8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu
Dapat dikatakan bahwa penelitian tentang implementasi etika bisnis islam pada pedagang muslim dikecamatan Denpasar Utara Bali. pada umumnya sudah banyak dilakukan sebelumya. Upaya untuk melihat posisi penelitian dalam skripsi ini, menjadi penting untuk dideskripsikan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini.
No Nama Penelitian
Judul Penelitian
Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
1. (Dyas Nur Fajrina, 2015)
Analisis
penerapan bisnis berbasis syari’ah pada wirausaha muslim (study pada wirausaha muslim di Perumahan Kaliwungu Indah-Kendal)
hasil penelitian telah menunjukan bahwa pengetahuan agama yang dimiliki para wirausaha muslim itu telah melakukan kejujuran, menjual produk halal. Tidak memonopoli dan bertanggung jawab atas barang yang mereka beli dan jual yang kemudian hal itu
metode yang digunakan kualitatif persamaan terletak pada pengumpulan data mengunakan wawancara, observasi dan dokumentasi.
Dalam penelitian yang dilakukan lebih
memfokuskan terhadap pemahaman kepada wirausaha muslim di perumahan
mengidentifikasikan pemahaman bisnis menggunakan sistem islam telah
dilaksanakan oleh wirausaha dalam menjalankan
usahanya dengan baik dan benar.
Kaliwungu Indah- Kendal
2. (Adimas Adi Firmansya h, 2013)
Praktek Etika Bisnis Islam (Studi Kasus Pada Toko Santri Syariah Surakarta)
Etika bisnis islam telah diterapkan di toko santri namun menurut penulis terdapat kekurangan yaitu kekurangan pengembangan karyawan dan praktik tentang etika bisnis syariah. toko santri sudah lama ini sejalan dengan perilaku wisausahawan
Menggunakan metode kualitatif.
Dalam penelitihan yang dilakukan dengan Teknik analisis
deskriptif- eksplanatif yaitu dengan menjelaskan gambaran- gambaran yang didapat
muslim bersikap namun sumber permodalan tko santri masih sedikit
memperhatikan.
apakah terbebas dari riba atau tidak.
dari penelitian sebelumnya.
3 (Helmi Rahmatull ah, 2016)
Implementasi Aspek-Aspek Etika Bisnis Islam Pada Pedagang Pasar Ngasem
Tamansari Kota Yogyakarta
Implementasi etika bisnis Islam di Pasar Ngasem sebagian besar dari prinsip etika bisnis sudah sesuai dengan syari’at Islam, namun ada yang tidak sesuai seperti dalam pencatatan utang- piutang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif , dengan menggunakan Teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi
Penelitian ini menggunakan metode trianggulasi sumber dan metode dalam prinsip etika
4. (Nanik Ermawati
& Amin Kuncoro, 2015)
Penerapan Etika Bisnis Dalam Wirausaha Berbasis Syariah (Studi Kasus
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa praktek etika bisnis yang dilakukan oleh UD Rina
Sama- sama menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dengan
Sumber data yang
digunakan dalam
penelitian ini
pada Toko Besi
& Bangunan di Kabupaten Pati)
Khatulistiwa dalam pemenuhan
kesejahteraan karyawan sudah sesuai dengan syariah, dan
pelayanan terhadap pelanggan toko sudah sesuai dengan prinsip syariah.
dokumentasi dan observasi
adalah data primer saja
5. (Dina Marista, 2018)
Analisis Persaingan Usaha Di Pasar Kenali
Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat Ditinjau Dari Perspektif Etika Bisnis Islam
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persaingan usaha di pasar Kenali meliputi lima aspek yaitu produk, harga, tempat, pelayanan dan purna jual. Dari dua puluh responden, delapan belas
diantaranya telah menjalankan etika
Sama- sama menggunakan metode kualitatif dan sumber data yang digunakan primer dan skunder dan pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi.
Pengumpulan data ini tidak menggunakan kuesioner
bisnis Islam dalam kegiatan usahanya dengan menerapkan lima prinsip etika bisnis Islam yaitu prinsip tauhid, keseimbangan, kejujuran, kehendak bebas, dan tanggung jawab sosial.
6. (Fitri Amalia, 2012)
Implementasi Etika Bisnis Islam Pada Pedagang di Bazar Madinah Depok
Hasil penelitian adalah Sebanyak 83%
para pedagang di Bazar Madinah sudah menerapkan prinsip- prinsip etika bisnis Islam dalam menjalankan
usahanya. Beberapa prinsip Islam yang dimaksud seperti:
prinsip amal ma’ruf nahi munkar, prinsip
Sama- sama menggunakan metode kualitatif dan studi kasus dan menyebarkan kuesioner
wawancara
Menggunakan metode survei dan studi literatur
halal-haram, kejujuran, keterbukaan, keadilan, saling percaya dan kekeluargaan.
