i TESIS – RC 142501
ANALISIS RISIKO PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI SURABAYA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
M. AWALLUTFI ANDHIKA PUTRA 3113203010
DOSEN PEMBIMBING
Ir. I PUTU ARTAMA WIGUNA, MT, Ph.D
PROGRAM MAGISTER
BIDANG KEAHLIAN MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2017
i TESIS – RC 142501
HALAMAN JUDUL
ANALISIS RISIKO PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI SURABAYA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
M. AWALLUTFI ANDHIKA PUTRA 3113203010
DOSEN PEMBIMBING
Ir. I PUTU ARTAMA WIGUNA, MT, Ph.D
PROGRAM MAGISTER
BIDANG KEAHLIAN MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2017
ii
iii THESIS – RC 142501
HALAMAN JUDUL
RISK ANALYSIS ON SURABAYA BASED CONTRACTORS TO ENCOUNTER ASEAN ECONOMIC COMMUNITY
M. AWALLUTFI ANDHIKA PUTRA 3113203010
SUPERVISOR
Ir. I PUTU ARTAMA WIGUNA, MT, Ph.D
MAGISTER PROGRAMME
CONSTRUCTION PROJECT MANAGEMENT DEPARTMENT OF CIVIL ENGINEERING
FACULTY OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2017
iv
vi
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
vii
ANALISIS RISIKO PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI SURABAYA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Nama Mahasiswa : M. Awallutfi Andhika Putra
NRP : 3113203010
Dosen pembimbing : Ir. Putu Artama Wiguna, MT. Ph.D ABSTRAK
Di tahun 2015 negara-negara di Asia Tenggara dihadapkan dengan Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang bertujuan untuk mendapatkan perekonomian ASEAN yang stabil, menguntungkan dan berdaya saing tinggi.
Penerapan MEA sendiri memungkinkan munculnya risiko yang dapat menjadi peluang maupun ancaman bagi perusahaan. Maka perlu dilakukan identifikasi dan analisa risiko, peluang dan ancaman yang mungkin terjadi sehingga perusahaan dapat memiliki daya saing dan keunggulan pada saat penerapan MEA.
Identifikasi risiko dimulai dari studi literature untuk mengetahui variabel yang terkait dengan pasar bebas dan konstruksi internasional, kemudian dilakukan survey pendahuluan kepada beberapa responden terpilih untuk mengetahui variabel-variabel yang relevan dan mengelompokan antara peluang dan ancaman.
Langkah selanjutnya adalah survey utama untuk mengetahui tingkat risiko yang akan terjadi pada kontraktor dan hasilnya di analisa menggunakan metode Double Probability Impact Matrix. Langkah terkahir adalah menentukan respon risiko dengan survey wawancara ke beberapa responden terpilih. Populasi responden yang ditentukan adalah kontraktor berkategori B2 dan B1 di Surabaya.
Penelitian ini menghasilkan empat peluang tertinggi yaitu memanfaatkan teknologi konstruksi terbaru dan teknologi informasi; memenuhi kualifikasi non- teknis dalam melakukan penawaran, baik dari kualifikasi manajemen perusahaan, sumber pendanaan hingga kualifikasi personil perusahaan dan memiliki kemampuan negosiasi pra tender maupun pasca tender; memiliki standar kompetensi yang menjamin kualitas pekerja; dan mampu bernegosiasi dalam mengatasi dan mengerti budaya kerja di negara tujuan ekspansi. Sedangkan 4 ancaman tertinggi antara lain bunga pinjaman modal yang cenderung meningkat dan tidak stabil, baik dari sumber dana lokal maupun asing; terkena hambatan tarif dan non tarif yang berlaku di negara tujuan ekspansi; terjadi fluktuasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara ASEAN; dan belum mengerti tentang aturan dari serikat ketenagakerjaan di negara-negara ASEAN. Peluang tertinggi direspon dengan memanfaatkan (exploit) peluang tersebut sebaik- baiknya sehingga menghasilkan manfaat bagi perusahaan dan ancaman direspon dengan mengurangi (mitigation) besarnya risiko sehingga kerugian terhadap perusahaan berkurang.
Kata kunci: Risiko, Peluang, Ancaman, Konstruksi, ASEAN
viii
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
ix
RISK ANALYSIS ON SURABAYA BASED CONTRACTORS TO ENCOUNTER ASEAN ECONOMIC COMMUNITY
Student Name : M. Awallutfi Andhika Putra Student Registration Number : 3113203010
Under Supervisor : Ir. Putu Artama Wiguna, MT. Ph.D ABSTRACT
ASEAN Economic Community (AEC) is a form of economic integration among ASEAN countries in order to gain economic stability, profitable and highly competitive. On the other hand the lack of knowledge of the MEA resulted contractor in Indonesia lost in competition, both from fellow contractors in Indonesia and other countries within ASEAN. Application of MEA itself allows the emergence of risks that can be both opportunities and threats for the company.
It is necessary to identify and analyze the risks, opportunities and threats that may occur so that the company can have competitiveness and excellence in the application of MEA.
Risk identification starting from literature study to determine which variables are associated with free markets and international construction, then a preliminary survey conducted to several selected respondent to determine a relevant variables and separating between opportunities and threats. The next step is a major survey to determine the level of risk that will occur at the contractor and the results will be analyze using Double Probability Impact Matrix. The last step is to determine the risk response with interview to some selected respondents.
This research resulted in four highest opportunity such as capable of utilizing latest construction and information technology, qualified non-technical in the offering, both qualification on management of the company, sources of funding, up to qualified personnel of the company and have the ability to negotiate pre-tender and post-tender, has the competency standards that ensure the quality of workers, able to negotiate to overcome and understand the work culture for expansion in the destinated country. While the 4 highest threats include capital interest of loans are likely to increase and unstable, both local and foreign funding sources, affected by tariff barriers and non-tariff that applied in the destined expansion country, inflation fluctuation of rupiah exchange rate occurred against other ASEAN currencies, and have not understand about the rules of union labor in the ASEAN countries. Oportunities responded by exploiting these opportunities to the fullest and generate benefits for the company, and the threat responded by reducing (mitigate) the magnitude of the risk, so that the company's losses can be reduced.
Keyword:Risk, Opportunities, Threats Construction, ASEAN
x
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
xi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya berkat kasih karunia, anugerah dan pertolongan-Nya saja sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tesis dengan judul “ANALISIS RISIKO PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI SURABAYA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN”.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Tesis ini penulis tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Ayah penulis M. Dhina Santoso, Ibu Penulis Any Suryani, dan Adik Penulis S.A. Andhini Putri atas segala dukungan, semangat, waktu yang di korbankan dan motivasi yang tidak terbatas.
2. Bapak I Putu Artama Wiguna yang tidak henti-hentinya memberikan bimbingan, pengarahan, dukungan, motivasi, dan ilmu yang tidak ternilai harganya dan menjadikan penulis sebagai pribadi yang lebih baik.
3. Bapak Tri Joko Wahyu Adi, yang selalu memberikan nasihat dalam segala hal selama masa studi penulis, dosen-dosen Teknik Sipil ITS atas semua ilmu yang telah diberikan dan tidak lelah mendidik penulis sebagai mahasiswa Teknik Sipil ITS.
4. Pak Agung, Faza, Andri, Raflis, Mas Gerry, Mas eko, Fitria Wahyuni Gunawan, Dedy, Budi, Yacub, Mila, Yina, Reksa, Murby, Ryan, Adit, Muty, Rini, Puput, Sinta, Dinar, Nindy, Yossi, Wawan, Satrio, Kardian, Evin atas dorongan, bantuan, semangat dan motivasi sebagai teman, inspirasi dan keluarga penulis selama penulisan Tesis ini.
5. Bapak Dicky Rismawan yang sangat membantu dalam pengumpulan data yang diperlukan untuk Tugas Akhir ini. Teman-teman seperjuangan S-51 (2008), Semanggi Rally Team, Team Sipil (Reksa, Ramdhan, dan Al), Team Tretes (Aya, Bunda, Copi, Fate, Salsa, Qhisti), Iponkerz (Mas Iponk, Mas Tandur, Adit, Gober, Kacong, Pak yit), Osela Community, VR46 Vanguard (Mincok CF, Zulmi, Rita, Tedy, Mbak Nunik, Mbak Ani, Isna, Enu, Kak Wita, Irud, Tata, Mbak Rossi, Mbak Phie, DKV, dll) yang selalu bisa meghibur penulis di kala sedang jenuh dan semua rekan mahasiswa Magister Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil ITS lainnya.
6. Baiq Tyra Delita Firgayanti atas motivasi yang besar yang dan dukungan yang tidak henti-hentinya, yang selalu menjadi penyemangat bagi penulis dikala sedang membutuhkan dukungan dan semangat.
Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Tesis ini. Akhir kata semoga Tesis ini bermanfaat.
Surabaya, 30 Januari 2017
Penulis
xii
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ...v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ...xv
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Perumusan Masalah ...4
1.3 Tujuan Penelitian ...4
1.4 Batasan Masalah ...4
1.5 Manfaat Penelitian ...5
1.6 Sistematika Penulisan ...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...7
2.1 Konsep Risiko, Peluang, dan Ancaman ...7
2.1.1. Risiko ...7
2.1.2. Peluang dan Ancaman pada Risiko ...7
2.1.3. Risiko Perusahaan ...8
2.1.4. Manajemen Risiko ...9
2.2 Proses Manajemen Risiko ...9
2.2.1. Identifikasi Risiko ...10
2.2.2. Analisa Risiko ...10
2.2.3. Analisa Risiko Kualitatif ...10
2.2.4. Analisa Risiko Kuantitatif ...11
2.3 Respon Risiko ...12
2.4 Penilaian Resiko dengan Double Probability Impact Analysis ...13
2.5 Masyarakat Ekonomi ASEAN ...16
2.5.1. Arus Bebas Barang ...16
2.5.2. Arus Bebas Jasa ...19
2.5.3. Arus Bebas Investasi ...20
2.5.4. Arus Bebas Modal ...20
2.5.5. Arus Bebas Tenaga Kerja Terampil ...21
2.6 Penelitian Terdahulu ...22
2.7 Posisi Penelitian ...25
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...27
3.1 Konsep Penelitian ...27
3.2 Identifikasi Variabel ...27
3.3 Pengumpulan data ...29
3.4 Rancangan kuisioner ...31
3.5 Analisa Data ...32
3.5.1. Identifikasi Risiko yang Relevan dan Jenis Risiko ...32
3.5.2. Analisa Tingkat Risiko ...32
3.6 Langkah Penelitian ...35
xiv
BAB IV DATA DAN ANALISA... 37
4.1 Pendahuluan ... 37
4.1.1 Profil Responden ... 37
4.2 Analisa Risiko ... 39
4.2.1 Identifikasi risiko yang relevan ... 39
4.2.2 Analisa Nilai Probabilitas Risiko Pada Kontraktor ... 42
4.2.3 Analisa Nilai Impact Risiko pada Kontraktor ... 49
4.2.4 Analisa Risiko Peluang dan Ancaman Menggunakan Matrix ... 55
4.3 Hasil analisa dan pembahasan ... 60
4.3.1 Risiko dengan nilai tertinggi... 60
4.3.2 Respon risiko ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 71
5.1 Kesimpulan ... 71
5.2 Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 73
LAMPIRAN ... 75
BIOGRAFI PENULIS ... 103
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Skala probabilitas ...14
Tabel 2. 2 Nilai risiko ...15
Tabel 2.3 Variabel hasil studi literatur dan penelitian terdahulu ...24
Tabel 3.1 Variabel Kuisioner...27
Tabel 4.1 Hasil Identifikasi Risiko yang Relevan...40
Tabel 4.2 Nilai rata-rata probabilitas ancaman ...44
Tabel 4.3 Nilai rata-rata probabilitas peluang ...45
Tabel 4.4 Nilai rata-rata impact ancaman ...49
Tabel 4.5 Nilai rata-rata impact peluang ...51
Tabel 4.6 Kategori Risiko Peluang ...56
Tabel 4.7 Kategori Risiko ancaman ...58
Tabel 4.8 Risiko dengan nilai tertinggi ...60
Tabel 4.9 Respon Risiko ...65
xvi
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Matriks Probabiitas dan dampak ...15
Gambar 3. 1 Matriks Probabilitas dan Dampak ...33
Gambar 4.1 Lama keterlibatan responden dalam perusahaan...38
Gambar 4.2 Peran responden dalam perusahaan ...38
Gambar 4.3 Latar belakang pendidikan responden………39
Gambar 4.4 Skala pembobotan Matrix ...43
Gambar 4.5 Contoh Ploting Matriks Probabilitas dan Dampak ...56
Gambar 4.6 Hasil Ploting Matrix Probabilitas dan Dampak ...60
xviii
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 ...75
Lampiran 2 ...81
Lampiran 3 ...87
Lampiran 4 ...91
Lampiran 5 ...95
Lampiran 6 ...99
Lampiran 7 ...101
xx
“ Halaman ini sengaja dikosongkan “
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, kontraktor di Indonesia harus menyiapkan strategi-strategi dalam segala hal, strategi-strategi diharapkan dapat memberikan keuntungan untuk kontraktor di Indonesia. Namun dalam penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN di indonesia tidak bisa lepas dari berbagai risiko. Di sisi lain kurangnya pengetahuan tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN mengakibatkan kontraktor Indonesia kalah menghadapi persaingan baik dari sesama kontraktor di indonesia dan juga kontraktor dari negara lain dalam ruang lingkup ASEAN. Hal ini bisa dikatakan sebagai risiko yang mungkin dapat mengakibatkan kerugian. Selain risiko tersebut masih terdapat risiko-risiko lain yang mungkin terjadi penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN bagi para kontraktor di Indonesia. Proses penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN juga cukup rumit karena melibatkan banyak aspek dan berbagai negara sehingga dapat menimbulkan ketidakpastian yang pada akhirnya akan memunculkan risiko.
Risiko adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tujuan, sehingga terjadi dampak yang tidak diinginkan.
Di tahun 2015, negara-negara di ASEAN akan mengalami perubahan fase perekonomian dengan memiliki pasar tunggal dan basis produksi yang dinamai ASEAN Economic Community (AEC) atau dapat disebut juga dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Apabila AEC tercapai, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas diantara negara anggota ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas tersebut maka akan terbuka peluang bagi kontraktor Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan ASEAN. Hal ini merupakan risiko yang tidak diprediksi sebelumnya yang dapat mengakibatkan kerugian. Selain risiko tersebut masih terdapat risiko-risiko lain yang mungkin terjadi disisa waktu pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
2
Tidak hanya dalam perdagangan, namun Indonesia juga diharapkan mampu juga bersaing terutama dalam bidang jasa konstruksi. Kontraktor- kontraktor di indonesia menghadapi banyak tantangan dan harus bisa memetakan kekuatan internal perusahaan, kekuatan pesaing, pangsa pasar di kawasan ASEAN dan mengetahui peraturan di bidang konstruksi yang berkaitan dengan AEC untuk tetap dapat mempin persaingan konstruksi baik dalam maupun luar negeri setelah diberlakukannya AEC di tahun 2015
MEA merupakan bentuk integrasi ekonomi diantara negara-negara ASEAN dalam rangka untuk mendapatkan perekonomian ASEAN yang stabil, menguntungkan dan berdaya saing tinggi. Singkatnya, MEA merupakan kawasan bebas perdagangan di Asia Tenggara yang berdasarkan empat pilar yaitu, pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang berdaya saing tinggi dalam perekonomian, perkembangan ekonomi yang merata, dan integrasi penuh dalam ekonomi secara global. Sebagai tambahan, akan ada penghapusan tarif untuk mendapatkan aliran barang/jasa/investasi/modal yang bebas diantara negara- negara di kawasan ASEAN.
Implementasi dari pasar tunggal dan basis produksi akan mengarahkan negara-negara di kawasan ASEAN pada lima elemen utama yaitu, Aliran bebas barang, Aliran bebas jasa, Aliran bebas investasi, Aliran bebas modal, dan Aliran bebas tenaga kerja terampil. Hal-hal tersebut akan membawa kepada transformasi pada perilaku bisnis di kawasan ASEAN, oleh karena itu perlu adanya perhatian khusus dari pelaku bisnis untuk memperhatikan setiap prinsip-prinsip yang akan diterapkan MEA sehingga kemungkinan perubahan yang terjadi dapat diantisipasi terutama untuk sektor-sektor ekonomi yang strategis di Indonesia. (Rynhart &
Chang, 2014)
Salah satu wujud dari upaya pemerintah untuk melindungi industri dalam negeri adalah adanya aturan mengenai tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Melalui Keputusan Presiden RI No. 80 Tahun 2003 beserta perubahannya telah mewajibkan para pengguna barang/jasa untuk mengutamakan penggunaan produk dalam negeri dalam setiap kegiatan pengadaan barang dan jasa di lingkungan
instansi/lembaga pemerintah, BUMN, dan BUMD
(http://www.ilmea.depperin.go.id/tkdn/regulasi.php, 15 April 2008).
3
Kedua, kelemahan mencolok yang dihadapi Indonesia saat ini adalah lemahnya daya saing produk Indonesia dalam persaingan global, khususnya AFTA. Kelemahan ini cukup riskan mengingat daya saing produk merupakan modal bagi Indonesia untuk menjadi pemain unggulan dalam pasar AFTA.
Adapun tiga faktor yang dapat mempengaruhi daya saing produksi suatu negara adalah akses pasar, kualitas produk, infrastruktur hukum dan kebijakan dalam negeri (Dwisaputra dan Aryaji, 2007).
Pertama, pada sisi akses pasar, Indonesia sebenarnya telah memiliki pasar ASEAN yang tidak kecil. Setidaknya 550 juta penduduk ASEAN merupakan pasar yang amat potensial bagi produk Indonesia. Namun, komoditi dagang yang relatif sama antarnegara ASEAN menjadikan pasar ini begitu banyak pesaing.
Kedua, di samping persaingan pasar, ternyata kualitas daya saing produk Indonesia juga tertinggal dibanding negara ASEAN-5 yang memiliki kelebihan pada inovasi dan teknologinya. Ekspor Indonesia pada produk dengan dasar sumber daya alam memiliki nilai tertinggi dibanding negara ASEAN-5 dengan nilai mencapai 75,20 persen pada tahun 1985, 38,80 persen tahun 1998, dan 33,70 persen pada tahun 2000. Namun, pada produk dengan basis teknologi tinggi, Indonesia memiliki nilai terendah yakni hanya 3 persen pada tahun 1985, 9,70 persen tahun 1998, serta 17,40 persen pada tahun 2000. Jika dibandingkan dengan Singapura, maka Indonesia tertinggal jauh dengan nilai ekspor Singapura yang mencapai 61,20 persen pada tahun 2000 (Nurhemi, 2007).
Aspek yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan AEC blueprint adalah penyatuan visi antar departemen dan fasilitasi perdagangan. Fasilitasi perdagangan menjadi salah satu fokus yang diprioritaskan oleh pemerintah dalam memperlancar arus perdagangan. Berdasarkan kajian Wilson, Mann, dan Otsuki, perbaikan pada empat sektor utama yang menunjang sektor perdagangan akan dapat meningkatkan perdagangan internasional. Empat sektor itu adalah pelabuhan, kepabeanan, peraturan, dan jasa infrastruktur (Wilson et al, 2006).
Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan identifikasi dan analisa risiko penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada konstruktor serta peluang dan ancamannya. Penelitian ini menggunakan metode analisa Double Probabilty Impact Matrix yang bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko dalam penerapan
4
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dari analisa tersebut juga dapat memprediksi risiko-risiko yang mungkin terjadi di waktu penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN berdasarkan pada risiko-risiko yang telah terjadi dan juga faktor-faktor risiko lainnya. Posisi daya saing Perusahaan juga dapat diketahui menggunakan Double Probability Impact Matrix berdasarkan Peluang dan Ancaman hasil analisa.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, permasalahan yang dikemukakan dalam Penelitian ini adalah :
1. Risiko, peluang, dan ancaman apa saja yang akan terjadi pada waktu pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan di tentukan oleh kontraktor?
2. Berapa besar tingkat risiko yang terjadi pada kontraktor yang akan di tentukan ? 3. Bagaimana penanganan respon risiko untuk risiko yang berdampak signifikan
pada kontraktor di Indonesia ? 1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi peluang dan ancaman pada kontraktor.
2. Mengetahui peluang dan ancaman yang berdampak signifikan pada kontraktor dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.
3. Mengetahui respon risiko dari peluang dan ancaman yang berdampak signifikan yang terjadi pada kontraktor di Indonesia.
1.4 Batasan Masalah
Agar pembahasaan dalam penulisan nanti bisa terarah dan sistematis, maka pembahasan dalam penulisan dibatasi sebagai berikut:
1. Obyek yang dilakukan penelitian adalah perusahaan kontraktor klasifikasi B1 dan B2 berdasarkan LPJK di Surabaya.
2. Risiko yang diteliti adalah risiko sisi peluang dan ancaman dari sudut pandang kontraktor.
3. Analisa dilakukan terhadap risiko yang paling sering terjadi dan level kategori risikonya paling tinggi.
5 1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu mendapatkan manfaat, antara lain : 1. Dapat mengetahui risiko dan peluang serta ancaman yang akan terjadi, sehingga
dapat mengetahui cara mengatasi risiko tersebut pada waktu pelaksaanaan Masyarakat ekonomi ASEAN.
2. Dapat mengurangi kerugian yang nantinya akan dialami oleh perusahaan jika risiko yang terjadi direspon dengan baik.
3. Dapat menentukan respon risiko yang akan digunakan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN berdasarkan risiko yang telah di ketahui.
1.6 Sistematika Penulisan
Beberapa hal yang akan dibahas dalam penelitian ini beserta sistematikan penulisannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bab I PENDAHULUAN, berisi latar belakang penelitian dan alasan dilakukan Analisa Risiko Kontraktor Di Surabaya Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Selain itu pada bab ini akan dibahas mengenai perumusan masalah yang dikaji pada penelitian ini beserta batasannya. Pada bab ini juga akan diuraikan mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini.
Bab II TINJAUAN PUSTAKA, membahas tentang teori-teori pendukung yang dapat digunakan dalam penyusunan penelitian ini. Dalam hal ini membahas mengenai dasar-dasar teori dalam konsep, manejemen, analisa risiko dan responnya metode Double Probability Impact Matrix, serta teori tentang ASEAN Economic Community.
Bab III METODOLOGI, membahas metodologi penelitian secara lengkap yaitu rancangan penelitian yang menjelaskan metode yang akan digunakan dalam proses analisa risiko pda perusahaan kontraktor di Surabaya dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Selain itu pada bab ini juga akan dibahas mengenai data penelitian yang meliputi sumber data yang digunakan sebagai dasar penelitian dan metode penelitian yang akan dilakukan dalam mengidentifikasi dan mengkategorikan risiko.
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN, membahas mengenai analisa dari data yang telah didapatkan untuk mendapatkan hasil berupa hasil perhitungan
6
probabilitas dan dampak risiko. Dengan metode Double Probabibilty Impact Matrix diharapkan risiko peluang dan ancaman yang berpengaruh signifikan sehingga dapat ditentukan respon risiko dalam menghadpai peluang dan ancman tersebut.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, membahas tentang kesimpulan dari hasil analisa data yang berupa risiko peluang dan ancaman yang signifikan dan responnya dan saran yang dapat diusulkan demi kesempurnaan penelitian mengenai hal yang serupa.
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Risiko, Peluang, dan Ancaman
2.1.1. Risiko
Risiko adalah suatu kejadian atau kondisi yang tidak pasti, yang apabila terjadi dapat berdampak pada tujuan proyek yang mencangkup ruang lingkup, jadwal, biaya dan kualitas. (PMBOK, 2004)
Sedangkan menurut Djojosoedarso (1993) risiko merupakan kejadian yang selalu dihubungkan dengan kemingkinan terjadinya sesuatu kerugian yang tidak diduga atau tidak diinginkan. Kondisi yang menyebakan timbulnya risiko adalah kondisi dimana adanya ketidakpastian.
Santosa (2009) mengatakan bahwa risiko proyek adalah suatu peristiwa atau kondisi yang tidak pasti, jika terjadi mempunyai pengaruh positif maupun ancaman pada tujuan proyek. Suatu risiko mrmpunyai penyebab, dan jika terjadi, membawa konsekuensi atau impak.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa risiko adalah suatu kondisi atau kejaadian yang timbul karena ketidakpastian dengan peluang kejadian tertentu yang jika terjadi akan menimbulkan konsekuensi tidak menguntungkan atau merugikan yang tidak diinginkan.
2.1.2. Peluang dan Ancaman pada Risiko
Hillson (2004) menyatakan bahwa peluang dan ancaman adalah bersifat tak berbeda secara kualitatif, karena keduanya melibatkan ketidakpastian, yang memiliki potensi untuk mempengaruhi tujuan. Peluang dapat didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang tidak pasti atau suatu kondisi yang mana jika terjadi, akan menguntungkan proyek atau bisnis. Demikian pula, kita mungkin mendefinisikan ancaman sebagai suatu peristiwa yang tidak pasti dan perlu diketahui bahwa risiko itu sendiri secara umum diartikan sebagai ancaman, karena banyak yang mengasumsikan risiko secara negatif, karena ada faktor ketidak pastian di dalamnya atau yang mana jika terjadi, akan membahayakan proyek atau bisnis. Kedua definisi tersebut adalah sama, terlepas dari tujuan yang ingin
8
dicapai. Akibatnya, lumrah untuk menggabungkan peluang dan ancaman dalam definisi yang hampir sama yang menggabungkan unsur ketidakpastian dengan potensi untuk mempengaruhi tujuan, dan definisi risiko pun sangat terkait dengan itu.
Akibatnya, keduanya dapat ditangani oleh proses yang sama, meskipun beberapa penyesuaian mungkin diperlukan untuk pendekatan manajemen risiko standar untuk memungkinkan untuk menangani peluang secara efektif. (Hillson, 2004)
2.1.3. Risiko Perusahaan
Scott (2003) menyatakan bahwa risiko perusahaan dapat diartikan sebagai risiko dimana ada faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi perusahaan tertentu yang menyebabkan harga sahamnya berubah dengan cara yang berbeda dari saham secara keseluruhan. Misalnya, keuntungan dan harga saham dari perusahaan yang menjual porsi luar biasa besar dari output nya ke pelanggan asing dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, seperti perubahan kurs valuta asing, yang kurang penting untuk perusahaan lain. Risiko seperti ini dapat di golongkan menjadi jenis risiko non-sistematis.
Stulz (1996) menyatakan bahwa tujuan utama dari manajemen risiko perusahaan tidak untuk meredam gejolak arus kas atau nilai perusahaan, melainkan untuk memberikan perlindungan terhadap kemungkinan hasil yang dibawah ekspektasi dan berbiaya besar yang akan menyebabkan kesulitan keuangan atau membuat perusahaan tidak dapat melaksanakan strategi investasinya.
Sehingga, dengan menghilangkan risiko yang merugikan dan mengurangi biaya yang kemungkinan didapatkan dari kesulitan keuangan, manajemen risiko juga dapat membantu perusahaan untuk mencapai struktur modal yang optimal dan struktur kepemilikan yang optimal. Sebab, selain meningkatkan kapasitas utang perusahaan, pengurangan risiko merugikan juga mendorong saham ekuitas yang lebih besar dengan melindungi investasi dari hal yang tidak dapat dikontrol.
9 2.1.4. Manajemen Risiko
Santosa (2009) menjelaskan bahwa mamajemen risiko adalah proses mengidentifikasi, mengukur dan memastikan risiko serta mengembangkan strategi untuk mengelola risiko tersebut. Manajemen risiko akan melibatkan proses, metode dan teknik yang membantu manajer proyek memaksimalkan probabilitas dan konsekuensi dari kejadian positif dan meminimalkan probabilitas dan konsekuensi dari kejadian ancaman. Sedangkan dalam manajemen proyek, yang dimaksud manajemen risiko proyek adalah seni dan ilmu untuk mengidentifikasi, menganalisis dan merespon risiko selama umur proyek dan tetap menjamin tercapainya tujuan proyek.
Menurut Djojosoedarso (1993), secara sederhana pengertian manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko. Proses kegiatan manajemen risiko mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun dan mengawasi program penanggulangan risiko.
2.2 Proses Manajemen Risiko
Risiko pada dasarnya akan mengakibatkan kerugian, Jika risiko tersebut menimpa suatu proyek, maka proyek tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Maka perlu adanya pengelolaan risiko tersebut.
Dalam pengelolaan risiko ada proses yang harus dilalui (Santosa, 2009) yaitu:
a. Perencanaan manajemen risiko
Langkah memutuskan bagaimana merencanakan kegiatan manajemen risiko untuk proyek.
b. Indentifikasi risiko
Menentukan risiko yang mungkin mempengaruhi proyek c. Analisis risiko
Proses memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu risiko d. Perencanaan Respon Risiko
Proses yang dilakukan untuk meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi e. Pengendalian dan monitoring risiko
10
Proses mengawasi risiko yang sudah diidentifikasi, memonitor risiko yang tersisa, mengidentifikasi risiko baru, dan mengevaluasi kefektifannya dalam mengurangi risiko
2.2.1. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah rangkaian proses pengenalan terhadap risiko dan komponen risiko yang terjadi pada suatu aktivitas yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan yang tepat.(Santosa, 2009). Menurut Husein (2011) identifikasi risiko dilakukan agar variable risiko yang dinilai dan dievaluasi dapat diketahui, diidentifikasi dan ditangani.
Dalam identifikasi risiko ada beberapa teknik pengumpulan informasi yang bisa digunakan (Santosa, 2009) :
1. Brainstorming 2. Interviewing 3. Delphi technicque 4. checklist
2.2.2. Analisa Risiko
Analisa risiko adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu risiko terhadap kelangsungan proyek.(Santosa, 2009)
2.2.3. Analisa Risiko Kualitatif
Analisis kualitatif dalam manajemen risiko adalah proses menilai dampak dan kemungkinan dari risiko yang sudah di identifikasi. Proses ini dilakukan dengan menyusun risiko berdasarkan efeknya terhadap tujuan proyek, analisa ini merupakan salah satu cara menentukan bagaimana pentingnya memperhatikan risiko-risiko tertentu dan bagaimana respon yang akan diberikan.(Santosa, 2009)
Analisa risiko dengan menggunakan teknik kualitatif terdiri dari beberapa cara (PMI,2008), yaitu :
1. Kemungkinan risiko dan dampak yang terjadi
Memperkirakan risiko yang mungkin saja dapat terjadi dilakukan dengan menyelidiki masing-masing risiko, secara spesifik, yang mungkin saja dapat
11
terjadi. Memperkirakan dampak dari risiko dilakukan dengan menyelidiki dampak-dampak potensial apa daja yang mungkin saja terjadi. Setiap risiko yang sudah teridentifikasi harus ditaksir kira-kira bagaimana kemungkinan terjadinya dan bagaimana dampak yang akan ditimbulkan jika risiko tersebut terjadi. Risiko dapat diperkirakan dengan cara wawancara atau diadakan rapat dengan peserta yang terpilih yang berkaitan langsung dengan kategori risiko yang akan dibahas.
2. Matriks kemungkinan dan dampak
Informasi risiko dengan prioritas tinggi, sedang, ataupun rendah dapat juga dituangkan dalam bentuk matriks. Kategori-kategori tersebut dapat dibedakan juga dengan warna masing-masing.
3. Risk data quality assessment
Analisa risiko dengan teknik kualitatif membutuhkan data yang akurat dan tidak memihak (objektif) jika ingin mencapai hasil yang dapat dipercaya.
Analisa dari data kualitas risiko adalah teknik untuk mengevaluasi seberapa perlukah data risiko tersebut untuk manajemen risiko.
4. Kategorisasi risiko (Risk categorization)
Risiko dalam proyek bisa digolongkan berdasarkan dokumen-dokumen asli risiko, daerah mana saja didalam proyek yang berpengaruh, atau ktegori yang berguna lainnya untuk membatasi bagian proyek mana saja yang berdampak akibat dari ketidakpastian.
2.2.4. Analisa Risiko Kuantitatif
Analisa kuantitatif adalah proses menganalisa secara numerik probabilitas dari setiap risiko dan kosekuensinya terhadap tujuan proyek.(Santosa, 2009).
Proses analisa kuantitatif bertujuan untuk menganalisa secara numerik probabilitas dari setiap risiko dan akibat terhadap proyek. (PMI, 2008). Cara-cara yang dapat digunakan dalam analisa risiko dengan teknik kuantitatif, yaitu :(PMI, 2008)
1. Interviewing (Wawancara)
2. Probability distributions (Distribusi kemungkinana) 3. Expert judgement (Putusan dari para ahli).
12 2.3 Respon Risiko
Respon Risiko adalah proses menentukan tindakan untuk meningkatkan peluang dan mengurangi ancaman terhadap tujuan proyek.(PMI, 2008)
Menurut Santosa (2009) respon risiko merupakan proses yang dilakukan untuk meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi sampai batas yang dapat diterima.
Secara umum teknik yang diterapkan untuk menangani risiko dikelompokan dalam beberapa kategori (Santosa, 2009), yaitu :
1. Menghindari risiko
Cara ini dilakukan dengan cara tidak melakukan aktivitas yang mendatangkan risiko. Pada proyek bisa dilakukan dengan cara merubah rencana proyek untuk menghilangkan risiko.
2. Reduksi risiko (mitigasi)
Melakukan tindakan awal untuk mengurangi peluang terjadinya risiko pada proyek. Hal ini lebih efektif dari pada memperbaiki setelah suatu kejadian berisiko terjadi.
3. Menerima risiko
Menerima kerugian bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi. Biasanya risiko yang ditimbulkan kecil atau tidak ada cara lain untuk menanganinya.
4. Transfer risiko
Mengalihkan risiko kepihak lain. Cara umum yang biasa dilakukan adalah membeli asuransi.
Hilson (2002), menyatakan bahwa selain respon risiko yang umum diketahui, terdapat pula respon yang diterapkan untuk merespon risiko positif berupa peluang yang muncul dari risiko yang ada, yaitu:
1. Memanfaatkan (Exploit)
Serupa dengan respon risiko "menghindari", dimana pendekatan utamanya adalah menghilangkan ketidak-pastian. Namun untuk risiko positif atau peluang, direspon dengan memanfaatkan risiko ditujukan agar peluang yang ada dapat diwujudkan sehingga dapat memberi manfaat dan keuntungan bagi perusahaan.
2. Membagi (Share)
13
Serupa dengan respon risiko "transfer", namun di fokuskan untuk mendapatkan potensi manfaat dan keuntungan bersama dengan pihak lain.
3. Memperbanyak (Enhance)
Merupakan kebalikan dari respon "mitigasi", dimana tindakan yang dilakukan adalah untuk memperbanyak atau memperbesar terjadinya peluang.
4. Menerima (Ignore)
Serupa dengan respon risiko "menerima", yaitu dengan tidak melakukan sesuatu respon yang signifikan atau tidak sama sekali dikarenakan peluang terjadi dan manfaat yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.
2.4 Penilaian Resiko dengan Double Probability Impact Analysis
Husein (2011) pada bukunya menjelaskan nilai probabilitas adalah nilai dari kemungkinan akan terjadinya risiko, sedangkan nilai dampak adalah nilai dari kompensasi terjadinya risiko.
Williams (1993), menyatakn sebuah pendekatan yang dikembangkan menggunakan dua kriteria yang penting untuk mengukur risiko, yaitu:
1. Kemungkinan (Probability), adalah kemungkinan dari suatu kejadian yang tidak diinginkan.
2. Dampak (Impact), adalah tingkat pengaruh atau ukuran dampak pada aktivitas lain, jika aktivitas yang tidak diinginkan terjadi.
Tingkat risiko merupakan perkalian dari skor Probability dan Impact yang di dapat dari responden (Well-Stam et al, 2004).
Nilai risiko dan peluang merupakan perkalian dari skor probabilitas (Probability) dan skor konsekuensi (consequences), konsekuensi ancaman untuk negatif (threat) atau positif untuk peluang (oppoturnity) yang di dapat dari responden (Hillson, 2002)
Untuk mengukur risiko, menggunakan rumus:
R = P x I Dimana:
R = tingkat risiko
P = probablitas terjadinya risiko
14
I = Tingkat dampak (impact) dari risiko yang terjadi
Sebelum melakukan analisa nilai risiko, nilai probabilitas dan dampak yang didapat sebelumnya dikonversikan dalam skala angka penilaian. Skala yang digunakan dalam mengukur nilai probabilitas dan dampak dapat menggunakan skala dengan rentang 1 sampai dengan 5 (PRAM Guide, 1997) dan rincian bobot seperti seperti pada penjelasan berikut :
1. Probabilitas
Sangat Rendah (SR) = 1 Rendah (R) = 2 Cukup (C) = 3 Tinggi (T) = 4 Sangat Tinggi (ST) = 5 2. Dampak
Sangat Kecil (SK) = 1
Kecil (K) = 2
Cukup (C) = 3
Besar (B) = 4
Sangat Besar (SB) = 5
Sedangkan Garvey (2001) menyatakan bahwa pembobotan tiap nilai probabilitas memiliki skala seperti yang di tunjukan pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Skala probabilitas
Risk Event Probability Interpretation Rating
> 0 - <= 0.05 Extremely sure not to occur Low
> 0.05 - <= 0.15 Almost sure not to occur Low
> 0.15 - <= 0.25 Not likely to occur Low
> 0.25 - <= 0.35 Not very likely to occur Low
> 0.35 - <= 0.45 Somewhat less than an even chance Medium
> 0.45 - <= 0.55 An even chance to occur Medium
> 0.55 - <= 0.65 Somewhat greater than an even chance Medium
> 0.65 - <= 0.75 Likely to occur High
> 0.75 - <= 0.85 Very likely to occur High
> 0.85 - <= 0.95 Almost sure to occur High
> 0.95 - < 1 Extremely sure to occur High
Sumber: Garvey (2001)
15
Setelah didapat nilai probabilitas dan dampak maka dilakukan analisa nilai risiko. Nilai risiko didapatkan dengan melakukan pengeplotan nilai kedalam matriks probabilitas dan dampak. Nilai risiko dikategorikan seperti tabel 2.2 berikut ini:
Tabel 2. 2 Nilai risiko
Skor Risiko
1-5 Very Low
>5-10 Low
>10-15 Medium
>15-20 High
>20-25 Very High
Sumber: PMBOK (2008)
Pada beberapa literatur, matriks yang dihasilkan untuk menampilkan posisi risiko dalam kategori rendah, moderat dan tinggi adalah berbeda-beda, beberapa peneliti menggunakan 3 atau 4 grid, namun pada peneltitian ini menggunakan 5 grid dengan double probabililty impact Matrix untuk mengetahui ancaman dan kemungkinan yang dapat terjadi.
Dan kategori dari probabilitas dan dampak terdapat tiga kategori yaitu Rendah, Sedang, dan Tinggi. Dapat dilihat pada gambar 2.1 (Hilson, 2002):
Keterangan : = Rendah = Sedang = Tinggi
Gambar 2. 1 Matriks Probabiitas dan dampak (Hilson, 2002)
16 2.5 Masyarakat Ekonomi ASEAN
Di Indonesia pada tahun 2003, negara ASEAN menyepakati membentuk ASEAN Community dalam bidang keamanan Politik (ASEAN Political-Security Community), Ekonomi (ASEAN Economic Community) dan Sosial Budaya (ASEAN Socio-Culture Community) dikenal dengan Bali Concord II. Untuk pembentukan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, ASEAN menyepakati pewujudannya diarahkan pada integrasi ekonomi kawasan yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
AEC Blueprint merupakan pedoman bagi negara anggota ASEAN dalam mewujudkan AEC 2015. AEC blueprint memuat empat pilar utama (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010) yaitu:
a) ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas.
b) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerse.
c) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos, Vietnam).
d) ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.
2.5.1. Arus Bebas Barang
Didalam AEC blueprint dikatakan bahwa dengan mekanisme arus barang yang bebas di kawasan ASEAN diharapkan jaringan produksi regional ASEAN akan terbentuk dengan sendirinya.
