BAB 3
Metode Penelitian
3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis
3.1.1 Variabel penelitian dan definisi operasional a. Perceived social support
Perceived social support biasanya didefinisikan sebagai persepsi individu
mengenai adanya keberadaan atau ketersediaan orang lain yang dapat diandalkan, yang menunjukkan rasa cinta serta kepedulian terhadap nilai yang dianut oleh individu. (Sarason, Levine, Basham, dan Sarason, 1983). Perceived social support merupakan pemaknaan yang diterima individu mengenai dukungan yang diberikan oleh orang-orang yang berpengaruh terhadap individu yang bersangkutan seperti dari pasangan, anggota keluarga, teman, komunitas yang dapat membuat individu merasa diperhatikan, merasa nyaman serta merasa dicintai. Perceived social support dapat berupa : (1) penilaian individu akan social support yang diterima oleh individu, yaitu persepsi akan adanya orang yang membantu individu di saat yang individu membutuhkan serta (2) derajat kepuasan individu atas dukungan yang telah diterima.
b. Self acceptance
Sheerer (Cronbach, 1963) self acceptance merupakan sikap dalam menilai keadaan di dalam diri secara objektif dengan menerima segala kelebihan dan kelemahan yang ada di dalam diri. Self acceptance merupakan suatu situasi dimana individu memiliki penilaian diri yang positif serta memiliki keinginan untuk selalu mengembangkan potensi di dalam diri. Sehingga individu mampu untuk hidup beriringan dengan segala karakteristik yang ada di dalam diri.
3.1.2 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (Ha), yang akan dijabarkan sebagai berikut:
H01: Tidak ada hubungan yang signifikan antara perceived social support (number) dan
self acceptance pada gay dewasa muda
H02: Tidak ada hubungan yang signifikan antara perceived social support (satisfaction) dan self acceptance pada gay dewasa muda
Ha1: Ada hubungan yang signifikan antara perceived social support (number) dan self
acceptance pada gay dewasa muda
Ha2: Ada hubungan yang signifikan antara perceived social support (satisfaction) dan self
acceptance pada gay dewasa muda.
3.2 Subjek Penelitan dan Teknik Sampling 3.2.1 Karakteristik subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah kaum gay dewasa muda yang berusia sekitar 20 hingga 40 tahun. Menurut Baiky, 1982 (dalam Sukandarrumidi, 2006) untuk penelitian yang akan menggunakan analisis data dengan statistik, jumlah sampel paling sedikit adalah 30 orang, dimana jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 orang. Subjek dalam penelitian ini disyaratkan memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia 20-40 tahun, mengidentifikasikan diri sebagai gay serta berdomisili di wilayah DKI Jakarta. Peneliti menetapkan usia 20-40 tahun mengingat usia ini merupakan tahapan dari usia dewasa muda, dimana dalam tahapan ini individu telah memiliki identitas seksual yang menetap serta telah dihadapkan pada beragam aktivitas dan kegiatan sosial di dalam masyarakat (Papalia et.al., 2009).
3.2.2 Teknik sampling
Menurut Sugiyono (2010) populasi adalah objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang dipilih sebagai partisipan dalam penelitian ini adalah kaum gay dewasa muda. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah. non-random/ non-probability sampling. Non probability sampling merupakan metode pengambilan sampel tanpa menerapkan sistem pengacakan sampel (Kothari, 2006). Non-random sampling ini terbagi dalam beberapa jenis. Akan tetapi, jenis non-random sampling yang dipilih dalam penelitian ini adalah snowball sampling.
Snowball sampling adalah pegambilan sampel yang dilakukan dalam jumlah kecil
kemudian sampel tersebut mengarahkan lagi pada sampel berikutnya sehingga jumlah sampel bertambah banyak (Kumar, 2011). Dengan demikian, snowball sampling ini adalah pengambilan sampel melalui satu orang kemudian orang tersebut menyebarkan lagi kepada beberapa orang.
