BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

Teks penuh

(1)

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian ini berfokus pada keputusan pembelian yang sebelumnya telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Berikut daftar penelitian terdahulu yang mendasari penelitian:

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

No Penulis & Judul Variabel Penelitian

Metode Analisis Hasil Penelitian 1.

Anggraini dan Tri (2020) Pengaruh Gaya Hidup Dan Diskon Terhadap Keputusan Pembelian Produk Mc Donald’s Di Surabaya (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Angkatan 2016-2019 Universitas Negeri Surabaya) Gaya Hidup (X1) Diskon (X2) Keputusan Pembelian (Y) Populasi (Mahasiswa Fakultas Ekonomi Angkatan 2016- 2019 Universitas Negeri Surabaya yang merupakan kosumen Mcdonald’s Surabaya) Sampel (210) Alat analisis (Regresi Linier Berganda) Variabel gaya hidup dan diskon berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian 2. Jacklin et al (2019) The Effect Of Marketing Mix And Service Quality On Sun Product Purchase Decision Department Of Store Mega Mall Manado

(2)

4.

Naufal (2017)

Pengaruh Promosi, Harga, Dan Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Pada Toko

Rahma Rahmi Collection Semarang) Promosi (X1) Harga (X2) Kualitas Layanan (X3) Keputusan Pembelian (Y) Populasi (konsumen Toko Rahma Rahmi Collection) Sampel (75) Alat analisis Analisis (Regresi Linear Berganda) Variabel promosi, harga dan kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian 5. Safuan &Khuzaini (2018) Pengaruh Kualitas Website, Diskon, Dan Kesadaran Terhadap Keputusan Pembelian Di Zalora (Studi pada Mahasiswa STIESIA Surabaya) Kualitas Website (X1) Diskon (X2) Kesadaran (X3) Keputusan Pembelian (Y) Populasi (Mahasiswa STIESIA Surabaya) Sampel (100) Alat analisis (Regresi Linier Berganda) Variabel independen kualitas website, diskon dan kesadaran berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian 6. Soegoto &Herman (2020) Competitive Strategy Analysis to Increase Consumer Purchasing Decisions on Minimarket Business Kualitas Produk (X1) Diskon Harga (X2) Servicesca pe (X3) Keputusan Pembelian (Y) Populasi (konsumen minimarket di kota Manado, Tomohon,dan Bitung) Sampel (100) Alat analisis (Regresi Linier Berganda Kualitas produk, diskon harga dan servicescape berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian 7. Wahyuningtyas (2015) Pengaruh Kualitas Pelayanan, Citra Toko Dan Display Product Terhadap Keputusan Pembelian Produk Pakaian Pria Merk Nevada Pada Matahari Department Store Kediri

Kualitas Pelayanan (X1) Citra Toko (X2) Display Product (X3)Keputusan Pembelian (Y) Populasi (konsumen Matahari Department Store Kediri yang membeli pakaian pria merk Nevada pada) Sampel (63) Alat analisis (Regresi Linier Berganda) Variabel independen kualitas pelayanan, citra toko dan display product

berpengaruh signifikanterhadap keputusan pembelian

Penelitian terdahulu di atas digunakan peneliti sebagai referensi dalam penyusunan proposal. Perbedaan proposal ini dengan penelitian terdahulu di Tabel 2.1 yaitu, peneliti membahas tentang Pengaruh Kualitas Layanan, Kualitas

Website dan Diskon Terhadap Keputusan Pembelian pada Matahari Department

(3)

B. KajianTeori

1. Teori Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen dapat diukur dengan menggunakan model dari beberapa tori, diantaranya:

a. TRA (Theory of Reasoned Action) atau Teori Aksi Beralasan

Teori ini dikembangkan tahun 1967 yang kemudian direvisi dan diperluas oleh penelitian Ajzen & Fishbein (1975). Teori ini menjelaskan suatu model sosial kognitif dalam memahami perilaku sadar seseorang individu. Komponen penting dalam TRA yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara intensi terhadap perilaku seseorang adalah sikap (attitude), norma subjek (subjective norm) dan maksud/intensi (Ajzen & Fishbein, 1975). Masalah tentang perilaku dikaitkan dengan TRA muncul jika teori tersebut diaplikasikan pada perilaku yang tidak sepenuhnya di bawah kendali seseorang. Artinya perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat individu yang terbentuk dari sikap dan norma subjektif.

b. TPB (Theory of Planned Behaviour) atau Teori Perilaku Terencana

Sumber: Ajzen (1991)

