• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

[email protected]

Block IV:

(2)

DATA PRIBADI

• Andi Sandi Ant.T.T.

▪ S1 (Fakultas Hukum UGM, 1998), S2 (University of

Washington School of Law, 2003)

▪ Departemen Hukum Tata Negara ▪ Fakultas Hukum UGM

▪ Yogyakarta 55281

• Telepon K: 512781 (HTN)

HP: 0852 280 16059

(3)

STRUKTUR KETATANEGARAAN

INDONESIA

[email protected] Bank Sentral 23D UUD 1945 MPR 2-3 BPK 23E-23G Lembaga Kepresidenan 4-6 Mahkamah Konstitusi 24C Mahkamah Agung 24, 24 A Komisi Yudisial 24 B TNI 10, 30 KPU 22E (5) POLRI 30 KEMENTERIAN NEGARA 17 DPD 22C-22D DPR 19-22B PEMDA 18-18B Komnas HAM KKI KPI KASN KPPU KPK KON KPAI LPNK Perpres (27 Inst) BPS BPPT LIPI LAN BNPB BPOM BPN BKKBN

State Auxiliary Institutions Alat Negara

UU/Keppres

BIN UU 17/2011

(4)

PERATURAN NEGARA (STAATREGELINGS)

BERDASARKAN SIFAT MATERI MUATANNYA

• Ketetapan/Keputusan (beschikking),

• Peraturan Kebijakan (beleidsregels),

(5)

KETETAPAN/KEPUTUSAN

(Beschikking)

• Pernyataan kehendak sepihak yang dikeluarkan oleh

organ

pemerintahan

dengan

didasarkan

pada

kewenangan publik

dan ditujukan untuk

hal khusus

atau peristiwa

konkrit, individual, dan final

yang

dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum bagi

seseorang atau badan hukum perdata.

• Jenis peraturan inilah yang menjadi objek sengketa

di Pengadilan Tata Usaha Negara.

• Contohnya: Surat Tanda Registrasi Dokter atau Izin

Operasional Rumah Sakit

“Hati”.

(6)

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

(Regeling)

• Peraturan perundang-undangan bersifat umum dan abstrak

berfungsi anjuran, larangan, pembebasan, atau pengizinan.

Umum: adressat hukumnya masyarakat yang tidak dapat dipastikan siapa.

Abstrak: objek hukumnya belum dapat ditentukan. Misalnya:

“Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik…”

Contoh: UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

• Jenis peraturan inilah yang dimasukan dalam hirarki peraturan perundang-undangan dan dapat diajukan pengujiannya pada

(7)

KEBIJAKAN

(policy/ beleidsregels/ pseudowetgeving/ speigelarecht)

Berasal dari asas freies ermessen/diskresionare. Asas ini sangat berkaitan diskresi pejabat publik yang mempunyai kewenangan.

• Pasal 1 angka 8 UU No.30 Tahun 2014 ttg Administrasi Pemerintahan: Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan.

• Tidak mempunyai dasar hukum (UUD atau UU), bentuknya tertulis atau tidak, dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, biasanya menggunakan nama produk hukum: keputusan, instruksi, surat edaran, pengumuman, dan bahkan ada yang menggunakan nama dan menggunakan bentuk “peraturan”.

• Bukan peraturan perundang-undangan,

Hanya dapat diuji dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (Good Governance).

• Kebijakan hanya berfungsi sebagai pengaturan operasional penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan internal (internal regelen).

(8)

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

(Regeling)

• Peraturan Perundang-undangan adalah

peraturan

tertulis

yang memuat norma hukum yang

mengikat

secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh

lembaga

negara

atau

pejabat

yang

berwenang

melalui prosedur yang ditetapkan

dalam Peraturan

Perundang-undangan

(

Pasal 1 Angka 2 UU No.12

Tahun 2011

).

• Keseluruhan peraturan yang berkaitan dengan UU

atau

bersumber

pada

kekuasaan

legislatif

baik

berupa UU maupun peraturan yang lebih rendah

(9)

PRINSIP TERTIB PERUNDANG-UNDANGAN

Asas kewenangan (atribusi, delegasi, mandat)

(H.D. Van Wijk)

• Dalam pembentukan peraturan

perundang-undangan seringkali dipersoalkan dari mana

sumber kewenangan pembentukan peraturan

itu.