3.3Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Desain penelitian merupakan perencanaan yang menentukan bagaimana suatu penelitian akan dilakukan. Dalam desain penelitian, akan dipaparkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti apa, mengapa, serta bagaimana suatu masalah akan diteliti dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologis penelitian (Umar, 2000). Desain penelitian yang telah ditentukan dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional. Desain penelitan korelasional adalah desain penelitian yang melihat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut, sehinnga tidak terdapat manipulasi variabel (Fraenkel dan Wellen, 2008) dimana peneliti ingin melihat keterkaitan antara perceived
social support dan self acceptance . Penelitan korelasional ini bersifat non-eksperimental
dimana penelitian yang tidak melakukan pengontrolan dan manipulasi pada variabel penelitian (Gravetter dan Forzano, 2012).
3.4 Alat Ukur Penelitian 3.4.1 Alat ukur
Dalam penelitian ini, teknik pengambilan data dilakukan melalui metode kuesioner. Kuesioner yang digunakan merupakan instrumen yang dapat mengukur variabel perceived social support dan self acceptance. Pada penelitian ini, alat ukur yang digunakan oleh penulis untuk variabel self acceptance merupakan alat ukur untuk mengetahui self acceptance diadaptasi dari alat ukur penelitian Novida (dalam Constanti, 2012). dan untuk perceived social support diadaptasi dari alat ukur yang diciptakan oleh Sarason, Levine, Basham dan Sarason (1983) yaitu Social Support
questionnaire (SSQ).
3.4.1.1Alat ukur self acceptance
Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur self acceptance adalah kuosioner alat ukur self acceptance yang dikembangkan oleh Novida (dalam Constanti, 2012) merujuk pada aspek self acceptance berdasarkan teori Shereer. Peneliti melakukan adaptasi alat ukur agar sesuai penggunaannya pada partisipan yang akan dijadikan subjek penelitian. Alat ukur self acceptance tersebut telah memiliki reliabilitas sebesar 0,929.
Tabel 3.1
Alat Ukur Self Acceptance
Variabel Indikator Favorable Unfavorable
Self acceptance
Adanya keyakinan akan kemampuan diri dalam menghadapi persoalan
1,14,34 8,38,27
Adanya anggapan berharga pada diri sendiri sebagai seorang manusia dan sederajat
6,20,35 9,11,39
Tidak ada anggapan aneh abnormal terhadap diri sendiri dan tidak ada harapan ditolak
10,15,41 2,3,13
Tidak adanya rasa malu atau memperhatikan dirinya sendiri
4,30,36 16,21,26
Ada keberanian memikul tanggung jawab terhadap perilaku sendiri.
12,17,28 31,37,40
Dapat menerima pujian, saran, kritikan atau celaan secara objektif
18,22,32 7,24,29
Tidak adanya penyalahan diri atas keterbatasan yang dimiliki ataupun pengingkaran
kelebihan
5,19,23 25,33,42
Jumlah 21 21
Sumber: Data olahan peneliti
Butir item dalam alat ukur self acceptance telah ditambahkan serta dimodifikasi kembali oleh peneliti agar lebih sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Jumlah item pada kuosioner uji coba ini berjumlah 42 item yang terdiri dari 21 item favorable dan 21 item unfavorable. Kuesioner ini menggunakan skala likert yang terbagi dalam 4 skala sebagai berikut : (1) Tidak Sesuai, (2) Kurang Sesuai, (3) Sesuai, (4) Sangat Sesuai.
3.4.1.2Alat ukur perceived social support
Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur perceived social
support adalah Social Support Questionnaire (SSQ) yang dibuat oleh Sarason,
Levine, Basham dan Sarason (1983). Alat ukur ini dipilih karena pada beberapa penelitian lainnya, alat ukur ini terbukti memiliki reliabilitas yang baik. Selain itu, alat ukur ini juga pernah digunakan dalam penelitian terkait perceived social
support pada gay dan lesbian (Kurdeck, 1988). Alat ukur SSQ kemudian
dimodifikasi kembali agar alat ukur dapat lebih sesuai untuk partisipan dalam penelitian ini. Peneliti melakukan modifikasi alat ukur agar sesuai penggunaannya pada partisipan yang akan dijadikan subjek penelitian. SSQ mengukur 2 aspek social support yaitu :
1. Social Support Questionnaire Number (SSQN)
SSQN digunakan untuk mengukur perceived social support (number). Aspek ini mengukur jumlah orang yang tersedia sebagai penyedia social support bagi responden (perceived availability). Pada bagian ini responden diminta untuk menuliskan secara spesifik orang-orang yang dianggap dapat diandalkan oleh responden untuk memberi dukungan dalam situasi tertentu. Responden hanya boleh menuliskan maksimal 9 orang.
2. Social Support Questionnaire Satisfaction (SSQS)
SSQS digunakan untuk mengukur perceived social support (satisfaction) Aspek ini mengukur derajat kepuasan responden atas social support yang dipersepsikan diterima oleh responden. Pada bagian ini responden diminta untuk memilih derajat kepuasan atas social support yang diterimanya melalui orang-orang yang telah dituliskan secara spesifik pada kolom SSQN.
Melalui penelitian Sarason,et.al. dalam Delima (2006) diketahui bahwa SSQN dan SSQS merupakan faktor yang terpisah dan berdiri sendiri, namun dalam pelaksanaannya kedua bagian ini diadministrasikan secara bersamaan sebagai satu set kuesioner. Contoh soal dari Social Support Questionnaire :
a. Pada siapakah, Anda merasa bahwa Anda merupakan bagian penting dari kehidupannya ?
Tabel 3.2
Social Support Questionnaire Number
( ) Tidak Ada 1. 4. 7.
( ) Ada 2. 5. 8.
3. 6. 9.
Sumber: Data olahan peneliti
Tabel 3.3
Social Support Questionnaire Satisfaction
1. 2. 3. 4. 5. 6. Sangat tidak puas Cukup tidak Puas Agak tidak puas Agak Puas Cukup Puas Sangat puas
Sumber: Data olahan peneliti
Pada tabel 3.2 responden diminta untuk memberikan tanda silang di bagian kata “ Tidak Ada” dan “Ada”. Bila responden memberikan tanda silang pada bagian “Ada’, maka responden diminta untuk menuliskan secara spesifik (inisial nama, jenis kelamin dan hubungannya dengan subjek) mengenai siapa saja orang yang dianggap responden dapat diandalkan untuk memberikan dukungan atau bantuan dalam setiap pertanyaan yang dijabarkan. Penilaian pada tiap item bergantung dari banyaknya kolom yang diisi oleh subjek. Skor responden pada bagian ini adalah 0-9. Tiap kolom yang diisi oleh subjek mendapatkan skor=1, sedangkan pada kolom yang tidak diisi mendapatkan skor 0. Skor minimal subjek adalah 0 dan skor maksimal subjek adalah 9 pada tiap butir soal pada tabel 3.2. Skor akhir ialah menjumlahkan skor pada setiap item lalu dibagi total item (27 item).
Pada tabel 3.3 responden diminta untuk memilih satu dari enam pilihan jawaban yang telah tersedia untuk menggambarkan derajat kepuasan responden atas social support yang diterimanya melalui orang-orang yang yang dituliskan oleh responden pada tabel 3.2. Pilihan jawaban yang tersedia adalah (1) sangat tidak puas, (2) cukup tidak puas, (3) agak tidak puas, (4) agak puas, (5) cukup puas dan (6) sangat puas. Skor minimal pada tabel 3.3 adalah 1 dan skor maksimal adalah 6. Rentang skor pada bagian ini adalah 1-6. Skor akhir ialah menjumlahkan skor pada setiap item lalu dibagi total item (27 item).
3.4.2 Validitas dan reliabilitas alat ukur 3.4.2.1Validitas
Validitas merupakan derajat kecermatan alat ukur untuk benar-benar mengukur apa yang akan diukur (Goodwin, 2010). Uji validitas adalah suatu uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mampu mengukur apa yang ingin diukur. Dalam pengujian validitas dengan landasan teori Gregory (2007), peneliti akan melalukan 2 metode uji validitas, yaitu : content validity dan construct validity. Uji content validity dilakukan untuk mengukur apakah ada kecocokan antara isi alat ukur tersebut dengan isi sasaran yang ingin diukur. Uji content validity dilakukan dengan melakukan uji keterbacaan (face validity) serta tahap expert judgement yang dilakukan oleh para profesional di bidangnya masing-masing. Untuk uji construct validity, peneliti menggunakan corrected item total correlation. Dengan menggunakan pengujian ini, peneliti akan mengidenfitikasi butir pertanyaan yang tidak sesuai dan dianggap merusak kuesioner secara keseluruhan (Stommel & Wills, 2004). Kriteria yang ditetapkan untuk uji validitas ini adalah korelasi setiap butir dengan total skor dari skala yang bersangkutan harus lebih besar dari 0.25. Apabila ditemukan butir yang memiliki korelasi butir kurang dari 0.25, maka butir tersebut akan dihilangkan (Lodico et.al., 2006 ).
a. Validitas alat ukur social support questionnaire :
Untuk alat social support questionnaire telah dilakukan tahap penilaian oleh dosen pembimbing Ibu Antonina Pantja Juni Wulandari, S.Sos., M.Si dan profesional di bidang psikologi sosial yaitu Bapak Juneman, S.Psi., M.Si. Pengujian validitas ini dilakukan 3 kali, yaitu pada tanggal 5, 10 dan 13 Juni
2014. Dari hasil expert judgement tidak ada item yang digugurkan. Perubahan pada item hanya revisi kalimat dan revisi pada instruksi pengisian kuesioner. Contohnya terdapat item yang ditambahkan kata “orientasi seksual” supaya lebih spesifik. Selain itu, untuk menggunakan alat ukur social support
questionnaire (SSQ) juga telah dilakukan uji validitas dengan melakukan pilot study. Setelah melakukan pilot study, berikut hasil uji validitas konstruk dari
instrumen SSQ :
Tabel 3.4
Validitas Social Support Questionnaire Number Nomor Item CIT Nomor Item CIT Nomor Item CIT
Item1 .414 Item10 .700 Item19 .499
Item2 .694 Item11 .693 Item20 .537
Item3 .606 Item12 .447 Item21 .517
Item4 .657 Item13 .377 Item22 .502
Item5 .614 Item14 .530 Item23 .463
Item6 .475 Item15 .633 Item24 .357
Item7 .741 Item16 .551 Item25 .442
Item8 .633 Item17 .699 Item26 .543
Item9 .681 Item18 .767 Item27 .518
Tabel 3.5
Validitas Social Support Questionnaire Satisfaction Nomor Item CIT Nomor Item CIT Nomor Item CIT
Item1 .312 Item10 .555 Item19 .296
Item2 .326 Item11 .197 Item20 .411
Item3 .591 Item12 .267 Item21 .465
Item4 .410 Item13 .562 Item22 .389
Item5 .370 Item14 .506 Item23 .558
Item6 .339 Item15 .413 Item24 .606
Item7 .329 Item16 .550 Item25 .628
Item8 .563 Item17 .645 Item26 .650
Item9 .510 Item18 .488 Item27 .712
Sumber: Data olahan peneliti
Pada alat ukur SSQ ini tidak terdapat item yang digugurkan. Hal ini dikarenakan keseluruhan butir item pada SSQN memiliki nilai corrected item
total-correlation lebih besar dari 0,25. Pada butir item SSQS juga terdapat
nilai corrected item total-correlation lebih besar dari 0,25, terkecuali item nomor 11 dimana CIT < 0,25. Walaupun demikian, butir item nomor 11 pada tabel SSQN menunjukkan bahwa CIT > 0,25 dengan nilai sebesar 0,693. Dikarenakan SSQN dan SSQS merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, maka tidak terdapat item yang digugurkan.
b. Validitas alat ukur self acceptance :
Untuk menggunakan alat ukur self acceptance, dilakukan uji validitas isi. Pengujian validitas isi dilakukan melalui penilaian profesional (expert
judgement). Untuk alat ukur self acceptance telah dilakukan tahap penilaian
oleh 2 profesional di bidang psikologi klinis yaitu Ibu Rani Agias Fitri, S.Psi., M.Psi. dan Ibu Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi., M.Psi. Pengujian
validitas ini dilakukan 2 kali, yaitu pada tanggal 2 dan 12 Juni 2014. Dari hasil
expert judgement tidak ada item yang digugurkan. Perubahan pada item hanya
berupa revisi kalimat dan terdapat penambahan dua buah item dengan tujuan agar item favorable dan unfavorable menjadi seimbang. Selain itu, untuk menggunakan alat ukur self acceptance juga telah dilakukan uji validitas dengan melakukan pilot study. Pilot study bertujuan untuk melihat apakah alat ukur yang dipakai mampu untuk mengukur apa yang ingin diukur. Setelah melakukan pilot study, berikut hasil uji validitas konstruk dari instrumen self
acceptance :
Tabel 3.6
Validitas Alat Ukur Self Acceptance
Nomor Item CIT Nomor Item CIT Nomor Item CIT Nomor Item CIT
Item1 ,697 Item12 ,559 Item23 ,195 Item34 ,388
Item2 ,342 Item13 ,272 Item24 -,033 Item35 ,369
Item3 ,589 Item14 ,627 Item25 ,235 Item36 ,510
Item4 ,357 Item15 ,372 Item26 ,267 Item37 ,349
Item5 ,345 Item16 ,288 Item27 ,291 Item38 ,502
Item6 ,638 Item17 ,274 Item28 ,151 Item39 ,477
Item7 ,259 Item18 ,426 Item29 ,233 Item40 ,155
Item8 ,351 Item19 ,022 Item30 ,510 Item41 ,509
Item9 ,433 Item20 ,239 Item31 ,548 Item42 ,335
Item10 ,366 Item21 ,516 Item32 ,319
Item11 ,001 Item22 -,197 Item33 ,302 Sumber: Data Olahan Peneliti
Pada alat ukur self acceptance ini, terdapat 10 item yang memiliki nilai
corrected item total-correlation di bawah 0,25 yaitu item nomor 11, 19, 20,
22, 23, 24, 25, 28, 29 dan 40. Sehingga ke-10 item ini digugurkan. Dengan demikian, jumlah item variabel self acceptance menjadi 32 item.
3.4.2.2Reliabilitas
Sujianto (2009) mengemukakan bahwa reliabilitas alat ukur adalah hasil pengukuran yang dapat dipercaya. Reliabilitas alat ukur diperlukan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan pengukuran. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha. Pengukuran reliabilitas alat ukur penelitian dilakukan pada saat uji coba alat ukur kepada 32 responden gay dewasa muda. Berdasarkan hasil uji coba alat ukur, terdapat beberapa item yang dihapus dari alat ukur self acceptance. Alat ukur self acceptance menjadi sejumlah 32 item. Sedangkan untuk alat ukur social support questionnaire tidak terdapat item yang dihapuskan. Oleh karena itu, total butir item tetap berjumlah 27 item. Reliabilitas masing-masing alat ukur dapat dilihat dari koefisien
Cronbach’s Alpha.
