62 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Telah dibahas pada bab III mengenai rancangan penelitian yang dilakukan pada kelas 5 SD di Gugus Ki Hajar Dewantoro yang terletak di wilayah Kecamatan Banyubiru. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro yang terdiri dari 8 SD yaitu SDN Tegaron 02, SDN Tegaron 01, SDN Sepakung 01, SDN Sepakung 03, SDN Rowoboni 01, dan SDN Rowoboni 02. Jumlah siswa kelas 5 keseluruhan dalam Gugus Ki Hajar Dewantoro sebanyak 107 siswa. Sedangkan sampel dalam penelitian ini yaitu SDN Tegaron 02 sebagai SD inti, SDN Rowoboni 02 dan SDN Sepakung 03 sebagai SD imbas. Jumlah siswa sebanyak 83 anak sebagai sampel penelitian, tetapi karena ada 5 siswa yang tidak terlibat dalam pelaksanaan eksperimen, maka sampel penelitian menjadi 78 siswa. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas model NHT dan TGT sebagai variabel bebas dan hasil belajar sebagai variabel terikat.
Selanjutnya, pada BAB IV akan dipaparkan mengenai hasil pengolahan data penelitian dan pembahasan yang meliputi hasil penelitian pada implementasi pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) sebagai kelompok eksperimen 1, hasil penelitian pada implementasi pembelajaran menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) sebagai kelompok eksperimen 2, deskripsi komparasi hasil pengukuran, hasil uji beda penelitian, hasil uji hipotesis, hasil pembahasan, dan keterbatasan penelitian.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Implementasi Pembelajaran IPA Menggunakan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) Sebagai Kelompok Eksperimen 1
Pada sub bab ini, akan dipaparkan hasil implementasi pembelajaran dan tingkat ketercapaian hasil belajar IPA menggunakan model pembelajaran NHT pada kelompok eksperimen 1. Kelompok eksperimen 1 terdiri dari siswa kelas 5A
SDN Tegaron 02 (SD inti) dan kelas 5 SDN Rowoboni 02 (SD imbas). Mata pelajaran yang diteliti adalah IPA dengan topik peristiwa alam yang didasarkan pada Standar Kompetensi 7 memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam, sedangkan Kompetensi Dasar 7.6 mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan. Indikator yang disusun yaitu sebagai berikut: a) menjelaskan penyebab terjadinya berbagai peristiwa alam di Indonesia, b) mengelompokkan peristiwa alam yang dapat dicegah dan yang tidak dapat dicegah, c) menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari peristiwa alam terhadap makhluk hidup dan lingkungan, dan 4) menjelaskan usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peristiwa alam.
Upaya-upaya yang dilakukan peneliti untuk mengontrol variabel di luar treatment meliputi 5 hal yaitu, a) History (sejarah), pengaruh guru dalam menerapkan treatment. Artinya perlakuan dalam menerapkan model NHT dan TGT dilakukan oleh guru/orang yang sama, dalam hal ini pemberian perlakuan dilakukan oleh orang yang sama sudah terpenuhi. b) Maturation (kematangan), menunjukkan kematangan psikologis dan biologis anak sesuai umurnya. Dari segi kematangan, rata-rata kematangan mereka relatif homogen/sama dengan rata-rata umur siswa adalah 10 tahun. c) pengujian sebelumnya (testing), pretest dalam penelitian ini dilakukan sebelum memberikan perlakuan, sedangkan posttest dilakukan setelah pemberian perlakuan. Jika kedua tes yang dilakukan adalah sama, maka pengalaman siswa dalam mengerjakan tes awal dapat mempengaruhi hasil tes atau posttest. Seorang siswa dapat menjawab soal dengan baik dikarenakan soal pretest dan posttest yang dibuat itu sama, untuk menghindari hal tersebut telah dilakukan penyusunan soal pretest dan posttest yang berbeda struktur pengkalimatan dan penomoran. d) Mortalitiy, subyek penelitian baik dalam kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak semuanya secara aktif terlibat selama berlangsungnya pelaksanaan eksperimen. Dalam hal ini pada saat pretest dan posttest semua siswa hadir sehingga jumlah siswa dalam pelaksanaan eksperimen terpenuhi. e) Possible regression and interaction betwen selection, yaitu dalam pemilihan kelompok-kelompok eksperimen sudah
diseimbangkan dengan cara masing-masing kelompok, apabila skor pretest ada yang menonjol paling tinggi dan paling rendah, maka penyeimbangan dilakukan dengan cara mengeluarkan siswa tersebut dari kelompok, dalam hal ini tidak ada siswa yang mendapatkan nilai ekstrem baik nilai paling tinggi dan paling rendah sehingga tidak perlu dikeluarkan dalam kelompok.
4.1.1.1 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Mapel Ilmu Pengetahuan Alam Menggunakan Model NHT Kelompok Eksperimen 1
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model kooperatif NHT pada kelas eksperimen ini terdiri dari dua kali pertemuan, dengan alokasi waktu selama 70 menit (2 x 35 Menit). Implementasi pembelajaran menggunakan model kooperatif NHT di SDN Tegaron 02 sebagai SD inti dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2016 dan pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 31 Maret 2016 yang diikuti oleh siswa kelas 5A yang berjumlah 19 siswa. Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan diamati oleh Amini (guru kelas 5). Sedangkan implementasi pembelajaran menggunakan model kooperatif NHT di SD Negeri Sepakung 03 sebagai SD imbas dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Maret 2016 dan pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 02 April 2016 yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 yang berjumlah 20 siswa. Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan diamati oleh Pardi (guru kelas 5).
a. Pertemuan Pertama
Proses pembelajaran menggunakan model kooperatif NHT pertemuan pertama di kelas 5A SDN Tegaron 02 dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Proses pembelajaran pada pertemuan pertama diikuti oleh seluruh siswa kelas 5A yang berjumlah 19 siswa. Sedangkan penerapan model pembelajaran NHT di kelas 5 SDN Sepakung 03 dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pembelajaran diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 yang berjumlah 20 siswa.
Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran antara lain rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku paket, dan ruang untuk proses belajar mengajar. Guru
melakukan kegiatan awal yaitu berdoa, pemberian salam, absensi, dan guru memeriksa kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran. Selanjutnya, guru melakukan apersepsi untuk menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan soal pretest pilihan ganda sebanyak 20 butir soal. Sebelum siswa mengerjakan soal pretest, guru memberikan himbauan untuk mengerjakan soal pretest secara individu dan tidak membuka buku apapun selama siswa mengerjakan soal pretest. Siswa mengerjakan soal pretest sesuai dengan waktu yang telah disepakati guru. Selama siswa mengerjakan soal, suasana kelas menjadi tenang dan sunyi karena siswa mengerjakan soal pretest dengan serius, walaupun ada beberapa siswa yang menunjukkan raut wajah bingung. Setelah dilakukan pretest, guru menginformasikan cakupan materi dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
Materi pembelajaran pada pertemuan pertama yaitu peristiwa alam dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: sintak pertama persiapan, pada tahap ini guru menggiring perhatian siswa dengan menempelkan gambar peristiwa alam di papan tulis, pada saat guru menempelkan gambar tampak siswa memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan guru sehingga timbul rasa ingin tahu mengenai gambar yang disajikan. Selanjutnya guru menggali pengetahuan siswa dengan bertanya mengenai gambar yang disajikan, lalu siswa menanggapi pertanyaan dari guru mengenai gambar yang disajikan. Setelah dilakukan tanya jawab, guru menyampaikan materi tentang peristiwa alam menggunakan media gambar, pada saat guru menjelaskan, siswa memperhatikan dengan seksama materi yang dijelaskan guru. Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum mereka pahami. Pada saat pemberian kesempatan bertanya, tidak ada siswa yang bertanya. Seluruh siswa menjawab sudah paham terkait materi yang telah dipelajari.
Selanjutnya dilakukan sintak kedua yaitu penomoran (numbering). Guru membimbing siswa dalam pembentukan kelompok yang terdiri dari 5 kelompok yang beranggota 3 – 4 siswa heterogen yang mewakili seluruh dari kelas dalam hal akademik, ras, dan etnis. Selanjutnya guru meminta siswa untuk duduk bersama dengan anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok mendapatkan
nama kelompok sesuai ketentuan dari guru. Setelah pembagian nama kelompok, guru membagi kartu nomor kepada setiap siswa, setiap anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda. Pada tahap ini, siswa sangat termotivasi dan senang dalam pemberian nomor, karena pemberian nomor dilakukan variatif yang belum pernah siswa lakukan sebelumnya, siswa menyebutnya permen lolipop, karena bentuk pemberian nomornya seperti permen lolipop.
Langkah selanjutnya dilakukan sintak ketiga yaitu pertanyaan (questioning) dan berfikir bersama (head together). Guru mengarahkan siswa untuk bekerja dalam kelompok dan mendorong siswa untuk berinteraksi, berkomunikasi dengan baik lalu memberikan pertanyaan kepada setiap kelompok (dalam bentuk LKS), setelah siswa mendengarkan arahan guru maka siswa terdorong untuk belajar bersama dengan anggota kelompoknya. Guru memberikan informasi bahwa setiap kelompok boleh melihat buku paket yang telah mereka siapkan. Siswa menyiapkan buku yang digunakan sebagai sumber lalu membaca dan belajar dalam kelompok untuk berfikir bersama mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakan jawabannya. Setelah waktu diskusi habis, seluruh kelompok mengakhiri diskusinya dan duduk dengan rapi. Guru memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dengan mempelajari materi hari ini di rumah, karena pada pertemuan selanjutnya akan diadakan permainan dengan cara menjawab pertanyaan yang dibacakan guru secara lisan sesuai dengan nomor yang telah di tunjuk guru.
Berdasarkan hasil observasi, tingkat keterlaksanaan aktivitas guru pada pertemuan pertama yang dilakukan di kelas 5A SDN Tegaron 02 dan SDN Sepakung 03 mencapai 100% dari 6 poin kegiatan artinya seluruh kegiatan aktivitas guru terlaksana. Begitu pula tingkat keterlaksanaan aktivitas siswa mencapai 100% dari 6 poin kegiatan, sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas guru dan siswa pada pertemuan pertama telah dilaksanakan dan tingkat keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori sangat baik. Keterangan lebih rinci mengenai hasil observasi proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 11 hlm 157-160 lembar observasi guru dan siswa.
b. Pertemuan kedua
Proses pembelajaran menggunakan model kooperatif NHT pertemuan kedua di kelas 5A SDN Tegaron 02 dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Proses pembelajaran pada pertemuan kedua diikuti oleh seluruh siswa kelas 5A yang berjumlah 19 siswa. Sedangkan penerapan model pembelajaran NHT di kelas 5 SDN Sepakung 03 dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 April 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pembelajaran diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 yang berjumlah 20 siswa.
Guru melakukan kegiatan awal yaitu berdoa, pemberian salam, absensi, dan guru memeriksa kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran dan diawali dengan mengulas kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan pada pertemuan pertama mengenai materi peristiwa alam, kemudian guru meminta setiap siswa untuk duduk berkelompok (sesuai dengan kelompok pada pertemuan sebelumnya) lalu siswa menempatkan diri sesuai dengan kelompoknya. Selanjutnya guru memberikan waktu kepada siswa untuk belajar dan setiap siswa belajar dalam kelompoknya. Karena waktu belajar telah habis maka setiap siswa segera duduk dengan rapi dan menyiapkan nomor dengan benar.
Setelah itu, dilanjutkan dengan langkah-langkah dari model NHT yaitu: pemberian jawaban, guru membacakan soal lalu menunjuk salah satu nomor, siswa yang memiliki nomor yang sama sesuai dengan disebut guru, mengangkat nomornya dan guru mengundi nomor kelompok yang akan menjawab pertanyaan. Siswa yang nomornya ditunjuk oleh guru, mewakili kelompoknya dengan menjawab pertanyaan sesuai diskusi yang telah dilakukan. Siswa yang memiliki nomor sama dari kelompok berbeda memberikan tanggapan. Selanjutnya, dilakukan sintak berikutnya yaitu memberi kesimpulan. Guru meluruskan jawaban siswa yang kurang tepat dengan memberikan kesimpulan atas pertanyaan dari jawaban siswa.
