DIREKTORAT SEKOLAH DASAR ditpsd.kemdikbud.go.id
Pendidikan Bagi Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
BUKU SAKU PENDIDIKAN
LAYANAN KHUSUS
SERI 2 :
Disusun oleh:
Tim Penyusun Direktorat Sekolah Dasar Ketua:
Heli Tafiati, S.Sos., M.Pd
SERI 2 : PENDIDIKAN BAGI ANAK KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
Pengarah : Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd.
ISBN: 978-623-98588-4-1
Pembina : M. Aris Syaifuddin, S.T, M.M Ketua: Heli Tafiati, S.Sos., M.Pd Anggota:
1. Endang Mintarja 2. Sumarso, S.E 3. Laela Chusnah, S.H.
4. Fachri Helmanto, M.Pd 5. Astika Purbasari, S.H.
6. Fadri Ari Sandi, M.P.A.
7. Roni Parulian Simamora, S.T.
Desain dan Tata Letak: Azinar Ismail Diterbitkan oleh:
Direktorat Sekolah Dasar
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Gedung E Lantai 17-18 Komplek Kemendikbudristek, Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta 10270
Telp : (021) 5725635, Faks (021) 5725637 Laman : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/
Jumlah Halaman: 30 Halaman Cetakan 1, 2021
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis.
BUKU SAKU PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku saku Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ini dapat diselesaikan. Buku saku ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Direktorat Sekolah Dasar untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekolah dasar di Indonesia.
Pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan harus dikelola dengan baik agar kualitas peserta didik meningkat dan berkontribusi positif terhadap pembangunan nasional. Tata Kelola pendidikan yang baik merupakan salah satu dasar dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Faktor penentu dan penunjangnya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan teknologi, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, serta partisipasi pihak- pihak terkait.
Buku saku ini disusun sebagai acuan operasional bagi penyelenggaraan pendidikan layanan khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA di Kabupaten/Kota, agar proses penyelenggaraan pendidikan layanan khusus tersebut berjalan optimal.
Akhir kata saya sampaikan terima kasih kepada para penyusun buku saku ini dan berharap buku saku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat atas semua jerih payah yang telah dilakukan.
Direktur Sekolah Dasar
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... 3
Daftar Isi ... 4
Pendahuluan ... 5
Prosedur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 8
1. Alur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 8
2. Identifikasi permasalahan Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 9
3. Identifikasi Kebutuhan Anak Penyalahgunaan NAPZA ... 9
Strategi Kegiatan Pendidikan Layanan Khusus Bagi Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 18
1. Perencanaan ... 18
2. Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 22
Evaluasi dan Pelaporan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 24
1. Ruang Lingkup Evaluasi Penyelenggara Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA ... 24
2. Pihak-pihak yang Mengevaluasi ... 29
3. Tindak Lanjut Hasil Evaluasi ... 29
Penutup ... 30
Pendahuluan
A
nak merupakan amanah yang dititipkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Harapan orangtua sangat besar terhadap anak agar anak dapat menjadi generasi penerus yang memiliki kecerdasan, kreativitas dan memiliki daya juang dan daya saing yang tinggi sesuai dengan perkembangan zaman. Namun kondisi saat ini yang terjadi pada anak-anak Indonesia belum sesuai dengan harapan orangtua padaumumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikoropika, dan zat adiktif lainnya.
Sesuai dengan Pasal 7 Permensos No 26 Tahun 2019 tentang Program Rehabilitasi Sosial Anak dijelaskan bahwa Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) terbagi dalam 15 kluster yang diantaranya adalah Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA.
Menurut Peraturan Menteri Sosial No.09 Tahun 2017 Korban Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Zak Adiktif Lainnya) adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan NAPZA karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan NAPZA.
Berdasarkan pada Pasal 7 Permensos No 26 Tahun 2019 tentang Program Rehabilitasi Sosial Anak dijelaskan bahwa anak korban penyalahgunaan NAPZA termasuk ke dalam kriteria Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK).
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) terkini menyebutkan bahwa, pemakai Narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda kian meningkat, dari 87 juta anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta anak merupakan pecandu narkoba dan yang lebih memprihatinkannya lagi sebesar 24 persen merupakan pelajar SD, SMP dan SMA.
