1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak merupakan makhluk yang membutuhkan perhatian, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Anak juga merupakan pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsanganyang berasal dari lingkungan. Lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah keluarga. Pada lingkungan ini anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari.
Keluarga juga mengajarkan anak bertingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama. Seberapa besar pengaruh dari anggota keluarga bergantung pada hubungan ibu dan anak. Pada penelitian smith yang lain, sensitivitas ibu telah dilaporkan sebagai salah satu faktor penentu yang paling penting terhadap keterikatan antara ibu dan anak. Baik atau tidaknya proses pertumbuhan dan perkembangan anak tergantung pada pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya.
Perkembangan anak akan optimal apabila sesuai dengan tahap perkembangannya bahkan sejak anak masih dalam kandungan, sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak (Hidayat, 2009).
Perkembangan adalah perubahan yang teratur, sistematis, dan terorganisir yang mempunyai tujuan tertentu. Perkembangan memiliki beberapa ciri, yaitu berkesinambungan, kumulatif, bergerak ke arah yang lebih kompleks dan holistik.
Perkembangan psikososial berarti perkembangan sosial seorang individu ditinjau dari sudut pandang psikologi. Perkembangan masa anak-anak merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Hubungan antara anak dan keluarga, teman sebaya dan sekolah mempengaruhi perkembangan psikososial seorang anak. Perkembangan
sosial seorang anak meningkat ditandai dengan adanya perubahan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang kebutuhan dan peraturan-peraturan yang berlaku (Hurlock, 2010).
Krisis yang dihadapi anak pada usia antara 3 dan 6 tahun disebut “inisiatif versus rasa bersalah”. Dimana orang terdekat anak usia prasekolah adalah keluarga, anak normal telah menguasai perasaan otonomi, anak mengembangkan perasaan bersalah ketika orang tua membuat anak merasa bahwa imajinasi dan aktivitasnya tidak dapat diterima. Anak usia prasekolah adalah pelajar yang enerjik, antusias dan pengganggu dengan imajinasi yang aktif. Kesadaran moral mulai berkembang. Mulai menggunakan alasan sederhana dan dapat menoleransi penundaan kepuasaan dalam periode yang lama. Pengalaman anak selama periode usia prasekolah umumnya lebih menakutkan dibandingkan dengan periode usia lainnya, rasa takut yang umumnya terjadi antara lain adalah; kegelapan, ditinggal sendiri terutama pada saat menjelang tidur, binatang terutama binatang yang besar, hantu, mutilasi tubuh, nyeri dan objek serta orang-orang yang berhubungan dengan pengalaman yang menyakitkan (Supartini, 2009).
Indonesia memiliki jumlah balita 10% dari seluruh populasi, sehingga sebagai calon penerus generasi bangsa, kualitas tumbuh kembang balita Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius (Depkes RI, 2008). Data analisia situasi orangtua dan anak di Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi Jawa Timur 2008 untuk deteksi tumbuh kembang balita di Jawa Timur ditetapkan 80% tetapi cangkupan diperiksa 40-59%
dan mengalami perkembangan optimal sebanyak 0,14%. Masalah tumbuh kembang anak masih banyak ditemukan sampai saat ini dan kondisi yang tidak kondusif turut menjadi penyebab makin banyaknya anak yang mengalami gangguan atau penyimpangan tumbuh kembang. Di Surabaya masih didapatkan kasus keterlambatan
tumbuh kembang yang salah satunya adalah keterlambatan berbicara dan bersosial.
Kasus ini meningkat empat kali lipat dibading empat tahun yang lalu (Dinkes Surabaya, 2008).
Orangtua memiliki peranan penting dalam optimalisai perkembangan seorang anak. Orangtua harus selalu memberi rangsang atau stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar maupun halus, bahasa dan personal sosial. Stimulasi harus diberikasn secara rutin dan berkesinambungan dengan kasih sayang, metode bermain, dan lain-lain. Sehingga, perkembangan anak akan berjalan optimal, kurangnya stimualasi dari orang tua dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan anak (Depkes, 2008). Selain itu, pengaruh pengasuhan orangtua terhadap anak akan terus berlangsung tidak hanya pada masa anak-anak tetapi berlangsung terus, pengalaman-pengalaman yang menakutkan, menggoncangkan seperti trauma, membahayakan dan sebagainya, akan terus berdampak pada fase perkembangan berikutnya. Pengalaman tersebut akan terus dibawa dan disimpan dialam bawah sadar dan dapat muncul berupa tingkah laku yang aneh yang seringkali tidak dimengerti oleh individu yang bersangkutan. Orangtua melalui tindakannya akan membentuk watak dan menentukan sikap anak serta tindakannya. Orangtua dapat memilih pola asuh yang tepat dan ideal bagi anaknya. Orangtua yang salah menerapkan pola asuh akan membawa akibat buruk bagi perkembangan jiwa anak (Hidayat, 2009).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di TK. Satu Atap Telogowaru Kota Malang pada tanggal 2 Febuari 2015, dengan melakulan observasi kegiatan belajar pada saat pelajaran maupun istirahat terlihat sebagian murid mengikuti kegiatan belajar dan sebagian lainnya asyik bermain sendiri dengan teman. Peneliti juga melihat dimana ada dua orang anak menangis karena tidak mau ditinggal oleh orangtua nya
ketika kegiatan belajar berlangsung. Bahkan ketika pengajar memberikan suatu pertanyaan ada juga anak-anak yang menjawab dengan malu-malu dan bahkan ada yang hanya diam saja ketika diberikan pertanyaan. Pada saat jam istirahat terlihat anak-anak sedang bermain dan terlihat beberapa anak hanya bermain dengan sesama jenis kelamin dan beberapa diantaranya lebih memilih bersama orangtua. Saat melakukan wawancara dengan beberapa orang tua mengenai pengetahuan psikologi anak, mereka hanya sebatas mengerti untuk mendidik dan banyak dari mereka yang memaksakan agar mengikuti kemauan orang tua tersebut sehingga menjadikan anak tersebut menangis dan takut atas apa yang akan dilakukan.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul
“Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Orangtua Tentang Psikologi Anak dengan Perkembangan Psikososial Anak Usia Prasekolah di TK. Satu Atap Tlogowaru Kota Malang”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan keadaan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah hubungan tingkat pengetahuan orangtua tentang psikologi anak dengan perkembangan psikososial anak usia prasekolah di TK. Satu Atap Tlogowaru Kota Malang?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orangtua tentang psikologi anak dengan perkembangan psikososial anak usia prasekolah di TK. Satu Atap Tlogowaru Kota Malang.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan orang tua tentang psikologi anak di TK. Satu Atap Tlogowaru Kota Malang.
