14 A. Produktivitas Tambak
Produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kebutuhan manusia , dengan mengunakan sumber daya yang serba terbatas. Untuk mencapai tingkat produktivitas yang optimal, maka perlu dilakukan melalui pendekatan multidisipliner yang melibatkan semua usaha, keahlian, kecakapan, keahlian, modal, teknologi, manajemen, informasi dan sumber-sumber daya lain secara terpadu untuk melakukan perbaikan dalam upaya peningkatan kualitas hidup manusia (Tarwaka, 2004:137) Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktivitas untuk menggunakan sumber- sumber secara efisien, dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.
Produktivitas mengikutsertakan untuk mengunakan sumber daya manusia dan ketrampilan, barang, modal, teknologi, manajemen, informasi, energy dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup(Muhchdansyah Sinungan, 2000:17)
Produktivitas kerja berasal dari kata produktif yang artinya segala kegiatan yang menimbulkan kegiatan (utility). Jika seseorang bekerja, ada hasilnya, maka dikatakan ia produktif. Tapi kalau ia menganggur, ia disebut tidak produktif, tidsk menambah nilai guna di masyarakat. Para penganggur merupakan beban bagi masyarakat. Orang-orang produktif ini dikatakan memiliki produktivitas kerja tinggi. Produktivitas tidak saja diukur dari kuantitas (jumlah) hasil yang dicapai seseorang tapi juga oleh mutu (kualitas) pekerjaan yang semakin baik. Makin baik mutu pekerjaanya maka makin tinggi produktivitas kerjanya(Abdul Aziz, 2013:202) Produktivitas dapat diartikan sebagai rasio output terhadap input. Input bisa mencangkup biaya produksi (production cost) dan biaya peralatan (equipment cost).
Sedangkan output bisa terdiri dari penjualan (sales), earning (pendapatan), marker share,dan kerusakan. produktivitas merupakan ukuran standar yang dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antara input atau modal yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh (Abdul Salam, 2008:182).
Faktor yang mempengaruhi Produktivitas kerja
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya produktivitas kerja. Soedirman (1986) dan Tarwaka (1991) merinci faktor- faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum.
1. Motivasi.
Motivasi merupakan kekuatan atau motor pendorong kegiatan sesorang kearah tujuan tertentu dan melibatkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mencapainya.
2. Kedisiplinan.
Disiplin merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku.
3. Etos kerja.
Etos kerja merupakan salah satu faktor penentu produktivitas, karena etos kerja merupakan pandangan untuk menilai sejauh mana kita melakukan suatu pekerjaan dan terus berupaya untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan
4. Keterampilan.
Faktor keterampilan baik keterampilan teknis maupun menejerial sangat menentukan tingkat pencapaian produktivitas. Dengan demikian setiap individu selalu dituntut untuk terampil dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama dalam perubahan teknologi mutakhir.
5. Pendidikan.
Tingkat pendidikan harus selalu dikembangkan baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Karena setiap penggunaan teknologi
hanya akan dapat kita kuasai dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang handal.
Istilah “tambak”, yang dipungut dari bahasa jawa nambak (membendung air dengan pematang, sehingga terkumpul pada suatu tempat) digunakan untuk menyatakan sebuah empang dekat pantai laut. Ia dinamakan “kolam”, karena istilah ini khusus digunakan bagi petakan berpematang yang berisi air tawar di daerah pedalaman.Bentuk tanbak yang sampai sekarang dapat ditemukan sepanjang pantai utara Jawa Barat dan Tengah ialah persegi panjang. Tiap petakan dapat meliputi areal seluas 0,5 sampai 2 hektar.
Semuanya merupakan deretan perairan yang membentang dari Lontar di pantai Banten, sepanjang teluk Jakarta, ujung Karawang dan Indramayu, bersambung melalui Cirebon dan Tegal dengan pantai Semarang dan Jepara, berakhir di Juana dan Rembang. Deretan tambak itu masuk ke pedalaman selebar 1 sampai 3 kilometer. (Slamet Soeseno, 2016:24)
Pertambakan merupakan sistem budidaya ikan yang telah lama diusahakan oleh para petani Indonesia. Jenis ikan yang biasanya dibudidayakan di pertambakan atau keramba , antara lain bandeng, belanak, kerapu, baronang, dan kakap putih. Selain itu berbagai jenis udang , lobster, tiram, teripang, dan kerang-kerangan juga merupakan budidaya pertambakan yang memiliki potensi besar (Nunung, 2011:3).
Golongan dan tipe tambak
Ditinjau dari segi letak tambak terhadap laut dan muara sungai yang memberi air kepadanya, orang mengeanl 3 golongan tambak yaitu :
a. Tambak Lanyah, yang terletak dekat sekali dengan laut, di tepi pantai.
didaerah yang datar sekali pantainya. Dan sangat besar perbedaan tinggi permukaan air laut pasang tertinggi dan air surut terendah, maka air lautnya dapat mengenangi daerah tambak itu sampai sejauh 11/2 kilometer kea rah pedalaman, tanpa mengurangi salinitas yang menyolok, sehingga tambak lanyah demikian praktis berisi air laut yang berkadar garam 30%. Dibanding dengan tambak biasa (yang terletak lebih jauh kearah pedalaman), air tambak lanyah cenderung untuk
senangtiasa lebih tinggi kadar garamnya, karena pada dasarnya air yang masuk dari laut memang masih tinggi, kemudian mengalami penguapan sehari-hari sesudah ditahan dalam petakan tambak, sampai kadar garam dalam air itu naik, keadaan baru tertolong, kalau pada air pasang laut, pengusaha tambak itu sempatmengalirkan air baru ke dalam petakan itu.
Atau ada hujan jatuh.
b. Tambak Biasa, yang terletak di belakang tambak lanyah, dan selalu terisi oleh campuran air asin dari laut dan air tawar dari sungai. Namun demikian, airnya dapat asin selama tambak itu diisi oleh air pasang laut yang tinggi, dan dapat air tawar jika diisi dengan air sungai yang leluasa mengalir kea rah pantai, pada waktu lautnya sedang surut. Baru setelah kedua macam air itu ditahan dalam petakan tambak (pintu air ditutup setelah petakan penuh air), maka terciptalah air payau yang garamnya mantap berada di sekitar angka-angka 15%.
Kadang-kadang orang harus menerima keadaan, bahwa petakan itu terpaksa menerima air hujan sebagai tambahan bagi air payau yang sudah lama tertahan di dalamnya. Terutama pada masa sesuadah menderita kekeurangan, karena masa kemarau panjang yang mengakibatkan air laut selalu lebih rendah daripada permukaan air tambak, hingga tidak mungkin mengharapkan suplai air baru dari laut.
Selama musim kemarau, hanya caren saja dari petakan tambak itu yang masih tergenang air.
c. Tambak Darat, yang terletak jauh sekali dari pantai laut. Suplai air dapat dipertahankan cukup hanya selama musim hujan saja. Kalau hujanya berkurang, maka sebagian dari tambak itu menjadi kering sama sekali, sehingga pengusahanya kadang-kadang hanya dapat berlangsung selama 9 bulan saja, setiap tahunya.
Sebagai sarana produksi ikan dan udang, jelas tambak darat ini kurang memenuhi syarat. Tetapi karena salinitas air yang menggenainginya selalu rendah (antara 5-10%). Maka tambak itu masih dapat diharapkan sebagi tempat pmeliharaan ikan tawes atau mujair,
yang tahan terhadap kepayauan air yang rendah salinitasnya. Pada akhirnya, kelak tambak sudah begitu jauh letaknya dari laut (karena tambahan tambak baru yang dibangun di atas tanah bentukan baru dekat pantai, berkat endapan tanah hasil erosi yang terbawa air sungai), smapai air yang menggenaginya sudah tidak tercampur dengan air laut lagi. Saat itulah ia dapat mulai diubah menjadi lahan pertanian, cocok untuk tanaman pangan. (Slamet Soeseno, 1983:7).
Tambak air payau berbeda dengan kolam dan petakan sawah, yang senangtiasa menerima air baru dari tempat yang tinggi, dan mengeluarkan air lama di tempat yang terendah, tambak air payau dekat pantai laut hanya mempunyai satu pintu yang sekaligus bertugas sebagai pintu pemasukanair (pada waktu air pasang) dan sebagai pintu pengeluaran (kalau pemiliknya ingin menegeringkanya, pada waktu air surut. Kalau petakan tambak itu nemang terletak di daerah pantai yang perbedaan tinggi air pasang dan surut lautnya besar, maka usaha pemasukan (pada waktu pasang) dan pengeluaran air (pada waktu surut) bisa lancar, hingga tidak mengalami kesulitan kekeringan atau kedangkalan air. Air dangkal cenderung naik kadar garamnya (sampai melampaui 25% hingga berakibat buruk bagi pertumbuhan klekap (ganggang-ganggang biru), dan benih ikan. Baik kadar garam yang terlalu tinggi (diatas 25%) maupun yang terlalu rendah (dibawah 5%) tidak mendorong pertumbuhan ganggang biru yang membentuk klekap, yang merupakan makanan alami yang bagus bagi benih- benih bandeng. Kapasitas produksi tambak terutama bergantung pada jumlah ganggang biru yang tumbuh di lapisan atas dari dasar tambak, sedang oksigen tersedia cukup banyak, maka ganggang biru yang tumbuh di dasar itupun bisa bagus. (slamet soesono 1983:23)
Pemilihan lokasi tambak sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah setempat :
1) Pemilihan lokasi sesuai dengan tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. Harus sesuai dengan rencana Zonasi Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) sehingga lokasi tembak budidaya
bandeng tidak bertentangan dengan kepentingan lainya, seperti pemukiman, kawasan lindung, greenbelt mangrove, pariwisata aataupun daerah industry. Apabila belum terdapat peraturan tentang tata ruang, maka lokasi tambak budidaya disesuaikan dengan kebijakan pemerintah desa sampai dengan kabupaten sehingga menghindari terjadinya konflik.
2) Pengembangan lokasi budidaya tambak diselaraskan dengan program pembangunan pemerintah yang tertuang dalam rencana kerja tahunan atau 5 (lima) tahunan. Koordinasi dengan instansi terkait diperlukan dalam hal ini.
3) Apabila tambak pembukaan lahanya dengan mengkonversi lahan mangrovr sebelum tahun 1999, amak harus melakukan penanaman mangrove minimal 50% dari kawasan pertambakan yang ada. Sedangkan tambak yang dibuka setelah tahun 1999 harus dapat membuktikan tambak tersebut tidak merusak hutan mangrove (Revolusi RAMSAR tahun 1999) ) (WWF-Indonesia, 2014:7).
4) Pantai di depan kawasan tambak memiliki sempadan pantai dengan lebar minimal 100 m dari garis surut tertinggi kea rah darat yang dapat menjadi lokasi penanaman mangrove (UU No.1/2014 tentang pengelolaan Wilayah Pesisir).
Kelayakan lokasi untuk tambak budidaya bandeng :
a) Posisi lahan tambak sebaiknya terletak diantara pasang surut air laut, berguna bagi pengairan tambak yang mengandalkan mekanisme pasang surut air laut.
b) Dekat sumber air, baik dari muara, sungai maupun lansung dari laut.
Tidak terletak di daerah rawan banjir.
c) Tanah tidak mudah bocor (porous) sehingga tambak dapat mempertahankan volume air.
d) Tanah yang baik yaitu yang bertekstur lempung (komposisi liat, pasir dan debu berimbang) dan liat berpasir.
e) Hindari tanah yang bersifat sulfat masam (kandungan pyrit tinggi) (WWF-Indonesia, 2014:8).
Peningkatan produktivitas tambak bisa ditingkatkan jika memenuhi beberapa faktor.
Untuk mendapatkan hasil tambak yang maksimal diperlukan berbagai macam faktor menurut Soertarno Ak (1989) merinci kriteria tambak yang baik harus memenuhi persyaratan :
1. Pematang harus mampu menahan tekanan air yang disebabkan oleh adanya perbedaaan tinggi air di dalam dan diluar tambak.
2. Pematang harus cukup tinggi untuk menghindari terjadinya peluapan air yang disebabkan oleh banjir atau pasang tertinggi.
3. Pematang harus cukup lebar, untuk memudahkan kegiatan.
4. Tambak harus mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air yang cukup, baik dalam jumlah maupun lebarnya sehingga akan memudahkan dan mempercepat kelaur masuknya air. Kecepatan pemasukan dan pengeluaran air akan mempersingkat waktu terjadinya perbedaan tekanan air didalam dan diluar tambak.
5. Pemasangan pintu air harus menjamin masuknya air secara leluasa tanpa menimbulkan terjadinya perputaran atau pergolakan air disekitar pintu.
Pergolakan/perputaran air akan menganggu pertumbuhan udang sehingga dapat menyebabkan rendahnya produksi tambak.
6. Saluran air harus bersih dari tumbuhan air dan kotoran lainya.
7. Dasar tambak harus melereng kearah pintu air dan mempunyai saluran keliling yang dapat memudahkan mengalirnya air keseluruh bagian tambak (Soetarmo, 1992:35).
Jika kriteria tersebut sudah terpenuhi maka produktivitas tambak bisa mengalami peningkatan, namun itu semua tergantung bagaimana petani tambak mengelola tambaknya dengan baik karena berbagai macam ancaman bisa datang kapan saja akibat krisis lingkungan. Krisis lingkungan yang terjadi di prapag lor tidak bisa diatasi secara menyeluruh namun jika rob air asin datang masyarakat pesisir harus wselalu waspada, siap dan tanggap dalam menghadapinya.
B. Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat
Secara umum sudah terlihat jelas bahwa kesejahteraan rakyat mencerminkan tingkat pertumbuhan perkonomian suatu Negara. Semakin sejahtera rakyatnya semakin baik perkonomian negaranya.Perekonomian Negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan maupun usaha masyarakat secara mandiri yang didasarkan pada kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang bertujuan untuk memberikan manfaat, kemakmuran, dan kesejahteraan kepada seluruh kehidupan rakyat (Gunawan Suwodiningrat, 2015:72).
Menurut Usman yatim dan Enny A hendargo menyatakan bahwa upaya- upaya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yaitu, dengan cara sebagai berikut:
a. Adanya modal yakni untuk memberikan bantuan dalam membangun produksi bagi orang yang tidak mampu ekonominya.
b. Memiliki ketrampilan yakni membantu seseorang dalam menentukan usaha produksinya.
c. Menguasai teknologi yakni membantu seseorang untuk mempermudah produksi usaha maupun pemasaran.
d. Memiliki lahan usaha yakni untuk mendirikan suatu usaha yang akan dijalani.
Indikator Kesejahteraan Rakyat :
Indikator kesejateraan rakyat yang paling mudah dilihat dari suatu bangsa adalah tingkat pendapatan per kapita. Pada dasarnya, untuk memperoleh pendapatan tersebut manusia harus meniru sifat tuhan semesta alam.
Manusia sebenarnya berada dalam kumpulan suatu keluarga harus mengatur rumah tangganya dengan ilmu ekonomi untuk hal-hal yang bersifat menghasilkan, menikmati, dan agar bisa membagikan. ( menabung, menyebarluaskan).
Rumus indikator kesejahteraan rakyat (IKraR)
I i=
Vi_max Vi_min
Vi –V i_min
Dimana :
Vi = Indikator ke i
Ii = Indeks Indikator ke i
Vi_min = Nilai indicator ke-I minimal
Vi_max = Nilai Indikator ke-I maksimal (atau target capaian)
Indeks setiap indicator bernilai antara 0-100, semakin tinggi nilai indicator semakin baik kondisi indicator tersebut (Gunawan Suwodiningrat, 2015:61-63)
Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan diantaranya adalah menurut kriteria Badan Pusat Statistik (BPS), yakni menggunakan kriteria yan didasarkan pada pengeluaran konsumsi rumah tangga, baik pangan maupun non pangan (pendekatan kemiskinan).
Disamping itu, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam pendekatan kesejahteraan mengukur tingkat kesejahteraan keluarga dengan membagi kriteria keluarga kedalam lima tahapan, yaitu Keluarga pra Sejahtera (Pra-KS), Keluarga Sejahtera I (KS I), Keluarga Sejahtera II (KS II), Keluarga Sejahtera III (KS III), dan Keluarga Sejahtera Plus (KS III Plus) (BPS, 2008:16).
Pengembangan ekonomi masyarakat dapat dilihat dari segi :
1) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Titik tolak pemikiranya adalah pengenalan bahwa setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan, tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya.
2) Memperkuat potensi ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat itu. Dalam rangka memperkuat potensi ekonomi masyarakat ini upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf pendidikan dan derajat kesehatan, serta terbukanya kesempatan untuk memanfaaatkan peluang-peluang ekonomi.
3) Mengembangkan ekonomi masyarakat juga mengandung arti melindungi masyarakat dan mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta mencegah eksploitasi golongan ekonomi yang kuat atas yang lemah.
Upaya melindungi masyarakat tersebut dalam rangka proses pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (Mubyarto 1996:37)
Kesejahteraan sosial berasal dari kata “sejahtera”. Sejahtera mengandung pengertian bahasa sansekerta “catera” yang berarti payung. Dalam konteks ini, kesejahteraan yang terkandung dalam arti “catera” (payung) adalah orang yang sejahtera yaitu orang yang dalam hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya akan tenteram, baik lahir maupun batin. Sedangkan sosial berasal dari kata
“socius” yang berarti kawan, teman, dan kerja sama. Orang yang sosial adalah orang yang dapat berelasi dengan orang lain dan lingkunganya dengan baik. Baik kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana orang dapat memenuhi kebutuhanya dan dapat berelasi dengan lingkunganya secara baik (Adi Fahrudin, 2012:8).
Wilensky (1975) menyatakan bahwa inti dari Negara kesejahteraan adalah standar minimum pendapatan, nutisi, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang dilindungi pemerintah, yang dijaminbagi setiap warga Negara sebagai suatu hak politik, bukan sebagai amal. Negara kesejateraan menurut Wilensky, sekaligus merupakan salah satu dari kesamaan structural dari masyarakat modern, dan salah satu dari perbedaanya yang mencolok.
Persamaan ini adalah bahwa disetiap Negara kaya ada tujuh atau delapan program kesehatan dan kesejahteraan dengan isi yang sama dan pendanaan yang diperluas, dan bahkan dalam cara pembiayaan dan administrasinya.
Perbedaanya adalah dalam organisasi dan usaha nasional, dalam gaya
administratif, dan dalam hasil kesejahteraan pada masyarakat masing- masing(Adi Fahrudin dikutip dari Wilenskyi, 2012:104).s
Banyak pengertian kesejahteraan yang dirumuslan, baik oleh pakar pekerjaan sosial maupun PBB dan badan-badan dibawahnya diantaranya :
a) Friendlander (1980)
Social welfare is organized sytem of social services and insitutions, designed to aid individual and group to attain satissyg standards of life and health, and personal and social relationships that permit them to develop their full capacities and to promote their well being in harmony with the needs of their families and the community. Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi dari pelayanan-pelayanan sosial dan insitusi-insitusi yang dirancang untuk membantu individu-individu dan kelompok-kelompok guna mencapai standar hidup dan kesejahteraan yang memadai dan relasi-relasi personal dan sosial sehingga memungkinkan mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sepenuhnya selaras dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.
b) Perserikatan Bangsa Bangsa
Kesejahteraan sosial merupakan suatu kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan membantu penyesuain timbal balik antara individu- individu dengan lingkungan sosial mereka.
c) UU NO. 6 tahun 1974 Ayat 1
Kesejahteraan sosail adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, materiil ataupun spiritual yang diliputi oleh keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga Negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan- kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila
d) UU No. 11 tahun 2009
UU NO. 6 tahun 1974 kemudian diganti dengan dengan UU No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial menyatakan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga Negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya (Adi Fahrudin, 2012:9-10).
Semua kegiatan atau usaha kesejahteraan sosial mempunyai ciri-ciri tertentu yang menbedakan dengan kegiatan-kegiatan lain:
1. Organisasi Formal
Usaha kesejahteraan sosial terorganisasi secara formal dan dilaksanakan oleh organisasi/badan sosial yang formal pula. Kegiatan yang dilaksanakan memperoleh pengakuan masyarakat karena memberikan pelayanan secara teratur, dan pelayanan yang diberikan merupakan funsi utamanya.
2. Pendanaan
Tanggung jawab dalam kesejahteraan sosial bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan juga tanggung jawab masyarakat.
Mobilitasi dana dan sumber (fund raising) merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan . kegiatan kesejahteraan sosial karenanya tidak mengejar keuntungan semata-mata..
3. Tuntutan Kebutuhan Manusia
Kesejahteraan sosial harus memandang kebutuhan manusia secara keseluruhan, dan tidak hanya memandang manusia dari satu aspek saja.
Hal inilah yang membedakan pelayanan kesejahteraan sosial diadakan karena tuntutan kebutuhan manusia.
4. Profesionalisme
Pelayanan kesejahteraan sosial dilaksanakan secara professional bersdasarkan kaidah ilmiah, terstuktur, sistematik, dan menggunakan metoda dan teknik-teknik pekerjaan sosial dalam praktinya.
5. Kebijakan/Perangkat Hukum/Perundang-undangan
Pelayanan kesejahteraan sosial harus ditunjang oleh seperangkat perundang-undangan yang mengatur syarat memperoleh, proses pelayanan, dan pengakhiran pelayanan.
6. Peran serta Masyarakat
Usaha kesejahteraan sosial harus melibatkan peranserta masyarakat agar dapat berhasil dan memberi manfaat kepada masyarakat.
7. Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial
Pelayanan kesejahteraan sosial harus ditunjang dengan data dan informasi yang tepat maka pelayanan akan tidak efektif dan tidak tepat sasaran (Adi Fahrudin, 2012:16-17).
Dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dipelukan gagasan/konsep mengenai pembangunan ekonomi yang memberikan perubahan kearah yang lebih baik. Berikut macam-macam konsep/gagasan yang telah diterapkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia :
a. Ekonomi Kerakyatan
Ekonomi kerakyatan adalah gagasan tentang cara, sifat, dan tujuan pembangunan dengan sasaran utama perbaikan nasib rakyat banyak pada umumnya bermukim di pedesaan. Ia mengadakan perubahan penting kea rah kemajuan, khususnya ke arah pendobrakan ikatan serta halangan yang membelenggu bagian terbesar rakyat Indonesia dalam keadaan serba kekurangan dan keterbelakangan. Ekonomi kerakyatan juga merupakan gerak pembangunan yang sekaligus mengadakan perubahan penting ke arah kemajuan dan khususnya ke arah pendobrakan ikatan dan halangan yang membelenggu bagian terbesar rakyat Indonesia dalam keadaan serba kurang serta terbelakang. (Sarbini 1985:168)
Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral pancasila, dan menunjukan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Pemihakan
dan perlindungan ditujukan pada ekonomi rakyat sejak zaman penjajahan sampai 57 tahun Indonesia merdeka selalu terpinggirkan. Syarat mutlak berjalanya sistem ekonomi nasional yang berkeadilan sosial adalah berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.
Moral pembangunan yang mendasari pembangunan ynag berkeadilan sosial mencakup :
a. Peningkatan partisipasi dan emansipasi rakyat baik laki-laki maupun perempuan dengan otonomi daerah yang penuh dan bertanggung jawab.
b. Penyegaran nasionalisme ekonomi melawan segala bentuk ketidakadilan sistem dan kebijakan ekonomi.
c. Pendekatan pembangunan berkelanjutan yang multidisipliner dan multicultural.
d. Pencegahan kecenderungan disintegrasi sosial.
e. Penghormatan hak-hak asasi manusia (HAM) dan masyarakat
f. Pengkajian ulang pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu ekonomi dan sosial di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Strategi pembangunan yang memberdayakan ekonomi rakyat merupakan strategi melaksanakan demokrasi ekonomi, yaitu, produksi dikerjakan oleh semua dan di bawah pimpinan dan pemilikan anggota-anggota masyarakat.
Kemakmuran masyarakat lebih diutamakan ketimbang kemakmuran orang sorang. Maka, kemiskinan tidak dapat ditoleransi sehingga setiap kebijakan dan program pembangunan harus memberi manfaat pada mereka yang paling miskin dan paling kurang sejahtera.inilah pembangunan generasi mendatang sekaligus memberikan jaminan sosial bagi merak yang paling miskin dan tertinggal. (Mubyarto 2005:9).
Dasar sistem ekonomi kerakyatan
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; cabang-cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara; Bumi,
air, dan segala dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmurean rakyat. (Pasal 33 UUD 1945)
Azas kekeluargaan
Azas kekeluargaan itu ialah koperasi. Azas kekeluargaan itu adalah istilah dari Taman Siswa yang menunjukan bagaimana guru dan murid-murid yang tinggal padanya hidup sebagai suatu keluarga. Itu pulalah corak koperasi Indonesia (Hatta, 1977)
Azas kekeluargaan sebenarnya adalah istilah dari taman Siswa yang menunjukan pola hubungan antara guru dengan murid secara kekeluargaan, pola itu yang diterapkan di koperasi. Tidak ada guru yang ingin muridnya bodoh. Perekonomian Indonesia seharusnya dibangun dengan pola seperti itu. Ketika berbicara ekonomi syariah juga tak pernah dibicarakan sistem kekeluargaan, hanya membicarakan produk saja (Revrisorn Baswir, 2014:33).
Peran Negara Dalam Sistem ekonomi Kerakyatan :
1) Menyusun perekonomian berdasar atas azaz kekeluargaan (tolong- menolong/gotong royong/kolektivisme), yaitu dengan menjadikan kooperasi sebagi model makro dan mikro perekonomian Indonesia.
2) Menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, yaitu dengan mengembangkan BUMN sebagai motor pengerak perekonomian nasional.
3) Menguasai dan memastikan pemanfaatab bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
4) Memenuhi hak setiap warga Negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
5) Memilihara fakir miskin dan anak-anak terlantar (Revrisorn Baswir, 2014:35).
Ciri sistem ekonomi kerakyatan
a. Peranan Vital Negara (pemerintah).
Sebagaimana ditegaskan oleh pasal 33 ayat 2 dan 3 UUD 1945, Negara memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem ekonomi
kerakyatan. Peranan nnegara tidak hanya terbatas sebagai pengatur jalanya roda perekonomian. Melalui pendirian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu untuk menyelenggarakan cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, negara dapat terlibat secara lansung dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan ekonomi tersebut. Tujuanya adalah untuk menjamin agar kemakmuranmasyarakat senangtiasa lebih diutamakan daripada kemakmuran orang seorang, dan agar tumbuk produksi tidak jatuh ke tangan orang seorang, yang memungkinkan ditindasnya rakyat banyak oleh segelintir orang yang berkuasa.
b. Efisiensi ekonomi berdasar atas keadilan, partisipasi, dan keberlanjutan.
Tidak benar dikatakan bahwa sistem ekonomi kerakyatan cenderung mengabaikan efisiensi dan bersifat anti pasar. Efisiensi dalam sistem ekonomi kerakyatan tidak hanya dipahami dalam perpektif jangka pendek dan berdimensi keuangan, melainkan dipahami secara komprehensif dalam arti memperhatikan baik aspek kualitatif dan kuantitatif, keuangan dan non-keuangan, maupun aspek kelestarian lingkungan. Politik ekonomi kerakyatan memang tidak didasarkan atas pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas, melainkan atas keadilan, partispipasi, dan keberlanjutan.
c. Mekanisme alokasi melalui perencanaan pemerintah, mekanisme pasar, dan kerjasama (kooperasi).
Mekanisme alokasi dalam sistem ekonomi kerakyatan, kecuali untuk cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, tetap didasarkan atas mekanisme pasar. Tetapi mekanisme pasar bukan satu-satunya. Selain mekanisme pasar, alokasi juga didorong untuk diselenggarakan melalui mekanisme usaha bersama (kooperasi). Mekanisme pasar dan kooperasi dapat diibaratkan seperti dua sisi dari sekeping mata uang yang sama dalam mekanisme alokasi sistem ekonomi kerakyatan.
d. Pemerataan penguasan faktor produksi.
Dalam angka itu, sejalan dengan amanat penjelasan pasal 33 UUD 1945, penyelenggaraan pasar dan kooperasi dalam sistem ekonomi kerakyatan harus dilakukan dengan terus menerus melakukan penataan kelembagaan, yaitu dengan cara memeratakan penguasaan modal atau faktor-faktor produksi kepda segenap lapisan anggota masyarakat. Proses sistematis untuk mendemokratisasikan penguasaan faktor-faktor produksi atau peningkatan kedaulatan ekonomi rakyat inilah yang menjadi substansi sistem ekonomi kerakyatan.
e. Koperasi sebagi soko guru perekonomian.
Dilihat dari sudut pasal 33 UUD 1945, keikutsertaan anggota masyarakat dalam memiliki faktor-faktor produksi itulah antara lain yang menyebabkan dinyatakanya koperasi sebagai bangun perusahaan yang sesuai dengan sistem ekonomi kerakyatan. Sebagaimana diketahui, perbedaan koperasi dari perusahaan perseroan terletak pada diterapkanya prinsip keterbukaan bagi semua pihak yang mempunyai kepentingan dalam lapangan usaha yang dijalankan oleh koperasi untuk turut menjadi anggota koperasi.
f. Pola hubungan produksi kemitraan, bukan buruh-majikan.
Pada koperasi memang terdapat perbedaan mendasar yang membedakanya secara diametral dari bentuk-bentuk perusahaan yang lain. Diantaranya adalah pada dihilangkanya pemilahan buruh-majikan, yaitu diikutsertakanya buruh sebagai pemilik perusahaan atau anggota koperasi. Sebagaimana ditegaskan oleh Bung Hatta, “pada koperasi taka da majikan dan taka da buruh, semuanya pekerja yang bekerja sama untuk menyelenggarakan keperluan bersama “.
Karakter utama ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi pada dasarnya terletak pada dihilangkanya watak individualistis dan kapitalistis dari wajah perekonomian Indonesia. Secara mikro gal itu antara lain berarti diikutsertakanya pelanggan dan buruh sebagai anggota koperasi atau pemilik perusahaan. Sedangkan secara makro hal itu berarti
ditegakkanya kedaulatan ekonomi rakyat dan diletakanya kemakmuran masyarakat di atas kemakmuran orang seseorang.
g. Kepemilikan saham oleh pekerja.
Dengan diangkatnya kerakyatan atau demokrasi sebagai prinsip dasar sistem perekonomian Indonesia, prinsip itu dengan sendirinya tidak hanya memiliki kedudukan penting dalam menentukan corak perekonomian yang harus diselengarakan oleh Negara pada tingkat makro. Ia juga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menentukan corak perusahaan yang harus dikembangkan pada tingkat mikro. Perusahaan hendaknya dikembangkan pada tingkat mikro.
Perusahaan hendaknya dikembangkan sebagi bangun usaha yang dimiliki dan dikelola secara kolektif (kooperatif) melalui penerapan pola-pola kepemilikan saham oleh pekerja. Penegakan kedaulatan ekonomi rakyat dan pengutamaan kemakmuran masyarakat di ats kemakmuran orang seoarang hanya dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip tersebut (Mubyarto Dkk, 2014:117-18).
Langkah-langkah dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan
a) Melakukan identifikasi terhadap pelaku ekonomi, seperti koperasi, usaha kecil, petani dan kelompok tani mengenai potensi dan pengembangan usahanya.
b) Melakukan program pembinaan terhadap pelaku-pelaku tersebut melalui program pendamping.
c) Program pendidikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka pada saat mengembangkan usaha.
d) Melakukan koordinasi dan eavluasi kepada yang terlibat dalam proses pembinaan terhadap permodalan, SDM, pasar, informasi pasar, maupun penerapan teknologi (Zulkarnain, 2003:14).
Sedangkan menurut Mubyarto (1997) dalam (Indra Ismawan, 2001:97), upaya mengembangkan ekonomi rakyat adapat dilihat dari tiga sisi yaitu:
pertama, Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Asumsinya, setiap manusia dan kelompok manusia
memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya.
Kedua, memperkuat potensi ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat itu.
Upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf pendidikan, pencerahan atau (aufklarung), peningkatan derajat kesehatan aerta terbukanya kesempatan untuk memanfaatkan peluang ekonomi. Ketiga, melindungi rakyat dan mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta mencegah eksploitasi golongan ekonomi yang kuat atas yang lemah.
Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan model ekonomi kerakyatan yaitu :
1. Aspek pembinaan
Merupakan pembinaan baik Sumber Daya Manusia, manajemen usaha, pasar dan informasi pasar, dan teknologi.
2. Aspek Pembiayaan.
Aspek pembiayaan UKM selama ini lebih banyak dijalankan oleh BUMN dan BUMS dalam bentuk Communuty Development (CD) sebagai tangung jawab sosial untuk memajukan kehidupan UKM.
3. Aspek Kemitraan
Untuk mendukung UKM yang tangguh dan mandiri diperlukan adanya kerjasama yang baik antara UKM dan usaha skala besar dalam bentuk kemitraan yang berprinsip saling memperkuat, saling menguntungkan, dan saling ketergantungan.
4. Aspek Yurudis Formal
Dalam aspek ini masih ditemukan beberapa kelemahan karena tidak diiringidengan adanya keberpihakan pemerintah dalam bentuk peraturan daerah (Zulkarnain 2003:98).
b. Negara Kesejahteraan
Negara kesejahteraan Welfare State merupakan konsep Negara yang manganut asas kesejahteraan, konsep ini menjadikan Negara terlibat secara lansung dalam mensejahterakan rakyatnya. Konsep Negara kesejahteraan diperkenalkan pertama kali di Inggris pada Tahun 1940 an. Negara kesejahteraan adalah sebuah model ideal pembangunan yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pemberian peran yang lebih penting kepada Negara dalam memberikan pelayanan sosial secara universal dan komprehensif kepada warganya. (Edi Soeharto 2008:57)
Negara kesejahteraan sering ditengarahi dari atribut-atribut kebijakan pelayanan sosial dan transfer sosial yang disediakan Negara kepada warganya, seperti pelayanan pendidikan, lapangan pekerjaan, penganguran kemiskinan sehingga Negara kesejahteraan dan kebijakan sosial seringa didefinisikan. Namun hal tersebut dinilai kurang tepat karena kebijakan sosial dan Negara kesejahteraan tidak mempunyai hubungan dua arah.
Kebijakan sosial bisa di terapkan tanpa keberadaan Negara kesejahteraan tapi sebaliknya Negara kesejahteraan selalu membutuhkan kebijakan sosial untuk mendukung keberadaannya (Darmawan Triwibowo, 2006:8).
Negara kesejahteraan sendiri bukanlah satu entitas berwajah tunggal. Luas cakupan dan ragam kebijakan sosial yang diterapkan oleh Negara bervariasi dari suatu Negara kesejahteraan dengan Negara kesejahteraan lainya.
Titmuss telah mengidewntifikasi adanya dua tipologi Negara kesejahteraan, yaitu residual welfare dan institutional welfare state. Residual welfare state mengasumsikan tanggung jawab Negara sebagi penyedia kesejahteraan jika kelaurga dan pasar gagal menjalankan fungsinya serta terpusat pada kelompok tertentu dalam masyarakat, seperti kelompok tertentu dalam masyarakat, seperti kelompok marjinal serta mereka yang patut mendapatkan alokasi kesejahteraan dari Negara. Sedangkan institutional welfare state bersifat universal, mencangkup semua populasi warga, serta terlembaga dalam basis kebijakan sosial yang luas dan vital bagi kesejahteraan masyarakat (Darmawan Triwibowo, 2006:11-12).
Penggolaongan Titmuss membawa kita pada pemahaman tentang pengharuh rezim kesejahteraan terhadap kemampuan Negara kesejahteraan untuk memproduksi dan mendistribusi kesejahteraan melalui kebijakan sosial. Rezim kesejahteraan mengacu pada pola interaksi dan saling keterkaitan dalam produksi dan alokasi kesejahteraan antara Negara, sistem pasar, dan keluarga/rumah tangga. Ketiga lembaga tersebut penyedia kesejahteraan dan tempat individu mendaptkan perlindungan dari resiko- resiko sosial. Masing-masing lembaga menerapkan pola pengelolaan resiko yang berbeda. Sebagai contoh, dalam keluarga, pola alokasi ksejahteraan bersandar pada resproitas (reciprocity), sedangkan pada pasar basisnya adalah pertukaran tunai (cash nexus), dan dalam basisnya adalah redistribusi otoritatif (authoritative redistribution) melalui kebijakan sosial. Bagaimana risiko dikelola dan siapa actor utama pengeloka risiko/penyedia kesejahteraan akan menentukan bentuk rezim kesejahteraan (Darmawan Triwibowo, 2006:18).
Empat model Negara kesejahteraan a. Model universal
Pelayanan sosial diberikan oleh Negara secara merata kepada seluruh penduduknya, baik kaya maupun miskin. Model ini disebut the Scandinavian Welfare States yang diwakili oleh Swedia, Norwegia, Denmark dan Finlandia. Sebagai contoh, Negara kesejahteraan di Swedia sering diajdikan rujukan sebagai model ideal yang memperikan pelayanan sosial komprehensif kepeda seluruh penduduknya. Negara kesejahteraan di Swedia sering dipandang sebagai model yang paling berkembang dan lebih maju daripada model di Inggris, AS dan Australia b. Model korporasi atau work merit welfare states
Seperti model pertama, jaminan sosial juga dilaksanakan secara melembaga dan luas, namun kontribusi terhadap berbagai skema jaminan sosial berasal dari tiga pihak, yaknin pemerintah, dunia usaha dan pekerja (buruh). Pelayanan sosial yang diselenggarakan oleh Negara diberikan terutama kepada mereka yang bekerja atau mampu
memberikan kontribusi melalui skema asuransi sosial. Model yang dianut oleh Jerman dan Austria ini sering disebut sebagai model Bismarck, karena idenya pertama kali dikembangkan oleh Otto Von Bismarck dari Jerman.
c. Model Residual
Modei ini dianut oleh Negara-negara Anglo-Saxon yang meliputi AS, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Pelayanan sosial, khususnya kebutuhan dasar, diberikan terutama kepada kelompok-kelompok yang kurang beruntung (disadvantaged groups), seperti orang miskin, penganggur, penyandang cacat dan orang lanjut usia yang tidak kaya.
Ada tiga elemen yang menandai model ini di Inggris: (a) jaminan standar minimum, termasuk pendapatan minimum; (b) perlindungan sosial pada saat munculnya resiko-resiko;dan (c) pemberian pelayanan sebaik mungkin. Model ini mirip model universal yang memberikan pelayanan sosial berdasarkan hak warga Negara dan memiliki cakupan yang luas. Namun, seperti yang dipraktekan di Inggris, jumlah tanggungan dan pelayanan relatif lebih kecil dan berjangka pendek daripada model universal. Perlindungan sosial dan pelayanan sosial juga diberikan secara ketat, kontemporer dan efisien.
d. Model Minimal
Model ini umumnya diterapkan di gugus-gugus Negara latin (seperti Spanyol, Italia Chile, Brazil) dan Asia (antara lain Korea Selatan, Filipina,Srilanka, Indonesia). Model ini ditandai oleh pengeluaran pemerintah untuk pembangunan sosial yang kecil. Program kesejahteraan sosial diberikan secara Sporadis, parsial dana minimal dan umumnya diberikan kepada pegawai negeri anggota ABRI dan pegawai swasta yang mampu membayar premi. Dilihat dari landasan konstitusional seperti UUD 1945, UU SJSN (sistem jaminan sosial nasional), dan pengeluaran pemerintah untuk pembangunan sosial yang masih kecil, maka Indonesia dapat dikategorikan penganut Negara kesejahteraan model ini. (edi Soeharto, 2008:60-62).