61 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Telah dibahas pada BAB III mengenai rancangan penelitian yang dilakukan pada kelas IV SDN 01 Kranggan kelas IVA dan kelas IVB yang terletak di wilayah Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV di SDN 01 Kranggan, dengan mengambil subjek/sampel penelitian yaitu siswa kelas IVA dan kelas IVB SDN 01 Kranggan.
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD), dan variabel terikatnya adalah hasil belajar matematika, dan variabel kovariatnya yaitu soal pretest.
Selanjutnya pada BAB IV ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi hasil penelitian pada implemantasi pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw pada kelompok eksperimen, hasil penelitian pada implementasi pembelajaran matematika dengan menggunakan model Student Teams Achievement Devisions (STAD) pada kelompok kontrol, deskripsi komparasi hasil pengukuran, hasil uji beda penelian, hasil uji normalitas, hasil uji hipotesis, hasil pembahasan, dan keterbatasan penelitian.
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian diawali dengan mencari permasalahan di kelas IV SDN 01 Kranggan. Peneliti melaksanakan observasi terhadap pembelajaran di kelas serta melakukan wawancara terhadap guru kelas tentang permasalahan yang terjadi di kelas. Selanjutnya peneliti melakukan studi pustaka untuk menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Setelah menemukan solusi yang dianggap tepat yaitu berupa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) maka muncul keragu-raguan terhadap keampuhan model pembelajaran terhadap hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri 01 Kranggan. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) memiliki persamaan sebagian karakteristik
inilah yang menjadi penyebab munculnya keinginan untuk membuktikan efektivitas penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 01 Kranggan. Setelah ditemukan permasalahan, maka peneliti menyusun proposal penelitian, membuat surat izin penelitian, menyusun instrumen penelitian, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melaksanakan uji coba instrumen hingga didapat instrument penelitian yang valid dan reliabel.
Selanjutnya peneliti melaksanakan pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk mengetahui kesetaraan kemampuan siswa pada kedua kelompok. Pada saat pretest, jumlah siswa pada kelompok eksperimen adalah 27 sedangkan pada kelompok kontrol adalah 25. Rata-rata nilai hasil pretest kelompok eksperimen adalah 44,52 sedangkan rata-rata hasil pretest kelompok kontrol adalah 41,76. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen masih jauh dibawah rata-rata.
Berdasarkan hasil pretest di atas, maka kelompok eksperimen dan kelompok kontrol siap untuk diberikan perlakukan yang berbeda. Perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen berupa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Sedangkan pada kelompok kontrol diberikan perlakuan berupa pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Devisions (STAD).
4.1.1 Hasil Penelitian pada Implementasi Pembelajaran dengan Model Jigsaw sebagai Kelompok Eksperimen
Dalam hasil penelitian ini akan dijelaskan mengenai proses pembelajaran dan tingkat hasil belajar matematika yang dicapai dengan menggunakan model Jigsaw pada kelompok eksperimen di SDN 01 Kranggan kelas IVA.
4.1.1.1 Proses Pembelajaran Matematika di Kelas IV SDN 01 Kranggan Kelas IVA dan sebagai kelompok eksperimen
Penelitian yang dilakukan di SDN 01 Kranggan kelas IVA sebagai kelompok eksperimen dilaksanakan dalam 2 pertemuan, Hal ini dikarenakan alokasi waktu untuk mata pelajaran matematika untuk kelas IV yaitu 4 x 35 (2x pertemuan). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 sampai 22 maret 2016.
Perincian dari proses pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Topik pembelajaran
Pada penelitian ini, materi yang digunakan adalah “Bangun Ruang Sederhana dan Kesimetrian Bangun Datar” yang didasarkan pada Standar Kompetensi 8. Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar. Sedangkan indikator pencapaian kompetensinya adalah menyebutkan macam-macam bangun ruang, menyebutkan pengertian macam-macam bangun ruang, menyebutkan sifat-sifat bangun ruang, dan menentukan jaring-jaring bangun ruang.
Pertemuan 1
Pertemuan 1 yang dilakukan di SDN 01 Kranggan kelas IVA dilaksanankan pada hari Senin, 21 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang diikuti oleh seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 27 siswa terdiri dari 18 perempuan dan 9 laki-laki. Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang meliputi salam, selanjutnya guru melakukan presensi pada siswa, kemudian guru memberikan soal pretest selanjutnya guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai, memberikan motivasi yang menarik dan menyajikan materi sebagai pengantar, membangkitkan minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu proses pembelajaran menggunakan perlakuan model Jigsaw yang terdiri dari sintagmatik yaitu guru membagi siswa secara heterogen melalui berhitung, setelah siswa membentuk menjadi beberapa kelompok, guru membagikan materi beserta memberi instruksi kepada siswa untuk membagi sub materi kepada setiap siswa dalam kelompok tersebut, lalu guru membimbing siswa untuk berkumpul dalam kelompok ahli guna membahas topik secara mendalam.
Pertemuan 2
Pertemuan 2 dilaksanakan pada Selasa, 22 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang diikuti oleh siswa kelas IVA. Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang meliputi salam, presensi, dan apersepsi dengan mengingatkan pembelajaran yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya yaitu bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar. Kemudian dilanjutkan dengan sintakmatik dari model Jigsaw yang belum dilaksanakan pada pertemuan pertama yaitu guru membimbing siswa dalam tim ahli untuk kembali ke kelompok asal untuk saling bertukar informasi selanjutnya guru bersama siswa membahas hasil dari diskusi. Kegiatan selanjutnya guru meminta siswa untuk memberikan kuis kepada temannya untuk memastikan bahwa mereka paham dengan penjelasan yang sudah disampaikan. Proses pembelajaran diakhiri dengan pemberian soal posttest untuk mengukur hasil belajar siswa dan memberikan penghargaan terhadap kelompok.
4.1.1.2 Tingkat Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IVA SDN 01 Kranggan sebagai Kelompok Eksperimen
Tingkat hasil belajar ini berisi mengenai pemaparan statistik deskriptif dari hasil pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata nilai (mean), nilai tertinggi (max), nilai terendah (min), Standar deviasi, distribusi frekuensi dan penyajian dalam bentuk grafik.
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen SDN 01 Kranggan
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen (nilai pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model Jigsaw sebesar 44,52 dengan standar deviasi 11,335. Sedangkan setelah diberikan proses pembelajaran dengan perlakuan model Jigsaw didapatkan nilai rata-rata 80,89 dengan standar deviasi 8,102. Hal lain yang tampakadalah nilai tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 96 dan nilai terendahnya adalah 68. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest ini sebanyak 27 siswa.
Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dari selisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas.
Dalam menentukan jumlah kelas, menggunakan rumus Sturges (Sugiyono, 2013:35) yaitu K = 1 + 3,3 log n. K merupakan jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Dengan rumus tersebut maka diperoleh K = 1 + 3,3 log 27
= 1 + 3,3 . 1,43 = 6,149 atau dibulatkan menjadi 6. Sedangkan interval kelas di dapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu
96−26
6 = 11,6. Untuk melihat hasil distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest kelompok eksperimen SDN 01 Kranggan kelas IVA dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen SDN 01 Kranggan kelas IVA
No Kelas Interval Nilai Pre-Test Nilai Post-Test Frekuensi Persentase Frekuensi Presentase
1. 26 – 38 10 37% 0 0%
2. 39 – 51 8 29,6% 0 0%
3. 52 – 63 7 25.9% 0 0%
4. 64 – 75 2 7,4% 6 22,2%
5. 76 – 87 0 0% 14 51,8%
6. 88 – 99 0 0% 7 25,9%
Jumlah 27 100% 27 100%
Dari tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa pada nilai pretest terdapat 10 siswa yang mendapatkan nilai antara 26-38 dengan presentase 37%, 8 siswa yang mendapatkan nilai antara 39-51 dengan presentase 29,6%, 7 siswa mendapatkan
nilai antara 52-63 dengan presentase 25,9%, 2 siswa mendapatkan nilai antara 64- 75 dengan presentase 7,4%, 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 76-87 dengan presentase 0% dan 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 88-99 dengan presentase 0. Sedangkan pada nilai posttest mengalami peningkatan yaitu hanya 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 26-38 dengan presentase 0%, 0 siswa yang mendapatkan nilai 39-51 dengan presentase 0%, 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 52-63 dengan presentase 0%, 6 siswa mendapatkan nilai antara 64-75 dengan presentase 22,2 %, 14 siswa mendapatkan nilai antara 76-87 dengan presentase 51,8%, dan 7 siswa yang mendapatkan nilai antara 88-99 dengan presentase 25,9% untuk lebih memperjelas daftar distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest di atas maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.1
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen SDN 01 Kranggan Kelas IVA
4.1.2 Hasil Penelitian pada Implementasi Pembelajaran dengan Model Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Dalam hasil penelitian ini dipaparkan mengenai proses pembelajaran dan tingkat hasil belajar matematika yang dicapai menggunakan perlakuan model Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada pembelajaran kelompok kontrol di SDN 01 Kranggan kelas IVB.