7. (Leli Rosiyana, Zainul Arifin, &
Sunarti, 2017)
Implementasi Etika Bisnis Islam Guna Membangun Bisnis Yang Islami
Hasil penelitian ini adalah telah
diterapkannya sesuai dengan konsep etika bisnis islam yang telah diajarkan Rasulullah contohnya dalam model bisnis islami, dengan menjalankan jual beli secara ma’ruf.
Adanya beberapa kekeruangan berupa hambatan dari pihak internal dan eksternal menjadikan perbaikan yang sangat besar
Penelitian ini merupakan jenis kualitatif.
Dengan mendeskripsik an hasil yang seadanya.
Penelitian ini merupkan jenis kualitatif yang
didefinisikan oleh Bogdan dan Taylor dalam Moleong.
untuk kemauan Waroeng Steak and Shake kedepannya.
8. (Elida Elfi Barus &
Nuriani, 2016)
Impelemntasi Etika Bisnis Islam (Studi Pada Rumah Makan Wong Solo Medan
Hasil penelitian ini adalah RM Wong Solo menggunakan konsep bisnis
berbasis syariah, bagi mereka bekerja adalah jihad. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek seperti karyawan, kualitas produk dan kepemimpinannya.
Penelitian ini merupakan kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara dan observasi
Pengumpulan data tidak menggunakan dokumentasi yaitu dengan menjelaskan kejadia yang sebenarnya.
9. (Alwi Musa Muzaiyin, M. S, 2018)
Perilaku Pedagang Muslim Dalam Perspektif Etika Bisnis Islam ( Kasus di Pasar Loak Jagalan Kediri)
Hasil penelitian ini adalah perilaku pedagang ada beberapa pedagang yang ramah dan tidak ramah dalam
melayani pembeli.
pedagang juga
Jenis penelitian ini berdasarkan teknik
pengumpulan data dan melihat dari perspektif etika bisnis islam.
Teori etika bisnis islam melihat cara berdagang Rasulullah SAW.
menerima barang dari hasil curian hal tersebut termasuk batil. melakukan rekasayasa timbangan dan rekayasa kadar emas dan sudah tidak berlaku jujur.
10. (Richa Angkita Mulyawisd awati, 2019)
Implementasi etika bisnis Islam di CV rumah warna Yogyakarta
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan CV Rumah Warna Yogyakarta telah mengimplementasika n kelima prinsip etika bisnis dalam Islam, yaitu diantaranya;
prinsip tauhid; prinsip keseimbangan;
prinsip kehendak bebas; prinsip
tanggung jawab serta
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Tidak
menggunakan penyebaran kuesioner
prinsip kebajikan (ihsan).
2.2 Kajian Teori
Untuk mengetahui sebuah alur penelitian seharusnya kita harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa pengertian dari judul penelitian.
1. Implemntasi
Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia, implementasi ialah pelaksanaann atau penerapan.1 Menurut Nurdin Usman yaitu, implementasi adalah tindakan, pelaksanaan dan aktivitas. Implementasi tidak sekedar aktivitas, namun suatu kegiatan yang terencana dan akan mencapai tujuan.2 Berdasarkan pengertian implementasi yang telah di jelaskan maka dapat diartikan implementasi itu adalah suatu kegiatan terencana dan sistematis berlandaskan acuan norma-norma tertentu untuk mendapatkan tujuan kegiatan dalam suatu perusahaan, organisasi atau pedagang secara benar.
2. Pengertian Etika Bisnis Islam a. Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos yang berarti adat istiadat. Dalam pengertian ini etika terkait dengan kebiasaan baik, baik
1 Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta; Pusat Bahasa, 2008),hlm 399.