TPB adalah penyempurnaan dari reason action theory atau TRA yang

Perceived Behavioral Subjective Norm Attitude Intention Behavior Gambar 2. 1

(4)

dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein (1975). Fokus pada TPB ini sama seperti teoeri reason action dimana pada kerangka penelitiannya hanya menambahkan variabel kontrol perilaku persepsi (perceived behavior control). Dengan demikian terjadi hubungan antara kontrol persepsi perilaku dengan minat yang tidak dimediasi oleh sikap dan norma subjektif. Faktor yang membedakan TRA dengan TPB adalah kontrol terhadap perilaku yang dirasa olehorangtersebut (Ajzen, 1991). TPB memperhitungkan bahwa semua perilaku tidaklah dibawah kendali.

c. TAM (Theory Acceptance Model)

Model TAM diadopsi dari model TRA yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein (1975). TAM pertama kali diperkenalkan oleh Davis pada tahun 1989 yang digunakan sebagai teori untuk mempelajari dan memahami perilaku pengguna teknologi dalam menerima dan menggunakan sistem informasi. TAM menjelaskan perilaku pengguna teknologi yang berkaitan dengan kepercayaan (believe), sikap (attitute), niat (intention) dan hubungan perilaku pengguna (user

behaviour relationship) (Davis, 1989). Model ini menempatkan faktor-faktor

kepercayaan dari tiap-tiap pengguna dengan dua variabel yaitu kemanfaatan (usefullness) dan kemudahan penggunaan (ease of use).

2. Teori Keputusan Pembelian a. Devinisi Keputusan Pembelian

(5)

untuk mengenali masalah, mencari solusi, mengevaluasi alternatif, dan memilih diantara pilihan-pilihan yang diintegrasikan untuk kemudian menuju proses pengambilan keputusan. Inti dari proses pengambilan keputusan yaitu bagaimana konsumen dapat merumuskan alternatif dari pilihan-pilihan yang ada.

Keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk memastikan, memilih dan menggunakan sebuah produk atau jasa dimana pada tahap ini karakteristik pembeli akan mempengaruhi presepsi dan perilaku pada saat melakukan pembelian (Kotler, 2012). Pengambilan keputusan tiap orang berbeda-beda menurut keinginan dan kebutuhannya.

b. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen

Kotler dan Amstrong (2003) mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian, antara lain sebagai berikut:

1) Faktor Kultural

Setiap budaya memiliki subkultur yang lebih kecil atau sekelompok orang yang memiliki kesamaan nilai yang kemudian dapat mempengaruhi keputusan pembelian seseorang.

2) Faktor Sosial

Faktor sosial yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen antara lain: kelompok, keluarga, peran dan status.

3) Faktor Pribadi

(6)

4) Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku pembelian adalah motivasi. Seseorang yang termotivasi akan bertindak dan dipengaruhi oleh presepsi. Konsumen mempunyai presepsi yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.

c. Proses Pengambilan Keputusan

Proses pembelian diawali ketika seseorang mendapatkan stimulus yang mendorongnya untuk mempertimbangkan keputusan. Tjiptono (2014) menyatakan bahwa seseorang akan membeli suatu produk atau jasa pada situasi shortage (kebutuhan karena konsumen tidak mempunyai produk atau jasa tertentu) atau

unful filled (kebutuhan karena konsumen merasa tidak puas akan produk atau jasa

saat ini). Menurut Kotler dan Amstrong (2003), model perilaku konsumen untuk setiap pembeli yang mencapai suatu keputusan pembelian harus melalui 5 tahap yang digambarkan seperti berikut ini.

Sumber: Kotler dan Amstrong (2003)

Berikut adalah penjabaran dari 5 tahap proses keputusan pembelian diatas: 1) Pengenalan Kebutuhan

Proses pembelian diawali ketika kosumen mendapatkan stimulus (pikiran, tindakan atau motivasi). Pada dasarnya pengenalan kebutuhan muncul karena

Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Pengevaluasian Alternatif Keputusan Pembelian Perilaku Setelah Pembelian Gambar 2. 2

(7)

seseorang mempresepsikan adanya perbedaan antara keadaan yang sesungguhnya dengan yang diinginkan. Kebutuhan tersebut dapat disebabkan oleh stimulus internal ataupun eksternal.