• Jangan sampai suatu peraturan itu tanpa

wewenang atau melampaui kewenangannya.

• Wewenang ini dapat timbul berdasarkan

atribusi, delegasi, ataupun mandat.

(10)

ATRIBUSI KEWENANGAN

attributie van wetgevingbevoegheid

• Atribusi kewenangan adalah

pemberian kewenangan

membentuk

peraturan

perundang-undangan

yang

diberikan oleh grondwet (UUD) atau oleh wet (UU)

kepada suatu lembaga baik yang sudah ada atau yang

khusus dibentuk untuk itu. Contoh:

Konsil Kedokteran

Indonesia

[lihat Pasal 6 UU No.29 Tahun 2004]

.

• Sifat kewenangan ini melekat terus-menerus dan dapat

dilaksanakan

atas

prakarsa

sendiri,

setiap

waktu

(11)

DELEGASI KEWENANGAN

delegatie van wetgevingbevoegheid

• Delegasi kewenangan

adalah

pelimpahan

kewenangan

membentuk

peraturan

perundang-undangan

yang

dilakukan

oleh

peraturan

perundang-undangan

yang

lebih

tinggi kepada peraturan yang lebih rendah.

Contoh:

Presiden ke Menteri atau Dirjen

.

• Kewenangan ini bersifat sementara dalam arti

kewenangan

ini

dapat

diselenggarakan

sepanjang pelimpahan tersebut masih ada.

(12)

PRINSIP DELEGASI

❑ Delegataris dapat melaksanakan kekuasaannya atas

nama sendiri dan disertai tanggung jawab sendiri.

❑ Delegataris bertanggung jawab terhadap pelaksanaan

kewenangannya.

❑ Harus dihindari delegasi blanko. Norma yang akan

didelegasikan harus jelas.

❑ Berlaku asas

delegata potestas non potest delegari

.

Maksudnya, delegataris tidak boleh mendelegasikan

lagi kewenangan yang didelegasikan kepadanya.

(13)

MANDAT

Mandat hanya dapat terjadi kalau pejabat

yang lebih rendah diperbolehkan membuat

(menandatangani) peraturan atas nama

atasannya.

(14)

HIRARKI PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

• Tujuannya untuk menertibkan peraturan yang

kacau

pada

waktu

itu

(TAP

MPRS

No.XX/MPRS/1966).

• Penertiban tersebut mencakup pembentukan,

materi

muatan,

penegakan,

dan

pelaksanaan.

• Maksudnya, untuk membangun sendi pokok

sistem perundang-undangan.

(15)

HIRARKI PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

TAP MPRS No.XX/MPRS/1966

(dibatalkan oleh Pasal 7 TAP MPR

No.III/MPR/2000)

TAP MPR No.III/MPR/2000

(dibatalkan oleh UU No.10 Thn 2004 terkait dengan

Pasal 4

TAP MPR No.I/MPR/2003)

UU No.10 Tahun 2004

(Pasal 7 ayat (1) UU No.10 Tahun 2004)

UU No.12 Tahun 2011

(Pasal 7 ayat (1) UU No.12 Tahun 2011)

UUD 1945 UUD 1945 UUD 1945 UUD Negara RI Tahun

1945

TAP MPR TAP MPR UU/PERPU Ketetapan MPR

UU/PERPU UU PP UU/PERPU

PP PERPU PERPRES PP

KEPPRES PP PERDA PERPRES

PERATURAN PELAKS.

LAINNYA: KEPPRES PERDA PROV PERDA PROV

PERMEN PERDA PERDA KAB/KOTA PERDA KAB/KOTA

INSTRUKSI MENTERI

PERDES

(16)

HIRARKI PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

Pasal 8 UU No.12 Tahun 2011:

(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia,

Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang

dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.

(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai

kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau

(17)

MACAM PERATURAN

Peraturan perundang-undangan di tingkat pusat meliputi:

• Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang disamakan kedudukannya dengan undang-undang;

• Peraturan Pemerintah; • Peraturan Presiden; • Peraturan Menteri;

• Peraturan atau Keputusan Kepala Lembaga Pemerintah non Kementerian yang memperoleh delegasi dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;

• Peraturan Badan Negara yang dibentuk berdasar atribusi undang-undang.

Peraturan perundang-undangan di tingkat daerah (UU No.12 Tahun 2011) meliputi:

• Peraturan Daerah Provinsi; • Peraturan Gubernur;

• Peraturan Daerah Kabupaten/Kota; • Peraturan Bupati/Walikota.

