• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN. Global Maritim Fulcrum Belt Road Initiative (GMF-BRI) merupakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDAHULUAN. Global Maritim Fulcrum Belt Road Initiative (GMF-BRI) merupakan"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Global Maritim Fulcrum – Belt Road Initiative (GMF-BRI) merupakan salah satu kerjasama dalam rangka meningkatkan pengembangan koridor ekonomi regional komprehensif antara Indonesia dan Tiongkok. Dalam kerjasama tersebut, ada setidaknya 30 proyek yang diusulkan pemerintah Indonesia ke pemerintah Tiongkok yang terbagi menjadi empat koridor, diantaranya yaitu koridor Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan Bali. Fokus utama dari 30 proyek yang diusulkan mencakup pengembangan ekowisata, pembangkit listrik tenaga air dan pengembangan industry regional. Untuk Nota Kesepahaman (MoU) terkait Peningkatan Kerjasama Pengembangan Ekonomi Regional Komprehensif ditandatangani pada 7 Mei 2018. Sedangkan, untuk kesepakatan MoU kerjasama dalam kerangka GMF-BRI ditandatangani pada 23 Oktober 2018 bersamaan dengan penandatangan MoU pembentukan Komite Pelaksana Pengembangan Koridor Ekonomi Regional Komprehensif. Prinsip dasar dari kerjasama GMF- BRI ini menekankan pada penggunaan teknologi canggih dan ramah lingkungan, pemanfaatan tenaga kerja lokal, penggunaan pendekatan pengembangan integrasi, melakukan transfer teknologi, pola kerjasama B to B dan diorientasikan pada kebutuhan pasar. Yang mana pemerintah berperan sebagai pendukung kebijakan.1

1 Kemenko Marves. (2020, Januari 14). Capaian Kinerja Kemenko Bidang Kemaritiman Kabinet Kerja 2014-2019. Retrieved April 01, 2022, from maritim.go.id:

(2)

2

Awal mula kebijakan ini muncul dimulai pada 7 September tahun 2013 ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan ke Kazakstan.2 Dalam kunjungan tersebut, Presiden Tiongkok berinisiatif untuk membangun sabuk ekonomi jalur sutra yang mencakup negara-negara di Eropa dan Asia. Di tahun yang sama, tepatnya pada 3 Oktober 2013 ketika melakukan kunjungan ke Indonesia, inisiatif terkait membangun sabuk ekonomi jalur sutra berkembang ke sektor maritim. Kedua inisiatif tersebut di tahun 2015 kemudian di resmikan oleh Presiden Tiongkok dan lebih dikenal dengan istilah OBOR (One Belt One Road).3 Alasan utama kenapa Tiongkok memilih sektor maritim sebagai salah satu fokus kerjasama BRI dilatar belakangi oleh dua faktor pertama Tiongkok merupakan negara maritim dan berupaya untuk menjadi negara maritim berkekuatan besar.

Kedua, setelah melakukan kunjungan ke Indonesia, pemerintah Tiongkok menyadari bahwasanya secara geografis Asia Tenggara memiliki keunikan dibidang maritim, maka dari itu jalur sutra diperluas ke Samudra Hindia dan Eropa dengan menjadikan wilayah Asia Tenggara sebagai prioritas utama mitra BRI.4

https://maritim.go.id/konten/unggahan/2019/10/Paparan-Capaian-Kinerja-Menko-Maritim-14-10- 2019-revv1.pdf

2Maratuthoharoh, A. (2016). Signifikansi Pembangunan Silk Road di Asia Tengah bagi Keamanan Energi Tiongkok. Jurnal Analisis Hubungan Internasional Universitas Airlangga Vol. 5 No. 3, 1.

3Wibawati, S. W., Sari, M., & Sulistyani, Y. (2018). Potensi dan Tantangan One Belt One Road (OBOR) Bagi Kepentingan Nasional Indonesia di Bidang Maritim. Jurnal Kajian Wilayah Vol. 9 No. 2, 110.

4Jianren, L. (2016). The 21st Century Maritim Silk Roa and China-Asean Industri Cooperation.

International Journal of China Studies Vol.7 No.3, 375-376.

(3)

3

Tujuan lain jalur sutra maritim ini dibentuk untuk mempromosikan perdagangan internasional dan transportasi laut. Pemerintah Tiongkok berupaya untuk menghubungkan beberapa pelabuhan di wilayah berkembang Tiongkok menuju negara-negara berkembang dan kawasan ekonomi seperti negara-negara ASEAN, Kepulauan Pasifik, Kawasan Samudra Hindia, Koridor Ekonomi Semenanjung Tiongkok-Indochina serta Afrika. Namun sayangnya, sebagian besar negara yang masuk dalam jalur sutra maritim Tiongkok merupakan negara berkembang yang memiliki kinerja logistik yang rendah. Sehingga, Tiongkok berupaya untuk mengembangkan jaringan pelayaran dan koneksi pelabuhan baru untuk memperbaiki kinerja logistik dan memperlancar rantai pasokan global. 5

Senada dengan kemunculan BRI, Presiden Joko Widodo berkeinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Pada tahun 2014 ketika melakukan pertemuan KTT Asia Timur di Myanmar, Presiden Joko Widodo mengumumkan visinya untuk menjadikan Indonesia sebagai Global Maritime Fulcrume (GMF).6 Fokus utama dalam kebijakan tersebut adalah melakukan modernisasi pelabuhan agar sesuai dengan standart internasional.

Salah satunya dengan membangun pelabuhan Tol Laut (Sea Highway Project) untuk menghubungkan Indonesia Barat dan Timur melalui konektivitas

5Lam, J. S., Cullinane, K. P., & Lee, P. T.-W. (2018). The 21st-century Maritim Silk Road : Challanges and Opportunities for transport management and practice. Transport Reviews 38:4, 413-415.

6 Yakti, P. D., & Susanto, J. (2011). Poros Maritim Dunia Sebagai Pendekatan Strategi Maritim Indonesia : Antara Perubahan atau Kesinambungan Strategi. Jurnal Global & Strategi No.2, 114.

(4)

4

pelabuhan.7 Dalam kebijakannya, pemerintah setidaknya menetapkan 24 pelabuhan utama untuk dijadikan tol laut diantaranya 8 pelabuhan di wilayah Sumatera (Banda Aceh, Belawan, Dumai, Kuala Tanjung, Batam, Padang, Pangkal Pinang, Panjang), 3 pelabuhan di wilayah Jawa (Tanjung Priok, Cilacap, Tanjung Perak), 2 pelabuhan di wilayah Nusa Tenggara (Lombok, Kupang), 4 pelabuhan di wilayah Kalimantan (Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Maloy), 2 pelabuhan di wilayah Sulawesi (Makassar, Bitung) dan 5 pelabuhan di wilayah Maluku dan Papua (Halmahera, Ambon, Sorong, Jayapura, Merauke).8

Sehubungan dengan 30 proyek yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia dalam kerjasama GMF-BRI, disepakatinya Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai satu-satunya pelabuhan yang masuk dalam kerjasama GMF-BRI ini menjadi penting untuk diteliti. Hal ini dikarenakan proyek GMF fokus utamanya adalah modernisasi pelabuhan berstandar internasional. Namun, dari ke dua puluh empat pelabuhan tol laut yang telah ditetapkan dalam proyek GMF, hanya pelabuhan Kuala Tanjunglah yang masuk dalam skema kerjasama GMF-BRI dan menjadi proyek tahap pertama yang mencapai Framework Agreement.

