17
BAB 2 KAJIAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang beberapa dasar-dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini. Dasar teori yang dimuat dalam bab ini antara lain pengertian tentang evaluasi, soft skills, dunia usaha dan industri, hasil penelitian yang relevan, dan kerangka pikir yang dipakai.
2.1 Evaluasi
2.1.1 Pengertian Evaluasi
Menurut para ahli, evaluasi adalah to find out, decide the amount or value yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah, pengertian ini tertuang dalam oxford advanced learner’s dictionary of current english (Suharsimi,2010:1). Pengertian evaluasi dapat diperjelas, evaluasi harus dilakukan secara hati- hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi, dan dapat dipertanggungjawabkan (Suharsimi,2010:1).
Evaluasi adalah sebuah proses pengumpulan data dan informasi yang dilakukan untuk menilai suatu objek atau program (Benny,2014:146). Evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian, dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil
18
keputusan dalam menentukan alternatif keputusan (Suharsimi,2010:2).
Dari pengertian beberapa ahli diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah proses penentuan nilai suatu objek atau program melalui penggambaran, pencarian, dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dilandasi semangat berhati-hati, bertanggung jawab,
menggunakan strategi dan dapat
dipertanggungjawabkan untuk memberikan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan.
Evaluasi bertujuan untuk menentukan nilai dan manfaat objek evaluasi, mengontrol, memperbaiki, dan mengambil keputusan mengenai objek tersebut (Wirawan,2012:9). Sedangkan menurut (Suharsimi, 2010:2) evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan tujuan evaluasi secara luas adalah untuk memperoleh data/informasi yang dapat digunakan untuk mengontrol, memperbaiki dan mengambil sebuah keputusan. Tujuan evaluasi dibagi menjadi 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan pada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing komponen (Suharsimi,2010:27). Tujuan umum akan
19 menjelaskan gambaran secara umum keterlaksanaan sebuah program, sedangkan tujuan khusus akan menggambarkan kegiatan perkomponen program tersebut. Dalam mempermudah mengidentifikasi tujuan evaluasi program ada bebrapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu; What, Who dan How sehingga paling sedikit dapat diidentifikasi adanya 3 (tiga) komponen kegiatan, yaitu tujuan, pealaksanaan kegiatan, dan prosedur atau teknik pelaksanaan (Suharsimi,2010:28).
Dalam perkembangannya evaluasi dibedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk dan sebagainya), sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dipakai untuk pertanggung jawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan (Farida,2008:4). Kedua jenis evaluasi tersebut penting karena sebuah keputusan yang diambil bisa didapatkan selama proses kegiatan itu berjalan ataupun pada akhir kegiatan proyek tersebut, yang digunakan untuk memperbaiki dan memperkuat lagi sesudah stabil, untuk menilai manfaat, atau menentukan masa depan program. Penelitian dengan menggunakan model evaluasi formatif dan sumatif menurut penggunaannya akan mengalami perubahan, seperti yang digambarkan kurva berikut.
20
Gambar 2.1 Evaluasi Formatif Dan Sumatif Menurut Penggunaanya (Worthen, BR & Sander, GR, 1987 dalam Farida 2008: 38 )
1.1.2 Model Evaluasi Program
Suharsimi dalam bukunya Evaluasi Program Pendidikan (2010:4), mendefinisikan program dengan menyatakan bahwa apabila program langsung dikaitkan dengan evaluasi program, maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Sehingga pengertian program secara umum adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan, maka program merupakan sebuah sistem, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali tetapi berkesinambungan (Suharsimi,2010:4).
Jadi program merupakan sebuah rangkaian yang melibatkan banyak orang untuk sebuah implementasi dari suatu kebijakan secara berkesinambungan.
Tekanan Relatif
Evaluasi Formatif
Evaluasi sumatif Kehidupan Program
21 Sedangkan pengertian evaluasi program menurut Tyler, 1950 tentang evaluasi pendidikan mengemukanan bahwa “evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah dapat terealisasikan” (Suharsimi,2010:5). Evaluasi Program adalah upaya mengambil informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Tetapi meskipun evaluator menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program (Suharsimi2010:5)
Evaluasi program dapat disimpulkan sebagai kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari sebuah kegiatan yang direncanakan, sehingga dapat diambil sebuah keputusan. Tujuan evaluasi adalah untuk menyajikan informasi dengan mengetahui kondisi objek yang diteliti, maka evaluasi program merupakan salah satu bentuk dari penelitian yaitu penelitian evaluatif, oleh karena itu dalam membicarakan evaluasi program, pelaksana berfikir dan menentukan langkah sebagaimana melaksanakan penelitian.
Penelitian berbeda dengan evaluasi karena penelitian menitik beratkan pada penggambaran pada sebuah objek. Sedangkan evaluasi lebih dari pada penelitian karena setelah mendapatkan gambaran pada sebuah objek peneliti akan menmbandingkan gambaran tersebut dengan sebuah standar tertentu.
22
Tabel 2.1. Perbedaan Penelitian Dengan Evaluasi (Suharsimi, 2010 : 7)
No PENELITIAN EVALUASI
1.
Peneliti ingin mengetahui gambaran tentang sesuatu kemudian hasilnya dideskripsikan.
Peneliti ingin mengetahui seberapa tinggi mutu hasil pelaksanaan program, setelah data terkumpul dibandingkan dengan standar atau kriteria tertentu.
2.
Peneliti dituntun oleh rumusan masalah karena ingin mengetahui jawaban dari penelitinya.
Peneliti ingin mengetahui tingkat ketercapaian tujuan program, dan apabila program belum tercapai sebagaimana ditentukan, peneliti ingin mengetahui dimana letak kekurangannya itu dan apa sebabnya.
Berdasar penjabaran perbedaan penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa penelitian menekankan pada gambaran dari sebuah sesuatu ataupun penjabaran jawaban berdasarkan dari rumusan masalah. Sedangkan evaluasi ditujukan untuk mengatahui sebarapa tinggi mutu suatu program berdasarkan standar atau kriteria, dan apabila belum sesuai/tercapai sesuai dengan standar atau kriterianya, peneliti ingin mengetahui dimana letak kekurangannya itu dan apa sebabnya.
Sehingga penelitian dalam prosenya akan menghasilkan kesimpulan dan saran, sedangkan evaluasi dalam prosesnya akan menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi. Hal ini sesuai dengan tabel di bawah ini yang dituliskan Suharsimi dalam bukunya evaluasi program pendidikan.
23 Penelitian :
Evaluasi :
Untuk melaksanakan sebuah evaluasi banyak model yang bisa digunakan untuk mengevaluasi sebuah program pendidikan. Meskipun berbeda, model evaluasi program pendidikan berdasarkan tujuannya tetaplah sama, yaitu melakukan pengumpulan data untuk menyediakan bahan bagi pengambil keputusan, banyaknya model teori evaluasi program, mempermudah bagi peneliti untuk melaksanakan sebuah penelitian berdasarkan karakteristik evaluasi yang peneliti lakukan. Menurut Suharsimi, (2010:40) dalam bukunya evaluasi program pendidikan, membagi model evaluasi program pendidikan menjadi delapan jenis diantaranya adalah :
1. Goal oriented Evaluation Model, 2. Goal free Evaluation Model
3. Formatif-Sumatif Evaluation model 4. Countenance evaluation model 5. Responsive evaluation model 6. CSE-UCLA Evaluation Model 7. CIPP Evaluation Model 8. Disceprancy Model
Tabel 2.2 Perbedaan Langkah Penelitian dan Evaluasi Program (Suharsimi, 2010: 26)
Analisis Kesimpulan Saran
Analisis Kesimpulan Rekomendasi
24
Pendidikan soft skills ini tidak dapat dilihat secara nyata sehingga sulit untuk diukur ketercapaiannya, sehingga dalam penelitian ini penulis menggunkan jenis evaluasi goal free evaluation model karena pada dasarnya tujuan sebuah program itu tidak mutlak tetapi harus berkesinambungan dalam prosesnya, sehingga tujuan akan tercapai dengan sendirinya. Dalam pendidikan karakter proses perubahan watak membutuhkan sebuah proses lama yang berkesinambungan.
Model ini dikembangkan oleh Michael Scriven.
Model Goal Free Evaluation dapat diartikan sebagai evaluasi lepas dari tujuan. Dalam melaksanakan evaluasi program, evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan program. Yang perlu diperhatikan dalam program tersebut adalah bagaimana kerjanya program, dengan jalan mengidentifikasi penampilan penampilan yang terjadi, baik hal-hal positif (yaitu yang diharapkan) maupun hal-hal negatif (yang sebetulnya memang tidak diharapkan).
Tujuan program tidak perlu diperhatikan karena ada kemungkinan evaluator terlalu rinci mengamati tiap- tiap tujuan khusus program. Jika masing masing tujuan khusus program tercapai, dalam arti terpenuhi dalam penampilan, tetapi evaluator lupa seberapa jauh masing masing penampilan tersebut mendukung penampilan akhir yang diharapkan oleh tujuan umum, maka akibatnya jumlah penampilan khusus ini tidak banyak manfaatnya.
25 Walaupun secara pengertian evaluasi model ini adalah evaluasi lepas dari tujuan, dalam hal ini tidak berarti lepas dari tujuan sama sekali, tetapi hanya lepas tujuan khusus. Model ini hanya mempertimbangkan tujuan umum yang akan dicapai oleh program, bukan secara rinci per komponen. Model evaluasi goal free evaluation yang dikembangkan scriven mempunyai maksud bahwa evaluasi ini merupakan evaluasi mengenai pengaruh yang sesungguhnya, objektif yang ingin dicapai program (Wirawan,2011:84). Ia mengemukakan bahwa evaluator seharusnya tidak tahu tujuan program sebelum melakukan evaluasi. Evaluator melakukan evaluasi untuk mengetahui pengaruh yang sesungguhnya dari operasi program.
Pengaruh program bisa meliputi 3 aspek yaitu, 1 (pertama) pengaruh sampingan yang negatif yang tidak diharapkan, 2 (kedua) pengaruh positif sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, 3 (Ketiga) pengaruh sampingan yang positif yang diluar tujuan program yang ditetapkan.