Permendagri No.85 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (tidak menyebutkan Perdes), yaitu:

• Bersifat Pengaturan:

– Peraturan Daerah (atau sebutan lainnya); – Peraturan DPRD;

– Peraturan Kepala Daerah;

– Peraturan Bersama Kepala Daerah;

– Peraturan Desa (atau sebutan lainnya)[Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015, dan Permendagri No.111 Tahun 2014]

– Peraturan Kepala Desa (atau sebutan lainnya) [Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015 dan Permendagri No.111 Tahun 2014]

– Peraturan Bersama Kepala Desa(atau sebutan lainnya)[Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015 dan Permendagri No.111 Tahun 2014]

• Bersifat Penetapan:

– Keputusan Kepala Daerah; – dan

– Keputusan Kepala Desa (atau sebutan lainnya)

(18)

UUD NEGARA RI 1945

UUD

merupakan

norma

hukum

tertinggi

(staatsfundamentalnorm) yang berisi norma-norma

dasar

pengaturan

kehidupan

berbangsa

dan

bernegara.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan

Perundang-undangan.

(19)

UNDANG-UNDANG

Undang-Undang

adalah

Peraturan

Perundang-undangan

yang

dibentuk

oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan

persetujuan bersama Presiden.

Ketentuan Pidana

hanya dapat diatur dalam

UU dan Perda (Pasal 15 UU No.12 Tahun

2011). Pengecualiannya, jika peraturan yang

lebih tinggi lainnya menentukan lain.

(20)

MATERI MUATAN UU:

1. Melaksanakan perintah UUD:

• hak-hak asasi manusia;

• hak dan kewajiban warga negara;

• pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara;

• wilayah negara dan pembagian daerah; • kewarganegaraan dan kependudukan; • keuangan negara;

2. Diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untuk

diatur dengan Undang-Undang;

3. Ratifikasi Perjanjian Internasional;

4. Pengesahan Perppu; dan

(21)

YA

DPR

UU Presiden 3 dibahas bersama [Pasal 20 (2)] RUU 4b mengesahkan [Pasal 20 (4)] 4c

dalam hal RUU tidak disahkan, dalam waktu

30 hari, RUU tersebut sah menjadi UU dan

wajib diundangkan [Pasal 20 (5)] 1a memegang kekuasaan membentuk UU [Pasal 20 (1)] 13 anggota berhak mengajukan usul RUU

(Pasal 21)

4a

tidak boleh diajukan lagi dalam persi-dangan masa itu [Pasal 20 (3)]

4

persetujuan bersama

1b

berhak mengajukan RUU [Pasal 5 (1)]

DPD

TIDAK

DPR: PEMBENTUKAN UU

dapat mengajukan RUU yang sesuai dengan kewenangannya

[Pasal 22D (1)]

ikut membahas dan memberikan pertimbangan atas RUU yang sesuai dengan kewenangannya [Pasal 22D (2)]

(22)

PERPPU

• Perppu adalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. • Materi muatannya sama dengan materi muatan undang-undang

(Pasal 11 UU No. 12 Tahun 2011).

• Syarat konstitutif yang harus ada dalam pembentukan Perpu adalah “hal ihwal kegentingan yang memaksa” (Pasal 22 UUD 1945).

Tanpa syarat ini maka Perpu akan batal demi hukum. Penilaian hal

ihwal kegentingan yang bersifat memaksa (compelling emergency) merupakan subjektifitas presiden. Untuk menguji subjektifitas itu dilakukan melalui persetujuan DPR (Objektifitas).

• Hal utama yang harus diperiksa oleh DPR dalam masa sidangnya adalah syarat ini.

• Muatan Perpu pada prinsipnya adalah bersifat

administratiefrechttelijk tidak dapat mencakup bidang kenegaraan

atau mengatur soal kelembagaan negara maupun peradilan, tetapi untuk memudahkan administrasi negara dalam keadaan genting (Bagir Manan).

(23)

Harus dicabut [Pasal 22 (3)]

Menjadi

UU

PROSES PEMBENTUKAN PERPPU

MENJADI UU

DPR

PRESIDEN

Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, berhak menetapkan

peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang [Pasal 22 (1)] Perppu harus mendapat persetujuan [Pasal 22 (2)] T id ak Ya Persetujuan [email protected]

(24)

PERATURAN PEMERINTAH

(

PP

)

• Materi muatan PP berisi materi untuk menjalankan UU

”sebagaimana mestinya”.

