. Namun kita tidak melihat bukti apa pun tentang Sarai keberatan. Intinya, pada akhirnya Sarai setuju.

Saya pikir Sarai tahu persis apa yang akan terjadi, tapi dia tetap melakukan apa yang diminta Abram. Ia melakukannya bukan karena dia mematuhi Abram, atau tunduk kepada otoritas Abram, tetapi, ia percaya Tuhan, bukan kepada Abram.

Menurut engkau, di mana titik paling rendah dari kasus ini? Ketika Sarai duduk di rumah selir, ia mungkin bertanya-tanya kapan Firaun akan memanggilnya untuk tidur

dengannya. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Alkitab, syukurlah, hal tersebut tidak pernah terjadi. Tuhan melindunginya!

Ia tidak meratapi nasibnya dan berkata, “Saya sudah salah mematuhi suamiku yang pecundang itu. Seharusnya saya menolak permintaan Abram!"

Tapi Tuhan setia. Pada akhirnya, Tuhan benar-benar melepaskan mereka tidak hanya secara pribadi, tetapi juga memberi mereka kekayaan. Saya tidak mengajarkan di sini bahwa bila kamu patuh, maka kamu akan menjadi kaya. Itu pesan yang salah. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa Tuhan sanggup membela Sarai di dalam kasus Abram dan Sarai, sebagai contoh bagi kita, dan bagi orang-orang yang mentaati-Nya dengan hati yang benar.

(13)

Jika seorang istri ingin membuat pernyataan radikal di dunia ini untuk Kristus, jika engkau ada bersama dengan sekelompok teman-teman wanita, maka engkau bisa memberi tahu mereka bagaimana engkau percaya kepada Tuhan dengan tunduk kepada otoritas suami.

Coba lakukan itu dalam budaya masa kini dan saksikan dampak yang akan dihasilkan dalam hal itu.

Perhatikan percakapan yang terjadi kemudian. Perhatikan reaksi mereka. Itulah situasi yang sebanding dengan seorang hamba yang mematuhi seorang majikan yang buruk.

Istri yang percaya kepada Tuhan akan berkata, “Saya tahu suami saya melakukan hal yang salah. Seringkali dia tidak tahu apa yang dia lakukan, tetapi saya mematuhinya karena itulah pelayanan saya kepada Tuhan. Sebagai istri yang tunduk, saya melayani Tuhan, bukan suami saya. Dan ketika saya melayani Tuhan, Tuhan berkenan kepada saya, seperti yang dikatakan Alkitab.”

Sekarang, Petrus memberikan satu ayat kepada para suami. Mari kita baca ayat 7.

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Kelihatannya aneh bahwa Petrus memberikan hanya satu ayat kepada suami, setelah memberikan begitu banyak perhatian kepada hal hamba dan majikan, dan kepada istri.

Dalam budaya kita saat ini, kita cenderung menafsirkan bahwa para suami dalam pandangan Paulus dan Petrus dan dalam pandangan Allah, memiliki lebih sedikit alasan untuk tunduk dibandingkan dengan para hamba dan para istri. Begitulah cara kita menafsirkan fakta perbedaan jumlah ayat. Tapi jika kita melihat dari sudut pandang budaya budaya pada saat surat ini ditulis, kita akan menyadari bahwa jalan pikiran mereka berlawanan dengan apa yang kita pikirkan. Mereka yang membaca daftar ini akan terkejut, menemukan, pertama-tama, bahwa instruksi untuk suami ada di akhir paragraf daripada di awal, di mana mereka layak berada. Kedua, para suami hanya mendapat satu baris instruksi. Yang lain mendapatkan banyak instruksi. Mereka mungkin tersinggung bahwa para suami ditempatkan di belakang barisan dan nyaris tidak disebutkan. Itulah sudut pandang yang Petrus coba komunikasikan. Itulah maksudnya di sini.

Sekali lagi, bukan karena hubungan para suami dengan Kristus, kurang penting, tetapi karena Petrus ingin mereka bersikap seperti seharusnya para pemimpin di gereja, bahwa mereka yang memimpin adalah hamba Tuhan di dalam tubuh Kristus. Kata Yesus, kecuali jika kamu mau membasuh kaki orang lain, artinya bersedia untuk merendahkan dirimu untuk melayani orang lain, maka kamu tidak bisa menjadi hamba Kristus.

Pria memiliki peran yang sama di dalam rumah tangga. Dalam pengertian ini, Petrus menempatkan pria di akhir daftar. Ayat 7 mungkin agak sulit untuk diterjemahkan.

Faktanya, kita mendapatkan ayat ini diterjemahkan agak berbeda di beberapa versi Alkitab bahasa Inggris.

Jika kita ingin mendapatkan terjemahan yang paling literal, kita terjemahkan langsung dari bahasa Yunani. Bunyinya seperti ini: “Suami, tinggallah bersama istrimu menurut pengetahuan.”

Alkitab bahasa Inggris mengatakan, "Hiduplah bersama istrimu dengan pengertian."

Namun, saya pikir, apa yang Petrus katakan di sini kurang lebih sama dengan yang versi

(14)

literal. Tinggallah bersama istrimu menurut pengetahuan. Petrus tahu bahwa para suami telah mendengar semua yang telah diajarkan, sama seperti para wanita, dan sama seperti para pelayan.

Dan semua yang mereka dengar adalah, “Istrimu akan tunduk kepada otoritas kamu, bukan karena kamu melakukan hal yang benar, tetapi karena istrimu mentaati Tuhan.”

Dan para hamba akan tunduk kepada kamu, bukan karena kamu pantas

mendapatkannya, tetapi karena mereka menghormati Tuhan. Bahkan ketika kamu melakukan hal yang salah. Jangan kira kamu layak karena sesuatu yang kamu lakukan.

Tidak! Bertindaklah sesuai dengan pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang kehendak Tuhan, tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang majikan, atau suami di dalam menghormati mereka yang tunduk kepada otoritas demi Tuhan.

Ingat komentar Petrus sebelumnya di 1 Petrus 1:14, ketika ia berbicara kepada gereja,

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu”, atau ketika kamu tidak memiliki pengetahuan akan kehendak Tuhan.

Petrus mengatakan hal yang sama di sini. Sebelumnya dia berkata, "Lihat, jangan lakukan hal-hal yang dulu kamu lakukan ketika kamu tidak mempunyai pengetahuan." Sekarang Petrus berkata, “Lakukan apa yang kamu tahu harus lakukan setelah kamu memiliki pengetahuan akan kehendak Tuhan.”

Sekarang, setelah kita memahami prinsip-prinsip di balik perintah ini, kita sudah tidak bodoh. Kita sekarang memiliki pengetahuan.

Lihatlah kata-kata ini dalam ayat 7, katanya, nomor satu, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah.

Istilah Yunani untuk “yang lebih lemah” adalah kata yang umum. Saya pikir ini sering salah diterjemahkan. Kata itu adalah "poieo", yang artinya secara harfiah adalah

"melakukan". Ini adalah salah satu kata kerja yang paling umum dalam Perjanjian Baru, dan hampir selalu diterjemahkan sebagai “melakukan” atau “membuat” atau

“mempertahankan” atau “membangun”.

Ini adalah satu-satunya saat dimana diterjemahkan sebagai 'lebih lemah' dan saya mengerti mengapa para penerjemah merasa bahwa ini terjemahan yang tepat. Tetapi, saya pikir, ini bukan yang dimaksudkan Petrus ketika menuliskannya.

Saya pikir Petrus tidak menyarankan bahwa wanita lebih lemah. Kita tahu secara fisik, mungkin benar secara umum. Tapi apa maksudnya? Fakta bahwa pria lebih kuat secara fisik dari wanita, apa pentingnya secara spiritual? Tidak ada.

Setelah mempertimbangkan pengertian dari seluruh kalimat, saya akan

menerjemahkannya begini. Tinggallah bersama istrimu, sesuai dengan pengetahuan, untuk mempertahankannya, untuk membangunnya, untuk menghormatinya. "Poieo"

diterjemahkan sebagai “yang lemah” karena wanita memiliki posisi yang rentan dalam hubungan, bukan rentan karena siapa dia secara fisik.

Ini tidak berbeda dengan hubungan pegawai dengan bos. Apakah engkau rentan sebagai pegawai? Tentu saja rentan. Kamu harus mendengarkan perintah dan instruksi bos-mu.

Kamu rentan dalam hal ini.

(15)

Jika sang majikan memahami bahwa orang-orang di bawahnya adalah rentan, maka dia perlu beroperasi dengan pemahaman bahwa ia harus mengayomi orang-orang yang rentan di bawahnya.

Demikian pula, seorang istri bukanlah yang lebih lemah secara rohani, dalam arti ayat ini.

Sebaliknya, seorang istri adalah orang yang rentan terhadap suami yang memainkan peran sebagai pemimpin dalam keluarga. Oleh karena itu, suami perlu menjaganya, membangunnya, seperti yang Kristus lakukan kepada Gereja-nya.

Di Efesus pasal 5, dikatakan Kristus mengasuh Gereja dengan memberikan hidup-Nya kepada Gereja. Demikian pula, para suami, hargai istrimu. Itulah artinya di sini. Bila engkau sebagai suami memutuskan untuk menyalahgunakan wewenangnya di dalam pernikahan, untuk mengambil keuntungan dari sikap tunduk istrinya, ingatlah, suatu hari nanti, kita semua akan hidup di dalam kekekalan yang sama. Saat itu pria dan wanita tidak lagi menikah. Kita akan menjadi seperti malaikat.

Pikirkan seperti apa jadinya ketika engkau memasuki zaman baru tersebut, engkau mendapati dirimu berhadapan muka dengan mantan pasanganmu. Bila engkau bertemu dengan wanita yang pernah kamu lecehkan, yang kamu tekan karena otoritasmu, dan dia mau tunduk. Ingatan seperti apa yang akan engkau bawa ke momen itu, jika engkau melihat kembali kehidupanmu sebelumnya. Sayang sekali. Seorang pria yang tidak menghormati istrinya, di 1 Petrus 3:7 dikatakan, akan mengalami doanya terhalang. Saya ingin memperjelas apa yang dimaksud.

Di satu sisi, cukup jelas bahwa jika ada perselisihan dalam pernikahan, adalah sulit untuk menemukan kesempatan untuk berdoa dengan baik, tenang, dan bermakna. Engkau dapat sepenuhnya menghargai ayat ini bila engkau dan pasanganmu memiliki kebiasaan berdoa bersama. Pada zaman Petrus, sebagian besar doa adalah acara bersama. Tetap ada doa pribadi, tetapi pasti ada waktu bersama keluarga untuk berdoa.

Nah, jika engkau tidak memiliki pola berdoa bersama di dalam keluarga dan pernikahan sebagai suami dan istri, maka engkau tidak dapat memahami ayat ini sepenuhnya.

Sebaliknya jika engkau hidup seperti itu, maka engkau tahu persis apa artinya perselisihan dalam pernikahan. Seorang istri tidak tunduk atau suaminya memperlakukan istrinya dengan tidak pantas. Jelas sekali, mereka tidak akan dapat berdoa bersama. Doa suami akan terhalang.

Saya pikir ini tersirat dalam apa yang dikatakan Petrus. Jika engkau menginginkan

pernikahan yang sehat, dan kehidupan doa yang sehat, maka kedua peran tersebut harus dijalani sesuai dengan Firman Tuhan. Bila tidak, akan ada kegelisahan, akan ada konflik yang menghalangi doa.

Seringkali sulit untuk mengerti apa yang Firman Tuhan katakan. Renungkanlah Firman Tuhan di 1 Petrus pasal 2 dan 3, tentang peran yang telah diberikan Kristus melalui Firman-Nya. Pertimbangkan apa yang membuat kesaksian saya efektif sebagai duta Kristus. Apakah hidup seperti prinsip dunia, di tempat kerja dan di rumah tangga saya?

Atau hidup sesuai dengan yang Tuhan inginkan saya hidup? Tetapi rasanya sangat berbeda. Rasanya sangat asing. Ya, tepat sekali. Bukan itu yang diharapkan dunia.

Tantangan terakhir saya, sebelum kita tutup di dalam doa, kepada para pria. Pria, sebagai pemimpin rohani di rumah, engkau tidak dapat berharap bahwa pertumbuhan rohani keluarga datang dari istri yang saleh. Istri yang saleh adalah aset yang luar biasa. Namun,

(16)

pertumbuhan rohani di rumah dimulai dengan pria!

Engkau harus memulai waktu doa sebagai keluarga. Engkau ingin melihat istri dan anak- anakmu mengerti Firman Tuhan yang lebih mendalam, maka engkau perlu memulai di dalam keluargamu. Jika engkau ingin bersaksi secara efektif, engkau harus mengambil langkah pertama ini. Itulah instruksi yang diberikan Firman Tuhan kepada setiap pria, menikah atau tidak.

Mari kita tutup dalam doa untuk mengakhiri pelajaran ini.

Bapa yang terkasih, FirmanMu menyatakan bahwa kasih yang sungguh-sungguh nyata di dalam perbuatan. Kami berdoa supaya kasih kami membawa kami untuk pergi ke

keluarga kami, ke tempat kerja kami, dengan apa yang kami pelajari saat ini, untuk taat dan melakukan perintahMu, supaya kesaksian hidup kami menyenangkanMu Bapa. Ketika kami mengalami ketakutan, atau keraguan, dan ketika penundukan menjadi hal yang sangat sulit, bawa kami untuk patuh, oleh karena kesaksian kami mempunyai dampak di dalam kekekalan. Terima kasih Bapa, untuk pengertian akan FirmanMu. Kuatkan kami untuk menjalaninya. Bawa kami untuk kembali dan melanjutkan pelajaran berikutnya. Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari pelatihan pembuatan produk olahan nangka adalah menciptakan produk olahan dari buah nangka yang memiliki nilai jual dengan memberdayakan masyarakat desa

Pada tulisan ini kemudian menawarkan teori baru yang penulis namakan teori laatract, berbeda dari beberapa teori yang telah ada, teori Laactract yang penulis

(2) Wajib Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh jasa pelayanan pengujian kendaraan bermotor, termasuk kendaraan

87 peningkatan kualitas pengajaran secara menyeluruh, maka atlet yang tingkat kemampuan fisik dan keterampilannya dalam kategori sedang, kurang dan kurang sekali

Biaya perjalanan dinas peserta untuk mengikuti kegiatan dimaksud dibebankan pada DIPA Kantor Pusat DJKN Tahun Anggaran 2011.. Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima

Tujuan penelitian ini adalah menetapkan lokasi yang potensial untuk pengembangan kantong parkir pada rute Angkutan Umum Trans Sarbagita Koridor I dan Koridor II,

Hasil pemeriksaan fungsi paru diinterpretasikan melalui pembandingan nilai pengukuran yang didapat dengan nilai prediksi pada individu normal.. Prediksi nilai normal

prokrastinasi telah banyak dipaparkan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, hal ini menunjukkan pentingnya untuk melakukan penelitian dalam masalah