Pengaruh program
Pengaruh Sampingan negatif yang tidak diharapkan
Pengaruh positif sesuai dengan tujuan yang ditetapkan
Pengaruh sampingan positif diluar tujuan program yang ditetapkan
Gambar 2.2. Pengaruh Suatu Program (Wirawan, 2011 :84)
26
Suatu program dapat mempunyai tiga jenis pengaruh yaitu :
1. Pengaruh sampingan yang negatif. Yaitu pengaruh sampingan yang tidak dikehendaki program. Ini seperti jika seseorang meminum obat atau pengobatan yang seringkali mempunyai efek samping yang tidak dikehendaki.
2. Pengaruh positif yang ditetapkan oleh tujuan program. Suatu program mempunyai tujuan yang ditetapkan oleh rencana program. Tujuan program merupakan apa yang akan dicapai atau perubahan atau pengaruh yang diharapkan dengan layanan atau perlakuan program.
3. Pengaruh sampingan positif, yaitu pengaruh positif program diluar pengaruh positif yang ditentukan oleh tujuan program.
Model evaluasi ini akan sangat meluas dan menimbulkan masalah bagi evaluator dalam hal beban kerja, biaya, dan waktu. Untuk itu perlu adanya batasan pengaruh sampingan dari tujuan program, yang disuaikan dengan maksud dan tujuan penelitian. Agar tidak terlalu meluas maka sebelum meneliti, evaluator harus memprediksi, mengidentifikasi dan mendefinisikan apa saja yang temasuk efek sampingan yang negatif dari program; apa saja yang termasuk pengaruh positif sesuai tujuan program; dan apa saja pengaruh positif diluar tujuan program (Wirawan,2011:86).
27 2.2 Soft Skills
Berthal dalam (Endang,2011:14) menyebutkan bahwa soft skills didefinisikan sebagai “personal and interpersonal behaviours that develop and maximize human perfomance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making, etc) soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills”.
(“Perilaku yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia (misalnya pelatihan, pembentukan tim, inisiatif, pengambilan keputusan, dll) soft skill tidak termasuk keterampilan teknis seperti keuangan, komputasi dan keterampilan perakitan”). Dalam penjelasan yang lain, pengertian soft skills adalah kecakapan non teknis yang terkait dengan kecakapan yang akan menjadi faktor penguat keberhasilan individu tersebut dalam menjalaninya (Endang,2011:1).
Dapat disimpulkan bahwa soft skills adalah kecakapan dalam hal perilaku non teknis yang menjadi penguat sebuah kinerja manusia dan merupakan ketrampilan seseorang yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain, sehingga kompetensi soft skills itu mencakup nilai-nilai sikap, perilaku, kebiasaaan, karakter dan motivasi.
Ketrampilan soft skills merupakan ketrampilan pokok yang dibutuhkan seseorang untuk mendukung ketrampilan hard skills nya. Kompetensi soft skills tidak dapat terlihat secara nyata, namun kompetensi ini
28
berpengaruh besar pada kesuksesan seseorang. Menurut penelitian yang sudah dilakukan, kompetensi soft skills seseorang mempunyai peran yang sangat penting dalam menyukseskan perjalanan karirnya. Kesuksesan seseorang dalam bekerja 15% ditentukan dengan penguasaan hard skills, sementara 85% sisanya ditopang oleh penguasaan soft skills orang tersebut.
(http://L08.cgpublisher.com/condition.html/2009/08/2 3: www.visualsofindia.com / journal.html/2011/05/11 (Hamidah,2011:7). Endang (2011:1), dalam bukunya yang berjudul pengembangan soft skills di SMK menyatakan bahwa Setiap pemegang profesi dituntut mempunyai hard skills yang khusus, tetapi soft skills bisa merupakan kemampuan yang harus dimiliki disetiap profesi.
Pernyataan ini dapat disimpulakan bahwa setiap orang memang membutuhkan hard skills sebagai kompetensi teknis untuk menjalankan profesinya, namun kompetensi bukan teknis yang merupakan kompetensi soft skills merupakan komponen utama dalam menguatkan kompetensi hard skills seseorang.
Dengan penguasaan soft skills yang bagus, kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri dan orang lain dapat memudahkan dirinya memperoleh karir yang bagus pada setiap profesi yang dipilihnya. Soft skills dapat dipakai pada semua kompetensi hard skills yang dipilih seseorang dalam menjalani karirnya. Kompetensi soft skills tidak membatasi seseorang dalam mendalami
29 kompetensi teknis (hard skills) seseorang, melainkan akan memperdalam kemampuan teknis (hard skills)-nya.
Dalam lingkungan dunia usaha dan industri sekarang ini, tuntutan efektifitas dan efisiensi dalam mengejar kualitas serta kuantitas suatu produk, menuntut proses kerja menjadi cepat, tepat dan teliti.
Upaya persaingan dalam dunia usaha dan industri membuat beberapa industri menggantikan posisi pekerja manusia. Kegiatan produksi sudah mulai adanya perubahan dari sistem padat karya digantikan dengan sistem mesin-mesin otomatis (robot). Peralatan canggih sudah mendominasi proses produksi pabrik dewasa ini, mesin-mesin yang canggih tidak menjadi jaminan dalam menentukan keberhasilan sebuah industri. Mesin hanyalah mesin tidak bisa seluruhnya menggantikan posisi manusia. Semangat, motivasi dan kreatifitas yang terangkum dalam kompetensi soft skills seseorang, menjadi kreator dalam meningkatkan keberhasilan sebuah usaha dan industri. Kompetensi soft skills tidak akan pernah tergantikan oleh robot, komputer ataupun peralatan canggih lainya. Kompetensi ini akan terus dipakai dimanapun tempatnya dan dimanapun posisinya tanpa harus membedakan kompetensi hard skills seseorang yang dimilikinya.
Mengingat sangat pentingnya kompetensi soft skills maka perlu adanya sebuah usaha yang dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi soft skills seseorang.
Usaha ini barlangsunag dalam tiga pilar pendidikan
30
yakni dalam satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat. Setiap pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun yaitu melalui pendekatan intervensi dan pendekatan habitasi.
Kompetensi soft skills dapat diasah melalui sebuah lembaga pendidikan ataupun dilembaga non kependidikan. Pada lembaga pendidikan, kompetensi soft skills akan terintegrasi dengan kurikulum sekolah.
Sehingga akan terjadi proses pembelajaran yang terukur dan terencana sesuai kebutuahan yang dibutuhkan oleh siswa. Kebutuhan soft skills dibagi menurut tingkat pengalaman belajar masing masing siswa.
Secara garis besar kompetensi Soft skills di bagi menjadi 2 yaitu kompetensi Intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal skills adalah ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri. Sedangkan interpersonal skills adalah ketrampilan seseorang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis ketrampilan tersebut dirinci (Endang,2011:15).
a. Intrapersonal skills ( dipahami sebagai kecakapan diri pribadi atau berhubungan dengan dirinya sendiri ) 1. Transforming character (kemampuan mewujudkan
karakter/ watak)
2. Transforming beliefs (kemampuan mewujudkan keyakinan)
3. Change management (kemampuan menghadapi dan mengelola perubahan)
4. Stress management (kemampuan pengelolaan stress)
31 5. Time management ( Kemampuan mengelola waktu) 6. Creative thinking processes ( kemampuan proses dan
berfikir kreatif)
7. Goal setting & life purpose (Kemampuan menentukan dan mencapai tujuan)
8. Accelerate learning technique (Kemampuan melakukan percepatan belajar)
b. Interpersonal skills (secara mudah dapat dipahami sebagai kecakapan bergaul, atau berhubungan dengan orang lain)
1. Comunication skills (ketrampilan berkomunikasi) 2. Relationship building (kemampuan membangun
/hubungan)
3. Motivation skills (ketrampilan motifasi) 4. Leadership skills (kecakapan memimpin)
5. Self marketing skills (kecakapan mempromosikan diri) 6. Negotiation skills ( kecakapan bernegosiasi)
7. Presentation skills (kecakapan presentasi atau menjelaskan pemikiran)
8. Public speaking skills (kecakapan berbicara didepan umum)
Penelitian yang dilakukan beberapa negara tentang soft skills yaitu Inggris, Amerika dan Kanada, disimpulkan ada 23 atribut soft skills yang dominan yang dibutuhkan di dunia kerja. Kedua puluh tiga atribut tersebut diurutkan kedalam berdasarkan prioritas kepentingan dunia kerja yaitu seperti berikut (Endang,2011:18):
32
1. Inisiatif 2. Etika
3. Berfikir kritis 4. Kemauan belajar 5. Komitmen 6. Motifasi 7. Bersemangat 8. Dapat diandalkan 9. Komunikasi lisan 10. Kreatif
11. Kemampuan analitis 12. Dapat mengatasi stress.
2.3 Dunia Usaha Dan Industri (DUDI)
Dalam pendidikan sekolah menengah kejuruan pengertian dunia usaha dan industri dapat diartikan sebagai kelompok yang menyerap kebutuhan pekerja/
pegawai. Dunia usaha adalah usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dan berdomisili di Indonesia (Pasal 1 angka 5 UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Dunia usaha dan industri erat kaitannya dengan aktifitas perjalanan roda ekonomi dalam skala besar. Kebutuhan akan pekerja terampil atau pegawai dalam dunia usaha dan industri dipasok dari sekolah-sekolah vokasi.
Sekolah vokasi bertujuan menghasilkan lulusan yang menyediakan kebutuhan pekerja kejuruan pada dunia usaha dan industri. Dunia usaha dan industri saling bersinergi dengan pendidikan untuk menghasilkan
13. Manajemen diri
14. Menyelesaikan persoalan 15. Dapat meringkas
16. Kooperatif 17. Fleksibel
18. Kerja dalam tim 19. Mandiri
20. Mendengarkan 21. Tangguh
22. Berargumen logis 23. Manajemen waktu
33 keuntungan antara satu dengan yang lain. Hubungan yang baik antara sekolah dan DUDI akan menghasilkan keuntungan yaitu Sekolah memiliki kurikulum yang telah disingkronkan dengan kebutuhan industri, sehingga lulusannya dapat terserap dan langsung beradaptasi dengan lingkungan DUDI, sedangkan Industri mendapatkan kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai sesuai dengan karakteristik usaha yang dimiliki DUDI. Menurut jurnal pendidikan vokasi volume 6 no 2 tahun 2016, hal. 170 menjelaskan tentang peran dudi terhadap sekolah yang antara lain adalah :
1. Penyelenggara prakerin siswa 2. Peran pembinaan guru
3. Peran pembinaan siswa
4. Peran penyedia sarana dan prasarana 5. Peran pengembangan kurikulum
Dalam aplikasi peran DUDI terhadap sekolah, peran dominan yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan soft skills adalah peran pembinaan siswa dan peran pengembangan kurikulum. Peran pembinaan siswa dilaksankan sebagai model pembelajaran dari industri yang memberikan pelajaran sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan sedangkan Peran DUDI dalam Pengembangan kurikulum dilakukan dalam bentuk workshop kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum sekolah ditentukan kompetensi seperti apa yang dibutuhkan oleh industri yang akan diajarkan pada siswa. Untuk mencapai relevansi dengan kebutuhan
34
dunia kerja maka diperlukan keterlibatan industri pasangan.
Relevansi kurikulum antara sekolah dan industri mengikat dalam berbagai macam hal terutama dalam bidang kompetensi hard skills dan soft skills siswa. Hasil relevansi kurikulum menjadikan sekolah memilah penguatan kompetensi yang harus diberikan pada siswa agar sesuai dengan kebutuhan industri selaku pengguna lulusan. Kompetensi siswa yang ditanamkan harus sesuai dengan karakteristik industri pemakai, termasuk dalam hal ini adalah kompetensi soft skills siswa harus sesuai dengan kebutuhan budaya industri. Soft skills peserta didik dalam sebuah industri terangkum dalam budaya industri dan budaya organisasi sebuah industri.
Dalam hubungannya dengan pekerja, dunia usaha dan industri memiliki budaya tersendiri sesuai dengan karakteristik Kelompok usaha maupun industrinya.
2.3.1 Budaya industri
Setiap industri memiliki budaya yang mencerminkan karakteristik organisasi tersebut. Dalam literatur, budaya organisasi dipahami sebagai sekumpulan nilai-nilai yang membantu anggota organisasi untuk memahami perilaku mana yang benar- benar diterima dan tidak bisa diterima (Mardianto,2009:
30). Hodge, Antony dan Gales medefinisikan budaya adalah konstruksi mencakup karakteristik organisasi yang tampak dan tidak tampak (Mardianto,2009:31).
35 Budaya yang tampak meliputi aspek organisasi seperti arsitektur, pakaian, pola perilaku, peraturan, legenda, mitos, bahasa dan seremonial. Sedangkan yang tidak tampak mencakup share value, norma-norma, keyakinan dan asumsi-asumsi anggota organisasi. Berbagai latar belakang pendidikan, budaya, dan pengalaman menyababkan banyak nilai-nilai (values) individu tumbuh dalam suatu kelompok. Nilai-nilai (values) ini disebut sebagai nilai individu (Mardianto,2009:31).
Nilai nilai individu akan melebur menjadi nilai - nilai kelompok yang kompak demi tercapainya satu tujuan bersama. Nilai - nilai kelompok akan menjadi sebuah identitas kelompok/organisasi, yang tidak lagi membedakan nilai-nilai individu yang berada dalam organisasi tersebut. Nilai-nilai ini dapat diartikan sebagai budaya kelompok/organisasi.
Pada umumnya budaya dibangun atau diciptakan oleh pendiri atau lapisan pimpinan atas yang mendirikan atau merintis sebuah perusahaan. Falsafah atau strategi yang diterapkan oleh mereka lalu menjadi petunjuk dan pedoman bawahan mereka dalam melaksanakan tugas.
Bila implementasi strategi ini ternyata berhasil dan dapat bertahan bertahun-tahun, maka filosofi atau visi yang diyakini tersebut akan berkembang menjadi budaya organisasi. Jika budaya organisasi tersebut dibakukan maka dalam implementasinya harus berfungsi sebagai alat ukur dari setiap kegiatan organisasi (Mardianto,2009:32).
36
Menurut Robbins ada 10 faktor yang merupakan dasar atau budaya organisasi industri. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Individual initiative, yaitu tingkat tanggung jawab, kebebasan, kemandirian, dan kesempatan yang dimiliki individu untuk menggunakan inisiatifnya dalam perusahaan.
2. Risk tolerance, yaitu seberapa jauh tingkat resiko yang boleh atau mungkin diambil oleh anggota dalam perusahaan.
3. Direction, adalah seberapa jauh perusahaan memberikan penjelasan tentang tujuan yang ingin dicapai dan kinerja yang diharapkan.
4. Integration, adalah sejauh mana unit-unit kerja dalam perusahaan didorong untuk bekerja dalam suatu sistem yang terkoordinasi.
5. Managemen Support, yaitu sejauh mana manajer-manajer dalam perusahaan memberikan pengarahan, dukungan dan berkomunikasi dengan bawahannya.
6. Control, yaitu sebuah aturan, kebijaksanaan, dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengontrol perilaku karyawan.
7. Identity, yaitu sejauh mana anggota mengidentifikasikan diri pada perusahaan.
8. Reward system, yaitu bagaimana tingkat penghargaan yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
37 9. Conflict tolerance, yaitu tingkat toleransi
terhadap konflik yang muncul dalam perusahaan.
10. Comunication pattern, yaitu sejauh mana komunikasi dalam perusahaan dibatasi berdasarkan susunan wewenang secara formal.
(Mardianto,2009:32)
2.3.2 Budaya Organisasi
Berbeda dengan budaya industri, budaya organisasi berfungsi sebagai nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama memberikan beberapa fungsi penting.
Pertama, membawa perasaan identitas sebagai anggota organisasi. Ke-dua sebagai sarana untuk membangun komitmen akan sesuatu yang besar dari diri sendiri. Ke- tiga meningkatkan stabilitas sistem sosial, ke-empat budaya organisasi merupakan sense making device yang dapat memberikan pedoman dan mempertajam perilaku (Mardianto,2009:34).Budaya organisasi ada pada budaya industri, dapat diartikan bahwa budaya organisasi merupakan bagian dari budaya industri. Menurut Robbins bahwa fungsi budaya organisasi adalah sebagai pembeda organisasi dengan organisasi lainnya, sebagai tujuan bersama, alat stabilitas sosial perusahaan, meningkatkan identitas anggota perusahaan dan memberikan pengertian dan mekanisme kontrol terhadap sikap dan perilaku (Mardianto,2009: 34).
38
Bagi suatu industri peran budaya organisasi sangat besar bagi kemajuan industri tersebut. Karena budaya budaya organisasi akan mendorong terciptanya budaya industri, yang bermanfaat bagi kemajuan industri. Bidaya organisasi juga penting untuk :
1. Memberikan sense of identity bagi para anggota organisasi dalam memahami misi dan visi serta menjadi bagian integral dalam organisasi.
2. Menghasilkan dan meningkatkan komitmen terhadap misi organisasi.
3. Memberikan arah dan memperkuat standar perilaku guna pengendalian pelaku organisasi agar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang telah disepakati (Mardianto,2009:35).
2.3.3 Kompetensi
Kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan, dan karakteristik yang dapat mendorong efektifitas kinerja (Mardianto,2009:40).
Menurut pendapat yang lain kompetensi diartikan sebagai kehandalan/penguasaan atas perpaduan pengetahuan, ketrampilan dan attitude.
(Mardianto,2009:41). Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kompetensi merupakan kemampuan yang dihasilkan dari kombinasi pengetahuan, ketrampilan dan karakteristik/attitude.
39 Dalam proses recruitmen kompetensi menjadi tolak ukur tenaga kerja dapat diterima atau tidak pada sebuah industri. Posisi kerja dalam industri dibuat dengan pe- levelan kompetensi disesuaikan dengan tingkat penguasaan jenis kompetensi. Mulai dari yang sederhana sampai dengan yang paling kompleks, ataupun dari yang paling ringan sampai yang paling berat, semua tergantung kebutuhan pada industri masing-masing.
Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam pe-levelan tingkatan posisi kerja menempati level bawah seperti operator ataupun mekanik. Hal ini sesuai dengan acuan level posisi kerja yang dikeluarkan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
Gambar 2.3 Level Jenjang Tempat Kerja ( Sumber : BNSP, 2016 )
S2
S1 S3
Sekolah Menengah
Umum 1
2 3 4 5 7 8 9
6 Profesi
Spesialis
D I D IV
D III D II
Sekolah Menegah Kejuruan Subspesialis
AHLI
TEKNISI/ANALIS
OPERATOR
Skema sertifikasi KKNI dan kesetaraan dgn DikLat dan jenjang tempat kerja
40
Pada gambar diatas dapat disimpulakan bahwa lulusan Sekolah Menengah memiliki kualifikasi kerja pada tempat kerja sebagai operator atau yang sejenisnya.
Pada posisi operator kebutuhan kompetensi yang dibutukan menurut Mardianto (2009:45) adalah seperti tabel di bawah ini.
Tabel 2.3 Standart kompetensi / posisi (competency matriks)
Tabel kebutuhan pegawai sesuai kompetensi yang ada di atas, dapat diterjemahkan bahwa kebutuhan soft skills untuk lulusan smk yaitu level operator dan mekanik membutuhkan kompetensi antara lain communicatin skill, mencari informasi, berfikir analitis, dan english literacy. Kompetensi yang dibutuhkan
kompetensi Proyek manag
er
Kabag plant
Plant group leader
Meka
nik Operat or
Communication skill 5 3 2 1 1
Leadership Skill 4 3 2 - -
Mencari Informasi 4 3 2 2 1
Berpikir Analitis 4 3 2 2 1
Maintenance
Managemen 2 4 3 - -
English Literacy 5 3 3 1 1
Computer literacy 3 2 2 - -
41 masing masing posisi tidak sama dan berbeda setiap levelnya. Untuk tingkatan operator kompetensi soft skills yang dibutuhkan meliputi communicatin skill, mencari informasi, berfikir analitis, dan english literacy berada pada tingkatan level 1. Dan untuk posisi kerja mekanik kompetensi comunication skills dan english literacy berada pada level 1 sedangkan kompetensi mencari informasi dan berfikir analitis berada pada level 2. Hal ini dijabarkan pada leveling kompetensi yang ada di bawah ini sesuai dengan karakteristik perusahaan masing masing.
Tabel 2.4 Leveling Kompetensi Mencari Informasi (Joko dalam Mardianto,2009:43)
Kompetensi : Mencari Informasi (Informasi Seeking, INFO)
Definisi : Besarnya usaha tambahan yang dikeluarkan untuk mengumpulkan informasi lebih banyak Level Penjelasan Indikator Perilaku
0 Tidak diperlukan. Tidak mencari informasi tambahan selain yang diberikan kepadanya
1
Bertanya. Mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pihak yang disediakan atau orang yang terlibat secara langsung dalam situasi yang bersangkutan, bahkan jika orang tersebut tidak hadir secara fisik dalam situasi yang bersangkutan, berkonsultasi dengan sumber daya yang ada.
Menyadari bahwa orang dengan performasi superior sekalipun akan melakukan usaha untuk mengumpulkan informasi yang tersedia sebelum melakukan tindakan
42 2
Melakukan penyelidikan secara pribadi. Bergerak sendiri untuk melihat pesawat, pabrik, kapal, instalasi konsumen, prmohonan pinjaman bisnis, ruang kelas, paper, atau masalah-masalah lainnya.
Menanyai orang yang paling dekat dengan masalah yang biasanya diabaikan oleh orang lain
3
Menggali lebih dalam. Mengajukan serangkaian pertanyaan untuk mencari akar prmasalahan atau latar belakang situasi, jauh dibawah yang terlihat di permukaan.
4
Menghubungi pihak pihak lain. Menghubungi pihak- pihak lain yang tidak telibat secara personal untuk mengetahui perspektif mereka mengenai informasi yang melatarbelakangi, (Pengalaman ini sering dilakukan tetapi tidak penting, suatu bentuk pemanfaatan hubungan yang dibina sebelumnya)
5
Melakukan penelitian. Melakukan usaha-usaha yang sistematis selama periode waktu yang terbatas, untuk memperoleh data atau umpan balik yang dibutuhkan, atau melakukan riset formal lewat surat kabar, majalah, dan media lainnya. (Jika informasi adalah berupa data teknis yang sudah ada atau pengetahuan atau usaha sistematis tersebut memerlukan suatu bentuk pelatihan, maka skornya diberikan untuk Technical Expertise C).
6
Menggunakan cara kerja sendiri. Secara personal telah merencanakan cara kerja atau kebiasaan dalam mengumpulkan berbagai jenis informasi (bisa berupa „mangement by walking around‟. Pertemuan informal secara reguler), jika hal ini ditujukan benar- benar untuk mengumpulkan informasi.
43 7
Melibatkan pihak lain. Melibatkan orang-orang yang secara normal semestinya tidak terlibat dan meminta mereka untuk mencari informasi yang diperlukan.(tidak memberikan skor pendelegasian riset atau pencarian informasi kepada bawahan; poin ini hanya untuk melibatkan pihak pihak yang seharusnya tidak terlibat)
Tabel 2.5 Leveling Kompetensi Berpikir Analitis (Joko dalam Mardianto,2009:44)
Kompetensi : Berpikir Analitis ( Analitical Thinking , At )
Definisi :
Kemampuan untuk memahami situasi dengan cara menguraikan masalah menjadi bagian- bagian yang lebih rinci (faktor-faktor penyebab masalah), atau mengamati akibat suatu keadaan tahap demi tahap berdasarkan pengalaman masa lalu
Level Penjelasan Indikator Perilaku
0
Tidak berlaku atau tidak ada. Melaksanakan segala sesuatu yang ada atau diperintahkan, atau melakukan apa yang diatur orang lain.
1 Menguraikan masalah menjadi bagian-bagian / tugas/ kegitan sederhana.
2
Melihat hubungan mendasar.Menganalisa hubungan antara beberapa bagian dari persoalan. Membuat hubungan sebab akibat sederhana, dan mengkaji keuntungan dan kelemahan setiap alternatif.
Membuat prioritas tugas berdasarkan tingkat kepentingan.
44 3
Melihat hubungan bertingkat. Menganalisa hubungan beberapa bagian dari situasi atau permasalahan.
Memecah persoalan menjadi bagian bagian yang dapat dikelola secara sistematis. Mampu memprediksi kemungkinan konsekwensi dari suatu tindakan. Secara umummengatasu hambatan dan selalu berfikir kedepan/ langkah berikutnya.
4
Membuat rencana atau analisis yang kompleks.
Secara sistematis memecah persoalan yang komplek menjadi komponen komponen yang mudah dipahami. Menggunakan beberapa teknik untuk memilah permasalahan untuk mencari solusi, atau menyusun rantai sebab akibat dari suatu proses yang tekait yang cukup panjang.
5
Membuat rencana dan analisis yang sangat kompleks. Secara sistematis memecah masalah multi dimensi (banyak faktor yang mempengaruhi) menjadi bagian – bagiannya sehigga mudah dipahami, atau mengunakan beberapa alternatif solusi dan memberi prioritas pada tiap alternatif solusi tersebut.
6
Membuat rencana atau analisa yang luar biasa rumit.
Mengorganisir mengurutkan dan menganalisis sistem yang saling terkait dan sangat kompleks/dinamis
2.4 Hasil Penelitian Yang Relevan
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengkaji hasil- hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan kegiatan evaluasi pendidikan soft skills Program Studi keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Salatiga pada
45 penyiapan peserta didik dalam memasuki dunia usaha dan dunia industri. Hasil-hasil penelitian yang dikaji mencakup penelitian tentang evaluasi soft skills disekolah.
1. Penelitian yang dilakukan Widarto (2012) yang berjudul model pembelajaran soft skills pada pendidikan vokasi bidang manufaktur.
Mengemukakan tentang adanya kesenjangan antara dunia usaha dan industri (DUDI) dengan kondisi riil yang ada di dunia pendidikan. Kesenjangan ini ditemukan pada aspek kreatifitas/inisiatif, etos kerja, kerja sama, toleransi, dan kepemimpinan. Kelima aspek tersebut menduduki rangking atas berdasarkan kepentingan DUDI, tapi menduduki rangking bawah pada pembiasaan di dunia pendidikan.
2. Hasil penelitian Hamidah (2011) yang berjudul pengembangan model pembelajaran soft skills terintegrasi bagi siswa smk program studi keahian tata boga kompetensi keahlian jasa boga. Dalam salah satu kesimpulannya menyebutkan bahwa model pembelajaran yang telah dikembangkan sesuai prosedur desain instruksional mulai dari rancangan pembelajaran meliputi rancangan mengajar dengan format rpp maupun soft skills serta rancangan belajar siswa, implementasi dengan mekanisme berkelanjutan dan evaluasi on going. Dan dalam laporannya bahwa model tersebut dapat diterapkan untuk pembelajaran produktif lainnya, baik setingkat SMK maupun Diploma.
46
3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Miyarso, dkk (2013) pada penelitian Evaluasi Program Pelatihan Soft Skills Mahasiswa bidang Kemahasiswaaan UNY menyimpulkan bahwa kegiatan pelatihan soft skills mahasiswa bidang kemahasiswaan UNY kurang efektif untuk meningkatkankan soft skills Mahasiswa.
Hal ini dapat dilihat dari prosedur pelaksanaan program kegiatan yang tidak seluruhnya menerapkan model evaluasi program model CIPP.
4. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tomas, et al 2009. Soft skills in higher education: importance and improvement ratings as a function of individual differences and academic performance. Journal Educational Psychology 30(2),221–241. Memberikan kesimpulan incorporated an IQ measure, which was found to be negatively related to importance ratings on soft skills. (Dalam pengukuran IQ, Ditemukan hubungan negatif dengan peringkat pentingnya soft skills).
5. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahl. et al 2012. Soft Skills In Practice And In Education : An Evaluation. American Journal Of Business Education 5 (2) : 225-231. Menyimpulkan bahwa we found significant demand for several soft skills, mainly fluent command of English as a general language, self- management and self-motivation, ability to integrate into teams with the specific connotation of cultural conformity, and communication skills with emphasis on concise internal verbal and written interaction (Kami menemukan permintaan yang signifikan untuk
47 beberapa soft skill, terutama fasih berbahasa Inggris sebagai bahasa umum, manajemen diri dan motivasi diri, kemampuan untuk mengintegrasikan ke dalam tim dengan konotasi spesifik dari kesesuaian budaya, dan kemampuan komunikasi dengan penekanan pada verbal internal yang ringkas dan Interaksi tertulis).
Dari beberapa penelitian yang berhubungan dengan evaluasi program soft skills diatas dapat disimpulkan bahwa persamaan penelitian adalah sama- sama meneliti tentang program soft skills yang dibutuhkan oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri.
Penelitian diatas juga menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Perbedaaan penelitian diatas dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah berdasarkan objek yang diteliti. Penelitian diatas menitik beratkan pada kebutuhan soft skills yang dibutuhkan industri, sedangkan penelitian yang diteliti penulis dititik beratkan pada evalusi program soft skills yang dilaksanakan disekolah.
2.5 Kerangka Pikir
Dalam memudahkan dan memfokuskan penelitian, penulis akan membuat alur penelitian pada penelitian evaluasi program model goal free evaluation ini dengan tujuan untuk memudahkan dalam menentukan arah
48
penelitian, juga dapat dijadikan sebuah pedoman dalam melaksanakan penelitian. Alur kerangka penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut : pada evalausi program pendidikan soft skills di jurusan Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Salatiga pada penyiapan peserta didik memasuki DUDI diperlukan sebuah pandangan tentang keterukuran kesuksesan pelaksanaan program yang sudah dilaksanakan selama ini. Dengan model evaluasi goal free diharapkan dapat memberikan masukan kepada program yang sedang dijalankan ataupun kepada DUDI selaku pemakai program lulusan tersebut.
Dengan adanya program ini diharapkan memberi hasil yang positif berkaitan dengan keterserapan siswa di dalam DUDI. Kerangka pikir penelitian ini dapat gambarkan sebagaimana proses seperti gambar dibawah ini;
Gambar 2.4 : Kerangka Berfikir
PROGRAM
SOFT SKILLS DUDI
EVALUASI GOAL FREE