Anak korban penyalahgunaan NAPZA yang berada pada masa rehabilitasi tetap harus mendapatkan pendidikan, karena pendidikan merupakan hak yang harus diberikan kepada anak- anak tersebut, hal ini sesuai dengan UU Perlindungan Anak.
Menurut UU Perlindungan anak Nomor 23 Tahun 2022 atas Perubahan UU No. 35 Tahun 2014 : Pasal 9 menyebutkan bahwa Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.
Selama proses rehabilitasi anak ditempatkan dalam shelter, yang merupakan Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK). Selain bisa dititipkan di Balai Rehabilitasi Sosial, anak korban penyalahgunaan NAPZA juga bisa dititipkan di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) atau Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang menyelenggarakan Rehabilitasi Sosial bagi Pecandu dan Korban Penyalahgunaan NAPZA sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial RI No. 09 tahun 2017 tentang Standar Nasional Rehabilitasi Sosial bagi Pecandu dan Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psiktropika, dan Zat Adiktif lainnya.
1. Alur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Prosedur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban
Penyalahgunaan NAPZA
Identifikasi Kebutuhan Pendidikan
Anak
Identifikasi Sumber Daya Pendidikan pada
Anak
Monitoring dan Evaluasi
Pelaksanaan Pemenuhan Pendidikan pada Anak
Perencanaan Pemenuhan
Pendidikan pada Anak Identifikasi
Permasalahan Anak
2. Identifikasi permasalahan Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Berbagai kondisi dan latar belakang menyebabkan anak menjadi korban penyalahgunaan NAPZA, sehingga menyebabkan anak tersebut harus:
a. Putus sekolah karena dikeluarkan dari sekolah asalnya, b. Berstatus tidak aktif di sekolah asalnya karena proses
rehabilitasi yang harus dijalaninya.
c. Memiliki stigma negatif di masyarakat karena menjadi korban penyalahgunaan NAPZA
d. Terganggu kondisi psikologis mereka.
3. Identifikasi Kebutuhan Anak Penyalahgunaan NAPZA
Dalam melaksanakan identifikasi kebutuhan terhadap anak korban penyalahgunaan NAPZA, guru
sebaiknya bekerja sama dengan pekerja sosial yang ada di
Lembaga Rehabilitasi Sosial di mana anak tersebut direhabilitasi.
Dalam kegiatan identifikasi kebutuhan
diperlukan asesmen sebagai berikut:
a. Asesmen Akademik Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Asesmen akademik merupakan upaya menemukan dan menganalisis potensi akademik yang dimiliki oleh anak korban penyalahgunaan NAPZA untuk mengetahui kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seorang anak saat itu, yang mencakup:
• Tingkat kemampuan anak
• Tingkat pendidikan terakhir
• Hambatan yang dialami anak
• Faktor yang mempengaruhi psikologi anak
• Serta kebutuhan belajar yang dimiliki anak dalam pendidikannya.
b. Asemen Kebutuhan life skill Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Asesmen ini dilakukan untuk menemukan berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif pada anak, yang memungkinkan anak tersebut mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. Melalui asesemen ini dikembangkan program pendampingan yang sesuai sehingga diharapkan seorang anak mempunyai kemauan dan keberanian dalam menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya.
Ruang lingkup kecakapan hidup meliputi aspek-aspek: kemampuan, kesanggupan
dan keterampilan. Aspek kemampuan dan kesanggupan tercakup dalam kecakapan berpikir, sedangkan aspek keterampilan
tercakup dalam kecakapan bertindak.
Kecakapan berpikir pada dasarnya merupakan kecakapan menggunakan pikiran/
rasio secara optimal. Kecakapan berpikir mencakup antara lain kecakapan menggali
dan menemukan informasi (information searching), kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan secara cerdas (information processing and decision making skills) serta kecakapan memecahkan masalah secara arif dan kreatif (creative problem solving skill). Kecakapan menggali dan menemukan informasi memerlukan kecakapan dasar, yaitu membaca, menghitung dan melakukan
observasi. Sementara itu, kecakapan bertindak meliputi:
• pesan verbal
• pesan suara
• pesan melalui gerak tubuh
• pesan melalui sentuhan
• pesan melalui tindakan, misalnya mengirim bunga dan sebagainya.
