37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan membandingkan antara kelas eksperimen yang diberikan perlakukan menggunakan pembelajaran TGT (Team Game Turnament) dan kelas kontrol dengan menggunakan metode ceramah atau konvensional. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Krapyak sebagai kelompok eksperimen dan SD Negeri 2 Kulurejo sebagai kelompok kontrol. Pembelajaran TGT ini merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa kerjasama dalam kelompok untuk melakukan turnamen akademik. Pembelajaran TGT dimulai dengan guru menyampaikan materi pelajaran, membentuk siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 – 6 siswa yang anggotanya heterogen berdasarkan kemampuan akademiknya, guru mempersiapkan siswa dalam permainan, siswa melakukan turnamen, dan pemberian penghargaan kelompok.
Penelitian dilakukan di bulan Maret sampai dengan bulan April 2012. Sebelum dilakukan penelitian terhadap masing-masing kelas eksperimen dan kelas kontrol, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi terhadap kedua kelas tersebut. Observasi tersebut dilakukan untuk mendapatkan data siswa masing – masing kelompok kelas. Hasil observasi yang dilakukan didapat di kelas eksperimen yaitu siswa kelas IV SD Negeri Krapyak ada 24 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan, sedangkan di kelas kontrol yaitu siswa kelas IV SD Negeri 2 Kulurejo terdapat 19 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki – laki dan 9 siswa perempuan.
Sebelum dilakukan penelitian pada kedua kelas tersebut, sebelumnya dilakukan uji coba tes hasil belajar. Tes hasil belajar dilakukan di SD Negeri 1 Kulurejo sebagai SD uji coba dengan responden 18 siswa kelas IV. Uji coba dilakukan untuk mendapatkan data tes hasil belajar pretest dan posttest untuk menguji validitas dan reliabilitas soal. Dari hasil uji coba soal pretest yang berjumlah 20 butir soal didapat 15 soal valid dan 5 soal tidak valid dengan ketentuan corrected item total correlation > 0,04 dan reliabilitas 0,932 yang
artinya reliabilitas memuaskan dan dapat digunakan. Sedangkan untuk hasil uji coba tes hasil belajar posttest yang berjumlah 20 butir soal, didapat 15 soal valid dan 5 soal tidak valid dengan ketentuan corrected item total correlation > 0,04 dan reliabilitas 0,943 yang artinya reliabilitas memuaskan dan dapat digunakan. Soal yang dinyatakan valid baik soal pretest maupun soal posttest tersebut nantinya akan digunakan sebagai soal evaluasi sebelum dan sesudah pembelajaran baik di kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Pelaksanaan penelitian di kelas eksperimen dilakukan bertahap selama 3 x pertemuan, yaitu dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Maret 2012; Rabu, 4 April 2012; dan Sabtu, 7 April 2012. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru kelas IV yang pembelajarannya sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang telah dibuat.
Pelaksanaan tindakan pertama dilakukan pada hari Sabtu, 31 Maret 2012 di mana pembelajaran dilakukan selama 2 x 35 menit yang dimulai pada pukul 07.15 – 08.25 WIB. Pada pertemuan pertama di kelas eksperimen membahas materi tentang sifat dan jaring bangun ruang kubus. Guru mulai menyampaikan materi dengan menunjukkan benda yang menyerupai bangun ruang kubus yaitu kotak kapur. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dan melibatkan siswa dalam menentukan sifat dan jaring – jaring kubus. Guru membentuk siswa dalam kelompok yaitu masing-masing kelompok beranggotakan 6 siswa yang telah ditentukan guru berdasarkan prestasi akademiknya. Masing – masing kelompok terdiri dari siswa yang prestasinya tinggi, sedang, dan rendah. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi untuk memperdalam materi yang telah dipelajari. Setelah melakukan diskusi siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Selama diskusi dan presentasi guru memberikan bimbingan mengamati kegiatan siswa. Dengan bimbingan guru siswa membuat kesimpulan bersama – sama dan diakhiri dengan penginformasian materi pertemuan selanjutnya.
Pelaksanaan tindakan kedua dilakukan pada hari Rabu, 4 April 2012 di mana pembelajaran dilakukan selama 2 x 35 menit yang dimulai pada pukul 07.15 – 08.25 WIB. Pada pertemuan kedua di kelas eksperimen membahas materi tentang sifat dan jaring bangun ruang balok. Guru mulai menyampaikan materi dengan
menunjukkan benda yang menyerupai bangun ruang balok yaitu almari yang ada di dalam kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dan melibatkan siswa dalam menentukan sifat dan jaring – jaring balok. Kegiatan siswa unuk menentukan jaring – jaring balok dengan merangkai bangun datar persegi panjang hingga membentuk balok. Untuk memperdalam pengetahuan siswa, guru membentuk siswa dalam kelompok yang anggotanya sama dengan pertemuan sebelumnya. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi untuk memperdalam materi yang telah dipelajari. Setelah melakukan diskusi siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Selama diskusi dan presentasi guru memberikan bimbingan mengamati kegiatan siswa. Dengan bimbingan guru siswa membuat kesimpulan dan diakhiri dengan penginformasian pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
Pelaksanaan tindakan yang ketiga dilakukan pada hari Sabtu, 7 April 2012, pembelajaran dilakukan selama 2 x 35 menit dan dimulai pada pukul 07.15 – 08.25 WIB. Di pertemuan yang ketiga ini guru memulai pembelajaran dengan mengulang materi yang sebelumnya telah disampaikan. Guru kembali membentuk siswa dalam kelompok yang sebelumnya telah terbentuk, kelompok – kelompok tersebut dipersiapkan untuk melakukan turnamen akademik. Setelah guru mempersiapkan alat – alat permainan yang akan digunakan, guru menempatkan siswa – siswa dalam meja turnamen. Masing – masing meja turnamen ditempati oleh 4 siswa dari perwakilan masing – masing kelompok dengan prestasi akademik yang sama. Meja 1 ditempati oleh siswa yang mempunyai prestasi akademik tinggi, meja 2 ditempati siswa yang mempunyai prestasi akademik sedang, dan seterusnya sampai meja 6 yang ditempati oleh siswa yang mempunyai prestasi rendah.
Guru memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum siswa melakukan turnamen akademik. Dalam pelaksanaan turnamen guru membimbing siswa selama jalannya permainan. Di dalam permainan tersebut, siswa menjawab soal yang telah disediakan di masing – masing meja dan mendapatkan skor jika mereka menjawab pertanyaan dengan benar. Setelah turnamen selesai, masing – masing siswa berkumpul kembali ke kelompoknya masing masing seperti semula.
Dilakukan pembahasan terhadap soal yang belum bisa terjawab dengan benar oleh guru dan guru mengumpulkan skor yang didapat oleh masing – masing kelompok. Guru memberikan penghargaan terhadap kelompok yang dapat mengumpulkan skor tertinggi.
Selama pembelajaran berlangsung siswa benar-benar terlibat langsung dalam menemukan sifat dan jaring – jaring bangun ruang kubus dan balok. Dengan membagi siswa dalam kelompok yang anggotanya heterogen siswa yang kurang mampu menguasai pelajaran dapat belajar bersama dengan siswa yang lebih menguasai materi. Pembentukan kelompok ini pengetahuan siswa akan terbangun, dan dengan adanya turnamen siswa dapat menuangkan pengetahuan yang mereka tangkap selama pelajaran. Pemberian penghargaan terhadap kelompok merupakan salah satu bentuk penyemangat untuk siswa agar lebih tertantang mempelajari Matematika.
Pelaksanaan pembelajaran di kelas kontrol dilakukan dalam tiga kali pertemuan, dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Maret 2012; Rabu, 4 April 2012; dan Sabtu, 7 April 2012. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru kelas IV dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Pembelajaran terfokus pada guru, di mana guru menjelaskan dan siswa memperhatikan.
Pada pertemuan pertama hari Sabtu 13 Maret 2012 pembelajaran dilakukan pada jam ke 4 – 6, dimana pembelajaran membahas materi tentang sifat dan jaring – jaring bangun ruang kubus. Pertemuan kedua hari Rabu, 4 April 2012 pada jam ke 4 – 6, di mana pembelajaran membahas materi tentang sifat dan jaring – jaring bangun ruang balok. Pertemuan ketiga tau terakhir dilakukan pada hari Sabtu, 7 April 2012 pada jam pelajaran ke 4 – 6, di mana pembelajaran ini mengulang kembali materi pada pertemuan yang pertama dan kedua selanjutnya dilakukan dengan evalusai hasil belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif TGT (Team Game Turnament) menekankan pada bentuk kerjasama antar siswa dalam kelompok yang heterogen. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti, guru kelas, observer, dan siswa banyak keuntungan yang didapat dari penerapan pembelajaran ini. Bagi guru, dengan menerapkan pembelajaran TGT selain memberikan pengalaman dan wawasan
baru, guru juga merasa lebih mudah dalam mengajar. Bagi siswa, pembelajaran TGT dirasa mudah diterima, bentuk kerjasama antar siswa memudahkan dalam belajar dan bertukar pikiran. Bagi peneliti dan guru observer, pembelajaran TGT nantinya menjadi alternatif baru yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.1 Pembelajaran TGT (Team Game Turnament)
Deskripsi pembelajaran TGT dapat dilihat dari hasil observasi. Observasi ini dilakukan pada saat guru menerapkan perlakuan pembelajaran di dalam kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran TGT. Lembar observasi yang dibuat tersebut didasarkan dengan ketentuan – ketentuan atau langkah – langkah pembelajaran TGT.
Tabel 4.1
Tindakan Pembelajaran TGT
(Team Game Turnament) di Kelas Eksperimen
Keg Aspek yang dinilai Pertemuan
1 2 3 Awal
Guru melakukan tanya jawab benda sekitar kelas X
Guru melakukan apersepsi
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran X
Inti
Guru menyampaikan materi pelajaran X
Guru melakukan demonstrasi X
Guru melakukan tanya jawab dengan siswa X
Guru membentuk siswa dalam kelompok
Guru meminta siswa melakukan diskusi X
Guru membimbing jalannya diskusi kelompok X Guru meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas X
Guru menempatkan siswa dalam meja turnamen X X Guru menjelaskan aturan turnamen yang akan dilakukan X X Guru meminta siswa melakukan turnamen akademik X X
Guru membimbing jalannya turnamen X X
Lanjutan Tabel 4.1 Tindakan Pembelajaran TGT
(Team Game Turnament) di Kelas Eksperimen
Keg Aspek yang dinilai Pertemuan
1 2 3
Inti
Guru memberikan skor pada masing-masing kelompok X X Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang
mendapatkan skor teringgi X X
Guru melakukan pembahasan terhadap soal yang belum
terjawab X X
Akhir
Guru bersama siswa menyimpulkan hasil kegiatan yang
dilakukan
Guru melakukan refleksi
Guru menginformasikan pelajaran yang akan dilakukan pada
pertemuan selanjutnya
Evaluasi X X
Keterangan:
: melakukan tindakan X : tidak melakukan tindakan
Dari hasil observasi pembelajaran TGT (Team Game Turnament) yang dilakukan oleh guru observer yaitu guru Agama Islam bapak Haryanto,S.Ag, didapatkan bahwa pembelajaran menggunakan TGT berlangsung dengan baik sesuai dengan teori dan langkah – langkah pembelajaran yang telah dibuat. Pada pertemuan pertama guru kelas lupa untuk menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan dan tidak melakukan penguatan terhadap siswa. Pada pertemuan kedua aspek yang diamati sudah terlaksana dengan baik, tujuan pembelajaran dan penguatan sudah dilaksanakan. Pada pertemuan ketiga dilaksanakan turnamen akademik dan semua aspek telah dilaksanakan dan diakhiri dengan evaluasi untuk mendapat nilai hasil belajar siswa. Tindakan yang dilakukan oleh guru kelas tersebut selama 3 x pertemuan mengacu pada RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang didesain menggunakan pembelajaran TGT dan dibedakan atas kegiatan EEK (Elaborasi, Eksplorasi, Konfirmasi). 4.2.2 Hasil Belajar
Hasil belajar siswa siswa digolongkan menjadi 2 yaitu nilai pretest dan nilai posttest. Nilai pretest didapat dari nilai siswa sebelum diberkan perlakuan,
sedangkan nilai posttest didapat dari nilai siswa setelah mendapatkan perlakuan. Hasil belajar ini dibedakan dari kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) dan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Nilai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah 65.
a. Hasil Belajar Siswa Kelompok Eksperimen Tabel 4.2
Hasil Belajar Siswa Kelompok Eksperimen
Kategori Range Pretest Posttest
F % F % Tuntas 65 – 100 17 70,83 24 100 Tidak tuntas 0 – 64 7 29,17 0 0 Jumlah 24 100 24 100 Mean 68,12 78,79 St. Deviasi 12,27 9,12 Minimal 40 66 Maksimal 93 93
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa di kelompok eksperimen dibedakan atas dua kategori yaitu tuntas dan tidak tuntas. Dikatakan tuntas jika range nilainya antara 65 – 100, dikatakan tidak tuntas jika range nilainya antara 0 – 64.
Nilai pretest siswa sebanyak 24 siswa, 17 siswa dinyatakan tuntas dengan presentase ketuntasan 70,83% dan 7 siswa dinyatakan belum tuntas dengan presentase 29,17%. Rata – rata nilai pretest yang diperoleh 68,12, standar deviasinya 12,27, nilai minimal 40 dan nilai maksimalnya 93. Nilai posttest siswa sebanyak 24 siswa, 24 siswa secara keseluruhan dinyatakan tuntas dengan presentase 100%. Rata – rata nilai posttest yang diperoleh 78,79, standar deviasinya 9,12, nilai minimal 66 dan nilai maksimal 93. Nilai belajar siswa yang dicapai setelah diberikan perlakuan meningkat hal ini terbukti dengan nilai rata – rata posttest lebih besar dari nilai rata – rata nilai pretest 78,62 > 68,12.
b. Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Tabel 4.3
Hasil Belajar Siswa Kelompok Kontrol
Kategori Range Pretest Posttest
F % F % Tuntas 65 – 100 9 47,37 15 78,95 Tidak tuntas 0 – 64 10 52,63 4 21,05 Jumlah 19 100 19 100 Mean 59,79 69,84 St. Deviasi 11,16 9,00 Minimal 33 53 Maksimal 73 93
Dari data di atas, nilai pretest siswa dari 19 siswa, 9 siswa dinyatakan tuntas dengan presentase 47,37% dan 10 siswa belum tuntas dengan presentase 52,63%. Rata – rata nilai pretest kelas 59,79, standar deviasinya 11,16, nilai minimal 33 dan nilai maksimal 73. Nilai posttest siswa dari 19 siswa, 15 dinyatakan tuntas dengan presentase 78,95% dan 4 siswa tidak tuntas dengan presentase 21,05%. Nilai posttest rata – rata kelas 69,84, standar deviasinya 9,00, nilai minimal 53 dan nilai maksimal 93. Secara keseluruhan hasil belajar siswa meningkat, dan masih ada 4 siswa yang belum mencapai ketuntasan setelah diberikan tindakan maka harus dilakukan tindak lanjut.
4.2.3 Gender
Gender dalam penelitian ini dibatasi pada jenis kelamin yaitu laki – laki dan perempuan. Data gender siswa didapat dari dokumentasi arsip sekolah yaitu absensi siswa. Dokumentasi ini untuk mendapatkan data jenis kelamin siswa kelas IV di kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Tabel 4.4
Gender Siswa Kelas IV
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelompok
Gender
Total % Laki – laki Perempuan
Jumlah % Jumlah %
Eksperimen 14 58,33 10 41,67 24 100
Dilihat dari tabel pada kelompok eksperimen terdapat 24 siswa yang terdiri atas 14 siswa laki – laki dan 10 siswa perempuan. Presentase siswa laki – laki lebih banyak daripada siswa perempuan, yaitu siswa laki – laki sebanyak 58,33% dan siswa perempuan 41,67%. Sedangkan di kelompok kontrol terdapat 19 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki – laki dan 9 siswa perempuan. Presentase siswa laki – laki lebih banyak daripada siswa perempuan, yaitu siswa laki – laki sebanyak 52,64% dan siswa perempuan 47,36%.
4.3 Hasil Uji Prasyarat
4.3.1 Uji Normalitas Hasil Belajar Pretest
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel telah berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas didapat dari hasil pretes siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Adapun kriteria suatu data dikatakan normal jika signifikan > 0,05. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrov simirnov menggunakan program SPSS 16.0 for windows
Tabel 4.5
Hasil Uji Normalitas Hasil Belajar Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelompok Kolmogorov-Smirnov a Statistic df Sig. Nilai Eksperimen Kontrol .140 .192 24 19 .200 .064
Dari uji normalitas hasil belajar tes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol didapat hasil sebagai berikut:
1. Nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilihat dari tabel Kolmogrov Smirnov. Dari tabel tersebut nampak nilai Sig dengan taraf signifikasi 0,200. Jika nilai Sig > nilai taraf signifikasi, maka berdistribusi normal. Nilai dari Sig adalah 0,200 > 0,05 maka diambil kesimpulan nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal. 2. Nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilihat dari
signifikasi 0,064. Jika nilai Sig > nilai taraf signifikasi, maka berdistribusi normal. Nilai dari Sig adalah 0,064 > 0,05, maka diambil kesimpulan nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.
4.3.2 Uji Homogenitas Hasil Belajar Pretest
Uji homogenitas bertujuan untuk menentukan apakah varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol homogen atau tidak. Uji homogenitas diambil dari nilai pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Syarat homogenitas adalah jika Sig > 0,05 maka sampel dinyatakan homogen, jika Sig < 0,05 maka sampel dinyatakan tidak homogen. Pengukuran uji homogenitas menggunakan SPSS 16.0 for windows.
Tabel 4.6
Uji Homogenitas Hasil Belajar Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
F df1 df2 Sig.
.073 1 41 .789
Nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa taraf signifikasi 0,789. Jika nilai Sig > 0,05 maka sampel dinyatakan homogen, 0,789 > 0,05 maka diambil kesimpulan nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol homogen.
4.4 Hasil Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan mengambil nilai posttest siswa dari kelompok kontrol yang dalam pembelajaran diberikan perlakuan konvensional dan kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan pembelajaran TGT (Team Game Turnament).
4.4.1 Deskripsi Hasil Belajar Posttest Berdasarkan Gender
Deskripsi ini merupakan hasil dari data ketuntasan hasil belajar siswa baik kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang di analisis berdasarkan gender siswa.
Tabel 4.7
Deskripsi Hasil Belajar Posttest Berdasarkan Gender Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kategori Range
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
L P L P F % F % F % F % Tuntas 65 – 100 14 100 10 100 9 90 6 66,67 Tidak tuntas 0 – 64 0 0 0 0 1 10 3 33,33 Jumlah 14 100 10 100 10 100 9 100 Mean 78,79 69,84 St.deviasi 9,12 9,00 Minimal 66 53 Maksimal 93 93 N 24 19
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai posttest dari kelompok eksperimen terdapat 24 siswa, dari 14 siswa laki - laki semua siswa tuntas sedangkan dari 10 siswa perempuan semua siswa juga tuntas. Presentase siswa laki – laki tuntas adalah 100%, siswa laki – laki 0%, siswa perempuan tuntas 100%, siswa perempuan 0%. Secara keseluruhan rata – rata kelompok eksperimen 78,79, standar deviasinya 9,12, nilai minimalnya 66 dan nilai maksimalnya 93.
Nilai posttest dari kelompok kontrol terdapat 19 siswa, dari 10 siswa laki yang tuntas sebanyak 9 dan 1 tidak tuntas sedangkan dari 9 siswa perempuan 6 tuntas dan 3 tidak tuntas. Presentase siswa laki – laki tuntas adalah 90%, siswa laki – laki tidak tuntas 10%, siswa perempuan tuntas 66,67%, siswa perempuan tidak tuntas 33,33%. Secara keseluruhan rata – rata kelompok kontrol 69,84, standar deviasinya 9,00, nilai minimalnya 53 dan nilai maksimalnya 93.
4.4.2 Pengaruh Pembelajaran TGT Terhadap Hasil Belajar
Pengaruh pembelajaran TGT terhadap hasil belajar merupakan hasil dari perlakuan pembelajaran TGT yang dilakukan di kelompok eksperimen dan dibandingkan dengan hasil belajar di kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hasil belajar yang diperoleh didapat dari nilai evaluasi posttest siswa.
Tabel 4.8
Pengaruh Pembelajaran TGT Terhadap Hasil Belajar
Source Type III Sum
of Squares Df Mean Square F Sig. KELAS 823.976 1 823.976 9.789 0.003 Total 245048.000 43 Corrected total 4221.860 42
Jika signifikan > 0,05 maka H0 diterima, H1 ditolak Jika signifikan < 0,05 maka H0 ditolak, H1 diterima
Dilihat dari tabel di atas, di dapat nilai sig. 0.003, di mana signifikan 0,003 < 0,05 yang menunjukkan bahwa TGT berpengaruh terhadap hasil belajar. Artinya penerapan pembelajaran TGT yang dilakukan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
4.4.3 Pengaruh Pembelajaran TGT Terhadap Hasil Belajar Berdasarkan Gender
Pada kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan pembelajaran TGT dan pada kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah adanya perlakuan pada kedua kelas tersebut dilakukan evaluasi untuk mendapatkan nilai hasil belajar posttest. Hasil belajar yang diperoleh siswa tersebut berdasarkan gender siswa.
Apakah ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) terhadap hasil belajar Matematika berdasarkan gender siswa kelas IV SD Negeri Krapyak Gugus Mendhut Kabupaten Wonogiri Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.
H0 : diduga tidak ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) terhadap hasil belajar Matematika berdasarkan gender siswa kelas IV SD Negeri Krapyak Gugus Mendhut Kabupaten Wonogiri Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.
.H1 : diduga ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) terhadap hasil belajar Matematika berdasarkan gender siswa kelas IV SD Negeri Krapyak Gugus Mendhut Kabupaten Wonogiri Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.
Tabel 4.9
Pengaruh Pembelajaran Kooperatif TGT Berdasarkan Gender Terhadap Hasil Belajar Siswa
Source Type III Sum
of Squares Df Mean Square F Sig. KELAS * GENDER 7.275 1 7.275 0.086 0.770 Total 245048.000 43 Corrected total 4221.860 42
Dasar pengambilan keputusan berdasarkan signifikan (Sig.) adalah: Jika signifikan > 0,05 maka H0 diterima, H1 ditolak
Jika signifikan < 0,05 maka H0 ditolak, H1 diterima
Uji perbedaan pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif TGT berdasarkan gender siswa terhadap hasil belajar menunjukkan nilai signifikan 0,770. Nilai sig 0,770 > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif TGT meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika berdasarkan gender siswa kelas IV SD Krapyak Gugus Mendhut Kabupaten Wonogiri semester 2 tahun pelajaran 2011 / 2012.
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
Terdapat dua kelompok kelas yang digunakan sebagai peneilitian, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang diberikan tindakan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament), sedangkan kelompok kontrol kegiatan pembelajarannya menggunakan metode konvensional atau ceramah.
Berdasarkan hasil posttest yang didapat dari kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol didapatkan bahwa terdapat pengaruh penerapan pembelajaran TGT terhadap hasil belajar siswa. Hal ini juga dapat dilihat dari nilai rata – rata siswa kelas eksperimen 78,79 dan nilai rata – rata kelas kontrol 69,84. Nilai rata – rata 78,79 > 69,84, di mana selisih 8,95 yang berarti kelompok eksperimen dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik daripada
kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional, dengan kata lain perlakuan yang diberikan dalam pembelajaran mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa.
Pengujian hipotesis pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan gender berdasarkan tabel between-subject effect menunjukkan nilai sig 0,770 di mana sig 0,770 > 0,05 artinya tidak ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan gender. Dengan kata lain gender tidak berperan menentukan hasil belajar.
Pada kelompok eksperimen sebelum dilakukan perlakuan atau tindakan dari 24 siswa terdapat 3 siswa laki – laki dan 4 siswa perempuan yang nilai posttestnya masih dibawah KKM, 10 siswa laki – laki yang di atas KKM dan 6 siswa perempuan yang di atas KKM. Setelah diberikan perlakuan menggunakan pembelajaran TGT (Team Game Turnament) nilai posttest siswa baik siswa laki – laki maupun perempuan tuntas semua. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pada siswa setelah diberikan tindakan pembelajaran menggunakan pembelajaran TGT (Team Game Turnament) daripada menggunakan pembelajaran konvensional.
Perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen berpengaruh dapat meningkatkan hasil belajar 7 siswa yang semula hasil belajarnya tidak tuntas menjadi tuntas di atas KKM yang telah ditentukan. Ketujuh siswa tersebut memiliki karakter yang berbeda – bada dalam belajar, secara garis besar siswa yang tuntas setelah diberikan perlakuan mempunyai karakter bahwa siswa tidak bisa belajar jika hanya mendengar penjelasan dari guru artinya siswa dapat memahami pelajaran jika melakukan aktifitas, merasa kesulitan menangkap pelajaran jika belajar sendiri, motivasi dalam belajar memerlukan dorongan dari luar. Dengan adanya perlakuan pembelajaran menggunakan TGT yang melibatkan kerjasama antar siswa, melakukan aktifitas belajar, dan adanya turnamen akademik di akhir pelajaran, hal tersebut dapat memotivasi siswa dalam belajar yang pada akhirnya setelah dilakukan tes akhir nilai siswa dapat mencapai ketuntasan.
Dalam penelitian ini penerapan penggunaan TGT dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa mencapai ketuntasan di atas KKM, di mana KKM (Kriterian Ketuntasan Minimal) yang harus dicapai siswa adalah 65. Jika diperhatikan dengan KKM yang masih rendah yaitu 65, padahal dibandingkan dengan SSN yang menghendaki hasil belajar KKMnya 75 dapat dilihat bahwa masih ada siswa yang belum mencapai ketuntasan. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik siswa yang cocok untuk penggunaan pembelajaran TGT.
Menurut Slavin (2010), pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) adalah salah satu tipe pembelajaran yang mudah diterapkan, melibatkan aktifitas seluruh siswa, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung permainan dan reinforcement.
Di dalam kelas siswa belajar bersama dalam kelompok - kelompok kecil yang beranggoakan 4 – 6 siswa yang heterogen yang didasarkan atas kemampuan, jenis kelamin, suku / ras yang menitikberatkan pada belajar dalam kelompok dan mengerjakan tugas yang diberikan secara bersama – sama. Siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran, karena dituntut bertanggung jawab dalam kelompok untuk mengikuti game pada akhir pokok bahasan.
Pembelajaran TGT ini dimulai dengan penyampaian materi di kelas, kemudian menekankan siswa pada belajar kelompok untuk dapat saling membantu motivasi siswa saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dan yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran, diadakan game akademik berdasarkan kemampuan akademik, dan pemberian penghargaan kepada siswa.
4.6 Implikasi
Pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) menjadikan siswa lebih tertantang mengikuti pembelajaran karena dalam pembelajaran ini dilakukan turnamen di setiap akhir pokok bahasan. Selain itu siswa bekerja dalam kelompok dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Dari pembahasan penelitian dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan TGT lebih baik dari hasil belajar kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional, dengan kata lain perlakuan yang diberikan dalam pembelajaran mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa.
4.7.1 Implikasi Teoritis
Pembelajaran TGT menekankan pada pembelajaran kelompok atau bentuk kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Pembelajaran TGT ini adanya saling kerjasama antar siswa dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Komponen-komponen dalam TGT adalah penyajian materi, tim, game, dan turnamen dan penghargaan kelompok. Komponen – komponen tersebut dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk pembelajaran yang dibagi dalam kegiatan EEK (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi).
4.7.2 Implikasi Praktis
Hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mendapatkan perlakuan menggunakan pembelajaran TGT (Team Game Turnament) meningkat atau mencapai ketuntasan daripada sebelum dilakukan tindakan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Septiana yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif TGT lebih efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini dengan perlakuan TGT hasil belajarnya dibedakan berdasarkan gender, dan hasil yang dicapai TGT dapat meningkatkan hasil belajar tetapi gender tidak ikut mempengaruhi hasil belajar.