21
MANAJEMEN PELAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS MELALUI SUPERVISI DISKUSI DI SEKOLAH
DASAR ALAM INSAN MULIA (SAIM) SURABAYA
M. Yusuf Aminuddin Abstract
Education in Indonesia is granted to all citizens according to regulations, there is no discrimination in access to education. The same opportunities for education for all Indonesian citizens in line with the Dakar Declaration of 2000 on the World education forum produce a global agreement that education for all.
Education that unites normal children with physically disabled children, children who have more ability or referred to children with special needs in one place is called inclusive education. One of the designated schools are elementary Saim since July 2012. Service management crews by the class teacher is still very poor due to a special teacher comes only once in a month and the new second grade teacher who has been educated to take the training to become a master Special Advisor (GPK) , How to improve service to the crew in Saims Elementary School is Principal proper supervision to the teacher. Based on the stages of research that uses qualitative approach to research design action for three cycles obtained positive results for the school.
Keywords : supervision discussion, service management, children with special needs.
Pendahuluan
Pendidikan merupakan kegiatan manusia yang dilakukan semenjak dilahirkan bahkan dalam kandungan. Pendidikan di Indonesia diberikan kepada seluruh warga negara sesuai peraturan yang berlaku, tidak ada diskriminasi dalam memperoleh pendidikan. Memperoleh pendidikan merupakan hak setiap warga negara, oleh karena itu negara berkewajiban memfasilitasi proses pendidikan bagi warga negaranya. Kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan bagi semua warga negara Indonesia selaras dengan Deklarasi Dakar tahun 2000 dari World education forum menghasilkan kesepakatan global yaitu education for all, berisi tentang:
1. Meningkatkan dan memperluas pendidikan anak-anak secara menyeluruh terutama bagi anak-anak yang kurang beruntung
22
2. Semua anak-anak pada tahun 2015 khususnya perempuan, anak-anak dengan kondisi yang memprihatinkan dan yang merupakan etnis minoritas harus bisa memperoleh dan menempuh pendidikan dasar berkualitas baik secara cuma- cuma.
3. Pada tahun 2015 diharapkan akan ada peningkatan sekitar 15% untuk tingkat baca tulis orang dewasa, khususnya wanita, dan akses yang menjunjung keseimbangan akan pendidikan yang berlanjut untuk semua orang dewasa.
4. Menghilangkan isu gender dalam pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai keseimbangan gender dalam pendidikan pada tahun 2015.
Hal ini berfokus pada akses seimbang dan menyeluruh untuk wanita dalam pendidikan dasar yang berkualitas baik.
5. Memperbaiki dalam semua aspek dalam kualitas pendidikan sehingga semua hasilnya bisa dinikmati oleh semua pihak, terutama dalam baca tulis, menghitung dan ketrampilan siap pakai.1
Pendidikan untuk semua berarti tidak membedakan suku, agama, sosial, kemampuan, dan keadaan fisik seseorang. Pendidikan untuk semua berarti pendidikan tidak boleh dilakukan secara terpisah menurut perbedaan di atas.
Pendidikan untuk siswa yang mengalami cacat fisik tidak boleh dipisahkan atau disendirikan, berbeda dengan siswa yang normal. Siswa normal dengan siswa yang cacat fisik dijadikan satu dalam pelaksanaan pendidikan dalam satu tempat.
Pendidikan yang menyatukan anak yang normal dengan anak yang cacat fisik, anak yang mempunyai kemampuan lebih atau disebut Anak Berkebutuhan Khusus dalam satu tempat dinamakan pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi menurut Direktorat PLB adalah model pendidikan yang mengikutsertakan anak- anak yang berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak sebayanya di sekolah umum, dan pada akhirnya menjadi bagian dari masyarakat sekolah tersebut sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.2 Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan wujud dari sikap manusia yang mempunyai
1 Budiyanto.Pengantar Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya Lokal. (Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005), hal 17
2 Ibid,17.
23
kedudukan sama dalam memperoleh pendidikan. Pemberian pendidikan tanpa pengelompokan dari individu yang normal dan yang berkebutuhan khusus akan lebih memberikan kepercayaan bagi individu yang berkebutuhan khusus.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Naional Nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan bermutu serta bagi warga yang memiliki kelainan khusus berhak memperoleh pendidikan khusus.
Guna menjamin pelayanan pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas maka pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional menerbitkan Peraturan Mendiknas nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusi bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
Pendidikan inklusi menurut Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
Penyelenggaraan pendidikan inklusi Provinsi Jawa Timur diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi Provinsi Jawa Timur, dalam Pasal 2 dijelaskan tujuan pendidikan inklusi adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.3
Pendidikan inklusi sangat dibutuhkan bagi memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa. Salah satu penyelenggara pendidikan inklusi adalah sekolah dasar.
Namun belum semua sekolah dasar menyelenggarakan pendidikan inklusi.
3Peraturan Gubernur Jawa timur nomor 6, Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Provinsi Jawa Timur, 2007.
24
Di Kota Surabaya banyak sekolah yang menjadi sasaran dan target inklusi yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga menyelenggarakan pendidikan inklusi. Salah satu sekolah dasar yang ditunjuk adalah SD SAIM sejak bulan Juli tahun 2012.
SD SAIM ada 5 kelas yang terdapat anak berkebutuhan khusus yaitu kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5,dan kelas 6. Manajemen pelayanan anak berkebutuhan khusus oleh guru kelas masih sangat kurang disebabkan guru khusus hanya datang sekali dalam satu bulan dan baru 2 guru kelas yang sudah mendapat pendidikan menempuh diklat menjadi Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kekurangan Guru Pembimbing Khusus sebenarnya bisa diatasi dengan bekerjasama dengan SLB KARTIKA yang berjarak 2 km dari SD SAIM Surabaya. Namun yang menjadi kendala guru yang ditugaskan dari SLB hanya bisa datang sekali setiap bulan karena harus melaksanakan tugas utamanya di SLB tersebut.
Ketidakmampuan sekolah melayani anak berkebutuhan khusus salah satunya terlihat dari ada anak berkebutuhan khusus yang tidak mau masuk kelas dan minta ditunggu oleh orang tuanya. Permasalahan ini perlu dicari solusi oleh kepala sekolah sehingga kemampuan sekolah dalam melayani anak berkebutuhan khusus dapat ditingkatkan. Sesuai dengan pendapat Kustawan fungsi pendidikan inklusi adalah semua anak mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhannya, serta terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi semua anak untuk mengembangkan potensinya.4
Manajemen pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus di SD SAIM Surabaya bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya;
1. Mengirim guru kelas yang belum mengikuti pelatihan untuk menempuh diklat menjadi Guru Pembimbing Khusus.
2. Menambah jumlah guru khusus yang ditugaskan di SD SAIM dan setiap hari berada di sekolah tersebut.
3. Kepala Sekolah melakukan supervisi yang tepat kepada guru
4Dedy Kustawan. Pendidikan Inklusif dan Upaya implementasinya. (Jakarta: PT Luxima Metro Media, 2012), 10.
25
Dari tiga cara untuk meningkatkan manajemen pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus di SD SAIM Surabaya yang paling tepat adalah Kepala Sekolah melakukan supervisi yang tepat kepada gurukarena permasalahan ini harus segera diselesaikan dan sesuai dengan situasi dan kondisi SD SAIM Surabaya. Sesuai pendapat Pidarta, supervisi yang dilakukan harus bersifat kontekstual, artinya sifat dan isi supervisi pada setiap daerah sangat mungkin berbeda-beda.5
Informasi dari Kepala SD SAIM Surabaya bahwa ada 2 guru yang sudah mampu melaksanakan pelayanan anak berkebutuhan khusus di kelasnya dan dibantu 2 guru SLB yang datang setiap bulan sekali. Informasi tersebut dapat dijadikan acuan untuk menggunakan supervisi yang sesuai.
Teknik supervisi diskusi merupakan cara yang tepat dalam membina guru kelas di sekolah inklusi karena antara guru kelas dengan guru kelas lain, guru SLB, serta kepala sekolah saling berdiskusi untuk menentukan cara yang tepat dalam melayani Anak Berkebutuhan Khusus di SD SAIM Surabaya. Teknik supervisi diskusi menurut Pidarta, bersifat kelompok dilakukan kepala sekolah sebagai supervisor dengan para guru atau ditambah dengan supervisor lain dan masyarakat disesuaikan dengan materi yang didiskusikan dan hasil yang ingin diperoleh dari supervisi diskusi tersebut.6
Teknik supervisi diskusi perlu dilakukan kepala SD SAIM Surabaya karena antara guru kelas dapat saling memberi dan menerima pendapat dalam memberi pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus hasil pelatihan maupun pengalaman dari masing-masing guru kelas. Teknik supervisi diskusi lebih efektif dan efisien dilaksanakan. Guru kelas yang belum atau sudah memiliki dasar dalam melayani anak berkebutuhan khusus berdiskusi untuk menentukan solusi dari permasalahan yang ditemui di kelasnya sehingga dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada Anak Berkebutuhan Khusus.
Berdasarkan fenomena dan pemikiran di atas maka berikut ini adalah fokus penelitian yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan tahapan riset secara
5 Ibid, 2.
6 Ibid, 2.
26
lebih spesifik dan mendalam mengenai manajemen pelayanan ABK dan supervisi diskusi ini sebagai berikut.
1. Manajemen pelayanan sekolah kepada anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran sebelum dan sesudah dikembangkan
2. Manajemen pelayanan sekolah kepada anak berkebutuhan khusus di luar kelas sebelum dan sesudah dikembangkan
3. Teknik supervisi diskusi kepala sekolah dasar kepada guru kelas sebelum dan sesudah dikembangkan.
Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus menurut Kustawan adalah mereka yang karena suatu hal khusus (baik yang berkebutuhan khusus permanen dan yang bekebutuhan khusus temporer) membutuhkan pelayanan pendidikan khusus agar potensinya dapat berkembang secara optimal.7 Anak berkebutuhan khusus menurut Heward dalam Mudjito adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.8 Dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang karena suatu hal mempunyai karakteristik yang berbeda dengan anak pada umumnya sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus agar potensinya dapat berkembang secara optimal.
Anak berkebutuhan khusus dalam sekolah inklusi menjadi peserta didik di sekolahan tersebut. Dijelaskan dalam Pedoman teknis penyelenggaraan pendidikan inklusif di Jawa timur, bahwa peserta didik berkebutuhan khusus adalah peserta didik yang memiliki karakteristik, perkembangan, dan pertumbuhan berbeda bila dibandingkan dengan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik pada umumnya.9Oleh karena itu Anak Berkebutuhan Khusus harus mendapat layanan pendidikan sesuai hambatannya sehingga dapat
7 DedyKustawan, Pendidikan Inklusif dan Upaya implementasinya. (Jakarta: PT Luxima Metro Media, 2012), 23.
8Elfindri dan Harizal Mudjito, Pendidikan Inklusif, (Jakarta: Baduose Media, 2012), 25.
9Peraturan Gubernur Jawa timur nomor 6. Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, (Provinsi Jawa Timur, 2012), 8.
27
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan dapat berkembang secara optimal.
Anak berkebutuhan khusus ada yang permanen dan ada yang temporer.
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen yaitu mereka yang memperoleh hambatan belajar dan hambatan perkembangannya disebabkan dari dalam dirinya, misalnya gangguan penglihatan, pendengaran, dan gangguan motorik. Sedangkan anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer yaitu mereka memperoleh hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan dari luar dirinya, misalnya anak dari keluarga tidak mampu, anak dari masyarakat terasing, dan anak yang mengalami bencana alam.
Pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila guru mamahami materi yang sudah dikuasai siswa serta memahami karakteristik siswa. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memerlukan pelayanan khusus dalam pembelajaran di kelas inklusi. Anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang khusus sesuai kebutuhannya tidak sama dengan anak normal.
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Jawa Timur, menjelaskan peserta didik berkebutuhan khusus dalam penyelenggaraan pendidikan inklusisf adalah sebagai berikut:10
1. Tunanetra (A); adalah peserta didik yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan (tunanetra total).
2. Tunarungu (B); adalah peserta didik yang memiliki gangguan pendengaran baik yang permanen maupun tidak permanen.
3. Tunawicara (B); adalah peserta didik yang memiliki gangguan dalam berbicara.
4. Tunagrahita (C); adalah peserta didik yang memiliki kemampuan intelegensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan.
10Ibid, 8-9.
28
5. Tunadaksa (D); adalah peserta didik yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan truktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk karena cerebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh.
6. Tunalaras; adalah peserta didik yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
7. Berkesulitan Belajar; adalah peserta didik yang memiliki gangguan pada satu atau lebih proses psikologi dasar yang meliputi pemahaman atau penggunaan bahasa, wicara maupun tertulis, yang mungkin tampil dalam ketidaksempurnaan kemampuan untuk mendengar, berpikir, bicara, membaca, mengeja, atau melakukan perhitungan matematika.
8. Lamban Belajar; adalah peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan di batas ambang yakni tingkat IQ 71-89
9. Autis; adalah peserta didik yang mengalami gangguan perkembangan secara signifikan mempengaruhi kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal serta interaksi sosialnya.
10. Memiliki Gangguan Motorik; adalah peserta didik yang mengalami gangguan dalam aktifitas motoriknya.
11. Menjadi Korban Penyalahgunaan Narkoba, Obat Terlarang, dan Zat Adiktif Lainnya.
12. Tunaganda (G); adalah peserta didik yang mengalami dua atau lebih kelainan dalam segi jasmani, keindraan, mental, social, dan emosi, sehingga untuk mencapai perkembangan kemampuan yang optimal diperlukan pelayanan khusus dalam pendidikan, medis, dan sebagainya.
13. Cerdas dan/atau Berbakat Istimewa; peserta didik cerdas istimewa memiliki karakteristik IQ di atas 130.
14. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif.
29 Guru Kelas
Guru kelas dalam Peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama Nomor:
05/x/pb/2011,spb/03/m.pan-rb/10/2011,48t tahun 2011, 158/pmk.01/2011,11tahun 2011 tahun 2011 tentang penataan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam proses pembelajaran seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK/TKLB dan SD/SDLB dan satuan pendidikan formal yang sederajat.11
Guru kelas di kelas inklusi menurut Budiyanto, harus menguasai ke PLB- an (orthopedagogik), utamanya agar dapat menjawab siapa, mengapa, dan bagaimana secara umum. Penguasaan guru kelas tentang ke PLB-an dilakukan dengan pengembangan profesi yang materinya menurut Budiyanto adalah:12
1. Materi bidang studi
2. Metodologi pembelajaran, sub kajian yang diberikan: (a) Pembuatan persiapan pembelajaran; (b) strategi pembelajaran; (c) pengembangan media pembelajaran; dan (d) penilaian pembelajaran serta pemaknaannya
3. Pemahaman terhadap kemampuan, potensi, dan perilaku siswa, topik relevan dengan materi ini adalah: (1) Psikologi anak; (2) psikologi dan konseling perkembangan; dan (3) psikologi kepribadian
4. Metodologi penelitian, topik yang relevan dikembangkan adalah penelitian tindakan kelas
5. Mengantisipasi globalisasi, topik kajian yang diberikan adalah: (1) Penggunaan bahasa inggris; (2) teknologi informasi; (3) teknologi baru dalam pendidikan.
11Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama Nomor 05/x/pb/2011, spb/03/m.pan-rb/10/2011, 48t tahun 2011, 158/pmk.01/2011, 11 tahun 2011 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil.
12Budiyanto. Pengantar Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya Lokal. (Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005), hal 211.
30 Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
Pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus dilakukandi dalam kelas yang disebut kelas inklusi dan pelayanan di luar kelas. Kelas inklusi adalah kelas yang terdapat di sekolah yang mengadakan pendidikan inklusif. Menurut Johnsen dan Skojen dalam Budiyanto menjabarkan pendidikan inklusif dalam 3 prinsip yaitu:13
1. Bahwa setiap anak termasuk dalam komunitas setempat dan dalam suatu kelas atau kelompok.
2. Bahwa hari sekolah diatur penuh dengan tugas-tugas pembelajaran kooperatif dengan perbedaan pendidikan dan kefleksibelan dalam memilih dengan sepuas hati.
3. Guru bekerja bersama dan mendapat pengetahuan pendidikan umum, khusus dan teknik belajar individu serta keperluan-keperluan pelatihan dan bagaimana mengapresiasikan keanekaragaman dan perbedaan individual dalam pengorganisasian kelas
Sekolah Inklusif
Sekolah inklusif merupakan pelaksanaan dari Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif. Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan terdiri dari anak yang memiliki kelainan dan anak yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.14
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah membuat Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Jawa Timur sehingga menjadi dasar dari
13Op.cit. Budiyanto,...]41.
14Ibid, 27.
31
sekolah inklusif di Jawa Timur. Sekolah inklusif yang menyelenggarakan pendidikan inklusif bertujuan:
1. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/ atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
2. Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik berkebutuhan khusus.
3. Membangun karakter, nilai, dan norma bagi semua peserta didik di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.
Supervisi
Sebuah kegiatan atau pekerjaan akan berhasil sesuai dengan harapan apabila selalu diadakan supervisi dari kegiatan yang sudah dilakukan. supervisi kegiatan bisa dilakukan oleh pelaku kegiatan maupun orang lain. Supervisi kegiatan sangat berguna untuk memperbaiki kegiatan yang sudah dilakukan jika masih ada yang kurang benar, jika sudah baik maka akan dipertahankan.
Sekolah sebagai salah satu tempat dilaksanakan kegiatan pendidikan merupakan tempat untuk menyiapkan generasi bangsa. Supervisi dalam dunia pendidikan menurut Pidarta mengacu kepada kegiatan memperbaiki proses pembelajaran yang berkaitan dengan meningkatkan pribadi guru, meningkatkan profesi guru, kemampuan berkomunikasi dan bergaul baik dengan warga maupun masyarakat, dan upaya meningkatkan kesejahteraan guru. 15
Sahertian menyatakan supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru baik secara individual maupun kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.16 Purwanto mendefinisikan supervisi yaitu suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan
15Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), 1.
16A Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) 19.
32
mereka secara efektif.17 Dapat disimpulkan bahwa supervisi merupakan pelayanan kepada guru baik individu maupun kelompok agar dapat melakukan pekerjaan secara efektif sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar siswa.
Teknik Supervisi Diskusi
Teknik supervisi menurut Gwyn dalam Sahertian ada 2 yaitu teknik yang bersifat individual dan teknik yang bersifat kelompok.18 Teknik supervisi individual yaitu seorang guru disupervisi oleh seorang supervisor, sedangkan supervisi kelompok adalah beberapa guru disupervisi oleh seorang atau lebih supervisor.
Pidarta, pengertian teknik supervisi kelompok adalah pembinaan terhadap sejumlah guru oleh satu atau beberapa supervisor.19 Beberapa Guru dapat dikelompokkan untuk disupervisi apabila mempunyai permasalahan yang sejenis atau berhubungan. Pelaksanaan supervisi dilakukan secara kelompok agar efisien dan efektif. Teknik supervisi kelompok ada beberapa jenis Pidarta yaitu:20 (a) Rapat guru; (b) supervisi sebaya; (c) diskusi; (d) demonstrasi; (e) pertemuan ilmiah; (f) kunjungan ke sekolah lain. Namun peneliti memilih menggunakan teknik supervisi diskusi sebagai bahan untuk peningkatan pelayanan anak ABK.
Proses teknik supervisi diskusi menurut Pidarta, adalah sebagai berikut:21 1. Proses supervisi dimulai dengan ada suatu permasalahan yang bertalian dengan
upaya meningkatkan profesi guru.
2. Masalah atau sejumlah masalah di atas bisa terjadi pada guru bisa juga ditangkap oleh supervisor.
3. Inisiatif mengadakan pertemuan atau diskusi muncul, bisa dari guru dan bisa juga dari supervisor
4. Undangan dibuat untuk para peserta, 5. Proses supervisi terjadi.
17Ngalim Purwanto,. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2008),76.
18Ibid, 52.
19Ibid, 65.
20Ibid,169.
21Ibid,180-181.
33
6. Perdebatan atau diskusi berhenti setelah peserta menemukan jalan keluar permasalahan-permasalahan yalan keng dibahas.
7. Tindak lanjut diadakan kalau para peserta menghendakinya.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis action research mengacu pada fokus penelitian yang telah di kemukakan. Penelitian ini merupakan suatu penelitian tindakan di Sekolah Dasar SAIM Surabaya, yang berupaya memberikan gambaran secara sistematis dan akurat, serta dapat mengungkapkan peningkatan pelayanan anak berkebutuhan khusus melalui teknik supervisi diskusi.
Dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan bukan berupa angka- angka melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, video, tape, dokumentasi pribadi, catatan atau memo dan dokumentasi lainnya.22
Penelitian tindakan adalah suatu kegiatan (tindakan) dengan menguji cobakan suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala yang mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas. Tujuan penelitian tindakan adalah peningkatan praktek, peningkatan pengembangan profesional oleh praktisinya dan juga peningkatan situasi tempat pelaksanaan praktek.
Penelitian ini dilaksanakan dengan proses pengkajian berdaur yang terdiri dari merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi. Dalam hal ini Syaodih menjelaskan penelitian kualitatif (Qualitative Research) sebagai suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Beberapa deskripsi tersebut digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang menuju pada kesimpulan.
Desain dalam penelitian aksi sebagai berikut.23
22 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta : 2002, Rineka Cipta) 8.
23 Wahyudi Dwijowinoto, Metodologi Penelitian, (Surabaya: FBS Unesa, 2009),12.
34 1. Melakukan studi awal
Semua fokus yang diteliti disurvei di lapangan.
2. Menentukan cara mengembangkan
a. Hasil studi awal ditunjukkan kepada ketua lembaga atau kepala sekolah tempat melakukan penelitian
b. Ketua lembaga diajak bekerjasama mengembangkan fokus-fokus di atas, dengan menerapkan konsep-konsep atau teori-teori yang bertalian dengan fokus-fokus itu yang telah dibahas dalam bab kajian teori.
3. Pengembangan
a. Semua fokus dikembangkan sampai standar atau kriteria yang sudah ditentukan tercapai
b. Siklus pengembangan penelitian dijelaskan pada bagan di bawah ini.
Bagan 1. Pengembangan Penelitian
Sumber : (Dwidjowinoto, 2009:12)
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar SAIM Surabaya dengan asumsi pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus belum maksimal. Hal ini didasarkan pada jumlah guru pembimbing khusus di sekolah tersebut baru 2
Perencanaan Pelaksanaan
Pengamatan Analisis Data
Refleksi I Permasalahan Siklus I
Hasil Siklus I Perencanaan Pelaksanaan
Pengamatan Analisis Data
Refleksi II Siklus II
Belum
terselesaikan Siklus selanjutnya
35
orang, guru khusus dari SLB hanya datang sebulan sekali, dan masih ada siswa yang belum mau masuk kelas serta didampingi orang tuanya.
Kelas inklusi di Sekolah Dasar SAIM Surabaya ada 5 kelas, sehingga masih kurang 3 guru pembimbing khusus dalam melayani anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi tersebut. Berdasarkan keadaan tersebut peneliti tertarik meneliti supervisi Kepala Sekolah dalam membina guru agar dapat melayani anak berkebutuhan khusus dengan baik melalui supervisi diskusi.
Subyek dalam penelitian ini meliputi 1) Kepala sekolah
Kepala sekolah sebagai supervisor Hasil pembinaan kepala sekolah kepada guru akan mempengaruhi pelaksanaan pendidikan inklusi agar dapat berjalan dengan baik yang artinya pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus sesuai dengan apa yang seharusnya diterima.
2) Guru kelas
Guru kelas sebagai pelaksana pendidikan inklusi yang akan melayani anak berkebutuhan khusus di kelas dalam pembelajaran maupun ketika berada di luar kelas. Hasil pembinaan kepada guru kelas akan terlihat dari pelayanan guru kelas terhadap anak berkebutuhan khusus tersebut. Jumlah guru kelas sebagai subyek penelitian ada 5 guru
3) Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus sebagai peserta didik yang akan merasakan langsung perbedaan pelayanan guru kelas hasil pembinaan kepala sekolah kepada guru kelas melalui supervisi diskusi. Jumlah anak berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya ada 16 anak.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: 1) wawancara; 2) observasi;
3) dokumentasi. Adapun teknik keabsahan data yang digunakan adalah: 1) kredibilitas; 2) transferabilitas; 3) dependabilitas; dan 4) konfirmabilitas.
36
Bagan 2. Alur Pikir Masalah dan Tindakan Studi awal
Pelayanan kepada Anak
Berkebutuhan Khusus belun sesuai kriteria yang ditetapkan,
haltersebut terlihat dari:
a. Guru Pembimbing Khusus baru 2 orang.
b. Guru pendamping dari SLB datang di Sekolah Dasar SAIM Surabaya hanya sekali sebulan
c. Ada satu ABK belum mau masuk kelas dan minta ditunggu orang tuanya
d. Pemahaman supervisi diskusi oleh Kepala Sekolah dan Guru masih kurang
Tindakan I a. Semiloka tentang
supervisi diskusi dan pelayanan Anak
Berkebutuhan Khusus di sekolah inklusi
b. Pelaksanaan supervisi c. Observasi
d. Analisis Data
e. Diskusi temuan baru f. Perencanaan tindakan II
Tindakan II a. Pelaksanaan supervisi b. Observasi
c. Analisis Data
d. Diskusi temuan baru e. Perencanaan tindakan III
Tindakan III a. Pelaksanaan supervisi b. Observasi
c. Analisis Data
d. Diskusi temuan baru e. Perencanaan tindakan f. Diskusi dan wawancara Rekomendasi
a. Tujuan dan hasil
tindakan tercapai, siklus tindakan berhenti
b. Tujuan dan hasil tindakan belum sesuai target dilanjutkan ke perencanaan tindakan IV
Peningkatan Pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah
Dasar SAIM Surabaya
37 Pembahasan Proses Supervisi Diskusi
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti tentang tindakan Kepala Sekolah dalam supervisi diskusi, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan
1. Studi awal
Pada penelitian awal hasil wawancara, dokumentasi, dan observasi diketahui bahwa Kepala Sekolah sudah melaksanakan supervisi kepada semua guru.Supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah adalah teknik supervisi observasi kelas.Pelaksanaan supervisi observasi kelas sesuai dengan jadwal supervisi yang dibuat oleh Kepala Sekolah, setiap semester ada jadwal supervisi dan seorang guru mendapat supervisi satu kali.Supervisi observasi kelas yang dilakukan Kepala Sekolah merupakan tugas rutin saja tanpa didasari oleh fungsi supervisi sepenuhnya.
Fungsi supervisi menurut Pidarta (2009:3) adalah membantu sekolah menciptakan lulusan yang baik dalam kuantitas dan kualitas, serta membantu guru agar bisa dan dapat bekerja secara profesional sesuai dengan kondisi masyarakat tempat sekolah itu berada.Supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah Sekolah Dasar SAIM Surabaya belum sepenuhnya membantu guru bisa dan dapat bekerja secara profesional karena supervisi yang dilakukan hanya karena tuntutan tugas secara administrasi saja.
Pelaksanaan supervisi tidak sesuai dengan proses supervisi observasi kelas karena tidak ada pertemuan balikan, padahal proses supervisi observasi kelas menurut Pidarta (2009:93) ada tiga bagian yaitu persiapan, proses supervisi, dan pertemuan balikan. Tidak ada pertemuan balikan menyebabkan tidak ada bimbingan dari Kepala Sekolah terhadap kekurangan guru setelah dilakukan supervisi.
Teknik supervisi yang dilakukan juga tidak bervariasi sehingga tidak bisa membantu guru mengatasi kekurangannya sehingga mengurangi pelayanan kepada siswa.Seharusnya teknik supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah disesuaikan dengan tujuan dan fungsi supervisi.
38
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah disebutkan kompetensi supervisi Kepala Sekolah dijelaskan bahwa Kepala Sekolah harus
a. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
Penggunaan teknik supervisi yang selalu sama, pelaksanaan supervisi yang dilakukan tidak sesuai dengan proses supervisi, dan hasil supervisi dari Kepala Sekolah belum sesuai dengan yang diharapkan menunjukkan bahwa pengetahuan Kepala Sekolah tentang supervisi masih kurang.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pengetahuan Kepala Sekolah tentang supervisi yang masih kurang tersebut mempengaruhi pelayanan kepada ABK, sehingga diperlukan tambahan pengetahuan tentang supervisi kepada Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Dasar SAIM Surabaya. Pemahaman tentang supervisi yang benar akan merubah image guru tentang supervisi. Sebelumnya supervisi dianggap kegiatan yang menakutkan karena hanya berhubungan dengan nilai guru saja bukan sebagai sarana peningkatan profesionalisme guru.
Tambahan pengetahuan tentang supervisi dilakukan dengan mengadakan semiloka. Semiloka menghadirkan nara sumber yang kompeten yaitu pengawas sekolah. Materi semiloka selain supervisi juga pelayanan kepada ABK di sekolah inklusi. Kegiatan semiloka yang direncanakan ada tanya jawab dan diskusi tidak bisa terlaksana sesuai rencana. Tetapi materi semiloka bisa disampaikan semua kepada peserta semiloka.Pengaruh pengawas sebagai atasan dan guru sebagai bawahan mempengaruhi keberanian guru dalam menyampaikan pendapatnya. Penyebab lain juga guru kurang terbiasa menyampaikan pendapat dalam pertemuan yang diadakan oleh sekolah
39
maupun Dinas Pendidikan. Kepala Sekolah, guru, dan pengawas merupakan teman sejawat yang bisa saling bertukar pikiran untuk kemajuan pendidikan.
Berarti guru perlu berlatih dan dibiasakan untuk berdiskusi agar selalu berkembang kemampuan dan kompetensinya.
3. Pelaksanaan Pengembangan.
Hasil temuan awal bahwa Kepala Sekolah Sekolah Dasar SAIM Surabaya belum pernah melakukan supervisi diskusi sehingga perlu tindakan memberikan pemahaman tentang supervisi diskusi.Hasil tindakan tersebut sebagai bekal Kepala Sekolah melaksanakan supervisi diskusi kepada guru.
Pelaksanaan supervisi diskusi sesuai proses yaitu:
a. Permasalahan bertalian dengan upaya meningkatkan profesi guru Sekolah Dasar SAIM Surabaya sebagai sekolah inklusi harus dapat melayani Anak Berkebutuhan Khusus sesuai petunjuk pelaksanaan sekolah inklusi.Pelaksana pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus adalah Kepala Sekolah dan guru.Kepala Sekolah dan guru harus mampu melayani ABK dalam pembelajaran dalam kelas dan pelayanan di luar kelas.
Kepala Sekolah harus selalu membina dan membimbing guru untuk meningkatkan kompetensi dalam melayani ABK. Permasalahan yang didiskusikan dalam teknik supervisi diskusi sudah sesuai dengan tugas guru dalam melayani ABK di sekolah inklusi dan dibutuhkan guru untuk segera diselesaikan. Agar supervisi diskusi berjalan dengan baik maka permasalahan tersebut harus disepakati oleh Kepala Sekolah dan guru sehingga pelaksanaan diskusi dapat menghasilkan kesepakatan sesuai tujuan yang direncanakan. Perincian permasalahan yang sudah ditentukan hasil kesepakatan Kepala Sekolah dan Guru memudahkan Kepala Sekolah atau guru menyiapkan bahan untuk didiskusikan. Persiapan bahan diskusi akan mengaktifkan semua peserta baik Kepala Sekolah maupun guru dalam proses supervisi seperti pendapat Pidarta (2009:180) adalah Para peserta, yaitu guru-guru dan supervisor atau para supervisor berdiskusi, setelah guru menyampaikan masalahnya atau supervisor mengemukakan informasi yang diterimanya.Wujud diskusi tidak selalu stabil, tetapi dapat menjadi dinamis,
40
berdbat, mempertahankan pendapat, mengemukakan argumentasi, dan sebagainya. Yang perlu dijaga adalah berdebat secara alamiahberdasarkan data dan hati tetap dingin.
Proses diskusi tersebut bisa terlaksana apabila permasalahan yang disikusikan berhubungan dengan kebutuhan peserta diskusi dan sudah ada persiapan dari semua peserta diskusi
b. Pengaturan Waktu
Waktu supervisi berpengaruh terhadap pelaksanaan diskusi yang dilakukan Kepala Sekolah.Waktu pelaksanaan supervisi bisa mendadak maupun sudah direncanakan sebelumnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan maupun pembimbingan terhadap guru yang mendapat supervisi.
Waktu pelaksanaan supervisi diskusi harus ditentukan dengan tepat karena akan mempengaruhi suasana supervisi sehingga tujuan Kepala Sekolah melaksanakan supervisi bisa tercapai. Waktu supervisi diskusi juga bisa mendadak apabila semuanya siap dan permasalahan harus segera diselesaikan.Waktu pelaksanaan supervisi diskusi di Sekolah Dasar SAIM Surabaya ditentukan sesuai kesepakatan peserta diskusi. Di Sekolah Dasar SAIM Surabaya ada 6 guru kelas dan 3 guru mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Agama Islam, mata pelajaran Pendidikan Olah Raga, dan mata pelajaran Bahasa Inggris, hal ini memudahkan Kepala Sekolah dan guru untuk menentukan waktu pelaksanaan supervisi diskusi. Keuntungan jumlah guru yang tidak banyak dan selalu berada di sekolah serta selalu bisa berkooordinasi berpengaruh besar dalam menentukan waktu pelaksanaan supervisi diskusi.
Penentuan waktu supervisi diskusi dan selalu dapat dilaksanakan merupakan faktor penting dalam melaksanakan program peningkatan pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya. Kepala Sekolah sebagai supervisor akan mudah melakukan evaluasi untuk dituliskan di jurnal kegiatan apabila waktu yang sudah diprogramkan bisa berjalan sesuai rencana.
41 c. Pelaksanaan Diskusi
Pelaksanaan diskusi dalam teknik supervisi diskusi yang dilakukan Kepala Sekolah merupakan kegiatan terpenting. Kepala Sekolah sebagai supervisor harus dapat berperan sebagai pembantu, pendorong, dan menstimulasi kinerja guru agar dapat bekerja sama dalam melaksanakan tugas dan mengembangkan kompetensinya.
Wiles dalam Sahertian (2008:26) menegaskan peranan seorang supervisor ialah membantu, memberi suport dan mengikutsertakan, bukan mengarahkan terus-menerus karena terus-menerus mengarahkan selain tidak demokratis juga tidak memberi kesempatan kepada guru untuk belajar sendiri. Memberi kesempatan kepada guru untuk selalu belajar sendiri merupakan keuntungan bagi Kepala Sekolah karena antara guru dan Kepala Sekolah dapat melakukan kerja sama dalam meningkatkan profesionalisme.
Oleh karena itu perlu kesadaran dari Kepala Sekolah dalam melakukan supervisi tidak mencari-cari kesalahan dan selalu memberi perintah guru supaya dianggap lebih pandai.
Pelaksanaan supervisi diskusi dapat berjalan dengan baik apabila Kepala Sekolah menempatkan dirinya dengan benar dalam diskusi tersebut.
Karena supervisi diskusi merupakan supervisi bersifat kelompok maka Kepala Sekolah sebagai pemimpin kelompok menurut Sahertian (2008:102) harus:
1) Melihat bahwa anggota-anggota senang dengan keadaan tempat yang disediakan
2) Melihat bahwa masalah yang dibahas dapat dimengerti oleh semua orang
3) Mengakui peranan tiap anggota yang dipimpinnya
4) Melihat bahwa kelompok itu merasa diperlakukan atau diikutsertakan untuk mencapai hasil bersama.
Pelaksanaan supervisi diskusi di Sekolah Dasar SAIM Surabaya tidak langsung berjalan dengan baik karena Kepala Sekolah dan guru sudah
42
mengakui belum pernah dilakukan supervisi diskusi.Selain itu pemahaman tentang supervisi juga belum benar karena supervisi dilaksanakan sebagai syarat mendapatkan nilai untuk kenaikan tingkat bagi Pegawai Negeri Sipil sehingga supervisi dilakukan sekali dalam satu semester.Sebagai sekolah inklusi pelaksanaan supervisi yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada ABK masih kurang. Menurut Pidarta (2009:3) tujuan supervisi pendidikan adalah membantu guru mengembangkan profesinya, pribadinya, sosialnya, membantu Kepala Sekolah menyesuaikan program pendidikan dengan kondisi masyarakat setempat, dan ikut berjuang meningkatkan kuantitas dan kualitas lulusan. Kepala Sekolah sebagai pemimpin kelompok dan supervisor harus memahami fungsinya sehingga dalam pelaksanaan supervisi harus dapat mengoptimalkan peran semua guru agar dapat melaksanakan tugasnya dan mengembangkan profesinya sehingga dapat menghasilkan lulusan sesuai sesuai program pendidikan dan kondisi masyarakat.
Hasil dari pengembangan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Dasar SAIM Surabaya dengan melaksanakan supervisi diskusi adalah pemahaman tentang supervisi semkin baik. Hal tersebut dapat diketahui dari pelaksanaan supervisi sesuai prosedur dan ada kerja sama yang baik antara Kepala Sekolah dengan guru dan antara guru dengan guru untuk mengembangkan dirinya dan meningkatkan kompetensinya sehingga pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya sesuai dengan program pendidikan dan kondisi masyarakat.
d. Tindak Lanjut
Hasil pelaksanaan diskusi dalam supervisi diskusi harus ada tindak lanjut untuk melaksanakan hasil diskusi tersebut.Pelaksanaan supervisi yang dilakukan Kepala Sekolah Dasar SAIM Surabaya sebelumnya tidak ada tindak lanjut karena hasil supervisi yang dilakukan dicatat dalam buku supervisi dan diserahkan kepada guru. Kekurangan guru dari hasil supervisi tidak dibahas dalam pertemuan balikan sehingga guru berusaha sendiri
43
untuk memperbaiki kekurangannya.Supervisi yang dilakukan tidak sesuai dengan salah satu fungsi supervisi yang dikemukakan Pidarta (2009:4) yaitu membantu guru mengembangkan profesinya.
Kekurangan tersebut diperbaiki dalam pelaksanaan pengembangan supervisi diskusi oleh Kepala Sekolah dengan mengadakan tindak lanjut setelah pelaksanaan diskusi.Tindak lanjut dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan peserta diskusi.Tindak lanjut yang dilakukan juga berfungsi sebagai tolok ukur keberhasilan diskusi yang dilakukan dan untuk menetukan permasalahan yang bisa didiskusikan pada pertemuan berikutnya.
Manajemen Pelayanan Kepada Anak Berkebutuhan Khusus
Pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus dalam penelitian yang dilakukan di Sekolah Dasar SAIM Surabaya ada 2 yaitu pelayanan dalam pembelajaran dan pelayanan di luar kelas tentang pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya. Pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya sudah dilaksanakan namun masih ada yang belum dilaksanakan setelah dilakukan studi awal dan disesuaikan dengan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Jawa Timur.
Hasil pengamatan peneliti tentang pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya adalah sebagai berikut
1. Studi Awal
Pada penelitian awal hasil wawancara, dokumentasi, dan observasi diketahui bahwa pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya masih kurang. Kekurangan tersebut adalah tidak ada jurnal kegiatan pelayanan ABK, Program Pelayanan Individual belum sesuai dengan ketentuan pembuatan , belum ada buku penghubung antara guru dan orang tua, dan belum ada pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuan ABK.
Hasil wawancara peneliti kepada Guru Pembimbing Khusus dan yang bukan Guru Pembimbing Khusus dapat disimpulkan bahwa belum ada pertemuan rutin untuk membahas permasalahan pelayanan kepada ABK,
44
sehingga permasalahan yang dialami guru yang bukan GPK dikonsultasikan kepada Kepala Sekolah maupun GPK secara perorangan. Hal ini kadang menimbulkan permasalahan karena tidak ada kerja sama dan kesamaan pendapat dalam melayani ABK. Pelayanan kepada ABK yang masih kurang juga disampaikan oleh orang tua ABK, karena anaknya pernah mendapatkan bimbingan dalam melatih bakat dan minatnya.
Sebagai sekolah inklusi, Sekolah Dasar SAIM Surabaya harus dapat melayani ABK di sekolahnya sesuai dengan Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Jawa Timur, bahwa ABK harus mendapat pelayanan di kelas dan di luar kelas.
2. Pelaksanaan Pengembangan
Hasil studi awal peneliti ditindaklanjuti oleh Kepala Sekolah Sekolah Dasar SAIM Surabaya untuk melengkapi kekurangan dalam melayani ABK di sekolahnya. Kepala Sekolah Sekolah Dasar SAIM Surabaya mengakui kekurangan tersebut dan berusaha kekurangan tersebut segera diatasi agar ABK dapat terlayani dengan baik.
Kompetensi guru yang memahami pelayanan ABK di Sekolah Dasar SAIM Surabaya tidak sama, sehingga perlu kegiatan yang dilakukan bersama- sama untuk melengkapi kekurangan pelayanan tersebut. Kegiatan yang dilakukan bersama-sama tersebut adalah supervisi diskusi. Supervisi diskusi sangat tepat dipakai karena semua sudah merasakan melayani ABK selama dua tahun dan GPK yang mendapatkan pelatihan baru dua guru, sehingga dengan supervisi diskusi akan terjadi tukar pendapat yang hasilnya berguna untuk mengatasi permasalahan pelayanan kepada ABK yang masih kurang di Sekolah Dasar SAIM Surabaya. Pengembangan pelayanan kepada ABK yang dilakukan ada 2, yaitu.
a. Manajemen pelayanan kepada ABK dalam pembelajaran 1) Program Pembelajaran Individual
Program Pembelajaran Individual yang ada sebelumnya belum sesuai dengan aturan pembuatan Program Pembelajaran Individual.Jadi Program Pembelajaran Individual yang ada hanya sekedar memenuhi tugas
45
administrasi saja, tidak dibuat sesuai prosedur yang benar. Hasil supervisi diskusi ditetapkan bahwa pembuatan Program Pembelajaran Individual didampingi oleh GPK dengan waktu yang telah ditentukan.Hasil pendampingan pembuatan Program Pembelajaran Individual bagi guru yang bukan GPK memberikan pemahaman dalam membuat Program Pembelajaran Individual.
2) Buku penghubung antara guru dengan orang tua
Buku penghubung guru dengan orang tua memudahkan komunikasi antara sekolah dengan orang tua ABK. Buku penghubung sangat penting bagi orang tua ABK untuk mengetahui perkembangan anaknya, selain itu sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua dalam membimbing anak di rumah agar sesuai dengan Program Pembelajaran Individual yang sudah dibuat. Informasi perkembangan ABK hasil pelayanan di sekolah sangat dibutuhkan orang tua untuk ikut membantu sekolah membimbing anak di rumah.Hasil supervisi diskusi ditetapkan bahwa format buku penghubung dibuat oleh satu kelompok yang didampingi satu GPK.Hasil kerja kelompok membuat format buku penghubung antara guru dan orang tua ABK dipakai oleh semua guru sesuai tugas bimbingannya.
b. Manajemen pelayanan kepada ABK di luar kelas tentang pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.
Pelayanan pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuan bagi ABK belum ada sehingga pelayanan yang diberikan kepada ABK hanya pelayanan akademik saja. Keadaan ini mengakibatkan salah paham antara GPK dengan guru yang bukan GPK dalam melayani ABK, yaitu ABK tetap dituntut melaksanakan kegiatan belajar sama dengan anak yang bukan ABK. Kegiatan ini membuat ABK bosan sehingga ada yang sering tidak masuk, bahkan ada yang sudah tidak masuk lagi.Hasil evaluasi dari keadaan tersebut melalui supervisi diskusi diputuskan untuk memberikan pelayanan pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuan bagi ABK.
46
Agar ABK memperoleh pelayanan pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya maka hasil kesepakatan supervisi diskusi dibentuk satu kelompok yang diketuai guru mata pelajaran olah raga kesehatan didampingi satu GPK. Kelompok tersebut mencari informasi melalui assesmen kepada orang tua ABK, sehingga pelayanan pengembangan diri kepada ABK sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.
Selain itu kelompok tersebut yang bertanggung jawab untuk menyediakan tenaga yang membantu memberi pelayanan pengembangan diri kepada ABK apabila guru di Sekolah Dasar SAIM Surabaya tidak ada yang mampu.
Pengembangan pelayanan kepada ABK di Sekolah Dasar SAIM Surabaya dapat terlaksana dari kerja sama antara Kepala Sekolah dan guru melalui supervisi diskusi. Teknik supervisi diskusi dianggap sebagai cara yang paling tepat bagi Kepala Sekolah untuk menyelesaikan masalah yang sama dari beberapa guru. Pelaksanaan supervisi diskusi ini sangat membantu menyelesaikan masalah di Sekolah Dasar SAIM Surabaya karena ada sifat saling terbuka dan sama-sama ingin belajar dan mengembangkan diri dan meningkatkan komptensi untuk melayani ABK dengan benar dan lebih baik.Semakin sering Kepala Sekolah melaksanakan supervisi diskusi maka pelayanan kepada ABK semakin baik.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, Pelaksanaan supervisi pendidikan dengan teknik supervisi diskusi yang dilakukan di Sekolah Dasar SAIM Surabaya sudah sesuai dengan prinsip supervisi pendidikan dengan teknik supervisi diskusi. Peningkatan kualitas supervisi terlihat dari peningkatan kemampuan dan ketrampilan Kepala Sekolah dalam melakukan supervisi sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar SAIM Surabaya. Berdasarkan studi awal sampai dengan siklus ketiga yang dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
47 1. Hasil Studi Awal
Supervisi yang dilakukan adalah supervisi observasi kelas, supervisi diskusi belum pernah dilakukan oleh Kepala Sekolah Sekolah Dasar SAIM Surabaya.
Pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah belum dilakukan sesuai dengan proses yang benar. Hasil studi awal tentang supervisi kepala sekolah belum sesuai proses dan belum pernah melakukan supervisi diskusi maka dilakukan semiloka untuk memberikan pemahaman tentang fungsi dan tujuan supervisi diskusi serta pengetahuan tentang supervisi diskusi. Hasil semiloka dapat memberikan pemahaman tentang supervisi dan teknik supervisi diskusi.
Hasil studi awal diketahui bahwa pelayanan kepada ABK masih kurang yaitu Program Pembelajaran Individual yang sudah ada belum sesuai dengan kebutuhan ABK, buku penghubung antara guru dan orang tua ABK belum ada, dan pelayanan pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya belum ada.
2. Siklus Pertama
Pemahaman tentang supervisi diskusi masih belum sempurna karena teknik dan konsep supervisi belum dikuasai. Permasalahan yang disampaikan dalam supervisi diskusi pada siklus pertama masih umum belum berkaitan dengan peningkatan profesi guru. Pengaturan waktu masih kurang tepat karena langsung ditentukan Kepala Sekolah tanpa memperhatikan kegiatan guru. Pelaksanaan diskusi siklus pertama masih didominasi Kepala Sekolah. Tindak lanjut hasil diskusi sudah dilaksanakan sesuai kesepakatan semua peserta diskusi.
Program Pembelajaran Individual hasil supervisi diskusi siklus pertama dibuat oleh guru pembina ABK dengan pendampingan GPK. Buku penghubung antara guru dan orang tua pada siklus pertama belum ada. Pelayanan kepada ABK tentang pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya belum ada.
3. Siklus Kedua
Sudah memahami teknik dan konsep supervisi diskusi. Permasalahan yang disampaikan dalam supervisi diskusi pada siklus kedua sudah jelas dan berkaitan dengan peningkatan profesi guru. Pengaturan waktu pelaksanaan supervisi diskusi siklus kedua disesuaikan dengan kegiatan guru dan diberitahukan sebelumnya.
48
Pelaksanaan diskusi siklus kedua sudah berjalan dengan baik, semua peserta diskusi aktif memberikan pendapat. Tindak lanjut hasil diskusi sudah dilaksanakan.
Program Pembelajaran Individual sudah dibuat sesuai kebutuhan ABK. Buku penghubung antara guru dan orang tua disepakati dalam supervisi diskusi siklus kedua diserahkan kepada satu kelompok yang didampingi seorang GPK membuat format buku penghubung . Pelayanan kepada ABK tentang pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya disepakati dalam supervisi diskusi siklus kedua diserahkan kepada satu kelompok yang didampingi seorang GPK untuk membuat assesmen kepada orang tua.
4. Siklus Ketiga
Sudah memahami teknik dan konsep supervisi diskusi. Permasalahan yang disampaikan dalam supervisi diskusi pada siklus ketiga sudah jelas dan berkaitan dengan peningkatan profesi guru. Pengaturan waktu pelaksanaan supervisi diskusi siklus ketiga disesuaikan dengan kegiatan guru dan diberitahukan sebelumnya.
Pelaksanaan diskusi siklus ketiga sudah berjalan dengan baik, semua peserta diskusi aktif memberikan pendapat dan Kepala Sekolah sebagai fasilitator. Tindak lanjut hasil diskusi sudah dilaksanakan sesuai kesepakatan semua peserta diskusi. Program Pembelajaran Individual sudah dibuat sesuai kebutuhan ABK. Buku penghubung antara guru dan orang tua sudah dilaksanakan. Pelayanan kepada ABK tentang pengembangan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuannya sudah dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:
Rineka Cipta
Budiyanto. 2005. Pengantar Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya Lokal. Jakarta:
Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi
Dwidjowinoto, Wahjudhi. 2009. Metodologi Penelitian. Surabaya: Fakultasa Bahasa dan Sastra Unesa
Kustawan, Dedy. 2012. Pendidikan Inklusif dan Upaya implementasinya. Jakarta: PT Luxima Metro Media
Mudjito Harizal dan Elfindri. 2012. Pendidikan Inklusif, Jakarta: Baduose Media.
49
Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama Nomor 05/x/pb/2011,spb/03/m.pan-rb/10/2011,48t tahun 2011,158/pmk.01/2011,11 tahun 2011 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil
Peraturan Gubernur Jawa timur nomor 6 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Provinsi Jawa Timur
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan inklusif
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Pidarta, Made. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: PT Rineka Cipta Purwanto, Ngalim. 2008. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset
Sahertian, Piet, A. 2008. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta