DATA PRIBADI
• Andi Sandi Ant.T.T.
▪ S1 (Fakultas Hukum UGM, 1998), S2 (University of
Washington School of Law, 2003)
▪ Departemen Hukum Tata Negara ▪ Fakultas Hukum UGM
▪ Yogyakarta 55281
• Telepon K: 512781 (HTN)
HP: 0852 280 16059
STRUKTUR KETATANEGARAAN
INDONESIA
[email protected] Bank Sentral 23D UUD 1945 MPR 2-3 BPK 23E-23G Lembaga Kepresidenan 4-6 Mahkamah Konstitusi 24C Mahkamah Agung 24, 24 A Komisi Yudisial 24 B TNI 10, 30 KPU 22E (5) POLRI 30 KEMENTERIAN NEGARA 17 DPD 22C-22D DPR 19-22B PEMDA 18-18B Komnas HAM KKI KPI KASN KPPU KPK KON KPAI LPNK Perpres (27 Inst) BPS BPPT LIPI LAN BNPB BPOM BPN BKKBNState Auxiliary Institutions Alat Negara
UU/Keppres
BIN UU 17/2011
PERATURAN NEGARA (STAATREGELINGS)
BERDASARKAN SIFAT MATERI MUATANNYA
• Ketetapan/Keputusan (beschikking),
• Peraturan Kebijakan (beleidsregels),
KETETAPAN/KEPUTUSAN
(Beschikking)
• Pernyataan kehendak sepihak yang dikeluarkan oleh
organ
pemerintahan
dengan
didasarkan
pada
kewenangan publik
dan ditujukan untuk
hal khusus
atau peristiwa
konkrit, individual, dan final
yang
dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum bagi
seseorang atau badan hukum perdata.
• Jenis peraturan inilah yang menjadi objek sengketa
di Pengadilan Tata Usaha Negara.
• Contohnya: Surat Tanda Registrasi Dokter atau Izin
Operasional Rumah Sakit
“Hati”.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
(Regeling)
• Peraturan perundang-undangan bersifat umum dan abstrak
berfungsi anjuran, larangan, pembebasan, atau pengizinan.
Umum: adressat hukumnya masyarakat yang tidak dapat dipastikan siapa.
Abstrak: objek hukumnya belum dapat ditentukan. Misalnya:
“Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik…”
Contoh: UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
• Jenis peraturan inilah yang dimasukan dalam hirarki peraturan perundang-undangan dan dapat diajukan pengujiannya pada
KEBIJAKAN
(policy/ beleidsregels/ pseudowetgeving/ speigelarecht)
• Berasal dari asas freies ermessen/diskresionare. Asas ini sangat berkaitan diskresi pejabat publik yang mempunyai kewenangan.
• Pasal 1 angka 8 UU No.30 Tahun 2014 ttg Administrasi Pemerintahan: Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan.
• Tidak mempunyai dasar hukum (UUD atau UU), bentuknya tertulis atau tidak, dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, biasanya menggunakan nama produk hukum: keputusan, instruksi, surat edaran, pengumuman, dan bahkan ada yang menggunakan nama dan menggunakan bentuk “peraturan”.
• Bukan peraturan perundang-undangan,
Hanya dapat diuji dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (Good Governance).
• Kebijakan hanya berfungsi sebagai pengaturan operasional penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan internal (internal regelen).
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
(Regeling)• Peraturan Perundang-undangan adalah
peraturan
tertulis
yang memuat norma hukum yang
mengikat
secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh
lembaga
negara
atau
pejabat
yang
berwenang
melalui prosedur yang ditetapkan
dalam Peraturan
Perundang-undangan
(
Pasal 1 Angka 2 UU No.12
Tahun 2011
).
• Keseluruhan peraturan yang berkaitan dengan UU
atau
bersumber
pada
kekuasaan
legislatif
baik
berupa UU maupun peraturan yang lebih rendah
PRINSIP TERTIB PERUNDANG-UNDANGAN
Asas kewenangan (atribusi, delegasi, mandat)
(H.D. Van Wijk)
• Dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan seringkali dipersoalkan dari mana
sumber kewenangan pembentukan peraturan
itu.
• Jangan sampai suatu peraturan itu tanpa
wewenang atau melampaui kewenangannya.
• Wewenang ini dapat timbul berdasarkan
atribusi, delegasi, ataupun mandat.
ATRIBUSI KEWENANGAN
attributie van wetgevingbevoegheid
• Atribusi kewenangan adalah
pemberian kewenangan
membentuk
peraturan
perundang-undangan
yang
diberikan oleh grondwet (UUD) atau oleh wet (UU)
kepada suatu lembaga baik yang sudah ada atau yang
khusus dibentuk untuk itu. Contoh:
Konsil Kedokteran
Indonesia
[lihat Pasal 6 UU No.29 Tahun 2004]
.
• Sifat kewenangan ini melekat terus-menerus dan dapat
dilaksanakan
atas
prakarsa
sendiri,
setiap
waktu
DELEGASI KEWENANGAN
delegatie van wetgevingbevoegheid• Delegasi kewenangan
adalah
pelimpahan
kewenangan
membentuk
peraturan
perundang-undangan
yang
dilakukan
oleh
peraturan
perundang-undangan
yang
lebih
tinggi kepada peraturan yang lebih rendah.
Contoh:
Presiden ke Menteri atau Dirjen
.
• Kewenangan ini bersifat sementara dalam arti
kewenangan
ini
dapat
diselenggarakan
sepanjang pelimpahan tersebut masih ada.
PRINSIP DELEGASI
❑ Delegataris dapat melaksanakan kekuasaannya atas
nama sendiri dan disertai tanggung jawab sendiri.
❑ Delegataris bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
kewenangannya.
❑ Harus dihindari delegasi blanko. Norma yang akan
didelegasikan harus jelas.
❑ Berlaku asas
delegata potestas non potest delegari
.
Maksudnya, delegataris tidak boleh mendelegasikan
lagi kewenangan yang didelegasikan kepadanya.
MANDAT
Mandat hanya dapat terjadi kalau pejabat
yang lebih rendah diperbolehkan membuat
(menandatangani) peraturan atas nama
atasannya.
HIRARKI PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
• Tujuannya untuk menertibkan peraturan yang
kacau
pada
waktu
itu
(TAP
MPRS
No.XX/MPRS/1966).
• Penertiban tersebut mencakup pembentukan,
materi
muatan,
penegakan,
dan
pelaksanaan.
• Maksudnya, untuk membangun sendi pokok
sistem perundang-undangan.
HIRARKI PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
TAP MPRS No.XX/MPRS/1966
(dibatalkan oleh Pasal 7 TAP MPR
No.III/MPR/2000)
TAP MPR No.III/MPR/2000
(dibatalkan oleh UU No.10 Thn 2004 terkait dengan
Pasal 4
TAP MPR No.I/MPR/2003)
UU No.10 Tahun 2004
(Pasal 7 ayat (1) UU No.10 Tahun 2004)
UU No.12 Tahun 2011
(Pasal 7 ayat (1) UU No.12 Tahun 2011)
UUD 1945 UUD 1945 UUD 1945 UUD Negara RI Tahun
1945
TAP MPR TAP MPR UU/PERPU Ketetapan MPR
UU/PERPU UU PP UU/PERPU
PP PERPU PERPRES PP
KEPPRES PP PERDA PERPRES
PERATURAN PELAKS.
LAINNYA: KEPPRES PERDA PROV PERDA PROV
PERMEN PERDA PERDA KAB/KOTA PERDA KAB/KOTA
INSTRUKSI MENTERI
PERDES
HIRARKI PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
Pasal 8 UU No.12 Tahun 2011:
(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia,
Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang
dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.
(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai
kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau
MACAM PERATURAN
Peraturan perundang-undangan di tingkat pusat meliputi:
• Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang disamakan kedudukannya dengan undang-undang;
• Peraturan Pemerintah; • Peraturan Presiden; • Peraturan Menteri;
• Peraturan atau Keputusan Kepala Lembaga Pemerintah non Kementerian yang memperoleh delegasi dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
• Peraturan Badan Negara yang dibentuk berdasar atribusi undang-undang.
Peraturan perundang-undangan di tingkat daerah (UU No.12 Tahun 2011) meliputi:
• Peraturan Daerah Provinsi; • Peraturan Gubernur;
• Peraturan Daerah Kabupaten/Kota; • Peraturan Bupati/Walikota.
Permendagri No.85 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (tidak menyebutkan Perdes), yaitu:
• Bersifat Pengaturan:
– Peraturan Daerah (atau sebutan lainnya); – Peraturan DPRD;
– Peraturan Kepala Daerah;
– Peraturan Bersama Kepala Daerah;
– Peraturan Desa (atau sebutan lainnya)[Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015, dan Permendagri No.111 Tahun 2014]
– Peraturan Kepala Desa (atau sebutan lainnya) [Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015 dan Permendagri No.111 Tahun 2014]
– Peraturan Bersama Kepala Desa(atau sebutan lainnya)[Ditentukan dalam UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014 juncto PP No.47 Tahun 2015 dan Permendagri No.111 Tahun 2014]
• Bersifat Penetapan:
– Keputusan Kepala Daerah; – dan
– Keputusan Kepala Desa (atau sebutan lainnya)
UUD NEGARA RI 1945
•
UUD
merupakan
norma
hukum
tertinggi
(staatsfundamentalnorm) yang berisi norma-norma
dasar
pengaturan
kehidupan
berbangsa
dan
bernegara.
•
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan
Perundang-undangan.
UNDANG-UNDANG
•
Undang-Undang
adalah
Peraturan
Perundang-undangan
yang
dibentuk
oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
persetujuan bersama Presiden.
•
Ketentuan Pidana
hanya dapat diatur dalam
UU dan Perda (Pasal 15 UU No.12 Tahun
2011). Pengecualiannya, jika peraturan yang
lebih tinggi lainnya menentukan lain.
MATERI MUATAN UU:
1. Melaksanakan perintah UUD:
• hak-hak asasi manusia;
• hak dan kewajiban warga negara;
• pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara;
• wilayah negara dan pembagian daerah; • kewarganegaraan dan kependudukan; • keuangan negara;
2. Diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untuk
diatur dengan Undang-Undang;
3. Ratifikasi Perjanjian Internasional;
4. Pengesahan Perppu; dan
YA
DPR
UU Presiden 3 dibahas bersama [Pasal 20 (2)] RUU 4b mengesahkan [Pasal 20 (4)] 4cdalam hal RUU tidak disahkan, dalam waktu
30 hari, RUU tersebut sah menjadi UU dan
wajib diundangkan [Pasal 20 (5)] 1a memegang kekuasaan membentuk UU [Pasal 20 (1)] 13 anggota berhak mengajukan usul RUU
(Pasal 21)
4a
tidak boleh diajukan lagi dalam persi-dangan masa itu [Pasal 20 (3)]
4
persetujuan bersama
1b
berhak mengajukan RUU [Pasal 5 (1)]
DPD
TIDAK
DPR: PEMBENTUKAN UU
dapat mengajukan RUU yang sesuai dengan kewenangannya
[Pasal 22D (1)]
ikut membahas dan memberikan pertimbangan atas RUU yang sesuai dengan kewenangannya [Pasal 22D (2)]
PERPPU
• Perppu adalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. • Materi muatannya sama dengan materi muatan undang-undang(Pasal 11 UU No. 12 Tahun 2011).
• Syarat konstitutif yang harus ada dalam pembentukan Perpu adalah “hal ihwal kegentingan yang memaksa” (Pasal 22 UUD 1945).
Tanpa syarat ini maka Perpu akan batal demi hukum. Penilaian hal
ihwal kegentingan yang bersifat memaksa (compelling emergency) merupakan subjektifitas presiden. Untuk menguji subjektifitas itu dilakukan melalui persetujuan DPR (Objektifitas).
• Hal utama yang harus diperiksa oleh DPR dalam masa sidangnya adalah syarat ini.
• Muatan Perpu pada prinsipnya adalah bersifat
administratiefrechttelijk tidak dapat mencakup bidang kenegaraan
atau mengatur soal kelembagaan negara maupun peradilan, tetapi untuk memudahkan administrasi negara dalam keadaan genting (Bagir Manan).
Harus dicabut [Pasal 22 (3)]
Menjadi
UU
PROSES PEMBENTUKAN PERPPU
MENJADI UU
DPR
PRESIDEN
Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, berhak menetapkan
peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang [Pasal 22 (1)] Perppu harus mendapat persetujuan [Pasal 22 (2)] T id ak Ya Persetujuan [email protected]
PERATURAN PEMERINTAH
(
PP
)
• Materi muatan PP berisi materi untuk menjalankan UU
”sebagaimana mestinya”.
• ”Sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang
diatur dalam PP tidak boleh menyimpang dari materi
yang diatur dalam UU yang bersangkutan.
• Peraturan ini bersifat administratiefrechttelijk sehingga
tidak dapat menciptakan norma hukum baru yang
berada di luar UU.
PROSES PEMBENTUKAN PP
(Perpres No.87 Tahun 2014)
Pemrakarsa Panitia Antardepartemen
Penyebarluasan
PP
• Pemrakarsa membentuk PanitiaAntarKementerian (Kementerian, Lembaga Negara, atau LPNK). • Mengajukan Permohonan
Keanggotaan Panitia
AntarKementerian kepada lembaga terkait kepada lembaga terkait. • Penetapan Keanggotaan oleh
Pemrakarsa.
• Keterlibatan wakil dari Kemenkumham pada setiap RPP untuk melakukan harmonisasi dengan peraturan lain.
• Ketua Panitia adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemrakarsa.
• Pembahasan difokuskan pada permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang akan diatur, jangkauan, dan arah pengaturan.
• Perancangan yang meliputi penyiapan, pengolahan, dan perumusan RPP oleh biro hukum atau satuan kerja yang
menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundang-undangan pada lembaga pemrakarsa.
• Hasil kerja perancangan disampaikan kpd Panitia AntarKementerian untuk diteliti kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip yang telah disepakati.
Dep/Lembaga Terkait
• Hasil penelitian oleh Panitia AntarKementerian harus selalu dilaporkan kepada pimpinan asal lembaganya.
• Jika sudah dapat diterima, maka disampaikan kepada
pemrakarsa.
Penyebarluasan
• Hasil yang telah disetujui bersama disebarluaskan pada Masyarakat. • Hasil masukan dari Masyarakat
dijadikan dasar penyempurnaan Panitian AntarKementerian. • Dimintakan persetujuan kepada
menteri/ pimpinan lembaga terkait dengan paraf.
Presiden
• Diajukan kepada Presiden (melalui Sekretariat Negara) untuk ditetapkan menjadi PP.
PERPRES
• Keputusan Presiden (Keppres) hanya digunakan untuk
materi muatan yang bersifat beschikking.
• Untuk yang bersifat regeling digunakan Peraturan
Presiden (Perpres).
• Perpres berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau
materi untuk melaksanakan PP.
• Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut UUD
Negara RI 1945, Pasal 4 ayat (1) UUD Negara RI 1945.
Perpres dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan
lebih lanjut perintah UU atau PP baik
secara tegas
PROSES PEMBENTUKAN PERPRES
(Perpres No.87 Tahun 2014)
Pemrakarsa Panitia Antardepartemen
Penyebarluasan
Perpres
• Pemrakarsa membentuk Panitia Antardepartemen (Kementerian, Lembaga Negara, atau LPNK). • Mengajukan Permohonan
Keanggotaan Panitia
AntarKementerian kepada lembaga terkait.
• Penetapan Keanggotaan oleh Pemrakarsa.
• Keterlibatan wakil dari Kemenkumham pada setiap Raperpres untuk
melakukan harmonisasi dengan peraturan lain.
• Ketua Panitia adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemrakarsa.
• Pembahasan difokuskan pada permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang akan diatur, jangkauan, dan arah pengaturan.
• Perancangan yang meliputi penyiapan, pengolahan, dan perumusan Raperpres oleh biro hukum atau satuan kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundang-undangan pada lembaga pemrakarsa.
• Hasil kerja perancangan disampaikan kpd Panitia AntarKementerian untuk diteliti kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip yang telah disepakati.
Dep/Lembaga Terkait
• Hasil penelitian oleh Panitia AntarKementeruab harus selalu dilaporkan kepada pimpinan asal lembaganya.
• Jika sudah dapat diterima, maka disampaikan kepada
pemrakarsa.
Penyebarluasan
• Hasil yang telah disetujui bersama disebarluaskan pada Masyarakat. • Hasil masukan dari Masyarakat
dijadikan dasar penyempurnaan Panitian AntarKementerian.
• Dimintakan persetujuan kepada menteri/ pimpinan lembaga terkait dengan paraf.
Presiden
• Diajukan kepada Presiden (Melalui Sekretariat Kabinet) untuk ditetapkan menjadi Perpres.
Perda
• Perda Provinsi/Kabupaten/Kota dibentuk oleh DPRD dan KepalaDaerah, yang fungsinya untuk mengatur pemerintahan daerah
otonom dan tugas pembantuan. • Pasal 14 UU No.12 Tahun 2011:
Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
• Pasal 236 UU No. 23 Tahun 2014 ttg Pemda sebagaimana
diubah terakhir dengan UU No.9 Tahun 2015:
Perda memuat
:
a. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan;
b. penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;dan
c. materi muatan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
PROSES PEMBAHASAN RAPERDA
Pembahasan dalam Rapat Komisi/Gabungan Komisi/Pansus yang dilakukan bersama Kepala Daerah/ Pejabat yang Ditunjuk
Kepala
Daerah Rapat
Paripurna DPRD
• Penjelasan Kepala Daerah ttg Raperda • Pemandangan Umum Fraksi thd
Raperda
• Tanggapan dan/atau Jawaban Kepala Daerah thd Pandangan Umum Fraksi
• Penjelasan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan Bapemperda, atau pimpinan panitia khusus ttg Raperda
• Pendapat Kepala Daerah terhadap raperda; dan
tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap
pendapat Kepala Daerah
DPRD
TAHAP II
• Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna
• penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi pendapat fraksi dan hasil pembahasan
• permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna
• Pendapat Akhir Kepala Daerah
TINGKAT PEMBICARAAN PERDA
(Pasal 72-Pasal 78 Permendagri No.80 Tahun 2015)
I. Pembicaraan tingkat I, meliputi:
1. Raperda yang diajukan oleh Kepala Daerah:
a. Penjelasan Kepala Daerah dalam Rapat Paripurna tentang Raperda; b. Tanggapan Umum Fraksi terhadap Raperda; dan
c. Jawaban/Tanggapan Kepala Daerah atas Pandangan Umum Fraksi.
2. Raperda yang diajukan oleh DPRD:
a. Penjelasan dalam Rapat Paripurna oleh Pimpinan Komisi/Gabungan Komisi, Pimpinan Badan Legislasi Daerah, atau Pimpinan Panitia Khusus terhadap Raperda;.
b. Tanggapan Kepala Daerah atas Raperda; dan
c. Jawaban/tanggapan fraksi atas tanggapan Kepala Daerah.
3. Pembahasan dalam rapat Komisi, Gabungan Komisi atau Rapat Panitia Khusus dilakukan bersama-sama dengan Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk
II. Pembicaraan tingkat II, meliputi:
1. Pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului dengan: a. penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan
komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat fraksi dan hasil pembicaraan sebagaimana dimaksud pada Angka I.3;
b. permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna;
PERATURAN DESA
• Peraturan Desa adalah peraturan
perundang-undangan yang ditetapkan Kepala Desa setelah
dibahas
dan
disepakati
bersama
Badan
Permusyawaratan Desa [Pasal 1 angka 7 UU No.6
Tahun 2014].
• Materi muatan:
kerangka hukum dan kebijakan
dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan
Pembangunan Desa.
PEMERINTAHAN DAERAH
UU No. 23 Tahun 2014
[diubah terakhir dengan UU No.9 Tahun 2015]
• Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
• Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
• DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
• Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani,memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.