2 Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum, (semarang: CV Obor Pustaka, 2002), hlm. 70.
untuk individu maupun orang lain.3 Dalam KBBI etika berarti memahami pengetahuan tentang apa yang baik atau buruk, seperangkat nilai yang berkaitan dengan akhlaq dan perilaku sebagai pedoman.4 Secara istilah etika juga bisa diartikan sebagai nilai-nilai yang mengarahkan orang untuk membuat keputusan serta bertingkah laku.5 Etika dapat diartikan sebagai perangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk dan mengatur keilmuan, karena itu menentukan apa yang harus dilakukan individu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa etika adalah sekumpulan nilai-nilai yang memandu manusia untuk mengikutinya serta membedakan antara baik dan buruk dalam berperilaku dan beraktivitas dengan harapan mencapai kesejahteraan dengan melaksanakan etika manusia belajar untuk menjaga nilai kebaikan di dalam dirinya sehingga seluruh sesuatu yang dilakukan memberikan dampak yang positif. Untuk mengetahui segala sesuatu yang dilakukan merupakan baik atau buruk didasarkan kepada niat dan cara yang ditempuh.
b. Bisnis
Bisnis adalah kata serapan dari bahasa inggris yatiu "Busness"
dengan makna usaha dagang, dan kesibukan. Dalam KBBI, bisnis merupakan sebagau usaha yang menguntungkan di dunia perdagangan,
3 Buchari Alma dan Donni Junni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung:
Alfabeta, 2009), h. 204.
4 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 326
5 Faisal Badroen, et al., Etika Bisnis Islam, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 39.
bidang usaha, dan usaha dagang.6 Bisnis adalah pertukarang jasa atau barang dan uang timbal balik. Bisnis adalah kegiatan yang menambah nilai dengan menyediakan jasa, berdagang atau mengolah barang.7 Bisnis juga dipahami sebagai kegiatan individu (privat) yang terorganisir atau dilembagakan untuk produksi dan penjualan barang dan jasa, sehingga memperoleh keuntungan yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Berbisnis adalah memperoleh Profit (keuntungan), untuk mempertahankan kelangsungan jalannya perusahaan, tanggung jawab sosial dan pertumbuhan sosial.8
c. Islam
Menurut bahasa, islam berasal dari bahasa arab yang berasal dari kata salima yang artinya selamat. Kata salima terdiri dari aslama yang artinya berserah diri, taat dan tunduk. Kemudian ada kata islam yang berarti keselamatan, keamanan, damai, ketaatan, penyerahan, dan ketaatan.9
Menurut para toko yang menafsirkan makna islam, Muhammad Maulana Ali yang dikutip oleh Abidin Nata, islam itu agama yang benar bagi umat manusia, dan seluruh nabi mengajarkan ilmu islam segala zaman. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir dan paling sempurna. Padahal menurut Harun Nasution, islam adalah agama, dan
6 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, h. 209.
7 Rafiq Isa Beekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2004), h. 53.
8 Ika Yunia Fauzia, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2014), 4.
9 Abidin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 11.
ajaran allah diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad. Islam membawa ajaran tentang semua aspek kehidupan manusia.10
d. Dasar Hukum Etika Bisnis Islam
Aturan tentang ekonomi seperti islam terapkan pada Al-Qur'an, oleh karena itu, secara etika, Al-Qur'an mengatur ekonomi di bidang produksi, konsumsi, peredaran, dan distribusi. Misalnya pada surah Al- Baqarah ayat 275
ذِﯾْ اَﻟﱠ ﯾَ نَ
ﺄْ
ﻛُ
وْ ﻠُ
نَ
ا رِّ ﻟ ﺑٰ
و ا ﯾَ ﻻَ
وْ ﻘُ
ﻣُ
وْ
نَ
اِ
ﻻﱠ ﻣَﺎ ﻛَ
ﯾَ
وْ ﻘُ
مُ
ذِ اﻟﱠ يْ
ﯾَ
ﺗَ
ﺧَ
ﺑﱠ ط ُﮫُ
اﻟ ﺷﱠ ﯾْ
طٰ
نُ
ﻣِ
نَ
ﻟْ ا ﻣَ
س ّ ِۗ
ذٰﻟِ
ﺑِ كَ
ﮭُ ﺎَﻧﱠ مْ
ﻗَﺎ وْٓ ﻟُ
ا ﻣَﺎ اِﻧﱠ ﻟْﺑَ ا ﻊُ ﯾْ
ﻣِ
ﺛْ
ا لُ
رِّ ﻟ ﺑٰ
و وَا اۘ
َﺣَ
ا لﱠ Jﱣ ُ ا ﻟْﺑَ
ﻊَ ﯾْ
وَ
ﺣَ
مَ رﱠ رِّ اﻟ ﺑٰ
و اۗ
ﻣَ ﻓَ
ﺟَ نْ
ءَ ﺎۤ
ﻣَ هٗ
وْ
ﻋِ
ظَ
ﻣِّ ﺔٌ
رﱠ نْ
ﺑِّﮫٖ
ﺎﻧْ ﻓَ
ﺗَ
ﮭٰ
ﻓَ ﻰ ﻠَ
ﻣَﺎ ﮫٗ
ﺳَ
ﻠَ
ف َ ۗ
َﻣْ وَا رُ
هٗٓ
اِﻟَ
ا ﻰ Jﱣ ِ وَ ◌ۗ
ﻣَ
ﻋَ نْ
دَ ﺎ
ُو ﻓَﺎ ﻟٰ ۤ ﯨ]
اَ ك
ﺻ ْ
ﺣٰ
ب ُ اﻟ رِ ﻧﱠﺎ
◌ۚ
مْ ھُ
ﮭَﺎ ﻓِﯾْ
ﻠِدُ ﺧٰ
وْ
نَ
Artinya: Hai orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal allah telah melarang jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (mengambil riba), maka