0 5 10 15
26 – 38 39 – 51 52 – 63 64 – 75 76 – 87 88 - 99
NILAI PRE-TEST DAN POST-TEST KELOMPOK KONTROL
frekuensi pretest frekuensi posttest
4.1.2.1 Proses Pembelajaran Matematika di kelas IVB SDN 01 Kranggan Penelitian yang dilakukan pada kelompok kontrol di SDN 01 Kranggan dilaksanakan dalam 2x pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pembelajaran). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 sampai 24 Maret 2016.
Perincian dari proses pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut.
Topik pembelajaran
Pada penelitian ini, materi yang digunakan adalah “Bangun Ruang Sederhana dan Kesimetrian Bangun Datar” yang didasarkan pada Standar Kompetensi 8. Memahami sifatbangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar. Sedangkan indikator pencapaian kompetensinya adalah menyebutkan macam-macam bangun ruang, menyebutkan pengertian macam-macam bangun ruang, menyebutkan sifat-sifat bangun ruang, dan menentukan jaring-jaring bangun ruang.
Pertemuan 1
Pertemuan 1 dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang diikuti oleh seluruh siswa kelas IVB yang berjumlah 25 siswa yang terdiri dari 11 laki-laki dan 15 perempuan. Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang meliputi salam, selanjutnya guru melakukan presensi terhadap siswa, dan dilanjutkan pemberian soal pretest terhadap siswa. Sesudah melakukan pretest guru melanjutkan pembelajaran dengan memberikan motivasi yang menarik, menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menyajikan atau menyampaikan materi kepada siswa. Setelah itu guru membimbing siswa membentuk kelompok secara heterogen dengan cara berhitung, lalu guru memberikan tugas mengenai bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar secara berkelompok dan guru membahas tugas yang sudah dikerjakan oleh siswa.
Pertemuan 2
Pertemuan 2 dilaksanakan pada hari kamis, 24 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang diikuti oleh siswa kelas IVB.
Prosespembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang meliputi salam, presensi, dan apersepsi dengan mengingatkan percobaan yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya. Setelah itu kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan sintagmatik dari model Student Teams Achievement Divisions (STAD) selanjutnya yaitu guru memberikan ulasan singkat tentang materi yang sudah disampaikan dan memberikan kesimpulan. Proses pembelajaran diakhiri dengan tanya jawab dan pemberian soal posttest untuk mengetahui tingkat ketercapaian kompetensi yang diharapkan dan guru memberikan penghargaan baik secara individu maupun secara berkelompok.
4.1.2.2 Tingkat Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IVB SDN 01 Kranggan Tingkat hasil belajar ini berisi mengenai pemaparan statistik deskriptif dari hasil pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata nilai (mean), nilai tertinggi (max), nilai terendah (min), standar deviasi, distribusi frekuensi dan penyajiannya dalam bentuk grafik.
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol SD N 01 Tlogotuwung
Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapatdilihat bahwa nilai rata-rata kelas kontrol (nilai pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model Student Teams Achievement Divisions (STAD) sebesar 41,76 dengan standar deviasi 8,393.
Sedangkan setelah diberikan proses pembelajaran dengan perlakuan model Student Teams Achievement Divisions (STAD) didapatkan nilai rata-rata (nilai posttest) meningkat menjadi 78,12 dengan standar deviasi 11,461. Hal lain yang tampak Struadalah nilai tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 72 dan nilai terendahnya adalah 28. Sedangkan pada posttest nilai tertinggi yang berhasil dicapai adalah 96 dan nilai terendahnya adalah 56. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest sebanyak 25 siswa.
Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dariselisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas.
Dalam menentukan jumlah kelas, menggunakan rumus Struges (Sugiyono, 2013:35) yaitu K = 1 + 3,3 log n. K merupakan jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Dengan rumus tersebut maka diperoleh K = 1 + 3,3 log 25
= 1 + 3,3 . 1,39 = 5,587 atau dibulatkan menjadi 6. Sedangkan interval kelas didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu96−28
6 = 11,3. Untuk melihat hasil distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest kelompok kontrol SDN 01 Kranggan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol SDN 01 KRANGGAN Kelas IVB
No Kelas Interval Nilai Pre-Test Nilai Post-Test Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1. 28-39 9 36% 0 0%
2. 40-51 13 52% 0 0%
3. 52-63 2 8% 4 16%
4. 64-75 1 4% 3 12%
5. 76-87 0 0% 10 40%
6. 88-99 0 0% 8 32%
Jumlah 25 100% 25 100%
Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa pada nilai pretest terdapat 9 siswa yang mendapatkan nilai antara 28-39 dengan presentase 36%, 13 siswa yang
mendapatkan nilai antara 40-51 dengan presentase 52%, 2 siswa yang mendapatkan nilai antara 52-63 dengan presentase 8%, 1 siswa mendapatkan nilai antara 64-75 dengan presentase 4%, 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 76-87 dengan presentase 0%. 0 siswa yang mendapatkan nilai 88-99 dengan presentase 0%.
Sedangkan pada nilai Posttest mengalami peningkatan yaitu 0 siswa yang mendapatkan nilai antara 28-39 dengan presentase 0%. Kemudian yang mendapatkan nilai antara 40-51 sebanyak 0 siswa dengan presentase 0%, yang mendapatkan nilai 52-63 sebanyak 4 siswa dengan presentase 16%, yang mendapatkan nilai 64-75 sebanyak 3 siswa dengan presentase 12%, yang mendapatkan nilai 76-87 sebanyak 10 siswa dengan presentase 40%, dan sebanyak 8 siswa yang mendapatkan nilai 88-99 dengan presentase 32%. Untuk memperjelas daftar distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest diatas maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.2
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol SDN 01 Kranggan Kelas B
0 2 4 6 8 10 12 14
28-39 40-51 52-63 64-75 76-87 88-99
NILAI PRE-TEST DAN POST-TEST KELOMPOK KONTROL
frekuensi pretest frekuensi postest
4.1.3 Deskripsi Perbandingan Hasil Pengukuran
Deskripsi komparasi ini memaparkan perbandingan hasil pengukuran dari kelompokeksperimen dan kelompok kontrol berdasarkan nilai pretest dan posttest.
Deskripsi tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan grafik sebagai berikut.
Tabel 4.5
Tabel Perbandingan Hasil Pengukuran Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol SDN 01 Kranggan Kelas IVA dan Kelas IVB
Tahap pengukuran
Rata-rata skor (mean) kelompok Keterangan selisih skor Eksperimen Kontrol
Awal 44,51 41,76 2,75
Akhir 80,88 79,12 4,76
Dari tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan nilai rata- rata tahap pengukuran awal yang ditunjukkan oleh adanya selisih skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 2,75 dimana nilai rata-rata kelompok kontrol lebih unggul. Sedangkan pada tahap pengukuran akhir juga terdapat perbedaan nilai rata-rata yang ditunjukkan adanya selisih skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 4,76 dimana rata-rata kelompok eksperimen lebih unggul.