Ak unt abil it as, Ef isiensi, E k st ernal it as, da n Kepent ingan St rat egis N asi on al Ur usa n Pe me rintahan Absolut Konkuren Pilihan Politik LN, Pertahanan, Keamanan, Yustisi, Moneter
dan Fiskal Nasional, serta Agama
Berkaitan dgn Pelayanan Dasar
Tdk Berkaitan dgn Pelayanan Dasar
Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Perdagangan, Perindustrian, dan
Transmigrasi
Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman, Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat, serta
Sosial
Tenaga Kerja, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pangan, Pertanahan,
Lingkungan Hidup, Admiduk dan Capil,Pemberdayaan Masy dan Desa, Pengendalian Penduduk dan KB, Perhubungan,
Kominfo, Koperasi dan UKM, Penanaman Modal, Pemuda dan OR, Statistik, Persandian,
Kebudayaan, Perpustakaan, dan kerasipan
Urusan Absolut
Politik Luar Negeri, Fiskal dan Moneter Nasional, Agama,
Pertahanan, dan Keamanan
Urusan Konkuren
Dibagi antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota berdasarkan Eksternalitas, Efisiensi, Akuntabilitas, dan
Kepentingan Strategis Nasional Pemerintahan Umum Urusan Pmerintahan yang menjadi kewenangan presiden sebagai kepala pemerintahan APBN Bidang Urusan (32)
Sub Bidang Urusan (166)
Provinsi (297)
Kab/Kota (290)
Urusan Pemerintahan Konkuren (1047)
Pusat (460)
APBD
No Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi
Daerah
Kabupaten/Kota
1 Upaya Kesehatan a. Pengelolaan upaya kesehatan perorangan (UKP) rujukan nasional/lintas Daerah provinsi. b. Pengelolaan upaya kesehatan masyarakat (UKM) nasional dan rujukan nasional/lintas Daerah provinsi.
c. Penyelenggaraan registrasi, akreditasi, dan standardisasi fasilitas pelayanan
kesehatan publik dan swasta.
d. Penerbitan izin rumah sakit kelas A dan fasilitas
pelayanan kesehatan penanaman modal asing (PMA) serta fasilitas pelayanan kesehatan tingkat nasional
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
BIDANG KESEHATAN
a n d i.sa n d i@ u g m .a c.idNo Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi
Daerah
Kabupaten/Kota
2 SDM Kesehatan a. Penetapan standardisasi dan registrasi tenaga kesehatan
Indonesia, tenaga kesehatan warga negara asing (TK-WNA), serta penerbitan rekomendasi
pengesahan rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) dan izin mempekerjakan tenaga asing
(IMTA).
b. Penetapan penempatan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis bagi Daerah yang tidak mampu dan tidak diminati.
c. Penetapan standar kompetensi teknis dan sertifikasi pelaksana Urusan Pemerintahan bidang kesehatan. d. Penetapan standar pengembangan kapasitas SDM kesehatan. e. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Nasional
Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Daerah provinsi
a. Penerbitan izin praktik dan izin kerja tenaga kesehatan. b. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP Daerah kabupaten/kota.
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
BIDANG KESEHATAN
a n d i.sa n d i@ u g m .a c.idNo Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi
Daerah
Kabupaten/Kota
3 Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,dan
Makanan Minuman
a. Penyediaan obat, vaksin, alat kesehatan, dan suplemen kesehatan program nasional.
b. Pengawasan ketersediaan pemerataan, dan
keterjangkauan obat dan alat kesehatan.
c. Pembinaan dan pengawasan industri, sarana produksi dan sarana distribusi sediaan farmasi, obat tradisional, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT), bahan obat, bahan baku alam yang terkait dengan kesehatan. d. Pengawasan pre-market
obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT, dan makanan minuman.
e. Pengawasan post-market obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT, dan makanan
a. Penerbitan
pengakuan pedagang besar farmasi (PBF) cabang dan cabang penyalur alat
kesehatan (PAK). b. Penerbitan izin usaha
kecil obat tradisional (UKOT).
a. Penerbitan izin apotek, toko obat, toko alat
kesehatan dan optikal.
b. Penerbitan izin usaha mikro obat tradisional (UMOT). c. Penerbitan sertifikat produksi alat kesehatan kelas 1 (satu) tertentu dan PKRT kelas 1 (satu) tertentu perusahaan rumah tangga. d. Penerbitan izin produksi makanan dan minuman pada industri rumah tangga. e. Pengawasan post-market produk
makanan-PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
BIDANG KESEHATAN
a n d i.sa n d i@ u g m .a c.idNo Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi Daerah Kabupaten/Kota 4 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokoh nasional dan internasional, kelompok masyarakat,
organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat
nasional dan internasional.
Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokoh provinsi, kelompok masyarakat, organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat provinsi. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokohKabupaten/Kota , kelompok masyarakat, organisasi swadaya masyarakat serta dunia usaha tingkat kabupaten/kota.
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
BIDANG KESEHATAN
a n d i.sa n d i@ u g m .a c.idDESENTRALISASI
UU No. 23 Tahun 2014
• Desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh
Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi.
OTONOMI:
• Kebebasan dan kemandirian satuan pemerintahan lebih rendah untuk mengatur dan mengurus sebagian urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan yang boleh diatur dan diurus secara bebas dan mandiri itu menjadi atau merupakan urusan rumah tangga satuan pemerintahan yang lebih rendah tersebut.
• Penyelenggaraan asas desentralisasi menghasilkan daerah
otonom. Urusan/kewenangan yang diserahkan kepada
daerah yang menjadi hak daerah disebut otonomi daerah
(otonomi). Zelfregering→ pemerintah sendiri (auto – nomes).
HAKIKAT ISI OTONOMI:
Kemandirian untuk mengatur dan mengurus rumah
DEKONSENTRASI
• Dekonsentrasi adalah penyerahan sebagian dari kekuasaan pemerintah kepada alat-alat pemerintahan pusat yang ada di daerah. Pada hakikatnya alat-alat pemerintah pusat ini melakukan pemerintahan sentral di daerah-daerah. Penyerahan kekuasaan pemerintah pusat kepada alatnya di daerah karena meningkatnya kemajuan masyarakat di daerah-daerah.• Dekonsentrasi memuat pemencaran kekuasaan (Spreiding van Machten) yang tidak dapat dilaksanakan dengan desentralisasi, karena dekonsentrasi berkaitan dengan penyelenggaraan administrasi negara bersifat kepegawaian (ambtelijk) untuk memperlancarkan penyelenggaraan pemerintahan pusat di daerah. • Oleh karena itu, Dekonsentrasi merupakan bagian sentralisasi.
• UU No. 23 Tahun 2014:
Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum.
Asas Umum Pelaksanaan Dekonsentrasi
•
Kewenangan
Pemerintah
Pusat
di
Daerah
Provinsi
dalam
rangka
pelaksanaan
Dekonsentrasi dilimpahkan kepada Gubernur
sebagai wakil Pemerintah Pusat.
•
Kewenangan tersebut di atas dilaksanakan oleh
Dinas
Provinsi
sebagai
perangkat
Daerah
Provinsi.
•
Penyelenggaraan Dekonsentrasi di atas dibiayai
dengan APBN.
•
Pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam
penyelenggaraan
Dekonsentrasi
dilakukan
secara terpisah dari APBD.
•
Gubernur
memberitahukan
kepada
DPRD
Tugas Pembantuan (Medebewind)
UU No. 23 Tahun 2014
• Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah
kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi.
Perbedaan:
• Otonomi merupakan penyerahan penuh, baik asas (prinsip-prinsipnya) maupun cara menjalankan kewenangan yang telah diserahkan pada daerah.
• Medebewind merupakan penyerahan tidak penuh, hanya mengenai cara menjalankan saja sedang prinsip-prinsipnya ditetapkan pusat.
Lanj...
Medebewind merupakan kewajiban daerah otonom untuk
melaksanakan peraturan dari instansi atasan yang unsurnya:
– Materi yang dilaksanakan tidak termasuk dalam urusan rumah tangga daerah otonom.
– Dalam melaksanakannya daerah otonom mempunyai kelonggaran dengan menyesuaikan kekhususan daerah.
Yang dapat diserahi medebewind hanya daerah otonom saja bukan instansi vertikal pusat di daerah.
Jadi:
• Pemerintah tidak dapat menentukan secara imperatif cara menjalankan peraturan tersebut di daerah karena segala sesuatu diserahkan pada kekhususan daerah.
Asas Umum Tugas Pembantuan
• Tugas Pembantuan dilaksanakan oleh Pemerintah
Daerah dan Desa dengan kewajiban melaporkan
pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya
kepada Pemerintah Pusat.
• Penyelenggaraan Tugas Pembantuan dibiayai atas
beban pengeluaran pembangunan APBN.
• Pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam
penyelenggaraan
Tugas
Pembantuan
dilakukan
secara
terpisah
dari
APBD
dan
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa.
• Pemerintah Daerah memberitahukan adanya Tugas
Pembantuan kepada DPRD dan Pemerintah Desa
memberitahukannya
kepada
Badan
Permusyawaratan Desa.
ASURANSI
ASURANSI
• Pada
prinsipnya
asuransi
merupakan
suatu
mekanisme peralihan risiko
dari
tertanggung kepada
penanggung
,
apabila
terjadi
evenement
dari
kepentingan yang dipertanggungkan.
• Namun,
UU Nomor 33 Tahun 1964 dan UU Nomor 34
Tahun 1964 menggunakan no-fault scheme dan
prinsip ex. gratia atau pemberian santunan kepada
seluruh korban kecelakaan angkutan umum dan lalu
lintas jalan, tanpa memandang ada/tidaknya unsur
kesalahan serta kepemilikan polis.
PENGERTIAN ASURANSI
• Pasal 246 KUHD:
Perjanjian pertanggungan atau asuransi, merupakan hubungan hukum antara tertanggung dan penanggung. Hubungan hukum ini timbul ketika pihak tertanggung mengikatkan diri untuk membayar premi atas persesuaian kehendak, sedangkan pihak penanggung mengikatkan diri untuk menerima premi dari tertanggung untuk mengganti kerugian kepada pihak lain atas dasar persesuaian kehendak. Selanjutnya, penggantian dari penanggung berdasarkan pada terjadinya peristiwa yang tidak tertentu.
• Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian:
Asuransi atau pertanggungan adalah perjaniian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
PENGERTIAN ASURANSI
• Unsur Perjanjian Pertanggungan atau asuransi:
1. pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian
pertanggungan,
2. adanya kesesuaian kehendak,
3. adanya peristiwa tidak tertentu, dan
4. kepentingan yang dipertanggungkan
.
1. Asuransi Sukarela:
Pengertian sukarela menunjukkan bahwa hubungan hukum
antara pihak penanggung dan tertanggung yang
mengikatkan diri dalam perjanjian pertanggungan harus memuat adanya unsur persesuaian kehendak yang bersifat sukarela, sehingga tidak ada paksaan maupun campur tangan dari pihak lain
2. Asuransi Wajib:
Pada pertanggungan wajib, hubungan hukum antara
pembayar premi dan pemerintah sebagai penanggung yang diciptakan oleh Undang-Undang.
JENIS ASURANSI
JAMINAN SOSIAL
• Pasal 1 angka 1 UU No.40 Tahun 2004:
– Jaminan sosial adalah salah satu bentuk
perlindungan sosial untuk menjamin seluruh
rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak.
• Pasal 18 UU No.40 Tahun 2004:
Jaminan Sosial, terdiri atas:
– jaminan kesehatan;
– jaminan kecelakaan kerja;
– jaminan hari tua;
– jaminan pensiun; dan
– jaminan kematian.
PENYELENGGARA
JAMINAN SOSIAL
• Pasal 5 UU No.40 Tahun 2004:– Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK);
– Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN);
– Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI); dan
– Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES).
• Harus BUMN karena merupakan bagian dari negara dan
harus dibentuk dengan UU
.
• Pasal 5 ayat (2) UU No.24 Tahun 2011 ttg BPJS:
– BPJS Kesehatan
PERIZINAN & AKREDITASI
RUMAH SAKIT
Perizinan dan Akreditas RS
Permenkes No.56 Tahun 2014