10 Abidin Nata, Studi Islam Komprehensif. (Jakarta; Kencana, 2011), h. 21.
baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangannya); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; merekalah yang kekal di dalamnya.11
Hukum dalam al-quran dibagi menjadi 2 bagian yaitu ada yang terang (muhkam) dan ada yang mustasyabbih (samar). Hukum Mustasyabbih yang ditemukan oleh ummat Islam pada zaman rasulullah yang telah dijelaskan pada sunnah. Setelah Al-Quran, sunnah adalah aturan kedua yang mengatur perilaku manusia. Sunnah adalah praktek-praktek yang di contohkan Rasulullah SAW, serta ucapan-ucapannya (hadits). Keterangan-keterangan dalam sunnah memiliki pandangan yang lebih mudah dipahami karena merupakan bentuk dari konsep-konsep Al-Quran. Sunnah menjelaskan bagaimana tata cara dalam melaksanakan tata cara berzakat dengan benar.
2.3 Aksioma Etika Bisnis Islam
Semua pelaku berbisnis syariah memiliki aturan dan etika masing- masing yang harus dipatuhi. Hal ini dikarenakan setiap orang tidak bisa hidup sendiri, tetapi juga makhluk sosial yang dibutuhkan orang lainnya, harus memiliki tanggung jawaban kepada allah SWT. Setiap etika bisnis islam bersumber dari Al-Qur'an dan hadist, yang telah diterapkan oleh Rasulullah dalam menjalankan bisnisnya. Dari sebagian besar etika bisnis islam yang dapat diambil secara filosofis. Ada lima aksioma dasar yang membentuk etika bisnis islam dapat dilihat pada prinsip kesatuan (tauhid),
11 Q.S Al-Baqarah: 275
prinsip keseimbangan (keadilan), prinsip kehendak bebas (free will), prinsip tanggung jawab (responsibility), prinsip kebajikan (ihsan). Berikut ini adalah prinsip etika bisnis yang harus diikuti oleh pedagang muslim :
a. Prinsip Kesatuan (Tauhid)
Tauhid berasala dari kata "wahhada-yawahiddu-tawhiddan" dalam bahasa tersebut artinya menyatukan, mengesankan atau mengakui kesatuan atau keesaan. Kesatuan yang dimaksud pada konsep tauhid yaitu memadukan keseluruhan aspek aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Dari konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis menjadi terpadu, vertikal maupun horisontal, membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.12 Tauhid merupakan prinsip utama yang ada di islam dengan dimulai membaca dua syahadat seorang muslim, ikatan manusia dengan allah sebagai mencipta alam semesta, karena ini sebagai konsekuensi pemberian (Islamisasi) manusia kepada allah melalui akal pikiran, amal dan ucapan.13 Sebagaimana firman Allah SWT,
12 Syed Nawab Haider Naqvi, Ethict and Economics: An Islamic Syntesis, telah diterjemahkan oleh Husin Anis: Etika dan Ilmu Ekonomi: Suatu Sintesis Islami.
(Bandung: MIZAN, 1993), h. 50-51
13 Daud Rasyid, Islam.Dalam Berbagai Dimensi, (Jakarta; gema insan press, 1998), h. 17.
وَ ھُ
ﻟﱠذِ ا يْ
ﺧَ
قَ ﻠَ
ﻟَ
مْ ﻛُ
ﻣﱠ ﻓِ ﺎ ﻰ ا رْ ﻻَْ
ض ِ
ﺟَ
ﻣِ
ﻌً ﯾْ
ﺎ مﱠ ﺛُ
ﺳْ ا وٰٓ ﺗَ
ى اِ
ﻟَ
ﻰ ا ﺳﱠ ﻟ ﻣَﺎۤ
ءِ
ﺳَ ﻓَ
وﱣ ﮭُ ﯨ ﺳَ نﱠ ﻊَ ﺑْ
ﺳَ
وٰ ﻣٰ
ت ٍ وَ ◌ۗ
وَ ھُ
ﺑِ
لِّ ﻛُ
ﻲْ ﺷَ
ﻋَ ءٍ
مٌ ﻠِﯾْ
"Dialah Allah, yang membuat segala yang ada di muka bumi untuk kamy dan dia kehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit, dan dia maha mengetahui segala sesuatu.".14
Apabila manusia sudah berserah diri kepada tuhannya, maka perwujudan kebebasan selalu di jalan yang benar dan sesuai dengan syariat islam, dengan bantuan tauhid konsep sosial, ekonomi dan politik dapat digabungkan dan didasarkan pada aspek agama. Karena Allah SWT mempunyai sifat Raqib (Maha Mengawasi) dalam segala langkah dan aktivitas kehidupan makhluk.
b. Prinsip Keseimbangan (keadilan/equilibrium)
Keadilan adalah menggambarkan dimensi horizontal ajaran islam, dan berhubungan dengan harmoni segala sesuatu di alam semesta.15 Adl’
(keadilan) atau keseimbangan menggambarkan suatu aspek horizontal ajaran islam dan hubungan yang harmonis bagi seluruh alam semesta.16 Dalam menjalankan kegiatan di bidang pekerjaan dan bisnis, islam menganjurkan keadilan, terkecuali kepada orang yang tidak disukai.
Islam mengharuskan umatnya berlaku adil dan buat kebaikan kepada orang lain. Berlaku adil harus didahului dari kebajikan. Prinsip
14 Q.S. Al-Baqarah: 29
15 Muhammad, Etika Bisnis Islami, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN,2004), hlm. 5.
16 Rafiq Isa Bekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta; pustaka pelajar, 2004),hlm.
36.
keseimbang (equilibrium) yang mencakup ajaran keadalian merupakan salah satu prinsip dasar yang harus dipegang oleh siapapun dalam kehidupan sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَ
ﻻَ
ﺗَ
رَ ﻘْ
وْ ﺑُ
ﻣَﺎ ا لَ
ﻟْﯾَ ا مِ ﺗِﯾْ
اِ
ﺑِ ﻻﱠ ﺗِ ﺎﻟﱠ ﻲْ
ﻲَ ھِ
ﺣْ اَ
ﺳَ
ﺣَ نُ
ﺗﱣ ﯾَ ﻰ ﺑْﻠُ
ﻎَ
اَ
ﺷُ
هٗ دﱠ وَا ◌ۚ
َوْ
ﻓُ
و ا
اﻟْ
ﻛَ
لَ ﯾْ
وَا ﻣِ ﻟْ
ﯾْ
زَ
نَ ا ﺎﻟْ ﺑِ
ﻘِ
طِۚ ﺳْ
ﻧُ ﻻَ
ﻠِّ ﻛَ
ف ُ ﺳً ﻧَﻔْ
ﺎ اِ
وُ ﻻﱠ ﻌَ ﺳْ
ﮭَﺎۚ
وَاِ
ﻗُ ذَا مْ ﻠْﺗُ
ﻋْ ﻓَﺎ وْ دِﻟُ
ا
وَﻟَ
وْ
ﻛَ
نَ ﺎ ﻗُ ذَا رْ
ﻰۚ ﺑٰ
وَ
ﻌَ ﺑِ
ﮭْ
دِ
Jﱣ ا
ِ اَ وْ
وْ ﻓُ
ذٰﻟِ اۗ
مْ ﻛُ
وَ
ﺻ ﱣﯨ مْ ﻛُ
ﺑِﮫٖ
ﻌَﻠﱠ ﻟَ
مْ ﻛُ
ﺗَ
ذَ
رُ ﻛﱠ وْ
نَۙ
"Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat".17
1) Menetapkan harga
Keadilan juga berhubungan dengan nawaran jasa dan barang dengan kualitas dan harga sama, menurut Imam Ghazali profit merupakan bisa mengimbangi kesulitan berjalan, risiko dan ancaman bisnis terhadap keselamatan pedagang. Pedagang dilakukan untuk menghasilakan keuntungan dan kebutuhan harian.