2) Pencarian Informasi

Proses pencarian informasi dilakukan ketika seseorang terdorong untuk mengetahui lebih dalam tentang kebutuhannya. Proses pencarian informasi berkaitan dengan persepsi konsumen terhadap risiko. Seseorang dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber diantaranya sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga dan rekan), sumber komersial (periklanan, pedagang dan pameran), sumber publik (media massa dan organisasi) dan sumber eksperimental (pengujian dan penggunaan produk)

3) Pengevaluasian Alternatif

Evaluasi mencerminkan keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perilaku pembelian. Konsumen akan menggunakan informasi mengenai produk atau jasa untuk kemudian dievaluasi dengan beberapa alternatif pillihan yang ada. 4) Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh sikap orang lain dan situasi yang tak diinginkan. Presespsi mengenai risiko juga mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Pada tahap ini perusahaan sebisa mungkin memudahkan konsumen untuk dapat mengakuisisi produk yang dinginkan seperti kemudahan memperoleh produk, pembayaran dan konsultasi lebih lanjut.

5) Perilaku Setelah Pembelian

(8)

mendukung keputusannya. Konsumen akan mengalami tingkat kepuasan setelah membeli produk. Tingkat kepuasan konsumen diketahui dari angka harapan dengan kinerja produk yang dirasakan. Semakain besar kesesuaian anatara produk dan harapan maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan konsumen.

d. Indikator Keputusan Pembelian

Ada empat indikator dalam proses keputusan pembelian menurut Safuan & Khuzaini (2018), yaitu:

1) Kemantapan membeli sebuah produk

Keputusan yang diambil konsumen setelah mempertimbangkan berbagai informasi yang mendukung dalam proses pengambilan keputusan.

2) Kecepatan mengambil keputusan

Seberapa cepat konsumen mengambil keputusan setelah mempertimbangkan alternatif pilihan yang ada.

3) Melakukan pembelian ulang

Merupakan keadaan dimana konsumen merasakan kenyamanan atas transaksi dari pembelian produk atau jasa yang diterima sebelumnya sehingga berniat untuk melakukan transaksi di masa yang akan datang

4) Kebiasaan dalam membeli sebuah produk

Merupakan pengalaman orang terdekat dalam menggunakan suatu produk.

(9)

3. Teori SERVQUAL (Service Quality) a. Devinisi Kualitas Layanan

Kualitas didefinisikan sebagai kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses dan lingkungan yang menghasilkan manfaat bagi pelanggan (Tjiptono dan Gregorius, 2016). Servqual adalah metode deskriptif untuk menggambarkan tingkat kepuasan pelanggan dengan membandingkan seberapa jauh perbedaan antara keyakinan dan harapan para pelanggan atas pelayanan yang mereka terima di toko fisik (Parasuranman et al., 1988). Dimensi kualitas jasa dalam model servqual dikembangkan oleh Parasuranman. Pada penelitian tahun 1985 terdapat 10 dimensi servqual yang meliputi Access, Communication, Competence, Courtesy, Credibility, Reliability,

Responsiveness, Security, Tangibles dan Understanding/Knowing the customer

dengan 22 variabel (Parasuranman et al., 1985).

b. Indikator Kualitas Layanan

Pada tahun 1988 Parasuranman melakukan penelitian dengan menyempurnakan dimensi servqual menjadi 5yaitu:

1) Tangibles (Bukti Fisik)

Yaitu terkait dengan penampilan personel, peralatan fasilitas fisik dan materi komunikasi

2) Reliability (Reliabilitas)

Berkaitan dengan kemampuan perusahaan melakukan layanan yang dijanjikan dengan handal dan akurat

3) Responsiveness (Daya Tanggap)

(10)

layanan yang cepat

4) Assurance (Jaminan)

Berkaitan dengan pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka untuk menginspirasi kepercayaan dan keyakinan pada pelanggan 5) Empathy (Empati)

Kemampuan perusahaan dalam memberikan perhatian individual yang kepada pelanggannya

4. Teori Kualitas Website

Website Quality merupakan salah satu metode atau teknik pengukuran

kualitas website. WebQual adalah metode yang digunakan untuk menilai kualitas

website berdasarkan persepsi pengguna akhir (Barnes & Vidgen, 2002). WebQual

pertama kali dikembangkan pada tahun 1998 oleh Stuart J. Barnes dan Richard T. Vidgen. Metode ini merupakan pengembangan dari SERVQUAL yang sebelumnya digunakan untuk melakukan pengukuran pada kualitas jasa. Pengukuran dengan metode servqual lebih fokus pada layanan sistem informasi yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan yang disampaikan secara

offline, sedangkan WebQual fokus pada kualitas website.

a. Perkembangan WebQual

Perkembangan WebQual menurut (Barnes & Vidgen, 2002) antara lain adalah sebagai berikut:

1) WebQual 1.0

WebQual pertama kali dikembangkan untuk menghasilkan dimensi ease of

(11)

(informasi), communication (komunikasi) dan integration (integrasi). 2) WebQual 2.0

WebQual 2.0 adalah hasil pengembangan dari WebQual 1.0, dimana dalam metode pengukuran ini terdapat dimensi kualitas interaksi (interactionquality).