• ”Sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang

diatur dalam PP tidak boleh menyimpang dari materi

yang diatur dalam UU yang bersangkutan.

• Peraturan ini bersifat administratiefrechttelijk sehingga

tidak dapat menciptakan norma hukum baru yang

berada di luar UU.

(25)

PROSES PEMBENTUKAN PP

(Perpres No.87 Tahun 2014)

Pemrakarsa Panitia Antardepartemen

Penyebarluasan

PP

• Pemrakarsa membentuk Panitia

AntarKementerian (Kementerian, Lembaga Negara, atau LPNK). • Mengajukan Permohonan

Keanggotaan Panitia

AntarKementerian kepada lembaga terkait kepada lembaga terkait. • Penetapan Keanggotaan oleh

Pemrakarsa.

• Keterlibatan wakil dari Kemenkumham pada setiap RPP untuk melakukan harmonisasi dengan peraturan lain.

• Ketua Panitia adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemrakarsa.

• Pembahasan difokuskan pada permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang akan diatur, jangkauan, dan arah pengaturan.

• Perancangan yang meliputi penyiapan, pengolahan, dan perumusan RPP oleh biro hukum atau satuan kerja yang

menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundang-undangan pada lembaga pemrakarsa.

• Hasil kerja perancangan disampaikan kpd Panitia AntarKementerian untuk diteliti kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip yang telah disepakati.

Dep/Lembaga Terkait

• Hasil penelitian oleh Panitia AntarKementerian harus selalu dilaporkan kepada pimpinan asal lembaganya.

• Jika sudah dapat diterima, maka disampaikan kepada

pemrakarsa.

Penyebarluasan

• Hasil yang telah disetujui bersama disebarluaskan pada Masyarakat. • Hasil masukan dari Masyarakat

dijadikan dasar penyempurnaan Panitian AntarKementerian. • Dimintakan persetujuan kepada

menteri/ pimpinan lembaga terkait dengan paraf.

Presiden

• Diajukan kepada Presiden (melalui Sekretariat Negara) untuk ditetapkan menjadi PP.

(26)

PERPRES

• Keputusan Presiden (Keppres) hanya digunakan untuk

materi muatan yang bersifat beschikking.

• Untuk yang bersifat regeling digunakan Peraturan

Presiden (Perpres).

• Perpres berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau

materi untuk melaksanakan PP.

• Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut UUD

Negara RI 1945, Pasal 4 ayat (1) UUD Negara RI 1945.

Perpres dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan

lebih lanjut perintah UU atau PP baik

secara tegas

(27)

PROSES PEMBENTUKAN PERPRES

(Perpres No.87 Tahun 2014)

Pemrakarsa Panitia Antardepartemen

Penyebarluasan

Perpres

• Pemrakarsa membentuk Panitia Antardepartemen (Kementerian, Lembaga Negara, atau LPNK). • Mengajukan Permohonan

Keanggotaan Panitia

AntarKementerian kepada lembaga terkait.

• Penetapan Keanggotaan oleh Pemrakarsa.

• Keterlibatan wakil dari Kemenkumham pada setiap Raperpres untuk

melakukan harmonisasi dengan peraturan lain.

• Ketua Panitia adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemrakarsa.

• Pembahasan difokuskan pada permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang akan diatur, jangkauan, dan arah pengaturan.

• Perancangan yang meliputi penyiapan, pengolahan, dan perumusan Raperpres oleh biro hukum atau satuan kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundang-undangan pada lembaga pemrakarsa.

• Hasil kerja perancangan disampaikan kpd Panitia AntarKementerian untuk diteliti kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip yang telah disepakati.

Dep/Lembaga Terkait

• Hasil penelitian oleh Panitia AntarKementeruab harus selalu dilaporkan kepada pimpinan asal lembaganya.

• Jika sudah dapat diterima, maka disampaikan kepada

pemrakarsa.

Penyebarluasan

• Hasil yang telah disetujui bersama disebarluaskan pada Masyarakat. • Hasil masukan dari Masyarakat

dijadikan dasar penyempurnaan Panitian AntarKementerian.

• Dimintakan persetujuan kepada menteri/ pimpinan lembaga terkait dengan paraf.