Komponen arus perdagangan bebas barang tersebut meliputi penurunan dan penghapusan tarif secara signifikan maupun penghapusan hambatan non tarif sesuai skema AFTA. Perlu ditingkatkan fasilitas perdagangan yang diharapkan dapat memperlancar arus perdagangan ASEAN seperti prosedur kepabeanan.
17
Untuk mewujudkan hal tesebut, negara anggota ASEAN menyepakati ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). ATIGA bertujuan untuk (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010) :
a) Mewujudkan kawasan arus barang yang bebas sebagai salah satu prinsip untuk membentuk pasar tunggal dan basis produksi dalam AEC
b) Meminimalkan hambatan dan memperkuat kerjasama diantara negara anggota ASEAN
c) Menurunkan biaya usaha
d) Meningkatkan perdagangan dan investasi dan efisiensi ekonomi
e) Menciptakan pasar yang lebih besar dengan kesempatan dan skala ekonomi yang lebih besar untuk para pengusaha di negara negara anggota ASEAN f) Menciptakan kawasan investasi yang kompetitif
Komitmen utama dalam ATIGA (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010) :
a) Penurunan dan penghapusan Tarif b) Rules of Origin
Fasilitas yang diberikan dalam kerangka CEPT (Common Effective Preferential Tariff) hanya dapat dinikmati oleh produk produk yang berasal dari negara anggota ASEAN yang dibuktikan dengan certificate rules of origin.
Disamping itu ROO juga bermanfaat untuk :
• Implementasi kebijakan “anti-dumping” dan “safeguard”
• Statistik perdagangan
• Penerapan persyaratan “labelling” dan “marking”
• Pengadaan barang oleh pemerintah c) Penghapusan Non Tariff Barriers (NTBs)
Dalam rangka penghapusan non-tarif, masing masing anggota diminta untuk :
• Meningkatkan transparansi dengan mematuhi ASEAN protocol of notification procedure
• Menetapkan ASEAN Surveillance Mechanism yang efektif
• Tetap pada komitmen untuk standstill and roll-back
• Menghapus hambatan non-tarif
• Meningkatkan transparansi non-tariff measures (NTMs)
18
• Konsisten dengan internasional best practices d) Trade Facilitation
Dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor dan mendorong integrasi ekonomi ASEAN menuju pasar tunggal untuk barang, jasa, investasi serta berbasis produksi tunggal ASEAN, diperlukan mekanisme perdagangan dan kepabeanan, proses, prosedur dan arus informasi terkait yang simpel, harmonis, dan terstandar sehingga tercipta lingkungan yang konsisten, transparan dan dapat diprediksi bagi transaksi perdagangan internasional
e) Customs Integration (Integrasi Kepabeanan) Rencana strategis kepabeanan difokuskan pada :
• Pengintegrasian struktur kepabeanan
• Modernisasi klasifikasi tarif, penilaian kepabeanan dan penentuan asal barang serta mengembangkan ASEAN e-customs
• Kelancaran proses kepabeanan
• Penguatan kemampuan sumber daya manusia
• Peningkatan kerjasama dengan organisasi internasional terkait
• Pengurangan perbedaan sistem dalam kepabeanan diantara negara negara ASEAN
• Penerapan teknik pengelolaan risiko dan kontrol berbasis audit untuk trade facilitation
f) ASEAN Single Window
National Single Window (NSW) merupakan sistem elektronik yang akan mengintegrasikan informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan serta memadukan alur dan proses informasi antar sistem internal secara otomatis yang meliputi sistem kepabeanan, perijinan, kepelabuhan/kebandarudaraan dan sistem lain yang terkait dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang. Melalui sistem ini penyelesaian prosedur ekspor-impor dan kepabeanan dapat dilakukan secara tunggal.
g) Standard, Technical Regulation and Conformity Assessment Procedures Setiap negara diharapkan dapat menetapkan dan menerapkan ketentuan ketentuan mengenai standar, peraturan teknis dan prosedur penilaian dan
19
mengharmonisasikannya dengan standar internasional dan kerjasama kepabeanan
h) Sanitary and Phytosanitary Measures
Untuk memfasilitasi perdagangan dengan melindungi kehidupan dan kesehatan manusia, hewan atau tumbuhan sesuai dengan prinsip yang ada
i) Trade Remedies
Setiap negara diberikan hak dan kewajiban untuk menerapkan kebijakan pemulihan perdagangan antara lain berupa anti-dumping, bea imbalan, dan safeguard
2.5.2. Arus Bebas Jasa
Arus bebas juga merupakan salah satu elemen paling penting dalam pembentukan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi (AEC blueprint).
Liberisasi jasa bertujuan untuk menghiangkan hambatan penyediaan jasa di antara negara negara ASEAN yang dilakukan melalui mekanisme yang diatur dalam ASEAN Framework Agreement on Service (AFAS) bertujuan untuk (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010):
a) Meningkatkan kerjasama diantara negara anggota ASEAN di bidang jasa dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya saing, diversifikasi kapasitas produksi dan pasokan serta distribusi jasa dari para pemasok jasa masing masing negara anggota baik didalam maupun luar ASEAN
b) Menghapuskan secara ignifikan hambatan hambatan perdagangan jasa diantara negara anggota
c) Meliberalisasikan perdagangan jasa dengan memperdalam tingat dan cakupan liberalisasi melebihi liberialisasi jasa dalam GATS dalam mewujudkan perdagangan bebas di bidang jasa
Secara umum tindakan tindakan yang harus dilakukan dalam rangka liberalisasi bidang jasa antara lain :
a) Menghilangkan secara nyata hambatan perdagangan jasa untuk 4 sektor jasa prioritas yaitu transportasi udara, e-ASEAN, kesehatan dan pariwisaata pada tahun 2010, dan tahun 2015 untuk seluruh sektor jasa lainnya
b) Melaksanakan liberalisasi setiap putaran perundingan
20
c) Menjadwalkan jumlah minimum sub-sektor baru yang akan diliberalisasikan untuk setiap putaran perundingan
d) Menjadwalkan paket paket komitmen 2.5.3. Arus Bebas Investasi
Sebagai inisiatif investasi yang bertujuan untuk menark dan meningkatkan arus PMA (penanaman modal asing) dari luar maupun dalam kawasan maka dibentuk ASEAN Comperhensive Investment Agreement (ACIA) dengan 4 pilar pembaharuan baru (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010):
a) Perlindungan investasi, bertujuan untuk menyediakan perlindungan kepada semua investor dan investasi yang dicakup dalam perjanjian tersebut
b) Fasilitasi dan kerjasama, bertujuan untuk menyediakan peraturan, ketentuan, kebijakan dan prosedur investasi yang transparan, konsisten dan dapat diprediksi
c) Promosi dan awareness, bertujuan untuk mempromosikan ASEAN sebagai kawasan investasi terpadu dan jejaring produksi
d) Liberalisasi, bertujuan untuk mendorong liberalisasi investasi secara progresif
2.5.4. Arus Bebas Modal
Keterbukaan yang sangat bebas atau arus modal, akan berpotensi menimbulkan resiko yang mengancam kestabilan kondisi perekonomian suatu negara. Pada sisi yang berbeda, pembatasan atas aliran modal, akan membuat suatu negara mengalami keterbatasan ketersediaan kapital yang diperlukan untuk mendorong peningkatan arus perdagangan dan pengembangan pasar uang. Atas pertimbagan tersebut maka ASEAN memutuskan hanya akan membuat arus modal menjadi lebih beabs. Konteks ‘lebih bebas’ dalam hal ini secara umum dapat diterjemahkan dengan pengurangan (relaxing) atas restriksi-restriksi dalam arus modal (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010).
Arus modal yang lebih bebas dalam mencapai AEC 2015 adalah untuk mendukung transaksi keuangan yang lebih efisien, sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, memfasilitasi perdagangan internasional, mendukung
21
pengembangan sektor keuangan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010).
Terkait dengan arus modal yang lebih bebas, AEC Blueprint mengelompokkan dua inisiatif utama bagi negara ASEAN, yaitu :
1. Memperkuat pengembangan dan integrasi pasar modal ASEAN 2. Meningkatkan arus modal di kawasan melalui proses liberalisasi
Lebih lanjut untuk mengembangkan dan meningkatkan integrasi pasar modal ASEAN maka ditetapkan lima program utama (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010) yaitu :
1. Harmonisasi berbagai standar di pasar modal ASEAN, khususnya dalam hal ketentuan penawaran harga (initial public offering)
2. Memfasilitasi adanya mutual recognition agreement (MRA) untuk pekerja profesional di pasar modal
3. Adaya fleksibilitas dalam ketentuan hukum untuk penerbitan sekuritas 4. Memfasilitasi berbagai usaha yang bersifat market driven untuk
membentuk hubungan antar pasar saham dan pasar obligasi
5. Memperkuat basis investasi bagi penerbitan surat ulang di ASEAN
Dalam upaya memfasilitasi pergerakan modal yang lebih besar, liberalisasi pergerakan modal mengacu pada prinsip berikut (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010):
1. Memastikan suatu liberalisasi capital account yang konsisten dengan agenda nasional kesiapan ekonomi negara anggota
2. Memperbolehkan penggunaan instrumen pengamanan terhadap potensi resiko instabilitas dan sistemik makroekonomi yang mungkin muncul dari proses liberalisasi, termasuk hak memberlakukan kebijakan yang dirasa perlu untuk stabilitas makroekonomi
3. Memastikan manfaat liberalisasi yang akan diperoleh oleh seluruh Negara ASEAN
2.5.5. Arus Bebas Tenaga Kerja Terampil
Apabila AEC terwujud pada tahun 2015, maka dipastikan akan terbuka kesempatan kerja seluas luasnya bagi warga negara ASEAN. Para warga negara
22
dapat keluar masuk dari satu negara ke negara lain mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan di negara yang dituju. Pembahasan tenaga kerja dalam AEC Blueprint tersebut dibatasi pada pengaturan khusus tenaga kerja terampil (skilled labour) dan tidak terdapat pembahasan mengenai tenaga kerja tidak terampil (unskilled labour). Walaupun definisi skilled labour belum jelas, namun dapat diartikan sebagai pekerja yang mempunyai keterampilan khusus, pengetahuan atau kemampuan di bidangnya, yang bisa berasal dari lulusan perguruan tinggi, akademisi atau sekolam teknik ataupun dari pengalaman kerja.
Dalam perkembagannya arus bebas tenaga kerja sebenarnya juga bisa masuk dalam kerangka AFAS dalam mode 4 untuk memfasilitasi pergerakan tenaga kerja yang didasarkan pada suatu kontrak/perjanjian untuk mendukung kegiatan perdagangan dan investasi di sektor jasa. Salah satu upaya mendukung hal tersebut adalah dengan disusunnya Mutual Recognition Arrangement (MRA) MRA dapat diartikan diakuinya dan diterimanya semua aspek hasil penilaian seperti hasil tes atau berupa sertifikat (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2010).
2.6 Penelitian Terdahulu
Untuk menunjang keberhasilan penelitian ini perlu untuk melihat penelitian terdahulu yang terkait dengan manajemen risiko dan perusahaan konstruksi khususya kontraktor dan pasar konstruksi internasional.
Risiko dapat dibedakan dengan berbagai macam, menurut Enshassi, Mohamed dan Mosa (2008) dalam penelitiannya tentang manajemen risiko pada proyek konstruksi di Palestina dari sudut pandang kontraktor diketahui bahwa risiko dapat dibagi kedalam beberapa hal, yaitu Risiko fisik, Risiko lingkungan, Risiko desain, Risiko logistik, Risiko finansial, Risiko perijinan, Risiko konstruksi, Risiko manajemen.
Dari dua penelitian yang dilakukan Mahendrawati et al (2014) dan Gunham
&Arditi (2005), diketahui bahwa dunia konstruksi internasional memiliki risiko yang lebih tinggi dan variabel yang lebih kompleks, juga memiliki peluang dan ancaman pada pasar yang dituju, dan kesadaran perusahaan kontraktor terhadap diberlakukannya MEA dapat diketahui dengan menilai kewaspadaan dan
23
pengetahuan perusahaan terhadap MEA dan juga menilai pengetahuan perusahaan terhadap peluang dan ancaman yang mungkin muncul dan dihadapi perusahaan ketika diberlakukannya MEA.
Bertinus (2009) dan Sudarto (2007) memberikan gambaran bahwa untuk dapat berkompetisi di pasar global perusahaan harus menyesuaikan keahliannya dengan meningkatkan efektivitas dan efesiensi kinerjanya, mengadopsi sistem teknologi informasi dalam rangka perubahan cara pandan, cara kerja yang berkualitas dan mempunyai standar yang baku, dan menyediakan sumber daya manusia yang mumpuni.
Zain & Kasim (2012) mengatakan bahwa kesiapan suatu perusahaan dalam memasuki pasar internasional dipengaruhi oleh kesadaran mereka terhadap peluang dan ancaman yang muncul akibat dorongan globalisasi.
Pada penelitian yang di lakukan oleh Hamidizadeh dan Zargaranyazd (2014) ada tiga aspek yang dinilai pada perusahaan dalam memasuki pasar internasional untuk menganalisa kesiapan perusahaan dalam memasuki pasar internasional yaitu pemasaran/operasional, fungsional dan komitmen dari manajemen perusahaan.
Prasetyo (2015) mengatakan bahwa 3 faktor kesadaran perusahaan yang mendapatkan persepsi tinggi oleh perusahaan kontraktor di Surabaya dalam menghadapi MEA yaitu kesadaran perusahaan terhadap latar belakang diberlakukannya MEA, dampak negatif MEA bagi perusahaan, dan target pasar tujuan di ASEAN. Sedangkan faktor kesadaran yang mendapatkan persepsi rendah oleh perusahaan adalah kesadaran perusahaan terhadap dampak positif MEA bagi perusahaan dan kesadaran terhadap elemen-elemen regulasi MEA.
Untuk faktor kesiapan didapatkan 14 faktor yang mendapatkan persepsi tinggi oleh perusahaan kontraktor di Surabaya yaitu kesiapan menghadirkan dokumentasi proyek dan pelaksanaan tanggung jawab sosial pada proyek sebelumnya, pemanfaatan kemajuan teknologi IT, kesepakatan keanggotaan tenaga enjiniring ASEAN, rasio keuntungan yang bersaing, SDM yang beretika baik, kemampuan menerima resiko atas penggunaan ilmu dan teknologi konstruksi, penggunaan teknologi konstruksi terbaru, jumlah bisnis utama, strategi menghadapi keterbukaan pasar, kualifikasi non teknis dalam penawaran,
24
perbaikan kekuatan perusahaan dan mengetahui kekuatan kompetitor. Sedangkan faktor kesiapan perusahaan yang paling tidak siap untuk ditanggapi berdasarkan persepsi perusahaan adalah kesiapan perusahaan untuk menghadirkan tenaga kerja asing didalam perusahaan.
Variabel yang didapatkan dari hasil studi literatur dan penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Variabel hasil studi literatur dan penelitian terdahulu
Risiko Faktor risiko Sumber
Risiko Pasar/
Operasional
Perkembangan teknologi Gunhan and Arditi (2005), Prasetyo (2015)
Fasilitas perdagangan Departemen perdagangan RI, Prasetyo (2015) Meningkatnya kebutuhan
infrastruktur
Gunhan and Arditi (2005) Risiko
Fungsional
Perbedaan budaya kerja Chan and Tse (2003), Zhang (2011), Prasetyo (2015) Perubahan tingkat kompetisi
dalam pasar konstruksi secara global
Han et al (2010), Prasetyo (2015)
Kriteria pemilihan dalam pasar konstruksi secara global
Han et al (2010) Manajemen perusahaan dalam
pasar konstruksi secara global
Han et al (2010) Peraturan dan perundangan
kompetisi usaha
Prasetyo (2015) Reputasi perusahaan Jin et al (2013) Tanggung jawab sosial Jin et al (2013) Kepuasan pekerja Jin et al (2013) Jumlah tenaga kerja berubah-ubah Enshaassi et al (2008) kenaikan upah tenaga kerja Enshaassi et al (2008) kekurangan pekerja yang terampil Shen et al (2001) Tenaga kerja kurang berkualitas Zavadskas et al (2009) Kurangnya ketersediaan sumber
daya manusia
Zavadskas et al (2009) Jumlah bisnis utama Jin et al (2013)
Risiko Manajemen
Tingginya hambatan tarif dan non- tarif
Jin et al (2013), Gunhan et al (2005)
Sumber dana Jin et al (2013), Gunhan et al (2005)
Fluktuasi inflasi dan nilai tukar uang
Jin et al (2013), Lu et al (2009), Gunhan et al (2005) Meningkatnya bunga pinjaman Gunhan et al (2005)
Tingkat pendapatan rata-rata Jin et al (2013)
25
Lanjutan tabel 2.3 Variabel hasil studi literatur dan penelitian terdahulu
Risiko Faktor risiko Sumber
Risiko Manajemen
Tingkat penjualan Jin et al (2013) Rasio keuntungan Jin et al (2013) Suap di negara penyelenggara Zhang (2011) Kehilangan tenaga ahli Zhang (2011) Kesepakatan tentang jasa
enjiniring
ASEAN Mutual
Recognition Arrangements Benturan bahasa dan budaya Zhang (2011)
Risiko pengaduan oleh tenaga kerja
Zhang (2011) Kompetisi SDM berkemampuan
yang sangat ketat
Lu et al (2009) Risiko
Kontraktual
Terjadi perubahan kebijakan pemerintah
Dey, K.P, 2002
Kesulitan mendapatkan perijinan Enshaassi dan Mohamed dan Mosa, 2008
ketidakjelasan peraturan perundang-undangan kerja
Enshaassi dan Mohamed dan Mosa, 2008
Risiko Kesiapan &
Kesadaran Kontraktor
Pengetahuan Terhadap MEA Prasetyo (2015)
Peluang dan Ancaman Mahendrawati et al (2014)
Sumber: Hasil Olahan Peneliti (2016) 2.7 Posisi Penelitian
Penelitian ini menggunakan kolaborasi beberapa penelitian terdahulu, metode yang digunakan sama dengan metode yang pernah dilakukan Dewanta yaitu menggunakan metode survey yang berupa kuisioner yang ditujukan kepada pihak responden yang terpilih sebelumnya. Dari penelitian yang dilakukan oleh Hamidizadeh & Zargaranyazd (2014), Enshassi et al (2008), Dey (2002), Prasetyo (2015) dan Shen et al (2001), Variabel dan Kategori risiko yang digunakan dalam penerapan masyarakat ekonomi ASEAN pada kontraktor secara garis besar telah dididentifikasi sebelumnya dari penelitian terdahulu (Prasetyo, 2015) dapat dibagi menjadi risiko pasar dan operasional, risiko fungsional, risiko manajemen, risiko kontraktual, dan risiko kesiapan & kesadaran kontraktor, dan beberapa literatur dan penelitian lainnya untuk mendapatkan variabel.
Perbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian ini yaitu, penelitian terdahulu yang telah dilakukan hanya sebatas analisis aspek-aspek dan faktor
26
persepsi kesiapan dan kesadaran perusahaan dalam menghadapi pasar internasional dan risiko-risiko yang terjadi pada proyek internasional saja, belum ada proses identifikasi dan respon risiko yang dapat memberi gambaran risiko serta antisipasi risiko yang akan terjadi. Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini merupakan pengembangan dari ide peneltitian terdahulu, sehingga identifikasi risiko dapat dilakukan dan risiko yang terjadi dapat di respon.
27 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Konsep Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan survey untuk mengidentifikasi dan menganalisa risiko penerapan MEA pada kontraktor di Surabaya. Penelitian yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan menganalisa risiko yang berdampak signifikan.
Penelitian yang dilakukan berupa survei dengan cara mengupulkan data tentang pendapat dan sikap responden mengenai faktor-faktor risiko yang mempengaruhi dalam pelaksanaan penerapan MEA dan bentuk-bentuk respon yang di lakukan untuk mengantisipasi risiko yang terjadi. Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Kontraktor proyek kontruksi berklasifikasi B1 dan B2 berdasarkan LPJK di Surabaya.
3.2 Identifikasi Variabel
Faktor-faktor risiko yang didapatkan dari studi literatur dan penelitian terdahulu pada bab 2 kemudian diterjemahkan menjadi 44 variabel yang nantinya relevansinya akan diketahui setelah melalui survey pendahuluan dan di kelompokan menjadi peluang dan ancaman. Variabel yang akan di digunakan untuk mengidentifikasi risiko akan yang terjadi pada saat penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada kontrakor ditunjukan pada tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Variabel Kuisioner Variabel Risiko Pada Kontraktor
Risiko Pasar/Operasional
1 Kemampuaan memanfaatkan teknologi konstruksi terbaru dan teknologi informasi
2 Pengetahuan regulasi ekspor impor, kepabeanan, prosedur dan sistem yang harus sudah diantisipasi perusahaan terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN 3 Kemampuan memenuhi kebutuhan produk konstruksi infrastruktur dan
teknologi perusahaan dalam mengerjakan proyek infrastruktur Risiko Fungsional
4 Kemampuan bernegosiasi dalam mengatasi dan mengerti budaya kerja di negara tujuan ekspansi
5 Perusahaan memperbaiki kekuatan perusahaan dalam rangka meningkatkan daya saing dengan kompetitor lokal maupun asing
28
Lanjutan Tabel 3.1 Variabel Kuisioner Variabel Risiko Pada Kontraktor
Risiko Fungsional
6 Perusahaan memenuhi kualifikasi non-teknis dalam melakukan penawaran, baik dari kualifikasi manajemen perusahaan, sumber pendanaan hingga
kualifikasi personil perusahaan dan memiliki kemampuan negosiasi pra tender maupun pasca tender
7 Perusahaan memiliki personil manajemen yang multinasional (lintas negara) 8 Perusahaan mampu memberi kepuasan dalam hal pemberian tanggung jawab,
peluang, jenjang karir dan insentif sesuai harapan dari para pekerja
9 Perusahaan memiliki tingkat kedisiplinan pekerja di tiap negara yang tidak sama dan kurang pengawasan
10 Kesiapan perusahaan menghadapi kenaikan upah dikarenakan penambahan jam kerja, mauapun keadaan ekonomi suatu negara
11 Perusahaan memiliki jumlah tenaga kerja bersertifikat yang cukup dikarenakan perbedaan standar kompetensi tenaga kerja
12 Perusahaan memiliki standar kompetensi yang menjamin kualitas pekerja 13 Perusahaan memliki proses rekrutmen SDM yang menjaring kebutuhan akan
tenaga kerja
14 Perusahaan mampu melaksanakan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar proyek dengan baik
15 Perusahaan memahami dan mengerti peraturan dan perundangan kompetisi usaha di negara negara ASEAN
16 Perusahaan memiliki reputasi perusahaan yang baik secara nasional maupun internasional
Risiko Manajemen
17 Menentukan bisnis utama dan jumlah bisnis yang dijalankan ketika memasuki pasar konstruksi internasional
18 Terkena Hambatan tarif dan non tarif yang berlaku di negara tujuan ekspansi 19 Perusahaan mampu mendanai proyek dengan nilai yang besar dalam
mengerjakan proyek infrastruktur
20 Kemampuan perusahaan dalam Menginisiasi proyek dengan tipe Build- Operate-Transfer
21 Terjadi Fluktuasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara ASEAN
22 Memiliki SDM perusahaan berasal dari institusi yang terakreditasi baik dari negara asal maupun negara penyelenggara
23 Perusahaan memiliki SDM yang memiliki kemampuan komunikasi berbahasa asing yang baik
24 Perusahaan mengerti tentang aturan dari serikat ketenagakerjaan di negara- negara ASEAN
25 Perusahaan memiliki tenaga ahli yang memiliki pengalaman seminimnya 7 tahun setelah lulus dari perguruan tinggi dan setidaknya 2 tahun pengalaman dalam pekerjaan enjiniring tertentu
26 Perusahaan memiliki tingkat penjualan yang cukup bersaing dengan kompetitornya