Selanjutnya dilakukan sintak terakhir yaitu penghargaan kelompok, guru memberikan reward kepada kelompok yang memiliki poin tertinggi. Kelompok yang mendapatkan poin tertinggi mendapat reward dari guru. Selanjutnya proses
pembelajaran diakhiri dengan kegiatan penutup berupa pemberian soal posttest untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar.
Berdasarkan hasil observasi, tingkat keterlaksanaan aktivitas guru pada pertemuan kedua yang dilakukan di kelas 5A SDN Tegaron 02 dan SDN Sepakung 03 mencapai 100% dari 5 poin kegiatan artinya seluruh kegiatan aktivitas guru terlaksana. Begitu pula tingkat keterlaksanaan aktivitas siswa mencapai 100% dari 5 poin kegiatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas guru dan siswa pada pertemuan kedua telah dilaksanakan dan tingkat keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori sangat baik. Keterangan lebih rinci mengenai hasil observasi proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 11 hlm 157-160 lembar observasi guru dan siswa.
4.1.1.2 Tingkat Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD Mengunakan Model NHT Sebagai Kelompok Eksperimen 1
Tingkat hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen 1 dipaparkan melalui statistik deskriptif dari skor pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata (mean), skor tertinggi (max), skor terendah (min), standar deviasi, dan distribusi frekuensi yang disajikan dalam bentuk grafik.
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Skor Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen 1 SD Negeri Tegaron 02 (SD Inti) dan SD Negeri Sepakung 03 (SD Imbas)
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa skor rata-rata kelas eksperimen (skor pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model NHT sebesar 53,97 dengan standar deviasi 9,541. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model NHT didapatkan skor rata-rata (skor posttest) meningkat menjadi 85,26 dengan standar deviasi 7,517. Skor tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 70 dan skor terendahnya adalah 30, sedangkan pada posttest skor
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Pretest.Model.NHT 39 53.97 9.541 30 70
tertinggi yang dicapai adalah 100 dan skor terendahnya adalah 75. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest sebanyak 39 siswa.
Melihat banyaknya jumlah data yang disajikan, maka data disusun menggunakan tabel distribusi frekuensi agar penyajiannya lebih efisien dan komunikatif. Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dari selisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas. Untuk menetukan jumlah kelas, maka peneliti mengguakan rumus Sturges (Sugiyono, 2013: 35) yaitu K= 1+ 3,3 log n. K merupakan jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Melalui rumus dapat diperoleh K= 1+ 3,3 .log 39 = 1+5,25 = 6,25 atau dibulatkan menjadi 6. Interval kelas didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas, untuk skor pretest = 6,67 atau dibulatkan menjadi 7, sedangkan interval kelas posttest didapatkan = 4,16 atau dibulatkan menjadi 4. Hasil distribusi frekuensi skor pretest dan posttest kelompok eksperimen 1 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Skor Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen 1 No. Kelas Interval Skor Pretest Presentase Kelas Interval Skor Posttest Persentase Frekuensi Frekuensi 1. 30 – 37 1 2,56% 75 – 79 8 20,51% 2. 38 – 45 8 20,51% 80 – 84 8 20,51% 3. 46 – 53 10 25,64% 85 – 89 6 15,39% 4. 54 – 61 12 30,77% 90 – 94 9 23,08% 5. 62 – 69 4 10,26% 95 – 99 7 17,95% 6. 70 4 10,26% 100 1 2,56% Jumlah 39 100% Jumlah 39 100%
Dari tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa pada skor pretest terdapat 1 siswa yang mendapatkan skor antara 30-37 dengan persentase 2,56%, 8 siswa yang mendapatkan skor antara 38-45 dengan persentase 20,51%, 10 siswa mendapatkan skor antara 46-53 dengan persentase 25,64%, 12 siswa mendapatkan skor antara 54-61 dengan persentase 30,77%, 4 siswa mendapatkan skor antara
62-69 dengan persentase 10,26% dan 4 siswa mendapatkan skor 70 dengan persentase 10,26%, sedangkan pada skor posttest yaitu terdapat 8 siswa yang mendapatkan skor antara 75-79 dengan persentase 20,51%, 8 siswa yang mendapatkan skor antara 80-84 dengan persentase 20,51%, 6 siswa yang mendapatkan skor antara 85-89 dengan persentase 15,39%, 9 siswa yang mendapatkan skor antara 90-94 dengan persentase 23,08%, 7 siswa yang mendapatkan skor antara 95-99 dengan persentase 17,95%, dan 1 siswa yang mendapatkan skor 100. Penjelasan lebih jelas mengenai daftar distribusi frekuensi skor pretest dan posttest di atas maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.1
Grafik Distribusi Frekuensi Skor Pretest Kelompok Eksperimen 1
Gambar 4.2
Grafik Distribusi Frekuensi Skor Posttest Kelompok Eksperimen 1
0 2 4 6 8 10 12 14 30 – 37 38 – 45 46 – 53 54 – 61 62 – 69 70
Pretest
Pretest 0 2 4 6 8 10 75 – 79 80 – 84 85 – 89 90 – 94 95 – 99 100Posttest
Posttest4.1.2 Hasil Implementasi Pembelajaran IPA menggunakan Model Teams
Games Tournament (TGT) sebagai kelompok eksperimen 2
Pada sub bab ini, akan dipaparkan hasil implementasi pembelajaran dan tingkat ketercapaian hasil belajar IPA dengan menggunakan model pembelajaran TGT pada kelompok eksperimen 2. Kelompok eksperimen 2 terdiri atas siswa kelas 5B SDN Tegaron 02 (SD inti) dan kelas 5 SDN Rowoboni 02 (SD imbas). Mata pelajaran yang diteliti adalah IPA dengan mengambil topik peristiwa alam yang didasarkan pada Standar Kompetensi 7 memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam, sedangkan Kompetensi Dasar 7.6 mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan. Indikator yang disusun yaitu sebagai berikut: a) menjelaskan penyebab terjadinya berbagai peristiwa alam di Indonesia, b) mengelompokkan peristiwa alam yang dapat dicegah dan yang tidak dapat dicegah, c) menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari peristiwa alam terhadap makhluk hidup dan lingkungan, dan 4) menjelaskan usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peristiwa alam.