1.2 Rumusan Masalah

Dari beberapa penjelasan yang telah peneliti sebutkan pada sub bab sebelumnya, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan rumusan masalah

7Kusdarjito, C. (2019). China’s Belt and Road Initiatives and Indonesia’s Maritim Fulcrum:Building scenarios for economic multipolarity in South East Asia. Advances in Economics, Business and Management Research, volume 86, 45.

8Kemenko Marves. (2016, Mei 31). Manfaat Tol Laut Sangat Besar. Retrieved from Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi: https://maritim.go.id/manfaat-tol-laut-sangat-besar/

(5)

5

berupa mengapa pelabuhan Kuala Tanjung terpilih sebagai satu-satunya pelabuhan tol laut yang masuk dalam skema kerjasma GMF-BRI?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah yang telah peneliti sebutkan sebelumnya, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan terpilihnya pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung dalam kerjasama GMF-BRI.

1.3.2 Manfaat Penelitian

a. Manfaat Akademis

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi dunia akademisi khususnya para akademisi hubungan internasional terkait pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai percepatan ekonomi Indonesia berskema GMF-BRI serta indikator apa yang menjadi pertimbangan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung dilakukan.

b. Manfaat Praktis

Melalui penelitian ini, baik penulis ataupun pembaca akan mendapat gambaran terkait kondisi ekonomi domestik di Indonesia dan bagaimana pemerintah Indonesia melalukan percepatan ekonomi Indonesia melalui pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung. Sehingga dengan adanya

(6)

6

penelitian ini, penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi bagi peniliti selanjutnya yang memiliki pokok pembahasan yang sama.

1.4 Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti ingin mencantumkan beberapa penelitian terdahulu yang memiliki kemiripan tema pembahasan, sehingga bisa menjadi dasar dan penjelas perbedaan terkait penelitian yang peneliti tulis dengan penelitian yang lain. Selain itu penelitian-penelitian tersebut juga bisa menjadi salah satu bukti orisinalitas penelitian yang peneliti angkat.

Adapun beberapa penelitian terdahulu tersebut diantaranya, penelitian pertama adalah skripsi milik Randi Sulaksana dengan judul Analisis Kerja Sama Kebijakan Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo Dengan Kebijakan 21st Century Maritim Silk Road Presiden Xi Jinping.9 Penelitian ini meneliti tentang mengapa Indonesia memutuskan untuk bekerjasama dengan Tiongkok dalam konteks kebijakan poros maritim dunia. Sebagai penjelasan isu, peneliti menyebutkan kesepakatan kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dengan Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat sebagai bahan perbandingan. Ketiga kesepakatan tersebut, dijelaskan melalui teori rational choice sebagai alat analisa dengan menggunakan 3 variabel yaitu cost, benefit dan constraints.

9Sulaksana, R. (2019). Skripsi : Analisis Kerja Sama Kebijakan Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo Dengan Kebijakan 21st Century Maritim Silk Road Presiden Xi Jinping . Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

(7)

7

Pada analisa kerjasama yang dilakukan antara Indonesia dengan Jepang di bidang maritim, peneliti menyebutkan bahwasanya kerugian terbesar yang akan diterima Indonesia ada pada industri perikanan akibat dari kebijakan cold chain dan cold storage. Yang mana ikan yang ditangkap oleh para nelayan harus langsung disetorkan ke pihak Jepang yang berdampak pada kedudukan industri perikanan Indonesia di ranah internasional melemah, serta pergerakan Indonesia untuk melakukan pengolahan ikan secara mandiri semakin terbatas dan lebih menguntungkan Jepang. Adapun keuntungan yang diperoleh jika Indonesia bekerjasama dengan Jepang adalah Indonesia memiliki jaminan perdamaian dan stabilitas keamanan, pembangunan berkelanjutan yaitu terlaksananya program pembangunan negara kepulauan, jaminan pelatihan kejuruan sebagai salah satu cara transfer bidang keilmuan serta pembangunan infrastruktur dan konektivitas bidang maritim. Namun kendala utama dari kerjasama ini terkait pada minimnya jumlah investasi yang dikeluarkan Jepang dan rencana program yang belum signifikan.

Kemudian pada analisa kerjasama yang dilakukan antara Indonesia dengan Amerika Serikat di bidang maritime. Peneliti menyebutkan bahwasanya kerjasama yang ditawarkan oleh Amerika lebih mengacu pada satu pilar maritim dari lima pilar yang telah dipaparkan Presiden Jokowi terkait program poros maritim dunia.

Sedangkan, untuk keuntungan yang diperoleh kerjasama ini akan membantu Indonesia terkait penangan illegal fishing dan bentuk kejahatan lainnya yang memungkinkan terjadi di laut. Namun, kendala utama dari kerjasama ini adalah konsentrasi program yang ditawarkan Amerika yaitu menjadikan Selat Malaka

(8)

8

dan Selat Singapura sebagai pangkalan keamanan untuk melakukan pengawasan maritim. Hal ini dianggap akan menyebabkan banyak kesalahan penyebaran informasi antara pusat informasi satu dengan pusat informasi yang lainnya. Selain itu, dengan kondisi Indonesia yang belum memiliki infrastruktur yang belum memadai justru akan membuat kerjasama tidak berjalan secara komprehensif.

Sedangkan untuk analisa kerjasama yang dilakukan Indonesia dengan Tiongkok, kerugian yang akan diterima lebih berfokus pada masalah Laut China Selatan yang berdampak pada terancamnya keamanan kawasan. Tak cukup disitu, konsep investasi yang ditawarkan lebih mengarah ke hutang jangka panjang. Yang itu berarti jumlah pertambahan hutang yang dimiliki Indonesia ke Tiongkok lebih besar dari jumlah investasi yang akan diterima. Meskipun demekian, rencana pembangunan yang diinginkan Indonesia terjamin, keamanan dan pertahanan maritim termasuk di dalamnya transfer teknologi juga tersepakati. Sayangnya, nelayan Tiongkok merupakan pelanggar utama dari illegal fishing di wilayah Indonesia khususnya di wilayah Natuna. Serta sikap agresive Tiongkok pada konflik Laut China selatan akan berpengaruh besar pada keamanan maritim di kawasan.

Dari penjabaran diatas, bisa kita ketahui bahwasanya persamaan penelitian tersebut dengan penelitian milik peneliti adalah sama-sama membahas kerjasama GMF-BRI. Adapun perbedaan antara penelitian tersebut dengan milik peneliti adalah jika penelitian tersebut lebih menekankan pada pemilihan Tiongkok sebagai mitra kerjasama kebijakan poros maritim dunia di Indonesia, sedangkan

(9)

9

penelitian milik peneliti lebih menekankan pada alasan terpilihnya pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Penelitian kedua adalah skripsi milik Selly Lidiana dengan judul Kepentingan Indonesia Bekerjasama dengan Tiongkok dalam Pembangunan Infrastruktur Pelabuhan Era Joko Widodo.10 Pada penelitian ini membahas terkait kepentingan apa yang dimiliki Indonesia untuk melakukan kerjasama dengan Tiongkok dalam pembangunan infrastruktur pelabuhan di era Jokowi.

Penjelasan dimulai dari kondisi hubungan kerjasama antara kedua negara, dengan memberikan gambaran umum terkait pelabuhan yang ada di Indonesia dan seberapa penting pelabuhan bagi Indonesia. Kemudian melalui teori kepentingan nasional dan kerjasama bilateral, peneliti juga memaparkan beberapa kendala yang dimiliki oleh pelabuhan Indonesia seperti tingkat kedalaman kolam yang hanya 5,5 meter, fasilitas pelabuhan yang minim yang berpengaruh pada tingginya biaya logistik serta sistem administrasi yang buruk khususnya terkait penanganan ekspor dan impor

Kemudian peneliti juga membahas konsep dari visi poros maritim dunia yang di gagas oleh presiden Jokowi merupakan upaya untuk menjamin konektivitas antar pulau yang ada di Indonesia. Pemilihan Tiongkok sebagai mitra kerjasama pembangunan pelabuhan dikarenakan teknologi yang diimplikasikan di pelabuhan Tiongkok sudah jelas dan tidak bisa diragukan lagi kecanggihahannya.

10Lidiana, S. (2018). Skripsi : Kepentingan Indonesia Bekerjasama dengan Tiongkok dalam Pembangunan Infrastruktur Pelabuhan Era Koko Widodo. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

(10)

10

Keberhasilan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan bagi Indonesia untuk melakukan kerjasama pembangunan pelabuhan dengan Tiongkok.

Dari pemaparan di atas, bisa kita ketahui bahwasanya persamaan yang dimiliki antara penelitian tersebut dengan penelitian milik peneliti adalah pembahasan yang mengacu pada kepentingan Indonesia melalui pembangunan pelabuhan. Adapun perbedaan penelitian antara keduanya yaitu, pada penelitian tersebut lebih menekankan pembahasan kerjasama Indonesia dengan Tiongkok terkait pembangunan pelabuhan yang ada di Indonesia secara keseluruhan.

Sedangkan, pembahasan milik peneliti lebih menekankan pada alasan Indonesia memasukkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Penelitian ketiga adalah skripsi milik Ida Bagus Wicitra Dyaksa dengan judul Analisis Dampak Penetapan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai Hub Port Internasional.11 Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan tinjauan pustaka berupa pelabuhan dan kapal. Tinjauan pustaka tersebut untuk meneliti tentang penetapan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hub port internasional dengan melakukan perbandingan terhadap Pelabuhan Tanjung Priok dan Port Singapura.

Penjelasan dimulai dari penggambaran umum pelabuhan kemudian dilakukan perhitungan terkait biaya transportasi, perhitungan volume serta potensi dari pelabuhan jika dijadikan sebagai transhipment. Dari hasil analisa tersebut

11Dyaksa, I. B. (2016). Skripsi : Analisis Dampak Penetapan Pelabuhan Kuala Tanjung Sebagai Hub Port Internasional. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

(11)

11

menghasilkan penelitian bahwa, penetapan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan hub internasional berdampak pada kenaikan biaya pendistribusian peti kemas sebanyak 40 persen dibandingkan melalui rute pelabuhan Tanjung Priok.

Hal ini akan terjadi apabila, jumlah porsi pelabuhan Kuala Tanjung menggantikan pelabuhan Tanjung Priok dalam pendistribusian peti kemas sebanyak 100 persen.

Tak hanya itu, pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan transhipment terkait pendistribusian peti kemas internasional memiliki biaya lebih tinggi di bandingkan melalui port of Singapore. Namun apabila tujuan pendistribusian 80 persen peti kemas dikirim ke Indonesia, total biaya yang akan dikeluarkan lebih rendah.

Dari hasil penelitian tersebut, adapun persamaan penelitian milik peneliti dengan penelitian tersebut adalah sama-sama membahas terkait dampak pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung. Namun yang membedakan disini, penelitian tersebut menekankan pembahasan pada penetapan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan hub internasional yang menitik beratkan pembahasan pada biaya pendistribusian dan potensi volume pelabuhan. Sedangkan penelitian milik peneliti lebih membahas alasan Indonesia memasukkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI..

Rujukan penelitian keempat peneliti adalah jurnal milik Amril Syahputra Rangkuti, Budhi Hascaryo Iskandar, Kirbandoko dan Deni Achmad Soeboer dengan judul Alternatif Strategi Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung-

(12)

12

Sumatera Utara.12 Penelitian ini menggunakan sistem analisa SWOT melalui pendekatan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) dan Evaluasi Faktor Internasl (IFE).

Terkait penggunaan IFE ditujukan untuk menganalisa terkait dampak dan kelemahan dari adanya pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung sedangkan untuk penggunaan EFE ditujukan untuk menganalisa peluang dan ancaman dari dilakukannya pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung. Pada penelitian tersebut menghasilkan setidaknya ada 10 faktor internal dan 10 faktor eksternal terkait pengembangaan pelabuhan Kuala Tanjung yang terbagi menjadi 5 faktor kekuatan, 5 faktor kelemahan, 5 faktor peluang dan 5 faktor ancaman. Yang mana dari ke 20 faktor tersebut, disimpulkan bahwasanya yang menjadi prioritas pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai strategi alternative dilatarbelakangi dari letak geografis pelabuhan Kuala Tanjung.

Kemudian terkait persamaan penelitian miliki peneliti dengan penelitian tersebut adalah sama-sama membahas pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung.

Namun yang membedakan diantara keduanya, penelitian tersebut lebih mengacu pada pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai strategi alternative.

Sedangkan, untuk penelitian yang peneliti angkat lebih memfokuskan pembahasan pada alasan Indonesia memasukkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Rujukan penelitian kelima adalah penelitian kualitatif jurnal milik Nanto Sriyanto dengan judul “Poros Maritim Dunia, Tumbuhnya Hubungan Indonesia-

12Rangkuti, A. S., Iskandar, B. H., Kirbandoko, & Soeboer, D. A. (2018). Alternatif Strategi Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung-Sumatera Utara. Albacore Vol.2 No.2, 229-238.

(13)

13

Tiongkok dan Kekuatan Negara Menengah Indonesia di Wilayah Asia Timur”.13 Pada penelitian ini peneliti menggunakan Teori Persepsi Domestik untuk menjelaskan peningkatan hubungan kerjasama Indonesia Tiongkok dibawah Pemerintahan Joko Widodo melalui kebijakan GMF-BRI. Pada penelitian tersebut membahas kebijakan GMF-BRI milik Presiden Joko Widodo yang cenderung kearah domestik. Tujuan dari kebijakan tersebut, untuk meningkatkan potensi Indonesia diranah internasional dan mengurangi keterlibatan pihak asing dengan cara memperbanyak peran parlemen dan partisipasi masyarakat.

Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwasanya latar belakang Tiongkok yang merupakan negara super power mampu menjadi boomerang bagi perekonomian di Indonesia. Hal ini dikarenakan, posisi Indonesia yang hanya negara dari golongan kelas menengah. Untuk meminimalisir dampak dari kerjasama yang akan diperoleh, Pemerintah Indonesia perlu membuka jalur kerjasama secara terbuka agar terjadi keseimbangan antara posisi Indonesia dengan Tiongkok sehingga Indonesia tidak bergantung secara berkelanjutan ke Tiongkok. Selain itu, dengan kedudukan Indonesia di AIIB bisa menjadi salah satu alternative bagi Indonesia untuk tetap bisa mempertahankan kredibilitasnya meski hanya negara kelas menengah.

Adapun persamaan dari penelitian peneliti dengan penelitian sebelumnya adalah fokus pembahasan yang terletak pada kerjasama Indonesia dengan Tiongkok melalui program GMF-BRI. Sedangkan perbedaan penelitian peneliti

13 Sriyanto, N. (2018). Poros Maritim Dunia , Tumbuhnya Hubungan Indonesia - Tiongkok dan Kekuatan Negara Menengah Indonesia di Wilayah Asia Timur. Jurnal Kajian Wilayah Vol. 9 No.1, 3.

(14)

14

dengan penelitian tersebut, penelitian tersebut lebih menekankan pada pembahasan pengaruh kebijakan GMF-BRI terhadap eksistensi Indonesia dalam melakukan pembangunan diwilayah domestik sedangkan penelitian milik peneliti lebih menekankan pada alasan Indonesia memasukkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Rujukan penelitian kelima adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif jurnal milik Wilmar Jonris Siahaan, Windra Priatna Humang, Abdy Kurniawan dan Rosita Sinaga dengan judul Pelabuhan Kuala Tanjung Sebagai Pelabuhan Hub Internasional Ditinjau dari Aspek Jaringan Pelayanan.14 Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif dengan melakukan analisa menggunakan regresi berganda dan SWOT. Pada penelitian tersebut membahas terkait dijadikannya pelabuhan Kuala Tanjung sebagai jaringan transportasi global dengan mengembangkan jalur pelayaran dan operasional short sea shipping.

Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwasanya untuk mewujudkan pelabuhan Kuala Tanjung masuk dalam rute pelayaran yang terintegrasi global, sistem regulasi di pelabuhan Kuala Tanjung perlu dilakukan penegasan khususnya terkait pelayanan pelabuhan yang dilakukan hanya didasarkan pada Port Centrality Index tak hanya itu pemerintah juga perlu melakukan perluasan wilayah hinterland Kuala Tanjung dan pemenuhan transportasi darat yang mampu menunjang keberlangsungan aktivitas ekonomi pelabuhan Kuala Tanjung.

14Siahaan, W. J., Humang, W. P., Kurniawan, A., & Sinaga, R. (2019). Pelabuhan Kuala Tanjung Sebagai Pelabuhan Hub Internasional Ditinjau dari Aspek Jaringan Pelayanan. Warta Penelitian Perhubungan, 83-92.

(15)

15

Adapun persamaan penelitian milik peneliti dengan penelitian tersebut adalah sama-sama membahas pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan hub internasional. Namun yang membedakan dari keduanya adalah dalam penelitian tersebut, lebih melihat penetapan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hub internasional dari sudut pandang pelayaran. Sedangkan, penelitian milik peneliti lebih menekankan pembahasan pada alasan Indonesia memasukkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Hasil dari keenam penelitian diatas adalah kerjasama GMF-BRI merupakan kerjasama pembangunan bidang maritim antara Indonesia dengan Tiongkok.

Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan salah satu proyek dari kerjasama tersebut, tujuan dibangunnya pelabuhan Kuala Tanjung ditujukan sebagai pelabuhan hub internasional, dimana selama pembangunan ini berlangsung sudah memberikan dampak ekonomi yang bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar pelabuhan Kuala Tanjung.

Yang membedakan dengan penelitian milik peneliti adalah meski peneliti juga membahas pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung dalam kerjasama GMF-BRI.

Namun penekanan utama pembahasan miliki peneliti adalah alasan terpilihnya pelabuhan Kuala Tanjung sebagai salah satu proyek kerjasama GMF-BRI.

Adapun pembaharuan yang peneliti tawarkan adalah terkait seberapa pentingkah pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung hingga dimasukkan dalam proyek kerjasama GMF-BRI.

(16)

16

Tabel 1 Penelitian Terdahulu

No. Topik / Judul Penelitian Nama, Volume, Tahun

Metode Penelitian dan Analisa Data

Hasil/Kesimpulan

1. Judul :

Analisis Kerja Sama Kebijakan Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo Dengan Kebijakan 21st Century Maritim Silk Road Presiden Xi Jinping

Oleh :

Randi Sulaksana

Jenis penelitian :

Kualitatif

Teori :

Rational Choice

Konsep A Rigorius Model Of Action

Untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan memberikan

pertimbangan dari sudut pandang rational choice yaitu goals and

objectives, alternatives, consequences dan choice dapat

disimpulkan bahwa dari keempat kriteria tersebut menunjukkan Tiongkok adalah kandidat yang memberikan benefit lebih unggul

dibandingkan cost yang akan diterima dari 2 kandidat lainya yaitu Amerika dan Jepang.

(17)

17 2. Judul :

Kepentingan Indonesia Bekerjasama dengan Tiongkok dalam Pembangunan Infrastruktur Pelabuhan Era Joko Widodo

Oleh :

Selly Lidiana

Jenis Penelitian : Deskriptif

Teori :

Kepentingan Nasional

Perspektif Hubungan Bilateral

Kepentingan Indonesia melakukan kerjasama dengan Tiongkok terkait pembangunan pelabuhan adalah untuk menstabilkan

perekonomian

Indonesia, memperkuat kekuatan maritim Indonesia serta menekan jumlah pelanggaran illegal fishing yang dilakukan oleh Tiongkok.

3. Judul :

Analisis Dampak Penetapan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai Hub Port Internasional

Oleh :

Ida Bagus Wicitra Dyaksa

Jenis penelitian :

Kuantitatif

Teori :

Regresi Linear

Pelabuhan Kuala Tanjung memiliki potensi sebagai distribusi petikemas internasional namun biaya distribusi dari pelabuhan Kuala Tanjung untuk

pelayaran Internasional lebih tinggi

dibandingkan dengan Pelabuhan Singapura.

(18)

18 4. Judul :

Alternatif Strategi Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung-Sumatera Utara

Oleh :

Amril Syahputra Rangkuti, Budhi Hascaryo Iskandar, Kirbandoko dan Deni Achmad Soeboer

Jenis Penelitian :

Eksplanatif

Teori :

SWOT

Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)

Evaluasi Faktor Internal (IFE)

Ada 20 faktor yang melatar belakangi pengembangan pelabuhan kuala tanjung, yang mana dari ke 20 faktor tersebut yang menjadi faktor prioritas pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung adalah lokasi pelabuhan yang strategis..

5. Judul :

Poros Maritim Dunia, Tumbuhnya Hubungan Indonesia-Tiongkok dan Kekuatan Negara Menengah Indonesia di Wilayah Asia Timur.

Oleh :

Nanto Sriyanto

Jenis penelitian :

Eksplanatif

Teori :

Persepsi Domestik

Kedudukan Tiongkok yang merupakan negara super power mampu menjadi boomerang bagi Indonesia sebagai negara kelas menengah, untuk mengatasi kondisi tersebut Pemerintah Indonesia harus tetap membuka jalur kerjasama secara terbuka agar terjadi keseimbangan posisi Indonesia dimata

(19)

19

Tiongkok, hal itu bertujuan agar Indonesia tidak serta- merta menggantungkan kehidupan negaranya pada Tiongkok, hal yang bisa dilakukan misalnya Indonesia bisa memanfaatkan

kedudukannya di AIIB untuk mendapatkan dukungan dari negara lain sehingga kredibilitas Indonesia bisa tetap

dipertahankan.

6. Judul :

Pelabuhan Kuala Tanjung Sebagai Pelabuhan Hub Internasional Ditinjau dari Aspek Jaringan Pelayanan

Oleh :

Wilmar Jonris Siahaan, Windra

Jenis penelitian :

Deskriptif kualitatif dan kuantitatif

Teori :

SWOT

Regresi berganda

Untuk mewujudkan pelabuhan Kuala Tanjung masuk dalam rute pelayaran terintegrasi global, penegasan sistem regulasi di pelabuhan Kuala Tanjung perlu ditekankan khususnya terkait pelayanan pelabuhan hanya

(20)

20 Priatna Humang, Abdy Kurniawan dan Rosita Sinaga

didasarkan pada Port Centrality Index, perluasan wilayah hinterland Kuala Tanjung dan

pemenuhan transportasi darat yang menunjang keberlanjungsungan aktivitas pelabuhan

7. Alasan Terpilihnya Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung Sebagai Percepatan Ekonomi Berskema GMF-BRI

Oleh :

Resti Fentika Fitria Sari

Jenis Penelitian : Deskriptif

Teori & Perspektif :

Spillover Effect

Ekonomi Politik Internasional Susan Strange

Kebijakan Indonesia terkait program GMF- BRI merupakan respon dari kebijakan MEA ASEAN.

Dimasukkannya Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai percepatan ekonom agar mampu mengimbangi pengadaan kawasan Industri yang berada di wilayah Sumatera Utara.

(21)

21 1.5 Landasan Teori dan Konsep

Untuk memperjelas pembahasan terkait penelitian yang peneliti angkat terkait Alasan Terpilihnya Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai Percepatan Ekonomi Indonesia melalui Skema GMF-BRI, peneliti menggunakan spillover effect, pendekatan EPI dan jaringan maritim sebagai alat analisa.

1.5.1 Spillover Effect

Spillover effect diartikan sebagai eksternalisasi yang timbul akibat adanya aglomerasi dari adanya perkumpulan industri. Dalam ilmu ekonomi, aglomerasi diartikan sebagai pemusatan beberapa perusahaan dalam satu wilayah. Dalam teory spilover effect, input merupakan tindakan dan kebijakan yang pemerintah lakukan untuk mewujudkan visi dan misinya. Sedangkan, dampak dari tindakan yang dilakukan disebut dengan output. Menurut Marshall, efek dari aglomerasi ini bisa berupa local-skilled labour pooling, input sharing dan knowledge spillover.

Efek aglomerasi inilah yang membuat economies of scale di suatu wilayah menjadi lebih tinggi. Ada dua tipe kekuatan dari economies of scale, bisa bersifat urbanization economies atau localization economies. Urbanization economies merupakan manfaat aglomerasi yang dirasakan oleh kumpulan perusahaan yang bergerak di sektor yang berbeda, biasanya terjadi di wilayah perkotaan.

Sedangkan, localization economies merupakan manfaat aglomerasi yang dirasakan oleh kumpulan perusahaan yang memiliki produk serupa di wilayah geografis yang sama.15

15Jofre-Monseny, J., Marín-López, R., & Viladecans-Marsal, E. (2012). What Underlies Localization and Urbanization Economies ? Evidence From The Loacalization of New Firms.

Documents de Treball de l’IEB , 2-5.

(22)

22

Kekuatan kutub pertumbuhan ini sesuai dengan kekuatan dari aglomerasinya, yang mana disetiap wilayah memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda. Strategi yang sering digunakan dalam menentukan kutub pertumbuhan adalah dengan menetapkan pemusatan investasi di tempat-tempat yang terbatas.

Tujuannya adalah untuk mengubah struktur ruang wilayah sehingga terjadi kesejahteraan ekonomi di wilayah tersebut. Perroux berargumen bahwasanya pertumbuhan tidak muncul dimana-mana, keberadaan kutub pertumbuhanlah yang menjadi pendorong untuk berinovasi dan merangsang industry lain.16 Argumen tersebut diperkuat oleh Capello, ia menyebutkan bahwa adanya pertumbuhan ekonomi dikarenakan adanya permintaan barang dan jasa yang meningkat dari adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. Oleh sebab itu, akan terjadi keterkaitan antara satu wilayah dengan wilayah lain untuk memenuhi ketersedian barang dan jasa.

Berkaitan dengan hal tersebut Mydral kemudian membagi spillover effect menjadi dua jenis, yaitu spread effect dan backwash effect. Spread effect dapat diartikan sebagai output atau effect dari pertumbuhan pusat ekonomi yang memberikan pertumbuhan ekonomi untuk wilayah disekitarnya. Sedangkan backwash effect dapat diartikan sebagai dampak buruk dari adanya aglomerasi.17 Jika hasil didominasi dengan dampak positif maka akan menghasilkan spread

16Parr, J. B. (1999). Growth-pole Strategies in Regional Economic Planning : A Restrospective View : Part 1. Origins and Advocacy. Urban Studies, 1195-1197.

17Widyastuti, P. (2018). Skripsi : Analisis Spillover Effect Pusat Pertubuhan Kota Makassar Terhadap Perekonomian Kabupaten Gowa. Makassar: Universitas Hasanuddin Makassar.

(23)

23

effect atau bisa dikatakan berhasil. Namun, jika hasil didominasi dengan dampak negative maka akan menghasilkan backwash effect.18

Mydral juga menambahkan bahwa spread effect lebih untuk mengukur seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh, salah satunya bisa dilihat dari tingkat investasi dan difusi yang dilakukan oleh negara maju ke negara berkembang dalam segi pembangunan daerah. Sedangkan backwash effect untuk mengukur kerugian yang akan diterima, ini bisa diliat seberapa tinggi tingkat ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju yang memberikan investasi. Akankah wilayah negara berkembang tersebut hanya dijadikan wilayah industri tanpa memberikan dampak positif seperti transfer keilmuan ataupun perekrutan tenaga kerja atau justru sebaliknya. Keberadaan backwash effect yang cenderung mendominasi dibanding spread effect berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi di periode selanjutnya. Namun di sisi lain Hirschman berpendapat bahwa dominasi backwash effect justru mampu menjadi solusi pada pertumbuhan ekonomi selanjutnya untuk menghasilkan spread effect. Dari perbedaan pendapat antara Mydral dan Hirschman dapat disimpulkan baik spread effect dan backwash effect berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi oleh kondisi yang akan dilewati.19

Dalam hal ini, penulis menggunakan spillover effect theory sebagai alat analisa. Spread effect dan backwash effect yang dihasilkan dari terpilihnya

18Barry, H. (2015). Analisis Spillover terhadap Pasar Ekuitas Negara Berkembang dan Negara Maju Periode 2003-2011. Ekonomi dan Bisnis Vol.14 No.1, 28.

19Richardson, H. W. (1976). Growth Pole Spillover : The Dinamic of Backwash and Spread.

Regional Studies, 1-9.

(24)

24

pelabuhan Kuala Tanjung sebagai proyek strategis Indonesia berskema GMF-BRI ini merupakan jawaban dari alasan terpilihnya Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai percepatan ekonomi Indonesia melalui skema GMF-BRI. Berikut merupakan bagan pendukung untuk memperjelas pembahasan :

Tabel 2 Skema Spillover Effect

1.5.2 Ekonomi Politik Internasional milik Susan Strange

EPI menurut Susan Strange adalah sebuah perspektif yang melawan asumsi realis terkait tindakan suatu negara dalam dunia Internasional. Ia menjelaskan dalam perspektifnya bahwasanya dalam melakukan hubungan bilateral hal yang

Case

(Pasar tunggal ASEAN)

Input

DECISION (Kerjasama GMF-BRI)

Spillover effect Kekuatan dan

kelemahan

ACTION (Pembangunan Pelabuhan

Kuala Tanjung)

spread effect backwash effect

Output

(25)

25

paling penting adalah negara dan bagaimana pentingnya melakukan kerjasama dengan beberapa negara. Lebih jelasnya Strange menggunakan sudut pandang antropologis untuk menggambarkan tindakan suatu negara dengan empat struktur dasar. Adapun struktur dasar tersebut diantaranya adalah pengetahuan (bagaimana cara mengatur hubungan antar aktor), keamanan (bagaimana cara berinteraksi), produksi (bagaimana cara penditribusiannya) dan keuangan (bagaimana cara mendapatkannya dan siapa yang mendapatkannya). Pemikiran tersebut muncul karena typical Strange yang memiliki pemikiran eklektik, yaitu sebuah pemikiran yang muncul dari teori yang sudah ada kemudian diseleksi dan diselaraskan agar menjadi pemikiran yang bermanfaat bagi manusia.20 Adapun 3 pendekatan besar yang menjadi dasar pemikiran Strange yaitu kapitalisme, industrialisasi dan rasionalitas.

Pada pendekatan pertama, kunci utama dari adanya modernitas adalah bangkitnya kapitalisme dan meningkatnya hubungan sosial dimana dalam melakukan sebuah interaksi, motif utamanya adalah mendapatkan keuntungan.

Kemudian pendekatan kedua yaitu industrialisasi, dimana pada pendekatan ini titik tumpu berada pada adanya kemajuan teknologi dan industrialisasi sebagai faktor utama yang membuat perubahan untuk terwujudnya modernisasi.

Sedangkan pada pendekatan yang ketiga, untuk mewujudkan modernitas, pendekatan rasional berpendapat bahwa kemajuan dapat terjadi dengan menghasilkan sebuah teknologi. Sikap eklektisisme Strange menyimpulkan bahwasanya pada EPI yang tidak boleh dilupakan adalah Negara dan Pasar. Pada

20 Bagus, L. (1996). Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(26)

26

variabel negara, negara bertindak sebagai aktor yang meningkatkan kedudukan pada sistem internasional dalam hal modal. Sedangkan pasar adalah arena yang digunakan untuk menghasilkan kepentingan politik, bisa jadi negara yang mempengaruhi pasar ataupun sebaliknya pasar mempengaruhi tindakan suatu negara.21

Adapun pertanyaan kunci yang dimiliki perspektif EPI untuk menganalisa suatu peristiwa yaitu Cui Bono atau siapa yang lebih diuntungkan?22 Untuk mengetahui hasil akhirnya dari pertanyaan tersebut ada tiga indikator yang perlu diperhatikan yaitu otoritas pasar, nilai prioritas dan alokasi resiko. Pertama otoritas pasar, pada indikator ini digunakan untuk melihat bagaimana aktor internasional melakukan tawar menawar dengan dasar untuk menentukan kapan dan mengapa keputusan diambil, serta untuk melihat dasar struktural mana yang lebih dominan yang dimiliki aktor tersebut, pada kasus ini pemerintah Indonesia berkeinginan untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan menjadikan keunggulan maritim sebagai focus utama. Memperkenalkan kebijakan ke beberapa forum internasional untuk meningkatkan daya tarik para investor sehingga Indonesia mendapat dukungan pembangunan.

Kedua nilai prioritas, pada indikator ini Strange mendefinisikan nilai dalam bentuk organisai sosial seperti kekayaan, keamanan, kebebasan dan keadilan. Dari keempat nilai tersebut nilai mana yang menjadi prioritas utama, nilai mana yang

21Susan Strange 1923-1998 : a great international relations theorist. (1999). Review of International Political Economy 6:2, 121-132.

22Tooze, R. (2000). Susan Strange, Academic International Relations and the Studi of International Political Economy. New Political Economy 5:2 , 280-289.

(27)

27

dianggap memberikan efisiensi untuk melakukan sebuah hubungan kerjasama internasional, berdasarkan asumsi peneliti prioritas utama yang dimiliki Indonesia adalah faktor keamanan dimana proyek pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan proyek pemerintah pusat yang system pengerjaannya diserahkan ke BUMN, kecenderungan yang sering terjadi adalah perusahaan BUMN memiliki teknologi dan SDM yang terbatas sehingga pembangunan yang dilakukan tidak bisa dilakukan secara maksimal, melalui skema GMF-BRI Indonesia akan terbantu baik secara teknologi, pengetahuan ataupun SDM mengingat latar belakang Tiongkok yang berhasil membangun pelabuhan domestiknya.

Ketiga alokasi resiko, pada indikator ini analisa didasarkan pada masalah yang dimiliki dan hasil yang akan dicapai, dari hal tersebut adapun pertanyaan analisa terkait indikator ini adalah bagaimana dan untuk siapa kebijakan tersebut diambil?

ancaman utamanya seperti apa? apakah bisa dihindari, diringankan ataupun mendapat kompensansi?. Berdasarkan asumsi yang dimiliki peneliti dipilihnya pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung untuk pengiriman logistik rute luar negri akan menekan nilai harga pengiriman karena letaknya yang strategis di dekat Selat Malaka, namun untuk rute pengiriman domestik peralihan rute yang semula berpusat di Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Kuala Tanjung akan menekan nilai pembiayaan lebih tinggi dan melakukan dua kali singgah yaitu menuju Pelabuhan Kuala Tanjung melalui Pelabuhan Belawan sehingga dirasa kurang efisien.

Dari penjabaran pendekatan diatas, maka dari itu peneliti berusaha meminjam konsep pendekatan EPI milik Susan Strange untuk mendukung analisa terkait

(28)

28

alasan terpilihnya pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai percepatan ekonomi Indonesia berskema GMF-BRI.

1.5.3 Jaringan Maritim

Pengembangan pelabuhan secara geografi menekankan pada dua aspek yaitu maritim dan continental. Menurut Vigarie, kedua aspek tersebut masuk dalam konsep “port triptych”, yaitu tanjung, pedalaman dan pelabuhan secara keseluruhan merupakan sebuah sistem spasial tersendiri. Namun dalam mayoritas analisa persaingan pelabuhan, konsep port triptych hanya dikhususkan pada satu konsep saja. Masalah umum yang sering ditemukan dalam pesaingan pelabuhan mencakup pemberian konsesi pengalihan dan konsentrasi lalu lintas pelabuhan, investasi infrastruktur pelabuhan serta koneksi pedalaman. Meskipun persaingan tersebut relative, namun tujuan persaingan tersebut untuk menangkap lalu lintas di wilayah tertentu. Dalam upaya melakukan persaingan, para pelabuhan sekunder akan melakukan diversifikasi geografis koneksi di pelabuhan mereka dan memperluas pasar. Untuk pertimbangan pelabuhan lebih cenderung pada pemeliharaan cakupan pasar dan frekuensi layanan. Sedangkan terkait keragaman dan fleksibilitas pada area khusus lebih kepada perubahan pola perdagangan dan peluang baru. Hal yang perlu digaris bawahi yaitu lokasi pelabuhan yang berada di jalur pelayaran akan mendominasi kegiatan transshipment dibandingkan dengan pelabuhan lokal ataupun pengumpan. Kebijakan pemerintah terkait

(29)

29

pelabuhan lokal memberikan dampak yang signifikan untuk mengembangkan jaringan liner dalam jalur pelayaran.23

Kontainerisasi berpengaruh besar terhadap perdagangan global serta menjadi isu sentral bagi industri berskala global. Maka tak heran apabila banyak pelabuhan pusat berfokus pada terminal darat dan jaringan multimoda agar tidak kalah saing dengan pelabuhan lain. Namun di banyak kasus setelah pertumbuhan awal pelabuhan dengan mengoptimalkan pada pertumbuhan perkotaan dan industri, mayoritas pelabuhan cenderung mengalami penurunan akibat adanya pemisahan spasial dan fungsional. Hal ini bisa terjadi akibat pengaruh globalisasi, dimana perusahaan pelayaran menjadi pelaku monopoli pasar dengan melakukan merger dan aliansi untuk membentuk jalur pelayaran. Sedangkan, pelabuhan yang bersifat tetap harus merespon hal tersebut agar terus berkembang. Akibatnya pelabuhan yang bergantung pada jalur pelayaran, operator dan aliansi harus mampu menciptakan pusat logistik dan terminal baru untuk meningkatkan ataupun mempertahankan daya saing mereka. Meski perdagangan internasional konsentrasi lalu lintas mayoritas ke pelabuhan hub Barat, esensi regional dan pembangunan pelabuhan kota di wilayah Timur tidak sepenuhnya sesuai dengan model pelabuhan Barat. Hal ini penting untuk diketahui karena sistem regional pelabuhan kota akan berpengaruh langsung pada hubungan spasial dan ekonomi pelabuhan kota di tingkat lokal. Jika model pelabuhan negara maju cenderung melakukan melakukan pengembangan pelabuhan perikanan atau angkatan laut,

23Ducruet, C., Lee, S.-W., & Ng, A. (2011). Port Competition and Network Polarization at the East Asian Maritim Corridor. Territoire en Mouvement, 1-14.

(30)

30

model pelabuhan negara berkembang cenderung di daerah mapan yang memiliki peran penting untuk menghubungkan pasar dengan kepentingan eksternal.

Sehingga wilayah yang dipilih pun merupakan daerah yang mudah dijangkau, terkoneksi antar tanjung. memiliki cukup ruang baik secara kedalaman ataupun luas lahan. 24

Sebagai pelabuhan hub, fungsi utamanya yaitu menghubungkan berbagai pelabuhan untuk melakukan distribusi lalu lintas. Yang mana semakin banyak koneksi yang dimiliki oleh pelabuhan hub, maka semakin kuat posisi pelabuhan hub tersebut dalam jaringan. Oleh sebab itu, menentukan pelabuhan hub hanya berdasarkan lokasi geografis saja tidak cukup. Setidaknya harus mengetahui jalur pelayaran mana yang bisa dikombinasikan dengan kebijakan pelabuhan nasional dan lokal. Hal itu bisa dilakukan verifikasi melalui penetapan pelabuhan mana yang mendominasi sistem dan kelompok pelabuhan pada jalur pelayaran yang dipilih.25

Tabel 3 Indikator Posisi Jaringan dan Kinerja Throughput Pelabuhan

Jenis ukuran Variabel Definisi

Sirkulasi No. Kapal Jumlah kapal berbeda yang singgah di pelabuhan sepanjang tahun

No. Panggilan Berapa kali kapal telah menelepon sepanjang tahun

No. Operator Jumlah operator berbeda yang

menelepon pelabuhan sepanjang tahun Tanjung Maks. jarak ke

pelabuhan lain

Jarak ortodromik maksimum (km) di antara semua koneksi ke port lain

24Lee, S.-W., Song, D.-W., & Ducruet, C. (2008). A Tale of Asia's World Ports: The Spatial Evolution in Global Hub Port Cities. Geoforum, 372-385.

25Ducruet, C., & Lee, S.-W. (2009). Local strength and global weakness: A maritim network perspective on South Korea as Northeast Asia's logistics hub. KMI International Journal of Maritim Affairs and Fisheries, 32-50.

(31)

31 Rata-rata jarak ke port lain

Jarak ortodromik rata-rata (km) di antara semua koneksi ke port lain Indeks keanekaragaman

tanjung

Indeks keragaman relatif diterapkan pada distribusi lalu lintas pelabuhan di seluruh dunia di tingkat negara

(kebalikan dari jumlah perbedaan dalam pembagian dibandingkan dengan rata- rata dunia)

Konektivitas Derajat Jumlah port yang terhubung

Gelar tertimbang Jumlah lalu lintas di semua koneksi Gelar nodal Jumlah port yang dihubungkan oleh

aliran dominan (yaitu link aliran maksimum)

Sentralitas Sentralitas antara Jumlah posisi pada kemungkinan jalur terpendek di seluruh grafik

Kesamaan tertimbang sentralitas

Jumlah posisi pada kemungkinan jalur berbobot terpendek di seluruh grafik Keanehan Ukuran keterpencilan yang

dinormalisasi dari semua port lain Lingkungan Koefisien

pengelompokan

Probabilitas tetangga langsung untuk terhubung satu sama lain

Indeks Strahler Tingkat percabangan

Indeks kekuatan Kekuatan koneksi yang berdekatan dengan port lain

Sumber : (Ducruet, Lee, & Song, Network Position and Throughput Performance of Seaports, 2011)

Pelabuhan Kuala Tanjung yang merupakan pelabuhan hub baru di Indonesia masih menfokuskan pada pengembangan pelabuhan dan terintegrasi kawasan industri. Untuk menjamin pertumbuhan pengembangan pelabuhan, perlu dilakukan identifikasi terkait pelabuhan hub yang mendominasi jalur pelayaran di wilayah Pelabuhan Kuala Tanjung.

(32)

32 1.6 Metode Penelitian dan Tehnik Analisa

1.6.1 Metode Penelitian

Peneliti berusaha untuk menjelaskan alasan Indonesia melakukan Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung dalam Kerjasama GMF-BRI. Oleh sebab tersebut pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian eksplanatif dimana penelitian ditujukan untuk menjelaskan tindakan suatu negara yang bertitik pada pertanyaan mengapa.

1.6.2 Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah menggunakan kajian data, yang mana dasar penelitian merupakan data sekunder dengan bersumber pada penjelasan kedua atau sumber lain yang sesuai dengan penelitian yang peneliti angkat meliputi pembahasan tentang materi original, artikel, berita ataupun jurnal ilmiah yang melakukan evaluasi atau pemberian kritik terkait penelitian yang peneliti angkat.

1.6.3 Tehnik Analisa Data

Untuk menganalisa data, tehnik yang digunakan peneliti adalah merumuskan masalah, menentukan variabel yang akan diteliti, kemudian dilakukan analisa menggunakan teori spillover effect, EPI milik Susan Strange dan jaringan maritim. Hasil dari analisa tersebut kemudian ditarik kesimpulan untuk mengetahui hasil dari dilakukannya penelitian tersebut.

(33)

33 1.6.4 Level Analisa

Peneliti menggunakan tingkat analisa sistem dengan model induksionis dengan variable dependennya adalah pelabuhan Kuala Tanjung sedangkan untuk variable independennya berupa skema GMF-BRI sebagai percepatan ekonomi di Indonesia .

a. Batasan Waktu

Peneliti menggunakan tingkat analisa sistem dengan model induksionis dengan variable dependennya adalah pelabuhan Kuala Tanjung sedangkan untuk variable independennya berupa skema GMF-BRI sebagai percepatan ekonomi di Indonesia

b. Batasan Materi

Supaya penelitian ini tidak bias terkait penjelasan penelitian, maka peneliti akan menfokuskan penelitian pada pengembangan pelabuhan Kuala. Peneliti tidak akan menjelaskan terkait kebijakan GMF-BRI secara lebih lanjut.

1.7 Hipotesa

Berdasarkan analisa sementara yang dilakukan penulis, penulis mengambil hipotesa bahwa alasan terpilihnya pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung adalah Indonesia kekurangan pelabuhan transshipment untuk mendukung pengiriman ekspor sehingga bergantung pada pelabuhan internasional milik Singapura dan Malaysia. Padahal kegiatan ekspor impor di Indonesia cukup tinggi. Dengan mempertimbangkan lokasi strategis dan wilayah padat penduduk

(34)

34

selain Pulau Jawa, Pulau Sumatera menjadi pilihan utama dibandingkan beberapa pulau lain di Indonesia.

Melalui spillover effect theory, juga bisa diketahui bahwasanya untuk spread effect yang dihasilkan dari pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung adalah terciptanya pusat distribusi logistik untuk pengiriman dalam dan luar negri, di sektor domestik khususnya di Pulau Sumatera akan memperlancar kegiatan distribusi pusat-pusat industri seperti KEK Sei Mengke dan KEK Kualanamu dalam melakukan ekspor. Sedangkan untuk pengiriman rute luar negri, Indonesia tidak perlu lagi melakukan transshipment ke pelabuhan internasional Singapura dan Malaysia karena telah memiliki pelabuhan hub internasional sendiri.

Sedangkan untuk backwash effect yang dihasilkan dari pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung yaitu akan ada peralihan rute pengiriman barang yang sebelumnya dipusatkan pada Pelabuhan Tanjung Priok menjadi Pelabuhan Kuala Tanjung. Akibat dari peralihan rute tersebut berimbas pada terjadinya peningkatan nilai biaya pengiriman untuk rute domestik. Hal ini disebabkan karena pengiriman harus mengalami dua kali singgah yaitu ke Pelabuhan Belawan kemudian ke Pelabuhan Kuala Tanjung. Dari spread effect dan backwash effect yang telah peneliti sebutkan, spread effect yang dihasilkan jauh lebih dominan dibandingkan dengan backwas effect. Ini juga selaras dengan pendekatan EPI terkait siapa yang diuntungkan, keduanya diuntungkan sesuai porsi mereka. Sedangkan terkait jaringan maritim, dikarenakan pelabuhan dan industri tidak bisa dipisahkan pengaruh pelabuhan sentral sangat berpengaruh pada pelabuhan hub baru untuk membuka jaringan pelayaran.

(35)

35 1.8 Sistematika Penelitian

Tabel 4 Sistematika Penelitian

Bab Bahasan Pokok

Bab I : Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4 Penelitian Terdahulu

1.5 Landasan Konseptual 1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Jenis Penelitian 1.6.2 Teknik Analisa Data 1.6.3 Teknik Pengumpulan Data 1.6.4 Level Analisa

1.6.5 Ruang Lingkup Penelitian 1.7 Hipotesa

1.8 Sistematika Penelitian

Bab II : Gambaran Umum 2.1 Potensi dan Hambatan Indonesia 2.2 Potensi Pelabuhan Kuala Tanjung

2.2.1 Kondisi Eksisting Pelabuhan Kuala Tanjung

2.2.2 Kebutuhan dan dukungan keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung

2.2.3 Rencana pembangunan Pelabuhan

(36)

36

Kuala Tanjung Bab III : Analisis Pengembangan Pelabuhan

Kuala Tanjung

3.1 Pertimbangan Pelabuhan Kuala Tanjung Masuk dalam Skema GMF-BRI

3.1.1 Perspektif Indonesia Terkait

Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung 3.1.2 Perspektif Tiongkok Terkait

Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung 3.2 Analisa Spillover Effect Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung

3.2.1 Backwash Effect Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung

3.2.2 Spread Effect Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung

Bab IV : Penutup 4.1 Kesimpulan

4.2 Saran Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini

Sejak kemunculan kebijakan ambisius Xi Jinping yang lebih dikenal dengan Belt and Road Initiative (BRI) (Hanzi: 一 带一路 , Pinyin: Yi Dai Yi Lu), telah mendorong Indonesia ikut

160 sõnõfõ niteli ğ inde veya daha iyi nitelikte bir beton olmalõdõr. Bodrum katõn duvarlarõnõn su basman kotuna kadar olan kõsõmlarõnõn yapõmõnda kulanõlacak yapay ta

Pasca-Griffith, pluralisme hukum tidak lagi dipandang sebagai pendekatan yang dapat secara tegas memisahkan satu ketertiban hukum dengan ketertiban hukum lain karena, sebagaimana

Penelitian ini merupakan tugas akhir untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program Sarjana (S1) pada jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial

BRI Cabang lamongan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan audit operasioanl terhadap kinerja, jika hal tersebut dikembalikan kepada masalah yang ada di PT BRI

Insan GMF yang turut serta/bekerja dalam pengembangan suatu proses atau produk yang akan digunakan oleh Perusahaan, atau Insan GMF yang memiliki hak atas hasil karya tersebut,

diharapkan menjadi acuan dengan beberapa hal yang menjadi kabijakan sbb.: 9 Buku murah 9 Perbaikan infrastruktur 9 Kelaanjutan pelaksanan BOS dengan perluasan sasaran 9