2. Mengidentifikasi perkembangan psikososial anak usia prasekolah di TK.
Satu Atap Tlogowaru Kota Malang.
3. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan orangtua tentang psikologi anak dengan perkembangan psikososial anak usia prasekolah di TK Satu Atap Tlogowaru Kota Malang.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan di atas, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini, diantaranya:
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai sarana informasi serta dapat menambah wawasan tentang perkembangan psikososial anak usia prasekolah. Sebagai sumber data untuk di gunakan sebagai penelitian lebih lanjut melakukan penelitian kembali dengan melakukan observasi secara langsung sehingga lebih validasi. Memberikan informasi mengenai perkembangan psikososial anak di masyarakat.
1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan pendekatan secara persuasif kepada anak usia prasekolah serta memberikan edukasi yang dapat membantu untuk memberikan informasi kepada orang tua yang memiliki anak usia prasekolah.
1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan
Diharapkan dapat menjadi informasi studi pustaka mengenai perkembangan psikologi anak dan psikososial anak usia prasekolah.
1.4.4 Bagi Masyarakat
Sebagai informasi guna meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama orangtua yang memiliki anak usia prasekolah tentang perkembangan psikologi anak, sehingga orangtua dapat menunjukkan sikap positif kepada anak.
1.5 Batasan Penelitian
Untuk mempermudah dan mempertegas lingkup penelitian, maka penelitian ini diberi batasan penelitian sebagai berikut:
1.5.1 Pemberian kuesioner sebagai media yang berfungsi dalam mengobservasi serta tolak ukur yang berguna dalam mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan responden tentang psikologi anak.
1.5.2 Pemberian media pamflet sebagai saran edukasi pada responden tentang perkembangan psikologi anak dan perkembangan psikososial anak.
1.5.3 Responden penelitian ini adalah orangtua siswa serta siswa TK. Satu Atap Kota Malang.
1.6 Keaslian Penelitian
Untuk menghindari klaim ketidakorisinilan skripsi ini dan kesamaan dengan penelitian sebelumnya, maka perlu dijelaskan tentang hal ini:
1.6.1 Penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Subekti (2008) berjudul “Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan tingkat stimulasi perkembangan anak prasekolah di TK Playgroup Al-Hidayah Karangayar”. Hasil penelitian Penelitian yang didapat dengan analisa univarat dan bivariat bahwa pengetahuan tentang perkembangan anak terhadap perilaku stimulasi anak usia pra sekolah terdapat hubungan yang signifikan (probabilitas value penelitian (α
=0,000) < probabilitas value peneliti (α =0,05). Sehingga kesimpulan dari
penelitian didalam karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan, jumlah anak tidak ada pengaruhnya namun untuk pengetahuan dengan perilaku stimulasi terdapat hubungan.
1.6.2 Penelitian yang dilakukan oleh Agustina Sari (2010) berjudul “Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Psikomotor Anak Usia 3-5 tahun”. Hasil penelitian diperoleh (54,1%) responden berpengetahuan baik, dan (83,3%) responden memiliki perkembangan psikomotor normal. Secara statistik dibuktikan dengan metode Chi Square didapatkan nilai p=0,266 lebih besar dari tingkat bermakna a=0,05, sehingga menyimpulkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan anak dengan perkembangan psikomotor anak usia 3-5 th.
1.6.3 Penelitian yang dilakukan oleh Hel My Betsy Kosegeran (2008). Desain penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekat an Cross Sectional yang dilakukan terhadap sampel sebanyak 32 responden pada bulan Juni 2013 di Desa Ranoketang Atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi dini dengan perkembangan anak usia 4-5 tahun (p=0,005).
Pengetahuan orangtua yang baik tentang stimulasi dini mempengaruhi pemberian stimulasi terhadap perkembangan anak, sehingga anak mencapai perkembangan optimal sesuai usianya.
Perbedaan dari penelitian di atas peneliti akan melakukan penelitian secara langsung mengenai tingkat pengetahuan orangtua tentang psikologi anak dengan perkembangan psikososial anak usia prasekolah, jenis penelitian yang digunakan, jenis variabel, jumlah sampel dan lokasi.