1
BUPATI HALMAHERA SELATAN
PROVINSI MALUKU UTARA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN HALMAHERA SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2020
TENTANG
RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN LABUHA
TAHUN 2020 - 2040
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HALMAHERA SELATAN,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 38 Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Nomor 20 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Labuha Tahun 2020-2040;
Mengingat : 1. Undang Undang Dasar Negara Repubilik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (6);
2. Undang-undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3895) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3961);
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan di Provinsi Maluku Utara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4264);
4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Reublik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725;
2
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tengang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 183);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2010 tentang Bentuk Dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
10. Peraturan Daerah Provinsi Maluku Utara Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Maluku Utara Tahun 2013-2033 (Lembaran Daerah Provinsi Maluku Utara Tahun 2013 Nomor 2);
11. Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Nomor 20 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan (Lembaran Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2014 Nomor 2 Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Nomor 2);
Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN HALMAHERA SELATAN Dan
BUPATI HALMAHERA SELATAN
3
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN HALMAHERA SELATAN TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN LABUHA KABUPATEN HALMAHERA SELATAN TAHUN 2020 – 2040
BAB I
KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu
Pengertian Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Halmahera Selatan 2. Kepala Daerah adalah Bupati Halmahera Selatan
3. Kecamatan adalah Kecamatan Bacan, Kecamatan Bacan Timur dan Kecamatan Bacan Selatan.
4. Desa adalah Desa Labuha, Desa Amasing Kota, Desa Amasing Kota Barat, Desa Amasing Kota Utara, Desa Tomori, Desa Hidayat, Desa Marabose, Desa Babang, Desa Sayoang, Desa Wayamiga, Desa Mandaong, Desa Kampung Makian, Desa Papaloang, Desa Tembal, Desa Kupal, Desa Gandasuli, Desa Tuwokona, Desa Panamboang, Desa Sawadai, dan Desa Kubung.
5. Kawasan Perkotaan adalah Kawasan Perkotaan Labuha
6. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan 7. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
8. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
9. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
10. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
11. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
12. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
13. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
14. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
4
15. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut RTRW kabupaten/kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan, Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional, RTRW Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi.
16. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
17. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
18. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
19. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
20. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
21. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
22. Bagian Wilayah Perencanaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah bagian dari kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota yang akan atau perlu disusun RDTRnya, sesuai arahan atau yang ditetapkan di dalam RTRW kabupaten/kota yang bersangkutan.
23. Sub Bagian Wilayah Perencanaan yang selanjutnya disebut Sub BWP adalah bagian dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri atas beberapa blok.
24. Pusat Pelayanan Kota merupakan pusat pelayanan ekonomi, sosial, dan/atau administrasi yang melayani seluruh wilayah BWP dan/atau regional.
25. Sub Pusat Pelayanan Kota merupakan pusat pelayanan ekonomi, sosial, dan/atau administrasi yang melayani sub BWP; dan
26. Pusat Lingkungan Kecamatan merupakan pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi lingkungan permukiman kecamatan.
27. Pusat Lingkungan Kelurahan merupakan pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi lingkungan permukiman kelurahan, yang dalam ketentuan ini kelurahan berupa desa.
28. Pusat Lingkungan RW merupakan pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi lingkungan permukiman rukun warga.
29. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan
5
prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, dan memiliki pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
30. Subblok adalah pembagian fisik di dalam satu blok berdasarkan perbedaan Subzona.
31. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik spesifik.
32. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan karakteristik pada zona yang bersangkutan.
33. Zona Resapan Air (RA) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan terhadap kawasan di bawahannya.
34. Zona Sempadan Pantai (SP) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan terhadap sempadan pantai
35. Zona Sempadan Sungai (SS) peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan, penggunaan, dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada sungai dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuannya.
36. Zona Sekitar Danau atau Waduk (DW) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan, penggunaan, dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada danau atau waduk dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuannya.
37. Zona sekitar Mata Air (MA) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan, penggunaan, dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada danau atau waduk dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuannya.
38. Zona Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal (LS) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan lindung yang memiliki ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan, satwa dan ekosistemnya beserta nilai budaya dan sejarah bangsa.
39. Zona Perkantoran (KT) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk pengembangan kegiatan pelayanan pemerintahan dan tempat bekerja/berusaha, tempat berusaha, dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial pendukungnya.
40. Zona Kawasan Peruntukan Industri yang selanjutnya disingkat KPI adalah bentangan lahan yang diperuntukan bagi kegiatan industri berdasarkan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
41. Zona Pertanian (P) adalah peruntukan ruang yang dikembangkan untuk menampung kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan mengusahakan tanaman tertentu, pemberian makanan,
6
pengkandangan, dan pemeliharaan hewan untuk pribadi atau tujuan komersial.
42. Zona Perikanan (IK) adalah peruntukan ruang yang dikembangkan untuk kegiatan perikanan yang meliputi zona perikanan tangkap, zona perikanan budidaya, zona pengolahan dan pemasaran hasil perikanan dan sarana dan prasarana perikanan.
43. Zona Pembangkit Tenaga Listrik (PTL) adalah Peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang dikembangkan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik.
44. Zona Pariwisata (W) peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang dikembangkan untuk mengembangkan kegiatan pariwisata baik alam, buatan, maupun budaya.
45. Zona Pertahanan dan Keamanan (HK) peruntukan tanah yang merupakan bagian dari kawasan budi dayayang dikembangkan untuk menjamin kegiatan dan pengembangan bidang pertahanan dan keamanan seperti kantor, instalasi hankam, termasuk tempat latihan baik pada tingkat nasional, Kodam, Korem, Koramil, dan sebagainya.
46. Zona Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya berupa ruang terbuka di wilayah kota atau kawasan perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH berupa lahan yang diperkeras maupun berupa badan air.
RTNH juga memiliki fungsi ekologis, ekonomis, arsitektural, dan darurat.
47. Zona Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah peruntukan tanah di daratan dengan batas-batas tertentu yang yang digunakan sebagai tempat untuk menimbun sampah dan merupakan bentuk terakhir perlakuan sampah.
48. Zona Tempat Evakuasi Sementara (TES) adalah Ruang penyelamatan diri (escape building) dan berfungsi sebagai tempat berkumpul (assembly point) penduduk yang akan melanjutkan mobilisasi ke Tempat Evakuasi Akhir.
49. Zona Tempat Evakuasi Akhir (TEA) adalah Berupa Ruang/Bangunan Evakuasi yang merupakan tempat penampungan penduduk di kawasan aman dari bencana dan dapat ditempati untuk jangka waktu tertentu.
50. Sub Zona Rimba Kota (RTH-1) adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang ompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah Negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai Rimba Kota oleh pejabat yang berwenang.
51. Sub Zona Taman Kota (RTH-2) adalah Lahan terbuka yang yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota.
52. Sub Zona Taman Kecamatan (RTH-3) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan.
53. Sub Zona Taman Kelurahan (RTH-4) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan
54. Sub Zona Taman RW (RTH-5) adalah Taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan
7
olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut.
55. Sub Zona Taman RT (RTH-6) adalah Taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT, khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut.
56. Sub Zona Pemakaman (RTH-7) adalah penyediaan ruang terbuka hijau yang berfungsi utama sebagai tempat penguburan jenazah. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.
57. Sub Zona Rumah Kepadatan Sangat Tinggi (R-1) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya difungsikan untuk tempat tinggal atau hunian dengan perbandingan yang sangat besar antara jumlah bangunan rumah dengan luas lahan.
58. Sub Zona Rumah Kepadatan Tinggi (R-2) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk tempat tinggal atau hunian dengan perbandingan yang besar antara jumlah bangunan rumah dengan luas lahan.
59. Sub Zona Rumah Kepadatan Sedang (R-3) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk tempat tinggal atau hunian dengan perbandingan yang hampir seimbang antara jumlah bangunan rumah dengan luas lahan.
60. Sub Zona Rumah Kepadatan Rendah (R-4) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk tempat tinggal atau hunian dengan perbandingan yang kecil antara jumlah bangunan rumah dengan luas lahan
61. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Kota (K-1) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk pengembangan kelompok kegiatan perdagangan dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala pelayanan kota.
62. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala BWP (K-2) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk pengembangan kelompok kegiatan perdagangan dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala pelayanan BWP.
63. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Sub-BWP (K-3) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk pengembangan kelompok kegiatan perdagangandan/atau jasa, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala pelayanan sub BWP.
64. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Skala Kota (SPU-1) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budi dayayang dikembangkan untuk melayani peduduk skala kota
65. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Skala Kecamatan (SPU-2) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budi dayayang dikembangkan untuk melayani peduduk skala kecamatan
8
66. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Skala Kelurahan (SPU-3) adalah peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budi dayayang dikembangkan untuk melayani peduduk skala Kelurahan.
67. Sub Zona Perumahan dan Perdagangan/Jasa (C-1) adalah peruntukan lahan budi daya yang terdiri atas daratan dengan batas tertentu yang berfungsi campuran antara perumahan dan perdagangan/jasa.
68. Sub Zona Perumahan dan Perkantoran (C-2) adalah peruntukan lahan budi daya yang terdiri atas daratan dengan batas tertentu yang berfungsi campuran antara perumahan dan perkantoran
69. Sub Zona Perkantoran dan Perdagangan/Jasa (C-3) peruntukan lahan budi daya yang terdiri atas daratan dengan batas tertentu yang berfungsi campuran antara perkantoran dan perdagangan/jasa.
70. Sub Zona Pergudangan (PL-6) adalah peruntukan ruang untuk melakukan proses penyimpanan, pemeliharaan, dan pemindahan barang
71. Sub Zona Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKM) zona industri dengan modal kecil dan tenaga kerja yang sedikit dengan peralatan sederhana. biasanya merupakan industri yang dikerjakan per orang atau rumah tangga, seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, minyak goreng curah dan lain-lain.
72. Peraturan Zonasi Kabupaten yang selanjutnya disebut PZ kabupaten adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana detail tata ruang.
73. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
74. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
75. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
76. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor (riol) sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line).
77. Orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi.
9
78. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam penyelenggaran penataan ruang.
79. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
80. Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disebut TKPRD adalah badan bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Halmahera Selatan dan mempunyai fungsi membantu tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah.
Bagian Kedua
Bagian Wilayah Perencanaan Pasal 2
(1) Lingkup Ruang BWP Kawasan Perkotaan Labuha berdasarkan aspek fisik dengan luas kurang lebih 5.969,67 hektar, beserta ruang udara di atasnya dan ruang di dalam bumi.
(2) Batas-batas BWP Kawasan Perkotaan Labuha meliputi:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Awanggo Kecamatan Bacan dan Desa Bori Kecamatan Bacan Timur;
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tawa Kecamatan Bacan Timur Tengah dan Selat Patiniti;
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tabangame Kecamatan Bacan Timur Tengah; dan
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Labuha.
(3) BWP Kawasan Perkotaan Labuha, terdiri atas:
a. Kecamatan Bacan dengan luas 2.278,76 hektar;
b. Kecamatan Bacan Timur dengan luas 1.480,63 hektar; dan c. Kecamatan Bacan Selatan dengan luas 2.210,28 hektar
(4) BWP Kawasan Perkotaan Labuha dibagi menjadi tiga (3) Sub BWP yang terdiri atas :
a. Sub BWP A, terdiri atas Kecamatan Bacan dengan luas 2.278,76 hektar.
b. Sub BWP B, terdiri atas Kecamatan Bacan Timur dengan luas 1.480,63 hektar.
Sub BWP C, terdiri atas Kecamatan Bacan Selatan dengan luas 2.210,28 hektar.
BAB I
TUJUAN PENATAAN BWP Pasal 3
Penataan BWP Perkotaan Labuha bertujuan untuk Mewujudkan Ruang Kota yang Layak Huni dan Ramah Lingkungan, Demi Terwujudnya Investasi Pembangunan yang Berkelanjutan, Pertumbuhan Ekonomi
10
Wilayah yang Berkualitas Melalui Pengembangan Perikanan, Perkebunan dan Pariwisata Serta Berbasis Pada Mitigasi Bencana.
BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH Bagian Kesatu
Umum Pasal 4
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Halmahera Selatan meliputi:
a. Rencana pengembangan pusat pelayanan;
b. Rencana jaringan transportasi; dan c. Rencana jaringan prasarana.
(2) Rencana struktur ruang wilayah digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Rencana Pengembangan Pusat Pelayanan Pasal 5
(1) Rencana pengembangan pusat pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf 1, terdiri atas :
a. Pusat pelayanan kota/kawasan perkotaan (PPK);
b. Sub pusat pelayanan kota/kawasan perkotaan (SPPK); dan c. Pusat lingkungan (PL), yang terdiri atas:
1. Pusat lingkungan Kecamatan;
2. Pusat lingkungan Kelurahan; dan/atau
(2) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yaitu PPK Labuha yang terdapat di Sub BWP A
(3) SPPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. SPPK Babang yang terdapat di Sub BWP B;
b. SPPK Tomori yang terdapat di Sub BWP A; dan c. SPPK Tuwokona terdapat di Sub BWP C.
(4) PL Kecamatan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c angka 1, terdiri atas:
a. Amasing Kota Utara sebagai PL Kecamatan Bacan yang terdapat di Sub BWP A;
b. Marabose sebagai PL Kecamatan Bacan yang terdapat di Sub BWP A;
c. Sayoang sebagai PL Kecamatan Bacan Timur yang terdapat di Sub BWP B;
d. Wayamiga sebagai PL Kecamatan Bacan Timur yang terdapat di Sub BWP B;
11
e. Mandaong sebagai PL Kecamatan Bacan Selatan yang terdapat di Sub BWP C;
f. Panamboang sebagai PL Kecamatan Bacan Selatan yang terdapat di Sub BWP C;
g. Gandasuli sebagai PL Kecamatan Bacan Selatan yang terdapat di Sub BWP C; dan
h. Kampung Makian sebagai PL Kecamatan Bacan Selatan yang terdapat di Sub BWP C.
(5) PL Kelurahan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c angka 2, terdiri atas:
a. PL Kelurahan Amasing Kota yang terdapat di Sub BWP A;
b. PL Kelurahan Amasing Kota Barat yang terdapat di Sub BWP A;
c. PL Kelurahan Hidayat yang terdapat di Sub BWP A;
d. PL Kelurahan Desa Papaloang yang terdapat di Sub BWP C;
e. PL Kelurahan Desa Tembal yang terdapat di Sub BWP C;
f. PL Kelurahan Desa Kupal yang terdapat di Sub BWP C;
g. PL Kelurahan Desa Sawadai yang terdapat di Sub BWP C; dan h. PL Kelurahan Kubung yang terdapat di Sub BWP C.
Bagian Ketiga
Rencana Jaringan Transportasi Pasal 6
Rencana jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. Sistem jaringan transportasi darat;
b. Sistem jaringan transportasi laut; dan c. Sistem jaringan transportasi udara;
Pasal 7
Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a, terdiri atas :
a. Sistem jaringan jalan; dan
b. Sistem jaringan sungai, danau, dan penyeberangan Pasal 8
(1) Sistem jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, terdiri atas:
a. Jaringan Jalan Nasional;
b. Jaringan Jalan Provinsi;
c. Jaringan Jalan Kabupaten;
d. Terminal Penumpang; dan e. Terminal Barang.
(2) Jaringan jalan Nasional, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu Jalan Kolektor Primer-1 (JKP-1) berupa Jalan poros Ruas Labuha – Babang.
12
(3) Jaringan Jalan Provinsi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. Jalan Kolektor Primer-2 (JKP-2) yaitu Jalan Poros Selatan Tomori – Sawadai, Ruas Jalan Labuha – Sawadai;
b. Jalan Kolektor Primer-3 (JPK-3), terdiri atas:
1. Jalan Poros Utara Ruas Jalan Babang – Yaba;
2. Jalan Poros Timur ruas jalan Babang – Songa, Wayatim – Wayaua.
(4) Jaringan jalan Kabupaten, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. Jalan Kolektor Primer-4 (JKP-4), terdiri atas:
1. Ruas jalan Lingkar Luar; dan
2. Ruas jalan tepi pantai pada koridor Amasing Kota Barat - Labuha - Panamboang.
b. Jalan Lokal Primer (JLP), yang terdiri atas:
1. Ruas jalan koridor Labuha – Belang-belang;
2. Ruas jalan koridor Labuha - Tomori;
3. Ruas jalan Kantor Pemerintahan; dan 4. Ruas jalan koridor Labuha - Marabose.
c. Jalan Lingkungan Primer (JLING-P), yaitu ruas jalan koridor Labuha - Amasing Kota Utara.
d. Jalan Arteri Sekuner (JAS), terdiri atas:
1. Ruas jalan Koridor Jalan Tepi Pantai - Desa Tembal; dan 2. Ruas jalan Koridor Tembal – Papaloang
e. Jalan Kolektor Sekunder (JKS), terdiri atas:
1. Ruas jalan Koridor Mandaong - Papaloang; dan 2. Ruas jalan Koridor Desa Marabose.
f. Jalan Lokal Sekunder (JLS), terdiri atas:
1. Ruas jalan Koridor Sayoang - Babang; dan 2. Ruas jalan Koridor Marabose - Amasing Kali.
3. Ruas jalan Desa Labuha
4. Ruas jalan Desa Amasing Kota
5. Ruas jalan Desa Amasing Kota Barat 6. Ruas jalan Desa Amasing Kota Utara 7. Ruas jalan Desa Tomori
8. Ruas jalan Desa Hidayat 9. Ruas jalan Desa Marabose 10. Ruas jalan Desa Mandaong
11. Ruas jalan Desa Kampung Makian 12. Ruas jalan Desa Tembal
13. Ruas jalan Desa Papaloang 14. Ruas jalan Desa Kupal 15. Ruas jalan Desa Gandasuli 16. Ruas jalan Desa Tuwokona 17. Ruas jalan Desa Panamboang 18. Ruas jalan Desa Sawadai 19. Ruas jalan Desa Kubung 20. Ruas jalan Desa Babang 21. Ruas jalan Desa Sayoang 22. Ruas jalan Desa Wayamiga
13
(5) Terminal penumpang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdiri atas :
1. Terminal penumpang tipe B terdapat di Desa Tuwokona 2. Terminal penumpang tipe C terdapat di Desa Babang
(6) Terminal barang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e yaitu Terminal Babang;
Pasal 9
(1) Sistem jaringan sungai, danau, dan penyebrangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b, terdiri atas :
a. Alur Pelayaran;
b. Lintas Penyebrangan;
c. Pelabuhan Penyebrangan.
(2) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu alur pelayaran kelas I kewenangan pemerintah pusat.
(3) Alur pelayaran kelas I kewenangan pemerintah pusat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) adalah pelabuhan Babang.
(4) Lintas penyebrangan sebagimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yaitu:
1. Babang – Ternate 2. Babang – Saketa 3. Babang – Obi - Sula 4. Babang – Bitung 5. Babang – Sofifi
(5) Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yaitu:
a. Pelabuhan Penyeberangan kelas I di Babang; dan b. Pelabuhan Penyeberangan Kelas III di Kupal.
Pasal 10
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b, meliputi :
a. Pelabuhan laut; dan b. Alur pelayaran.
(2) Pelabuhan laut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:
a. Pelabuhan pengumpul yaitu Pelabuhan Babang di Kecamatan Bacan Timur
b. Pelabuhan pengumpan lokal, terdiri atas : 1. Pelabuhan Labuha di Kecamatan Bacan
2. Pelabuhan Kupal di Kecamatan Bacan Selatan.
(3) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. Alur pelayaran umum dan perlintasan, terdiri atas : 1. Ternate – Babang
2. Ternate – Kupal/Labuha
b. Alur pelayaran masuk pelabuhan, terdiri atas :
14
1. Labuha – Bajo;
2. Labuha – Indari;
3. Labuha – Yaba;
4. Labuha – Indong;
5. Labuha – Jiko;
6. Labuha – Palamea;
7. Labuha – Loleojaya;
8. Labuha – Busua;
9. Labuha – Laluin;
10. Labuha – Gurapin;
11. Labuha – Jikotamo;
12. Labuha – Madopolo;
13. Babang – Bibinoi 14. Babang – Pigaraja;
15. Babang – Yaba;
16. Babang – Laromabati;
17. Babang – Waikyon;
18. Babang – Saketa;
19. Babang – Dolik;
20. Babang – Pasipalele;
21. Babang – Kukupang;
22. Babang – Gane Luar;
23. Babang – Bisui;
24. Babang – Mafa;
25. Babang – Madopolo;
26. Babang – Jikotamo; dan 27. Babang – Wayaloar
Pasal 11
(1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. Bandar Udara; dan
b. Ruang Udara untuk penerbangan.
(2) Bandar udara di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu Bandar udara pengumpul skala pelayanan tersier berupa Bandar Udara Oesman Sadik Labuha di Kecamatan Bacan
(3) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Ruang udara untuk penerbangan, yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara; dan/atau
b. Ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan.
15
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Pasal 12
Sistem jaringan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. Sistem jaringan energi;
b. Sistem jaringan telekomunikasi;
c. Sistem penyediaan air minum (SPAM);
d. Sistem pengelolaan air limbah (SPAL);
e. Sistem jaringan persampahan wilayah;
f. Sistem jaringan drainase;
g. Sistem jaringan persampahan;
h. Sistem jaringan prasarana lainnya Paragraf 2
Sistem Jaringan Energi Pasal 13
(1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a, yaitu jaringan infrastruktur ketenagalistrikan.
(2) Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas :
a. Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukungnya, terdiri atas:
1. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), berupa Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Panamboang
2. Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), berupa Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Bacan; dan
3. Pembangkit listrik lainnya, berupa Pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Marabose.
b. Infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana pendukungnya, berupa Jaringan distribusi tenaga listrik, terdiri atas:
1. Saluran udara tegangan menengah (SUTM), terdapat di : a) Sekitar ruas jalan kolektor; dan
b) Jalan Pasar Baru Tuwokona
2. Saluran udara tegangan rendah (SUTR), terdapat di sekitar ruas jalan Lokal.
(3) Sistem jaringan energi digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I A, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
16
Paragraf 3
Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 14
(1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf b, yaitu jaringan infrastruktur telekomunikasi.
(2) Jaringan infrastruktur telekomunikasi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. Menara Base Transceiver Station (BTS)
b. Jaringan Peningkatan Pelayanan yang berada di ruas jalan kolektor dan local.
(3) Sistem jaringan telekomunikasi digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I B, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Penyediaan Air Minum (SPAM) Pasal 15
(1) Sistem pengelolaan air minum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c, yaitu jaringan infrastruktur air minum.
(2) Sistem penyediaan air minum (SPAM), sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:
a. Jaringan pipa unit distribusi;
b. Unit air baku, terdapat di Sungai Mandaong;
c. Unit produksi, terdapat di Papaloang; dan
d. Unit pelayanan, terdapat di PDAM Tomori dan Babang.
(3) Sistem jaringan air minum digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I C, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 5
Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) Pasal 16
(1) Sistem pengelolaan air limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf d, yaitu jaringan infrastruktur air limbah.
(2) Sistem pengelolaan air limbah (SPAL), sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu, Sistem pengelolaan air limbah (SPAL) terpusat, meliputi:
a. Subsistem pelayanan, berupa pipa persil, yang terdapat di ruas-ruas jalan lokal.
b. Subsistem pengumpulan yang terdiri atas:
1. Pipa retikulasi, yang terdapat di ruas-ruas jalan kolektor 2. Pipa induk, yang terdapat di ruas-ruas jalan arteri
c. Subsistem pengolahan terpusat yang terdiri atas:IPAL skala kawasan tertentu/permukiman, yang terdapat di Desa Amasing Kota Barat,
17
Desa Amasing Kota, Desa Labuha, Desa Tomori, Desa Babang Desa Sayoang, dan Desa Panamboang
(3) Sistem jaringan air limbah digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I D, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 6
Sistem Jaringan Drainase Pasal 17
(1) Sistem jaringan drainase wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf f, yaitu jaringan infrastruktur drainase.
(2) Jaringan infrastruktur drainase, sebagaimana pada ayat (1), terdiri atas :
a. Saluran primer, yang terdapat di sungai Ake Tawale, sungai Ake Sunggatra, sungai Ake Sembilan belas, sungai Ake Sawadai, sungai Ake Mandaong, sungai Ake Kubung, sungai Ake Gandasuli, sungai Ake Coro, sungai Ake Batulubang, sungai Ake Amasing
b. Saluran sekunder, yang terdapat di ruas jalan Hidayat, ruas jalan Raya Tomori, ruas jalan Mandaong, ruas jalan Tepi Pantai, ruas jalan Lingkar Luar, ruas jalan Poros Babang
c. Saluran tersier, yang terdapat di ruas-ruas jalan kolektor dan jalan lokal
(3) Sistem jaringan drainase digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I E, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 7
Sistem Jaringan Persampahan Wilayah Pasal 18
(1) Sistem jaringan persampahan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf e, yaitu jaringan infrastruktur persampahan.
(2) Sistem jaringan persampahan wilayah sebagaimana pada ayat (1) yaitu tempat penampungan sampah akhir yang berada di desa Marabose (3) Sistem jaringan persampahan digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I F, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(4) Sistem jaringan pesampahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 8
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Pasal 19
(1) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf h, yaitu Sistem jaringan evakuasi bencana
18
(2) Sistem jaringan evakuasi bencana, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:
a. Jalur evakuasi bencana tsunami, terdapat di ruas jalan Osmansyah, ruas jalan raya Tomori, ruas jalan raya Mandaong, ruas jalan kantor pemerintahan, ruas jalan Panamboang, ruas jalan Hidayat, ruas jalan poros Babang.
b. Jalur evakuasi bencana gempa bumi, terdapat di ruas jalan Osmansyah (ruas jalan raya Tomori), ruas jalan raya Mandaong, ruas jalan kantor pemerintahan, ruas jalan Panamboang, ruas jalan Hidayat, ruas jalan poros Babang.
c. Jalur evakuasi bencana gerakan tanah (tanah longsor), terdapat di ruas jalan Osmansyah, ruas jalan raya Tomori, ruas jalan raya Mandaong, ruas jalan kantor pemerintahan, ruas jalan Panamboang, ruas jalan Hidayat, ruas jalan poros Babang.
d. Jalur evakuasi bencana gerakan tanah (tanah longsor), terdapat di ruas jalan Osmansyah, ruas jalan raya Tomori, ruas jalan raya Mandaong, ruas jalan kantor pemerintahan, ruas jalan Panamboang, ruas jalan Hidayat, ruas jalan poros Babang.
e. Jalur evakuasi bencana banjir, terdapat di ruas jalan Osmansyah, ruas jalan raya Tomori, ruas jalan raya Mandaong, ruas jalan kantor pemerintahan, ruas jalan Panamboang, ruas jalan Hidayat, ruas jalan poros Babang.
f. Ruang evakuasi bencana tsunami, terdapat di Masjid Raya Bacan, Asombang, Sekitar Desa Hidayat, dan Sekitar Desa Babang.
g. Ruang evakuasi bencana gempa bumi, terdapat di Masjid Raya Bacan, Asombang, Sekitar Desa Hidayat, dan Sekitar Desa Babang.
h. Ruang evakuasi bencana gerakan tanah (tanah longsor), terdapat di Masjid Raya Bacan, Asombang, Sekitar Desa Hidayat, dan Sekitar Desa Babang.
i. Ruang evakuasi bencana banjir, terdapat di Masjid Raya Bacan, Asombang, Sekitar Desa Hidayat, dan Sekitar Desa Babang.
(3) Sistem jaringan prasarana lainnya, digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1 G yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH Bagian Kesatu
Umum Pasal 20
(1) Rencana pola ruang wilayah meliputi rencana zona lindung dan zona budidaya.
(2) Rencana pola ruang wilayah digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:5.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
19
Bagian Kedua Zona Lindung
Pasal 21
Zona lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1), terdiri atas : a. Zona Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal (LS);
b. Zona Ruang Terbuka Hijau Kota (RTH);
c. Zona Resapan Air (RA);
d. Zona Sempadan Pantai (SP);
e. Zona Sempadan Sungai (SS); dan
f. Zona Sekitar Danau atau Waduk (Situ dan Embung) (DW).
Bagian Kedua Zona Lindung
Pasal 22
(1) Zona Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a, berupa Zona Lindung Spritual dan Kearifan Lokal (LS);
(2) Zona Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal (LS), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a, terdapat di Sub BWP A Blok 1 yaitu Desa Labuha dengan luas 0,37 Ha.
Paragraf 2
Zona Ruang Terbuka Hijau Kota (RTH) Pasal 23
(1) Zona ruang terbuka hijau kota (RTH) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b, ditetapkan kurang lebih seluas 1.245,26 Ha (seribu dua ratus empat puluh lima koma dua enam hektar) terdiri atas :
a. Sub Zona Rimba Kota (RTH-1);
b. Sub Zona Taman Kota (RTH-2);
c. Sub Zona Taman Kecamatan (RTH-3);
d. Sub Zona Taman Kelurahan (RTH-4);
e. Sub Zona Taman RW (RTH-5);
f. Sub Zona Taman RT (RTH-6); dan g. Sub Zona Pemakaman (RTH-7);
(2) Sub Zona Rimba Kota (RTH-1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 586,67 Ha, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota dengan luas 2,16 Ha dan Desa Amasing Kota Utara dengan luas 121,88 Ha
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 109,06 Ha dan Desa Marabose dengan luas 37,78 Ha;
20
b. Sub BWP B terdiri dari Blok 2 meliputi Desa Wayamiga seluas 257,67 Ha); dan
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 5,81 Ha dan Desa Sawadai dengan luas 40,75 Ha, dan
2. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 11,56 Ha.
(3) Sub Zona Taman Kota (RTH-2), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, seluas 33,65 Ha, terdapat di Sub BWP B Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 19,84 Ha dan Blok 4 meliputi Desa Babang seluas 13,80 Ha.
(4) Sub Zona Taman Kecamatan (RTH-3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, seluas 402,38 Ha, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota dengan luas 34,13 Ha, Desa Amasing Kota Utara dengan luas 15,91 Ha, Desa Hidayat dengan luas 0,00092 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 53,53 Ha, Desa Labuha dengan luas 19,29 Ha dan Desa Marabose dengan luas 84,15 Ha,
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 16,61 Ha dan Desa Marabose dengan luas 11,55 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 10,34 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Babang dengan luas 2,75 Ha dan Desa Wayamiga dengan luas 5,65 Ha, dan
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 22,59 Ha);
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian dengan luas 1,99 Ha, Desa Kupal dengan luas 2,46 Ha, Desa Papaloang dengan luas 10,55 Ha dan Desa Tembal dengan luas 22,26 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal dengan luas 15,16 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli dengan luas 6,45 Ha dan Desa Tuwokona dengan luas 3,83 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona dengan luas 9,55 Ha, 5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 35,78
Ha,
6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 12,10 Ha dan
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai dengan luas 5,74 Ha).
(5) Sub Zona Taman Kelurahan (RTH-4), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, seluas 144,25 Ha, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota Utara dengan luas 0,99 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 1,84 Ha dan Desa Marabose dengan luas 5,80 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Tomori dengan luas 1,37 Ha, dan 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 13,27 Ha dan
Desa Tomori dengan luas 1,12 Ha;
21
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga dengan luas 9,86 Ha, 2. Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga dengan luas 9,40 Ha, 3. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang dengan luas 3,02 Ha, dan 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang dengan luas 3,76 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian dengan luas 2,41 Ha, Desa Mandaong dengan luas 1,73 Ha dan Desa Tembal dengan luas 2,53 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal dengan luas 3,88 Ha dan Desa Gandasuli dengan luas 12,33 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli dengan luas 2,33 Ha, 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwukona seluas 6,67 Ha, Desa
Panamboang dengan luas 2,69 Ha,
5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 5,40 Ha, 6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 10,51 Ha dan
Desa Sawadai dengan luas 2,13 Ha,
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Kubung seluas 3,97 Ha dan Desa Sawadai seluas 27,56 Ha, dan
8. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 9,65 Ha.
(6) Sub Zona Taman RW (RTH-5), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, seluas 70,06 Ha, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 0,61 Ha, Desa Amasing Kota Utara Seluas 0,42 Ha dan Desa Labuha seluas 0,85 Ha;
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 0,70 Ha dan Desa Marabose seluas 0,34 Ha;
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Labuha seluas 2,60 Ha dan Desa Tomori seluas 0,48 Ha;
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 2,97 Ha dan Desa Marabose seluas 0,98 Ha; Blok 5 terdapat di Desa Labuha seluas 0,51 Ha, Desa Tomori seluas 0,51 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 2,29 Ha, 2. Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 3,26 Ha, 3. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 9,88 Ha 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 4,05 Ha); dan c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 1,50 Ha, Desa Kupal seluas 0,82 Ha, Desa Mandaong seluas 0,42 Ha dan Desa Tembal seluas 5,71 Ha;
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 6,65 Ha dan Desa Gandasuli seluas 0,13 Ha;
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 1,13 Ha dan Desa Tuwokona seluas 0,57 Ha;
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 0,93 Ha dan Desa Panamboang seluas 0,18 Ha;
5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 1,33 Ha;
22
6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,44 Ha dan Desa Sawadai seluas 1,46 Ha;
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Kubung seluas 11,31 Ha; dan 8. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 7,01 Ha.
(7) Sub Zona Taman RT (RTH-6), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, seluas 1,27 Ha, terdapat di
a. Sub BWP A terediri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota Utara seluas 0,11Ha dan Desa Labuha seluas 0,01 Ha;
2. Blok 3 yang terdapat di Desa Tomori seluas 0,0013 Ha;
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 0,35 Ha dan Desa Marabose seluas 0,09 Ha;
4. Blok 5 meliputi Desa Labuha seluas 0,04 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 0,01 Ha;
2. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 0,13 Ha;
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 0,12 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Mandaong seluas 0,19 Ha dan Desa Tembal seluas 0,09 Ha;
2. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,10 Ha dan 3. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 0,03 Ha.
(8) Sub Zona Pemakaman (RTH-7), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, seluas 7,04 Ha, terdapat di
a. Sub BWP A terdiri dari:
1 Blok 3 yang terdapat di Desa Tomori seluas 0,32 Ha;
2 Blok 5 yang terdapat di Desa Labuha seluas 0,42 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 0,95 Ha, 2. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 0,46 Ha;
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 0,41 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Mandaong dengan luas 1,30 Ha, 2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 1,05 Ha dan Desa
Gandasuli seluas 0,33 Ha,
3. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 1,30 Ha dan 4. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 0,50 Ha.
Paragraf 3
Zona Resapan Air (RA) Pasal 24
(1) Zona Resapan Air (RA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c, berupa zona Resapan Air (RA)
(2) Zona Resapan Air (RA) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 145,67 Ha, terdapat di Sub BWP A yaitu Blok 1 yang terdapat di Desa Labuha seluas 27,63 Ha, Blok 3 yang terdapat di Desa Hidayat
23
seluas 61,35 Ha, Desa Labuha seluas 44,38 Ha dan Desa Tomori seluas 12,30 Ha.
Paragraf 4
Zona Sempadan Pantai (SP) Pasal 25
(1) Zona Sempadan Pantai (SP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf d, berupa zona Sempadan Pantai (SP);
(2) Zona Sempadan Pantai (SP), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 172,78 Ha, terdapat di
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 2,76 Ha, Desa Amasing Kota Barat seluas 3,77 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 5,69 Ha,
2. Blok 5 yang terdapat di Desa Labuha seluas 8,90 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari
1. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 4,18 Ha;
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 12,28 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Mandaong seluas 6,15 Ha, dan Desa Tembal seluas 7,38 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 9,83 Ha dan Desa Gandasuli seluas 2,18 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 1,92 Ha, Desa Tuwokona seluas 9,83 Ha;
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 6,16 Ha dan Desa Panamboang seluas 3,39 Ha;
5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 11,25 Ha;
6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 2,76 Ha dan Desa Sawadai seluas 10,18 Ha;
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Kubung seluas 16,27 Ha dan Desa Sawadai seluas 31,84 Ha,
8. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 6,53 Ha.
Paragraf 5
Zona Sempadan Sungai (SS) Pasal 26
(1) Zona Sempadan Sungai (SS) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf e, berupa zona Sempadan Sungai (SS);
(2) Zona Sempadan Sungai (SS), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 100,65 Ha, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
24
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota dengan luas 4,61 Ha, Desa Amasing Kota Barat dengan luas 0,93 Ha, Desa Amasing Kota Utara dengan luas 11,26 Ha, Desa Hidayat dengan luas 0,05 Ha dan Desa Labuha dengan luas 0,60 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Amasing Kota Utara dengan luas 0,08 Ha, Desa Hidayat dengan luas 5,21 Ha, Desa Labuha dengan luas 2,14 Ha, Desa Marabose dengan luas 2,96 Ha dan Desa Tomori dengan luas 0,45 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 2,73, Desa Labuha dengan luas 1,38 Ha dan Desa Tomori dengan luas 0,67 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat dengan luas 3,28 Ha dan Desa Marabose dengan luas 0,10 Ha;
5. Blok 5 meliputi Desa Labuha seluas 0,51 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 2,80 Ha;
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 2,41 Ha;
3. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 4,70 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian dengan luas 3,78 Ha, Desa Kupal dengan luas 1,27 Ha, Desa Mandaong dengan luas 1,93 Ha, Desa Papaloang dengan luas 2,11 Ha dan Desa Tembal dengan luas 1,26 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal dengan luas 2,56 Ha dan Desa Gandasuli dengan luas 1,66 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Tuwokona dengan luas 1,58 Ha dan Desa Gandasuli dengan luas 3,79 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Gandasuli dengan luas 4,54 Ha, Desa Panamboang dengan luas 2,07 Ha dan Desa Gandasuli dengan luas 0,0015 Ha,
5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 7,12 Ha, 6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang dengan luas 5,34 Ha
dan Desa Sawadai dengan luas 6,53 Ha,
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Kubung dengan luas 2,71 Ha dan Desa Sawadai seluas 2,74 Ha dan Blok 8 meliputi Desa Kubung seluas 2,75 Ha.
Paragraf 6
Zona Sekitar Danau atau Waduk (Situ dan Embung) (DW) Pasal 27
(1) Zona sekitar danau atau waduk (Situ dan Embung) (DW) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf f, berupa zona Sekitar Danau atau Waduk (Situ dan Embung) (DW);
(2) Zona Sekitar Danau Atau Waduk (Situ dan Embung) (DW), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 7,15 Ha, di Sub BWP B Blok 2 Desa Wayamiga.
25
Bagian Ketiga Zona Budidaya
Pasal 28
Zona budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1), terdiri atas:
a. Zona Perumahan (R);
b. Zona Perdagangan dan Jasa (K);
c. Zona Perkantoran (KT);
d. Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU);
e. Zona Kawasan Peruntukan Industri (KPI);
f. Zona Pertanian (P);
g. Zona Perikanan (IK);
h. Zona Pariwisata (W);
i. Zona Pertahanan dan Keamanan (HK);
j. Zona Transportasi (TR);
k. Zona Lainnya (L);
l. Zona Campuran (C);
m. Zona Pertambangan (T);
n. Zona Pembangkit Tenaga Listrik (PTL); dan o. Zona RTNH (RTNH).
Paragraf 1 Zona Perumahan (R)
Pasal 29
(1) Zona Perumahan (R) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a, terdiri atas:
a. Sub Zona Rumah Kepadatan Sangat Tinggi (R-1);
b. Sub Zona Rumah Kepadatan Tinggi (R-2);
c. Sub Zona Rumah Kepadatan Sedang (R-3); dan d. Sub Zona Rumah Kepadatan Rendah (R-4).
(2) Sub Zona Rumah Kepadatan Sangat Tinggi (R-1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di Sub BWP C (Blok 5 di Desa Panamboang seluas 3,26 Ha.
(3) Sub Zona Rumah Kepadatan Tinggi (R-2), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 6,75 Ha, Desa Amasing Kota Barat seluas 4,49 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 5,90 Ha dan Desa Labuha seluas 4,44 Ha,
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Tomori seluas 0,95 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 32,35 Ha;
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 16,78 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 16,20 Ha,
26
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 3,25 Ha, 3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 5,66 Ha, 4. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 2,37 Ha.
(4) Sub Zona Rumah Kepadatan Sedang (R-3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 2,22 Ha dan Desa Labuha seluas 3,98 Ha;
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 0,97 Ha, Desa Marabose seluas 7,41 Ha dan Desa Tomori seluas 0,32 Ha;
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 1,61 Ha dan Desa Tomori seluas 34,59 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 147,81 Ha, Desa Marabose seluas 21,40 Ha dan Desa Tomori seluas 19,78 Ha;
5. Blok 5 yang terdapat di Desa Labuha seluas 9,11 Ha dan Desa Tomori seluas 19,54 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 56,76 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Babang seluas 9,35 Ha dan Desa Wayamiga seluas 137,33 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 17,37 Ha, 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 51,34 Ha, c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 59,44 Ha, Desa Mandaong seluas 19,06 Ha, Desa Papaloang seluas 13,01 Ha, dan Desa Tembal seluas 84,04 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 44,90 Ha dan Desa Gandasuli seluas 17,38 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 37,38 Ha dan Desa Tuwokona seluas 32,35 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 15,16 Ha, 5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 57,26 Ha, 6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 6,10 Ha dan
Desa Sawadai seluas 3,64 Ha,
7. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 63,91 Ha, dan 8. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 6,30 Ha.
(5) Sub Zona Rumah Kepadatan Rendah (R-4), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 19,39 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 12,79 Ha dan Desa Labuha seluas 13,30 Ha,
2. Blok 3 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 9,36 Ha, Desa Labuha seluas 5,70 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 3,48 Ha.
27
Paragraf 2
Zona Perdagangan dan Jasa (K) Pasal 30
(1) Zona Perdagangan dan Jasa (K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28huruf b, terdiri atas:
a. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Kota (K-1);
b. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala BWP (K-2); dan c. Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Sub BWP (K-3).
(2) Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Kota (K-1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di Sub BWP C Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 5,80 Ha.
(3) Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala BWP (K-2), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Sub BWP C Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 4,21 Ha dan Desa Panamboang seluas 3,20 Ha.
(4) Sub Zona Perdagangan dan Jasa Skala Sub BWP (K-3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 0,15 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 0,02 Ha dan Desa Labuha seluas 0,89 Ha,
2. Blok 5 yang terdapat di Desa Labuha seluas 2,90 Ha;
b. Sub BWP B terdapat di Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 7,24 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 3,20 Ha,
2. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 0,09 Ha, Desa Tuwokona seluas 14,44,
3. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 0,06 Ha.
Paragraf 3
Zona Perkantoran (KT) Pasal 31
Zona Perkantoran (KT) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf c, terdiri atas Zona Perkantoran, yang terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 0,14 Ha, Desa Labuha seluas 0,44 Ha
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 55,70 Ha 3. Blok 5 yang terdapat di Desa Labuha seluas 3,37 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 0,28 Ha 2. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 3,00 Ha c. Sub BWP C terdiri dari:
28
1 Blok 1 yang terdapat di Desa Papaloang seluas 36,48 Ha, Desa Tembal seluas 0,03 Ha,
2 Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 0,03 Ha,
3 Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,22 Ha dan 4 Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 0,03 Ha.
Paragraf 4
Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU) Pasal 32
(1) Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf d, terdiri atas :
a. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kota (SPU- 1.1);
b. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kota (SPU- 1.3);
c. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Olahraga Skala Kota (SPU-1.4);
d. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kota (SPU- 1.5);
e. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Sosial Budaya Skala Kota (SPU- 1.6);
f. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kecamatan (SPU-2.1);
g. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Transportasi Skala Kecamatan (SPU-2.2);
h. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kecamatan (SPU-2.3);
i. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kecamatan (SPU-2.5);
j. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kelurahan (SPU-3.1);
k. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kelurahan (SPU-3.3); dan
l. Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kelurahan (SPU-3.5).
(2) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kota (SPU-1.1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di:
a. Sub BWP A Blok 1 yang terdapat di Desa Labuha seluas 3,35 Ha;
b. Sub BWP B Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 2,98 Ha;
c. Sub BWP C Blok 1 yang terdapat di Desa Kupal seluas 2,70 Ha.
(3) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kota (SPU-1.3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Sub BWP A Blok 4 yang terdapat di Desa Marabose seluas 3,76 Ha.
(4) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Olahraga Skala Kota (SPU-1.4), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di:
29
a. Sub BWP A terdapat di Blok 1 yang terdapat di Desa Labuha seluas 3,58 Ha;
b. Sub BWP C terdiri dari Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 7,94 Ha, Desa Panamboang seluas 13,01 Ha.
(5) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kota (SPU-1.5), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdapat di Sub BWP C Blok 1 yang terdapat di Desa Papaloang seluas 1,53 Ha.
(6) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Sosial Budaya Skala Kota (SPU- 1.6), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, terdapat di Sub BWP C terdiri dari Blok 4 yang terdapat di Desa Tuwokona seluas 2,36 Ha, Desa Panamboang seluas 2,97 Ha.
(7) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kecamatan (SPU- 2.1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 1,58 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 0,33 Ha, Desa Labuha seluas 0,57 Ha,
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 1,45 Ha;
b. Sub BWP B terdiridari:
1. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 2,00 Ha, 2. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 0,93 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 0,96 Ha, 2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 1,71 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 2,13 Ha dan Desa Tuwokona seluas 0,20 Ha,
4. Blok 4 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 3,91 Ha, 5. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 1,05 Ha, 6. Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,35 Ha, 7. Blok 7 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 0,37 Ha.
(8) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Transportasi Skala Kecamatan (SPU-2.2), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, terdapat di Sub BWP A Blok 1 yang terdapat di Desa Labuha seluas 0,28 Ha.
(9) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kecamatan (SPU- 2.3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h, terdapat di Sub BWP C Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 0,25 Ha, Blok 7 meliputi Desa Sawadai seluas 0,07 Ha.
(10) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kecamatan (SPU-2.5), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i, terdapat di:
a. Sub BWP A Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 0,18 Ha;
b. Sub BWP C Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,09 Ha.
(11) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Pendidikan Skala Kelurahan (SPU- 3.1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j, terdapat di Sub BWP A Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota Barat seluas 0,03 Ha, Desa Labuha seluas 0,03 Ha.
30
(12) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Kesehatan Skala Kelurahan (SPU- 3.3), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k, terdapat di Sub BWP C Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 0,03 Ha.
(13) Sub Zona Sarana Pelayanan Umum Peribadatan Skala Kelurahan (SPU-3.5), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota Barat seluas 0,03 Ha dan Desa Labuha seluas 0,10 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 0,38 Ha;
2. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 0,64 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 0,13 Ha dan Desa Tembal seluas 0,09 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Kupal seluas 0,30 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 0,13 Ha dan Desa Tuwokona seluas 0,14 Ha,
4. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,36 Ha, Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 0,07 Ha.
Paragraf 5
Zona Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Pasal 33
(1) Zona Kawasan Peruntukan Industri (KPI) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf e, berupa Sub Zona Sentra Industri Kecil Menengah (SIKM)
(2) Sub Zona Sentra Industri Kecil Menengah (SIKM), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat di Sub BWP B Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 34,37 Ha dan di Sub BWP C Blok 6 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 58,66 Ha.
Paragraf 6 Zona Pertanian (P)
Pasal 34
(1) Zona Pertanian (P) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf f, berupa Sub Zona Pertanian Perkebunan (P-3);
(2) Sub Zona Pertanian Perkebunan (P-3) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Amasing Kota seluas 43,28 Ha, Desa Amasing Kota Barat seluas 3,01 Ha, Desa Amasing Kota Utara seluas 110,08 Ha
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Hidayat seluas 281,69 Ha, Desa Labuha seluas 0,02 Ha, Desa Marabose seluas 118,12;
31
b. Sub BWP B terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 1,60 Ha, Desa Wayamiga seluas 195,82 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di Desa Wayamiga seluas 169,28 Ha, 3. Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 27,99 Ha, 4. Blok 4 yang terdapat di Desa Babang seluas 52,68 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari:
1. Blok 1 yang terdapat di Desa Kampung Makian seluas 14,02 Ha, Desa Tembal seluas 34,57 Ha,
2. Blok 2 yang terdapat di desa Kupal seluas 39,27 Ha, Desa Gandasuli seluas 12,69 Ha,
3. Blok 3 yang terdapat di Desa Gandasuli seluas 13,64 Ha, 4. Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 4,38 Ha, 5. Blok 6 yang terdapat di Desa Sawadai seluas 8,66 Ha,
6. Blok 7 yang terdapat di Desa Kubung seluas 107,76 Ha dan Desa Sawadai seluas 200,35 Ha,
7. Blok 8 yang terdapat di Desa Kubung seluas 54,13 Ha.
Paragraf 7 Zona Perikanan (IK)
Pasal 35
(1) Zona Perikanan (IK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf g, terdiri atas :
a. Sub Zona Perikanan Tangkap (IK-1);
b. Sub Zona Perikanan Budidaya (IK-2); dan c. Sarana Penunjang Perikanan.
(2) Sub Zona Perikanan Tangkap (IK-1), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di:
a. Sub BWP A terdiri dari Blok 1 yang terdapat di Desa Labuha seluas 9,66 Ha;
b. Sub BWP B terdiri dari Blok 3 yang terdapat di Desa Sayoang seluas 1,81 Ha;
c. Sub BWP C terdiri dari Blok 1 yang terdapat di Desa Tembal seluas 0,78 Ha dan Blok 5 Desa Panamboang seluas 8,89 Ha.
(3) Sub Zona Perikanan Budidaya (IK-2), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Sub BWP C terdiri dari Blok 5 yang terdapat di Desa Panamboang seluas 9,39 Ha.
(4) Sarana penunjang perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah Pelabuhan khusus, terdiri atas :
a. Pelabuhan Perikanan Sayoang di Kecamatan Bacan Timur, b. Pelabuhan Perikanan Tembal di Kecamatan Bacan Selatan, c. Pelabuhan Perikanan Panamboang di Kecamatan Bacan Selatan