Namun Imam Ghazali tak menyetujui penggandaan harga jual dan
17 Q.S. Al-An'am: 152.
beli dengan keuntungan yang besar. Bisnis islam tidak hanya menghasilkan keuntungan dalam bentuk rupiah, tetapi juga mencari keuntungan yang lebih abadi yaitu keuntungan di akhirat.18
2) Menyempurnakan timbangan atau takaran
Dalam berusaha, adil merupakan hal yang paling penting agar pengusaha muslim menyamaratakan takaran bila menimbang dengan alat timbangan yang benar, karena hal itu merupakan tindakan yang baik akan mendekatkan pada ketaqwaan.19 Suatu tindakan menyempurnakan timbangan dan takaran kadang kurang diperhatikan. Padahal kurang 1 gr pun sudah bisa dikatakan takaran yang kurang sempurna. Hal tersebut sama dengan merampas hak pembeli dan termasuk memakan harta orang lain dengan jalan yang Batil.
c. Prinsip Kehendak Bebas (free will)
Kehendak bebas berarti manusia sebagai individu dan kolektif mempunyai kebebasan penuh untuk melakukan aktivitas bisnis. Dalam ekonomi, umat manusia bebas menjalankan ajaran islam karena masalah ekonomi termasuk dalam aspek muamalah bukan ibadah, oleh karena itu aturan umum untuk semua diperbolehkan, kecuali yang dilarang tidak boleh menurut islam adalah ketidak adilan dan riba.
Manusia diberikan kehendak bebas untuk mengendalikan
18 Veithzal Riva’I, Islamic marketing, (Jakarta; PT Gramedia pustaka Utama.2012), hlm. 128
19 Faisal Badroen et al, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: kencana, 2006), 92.
kehidupannya sendiri. Dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh hukum yang diciptakan Allah SWT, ia diberi kemampuan untuk berfikir dan membuat keputusan, memilih jalan hidup yang diinginkan dan bertindak berdasarkan aturan yang ia pilih.20 Menurut Naqvi, konsep ini menunjukkan adanya pembatasan pada kebiasaaan individual. seperti tertera di dalam firman Allah SWT:
ﻗُ
ﯾٰٓ لْ
ﮭَﺎ ﺎَﯾﱡ ﻟﻧﱠ ا ﺎ س ُ ﻗَ
ﺟَ دْ
ءَ ﺎۤ
مُ ﻛُ
ﺣَ اﻟْ
ﻣِ قﱡ رﱠ نْ
ﺑِّ
مْ ﻛُ
◌ۚ
ﻣَ ﻓَ
نِ
ھْ ا ﺗَ
دٰ
ﻓَ ى ﻣَﺎ ﺎِﻧﱠ
ﯾَ
ﮭْ
دِ ﺗَ
يْ
ﻟِ
ﺳِ ﻧَﻔْ
ﮫٖ
وَ ◌ۚ
ﻣَ
نْ
ﺿ َ
لﱠ ﻓَ
ﻣَﺎ ﺎِﻧﱠ ﺿِ ﯾَ
ﻋَ لﱡ ﮭَﺎ ﻠَﯾْ
وَ ◌ۚ
ٓ اَ ﻣَﺎ ﻋَ ﻧَﺎ۠
ﻠَﯾْ
مْ ﻛُ
وَ ﺑِ
ﻛِ
لٍۗ ﯾْ
"Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia, Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri. Dan Aku bukanlah pemelihara dirimu.”21
Kebebasan individual itu tidak terbatas namun dengan melihat potongan surat di atas adalah menunjukkan bahwa pengambilan atau keputusan merupakan etika dasar dari kebebasan seorang manusia.
Pengambilan pilihan harus dapat mengetahui bahwa Allah tidak akan
20 Rafik Isa Beekun, Etika Bisnis Islam, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 38.
21 Q.S Yunus : 108
selalu membawa manusia ke pilihan yang benar namun jika Allah berkehendak maka hal tersebut bisa terjadi.22
Seorang usahawan hendak mengetahui selera dan kebutuhan masyarakat serta menganalisis kejadian lapangan yang ada untuk segera diputuskan mengenai langkah kedepan. Dalam islam bekerja merupakan kewajiban kedua setelah ibadah. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
ﻓَﺎِ
ﻗُ ذَا ﺿِ
ﯾَ
ت ِ ا ﻟ ﺻ ﱠﻠٰ
و ةُ
ﻓَﺎ ﺷِ ﻧْﺗَ
وْ رُ
ﻓِ ا ا ﻰ رْ ﻻَْ
ض ِ
وَا ﺑْﺗَ
وْ ﻐُ
ﻣِ ا ﻓَ نْ
ﺿ ْ
لِ
Jﱣ ا
ِ
وَا ذْ
رُ ﻛُ
و ا Jﱣ ا
َ ﻛَ
ﺛِﯾْ
رً
ا ﻌَﻠﱠ ﻟﱠ مْ ﻛُ
ﻠِ ﺗُﻔْ
وْ ﺣُ
نَ .
"apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di bumi; dan carilah Karunia Allah dan ingatlah Allah banyak- banyak supaya kamu beruntung."23
Oleh sebab itu apabila bekerja dilakukan dengan ikhlas maka bekerja bernilai ibadah. Maka bekerja tidak boleh bertentangan dengan syariat islam, karena pada mulanya seluruh yang dilakukan pasti dimintai pertanggung jawaban Allah. Pembisnis muslim memang harus memiliki semangat bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan orang yang menjadi tanggung jawabnya.24
22 Syed Nawab Haidar Naqvi, Islam Economics And Society, (London and New York: Kegan Paul International 1994), h. 43.
23 Q.S. Al-Jumu'ah : 10
24 Ma'ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syariah, (Banjarmasin: Antasari press, 2011), hlm. 29
Mengingat persaingan dibidang bisnis yang semakin ketat, diperlakukan inovasi yang berkelanjutan dalam organisasi perusahaan.
Inovasi merupakan kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru, dan dapat menggunakan keterampilan dan kebijaksanaan dengan menggunakan keahlian dan kemampuan akalnya dengan mencari menguntungkan.25
Keberadaan produk inovasi baru harus berbeda dengan produk yang sudah ada dan memenuhi syarat etika bisnis islam yaitu halal, manfaat bagi orang lain dan tidak beresiko bagi konsumennya.
d. Prinsip Tangung Jawab (responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggung jawaban dan akuntabilitas. Dalam memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggung jawabkan tindakannya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan pertanggung jawaban atas semua yang dilakukannya.
Wirausahawan muslin harus dapat dipercaya dan bertangung jawab, amanah pengusaha muslim akan bertanggung jawab dari segala hal yang dilakukannya dalam urusan muamalah. Bertanggung jawab
25 Muhammad Abdul Jawwad,.Menjadi Manajer Sukses, (Jakarta; Gema Insani, 2004), hlm. 8
dengan selalu menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hal-hak Allah, serta tidak melupakan kewajiban sebagai manusia sosial dan makhluk ciptaan Allah.26
Bertanggung jawab atas barang yang di jual itu seperti barang yang halal dan suci, bukan barang yang haram, seperti babi dan anjing, khamr, ekstasi, dll. Jika layanan yang dijual tidak merugikan orang lain dan bermanfaat dalam kebaikan, maka diizinkan untuk terlibat dalam bisnis tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Diceritakan kepada kami Isa bin Hamad almishri mengatakan, telah kepada kami allaihts bin sa’ad dari Yazid bin Abu Habiib bahwasanya berkata: a‘tha bin Abu Rabbah berkata, “mendengarkan Jabir bin Abdullah berkata, “Ketika Rasullulah saw berada di Makkah saat pembukaan kota Makkah, beliau bersabda: “sungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan bangkai, babi, patung dan khamer.” kemudian di katakan kepada beliau, “wahai Rasulullah,
26 Ma’ruf Abdullah,.Wirausaha Berbasis Syariah, (Banjarmasin;Antasari press, 2011), hlm. 20
bagaimana dengan lemak bangkai? Iya bisa digunakan sebagai perlu mas kapal, perlumas kulit dan minyak untuk lampu mereka?” Beliau menjawab: “itu tidak haram.” Kemudian beliau melanjutkan:
“Semoga Allah memerangi orang yahudi, sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak atas mereka. Maka Cair kanlah (lemak tersebut hingga keluar minyaknya), kemudian jual dan makanlah dari hasilnya.
(Sunan Ibnu Majah; 2167)27
Kebebasan tanpa batas tidak mungkin lagi dilakukan manusia, karena tidak membutuhkan pertanggung jawaban untuk memenuhi tuntunan keadilan dan persatuan, perlu bertanggung jawab atas tindakannya.28 Secara logis, prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip kehendak bebas, ini membatasi orang utnuk bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan dan apa yang dapat mereka lakukan dengan bebas.29 Allah SWT menghendaki agar manusia senantiasa bertanggung jawab atas segala perbuatan yang tidak terlepas dari menjalankan aktivitas bisnis, selalu tanggung jawab sehingga selamanya menjalankan aktivitasnya bisnis yang baik pula, sebagai firman Allah:
ﻛُ
لﱡ ﻧ
َﻔْ سٍۢ
ﻣَﺎ ﺑِ
ﺳَ ﻛَ
ﺑَ
رَ تْ
ھِ
ﯾْﻧَ
ﺔٌۙ
27 Abi Abdillah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah al-Qazwaini, Sunan Ibnu Majah, Kitab Tijaroh, Bab Ma Laa Yaahillu Bai’u (Riyadh: Bait al-Afkar al-Dauliyah, 2007), hlm. 236.
28 Rafiq Isa Bekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta; pustaka pelajar, 2004), 40.
29 Faisal Badroen et al, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: kencana, 2006), 100.
"Tiap-tiap diri bertaggung jawab atas apa yang telah diperbuatnnya".30
e. Prinsip Kebajikan (ihsan)
Ihsaan (kebijakan) memiliki arti perilaku baik yang bermanfaat bagi orang lain dan melakukan perbuatan seperti Allah melihat perbuatan tersebut. Keihsanan merupakan perilaku terpuji yang dapat mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan, keihsanan merupakan tindakan yang baik di sisi Allah SWT. Keihlasan hati dapat dikaitkan dengan keihsanan, jika diungkapkan dalam bentuk perilaku yaitu sopan dan santun, jujur, membantu orang lain apabila memiliki kesulitan.
Dalam pandangan islam sikap ini sangat dianjurkan.31
Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku untuk bisnis yang baik sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, dan prinsip-prinsip tersebut sangat erat kaitannya dengan sistem nilai yang dianut dalam kehidupan masyarakat, etika bisnis adalah sebagai berikut:32
1) kejujuran
Jujur adalah prinsip yang penting dalam suatu bisnis. Menurut Islam kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Di dalam Al-quran sudah dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk
30 Q.S. Al-Muddassir: 38
31 Rafiq Isa Beekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2004), h 46.
32 Rafiq Isa Beekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2004), h 48.
menanamkan prinsip kejujuran dalam melaksanakan semua aktivitas. Seperti ayat yang telah dijelaskan oleh Allah SWT pada surah Al-Ahzab ayat 70 yang berbunyii:
ﯾٰٓﺎَ
ﮭَﺎ ﯾﱡ ﻟﱠذِ ا نَ ﯾْ
ﻣَﻧ اٰ
ُو ا اﺗﱠ ﻘُ
و ا Jﱣ ا
َ وَ
وْ ﻗُ
وْ ﻟُ
ا وْ ﻗَ
ﺳَ ﻻً
دِﯾْ
دًاۙ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar".33
Rasullulah selalu jujur saat bisnis, beliau tidak memperbolehkan pedagang untuk meletakkan barang jelek di bawah dan barang bagus di bagian atas. Pengusaha muslim yang jujur sangat menjaga timbangan, dan mengatakan baik dan buruknya barang yang dijual, melalui ikatan perdagangan yang jujur dan adil, kepercayaan secara otomatis dibangun antara pembeli dan penjual atau seperti penyedia layanan dan pengguna layanan.
Kepercayaan yang di hasilkan dari kejujuran seseorang merupakan landasan dari aktivitas bisnis yang baik.34
2) Pelayanan yang Baik
Sebagai seorang usahawan muslim harus memiliki sikap khidmah yaitu melayani dengan baik, Seorang pembeli pasti merasa senang apabila dilayani dengan baik dan ramah, dan memberikan keringan waktu apabila pembeli tidak mampu membayar
33 Q.S. Al-Ahzab: 70
34 Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN- Malang press, 2007), h. 25
kekurangan atau melunasi pinjaman. Sikap Kewirausahaan yang baik akan memungkinkan wirausahawan bertemu banyak teman baru dan menarik teman untuk mengembangkan bisnis bersama.
3) Hubungan Baik
Islam percaya bahwa semua orang berhak mendapatkan kehormatan, dengan kehormatan ini orang-orang saling membantu dengan menjalin hubungan keluarga yang baik dan rukun dengan sesama.35 Dengan saling membantu dengan murah hati, transaksi dengan cara yang sopan santun, baik dan ramah pelanggan pasti senang atas pelayanan penjual. Menjadi seorang yang murah pemaaf juga murah hati pada orang lain. Dengan memaafkan orang lain dalam kegiatan bisnis, maka setiap kegiatan bisnis selaras dengan moralitas dan nilai nilai utama dalam Al-Qur’an.36
35 Ahmad Ibrahmi Abu Sin, Manajemen Syariah Sebuah Kajian Historis dan Kontenporer, Jakarta; PT Raja.Grafindo Persada, 2008, hlm. 119
36 Mustahiq Ahmad, Etik Bisnis Dalam Islam, penerjemah Samson Rahman judul asli Busniness Ethic in Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2006, hlm. 155
2.4 Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir diatas dengan menggunakan etika bisnis islam yang memfokuskan kepada para pedagang muslim apakah para pedagang telah menggunakan etika bisnis islam.
Etika Bisnis Islam Pedagang Muslim