c. Asesmen Pendidikan Karakter Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Asesmen pendidikan karakter adalah proses pengumpulan informasi apakah pada diri anak tersebut telah terbangun karakter yang baik, sehingga ketika karakter individu tersebut terbangun, nantinya dia menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang banyak. Asesmen ini sangat penting, dikarenakan pendidikan karakter memiliki fungsi dasar untuk mengembangkan potensi seseorang agar dapat menjalani kehidupannya dengan bersikap baik. Dalam lingkup pendidikan formal, pendidikan karakter di sekolah berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bermoral, tangguh, berperilaku baik, dan toleran.
d. Identifikasi, Peran Sumber Daya dan Potensi Daerah dalam Mendukung Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Merupakan lembaga teknis daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah yang dipimpin oleh seorang kepala badan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur/Bupati/Wali kota melalui Sekretaris Daerah. Badan ini mempunyai tugas pokok membantu Gubernur/Bupati/Wali kota dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di
bidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah. Lembaga ini berperan dalam memasukan penyelenggaraan pendidikan layanan khusus bagi anak korban penyalahgunaan NAPZA dalam perencanaan pembanguan pemerintah daerahnya.
2. Dinas Pendidikan Kab/Kota
Dinas Pendidikan merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang pendidikan yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Dinas pendidikan kabupaten/kota mempunyai peran dalam menjalin kemitraan dan bekerja sama dengan Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK), Institusi
Penerima Wajib Lapor (IPWL) maupun Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)
milik masyarakat untuk tetap memberikan hak layanan
pendidikan kepada anak korban penyalahgunaan NAPZA. Dinas pendidikan juga berperan dalam menyiapkan tenaga pendidik
dan kependidikan dalam membantu pendampingan
pendidikan terhadap anak
3. Sekolah Dasar Negeri
Sekolah Dasar Negeri adalah jenjang paling dasar pada struktur pendidikan formal di Indonesia yang dikelola oleh pemerintah Kab/Kota. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.
Sekolah Dasar Negeri berperan menjadi sekolah induk bagi penyelenggaraan pendidikan layanan khusus untuk anak korban penyalahgunaan NAPZA.
4. Dinas Sosial Propinsi, Kab/Kota
Dinas Sosial merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang sosial yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Dinas sosial mempunyai peran untuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk melaksanakan pendataan dan pendampingan dalam pelaksanaan layanan pendidikan di Instutisi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) milik masyarakat.
5. Dinas Dukcapil Kabupaten/Kota
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merupakan unsur penyelenggara urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah bidang administrasi kependudukan dan pencatatan
sipil serta tugas pembantuan yang ditugaskan kepada Daerah.
Dinas Dukcapil mempunyai peran dalam menerbitkan Nomor Induk Kependudukan Anak korban penyalahgunaan NAPZA ketika anak tersebut belum mempunyai NIK berdasarkan hasil assesement dan rekomendasi dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota
6. Balai rehabilitasi sosial anak memerlukan perlindungan khusus (BRSAMPK)
Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) adalah unit Pelaksana Teknis Kementerian
Sosial RI yang melayani rehabilitasi sosial bagi anak yang memerlukan perlindungan khusus, sesuai dengan
15 Kluster AMPK dalam UU No. 35 Tahun 2014. Berdasarkan pada Pasal 7 Permensos No 26 Tahun 2019 tentang Program Rehabilitasi Sosial Anak dijelaskan bahwa Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) terbagi dalam 15 kluster yang diantaranya adalah Anak korban penyalahgunaan NAPZA. Selama proses rehabilitasi yang dijalaninya anak dititipkan di lembaga tersebut.
BRSAMPK mempunyai peran dalam menyiapkan
pendidikan dan Sumberdaya Manusia (SDM) baik itu tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan dari dinas pendidikan Kabupaten/Kota melalui Sekolah Dasar Negeri terdekat.
7. Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL)
Institusi Penerima Wajib Lapor yang selanjutnya disingkat IPWL adalah pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah.
IWPL bertugas menyiapkan sarana dan prasarana kegiatan pembelajaran dengan di dukung dana penyelenggaraan pendidikan dan Sumberdaya Manusia (SDM) baik itu tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan dari dinas pendidikan Kabupaten/Kota melalui Sekolah Dasar Negeri terdekat
8. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)
Lembaga Kesejahteraan Sosial yang meyelenggarakan Rehabilitasi Sosial bagi Korban penyalahgunaan NAPZA adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial untuk rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan NAPZA yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Lembaga ini bertugas menyiapkan sarana dan prasarana kegiatan pembelajaran dengan di dukung dana penyelenggaraan pendidikan dan Sumberdaya Manusia (SDM) baik itu tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan dari dinas pendidikan Kabupaten/Kota melalui Sekolah Dasar Negeri terdekat
9. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR) adalah sebuah pendekatan bisnis yang menekankan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan yang berkelanjutan dengan memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Tanggung jawab sosial adalah komitmen bisnis untuk bertindak secara etis,
beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk meningkatkan
kualitas kehidupan karyawan dan masyarakat.
Perusahaan melalui program CSR nya mempunyai peran dalam mendukung secara penuh pemerintah
Kab/Kota dalam rangka peyelenggaraan
1. Perencanaan
a. Pemetaan kebutuhan Pendidikan (akademik)
Pemetaan kebutuhan pendidikan (akademik) Anak korban penyalahgunaan NAPZA berdasarkan hasil asesmen akademik.
b. Pemetaan kebutuhan life skill
Pemetaan kebutuhan life skill anak korban penyalahgunaaan NAPZA disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan life skill.
c. Pemetaan kebutuhan pendidikan karakter
Pemetaan kebutuhan pendidikan karakter anak korban penyalahgunaan NAPZA disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan pendidikan karakter anak tersebut.
Strategi Kegiatan Pendidikan Layanan
Khusus Bagi Anak Korban
Penyalahgunaan NAPZA
d. Koordinasi dan pemanfaatan sumber daya (tempat pembelajaran, guru/tutor, sumber-sumber belajar) Dinas pendidikan Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten/Kota, Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus, Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang menyelenggarakan rehabilasi sosial korban penyalahgunaan NAPZA untuk persiapan tempat pembelajaran, perekrutan calon guru/tutor serta fasilitas pendukung penyelenggaraan pendidikan untuk anak korban penyalahgunaan NAPZA.
e. Penetapan kurikulum/target capaian pembelajaran Pengembangan kurikulum pendidikan anak korban penyalahgunaan NAPZA merujuk pada kurikulum 2013 (kurikulum pemerintah yang sedang berlaku), pembelajaran untuk tingkat SD/MI sederajat menggunakan pendekatan tematik terpadu.
Sebagaimana tercantum dalam salinan lampiran Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses bahwa pembelajaran tematik terpadu di SD/MI/SDLB/Paket A disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. pembelajaran tematik memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut:
• Berpusat pada siswa.
• Memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences).
• Pemisahan mata pelajaran tidak dilakukan secara ketat, fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
• Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran.
• Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel).
• Hasil pembelajaran sesuai dengan minat kebutuhan siswa.
• Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Selain kurikulum 2013, Dinas Pendidikan dan pihak sekolah juga bisa mengembangan kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan.
f. Penjadwalan Kegiatan
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten/Kota, Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Kementerian Sosial, IPWL dan LKS untuk penjadwalan penyelenggaraan pendidikan layanan khusus anak korban penyalahgunaan NAPZA sesuai dengan masa rehabilitasinya.
2. Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Pelaksanaan pendidkan layanan khusus anak korban penyalahgunaan NAPZA diselenggarakan dalam bentuk:
a. Satuan Pendidikan
Bentuk penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur formal yaitu dalam bentuk:
1) Sekolah kecil
adalah sekolah yang menyelenggarakan layanan pendidikan untuk jumlah peserta didik minimal 3 (tiga) orang
2) Sekolah terbuka
adalah sekolah menyelenggarakan layanan pendidik kunjung dari sekolah induk
3) Sekolah darurat
adalah sekolah yang menyelenggarakan layanan pada saat situasi bencana alam dan/atau bencana sosial.
4) Sekolah terintegrasi
adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan yang dilaksanakan antar jenjang pendidikan dalam satu lokasi atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
b. Program Layanan Pendidikan
Program layanan pendidikan antara lain:
• Pemindahan peserta didik ke daerah lain dengan fasilitas bantuan pendanaan dan/atau asrama;
• Bantuan dana tranportasi;
• Kunjungan pendidik;
• Pendidikan jarak jauh yang menyelenggarakan layanan pendidikan tertulis, radio, audio, video, TV, dan/atau berbasis IT
• layanan lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Evaluasi dan Pelaporan Pendidikan Layanan
Khusus Anak Korban
Penyalahgunaan NAPZA
E
valuasi atas penyelenggaraan PLK dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dengan tetap berprinsip pada transparansi dan akuntabilitas publik.1. Ruang Lingkup Evaluasi Penyelenggara Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA
Sesuai dengan tujuan pendidikan, khususnya tujuan pembelajaran, ruang lingkup evaluasi yang akan dibicarakan adalah obyek evaluasi dan evaluasi hasil belajar (tes).
a. Obyek evaluasi
Obyek atau sasaran evaluasi adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat perhatian evaluasi. Obyek evaluasi terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Input
Input atau masukan bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar yang dievaluasi mencakup empat hal, yaitu:
• Kemampuan
Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga pendidikan, calon peserta didik harus memiliki kemampuan dasar yang cocok. Alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan (aptitude test).
• Kepribadian
Kepribadian adalah sifat yang terdapat pada diri seorang individu dan tampak dalam bentuk tingkah laku. Alat evaluasi untuk
mengetahui tentang kepribadian disebut tes kepribadian (personality test).
• Sikap
Sikap lebih cenderung bersifat psikis daripada fisik. Tingkah laku seseorang yang sifatnya fisik adalah manifestasi dari sikap yang dimiliki seseorang yang bersumber pada kepribadiannya. Alat evaluasi untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu hal disebut dengan tes sikap (attitude test). Sebenarnya istilah tes di sini kurang tepat, seharusnya non tes karena berbentuk angket.
• Inteligensi
Inteligensi berkenaan dengan kemampuan berpikir. Inteligensi seseorang disebut tinggi bila kemampuan berpikirnya tinggi pula.
Manifestasi dari inteligensi ini dapat berupa tingkat pemahaman atau daya ingat terhadap rangsangan (stimulus) terhadap struktur kognitif. Struktur kognitif yang dimiliki seseorang dapat dengan cepat mengadaptasi dan tahan mengingat stimulus disebut intelegensinya tinggi.
2) Proses
Unsur-unsur yang terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah kurikulum, materi pelajaran, pendekatan dan metode, cara menilai, sarana dan media, sistem administrasi, guru dan personal lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berinteraksi secara fungsional satu sama lain dalam rangka kelancaran kegiatan belajar mengajar. Jadi unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Evaluasi proses dapat dilakukan dengan menyajikan soal tertulis. Di samping itu evaluasi proses dapat dilakukan melalui observasi.
3) Keluaran (Output)
Output pendidikan dan latihan dalah lulusan suatu jenjang pendidikan tertentu. Namun dalam hal kegiatan belajar mengajar, yang disebut output adalah kondisi setelah kegiatan belajar mengajar (proses) dilaksanakan, baik untuk 1 kali pertemuan, 1 semester, atau bahkan setelah lulus pada tingkat akhir. Evaluasi terhadap output ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian peserta didik setelah menjalani proses belajar mengajar.
b. Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung atau sesudahnya.
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, peserta didik dapat dievaluasi melalui tanya jawab lisan sambil mengarahkannya pada konsep atau materi baru. Evaluasi pada akhir kegiatan dapat dilaksanakan pada setiap akhir pertemuan, pada setiap minggu, setiap akhir program. Evaluasi hasil belajar sifatnya berupa tes kemampuan, yaitu mengukur sampai sejauh mana tingkat penguasaan materi pelajaran yang telah disajikan dalam kegiatan belajar mengajar.
2. Pihak-pihak yang Mengevaluasi
Pihak-pihak yang mengevaluasi pada penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus Anak Korban Pemnyalahgunaan NAPZA ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
3. Tindak Lanjut Hasil Evaluasi
Tindak lanjut hasil evaluasi kemudian dilaporkan kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dan Komisi D DPRD Kab/Kota guna untuk perbaikan keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan anak korban penyalahgunaan NAPZA.
B
uku saku penyelengaraan pendidikan Layanan Khusus Anak korban penyalahgunaan NAPZA merupakan acuan operasional bagi penyelenggaraan pendidikan layanan khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA diKabupaten/Kota, agar proses penyelenggaraan pendidikan layanan khusus anak tersebut ini dapat berjalan dengan optimal.
Disamping itu buku ini diharapkan dapat memperjelas peran stakeholder lokal dalam mencapai tujuan program
pendidikan layanan khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA.
Melalui partisipasi semua stakeholder terkait diharapkan dapat diwujudkan pendidikan layanan khusus Anak Korban Penyalahgunaan NAPZA sebagai pemenuhan hak anak dalam mendapatkan pendidikan yang layak.
Penutup
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Muhid (2018) Pemberdayaan Kader Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Komunitas pada Warga Binaan Pemasyarakatan Pecandu Napza dalam Upaya Pemulihan Ketergantungan Napza in Proceedings of Annual Conference on Community Engagement;
135-149
Gloria G. F. Gerungan, Indradjaja Makainas, Julianus A. R. Sondakh (2015) Panti Rehabilitasi Korban Ketergantungan NAPZA di Manado (Aktualisasi sistem pelayanan terapi dan rehabilitas pecandu secara terpadu) in Jurnal Arsitektur DASENG; Volume 4 No.1 Mei 2015; 32-42
Harefa, B., & Ariyanti, V. Legal Protection For Narcotics Abuser Children In The Juvenile Justice System In Indonesia. International Journal of Business, Economics and Law, 12(4), 106-109.
Ikawati Ikawati, Ani (2019) Mardiyati Peran Konselor Adiksi dalam Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaaan Napza in Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial; Volume 43 Nomor 3 Desember 2019; 251-270 ; 10.31105/mipks.v43i3
Maftuha, Z. N., & Supriyanto, A. MODUL PELATIHAN SELF CONTROL TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA MAHASISWA.
Muhadar, A. R. M. S. K., & Muchtar, S. Legal Analysis of Formulation of Child Narcotics Dealer.
Oktarina, T. N. (2021). Narcotics and Children: How diversion mechanism could be an effective way?. Indonesian Journal of Police Studies, 5(1), 75-88.
Porter, R., & Teich, M. (Eds.). (1997). Drugs and narcotics in history.
Cambridge.
Putri, AS (2020) Penyalahgunaan Narkoba: Alasan, Gejala, Tanda, Ciri dan Bahaya. Kompars.com https://www.kompas.com/skola/
read/2020/02/01/150000369/penyalahgunaan-narkoba--alasan- gejala-tanda-ciri-dan-bahaya.
Putri, N. N., Somawijaya, S., & Takariawan, A. (2021). The Correctional Institution Recommendation As Judge’s Consideration In Making A Decision Against Child Narcotics Abuser. Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, 9(2), 241-259.
Ramli, C. (2018). Rehabilitasi social holistik sistematik terhadap korban napza di brskpn-galih pakuan.
Ratna Indah Sari Dewi (2016) Karakteristik Individu Pengguna dan Pola Penyalahgunaan NAPZA pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Maninjau in Jurnal Kesehatan Medika Saintika;
Vol 7, No 1 (2016): Juni 2016 ; 10.30633/jkms.v7i1
Supriyanto, A., & Hendiani, N. (2021). Pendekatan: Bimbingan dan Konseling Narkoba (Panduan Pencegahan Narkoba Berbasis Masyarakat dan Pendekatan Konseling pada Program Rehabilitasi Narkoba).
Tumanggor, F., Muazzul, M., & Zulyadi, R. (2019). Handling of narcotics child victims in child special coaching institutions Class I Tanjung Gusta, Medan. Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), 50-55.
Direktorat Sekolah Dasar
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Gedung E Lantai 17-18 Komplek Kemendikbudristek, Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta 10270 Telp : (021) 5725635, Faks (021) 5725637 Laman : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/