PENGARUH STRUKTUR MODAL, BIAYA OPERASIONAL, CAPITAL INTENSITY, DAN MANAJEMEN LABA, TERHADAP
PPH BADAN TERUTANG PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2019-2021
SKRIPSI
Oleh :
YUDA ADI WIBOWO NIM. 11870313747
PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1 FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2023
PENGARUH STRUKTUR MODAL, BIAYA OPERASIONAL, CAPITAL INTENSITY, DAN MANAJEMEN LABA, TERHADAP
PPH BADAN TERUTANG PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2019-2021
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 Program Studi Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Oleh :
YUDA ADI WIBOWO NIM. 11870313747
PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1 FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2023
i ABSTRAK
PENGARUH STRUKTUR MODAL, BIAYA OPERASIONAL, CAPITAL INTENSITY, DAN MANAJEMEN LABA, TERHADAP PPH BADAN
TERUTANG PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2019-2021 Oleh :
YUDA ADI WIBOWO 11870313747
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur modal, biaya operasional, capital intensity, dan manajemen laba terhadap Pph Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di bursa efek indonesia periode 2019-2020. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sehingga didapatkan sebanyak 17 perusahaan.
Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi data panel dengan bantuan Eviews versi 12. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan hipotesis secara parsial bahwa Long term debt to asset ratio tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang. Debt to equity ratio tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang.
Biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang. Capital Intensity berpengaruh negatif signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang. Manajemen laba tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang. Untuk hasil pengujian secara simultan atau uji F menunjukkan bahwa Long Term Debt To Assets Ratio (LDAR), Debt to Equity Ratio (DER), Biaya Operasional, Capital Intensity dan Manajemen Laba secara bersama-sama berpengaruh terhadap Pajak penghasilan badan terutang.
Dengan hasil uji R2 menunjukajn bajhwaj kontribusi seluruh vajriajbel independen dajlajm menjelajskajn vajriajbel dependen ajdajlajh sebesajr 55.96%, sedajngkajn sisajnyaj sebesajr 44.04% dijelajskajn oleh vajriajbel lajin yajng tidajk diukur dajlajm model regresi ini.
Kata Kunci : Long Term Debt to Asset Ratio, Debt Equity Ratio, Biaya Operasional, Capital Intensity, Manajemen Laba Dan Pajak Penghasilan Badan
ii ABSTRACT
CAPITAL STRUCTURE, OPERATING COSTS, CAPITAL INTENSITY, AND EARNINGS MANAGEMENT ON CORPORATE INCOME TAX PAYABLE
IN MINING COMPANIES LISTED ON THE INDONESIAN STOCK EXCHANGE FOR THE 2019-2020 PERIOD
Oleh :
YUDA ADI WIBOWO 11870313747
This study aims to determine there is an effect of capital structure, operating costs, capital intensity, and earnings management on Corporate Income Tax Payable in mining companies listed on the Indonesian stock exchange for the 2019-2020 period. This study uses a quantitative descriptive. In this study, the sample was taken using a purposive sampling technique based on predetermined criteria so that there were 17 companies. The method of data analysis was carried out using panel data regression analysis with the help of Eviews version 12. The results showed that the partial hypothesis calculation that the Long term debt to asset ratio has no significant effect on corporate income tax payable. Debt to equity ratiodoes not significantly influence the corporate income tax payable.Operational costs have a significant effect on corporate income tax payable. Capital Intensitysignificant negative effect on corporate income tax payable. Earnings management has no significant effect on corporate income tax payable.For simultaneous test results or the F test shows that Long Term Debt To Assets Ratio (LDAR), Debt to Equity Ratio (DER),Operational Costs, Capital Intensity and Profit Management jointly affect the corporate income tax payable.
With the resukts of the R2 test indicating that the contribution of all independendent variable in explaining the dependent variable is 55.96% while the remaining 44.04% is explained by other variables not measured in this regression model.
Keywords : Long Term Debt to Assets Ratio, Debt to Equity Ratio, operating costs, capital intensity, earnings management And Corporate Income Tax Payable
iii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Tak lupa pula shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai uswatun khasanah dalam hidup ini yang telah menuntun umatnya dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang.
Alhamdulillah, penulis telah dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Struktur Modal, Biaya Operasional, Capital Intensity, Dan Manajemen Laba, Terhadap PPh Badan Terutang Pada
Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2019-2021 Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Akuntansi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Suatu kehormatan bagi penulis untuk mempersembahkan yang terbaik kepada almamater, kedua orang tua, seluruh keluarga dan juga pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Hairunas, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau beserta staf.
iv
2. Ibu Dr. Mahyarni. SE. MM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3. Bapak Dr. Kamaruddin, S.sos, M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
4. Bapak Dr. Mahmuzar, SH, MH selaku Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
5. Ibu Dr. Hj. Julina, SE, M Si selaku Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
6. Ibu Faiza Muklis, SE, M.Si, Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau.
7. Ibu Harkaneri, SE, MSA, Ak, CA selaku sekretaris Jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau.
8. Bapak Arridho Abduh S.ST, M.Ak, M.E selaku pembimbing proposal yang dengan sabar membimbing dan memberikan arahan serta nasihat yang baik dalam penyusunan proposal.
9. Ibu Sonia Sischa Eka Putri, SE, M.Ak selaku pembimbing Skripsi Pembimbing yang dengan sabar membimbing dan memberikan arahan serta nasihat yang baik dalam penyusunan skripsi ini hingga pada tahap penyelesaian.
10. Seluruh bapak dan ibu dosen fakultas ekonomi dan ilmu sosial yang telah memberikan bekal dan ilmu yang bermanfaat.
v
11. Seluruh Staf akademik dan tata usaha serta staf jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial.
12. Orangtua, ayahanda Sugianto dan ibunda Sutiyah yang telah mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya demi kesuksesan anaknya, yang telah melahirkan, membesarkan, merawat, dan mendidik dengan sepenuh hati dibaluti dengan kasih sayang yang begitu tulus kepada penulis.
13. Adik saya Iksan Maulana yang telah memberikan dukungan selama penulisan skripsi ini.
14. Sindy Lestari suport sistem terbaik saya yang terus memberikan semangat dalam proses penulisan skrpisi.
15. Teman-teman se-angkatan 2018 terkhusus untuk Akuntansi E, Serta seluruh pihak yang telah berjasa namun belum mampu penulis sebutkan satu persatu. terimakasih atas segala motivasi dan bantuannya selama penyelesaian skripsi ini dan telah menjadi teman yang hebat bagi penulis.
Akhirnya dengan segala keterbukaan dan ketulusan, penulis persembahkan skripsi ini sebagai upaya pemenuhan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi pada UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan semoga skripsi yang penulis persembahkan ini bermanfaat. Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kekurangan tentu datangnya dari penulis.
vi
Kiranya dengan semakin bertambahnya wawasan dan pengetahuan, kita semakin menyadari bahwa Allah adalah sumber segala sumber ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pekanbaru Desember 2022 Penulis,
Yuda Adi Wibowo
vii DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
1.5 Sistematika Penulisan... 12
BAB II LANDASAN TEORI ... 14
2.1 Teori Keagenan ( Agency Theory ) ... 14
2.2 Teori Atribusi (Atribution Theory)... 15
2.3 Struktur Modal ... 17
2.3.1 Pengertian Struktur Modal ... 17
2.3.2 Rasio Struktur Modal ... 18
2.3.3 Komponen-Komponen Struktur Modal ... 21
2.4 Biaya Operasional ... 24
2.4.1 Pengertian Biaya Operasional ... 24
2.4.2 Pengukuran Biaya Operasional ... 25
2.5 Capital Intensity ... 26
2.6 Manajemen Laba ... 27
2.6.1 Pengertian Manajemen Laba ... 27
2.6.2 Motivasi Manajemen Laba ... 28
2.6.3 Pola Manajemen Laba ... 31
2.6.4 Teknik Pendeteksi Manajemen laba ... 32
2.7 Pajak Penghasilan... 33
2.7.1 Pengertian Pajak ... 33
viii
2.7.2 Dasar Pemungutan Pajak ... 35
2.7.3 Fungsi Pajak ... 36
2.7.4 Penghasilan Yang Dikena Pajak ... 37
2.7.5 Penghasilan Yang Tidak Dinekanakan Pajak... 38
2.7.6 Pajak Penghasilan ... 39
2.7.7 Subjek Pajak Penghasilan... 41
2.7.8 Ruang Lingkup Penerimaan Pajak Penghasilan badan ... 44
2.8 Pandangan Islam Tentang Struktur Modal, Biaya Operasional Dan Manajemen Laba ... 45
2.9 Penelitian Terdahulu ... 52
2.10 Kerangka Pemikiran ... 55
2.11 Pengembangan hipotesis ... 56
2.11.1 Pengaruh Long Term Debt To Asset Ratio Terhadap Pajak penghasilan Badan terutang ... 56
2.11.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap Pajak penghasilan Badan terutang ... 57
2.11.3 Pengaruh Biaya Operasional terhadap Pajak Penghasilan Badan terutang ... 58
2.11.4 Pengaruh Capital Intensity terhadap Pajak penghasilan badan terutang ... 59
2.11.5 Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Pajak penghasilan Badan Terutang ... 60
2.11.6 Pengaruh Long Term Debt To Asset Ratio (LDAR), Debt To Equity Ratio (DER), Biaya Operasional, Capital Intensity, Dan Manajemen Laba Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang. ... 61
BAB III METODE PENELITIAN ... 64
3.1 Populasi Dan Sampel ... 64
3.1.1 Populasi ... 64
3.1.2 Sampel ... 64
ix
3.2 Jenis Data Dan Sumber Data... 66
3.2.1 Jenis Data ... 66
3.2.2 Sumber Data ... 67
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 67
3.4 Operasionalisasi Variabel... 67
3.4.1 Variabel Dependen ... 67
3.4.2 Variabel Independen ... 68
3.5 Metode Analisis Data ... 71
3.5.1 Uji Statistik Deskriptif ... 72
3.5.2 Uji Asumsi Klasik ... 72
3.5.3 Model Regresi Dengan Data Panel ... 75
3.5.4 Pemilihan Model Data Panel ... 76
3.5.5 Analisis Regresi Data Panel ... 78
3.5.6 Uji Hipotesis ... 79
BAB IV HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN ... 82
4.1 Gambaran Umum Dan Objek Penelitian... 82
4.2 Analisis deskriptif ... 83
4.3 Hasil Uji Asumsik Klasik... 85
4.3.1 Uji Normalitas ... 85
4.3.2 Uji Multikolinearitas ... 86
4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 87
4.3.4 Uji Autokorelasi ... 88
4.4 Metode Regresi Data Panel ... 89
4.4.1 Common Effect Model (CEM)... 90
4.4.2 Fixed Effect Model (FEM) ... 91
4.4.3 Random Effect Model (REM) ... 92
4.5 Pemilihan Model ... 94
4.5.1 Uji chow ... 94
4.5.2 Uji Housman ... 95
4.5.3 Uji Langrangge Multiplier (LM) ... 96
x
4.6 Analisis Regresi Data Panel ... 97
4.7 Uji Hipotesis... 100
4.7.1 Uji Parsial (Uji t) ... 100
4.7.2 Uji Simultan (Uji f) ... 106
4.7.3 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 108
4.8 Pembahasan ... 109
4.8.1 Pengaruh Long Term Debt to Assets Ratio Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang ... 109
4.8.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang... 110
4.8.3 Pengaruh Biaya Operasional Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang... 112
4.8.4 Pengaruh Capital Intensity Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang... 113
4.8.5 Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang... 114
4.8.6 Pengaruh Long Term Debt To Assets Ratio (LDAR), Debt to Equity Ratio (DER), Biaya Operasional , Capital Intensity dan Manajemen Laba Tehadap Pajak Penghasilan Badan Terutang... 115
BAB V PENUTUP ... 116
5.1 Kesimpulan ... 116
5.2 Saran ... 117
5.3 Keterbatasan Penelitian ... 118 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
2.1 Penelitian Terdahulu ... 51
3.1 Prosedur Pengambilan Sampel ... 65
3.2 Daftar Sampel Perusahaan Pertambangan ... 66
4.1 Perusahaan Yang Menjadi Sampel ... 82
4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 83
4.3 Hasil Uji Multikolinieritas ... 86
4.4 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 88
4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 89
4.6 Hasil Uji Regresi Data Panel Common Effect Model ... 90
4.7 Hasil Uji Regresi Data Panel Fixed Effect Model ... 91
4.8 Hasil Uji Regresi Data Panel Random Effect Model ... 93
4.9 Hasil Pemilihan Regresi Data Panel Uji Chow ... 95
4.10 Hasil Pemilihan Regresi Data Panel Uji Housman ... 96
4.11 Hasil Pemilihan Regresi Data Panel Langrangge Multiplier ... 96
4.12 Hasil Uji Regresi Data Panel Random Effect Model ... 97
4.13 Hasil Uji Parsial (Uji t) ... 101
4.14 Hasil Uji Simultan (Uji f) ... 107
4.15 Hasil Uji Koefisien Determinan ... 108
xii
DAFTAR GAMBAR
2.1 Kerangka Pemikiran ... 56 4.1 Hasil Uji Nomalitas ... 85
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan terbesar bagi Indonesia dari semua sumberpenerimaan negara lainnya. Salah satu jenis pajak yaitu pajak penghasilan (PPh). Pajak Penghasilan yaitu pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Badan seperti yang dimaksud dalam UU KUP yang dapat dikenakan langsung kepada wajib pajak, yang terdiri dari orang pribadi, badan, atau bentuk usaha tetap, menurut undang- undang yang mengatur tentang Pajak Penghasilan, di sini terjadi Salah satu perubahannya yaitu tentang tarif PPh badan yang semula yaitu tarif progresif menjadi tarif flat. Perubahan itu diatur dalam Undang-Undang No.36 tahun 2008.
Perubahan yang ada dalam undang-undang Pajak Penghasilan (PPh) yang baru tersebut adalah dirubahnya tarif untuk Pajak Penghasilan (PPh) badan yaitu dari tarif progresif ke tarif flatse besar 25% dan berlaku untuk semua wajib pajak badan. Dengan adanya perubahan peraturan tarif progresif ke tarif flat ada perusahaan yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan.
Perusahaan yang diuntungkan adalah perusahaan yang memiliki laba lebih besar, maka pajak terutangnya akan menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan penggunaan tarif progresif. Sedangkan pihak yang dirugikan adalah perusahaan yang memiliki laba lebih sedikit, maka pajaknya akan lebih besar dibandingkan dengan tarif progresif. Adanya perubahan tersebut perusahaan
yang pajak terutangnya lebih besarakan lebih cenderung untuk berutang, dan perusahaan yang labanya kecil cenderung tidak banyak berutang. Penggunaan utang oleh perusahaan dapat mempengaruhi penghasilan kena pajak perusahaan lebih kecil, hal ini disebabkan karena adanya beban bunga yang timbul dari utang.
Perubahan tarif pph tersebut terjadi sampai tahun 2019, dan pada tahun 2020-2021 di sini terjadi lagi perubahannya dari persennya yaitu dari 25%
menjadi 22% berlaku untuk semua wajib pajak badan.
Fenomena yang terjadi yaitu Otoritas Pajak Meksiko, Servico de Administraction Tributaria (SAT), menuding perusahaan sektor pertambangan dan perbankan telah melakukan pengelakan pajak. Menurut perkiraan SAT, kerugian pada penerimaan pajak yang timbul akibat pengelakan oleh wajib pajak sektor pertambangan mencapai MXN 19,1 Miliar atau Rp 13,9 Triliun sepanjang 2016 hingga 2019. Pengelakan dilakukan oleh perusahaan tambang dengan mencatatkan extraction invesment sebagai biaya guna menekan nilai pajak yang harus dibayar (DDTC News).
Fenomena yang pernah terjadi diIndonesia yaitu kasus pada PT. Garuda Metalindo, hal ini dapat dilihat dari neraca perusahaan yang menggambarkan adanya peningkatan jumlah hutang (bank dan lembaga keuangan). Dalam laporan keuangan nilai utang bank jangka pendek mencapai Rp 200 miliar hingga Juni 2016, meningkat dari akhir Desember 2015 sebesar Rp48 miliar.
Emiten berkode saham BOLT ini memanfaatkan modal yang diperoleh dari
pinjaman atau utang untuk menghindari pembayaran pajak yang harus ditangggung oleh perusahaan. Presiden Direktur Garuda Metalindo Ervin Wijaya mengatakan bahwa peningkatan nilai hutang perusahaan terjadi karena perseroan menyiapkan setidaknya Rp 350 miliar belanja modal (Capital expenditure/Capex) hingga pertengahan tahun depan. Perusahaan tersebut diduga melakukan upaya-upaya penghindaran pajak, padahal memiliki aktivitas cukup banyak di Indonesia. Dan yang menarik dari kasus ini adalah terdapat banyak modus mulai dari administrasi hingga kegiatan yang dilakukan untuk menghindari kewajiban pajak. Pasalnya, secara badan usaha PT. Metalindo sudah terdaftar sebagai perseroan terbatas. Namun, dari segi permodalan, perusahaan tersebut menggantungkan hidup dari utang afilasi, ungkap Bambang. Lantaran modalnya dimasukkan sebagai utang untuk mengurangi pajak, perusahaan ini praktis terhindar dari kewajiban (Purba, 2020)
Berdasarkan fenomena diatas dapat dijelaskan bahwa PT. Garuda Metalindo melakukan penghindaran pajak dengan cara memanfaatkan modal yang diperoleh dari pinjaman atau hutang. Dengan demikian, perusahaan yang melakukan pembiayaan dengan utang, maka akan adanya biaya bunga yang harus dibayarkan, semakin besar hutang maka semakin besar juga biaya bunga yang ditanggung perusahaan. Biaya bunga yang besar tersebut dapat memberikan pengaruh berkurangnya beban pajak.
Fenomena lain juga pernah terjadi pada perusahaan pertambangan yaitu PT. Adaro Energy Tbk. Berdasarkan laporan Global Witness berjudul Taxing
Timesfor Adaro yang dirilis pada Kamis 4 Juli 2019, Adaro telah mengalihkan keuntungan dari batu bara yang ditambang di Indonesia. Hal ini untuk menghindari pajak di Indonesia. Dari laporan itu disebutkan kalau dari 2009- 2017, perseroan melalui anak usahanya di Singapura, Coaltrade Services International membayar U$D 125 juta atau lebih sedikit dari yang seharusnya dilakukan di Indonesia. Dengan mengalihkan lebih banyak dana melalui tempat bebas pajak, Adaro mungkin telah mengurangi tagihan pajak Indonesia dan uang yang tersedia untuk pemerintah Indonesia untuk layanan- layanan publik penting hampir U$D 14 juta per tahun. Sementara, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan mengaku akan mempelajari laporan Global Witness yang menyebutkan PT Adaro Energy Tbk mengalihkan keuntungan sehingga menghindari pajak lebih besar.(
Merdeka.com ). Hubungan fenomena yang di atas dengan Pph badan terutang yaitu dengan mengalihkan Keuntungan laba yang dilakukan oleh PT. Adaro Energy maka pajak terutangnya akan menjadi lebih sedikit. Hal ini karena laba yang dihasilkan di Indonesia menjadi kecil maka pajak terutangnya menjadi lebih sedikit.
Pada penelitian ini ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi pajak penghasilan suatu perusahaan diantaranya yaitu struktur modal.
Struktur modal adalah perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri yang digunakan perusahaan. dalam penelitian ini rasio yang digunakan antara lain Long Debt to Asset Ratio (LDAR) merupakan rasio yang mengukur seberapa besar jumlah aktiva yang dibiayai oleh hutang
jangka panjang. Menurut Modligiani dan Miller dalam buku Brigham dan Houston (2011) berpendapat bahwa “suatu perusahaan yang memiliki rasio hutang (leverage) akan memiliki nilai (value) lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan tanpa memiliki rasio hutang, kenaikan nilai perusahaan terjadi karena pembayaran bunga atas utang merupakan pengurang pajak sehingga laba yang mengalir kepada investor menjadi semakin besar”.
Berdasarkan penelitian sebelumnya LDAR memiliki hasil yang tidak konsisten. Penelitian Patar Simamor (2015) bahwa LDAR berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang, sedangkan penelitian setiadi (2021) bahwa LDAR tidak berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang.
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan suatu perbandingan antara nilai seluruh hutang (total debt) dengan total ekuitas. Rasio ini menunjukkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. “Semakin tinggi rasio semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham, dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang (Erna, 2014). Berdasarkan penelitian sebelumnya DER memiliki ketidak konsistenan. Penelitian Evan Nursasmita (2021) bahwa DER berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang. Sedangkan Arif Aji Kusuma Wardana (2019) bahwa DER tidak berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang.
Dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya bahwa variabel struktur modal memiliki ketidak konsistenan dalam mempengaruhi pajak penghasilan badan terutang sehingga mendorong peneliti untuk kembali melakukan pengujian mengenai pengaruh struktur modal melalui rasio Long Term Debt to Assets Ratio (LDAR) dan Debt to Equity Ratio(DER) terhadap pajak penghasilan badan terutang .
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya pada penelitian Egayanti (2022), yaitu pertama penambahan variabel independen dengan menambah variabel yang dianggap memiliki hubungan dan berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang yaitu biaya operasional, manajemen laba dan capital intensity, alasannya karena biaya operasional merupakan biaya yang dihasilkan dari operasional perusahaan, biaya operasional berpengaruh positif terhadap pajak penghasilan, dimana semakin tinggi biaya operasional maka dapat meningkatkan volume penjualan, sehingga apabila penjualan meningkat maka laba yang diperoleh akan cenderung meningkat dan mengakibatkan pajak yang dibayarkan perusahaan akan meningkat. Sedangkan untuk Manajemen laba merupakan upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan. Dalam hal ini manajer bisa untuk melakukan kecurangan, dengan melakukan motivasi pajak untuk manajer melakukan manajemen laba yaitu dengan cara memperkecil taxable income dalam rangka mengurangi pajak. Dan Capital intensity adalah seberapa besar proporsi aset tetap perusahaan dalam total aset yang dimiliki perusahaan Hampir semua
aset tetap akan mengalami penyusutan dan biaya penyusutan dapat memengaruhi jumlah pajak yang dibayar perusahaan. Semakin banyak aset tetap yang dimiliki perusahaan maka semakin rendah pajak yang dibayarkan, begitu pula sebaliknya semakin sedikit aset tetap yang dimiliki maka semakin besar pula pajak yang dibayarkan. Perbedaan kedua yaitu jenis populasi dan periode tahun yang digunakan berbeda yaitu dengan menggunakan populasi Perusahaan Pertambagan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Iindonesia Periode 2019-2021.
Biaya opersional menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pajak penghasilan badan. Biaya operasional adalah biaya yang terkait dengan operasional perusahaan yang meliputi biaya penjualan dan administrasi (selling and administrative expenses), biaya iklan (advertising expense), biaya penyusutan (Depreciation expense) serta perbaikan dan pemeliharaan (repairs and maintenance expense), untuk mengukur kinerja biaya operasional menggunakan perhitungan beban penjualan ditambah biaya administrasi dan umum, semakin rendah biaya operasional perusahaan maka semakin baik perusahaan meminimalir kerugian. Berdasarkan peneilitian sebelumnya biaya operasional memiliki hasil yang tidak konsisten, berdasarkan penelitian Dina angraini (2020) bahwa biaya operasional berpengaruh terhadap pajak penghasilan badan terutang, sedangkan berdasarkan penelitian Risandi Kurnia Widanto (2021) menyatakan bahwa biaya operasional tidak berpengaruh terhadap pajak pengahasilan badan terutang.
Capital intensity juga berpengaruh terhadap pajak Penghasilan Badan terutang. Capital intensity adalah seberapa besar proporsi aset tetap perusahaan dalam total aset yang dimiliki perusahaan. Hampir semua aset tetap akan mengalami penyusutan dan biaya penyusutan dapat memengaruhi jumlah pajak yang dibayar perusahaan. Semakin banyak aset tetap yang dimiliki perusahaan maka semakin rendah pajak yang dibayarkan, begitu pula sebaliknya, semakin sedikit aset tetap yang dimiliki maka semakin besar pula pajak yang dibayarkan. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Cici (2019) menyatakan capital intensity berpengaruh negatif terhadap pajak penghasilan.
Manajemen laba juga memiliki pengaruh terhadap pajak penghasilan terutang berdasarkan penelitian Khoirotun Nisa (2018) manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap pajak penghasilan badan terutang.
Perpajakan dapat menjadi motivasi bagi para manajer guna melakukan praktik manajemen laba, yakni dengan cara memperkecil taxable income dalam rangka meminimumkan jumlah pajak yang akan dibayarkan.
Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengubah, menyembunyikan dan merekayasa angka-angka dalam laporan keuangan dengan memainkan metode dan prosedur akuntansi yang digunakan perusahaan. Kesenjangan informasi terkadang mendorong manajer untuk berperilaku opportunist dalam mengungkapkan informasi mengenai perusahaan. Manajer hanya akan mengungkapkan informasi tertentu jika ada manfaat yang diperolehnya, apabila tidak ada manfaat yang bisa diperoleh,
manajer cenderung akan menyembunyikan atau menunda pengungkapan informasi, bahkan kalau diperlukan manajer akan mengubah informasi tersebut.
Berdasarkan penelitian terdahulu dan fenomena yang terjadi maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Struktur Modal, Biaya Operasional, Capital Intensity dan Manajemen Laba Terhadap PPh Badan Terutang Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar Di BEI Periode 2019-2021”
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan pernyataan tentang keadaan, fenomena, dan atau konsep yang memerlukan pemecahan dan solusi atau jawaban melalui suatu penelitian dan pemikiran mendalam dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan alat-alat yang relevan. Berdasarkan Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah Long Term Debt to Assets Ratio (LDAR) berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Badan Terhutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019-2021 ?
2. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Badan Terhutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019-2021 ?
3. Apakah Biaya Operasional berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019- 2021 ?
4. Apakah Capital Intensity berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019- 2021 ?
5. Apakah Manajemen Laba berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019- 2021 ?
6. Apakah Long Term Debt To Assets Ratio (LDAR), Debt to Equity Ratio (DER), Biaya Operasional, Capital Intensity dan Manajemen Laba berpengaruh secara simultan terhadap Pajak penghasilan badan terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019- 2021?.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan mengungkapkan hasil yang ingin dicapai melalui proses penelitian. Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh Long Term Debt to Assets Ratio (LDAR) terhadap Pajak Penghasilan Badan Terhutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2019-2021.
2. Untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio ( DER) terhadap Pajak Penghasilan Badan Terhutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2019-2021.
3. Untuk mengetahui pengaruh Biaya Operasional terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2019-2021.
4. Untuk mengetahui pengaruh Capital intensity terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2019-2021.
5. Untuk mengetahui pengaruh Manajemen Laba terhadap Pajak Penghasilan Badan Terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2019-2021.
6. Untuk mengetahui pengaruh Long Term Debt To Assets Ratio (LDAR), Debt to Equity Ratio (DER), Biaya Operasional, Capital Intensity dan Manajemen Laba berpengaruh terhadap Pajak penghasilan badan terutang pada perusahaan pertambangan yang terdaftar BEI periode 2019- 2021.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan menjelaskan kegunaan penelitian bagi pemerintah, masyarakat, dan ilmu pengetahuan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, diharapkan dapat member informasi:
1. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian dapat membantu Pemerintah khusus nya direktorat jendral pajak perusahaan yang berasal dari dana eksternal berupa hutang yang berbunga terkait untuk kepentingan pajak. Selain itu untuk meminimalisir praktik menejemen laba sehingga dapat mengeluarkan
peraturan yang ketat terkait penerapan transparasi dalam laporan keuangan dan berupa sanksi tegas terhadap perusahaan yang melakukan penyimpangan terhadap laporan keuangannya.
2. Bagi Ilmu pengetahuan
Penelitian ini dharapkan dapat dijadikan sebagai dasar acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan diwaktu yang akan datang.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dibuat untuk memudahkan pemahaman dan memberi gambar kepada pembaca tentang penelitian yang diuraikan oleh penulis.
BAB I : PENDAHULUAN
Unsur-unsur yang dimuat dalam bab ini yaitu : latar belakang masalah yang mendasari penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan proposal penelitian ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi mengenai landasan teori yang digunakan sebagai dasar dan bahan acuan dalam penelitian, ada juga penelitian terdahulu, kerangka pemikiran teoritis dan hipotesis.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan diuraikan variabel-variabel penelitian, penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang analisis hasil penelitian sekaligus pembahasan penelitian.
BAB V : PENUTUP
Pada Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil analisis penelitian yang dilakukan, serta saran yang diberikan berhubungan dengan pembahasan ini
14 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Keagenan ( Agency Theory )
Menurut Suwardjono (2013 : 458) teori keagenan merupakan suatu teori yang menjelaskan hubungan antara pihak principal (investor) dengan agen (manajemen) dimana agen bertindak atas nama kepentingan principal dan atas tindakan tersebut agen mendapatkan imbalan tertentu. Akan tetapi, Kepentingan dua pihak ini tidak selalu sejalan sehingga muncul benturan- benturan kepentingan antara keduanya apabila kedua pihak berusaha memaksimalkan utilitasnya masing-masing. Ada kemungkinan agen menyalahgunakan kepercayaan dari pemilik untuk mengambil keuntungan pribadi.
Jika agen tidak berbuat sesuai kepentingan principal, maka akan terjadi konflik keagenan (agency conflict), sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Agency problem adalah benturan kepentingan yang potensial antara prinsipal dengan agen. Dan adanya permasalahan keagenan merupakan penyebab munculnya agency cost. Agency cost dalah biaya yang muncul akibat adanya permasalahan keagenan. Konflik keagenan dapat dihindari dengan menggunakan jasa pihak ketiga yang bersifat independen, yaitu auditor eksternal dalam hal ini adalah akuntan publik. Dengan adanya auditor yang independen diharapkan tidak terjadi kecurangan dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. Berdasarkan asumsi tersebut, maka
dibutuhkan pihak ketiga yang independen, dalam hal ini adalah akuntan publik.
Teori agensi menjelaskan ada kepentingan yang berbeda antara manajemen sebagai agen dan pemilik sebagai prinsipal. Disatu sisi pemilik menginginkan nilai perusahaan yang tinggi untuk mendapat laba yang besar.
Maka dari itu agen melakukan penggunaan hutang. Dengan penggunaan hutang tersebut, maka adanya beban bunga atas hutang yang termasuk biaya usaha yang dapat menjadi pengurang penghasilan, sehingga menyebabkan laba kena pajak perusahaan menjadi berkurang yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar perusahaan atau PPh badan terutang akan berkurang.
2.2 Teori Atribusi (Atribution Theory)
Pada dasarnya teori atribusi menyatakan bahwa bila seorang individu mengamati perilaku seseorang, maka mereka akan mencoba untuk menentukan apakah perilaku tersebut ditimbulkan secara internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan internal adalah yang dipercaya pengamat berada dalam kendali perilaku pribadi dan individu, sedangkan perilaku yang disebabkan eksternal adalah situasi yang memaksa individu untuk melakukannya atas dasar sesuatu yang dibayangkan seseorang tersebut (Robbins,2015 : 105).
Penentuan tersebut tergantung pada tiga faktor, yaitu perbedaan, konsensus, dan konsistensi. Perbedaan merujuk pada apakah seseorang individu menampilkan perilaku yang berbeda dalam situasi yang berbeda.
Konsensus, yaitu perilaku individu saat menghadapi situasi yang sama memberikan respons yang sama. Konsistensi, merupakan bentuk tindakan seseorang dalam merespons sesuatu apakah dengan cara yang sama sepanjang waktu (Robbins, 2015 : 105).
Salah satu temuan dari riset teori atribusi adalah bahwa kesalahan atau bias mengganggu atribusi. Kesalahan atribusi fundamental menunjukkan kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor-faktor eksternal dan melebihkan pengaruh faktor-faktor internal atau pribadi ketika membuat penilaian mengenai perilaku orang lain. Bias pelayanan diri menunjukkan kecenderungan individu untuk mengatribusikan kesuksesan mereka pada faktor-faktor internal seperti kemampuan atau usaha, tetapi menyalahkan kegagalan pada faktor-faktor eksternal (Robbins, 2015 : 105).
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi Wajib Pajak mengenai etika atas penggelapan pajak (tax evasion) dijelaskan dengan teori atribusi eksternal. Teori tersebut menjelaskan bahwa kondisi di luar diri individu yang nantinya akan mempengaruhi individu tersebut dalam berperilaku, dapat diartikan bahwa individu akan berperilaku bukan disebabkan oleh keinginan sendiri, melainkan karena desakan atau situasi. Alasan pemilihan teori ini adalah kemauan wajib pajak untuk membayar pajak terkait dengan persepsi wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Persepsi seseorang untuk membuat penilaian mengenai sesuatu sangat dipengaruhi oleh kondisi internal maupun eksternal dari orang tersebut. Jadi teori atribusi sangat relevan untuk menerangkan maksud tersebut.
2.3 Struktur Modal
2.3.1 Pengertian Struktur Modal
Struktur Modal mengindikasikan bagaimana perusahaan membiayai kegiatan operasionalnya atau bagaimana perusahaan membiayai aktivanya. (Kasmir, 2012 : 213) mengatakan bahwa
“Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca”. Struktur finansial mencerminkan pula perimbangan antara keseluruhan modal asing (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri”.
Struktur modal merupakan perbandingan antara hutang (modal asing) dengan ekuitas (modal sendiri) yang diukur melalui DER.
Manajemen pendanaan pada hakekatnya menyangkut keseimbangan finansial di dalam perusahaan yaitu keseimbangan antara aktiva dengan pasiva yang dibutuhkan beserta mencari susunan kualitatif dari aktiva dan pasiva tersebut dengan sebaik-baiknya.
Pemilihan susunan kualitatif dari aktiva akan menentukan struktur kekayaan perusahaan, sedang pemilihan susunan kualitatif dari pasiva akan menetukan struktur finansial (struktur pendanaan) dan struktur modal perusahaan (Brigham, 2014 : 179).
Pada prinsipnya setiap perusahaan membutuhkan dana. Pemenuhan dana tersebut dapat berasal dari sumber intern ataupun sumber ekstern.
Namun umumnya perusahaan cenderung menggunakan modal sendiri
sebagai modal permanen dari pada modal asing yang hanya digunakan sebagai perlengkap apabila dana yang diperlukan kurang mencukupi.
Karena itu, para manajer keuangan dengan tetap memperhatikan cost of capital perlu menentukan struktur pendanaan dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal asing.
Dalam melakukan keputusaan pendanaan, perusahaan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber dana ekonomis guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya. Untuk itu, dalam penetapan struktur pendanaan, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Struktur modal merupakan bauran biaya jangka panjang permanen dalam perusahaan yang mewakili utang, saham preferen, dan saham biasa (Van Horne, 2013 : 2).
Struktur Modal adalah gambaran dari bentuk proposi finansial perusahaan yaitu modal yang dimiliki yang bersumber dari utang jangka panjang (long-term liabilities) dan modal sendiri (shareholders equity) yang menjadi sumber pembiayaan suatu perusahaan (Irham Fahmi, 2017 : 179).
2.3.2 Rasio Struktur Modal
Weston dan Copeland memberikan suatu konsep tentang faktor leverage sebagai rasio proksi dari struktur modal. Faktor leverage adalah rasio antara nilai buku seluruh hutang (Debt = D) terhadap total
aktiva (Total Aset = TA) atau nilai total perusahaan. Bila membahas tentang total aktiva yang dimaksudkan adalah total nilai buku dari aktiva perusahaan berdasarkan catatan akuntansi. Nilai total perusahaan berarti total nilai pasar seluruh komponen seluruh modal perusahaan.
Rasio leverage merupakan rasio untuk mengukur seberapa bagus struktur permodalan perusahaan. Struktur permodalan merupakan pendanaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham (Andy azhari, 2015:22).
Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu perusahaan, perlu mengadakan analisa atau interprestasi terhadap data finansial dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam laporan keuangan. Menurut Syafrida Hani (2015:124) menyatakan bahwa rasio leverage atau struktur modal dapat diukur dengan:
a. Debt to Total Assets Ratio (DAR)
Debt to Total Assets Ratio (DAR) yaitu rasio yang menghitung berapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibiayai dengan utang. Rasio ini dapat dihitung dengan membandingkan total hutang dengan total aset yang dimiliki perusahaan
b. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) menunjukan berapa bagian dari setiap perusahaan dari setiap modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk
keseluruhan hutangnya. Rasio ini dapat dihitung dengan membandingkan total hutang yang dimiliki perusahaan dengan seluruh modal yang dimiliki perusahaan.
c. Long term Debt to Equity Ratio (LDER)
Rasio ini mengukur besar kecilnya penggunaan hutang jangka panjang dibandingkan dengan modal sendiri perusahaan.
Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan hutang jangka panjang dengan cara membandingkan antara hutang jangka panjang denga n modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
d. Long term Debt to Asset Ratio (LDAR)
Rasio ini membandingkan hutang jangka panjang perusahaan (long term debt) dengan total aktiva (total asset). Rasio ini menggambarkan berapa proporsi hutang jangka panjang yang digunakan perusahaan untuk menggambarkan berapa proporsi hutang jangka panjang yang digunakan perusahaan untuk membiayai aktivanya dan untuk menunjukkan investasi-investasi atau aset perusahaan.
2.3.3 Komponen-Komponen Struktur Modal
Menurut Bambang (2012 : 238) struktur modal suatu perusahaan secara umum terdiri atas modal asing dan modal sendiri, berikut penjelasan mengenai kedua komponen tersebut.
1. Modal Asing/ Utang Jangka Panjang (Long-term Debt)
Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya Sementara bekerja dalam perusahaan, dan bagi perusahaan tersebut merupakan utang, pada saatnya harus dibayar kembali. Mengenai modal asing atau hutang dapat dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu:
a. Modal asing/ utang jangka pendek (short-term debt) yaitu yang jangka waktunya pendek, yaitu kurang dari satu tahun.
b. Modal asing/ utang jangka menengah (intermediate-term debt) yaitu yang jangka waktunya antara 1 sampai 10 tahun.
c. Modal asing/utang jangka panjang (long-term debt) yaitu yang jangka waktunya lebih dari 10 tahun.
Modal asing/ utang jangka panjang adalah utang yang jangka waktunya yang umumnya lebih dari sepuluh tahun. utang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan (ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan, karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah
yang besar. Adapun jenis utang jangka panjang terdiri dari pinjaman obligasi dan pinjaman hipotik.
a. Pinjaman Obligasi
Pinjaman obligasi adalah pinjaman uang untuk jangka waktu yang panjang dimana debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang mempunyai nominal tertentu. Pelunasan atau pembayaran kembali pinjaman obligasi dapat diambil dari penyusutan aktiva tetap yang dibelanjai dengan pinjaman obligasi tersebut dan dari keuntungan.
b. Pinjaman Hipotik
Pinjaman hipotik adalah pinjaman jangka panjang di mana pemberi uang (kreditur) diberi hak hipotik terhadap suatu barang tidak bergerak, agar bila pihak debitur tidak memenuhi kewajibannya, barang itu dapat dijual dan dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutup tagihannya
2. Modal Sendiri
Modal sendiri adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya. Modal sendiri berasal dari sumber intern dan sumber ekstern. Sumber intern berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan sumber ekstern berasal dari modal yang berasal dari pemilik perusahaan. Modal sendiri dalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) terdiri dari:
1) Modal Saham
Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu Perseroan Terbatas (PT), dimana modal saham terdiri dari:
a) Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah bentuk komponen modal jangka panjang yang ditanamkan oleh investor, dimana pemilik saham ini, dengan memiliki saham ini berarti ia membeli prospek dan siap menanggung segala risiko sebesar dana yang ditanamkan.
b) Saham Preferen (Prefferend Stock)
Saham preferen adalah bentuk komponen jangka panjang yang kompensasinya (dividen) dibayarkan lebih dahulu (utama) sebelum membayar kompensasi saham biasa.
2) Laba Ditahan
Laba ditahan adalah sisa laba dari keuntungan yang dibayarkan sebagai dividen. Komponen modal sendiri ini merupakan modal dalam perusahaan yang dipertaruhkan untuk segala risiko, baik risiko usaha maupun risiko kerugian-kerugian lainnya. Modal sendiri ini tidak memerlukan adanya jaminan atau keharusan untuk pembayaran kembali dalam setiap keadaan maupun tidak adanya kepastian tentang jangka waktu pembayaran kembali modal yang disetor. Oleh karena itu, tiap-tiap perusahaan
harus mempunyai sejumlah minimum modal yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Modal sendiri yang bersifat permanen akan tertanam dalam perusahaan dan dapat diperhitungkan pada setiap saat untuk memelihara kelangsungan hidup serta melindungi perusahaan dari risiko kebangkrutan.
3) Cadangan
Cadangan merupakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa waktu, tahun atau dari tahun berjalan yang disisihkan sebagai cadangan. Cadangan yang termasuk modal sendiri adalah cadangan ekspansi, cadangan modal kerja, cadangan selisih kurs, cadangan untuk menampung hal-hal atau kejadian yang tidak terduga.
2.4 Biaya Operasional
2.4.1 Pengertian Biaya Operasional
Menurut Werner Murhadi (2013 : 37), bahwa biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan yang berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan yang meliput biaya penjualan dan administrasi, biaya penyusutan, biaya iklan, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan.
Menurut Jopie Jusuf (2014 : 38) mengemukakan biaya operasional sebagai berikut: “Biaya operasional atau biaya usaha (Operating Expenses) adalah biaya-biaya yang tidak berhubungan
langsung dengan produk perusahaan tetapi berkaitan dengan aktivitas perusahaan sehari-hari”.
Konsep biaya menurut Charter (2012 : 30) adalah suatu nilai tukar, pengeluaran, atau pengorbanan yang dilakukan untuk menjamin perolehan manfaat. Pengeluaran atau pergorbanan dalam akuntansi keuangan, dicerminkan oleh penyusutan atas kas atau atas aset lain.
Adapun biaya yang terjadi dan dibukukan dalam laporan laba rugi selanjutnya disebut dengan beban.
2.4.2 Pengukuran Biaya Operasional
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2015:86) terdapat 2 indikator biaya operasional yaitu sebagai berikut:
a. Biaya penjualan, adalah seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penjualan sampai barang itu berada di tangan konsumen, sep erti biaya pengiriman, pajak-pajak yang berkenaan dengan penjualan, promosi, dan gaji tenaga penjual.
b. Biaya umum dan administrasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan di luar kegiatan penjualan seperti kegiatan administrasi, kegiatan personalia, dan umum. Misalnya gaji pegawai bagian umum (yang bukan barang produksi, pemasaran), air, telepon, pajak, iuran, dan biaya kantor.
Biaya pemasaran merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan produksi dan pemasaran produk. (Mulyadi, 2014 :14). Dapat dirumuskan sebagai berikut :
2.5 Capital Intensity
Capital intensity atau rasio intensitas modal adalah aktivitas investasi perusahaan yang dikaitkan dengan investasi asset tetap dan persediaan. Rasio intensitas modal dapat menunjukan efisiensi penggunaan aktiva untuk menghasilkan penjualan. Capital intensity juga dapat didefenisikan dengan bagaimana perusahaan berkorban mengeluarkan dana untuk aktivitas operasi dan pendanaan aktiva guna memperoleh keuntungan perusahaan.
Capital intensity adalah rasio aktivitas investasi yang dilakukan perusahaan yang dikaitkan dengan investasi dalam bentuk asset tetap (intensitas modal) dan persediaan (intensitas persediaan). Rasio intensitas modal dapat menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan assetnya untuk menghasilkan penjualan. Hampir semua asset tetap mengalami penyusutan dan biaya penyusutan dapat mengurangi jumlah pajak perusahaan Wulandari (2022). Biaya depresiasi merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan dalam menghitung pajak, maka dengan semakin besar jumlah asset tetap yang dimiliki oleh perusahaan maka akan semakin besar pula depresiasinya sehingga mengakibatkan jumlah penghasilan kena pajak semakin kecil.
2.6 Manajemen Laba
2.6.1 Pengertian Manajemen Laba
Menurut R.A Supriyono (2018 : 123) manajemen laba adalah semua tindakan yang digunakan oleh para manajer untuk mempengaruhi laba sesuai dengan tujuannya. Manajemen laba merupakan permasalahan moral yang paling penting bagi profesi akuntansi. Manajemen laba dapat diartikan sebagai sebuah trik akuntansi dimana fleksibilitas dalam penyusunan laporan keuangan digunakan atau dimanfaatkan oleh manajer yang berusaha untuk memenuhi target laba.
Secara umum, manajemen laba merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasiinformasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaa. Istilah intervensi dapat digunakan sebagai dasar sebagian pihak untuk menilai manajemen laba sebagai kecurangan.
Tetapi pihak lain tetap menganggap kegiatan rekayasa manajerial ini bukan sebagai kecurangan. Alasan intervensi itu dilaksanakan manajer perusahaan dalam kerangka standart akuntansi adalah masih menerapkan metode dan prosedur akuntansi yang diterima dan diakui secara umum.
2.6.2 Motivasi Manajemen Laba
Secara umum ada beberapa hal yang dapat memotivasi individu atau badan usaha untuk melakukan tindakan creative accounting atau manajemen laba (Sulistiawan, 2019 : 34), yaitu :
a. Motivasi Bonus
Dajlajm melajkukajn sebuajh perjajnjiajn bisnis, biajsajnyaj pemegajng sajhajm ajkajn memberikajn sejumlajh insentif dajn bonus sebajgaji feedbajck ajtaju evajluajsi ajtajs kerjaj majnajjer dajlajm menjajlajnkajn operajsionajl perusajhajajn. Insentif tersebut diberikajn dajlajm jumlajh relajtif tetajp dajn rutin, semajntajraj bonus yajng relajtif lebih besajr nilajinyaj hajnyaj ajkajn diberikajn ketikaj kinerjaj majnajjer berajdaj di ajreaj pencajpajiajn bonus yajng telajh ditetajpkajn oleh pemajgajng sajhajm. Kinerjaj majnajjer sajlajh sajtu nyaj diukur dajri pencajpajiajn lajbaj usajhaj. Pengukurajn kinerjaj yajng didajsajrkajn pajdaj lajbaj dajn skemaj bonus ini ajkajn memotivajsi pajraj majnajjer untuk memberikajn performaj terbajiknyaj sehinggaj tidajk menutup peluajng merekaj ajkajn melajkukajn tindajkajn majnajjemen lajbaj ajgajr dajpajt memperlihajtkajn kinerjaj yajng bajik untuk memperoleh bonus yajng majksimajl.
b. Motivasi uang
Selajin melajkukajn kontrajk bisnis dengajn pemegajng sajhajm untuk kepentingajn ekspajnsi perusajhajajn, majnajjer sering kajli melajkukajn beberajpaj kontrajk bisnis dengajn pihajk ketigaj, dajlajm hajl
ini ajdajlajh kreditor. Ajgajr kreditor maju menginvestajsikajn dajnaj nyaj di perusajhajajn tentunyaj majnajjer hajrus menunjukajn performaj yajng bajik dajri perusajhajajn nyaj.untuk memperoleh hajsil majksimajl, yajitu pinjajmajn dajlajm jumlajh besajr, prilajku kreajtif dajri majnajjer untuk menajmpilkajn performaj yajng bajik dajri lajporajn keuajngajnnyaj pun sering kajli muncul.
c. Motivasi pajak
Prajktik majnajjemen lajbaj tidajk hajnyaj terjajdi pajdaj perusajhajajn go public dajn selajlu untuk kepentingajn hajrgaj sajhajm, tetajpi jugaj untuk kepentingajn perpajjajkajn. Kepentingajn ini bajnyajk dilajkukajn oleh perusajhajajn-perusajhajajn yajng belum go public. Perusajhajajn yajng belum go public ajkajn cenderung melajporkajn dajn menginginkajn untuk menyajjikajn lajporajn lajbaj fiskajl yajng lebih rendajh dajri nilaji yajng sebenajrnyaj. Kecenderungajn tersebut menjajdi motivajsi majnajjer untuk bertindajk kreajtif melajkukajn tindajkajn majnajjemen lajbaj supajyaj seolajh-olajh lajbaj fiskajl yajng dilajporkajn memajng lebih rendajh tajnpaj melajnggajr ajturajn dajn kebijajkajn ajkuntajnsi perpajjajkajn.
d. Motivasi Initial Public Offering (IPO)
Motivajsi ini bajnyajk digunajkajn perusajhajajn yajng ajkajn go public ajtajupun yajng sudajh go public. Perusajhajajn yajng ajkajn go public ajkajn melajkukajn penajwajrajnn sajhajm perdajnajnyaj ke public ajtaju lebih dikenajl dengajn istilajh Initiajl Public Offering (IPO)