Presiden

• Diajukan kepada Presiden (Melalui Sekretariat Kabinet) untuk ditetapkan menjadi Perpres.

(28)

Perda

• Perda Provinsi/Kabupaten/Kota dibentuk oleh DPRD dan Kepala

Daerah, yang fungsinya untuk mengatur pemerintahan daerah

otonom dan tugas pembantuan. • Pasal 14 UU No.12 Tahun 2011:

Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

• Pasal 236 UU No. 23 Tahun 2014 ttg Pemda sebagaimana

diubah terakhir dengan UU No.9 Tahun 2015:

Perda memuat

:

a. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan;

b. penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;dan

c. materi muatan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(29)

PROSES PEMBAHASAN RAPERDA

Pembahasan dalam Rapat Komisi/Gabungan Komisi/Pansus yang dilakukan bersama Kepala Daerah/ Pejabat yang Ditunjuk

Kepala

Daerah Rapat

Paripurna DPRD

• Penjelasan Kepala Daerah ttg Raperda • Pemandangan Umum Fraksi thd

Raperda

• Tanggapan dan/atau Jawaban Kepala Daerah thd Pandangan Umum Fraksi

• Penjelasan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan Bapemperda, atau pimpinan panitia khusus ttg Raperda

• Pendapat Kepala Daerah terhadap raperda; dan

tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap

pendapat Kepala Daerah

DPRD

TAHAP II

• Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna

• penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi pendapat fraksi dan hasil pembahasan

• permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna

• Pendapat Akhir Kepala Daerah

(30)

TINGKAT PEMBICARAAN PERDA

(Pasal 72-Pasal 78 Permendagri No.80 Tahun 2015)

I. Pembicaraan tingkat I, meliputi:

1. Raperda yang diajukan oleh Kepala Daerah:

a. Penjelasan Kepala Daerah dalam Rapat Paripurna tentang Raperda; b. Tanggapan Umum Fraksi terhadap Raperda; dan

c. Jawaban/Tanggapan Kepala Daerah atas Pandangan Umum Fraksi.

2. Raperda yang diajukan oleh DPRD:

a. Penjelasan dalam Rapat Paripurna oleh Pimpinan Komisi/Gabungan Komisi, Pimpinan Badan Legislasi Daerah, atau Pimpinan Panitia Khusus terhadap Raperda;.

b. Tanggapan Kepala Daerah atas Raperda; dan

c. Jawaban/tanggapan fraksi atas tanggapan Kepala Daerah.

3. Pembahasan dalam rapat Komisi, Gabungan Komisi atau Rapat Panitia Khusus dilakukan bersama-sama dengan Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk

II. Pembicaraan tingkat II, meliputi:

1. Pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului dengan: a. penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan

komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat fraksi dan hasil pembicaraan sebagaimana dimaksud pada Angka I.3;

b. permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna;

(31)

PERATURAN DESA

• Peraturan Desa adalah peraturan

perundang-undangan yang ditetapkan Kepala Desa setelah

dibahas

dan

disepakati

bersama

Badan

Permusyawaratan Desa [Pasal 1 angka 7 UU No.6

Tahun 2014].

• Materi muatan:

kerangka hukum dan kebijakan

dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan

Pembangunan Desa.

(32)

PEMERINTAHAN DAERAH

(33)

UU No. 23 Tahun 2014

[diubah terakhir dengan UU No.9 Tahun 2015]

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani,memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.

(34)

Ak unt abil it as, Ef isiensi, E k st ernal it as, da n Kepent ingan St rat egis N asi on al Ur usa n Pe me rintahan Absolut Konkuren Pilihan Politik LN, Pertahanan, Keamanan, Yustisi, Moneter

dan Fiskal Nasional, serta Agama

Berkaitan dgn Pelayanan Dasar

Tdk Berkaitan dgn Pelayanan Dasar

Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Perdagangan, Perindustrian, dan

Transmigrasi

Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan

Permukiman, Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat, serta

Sosial

Tenaga Kerja, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pangan, Pertanahan,

Lingkungan Hidup, Admiduk dan Capil,Pemberdayaan Masy dan Desa, Pengendalian Penduduk dan KB, Perhubungan,

Kominfo, Koperasi dan UKM, Penanaman Modal, Pemuda dan OR, Statistik, Persandian,