Gambar 4.3
Grafik Deskripsi Perbandingan Hasil Pengukuran Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol SDN 01 Kranggan kelas IVA dan Kelas IVB
44.51 41.76
80.88 79.12
0 50 100
E K S P E R I M E N K O N T R O L
HASIL PENGUKURAN RATA -RATA SKOR (MEAN) KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KONTROL
Seri 1 seri 2
4.1.4 Hasil Uji ANCOVA Rerata Hasil Belajar
Hasil uji perbedaan rerata hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol serta teknik analisis data menggunakan uji ANCOVA setelah dilakukan uji prasyarat dan dilanjutkan uji hipotesis. Uji prasyarat yang dilakukan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas variansi data serta uji homogenitas koefisien regresi linier. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui distribusi kenormalan data, uji homogenitas digunakan untuk mengetahui tingkat kesetaraan data. Sedangkan uji homogenitas koefisien regresi linier digunakan untuk mengetahui tingkat kesetaraan regresi linier antara variabel kovariat pretest (X2) dengan variabel terikat hasil belajar (Y). Pengujian normalitas, homogenitas data dan uji homogenitas koefisien regresi linier dilakukan dengan bantuan SPSS 23.00 for windaws.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data dengan bantuan kolmogorof-Smirnov, dengan ketentuan data dikatakan berdistribusi normal jika nilai probabilitas/signivikasi > 0,05. Hasil dari uji normalitas data-data yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 4.6
HasilUji Normalitas Nilai Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol SDN 01 Kranggan
Dari tabel 4.9 di atas dapat dilihatkan bahwa nilai asymp. Sig. (2-tailed) hasil pretest-posttest kelompok eksperimen adalah 0,503 dan 0,615. Sedangkan
hasil pretest-posttest kelompok kontrol adalah 0,398 dan 0,419. Karena nilai signifikan/probabilitas data-data tersebut > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa populasi data hasil pretest-posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen SDN 01 Kranggan berdistribusi normal. Bila dirumuskan sebuah hipotesis H0
adalah sebuah sampel yang berasal dari populasi berdistribusi normal dan Ha adalah sampel yang tidak berasal dari populasi berdistribusi tidak normal. Maka dapat diputuskan jika probabilitas < nilai α (0,05) H0 ditolak, jika sebaliknya maka H0
diterima. Oleh karena itu nilai signifikan/probabilitas Asymp. Sig. (2-tailed) data- data tersebut berturut-turut 0,503 ; 0,615 ; 0,398 ; 0,419 > 0,05 maka H0 diterima, artinya dapat disimpulkan bahwa persebaran data hasil pretest-posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Setelah uji normalitas terpenuhi, selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui varian kedua kelompok homogen atau tidak. Apabila nilai signifikansi /probabilitas < 0,05, maka data dikatakan tidak homogen. Apabila nilai signifikansi/probalitas > 0,05 maka data dapat dikatakan homogen. Pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 23.00 for windows.
berikut hasil dari uji homogenitas data kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 4.7
Hasil Uji Homogenitas Nilai Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol SDN 01 Kranggan Kelas IVA dan IVB
Berdasarkan tabel 4.10 diatsa diketahui bahwa hasil output test of homogenity of variance nilai pretest menunjukkan angka 0,165. Bila dirumuskan sebuah hipotesis H0 adalah variansi data pada tiap kelompok tidak sama (Homogen) dan Ha adalah variansi data pada tiapkelompok tidak sama ( tidak homogen), maka
dapat diputuskan jika probabilitas < nilai α (0,05) H0 ditolak,dan jika sebaliknya maka H0 diterima. Oleh karena itu nilai signifikansi/probabilitas data pretest- posttest kedua kelompok adalah sebesar 0,165 dan 0,793 > 0,05 maka H0 diterima.
Artinya dapat dikatakan bahwa skor pretest kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen. Skor signifikansi/probabilitas posttest kelompok eksperimen dan kontrol adalah 0,793, dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai posttest kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen. Melihat skor signifikansi/probabilitas pretest-posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat disimpulkan bahwa data skor pretest-posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki varian data yang sama/homogen.
Setelah uji normalitas dan homogenitas terpenuhi dilanjutkan uji homogenitas koefisien regresi linier untuk mengetahui kehomogenitasan koefisien regresi X2 (variabel kovarian=pretest) dengan hasil belajar (Y). Paramenter yang digunakan untuk menentukan homogenitas koefisien regresi linier adalah nilai koefisien beta (B) pada tabel output parameter estimates (lihat tabel 4.10)dan nilai t serta probabilitasnya. Syarat yang lain adalah bahwa nilai beta (B) haruslah lebih besar sama dengan 0,60 (Budiyno, 2009:300). Jika probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka koefisien regresi linier kedua sampel homogen.
Tabel 4.8
Hasil Uji Homogenitas Koefisien Regresi Linier Nilai Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Pada tabel 4.11 dapat dilihat nilai beta (B) sebesar 0,605 lebih besar dari 0,60, nilai t sebesar 6,079 berada pada signifikansi/probabilitas 0,000, maka koefisien regresi linier kedua sampel homogen dan model ANCOVA dapat digunakan.
Berdasarkan hasil uji normalitas yang menunjukkan data berdistribusi normal, uji homogenitas yang menunjukkan varian data homogen, dan uji homogenitas koefisien regresi linier yang menunjukkan kedua model beregresi linier maka dapat dikatakan uji prasyarat telah terpenuhi. Uji analisis berikutnya adalah ANCOVA atau uji kombinasi analisis regresi dan varians.
Tabel 4.9
Ringkasan Hasil Uji ANCOVA
Ringkasan uji ANCOVA seperti tertera pada tabel 4.11 tersebut memberikan informasi besarnya nilai F dan signifikansinya. Pada sumber varian corrected model, nampak bahwa F hitung sebesar 14,286 dengan taraf signifikansi hitung 0,000. Oleh karena 0,000 < α = 0,050 maka dampak vaariabel independent secara simultan terhadap variabel dependen signifikan. Maknanya bahwa model pembelajaran Jigsaw dan pretest secara simultan memiliki dampakyang berbeda secara signifikan terhadap hasil belajar siswa, dibandingkan dengan model pembelajaran STAD.
Pada varian intercept nampak bahwa F hitung sebesar 37,182 dengan taraf signifikansi hitung 0,000. Oleh karena 0,000 < α = 0,050, maka nilai intercept signifikan. Nilai intercept merupakan besaran konstanta perubahan nilai variabel dependen sebesar nilai tersebut meskipun tanpa dipengaruhi keberadaan kovariat dan variabel independen. Pada kovarian pretest diperoleh data F hitung 27.314, dengan taraf signifikansi 0,000. Oleh karena 0,000 < α = 0,050, maka nilai dampak kovariat signifikan. Artinya ada perbedaan pengaruh pretest terhadap hasil belajar siswa.
Pada varian model pembelajaran, diperoleh nilai F hitung sebesar 9,646 dengan signifikansi 0,003 oleh katena itu nilai 0,003 lebih kecil dari < α = 0,050 maka nilai F signifikan. Artinya bahwa dampak pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbeda secara signifikan dengan Student Teams Achievement Devisions (STAD) berbeda.
4.1.5 Hasil Uji Hipotesis
Hasil uji t (uji beda rata-rata) terdapat nilai posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dijadikan acuan untuk menguji hipotesis. Hipotesis yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut.
H0 : µ1 = µ2 Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.
Ha : µ1 = µ2 Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.
Berdasarkan uji ANCOVA yang telah dilakukan terhadap nilai posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada kelas IVA dan IVB SDN 01 Kranggan diperoleh hasil yaitu diperoleh hasil signifikansi/probabilitas 0,003 atau
< 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar yang signifikan dalampenerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) pada mata pelajaran matematika kelas IV di SDN 01 Kranggan (kelas IVA dan IVB). Hasil uji hipotesis menggunakan teknik ANCOVA seperti telah dilakukan terhadap nilai pretest-posttest kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh dari signifikansi/probabilitas 0,003 <
0,05, oleh karena probabilitas lebih kecil dari nilai alpha. Maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Artinya Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.
Signifikansi perlakuan dimana terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang signifikan pada siswa kelas IVA dan IVB SDN 01 Kranggan dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) didukung oleh rerata dari dua sampel dimana rerata hasil pembelajaran Jigsaw sebesar 80,88, sedangkan rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran sebesar Student Teams Achievement Devisions (STAD) 79,12. Maknanya adalah bahwa perbedaan rerata hasil belajar dan signifikansi perlakuan membuktikan bahwa model pembelajaran Jigsaw memberikan dampak berbeda dan lebih tinggi dari pada model pembelajaran Student Teams Achievement Devisions (STAD).
Keampuhan model Jigsaw memberikan dampak lebih tinggi terhadap hasil belajar dibandingkan dengan menggunakan model Student Teams Achievement Devisions (STAD). Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Trianto (2009:82), proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Jigsaw melibatkan banyak anggota kelompok untuk memahami materi yang dipelajari dan mengecek tingkat pemehaman siswa terhadap materi tersebut sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ridwan Prihantono (2012), bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dibanding tipe Student Teams Achievement Devisions (STAD) dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Mendukung penelitian Ridwan Prihantono (2012), Sukowati (2012), telah membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan Listianni, Tanti (2013), telah membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih efektif
digunakan dari pada menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Devisions (STAD) terhadap hasil belajar siswa.
Keberhasilan modelpembelajaran Jigsaw sejalan dengan kerangka berfikir yang telah disusun pada BAB II. Melalui pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw pada mata pelajaran matematika, siswa dapat mengetahui pengertian bangun ruang, macam-macam bangun ruang, sifat- sifat bangun ruang, serta jaring- jaring kubus dan balok. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam proses pembelajaran menggunakan model Jigsaw terdiri atas 7 langkah.
Langkah pertama yang dilakukan pada pembelajaran menggunakan model Jigsaw adalah kegiatan Grouping. Kegiatan Grouping mampu menghasilkan dampank pengiring bagi siswa, yaitu siswa belajar menerima anggota kelompok yang heterogen dan mungkin saja tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pada sesi Leader, siswa dituntut untuk konsentrasi tinggi memperhatikan guru dalam menentukan satu orang siswa dari setiap kelompok sebagai ketua kelompok (Leader). Siswa yang ditunjuk sebagai ketua kelompok merupakan siswa yang paliing unggul/matang dalam kelompoknya. Pada tahap selanjutnya yaitu Partition, dimana siswa harus memperhatikan penjelasan dari guru dalam pembagian materi pelajaran ke dalam 5-6 sub topik. Masing-masing siswa dalam satu kelompok memilih satu subtopik yang menjadi tanggungjawabnya. Langkah selanjutnya yaitu Expert Groups, di tahap ini siswa yang mendapatkan topik yang sama dengan siswa kelompok lain, bergabung dalam satu kelompok baru yang disebut dengan kelompok ahli (Expert Groups). Dalam kelompok ahli ini siswa mendiskusikan satu topik yang menjadi tanggung jawabnya dan mencatat point-point penting dalam topik tersebut. Pada sesi Sharing and Presentation, siswa dengan percaya diri dari kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk berbagi dan mempresentasikan hasil diskusinya. Pada tahap ini, siswa saling melengkapi satu sama lain sehingga terbentuk suatu pengetahuan yang utuh terhadap materi yang dipelajari. Tahap selanjutnya yaitu Observing, guru mengamati proses yang berlangsung pada masing-masing kelompok. Jika terdapat anggota kelompok yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan subtopik yang menjadi tanggung jawabnya, guru memerintahkan ketua kelompok untuk membantu anggotanya tersebut. Langkah
terakhir yaitu pemberian Quiz, guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman siswa. Dalam hal ini sportifitas siswa akan tumbuh dan nampak.
4.3 Keterbatasan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mengakibatkan kurang sempurnanya penelitian ini. Kekurangan tersebut meliputi kelemahan metodologis seperti kurangnya pemahaman peneliti dalam menerapkan kedua model tersebut. Dalam menerapkan model tersebut, siswa kurang memperhatikan saat pengajaran berlangsung dikarenakan bukan guru kelas mereka yang mengajarkan, sehingga mereka kurang begitu memperhatikan materi yang disampaikan oleh pengajar. Keterbatasan media pembelajaran juga menjadi penyebab kurang menariknya penerapan model tersebut, sehingga siswa kurang memperhatikan disaat proses pembelajaran berlangsung. Kurangnya penguasaan kelas karena pengajar belum mengetahui karakteristik siswa itu yang menjadi salah satu kendala proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu dihimbau kepada para peneliti selanjutnya untuk memperhatikan hal-hal metodologis serta media yang akan dibutuhkan sudah tersedia dalam merancang penelitian agar kesalahan/kekurangan yang sudah ada dapat dihindari.