Tidak berbeda dengan perlakuan yang diberikan pada eksperimen 1, upaya-upaya yang dilakukan peneliti untuk mengontrol variabel di luar treatment meliputi 5 hal yaitu: a) pengaruh guru dalam menerapkan treatment. Artinya perlakuan dalam menerapkan model NHT dan TGT dilakukan oleh guru/orang yang sama, dalam hal ini pemberian perlakuan dilakukan oleh orang yang sama sudah terpenuhi. b) Maturation (kematangan), menunjukkan kematangan psikologis dan biologis anak sesuai umurnya. Dari segi kematangan, rata-rata kematangan mereka relatif homogen/sama dengan rata-rata umur siswa adalah 10 tahun. c) pengujian sebelumnya (testing), pretest dalam penelitian ini dilakukan sebelum memberikan perlakuan, sedangkan posttest dilakukan setelah pemberian perlakuan. Jika kedua tes yang dilakukan adalah sama, maka pengalaman siswa dalam mengerjakan tes awal dapat mempengaruhi hasil tes atau posttest. Seorang siswa dapat menjawab soal dengan baik dikarenakan soal pretest dan posttest yang dibuat itu sama, untuk menghindari hal tersebut telah dilakukan penyusunan soal pretest dan posttest yang berbeda struktur pengkalimatan dan penomoran. d)
Mortalitiy, subyek penelitian baik dalam kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak semuanya secara aktif terlibat selama berlangsungnya pelaksanaan eksperimen. Dalam hal ini pada saat pretest didapatkan 2 siswa yang tidak berangkat dan 2 siswa saat posttest tidak berangkat, maka penyeimbangan dilakukan dengan cara mengeluarkan 4 siswa dalam kelompok. e) Possible regression and interaction betwen selection, yaitu dalam pemilihan kelompok-kelompok eksperimen sudah diseimbangkan dengan cara masing-masing kelompok, apabila skor pretest ada yang menonjol paling tinggi dan paling rendah, maka penyeimbangan dilakukan dengan cara mengeluarkan siswa tersebut dari kelompok. Dalam hal ini didapatkan satu siswa yang mendapat nilai tertinggi 100, maka penyeimbangan dilakukan dengan cara mengeluarkan 1 siswa yang mendapat nilai tertinggi dari kelompok.
4.1.2.1 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Mapel Ilmu Pengetahuan Alam Menggunakan Model TGT Kelompok Eksperimen 2
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model kooperatif TGT pada kelompok eksperimen 2 ini terdiri dari dua kali pertemuan, dengan alokasi waktu selama 70 menit (2 x 35 Menit). Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2016 dan pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 31 Maret 2016 yang diikuti oleh siswa kelas 5B SDN Rowoboni 02 (SD inti) yang berjumlah 19 siswa. Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan diamati oleh Amini (guru kelas 5). Sedangkan Implementasi pembelajaran menggunakan model kooperatif TGT di kelas 5 SD Negeri Rowoboni 02 (SD imbas) dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 30 Maret 2016 yang diikuti oleh 23 siswa dari jumlah keseluruhan 25 siswa dan pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 01 April 2016 yang diikuti oleh 23 siswa dari jumlah keseluruhan 25 siswa. Selama pertemuan pertama dan kedua siswa yang tidak hadir dalam pelaksanaan eksperimen ada 4 siswa dan 1 siswa dikeluarkan dalam kelompok eksperimen karena mendapatkan nilai pretest tertinggi yaitu 100. Sehingga sampel yang sebelumnya 25 dari keseluruhan siswa menjadi 20 siswa. Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan diamati oleh Wahyu Setyawati (guru kelas 5).
a. Pertemuan Pertama
Proses pembelajaran menggunakan model kooperatif TGT pertemuan pertama di kelas 5B SDN Tegaron 02 dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Proses pembelajaran pada pertemuan pertama diikuti oleh seluruh siswa kelas 5B yang berjumlah 19 siswa. Sedangkan penerapan model pembelajaran TGT di kelas 5 SDN Rowoboni 02 dilakukan pada hari Rabu, 30 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pembelajaran diikuti oleh 23 siswa yang hadir dari jumlah keseluruhan 25 siswa. Pada pertemuan pertama terdapat 2 siswa yang tidak hadir dikarenakan sedang sakit.
Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran antara lain rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku paket, dan ruang untuk proses belajar mengajar. Guru melakukan kegiatan awal yaitu berdoa, pemberian salam, absensi, dan guru memeriksa kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran. Selanjutnya, guru melakukan apersepsi untuk menggali pengetahuan awal siswa dengan memberikan soal pretest. Setelah siswa membaca dan mulai menjawab soal pretest tersebut, ada siswa yang bertanya kepada guru tentang soal yang belum mereka pelajari, sehingga siswa tidak bisa untuk mengerjakan. Untuk itu, guru meminta siswa mengerjakan sebisanya. Siswa mengerjakan soal pretest dengan tenang walaupun terdapat beberapa siswa yang merasa binggung karena kesulitan dalam mengerjakan soal pretest tersebut. Selanjutnya guru menginformasikan cakupan materi serta menjelaskan tujuan pembelajaran.
Materi pembelajaran pada pertemuan pertama yaitu peristiwa alam dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: sintak pertama penyajian kelas, pada tahap ini guru menggiring perhatian siswa dengan menempelkan gambar peristiwa alam di papan tulis, pada saat guru menempelkan gambar tampak siswa memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan guru sehingga timbul rasa ingin tahu mengenai gambar yang disajikan. Selanjutnya guru menggali pengetahuan siswa dengan bertanya mengenai gambar yang disajikan, lalu siswa menanggapi pertanyaan dari guru mengenai gambar yang disajikan. Setelah dilakukan tanya jawab, guru menyampaikan materi tentang peristiwa alam
menggunakan media gambar, pada saat guru menjelaskan, siswa memperhatikan dengan seksama materi yang dijelaskan guru. Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum mereka pahami. Pada saat pemberian kesempatan bertanya, tidak ada siswa yang bertanya karena sudah paham akan materi yang dipelajari.