3) WebQual 3.0

Dalam WebQual 3.0 dimensi dari WebQual sebelumnya dikelompokkan menjadi site quality, information quality dan service interactuin quality. 4) WebQual 4.0

WebQual 4.0 menglasifikasikan dimensi sebelumya menjadi tiga aspek yang meliputu usability, information quality dan service interaction quality.

b. Metode Pengukuran WebQual 4.0

WebQual 4.0 dikembangkan oleh Stuart J. Barnes dan Richard T. Vidgen yang terdiri dari tiga dimensi yaitu usability, information quality dan service

interaction quality (Barnes & Vidgen, 2002). Dimensi WebQal 4.0 merupakan

pengembangan dari WebQual sebelumnya yang berasal dari System Information

Assesment. Berikut ini merupakan tabel dimensi beserta daftar pertanyaan dari

WebQual 4.0

Tabel 2. 2

Dimensi dan Pertanyaan WebQual 4.0

Kategori Instrumen WebQual 4.0

Usability

I find the site easy to learn to operate

My interaction with the site is clear and

understandable

I find the site easy to navigate I find the site easy to use

(12)

The design is appropriate to the type of site The site conveys a sense of competency The site creates a positive experience for me

Information Quality

Provides aaccurate information Provides belivable information Provides timely information Provides relevant information

Provides easy to understand information Provides information at the right level of detail Presents the information in an appropriate format

Service Interction

Quality

Has a good reputation

If feels save to complate transaction My personal information feels secure Creates a sense of personalization Convey a sense of community

Make it easy to communicate with the organization I feel confident that goods/services will be delivered as promised

Sumber: Barnes & Vidgen, 2002

Kim & Stoel (2004) melakukan penelitian terhadap kualitas website pada retail dengan menggunakan dimensi information, tallored communication, online

completeness, relative advantage, visual appeal, innovativeness, emotional appeal, consistent image, ease of use, intultive opeartions, response time dan trust. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh (Safuan & Khuzaini, 2018)

meneliti kualitas website dengan menggunakan 3 dimensi antara lain: kegunaan, kualitas informasi dan kualitas layanan interaksi.

5. Teori Diskon

a. Definisi Diskon Harga

(13)

mendorong pembelian produk atau jasa. Diskon pertama kali diperkenalkan pada tahun 1887 oleh Asa Candler yang merupakan pendiri Coca- Cola dengan menciptakan kupon pertamanya (Collard & Pustay, 2001). Kupon dikembangkan menjadi strategi untuk menarik perhatian pelanggan baru, membangun kesadaran merek dan meningkatkan penjualan. Diskon adalah salah satu bentuk promosi yang paling digemari oleh konsumen, dimana ketika merekamelihat adanya potogan harga pada suatu produk atau jasa akan cenderung tertarik. Oleh karena itu semakin menarik diskon yang diberikan perusahaan dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli produk atau jasa.

b. Jenis-jenis Diskon

Kotler (2002), perusahaan umumnya akan menyesuaikan daftar harga mereka dan memberikan diskon serta potongan untuk setiap pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalam jumlah besar, dan pembelian di luar musim. Kotler (2002) membagi diskon menjadi 5 jenis,yaitu:

1) Diskon Tunai (Cash Discount)

Diskon tunai adalah pengurangan harga untuk mendorong pembeli agar segera membayar tagihannya secara langsung dan cepat. Diskon tunai biasanya ditetapkan pada waktu yang tepat.

2) Diskon Kuantitas (Quantity Discount)

Diskon kuantitas adalah pengurangan harga untuk mendorong konsumen membeli dalam jumlah besar. Diskon tunai ini dapat memungkinkan penjual untuk mengurangi biaya pengiriman atau memperoleh bisnis yang lebih banyak lagi.

(14)

Diskon fungsional juga disebut diskon perdagangan, dimana diskon yang ditawarkan oleh produsen kepada para anggota saluran perdagangan jika mereka melakukan fungsi-fungsi tertentu seperti menjual, meniympan dan melakukan pencatatan.

4) Diskon Musiman (Seasonal Discount)

Diskon musiman adalah pengurangan harga yang ditawarkan untuk untuk mendorong pembeli menyimpan persediaan lebih awal atau membeli barang atau jasa di luar musimnya. Misalnya diskon pada hari lebaran, tahun baru. 5) Potongan (Allowances)

Potongan atau allowances adalah pengurangan dari harga menurut daftar (price list) kepada pembeli karena adanya aktivitas-aktivitas tertentu yang dilakukan pembeli.

c. Indikator Diskon

Adapun indikator diskon menurut Safuan & Khuzaini (2018) yang digunakan untuk mengukur diskon adalah sebagai berikut:

1) Kemenarikan program potogan harga 2) Besarnya program potongan harga 3) Frekuensi program potongan harga 4) Durasi program potongan harga

C. Keragka Berfikir dan Model Konseptual 1. Kerangka Berfikir

(15)

kemudian menjelaskan secara teoritis antar variabel yang akan diteliti (Sugiyono, 2014). Kerangka pikir ini menunjukkan hubungan dari variabel bebas (X) diantaranya kualitas layanan, kualitas website dan diskon terhadap variable terikat (Y) yaitu keputusan pembelian. Adapun kerangka berfikir pada penelitan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

H1

H2

H3

Sumber: Data Diolah, 2020

Gambar 2.3 model konseptual di atas menunjukkan bahwa kualitas layanan H1, kualitas website H2 dan diskon H3 berpengaruh secara parsial

terhadap keputusan pembelian, sedangkan variabel diskon H4 adalah variabel

yang dominan terhadap keputusan pembelian.

2. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan sementara yang harus diuji kebenarannya dan didukung dengan data-data untuk memperoleh jawaban yang benar. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembelian

(16)

Pelayanan konsumen yang baik dan memuaskan harus menjadi misi utama bagi ritel dimana kepuasan konsumen menjadi tolok ukur perusahaan untuk memenuhi harapan serta kebutuhan pelanggan. Kualitas layanan dapat diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya dalam memenuhi harapan pelanggan (Tjiptono & Gregorius, 2016).

Perusahaan harus memberikan layanan terbaik karena kualitas layanan memiliki hubungan yang erat dengan keputusan pembelian, dimana layanan yang diberikan oleh Matahari di ritelnya akan dirasakan secara langsung oleh pelanggan yang kemudian dapat mempengaruhi proses keputusan pembelian. Kualitas layanan dapat dikur dengan menggunakan dimensi servqual yang mengacu pada penelitian Parasuranman (1988) meliputi tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy. Kualitas layanan memiliki nilai esensi yang penting bagi strategi perusahaan untuk mempertahankan diri dan mencapai kesuksesan dalam menghadapi persaingan.

Penelitian yang dilakukan oleh Lagautu et al (2019) menyatakan bahwakualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Semakin baik kualitas layanan yang diberikan, maka akan semakin mantap seserang dalam mengambil keputusan pembelian. Jacklin et al (2019) menyatakan bahwa service quality berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

H1: Kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

(17)

Kualitas website digunakan sebagai acuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan ketika mengunjungi situs tersebut. Pada dasarnya website yang menarik dan menyediakan informasi yang lengkap serta terus diperbarui secara tidak langsung akan menciptakan kenyamanan bagi konsumen dan dapat menjadi pemicu niat beli. Konsumen seringkali menggunakan website untuk mengidentifikasi atau membandingkan atribut produk.

Penelitian ini menggunakan dimensi WebQual 4.0 yang digunakan dalam penelitian Kim & Stoel (2004) untuk mengukur kualitas website. Beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan WebQual 4.0 seperti Safuan dan Khuzaini (2018) meneliti kualitas website dengan dimensi kegunaan, kualitas informasi dan kualitas layanan interaksi yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian, dimana semakin tinggi tingkat kualitas dari suatu website maka sesegera mungkin konsumen mengambil keputusan pembelian.

H2: Kualitas website berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

c. Pengaruh Diskon Terhadap Keputusan Pembelian

(18)

konsumen sehingga mampu membawa sampai ke tahap keputusan pembelian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safuan dan Khuzaini (2018) menyatakan bahwa diskon berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Penelitian yang dilakukan Soegoto & Herman (2020) menyatakan potongan harga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian, semakin menarik diskon yang diberikan maka semakin cepat seserang mengambil keputusan untuk membeli.

H3: Diskon berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

d. Pengaruh Diskon yang Lebih Dominan Terhadap Keputusan Pembelian Diskon adalah potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas-aktivitas tertentu yang dilakukan pembeli (Tjiptono, 2014). Diskon dilakukan untuk menarik perhatian konsumen sehingga dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli produk.

(19)

konsumen di Zalora. Dari beberapa penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa diskon berpengaruh positif dan signifikan serta sebagai variabel dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :