37 A. Biografi Thabâthabâ`î
Tafsîr al-Mîzân ditulis oleh Thabâthabâ`î. Nama lengkapnya adalah Muhammad Husain bin Sayyid Muhammad Husain bin Al-Mirzâ ‘Alî Asghar Syaikhul Islam Thabâthabâ`î At-Tabrizi Al-Qâdhi. Ia seorang ulama Syiah terkemuka dan dijuluki ‘allâmah yang berarti sangat pintar. Silsilah kakek- kakeknya 14 orang merupakan ulama terkenal di Tabriz. Ia lahir di kota Tabriz pada tanggal 29 Zulhijah 1321 H/ 1892 M1 dalam keterangan lain disebutkan pada 30/12/1321 H (17/3/1904 M). Ia berasal dari keluarga ternama yaitu keluarga Thabâthabâ`î, yang merupakan keturunan Al-Hasan bin ‘Alî as. Keluarga besar ini juga dijuluki dengan gelar Al-Qâdhî. Ayahnya wafat pada 1330 H/1912 M.2 Ibunya wafat ketika ia beusia lima tahun, dan ayahnya wafat ketika ia berusia 9 tahun.
Sejak itu yang mengasuhnya adalah seorang pembantu laki-laki dan perempuan.3 Thabâthabâ`î memulai pelajaran dasar-dasar ilmu yang pertama di tempat kelahirannya yaitu di kota Tabriz di bawah bimbingan keluarga dan pemimpin kaumnya. Sesudah menyempurnakan tahapan yang pertama ia hijrah ke Najaf Al- Asyraf di Irak, pada 1343 H atau dalam versi lain dikatakan pada sekitar 1341 H/
1923 M. Iatinggal di Najaf selama 10 tahun untuk mencari ilmu. Najaf Al-Asyraf merupakan pusat paling penting untuk kajian keagaamaan Islam.4 Ia berangkat untuk kuliah di Universitas Syiah di Najaf pada usia dua puluh tahun.5
Sebelum menimba ilmu di Najaf ia memulai tekadnya dengan berziarah kepada pusara ‘Alî bin Abî Thâlib as. Ketika berziarah ia berbicara di depan pusara
‘Alî, “Ya ‘Alî, aku datang menemuimu dengan maksud untuk belajar dan mencari ilmu. Tetapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jalan mana yang harus kutempuh. Aku harap kau bimbing tanganku”. Kemudian ia menyewa sebuah
1 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op. Cit, jilid 1, hlm. 5.
2 Ada tambahan penjelasan tentang biografi Muẖammad Husain Thabâthabâ`î dalam kitab al-Mîzân versi terjemahan. Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, terjemahan oleh Ilyas Hasan, (Jakarta:
Lentera, 2010), cetakan pertama, jilid 1, hlm. 11. (Selanjutnya disebut Tafsir Al-Mîzân).
3 Ahmad Baidowi, Mengenal Thabâthabâ`î dan Kontroversi Nasikh Mansukh, (Bandung: Nuansa, 2005), cetakan pertama, hlm. 38.
4 Ibid, hlm. 11.
5 Husain Nasr, “Sang Alim dari Tabriz”, dalam Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, Mengungkap Rahasia Al-Qur`an, terjemahan oleh A. Malik Mandaniy dan Hamim Ilyas, (Bandung: Mizan, 1997), cetakan kesembilan, hlm. 14.
rumah untuk tempat tinggal. Sebelum ia memilih di majelis mana dan kajian apa yang hendak ia telaah, ia memikirkan tentang masa depannya. Kemudian tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Seorang ulama datang untuk menyambut kedatangannya di Najaf dan memberikan beberapa nasihat kepadanya, di antaranya adalah; “Barangsiapa yang berniat hijrah ke Najaf untuk mencari ilmu, ia harus berpikir untuk berusaha mensucikan hatinya, membiasakan batinnya melakukan murâqabah pada dirinya, di samping mengupas dan mencari ilmu.” Kemudian ulama tersebut meninggalkannya. Ia merasa takjub dengan akhlak dan perilaku islami ulama tersebut, sehingga ucapannya menembus kalbu. Seorang ulama yang datang ke rumahnya ialah ulama besar Haji Mirza ‘Alî Qâdhî yang kemudian menjadi guru Thabâthabâ`î. Semenjak itu Thabâthabâ`î selalu hadir di majelis Haji Mirza ‘Alî Qâdhî selama ia berada di Najaf.6
Thabâthabâ`î mengkaji ilmu fikih dan ushul kepada dua ulama yang sangat pintar yakni Syekh Muhammad Husain An-Na`ini dan Syekh Muhammad Husain Al-Kimyani. Ia belajar ilmu filsafat dan metafisika kepada Sayyid Husain Al-Badkubi, ialah seorang intelek termasyhur dalam filsafat dan ilmu terkait pada saat itu. Ia mendalami ilmu matematika kepada Sayyid Abî al-Qasim Al-Khwansari yang merupakan seorang ahli matematika. Bahkan Thabâthabâ`î pun menulis buku tentang beberapa topik matematika tinggi, dalam buku tersebut ia mengaplikasikan teori khusus gurunya.7
Selain mempelajari ‘ilm hushuli (ilmu yang dicapai melalui upaya mengkaji secara konvensional), ‘ilm hudhuri (ilmu-ilmu yang diperoleh langsung dari Allah) juga didalami oleh Thabâthabâ`î. Ia mengkaji ma’rifah kepada Haji Mirza ‘Alî Qâdhî. Haji Mirza mengajarinya Fushush Al-Hikam karya Ibn Arâbî.
Berkat gurunya ini, Thabâthabâ`î tidak hanya menguasai bidang intelektual namun juga kezuhudan dan praktik-praktik spiritual. Ia rajin berpuasa, shalat, dan selama jangka waktu tertentu ia menjalani puasa bicara total.8
Akibat dililit kesulitan ekonomi, Thabâthabâ`î kembali ke tempat kelahirannya di Tabriz pada 1935. Ia tinggal di sana selama 10 tahun. Ia merasakan bahwa saat itu merupakan “masa kekeringan spiritual dalam kehidupannya”, disebabkan dalam mencari penghidupan dengan bertani, tak dapat terhindarkan dari
6 Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), cetakan ke 2, hlm. xi.
7 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 12.
8 Husain Nasr, Op.Cit., hlm. 15-16.
kontak-kontak sosial, sehingga menghalanginya dari kesibukan intelektual dan perenungan. Meski demikian, ia sempat menulis beberapa karya ilmiahnya dan berbagi ilmu pada sejumlah kecil kelompok.9 Akan tetapi Tabriz hanyalah kota kecil untuk kemampuan keilmuan Thabâthabâ`î. Pada 1364 H/1945 M ia hijrah kembali dari Tabriz ke kota Qum yang merupakan pusat paling penting ilmu keagamaan di Iran. Disana ia memulai mengupas pengetahuan etika, filosofi dan tafsir Al-Qur`an kepada beberapa kelompok kajian.10
Thabâthabâ`î memulai menjadi narasumber tafsir Al-Qur`an, yang mana sebelumnya belum diberikan di Qum. Ia juga memulai mengkaji filsafat. Ia menjadi salah seorang pengkaji yang paling pintar, dan termasuk dari salah seorang tokoh Universitas atau Hauzah Ilmiyah di kota Qum. Banyak orangyang menghadiri kajiannya dan mengambil manfaat dari ilmu-ilmunya. Atas naiknya kedudukan Thabâthabâ`î sebagai seorang yang alim maka ia mempunyai hubungan dengan para ilmuwan keislaman di Teheran.11
Thabâthabâ`î tidak hanya menelaah naskah-naskah klasik mengenai Hikmah Ilahi dan ma’rifah, tetapi juga melakukan perbandingan dengan mengajarkan ajaran tasawuf dan ma’rifah dari naskah-naskah suci agama besar, seperti Tao Te Ching (naskah dasar agama Taoisme), Upanisad (kitab suci agama Hindu), dan Injil Yohanes.12
Keberadaannya sebagai salah satu tokoh di Perguruan Hauzah di Qum, dan karena banyaknya pertemuan kajian ilmiah dalam ilmu tafsir, filsafat, fikih, ushul, dan lain-lain. Banyak ahli ilmu Perguruan Hauzah yang merasa senang. Para intelek berteduh di naungan ilmu-ilmunya. Sangat banyak masyarakat yang ikut kajiannya dan mereka banyak meminum karena merasa haus atas ilmu-ilmunya. Di antara peserta kajiannya yang cemerlang ialah Murtadhâ Muthahharî yang cemerlang sinar bintangnya di banyak majalah. Selain itu ialah Sayyid Mûsâ al- Shadri, Asy-Syahîd Behesti, Asy-Syahîd Miftah, Syekh Jawâdî, Syekh Muhammadî dan Syekh Misbâh Yazidî dan lainnya.13
9 Ahmad Baidowi, Op. Cit., hlm. 40.
10 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, Op. Cit., hlm. 13
11 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân,Op. Cit., hlm. 6-7.
12 Husain Nasr, Op.Cit., hlm. 9.
13 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op. Cit., hlm. 7.
Ia adalah seorang yang sangat rendah hati. Menurut Syekh Taqî Mishbâh (salah satu peserta kajiannya) seperti dikutip Jalaluddin Rahmat, berkata:14
“Selama tiga puluh tahun aku ikut kajian kepada Allamah Thabâthabâ`î, aku tidak pernah mendengar ia berkata ‘Aku’, yang seringkali kudengar darinya adalah kalimat ‘Aku tidak tahu’. Banyak orang datang ke Qum, duduk bersama Sayyid Thabâthabâ`î berulang-kali selama satu tahun, dan tidak mengenal kedalaman ilmunya. dalam majelis ia banyak diam. Jika tidak ditanya, ia tidak berbicara. Ketika ia berbicara, baru semua perhatian hadirin tercurah kepadanya.”
Thabâthabâ`î berpulang ke rahmatullah pada Minggu, 18/1/1402 H atau 15/11/1981 di kota Qum.15 Ia wafat setelah lama mengalami sakit.
Pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang, dan dihadiri para ulama dan pembesar serta tokoh-tokoh pejuang keagamaan. Sayyed ‘Abdullah Syîrazî yang merupakan salah seorang muridnya, menyatakan bahwa hari wafat Thabâthabâ`î merupakan hari berkabung dan libur resmi di Masyhad, hal ini merupakan bentuk penghormatan atas kepergian gurunya.16
B. Karya-karya Thabâthabâ`î
Selain mengisi kajian ilmu kepada masyarakatnya, Thabâthabâ`î banyak menulis buku dan artikel dalam bidang filsafat, teologi Syiah, tafsir, dan lain-lain.
Ia mulai menulis pada tahun 1925, ketika itu ia peserta kajian di Najaf. Karya- karyanya ketika di Najaf diantaranya ialah sebagai berikut.17 Judul karya-karyanya tersebut menggunakan bahasa Persia.
1. Resâle dar Borhan (Risalah tentang Penalaran).
2. Resâle dar E’tebâriyat (Risalah tentang Gagasan Mengenai Asal-asal Manusia).
3. Resâle dar Nobovvat va Manâmât (Risalah tentang Nubuat dan Mimpi-mimpi).
Karya-karya Thabâthabâ`î ketika di Tabriz diantaranya ialah sebagai berikut:
1. Resâle dar Asma’ va Safât (Risalah tentang Nama-nama dan Sifat-sifat).
2. Resâle dar Af’al (Risalah tentang Perbuatan-perbuatan Tuhan).
3. Resâle dar Vas’et Miyan-e Khoda va Ensan (Risalah tentang Perantaraan antara Tuhan dan Manusia).18
14 Jalaluddin Rakhmat, Op.Cit., hlm. Xii.
15 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, Tafsir al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 13.
16 Ahmad Baidowi, Op.Cit., hlm. 44.
17 Ibid, hlm. 45-47.
18 Ibid.
Sedangkan kitab-kitab Thabâthabâ`î yang ditulis di Qum diantaranya adalah : 1. Tafsîr al-Mîzân
2. Vahy ya Sho-ur-e Marinuz (Wahyu atau Kesadaran Mistik).
3. Mosabeha-ya Sal-e 1338 ba Frofesor Korban Moshtasreq-e Faransani (Wawancara tahun 1959 dengan Profesor Henry Corbin, Orientalis dari Perancis).
4. ‘Ali wa al-Falsafah al-Ilahiyah (Ali dan Filsafat Ketuhanan).
5. Mosabeha-ye sal-e 1338 va 1340 ba Profesor Korban, diterbitkan dengan judul Resalat-e Tashayyo’ dar Donya-ya Emruz (Misi Syi’ah di Dunia Masa Kini).
6. Syi’ah dar Islam (Islam Syi’ah)
7. Quran dar Islam (Al-Quran dalam Islam).
8. Sunnan an-Nabi.
9. Kumpulan makalah, artikel, jawaban diskusi yang diterbitkan dalam jurnal
“Mazhab Syi’ah” “Agama Islam”. “Buku-buku petunjuk”.19
C. Latar Belakang Penulisan Tafsîr al-Mîzân dan Latar Belakang Sosial Politik 1. Latar Belakang Penulisan Tafsîr al-Mîzân
Thabâthabâ`î memulainya dengan menyampaikan kuliah kepada mahasiswa di Universitas Qum Diniyah di Iran, kemudian para mahasiswanya meminta dengan cara mendesak agar mengumpulkan hasil kajiannya untuk dijadikan kitab tafsir yang bermanfaat. Maka Thabâthabâ`î mengabulkan tuntutan mereka sampai terbit juz awal dari kitab Tafsîr al-Mîzânpada tahun 1375 H/1956 M dan susul menyusul terbitan juz-juz yang lainnya sampai jadi sempurna 20 jilid. Thabâthabâ`î telah menyelesaikan juz yang terakhir pada 23 Ramadan 1392 H. Jika dilihat dari tahun penerbitan juz awal dan juz akhir maka berarti Thabâthabâ`î menulis kitab Tafsîr al-Mîzân dalam waktu selama sekitar 18 tahun.
Thabâthabâ`î menamai kitab tafsirnya dengan nama Al-Mîzân fî Tafsîril Qur`ân karena banyak dikemukakan kepadanya pendapat-pendapat para mufassir untuk menamai kitabnya, kemudian ia mentarjih pendapat-pendapat tersebut dan menimbangnya.20 Tafsîr al-Mîzân merupakan karya
19 Ibid.
20 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 9
monumentalnya. Tafsîr al-Mîzân ditulis setelah Thabâthabâ`î mendalami ilmu- ilmu syar’iyyah dan tasawuf.21
2. Keadaan Sosial Politik
Thabâthabâ`î hidup pada 1892-1981 di Iran. Hal ini berarti Thabâthabâ`î mengalami masa dinasti Qajar (1779-1925), dan dinasti Pahlevi (1925-1979).
Kedua dinasti ini merupakan rezim pemerintah yang semena-mena yang ditentang rakyatnya hingga terjadi dua kali revolusi. Revolusi pertama yaitu pada 1925 yang kemudian terjadinya peralihan dari dinasti Qajar ke dinasti Pahlevi. Revolusi kedua yaitu pada 1979 yang dimotori oleh Khomeini.
Pada dinasti Qajar perekonomian Iran didominasi oleh campur tangan pihak asing yaitu Rusia dan Inggris. Persaingan Eropa dan monopoli yang dikembangkan oleh negara merugikan kaum pedagang dan artisan (pengrajin).
Terjadinya ketegangan antara ulama dan negara. Gerak ulama sangat dibatasi oleh pemerintah. Perlawanan nasional yang pertama terhadap kerajaan Qajar ialah pada 1891 dan 1892 terjadi demonstransi umum dan boikot terhadap monopoli tembakau yang diserahkan kepada perusahaan Inggris pada 1890.
Demonstrasi umum dan boikot ini terorganisir secara nasional oleh koalisi yang terdiri dari kalangan ulama, pedagang, intelektual liberal, dan pegawai.22 Demonstrasi ini merupakan demonstrasi besar-besaran terbesar pertama di Iran.23
Pada 1925 Iran beralih ke dinasti Pahlevi setelah Shah Reza berhasil menggulingkan dinasti Qajar. Pemerintahan dengan bentuk kerajaan konstitusional pada masa ini bersifat otoriter dan secara gigih melakukan modernisasi ekonomi dan westernisasi kultural. Shah Reza juga membangun kekuatan militer. Pada rezim Pahlevi ini juga menghapuskan pengaruh ulama dan berusaha menggiring ulama di bawah kontrol negara, serta membuat undang-undang yang membuat ulama tidak mungkin menduduki jabatan hakim di pengadilan.24 Meski Shah Reza beragama Islam, namun ia memberikan tekanan-tekanan kepada para ulama, menghukum cambuk para mujtahid di
21 Jalaluddin Rakhmat, Op.Cit., hlm. xii.
22 Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, terjemahan oleh Ghufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), cetakan pertama, bagian ketiga, hlm. 35-40.
23 Ahmad Baidowi, Op.Cit., hlm. 29.
24 Ira M. Lapidus, Op.Cit., hlm. 46-48.
depan umum, memaksa para wanita melepas hijab, menasionalisasi tanah-tanah wakaf sehingga membuat kacau sumber-sumber keuangan lembaga-lembaga keagamaan.25
Setelah berakhirnya perang dunia II, Rusia dan Inggris merebut kekuasaan atas Iran, Shah Iran dipaksa oleh mereka untuk melepaskan kepemimpinannya dan mengangkat Muhammad Reza Pahlevi yang merupakan anak bungsunya sebagai boneka negeri Iran. Lambat laun Rusia dan Inggris tergeser oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat memberikan banyak dukungan kepada Iran dengan membantu manajemen ekonomi, mengorganisir kekuatan polisi dan militer Iran dan mensuplai Iran dengan bantuan militer.26
Pada 1936 wanita dilarang memakai kerudung dan di perkotaan mulai dikenakannya pakaian modern oleh wanita kalangan menengah ke atas.
Program modernisasi menyebabkan kekhawatiran kalangan ulama sehingga memunculkan perlawanan dari kalangan ulama, pedagang, artisan, dan kaum intelektual. Perlawanan tersebut untuk menentang pemerintahan yang sangat otoriter, bergantung pada pihak asing, dan kebijakannya yang merugikan ekonomi kaum rendah. Pada dekade 1950-an dan awal dekade 1960-an, Qum menjadi pusat organisasi dan intruksi keagamaan Syiah, sebagai berkembangnya jaringan komunikasi nasional. Pada akhir dekade 1970-an, Iran mengalami ekonomi dan politik yang sangat parah, dalam kondisi ini para mahasiswa di Qum berdemonstrasi melawan aksi pembunuhan tanpa alasan yang dilakukan oleh pasukan savak (polisi rahasia Shah Iran). Pada akhir tahun 1978 terjadi demonstrasi besar-besaran oleh berjuta-juta rakyat selama empatpuluh hari. Gerakan revolusi ini dimotori oleh Khomeini yang kemudian berhasil menggulingkan dinasti Pahlevi. Setelah itu Khomeini mendirikan sebuah pemerintahan Islam di Iran.27
D. Sumber, Metode, Corak Penafsiran dan SistematikaTafsîr al-Mîzân 1. Sumber Penafsiran Tafsîr al-Mîzân
Sumber penafsiran Tafsîr al-Mîzân adalah bil ma`tsur. Sebagaimana yang dikatakan Thabâthabâ`î dalam muqaddimahnya bahwasannya ia
25 Ahmad Baidowi, Op.Cit., hlm. 30.
26 Ira M. Lapidus, Op.Cit., hlm. 51.
27 Ibid, hlm. 46-60.
berpedoman menafsirkan Al-Qur`an bi Al-Qur`an atau ayat dengan ayat.
Contohnya pada penafsiran QS. Al-Lail (92): 12, Thabâthabâ`î menafsirkannya dengan beberapa ayat yaitu QS. Adz-Dzâriyât [51]: 56, QS. An-Naẖl (16): 9, QS. Al-Aẖzâb (33): 4, QS. Al-Insân (76): 3, QS. Asy-Syûrâ (42): 52, dan QS.
Yûsuf (12): 108.28
Menurut Thabâthabâ`î bahwa satu-satunya penafsiran yang benar adalah mufassir menjelaskan ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengannya dan memikirkan dengan mendalam ayat-ayat tersebut secara bersamaan, sehingga adanya dorongan kuat dari Al-Qur`an itu sendiri, dan mengidentifikasi pembahasan melalui sifat-sifat dan fakta-fakta atau keterangan-keterangannya seperti yang dikatakan di dalam ayat.29
Sumber penafsiran bil ma`tsur disebut juga dengan bil riwayah yaitu menafsirkan Al-Qur`an dengan berlandaskan dalîl naqli. Selain menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, Thabâthabâ`î juga mengutip hadits-hadits Nabi SAW., terutama yang mutawatir. Ia juga menyantumkan atsar sahabat dan tabiin. Ia tidak hanya menggunakan riwayat-riwayat dari ‘Alî dan ahlul bait, namun ia juga mengutip dari selainnya. Ia merujuk kepada Kitab Hadits al- Kâfî, Kutub at-Tis’ah, dan kitab hadits lainnya. Contohnya pada penafsiran QS.
Al-Baqarah (2): 50-61, pada “Bahts Rawa`i (Hadits)” Thabâthabâ`î mencantumkan hadits dari ‘Alî tentang cara taubatnya umat Nabi Mûsâas, hadits ini dikutip dari kitab ad-Durr al-Mantsûr. Kemudian ia mengutip darikitab al-Kâfî yaitu mengenai perkataan Abûl Hasan al-Madhi tentang ayat QS. Al-Baqarah (2): 57 yang berbunyi:30
ْﻢُﻬَﺴُﻔْـﻧَأ اﻮُﻧﺎَﻛ ْﻦِﻜَﻟَو ﺎَﻧﻮُﻤَﻠَﻇ ﺎَﻣَو َنﻮُﻤِﻠْﻈَﻳ
Contoh ketika Thabâthabâ`î mengutip dari Kutub at-Tis’ah ialah pada penafsiran QS. Al-Anfâl (8): 28-29, dalam “Bahts Rawâ`i (Hadits)” ia berkata riwayat dari jalan ahlussunnah seperti yang terdapat dalam Shâhih Bukhârî dan Shâhih Muslim. Hadits yang dikutipnya ialah sebagai berikut.31
28 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit., jilid 19-20, hlm. 567.
29 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 31.
30 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit., jilid 1-2, hlm. 152-153.
31 Ibid, jilid 9-10, hlm. 43.
ْﺑ ِرْﻮَـﺛ ْﻦَﻋ ٍل َﻼِﺑ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ ﻲِﻨَﺛﱠﺪَﺣ َلﺎَﻗ ٍﺐْﻫَو ُﻦْﺑا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱡﻲِﻠْﻳَْﻷا ٍﺪﻴِﻌَﺳ ُﻦْﺑ ُنوُرﺎَﻫ ﻲِﻨَﺛﱠﺪَﺣ ِﻦ
ﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ﱠنَأَةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَأ ْﻦَﻋ ِﺚْﻴَﻐْﻟا ﻲِﺑَأ ْﻦَﻋ ٍﺪْﻳَز َﻊْﺒﱠﺴﻟا اﻮُﺒِﻨَﺘْﺟا َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠ
َمﱠﺮَﺣ ﻲِﺘﱠﻟا ِﺲْﻔﱠـﻨﻟا ُﻞْﺘَـﻗَو ُﺮْﺤﱢﺴﻟاَو ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ ُكْﺮﱢﺸﻟا َلﺎَﻗ ﱠﻦُﻫ ﺎَﻣَو ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ﺎَﻳ َﻞﻴِﻗ ِتﺎَﻘِﺑﻮُﻤْﻟا ُﻪﱠﻠﻟا
َﻮﱠـﺘﻟاَو ﺎَﺑﱢﺮﻟا ُﻞْﻛَأَو ِﻢﻴِﺘَﻴْﻟا ِلﺎَﻣ ُﻞْﻛَأَو ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ ﱠﻻِإ ِت َﻼِﻓﺎَﻐْﻟا ِتﺎَﻨِﺼْﺤُﻤْﻟا ُفْﺬَﻗَو ِﻒْﺣﱠﺰﻟا َمْﻮَـﻳ ﻲﱢﻟ
ِتﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻟا
Artinya:
“Telah menceritakan kepadaku Hârun bin Sa’îd al-Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Tsaur bin Zaid dari Abû al-Ghaits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan." Dikatakan kepada beliau, "Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haqq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mu`minah baik-baik berbuat zina."”
Selain menggunakan sumber penafsiran bil ma`tsur, ia juga menggunakan pendekatan lainnya seperti falsafi, sejarah, teologi, ilmu pengetahuan, linguistik, dan lainnya. Dalam tafsirnya ia banyak mengutip pendapat-pendapat mufassir lain dan banyak merujuk pada kitab-kitab lain.
Salah satu kitab tafsir yang sangat banyak dirujuknya adalah kitab Majmâ’ul Bayân karya Ath-Thabrasyî. Meskipun ia adalah seorang dari kalangan Syiah, namun ia tidak hanya mengutip dari rujukan-rujukan kalangan Syiah, akan tetapi ia juga banyak mengutip dari rujukan-rujukan ahlussunnah. Hal ini merupakan bentuk sikapnya yang adil dan kecintaannya kepada keilmuwan dengan tidak menyingkirkan pendapat-pendapat mufassir lainnya. Akan tetapi ia tidak serta merta menerima semua pendapat-pendapat yang dinukilnya, namun terkadang ia menerimanya dan menjadikannya sebagai penguat atas sebagian lainnya, dan terkadang ia menolak sebagian pendapat setelah ia melakukan tarjîẖ.32 Selain itu Thabâthabâ`î juga terkadang mengutip dari Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil (Injil Barnabas, Injil Lukas, Injil Matius, Injil Markus, Injil Yohanes) , kitab tarikh, kitab asbâbunnuzûl, kitab kumpulan sya’îr, kitab pengobatan Islam seperti seperti Kitab asy-Syifa karya Ibnu Sina dan Zâdul Ma’ad karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, kitab balâghah, kitab
32 Ibid, jilid. 1, hlm, 9.
fawâ`id, kitab fikih, kitab akhlak, kitab lughah, kitab nasikh mansûkh, dan kitab-kitab lainnya.33
2. Metode Penafsiran Tafsîr al-Mîzân
Metode yang digunakan Tafsîr al-Mîzân ialah metode tahlîli dan disisipi tafsir maudhû’î terhadap tema-tema tertentu. Hal ini jelas terlihat dari sistematikanya, Thabâthabâ`î menafsirkan ayat sesuai urutan mushaf Al- Qur`an, namun terdapat judul-judul tafsir maudhû’î di dalamnya. Hal ini merupakan keunikan dari Tafsîr al-Mîzân. Dalam penafsiran maudhû’înya ia menuliskan judul yang akan dibahasnya yang masih berkaitan dengan salah satu pembahasan pada tafsir ayat sebelumnya pada metode tahlîli. Hal ini memberikan pemahaman yang mendalam pada pembahasan yang dianggapnya perlu dibahas lebih dalam. Ia menulis beragam topik filosofis, akademis, historis, sosial, dan etika. Hal itu ia tulis ketika memang dibutuhkan. Namun dalam menulis diskusi semacam ini, ia tidak menulis dengan detail yang terlalu banyak, tetapi ia membatasi pembahasannya hanya pada premis-premis (argumen, pemikiran atau keyakinan) dasarnya.34
Ketika Thabâthabâ`î menjelaskan bahasa, i’râb dan balâghah di dalam menafsirkan ayat-ayat, maka sesungguhnya ia menjelaskannya sebatas yang dapat membantu kepada pemahaman ayat dan membuka petunjuk- petunjuknya.35 Thabâthabâ`î tidak membahas secara terperinci dalam menjelaskan ayat-ayat hukum, karena menurutnya bahwa hal tersebut merupakan topik yang lebih tepatnya untuk buku-buku yurisprudensi (undang- undang, kebiasaan, adat). Di akhir sebuah pembahasan tafsir ia menulis bagian khusus dengan judul rawâ`î yang berisi pembahasan riwayat-riwayat. Riwayat- riwayat tersebut merupakan hadits-hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh para Imam ahlulbait dan para perawi Sunni.36
33‘Âdil ‘Abd al-Jabbâr al-Syâthî, al-Fahâris al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur`ân, (Beirut: Mu`assasah al- A’lamî lil Mathbû’ât, 1997), cetakan pertama, hlm. 539-567.
34 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 36.
35 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit., hlm. 11.
36 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, Tafsir Al-Mîzân, Op.Cit.,hlm. 35.
3. Corak Penafsiran Tafsîr al-Mîzân
Tafsîr al-Mîzân merupakan tafsir multidisiplin, karena pendekatannya pada berbagai ilmu, sebagaimana yang tercantum di dalam cover dalam tafsir:
“al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur’ân Kitâb ‘Ilmî Fanî, Falsafî, Adabî, Tarîkhî, Rawâ’î, Ijtimâ’î, Hadîts wa Yufassiru al-Qur’ân bi al-Qur’ân”, yang artinya: “al-Mîzân dalam tafsir al-Qur’an, kitab tentang ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, sejarah, riwayat-riwayat, sosial kemasyarakatan, dengan pendekatan hadits dan tafsir Al-Qur`an dengan Al-Qur`an”.37
Hal ini juga bisa diperhatikan dari latar belakang pendidikan Thabâthabâ`î yang giat mempelajari berbagai disiplin ilmu dari guru-guru yang sangat ahli di bidangnya. Sehingga menjadikan ia seorang ‘allâmah yang menguasai berbagai disiplin ilmu yang diantaranya ialah ilmu lahir dan ilmu batin.
Meskipun penulis Tafsîr al-Mîzân merupakan seorang dari kalangan Syi’ah, namun tafsir ini tidak hanya berlandaskan dari pemahaman Syi’ah.
Thabâthabâ`î berusaha bersikap adil dengan menyantumkan pula dari paham lain aliran lain seperti paham ahlussunnah. Namun demikian nuansa Syiah tetap terasa di dalam tafsir ini.
37 Muẖammad Husain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit.
Sebagaimana menurut Mahmud Ayub bahwa “Al-Mîzân fî Tafsîril Qur`ân merupakan karya yang sekaligus bersifat hukum, teologi, filsafat, mistik, sosial, dan ilmiah, bahkan moderat dan polemis”.38
Menurut Abu al-Qasim Razzaqi, “Tafsîr al-Mîzân memiliki beberapa macam segi: ilmiah, teknis, estetis, filosofis, historis, spiritual, sosiologis, dan trasisional (yang keterkaitan dengan hadits-hadits).” Namun terdapat tiga sesi yang paling menonjol dari yang lainnya, yaitu tafsir Al-Qur`an dengan Al- Qur`an, aspek sosiologis, dan aspek filosofis. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sumber penafsiran bahwasannya Tafsîr al-Mîzân merupakan tafsir al-Qur`an bil al-Qur`an. Menurut Abu al-Qasim Razzaqi, penjelasan sosiologis dalam Tafsîr al-Mîzân mengungguli tafsir-tafsir lain dalam kelasnya, baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif.39 Mengingat Thabâthabâ`î adalah seorang filosof yang juga seorang ulama dari aliran syi’ah, maka tidak heran filsafat sangat mewarnai karya-karya ilmiahnya, termasuk dalam kitab tafsirnya. Yang mana di dalam syi’ah, filsafat mempunyai posisi yang cukup penting sebagai salah satu cara untuk memahami Islam.40 Contoh penafsirannya secara filosofis ialah sebagai berikut:
QS. Al-Jâtsiyah [45]: 5
ِﺗْﻮَﻣ َﺪْﻌَـﺑ َضْرَْﻷا ِﻪِﺑ ﺎَﻴْﺣَﺄَﻓ ٍقْزِر ْﻦِﻣ ِءﺎَﻤﱠﺴﻟا َﻦِﻣ ُﻪﱠﻠﻟا َلَﺰْـﻧَأ ﺎَﻣَو ِرﺎَﻬﱠـﻨﻟاَو ِﻞْﻴﱠﻠﻟا ِف َﻼِﺘْﺧاَو ﺎَﻬ
ٍمْﻮَﻘِﻟ ٌتﺎَﻳآ ِحﺎَﻳﱢﺮﻟا ِﻒﻳِﺮْﺼَﺗَو َنﻮُﻠِﻘْﻌَـﻳ
) 5 (
Artinya:
“Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya;
dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”41
Menurut Thabâthabâ`î, firman Allah SWT. ِرﺎَﮭﱠﻨﻟاَو ِﻞْﯿﱠﻠﻟا ِف َﻼِﺘ ْﺧاَو artinya Allah menghendaki perbedaan keduanya dengan masa yang lama atau sebentarnya dengan perbedaan yang tersusun dan memutarkan putaran tahun-
38 Mahmud Ayub, Al-Qur`an dan Para Penerjemahnya, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992), cetakan ke 1, hlm. 57.
39 Abu Al-Qasim Razzaqi, Pengantar kepada Tafsîr Al-Mîzân, (Jurnal Al-Hikmah No. 8, 1413 H), hlm. 9.
40 Ahmad Baidowi, Op.Cit., hlm. 45.
41 Departemen Agama Republik Indonesia, Op.Cit., hlm.815.
tahun. Allah SWT. mengatur demikian itu untuk mendidik dengan pendidikan yang baik.42
َنﻮُﻠِﻘْﻌَﯾ ٍم ْﻮَﻘِﻟ ٌتﺎَﯾآ maksudnya yaitu orang-orang yang bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk menurut akal. Sesungguhnya Allah telah mengkhususkan setiap kelompok dari ayat-ayat kepada kaum khusus. Maka Allah menghususkan ayat tentang langit dan bumi ditujukan kepada orang mu’min. Ayat tentang manusia dan semua binatang untuk kaum yang meyakini.
Ayat tentang pergantian malam dan siang, tentang hujan, dan tentang perubahan arah angin untuk orang-orang yang berakal.
Ayat tentang langit dan bumi menunjukkan dengan petunjuk yang luas, bahwasannya tidak akan berwujud dengan sendirinya dan tidak pula dari infaq dan shadaqah. Maka penciptanya adalah yang menciptakan semuanya, Tuhan semua makhluk dan manusia. Hal tersebut (tentang penciptanya Esa) didapatkan dengan pemahaman yang luas dan sederhana. Orang-orang mu’min dengan semua lapisannya atau tingkatannya memahami hal tersebut dan mengambil manfaat. Sungguh Al-Qur`an telah mengkhususkan penyempurnaan penemuannya dan kesaksiannya bagi orang yang yakin sebagaimana firman Allah SWT. QS. Al-An’âm [6]: 75.
َﻦﻴِﻨِﻗﻮُﻤْﻟا َﻦِﻣ َنﻮُﻜَﻴِﻟَو ِضْرَْﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا َتﻮُﻜَﻠَﻣ َﻢﻴِﻫاَﺮْـﺑِإ يِﺮُﻧ َﻚِﻟَﺬَﻛَو )
75 (
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.”43
Adapun ayat tentang penggantian malam dan siang, tentang hujan yang menghidupkan bumi dan tentang perubahan arah angin, maka sesungguhnya ayat tersebut karena berbeda-bedanya pembagian-pembagian dan hitungan arahnya serta keterkaitan-keterkaitannya dengan bumi, dan tanah juga banyak manfaatnya sangat luas, memerlukan penggunaan akal dan pikiran secara terperinci dan mendalam. Hal tersebut tidak didapatkan dengan pemahaman secara luas yang sederhana. Oleh karena itu, ayat tersebut mengkhususkan bagi kaum yang berakal.44
42 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân,Op.Cit., jilid 17-18, hlm. 410.
43 Departemen Agama Republik Indonesia, Op. Cit., hlm. 199.
44 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân,Op.Cit., jilid 17-18, hlm. 411.
4. Sistematika Tafsîr al-Mîzân
Tafsîr al-Mîzân terdiri dari 20 volume dalam versi berbahasa Arab.
Sedangkan dalam bahasa Persia, satu volume diterjemahkan menjadi dua volume berbahasa Persia, sehingga terdapat 40 volume berbahasa Persia.45 Selain itu, Tafsîr al-Mîzân juga diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lainnya, diantaranya bahasa Inggris, dan bahasa Urdu.
Sistematika metode tahlîlinya, pertama-tama Thabâthabâ`î menampilkan ayat-ayat yang akan ditafsirkan sesuai urutan mushaf Al-Qur`an.
Kemudian menuliskan judul “Bayân” yang didalamnya merupakan penafsiran dari ayat-ayat tersebut. Ia menafsirkannya dengan per-ayat. Penulisan ayat Al- Qur`an dibedakannya dengan memberikan tanda kurung pada setiap ayat Al- Qur`an. Ketika menafsirkan al-Qur`an bi al-Qur`an atau ketika mencantumkan ayat lain yang berkaitan dengan ayat yang sedang ditafsirinya, ia memberikan footnote pada akhir ayat untuk memberikan keterangan nama Surat dan nomor ayat. Kemudian ia menuliskan judul “Bahts Rawâ`î” yang berisi riwayat- riwayat baik hadits maupun atsar dari berbagai jalur, baik dari jalur ahlul bait maupun jalur-jalur lainnya. Ia juga memberikan komentar atau penjelasan terhadap hadits yang telah ditampilkan.
Pada beberapa ayat ia menuliskan judul “Bahts Falsafî”, terkadang
“Bahts ‘Ilmî”, terkadang “Bahts Târikhî", terkadang “Bahts Akhlâqî” dan terkadang pula “Bahts Ijtima’î”. Di sela-sela penafsiran tahlîlinya, ia menuliskan judul mengenai pembahasan tertentu yang dirasa perlu dibahas lebih dalam. Hal itu merupakan bentuk penafsiran maudhû’înya. Ia juga terkadang menjelaskan penafsirannya dengan ilustrasi gambar seperti berikut:46
45 Abu Al-Qasim Razzaqi, Pengantar kepada Tafsir Al-Mîzân, Op.Cit., hlm.6.
46 MuẖammadHusain Thabâthabâ`î, al-Mîzân, Op.Cit., jilid 1, hlm. 370.
Setelah penafsiran dengan tahlîli pada QS. Al-Baqarah [2]: 153-157, terdapat salah satu judul Baths Akhlaqî yang di dalamnya Thabâthabâ`î memberikan ilustrasi gambar tersebut. Menurut Thabâthabâ`î ilmu akhlak adalah suatu cabang yang membahas tentang watak manusia yang berkaitan dengan seluruh makhluk hidup. Dengan akhlak dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk. Sehingga manusia dapat menghiasi dirinya dengan perbuatan yang baik dan memilih kebaikan akhlak daripada pujian manusia.
Seluruh akhlak manusia itu bermuara pada tiga hal. Ketiga hal tersebut berasal dari pengalaman-pengalaman manusia seperti dari pekerjaan, kesediaannya untuk berbuat serta perubahannya. Tiga hal tersebut yaitu kemauan, emosi, pembicaraan yang bersifat aqliyah. Setiap amal dan perbuatan yang bersumber dari manusia terkadang terdapat perbuatan yang memberikan kemanfaatan bagi manusia tersebut, seperti makan, minum, berpakaian, dan lain-lain. Ada juga perbuatan yang mengarah kepada perbuatan yang merusak (madharat). Seperti menjaga kesehatan dari penyakit, menjaga hartanya dari kerusakan. Semua perbuatan itu bersifat hawa nafsu. Adapun perbuatan yang membutuhkan gambaran dan pembenaran serta pikiran (tashawwur dan tashdiq), seperti pengqiyasan sebuah hukum dan mengemukakan alasan yang mana semua pekerjaaan ini berasal dari pembicaraan yang bersifat daya pikir. Seperti halnya ketika seseorang menyusun sebuah karangan yang dihasilkan dari ketiga cara pemikiran ini (tashawwur, tashdiq, dan fikr), maka akan menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.47
Dasar-dasar akhlak ada empat: hikmah, syujâ’ah, ‘iffah, dan ‘adâlah.
Setiap dasar akhlak tersebut mempunyai beberapa cabang yang mana manfaatnya itu akan kembali kepada cara mereka sesuai dengan usahanya masing-masing. Seperti dinisbatkannya dasar-dasar akhlak di atas dari cabang yang berasal dari jenis, seperti as-sakhâ` dengan jawad, qanâ’ah dengan syukur, sabar dengan syihâmah, jara`ah dengan hayâ`, ghîrah dengan nashîhah, karâmah dengan tawâdhu’, dan lain-lain. Contoh tersebut merupakan cabang dari keutamaan-keutamaa akhlak tercantum dalam kitab-kitab akhlak.
(Seluruh keutamaan akhlak tersebut seperti digambarkan dalam pohon dengan menjelaskan dasar-dasar akhlak dan menjelaskan cabang-cabangnya). Dengan
47 Ibid, jilid. 1, hlm. 281.
ilmu akhlak dapat membedakan batasan dari setiap cabang akhlak (dari setiap sudut pandang yang tidak berlebihan). Kemudian dengan menjelaskan bahwa akhlak itu adalah sesuatu yang indah. Akhlak juga dapat memudahkan mengontrol jiwa dengan ilmu dan amal. Dengan ilmu dan amal tersebut dapat menularkan kebaikan dan keindahan, dengan selalu berbuat yang berdasarkan akhlak yang bagus akan mnjadikan istikamah dalam kebaikan.48
48 Ibid, jilid. 1, hlm. 281-283.