Tabel 3.7
Nilai Reliabilitas Keseluruhan Alat Ukur
Alat Ukur Cronbach’s
Alpha
Jumlah Item
Social Support Questionnaire- Number
0,932 27
Social Support Questionnaire-
Satisfaction
0,897 27
Self Acceptance 0,884 32
Sumber : Data Olahan Peneliti
Berdasarkan tabel diatas, nilai Cronbach’s Alpha alat ukur self
acceptance adalah sebesar 0,884. Berikutnya nilai Cronbach’s Alpha untuk
sebesar 0,905. Pengujian realibilitas ini menerapkan teori dari Cronbach sebagai acuan, yaitu nilai cronbach’s alpha harus positif dan alpha harus lebih besar atau sama dengan 0.6 (Sarwono, 2006). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alat ukur ini reliabel.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Persiapan penelitian
Dalam tahap awal penelitian, peneliti mulai mencari fenomena yang penting untuk disampaikan. Setelah menentukan fenomena yang ingin diangkat oleh peneliti, selanjutnya peneliti mencari berbagai bahan literatur yang ada serta peneliti mulai menyusun skema rancangan penelitian secara terstruktur dan jelas. Peneliti juga menetapkan karakteristik responden yang hendak dijadikan subjek penelitian. Selanjutnya, peneliti mencari alat ukur yang dianggap mampu mengukur variabel yang diteliti dalam penelitian. Peneliti menggunakan 2 alat ukur dalam penelitian ini, yaitu alat ukur berupa kuesioner perceived social support dan kuesioner self acceptance. Peneliti kemudian melakukan tahap expert judgement dan uji keterbacaan dengan 4 orang subjek yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian. Setelah uji keterbacaan, kuosioner akan dibagikan kepada 30 subjek penelitian untuk pengadaan
pilot study.
Untuk mempermudah jalannya penelitian, peneliti akan menggunakan surveygizmo.com dalam pembuatan serta penyebaran kuesioner secara online. Hal ini memudahkan peneliti untuk menyebarkan kuosioner secara online tersebut pada subjek penelitian yang dituju. Guna mengantisipasi responden diluar karakteristik subjek penelitian, peneliti meminta bantuan kepada salah satu teman peneliti yang merupakan aktivis di komunitas LGBT untuk membantu penyebaran kuesioner secara online hanya pada lingkup karakteristik subjek penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. Selain itu, peneliti meminta bantuan dari teman peneliti yang juga bergabung dalam komunitas subjek penelitian yang dituju. Sehingga penyebaran alat ukur dilakukan dari satu orang ke orang lainnya yang merupakan metode snowball sampling. Peneliti juga menyiapkan
reward yang akan diberikan kepada calon responden. Data yang telah diperoleh dari pilot study kemudian digunakan untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan
menggunakan dengan menggunakan program SPSS 21. Dari hasil uji validitas ini dapat ditentukan item yang akan digunakan dalam penelitian ini. Setelah kedua kuesioner terbukti valid dan reliabel, maka akan dilakukan uji lapangan.
3.5.2 Pelaksanaan penelitian
Setelah validitas dan reliabilitas alat ukur telah valid dan reliabel maka akan dilakukan pengambilan data sampel penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ini domisili subjek penelitian berasal dari daerah DKI Jakarta. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap uji coba alat ukur dan pengambilan data lapangan. Tahap uji coba alat ukur dilakukan pada tanggal 16 - 22 Juni 2014 dengan cara penyebaran kuesioner online melalui website atau forum komunitas homoseksual. Penyebaran kuesioner juga dipermudah dengan bantuan teman peneliti yang menyebarkan secara private kepada kenalan yang dianggap sesuai dengan karakteristik subjek penelitian ini. Namun, pada tanggal 22 Juni 2014, peneliti menyadari bahwa dalam penyebaran kuesioner online dirasa tidak memungkinkan untuk mendapatkan 30 responden pilot study. Hal ini dikarenakan banyak responden yang tidak mengisi kuesioner secara lengkap serta adanya komentar dari responden penelitian mengenai banyaknya jumlah item menyebabkan kejenuhan dalam pengisian kuesioner secara
online.
Oleh karena itu, pada tanggal 23-27 Juni 2014 peneliti melakukan penyebaran kuesioner dalam bentuk hard copy serta secara langsung melakukan pertemuan dengan responden yang dianggap sesuai dengan karakteristik subjek penelitian. Penyebaran kuesioner diawali dengan janji temu dengan beberapa responden yang dilakukan di mal, kafe atau tempat hang out lainnya di wilayah Jakarta. Dikarenakan calon responden penelitian memiliki kesibukan serta aktivitas yang berbeda antar satu dengan yang lainnya, maka peneliti melakukan lima kali janji temu dengan sejumlah responden berbeda dalam pengadaan pilot study ini. Untuk mengatasi kejenuhan responden dalam mengisi kuesioner maka peneliti juga memberikan reward seperti acara makan bersama dan sebagainya. Keseluruhan uji coba alat ukur dilakukan terhadap 32 responden gay berusia 20-40 tahun. Uji coba alat ukur dilakukan guna mengetahui nilai reliabilitas dan validitas dari alat ukur yang digunakan dengan bantuan IBM SPSS Statistics 21. Setelah dilakukan uji coba dan mendapatkan nilai reliabilitas serta validitas yang mencukupi, maka dilakukan pengambilan data lapangan.
Pengambilan data lapangan dilaksanakan pada tanggal 2-8 Juli 2014 dengan menyebarkan kuesioner dalam bentuk hard copy kepada responden. Pada tanggal 2 Juli peneliti mendatangi beberapa komunitas dengan bantuan teman peneliti yang mengetahui lokasi komunitas di Jakarta. Peneliti juga memberitahukan tujuan penelitian serta menjelaskan intruksi pengisian kuesioner yang akan diberikan.
Dikarenakan pengisian kuesioner akan cukup memakan waktu, maka peneliti berinisiatif untuk menitipkan kuesioner tersebut terlebih dahulu. Peneliti kemudian mengambil seluruh kuesioner yang telah diedarkan di komunitas pada tanggal 7 Juli 2014.
Selain itu, pada tanggal 3-8 Juli peneliti juga melakukan janji temu dengan beberapa responden penelitian di beberapa lokasi di Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mempermudah pengambilan data lapangan dalam penelitian ini. Peneliti juga tetap menggunakan sarana online surveygizmo.com untuk penyebaran kuesioner secara online. Namun, peneliti hanya memberikan link kuesioner kepada responden yang tidak dapat melakukan janji temu secara langsung dengan peneliti karena adanya keterbatasan waktu antara peneliti dengan responden. Untuk penjelasan intruksi kuesioner juga diberlakukan penjelasan lebih lanjut melalui sarana telepon seluler atau whatsapp agar responden yang melakukan pengisian secara online dapat lebih mudah memahami instruksi yang diberikan oleh peneliti.
Kuesioner yang dipergunakan merupakan kuesioner yang memenuhi cara pengisian kuesioner dalam instruksi peneliti. Apabila pengisian kuesioner tidak dilakukan sesuai instruksi atau diisi secara tidak lengkap, maka data kuesioner tersebut tidak akan diolah dalam penelitian ini. Peneliti juga menyadari bahwa kuesioner yang diberikan cukup banyak serta sulit bagi responden. Oleh karena itu, peneliti memberikan reward bagi setiap responden yang bersedia untuk mengisi kuesioner yang diberikan secara lengkap serta sesuai dengan instruksi yang diberikan. Dari pelaksanaan uji lapangan, didapatkan 4 kuesioner dari sarana pengisian kuesioner secara online serta didapatkan 36 kuesioner dari pemberian kuesioner dalam bentuk hard copy. Setelah itu, 40 kuesioner ini akan diolah untuk dilakukan analisa dengan bantuan IBM SPSS
3.5.3 Teknik pengolahan data
Setelah data diperoleh melalui responden penelitian, data yang diperoleh akan diolah dengan teknik pengolahan data yang sesuai dengan desain penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan uji normalitas yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa masing-masing alat ukur berdistribusi normal. Sehingga metode penghitungan korelasi yang digunakan ialah metode Pearson Product Moment
Correlation. Hal ini sesuai dengan pernyataan Priyatno (2013) yang mengemukakan
bahwa apabila data terdistribusi secara normal, maka selanjutnya akan digunakan metode Pearson Product Moment Correlation. Pengolahan data yang telah didapat kemudian dilakukan analisa statistik dengan menggunakan SPSS 21.