Selanjutnya dilakukan sintak kedua yaitu belajar dalam kelompok, pada tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 – 5 siswa secara heterogen sesuai tingkatan akademik siswa dan meminta siswa duduk bersama dengan anggota kelompoknya. Setelah itu, guru membagikan nama kelompok dan LKS. Guru meminta setiap kelompok untuk memulai mengerjakan soal yang ada dalam LKS secara berkelompok. Namun pada saat proses diskusi berlangsung ada 2 siswa yang tidak mau belajar bersama dengan kelompoknya, lalu guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk bekerja dalam kelompok dengan baik sehingga dua siswa tersebut termotivasi untuk belajar bersama dengan kelompoknnya. Setelah beberapa menit diskusi berlangsung terdapat kelompok yang sudah selesai duluan mengerjakan LKS sehingga suasana kelas mulai ramai, lalu guru menarik perhatian siswa untuk berdiskusi dengan serius lagi supaya dapat menjawab pertanyaan dengan benar karena akan ada games nantinya. Setelah siswa mendengarkan arahan guru maka siswa terdorong untuk belajar bersama dengan semua anggota kelompoknya. Setelah waktu berdiskusi habis, guru menginformasikan bahwa setiap kelompok harus mengakhiri diskusinya dan duduk dengan rapi. Selanjutnya guru menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya akan diadakan games tournament antar kelompok. Untuk itu, guru memotivasi siswa agar mempersiapkan diri dengan mempelajari materi hari ini di rumah.
Berdasarkan hasil observasi, tingkat keterlaksanaan aktivitas guru pada pertemuan pertama yang dilakukan di kelas 5B SDN Tegaron 02 dan SDN Rowoboni 02 mencapai 100% dari 5 poin kegiatan artinya seluruh kegiatan aktivitas guru terlaksana. Begitu pula tingkat keterlaksanaan aktivitas siswa mencapai 100% dari 5 poin kegiatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas guru dan siswa pada pertemuan pertama telah dilaksanakan dan tingkat
keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori sangat baik. Keterangan lebih rinci mengenai hasil observasi proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 11 hlm 161-164 lembar observasi guru dan siswa.
b. Pertemuan Kedua
Proses pembelajaran menggunakan model kooperatif TGT pertemuan kedua di kelas 5B SDN Tegaron 02 dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Maret 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Proses pembelajaran pada pertemuan kedua diikuti oleh seluruh siswa kelas 5B yang berjumlah 19 siswa. Sedangkan penerapan model pembelajaran TGT di kelas 5 SDN Rowoboni 02 dilakukan pada hari Jumat, 01 April 2016 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pembelajaran diikuti oleh 23 siswa yang hadir dari jumlah keseluruhan 25 siswa. Pada pertemuan kedua terdapat 2 siswa yang tidak hadir dikarenakan izin.
Guru melakukan kegiatan awal yaitu berdoa, pemberian salam, absensi, memeriksa kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran dan diawali dengan mengulas kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan pada pertemuan pertama mengenai materi peristiwa alam, kemudian guru meminta siswa untuk duduk berkelompok sesuai dengan kelompoknya kemarin. Selanjutnya guru memberikan waktu kepada setiap siswa untuk belajar dan setiap siswa belajar dalam kelompoknya.
Pada tahap ketiga yaitu games tournament, guru memberikan arahan tentang aturan pada games tournament dan siswa memperhatikan penjelasan guru tenang aturan games tournament. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang aturan turnamen, ada beberapa siswa yang bertanya karena belum paham, sehingga guru mengulang kembali tentang aturan turnamen. Kegiatan turnamen dimulai dengan menunjuk masing-masing 4-5 siswa yang memiliki kemampuan hampir sama untuk siap duduk di meja turnamen. Siswa yang dipanggil guru menempatkan diri sesuai posisi yang ditetapkan guru di dalam meja turnamen. Selanjutnya guru memberikan kartu yang berisi pertanyaan dan kunci jawaban kepada masing-masing kelompok. Siswa mengambil kartu kemudian membaca soal lalu menjawab dalam waktu yang sudah ditentukan dan membuka kunci jawaban untuk mengetahui jawabannya.
Selanjutnya dilaksanakan sintak terakhir, penghargaan kelompok. guru menghitung rerata skor kelompok. Guru memberikan poin 1 untuk jawaban yang benar dan poin 0 untuk jawaban yang salah dan menuliskannya dalam tabel perhitungan skor di papan tulis. Kegiatan tersebut dilakukan berulang kali sampai semua anggota kelompok terpanggil. Setelah hasil penghitungan poin selesai guru mengumumkan kelompok yang memiliki poin tertinggi untuk maju di depan kelas. Selanjutnya guru memberikan reward atau penghragaan kepada kelompok yang menang karena mendapatkan poin tertinggi.
Setelah itu, guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran hari ini. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran maka guru memberikan soal posttest. Siswa mengerjakan soal posttest dalam waktu yang telah ditentukan guru.
Berdasarkan hasil observasi, tingkat keterlaksanaan aktivitas guru pada pertemuan kedua yang dilakukan di kelas 5B SDN Tegaron 02 dan SDN Rowoboni 02 mencapai 100% dari 5 poin kegiatan artinya seluruh kegiatan aktivitas guru terlaksana. Begitu pula tingkat keterlaksanaan aktivitas siswa mencapai 100% dari 5 poin kegiatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas guru dan siswa pada pertemuan kedua telah dilaksanakan dan tingkat keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori sangat baik. Keterangan lebih rinci mengenai hasil observasi proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 11 hlm 161-164 lembar observasi guru dan siswa.
4.1.2.2 Tingkat Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD pada Kelompok Eksperimen 2
Tingkat hasil belajar IPA siswa dipaparkan melalui statistik deskriptif dari hasil pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata (mean), skor tertinggi (max), skor terendah (min), standar deviasi, distribusi frekuensi yang disajikan dalam bentuk grafik.
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Skor Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen 2 SD Negeri Tegaron 02 (SD Inti) dan SD Negeri Rowoboni 02
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa skor rata-rata kelompok eksperimen 2 (skor pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model TGT sebesar 53,08 dengan standar deviasi 10,676. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model TGT didapatkan skor rata-rata (skor posttest) meningkat menjadi 79,74 dengan standar deviasi 6,878. Skor tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 80 dan nilai terendahnya adalah 35, sedangkan pada posttest skor tertinggi yang dicapai adalah 100 dan skor terendahnya adalah 70. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest sebanyak 39 siswa.
Jumlah data yang disajikan cukup banyak, maka data disusun menggunakan tabel distribusi frekuensi agar penyajiannya lebih efisien dan komunikatif. Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dari selisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas. Untuk menetukan jumlah kelas, maka peneliti mengguakan rumus Sturges (Sugiyono, 2013: 35) yaitu K= 1+ 3,3 log n. K merupakan jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Melalui rumus dapat diperoleh K= 1+ 3,3 .log 39 = 1+ 5,25 = 6,25 atau dibulatkan menjadi 6. Interval kelas didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas, untuk skor pretest = 7,5 atau dibulatkan menjadi 8, sedangkan interval kelas posttest didapatkan = 5. Hasil distribusi frekuensi skor pretest dan posttest kelompok eksperimen 2 dapat dilihat pada tabel berikut.
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Pretest.Model.TGT 39 53.08 10.676 35 80
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Skor Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen 2 No. Kelas Interval Skor Pretest Presentase Kelas Interval Skor Posttest Persentase Frekuensi Frekuensi 1. 35 – 43 5 12,82% 70 – 75 17 43,56% 2. 44 – 52 18 46,16% 76 – 81 11 28,21% 3. 53 – 61 5 12,82% 82 – 87 6 15,39% 4. 62 – 70 8 20,51% 88 – 93 3 7,70% 5. 71 – 79 2 5,13% 94 – 99 1 2,57% 6. 80 – 88 1 2,56% 100 1 2,57% Jumlah 39 100% Jumlah 39 100%
Dari tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa pada skor pretest terdapat 5 siswa yang mendapatkan skor antara 35–43 dengan persentase 12,82%, 18 siswa yang mendapatkan skor antara 44–52 dengan persentase 46,16%, 5 siswa mendapatkan skor antara 53–61 dengan persentase 12,82%, 8 siswa mendapatkan skor antara 62–70 dengan persentase 20,51%, 2 siswa mendapatkan skor antara 71–79 dengan persentase 5,13%, dan 1 siswa mendapat skor 80-88 dengan persentase 2,56%.
Sedangkan pada skor posttest yaitu 17 siswa mendapat skor antara 70-75 dengan persentase 43,56%, 11 siswa mendapat skor antara 76-81 dengan persentase 28,21%, 6 siswa mendapat skor antara 82-87 dengan persentase 15,39%, 3 siswa mendapat skor antara 88-93 dengan persentase 7,70%, 1 siswa mendapat skor antara 94-99 dengan persentase 2,57% dan 1 siswa mendapat skor antara 100 dengan persentase 2,57%. Penjelasan lebih jelas mengenai daftar distribusi frekuensi skor pretest dan posttest di atas maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.3
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Eksperimen 2
Gambar 4.4
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Eksperimen 2
4.1.3 Deskripsi Komparasi Hasil Pengukuran
Deskripsi komparasi ini memaparkan perbandingan hasil pengukuran dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 berdasarkan skor pretest dan posttest. Deskripsi tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan grafik sebagai berikut: 0 5 10 15 20 35 – 43 44 – 52 53 – 61 62 – 70 71 – 79 80 – 88
Pretest
Pretest 0 5 10 15 20 70 – 75 76 – 81 82 – 87 88 – 93 94 – 99 100Posttest
PosttestTabel 4.5
Tabel Komparasi Hasil Pengukuran Kelompok Eksperimen 1 dan Kelompok Eksperimen 2 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro
Tahap Pengukuran Rerata skor (mean) kelompok Keterangan selisih skor
Eksperimen 1 Eksperimen 2
Pretest 53,97 53,08 0,89
Posttest 85,26 79,74 5,52
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, dapat diketahui adanya perbedaan skor rata-rata tahap pengukuran pretest dan posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Perbedaan skor rata-rata tersebut ditunjukkan oleh adanya selisih skor rata-rata antara kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Pada tahap pengukuran pretest terdapat perbedaan skor rata-rata yang ditunjukkan oleh adanya selisih skor antara kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 sebesar 0,89. Pada tahap pengukuran pretest, rata-rata kolompok eksperimen 1 lebih unggul dibandingkan skor rata-rata kelompok eksperimen 2. Sedangkan pada tahap pengukuran posttest terdapat perbedaan skor rata-rata kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 sebesar 5,52. Pada tahap pengukuran posttest, skor rata-rata kelompok eksperimen 1 lebih unggul dibandingkan skor rata-rata kelompok eksperimen 2.
Gambar 4.5
Grafik Deskripsi Komparasi Hasil Pengukuran Skor Pretest dan Postest Kelompok Eksperimen 1 dan Kelompok Eksperimen 2
53,97 53,08 85,26 79,74 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Eksperimen 1 Eksperimen 2 Pretest Posttest
4.1.4 Hasil Uji Perbedaan Rerata Hasil Belajar
Hasil uji perbedaan rerata hasil belajar kelompok eksperimen 1 dan eksperimen 2 serta teknik analisis data diperoleh melalui uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji prasyarat yang dilakukan yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas variansi data. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui distribusi kenormalan data, sedangkan uji homogenitas untuk mengetahui kesetaraan data. 4.1.4.1 Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui data berasal dari distribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data dilakukan dengan bantuan SPSS 16 melalui uji Kolmogorov-Smirnov, dengan dasar pengambilan keputusan; jika nilai signifikansi/probabilitas < 0,05, maka data berdistribusi tidak normal. Apabila nilai signifikansi/probabilitas > 0,05, maka data berdistribusi normal.
Tabel 4.6
Hasil Uji Normalitas Skor Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen 1 dan Kelompok Eksperimen 2
Berdasarkan tabel 4.6 di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) uji Kolmogorov-Smirnov hasil pretest-posttest kelompok eksperimen 1 adalah 0,355 dan 0,199. Sedangkan hasil pretest-posttest kelompok eksperimen 2 adalah 0,080 dan 0,080. Oleh karena nilai signifikansi/probabilitas Asymp. Sig. (2-tailed) data-data tersebut > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa persebaran data hasil pretest-posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 berdistribusi normal.
4.1.4.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui varian kedua kelompok homogen atau tidak. Uji ini dilakukan sebagai prasyarat dalam analisis independent sample t test. Pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 16. Sebagai kriteria pengujian, apabila nilai signifikansi/probabilitas < 0,05, maka data dikatakan tidak homogen. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa varian dari dua atau lebih kelompok data adalah sama. Jika kedua kelompok memiliki varian yang sama maka kedua kelompok tersebut dikatakan homogen.
Tabel 4.7
Hasil Uji Homogenitas Skor Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen 1 dan Kelompok Eksperimen 2
Berdasarkan tabel 4.7 di atas diketahui bahwa Test of Homogeneity of Variances signifikansi/probabilitas nilai pretest pada Based on Mean menunjukkan angka 0,424, Based on Median 0,731, Based on Median and with adjusted df 0,7231 dan Based on trimmed mean 0,469. Oleh karena skor signifikansi/probabilitas > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa skor pretest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 adalah homogen. Skor signifikansi/probabilitas posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 skor posttest Based on Mean menunjukkan angka 0,173, Based on Median 0,179, Based on Median and with adjusted df 0,179, dan Based on trimmed mean 0,197 dengan demikian dapat dikatakan bahwa skor posttest
kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 adalah homogen. Melihat skor signifikansi/probabilitas pretest-posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2, dapat disimpulkan bahwa data skor pretest-posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 memiliki varian data yang homogen atau sama.
4.1.5 Hasil Uji Beda T-test
Berdasarkan hasil perhitungan uji prasyarat pada uji normalitas dan uji homogenitas antara kelompok eksperimen 1 yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran NHT dan kelompok eksperimen 2 yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran TGT, menunjukkan bahwa data sudah berdistribusi normal dan homogen. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji t atau uji beda. Uji beda/ uji t bertujuan untuk mengetahui perbedaan skor posttest pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2. Dasar dari pengambilan keputusan tersebut dapat dilihat pada nilai probabilitas pada kolom sig. (2-tailed).
a) Jika nilai probabilitas > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
b) Apabila nilai probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Perhitungan uji beda menggunakan uji t Independent T test. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.8
Analisis Uji t pada Kelompok Eksperimen 1 dan Eksperimen 2
Berdasarkan tabel 4.8 diatas dapat dilihat bahwa nilai thitung > ttabel 3,379 >
1,893 dengan signifikan (2-tailed) 0,001. Karena nilai probabilitas 0,001 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
4.1.6 Uji Hipotesis
Tahap setelah melakukan uji beda t-test pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 adalah uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui diterima atau tidaknya hipotesis yang sudah diajukan. Hipotesis yang diajukan yaitu:
H0 : μ1 = μ2 Tidak ada perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA pada siswa
kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT).
Ha : μ1 ≠ μ2 Terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA pada siswa
kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT).
Kriteria pengujian hipotesis berdasarkan taraf signifikansi yaitu jika probabilitas > 0,05 maka dapat dinyatakan tidak terdapat perbedaan dan jika probabilitas signifikansinya < 0,05 maka dapat dinyatakan terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
Berdasarkan hasil uji t pada tabel 4.8 diketahui bahwa nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,001. Kriteria pengujian hipotesis berdasarkan probabilitas dapat dikatakan bahwa H0 ditolak. Karena nilai signifikansi probabilitas pada uji beda <
0,05. Dengan ditolaknya H0 maka diterimalah Ha. Secara empirik, hasil dari
pengujian hipotesis uji beda t-test menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT).
4.2 Pembahasan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi perbedaan hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe NHT dan TGT. Hasil uji hipotesis menggunakan teknik uji beda t-test yang telah dilakukan terhadap nilai posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 diperoleh hasil
thitung > ttabel 3,379 > 1,893 dengan signifikan (2-tailed) 0,001. Karena nilai
signifikansi/probabilitas 0,001 < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya
terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT).
Signifikansi perlakukan dimana terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 5 SD Gugus Ki Hajar Dewantoro Banyubiru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT) didukung oleh nilai rerata dari dua sampel dimana rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran NHT sebesar 85,26, sedangkan nilai rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran TGT sebesar 79,74. Artinya ialah bahwa perbedaan nilai rerata hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran NHT memberikan dampak hasil belajar lebih tinggi daripada model pembelajaran TGT.
Keampuhan model pembelajaran NHT memberikan dampak yang lebih tinggi terhadap hasil belajar IPA dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran TGT. Hal ini terjadi jika dilakukan sesuai sintak model NHT memiliki kelebihan yaitu siswa lebih banyak menelaah materi dari hasil diskusi bersama kelompoknya, selama diskusi pun sikap keterampilan sosial siswa berkembang mulai dari sikap saling bertukar pikiran antar sesama teman, saling menghargai pendapat yang berbeda, melatih kesiapan semua siswa dalam menjawab pertanyaan karena dilakukan secara acak, dan terdapat penghargaan kelompok agar dapat memotivasi siswa dalam belajar.
Hal ini juga didasarkan pada hasil penelitian yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyani, Kurnia, dan Tampubolon (2013) Perbedaan Hasil Belajar IPA dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together dan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 5 SD Negeri Kaumpandak 04 dalam penerapan model pembelajaran kooperatif NHT dan Jigsaw. Hal ini terbukti dengan nilai posttest kelompok
eksperimen pertama yang menerapkan model pembelajaran NHT diperoleh rata-rata posttest sebesar 78 sedangkan pada kelompok eksperimen 2 dengan model pembelajaran Jigsaw diperoleh nilai rata-rata posttest sebesar 74.
Penelitian yang dilakukan oleh Ningrum, Diana (2011) menunjukkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) efektif untuk diterapkan pada mata pelajaran IPA materi daur air terhadap siswa kelas 5 di SD Negeri 03 Sungapan yang dibuktikan dari perolehan skor rata-rata yang menggunakan hasil posttest IPA di kelas eksperimen yaitu 73,81 sedangkan kelas kontrol 59,06. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan peneliti.
Penelitian ini juga mendukung dengan yang dilakukan Tiara dan Yunansah (2013) Pengaruh Pembelajaran Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 4 SD di Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung pada Konsep Energi dan Perubahannya. Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan tipe NHT dengan yang menggunakan metode konvensional. Hal ini terbukti dengan nilai posttest kelompok eksperimen yaitu 65,1 sedangkan posttest kelas kontrol yaitu 52,4.
Penelitian yang dilakukan oleh Petrus (2012) Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Mangunsari 01 Salatiga. Penelitian ini menunjukkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT efektif diterapkan dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Mangunsari 01. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata posttest pada kelompok eksperimen yaitu 85,65 sedangkan rata-rata posttest kelompok kontrol yaitu 69,09. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan peneliti.
Penelitian yang dilakukan oleh Eka, Ardana, dan Putra (2014) Penerapan Model Pembelajaran Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Gugus LT. Wisnu Denpasar Utara. Penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa kelas 5 sekolah dasar gugus Letkol Wisnu Peguyungan Denpasar Utara. Hal ini terbukti dengan nilai rata-rata posttest kelas eksperimen yaitu 70,37
sedangkan nilai rata-rata posttest kelas kontrol yaitu 65,66. Penelitian ini mendukung dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
Selain mendukung hasil penelitian yang menyatakan hasil belajar NHT lebih tinggi daripada model pembelajaran konvensional atau model lain. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widya, Ardana, dan Manuaba (2014) Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD Negeri Sumerta Denpasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui model kooperatif tipe Teams Games Tournament dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil analisis diperoleh = 6,87 > = 2,00 dengan dk= 78 dan taraf signifikansi 5%. Dengan nilai rata-rata kelas eksperimen yang dibelajarkan melalui model kooperatif tipe Teams Games Tournament lebih dari kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional yaitu 81 > 69,25.
Penelitian yang dilakukan oleh Ernawati, Putra, dan Suadnyana (2013) Pengaruh Penerapan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 4 SD N Gugus 6 Mengwi Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan hasil belajar IPA siswa dalam penerapan model pembelajaran TGT dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model konvensional ( = 3,67 > = 200). Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti juga bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati, Jampel, dan Widiana (2013) Pengaruh Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) Terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas 5 SD Gugus I Kecamatan Penebel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran TGT dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dengan perhitung = 10,374 > = 2,003. Rata-rata skor hasil belajar
hasil lebih tinggi daripada model pembelajaran konvensional. Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
Penelitian yang dilakukan oleh Rukiyah (2011) Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar IPA siswa SD Negeri 15 Inderalaya Utara. Hal dibuktikan dengan data analisis dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian yang diperoleh adalah
> atau 5,259 > 2,287 yang berarti terdapat perbedaan yang nyata nilai
rata-rata hasil belajar kelas perlakuan dengan kelas pembanding sehingga disimpulkan ada pengaruh penerapan model pembelajaran TGT. Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti juga bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusmariyatni dan Wibawa (2014) Pengaruh Model Pembelajaran Tipe TGT Terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas 4 di Gugus VIII Kecamatan Kubutambahan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model TGT dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (thitung = 53,46 > ttabel = 2,02;ɑ = 0,05). Hal ini terbukti dengan
rata-rata hasil belajar IPA siswa dengan model pembelajaran TGT adalah 15,63 berdasarkan hasil konversi dapat dinyatakan dalam kategori baik sedangkan hasil belajar IPA siswa dengan model konvensional adalah 9,91 berdasarkan hasil konversi dapat dinyatakan dalam kategori sedang.
Keberhasilan model pembelajaran NHT sesuai dengan kerangka pikir yang terdapat pada BAB II. Melalui pembelajaran dengan menggunakan model NHT pada mata pelajaran IPA yaitu materi peristiwa alam, siswa dapat menjelaskan penyebab terjadinya berbagai peristiwa alam di Indonesia, mengelompokkan peristiwa alam yang dapat dicegah dan yang tidak dapat dicegah, menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari peristiwa alam terhadap makhluk hidup dan lingkungan, dan menjelaskan usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peristiwa alam.
Keberhasilan pembelajaran tidak luput dari dampak pengiring yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajaran, sebagai akibat terciptanya suasana
belajar yang dialami langsung oleh para siswa tanpa pengarahan langsung dari pengajar. Dampak pengiring yang secara khusus akan didapatkan siswa dalam pembelajaran IPA dengan materi peristiwa alam melalui model NHT adalah terbentuk sikap rasa ingin tahu, tenggang rasa, demokratis, toleransi, kerja sama, berfikir kritis, percaya diri, tanggung jawab, peduli, dan sportif.
Selain itu, keberhasilan pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT dimungkinkan karena dilaksanakannya seluruh langkah-langkah NHT dengan baik. Adapun langkah-langkah pembelajaran NHT tersebut adalah persiapan, dimana guru harus mengembangkan materi pelajaran yang akan dipelajari. Penomoran, dalam tahap ini guru membimbing siswa dalam membentuk kelompok yang terdiri dari, ras, jenis kelamin, dan kemampuan yang berbeda. Pertanyaan (Questioning) dan berfikir bersama (Heads Together), dalam tahap ini guru memfasilitasi siswa untuk belajar bersama kelompoknya melalui pemberian LKS, selama proses diskusi berlangsung siswa berfikir bersama untuk mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakan jawabannya. Pemberian jawaban, dalam tahap ini nomor yang ditunjuk guru dan melalui pengundian kelompok, siswa mewakili kelompok menjawab hasil diskusi yang dilakukan. Memberi kesimpulan, dalam tahap ini siswa menyimak penjelasan atau klarifikasi guru tentang jawaban-jawaban yang telah diberikan siswa. Penghargaan kelompok, guru menghitung rerata skor masing-masing kelompok, dari rata-rata skor kelompok maka terlihat kelompok yang mempunyai hasil belajar tinggi atau rendah. Guru memberikan penghargaan kelompok yang hasil belajarnya tinggi.
4.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan di SD Gugus Ki Hajar Dewantoro berjalan dengan lancar. Meskipun demikian selama melakukan penelitian, peneliti mengalami beberapa kendala dalam proses penelitian. Adapun yang menjadi kendala dalam penelitian diantaranya adalah penelitian ini hanya mengukur hasil belajar siswa pada ranah kognitif saja, yang semestinya hasil belajar siswa diukur melalui 3 ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Selanjutnya keterbatasan dalam pengambilan sampel karena seharusnya penelitian ini menyatukan 2 sekolah yaitu
siswa kelas 5A SDN Tegaron 02 dengan SDN Sepakung 03 menjadi satu pada kelompok eksperimen 1, tetapi kenyataannya tidak bisa disatukan dan selama proses pembelajaran hanya dapat dilakukan pada masing-masing sekolah, begitu juga dengan siswa kelas 5B SDN Tegaron 02 dan SDN Rowoboni 02 yang merupakan kelompok eksperimen 2, karena adanya ketidaksetujuan dari pihak sekolah.