• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis d"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14) KATA PENGANTAR. Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Selanjutnya shalawat dan salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah menjadi contoh suri tauladan yang baik bagi seluruh umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Skripsi ini penulis beri judul “Pembiasaan Shalat Dhuha Dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Spiriual Siswa SMP Al-Fityan Medan”. Penulis menyadari dalam perampungan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam penyelesainan proposal ini. Secara khusus dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Fuji Rahmadi P, MA. dan Bapak M. Yunan Harahap M.Pd sebagai pembimbing satu dan pembimbing dua yang telah memberikan banyak arahan kepada pemulis selama penyusunan proposal ini dari awal sampai akhir. Penulis juga berterimakasih yang sebesarbesarnya kepada:. 1. Bapak Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, SE, MM selaku rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan. 2. Bapak Manshuruddin, M.A selaku Dekan Fakultas Agama Islam dan Humaniora Universitas Panca Budi Medan. ii.

(15) 3. Bapak Bahtiar Siregar, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Panca Budi Medan. 4. Bapak Dr. Fuji Rahmadi P, MA. selaku Dosen pembimbing I 5. Bapak Muhammad Yunan Hrp, M.Pd.I selaku Dosen pembimbing II 6. Teristimewa penulis ucapkan kepada Ayah dan Ibu yang telah merawat dan membesarkan serta memberikan dukungan moril dan material yang tak henti-hentinya kepada penulis. 7. Dan yang tak terlupakan sahabat PAI di kelass Reguler PAI A2 yang selalu memberikan motivasi, inspirasi dan saran. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Maka dari itu penulis mengharapkan saran, masukkan dan kritik dari berbagai pihak guna penyempurnaan skripsi ini.. Medan, Agustus 2020. Penulis. (ANGGITA KHAIRANNISA). iii.

(16) DAFTAR ISI ABSTRAKSI.......................................................................................................... i KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Identifikasi Masalah .....................................................................................5 C. Rumusan Masalah ........................................................................................5 D. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 5 E. Manfaat penelitian ....................................................................................... 6. BAB II LANDASAN TEORITIS ......................................................................... 7 A. Kerangka teori ............................................................................................. 7 1. Kajian Shalat Dhuha.....................................................................................7 a. Pengertian Shalat Dhuha ........................................................................7 b. Dasar Hukum Shalat Dhuha ...................................................................8 c. Tata Cara Shalat Dhuha..........................................................................9 d. Keutamaan Shalat Dhuha .....................................................................14 2. Kecerdasan Spiritual ..................................................................................17 a. PengertianKecerdasan Spiritual ...........................................................17 iv.

(17) b. Pertumbuhan Spiritual ..........................................................................20 c. Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual...............................................................23 d. Hakikat Nilai-nilai Kecerdasan Spiritual .............................................27 e. Langkah-langkah Meningkatkan Kecerdasan Spiritual .......................29 3. Pengaruh Shalat Dhuha terhadap Kecerdasan Spiritual Peserta Dididk ....33 B. Penelitian yang Relevan .............................................................................36. BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 39 A. Jenis Penelitian......................................................................................... 39 B. Tempat dan Waktu ................................................................................... 39 C. Sumber Data ............................................................................................. 39 D. Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 40 E. Teknik Analisis data ................................................................................ 41. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................42 A. Temuan Umum .........................................................................................42 1. Sejarah Berdirinya SMP Al-Fityan ...............................................42 2. Visi SMP Al Fityan .......................................................................42 3. Misi, kebijakan mutu, sarana dan prasarana SMP Al Fityan ........43 4. Data Guru SMP Al-Fityan ............................................................45 B. Temuan Khusus ........................................................................................47. v.

(18) 1.. Pembiasaan Shalat Dhuha dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP Al-Fityan ....................................................47. 2.. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP Al-Fityan ................................60. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................67 A. Kesimpulan ...............................................................................................67 B. Saran .........................................................................................................68. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN. vi.

(19) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam merupakan agama sempurna yang dibawakan oleh nabi Muhammad untuk kebaikan ummat dalam islam banyak diajarkan cara beribadah kepada Allah salah satunya ibadah shalat karena shalat merupakan media komunikasi yang canggih bagi seorang hamba kepada Allah. Dengan shalat ia bisa menundukkan jiwa dan raganya dihadapan Allah yang Mahaperkasa. Dengan shalat ia dapat merasakan betapa besarnya keagungan dan kekuasaan Allah meliputi segala ciptaan-Nya.1 Allah menciptakan hambanya untuk menyembah kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam QS.Adz-Dzaariyaat ayat 56 :. ُ ‫َو َما َخلَ ْق‬ ‫ون‬ َ ‫اْل ْن‬ ِ ‫س إِ ََّّل لِيَ ْعبُ ُد‬ ِ ْ ‫ت ْال ِج َّن َو‬ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang hamba harus melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan cara mematuhi syariat-syariat islam, dalam islam banyak cara beribadah salah satunya dengan melaksanakan shalat,. 1. WahyuQolbu, Super Lengkap Shalat Sunah, Jakarta Selatan : Jagakarsa, 2013, hal. 4. 1.

(20) 2. karena shalat merupakan tiang agama. Shalat adalah perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.2 Hukum shalat terbagi dua yaitu Fardhu dan Sunnah, shalat fardhu yang wajib dikerjakan setiap ummat Islam, sedangkan shalat sunnah adalah shalat yang sangat dianjurkan nabi untuk dilaksanakan, karena amalan sunnah merupakan bentuk ketaatan seorang hamba terhadap Allah dan bentuk rasa syukur atas segala karunia yang telah diberikan, salah satunya shalat dhuha. Shalat dhuha merupakan salah satu alternatif ibadah yang dapat meningkatkan. kecerdasan,. shalat. dhuha. memang. sangat. mempengaruhi. perkembangan kecerdasan seseorang utamanya kecerdasan fisikal, emosional spiritual, dan intelektual, oleh sebab itu sejak dini harus ditanamkan dalam diri siswa pentingnya melaksanakan shalat dhuha. Sekolah SMP Al-Fityan merupakan sekolah swasta umum, sama seperti sekolah SMP lainnya, hanya saja di sekolah SMP Al-Fityan guru lebih mendidik siswa untuk melakukan shalat dhuha, sehingga shalat dhuha menjadi sebuah kewajiban bagi siswa, dengan adanya shalat dhuha dapat membangun karakter religius siswa. Sebelum program pembiasaan shalat dhuha dilaksanakan, berbagai program sekait itu telah direncanakan dan dilaksanakan.Diantaranya menghafal AlQur’an, shalat Dzuhur bersama. Mengingat sekolah ini bukanlah sekolah madrasah, namun mayoritas siswa-siswi beragama islam.. 2. Syeikh Abdurrahman Al-Jaziri, Kitab Shalat Fikih Empat Mahzab, Jakarta Selatan : PT Mizan Publika, 2005, hal 8.

(21) 3. Sekolah hendaknya memiliki program melaksanakan shalat dhuha setiap hari secara rutin, karena sekolah adalah merupakan sarana pengajaran dan pembelajaran untuk mendidik siswa memiliki pondasi spiritual yang kokoh, dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk siswa yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia dan spiritual keagamaan. Terdapat dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif.mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.3 Undang-undang diatas merupakan acuan setiap sekolah untuk mendidik siswa yang berkarakter, berakhlak mulia serta memiliki kecerdasan spiritual, dengan adanya program-program pembelajaran yang bernuansa keagamaan seperti shalat dhuha, shalat berjamaah, Tulis Baca Qur’an (TBQ) dan mengadakan acara perlombaan untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Sekolah SMP Al-Fityan Medan telah menerapkan pembentukan kecerdasan spiritual siswa dengan adanya program shalat dhuha rutin setiap hari, shalat berjamaah dan Tulis Baca Qur’an, sehingga siswa memiliki akhlak mulia yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.. 3. Jurnal Jupiter Pendidikan Teknik Elektro Universitas PGRI Madiun-madiun 63118, Indonesia: Volume 2, No. 2, September 2017.

(22) 4. Hasil observasi peneliti SMP Al-Fityan Medan telah menerapkan shalat dhuha berjamaah yang diikuti dari kelas tujuh sampai dengan kelas sembilan, setiap jam istirahat berbunyi dan para siswa langsung bergegas mengambil air wudhu dan menyiapkan perlengkapan shalat lalu mengambil posisi untuk melaksanakan shalat dhuha berjamaah. Siswa terlihat sudah aktif dan tenang dalam pelaksanaan shalat dhuha meskipun tanpa instruksi dari guru, hanya saja sekolah memiliki kebijakan untuk menjadikan guru sebagai contoh sekaligus mengawasi siswa yang kurang kooperatif, setelah selesai melaksanakan shalat siswa mengisi absensi shalat dhuha. Meningkatkan nilai-nilai spiritual dalam diri siswa sekolah menyediakan berbagai fasilitas yang memadai untuk membantu meningkatkan minat siswa dalam pelaksanaan kegiatan spiritual keagamaan, yaitu mushollah, tempat pengambilan air wudhu laki-laki dan perempuan serta Al-Qur’an. Guru merupakan orang yang berpengaruh bagi siswa yang dapat dijadikan sebagai contoh, hanya saja di SMP Al-Fityan masih ada beberapa guru yang belum konsisten dalam melaksanakan shalat dhuha secara rutin yang mengakibatkan beberapa siswa menghindar melaksanakan shalat dhuha pada saat guru tidak mengawasi. Dari latar belakang permasalahan tersebut, maka peniliti ingin mencermati dan mengkaji secara lebih mendalam, akan Pembiasaan Shalat Dhuha Dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP Al-Fityan Medan..

(23) 5. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka muncul beberapa masalah yang berkaitan dengan judul di atas, yaitu: 1. Banyak siswa yang kurang memahami kecerdasan spiritual 2. Kurangnya upaya dalam meningkatkan kecerdasan spiritual dalam diri siswa C. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah, maka timbul beberapa permasalahan yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut : 1. Bagaimana pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spiritual siswa SMP Al-Fityan Medan? 2. Apa faktor pendukung dan penghambat pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spiritual siswa SMP Al-Fityan Medan? D. Tujuan Penelitian Sehubungan dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana pembiasaan shalat dhuha siswa SMP Al-Fityan Medan 2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spiritual siswa SMP Al-Fityan Medan.

(24) 6. E. Manfaat Penelitian Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut : 1. Secara Teoritis Diharapkan penelitian ini akan menjadi kontribusi khasanah keilmuan yang dimungkinkan akan dikembangkan dalam penelitian selanjutnya. 2. Secara Praktis Diharapkan penelitian ini akan menjadi sumber informasi bagi lembagalembaga pendidikan pada umumnya..

(25) BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Kerangka Teori 1. Kajian Shalat Dhuha a. Pengertian Shalat Dhuha Makna kata dhuha dalam kamus bahasa Arab, dhuha diartikan sebagai “forenoon”, yakni pagi hari atau sebelum tengah hari, atau diartikan dalam bentuk kata kerjanya sebagai become appear/visible, “menjadi tampak atau terlihat”. Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang waktu zuhur. Afdhalnya di lakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik.1 Jadi shalat sunnah itu sebagai penambal dari shalat yang wajib. Dengan adanya shalat sunnah manusia dapat menambal amal ibadahnya. Tidak hanya shalat sunnah yang mampu menambal amal-amal wajib, seperti yang dijelaskan diatas bahwa puasa sunnah pun dapat menambal puasa wajib. Manusia diharapkan memperbanyak amalannya. Selain amalam yang wajib yang sunnah pun diharapkan dilakukannya.. 1. Zezen Zainal Alim, The Ultimate Power Of Shalat Dhuha, Jakarta selatan :jagakarsa, 2012,hal 1. 7.

(26) 8. Setiap shalat sunnah mempunyai manfaat sendiri-sendiri. Seperti shalat dhuha, shalat dhuha mempunyai keistimewaan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits, barang siapa yang melakukan shalat dhuha 4 raka‟at maka Allah akan mencukupi kebutuhannya pada hari itu. Tetapi sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak mengharap hal seperti itu, kita cukup berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah, barang siapa yang dekat dengan Allah maka segala apapun akan dimudahkan-Nya. b. Dasar Hukum Shalat Dhuha Dalam agama Islam, sumber rujukan utama penetapan hukum suatu amalan adalah Al-Qur‟an.Berkaitan dengan persoalan status hukum shalat dhuha, Al-Qur‟an sendiri sebenarnya tidak mengemukakan secara eksplisit perintah atau anjuran yang tegas atau jelas berkenaan dengan pelaksanaan shalat tersebut. Ada beberapa kata dhuha yang bisa kita temukan dalam Al-Qur‟an, tetapi kata-kata itu tampaknya tidak berkaitan dengan penetapan hukum shalat dhuha.2 Oleh karena itu, kita tidak dapat menemukan dasar hukum yang tegas dan jelas dalam Al-Qur‟an berkenaan dengan shalat dhuha tersebut. Namun, hal itu tidak mengurangi arti penting shalat dhuha. Karena penjelasan yang tegas dan jelas tentang anjuran pengamalan shalat ini dapat ditemukan dalam beberapa hadits Rasulullah. Berdasarkan hadits-hadits itulah kita dapat mempertimbangkan status dasar hukum shalat dhuha. Di sinilah tepatnya kita menemukan posisi hadits yang berkaitan. 2. Ibid, The Ultimate Power Of Shalat Dhuha, hal 20.

(27) 9. dengan Al-Qur‟an, seperti terungkap dalam kajian Ulum Al-Qur’an. Hadits-hadits berfungsi sebagai penjelas, penjabar, dan pendamping Al-Qur‟an. Hadits di atas menyebutkan bahwa salah satu di antara tiga amalan sunnah yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya, melalui tuturan kata-kata Abu Hurairah adalah amalan shalat dhuha. Dalam hal ini, seruan Rasulullah kepada sahabatnya untuk melaksanakan shalat dhuha adalah seruan untuk melakukan sebuah amalan sunnah. Sebab, dalam hadits tersebut tidak ditemukan adanya perkataan atau pernyataan yang menekankan atau menyebutkan isyarat wajibnya amalan shalat dhuha. Dalam kaidah-kaidah ilmu Ushul Fiqh- yakni aturan-aturan dasar metodologis dalam menetapkan suatu hukum-disebutkan bahwa jika ungkapan perintah atau kalimat berita yang mengandung makna perintah tidak mengandung indikasi wajibnya pelaksanaan perintah tersebut, perintah tersebut hanya berstatus hukum sunnah. c. Tata Cara Shalat Dhuha. Sebelum kamu shalat dhuha, berwudhu terlebih dahulu. Manfaatnya untuk menyegarkan dan menbersihkan kotoran yang menempel ditubuhmu. Setelah itu, kamu ucapkan niat menunaikan shalat dhuha hanya untuk Allah SWT, semata. Pada rakaat pertama, setelah kamu membaca surah alfatiha, disunahkan membaca surah Al-syams. Kenapa disunahkan membaca surah Al-syams? Sesuai dengan artinya, yakni matahari,kamu mesti seperti matahari yang setiap hari menyinari dunia..

(28) 10. Rakaat kedua lantas kenapa pada rakaat kedua kita disunnahkan membaca surah Al-lail? Malam hari adalah sebuah gambaran yang bisa kamu ambil pelajaranya. Karena gelap, malam harus dijadikan waktu untuk beristirahat dan mengefaluasi apa yang telah kamu lakukan pada siang harinya. Jadi, ada kesinambungan yang terus menerus antara siang dan malam atau antara matahari dan bulan. Hal ini mengajarka kepada kita bahwa hidup itu mesti diseimbangkan menurut ketentuan darinya.3. Jumlah rakaat shalat dhuha, minimal 2 rakataat dan maksimal 12 rakaat. Shalat dhuha dilakukan secara mumfarid (tidak berjamaah atau sendiri-sendiri) caranya sebagai berikut: a. Berniat dalam hati dengan takbir ratul ikhram seperti ini,:” aku berniat shalat dhuha karna Allah” b. Membaca doa iftitah c. Membaca surah Al-fatiha d. Membaca salah satu surah Al-quran(lebih utama membaca surah Al-syams) e. Ruku dan membaca tasbih tiga kali f. I‟tidal dan membaca bacaanya g. Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali h. Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya. 3. 147-148. Ahmad Sultoni, Tuntunan shalat (wajib dan sunnah), (Bandung: nuansa Aulia,2007), hal.

(29) 11. i. Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali4 Bangunlah. pagi. hari. untuk. mencari. rezeki. dan. kebutuhan-. kebutuhanmu.Sesungguhnya pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan. (HR. At-Thabrani) Dalam hadits tersebut kita diwajibkan untuk senantiasa mencari rezeki di pagi hari. Bisa pula berarti waktu dimulainya aktivitas seseorang. Secara fisik maupun psikis, waktu pagi ketika matahari sudah muncul itulah merupakan saat yang tepat untuk memulai kegiatan karena istirahatnya seseorang pada malam harinya. Jadi, tubuh dan pikiran masih segar-segarnya. Oleh karena itu, mencari reeki atau beraktivitas apa pun akan sangat maksimal dilakukan di pagi hari. Dalam bahasa Arab, kata Dhuha diartikan. forenoon, yaitu pagi hari. sebelum tengah. hari. Maksudnya, ketika matahari mulai tampak terlihat jelas. sebelum tengah. hari. Dhuha merupakan saat-saat yang penting karena Allah. seringkali menunjukkannya dalam Al-Qur‟an.Para penerjemah Al-Qur‟an sepakat bahwa Dhuha diartikan waktu matahari sepenggelahan naik atau pagi hari yang panas. Mengenai kata dhuha diartikan sebagai “matahari sepenggalan naik” terdapat dalam Al-Qur‟an surat ad-Dhuha ayat 1, asy-Syams ayat 1, dan al-A‟raf ayat 98. Dalam Surat ad-Dhuha, kata Dhuha diartikan sebagai “waktu matahari sepenggalahan naik”, dapat berarti matahari sedang naik sedikit. Dengan kata lain, di pagi hari saat matahari sudah tampak jelas dengan sinarnya yang hangat seperti dalam. 4. Sabil El-ma‟rufie,Dahsyat Shalat Dhuha, Bandung : Dari Mizan, 2007, hal 141.

(30) 12. Surat asy-Syams. Sementara itu, pada Surat al-A‟raf kata bermain merupakan saat manusia sedang sibuk-sibuknya dengan urusan dunianya dan merasa aman dari datangnya malapetaka, yakni ketika bekerja, belajar, olahraga, atau mengurus rumah. Berarti juga pada saat itulah manusia dituntut untuk selalu waspada dan berhati-hati. Berdasarkan hadits, Zaid bin Arqam meriwayatkan, “Rasulullah Saw, keluar menemui penduduk Quba di saat mereka melaksanakan shalat dhuha, lalu Rasulullah Saw, bersabda, “Shalat dhuha dilakukan apabila anak-anak unta telah merasa kepanasan (karena tersengat matahri),” “(HR. Muslim dan Ahmad bin Hanbali) maka waktu dhuha adalah matahari sedang terasa hangat-hangatnya dan berakhir ketika sebelum waktu Dzuhur.5 Waktu sepenggalahan itu kira-kira 18 derajat ketinggian waktu di ufuk timur karena waktu tersebut bersamaan hilangnya waktu karahah (makruh mengerjakan shalat). Waktu karahah yang dimaksud di sini adalah rentang waktu yang memisahkan antara selesai shalat Subuh dengan terbitnya matahari karena haram hukumnya melakukan shalat pada saat tepat matahari terbit. Sementara itu, waktu yang paling utama untuk menunaikannya adalah ketika terik matahari makin menyengat. Agar lebih aman, shalat dhuha sebaiknya dilaksanakan mulai terbitnya matahari dari seperempat jam setelah terbitnya matahari sampai kurang seperempat sebelum waktu shalat Dzuhur tiba. Waktu disesuaikan dengan perbedaan arah matahari di masing-masing wilayah.. 5. Muhammad Khalid, Shalat Subuh dan Shalat Dhuha, Jakarta : PT Buku Kita, 2009, hal 58.

(31) 13. Tidak ada ketentuan baku mengenai jumlah rakaat shalat dhuha. Dari beberapa hadis diketahui bahwa rakaat shalat dhuha berbeda-beda di setiap kesempatan Rasulullah melaksanakannya. Tak hanya itu, jumlah batasan maksimal shalat dhuha juga tidak ditentukan.Yang pasti, batas minimal shalat dhuha itu adalah 2 rakaat, sedangkan rakaatnya adalah kelipatannya (dalam bilangan genap), yakni 4, 6, 8, atau malah 12.6 Shalat dhuha dua rakaat terdapat dalam hadis “Abu Hurairah ra.berkata, “Kekasihku, Rasulullah saw, berpesan tiga hal kepadaku puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan agar aku melakukan shalat Witir sebelum tidur.” (HR. Muslim) Adapun Rasulullah biasa pula melakukannya empat rakaat ketika Aisyah menjawab pertanyaan Mu‟adzah.Aisyah ra.berkata, “Rasulullah biasa melakukan shalat dhuha empat rakaat, dan Beliau menambahnya menurut kemampuan, atas kehendak Allah." (HR. Muslim). Dua belas rakaat maka niscaya Allah Swt akan membina sebuah istana di dalam surge kelak.” (HR. al-Tirmidzi) Shalat dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadis Abud Darda Radhiyallahu’anhu, dia bercerita, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengerjakan shalat dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barang siapa shalat empat rakaat, dia ditetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barang siapa menegerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barang siapa mengerjakan. 6. Ibid, Shalat Subuh dan Shalat Dhuha, hal 59.

(32) 14. delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang dianugerahkan kepada hambahamba nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik dari pada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya.” (HR. at-Thabrani) Dalam hadis disebutkan, “Abu Umranah berkata kepada Abu Dzar, “Wahai paman, berwasiatlah kepadaku” Kemudian, dia (Abu Dzar) berkata, “Wahai keponakanku, aku pernah meminta kepada Rasulullah sebagaimana engkau memintanya kepadaku. Beliau bersabda, “Jika engkau shlat Dhuha dua rakaat, engkau dicatat tidak termasuk orang-orang yang lalai. Jika engkau shalat dhuha enam rakaat, engkau tidak akan berbuat dosa pada hari itu. Jika engkau shalat dhuha delapan rakaat, engkau dicatat sebagai orang yang taat. Jika engkau shalat dhuha dua belas rakaat, Allah akan membuatkan untukmu sebuah rumah di surga.” (HR. al-Syaibani) d. Keutamaan Shalat Dhuha Shalat dhuha sebagai shalat sunnah memiliki banyak sekali faedah keutamaannya, sehingga sangatlah baik apabila shalat ini dilaksanakan secara istiqomah yakni dengan membiasakan setiap hari dalam melaksanakannya. Dalam hadist Nabi SAW telah banyak disinggung tentang manfaat serta keutamaannya..

(33) 15. Tentang pengaruh shalat terhadap jiwa rohani manusia sangat banyak disinggung serta dialami sendiri oleh banyak pakar ilmu, sebagaimana yang dijelaskan bahwa shalat dapat membantu menghilangkan perasaan gelisah dan duka. Sebenarnya manusia adalah sebuah entitas makhluk sempurna, yang diciptakan oleh Sang Maha pemilik kesempurnaan dan ia juga sebagai khalifah bumi, sehingga hal tersebut seharusnya mampu dirasakan serta disyukuri lewat aktifitas shalat, yaitu aktifitas yang mengajak manusia untuk menuju dimensi murni yang begitu suci, menuju ke perbendaharaan tersembunyi untuk menyatu dengan dirinya.7 Dalam shalat manusia mengalami proses mi‟raj (naik) ke hadirat Ilahi Rabbi sehingga dengan mi‟raj tersebut manusia telah melupakan semua beban yan telah menimpanya dan dengan demikian dia akan menghasilkan sebuah ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Thomas Heslof mengatakan bahwa “Sesungguhnya unsur-unsur pokok terpenting yang saya ketahui diantara tahun-tahun yang panjang yang saya habiskan dalam pengalaman dan eksperimen-eksperimen adalah shalat. Saya kemukakan pendapat ini dengan resep dokter, yakni bahwa sesungguhnya shalat merupakan sarana terpenting yang saya ketahui sampai sekarang menanamkan ketentraman dalam jiwa dan menanamkan ketentraman dalam syaraf.8. 7. Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual WSQ; Emosional Spiritual Quotient berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta, Arta Wijaya Persada) 2001, hal. 280. 8 M. Ustman Najati, Jiwa Manusia dalam Sorotan Al-Qur’an (Jakarta, Cendekia Sentra Muslim, 1993) hal. 313..

(34) 16. Shalat juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dan efektif dalam menyembuhkan manusia dari dukacita dan gelisah. Sikap berdiri pada waktu shalat di hadapan Tuhannya dalam keadaan khusuk, berserah diri dan pengosongan diri dari kesibukan dan permasalahan hidup dapat menimbulkan perasaan tenang, damai dalam jiwa manusia serta dapat mengatasi rasa gelisah dan ketenangan yang ditimbulkan oleh tekanan jiwa dan masalah kehidupan.9 Menurut Ustman Najati, bahwa kedamaian jiwa dan ketenangan akal, serta untuk kondisi ini dari kelonggaran dan kedamaian jiwa yang diciptakan shalat memberi pengaruh pengobatan yang cukup penting dalam mengurangi tajamnya ketegangan-ketegangan syaraf yang tumbuh karena tekanan-tekanan hidup seharihari, dan dalam meringankan kegelisahan yang di derita sebagian orang.10 Menurut Ary Ginanjar Agustian, shalat adalah metode yang jauh lebih sempurna, karena ia tidak hanya bersifat duniawi namun juga bermuatan nilai-nilai spiritual. Didalamnya terdapat sebuah totalitas yang terangkan secara dinamis kombinasi gerak (fisik), emosi (rasa), dan hati (spiritual).11 Seseorang yang telah berhasil dalam mendirikan shalat akan dapat menjaga diri dari sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan menurut hatinya yang mana dengan perbuatan tersebut apabila didasarkan pada kata hatinya (hati nurani), dalam. 9. M. Ustman Najati, Jiwa Manusia, hal. 106. M. Ustman Najati, Jiwa Manusia, hal. 313. 11 Ary Ginanjar, Rahasia Sukses, hal. 278. 10.

(35) 17. dirinya akan timbul sebuah perasaan berdosa yang selanjutnya akan menumbuhkan sebuah kegundahan dalam dirinya. Energi rohani shalat juga dapat membantu membangkitkan harapan, menguatkan tekad, meninggikan cita-cita dan juga melepaskan kemampuan luar biasa yang menjadikannya lebih siap menerima ilmu pengetahuan dan hikmah serta sanggup melakukan tugas-tugas kepahlawanan yang hebat.12 Shalat berfungsi sebagai metode pengulangan dimana potensi spiritual yang berisikan elemen-elemen karakter atau sifat-sifat mulia agung itu diasah dan diulangulang, sehingga akan terjadi proses behaviorisme yang mengarah pada internalisasi karakter.13 2. Kecerdasan Spiritual a. Pengertian Kecerdasan Spiritual Kecerdasan spiritual yang banyak dikenal dengan istialah SQ (Spiritual Quetient) pada saat sekarang mulai menjalar di Indonesia dengan adanya seminar, kajian-kajian ilmiah, diskusi serta dialog-dialog, tapi sayang keramaian diskusidiskusi ini masih sebatas bisik-bisik intelektual. Tetapi dari sini, kita sudah dapat mengetahui beberapa pengertian yang berhubungan dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) disebutkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama. 12 13. M. Ustman Najati, Jiwa Manusia, hal. 107. Ary Ginanjar, Rahasia Sukses, hal. 277 – 278..

(36) 18. manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.14 Dalam pengantarnya, Ary Ginanjar Agustian mengomentari buku karangan M. Utsman Najati, menuturkan bahwa dalam perkembangan pertumbuhan kepribadian manusia, kecerdasan emosional tidaklah cukup, khususnya bagi pengembangan kejiwaan yang berdimensi ketuhanan. Kecerdasan emosional lebih berpusat pada rekontruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu ada dimensi lain yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan manusia, yaitu hubungan vertikal. Kemampuan dalam membangun hubungan yang bersifat vertikal ini sering disebut dengan istilah kecerdasan spiritual.15 Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.16 Danah Zohar dan Ian Marshall menyebutkan bahwa kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai The Ultimate Intelgence (puncak kecerdasan). SQ adalah landasan yang diperlukan untuk mengfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Sedangkan dalam konsep. 14. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar, hal 79 M. Utsman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi, Jakarta: Hikmah, 2002, hal. Vii 16 Ary Ginanjar Agustian New Edition, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ:Emosional Spiritual Quotient berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta: Penerbit Arga, 2007, hal 46 15.

(37) 19. ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu mensinergikan IQ, EQ dan SQ secara komprehensif.17 Kecerdasan spiritual itu menurut penelitian-penelitian di bidang neurologi (ilmu tentang syaraf) justru punya tempat di dalam anggota tubuh yaitu otak, yang sebelumnya oleh Howard Gardner menyatakan bahwa kecerdasan spiritual itu tidak punya tempat di dalam otak kita seperti kecerdasan yang lain. Jadi ada bagian dari otak kita dengan kemampuan untuk mengalami pengalaman-pengalaman spiritual untuk melihat Tuhan. Dalam hal ini maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan.Jadi ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah bisa memberi makna dalam kehidupannya.18 Selanjutnya, berlandasan pada beberapa ahli psikologi (Sigmund Frend C.G. Jung), neurolog (Persinger, Ramachandran) dan filosof (Daniel Dennett, Rene Descartes), Danah dan Ian membahas lebih dalam mengenai “kecerdasan spiritual”. Kecerdasan spiritual disimbolkan sebagai teratai diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia (rasional, emosional, dan spiritual), tiga pemikiran (seri, asosiatif, dan penyatu), tiga jalan dasar pengetahuan (primer, sekunder, dan tersier) dan tiga tingkatan diri (pusat transpersonal, tengahasosiatif & interpersonal, dan pinggiran-ego personal). Dengan demikian SQ berkaitan dengan unsur pusat dari. 17. Ibid, hal 47 Nirmala, Cara Efektif Mmbangkitkan Kecerdasan Spiritual, Resensi buku Edisi Ramadhan, 2006, hal 110 18.

(38) 20. bagian diri manusia yang paling dalam menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia lain. SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan. jiwa.. Ia. adalah. kecerdasan. yang. dapat. membantu. manusia. menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Namun pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa.19 Disebut sebagai kecerdasan spiritual, karena kecerdasan dari jenis ini sesungguhnya tumbuh dari fitrah manusia itu sendiri, bahwa kecerdasan jenis ini tidak dibentuk melalui diskursus-diskursus atau memori-memori fenomenal, tetapi merupakan aktualisasi dari fitrah itu sendiri.20 b. Pertumbuhan Spiritual Untuk memiliki anak yang mempunyai kecerdasan spiritual, Suharwadi Al Maqtul mempunyai kiat-kiat tertentu. Pertama, yaitu latihan-latihan yang bersifat intelektual dan yang kedua menjalani hidup secara spiritual. Latihan intelektual, seperti logika dan metalogis, sedangkan menjalani kehidupan spiritual, seperti. 19. Danah Zohar dan Ian Marshal.SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memakna Kehidupan; (terj. Rahman Astuti dkk, hal 16 20 Suharsono, Melejidkan IQ, IE, & IS, Jakarta: Inisiasi Press, 2004, hal 160.

(39) 21. ketekunan beribadah, menjalankan hal-hal yang disunnahkan, puasa, dan menjauhi yang subhat.21 Kecerdasan, sebagaimana dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib adalah karunia tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia dan potensi yang sangat hebat yang memiliki manusia dan yang membedakan dia dengan makhluk selainnya. Ternyata sudut pandang psikologi memberi tahu kita bahwa ruang tidak cerdas secara spiritual dengan ekspresi keberagamaannya yang monolitik, eksklusif, dan intoleran, yang sering kali berakibat pada kobaran konflik atas nama agama, dan sebaliknya, diantara kita bisa juga cerdas secara spiritual sejauh (keberagamaan) kita mengalir dengan penuh kesadaran, tidak bersama kesadaran semu dan palsu (the false consious ness), yang sering kali menipu kita.22 SQ dapat digunakan untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama, sehingga seorang yang memiliki SQ tinggi mungkin menjalankan agama tertentu, namun tidak secara fisik, eksklusif, fanatik atau prasangka, demikian pula seorang yang ber SQ tinggi dapat memiliki kualitas spiritual tanpa beragama sama sekali.23. 21. Suharsono, Melejidkan IQ, hal. 151 Sukidi, New Age, Wisata Spiritual Lintas Agama, (Jakarta, PT Gramedia Pusraka Utama). 2001, hal 138-139 23 Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ; Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralitik dan Holistik untuk memaknai kehidupan (Alih Bahasa; Rohmani Astuti, dkk. Bandung, Mizan Media Utama, 2000) hal. 12 22.

(40) 22. Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kapasitas kecerdasan spiritual (SQ) Danah Zohar menawarkan tujuh langkah praktis untuk mendapatkan SQ lebih baik yaitu:24 1) Menyadari dimana saya sekarang, langkah ini menuntut kita menggali kesadaran diri yang pada gilirannya menuntut kita menggali kebiasaan kita merenungkan pengalaman. 2) Merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, jika renungan anda kosong maka anda merasa bahwa perilaku, hubungan, kehidupan, atau hasil kerja yang anda dapat lebih baik, anda harus ingin berubah berjanji dalam hati untuk berubah. 3) Merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, hal ini dibutuhkan tingkat perenungan yang lebih dalam, anda harus mengenal diri sendiri, letak pusat diri anda dan motivasi anda paling dalam. 4) Menemukan dan mengatasi rintangan, yaitu dengan membuat daftar hal yang menghambat anda, dan mengembangkan pemahaman tentang bagaimana anda dapat menyingkirkan penghalang-penghalang ini. 5) Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, pada tahap ini anda perlu menyadari berbagai kemungkinan untuk bergerak maju dengan mencurahkan usaha mental dan spiritual untuk menggali sebagian kemungkinan ini.. 24. Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ; Memanfaatkan Kecerdasan, hal 231-233.

(41) 23. 6) Menetapkan hati saya pada sebuah jalan. Kini anda harus menetapkan hati pada satu jalan dalam kehidupan dan berusaha menuju pusat sementara anda melangkah di jalan itu. 7) Tetap menyadari bahwa anda banyak jalan, jadi sementara anda melangkah di jalan yang telah anda pilih sendiri, tetapi tetaplah sadar bahwa masih ada jalanjalan yang lain. c. Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosianal saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan, contoh: seorang anak diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa, ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan kami, kami akan berikan kepadanya jalan-jalan kami”? Seorang yang tinggi SQ nya cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain. Sejalan dengan Covey yang menerangkan bahwa; setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, digerakkan oleh nilai.

(42) 24. dan mampu mengaplikasikan dengan integritas, maka ia pun dapat membangun hubungan saling tergantung, kaya, langgeng, dan sangat produktif dengan orang lain. Mahayana menyebutkan beberapa ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi antara lain:25 1) Memiliki Prinsip dan Visi yang Kuat Prinsip adalah kebenaran yang dalam dan mendasar ia sebagai pedoman berperilaku yang mempunyai nilai yang langgeng dan produktif. Prinsip manusia secara jelas tidak akan berubah, yang berubah adalah cara kita mengerti dan melihat prinsip tersebut. Semakin banyak kita tahu mengenai prinsip yang benar semakin besar kebebasan pribadi kita untuk bertindak dengan bijaksana. Paradigma adalah sumber dan semua tingkah laku dan sikap, dengan menempatkan kita pada prinsip yang benar dan mendasar maka kita juga menciptakan peta atau paradigma mendasar mengenai hidup yang benar dan pada ujung-ujungnya adalah hidup yang efektif. 2) Kesatuan dan Keragaman Seorang dengan spiritualitas yang tinggi mampu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ia adalah prinsip yang mendasari SQ, sebagaimana Tony Buzan mengatakan bahwa “kecerdasan spiritual meliputi melihat gambaran yang menyeluruh, ia termotivasi oleh nilai pribadi yang mencangkup usaha menjangkau sesuatu selain kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat”.. 25. 210. Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ (kecerdasan spiritual). (Bandung, Mizan, 2003). hal.

(43) 25. 3) Memaknai Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual. Makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Seorang yang memiliki SQ tinggi akan mampu memaknai atau menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan, baik karunia Tuhan yang berupa kenikmatan atau ujian dari nya, ia juga merupakan manifestasi kasih sayang darinya, ujiannya hanyalah wahana pendewasaan spiritual manusia. Mengenai hal ini Covey meneguhkan tentang permaknaan dan respon kita terhadap hidup, ia mengatakan “cobalah untuk mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri. Apa yang dituntut situasi hidup saya saat ini, yang harus saya lakukan dalam tanggung jawab saya, tugas-tugas saya saat ini, langkah bijaksana yang saya ambil?”. Jika kita hidup dengan menjalani hati nurani kita yang berbisik mengenai jawaban atas pertanyaan kita diatas maka, “ruang antara stimulus dan respon menjadi semakin besar dan nurani akan makin terdengar jelas”. 4) Kesulitan dan Penderitaan Pelajaran yang paling berarti dalam kehidupan manusia adalah pada waktu ia sadar bahwa itu adalah bagian penting dari substansi yang akan mengisi dan mendewasakan sehingga ia menjadi lebih matang, kuat, dan lebih siap menjalani kehidupan yang penuh rintangan dan penderitaan. Pelajaran tersebut akan meneguhkan pribadinya setelah ia dapat menjalani dan berhasil untuk mendapatkan apa maksud terdalam dari pelajaran tadi. Kesulitan akan mengasah menumbuh kembangkan, hingga pada proses pematangan dimensi spiritual manusia. SQ mampu.

(44) 26. mentransformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. SQ yang tinggi mampu memajukan seseorang karena pelajaran dari kesulitan dan kepekaan terhadap hati nuraninya. Menurut Khavari terdapat tiga bagian yang dapat kita lihat untuk menguji tingkat kecerdasan spiritual seseorang yaitu:26 a) Dari sudut pandang spiritual keagamaan (relasi vertikal, hubungan dengan yang maha kuasa). Sudut pandang ini akan melihat sejauh manakah tingkat relasi spiritual kita dengan Sang Pencipta, hal ini dapat diukur dari “segi komunikasi dan intensitas spiritual individu dengan Tuhannya”. Menifestasinya dapat terlihat dari pada frekuensi doa, makhluk spiritual, kecintaan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati dan rasa syukur kehadirat-Nya. Khavari lebih menekankan segi ini untuk melakukan pengukuran tingkat kecerdasan spiritual, karena “apabila keharmonisan hubungan dan relasi spiritual keagamaan seseorang semakin tinggi maka semakin tinggi pula tingkat kualitas kecerdasan spiritualnya”. b) Dari sudut pandang relasi sosial keagamaan sudut pandang ini melihat konsekuensi psikologis spiritual keagamaan terhadap sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial. Kecerdasan spiritual akan tercermin pada ikatan kekeluargaan antar sesama, peka terhadap kesejahteraan orang lain dan makhluk hidup lain, bersikap dermawan. Perilaku merupakan manifestasi dari keadaan jiwa, maka kecerdasan spiritual yang ada dalam dari. 26. Ibid. SQ (kecerdasan spiritual). hal 211.

(45) 27. individu akan termanifestasi dalam perilakunya. Dalam hal ini SQ akan termanifestasi dalam sikap sosial. Jadi, kecerdasan ini tidak hanya berurusan dengan ke-Tuhanan atau masalah spiritual, namun akan mempengaruhi pada aspek yang lebih luas terutama hubungan antar manusia. c) Dari sudut pandang etika sosial. Sudut pandang ini dapat menggambarkan tingkat etika sosial sebagai manifestasi dari kualitas kecerdasan spiritual. Semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritualnya semakin tinggi pula etika sosialnya. Hal ini tercermin dari ketaatan seseorang pada etika dan moral, jujur, dapat dipercaya, sopan, toleran, dan anti terhadap kekerasan. Dengan kecerdasan spiritual maka individu dapat menghayati arti dari pentingnya sopan santun, toleran, dan beradab dalam hidup. Hal ini menjadi panggilan intrinsik dalam etika sosial, karena sepenuhnya kita sadar bahwa ada makna simbolik kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu mengawasi atau melihat kita di dalam diri kita maupun gerak-gerik kita, dimana pun dan kapan pun, apalagi kaum beragama, inti dari agama adalah moral dan etika. d. Hakikat Nilai-Nilai Kecerdasan Spiritual 1. Pengertian Nilai Kejujuran Salah satu dimensi kecerdasan ruhaniah (spiritual) terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia yang telah dijanjikan Allah akan memperoleh limpahan nikmat dari-Nya. Kedudukan.

(46) 28. disejajarkan dengan para nabi (shiddiqan nabiyaa) dan dijadikan rujukan untuk menjadi teman dalam meningkatkan kualitas hidup.27 Dalam terminologi agama Islam, jujur sama dengan bersikap benar (sidiq) sebagaimana sifat Nabi, yakni lurus hati, tidak berbohong, tidak curang. Sedangkan kejujuran adalah sifat atau keadaan jujur, ketulusan hati, dan kelurusan hati. Menurut Sudewo dalam Haedar Nashir jujur merupakan salah satu sifat baik, orang yang ingin maju mutlak harus memiliki sifat jujur.28 2. Pengertian Nilai Tawadhu’ Tawadhu’ adalah lawan kata dari kesombongan.Ia berasal dari lafadz AdhDha’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah dari kedudukan yang semestinya ia peroleh, atau rendah hati terhadap orang yang seiman, dan lemah lembut terhadap sesama muslim.29 Menurut Junaidi bin Muhammad dalam Khozin Abu Faqih berkata, Tawadhu’ adalah sikap rendah hati dan lemah lembut terhadap sesame manusia. 3. Pengertian Nilai Ta’awun Menolong adalah kesediaan memberikan bantuan secara sadar, orang memberikan bantuan itu dari gerak hatinya. Kemudian bantuan itu diberikan dalam. 27. Toto Tasmara, Kecerdasan Rohaniyah Transcendental Intelegensi, Jakarta : Gema Insani, 2001, cet. I, hal 190 28 Haedar Nashir, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya, Yogyakarta : Multi Presindo, 2013, cet. I, hal 71 29 Khozin Abu Faqih, Tangga Menuju Kemuliaan Tawadhu’, Jakarta : Al-I‟tishom, 2006, hal 1.

(47) 29. bentuk apa saja yang memang diperlukan orang yang mau ditolong, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, ide, ataupun barang.30 Menurut Hanna Djumhana Bastaman dalam Ngainun Naim menyatakan bahwa manusia sejak semula ada dalam suatu kebersamaan. Ia senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah keluarga, persahabatan, lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan bentuk-bentuk relasi sosial lainnya. Dengan demikian peduli sesame atau tolong menolong harus dilakukan tanpa pamrih. Tanpa pamrih berarti tidak mengharapkan balasan atas pemberian atau bentuk apapun yang kita lakukan kepada orang lain.31. e. Langkah-langkah Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal, keberadaan kecerdasan spiritual bisa ditingkatkan, yaitu dengan cara sebagai berikut: 1) Jalan Tugas Jalan ini berkaitan dengan rasa yang dimiliki, kerja sama, memberikan sumbangan dan disuruh oleh komunitas. Kestabilan dan keamanan tergantung pada pengalaman dan pengerabatan kita dengan orang lain serta lingkungan kita yang dimulai sejak kita kecil.. 30. Mohammad Mustari, Nilai Krakter Refleksi Pendidikan, cet. I, Jakarta : Rajawali Pres, 2014, hal 185.

(48) 30. 2) Jalan Pengasuhan Jalan ini merkaitan dengan rasa kasih sayang, pengasuhan, perlindungan, dan penyuburan. 3) Jalan Pengetahuan Jalan pengetahuan merentang dari pemahaman akan masalah praktis, imam pencarian filosofis yang paling dalam akan kebenaran, hingga pencarian spiritual akan pengetahuan mengenai Tuhan dan seluruh cahaya, dan penyatuan terakhir dengannya melalui pengetahuan. 4) Jalan Perubahan Pribadi Jalan ini adalah jalan yang paling erat kaitannya dengan aktivitas titik Tuhan dari otak, dengan kepribadian yang terbuka menerima pengalaman mistis, emosi yang ekstrem, dengan mereka yang eksentrik atau berbeda dari kebanyakan orang, dengan mereka yang sering harus berperang mempertahankan dan sering kehilangan kewarasan mereka. 5) Jalan Persaudaraan Jalan persaudaraan dapat menjadi salah satu jalan yang paling maju secara spiritual untuk ditempuh dalam kehidupan. Rasa cinta terhadap kawan, saudara dan rasa persaudaraan yang kuat dapat menuju pada spiritualitas yang kuat. 6) Jalan Kepemimpinan yang Penuh Pengabdian Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang biasanya memiliki sikap ramah dan percaya diri..

(49) 31. Kemudian langkah-langkah untuk menuju kecerdasan spiritual yang lebih tinggi yaitu: 1. Menyadari dimana saya sekarang 2. Merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah 3. Merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam 4. Menemukan dan mengatasi rintangan 5. Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju 6. Menetapkan hati saya pada sebuah jalan 7. Tetap menyadari bahwa ada banyak jalan. Sedangkan menurut tokoh muslim metode peningkatan kecerdasan spiritual bisa melalui beberapa hal, yaitu melalui tazkiyatu al-qolb (pembersihan hati) dari sifat tercela (al-muhlikah), kemudian mengisinya dengan sifat terpuji dengan melakukan ibadah sesuai tuntunan syariat. Dapat di ibaratkan ibadah sunnah adalah suatu pendakian transcendental yaitu manusia bergerak dari bawah dan pinggir “menuju” pusat dan sekaligus puncak. Kecerdasan kita tak ubahnya seperti mata, memiliki potensi untuk melihat sesuatu. Ibadah-ibadah sunnah yang kita lakukan tak ubahnya seperti perjalanan untuk mendapatkan dan mendekati cahaya dan dengan pertolongan cahaya, sebagaimana diisyaratkan oleh ayat tentang cahaya inilah kita dapat melihat benda-.

(50) 32. benda dan semua yang ada, sebagaimana adanya.32 Dengan demikian kita akan mencapai derajat takwa kepada Allah. Karakteristik kecerdasan eksistensial (spiritual) yaitu kesadaran akan Tuhan. Kecerdasan ini memiliki cenderung bersikap mempertanyakan segala sesuatu mengenai keberadaan manusia, arti kehidupan, mengapa manusia mengalami kematian, dan realitas yang dihadapinya.33 Selain itu kecerdasan spiritual menurut Toto Tasmara ada 8 (delapan) indikator yaitu:34 a) Merasakan kehadiran Allah b) Berdzikir dan berdoa c) Memiliki kualitas sabar d) Cenderung pada kebaikan e) Memiliki empati yang kuat f) Berjiwa besar memiliki visi g) Bagaimana melayani Dengan kecerdasan spiritual, kita berusaha menyelesaikan permasalahan hidup ini berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. Kecerdasan spiritual ini juga berkaitan erat dengan hati nurani. Hati nurani mengaktifkan nilainilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu. 32. Suharsono, Melejitkan IQ, IE, dan IS, (Jakarta: Inisiasi Pres, 2005), hal. 162. Munif Chatib, Sekolah Anak-Anak Juara..., hal. 101. 34 Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah..., hal. 1-38. 33.

(51) 33. yang kita jalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh pikiran. Jadi hati nurani akan menjadi pembimbing manusia terhadap apa yang harus ditempuh dan diperbuat, artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah radar hati sebagai pembimbingnya. 3. Pengaruh Shalat Dhuha terhadap Kecerdasan Spiritual Peserta Didik Dalam buku Panduan Shalat Dhuha Terlengkap Wajib dan Sunnah, karya Suhadi manfaat shalat dhuha yaitu sedekah bagi seluruh persendian tubuh bagi manusia pelakunya meraih keuntungan yang besar. Allah membangunkannya rumah di surga, memperoleh kecukupan di sore hari, meraih pahala yang setara dengan umroh. Shalat dhuha yang dilakukan juga dapat membawa kecerdasan spiritual seseorang naik, sebagaimana shalat dhuha mempunyai relasi syukur dalam diri manusia ialah mengenai pemberian persendian pada bagian tubuh dimana persendian dan tulang-tulang yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk bersedekah kepada Allah SWT, yaitu dengan melakukan shalat dhuha dua rakaat. Shalat dhuha tlah dianggap bersedakah sebagai perwujudan syukur kepada Allah, syukur atas segala nikmat dan karunia yang tiada terkira. Selain itu shalat dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tetapi juga menangkal stres yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari. Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurkan zat-zat seperti enkefalindan endorphin. Zat ini sejenis morfin, termasuk opiate efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate.

(52) 34. lainnya. Bedanya, zat ini alami diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan kontrol.. Artinya:“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-„Ankabut ayat 45) Dari dalil yang mewajibkan shalat di atas dapat disimpulkan hendaknya perintah shalat itu ditanamkan ke dalam hati dan jiwa anak-anak dengan menggunakan pendidikan yang cermat serta dilakukan sejak anak masih kecil. Kemudian shalat diartikan sebagai suatu ibadah yang meliputi ucapan dan peragaan tubuh yang khusus, dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam (taslim). Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan shalat adalah suatu pekerjaan yang diniati ibadah dengan berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam. Menurut Ary Ginanjar Agustian, shalat adalah metode yang jauh lebih sempurna, karena ia tidak hanya bersifat duniawi namun juga bermuatan nilai-nilai spiritual. Di dalamnya terdapat sebuah totalitas yang terangkup secara dinamis.

(53) 35. kombinasi gerak (fisik), emosi (rasa), dan hati (spiritual). Energi rohani Shalat juga dapat membantu membangkitkan harapan, menguatkan tekad, meninggikan cita-cita dan juga melepaskan kemampuan luar biasa yang manjadikannya lebih siap menerima ilmu pengetahuan dan hikmah serta sanggup melakukan tugas-tugas kepahlawanan. Seseorang yang telah berhasil dalam mendirikan shalat akan dapat menjaga diri dari sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan menurut hatinya yang mana dengan perbuatan tersebut apabila di dasarkan pada kata hatinya (hati nurani), dalam dirinya akan timbul sebuah perasaan berdosa yang selanjutnya akan menumbuhkan sebuah kegundahan dalam dirinya. Shalat berfungsi sebagai metode pengulangan dimana potensi spiritual yang berisikan elemen-elemen karakter atau sifat-sifat mulia dan agung itu di asah dan diulang-ulang, sehingga akan terjadi proses behaviorisme yang mengarah pada internalisasi karakter. Keutamaan lain khususnya shalat dhuha adalah untuk memohon magfirah (ampunan dari Allah SWT, mencari ketenangan hidup dan memohon agar dilapangkan rezekinya), jika seseorang aktif dan bangun diwaktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal ia akan mendapat keberkahan. Jadi hubungan shalat dhuha terhadap kecerdasan spiritual adalah menimbulkan rasa syukur pada dirinya yang menjadikan dirinya mempunyai sifat rendah hati, tawadhu, menenangkan jiwa, membentuk karakter kepribadian dan menguatkan ilmu pengetahuan..

(54) 36. B. Penelitian Yang Relevan Penelitian tentang pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan Spiritual siswa SMP Al-Fityan Medan. Berdasarkan pengamatan peneliti, ditemukan beberapa tulisan yang berkaitan dengan penelitian ini: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Chozainatul Munawaroh (2019) yang berjudul “Pengaruh Shalat Dhuha Terhadap Kecerdasan Spiritual Pada Peserta Didik Kelas XI Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan Di SMK NEGERI 1 SALATIGA Tahun Pelajaran 2019/2020”. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif yang mengungkapkan beberapa hal penting : a. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik kelas XI Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan di SMK Negeri 1 Salatiga memiliki tingkat pelaksanaan shalat dhuha dalam kategori tinggi. Hal ini ditunjukkan melalui. hasil analisis, bahwa peserta didik dengan pelaksanaan shalat. dhuha kategori tinggi sebesar 61,32% dengan frekuensi 65 peserta didik dan kategori sedang sebesar 38,68% dengan frekuensi 41 peserta didik, sedangkan untuk kategori rendah sebesar 0%. b. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik kelas XI Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan di SMK Negeri 1 Salatiga memiliki tingkat kecerdasan spiritual dalam kategori sedang. Hal ini ditunjukkan melalui hasil analisis, bahwa peserta didik dengan kecerdasan spiritual kategori tinggi sebesar 47,17% dengan frekuensi 50 peserta didik dan kategori sedang sebesar 51,89% dengan frekuensi 55 peserta didik,.

(55) 37. sedangkan untuk kategori rendah sebesar 0,94% dengan frekuensi 1 peserta didik. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Khoirul Anwar (2011) yang berjudul “Pengaruh Implementasi Shalat Dhuha Terhadap Kecerdasan Spiritual Siswa MA Sunan Gunung Jati Gesing Kismantoro Wonogiri”. Penelitian ini menggunakan pendekatan Ekspost Facto, menurut Sugiono penelitian ekspost facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dalam kemudia menurut kebelakang melalui data untuk menemukan faktorfaktor yang mendahului atau menentukan sebab-sebab yang mungkin atas peristiwa yang diteliti. a. Implementasi shalat dhuha siswa MA Sunan Gunung Jati Gesing Kismantoro Wonogiri, adalah dikategorikan baik, sebagaimana ditunjukkan dari data distribusi frekuensi menunjukkan bahwa dari sejumlah 72 siswa diperoleh persentasi sebesar 52,77% dan 40,27% siswa berpartisipasi mengikuti program kegiatan shalat dhuha dengan kategori cukup baik, 6,94% siswa kurang berpartisipasi dengan kategori kurang baik. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Eva Fairuzia (2013) yang berjudul “Pelaksanaan Shalat Dhuha Dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasan Spiritual (SQ) Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Negeri Pundong Bantul”. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif kuantitatif yang mengungkapkan beberapa hal penting :.

(56) 38. a. Proses pelaksanaan shalat dhuha yang dilaksanakan oleh Madrasah Tsanawiyah Negeri Pundong Bantul pada jam 06.45 WIB yang diawali dengan pembacaan doa-doa lima menit dan shalat dhuha sepuluh menit dan dilaksanakan setiap hari. Shalat dhuha dilaksanakan secara berjamaah, yang dipimpin oleh guru namun biasanya dipimpin oleh Kepala Madrasah. Adapun bagi siswa yang halangan atau haid, mereka berkumpul di ruang baca perpustakaan untuk membaca asmaul husna atau materi tentang kewanitaan dan dibimbing oleh ibu guru yang bertugas. b. Dampak pelaksanaan shalat dhuha terhadap kecerdasan spiritual siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Negeri Pundong Bantul sangat baik. Kecerdasan spiritual dapat dilihat dari adanya kesadaran akan kewajiban seorang siswa ketika berada di Madrasah, yaitu mengikuti shalat dhuha berjamaah dengan harapan mendapatkan keridhoan Allah, dan kedisiplinan tiba di Madrasah. Hal lain pula dapat dilihat melalui adanya kesadaran siswa untuk menegur temannya yang salah, meminta maaf saat melakukan kesalahan, saling berbagi, jujur, sabar, dan aktif dalam melestarikan lingkungan. Dampak baik dari pelaksanakan shalat dhuha pula dirasakan oleh para guru dengan menurunnya tingkat kenakalan siswa dan bertambahnya tingkat kedisiplinan warga Madrasah..

(57) BAB III. METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini memakai penelitian kualitatif.Penelitian lapangan adalah peneliti yang harus terjun langsung ke lapangan (Fields Research), terlibat dengan masyarakat setempat. Terlibat dengan partisipan atau masyarakat berarti turut merasakan apa yang mereka rasakan dan sekaligus juga mendapatkan gambaran yang lebih Komprehensif tentang situasi setempat. Peneliti harus memiliki pengetahuan tentang kondisi, situasi dan pergerakkan hidup partisipan dan masyarakat yang diteliti. B. Tempat dan Waktu Adapun tempat penelitian ini dilakukan di SMP Al-Fityan Medan yang beralamat di Jln. Keluarga Link. IX Medan. Waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Juni 2020. C. Sumber Data Data adalah sekumpulan informasi yang dapat dibuat, diolah, dikirimkan dan di analisis.Dalam hal ini, data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitia. Data harus diperoleh dari sumber tepat dan jelas.Sedangkan yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah tempat didapatkannya data yang diinginkan.. 39.

(58) 40. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu :. 1) Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama). Contohnya: data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok focus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan narasumber. 2) Sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Contohnya: buku, sumber data arsip, dokumentasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini. D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, dapat melalui observasi, wawancara dan dokumentasi 1. Observasi Observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung ke objek peneltian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan dan yang saya observasi adalah siswanya saat melakukan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spiritual. 2. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud terentu, percakapan yang di lakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara dan interviewer. Pewawancara yang.

(59) 41. mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan interviewer (kepala sekolah, guru PAI dan siswa siswi SMP Al-Fityan Medan), yang menjawab pertanyaan. Metode wawancara adalah metode peneliti dengan cara bercakap-cakap berhadapan langsung dengan pihak yang akan dimintai pendapat atau keterangan. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam agenda wawancara yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. 3. Dokumentasi Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode wawancara dan observasi dalam penelitian kualitatif. Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, notulen, agenda dan lain sebagainya. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan, misalnya data tentang sejarah berdirinya SMP Al-Fityan Medan, keadaan siswa, guru-guru serta staf-staf tata usaha. E. Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu proses atau upaya pengolahan data menjadi sebuah informasi baru agar karakteristik data tersebut menjadi lebih mudah dimengerti dan berguna untuk solusi suatu permasalahan, khususnya yang berhubungan dengan penelitian..

(60) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Temuan Umum 1. Sejarah Berdirinya SMP Al-Fityan Al-Fityan School Medan berdiri pada tanggal 03 November 2007. Al-Fityan School Medan berdiri di lahan seluas 11.600 m2 dengan 8 gedung serta fasilitas yang ada. Berangkat dari kesederhanaan konsep untuk pengembangan kemuliaan dan keunikan anak dalam pendidikan serta keutuhan diri mencapai peradaban Islam yang tinggi dan universal. Atas bantuan Mukhlisin dari dalam maupun luar negeri maka berdirilah Al-Fityan Medan. Pada tahun 2007 berawal dari unit SD dan SMP kemudian tahun berikutnya unit RA. Dari jumlah pegawai sekitar 30 orang kemudian berkembang dengan data terakhir pada tahun 2018 jumlah pegawai sekitar 201 orang dan jumlah siswa 1.075 dari unit RA, SD, SMP, SMA dan mahad tahfiz. 2. Visi SMP Al-Fityan Visi Sekolah Menjadi lembaga pendidikan yang terdepan dan unggul dalam pengajaran, pendidikan dan administrasi se-Indonesia.. 42.

(61) 43. 3. Misi, kebijakan mutu, sarana dan prasarana SMP Al-Fityan Misi Sekolah 1. Memberikan kontribusi terbaik dalam pengembangan masyarakat melalui pembinaan warga negara Indonesia yang saleh dengan berlandaskan budaya ilmiah. 2. Meningkatkan kualitas SDM Yayasan Al Fityan 3. Meningkatkan kualitas kuantitas pendidikan dan pengajaran Yayasan Al Fityan 4. Meningkatkan sistem manajemen Yayasan Al Fityan Kebijakan Mutu Sekolah 1. Sistem manajemen mutu mancakup kepada 2 aspek utama yaitu siwa dan sumber daya manusia yang terlibat di Al Fityan School Medan. 2. Mutu pelayanan untuk memperbaiki secara bertahap di setiap aspek / bagian yang ada pada Yayasan Al Fityan School Medan baik sumber daya manusia (Tenaga pendidik dan kependidikan) dan sumber daya pendukung. 3. Mutu pelayanan pendidikan untuk siswa adalah untuk membentuk siswa yang memiliki Aqiqah yang Bersih, Ibadah yang Benar, Pribadi yang matang, Mandiri, Cerdas dan Berpengetahuan, Sehat dan Kuat, Bersungguhsungguh dan Disiplin, Tertib dan cermat, Efisien mengatur waktu, dan Bermanfaat bagi yang lain. 4. Pelayanan yang berhubungan dengan internal / eksternal harus memberikan pelayanan terbaik..

(62) 44. 5. Pengurus Yayasan, Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan memiliki komitmen untuk mencapai target yang telah ditentukan. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana di SMP Al Fityan yang terdiri dari sebagai berikut: Gedung sekolah milik sendiri dengan design bangunan berbentuk permanen yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan dan berlantai 4 a. Ruang Kelas yang dilengkapi dengan Proyektor dan AC serta Kipas Angin b. Ruang Laboratorium Komputer yang memadai serta dilengkapi dengan AC dan Proyektor c. Ruang Laboratorium Sains, lengkap dengan peralatan pendukung d. Ruang Unit Kesehatan (UKS) dengan fasilitas yang memadai e. Ruang Perpustakaan dengan fasilitas manual dan digital yang memadai f. Masjid g. Ruang Konseling yang nyaman dan memadai h. Lahan Parkir yang luas i. Toilet yang bersih.

(63) 45. Tabel 1.1 4. Data Guru SMP Al-Fityan Medan No 1 2 3 4 5. Nama Guru Mata Pelajaran. Mata Pelajaran. TUTI HAYATI, S.Pd.. Seni Budaya. ALI NAFIAH SIREGAR, S.Pd.I.. Matematika. MUHAMMAD FADLI SIREGAR, S.Pd.I.. PAI. ZAINUL AKMAL, S.Pd.I. Tahfidz Quran. WARSINI, S.Pd.. Tahfidz Quran. 6. DEDEK NURMAN, S.E.. -. 7. DEVINTA TARIGAN, S.Psi.. -. 8. KHAIRUN NISAK, S.Pd.I.. -. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18. M. AKHIRUDDIN KARIM, S.Pd.I. NURLAIZAR ANDRIANI, S.Pd. SARIANA, S.Pd. ILHAM WAHYUDI MARBUN AGUS SUMANTO, S.Pd. PUNDAWATI SINAGA, S.Pd. KHAMSIATUN, S.Pd. EVI NURIANI, Am. Keb. MUHAMMAD ERWIN DALIMUNTHE, S.Si. SOFIAN SORI NASUTION, S.Si.. Bahasa Arab IPA Matematika Tahfidz Quran Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bahasa Indonesia Tahfidz Quran IPA Matematika.

(64) 46. 19. BIMBI NULLAH, S.Pd.. IPA. 20. HALIMAH, S.Pd.. IPS. 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32. FITRIANI HARAHAP, S.Pd.I. JUNARDI, S.Pd.I. EPENDI GINTING, S.Pd. SRI ENDANG WULANDARI, S.Pd.. Bahasa Inggris PAI Penjaskes PPKN. MUTIA PHONNA, S.Pd. Gr.. Bahasa Inggris. EVA INDAH SARI, S.Pd. Gr.. Matematika. SHOFIYAH BATU BARA. S.Pd. JAKA SYAHPUTRA IFFATUL JANNAH, S.Si.. IPS Prakarya Bahasa Arab. NAZRINA ZAHARA, S.Psi.. Bimb. Konseling. MUHAMMAD IQBAL ISKANDAR PANE, S.Psi.. Bimb. Konseling. NINDY SAFITRI, S.Pd.. Penjaskes.

(65) 47. B. Temuan Khusus 1. Pembiasaan Shalat Dhuha dalam Upaya Meningkatkan Kecerdasaan Spritual Siswa SMP Al-Fityan Medan Pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spritual siswa, sangat diharapkan dalam dunia pendidikan dalam pembiasaan shalat dhuha. Metode pembiasaan merupakan salah satu cara yang sangat cukup efektif, peserta didik yang terbiasa bersih akan memilih hidup bersih,tidak saja bersih fisik, tetapi bisa berdampak terhadap bersih hati dan pikiran. Wawancara yang dilakukan di SMP Al-Fityan. Hal yang pertama peneliti lakukan adalah menanyakan program yang diadakan di SMP Al-Fityan program shalat dhuha. Saya sebagai peneliti pertama kali menemui kepala sekolah untuk menanyakan tentang program shalat dhuha di SMP Al-Fityan. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dengan kepala sekolah mengenai dasar pemikiran, dapat saya paparkan sebagai berikut: Kepala Sekolah, Ibu Ema Sabbihisma Qarar, S.Pd mengatakan: “Menurut pendapat saya mengenai dasar pemikiran tentang pembiasaan shalat dhuha khususnya dalam meningkatkan kecerdasan spiritual adalah tentang pemahaman guru mengenai kegiatan shalat Dhuha yang berhubungan dengan agama. Didalam shalat Dhuha terdapat ibadah yang sangat condong dalam mendapatkan pahala dan pengamalan dalam proses pembelajaran. Baik dalam kecerdasan spiritual yang enggan dapat dipengaruhi kemampuan dan kemajuan dalam menyajikan materi”.1. 1. Hasil wawancara dengan kepala sekolah Ibu Ema Sabbihisma Qarar, S.P d, diruang kepala sekolah AL-Fityan, pada tanggal 20 februari 2020, jam 10.15 Wib.

(66) 48. Dengan adanya program shalat dhuha kepala sekolah sangat mendukung program yang diterapkan di SMP Al-Fityan Medan dikarenakan program shalat dhuha ini sangat mendukung untuk meningkatkan spritual siswa, dengan adanya pembiasaan shalat dhuha siswa menjadi terbiasa melaksanakan shalat dhuha tanpa diarahkan guru. Hal yang sama di ungkapkan oleh guru pengampu mata pelajaran PAI mengenai program yang dijelaskan oleh ibu kepala sekolah ibu Ema Sabbihisma Qarar, S. Pd tentang penerapan pembiasaan shalat dhuha yang dilaksanakan sesudah les ketiga pembelajaran seluruh siswa SMP Al-Fityan wajib melaksanakan shalat dhuha baik laki-laki maupun perempuan. Wawancara selanjutnya dengan guru Agama Islam menjelaskan tentang “ program pembiasaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spritual siswa, dimana seluruh siswa wajib melaksanakan shalat dhuha tanpa harus diarahkan guru lagi, siswa sudah terbiasa melaksanakan shalat dhuha sehingga guru tidak harus menyuruh siswa lagi untuk melaksanakan shalat dhuha, shalat dhuha sudah seperti kewajiban bagi seluruh siswa dikarenakan sudah terbiasa melaksanakanya. Pembiasaan shalat dhuha yang diterapkan di SMP Al-Fityan sangat mendukung untuk meningkatkan kecerdasan spritual siswa, setelah melaksanakan shalat dhuha siswa menjadi lebih semangat untuk memulai pembelajaran selanjutnya dikarena siswa sudah berwudhu terlebih dahulu, hal ini membuat siswa menjadi terbiasa melakukannya sebelum memulai pembelajaran. Dengan adanya program pembiasaan shalat dhuha ini sangat memotifasi siswa untuk melaksanakanaan shalat dhuha, yang mendasari siswa mengetahui ilmu juga manfaat dari shalat dhuha, guru agama Islam yang.

(67) 49. mengajar selalu memberikan arahan dan motivasi kepada siswa tentang manfaat dan hikmah dari melaksanakan shalat dhuha, sehingga siswa termotivasi untuk melaksanakan shalat dhuha setiap hari tanpa harus diarahkan guru lagi, setelah shalat dhuha siswa menjadi lebih semangat dalam melaksanakan pembelajaran yang berlangsung tanpa rasa jenuh dan bosan.2 Pembiasaan baik telah dilakukan di SMP Al-Fityan dalam melaksanakan pembiasaan shalat dhuha untuk meningkatkan kecerdasan spritual siswa, dengan pembiasaan shalat dhuha memudahkan guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa kejalan yang lebih baik, guru tidak pernah jenuh dan bosan untuk memberi motivasi kepada siswa SMP Al-Fityan, walaupun terkadang ada siswa yang susah diatur dan diarahkan. Observasi di lapangan yang terlihat bersih juga asri dan nyaman, bangunan yang diwarnai dengan pink sangat menunjukan kedamaian antara sesama guru dan stakeholder sekolah, guru yang terlihat ramah saling sapa satu sama lain juga terlihat peserta didik yang antusias untuk memulai pembelajaran di pagi hari, terlihat juga kelas yang rapi dan bersih. Pengamatan di area sekolah terlihat bersih dan nyaman banyak pepohonan yang indah sehingga membuat kenyamanan, terdengar damai ketika mendengar suara sedang belajar di setiap kelas masing-masing siswa, ada yang sedang diskusi dan ada juga yang sedang menghafal, serta mendengarkan guru yang sedang memberi arahan. 2. Hasil wawancara dengan guru Agama Islam Bapak M. Fadli Siregar, S. Pd. I. Diruang guru SMP AL-Fityan Medan, pada tanggal 20 februari 2020, jam 10. 35 Wib.

(68) 50. dan motivasi kepada peserta didik, siswa terlihat tertib juga memakai atribut lengkap sekolah, yang menjadi pendorong kenyamanan belajar siswa. Penerapan peraturan dan pembiasaan siswa baik yang telah dilakukan oleh pihak guru juga sekolah sesudah les ketiga pembelajaran wajib melaksanakan shalat dhuha terlebih dahulu sehingga siswa menjadi lebih bersemangat untuk melaksanakan pembelajaran selanjutnya, tanpa rasa bosan dan jenuh ketika pembelajaran berlangsung . Pembiasaan shalat dhuha di dukung oleh semua pihak sekolah walaupun tidak termasuk pada kurikulum sekolah, namun sekolah Al-Fityan sudah seperti sekolah bernuansa Islami. Karena di sekolah Al-Fityan tidak hanya melaksanakan shalat dhuha, tetapi di sekolah juga terdapat Tahfidzul Qur’an (Penghafal Al-Qur’an). Guru pendidikan agama Islam menyatakan. Pembiasaan shalat dhuha yang diterapkan di SMP Al-Fityan sangat berpengaruh dalam meningkatkan kecerdasan spritual siswa, dikarenakan disekolah SMP Al-Fityan selalu membiasakan shalat dhuha ketika habis pembelajaran les ketiga, ketika selesai shalat dhuha siswa terbiasa menghafal Al-Quran sebelum masuk pembelajaran les keempat, setelah bel berbunyi siswa wajib masuk kelas sebelum masuk kelas siswa terlebih dahulu berwudhu agar lebih bersemangat ketika pembelajaran berlangsung, dengan adanya pembiasana shalat dhuha siswa merasa lebih tenang ketika pembelajaran.3. 3. Hasil wawancara dengan guru Agama Islam bapak M.Fadli Siregar, S. Pd. I diruang guru SMP AL-Fityan Medan, pada tanggal 20 februari 2020, jam 11. 45 Wib.

(69) 51. Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan dengan guru PAI, dapat saya paparkan sebagai berikut: Guru PAI, Bapak M.Fadli Siregar, S.Pd.I. mengatakan: “Dalam dasar pemikiran mengenai pelaksanaan shalat dhuha yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual yang diukur dalam keberhasilan dalam proses pembiasaan shalat dhuha dalam menyajikan peningkatan baik dari segi pengukuran yang berhubungan dengan agama untuk memberikan penambahan untuk dijadikan kemajuan dalam ilmu pendidikan Islam”.4. Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dasar pemikiran menurut guru PAI bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual yang diukur dalam keberhasilan proses pembiasaan shalat dhuha dalam menyajikan peningkatan baik dari segi pengukuran yang berhubungan dengan agama untuk memberikan penambahan untuk dijadikan kemajuan dalam ilmu pendidikan Islam. Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan peneliti dengan guru PAI, dapat saya paparkan sebagai berikut: Guru PAI, Bapak Junardi, S.Pd.I. mengatakan: “Bapak Junardi mengatakan dasar pemikiran tentang pelaksanaan shalat dhuha yang lebih cenderung dalam meningkatkan pemahaman siswa dalam kecerdasan spiritual dalam proses pembelajaran dalam bentuk evaluasi sebagai upaya menilai keberhasilan pembelajaran pelaksanaan shalat dhuha agar mampu menghubungkan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, pelaksanaan shalat dhuha dilakukan didalam kelas sehingga siswa tidak bisa berbohong”.5. 4. Hasil wawancara dengan guru Agama Islam bapak M.Fadli Siregar, S. Pd. I diruang guru SMP AL-Fityan Medan, pada tanggal 20 februari 2020, jam 11. 45 Wib 5 Hasil wawancara dengan guru Agama Islam bapak Junardi, S. Pd. I diruang guru SMP ALFityan Medan, pada tanggal 20 februari 2020, jam 13. 30 Wib.

(70) 52. Berdasarkan dari penjelasan diatas, dapat saya simpulkan bahwa dalam dasar pemikiran tentang pelaksanaan shalat dhuha dalam upaya meningkatkan kecerdasan spiritual khusunya pada siswa SMP Al-Fityan adalah harus mengupayakan nilai-nilai agama terutama dalam pelaksanaan shalat dhuha agar siswa mampu mengamalkan khususnya dalam kehidupan sehari-hari, dengan adanya penerapan shalat dhuha yang diterapkan di SMP Al-Fityan siswa menjadi terbiasaa melaksanakanya tanpa diarahkan bahkan siswa membiasakannya setiap hari. Perencanaan dalam pembelajaran shalat dhuha melalui pelaksanaan langsung pada siswa SMP Al-Fityan merupakan rencana yang dilakukan waktu istitirahat, pelaksanaan shalat dhuha ini terdapat di Rencana Kegiatan Harian (RKH). Perencanaan yang akan diberikan kepada siswa SMP Al-Ftiyan agar mereka mengetahui tentang ibadah shalat dhuha, terbiasa melaksanakan ibadah shalat dhuha. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dengan kepala sekolah mengenai perencanaan, dapat saya paparkan sebagai berikut: Kepala Sekolah, Ibu Ema Sabbihisma Qarar, S.Pd mengatakan: “Menurut pendapat saya sebagai peneliti mengenai perencanaan tentang pembiasaan shalat dhuha khususnya dalam meningkatkan kecerdasan spiritual adalah tentang perencanaan guru mengenai kegiatan shalat dhuha yang dilakukan waktu istirahat atau sebelum masuk les pembelajaran siswa sebagian sudah melaksanakan shalat dhuha, siswa melaksanakan shalat dhuha di dalam kelas dan secara sendiri-sendiri”. 6. 6. Hasil wawancara dengan kepala sekolah Ibu Ema Sabbihisma Qarar, S.P d, diruang kepala sekolah AL-Fityan, pada tanggal 2 maret 2020, jam 10.15 Wib.

Referensi

Dokumen terkait

Kali ini saya update salah satu aplikasi yg banyak user android pakai,terutama untuk pecinta internet gratis,.5 dias atrás.. HTTP Injector

Adapun skripsi ini berjudul : “Pengaruh Biochar dan Pupuk Kandang Ayam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)”yang merupakan salah satu

 Suatu organisasi diperlukan karena : (1) suatu kelompok makin bertambah luas dan (2) tujuan sukar dicapai oleh kelompok yg terbatas.  Pada fase kelompok berubah menjadi

Kegiatan yang akan dilakukan meliputi: pengecilan ukuran jerami padi, optimisasi parameter- parameter proses hidrolisa sellulosa menjadi glukosa, Hasil penelitian menunjukkan

Mengenai kebenaran beliau, Hadrat Masih Mau'ud ‘alaihis salaam menulis: 'Aku melihat bahwa orang yang mau mengikuti alam dan hukum alam telah diberikan kesempatan bagus oleh

P SURABAYA 03-05-1977 III/b DOKTER SPESIALIS JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH RSUD Dr.. DEDI SUSILA, Sp.An.KMN L SURABAYA 20-03-1977 III/b ANESTESIOLOGI DAN

Prinsip kerja dari relai tersebut ialah mendeteksi adanya arus lebih yang melebihi nilai setting yang telah ditentukan, baik yang disebabkan oleh adanya gangguan

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Pengalaman Kerja Praktek