Kebudayaan, Perpustakaan, dan kerasipan

(35)

Urusan Absolut

Politik Luar Negeri, Fiskal dan Moneter Nasional, Agama,

Pertahanan, dan Keamanan

Urusan Konkuren

Dibagi antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota berdasarkan Eksternalitas, Efisiensi, Akuntabilitas, dan

Kepentingan Strategis Nasional Pemerintahan Umum Urusan Pmerintahan yang menjadi kewenangan presiden sebagai kepala pemerintahan APBN Bidang Urusan (32)

Sub Bidang Urusan (166)

Provinsi (297)

Kab/Kota (290)

Urusan Pemerintahan Konkuren (1047)

Pusat (460)

APBD

(36)

No Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi

Daerah

Kabupaten/Kota

1 Upaya Kesehatan a. Pengelolaan upaya kesehatan perorangan (UKP) rujukan nasional/lintas Daerah provinsi. b. Pengelolaan upaya kesehatan masyarakat (UKM) nasional dan rujukan nasional/lintas Daerah provinsi.

c. Penyelenggaraan registrasi, akreditasi, dan standardisasi fasilitas pelayanan

kesehatan publik dan swasta.

d. Penerbitan izin rumah sakit kelas A dan fasilitas

pelayanan kesehatan penanaman modal asing (PMA) serta fasilitas pelayanan kesehatan tingkat nasional

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN

BIDANG KESEHATAN

a n d i.sa n d i@ u g m .a c.id

(37)

No Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi

Daerah

Kabupaten/Kota

2 SDM Kesehatan a. Penetapan standardisasi dan registrasi tenaga kesehatan

Indonesia, tenaga kesehatan warga negara asing (TK-WNA), serta penerbitan rekomendasi

pengesahan rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) dan izin mempekerjakan tenaga asing

(IMTA).

b. Penetapan penempatan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis bagi Daerah yang tidak mampu dan tidak diminati.

c. Penetapan standar kompetensi teknis dan sertifikasi pelaksana Urusan Pemerintahan bidang kesehatan. d. Penetapan standar pengembangan kapasitas SDM kesehatan. e. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Nasional

Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Daerah provinsi

a. Penerbitan izin praktik dan izin kerja tenaga kesehatan. b. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Daerah kabupaten/kota.

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN

BIDANG KESEHATAN

a n d i.sa n d i@ u g m .a c.id

(38)

No Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi

Daerah

Kabupaten/Kota

3 Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,dan

Makanan Minuman

a. Penyediaan obat, vaksin, alat kesehatan, dan suplemen kesehatan program nasional.

b. Pengawasan ketersediaan pemerataan, dan

keterjangkauan obat dan alat kesehatan.

c. Pembinaan dan pengawasan industri, sarana produksi dan sarana distribusi sediaan farmasi, obat tradisional, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT), bahan obat, bahan baku alam yang terkait dengan kesehatan. d. Pengawasan pre-market

obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT, dan makanan minuman.

e. Pengawasan post-market obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT, dan makanan

a. Penerbitan

pengakuan pedagang besar farmasi (PBF) cabang dan cabang penyalur alat

kesehatan (PAK). b. Penerbitan izin usaha

kecil obat tradisional (UKOT).

a. Penerbitan izin apotek, toko obat, toko alat

kesehatan dan optikal.

b. Penerbitan izin usaha mikro obat tradisional (UMOT). c. Penerbitan sertifikat produksi alat kesehatan kelas 1 (satu) tertentu dan PKRT kelas 1 (satu) tertentu perusahaan rumah tangga. d. Penerbitan izin produksi makanan dan minuman pada industri rumah tangga. e. Pengawasan post-market produk

makanan-PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN

BIDANG KESEHATAN

a n d i.sa n d i@ u g m .a c.id

(39)

No Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi Daerah Kabupaten/Kota 4 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokoh nasional dan internasional, kelompok masyarakat,

organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat

nasional dan internasional.

Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokoh provinsi, kelompok masyarakat, organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat provinsi. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokohKabupaten/Kota , kelompok masyarakat, organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat kabupaten/kota.

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN

BIDANG KESEHATAN

a n d i.sa n d i@ u g m .a c.id

(40)

DESENTRALISASI

UU No. 23 Tahun 2014

• Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh

Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi.

OTONOMI:

• Kebebasan dan kemandirian satuan pemerintahan lebih rendah untuk mengatur dan mengurus sebagian urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan yang boleh diatur dan diurus secara bebas dan mandiri itu menjadi atau merupakan urusan rumah tangga satuan pemerintahan yang lebih rendah tersebut.

• Penyelenggaraan asas desentralisasi menghasilkan daerah

otonom. Urusan/kewenangan yang diserahkan kepada

daerah yang menjadi hak daerah disebut otonomi daerah

(otonomi). Zelfregering→ pemerintah sendiri (auto – nomes).

HAKIKAT ISI OTONOMI:

Kemandirian untuk mengatur dan mengurus rumah

(41)

DEKONSENTRASI

• Dekonsentrasi adalah penyerahan sebagian dari kekuasaan pemerintah kepada alat-alat pemerintahan pusat yang ada di daerah. Pada hakikatnya alat-alat pemerintah pusat ini melakukan pemerintahan sentral di daerah-daerah. Penyerahan kekuasaan pemerintah pusat kepada alatnya di daerah karena meningkatnya kemajuan masyarakat di daerah-daerah.

Dekonsentrasi memuat pemencaran kekuasaan (Spreiding van Machten) yang tidak dapat dilaksanakan dengan desentralisasi, karena dekonsentrasi berkaitan dengan penyelenggaraan administrasi negara bersifat kepegawaian (ambtelijk) untuk memperlancarkan penyelenggaraan pemerintahan pusat di daerah. • Oleh karena itu, Dekonsentrasi merupakan bagian sentralisasi.

• UU No. 23 Tahun 2014:

Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum.

(42)

Asas Umum Pelaksanaan Dekonsentrasi

Kewenangan

Pemerintah

Pusat

di

Daerah

Provinsi

dalam

rangka

pelaksanaan

Dekonsentrasi dilimpahkan kepada Gubernur

sebagai wakil Pemerintah Pusat.

Kewenangan tersebut di atas dilaksanakan oleh

Dinas

Provinsi

sebagai

perangkat

Daerah

Provinsi.

Penyelenggaraan Dekonsentrasi di atas dibiayai

dengan APBN.

Pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam

penyelenggaraan

Dekonsentrasi

dilakukan

secara terpisah dari APBD.

Gubernur

memberitahukan

kepada

DPRD

(43)

Tugas Pembantuan (Medebewind)

UU No. 23 Tahun 2014

• Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah

kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan

Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi.

Perbedaan:

• Otonomi merupakan penyerahan penuh, baik asas (prinsip-prinsipnya) maupun cara menjalankan kewenangan yang telah diserahkan pada daerah.

• Medebewind merupakan penyerahan tidak penuh, hanya mengenai cara menjalankan saja sedang prinsip-prinsipnya ditetapkan pusat.

(44)

Lanj...

Medebewind merupakan kewajiban daerah otonom untuk

melaksanakan peraturan dari instansi atasan yang unsurnya:

– Materi yang dilaksanakan tidak termasuk dalam urusan rumah tangga daerah otonom.

– Dalam melaksanakannya daerah otonom mempunyai kelonggaran dengan menyesuaikan kekhususan daerah.

Yang dapat diserahi medebewind hanya daerah otonom saja bukan instansi vertikal pusat di daerah.

Jadi:

• Pemerintah tidak dapat menentukan secara imperatif cara menjalankan peraturan tersebut di daerah karena segala sesuatu diserahkan pada kekhususan daerah.

(45)

Asas Umum Tugas Pembantuan

• Tugas Pembantuan dilaksanakan oleh Pemerintah

Daerah dan Desa dengan kewajiban melaporkan

pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya

kepada Pemerintah Pusat.

• Penyelenggaraan Tugas Pembantuan dibiayai atas

beban pengeluaran pembangunan APBN.

• Pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam

penyelenggaraan

Tugas

Pembantuan

dilakukan

secara

terpisah

dari

APBD

dan

Anggaran

Pendapatan dan Belanja Desa.

• Pemerintah Daerah memberitahukan adanya Tugas

Pembantuan kepada DPRD dan Pemerintah Desa

memberitahukannya

kepada

Badan

Permusyawaratan Desa.

(46)

ASURANSI

(47)

ASURANSI

• Pada

prinsipnya

asuransi

merupakan

suatu

mekanisme peralihan risiko

dari

tertanggung kepada

penanggung

,

apabila

terjadi

evenement

dari

kepentingan yang dipertanggungkan.

• Namun,

UU Nomor 33 Tahun 1964 dan UU Nomor 34

Tahun 1964 menggunakan no-fault scheme dan

prinsip ex. gratia atau pemberian santunan kepada

seluruh korban kecelakaan angkutan umum dan lalu

lintas jalan, tanpa memandang ada/tidaknya unsur

kesalahan serta kepemilikan polis.

(48)

PENGERTIAN ASURANSI

• Pasal 246 KUHD:

Perjanjian pertanggungan atau asuransi, merupakan hubungan hukum antara tertanggung dan penanggung. Hubungan hukum ini timbul ketika pihak tertanggung mengikatkan diri untuk membayar premi atas persesuaian kehendak, sedangkan pihak penanggung mengikatkan diri untuk menerima premi dari tertanggung untuk mengganti kerugian kepada pihak lain atas dasar persesuaian kehendak. Selanjutnya, penggantian dari penanggung berdasarkan pada terjadinya peristiwa yang tidak tertentu.

• Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian:

Asuransi atau pertanggungan adalah perjaniian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

(49)

PENGERTIAN ASURANSI

• Unsur Perjanjian Pertanggungan atau asuransi:

1. pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian

pertanggungan,

2. adanya kesesuaian kehendak,

3. adanya peristiwa tidak tertentu, dan

4. kepentingan yang dipertanggungkan

.

(50)

1. Asuransi Sukarela:

Pengertian sukarela menunjukkan bahwa hubungan hukum

antara pihak penanggung dan tertanggung yang

mengikatkan diri dalam perjanjian pertanggungan harus memuat adanya unsur persesuaian kehendak yang bersifat sukarela, sehingga tidak ada paksaan maupun campur tangan dari pihak lain

2. Asuransi Wajib:

Pada pertanggungan wajib, hubungan hukum antara

pembayar premi dan pemerintah sebagai penanggung yang diciptakan oleh Undang-Undang.

JENIS ASURANSI

(51)

JAMINAN SOSIAL

• Pasal 1 angka 1 UU No.40 Tahun 2004:

– Jaminan sosial adalah salah satu bentuk

perlindungan sosial untuk menjamin seluruh

rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar

hidupnya yang layak.

• Pasal 18 UU No.40 Tahun 2004:

Jaminan Sosial, terdiri atas:

– jaminan kesehatan;

– jaminan kecelakaan kerja;

– jaminan hari tua;

– jaminan pensiun; dan

– jaminan kematian.

(52)

PENYELENGGARA

JAMINAN SOSIAL

• Pasal 5 UU No.40 Tahun 2004:

– Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK);

– Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN);

– Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI); dan

– Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES).

• Harus BUMN karena merupakan bagian dari negara dan

harus dibentuk dengan UU

.

• Pasal 5 ayat (2) UU No.24 Tahun 2011 ttg BPJS:

– BPJS Kesehatan

(53)

PERIZINAN & AKREDITASI

RUMAH SAKIT

(54)

Perizinan dan Akreditas RS

Permenkes No.56 Tahun 2014

• Jenis Izin:

– Izin Mendirikan (1 Thn diperpanjang 1 Thn);

– Izin Operasional (5 Thn dpt diperpanjang)

• Pemberian izin ditentukan oleh jenis RS:

– Kelas A: Dirjend

– Kelas B: Provinsi

– Kelas C dan D: Kabupaten/Kota

• Setiap RS harus diregistrasi dan

diakreditasi.

• Akreditasi diputuskan oleh KARS dan

didahului oleh Tim Surveryor.

(55)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

“ Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam

Diskresi mempunyai unsur-unsur yaitu diskresi adalah keputusan dna/atau tindakan, keputusan dan/atau tindakan itu ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat

mendefinisikan diskresi sebagai Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi

Undang-undang Administrasi Pemerintahan mengatur, diskresi sebagai keputusan dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk

Dalam Undang-Undang Administrasi Pemerintahan yang dimaksud dengan diskresi adalah keputusan dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat

Ketentuan UU 36/09 ttg Pelayanan Kefarmasian Upaya Kesehatan, termasuk Pengamanan Dan Penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ;  Sediaan farmasi dan alat kesehatan harus

Akan tetapi RUU Cipta Kerja ternyata menghidupkan kembali pasal yang telah dibatalkan MK, misalnya Pasal 251 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah UU Pemda, yang

Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan